Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Mineral adalah padatan homogen yang terdiri dari persenyawaan

anorganik yang terdapat di alam yang memiki struktur atom dan sifat kimia serta
fisik tertentu. Bahan ialah wujud asal benda kerja. Menurut asalnya bahan dapat
dibagi menjadi tiga, yaitu [Vohdin,1981] :
1. Bahan alami yang dapat langsung diolah, contohnya: kayu dan batu.
2. Bahan alami yang diubah wujud melalui proses fisika dan kimia,
contohnya: bijih menjadi logam.
3. Bahan buatan yang didapat tidak secara alami, melainkan dari bahan
mentah melalui proses kimia yang rumit, contohnya: gelas, seliloid,
perlon, plexiglas, bakelit.
Dalam proses pra-olahan, Sebelum bijih mengalami proses metalurgi
ekstraksi secara hidrometalurgi, pirometalurgi, ataupun elektrometalurgi bijih
akan mengalami suatu pengolahan awal yang terdiri dari kominusi, sizing dan
konsentrasi.
Tanpa mengalami proses preparasi maka bongkahanbongkahan bijih yang
merupakan hasil penambangan tidak mungkin langsung dapat digunakan dalam
proses metalurgi ekstraksi. Jika hal itu dilakukan maka efisiensi dari proses
metalurgi ekstraksi itu sendiri akan rendah bahkan akan menyebabkan kerugian
yang cukup besar.
Pada proses preparasi bijih akan dilakukan proses penyesuaian, mulai
dariukuran sampai dengan konsentrasi atau kandungan bijih itu sendiri. Hasil dari
proses tersebut adalah konsentrat, sedangkan pengotornya disebut tailing. Salah
satu alat yang digunakan dalam proses pemisahan mineral berharga dengan
pengotornya berdasarkan sifat kemagnetan yaitu Magnetic Separator. Pada saat
ini hampir 90% dari proses konsentrasi besi menggunakan metode pemisahan

magnetik. Proses konsentrasi Bijih besi lebih banyak dilakukan oleh Magnetic
Separator karena besi merupakan unsur yang sifat kemagnetannya sangat baik,
sehingga lebih efisien untuk dikonsentrasi dengan menggunakan metode ini.
Oleh karena itu, sangat penting untuk mengetahui dan memahami prinsip
kerja dari mesin magnetic separator dan metode magnetic separation untuk
proses pemisahan logam dari tailing nya.
1.2

Tujuan Percobaan
Tujuan dari praktikum magnetic separation ini adalah melakukan

pemisahan mineral berdasarkan sifat kemagnetannya dengan menggunakan alat


magnetic separator.
1.3

Batasan Masalah
Adapun batasan masalah dalam praktikum magnetic separation terbagi

menjadi dua, yaitu variabel bebas dan variable terikat. Variabel terikat antara lain
% konsentrat dan % tailing dari pasir besi dan pasir kwarsa. Variabel bebas nya
yaitu tegangan rotor pada alat magnetic separator dan jumlah umpan yang
diproses dalam magnetic separator.
1.4

Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan laporan ini terdiri dari lima bab sebagai kajian

utama. BAB I menjelaskan latar belakang, tujuan percobaan, batasan masalah, dan
sistematika penulisan laporan yang digunakan. BAB II merupakan tinjauan
pustaka yang berisi mengenai teori singkat yang terkait dengan percobaan yang
dilakukan. BAB III menjelaskan mengenai metode percobaan yang dilakukan.
BAB IV menjelaskan mengenai data percobaan, dan pembahasan berdasarkan
tinjauan pustaka dari data yang telah diperoleh. BAB V menjelaskan mengenai
kesimpulan dari percobaan yang telah dilakukan, dan dilengkapi dengan saran
seputar percobaan. Sebagai kajian tambahan, di akhir laporan terdapat lampiran
yang memuat contoh perhitungan, jawaban pertanyaan dan tugas khusus, gambar
alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum serta blanko percobaaan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Magnetic Separation
Magnetic separation merupakan operasi konsentrasi atau satu mineral atau

lenih dengan mineral lainnya yang memanfaatkan perbedaan sifat kemagnetan


dari mineral-mineral yang dipisahnya. Mineral-mineral yang terdapat dalam bijih
akan memberika respon terhadap medan magnet sesuai dengan sifat kemagnetan
yang dimilikinya.
Mineral-mineral yang memiliki sifat kemagnetan tinggi akan merespon
atau terpengaruh oleh medan magnet. Mineral-mineral ini akan tertarik oleh
medan magnet dan dikelompokkan sebagai mineral magnetic. Sedangkan mineralmineral yang tidak memiliki sifat kemagnetan tidak akan merespon atau
terpengarug ketika dilewatkan pada medan magnet. Mineral-mineral ini tidak
akan tertarik oleh medan magnet dan dikelompokkan sebagai non-magnetic.
Mineral-mineral yang masuk ke dalam kelompok mineral magnetic
misalnya: magnetite, hematite, limenit, siderite, monazite. Sedangkan mineralmineral yang dikelompokkan kedalam mineral non-magnetic misalnya: kuarsa,
mika, corundum, gypsum, zircon, feldspar. Kemampuan mineral dalam merespon
medan magnet disebut magnetic susceptibility.
Berdasarkan pada magnetic susceptibility mineral dibagi menjadi tiga
kelompok, yaitu:
1. Paramagnetic mineral seperti hematite, limenit, pyrhotite.
2. Diamagnetic mineral: kuarsa feldspar.
3. Ferromagnetic: besi, magnetite.