Anda di halaman 1dari 20

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

LAPORAN KASUS
AGUSTUS 2016

STAFILOMA KORNEA

OLEH :
MUSFIRAH HATTA, S.KED
10542 0302 11

PEMBIMBING :
dr. Sitti Soraya, Sp.M

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2016

HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa :


Nama

: Musfirah Hatta, S.Ked

NIM

: 10542 0302 11

Kasus

: Stafiloma Kornea

Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian Ilmu
Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar.

Makassar, Agustus 2016

Pembimbing

(dr. Sitti Soraya, Sp.M)

BAB I
PENDAHULUAN
Stafiloma terjadi dari penonjolan uvea ke dalam sklera yang mengalami
ektasia. Berdasarkan anatomi, stafiloma dapat dibagi menjadi stafiloma anterior,
stafiloma ekuatorial, dan stafiloma posterior. Salah satu tipe dari stafiloma adalah
stafiloma kornea yang merupakan bagian dari stafiloma anterior.
Stafiloma kornea sering ditemukan dan bisa melibatkan sebagian atau
keseluruhan kornea. Stafiloma kornea merupakan bentuk penonjolan kornea tipe
inflamatoir berupa sikatrik kornea yang menonjol disertai dengan prolaps iris atau
dapat diartikan sebagai penonjolan setempat kornea akibat tukak kornea perforasi
atau kornea yang menipis dengan terdapat jaringan uvea di belakang atau di
dalamnya. Stafiloma ekuatorial terletak di ekuator dan stafiloma posterior terletak
di belakang ekuator. Stafiloma ekuator paling sering terlihat di kaput nervus
optikus. Stafiloma posterior biasanya berkaitan dengan daerah-daerah atrofi
koroid.1,2

BAB II
3

LAPORAN KASUS

A.

Identitas Pasien
Nama
Jenis Kelamin
Umur
Agama
Pekerjaan
Alamat
Tanggal Pemeriksaan

:I
: Laki-laki
: 32 tahun
: Islam
: Buruh
: Sanrangang
: 25 Juli 2016

B. Anamnesis
Keluhan Utama : Pasien mengeluhkan penglihatan kabur pada mata kiri.
Anamnesis Terpimpin : Pasien datang ke Poliklinik mata RS. Syekh Yusuf
dengan keluhan penglihatan kabur pada mata kiri yang sudah dirasakan sejak
sebulan terakhir. Awalnya pasien merasakan gatal sehingga pasien sering
menggosok-gosok matanya hingga menjadi merah dan lama kelamaan timbul
nanah. Pasien juga merasa mata kirinya seperti mau keluar. Riwayat airmata
dan kotoran mata berlebih disangkal pasien.
Riwayat Penyakit Terdahulu :
Riwayat penyakit dengan keluhan yang sama sebelumnya (-). Riwayat trauma
(-). Riwayat alergi (-). Riwayat Hipertensi (-). Riwayat Diabetes Melitus (-).
Riwayat Pengobatan :
Tidak ada riwayat pengobatan
Riwayat Penyakit Keluarga dan sosial :
Tidak ada riwayat penyakit yang sama pada keluarga pasien.

C. Status General
Kepala

: Bentuk bulat,simetris, Rambut tidak mudah dicabut

Mata

: Lihat status oftalmologis

Leher

: Tidak ada pembesaran KGB dan nyeri tekan (-)

Thoraks

: Simetris kiri dan kanan

Pulmo

: Ronkhi -/-, Wheezing -/-

Jantung

: Dalam batas normal

Abdomen : Dalam batas normal


Ekstremitas : Dalam batas normal
D. Status Lokalisasi Oftalmologis
OD

OS

Edema (-)

Edema (-)

Edema (-)
Hiperemis (-)

Edema (-), benjolan (-)


hiperemis (-)

Normal, sekret (-)

Normal, sekret (-)

lakrimasi (-)

lakrimasi (-)

Hiperemis (-)

Hiperemis(+)

Normal

Normal

Jernih

Keruh

Normal

Normal

Coklat, Kripte (+)

Coklat, kripte (+)

Pupil

Bulat, Sentral

Bulat, Sentral

Lensa

Jernih

Jernih

Palpebra
superior
Palpebra
inferior
Silia
Apparatus
Lakrimalis
Konjungtiva
Bola mata
Kornea
BilikMata
Depan
Iris

Mekanisme
muscular

Ke

Ke segala arah

segala
arah

E. Pemeriksaan Palpasi

Palpasi

OD

OS

Tensi Okuler

Tn

Tn

Nyeri tekan

(-)

(+)

Nyeri pergerakan
Massa /tumor

(-)
(-)

(+)
(-)

Tidak ada pembesaran

Tidak ada pembesaran

Glandula preaurikuler

F. Tonometri
Tidak dilakukan pemeriksaan
G. Visus
VOD : 20/50
VOS : 1/300
H. Pemeriksaan Slit Lamp
a. SLOD : Palpebra edema (-), konjungtiva hiperemis (-), injeksio konjungtiva
(-), kornea jernih, BMD kesan normal, iris coklat, kripte (+), pupil bulat
sentral (+), RC (+), lensa jernih (+).
b. SLOS : Palpebra edema (-), konjungtiva hiperemis (+), injeksio konjungtiva
(-), kornea keruh, BMD kesan normal, iris coklat, kripte (+), pupil bulat
sentral (+), RC (+), lensa jernih (+).
I.

Diagnosis Kerja
Stafiloma Kornea

J.

Diagnosis Banding
- Keratitis
- Ulkus kornea
K. Penatalaksanaan
- LFX ED 1 x 1 tetes OS
- Ciprofloxacin 2 x 1
- Metil Prednisolon 3 x 1
- Planning : Eviserasi
L. Prognosis
- Ad vitam : bonam
- Ad functionam : malam
- Ad sanationam : dubia ad malam
- Ad cosmeticum : malam

RESUME
Pasien datang ke Poliklinik mata RS. Syekh Yusuf dengan keluhan
penglihatan kabur pada mata kiri yang sudah dirasakan sejak sebulan terakhir.
Awalnya pasien merasakan gatal sehingga pasien sering menggosok-gosok
matanya hingga menjadi merah dan lama kelamaan timbul nanah. Pasien juga
merasa mata kirinya seperti mau keluar. Riwayat airmata dan kotoran mata
berlebih disangkal pasien. Riwayat penyakit dengan keluhan yang sama
sebelumnya tidak ada. Riwayat trauma tidak ada.
Pada pemeriksaan oftalmologi didapatkan konjugtiva inferior hiperemis
dan kornea keruh pada mata kiri serta penurunan visus dimana pasien hanya dapat
melihat lambaian tangan.
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
STAFILOMA KORNEA

A. ANATOMI DAN FISIOLOGI KORNEA MATA

Gambar 1. Anatomi Bola Mata


Bola mata berbentuk bulat dengan panjang maksimal 24 mm. Bola
mata di bagian depan (kornea) mempunyai kelengkungan yang lebih tajam
sehingga terdapat bentuk dengan 2 kelengkungan yang berbeda.2
Bola mata dibungkus oleh 3 lapis jaringan, yaitu:2
1. Sklera merupakan jaringan ikat yang kenyal dan memberikan bentuk pada
mata,

merupakan
bagian
terluar

yang

melindungi

bola

mata.
Bagian
terdepan
sklera
disebut
kornea

yang

bersifat

transparan yang memudahkan sinar masuk ke dalam bola mata.


Kelengkungan kornea lebih besar dibanding sklera.
2. Jaringan uvea merupakan jaringan vaskular. Jaringan sklera dan uvea
dibatasi oleh ruang yang potensial mudah dimasuki darah bila terjadi
perdarahan pada ruda paksa yang disebut perdarahan suprakoroid.
Jaringan uvea ini terdiri atas iris, badan siliar, dan koroid. Pada iris
didapatkan pupil yang oleh 3 susunan otot dapat mengatur jumlah sinar
masuk ke dalam bola mata. Badan siliar yang terletak di belakang iris
menghasilkan cairan bilik mata (akuos humor), yang dikeluankan melalui
trabekulum yang terletak pada pangkal iris di batas komea dan sklera.
3. Lapis ketiga bola mata adalah retina yang terletak paling dalam dan
mempunyal susunan lapis sebanyak 10 lapis yang merupakan lapis
membran neurosensoris yang akan merubah sinar menjadi rangsangan
pada saraf optik dan diteruskan ke otak. Terdapat rongga yang potensial

antara retina dan koroid sehingga retina dapat terlepas dan koroid yang
disebut ablasi retina.1
Kornea
Kornea adalah jaringan transparan yang ukuran dan strukturnya
sebanding dengan kristal sebuah jam tangan kecil. Kornea ini disisipkan
ke sclera di limbus, lekuk melingkar pada persambungan ini disebut sulkus
skleralis. Kornea dewasa rata-rata mempunyai tebal 0,54 mm di tengah,
sekitar 0,65 mm di tepi, dan diameternya sekitar 11,5 mm. Dari anterior ke
posterior kornea mempunyai lima lapisan yang berbeda-beda: lapisan
epitel, lapisan Bowman, stroma, membran Descemet, dan lapisan endotel.
Lapisan epitel mempunyai lima atau enam lapis sel sedangkan endotel
hanya satu lapis. Lapisan Bowman merupakan lapisan jernih aseluler, yang
merupakan bagian stroma yang berubah. Membran Descemet merupakan
suatu membran elastik yang jernih yang tampak amorf pada pemeriksaan
mikroskop elekron dan merupakan membran basalis dari endotel kornea.
Stroma kornea mencakup sekitar 90% dari ketebalan lensa. Bagian ini
tersusun dari lamella fibril-fibril kolagen dengan lebar sekitar 1m yang
salin menjalin yang hampir mencakup seluruh diameter kornea. Lamella
ini berjalan sejajar dengan permukaan kornea dan karena ukuran dan
periodiditasnya secara optic menjadi jernih. Lamella terletak di dalam
suatu zat dasar proteoglikan hidrat bersama dengan keratosit yang
menghasilkan kolagen dan zat dasar.1
Sumber-sumber nutrisi untuk kornea adalah pembuluh-pembuluh darah
limbus, humor aqueus, dan air mata. Kornea superficial juga mendapat
oksigen sebagian besar dari atmosfer. Saraf-saraf sensorik kornea didapat
dari

percabangan

pertama

(oftalmika)

dari

nervus

kranialis

(trigeminus).2

Gambar 2. Anatomi kornea


Kornea (Latin cornum = seperti tanduk) adalah selaput bening mata,
bagian selaput mata yang tembus cahaya, merupakan lapis jaringan yang
menutup bola mata sebelah depan dan terdiri atas lapis:2
1. Epitel
- Tebalnya 50
terdiri atas 5
epitel

pm,
lapis sel

tidak

bertanduk

yang

saling

tumpang

tindih;

satu lapis sel

basal,

sel poligonal

dan sel

gepeng.
Pada sel basal

sering

terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong ke depan menjadi lapis sel
sayap dan semakin maju ke depan menjadi sel gepeng, sel basal berikatan
erat dengan sel basal di sampingya dan sel poligonal di depannya melalui
desmosom dan makula okluden; ikatan ini menghambat pengaliran air,
-

elektrolit, dan glukosa yang merupakan barrier.


Sel basal menghasilkan membran basal yang melekat erat kepadanya. Bila

terjadi gangguan akan mengakibatkan erosi rekuren.


Epitel berasal dan ektoderm permukaan.

2. Membran Bowman
- Terletak di bawah membran basal epitel komea yang merupakan kolagen
yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dan bagian depan
-

stroma.
Lapis ini tidak mempunyai daya regenerasi

3. Stroma
- Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu
dengan lainnya, pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang di
bagian perifer serat kolagen ini bercabang; terbentuknya kembali serat
kolagen memakan waktu lama yang kadang-kadang sampai 15 bulan.

10

Keratosit merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblas terletak


di antara serat kolagen stroma. Diduga keratosit membentuk bahan dasar
dan serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma.
4. Membran Descement
- Merupakan membran aselular dan merupakan batas belakang stroma
-

komea dihasilkan sel endotel dan merupakan membran basalnya


Bersifat sangat elastik dan berkembang terus seumur hidup, mempunyai
tebal 40 pm.

5. Endotel
Berasal dan mesotelium, berlapis satu, bentuk heksagonal, besar 20-40
um. Endotel-melekat pada membran descement melalui hemidesmosom
dan zonula okluden.
Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal dan
saraf siliar longus, saraf nasosiliar, saraf ke V saraf silianlongus berjalan
suprakoroid, masuk ke dalam stroma komea, menembus membran
Bowman melepaskan selubung Schwannya. Seluruh lapis epitel dipersarafi
sampai pada kedua lapis terdepan tanpa ada akhir saraf. Bulbus Krause
untuk sensasi dingin ditemukan di daerah limbus. Daya regenerasi saraf
sesudah dipotong di daerah limbus terjadi dalam waktu 3 bulan. Kornea
merupakan bagian mata yang tembus cahaya dan menutup bola mats di
sebelah depan. Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh komea, dimana 40
dioptri dan 50 dioptri pembiasan sinar masuk kornea dilakukan oleh
kornea.2
B. DEFINISI
Stafiloma kornea merupakan bentuk penonjolan kornea tipe inflamatoir
berupa sikatrik kornea yang menonjol disertai dengan prolaps iris atau dapat
diartikan sebagai penonjolan setempat kornea akibat tukak kornea perforasi
atau kornea yang menipis dengan terdapat jaringan uvea di belakang atau di
dalamnya.1,2
C. ETIOPATOGENESIS
Stafiloma kornea dapat timbul karena respon dari adanya kondisi
inflamasi atau degeneratif pada mata akibat dari lemahnya bola mata.

11

Stafiloma kornea adalah tipe stafiloma yang sering terjadi, paling sering
disebabkan oleh luka dari trauma mekanik atau operasi mata.1
Ulkus kornea dan luka perforasi sering disertai dengan terjadinya
prolaps atau inkarserasi pada iris. Jika prolaps tersebut tidak diganti maka
akan terjadi konversi bertahap dari stroma iris pada jaringan fibrosa oleh
aktivitas fibroblas dan berasal dari lamela kornea yang berdekatan. Akhirnya
seluruh area menjadi tertutup oleh epitel. Sudut bilik mata anterior sering
terhambat dan kejadian sekunder glaukoma menyebabkan bekas luka kornea
yang lemah menjadi menonjol, menyebabkan terjadinya staphyloma kornea.
Jenis staphyloma yang membentuk tergantung pada luasnya luka atau ulkus.
Staphyloma konikal (kerucut) dihasilkan dari perforasi kecil, dan staphylomas
spherial dari perforasi yang luas.6
D. GEJALA KLINIS
1. Visus terganggu
Pada stafiloma kornea totalis, visus hanya persepsi cahaya sampai 0.
2. Apeks dari stafiloma kornea dapat menjadi kering, timbul ulkus, yang
dapat perforasi dan menutup lagi. Proses menutup dan membukanya
perforasi ini dapat terjadi berulang-ulang sampai akhirnya menjadi ptisis
bulbi.
3. Tekanan intraokuler naik dan dapat timbul:
Rasa sakit dan kelainan lain akibat glaukoma.
Dapat memperhebat keadaan glaukomanya.
Dapat mengakibatkan stafiloma sklera.2,6
Staphyloma kornea ditandai dengan adanya ektasia, kekeruhan
kornea total dan penonjolan ke depan dari mata di antara kelopak mata.
Hal ini dianggap sebagai suatu kelainan dalam perkembangan yang
ditandai dengan bentuk segmen anterior yang sangat abnormal. Kondisi
ini dapat bersifat unilateral atau bilateral.4
Terbentuknya keloid dilaporkan terjadi pada staphyloma kornea,
mungkin

sebagai

respon

terhadap

peradangan

kornea

kronis.

Choriostoma seperti bentuk dermis yang timbul dari kornea ectatic juga

12

dilaporkan.

Penelitian

histopatologi

dan

elektron pada

mata

mengalami

staphyloma

kornea khas

menunjukkan

adanya

membran

Descemet

dan

kornea. Sel-

sel

mikroskop
yang

endotelium
inflamasi

terutama tidak ada pada stroma kornea yang mengalami staphyloma


dalam banyak kasus. Tidak adanya sel-sel endotel kornea berkombinasi
dengan kurangnya perubahan inflamasi stroma yang menunjukkan bahwa
staphyloma

kornea

berkembang

daripada tempat

inflamasi

berasal.5

Gambar 3. staphyloma kornea setelah operasi katarak yang mengalami


komplikasi terjadinya prolaps iris yang besar. (William Charles Caccamise
EyeRounds Online Atlas of Ophthalmology)

13

Gambar 4. Staphyloma kornea yang diakibatkan dari ulkus hypopion


perforratif. (William Charles Caccamise EyeRounds Online Atlas of
Ophthalmology)
E. DIAGNOSIS
Untuk dapat menegakkan diagnosis stafiloma kornea diperlukan evaluasi
secara menyeluruh melalui anamnesis dan pemeriksaan fisis serta pemeriksaan
penunjang dengan memberikan perhatian yang lebih pada berbagai faktor
resiko yang mengarahkan pada diagnosis serta terapi yang diberikan.
1.

Anamnesis
Anamnesis pada pasien dengan stafiloma kornea meliputi riwayat
penglihatan mencakup penentuan akibat pada fungsi visual dalam
kehidupan dan aktivitas sehari-hari, adanya riwayat nyeri pada mata yang

2.

dirasakan nyeri terus menerus atau dirasakan hilang timbul.


Pemeriksaan oftalmologi
Visus : Pada pemeriksaan visus didapatkan visus yang menurun
bahkan visus sampai menjadi 0 pada mata yang mengalami stafiloma

kornea.
Slitlamp : Pada pemeriksaan slit lamp didapatkan kelainan pada
kornea berupa kornea menonjol dengan permukaan berbenjol-benjol
disertai iris yang prolaps. Biasanya berbentuk globus, konus, dan
lobolus yang menyerupai anggur. Warna stafiloma kornea berupa
putih atau kebiru-biruan dengan beberapa pembuluh darah kecil

3.

maupun besar.
Pemeriksaan Penunjang
USG B-Scan
USG BScan ophtalmic ultrasound (echography) adalah prosedur
diagnosa yang digunakan untuk mendeteksi atau membedakan gangguan
okular dan orbital. Penggunaan paling umumnya adalah pada mode kontak
untuk evaluasi daerah posterior pada mata dengan media opasifikasi yang
padat. B-Scan ultrasound juga berguna pada penanganan dari lesi yang
teridentifikasi untuk memantau perkembangannya. B-Scan memberikan
informasi mengenai topografi (lokasi dan konfigurasi) dari lesi bersama

14

dengan reflektifitas kasarnya. B-Scan biasanya digunakan untuk


membedakan stafiloma anterior atau posterior.2,8

F. PENATALAKSANAAN
1. Medikamentosa
Anti glaukoma dapat digunakan untuk mengurangi progresifitas dari
2.

stafiloma.1,8
Operatif 1,8
a. Eksisi lokal dapat dilakukan pada stafiloma (staphylektomy) dengan
kornea atau sklera patch graft untuk repair.
b. Keratoplasti (Transplantasi kornea) diindikasikan bagi banyak kondisi
kornea yang serius misalnya, adanya jaringan parut, edema, penipisan,
dan distorsi.
c. Iridektomi.
Pada Stafiloma Kornea; Iridektomi basalis, pada tempat kornea yang
paling jernih, dengan demikian maka tensi intraokuler menurun,
protrusion kornea berkurang, visus diperbaiki. Hal ini dilakukan
setelah TIO normal dan visus dengan midriatika ada kemajuan.
Stafiloma totalis: enukleasi bulbi.
d. Eviserasi.
Prosedur pembedahan dimana isi bola mata dikeluarkan dan skleral
cup disingkirkan. Biasanya dilakukan pada kasus supurati intraokular
(panoftalmitis), perdarahan anterior stafiloma dan trauma tembus pada
bola mata dengan keluarnya isi bola mata.
e. Enukleasi.
Enukleasi dilakukan dengan menghilangkan organ dalam dari bola
mata

15

sementara jaringan lain pada orbital diupayakan tetap ada. Ini setelah
pemeriksaan histologi atas bola mata dan keadaan dari nervus optik
menunjukan adanya kelainan juga mengurangi resiko terjadinya
simpatetik oftalmia yaitu keadaan dimana terjadinya reaksi imunologi
pada jaringan uvea setelah terjadinya trauma biasanya timbul pada
hari kesembilan sampai 50 tahun setelah trauma tembus.
Prosedur ini selalu dipilih jika patologi intraokuler yang terjadi tidak
diketahui selain itu indikasi apabila keganasan primer intraokuler
seperti retinoblastoma atau melanoma koroid. Pada kasus trauma
berat, enukleasi dilakukan pada 10 14 hari pertama setelah trauma,
juga pada mata yang nyeri dgn visus buruk seperti pada glaukoma
absolut, uveitis kronik atau post trauma. Enukleasi pada anak-anak
tidak dianjurkan karena akan mempengaruhi pertumbuhan tulang
orbita, jika memang harus dienukleasi maka harus dipasang implan
yang besar untuk merangsang pertumbuhan tulang orbita, dewasa ini
penggunaan dermis fat graft pada anak-anak angka keberhasilan
meningkat (diikut tumbuhnya dan mengisi orbita).
f. Pemakaian implant
Mengingat deformitas kosmetik yang berat pada kebutaan akibat
staphyloma kornea, mata yang mengalami glaukoma dan kondisi
normal mata, enukleasi dianggap menjadi pengobatan yang paling
tepat. Meskipun mata yang mengalami staphyloma kornea layak untuk
dilakukan enukleasi, baru-baru ini telah dilaporkan beberapa
keberhasilan dalam pengobatan bentuk ringan dari penyakit ini dengan
pelaksanaan keratoplasty. Semua kasus staphyloma kornea kongenital
bilateral mungkin harus dilakuakn upaya bedah untuk menyelamatkan
penglihatan pada setidaknya satu mata.5

G. DIAGNOSIS BANDING
1. Keratitis
Keratitis merupakan peradangan kornea. Keratitis disebabkan oleh virus,
bakteri (pneumococci, streptococci, atau staphylococci), jamur, dan
protozoa. Gejala keratitis dapat ringan sampai berat, silau, mata berair dan
kotor, lesi di kornea serta penglihatan berkurang.2

16

Gambar 6.
from

fungal
Aspergillus.

(Courtesy

of

University

keratitis
of

Iowa

http://webeye.ophth.uiowa.edu/eyeforum/atlas/pages/Fungal-keratitis201208.html.)
2.

Ulkus Kornea
Ulkus kornea merupakan hilangnya sebagian permukaan kornea akibat
kematian jaringan kornea. Terbentuknya ulkus pada kornea banyak
ditemukan oleh adanya kolagenase yang dibentuk oleh sel epitel baru dan
sel radang. Gejala berupa penipisan kornea, reaksi jaringan uvea (akibat
gangguan vaskularisasi iris), berupa hipopion, hipema dan sinekia
posterior.2

Gambar 7. Ulkus Kornea


H. KOMPLIKASI
Komplikasi yang paling sering terjadi setelah dilakukannya operasi
staphyloma kornea adalah hilangnya cairan vitreous. Semakin besar segmen
anterior staphyloma yang direseksi, semakin besar pula lukanya membuka, dan
semakin tinggi resiko kehilangan vitreous. Resiko yang berbahaya ini akan
meningkat oleh kenyataan bahwa humor vitreous dalam staphylomata yang
besar dan yang sudah lama biasanya sangat cair, dan mengalir keluar seperti air
dari bola mata yang bulat. Tentu saja kehilangan dalam jumlah kecil dari
vitreous dapat dipulihkan, tapi kadang-kadang
jumlah kehilangannya dapat begitu besar
sehingga operasi untuk staphyloma tersebut
harus diikuti dengan pengeluaran isi (eviserasi)
dari bola mata, yaitu dengan operasi yang mana
pasien sangat tidak menyetujuinya.3

17

KESIMPULAN
Staphyloma kornea adalah bentuk parah dari defek kornea posterior
di mana kornea terletak lebih ke anterior dan menonjol ke depan melalui
fisura palpebra. Baik malformasi itu sendiri ataupun yang terkait dengan
peningkatan tekanan intraokular dapat menyebabkan perpindahan kornea
ke anterior. Kondisi ini biasanya unilateral. Kornea yang tipis, memiliki
bekas luka serta vaskularisasi akan berwarna biru karena jaringan uveal
yang mendasarinya dan dapat secara sekunder menjadi keratin karena
paparan tertentu.
Staphyloma kornea ditandai dengan adanya ektasia, kekeruhan
kornea total dan penonjolan ke depan dari mata di antara kelopak mata.
Hal ini dianggap sebagai suatu kelainan dalam perkembangan yang
ditandai dengan bentuk segmen anterior yang sangat abnormal. Kondisi ini
dapat bersifat unilateral atau bilateral.

18

DAFTAR PUSTAKA
1. Vaughan DG, Asbury T, Riordan Eva P. Oftalmologi Umum. Edisi 14.
Jakarta: Widya Medika, 2000.
2. Ilyas, Sidarta. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Edisi Ketiga. Balai Penerbit
FK Universitas Indonesia, Jakarta. 2008.
3. N. I. Shimkin. Resection of Anterior Staphyloma of The Cornea by Means
of Gradual Incisions. Br J Ophthalmol. 1939 October; 23(10): 671676.
4. Verschooten R, et al. Clinical Spectrum Of Congenital Corneal
Staphyloma: A Case Report. Bull. Soc. belge Ophtalmol., Belgium, 318, 710, 2011
5. Leff, Steven R, et al. Congenital corneal staphyloma: clinical,
radiological,

and

pathological

correlation.

British

Journal

of

Ophthalmology, 1986, 70, 427-430.


6. Agrawal PK. The pathology of cornea (A histopathological study). Indian
J Ophthalmol 1983;31:662-5
7. Anderson, David F. Corneal Abrasion And Recurrent Erosion. In
Evidence-based Ophthalmology. Richard Wormald, Liam Smeeth and
Katherine Henshaw editors. London. BMJ. 2004 : p.129
8. Lang, Gerhard K. Cornea. Sclera. In Opthalmology A Short Textbook.
Stuttgard. Thieme. 2000 : p.117-9 ; p.157-9.

19

20