Anda di halaman 1dari 21

TUGAS II Manajemen Bencana

Penyebab dan Karakteristik Kerusakan Lingkungan dan


Perubahan Iklim
Dosen Pembimbing : Dr. Sri Mulyati, ST, MT

Disusun Oleh :
Dora Amalia
1304108010040

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
BANDA ACEH
2016

1. Faktor Penyebab Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim


Faktor yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan atau kerusakan lingkungan adalah
sebagai berikut.

Faktor Alam
Lingkungan dalam suatu ekosistem dapat mengalami perubahan sebagian atau
menyeluruh. Biasanya perubahan total terjadi akibat bencana alam, seperti banjir, lahar
panas atau lahar dingin, letusan gunung berapi, gempa, gelombang tsunami, dan lainlain.
Terjadinya kerusakan atau perubahan yang diakibatkan oleh faktor alam dapat merusak
habis semua komunitas yang ada di lingkungan tersebut. Komunitas itu akan muncul
kembali (suksesi) yang membutuhkan waktu cukup lama, bahkan sampai ratusan tahun,
contohnya suksesi pada Gunung Krakatau akibat letusan dahsyat yang terjadi lebih dari

150 tahun yang lalu.


Faktor Manusia
Kebutuhan hidu manusia saat ini menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai
sarana untuk memanfaatkan sumber daya alam di lingkungannya. Dengan ilmu dan
teknologi, manusia mampu mempengaruhi sumber daya alam di lingkungan sekitar
sesuai kehendaknya.
Sumber daya alam yang ada di lingkungan alam sekitar kita bisa berupa pangan,
sandang, papan, transportasi, berbagai macam peralatan, dan mesin-mesin industri.
Semakin besar jumlah populasi manusia dan semakin maju teknologi, semakin banyak
pula ragam dan jumlah sumber daya alam yang dapat diambil dari lingkungan sehingga
semakin besar kerusakan yang timbul akibat dari kegiatan manusia tersebut. Contohnya,
akhir-akhir ini di Pulau Kalimantan dan Sumatra sering terjadi pembakaran hutan secara
besar-besaran. Selain merusak lingkungan setempat, kebakaran hutan juga dapat
menimbulkan pencemaran lingkungan sekitarnya. Pencemaran lingkungan dapat berupa
pencemaran air, tanah, udara, maupun suara.

Faktor yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan iklim adalah sebagai berikut:

Efek Rumah Kaca (Green House Effect)


Secara umum, bumi memiliki fungsi memantulkan cahaya matahari dalam bentuk sinar
inframerah ke atmosfer. Kemudian sinar inframerah tersebut akan diserap (absorpsi)
kembali oleh gas-gas atau zat-zat yang ada di atmosfer, sehingga keadaan bumi menjadi
tetap hangat atau panas walaupun pada saat malam hari.

Gas atau zat-zat yang berfungsi menyerap dan menahan pantulan sinar inframerah dari
bumi disebut gas-gas rumah kaca (green house glasses) karena seolah-olah gas-gas itu
berfungsi sebagai kaca pada suatu rumah kaca. Tertahannya sinar inframerah oleh gasgas rumah kaca, mengakibatkan terjadinya kenaikan suhu udara di muka bumi yang
disebut efek rumah kaca (green house effect). Naiknya suhu udara di bumi secara
menyeluruh disebut pemanasan global (global warming).
Gas-gas yang berfungsi seperti rumah kaca, antara lain Karbondioksida (CO2), Metan
(CH4), gas atau senyawa Nitrogen (NO, NH3 dan N2O), senyawa Sulfur (H2S dan
SO2), Ozon (O3) dan Clorofluorocarbon (CFC). Di antara gas-gas rumah kaca tersebut,
Karbondioksida (CO2) dan Clorofluorokarbon (CFC) merupakan gas yang paling
dominan dan penting dalam memberikan konstribusi pada terjadinya pemanasan global.
Karbon dioksida dikeluarkan ke atmosfer melalui aktivitas pembakaran pada mesinmesin industri yang berbahan bakar batu bara, bensin, minyak tanah, atau solar, selain itu
dari asap kendaraan bermotor serta hasil metabolisme dan respirasi makhluk hidup.
Adapun CFC dilepaskan ke atmosfer melalui aktivitas manusia dalam bentuk
penggunaan lemari es, AC (Air Conditioner), atau aerosol yang disemprotkan, misalnya
parfum yang menggunakan freon dan halon.
Akibat dari banyaknya CO2, CFC, dan gas-gas rumah kaca lainnya yang dilepaskan ke
atmosfer, maka suhu udara di bumi akan semakin cepat meningkat yang pada akhirnya
akan mengakibatkan gangguan dan perubahan iklim secara global. Hal ini ditandai
dengan meningkatnya pencairan es atau salju di kedua kutub bumi dan naiknya
permukaan air laut secara keseluruhan sehingga memungkinkan tergenangnya kota-kota

di sepanjang pantai.
Penipisan Lapisan Ozon (Ozon Deplation)
Lapisan ozon merupakan suatu lapisan tipis yang banyak mengan dung gas ozon (O3)
yang terdapat pada bagian stratosfer yang berfungsi antara lain menyerap (absorption)
dan memantulkan (reflection) radiasi sinar ultraviolet (UV) dari matahari sehingga sinar
yang sampai ke permukaan bumi tidak berlebihan.
Akibat dari meningkatnya aktivitas manusia di berbagai negara di dunia, keberadaan
lapisan ozon tersebut menjadi semakin menipis bahkan di beberapa lokasi terutama
kutub utara dan selatan bumi dalam keadaan berlubang.
Aktivitas manusia yang berperan dalam penipisan lapisan ozon, antara lain aktivitas
manusia dalam bidang industri. Industri banyak mengemisikan CFC dari limbah pabrik
berupa gas dari pabrik, refrigrator, AC (Air Conditioner), dan aerosol.

Kelestarian Hutan Tidak Terjaga


Hutan merupakan salah satu sumber daya yang sangat penting. Selain sebagai penunjang
perekonomian nasional, hutan juga mempunyai daya dukung untuk menjaga
keseimbangan ekosistem yang ada di bumi. Indonesia adalah salah satu negara yang
mempunyai hutan terluas di dunia, sekitar 120.3 juta hektar. Sekitar 17 % dari luas
tersebut merupakan hutan konservasi dan 23 % merupakan hutan lindung dan sisanya
hutan produksi. Semenjak 1970 kerusakan hutan mulai terjadi, ketika dibuka secara
besar-besaran untuk tujuan komersial. Kerusakan ini terjadi karena adanya penebangan
secara liar, kebakaran hutan baik secara sengaja maupun tidak, konversi hutan untuk
lahan perkebunan dalam skala besar. Akibatnya banyak satwa yang kehilangan
habitatnya dan mengalami kepunahan, dan ini termasuk tertinggi dalam kelompok negara
yang tergabung dalam ASEAN.
Pengundulan pada hutan juga mengurangi penyerapan karbondioksida oleh pepohonan di
hutan. Yang terjadi adalah emisi karbon meningkat hingga 20 % dan mengubah iklim
sebagaimana yang kita rasakan di tahun 2013 ini. Iklim berubah secara siklus hidrologis
dan mikro lokal dan menyebabkan kesuburan tanah berkurang.

A. Pencemaran Air, Tanah dan Udara


Pencemaran air ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah seperti yang
berikut ini:

Adanya peningkatan kandungan nutrient yang terjadi pada air sehingga mengarah
pada adanya esutrofikasi

Adanya pembuangan sampah organic yang biasanya dihasilkan oleh limbah rumah
tangga seperti halnya air comberan yang dibuang begitu saja ke air dapat membuat
oksigen di dalam air menjadi berkurang dan terganggu sehingga makhluk hidup air juga
akan mengalami gangguan pada kehidupannya serta ruang publik untuk kehidupan. Jika
ini terus berlanjut maka akan dapat menyebabkan kerusakan ekosistem air.

Industri yang membuang limbahnya secara sembarangan ke dalam air padahal di


dalam limbah tersebut terdapat berbagai zat kimia yang sangat berbahaya seperti logam
berat, minyak, nutrein, limbah organic dan juga padatan. Seperti halnya pada limbah

rumah tangga, limbah industri ini juga memiliki efek termal yaitu mampu
menghilangkan oksigen di dalam air yang mampu merusak ekosistem air. Selain itu jika
air sudah bercampur dengan limbah zat kimia maka tidak bisa digunakan lagi oleh semua
makhluk hidup termasuk manusia karena sudah tidak aman lagi dan memiliki racun di
dalamnya.

Sampah buangan baik dari rumah tangga atau industri yang menyebabkan terjadinya
pencemaran air.

Adanya penggunaan bahan peledak seperti bom untuk membunuh ikan yang banyak
dilakukan oleh para nelayan juga mampu menimbulkan terjadinya pencemaran air.
Sumber pencemaran udara lainnya yang menjadi penyebab pencemaran udaa diantaranya

adalah sebagai berikut ini:

Aktivitas manusia, hal ini meliputi transportasi, adanya berbagai pabrik dan industri
yang membuang gas buang atau asapnya secara sembarangan dan tidak melalui
mekanisme yang seharusnya, karena pembangit listrik, dari alat pembakaran baik dalam
skala besar atau kecil seperti kompor, tungku, frunance dan lainnya dan gas buang yang
dimiliki oleh pabrik terutama yang menganudung CFC di dalamnya.

Sumber alami, pencemaran udara yang terjadi ini dikarenakan oleh sumber alami dari
fenomena alam seperti adanya letusan gunung berapi, rawa-rawa, terjadinya kebakaran
hutan pada musim kemarau dan juga denitrifikasi serta dalam kondisi tertentu pada
tumbuhan mampu menghasilkan volatile organic yang bisa menjadi polutan di dalam
udara.

Sumber lain, pencemaran udara juga bisa terjadi karena berbagai sumber lainnya
diantaranya adalah karena kebocoran tangki gas yang disebabkan karena kelalaian
manusia, adanya transportasi yang meningkat jumlanya, karena uap pelarut organic dan
juga dari gas metana yang berasal dari tempat pembuangan sampah akhir.
Jenis pencemaran lingkungan yang ke tiga adalah pencemaran tanah, dimana

pencemaran ini terjadi karena adanya zat atau bahan kimia yang ada di dalam tanah dan
biasanya terjadi karena hasil dari ulah manusia sehingga mengubah struktur dan kandungan

tanah yang masih alami. Ada banyak hal yang membuat bahan kimia ini masuk ke dalam
tanah misalnya saja kebocoran limbah kimia cair hasil dari pabrik industri tertentu, adanya
penggunaan pestisida pada tanaman yang masuk ke dalam lapisan tanah, adanya kecelakaan
pengendara yang mengangkut minyak sehingga bahan kimia yang ada di dalam minyak
tumpah ke dalam tanah, serta pembuangan sampah yang langsung ditimbun ke dalam tanah
tanpa dilakukan penguraian dulu sebelumnya.
Saat zat kimia sudah masuk ke dalam tanah maka zat tersebut dapat masuk ke dalam
tanah yang lebih dalam dan mencemari air tanah, dapat menguap ke udara dan juga dapat
tersapu oleh air hujan sehingga mampu menimbulkan berbagai pencemaran lainnya. zat kimia
ini tentunya sangat berbahaya bagi makhluk hidup yang mengalami paparannya termasuk
manusia, tumbuhan dan hewan. Adanya paparan yang terjadi secara terus menerus dapat
mengakibatkan berbagai jenis penykit termasuk leukemia dan penyakit serius lainnya.
B. Kerusakan Hutan dan Lahan
Kerusakan hutan dan lahan ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah
seperti yang berikut ini:

Penebangan liar, Penebangan liar ini merupakan salah satu faktor utama
penyebab kerusakan hutan. Kegiatan ini tak hanya dilakukan oleh
masyarakat sekitar saja, perusahaan yang memiliki izin penebangan
pohon pun kan jenis pelanggaran ini. Perusahaan yang telah memiliki
izin, biasanya mereka melakukan penebangan melebihi batas yang
sudah ditentukan. Penebangan liar yang terjadi biasanya dilakukan
pada lahan yang diperuntukan untuk hutan produksi, hutan lindung
bahkan

hingga

mencapai

kawasan

Konservasi

seperti

Suaka

Margasatwa dan Taman Nasional. Permasalahan ini harus ditangani


dengan serius. Jika tidak, hutan kita akan dibabat habis oleh tangantangan yang tidak bertanggung jawab.

Pembakaran hutan, Masayarakat yang membuka lahan dengan cara


membakar akan mengakibatkan kebakaran hutan yang lebih besar.
Mereka menganggap bahwa dengan cara membakar akan lebih mudah
nantinya ketika melakukan proses pembersihan. Pola pikir sperti ini

yang harus kita waspadai. Tak hanya hewan yang akan terkena
dampaknya bila kebakaran hutan terjadi. Manusia juga akan terkena
imbasnya. Asap yang ditimbulkan bisa menjadi penyebab polusi udara.
Bahkan bisa menyebabkan kematian. Untuk itu, proses pelebaran
lahan sebaiknya tidak dilakukan dengan cara dibakar. Namun,
lakukanlah dengan sebagaimana mestinya.

Pembabatan hutan, Pembabatan Hutan memiliki tujuan yang sama


dengan

pembakaran

pelebaran

lahan.

hutan.

Yakni

Pembabatan

tujuannya

Hutan

untuk

biasanya

melakukan

dilakukan

oleh

masyarakat sekitar untuk melebarkan lahan pertanian dan mengambil


hasil untuk memenuhi segala kebutuhan pokok. Namun, cara yang
mereka lakukan tidaklah benar. Mereka melakukan pembabatan
dengan cara merusak semua tanaman yang ada didalamnya tanpa
memikirkan dampak yang akan dihasilkan kedepannya. Ada juga
pembabatan hutan yang dilakukan karena diperalat oleh para cukong
untuk membuka lahan kelapa sawit.

Ladang berpindah, Pembabatan Hutan memiliki tujuan yang sama


dengan

pembakaran

pelebaran

lahan.

hutan.

Yakni

Pembabatan

tujuannya

Hutan

untuk

biasanya

melakukan

dilakukan

oleh

masyarakat sekitar untuk melebarkan lahan pertanian dan mengambil


hasil untuk memenuhi segala kebutuhan pokok. Namun, cara yang
mereka lakukan tidaklah benar. Mereka melakukan pembabatan
dengan cara merusak semua tanaman yang ada didalamnya tanpa
memikirkan dampak yang akan dihasilkan kedepannya. Ada juga
pembabatan hutan yang dilakukan karena diperalat oleh para cukong
untuk membuka lahan kelapa sawit.

Pertambangan,

Pertambangan

yang

dilakukan

disekitar

areal

perhutanan akan menyebabkan kerusakan hutan. Kandungan mineral


yang berada didalam tanah akan dieksploitasi dalam jumlah besar
sehingga merusak berbagai vegetasi di sekitarnya.

Musim kemarau panjang, Musim kemarau yang panjang akan memicu


timbulnya kebakaran hutan. Dengan kata lain, kebakaran hutan yang
timbul tidak hanya dihasilkan oleh manusia melainkan alam pun
menjadi salah satu penyebabnya. Namun, kejadian seperti ini kita
tidak bisa banyak berbuat. Karena semua itu terjad karena kehendak
Allah. Akan tetapi, yang perlu kita gairs bawahi adalah terjadinya
musim kemarau yang panjang salah satunya

disebabkan oleh

pemanasan golobal atau efek rumah kaca. Kembali lagi kepada


manusia itu sendiri, semua yang kita perbuat pasti ada imbasnya.

Letusan gunung berapi, Lava atau magma yang keluar dari perut bumi
akan menyebabkan kerusakan hutan disekitarnya. Tak hanya hutan,
letusan gunung ini pun dapat memusnakan seluruh kehidupan yang
ada pada areal tersebut. Letusan gunung ini terjadi karena tingginya
suhu magma dan banyaknya gas yang terkandung didalam perut
bumi. Sehingga membentuk retakan-retakan dan pergeseran lempeng
pada kulit bumi.

Tsunami, Fenomena bencana tsunami juga mengakibatkan terjadinya


kerusakan hutan. Terutama hutan-hutan yang berada di area pesisir.
Sebenarnya, hutan-hutan di bagian pesisir bisa mengurangi bahaya
tsunami terhadap manusia. Namun sekali lagi, hutan yang akan
terkena dampaknya.

C. Kerusakan Pesisir dan Laut


Kerusakan pesisir dan laut ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah
seperti yang berikut ini:

Kerusakan Karena Faktor Alam


Kerusakan yang diakibatkan oleh faktor alam adalah gempa, tsunami, badai, banjir, elNino, pemanasan, predator, erosi. Kerusakan yang diakibatkan oleh faktor alam dapat
terjadi secara alami ataupun akibat campur tangan manusia hingga mengakibatkan
bencana alam. Bencana alam berupa tsunami sering memakan korban yang tidak sedikit

dan menimbulkan kerusakan di daerah pesisir akibat gelombang laut yang ditimbulkan
oleh suatu gangguan impulsif yang terjadi pada medium laut. Masalah banjir di
Indonesia lebih sering disebabkan oleh manusia. Contoh-contoh penyebabnya, yaitu:
pengembangan kota yang tidak mampu atau tidak sempat membangun sarana drainase,
adanya bangunan-bangunan liar di sungai, sampah yang dibuang di sungai,
penggundulan di daerah hulu dan perkembangan kota di daerah hulu. Masalah erosi yang
terjadi dapat pula disebabkan oleh proses alami, aktivitas manusia ataupun kombinasi
keduanya.

Kerusakan Akibat Antropogenik


Perilaku manusia banyak dipengaruhi oleh etika antroposentrisme. Antroposentrisme ini
merupakan simbol kerakusan manusia yang tidak hanya bersifat individual tetapi dapat
bersifat kolektif. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan maka muncul
indutrialisasi yang kini marak dilakukan. Manusia tidak hanya memanfaatkan alam
sebatas keperluannya tetapi kini manusia telah memanfaatkannya melebihi yang
dibutuhkannya. Hal ini berarti manusia mengeksploitasi alam dan lingkungan untuk
mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa berpikir panjang terhadap dampak
yang akan terjadi. Dampak akibat aktivitas tersebut dapat merusak sumber daya alam
khususnya dalam hal ini ekosistem pesisir.

2. Karakteristik Kerusakan Lingkungan dan Kaitannya Dengan Perubahan Iklim


A. Karakteristik Kerusakan Lingkungan Pada Air, Tanah, Udara
Karakteristik pencemaran air antara lain :

Terdapat warna pada air


Salah satu ciri dari air yang tercemar dan dapat dilihat dengan kasat mata adalah terdapat
perubahan warna pada air tersebut. Air yang sehat terlihat jernih dan tidak berwarna.
Ketika air yang seharusnya jernih atau tidak berwarna ini tiba- tiba berubah warna, maka
hal ini menandakan bahwa air beresiko tercemar. Perubahan warna ini terjadi karena ada
zat yang mencemari tersebut atau polutan. Berbagai polutan yang mencemari air dan
dapat membuat perubahan pada warna air ini ada bermacam- macam, seperti limbah

industri.
Terdapat bau aneh pada air
Selain terjadi perubahan pada warna, salah satu ciri dari air yang tercemar adalah
mempunyai perubahan pada bau. Air yang sehat biasanya tidak berbau. Ketika kita

menemui air yang memiliki bau maka air itu beresiko tercemar oleh zuatu zat polutan
tertentu. Biasanya bau yang ditimbulkan dari air yang tercemar ini adalah bau yang aneh,
menyengat, ataupun busuk. Ada banyak polutan yang menyebabkan air ini mengalami

perubahan pada bau, diantaranya adalah limbah industri, pertanian, atau rumah tangga.
Air mempunyai rasa
Selain warna dan bau, ada lagi ciri yang mengindikasikan air tersebut tercemar, yakni
terjadi perubahan pada rasa. Air yang sehat adalah air yang tidak memiliki rasa, atau
hambar. Sehingga apabila kita menemukan air yang memiliki rasa tertentu (dengan
catatan bahwa air tersebut tidak sengaja ditambah dengan zat perasa), maka air tersebut
dipertanyakan kemurniannya, baik rasa manis, asin, pahit dan sebagainya. Ada banyak
sekali zat yang mencemari air ini sehingga mengalami perubahan rasa. Beberapa polutan
yang dapat menyebabkan perubahan pada rasa air adalah limbah rumah tangga, limbah

cair dari pupuk, atau limbah industri.


Derajat keasaman atau pH air tidak netral
Derajat keasaman atau pH air merupakan salah satu indikator dari sehat atau tidak air. pH
ini adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman
ataupun tingkat kebebasan yang ada pada suatu larutan. Air yang normal memiliki pH
netral, yakni sekitar 7. Ketika air tersebut tercemar oleh suatu polutan maka air tersebut
mempunyai pH yang kurang atau lebih dari pH normal, yakni berkisar antara 4 hingga 6
atau 8 atau 9. Organisme yang hidup di air lebih menyukai suhu yang mendekati netral.
Sehingga apabila pH di air tersebut semakin jauh dari netral maka bisa saja mengganggu
kelangsungan hidup organisme yang notabeb adalah makanan bagi ikan- ikan. Hal ini
akan berakibat luas pada matinya ikan- ikan maupun binatang lain yang hidup di air
tersebut.

Terdapat perubahan pada suhu air


Hampir semua elemen di Bumi ini mempunyai suhu. Salah satunya adalah air. Air
mempunyai suhu yang rendah apabila dibandingkan dengan suhu lingkungan. Oleh
karena itulah air terasa dingin apabila kita sentuh. Pada kondisi normal, air mempunyai
suhu yang lebih rendah daripada suhu lingkungan. Misal suhu pada lingkungan kita
dapati sebesar 30 derajat Celcius, maka suhu air normal di lingkungan tersebut sekitar 25

sampai 27 derajat Celcius.


Terdapat endapan atau bahan terlarut
Endapan adalah bahan- bahan yang terdapat di dasar air. Sedangkan bahan terlaruh
merupakan bahan atau zat yang dapat bercampur menjadi satu dengan air tanpa kita
sadari, yang tidak menimbulkan sisa (endapan atau ampas). Kedua bahan pencemar ini,

yakni endapan dan bahan terlarut sangat bisa menimbulkan perubahan pada warna, rasa,
bau, dan pH atau derajat keasaman pada air. Otomatis hal ini akan menyebabkan air
menjadi tercemar. Ada banyak bahan yang menjadi endapan atau bahan terlarut ini,
seperti sampah sisa- sisa rumah tangga (palstik, air sisa detergen, dan sebagainya),
limbah pertanian seperti sisa pupuk cair atau insektisida, tumpahan minyak dan oli, dan

lain sebagainya.
Kelebihan jumlah mikroorganisme
Sampah atau limbah padat yang menjadi polutan di adalam air ini tetap diuraikan oleh
mikroorganisme. Akibatnya, semakin banyak sampah maka akan semakin banyak pula
mikroorganisme yang hidup di air. Mikroorganisme yang datang tersebut tidak semuanya
bersifat baik, ada beberapa yang mungkin bersifat sebagai patogen, yakni pembawa
penyakit. Dalam menguraikan sampah, mikroorganisme membutuhkan jumlah oksigen
yang banyak. Akibatnya jumlah oksigen yang ada di perairan tersebut akan semakin
sedikit. karena oksigen yang tersedia semakin sedikit, maka akan memgganggu
kelangsungan hidup ikan, binatang lainnya, serta tumbuhan yang hidup di perairan
tersebut. Bahkan bisa saja karena kekurangan oksigen, binatang dan tumbuhan iar

tersebut akan mati.


Meningkatnya radioaktivitas air
Radioaktivitas ini ditimbulkan oleh berbagai zat radioaktif. Zat radioaktif yang berasal
dari berbagai aktivitas manusia ini sangat mungkin menyebabkan berbagai macam
kerusakan biologis apabila tidak ditangani dengan benar. Sehingga apabila terdapat
banyak zat radioaktif di suatu air, maka air tersebut sangat beresiko tercemar.

Karakteristik pencemaran udara antara lain :

Udara Menjadi Berwarna


Untuk warna-nya tergantung dari jenis substansi yang mencemarinya. Seperti contoh
pencemaraan udara yang disebabkan oleh kebakaran hutan maka udara akan berwarna
kuning jika terlihat dari kejauhan, hal ini terjadi karena kandungan gas CO, CO2 dan
SO2 yang begitu tinggi. Untuk pencemaran udara dari asap pabrik umumnya udara akan

hitam karena kadar CO2, timbal dan unsur lain yang tinggi.
Udara Menjadi Berbau
Kemurnian udara hakikatnya sama dengan kemurnian air jadi ketika tercemar juga
memiliki tanda yang sama yakni memiliki bau. Udara ketika tercemar maka akan berbau,

untuk baunya bermacam macam tergantung dari polutan apa yang mencemari-nya.
Udara Memiliki Rasa

Hal ini masih berkaitan dengan bau dimana ketika manusia mencium bau udara yang
tercemar maka secara otomatis juga akan dapat mengenali rasa udara tersebut. Memang
udara bukan materi padat seperti makanan yang dapat dirasakan, namun dengan

mencium-nya saja sama saja dengan merasakannya.


Memiliki Suhu Yang Tinggi
Meskipun tidak setiap udara hangat itu tercemar namun setidaknya tanda seperti ini
sebagai pelengkap dari warna dan bau. Jadi ketika suhu udara tinggi namun tidak
berwarna dan tidak berbau ataupun berasa maka tidak dapat dikatakan udara tersebut
tercemar. Namun jika suatu udara berwarna, berbau dan berasa serta bersuhu lebih tinggi,

udara tersebut pastilah sudah tercemar.


Sesak Nafas Ketika Terhirup
Salah satu tanda yang bisa dijadikan indikator pencemaran udara yaitu dapat
menyebabkan sesak nafas ketika dihirup. Hal ini disebabkan oleh rendahnya kadar
oksigen pada udara yang sudah tercemar polutan. Komposisi udara normal haruslah
mengandung Oksigen sekitar 21 persen dan Nitrogen 78 persen. Ketika kadar oksigen
turun hingga 10 persen sedangkan gas CO2 naik maka akan terjadi gejala sesak nafas
sebagai tanda tubuh kekurangan oksigen.

Karakteristik tanah tercemar adalah :

Tanah tidak subur


pH dibawah 6 (tanah asam) atau pH diatas 8 (tanah basa)
Berbau busuk
Kering
Mengandung logam berat
Mengandung sampah anorganik

B. Karakteristik Kerusakan Lingkungan Pada Hutan dan Lahan


Hutan yang tercemar adalah hutan yang rusak dan juga kotor. Hutan yang tercemar akan
berbeda dengan hutan- hutan pada umumnya. Hutan yang tercemar mempunyai beberapa ciriciri sebagai berikut:

Tanah sudah menjadi tidak subur


Pohon- pohon menjadi kering dan tidak subur
Udara menjadi tidak segar (
Ketika dihirup
Udara mengandung berbagai zat yang berbahaya
Terdapat zat- zat yang berbahaya di dalam tanah

Tidak mempunyai fungsi hutan yang semestinya

C. Karakteristik Kerusakan Lingkungan Pada Pesisir


Karakteristik pencemaran pesisir dan pantai:

Adanya limbah idustri di sungai yang meresap ke tanah.


Terdapat banyak sampah-sampah di daerah pesisir dan pantai. Sampah yang bersifat

organik maupun nonorganik juga dibuang ke laut melalui sistem DAS.


Terjadinya perubahan kondisi alam menjadi lingkungan buatan dengan dibangunnya

beberapa fasilitas penunjang yang diperluka.


Adanya pencemaran limbah minyak yang terjadi di pantai baik yang di sengaja maupun

yang tidak disengaja.


Rusaknya hutan mangrove di daerah pesisir pantai.
Hancurnya organisme yang membuat laut menjadi semakin tidak subur.

3. Parameter Pencemaran
A. Parameter Kimia
DO (Disolved Oxigent)
Oksigen terlarut adalah oksigen dalam bentuk terlarut didalam air karena ikan tidak dapat
mengambil oksigen dalam perairan dari difusi langsung dengan udara. Satuan pengukuran
oksigen terlarut adalah mg/l yang berarti jumlah mg/l gas oksigen yang terlarut dalam air atau
dalam satuan internasional dinyatakan ppm (part per million). Air mengandung oksigen
dalam jumlah yang tertentu, tergantung dari kondisi air itu sendiri, beberapa proses yang
menyebabkan masuknya oksigen ke dalam air yaitu:
1)

Diffusi oksigen dari udara ke dalam air melalui permukannya, yang terjadi karena

adanya gerakan molekul-molekul udara yang tidak berurutan karena terjadi benturan dengan
molekul air sehingga O2 terikat didalam air.
2)

Diperairan umum, pemasukan oksigen ke dalam air terjadi karena air yang masuk

sudah mengandung oksigen, kecuali itu dengan aliran air, mengakibatkan gerakan air yang
mampu mendorong terjadinya proses difusi oksigen dari udara ke dalam air.
3)

Hujan yang jatuh,secara tidak langsung akan meningkatkan O2 di dalam air, pertama

suhu air akan turun, sehingga kemampuan air mengikat oksigen meningkat, selanjutnya bila

volume air bertambah dari gerakan air, akibat jatuhnya air hujan akan mampu meningkatkan
O2 di dalam air.
4)

Proses Asimilasi tumbuhtumbuhan. Tanaman air yang seluruh batangnya ada didalam

air di waktu siang akan melakukan proses asimilasi, dan akan menambah O2 didalam
air. Sedangkan pada malam hari tanaman tersebut menggunakan O2 yang ada didalam air.

Ph
pH (singkatan dari puisance negatif de H ), yaitu logaritma negatif dari kepekatan

ion-ion H yang terlepas dalam suatu perairan dan mempunyai pengaruh besar terhadap
kehidupan organisme perairan, sehingga pH perairan dipakai sebagai salah satu untuk
menyatakan baik buruknya sesuatu perairan. Pada perairan perkolaman pH air mempunyai
arti yang cukup penting untuk mendeteksi potensi produktifitas kolam. pH Air yang agak
basa, dapat mendorong proses pembongkaran bahan organik dalam air menjadi mineralmineral yang dapat diasimilasikan oleh tumbuh tumbuhan (garam amonia dan nitrat).
Pada perairan yang tidak mengandung bahan organik dengan cukup, maka mineral dalam
air tidak akan ditemukan. Andaikata kedalam kolam itu kemudian kita bubuhkan bahan
organik seperti pupuk kandang, pupuk hijau dsb dengan cukup, tetapi kurang mengandung
garam-garam bikarbonat yang dapat melepaskan kationnya, maka mineral-mineral yang
mungkin terlepas juga tidak akan lama berada didalam air itu. Untuk menciptakan lingkungan
air yang bagus, pH air itu sendiri harus mantap dulu (tidak banyak terjadi pergoncangan pH
air). Ikan rawa seperti sepat siam (Tricogaster pectoralis), sepat jawa (Tricogaster tericopterus
) dan ikan gabus dapat hidup pada lingkungan pH air 4-9, untuk ikan lunjar kesan pH 5-8
,ikan karper (Cyprinus carpio) dan gurami, tidak dapat hidup pada pH 4-6, tapi pH idealnya
7,2.

Alkalinitas
Alkalinitas adalah kemampuan suatu senyawa (karbonat dan bikarbonat) yang ada dalam

air untuk menetralisir asam kuat atau disebut juga sebagai penyangga (buffer). Produktifitas
pembenihan ikan laut dapat optimal apabila mempunyai alkalinitas 50 200 ppm
Pada perairan yang alkalinitasnya rendah, maka nilai pH dan kesadahan air juga rendah. Hal
ini karena dalam perairan tersebut hanya terdapat sedikit ion Ca yang dapat meningkatkan
nilai pH dan kesadahan

Kadar CO2
Gas CO2 juga dapat larut ke dalam air. Kadar gas CO2 terlarut sangat

dipengaruhi oleh suhu, pH, dan banyaknya organismeyang hidup di dalam air. Semakin
banyak organisme di dalam air, semakin tinggi kadar karbon dioksida terlarut (kecuali jika di
dalam air terdapat tumbuhan air yang berfotosintesis). Kadar gas CO dapat diukur dengan
cara titrimetri.

Fosfor
Fosfat adalah unsur dalam suatu batuan beku (apatit) atau sedimen dengan kandungan

fosfor ekonomis. Biasanya, kandungan fosfor dinyatakan sebagai bone phosphate of


lime (BPL) atau triphosphate of lime (TPL) atau berdasarkan kandungan P2O5. Untuk
industri, fosfat digunakan antara lain dalam pembuatan bubuk deterjen. Deterjen memiliki
efek beracun dalam air. Deterjen juga memiliki andil besar dalam menurunkan kualitas air.
Sehingga air yang tercemar oleh deterjen tidak baik bagi kesehatan. Di antaranya adalah
dapat menimbulkan penyakit kulit (kulit kasar). Salah satu solusi yang baik untuk mencegah
hal tersebut adalah dengan menggunakan filter air (water treatment system).

Logam berat
Adanya kandungan Logam berat seperti timbal, merkuri, sanida, dan kadmium,

menunjukkan telah terjadi polusi air. Kandungan ion Mg dan Ca dalam air akan
menyebabkan air bersifat sadah. Kesadahan air yang tinggi dapat merugikan karena dapat
merusak peralatan yang terbuat dari besi melalui proses pengkaratan (korosi). Juga dapat
menimbulkan endapan atau kerak pada peralatan. Apabila ion-ion logam berasal dari logam
berat maupun yang bersifat racun seperti Pb, Cd ataupun Hg, maka air yang mengandung ionion logam tersebut sangat berbahaya bagi tubuh manusia, air tersebut tidak layak minum.
B. Parameter Biokimia
BOD (Biochemical Oxygen Demand)
Parameter biokimia meliputi BOD (Biochemical Oxygen Demand), yaitu jumlah oksigen
dalam air. Cara pengukurannya adalah dengan menyimpan sampel air yang telah diketahui
kandungan oksigennya selama 5 hari. Kemudian kadar oksigennya diukur lagi. BOD
digunakan untuk mengukur banyaknya pencemar organik. Menurut menteri kesehatan,
kandungan oksigen dalam air minum atau BOD tidak boleh kurang dari 3 ppm.
C. Parameter Fisik

Temperatur
Suhu air sebaiknya sejuk atau tidak panas, agar tidak terjadi pelarutan zat kimia pada

saluran/pipa yang dapat membahayakan kesehatan, menghambat reaksireaksi biokimia di


dalam saluran/pipa, mikroorganisme patogen tidak mudah berkembang biak, dan bila
diminum dapat menghilangkan dahaga. Suhu suatu badan air dipengaruhi oleh musim,
lintang (latitude), ketinggian dari permukaan laut (altitude), waktu, sirkulasi udara,
penutupan awan, aliran, serta kedalaman. Perubahan suhu mempengaruhi proses fisika,
kimia, dan biologi badan air. Suhu berperan dalam mengendalikan kondisi ekosistem
perairan.
Peningkatan suhu mengakibatkan peningkatan viskositas, reaksi kimia, evaporasi,
volatilisasi, serta menyebabkan penurunan kelarutan gas dalam air (gas O2, CO2, N2, CH4,
dan sebagainya) (Haslam, 1995 dalam Effendi, 2003). Peningkatan suhu juga menyebabkan
terjadinya peningkatan dekomposisi bahan organik oleh mikroba. Kisaran suhu optimum bagi
pertumbuhan fitoplankton di perairan adalah 20 oC 30 oC.
Pada umumnya, suhu dinyatakan dengan satuan derajat Celcius ( oC) atau derajat
Fahrenheit

(oF).

Berdasarkan

Keputusan

Menteri

Kesehatan

RI

Nomor

907/MENKES/SK/VII/2002, diketahui bahwa temperatur maksimum yang diperbolehkan


dalam air minum sebesar 3 oC. Pengukuran suhu pada contoh air air dapat dilakukan
menggunakan termometer.

Warna
Air minum sebaiknya tidak berwarna untuk alasan estetika dan untuk mencegah

keracunan dari berbagai zat kimia maupun mikroorganisme yang berwarna. Warna dapat
menghambat penetrasi cahaya ke dalam air. Warna pada air disebabkan oleh adanya partikel
hasil pembusukan bahan organik, ion-ion metal alam (besi dan mangan), plankton, humus,
buangan industri, dan tanaman air. Adanya oksida besi menyebabkan air berwarna
kemerahan, sedangkan oksida mangan menyebabkan air berwarna kecoklatan atau
kehitaman. Kadar besi sebanyak 0,3 mg/l dan kadar mangan sebanyak 0,05 mg/l sudah cukup
dapat menimbulkan warna pada perairan (peavy et al., 1985 dalam Effendi, 2003). Kalsium
karbonat yang berasal dari daerah berkapur menimbulkan warna kehijauan pada perairan.

Bahan-bahan organik, misalnya tanin, lignin, dan asam humus yang berasal dari dekomposisi
tumbuhan yang telah mati menimbulkan warna kecoklatan.

Rasa
Air minum biasanya tidak memberikan rasa (tawar). Air yang berasa menunjukkan

kehadiran berbagai zat yang dapat membahayakan kesehatan. Efek yang dapat ditimbulkan
terhadap kesehatan manusia tergantung pada penyebab timbulnya rasa. Berdasarkan
Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 907/MENKES/SK/VII/2002, diketahui bahwa
syarat air minum yang dapat dikonsumsi manusia adalah tidak berasa.

Bau
Air minum yang berbau, selain tidak estetis juga tidak disukai oleh masyarakat. Bau air

dapat memberi petunjuk terhadap kualitas air, misalnya bau amis dapat disebabkan oleh
adanya algae dalam air tersebut. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor
907/MENKES/SK/VII/2002, diketahui bahwa syarat air minum yang dapat dikonsumsi
manusia adalah tidak berbau.

Kekeruhan
Kekeruhan menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya

cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat di dalam air.
Kekeruhan disebabkan adanya bahan organik dan anorganik yang tersuspensi dan terlarut
(misalnya lumpur dan pasir halus), maupun bahan anorganik dan organik yang berupa
plankton dan mikroorganisne lain (APHA, 1976; Davis dan Cornwell, 1991dalam Effendi
2003). Zat anorganik yang menyebabkan kekeruhan dapat berasal dari pelapukan batuan dan
logam, sedangkan zat organik berasal dari lapukan hewan dan tumbuhan. Bakteri dapat
dikategorikan sebagai materi organik tersuspensi yang menambah kekeruhan air. Padatan
tersuspensi berkolerasi positif dengan kekeruhan. Semakin tinggi nilai padatan tersuspensi,
semakin tinggi nilai kekeruhan. Akan tetapi, tingginya padatan terlarut tidak selalu diikuti
dengan tingginya kekeruhan. Tingginya nilai kekeruhan dapat mempersulit usaha
penyaringan dan mengurangi efektivitas desinfeksi pada proses penjernihan air.

Radioaktif
Radioaktivitas adalah kemampuan inti atom yang tak-stabil untuk memancarkan radiasi

menjadi inti yang stabil. Materi yang mengandung inti tak-stabil yang memancarkan

radiasi,disebut zat radioaktif. Besarnya radioaktivitas suatu unsur radioaktif (radionuklida)


ditentukan oleh konstanta peluruhan (l), yang menyatakan laju peluruhan tiap detik, dan
waktu paro(t). Kedua besaran tersebut bersifat khas untuk setiap radionuklida
Apapun bentuk radioaktifitas efeknya adalah sama, yakni menimbulkan kerusakan pada
sel yang terpapar. Kerusakan dapat berupa kematian, dan perubahan komposisi genetik.
Perubahan genetis dapat menimbulkan berbagai seperti kanker dan mutasi. Sinar alpha, beta
dan gamma berbeda dalam kemampuan menembus jaringan tubuh. Sinar alpha sulit
menembus kulit, sedangkan beta dapat menembus kulit dan gamma dapat menembus sangat
dalam. Kerusakan yang terjadi ditentukan oleh intensitas sinar serta frekuensi dan luasnya
pemaparan.
D. Parameter Biologi
Fauna
Di alam terdapat hewan-hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme yang peka dan ada pula
yang tahan terhadap kondisi lingkungan tertentu. Organisme yang tahan akan tetap hidup.
Siput air dan Planaria merupakan contoh hewan yang peka pencemaran. Sungai yang
mengandung siput air dan planaria menunjukkan sungai tersebut belum mangalami
pencemaran. Sebaliknya cacing Tubifex (cacing merah) merupakan cacing yang tahan hidup
dan bahkan berkembang baik di lingkungan yang kaya bahan organik, meskipun species
hewan yang lain telah mati. Ini berarti keberadaan cacing tersebut dapat dijadikan indikator
adanya pencemaran zat organik. Organisme yang dapat dijadikan petunjuk pencemaran
dikenal sebagai indikator biologis.

Mikroorganisme
Berbagai jenis bakteri patogen dapat ditemukan dalam sistem penyediaan air bersih,

walaupun dalam konsentrasi yang rendah. Analisa mikrobiologi untuk bakteri-bakteri tersebut
dilakukan berdasarkan organisme petunjuk (indicator organism). Bakteri-bakteri ini
menunjukkan adanya pencemaran oleh tinja manusia dan hewan berdarah panas lainnya, serta
mudah dideteksi. Bila organisme petunjuk ini ditemui dalam contoh air, berarti air tersebut
tercemar oleh bakteri tinja serta ada kemungkinan mengandung bakteri patogen. Bila contoh
air tidak mengandung organisme petunjuk berarti tidak ada pencemaran oleh tinja dan air
tidak mengandung bakteri patogen. Tes dengan organisme petunjuk merupakan cara yang
paling mudah untuk menentukan pencemaran air oleh bakteri patogen dan dapat dilakukan
secara rutin.

Plankton salah satu indikator pencemaran, kelimpahan plankton yang terdiri dari
phytoplankton dan zooplankton sangat diperlukan untuk mengetahui kesuburan suatu
perairan yang akan dipergunakan untuk kegiatan budidaya. Plankton sebagai organisme
perairan tingkat rendah yang melayang-layang di air dalam waktu yang relatif lama
mengikuti pergerakan air. Plankton pada umumnya sangat peka terhadap perubahan
lingkungan hidupnya (suhu, pH, salinitas, gerakan air, cahaya matahari dll) baik untuk
mempercepat perkembangan atau yang mematikan.

Flora

Berbagai jenis tanaman digunakan sebagai penanda tercemarnya lingkungan seperti lumut
kerak dan alga. Alga dapat dimanfaatkan sebagai bioindikator logam berat karena dalam
proses pertumbuhannya, alga membutuhkan berbagai jenis logam sebagai nutrien alami,
sedangkan ketersediaan logam dilingkungan sangat bervariasi. Suatu lingkungan yang
memiliki tingkat kandungan logam berat yang melebihi jumlah yang diperlukan, dapat
mengakibatkan pertumbuhan alga terhambat, sehingga dalam keadaan ini eksistensi logam
dalam lingkungan adalah polutan bagi alga. Berdasarkan morfologinya, lumut kerak
umumnya dibedakan menjadi Crustose, Foliose, Squamulose, dan Fructicose (NSTA, 2003).
Fructicose merupakan lumut kerak yang paling sensitif terhadap pencemaran udara dan
merupakan jenis lumut kerak yang akan pertama kali hilang ketika terpapar pada udara
tercemar. Sedangkan Cructose merupakan jenis lumut kerak yang paling resisten terhadap
pencemaran udara (Boonpragob, 2003).

REFERENSI
http://www.artikelsains.com/2014/12/faktor-faktor-penyebab-perubahan.html
http://www.bimbie.com/perubahan-iklim.htm
http://geografisku.blogspot.co.id/2015/09/faktor-penyebab-perubahan-iklim-global.html
http://ilmugeografi.com/ilmu-sosial/pencemaran-lingkungan
http://anisatusshakim.web.unej.ac.id/2015/09/14/kerusakan-wilayah-pesisir/
http://novitadewipido.blogspot.co.id/2012/07/parameter-fisik-biologi-kimiawi-air.html
https://nurulwahidadotme.wordpress.com/2013/01/08/58/
https://waterpluspure.wordpress.com/2010/11/09/fosfat/
https://duniaparapelajar.wordpress.com/tag/pengertian-pencemaran-lingkungan/

https://jujubandung.wordpress.com/2012/06/08/parameter-fisika-kimia-biologi-penentukualitas-air-2/
http://bukanfarid.blogspot.co.id/2010/04/parameter-air-minum.html
http://22intanx21.blogspot.co.id/2013/05/macam-macam-pencemaran-lingkungan-dan.html
http://novitadewipido.blogspot.co.id/2012/07/parameter-fisik-biologi-kimiawi-air.html
http://dahliaheranita.blogspot.co.id/2012/05/pencemaran-lingkungan.html
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/28023/4/Chapter%20II.pdf
http://ilmugeografi.com/ilmu-sosial/ciri-ciri-air-tanah-dan-udara-yang-tercemar
https://brightfuture.unilever.co.id/stories/473087/Apa-itu-perubahan-iklim-bagaimanacaranya-kita-beraksi-.aspx
http://www.greenpeace.org/seasia/id/campaigns/perubahan-iklim-global/