BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam kehidupan ini dari waktu ke waktu manusia (makhluk hidup)
mengalami suatu perkembangan, entah itu dalam fisik atau psikologisnya.
Dimana dalam kehidupan sehari-hari perkembangan fisik lebih dikenal dengan
sebutan pertumbuhan, sedangkan pada yang lainnya (non fisik) dinamakan
perkembanga psikologis.
Perkembangan psikologi dapat diartikan sebagai perubahan-perubahan
tertentu yang muncul pada diri manusia (binatang) diantara konsepsi
(pembuahan) dan mati. Dimana dalam makalah ini sedikit banyak akan
dibahas mengenai teori-teori psikologi perkembangan anak tersebut. Sehingga
dengan dibahasnya teori-teori tersebut dapat membantu orangtua atau guru
dalam memahami tingkah laku dan mendidik anak-anaknya.
Anak dengan kebutuhan khusus perlu dikenal dan diidentifikasi dari
kelompok anak pada umumnya, oleh karena mereka memerlukan pelayanan
yang bersifat khusus. Pelayanan tersebut dapat berbentuk pertolongan medik,
latihan-latihan therapeutic, maupun program pendidikan khusus, yang
bertujuan untuk membantu mereka mengurangi keterbatasannya dalam hidup
bermasyarakat.
Dalam rangka mengidentifiksi (menemukan) anak dengan kebutuhan
khusus, diperlukan pengetahuan tentang berbagai jenis dan gradasi (tingkat)
kelainan organis maupun fungsional anak melalui gejala-gejala yang dapat
diamati sehari-hari.
Sebagai makhluk beragama akan yakin bahwa anak berkebutuhan
khusus lahir ke dunia di samping sudah menjadi takdir Yang Maha Kuasa,
tetapi sebagai manusia yang berkecimpung di dunia keilmuan perlu mengkaji,
dan mengidentifikasi mengapa hal itu bisa terjadi.
Karena di samping takdir bisa juga karena ada faktor-faktor tertentu
yang menjadi penyebabnya. Mengkaji penyebab anak mengalami kelainan,
dan ditambah dengan hasil-hasil riil penelitian keilmuan dilapangan, juga
upaya-upaya yang terus di lakukan oleh para pelaku pendidikan dan ahli
medis, akan lebih mencermati untuk mencari solusi menuju ke arah
kesembuhan, atau setidaknya mengupayakan optimalisasi perkembangannya
agar
mereka
dapat
hidup
mandiri,
dan
termotivasi
untuk
dalam
mengembangkan kemampuannya sebagai anggota masyarakat yang produktif.
1.2 Rumusan Masalah
a. Apakah yang dimaksud anak berkebutuhan khusus ?
b. Apakah faktor penyebab anak berkebutuhan khusus ?
c. Bagaimana karakteristik anak berkebutuhan khusus ?
d. Bagaimana perkembangan pendidikan anak berkebutuhan khusus di
Indonesia?
1.3 Tujuan
a. mahasiswa mengetahui definisi anak berkebutuhan khusus
b. mahasiswa mengetahui faktor penyebab anak berkebutuhan khusus
c. mahasiswa mengetahui karakteristik anak berkebutuhan khusus
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Anak Berkebutuhan Khusus
Anak dengan kebutuhan khusus (ABK) adalah anak yang secara signifikan
(bermakna) mengalami kelainan/penyimpangan (fisik, mental-intelektual,
social,
emosional)
dalam
proses
pertumbuhan/
perkembangannya
dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan
pelayanan pendidikan khusus.
Dengan demikian, meskipun seorang anak mengalami kelainan/
penyimpangan
tertentu,
tetapi
kelainan/penyimpangan
tersebut
tidak
signifikan sehingga mereka tidak memerlukan pelayanan pendidikan khusus,
anak tersebut bukan termasuk anak dengan kebutuhan khusus.
Anak anak yang memiliki kebutuhan individual yang bersifat khas
tersebut dalam proses perkembangannya memerlukan adanya layanan
pendidikan khusus. Dengan demikian, ABK dapat diartikan sebagai anak
yang memiliki kebutuhan individual yang bersifat khas yang tidak bisa
disamakan
dengan
anak
normal
pada
umumnya
sehingga
dalam
perkembangannya diperlukan adanya layanan pendidikan khusus agar
potensinya dapat berkembang secara optimal.
2.2 Faktor Penyabab Anak Berkebutuhan Khusus
Anak berkebutuhan khusus selain sudah menjadi takdir juga karena
adanya faktor faktor tertentu yang menjadi penyebabnya. Faktor faktor
penyebab itu menurut kejadiannya dapat dibedakan menjadi tiga peristiwa
yaitu:
a. Kejadian sebelum lahir (prenatal)
Faktor penyebab ketunaan pada masa pre-natal sangat erat
hubungannya dengan masalah keturunan dan pertumbuhan seorang anak
dalam kandungan. Ketunaan yang terjadi pada ABK yang terjadi sebelum
masa kelahiran dapat disebabkan antara lain oleh hal- hal sebagai berikut:
Virus Liptospirosis (air kencing tikus), yang menyerang ibu yang
sedang hamil. Jika virus ini merembet pada janin yang sedang
dikandungnya
melalui
placenta
maka
ada
kemungkinan
anak
mengalami kelainan.
Virus maternal rubella (campak jerman, retrolanta fibroplasia (RLF))
yang menyerang pada ibu hamil dan jamin janin yang dikandungnya
terdapat kemunngkinan akan timbul kecacatan pada bayi yang lahir.
Keracunan darah (toxaenia) pada ibu- ibu yang sedang hamil sehingga
janin tidak dapat memperoleh oksigen secara maksimal, sehingga saraf
saraf di otak mengalami gangguan.
Faktor rhesus (Rh) anoxia prenatal, kekurangan oksigen pada calon
bayi di kandungan yang terjadi karena ada gangguan/infeksi pada
placenta.
Penggunaan obat obatan kontrasepsi yang salah pemakaiannya
sehingga jiwanya menjadi goncang, tertekan yang secara langsung
dapat berimbas pada bayi dalam perut.
Percobaan abortus yang gagal, sehingga janin yang dikandungnya tidak
dapat berkembang secara wajar.
b. Kejadian pada saat kelahiran (natal)
Ketunaan yang terjadi pada saat kelahiran dapat disebabkan oleh
beberapa faktor berikut:
Proses kelahiran yang menggunakan tang verlossing (dengan bantuan
tang). Cara ini dapat menyebabkan brain injury (luka pada otak)
sehingga pertumbuhan otak kurang dapat berkembang secara optimal.
Proses kelahiran bayi yang terlalu lama sehingga mengakibatkan bayi
kekurangan zat asam/oksigen. Hal ini dapat menggangu pertumbuhan
sel-sel di otak. Keadaan bayi yang lahir dalam keadaan tercekik oleh ari
ari ibunya sehingga bayi tidak dapat secara leluasa untuk bernafas
yang pada akhirnya bisa menyebabkan gangguan pada otak.
Kelahiran bayi pada posisi sungsang sehingga bayi tidak dapat
memperoleh oksigen cukup yang akhirnya dapat mengganggu
perkembangan sel di otak.
c. Kejadian setelah kelahiran (postnatal)
Ketunaan pada ABK dapat diperoleh setelah kelahiran pula karena
faktor- faktor penyebab seperti berikut ini:
Penyakit radang selaput otak (meningitis)
dan
radang
otak
(enchepalitis) sehingga menyebabkan perkembangan dan pertumbuhan
sel-sel otak menjadi terganggu.
Terjadi incident (kecelakaan) yang melukai kepala dan menekan otak
bagian dalam.
Stress berat dan gangguan kejiwaaan lainnya.
Penyakit panas tinggi dan kejang kejang (stuip) , radang telinga (otitis
media), malaria tropicana yang dapat berpengaruh terhadap kondisi
badan.
2.3 Karakteristik Anak dengan kebutuhan khusus
Setiap anak dengan kebutuhan khusus memiliki karakteristik (ciri-ciri)
tertentu yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Untuk keperluan
identifikasi, di bawah ini akan disebutkan ciri-ciri yang menonjol dari
masing-masing jenis anak dengan kebutuhan khusus.
a. Kelompok ABK dilihat dari aspek kecerdasan (intelegensi)
Dari aspek kecerdasan, anak kelompok ini terdiri dari kelompok
ABK berintelegensi di atas rata-rata (supernormal) dan kelompok ABK
yang berintelegensi di bawah rata-rata (subnormal).
1. ABK supernormal meliputi:
Super cerdas/gifted (IQ>140),
Sangat cerdas/full bright (IQ 130-140),
Cerdas/rapid (IQ 120-130),
Atas normal (IQ110-120).
2. Kelompok ABK subnormal (tunagrahita) meliputi:
Bawah rata-rata/dull normal (IQ 80-90)
Moron/ border line (IQ 70-80)
Debil (IQ 60-70)
Imbisil (30-60)
Idiot (IQ<30)
b. Kelompok ABK dilihat dari aspek fisik/jasmani:
Dilihat dari fisik atau jasmani kelompok anak ini dibagi menjadi
beberapa kategori yaitu :
1. Tunanetra
Tunanetra yaitu Individu yang indera penglihatannya (keduaduanya) tidak berfungsi sebagai saluran penerima informasi dalam
kegiatan sehari-hari seperti orang awas.
2. Tunarungu
Tunarungu yaitu anak yang kehilangan seluruh atau sebagian daya
pendengarannya sehingga tidak atau kurang mampu berkomunikasi
secara verbal dan walaupun telah diberikan pertolongan dengan alat
bantu dengar masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
3. Tunadaksa
Tunadaksa yaitu Anak yang mengalami kelainan atau cacat yang
menatap pada alat gerak (tulang,sendi,otot) sedemikian rupa sehingga
memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
c. Anak Dengan Gangguan Emosi dan Perilaku (Tunalaras)
Anak tunalaras adalah anak yang mengalami kesulitan dalam
penyesuaian diri dan bertingkah laku tidak sesuai dengan norma-norma
yang berlaku dalam lingkungan kelompok usia maupun masyarakat pada
umumnya,sehingga merugikan dirinya maupun orang lain.
d. kelompok ABK dilihat dari aspek atau jenis tertentu
1. Autisme
Autisme yaitu gangguan perkembangan anak yang disebabkan
oleh adanya gangguan pada sistem syaraf pusat yang mengakibatkan
gangguan dalam interaksi sosial, komunikasi dan perilaku. Anak yang
mengindap autis pada umumnya menunjukkan perilaku tidak senang
kontak mata dengan orang lain, kurang suka berteman, senang
menyendiri dan asyik dengan dirinya sendiri.
2. Hiperaktif
Istilah hiperaktif berasal dari kata hiper yang berarti kuat,
tinggi, lebih, sedangkan kata aktif berarti gerak atau aktifitas jasmani.
Dengan demikian hiperaktif berarti anak yang memiliki gerak jasmani
yang lebih atau melebihi teman teman seusianya. Bisa juga dikatakan
anak yang memiliki gejala gejala perilaku yang melebihi kapasitas
anak anak yang normal. Misalnya: tidak dapat duduk dengan waktu
yang relatif cukup, senang berpindah pindah tempat duduk saat
kegiatan belajar berlangsung.
3. Anak berkesulitan belajar
Anak yang secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas
akademik khusus (terutama dalam hal kemampuan membaca,menulis
dan berhitung atau matematika), diduga disebabkan karena faktor
disfungsi neugologis, bukan disebabkan karena faktor intelegensi
(intelegensinya normal bahkan ada yang diatas normal), sehingga
memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
2.4 Perkembangan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
Pendidikan merupakan kebutuhan dasar setiap manusia untuk
menjamin keberlangsungan hidupnya agar lebih bermartabat. Karena itu
negara memiliki kewajiban untuk memberikan pelayanan pendidikan yang
bermutu kepada setiap warganya tanpa terkecuali termasuk mereka yang
memiliki perbedaan dalam kemampuan (difabel) seperti yang tertuang pada
UUD 1945 pasal 31 (1). Beberapa jenis pendidikan luar biasa :
a. System pendidikan segregasi
System pendidikan dimana anak berkelainan terpisah dari system
pendidikan anak normal. Penyelenggaraan system pendidikan segregasi di
laksanakan secara khusus dan terpisah dari penyelenggaran pendidikan
untuk anak normal.
b. System Pendidikan Integrasi
Sistem pendidikan luar biasa yang bertujuan memberikan
pendidikan yang memungkinkan anak luar biasa memperoleh kesempatan
mengikuti proses pendidikan bersama dengan siswa normal agar dapat
mengembangkan diri secara optimal.
c. Pendidikan Inklusi
Pendidikan inklusi merupakan sebuah pendekatan yang berusaha
mentransformasi sistem pendidikan dengan meniadakan hambatanhambatan yang dapat menghalangi setiap siswa untuk berpartisipasi penuh
dalam pendidikan. Hambatan yang ada bisa terkait dengan masalah etnik,
gender, status sosial, kemiskinan dan lain-lain. Dengan kata lain
pendidikan inklusi adalah pelayanan pendidikan anak berkebutuhan
khusus yang dididik bersama-sama anak lainnya (normal) untuk
mengoptimalkan potensi yang dimilikinya.
BAB III
PENUTUP
3.1 kesimpulan
1) Anak dengan kebutuhan khusus (ABK) adalah anak yang secara signifikan
(bermakna) mengalami kelainan/penyimpangan (fisik, mental-intelektual,
social,
emosional)
dalam
proses
pertumbuhan/
perkembangannya
dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka
memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
2) Faktor faktor penyebab itu menurut kejadiannya dapat dibedakan
menjadi tiga peristiwa yaitu kejadian sebelum lahir (prenatal), kejadian
pada saat kelahiran dan kejadian setelah kelahiran.
3) Karakteristik anak berkebutuhan khusus
anak dengan kebutuhan khusus memiliki karakteristik (ciri-ciri) tertentu
yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Untuk keperluan
identifikasi, di bawah ini akan disebutkan ciri-ciri yang menonjol dari
masing-masing jenis anak dengan kebutuhan khusus dapat dilihat dari 3
kelompok, yaitu Kelompok ABK dilihat dari aspek kecerdasan
(intelegensi), dilihat dari fisik / jasmani, gangguan emosi dan prilaku, dan
dari aspek atau jenis tertentu.
DAFTAR PUSTAKA
Efendi,
Mohammad.
2000. PENGANTAR
PSIKOPEDAGOGIK
ANAK
BERKELAINAN. Jakarta: Bumi Aksara
Ilun Mualifah, Ahmad Fauzi, dkk. 2008. PERKEMBANGAN PESERTA
DIDIK. Surabaya: LAPIS
http://jakartahomeschoolingmyblog.wordpress.com/perihal/anak-dengankebutuhan-khusus-dan-identifikasinya/ diakses tanggal 1 mei 2013
http://rizkia-gahari.blogspot.com/2012/03/klasifikasi-anak-berkebutuhankhusus.html diakses tanggal 1 mei 2013