Anda di halaman 1dari 17

BAB 3

EPIDEMIOLOGI DESKRIPTIF :
MANUSIA
Studi epidemiologi biasanya dibagi menjadi dua kategori : studi terhadap
jumlah dan distribusi penyakit dalam suatu populasi berdasarkan orang, tempat dan
waktu (disebut epidemiologi deskriptif) dan yang lainnya berfokus pada determinan
penyakit atau alasan untuk frekuensi yang relatif rendah atau tinggi pada kelompok
tertentu ( disebut epidemiologi analitik). Bab ini dan selanjutnya akan fokus pada
epidemiologi deskriptif. Untuk menggambarkan kejadian penyakit secara penuh, tiga
pertanyaan harus diajukan dan dijawab. Siapa yang dipengaruhi ? Kapan dan dimana
kasus terjadi ? dengan kata lain, penting untuk menspesifikasikan orang, tempat dan
waktu.
Meskipun orang dapat dikarakteristikkan dengan jumlah variabel yang tak
terbatas, pada prateknya jumlah itu harus di batasi berdasarkan tujuan dan sumber
studi yang khusus. Pada studi epidemiologi seringkali rutin untuk menspesifikasikan
karakteristik orang dalam tiga bagian umur, jenis kelamin, dan kelompok etnis atau
ras. Variabel demografi ini akan dibahas terlebih dahulu.
UMUR
Secara keseluruhan, umur merupakan determinan

yang paling penting

diantara variabel personal. Angka mortalitas dan morbiditas pada hampir semua
kondisi memperlihatkan hubungan dengan variabel ini. Kita akan membahas
hubungan antara umur dengan mortalitas. Gambar 3-1 memperlihatkan

angka

kematian dari semua penyebab di Amerika Serikat (1968) berdasarkan umur, jenis
kelamin, dan warna kulit. Membandingkan dampak relatif tiga variabel ini terhadap
angka kematian.

Empat kurva menggambarkan angka kematian umur-tertentu untuk setiap


kelompok ras dan jenis kelamin cukup sama, semuanya berbentuk J. Pada keempat
kelompok angka kematian cukup tinggi pada bayi, dan kemudian menurun dengan
tajam, mencapai titik terendah pada umur 5 sampai 14 tahun. Kemudian naik
berangsur-angsur sampai dengan umur 40 tahun, setelah naik secara eksponen,
sebenarnya berganda untuk setiap dekade. Perbedaan angka kematian yang tajam
berdasarkan umur ini membuat perlu untuk memperbaiki (menyesuaikan) pada setiap
perbedaan komposisi umur kelompok populasi jika angka kematiannya akan
dibandingkan.
Kita sekarang akan berpindah untuk membahas hubungan antara umur dengan
pola morbiditas. Secara umum, kondisi kronik cenderung naik dengan umur dimana
hubungan antara umur dan penyakit menular akut kurang tidak konsisten.
Anak kecil dengan mudah tertular infeksi pernapasan akut. Antibodi ibu yang
dipindahkan dalam janin melindungi bayi kira-kira setengah tahun pertama setelah
lahir. Setelah itu, perlindungan mengecil dan infeksi pernapasan meningkat,
cenderung mengalami puncaknya pada periode anak mulai masuk sekolah.
Penyakit menular yang memberikan kekebalan seumur hidup (campak, cacar
air, mump) juga terjadi pada anak-anak, bervariasi kejadiannya pada umur puncak,
seperti terlihat pada gambar3-2. Untuk penyakit menular tertentu distribusi umur dan
jenis kelamin mencerminkan paparan di tempat kerja; sebagai contoh bruselosis dan
antraks terjadi pada pria dewasa yang terpapar agen penyakit ini pada rangkaian kerja
mereka. Distribusi umur-jenis kelamin yang mencolok ini pada kasus bruselosis di
negara bagian pertanian Midwestern pada akhir 1940 terlihat pada gambar 3-3.
Umur tidak hanya berhubungan dengan frekuensi suatu penyakit menular tapi
juga tingkat keparahan. Organisme tertentu, seperti Pneumococcus dan Salmonela,
cenderung untuk mengakibatkan penyakit parah tertentu pada orang yang terlalu
muda, terlalu tua, dan yang lemah. Usia kelahiran baru umumnya sensitif terhadap
bakteri, seperti organisme coliform dan Staphylococcus aureus, yang biasanya
nonpatogenik pada kelompok umur lain

Kecenderungan penyakit menular meningkat berdasarkan pertambahan umur


terlihat pada gambar 3-4, yang melukiskan bagian populasi umum pada kelompok
umur yang berbeda yang dilaporkan memiliki satu atau lebih kondisi kronik. Efek
umur terhadap frekuensi penyakit tertentu
arthritis

sangat bermakna. Sebagai contoh,

adalah 10 kali lebih sering pada orang berusia 45 sampai 60 tahun

dibanding orang berusia dibawah 45 tahun dan angkanya berlipat ganda untuk orang
yang berusia 65 tahun keatas. Penyakit lain menimpa orang yang memiliki masalah
gigi, penyakit edentia dan periodontal. Sepertiga dari orang yang berusia 65 tahun
keatas tidak memiliki gigi, dan kurang dari 10 persen bebas dari penyakit periodontal.
JENIS KELAMIN
Aspek analisis yang paling penting angka kematian dan penyakit
berdasarkan jenis kelamin adalah perbedaan antara angka mortalitas dan morbiditas.
Angka kematian lebih tinggi pada pria dibanding wanita, tapi angka morbiditas
umumnya lebih tinggi pada wanita.
Gambar 3-1 memperlihatkan angka kematian dari semua penyebab lebih tinggi
pada pria dibanding wanita pada setiap jenjang umur , hal ini berlaku bagi kulit putih
dan non kulit putih. Angka kematian janin dan kelahiran baru juga tinggi pada pria.
Angka kematian yang tinggi pada pria sepanjang hidup mungkin berkaitan dengan
pewarisan genetik berhubungan dengan jenis kelamin atau perbedaan keseimbangan
hormon, lingkungan dan pola kebiasaan. Perbedaan antara sangat bervariasi untuk
keseluruhan penyakit tertentu, seperti terlihat pada Tabel 3-1, rasio antar pria dan
wanita berkisar lima untuk penyakit pernapasan dan hampir satu untuk penyakit
diabetes melitus. Perbedaan jenis kelamin tidak

besar untuk penyakit jantung

iskemik sebagaimana untuk kondisi tertentu lainnya. Bagaimanapun, karena kondisi


ini diperhitungkan untuk proporsi kematian yang tinggi, kematian yang berlebih pada
pria dari penyebab ini sendiri adalah luar biasa.
Seperti yang diindikasikan diatas, angka mortalitas yang tinggi untuk pria tidak
paralel

dengan

tingginya

angka

penyakit.

Data

dari

beberapa

sumber

mengindikasikan bahwa , pada semua kelompok umur dan untuk sejumlah kondisi
yang berbeda, wanita lebih banyak mengalami episode penyakit dan kontak dengan
dokter dibanding pria. Hal ini berlaku untuk wanita berusia 45 tahun keatas.
Penjelasan yang memungkinkan untuk morbiditas yang relatif tinggi dan mortalitas
yang rendah pada wanita bahwa wanita lebih bebas untuk mencari perawatan medis
dan kemungkinan pada tahap awal penyakit atau bahwa penyakit yang sama akan
cenderung memiliki sedikit rangkaian mematikan pada wanita dibanding pada pria.
Tabel 3-1. Angka mortalitas dari kasus yang diseleksi pada pria dan
wanita, Amerika Serikat, 1971
Angka Mortalitas
Rasio angka
Penyebab
Pria terhadap
Total
Pria
Wanita
Wanita
Empisema dan bronchitis
10.2
18.6
3.7
5.0
Kanker pernapasan

29.4

51.8

11.0

4.7

Pembunuhan

10.0

16.3

4.0

4.1

faringeal

3.1

4.9

1.6

3.1

Tuberkulosis

1.8

2.9

1.0

2.9

Kecelakaan kendaraan bermotor

26.6

39.5

14.4

2.8

Kecelakaan lainnya

25.3

37.6

13.8

2.7

Kanker kandung kemih

5.6

8.5

3.2

2.7

Ulkus peptik

3.0

4.6

1.8

2.6

Bunuh diri

11.9

17.2

7.1

2.4

Sirosis hati

14.7

20.4

9.8

2.1

Penyakit jantung iskemik

226.8

314.8

153.9

2.0

Influenza dan pneumonia

19.3

24.9

14.8

1.7

5.7

7.1

4.5

1.6

34.8

42.8

28.4

1.4

3.3

3.4

2.8

1.4

Kanker rongga bukkal dan

Leukimia
Kanker pencernaan
Nepphritis dan neprosis

Penyakit serebrovaskular

65.7

72.5

60.2

1.2

Diabetes melitus

13.8

13.2

14.2

0.9

Depresi merupakan contoh yang bagus untuk menjelaskan perbedaan pola


penyakit dan kematian pada pria dan wanita. Angka untuk berbagai bentuk depresi
lebih tinggi pada wanita dibanding pria, sebagaimana tingkat percobaan bunuh diri.
Bagaimanapun, bunuh diri frekuensinya lebih besar terjadi pada pria, utamanya pada
orang lanjut usia.
KELOMPOK ETNIS DAN WARNA KULIT
Klasifikasi dan pencatatan data berdasarkan warna kulit atau ras
memberikan kesulitan konsep dan praktek. Tetapi meskipun hal ini kontroversial,
klasifikasi semacam ini telah menjadi tradisi pada statistik kesehatan, karena (1)
banyak penyakit yang frekuensi, tingkat keparahan atau keduanya yang berbeda tajam
pada kelompok ras yang berbeda, dan (2) statistik berdasarkan ras membantu dalam
mengidentifikasi masalah kesehatan. Fakta bahwa banyak perbedaan observasi
berhubungan dengan perbedaan status ekonomi tidak mengurangi manfaat warna
kulit sebagai indikator kelompok dengan penurunan pelayanan kesehatan tertentu.
Di Amerika Serikat, Badan Sensus mengklasifikasikan populasi penduduk
kedalam kulit putih dan semua yang lain. Pada tahun 1970 kelompok ini
berbanding secara berurutan 87,4 % dan 12,6 % dari keseluruhan populasi penduduk.
Yang lain terdiri atas orang Negro (hampir 90%), Indian Amerika, Jepang,Cina,
Filipina, dan yang lainnya yang tidak masuk sebagai kulit putih. Populasi bukan putih
di Amerika Serikat berada pada keadaan yang rugi berhubungan dengan kematian.
Sebagaimana terlihat pada gambar 3-1, kecuali untuk usia 75 tahun keatas, kulit
bukan putih memiliki angka kematian yang lebih tinggi dibandingkan kulit putih
pada setiap kelompok umur-jenis kelamin. Jarak ini cukup tajam pada tahun lalu,
tapi jauh dari dihapuskan, sebagaimana terlihat pada beberapa indeks kesehatan yang
penting. (tabel 3-2) . perbedaan ras tertentu pada morbiditas dan mortalitas patut

diperhatikan. Orang berkulit hitam memiliki angka kematian yang tinggi (disesuaikan
untuk perbedaan komposisi umur) dari penyakit jantuung hipertensif, kecelakaan
serebvaskular, tuberkulosis, sipilis, pembunuhan, dan kematian tiba-tiba. Orang
berkulit putih memiliki angka kematian tinggi dari penyaklit jantung arteriosklerotik,
bunuh diri (lihat gambar 3-5) dan leukimia. Kulit puitih dan non putih juga berbeda
pada frekuensi beberapa neoplasma dibandingkan leukimia. Kanker mulut rahim
sangat tinggi pada kulit hitam, sedemikian sehingga menjadi tempat pertama kanker
penyebab kematian pada wanita kulit hitam. Sebaliknya, kanker payudara lebih tinggi
pada kulit putih. Seperti tercatat diatas, beberapa perbedaan ras, seperti pembatasan
sebenarnya anemia sel sabit pada kulit hitam, ditentukan secara genetik.
Bagaimanapun kebanyakan tanpa meragukan mencerminkan perbedaan pada
beragam paparan lingkungan, gaya hidup, dan perluasan dan kualitas pelayanan
medis.
Tabel 3-2. statistik vital di Amerika Serikat, 1971
Total
Angka kematian janin

13.3

Kulit putih
Yang lain
11.6
20.8

Angka kematian kelahiran baru

14..2

13.0

19.6

Angka kematian bayi

19.1

17.1

28.5

18.8

13.0

45.3

Pria

68..3

61.3

Wanita

75.6

69.3

Angka kematian ibu


(per 100.000 kelahiran hidup)

Harapan hidup pada kelahiran (tahun) 71.0

Seperti ras, keturunan etnis juga suatu variabel yang berpengaruh yang harus
dipisahkan dari efek lingkungan. Studi imigran internasional telah sangat berharga
untuk tujuan ini. Setiap perbedaan angka penyakit antara orang migran dan yang
menetap harus diintrepetasikan

dengan hati-hati karena kaum

migran biasanya

dipilih sendiri. Ketika perbedaannya tajam, pentingnya lingkungan dalam


perkembangan penyakit dianjurkan. Sebagai contoh, angka penyakit kanker perut di
Jepang sangat tinggi. Angka yang dinilai tinggi pada orang Jepang asli dibanding
orang Jepang keturunan menjelaskan bahwa faktor lingkungan sangat penting dalam
etiologi penyakit ini.
Sementara itu efek pot mencair di Amerika Serikat cenderung mengurangi
perbedaan pada gaya hidup diantara berbagai kelompok etnis pada populasi, masih
terdapat

variasi pada pola penyakit, sebagian mungkin disebabkan perbedaan

budaya. Sebagai contoh, alkoholisme lebih rendah pada orang Yahudi dibanding
kelompok etnis yang lain, meskipun peningkatan keterpencilan dari pola religius
dunia lama pada orang Yahudi yang lahir di negara ini(Amerika Serikat) mengurangi
pola pemakaian alkohol.
KELAS SOSIAL
Kelas sosial secara luas menggunakan konsep untuk memperingkatkan atau
menstratifikasi suatu populasi total kedalam subkelompok yang berbeda satu sama
lain

pada prestise, kesejahteraan dan kekuasaan. Tiga dimensi ini biasanya

berhubungan ; seseorang yang tinggi pada salah satunya cenderung tinggi pada yang
lainnya, dan sebaliknya. Disamping beberapa pertentangan diantara dimensi kelas
sosial, konsep kelas berguna merangkum variabel yang berhubungan dengan
pekerjaan, pendidikan, tempat tinggal, pendapatan, dan gaya hidup total. Mengingat
bahwa kemudahan penyebaran kelas sosial dalam begitu banyak aspek hidup, tidak
mengejutkan bahwa gradien yang bermakna berdasarkan kelas pada morbiditas dan
mortalitas adalah aturan dibanding merupakan

eksepsi pada studi epidemiologi.

Untuk studi komprehensif literatur sejarah pada harapan hidup dan mortalitas
berdasarkan kelas sosial Antonovsky (1972) dapat dikonsultasikan.
Karena pertimbangan praktis, pekerjaan sering digunakan pada studi
epidemiologi sebagai suatu ukuran status sosial ekonomi. Di Inggris selama lebih dari
seratus tahun menjadi hal yang biasa untuk menyajikan data sosial dan kesehatan

dalam lima kelas (sosial) pekerjaan. Tabel 3-3 memperlihatkan skema klasifikasi,
dengan dua indeks kesehatan, rasio mortalitas yang distandarisasi untuk pria dan
angka kematian bayi. (untuk definisi angka mortalitas standarisasi lihat Bab 7).
Angka kematian bayi memperlihatkan gradien kelas yang beda berlawanan.
Sebaliknya, rasio mortalitas untuk pria dewasa berumur 20 sampai 64 tahun
memperlihatkan pola teratur berdasarkan kelas, aman untuk kelebihan di kelas V.
Tuberkulosis dan bronkitis lebih umum pada kelas rendah; penyakit jantung koroner
dan leukimia menempati posisi pada kelas yang lebih tinggi.
Analisis lebih lanjut perbedaan kelas sosial dalam kelompok umur tertentu
mengungkapkan perbedaan berdasarkan kelas pada angka mortalitas. (tabel 3-4).
Perbedaan ini lebih tinggi pada pria lebih muda dibandingkan pria tua.
Tabel 3-3 Rasio Mortalitas Standarnisasi Untuk Pria Berusia 20-64 Dan
Angka Mortalitas Bayi Berdasarkan Kelas Pekerjaan Ayah,
Inggris Dan Wales 1949-1953
Kelas pekerjaan
I

Profesional

Rasio mortalitas standarisasi


(kematian dari semua penyebab)
98

Angka kematian bayi


17.9

II Menengah

86

22.2

III Terlatih

101

28.1

IV Semi terlatih

94

33.7

V Tidak Terlatih

118

40.7

Di Amerika Serikat status kesehatan terendah orang berkulit bukan putih


kemungkinan disebabkan sebagian besar pada kenyataan bahwa ketidakseimbangan
jumlah kehidupan mereka pada kondisi miskin. Pendapatan keluarga menengah orang
negro pada tahun 1970 adalah $ 6520, sekitar dua pertiga pendapatan keluarga
menengah orang kulit putih. Pada tahun itu sekitar sepertiga populasi orang kulit
hitam, tapi hanya 10 persen orang kulit putih, hidup dibawah garis kemiskinan.

Gradien yang nyata pada angka mortalitas pada orang berkulit bukan putih
berdasarkan tingkat pekerjaan menggambarkan bahwa status ekonomi memberikan
kontribusi penting kemunculan pembedaan berdasarkan warna kulit.
Kemiskinan mempengaruhi pemberian pelayanan medis dengan untuk berbagai
alasan. Sebagai tambahan memiliki sumber materi yang sedikit dan akses yang
terbatas pada pelayanan medis, orang miskin cenderung tidak menerima pelayanan
pencegahan yang

tersedia. Motivasi untuk mencari pelayanan semacam itu

memerlukan suatu perhatian tentang kesehatan dan masalah kesehatan akan datang.
Survei kebutuhan yang dirasakan kaum miskin kota memperlihatkan bahwa masalah
seperti pekerjaan dan tempat tinggal begitu mendesak sehingga kebutuhan kesehatan
relatif tidak menjadi prioritas utama.
Hubungan antara status ekonomi dan pelayanan kesehatan dapat dengan jelas
diidentifikasikan dalam gambar 3-6 yang memperlihatkan tren berlawanan untuk
jumlah gigi yang berisi dan jumlah gigi yang busuk pada anak-anak Amerika berusia
6-11 tahun, dikelompokkan berdasarkan pendapatan keluarga.
Tabel 3-4 Angka Mortalitas Tahunan Rata Rata Dari Semua Kasus Per
100.000 Pria Berdasarkan Kelas Sosial
Kelompok umur

Kelas sosial

Rasio IV dan V

25-34

I dan II
124

IV dan V
180

terhadap I dan II
1.45

35-44

226

332

1.47

45-54

712

895

1.26

55-64

2097

2339

1.12

Pada penyakit mental konsentrasi berat schizoprenia terdapat pada kelas sosial
rendah komunitas perkotaan telah ditemukan pada sejumlah studi Dua hipotesis yang
berlawanan telah berkembang untuk menjelaskan fenomena ini. Berdasarkan
hipotesis

peternak, kondisi

hidup pada komunitas kelas rendah memberikan

kontribusi perkembangan schizoprenia. Penjelasan lain, hipotesis penyimpangan,


menyatakan bahwa hubungan terbalik antara angka schizoprenia dan kelas sosial ada
bukan karena status ekonomi yang rendah yang mempengaruhi schizoprenia, tapi
penyakit itu sendiri mengarah pada penyimpangan menurun yang berpotensial pada
pekerjaan dam posisi sosial ekonomi. Bukti yang kuat telah dikembangkan untuk
mendukung hipotesis penyimpangan, dan baru-baru ini Britchnell (1971) menemukan
bahwa perpindahan penurunan tidak hanya terbatas pada schizophrenia, tapi secara
umum berlaku untuk psikosis depresif.
Kelas sosial berhubungan dengan penyakit mental pada cara yang lain. Pada
tahun 1958 Hollingshead dan Redlich mempublikasikan suatu studi hubungan antara
kelas sosial dan penyakit mental yang diobati di New Haven. Tidak kanya mereka
menemukan gradien kelas sosial yang digambarkan diatas, mereka juga
mendokumentasikan perbedaan penting berdasarkan kelas pada keadaan dab jenis
pengobatan yang diberikan. Juga kemungkinannya bahwa kelas sosial seseorang
mempengaruhi apakah dia menerima atau tidak perawatan untuk penyakit psikiatrik.
Studi Midtown di kota New York yang mensurvei sampel populasi umum, bahwa
orang terganggu parah pada tingkat umum kesehatan mentalnya, proporsi penerimaan
pengobatan adalah 19 persen untuk kelas atas, 4 persen untuk kelas menengah dan
hanya 1 persen untuk kelas bawah.

PEKERJAAN
Sejak orang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk bekerja pada
berbagai macam kondisi yang berbeda, tidaklah mengejutkan bahwa pengalaman
yang berhubungan dengan pekerjaan dan menimbulkan efek pada kesehatan dan
memberikan kontribusi yang besar pada perbedaan angka mortalitas dan morbiditas.
Pengaruh ini dapat terjadi melalui berbagai macam paparan- kondisi fisik yang tidak
bagus (panas, dingin, perubahan tekanan udara), bahan kimia, kebisingan, stres yang
disebabkan pekerjaan. Pada sisi lain, angka penyakit pada kelompok kerja dapat

10

berbeda bukan karena pekerjaan itu sendiri tetapi karena perbedaan pemilihan
kedalam variasi pekerjaan.
Penyelidikan epidemiologi telah menghubungkan banyak penyakit tertentu
pada paparan pekerjaan. Diantaranya adalah fibrosis paru-paru akibat terpapar silika
bebas, mesotelioma dan kanker paru-paru serta gastrointestinal pada pekerja asbes,
kanker kandung kemih pada pekerja yang terpapar zat warna anilin dan kanker paruparu pada pekerja kromat. Juga dapat dibenarkan untuk memasukkan adiksi obat pada
dokter, perawat dan veteran perang Vietnam sebagai kondisi yang diperoleh ditempat
kerja.
Pekerja di tambang, konstruksi dan pertanian memiliki angka luka dan
kematian yang tinggi akibat trauma. Pada sisi lain, pekerjaan yang berhubungan
dengan aktivitas fisik mungkin protektif. Terdapat beberapa bukti bahwa bekerja pada
suatu pekerjaan yang menuntut penggunaan tenaga fisik memberikan perlindungan
mencegah penyakit jantung koroner. Morris (1973) baru-baru ini mendemonstrasikan
bahwa aktivitas fisik yang memberikan kesenangan dapat memberikan fungsi yang
sama.
Lingkungan pekerjaan tidak hanya meliputi lingkungan fisik tetapi juga iklim
sosial dan psikologi, aspek penting yang meningkatkan tekanan pekerjaan. Kecuali
untuk kondisi ekstrim, stress sulit untuk diukur; suatu situasi yang sangat menekan
bagi seseorang mungkin masih netral bagi lainnya. Untuk menguji efek stress pada
kesehatan, Cobb dan Rose (1973) memilih suatu kelompok subjek yang memiliki
tingkat stress pekerjaan yang tinggi, pengontrol lalu lintas udara. Kerja kelompok ini
penuh dengan tekanan karena membutuhkan kewaspadaan yang tetap dan berpotensi
menimbulkan

kecelakaan jika salah dalam membuat keputusan. Ketika catatan

kesehatan pengontrol dibandingkan dengan kelompok kontrol, pengontrol ditemukan


memiliki angka hipertensi, ulser usus dan diabetes yang lebih tinggi.
Jika resiko pekerjaan khusus diidentifikasi dan program korektif diinstitusikan,
maka kelompok pekerja yang sukses

dapat diamati untuk menentukan apakah

resikonya telah dihilangkan. Selster dan Sartwell (1965) mempelajari pengalaman

11

mortalitas beberapa kelompok yang memiliki keahlian khusus dalam bidang medis
untuk menguji apakah paparan radiasi di tempat kerja memperpendek hidup. Tiga
kelompok yang memiliki keahlian khusus dipilih ahli radiologi, dokter penyakit
dalam, dan dokter ahli mata- untuk memberikan gradien hubungan pekerjaan dan
paparan radiasi. Mortalitas dianalisa selama dua waktu periode, 1935 sampai 1944
dan 1955 sampai 1958. dapat diharapkan bahwa tingkat paparan yang berhubungan
dengan pekerjaan intervalnya menurun.
Pada periode awal, gradien yang diperkirakan pada mortalitas tercatat pada
semua kelompok umur ; ahli radiologi memiliki angka kematian tertinggi, ahli mata
dan ahli THT terendah. Pada periode akhir masih terdapat perbedaan pada dokter tua,
tapi tidak pada dokter yang lebih muda. Studi ini, berdasarkan analitik bukannya
deskriptif, yang dikutip disini untuk menggambarkan efek paparan kerja pada
kesehatan dan cara dimana angka penyakit dan kematian dapat digunakan untuk
memonitor bahaya kesehatan.
Dalam mengintrepetasi perbedaan morbiditas dan mortalitas diantara kelompok
kerja, harus diingat bahwa keadaan kesehatan itu sendiri dapat menentukan jalan
masuk kedalam pekerjaan khusus.

Pekerjaan yang

tidak banyak tuntutannya

mungkin menarik bagi orang dengan kesehatan yang rendah dan pekerjaan yang
banyak tuntutannya terseleksi termasuk hanya bagi yang berbadan sehat.
Seleksi pekerjaan diperlihatkan oleh Morris dan rekannya pada studi yang
dilakukan untuk menguji hipotesis bahwa aktivitas fisik pada pekerjaan mencegah
penyakit jantung koroner (PJK). Pada suatu studi, angka penyakit jantung koroner
dibandingkan antara supir dan kondektor sistem transportasi London. Sopir
menghabiskan harinya dengan duduk, kondektur lebih aktif. Angka PJK ditemukan
lebih rendah pada kondektur. Tetapi, terdapat juga bukti bahwa dua kelompok
berbeda awalnya. Dengan memperoleh ukuran tak langsung fisik melalui catatan
ukuran seragam yang dipakai pria, sebuah pendekatan yang disebut epidemiologi
seragam. Morris memperlihatkan bahwa pengemudi lebih gemuk dibandingkan
kondektur.

12

STATUS MARITAL
Telah diobservasi secara berulang lebih dari seratus tahun yang lalu bahwa
status marital berhubungan dengan tingkat mortalitas untuk kedua jenis kelamin.
Angka kematian, untuk semua penyakit khusus dan dari semua kombinasi penyebab,
telah ditemukan bervariasi dari terendah ke tertinggi pada urutan berikut : menikah,
belum menikah, janda dan bercerai. Meskipun kesehatan yang lebih baik pada status
menikah mungkin disebabkan karena dukungan psikologi dan fisik yang diberikan
oleh pasangan, catatan kesehatan yang lebih baik mungkin tidak berkaitan secara
keseluruhan dengan efek telah menikah. Faktor selektif juga mempengaruhi status
marital; orang yang menikah mungkin lebih sempurna fisik dan mentalnya
dibandingkan dengan yang masih sendiri. Kesalahan klasifikasi status marital pada
surat kematian atau pada sensus juga dapat memberikan kontribusi pada perbedaan
laporan.
Untuk wanita, status marital dapat juga berkaitan dengan kesehatan melalui
perbedaan paparan seksual, kehamilan, pengasuhan anak, dan laktasi. Faktor etiologi
ini relatif penting dalam penyakit yang berbeda. Sebagai contoh, pada kanker mulut
rahim, penyakit lebih banyak pada wanita yang telah menikah dibandingkan yang
masih sendiri, pengalaman seksual dini dan berganti pasangan muncul sebagai faktor
yang menentukan. Sebaliknya, untuk kanker payudara, keseimbangan hormon
mungkin merupakan faktor yang krusial. Faktor yang berhubungan dengan resiko
rendah kanker payudara adalah pada usia awal kehamilan pertama dan menopause
sebelum usia 40 tahun. Aktivitas seksual kemungkinan penting hanya mempengaruhi
pada resiko kehamilan.
Ide lama yang menyatakan bahwa proteksi laktasi yang panjang mencegah
kanker payudara telah diuji melalui studi bersama. Tidak yang mendukung hipotesis
ini. Rangkaian kasus dan kontrol besar pada 7 negara tidak berbeda secara signifikan
yang berhubungan dengan riwayat laktasi.

13

Kehamilan dan melahirkan juga memberikan resiko khusus disamping


beberapa kemungkinan efek pada perkembangan kanker berikutnya. Pada awal
kehamilan wanita merupakan subjek terhadap berbagai resiko dari aborsi dan
komplikasinya dan dari ruptura kehamilan ektopik (nonuterine). Pada toksemia,
meskipun frekuensinya menurun, tetap diperhitungkan untuk beberapa mortalitas.
Parturisi berhubungan dengan bahaya yang termasuk hemorrhage dan kecelakaan
anestetik. Komplikasi purperium termasuk sepsis dan fenomena thromboembolik,
sebagaimana psikosis postpartum. Kehamilan cenderung memperburuk suatu kondisi
(hipertensi dan penyakit jantung rematik)

dan membuka masalah tersembunyi

tertentu (diabetes), sementara hal ini seringkali mengarah pada remisi penyakit
lainnya (arthritis reumatoid)
VARIABEL KELUARGA LAINNYA
Bagian sebelumnya berhubungan dengan perbedaan kematian dan penyakit
yang berhubungan dengan kondisi marital seseorang. Pada terminolgi antropolog,
keluarga berada pada masa reproduktif ketika seseorang secara aktual dan berpotensi
mengepalai sebuah rumah tangga. Kita sekarang berpindah untuk membahas dampak
kesehatan keluarga asli atau orientasi,

keluarga dimana seseorang lahir atau

menghabiskan masa perkembangannya. Sejumlah aspek keluarga orientasi dapat


diuji ; jumlah generasi dalam suatu rumah tangga; apakah kedua orangtua ada;
jumlah anak; umur kedua orangtua ketika anaknya lahir, agama orangtua; kelas sosial
asli kedua orangtua dan seterusnya. Meskipun sulit untuk menentukan signifikansi
etiologi untuk variabel ini secara terpisah karena faktor faktor saling terkait, lebih
bernilai mempertimbangkan beberapa faktor ini secara individu.
Ukuran Keluarga
Ukuran keluarga berhubungan dengan kelas sosial, keluarga besar yang umum
diantara kemiskinan. Pada keluarga besar, khususnya jika mereka miskin, anak-anak
mungkin tidak beruntung karena banyaknya orang yang harus diberi dengan sumber

14

penghasilan keluarga yang terbatas. Kecenderungan

sekarang menuju angka

kelahiran yang rendah dan keluarga kecil memiliki implikasi yang penting bagi
perubahan gaya hidup dan juga perubahan kesehatan.
Urutan Kelahiran
Hasil yang bervariasi yang berhubungan dengan urutan kelahiran telah banyak
dilaporkan, dan representasi kelahiran pertama diantara orang yang berpendidikan
tinggi yang meningkat, sampai hubungan antara urutan kelahiran dengan penyakit
yang berbeda. Tidak ada keraguan bahwa urutan kelahiran memainkan suatu bagian
dalam pengalaman hidup seseorang. Kelahiran pertama menerima perhatian yang
baik dari keluarganya yang tidak sama dengan yang akan diterima saudaranya yang
lebih muda. Tetapi, studi urutan kelahiran penuh dengan bahaya bias. Schooler (1972)
telah menekankan efek bias pada ukuran keluarga sepanjang waktu. Yang lainnya
menekankan kesalahan yang terdapat pada studi berdasarkan keluarga yang tidak
lengkap. Sebagai contoh, analisa ulang data dari beberapa studi yang cukup meluas
telah memperlihatkan keunggulan kelahiran pertama diantara bayi dengan stenosis
pilorik, Huguenard dan Sharples menemukan tidak ekses semacam itu.
Usia Ibu
Usia ibu diketahui sebagai etiologi penting dalam sejumlah malformasi (bentuk
yang cacat) kongenital. Gambar 3-7 memperlihatkan bahwa beberapa malformasi
berbentuk kurva J atau U, dengan angka tinggi pada salah satu atau keduanya umur
ibu yang ektrim. Contoh yang terkenal adalah sindrom Down(mongolisme). Pada
populasi penduduk Eropa resiko anomali ini kurang dari 1 per 1000 kelahiran untuk
wanita berusia dibawah 30 tahun. Kemudian meningkat. Untuk wanita berusia antara
40 sampai 44 tahun mendekati 1 dalam 100 kelahiran, dan pada usia 45 keatas sekitar
1 dalam 50 kelahiran.
Deprivasi Orangtua

15

Kehilangan efektif salah satu atau kedua orangtua karena kematian, bercerai
atau berpisah telah ditemukan tinggi pada tipe pasien tertentu- pasien dengan
kerusakan psikiatrik dan psikosomatik, orang dengan tuberkulosis, pasien

yang

berusaha untuk bunuh diri, dan kecelakaan berulang . Hal ini menyarankan kebutuhan
khusus untuk pengawasan kesehatan intensif bagi anak anak yang kehilangan salah
satu atau kedua orangtuanya. Sayangnya, kelompok ini sangat besar, sensus tahun
1970 mengungkapkan bahwa seperenam dari semua anak berusia dibawah 18 tahun
di Amerika Serikat hidup tanpa orangtua atau dengan hanya satu orangtua.
Penggabungan masalahnya adalah

fakta bahwa sebagian besar

anak-anak ini

terkumpul pada keluarga kelas rendah.


RANGKUMAN
Epidemiologi deskriptif berhubungan dengan studi distribusi penyakit pada
suatu kelompok populasi. Epidemiologi deskriptif merangkum dengan secara
sistematik data dasar kesehatan dan penyebab utama penyakit dan kematian.
Objeknya adalah (1)

untuk memberikan evaluasi kecenderungan kesehatan dan

perbandingannya antar negara dan antar subkelompok dalam suatu negara (2) untuk
memberikan dasar perencanaan, penetapan dan evaluasi pelayanan kesehatan dan (3)
untuk mengidentifikasi masalah yang akan dipelajari dengan metode analitik dan
untuk menyarankan area yang dapat bermanfaat bagi investigasi.
Dimensi utama epidemiologi deskriptif adalah manusia (host), tempat dan
waktu. Pada bab ini kita meninjau ulang sejumlah karakteristik host yang
mempengaruhi status kesehatan. Kemungkinan yang paling penting adalah umur dan
jenis kelamin. Disamping aspirasi egalitarian negara, status sosial ekonomi dan warna
kulit berlanjut menjadi peramal penting status kesehatan sepanjang hidup. Faktor lain
yang berkaitan dengan kesehatan adalah pekerjaan, status marital, dan variabel
keluarga lainnya.

16

Meskipun bab ini fokus pada penjelasan meluas pada setiap variabel host
secara terpisah, harus diingat bahwa faktor ini berhubungan satu sama lain dan
dengan faktor lingkungan.

ibnuridwan2006

17