Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSIII

Kromatografi Lapis
Tipis

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia

merupakan

negara

yang

memiliki

kekayaan

keanekaragaman hayati. Beraneka tanaman tumbuh subur di Indonesia yang


beriklim tropis. Tumbuhan tersebut memiliki banyak manfaat baik untuk
obat-obatan, pewarna, dan untuk makanan. Kandungan dalam tumbuhan
yang paling khas adalah klorofil. Selain itu, di dalam tumbuhan banyak
mengandung senyawa metabolit skunder.
Metabolit sekunder adalah senyawa metabolit yang tidak esensial bagi
pertumbuhan organisme dan ditemukan dalam bentuk yang unik atau
berbeda-beda antara spesies yang satu dan lainnya. Sebagian besar tanaman
penghasil senyawa metabolit sekunder memanfaatkan senyawa tersebut
untuk mempertahankan diri dan berkompetisi dengan makhluk hidup lain di
sekitarnya. Tanaman dapat menghasilkan metabolit sekunder (seperti:
quinon, flavonoid, tanin, dll.) yang membuat tanaman lain tidak dapat
tumbuh di sekitarnya. Berbagai senyawa metabolit sekunder telah
digunakan sebagai obat atau model untuk membuat obat baru, contohnya
adalah aspirin yang dibuat berdasarkan asam salisilat yang secara alami
terdapat pada tumbuhan tertentu. Beberapa metabolit sekunder lainnya yang
telah digunakan dalam memproduksi sabun, parfum, minyak herbal,

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSIII

Kromatografi Lapis
Tipis

pewarna, permen karet, dan plastik alami adalah resin, antosianin, tanin,
saponin, dan minyak volatil.
Oleh karena itu, perlu adanya pengembangan terkait analisis
kuantitatif pada beberapa ekstrak tumbuhan yang mengandung metabolit
sekunder. Metode pemisahan yang sering digunakan adalah kromatografi
lapis tipis. Metode ini merupakan salah satu analisis kualitatif dari suatu
sampel yang ingin dideteksi dengan memisahkan komponen-komponen
sampel

berdasarkan

perbedaan

kepolaran.

Teknik

ini

biasanya

menggunakan fase diam dari bentuk plat silika dan fase geraknya
disesuaikan dengan jenis sampel yang ingin dipisahkan. Larutan atau
campuran larutan yang digunakan dinamakan eluen. Semakin dekat
kepolaran antara sampel dengan eluen maka sampel akan semakin terbawa
oleh fase gerak tersebut.
Berdasarkan uraian di atas, analisa senyawa metabolit sekunder
dilakukan

dengan

menggunakan

metode

kromatografi lapis tipis (KLT).

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

pemisahan

komponen

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSIII

Kromatografi Lapis
Tipis

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Kromatografi Lapis Tipis?
2. Bagaimana prinsip kerja Kromatografi Lapis Tipis?
C. Tujuan Percobaan
1. Untuk mengetahui pengertian Kromatografi Lapis Tipis?
2. Untuk mengetahui prinsip kerja Kromatografi Lapis Tipis?
D. Prinsip Percobaan
Ekstrak ditotol pada silikat, kemudian silikat dimasukkan dalam
chamber. Fase diam dari bentuk plat silika dan fase geraknya disesuaikan
dengan jenis sampel yang ingin dipisahkan. Larutan atau campuran larutan
yang digunakan dinamakan eluen. Semakin dekat kepolaran antara sampel
dengan eluen maka sampel akan semakin terbawa oleh fase gerak tersebut.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSIII

Kromatografi Lapis
Tipis

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Ekstraksi
Ekstraksi adalah penyarian zat-zat berkhasiat atau zat-zat aktif dari
bagian tanaman, hewan dan beberapa jenis ikan termasuk biota laut. Zat
aktif yang terdapat dalam tanaman, hewan atau beberapa jenis ikan pada
umumnya mengandung senyawa yang mudah larut dalam pelarut organic
(Voight, 1994).
Menurut Estien Yazid (2005), berdasarkan bentuk campuran yang
diekstraksi, suatu ekstraksi dibedakan menjadi ekstraksi padat-cair dan
ekstraksi cair-cair.
1. Ekstraksi padat-cair; zat yang diekstraksi terdapat di dalam campuran
yang berbentuk padatan. Ekstraksi jenis ini banyak dilakukan di dalam
usaha mengisolasi zat berkhasiat yang terkandung di dalam bahan alam
seperti steroid, hormon, antibiotika dan lipida pada biji-bijian.
2. Ekstraksi cair-cair; zat yang diekstraksi terdapat di dalam campuran
yang berbentuk cair. Ekstraksi cair-cair sering juga disebut ekstraksi
pelarut banyak dilakukan untuk memisahkan zat seperti iod atau
logam-logam tertentu dalam larutan air.
B. Tinjauan tentang Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
1. Pengertian
Kromatografi lapis tipis (KLT) dikembangkan oleh Izmailoff
dan Schraiber pada tahun 1938. KLT merupakan bentuk kromatografi

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSIII

Kromatografi Lapis
Tipis

planar, selain kromatografi kertas dan elektroforesis. Berbeda debgan


kromatografi kolom yang mana fase diamnya diisikan atau dikemas di
dalamnya, pada kromatografi lapis tipis, fase diamnya berupa lapisan
yang seragam (uniform) pada permukaan bidang datar yang didukung
oleh lempeng kaca, pelat aluminium atau pelat plastik. Meskipun
demikian, kromatografi planar ini dapat dikatakan sebagai bentuk
terbuka dari kromatografi kolom (Gandjar dan Rohman, 2007).
Kromatografi lapis tipis (KLT) merupakan salah satu metode
isolasi yang terjadi berdasarkan perbedaan daya serap (adsorpsi) dan
daya partisi serta kelarutan dari komponen-komponen kimia yang akan
bergerak mengikuti kepolaran eluen. Oleh karena daya serap adsorben
terhadap komponen kimia tidak sama, maka komponen bergerak
dengan kecepatan yang berbeda sehingga hal inilah yang menyebabkan
pemisahan (Hostettmann et al, 1995).
Kromatografi lapis tipis merupakan jenis kromatografi yang
dapat digunakan untuk menganalisis senyawa secara kualitatif maupun
kuantitatif. Lapisan yang memisahkan terdiri atas bahan berbutir (fase
diam) ditempatkan pada penyangga berupa pelat gelas, logam, atau
lapisan yang cocok. Campuran yang akan dipisah berupa larutan,
ditotolkan berupa bercak atau pita, setelah pelat/lapisan ditaruh dalam
bejana tertutup rapat yang berisi larutan pengembang yang cocok (fase
gerak). Pemisahan terjadi setelah perambatan kapiler (pengembangan),

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSIII

Kromatografi Lapis
Tipis

selanjutnya senyawa yang tidak berwarna harus ditampakkan/dideteksi.


Deteksi dilakukan dengan menggunakan sinar UV (Sudjadi, 1988).
2. Kelebihan dan Kekurangan KLT
Beberapa kelebihan KLT yaitu:
a. KLT lebih banyak digunakan untuk tujuan analisis.
b. Identifikasi pemisahan komponen dapat dilakukan dengan pereaksi
warna, fluoresensi, atau dengan radiasi menggunakan sinar
ultraviolet.
c. Dapat dilakukan elusi secara mekanik (ascending), menurun
(descending), atau dengan cara elusi 2 dimensi.
d. Ketepatan penentuan kadar akan lebih baik karena komponen yang
e.
f.
g.
h.
i.

akan ditentukan merupakan bercak yang tidak bergerak.


Hanya membutuhkan sedikit pelarut.
Biaya yang dibutuhkan terjangkau.
Jumlah perlengkapan sedikit.
Preparasi sample yang mudah
Dapat untuk memisahkan senyawa hidrofobik (lipid

dan

hidrokarbon) yang dengan metode kertas tidak bisa (Gandjar dan


Rohman, 2007).
Adapun kekurangan KLT yaitu:
a. Butuh ketekunan dan kesabaran yang ekstra untuk mendapatkan
bercak/noda yang diharapkan.
b. Butuh sistem trial and eror untuk menentukan sistem eluen yang
cocok.
c. Memerlukan waktu yang cukup lama jika dilakukan secara tidak
tekun

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSIII

Kromatografi Lapis
Tipis

3. Prinsip Kerja KLT


Pada dasarnya KLT digunakan untuk memisahkan komponenkomponen berdasarkan perbedaan adsorpsi atau partisi oleh fase diam
di bawah gerakan pelarut pengembang (Watson, 2010). KLT sangat
mirip dengan kromatografi kertas, terutama pada cara pelaksanaannya.
Perbedaan nyata terlihat pada fase diamnya atau media pemisahnya,
yakni digunakan lapisan tipis adsorben sebagai pengganti kertas.
Pada proses pemisahan dengan kromatografi lapis tipis, terjadi
hubungan kesetimbangan antara fase diam dan fasa gerak, dimana ada
interaksi antara permukaan fase diam dengan gugus fungsi senyawa
organik yang akan diidentifikasi yang telah berinteraksi dengan fasa
geraknya. Kesetimbangan ini dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu :
kepolaran fase diam, kepolaran fase gerak, serta kepolaran dan ukuran
molekul.
4. Fase Diam dan Fase Gerak
Fase diam yang digunakan dalam KLT merupakan penjerap
berukuran kecil dengan diameter partikel antara 10-30 m (Gandjar
dan Rohman, 2007). Semakin kecil ukuran rata-rata partikel fase diam
dan semakin sempit kisaran ukuran fase diam, maka semakin baik
kinerja KLT dalam hal efisiensi dan resolusinya.
Silika gel salah satu contoh fase diam yang terbentuk dari
silikon dioksida (silika). Atom silikon dihubungkan oleh atom oksigen
dalam struktur kovalen yang besar. Namun, pada permukaan silika gel,
AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSIII

Kromatografi Lapis
Tipis

atom silikon berlekatan pada gugus -OH. Jadi, pada permukaan jel
silika terdapat ikatan Si-O-H selain Si-O-Si. Gambar ini menunjukkan
bagian kecil dari permukaan silika. Permukaan silika gel sangat polar
dan karenanya gugus -OH dapat membentuk ikatan hidrogen dengan
senyawa-senyawa yang sesuai disekitarnya, sebagaimana halnya gaya
van der Waals dan atraksi dipol-dipol.
Fase diam lainnya yang biasa digunakan adalah alumina dari
aluminium oksida. Atom aluminium pada permukaan juga memiliki
gugus -OH. Pada dasarnya sifat serta penggunaannya mirip silika gel.
Selain fasa diam, dalam KLT juga diperlukan fasa gerak/eluent
yang berperan penting pada proses elusi bagi larutan umpan (feed)
untuk melewati fasa diam (adsorbent). Interaksi antara adsorbent
dengan eluent sangat menentukan terjadinya pemisahan komponen.
Oleh sebab itu pemisahan komponen secara kromatografi dipengaruhi
oleh laju alir eluent dan jumlah umpan. Eluent dapat digolongkan
menurut ukuran kekuatan teradsorpsinya pelarut atau campuran pelarut
tersebut pada adsorben dan dalam hal ini yang banyak digunakan
adalah jenis adsorben alumina atau sebuah lapis tipis silika. Suatu
pelarut yang bersifat larutan relatif polar, dapat mengusir pelarut yang
tak polar dari ikatannya dengan alumina (gel silika). Semakin dekat
kepolaran antara senyawa dengan eluen maka senyawa akan semakin
terbawa oleh fase gerak tersebut. Hal ini berdasarkan prinsip like
dissolved like (Watson, 2010).
AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSIII

Kromatografi Lapis
Tipis

5. Prosedur Kerja dengan KLT


Pada KLT, fasa diam berupa plat yang biasanya disi dengan
silica gel. Sebuah garis pensil digambar dekat bagian bawah fasa diam
dan setetes larutan sampel ditempatkan di atasnya. Sampel ditotol
dengan bantuan pipa kapiler. Garis pada fasa diam berguna untuk
menunjukkan posisi asli sampel. Pembuatan garis harus menggunakan
pensil karena jika semua ini dilakukan dengan tinta, pewarna dari tinta
juga akan bergerak sebagai kromatogram berkembang. Ketika titik
campuran kering, fasa diam diletakkan berdiri dalam gelas tertutup
yang telah berisi fasa gerak dengan posisi fasa gerak di bawah garis.
Digunakan gelas tertutup untuk memastikan bahwa suasana dalam
gelas jenuh dengan uap pelarut.
Gambar berikut ini menunjukkan posisi dari totolan sampel,
posisi lempeng dalam bejana serta ketinggian eluen dalam bejana :

Gambar 3 : Lempeng dalam beaker (chamber) dengan garis pembatas


penotolan sampel dan batas eluen.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSIII

Kromatografi Lapis
Tipis

Gambar 4 : Lempeng dengan penunjukan kenaikan bercak dan batas


atas pengelusian.
6. Perhitungan Nilai Rf (4)

Gambar 5 : Perbandingan jarak bercak dan jarak tempuh eluen


Faktor retensi (Rf) adalah jarak yang ditempuh oleh komponen
dibagi dengan jarak yang ditempuh oleh eluen, dengan persamaan :
R

f=

Jarak yangditempuh senyawa terlarut


jarak yang ditempuh pelarut

Nilai Rf dinyatakan hingga angka 1,0 beberapa pustaka


menyatakan nilai Rf yang baik yang menunjukkan pemisahan yang
cukup baik adalah berkisar antara 0,2-0,8.
C. Tinjauan tentang Sampel
1. Spons

Gambar 6: Spons
AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

10

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSIII

Kromatografi Lapis
Tipis

Spons merupakan kelompok porifera yaitu hewan yang


mempunyai tubuh berpori-pori atau saluran. Spons sebagai invertebrata
laut multi sel yang fungsi jaringan dan organnya sangat sederhana.
Biota laut ini dikenal dengan filter feeders, yaitu mencari makanan
dengan mengisap dan menyaring air melalui sel cambuk dan
memompakan air keluar melalui oskulum. Makanan spons berupa
zooplankton atau hewan kecil dan bakteri yang terbawa oleh arus serta
masuk ke dalam tubuhnya (Amir, 1996).
Menurut (Hooper, 2002) spons Clathria Sp diklasifikasikan
sebagai berikut :
Kingdom

: Animalia

Filum

: Porifera

Kelas

: Demospongiae

Ordo

: Poecilose lerida

Famili

: Microcionidae

Genus

: Clathria

Spesies
: Clatharia sp
Kandungan metabolit sekunder dari spons yang mengandung
alkaloid sebanyak 194 jenis; 151 jenis yang mengandung terpenoid,
dan 121 jenis mengandung steroid. Sebagian besar spons mengandung
alkaloid, lalu terpenoid, kemudian steroid. Setiap spons tidak selalu
memiliki kandungan metabolit sekunder yang sama dengan spons
lainnya demikian pula golongannya ada yang mengandung hanya

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

11

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSIII

Kromatografi Lapis
Tipis

alkaloid saja, atau steroid saja, atau terpenoid saja, ataupun dua ataupun
ketiga-tiganya. Hal ini dapat dimengerti karena pembentukan metabolit
sekunder dalam spons sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya
(Bergman dan Feeney 1990, dalam Suparno, 2005).
2. Rambut Jagung
Tanaman jagung termasuk dalam keluarga rumput-rumputan
dengan spesies Zea Mays L. Secara umum klasifikasi dan sistematika
tanaman jagung adalah sebagai berikut (Purwono, 2005).

Gambar 7 Rambut Jagung


Klasifikasi Jagung (Purwono, 2005):
Regnum

: Plantae (tumbuh-tumbuhan)

Divisi

: Spermatophyta (tumbuhan berbiji)

Subdivisi

: Angiospermae (berbiji tertutup)

Kelas

: Monocotyledone (berkeping satu)

Ordo

: Graminae (rumput-rumputan)

Famili

: Graminaceae

Genus

: Zea

Species

: Zea Mays L.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

12

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSIII

Kromatografi Lapis
Tipis

Rambut jagung mengandung senyawa metabolit sekunder


seperti fenol, flavonoid, tanin, alkaloid, terpenoid, saponin, dan
glikosida. Senyawa-senyawa tersebut berdasarkan beberapa penelitian
diketahui memiliki aktivitas sebagai antioksidan (Atmoko dan Maruf,
2009).
3. Kulit Batang Jambu Biji
Jambu biji berasal dari Amerika tropik, tumbuh pada tanah yang
gembur maupun liat, pada tempat terbuka dan mengandung air cukup
banyak. Pohon ini banyak ditanam sebagai pohon buah-buahan.
Namun, sering tumbuh liar dan dapat ditemukan pada ketinggian 11.200 m dpl. Jambu biji berbunga sepanjang tahun (Hapsoh, 2011).
Tanaman Jambu Biji termasuk ke dalam klasifikasi sebagai
berikut (Parimin, 2005):
Regnum

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Subdivisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledonae

Famili

: Myrtaceae

Genus

: Psidium

Spesies

: Psidium guajava L.

Salah satu tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan


obat

tradisional

adalah

jambu

biji.

Kebanyakan

masyarakat

mengunakan daunnya yang berkhasiat sebagai antibakteri (Adnyana at


al, 2004). Batangnya dianggap sebagai bagian tanaman yang tidak
AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

13

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSIII

Kromatografi Lapis
Tipis

bermanfaat bagi kesehatan. Padahal dalam kulit batang jambu biji


mengandung senyawa aktif seperti tannin (Nadkarni, 1999), terpenoid
dan flavonoid (Fasola, 2012).

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

14

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSIII

Kromatografi Lapis
Tipis

BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. Alat dan Bahan
1. Alat yang digunakan
a. Bunsen
b. Chamber
2. Bahan yang digunakan
a. Ekstrak Kulit Batang Jambu Biji
b. Ekstrak Rambut Jagung
c. Ekstrak Spons
d. Etil asetat
e. Kertas Saring
f. N-heksan
g. Plat KLT
B. Prosedur Kerja Kromatografi Lapis Tipis
1. Disiapkan chamber
2. Dimasukkan kertas saring kedalam chamber
3. Dibuat eluen N- heksan : etil asetat (9:1)
4. Dimasukkan eluen kedalam chamber, lalu jenuhkan menggunakan kertas
saring. Chamber dikatakan jenuh saat kertas saring telah basah semua.
5. Ditotol ekstrak kental pada plat KLT yang telah diberi batas bawah 1 cm
dan batas atas 0,5 cm dengan jarak totolan masing masing ekstrak 1
cm.
6. Dimasukkan plat kedalam chamber yang telah jenuh, diamati elusi yang
terjadi, tidak boleh melewati batas atas, setelah itu disemprotkan H 2SO4
10 % , lalu dipanaskan diatas Bunsen, tandai noda jarak yang ditempuh.
7. Dihitung nilai Rf masing masing ekstrak
jarak tempuh noda
Rf =
jarak tempuh eluen

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

15

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSIII

Kromatografi Lapis
Tipis

BAB IV
DATA PENGAMATAN
A. Data Pengamatan
No

Sampel

Pelarut

.
1.

Ekstrak Spons

2.

Ekstrak Rambut Jagung

3.

Ekstrak Kulit Batang Jambu Biji

Rf =

N-Heksan
Etil Asetat
N-Heksan
Etil Asetat
N-Heksan
Etil Asetat

jarak tempuh noda


jarak tempuh eluen

1. Jarak Rf Ekstrak Spons


1,1 cm
Rf N Heksan=
=0,16
6,5 cm
Rf Etil Asetat=

1,4 cm
=0,21
6,5 cm

2. Jarak Rf Ekstrak Rambut Jagung


Rf N Heksan=

Rf Etil Asetat=

2 cm
=0,30
6,5 cm

1,9 cm
=0,29
6,5 cm

3. Jarak Rf Ekstrak Kulit Batang Jambu Biji


Rf N Heksan=

Rf Etil Asetat=

3,8 cm
=0,58
6,5 cm

1,8 cm
=0,27
6,5 cm
BAB V

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

16

Nilai Rf
0,16
0,21
0,30
0,29
0,58
0,27

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSIII

Kromatografi Lapis
Tipis

PEMBAHASAN
Pada praktikum ini dilakukan percobaan kromatografi lapis tipis yang
mempunyai tujuan untuk mempelajari dan memahami metode pemisahan
dengan metode kromatografi lapis tipis dan juga agar dapat
mengetahui bagaimana cara menentukan nilai Rf komponen-komponen
yang dipisahkan.
Kromatografi lapis tipis merupakan salah satu analisis kualitatif dari
suatu sampel yang ingin dideteksi dengan memisahkan komponen-komponen
sampel berdasarkan perbedaan kepolaran. Prinsip Kromatografi lapis tipis yaitu
ekstrak ditotol pada silikat, kemudian silikat dimasukkan dalam chamber. Fase
diam dari bentuk plat silika dan fase geraknya disesuaikan dengan jenis sampel
yang ingin dipisahkan. Larutan atau campuran larutan yang digunakan
dinamakan eluen. Semakin dekat kepolaran antara sampel dengan eluen maka
sampel akan semakin terbawa oleh fase gerak tersebut.
Sebagai fase gerak digunakan eluen yaitu N-hexan : etil asetat sebanyak
9:1. Eluen yang digunakan merupakan kombinasi dari dua atau tiga macam
pelarut, hal ini dimaksudkan untuk mencapai semua tingkat kepolaran sehingga
diharapkan eluen ini dapat mengangkat noda dengan tingkat kepolaran yang
berbeda-beda pula.
Selanjutnya lempeng dielusi di chamber berisi eluen yang terlebih
dahulu sudah dijenuhkan menggunakan kertas saring. Chamber diketahui jenuh
bila kertas saring yang dimasukkan ke dalam chamber telah basah semua.
Tujuan penjenuhan chamber ini yaitu untuk menghilangkan uap air atau gas lain
AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

17

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSIII

Kromatografi Lapis
Tipis

yang mengisi fase penyerap yang akan menghalangi laju eluen. Kemudian
lempeng tersebut diberi batas atas 0,5 cm dan batas bawah 1 cm. Batas bawah
digunakan untuk menotolkan sampel. Tujuan diberi batas bawah ini adalah
untuk mencegah agar sampel tidak sampai tercelup dan larut dalam eluen. Batas
atas digunakan untuk mengakhiri proses elusi yang ditandai bahwa migrasi
eluen sampai tanda batas. Proses migrasi eluen ini diharapkan agar sampel juga
ikut bermigrasi keatas. Selain itu juga batas atas dan batas bawah pelat harus
diberi tanda dengan pensil karena jika menggunakan bolpoin maka noda bolpoin
akan ikut terelusi atau mengembang. Setelah jenuh, masing-masing ekstrak
ditotolkan pada lempeng silika gel yang berfungsi sebagai fase diam. Setelah
jenuh kemudian lempeng dimasukkan ke dalam chamber menggunakan pinset
dengan posisi berdiri dan tempat penotolan tidak terendam dengan eluen.
Kemudian lempeng yang telah dielusi selanjutnya dikeringkan dan
diamati noda-noda yang tampak dengan cara penyemprotan dengan H2SO4. Hal
ini dilakukan karena pada konsentrasi tersebut memililki efektifitas yang sama
dan selain itu lebih ekonomis serta lebih aman karena konsentrasinya lebih
rendah. Prinsip penampakan noda oleh H2SO4 adalah karena asam sulfat ini
bersifat reduktor sehingga dapat memutuskan ikatan rangkap sehingga panjang
gelombangnya akan bergeser ke arah yang lebih panjang sehingga dapat terlihat
oleh mata. Pergeseran dari serapan ke panjang gelombang yang lebih panjang
karena sisipan atau pengaruh pelarut (geseran merah) disebut pergeseran
batokromik. Sedangkan pergeseran hipsokromik adalah pergeseran dari serapan

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

18

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSIII

Kromatografi Lapis
Tipis

ke kepanjang gelombang yang lebih pendek karena sisipan atau pengaruh


pelarut (geseran biru).
Setelah dilihat penampakan noda-nodanya, maka diukur jarak noda dari
titik awal (batas bawah) serta jarak eluen. Hasilnya akan digunakan untuk
menentukan harga Rf.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

19

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSIII

Kromatografi Lapis
Tipis

BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Kromatografi lapis tipis (KLT) merupakan salah satu metode isolasi
yang terjadi berdasarkan perbedaan daya serap (adsorpsi) dan daya
partisi serta kelarutan dari komponen-komponen kimia yang akan
bergerak mengikuti kepolaran eluen.
2. Prinsip kerja kromatografi lapis tipis (KLT) yaitu memisahkan pelarut
ekstrak berdasarkan perbedaan kepolarannya.
B. Saran
Adapun saran untuk labratorium agar lebih melengkapi kebutuhan
laboratorium yang masih kurang sehingga praktikum bisa lebih efektif.
Saran utnuk praktikan agar lebih bisa memahami tujuan dari praktikum dan
dapat menjaga tata tertib dalam laboratorium.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

20

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSIII

Kromatografi Lapis
Tipis

DAFTAR PUSTAKA
Gandjar, IG dan Rohman, A. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar.
Yogyakarta.
Gritter RJ, Bobbit JM, Arthur SE. 1991. Pengantar Kromatografi. Penerbit
ITB. Bandung
Hapsoh. 2011. Budidaya Tanaman Obat dan Rempah. USU-Press. Medan
Hariana, Arief. 2013. 262 Tumbuhan Obat. Jakarta : Penebar Swadaya
Hidayat dan Napitupulu. 2015. Kitab Tumbuhan Obat. Jakarta : AgriFlo
Hostettmann K, Hostettmann M, Marston A. 1995. Cara Kromatografi
Preparatif. Penerbit ITB. Bandung.
Kealey D dan Haines PJ. 2002. Instant Notes: Analytical Chemistry. BIOS
Scientific Publishers Limited. New York.
Khopkar, S.M. 2008. Dasar-dasar kimia analitik. Erlangga: Jakarta
Sastroharmidjojo H. 1985. Kromatografi. Penerbit Liberty. Yogyakarta.
Watson, DG. 2010. Analisis Farmasi. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta.
Yazid, Estien Yazid.2005 Kimia Fisika untuk Paramedis. Yogyakarta: ANDI

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

21

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSIII

Kromatografi Lapis
Tipis

LAMPIRAN

Gambar

Keterangan
Plat KLT dengan sampel
1. Ekstrak Spons dengan pelarut
N-heksan dan etil asetat
2. Ekstrak Rambut jagung
dengan pelarut N-heksan dan
etil asetat

3. Ekstrak kulit batang jambu biji


dengan pelarut N-heksan dan
etil asetat

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

22