Anda di halaman 1dari 20

BAB 1

PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Gizi merupakan nutrisi yang diperlukan oleh manusia setiap
harinya. Gizi adalah elemen yang terdapat dalam makanan dan dapat
dimanfaatkan secara langsung oleh tubuh seperti halnya karbohidrat,
protein, lemak, vitamin, mineral, dan air. Gizi yang seimbang dibutuhkan
oleh tubuh, terlebih pada balita yang masih dalam masa pertumbuhan. Di
masa tumbuh kembang balita yang berlangsung secara cepat dibutuhkan
makanan dengan kualitas dan kuantitas yang tepat dan seimbang.
Betapa pentingnya gizi sehingga apabila pemenuhan gizi tidak
tercukupi, dikhawatirkan status gizi akan menjadi kurang, buruk atau
sangat buruk. Hal ini akan berakibat pada menurunnya pertumbuhan, daya
tahan terhadap penyakit dan kecerdasan.4 Gizi buruk merupakan keadaan
kurang gizi tingkat berat pada anak yang disebabkan kurangnya asupan
gizi yang berlangsung lama (kronis). Hal ini dapat disebabkan karena anak
tidak mendapatkan makanan yang bergizi yang berguna bagi pertumbuhan
dan perkembangannya, serta kurangnya mendapat pelayanan kesehatan
dasar untuk mencegah penyakit dan hidup dalam lingkungan yang aman.
Lain halnya dengan hasil penelitian Badan Kesehatan Dunia
(WHO), yang menunjukkan bahwa sebanyak 53% penyebab kematian anak
di bawah lima tahun adalah karena gizi buruk atau kurang, dua pertiga di
antaranya terkait dengan pemberian makanan kurang tepat. 7 Balita yang
meninggal karena gizi buruk mengalami beberapa proses. Awalnya, ibu
sang bayi ketika hamil tidak terlalu memikirkan masalah makanan sehat
untuk bayi. Bisa jadi karena belum mengerti atau memang tidak memiliki
cukup uang untuk membeli makanan yang bergizi untuk janin. Padahal,
asupan gizi pada saat hamil sangat penting. Apa yang dimakan oleh ibu
hamil akan dimakan juga oleh anaknya di dalam kandungan. Bayi yang
masih

di

dalam

kandungan

tersebut

pada

akhirnya

akan

makan

seadanya, sehingga asupan gizi yang diperlukan sang bayi tidak bisa
dipenuhi oleh ibunya. Setelah lahir, ternyata sang bayi masih belum bisa
mendapatkan asupan gizi yang cukup. Alasannya pun beragam. Bisa jadi
karena tidak sanggup membeli makanan bergizi sehingga kualitas ASI jadi

kurang baik. Bisa juga karena ibu tidak mengeluarkan ASI dan bayi hanya
diberi susu seadanya atau mungkin karena tingkat pengetahuan sang ibu
yang masih kurang. Kondisi yang sudah cukup parah tersebut diperparah
dengan pemberian makanan tambahan (saat bayi menginjak usia enam
bulan) yang seadanya. Maka, balita tersebut akhirnya meninggal dunia
karena rentetan masalah yang dihadapinya sejak masih dalam kandungan.

BAB 2
MAKSUD TUJUAN DAN MANFAAT

2.1

MAKSUD
Penyusunan POA Program Gizi ini dapat dipergunakan sebagai acuan bagi
Puskesmas beserta pihak-pihak lain yang terkait dalam pemberian pelayanan
kesehatan yang lebih mnegutamakan aspek promotif, preventif agar terwujud
pelayanan kesehatan yang efektif, efesien, rasional, bermutu dan proporsional

2.2
2.2.1

TUJUAN
Umum
Meningkatnya upaya kesehatan yang bersifat promotif dan preventif dalam
mencapai menurunkan Angka gizi buruk ataupun gizi kurang.

2.2.2

Khusus
2

1.

Tersedianya alokasi anggaran operasional untuk upaya program Gizi di


Puskesmas dan jaringannya serta Poskesdes dan Posyandu.

2.

Tersusunnya perencanaan program Gizi di Puskesmas untuk penyelenggaraan


upaya kesehatan di wilayah kerja.

3.

Terlaksananya kegiatan upaya program Gizi di Puskesmas dan jaringannya


serta Poskesdes/Polindes dan Posyandu dan tempat pelayanan kesehatan
lainnya.

4.

Meningkatnya peran serta masyarakat dalam kegiatan upaya kesehatan


promotif dan preventif dalam program Gizi

2.3

MANFAAT POA
1.

Terciptanya rencana kerja yang efektif, efesien dan proporsional

2.

Adanya acuan pelaksanaan kegiatan pelayanan kesehatan yang bersifat


promotif, preventif di Puskesmas dan jaringannya.

B AB 3
PROFIL PUSKESMAS
3.1 KONDISI GEOGRAFIS
Puskesmas Lamongan merupakan salah satu Puskesmas di Kabupaten
Lamongan yang berbatasan dengan :
Sebelah utara

: kecamatan Turi

Sebelah timur

: kecamatan Deket

Sebelah selatan

: kecamatan Tikung

Sebelah Barat

: kecamatan Sukodadi

Luas wilayah kerja puskesmas lamongan 39,65 KM2., dimana 94% merupakan dataran . Jarak
tempuh desa ke puskesmas terjauh sekitar 6 KM sedangkan akses jalan semua desa bisa
dilewati kendaraan roda 2 maupun roda 4.
PETA WILAYAH PUSKESMAS LAMONGAN

Luas wilayah per desa dapat dilihat pada tabel berikut ini :
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

NAMA KELURAHAN /
DESA
Banjarmendalan
Tumenggungan
Sidokumpul
Sukorejo
Sukomulyo
Sidoharjo
Tlogoanyar
Jetis
Made
Tanjung
Plosowahyu
Pangkatrejo
Kebet
Karanglangit
Sumberejo
Sendangrejo
Rancangkencono
Kramat
Sidomukti
Wajik

LUAS
WILAYAH
(KM2)
106
271
145
210
341
214
90
71
133
205
173
175
223
225
243
215
319
195
123
281
39.658

JUMLAH DESA
Kelurahan
Desa
1
1
1
1
1
1
1
1

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
12

JARAK KE
PUSKESMAS
(KM)
1
1,5
1,3
2
1,5
1,5
1
0,5
4
4,5
4
5
6,5
6
5
6
6,5
6
4
5

Sumber data : Data Luas Wilayah Kecamatan Lamongan tahun 2014

3.2 KONDISI DEMOGRAFIS


Jumlah penduduk di Puskesmas Lamongan tahun 2015 mencapai 65.686 jiwa.

Tabel data jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Lamongan tahun 2015
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

NAMA
DESA/KELURAHAN
Banjarmendalan
Sidokumpul
Tumenggungan
Sukorejo
Sukomulyo
Sidoharjo
Tlogoanyar
Jetis
Made
Tanjung
Plosowahyu
Karanglangit
Pangkatrejo
Kebet
Sumberejo
Sendangrejo
Rancangkencono
Kramat
Sidomukti
Wajik

JUMLAH PENDUDUK
L
P
1050
1099
2483
2434
2367
2466
2107
2289
2711
2914
2894
2971
1206
1163
1501
1499
3408
4223
973
965
1356
1374
1337
1554
1272
1311
934
992
1231
1264
823
1002
1376
1398
961
944
919
874
991
1048
31899
33787

TOTAL
2150
4917
4833
4396
5625
5865
2369
3000
7631
1938
2729
2891
2583
1926
2494
1825
2775
1905
1794
2040
65686

Sumber Data :Data Statistik Kec. Lamongan 2014

3.3 SARANA PELAYANAN KESEHATAN DI KECAMATAN LAMONGAN


Secara umum jumlah sarana pelayanan kesehatan yang berada di Kecamatan
Lamongan dapat dilihat pada tabel berikut:
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

JENIS SARANA YAN KES


RSU PEMERINTAH
RSU SWASTA
RS KHUSUS SWASTA
KLINIK SWASTA
PUSKESMAS
PUSTU
PONKESDES
PUSLING
POLINDES
APOTEK
DOKTER PRAKTEK SWASTA
BIDAN PRAKTEK SWASTA
POSYANDU
RUMAH BERSALIN

JUMLAH
1
5
1
7
1
4
5
2
12
21
34
12
101
0

KETERANGAN

TOTAL
Sumber data: Data Profil Puskesmas Lamongan tahun 2014

3.4 KETENAGAAN DI PUSKESMAS BESERTA JARINGANNYA


Untuk ketenagaan berdasarkan tingkat pendidikan di Puskesmas Lamongan beserta
jaringannya dapat dilihat pada tabel berikut:

No.

Pendidikan

Status Kepegawaian
PTT
KONTRAK

PN S

MAGANG

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
17
18
19

Dokter Umum
Dokter Gigi
Apoteker
SKM
S1 Keperawatan
Akper
SPK
AKL
AKZI
S1 Kebidanan /D4
AKBID
P2B
AKG
Amd Farm
SSi
Analis Kesehatan
Refraksionis
Sarjana Umum
SLTA
SLTP
SD
J U M LAH

2
1
0
0
2
7
1
0
1
5
15
1
1
1
1
1
0
3
6
0
0
58

0
0
0
0
0
3
0
0
0
2
3
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
8

0
0
0
1
0
6
0
0
0
0
3
0
0
2
0
1
0
1
2
1
0
17

1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
8
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
10

Sumber data: Data Kepegawaian Puskesmas Lamongan tahun 2015

3.5 SARANA DAN PRASARANA PENUNJANG


Bangunan gedung puskesmas Lamongan yang dibangun 2 lantai, dimana lantai
bawah sebagai ruang pelayanan , sedangkan lantai atas sebagai ruang Kepala Puskesmas
dan administrasi
NO
1.
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

NAMA RUANG
Lantai bawah :
Pelayanan Rawat Jalan
UGD
Loket
Laboratorium
Apotek
Gudang Obat
Ruang Penyimpanan Vaksin
Lantai Atas :
Ruang Kepala Puskesmas
Ruang Tata Usaha
Ruang PJ Program
Ruang Rapat / Aula
Mushola
Gudang

JUMLAH
6 Unit
1 Unit
1 Unit
1 Unit
1 Unit
1 Unit
1 Unit
1 Unit
1 Unit
1 Unit
1 Unit
1 Unit
1 Unit

Dalam rangka pelaksanaan program KIA di Puskesmas beserta jaringannya


dibutuhkan sarana dan prasarana penunjang

berupa obat-obatan /unit farmasi,

laboratorium, ECG, Ambulan maupun alat kesehatan lainnya yang dapat dilihat pada
tabel sebagai berikut :

No.

Jenis Sarana
Penunjang

Jumlah Sarana Penunjang


Kurang

Cukup

1.

Obat obatan

2.

Laboratorium

4.

ECG

Alkes lainnya

Ambulan

Lebih

Sumber data : Data Inventaris Barang Puskesmas Lamongan

JUMLAH TENAGA KESEHATAN IBU DAN ANAK


1.

Bidan di Puskesmas
a). Bidan Koordinator
b). Bidan di poli KIA, dan K Bersalin
c). Bidan Magang
2. Bidan di Desa/ Kelurahan
3. Bidan Magang di desa
MITRA KERJA
1. Jumlah Kader Posyandu
:
a) Terlatih
: 353
b) Tidak terlatih
: 165
2. Jumlah Dukun
:-

:
: 1 Orang
: 4 Orang
: 8 Orang
: 21 Orang
: -

PERALATAN
1. Pemeriksaan Ibu Hamil

2. Polindes Kit
SARANA
1. Ruang Programer KIA
2. Poli KIA
3. Poli KB
4. Pustu
5. Polindes

:2
: 17
:
:
:
:
:

1 Ruangan
1 Ruangan
1 Ruangan
4 Pustu
5 Ponkesdes, 12 Polindes

3.6 CAKUPAN PROGRAM GIZI TAHUN 2015


NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

INDIKATOR KINERJA

SASARAN

Cakupan balita gizi buruk yang mendapat


perawatan
Cakupan balita ditimbang berat badannya
(D/S)
Cakupan N/D
Cakupan N/S
Cakupan K/S
Cakupan D/K
Meningkatnya cakupan pemberian Vitamin
A 1x pada bayi
Meningkatnya cakupan pemberian Vitamin
A 2x pada balita
Cakupan rumah tangga mengkonsumsi
garam beryodium
Cakupan bayi usia 0-6 bulan mendapat ASI
Eksklusif
Pemberian tablet besi (90 tablet) pada bumil
MP-ASI pada anak usia 6-24 tahun

CAPAIAN

100

%
100

85

95,5

85

97,1

440

100

85

98,5

Pemberian PMT Pemulihan balita gizi


kurang / buruk
Sumber : Laporan Gizi 2015

Selain indikator yang ada di Laporan Gizi masih ada beberapa data lain yang menunjukkan
permasalahan Gizi yang perlu mendapatkan perhatian , yaitu:
N
O
1
2
3

SASARAN

INDIKATOR KINERJA

CAPAIAN
%

Sumber: laporan Gizi 2015

CAKUPAN PROGRAM GIZI


NO

INDIKATOR KINERJA

SASARAN

CAPAIAN
%

Sumber : laporan Gizi

3.7 INDIKATOR KEBERHASILAN PROGRAM


Pelaksanaan kegiatan Program Gizi di

Puskesmas menitikberatkan pada

pelaksanaan upaya kesehatan yang bersifat promotif, preventif memiliki beberapa


indikator yang dapat dijadikan sebagai ukuran keberhasilan pelaksanaan program
tersebut antara lain yaitu:
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

INDIKATOR SPM KAB LAMONGAN


Cakupan balita gizi buruk yang mendapat perawatan
Cakupan balita ditimbang berat badannya (D/S)
Cakupan N/D
Cakupan N/S
Cakupan K/S
Cakupan D/K
Meningkatnya cakupan pemberian Vitamin A 1x pada bayi
Meningkatnya cakupan pemberian Vitamin A 2x pada balita
Cakupan rumah tangga mengkonsumsi garam beryodium
Cakupan bayi usia 0-6 bulan mendapat ASI Eksklusif

TARGET
100%
78%
80%
60%
100%
80%
80%
80%
85%
80%

Sumber : Laporan Bulanan PWS KIA s/d nop 2015

3.8 CAPAIAN PROGRAM DIBANDING TARGET


Dengan melihat indikator keberhasilan program diatas bila dibandingkan dengan target
indikator keberhasilan adalah sebagai berikut :
NO

INDIKATOR

TARGET

Cakupan balita gizi buruk yang mendapat

CAPAIAN

KESENJA
NGAN

3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

perawatan
Cakupan balita ditimbang berat badannya
(D/S)
Cakupan N/D
Cakupan N/S
Cakupan K/S
Cakupan D/K
Meningkatnya cakupan pemberian Vitamin
A 1x pada bayi
Meningkatnya cakupan pemberian Vitamin
A 2x pada balita
Cakupan rumah tangga mengkonsumsi
garam beryodium
Cakupan bayi usia 0-6 bulan mendapat ASI
Eksklusif
Jumlah Kematian Bayi

Sumber data: Laporan bulanan Gizi 2015


3.9 KEBUTUHAN DAN HARAPAN MASYARAKAT
Kegiatan dalam setiap UKM Puskesmas disusun oleh Kepala Puskesmas dan
penanggung jawab UKM tidak hanya mengacu pada pedoman dan acuan yang sudah
ditetapkan oleh Kementrian Kesehatan, Dinas Kesehatan Propinsi maupun Dinas
Kesehatan Kabupaten, namun demikian perlu memperhatikan kebutuhan dan harapan
masyarakat terutama sasaran program. Dalam hal ini kami perlu mengadakan survey
untuk mengetahui kebutuhan masyarakat.

10

B AB 4
IDENTIFIKASI PERMASALAHAN

4.1 IDENTIFIKASI MASALAH KESEHATAN


Dengan melihat uraian pada bab terdahulu nampak masih ditemukan
permasalahan program Gizi, hal ini dapat dilihat bila kita bandingkan hasil cakupan
kegiatan dengan indikator keberhasilan program menghasilkan berbagai kondisi yang
tidak sesuai dengan target capaian,serta melihat dari harapan masyarakat sehingga
dapat diperoleh beberapa permasalahan program Gizi yaitu:
1. Masih kurangnya pelayanan konseling gizi (pojok gizi).
2. Masih ditemukannya balita gizi kurang.
3. Ibu hamil KEK tahun 2015 mencapai 33 ibu hamil.

11

4.2. PENENTUAN PRIORITAS MASALAH


Berdasarkan dari analisis penentuan permasalahan diatas maka perlu ditentukan prioritas masalah agar terwujud pelaksanaan kegiatan yang menganut prinsip efektif,
efesien, proporsional serta rasional dengan mengunakan alat analisis manajemen yaitu: MCUA (Multiple Criteria Utility Assesment) sebagai berikut:
No

Kriteria

Masalah

Bobot (B)

1
S

Besarnya masalah
kesehatan

Keseriusan masalah
kesehatan
Kemampuan Sumber
Daya

2
3

2
BS

75

BS

BS

75

100

25

40

80

80

120

35

35

70

105

Jumlah
BS
Ranking

190
3

225
2

325
1

Keterangan:
B
: Bobot (Nilai untuk menyatukan tingkat kepentingan)
S
: Skor 1 5 ( 1 = Tdk penting, 2 = Kurang penting, 3 = Penting, 4 = Lebih penting, 5 = Sangat penting )
Urutan Prioritas Masalah :
1. Ibu hamil KEK tahun 2015 mencapai 33 ibu hamil.
2. Masih ditemukannya balita gizi kurang.
3. Masih kurangnya pelayanan konseling gizi (pojok gizi).

4.3 MENCARI PENYEBAB MASALAH

12

KETERANGAN

Upaya pencarian akar penyebab masalah dengan mencoba menelusuri faktor penyebab yang berpengaruh terhadap masalah tersebut baik secara langsung maupun tidak
langsung dengan menggunakan alat analisis diagram tulang ikan (fish bone analizer). Beberapa faktor akar penyebab masalah tersebut dikelompokan dalam berbagai
kelompok faktor internal (sumberdaya) maupun faktor eksternal (lingkungan) yang dapat dilihat sebagai berikut:
Ibu Hamil KEK :
LINGKUNGAN
MANUSIA
Keluarga kurang mendukung
Menderita penyakit
(masih ada mitos makanan bumil)
tertentu

DANA

Kurangnya Penyuluhan
tentang gizi ibu hamil
Pembelian PMT
Pemulihan

1.

Ibu hamil KEK tahun


2015 mencapai 33 ibu

Pengukuran IMT, LILA


BUmil kurang optimal
Pemantauan bagi bumil KEK
yang mendapat PMT

Leaflet yg kurang
Kurang memanfaatkan
kelas ibu hamil
Kurang memanfaatkan
pojok gizi

MATERIAL

METODE

Masih ditemukan balita gizi kurang

13

hamil KEK.

DANA

LINGKUNGAN

MANUSIA

Pengetahuan kurang
Pelacakan balita gizi
kurang

Pola makan dan pola asuh yang


salah

Kurangnya dukungan
keluarga

Pemberian PMT
Pemulihan

Masih ditemukan kasus


balita gizi kurang
Kurangnya brosur ttg gizi
baliata

Cara pembuatan PMT yang


salah

Penyuluhan kurang
maksimal

Pemantauan bagi balita


yg mendapat PMT

MATERIAL

METODE

Masih kurangnya kegiatan penyuluhan atau konseling gizi

14

LINGKUNGAN

MANUSIA

DANA
Anggaran untuk nutriclean

Kurangnya dukungan linytas


program

Keterbatasan tenaga

Masih kurang optimalnya


pojok gizi
Kurang memanfaatkan
pojok gizi

Kurangnya leaflet ttg Gizi

MATERIAL

METODE

15

4.4 PENENTUAN PRIORITAS PENYEBAB MASALAH


TABEL 4.4.1 MENENTUKAN PRIORITAS PENYEBAB MASALAH DENGAN NGT IBU
HAMIL KEK

NO.

PENYEBAB MASALAH I

TIM MANAJEMEN PUSK


Fitria

Ratna

Nafiah

TOTAL

1.

Masih ada mitos tentang


makanan bumil

105

2.

Ibu hamil menderita penyakit


tertentu

48

3.

Kurangnya penyuluhan
tentang gizi ibu hamil

294

4.

Pemberian PMT Pemulihan


ibu hamil KEK

120

Kurangnya pengukuran LILA


dan IMT ibu hamil

60

Pemantauan ibu hamil KEK


yang mendapat PMT
PEmulihan

Leaflet tentang gizi ibu hamil


masih kurang

TABEL 4.4.2 MENENTUKAN PRIORITAS PENYEBAB MASALAH DENGAN NGT


BALITA GIZI KIURANG

NO.

PENYEBAB MASALAH I

TIM MANAJEMEN PUSK


Fitria

R. Firdaus

Nafiah

TOTAL

1.

Kurangnya dukungan keluarga

2.

Penyuluhan kurang maksimal

648

3.

Cara pembuatan PMT


pemulihan yang salah

80

4.

Pelacakan balita gizi kurang

120

Pemantauan balita gizi kurang


yang mendapat PMT

18

Kurangnya pengetahuan

504

Pola asuh dan pola makan


yang salah

180

Kurangnya brosur tentang gizi


balita

Pemberian PMT Pemulihan

392

16

TABEL 4.4.3 MENENTUKAN PRIORITAS PENYEBAB MASALAH DENGAN NGT


MASIH KURANGNYA POJOK GIZI

NO.

PENYEBAB MASALAH I

IM MANAJEMEN PUSK
Dr. Jannah

Fitria

Ratna

TOTAL

1.

Kurangnya dukungan lintas


program

252

2.

Keterbatasan tenaga

294

3.

Anggaran untuk sistem


nutriclean

36

4.

Kurangnya leaflet tentang gizi

60

Kurang memanfaatkan pojok


gizi

100

17

4.5 MENENTUKAN PRIORITAS PEMECAHAN MASALAH


NO.

PRIORTAS MASALAH
Masih ditemukan bumil KEK
Sebanyak 33 bumil

PENYEBAB MASALAH
Kurangnya penyuluhan ttg gizi bumil

ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH

RANGKING

Penyuluhan ke desa/kelurahan
Pemanfaatan pojok gizi

Kurangnya pemberian PMT pemulihan pd


Bumil KEK

Pemberian PMT pemulihan padat gizi untuk bumil

Adanya mitos yang salah tentang gizi bumil

Penyuluhan gizi bumil

Pendampingan bumil yang mendapatkan PMT pemulihan

Mengadakan kelas hamil di setiap desa/kelurahan

Masih ditemukan balita gizi


kurang/ buruk

Kurangnya penyuluhan tentang balita gizi


buruk/kurang

Mengalakkan kegiatan penyuluhan di posyandu


Memanfaatkan pojok gizi

Pemberian PMT Pemulihan untuk balita gizi


kurang/buruk

Pendampingan pada balita gizi buruk/kurang melalui


kunjungan rumah

Pemberian PMT Pemulihan padat gizi untuk balita gizi


kurang/buruk
Masih adanya pola asuh dan pola makan yang
salah pada balita

Kurang optimalnya pojok

Keterbatasan tenaga

Penyuluhan ke desa/kelurahan
PMT penyuluhan

CFC

Penambahan tenaga pelaksana gizi

18

KETERANGAN

gizi
Pelatihan / Refreshing untuk petugas gizi
Pemasangan poster-poster tentang gizi
Belum optimalnya kerjasama dengan lintas
program

Mengoptimalkan pasien-pasien yang membutuhkan


konsultasi gizi.
Memanfaatkan pojok gizi
Bulan Penimbangan

Kurangnya pengadaan leaflet tentang gizi

Melakukan pengandaan leaflet-leaflet tentang penyakit yang


membutuhkan konsultasi gizi

19

PRIORITAS PEMECAHAN MASALAH :


1. Pemberian PMT penyuluhan
2. Pemberian PMT penyuluhan (CFC)
3. Pemberian PMT pemulihan
4. Pendampingan balita gizi buruk
5. Bulan penimbangan balita

20