Anda di halaman 1dari 31

KIMIA MINERAL

I. Sedimen Karbonat
1. 1. Kalsium Karbonat: Perhitungan Kelarutan
Pembentukan deposit kalsium karbonat utamanya dikontrol oleh
kesetimbangan reaksi:
CaCO3(s) + H2CO3(aq)
Ca2+(aq) + 2 HCO3-(aq)

(1)

Pengaruh kualitatif dapat terjadi pada kesetimbangan ini adalah dikarenakan


terjadinya perubahan tekanan, temperatur, pH, dan konsentrasi. Sekarang yang
akan kita lihat adalah bagaimana perubahan-perubahan tersebut dapat diukur/
diperlakukan secara kuantitaif. Misalnya, untuk menjawab pertanyaan Berapa
banyak kalsium karbonat dapat dilarutkan di dalam suatu larutan yang diketahui
komposisi dan pHnya? Apakah kesetimbangan pH dari air akan tetap jika
terjadi ko ntak dengan limestone?. Jika suatu basa secara perlahan-lahan
ditambahkan ke dalam larutan yang mengandung ion kalsium dan asam karbonat,
pada pH berapakah kalsium karbonat mulai mengendap?.
Untuk hasil kali kelarutan kalsit, bentuk yang paling umum dari kalsium
karbonat adalah:
CaCO3
Ca2+ + CO322+
2-8,3
-9
K = [Ca ][CO3 ] = 10 = 4,5 x 10 pada 25oC
(2)
Catatan, kelarutan dalam air murni dalah kira-kira 6,8 x 10-5 M. Perlu diingatkan
kembali, bahwa CO32- dapat terhidrolisis di dalam air, sehingga proses pelarutan
tersebut agak lebih kompleks.
CaCO3 + H2O
Ca2+ + OH- + HCO3(3)
Untuk reaksi ini konstanta kesetimbangan dapat dievaluasi dengan cara
menggabungkan konstanta-konstanta lanilla
[HCO3-]
2+
2+
2+
K = [Ca ][OH ][HCO3 ] = [Ca ][CO3 ] x [OH ][H ] x
=
+
2[H ][CO3 ]
10-8,3 x 10-14
= 10-12
10-10,3
Dalam air murni, mengacu pada persamaan (3), ion-ion Ca2+, OH-, dan HCO3terbentuk dalam jumlah yang sama sehingga
[Ca2+] = [OH-] = [HCO3-] = V10-12 = 10-4 mol L-1
Sebab itu calcite dapat larut dalam air bebas CO2 hingga konsentrasi 0,0001 M
atau kira-kira 0,01 g/L yang menghasilkan larutan dengan pH 10. Pada pH tinggi
seperti ini asam HCO3- akan mengalami dissosiasi, karena itu, perbandingan
[CO32-] / [HCO3-] adalah kira-kira 0,5.

CHEMICAL WEATHERING
Sifat Alamiah Dari Reaksi-reaksi Weathering
Weathering melibatkan proses-proses mekanikal dan reaksi-reaksi kimia;
terjadinya ekspansi air ketika membeku, pertumbuhan akar-akar tanaman, dan
bertambah besarnya ukuran mineral karena hidrasi. Chemical weathering
hanyalah salah satu aspek dari fenomena-fenomena tersebut, sehingga fokus kita
hanya pada penjelasan kimiawinya saja. Hal yang lebih serius dan lebih kompleks
pada aplikasi kimia adalah peluruhan mineral yang amat sangat lambat. Kebalikan
dari reaksi-reaksi yang cepat pada karbonat, reaksi-reaksi weathering berlangsung
lambat, tidak sempurna, dan sering irreversibel. Di laboratorium, kita dapat
dengan mudah menduplikasi material-material dan lingkungan weathering, tetapi
waktu menjadi masalah. Hal ini merupakan kesulitan yang umum didalam
eksperimen geokimia; kita butuh waktu berabad-abad padahal kita hanya punya
waktu mingguan atau bulanan. Khususnya pada proses yang berlangsung pada
temperatur rendah, waktu yang terbatas akan menjadi masalah yang serius.
Reaksi-reaksi kimia dari weathering pada dasarnya berlangsung sederhana.
Penjelasannya bisa kompleks tetapi secara keseluruhan proses-proses yang terlibat
tidak lebih sulit dari disosiasi ionik, addisi air dan karbon dioksida, hidrolisis, dan
oksidasi. Kesulitan-kesulitan besar dapat timbul dikarenakan komposisi yang
kompleks dari mineral dan campuran mineral yang mengalami weathering bukan
dari reaksi-reaksi yang terjadi.
Dari sudut pandang yang berbeda, weathering memberi pengertian sebagai
pendekatan menuju kesetimbangan dari suatu sistem yang melibatkan batuan,
udara, dan air. Kesetimbangan dalam sistem seperti ini sukar didefinisikan dengan
tepat, tetapi harus dipahami bahwa kesetimbangan tersebut melibatkan mineralmineral seperti limonite, quartz, dan kaolinite. Sesungguhnya posisi
kesetimbangan akhir tidaklah penting karena reaksi-reaksi berlangsung sangat
lambat sehingga hal yang terpenting adalah proses yang hanya berlangsung
sempurna sebagian. Oleh karena itu, pengetahuan tentang weathering lebih
menitik beratkan pada aspek kualitatif dibandingkan aspek kuantitatifnya.
Reaksi-reaksi batuan dan mineral dengan konstituen udara dan air pada
(atau dekat) permukaan bumi secara umum dapat dipahami. Tetapi, bagaimana
dengan weathering yang melibatkan perubahan mineral didalam bahan tambang
yang terjadi pada kedalaman ratusan bahkan ribuan kaki, yang terbukti disebabkan
oleh air tanah yang berasal dari permukaan? Apakah hal itu meliputi perubahan
batuan oleh air laut pada kedalaman lautan?
Perubahan Komposisi Batuan
Tabel di bawah ini menunjukkan Analisis gneiss dari quartz-feldsfarbiotite dan material weathering yang dihasilkan dari gneiss. Kolom I memberikan
analisis sampel batuan fresh, kolom II, III, dan IV memberikan analisis material
weathering. Secara umum, tingkat weathering meningkat dari II ke IV, tetapi tidak
ada jaminan bahwa material aslinya benar-benar sama atau bahwa IV merepresentasikan waktu weathering yang lebih panjang dari II dan III.

SiO2
Al2O3
Fe2O3
FeO
MgO
CaO
Na2O
K2O
H2O
Lain-lain
Total

(I)
71,54
14,62
0,69
1,64
0,77
2,08
3,84
3,92
0,32
0,65

Komposisi Kimia, Persen Berat


(II)
(III)
68,09
70,30
17,31
18,34
3,86
1,55
0,36
0,22
0,46
0,21
0,06
0,10
0,12
0,09
3,48
2,47
5,61
5,88
0,56
0,54

100,07
99,91
99,70
Komposisi (Kira-kira) Mineral, Persen Volume
Quartz
30
40
43
K-feldsfar
19
18
13
Plagioclas
40
1
1
Biotite (+klorit) 7
trace
trace
Hornblende
1
Magnetite, ilmenite, oksida
sekunder
1,5
5
2
Kaolinite
36
40

(IV)
55,07
26,14
3,72
2,53
0,33
0,16
0,05
0,14
10,39
0,58
100,11
25
1
?
0,2
trace
6
66

Mineral-mineral yang mengandung oksigen dapat dianggap sebagai kombinasi


dari oksida-oksida (sebagai contoh komposisi albite dapat dituliskan sebagai
NaAlSi3O8, atau sebagai Na2O.Al2O3.6SiO2). Oksida-oksida tersebut masih cocok
untuk pernyataan analisis, namun demikian, untuk alasan yang berbeda dari alasan
tradisional, kebanyakan batuan pada kenyataannya kandungan terbesarnya adalah
mineral-mineral yang mengandung oksigen, tetapi oksigen secara umum tidak
pernah ditentukan secara terpisah; idealnya analisis harus ditambah hingga 100%
(jika tidak, akan ditemukan kelimpahan mineral tanpa oksigen), dan keakuratan
analisis dapat dipastikan dengan cara pendekatan kepada harga totalnya menjadi
100. Pada kebanyakan perubahan kimia yang umum terjadi pada material batuan,
misalnya, pada weathering, metamorfisme, atau metasomatisme, umumnya unsurunsur tidak dipisahkan dari oksigen. Oleh karena oksida-oksida selalu muncul
dalam analisis, maka kebanyakan dari oksida-oksida tersebut diberikan dalam
nama yang singkat, seperti silika, alumina, feri oksida, fero oksida, magnesia,
lime, soda, dan potas.
Dari tabel di atas diketahui bahwa hilangnya konstituen dengan segera
dapat dibuktikan; yang paling cepat adalah sodium, magnesium, dan kalsium,
sementara yang lebih lambat adalah kalium dan silikon. Tingkat kecepatan
kehilangan ini adalah merupakan hal yang umum terjadi pada weathering untuk
semua jenis batuan. Konstituen pertama yang akan hilang tergantung pada
beberapa faktor, antara lain komposisi mineral, tekstur batuan, cuaca, drainage,
jumlah yang terkena ke udara.

Urutan Perubahan Mineral


Biasanya, penurunan (berkurangnya) sodium, kalsium, dan magnesium,
dengan cepat dan penurunan (berkurangnya) kalium dan silikon dengan lebih
lambat, dan yang lebih lambat lagi untuk aluminium dan besi adalah merupakan
refleksi kerentanan dari berbagai mineral terhadap weathering. Mineral-mineral
mafic biasa meluruh lebih cepat dibanding mineral-mineral felsic yang
menghasilkan magnesium, besi, dan sedikit kalsium dan alkali; besi merupakan
bagian terbesar yang teroksidasi dengan cepat menjadi feri oksida yang tidak
larut, sehingga akan tetap berada bersama material yang mengalami weathering.
Feldsfar plagioklas mengalami weathering lebih cepat dibanding K-feldsfar dan
kalsik plagioklas lebih cepat dibanding sodik plagioklas, maka pelepasan sodium
dan kalsium adalah lebih cepat dibanding potasium. Bila kation-kation
dibebaskan, kerangka Al-Si-O dari mineral silikat akan terurai sebagian dan
sebagian lagi akan mengalami rekonstitusi ke dalam kerangka mineral clay,
sehingga hanya sebagian saja dari silikon dan sangat sedikit aluminium yang bisa
menjadi larutan. Perubahan komposisi mineral selama weathering dapat dilihat
pada tabel di atas.
Kesimpulan tentang weathering dari berbagai mineral adalah merupakan
substansi dari pengujian material yang mengalami weathering dan merupakan
substansi dari pengujian kerja dengan cara weathering buatan dari mineral dan
batuan. Hal ini merupakan observasi lapangan yang umum dilakukan, sebagai
contoh, weathering pada permukaan granit menunjukkan sebagian besar mineral
gelapnya diubah menjadi limonite sementara feldsfar tetap dalam keadaan fresh.
Peruraian feldsfar-Na-Ca yang relatif cepat sering menyolok dimana kristal
plagioklas kemungkinan tampak sebagai bintik butiran halus pada mineral clay
dan calcite sementara ortoklas atau mikroline tampak sebagai quartz yang bening
dan fresh.
Berdasarkan observasi dan eksperimen di atas, mineral yang umum dari
batuan beku dapat disusun dalam satu seri atau dalam dua seri paralel menurut
kecepatan weathering mineral-mineral tersebut.
Mineral Mafic
Mineral Felsic
Olivine
Plgioclase Ca-Na
Pyroxene
Plagioclase-Na-Ca
Amphibole
Feldsfar-K
Biotite
Muscovite
Quartz
Seri di atas memiliki kemiripan dengan urutan kristalisasi mineral-mineral yang
berasal dari lelehan batuan beku, yaitu mineral-mineral yang terbentuk pada
temperatur paling tinggi (olivine dan plagioclase calsic) akan menjadi mineral
yang rentan terhadap proses weathering.
Pereaksi (Agent) Dari Weathering Kimia
Udara kering dapat menyebabkan peruraian batuan secara sangat lambat.
Kelembaban mempercepat proses baik yang disebabkan oleh air yang merupakan
agent yang aktif dari weathering maupun yang disebabkan oleh air yang terdapat
dalam larutan. Oleh karena itu, pada kontak yang sangat langsung dengan

permukaan batuan, beberapa substansi bereaksi dengan mineral batuan. Substansi


yang lebih penting adalah oksigen bebas, karbon dioksida, asam-asam organik dan
asam-asam nitrogen.
Oksigen bebas berperan penting dalam peruraian batuan yang
mengandung zat-zat yang dapat teroksidasi, khususnya besi dan belerang. Pada
temperatur biasa reaksi yang melibatkan oksigen bebas berlangsung lambat.
Sejumlah material yang dapat teroksidasi dengan cepat seperti kayu, pakaian,
logam-logam, batubara, dan petroleum dapat tetap berada dalam kontak dengan
oksigen di udara hampir tak terbatas jika tidak ada air dan jika temperatur tetap
rendah. Air dapat mempercepat oksidasi, kemungkinan karena pelarutan mineral
dalam jumlah sangat kecil. Reaksi oksigen dengan zat-zat terlarut, khususnya
dengan ion-ion, dapat berlangsung lebih cepat dibanding dengan padatan. Air
dapat masuk ke dalam reaksi misalnya pada pembentukan hidrat, tetapi peranan
air lebih sebagai katalis.
Karbon dioksida membantu peruraian terutama dengan pembentukan asam
karbonat ketika karbon dioksida larut dalam air. Semua air alami yang terkena
udara adalah merupakan larutan encer asam karbonat misalnya, air hujan, air yang
mengalir, kebanyakan air tanah. Telah dihitung sebelumnya bahwa larutan seperti
tersebut di atas tanpa adanya sumber H+ atau OH- memiliki pH kira-kira 5,7.
Keadaan yang agak asam ini menjadikan air alami sebagai pelarut yang lebih baik
dibanding air yang netral.
Secara lokal, air alami mengandung material-material lain yang dapat
meningkatkan keasaman. Sebagai contoh, pembusukan humus tanah dapat
menambahkan zat-zat ke dalam air yang menyebabkan pH air lebih rendah
menjadi 4,5 atau 5,0, bahkan kadang-kadang dibawah 4. Sifat zat-zat tersebut
hingga kini belum jelas. Keasaman yang terjadi sebagian disebabkan oleh ketidak
normalan konsentrasi CO2 yang dihasilkan dari pembusukan; sebagian lagi
disebabkan oleh sejumlah sangat kecil asam-asam organik (misalnya, asam asetat)
Dalam literatur geologi, peranan asam-asam humus sering ditekankan, tetapi arti
penting dari zat-zat tersebut dalam konteks ini masih dapat dipertanyakan. Secara
kasar, istilah asam humus mengacu pada satu dari gugus tak tertentu dari
senyawa-senyawa dengan massa molekul tinggi yang diperoleh dari penghancuran
kayu dalam alkali kuat dan kemudian dinetralkan dengan asam; asam humus
terdapat sebagai endapan gelatin yang jika dicuci dengan hati-hati akan tidak
menunjukkan sifat asam sama sekali. Oleh karena itu, keasaman, lebih tepat untuk
menunjukkan asam karbonat dan asam organik sederhana daripada asam humus.
Asam nitrogen, HNO3 dan HNO2 juga memainkan peranan paling tidak suatu
peranan minor di dalam air alami. Kedua asam ini bisa jadi dihasilkan dari
peruraian organik dan aksi bakterial di dalam tanah. Bisa juga dihasilkan dari
proses pelarutan oksida-oksida nitrogen dalam air hujan yang terbentuk selama
terjadinya kilat/petir. Seberapa signifikan peranan kedua asam ini dalam
menyumbang keasaman air alami masih belum dapat ditentukan. Semakin lokal,
khususnya pada daerah gunung berapi dan zona-zona teroksidasi deposit bahan
galian sulfida, asam-asam sulfur seperti H2SO3 dan H2SO4 menjadi penting, pada
beberapa tempat penurunan pH bahkan dibawah 1.

Larutan dan Hidrasi


Reaksi weathering yang paling sederhana adalah pelarutan mineralmineral yang dapat larut dan addisi air membentuk hidrat. Secara umum,
pelarutan berarti pembentukan ion-ion bebas, seperti yang terjadi pada weathering
deposit garam dan gypsum dan pada larutan yang lebih lambat dari batuan
karbonat. Sebaliknya, pelarutan silika dapat membentuk molekul netral H4SiO4
tanpa terjadi disosiasi ionik pada range pH larutan netral.
Reaksi hidrasi dan dehidrasi lebih misterius. Kemungkinan pemahaman
terbaik adalah perubahan dari gypsum menjadi anhidrit dan sebaliknya
CaSO4.2H2O

CaSO4 + 2H2O

Range kestabilan dari kedua mineral telah diketahui dengan baik dari eksperimen,
dan keberadaan geologi mengkonfirmasikan cukup baik untuk hasil eksperimen
untuk menunjukkan bahwa hidrasi dan dehidrasi berlangsung dengan cepat di
alam. Fakta bahwa kedua mineral dapat muncul secara tak tertentu sebagai
museum spesimen memberi pengertian bahwa dengan standard manusia reaksi
berlangsung lambat. Reaksi yang lebih lambat lagi adalah reaksi yang melibatkan
feri oksida dan hidratnya, misalnya, hematite dan limonite dapat persist untuk era
geologi. Endapan feri oksida yang fresh sering ditulis sebagai Fe(OH)3 dan
diketahui tidak stabil terhadap oksida anhidrat
2Fe(OH)3 Fe2O3 + 3H2O
Kestabilan relatif dari limonite dan hematite yang disimbolkan sebagai
Fe2O3 + H2O

2FeOOH

adalah sangat tidak tentu. Terdapatnya anhidrat dan hidrat oksida-oksida besi
dalam environment geologi yang sama menyiratkan bahwa perbedaan kestabilan
tidaklah besar dan bahwa reaksi pembentukan satu bentuk dari yang lainnya
adalah sangat lambat. Ketidak-tentuan yang sama terdapat pada bentuk-bentuk
hidrat dan anhidrat dari oksida-oksida aluminium dan oksida-oksida mangaan.
WEATHERING KARBONAT
Karbonat dapat diserang asam-asam sebab gugus karbonat CO32- sehingga
unit-unit dengan ion hidrogen dengan cepat membentuk ion bikarbonat yang
stabil, HCO3-. Sebagai asam HCO3- memiliki konstanta disosiasi 5,0 x 10-11 ; asam
apapun akan lebih terdisosiasi dibanding asam ini yang mampu bereaksi dengan
karbonat. Asam karbonat dengan K = 4,5 x 10-7 , dan cocok untuk pelarut-pelarut
karbonat yang umum di alam
CaCO3 + H2CO3

Ca2+ + 2HCO3-

Konstanta kesetimbangan (untuk calcite) adalah adalah 4,4 x 10-5 , yang berarti
bahwa suatu larutan dalam kesetimbangan dengan CO2 atmosfir pada 250C dan
tidak mengandung HCO3- kecuali yang dihasilkan dari reaksi tersebut yang dapat
melarutkan calcite hingga konsentrasi Ca2+ maksimum = 4,7 x 10-4 M. Pada

temperatur yang lebih rendah, jumlah ini akan menjadi lebih besar sebab lebih
banyak CO2 dapat larut menghasilkan konsentrasi H2CO3 yang lebih besar. Jumlah
ini juga bisa menjadi lebih besar jika persediaan CO2 besar seperti yang terjadi di
mata air atau di tempat-tempat dimana terjadi peruraian cepat vegetasi. Jumlah ini
akan lebih kecil pada temperatur tinggi dan jika larutan mengandung HCO3- dari
sumber lain. Di alam, pelarutan limestone dalam asam karbonat dibuktikan oleh
adanya galur dan bopeng pada permukaan biji limestone, dibuktikan oleh
pelebaran kerak/celah pada limestone, dan dibuktikan oleh konsentrasi Ca2+ yang
tinggi (umumnya 0,1 sampai 0,2 M) dalam air tanah di daerah limestone.
Walaupun hal ini menunjukkan pelarutan yang cepat, limestone umumnya
membentuk jurang karang yang terjal mencolok dan pebukitan, khususnya di
daerah yang gersang/kering. Penjelasan yang masuk akal untuk fenomena ini
adalah karena banyak limestone merupakan batuan padat yang tidak mudah
dimasuki oleh air sehingga weathering terbatasi mengekspose permukaan.
Oksidasi
Diantara produk-produk weathering, oksida-oksida besi adalah yang
paling menyolok disebab oleh warnanya yang cerah. Semua oksida yang
terbentuk dengan cara mengadakan kontak dengan udara adalah oksida-oksida feri
termasuk dua bentuk senyawa Fe2O3 anhidrat (yang merupakan mineral yang
umum dari hematite dan yang kurang umum adalah oksida magnetik maghemite)
dan dua hidrat yaitu goethite (HFeO2) dan lepidocrocite (FeOOH). Material yang
disebut limonite goethite butir halus, umumnya bercampur dengan clay. Di
laboratorium, feri oksida dapat mengendap dengan penambahan basa ke dalam
Fe3+ dan dituliskan sebagai Fe(OH)3, tetapi lebih disukai rumus Fe2O3.n H2O.
Warna oksida sederhana secara kharakteristik adalah merah dan warna hidrat
mulai dari kuning hingga coklat, tetapi warna tidak bisa menunjukkan komposisi
sebab warna bergantung pada bagian dan pada pengotor dan juga pada tingkat
hidrasi. Kondisi yang pasti untuk pembentukan berbagai senyawa dan kondisi
dimana hidrasi dan dehidrasi berlangsung hingga kini masih belum diketahui
dengan baik. Perubahan senyawa ferro menjadi ferri oksida, dan bentuk khusus
ferri oksida adalah merupakan hal penting yang kedua. Rumus yang digunakan
adalah Fe2O3 dengan pemahaman bahwa di alam senyawa ini sering dalam bentuk
hidrat.
Tiap senyawa ferro yang terus menerus terekspose ke udara akan
teroksidasi sesuai dengan persamaan reaksi
Fe2SiO4 (fayalite) + O2 + 2H2O Fe2O3 + H4SiO4
2CaFeSi2O6 (hedenbergite) + O2 + 10H2O + 4CO2 Fe2O3 + 4H4SiO4 +
2+
2Ca + 4HCO32FeCO3 (siderite) + O2 + 2H2 O Fe2O3 + 2H2CO3
Persamaan di atas adalah merupakan hasil keseluruhan dari proses oksidasi ;
ikatan dari besi di dalam ferri oksida, pembentukan silika bebas sebagai H4SiO4
terlarut atau koloid SiO2, dan ionisasi logam-logam yang tak dapat teroksidasi
seperti kalsium. Hampir dapat dipastikan reaksi berlangsung dalam beberapa
langkah. Penjelasan yang mendetail belum diketahui, tetapi sangat mirip dengan

reaksi yang melibatkan pelarutan senyawa-senyawa ferro oleh H2CO3 yang


berlangsung sedikit.
Fe2SiO4 + 4H2CO3 2Fe2+ + 4HCO3- + H4SiO4
Yang diikuti oleh oksidasi Fe2+
2Fe2+ + 4HCO3- + O2 + 2H2O Fe2O3 + 4H2CO3
Dua langkah bisa terjadi secara terpisah, dalam hal pelarutan besi yang
berlangsung dibawah kondisi reduksi (sebagai contoh, melalui kandungan
pereaksi pelarutan atau dengan mengadakan kontak dengan zat organik); langkah
kedua dapat berlangsung hanya bila larutan berada di lingkungan oksidasi.
Dimana oksidasi berlangsung pada permukaan yang terekspose, maka kedua
langkah tidak bisa dibedakan, untuk Fe2+ akan teroksidasi dengan cepat yang
mana jumlah yang terdapat pada satu waktu tertentu tidak bisa dideteksi.
Keberadaan umum dari reaksi oksidasi seperti ini adalah merupakan refleksi dari
kestabilan yang besar dan ketidak larutan yang besar dari ferri oksida. Secara
lokal ferri fosfat (strengite) yang sangat sedikit larut atau ferri arsenat (scorodite)
yang dapat muncul, dan di daerah kering feri sulfat yang lebih larut. Pada kondisi
yang oksidasinya lemah di laut dangkal, besi ferri dapat berubah menjadi
glauconite (KMgFe(SiO3)3.3H2O, dan di dekat sumber air panas berubah menjadi
jarosite ([KFe3(OH)6(SO4)2]. Tetapi secara pasti, bagian terbesar dari besi yang
terekspose ke atmosfir akhirnya muncul sebagai ferri oksida dalam salah satu
bentuknya.
Hampir sama dengan sifat-sifat besi adalah oksidasi mangaan. Hasil dari
oksidasi ini kurang nyata, sebab kelipahan mangaan jauh lebih sedikit dibanding
besi dan juga disebabkan produk-produk oksidasi berwarna coklat gelap atau
hitam bukan merah cerah dan kuning-coklat. Namun demikian, lapisan tipis
mangaan oksida yang terdapat pada dinding pebukitan dan pada permukaan
batuan di daerah padang pasir.
Oksidasi mineral-mineral mangaan lebih kompleks dibanding oksidasi
mineral-mineral besi, sebab mangaan memiliki dua bilangan oksidasi yang lebih
tinggi dari ion mangaan. Bilangan oksidasi +3 terdapat pada mineral mangaanite
(MnOOH) dan bilangan oksidasi +4 terdapat pada pyrolusite (MnO2). Sebagai
tambahan, terdapat suatu inang dari mineral-mineral oksida yang lebih
kompleks yang mana terdapat lebih dari satu bilangan oksidasi. Contohnya,
braunite (3Mn2O3.MnSiO3), hausmannite (Mn3O4), dan psilomelane (kira-kira
BaMn9O18.2H2O). Dari semua contoh-contoh ini, satu yang tampaknya paling
stabil terhadap eksposure jangka panjang ke atmosfir adalah pyrolusite, sehingga
secara keseluruhan oksidasi mineral-mineral mangaan dapat dapat
direpresentasikan oleh reaksi
MnSiO3 (rhodonite) + O2 + 2H2O MnO2 + H4SiO4
MnCO3 (rhodochrosite) + O2 + H2O MnO2 + H2CO3
Sesungguhnya, reaksi-reaksi di atas berlangsung dalam beberapa langkah dan
langkah pertama adalah merupakan proses terjadinya sedikit pelarutan mineral
mangaan oleh asam karbonat. Langkah kedua yaitu oksidasi Mn2+ dapat terjadi
jika kondisinya adalah oksidasi atau tidak dapat terjadi jika batuan mengadakan

kontak dengan larutan pereduksi. Langkah kedua lebih kompleks dibanding untuk
besi karena oksida-oksida lainnya dan oksida-oksida campuran dapat terbentuk
sebagai intermediate dalam perjalanan menjadi pyrolusite.
Unsur ketiga yang umum yang teroksidasi selama weathering adalah
belerang. Dalam batuan gunung berapi dan lapisan-lapisannya, belerang terdapat
dalam bentuk sulfida senyawa-senyawa dengan logam yang mana belerang
memiliki bilangan oksidasi -2. Oksidasi dapat mengubah bilangan oksidasi
menjadi bilangan oksidasi yang lebih tinggi, tetapi kontak dengan udara,
kesetimbangan hanya dapat dicapai bila belerang mencapai bilangan oksidasi
paling tinggi yang mungkin; +6 dalam bentuk sulfat. Persamaan reaksinya dapat
dituliskan dalam bentuk sederhana
PbS + 2O2 PbSO4
ZnS + 2O2 Zn2+ + SO42Catatan, PbSO4 dituliskan dalam bentuk tidak terdisosiasi karena senyawa ini
tidak larut dan umumnya muncul sebagai anglesite encrusting atau embaying
galena; sebaliknya, ZnSO4, sangat larut). Sama halnya untuk reaksi-reaksi
oksidasi besi dan mangaan, reaksi-reaksi ini berlangsung sangat amat lambat atau
tidak berlangsung sama sekali jika tidak ada air. Fungsi air kemungkinan adalah
untuk mensuply asam karbonat untuk melarutkan sejumlah kecil sulfida
PbS + 2H2CO3

Pb2+ + H2S + 2HCO3-

dan diikuti oleh oksidasi hydrogen sulfida


H2S + 2O2 + Pb2+ + 2HCO3- PbSO4 + 2H2CO3
Larutan yang dihasilkan dari oksidasi sulfida-sulfida adalah asam sebab
terjadinya hidrolisis ion logam terlarut. Contohnya,
Zn2+ + H2O

ZnOH+ + H+

Jumlah keasaman tergantung pada kestabilan dari kompleks logam-hidroksi.


Untuk logam-logam yang membentuk oksida-oksida dan hidroksida-hidroksida
yang sangat tidak larut, hidrolisis dapat menyebabkan pengendapan dari padatan.
Jenis reaksi ini menjadi penting karena dapat menghasilkan asam kuat, pada
oksidasi dari pyrite sulfida, FeS2. Keasaman yang tinggi dihasilkan dari
pembentukan besi oksida yang sangat tidak larut (atau oksida terhidrasi)
2FeS2 + 15/2 O2 + 4H2O Fe2O3 + 4SO42- + 8H+
Hasil reaksi ini adalah bukti terdapatnya butiran dari lapisan pyretic, dimana
batuan dengan sangat nyata dengan bercak ferri oksida berwarna kuning dan
coklat dan dimana air tanah berasa sangat asam. Catatan bahwa belerang di dalam
pyrite menunjukkan bilangan oksidasi -1. walaupun untuk sulfida biasanya -2;.
Reaksi di atas merepresentasikan oksidasi simultan dari dua unsure, Fe dan S. Di
daerah gersang dan kering oksidasi pyrite umumnya menghasilkan mineral besi

sulfat, berupa ferro dan ferri sulfat sebagai tambahan untuk limonite dan hematite.
Hal ini menyiratkan bahwa reaksi dapat berlangsung dalam beberapa langkah
FeS2 + 7/2O2 + H2O Fe2+ + 2SO42- + 2H+
2Fe2+ + O2 + 2H+ 2Fe3+ + H2O
atau
2Fe2+ + O2 + 2H2O Fe2O3 + 4H+
Berapa banyak besi menjadi Fe3+ atau FeOH2+ di dalam larutan dan berapa banyak
yang diendapkan sebagai oksida, tergantung pada pH larutan. Besi terlarut, Fe2+
dan Fe3+ dapat bergabung dengan SO42- membentuk satu atau lebih mineral sulfat,
menyebabkan daerah menjadi cukup gersang dengan senyawa-senyawa yang tak
lerut ini. Di daerah lembab, besi secara praktis semuanya teroksidasi dan
mengendap sebagai oksida.
Belerang, besi, dan mangaan adalah merupakan unsur-unsur yang
melimpah yang terdapat dalam batuan umum yang mana oksidasi adalah
merupakan bagian penting dari weathering. Banyak dari unsur-unsur yang kurang
umum seperti tembaga, arsen, uranium dapat teroksidasi bila mineral-mineralnya
terekspose ke atmosfir.
Hidrolisis Silikat
Weathering silikat yang utama adalah proses hidrolisis. Contoh sederhana
adalah mineral forsterite (olivine yang kaya Mg) yang mengalami hidrolisis sesuai
persamaan berikut
Mg2SiO4 + 4H2O 2Mg2+ + 4OH- + H4SiO4
Ion hidrogen yang berasal dari air bergabung membentuk dengan gugus silikat
membentuk asam silikat yang sangat lemah. Permukaan air umumnya
mengandung lebih sedikit H+ dibanding yang terdapat dalam air murni, sebab
permukaan air melarutkan CO2 dan penambahan H+ ini membantu proses
hidrlisis. Asam karbonat kemungkinan terdapat dalam persamaan
Mg2SiO4 + 4H2CO3 2Mg2+ + 4HCO3- + H4SiO4
Secara lokal, dimana terdapat asam-asam yang lebih kuat dari asam karbonat,
misalnya, dekat vein yang mengandung pyrite, reaksi menjadi
Mg2SiO4 + 4H+ 2Mg2+ + H4SiO4
dan kelimpahan ion hidrogen sangat efektif pada weathering di tempat seperti ini.
Maka persamaan untuk hidrlisis dapat dituliskan dalam berbagai cara, tergantung
pada ketersediaan ion hidrogen lokal.
Reaksi-reaksi di bawah ini hampir tepat analog kepada reaksi-reaksi yang
dapat dituliskan untuk karbonat
MgCO3 + H2O Mg2+ + OH- + HCO3MgCO3 + H2CO3 Mg2+ + HCO3- + HCO3MgCO3 + 2H+ Mg2+ + H2CO3

Perbedaan yang signifikan adalah bahwa asam lemah yang terbentuk pada
langkah pertama dua persamaan terdiri dari ion-ion HCO3- tetapi bukan
merupakan molekul netral (H4SiO4), yang merefleksikan fakta bahwa asam
karbonat lebih kuat dibanding asam asam silikat. Baik reaksi karbonat maupun
reaksi silikat, keduanya bukan reaksi reversibel. Pada temperatur biasa, addisi
Mg2+ ke dalam larutan bikarbonat atau asam silikat akan menghasilkan senyawasenyawa hidrat, bukan garam-garam anhidrat.
Untuk silikat-silikat yang mengandung beberapa kation, reaksi hidrlisis
adalah kurang sederhana dibanding untuk forsterite, sebab secara umum, kationkation yang berbeda masuk ke dalam larutan dengan kecepatan yang berbeda.
Pada tiap tingkatan weathering, butiran silikat terlapisi oleh kulit luar dari mana
beberapa kation telah telah dilepaskan sebelumnya yang menghasilkan perbedaan
komposisi mineral secara keseluruhan. Kulit luar bertindak sebagai baju baja
pelindung bagian dalam dari butiran dan menyebabkan proses pelarutan dari
kebanyakan silikat berjalan sangat lambat.
Aluminium silikat melibatkan komplikasi lebih lanjut yang mana satu
produk dari proses weathering senyawa ini adalah mineral clay yaitu suatu
senyawa dimana aluminium dan silikon tetap bergabung. Kita dapat
menyimbolkan reaksi dengan menggunakan K-feldspar sebagai contoh dari suatu
aluminium silikat dan kaolinite sebagai mineral clay
4KAlSi3O8 + 22H2O 4K+ + 4OH- + Al4Si4O10(OH)8 + 8H4SiO4
Persamaan reaksi ini adalah merupakan persamaan reaksi yang disederhanakan
yang merepresentasikan suatu proses yang belum bisa diduplikasi di laboratorium
pada temperatur rendah. Sesungguhnya, satu hal yang bisa ditunjukkan lepasnya
air karena kontak dengan feldspar halus untuk beberapa jam atau hari adalah
bahwa larutan menjadi sedikit alkalin dan bahwa larutan tersebut mengandung
sedikit K+, alumina, dan silica; tetapi residu padat tetap feldspar bukan clay.
Pembentukan kaolin dari orthoclase telah diperoleh pada temperatur diatas 200oC,
tetapi pada temperatur biasa pembentukan berlangsung sangat lambat.
Terdapat banyak spekulasi tentang mekanisme reaksi di atas. Sebagai
contoh, ada kemungkinan bahwa hidrolisis tidak berlangsung secara langsung ,
tetapi dalam satu seri langkah reaksi. Kemungkinan struktur feldspar putus pada
langkah pertama menjadi gibbsite, Al(OH)3, membebaskan silika sebagai asam
silikat yang larut dan kemudian kaolinite terbentuk dari reaksi berikutnya antara
Al(OH)3 dan H4SiO4. Kemungkinan lain adalah reaksi kedua yang melibatkan
sedikit aluminium yang masuk ke larutan. Atau bisa jadi alumina dan silica
dipisahkan dari feldspar sebagai partikel koloid yang bergabung kemudian
membentuk kaolinite. Bukti yang menentang pertanyaan tersebut berasal dari
kerja eksperimen baru-baru ini yang menunjukkan bahwa beberapa mineral clay
yang lebih kompleks (montmorillonite, chlorite, serpentine) dapat dibuat pada
temperatur biasa di laboratorium dengan reaksi lambat yang melibatkan larutan
larutan yang sangat encer atau suspensi dari konstituen oksida dan hidroksida.
Dalam hal ini, kaolinite adalah yang paling sulit dibuat.

Environmental Weathering
Telah kita pelajari secara jelas reaksi-reaksi kimia yang terrlibat dalam
weathering. Dari sudut pandang yang lebih luas sekarang kita perhatikan proses
weathering jika dipengaruhi oleh berbagai environmental.
Produk akhir dari weathering adalah tanah dan variasi tanah dapat
memberikan petunjuk kepada pengaruh environmental terhadap weathering.
Faktanya, tanah adalah merupakan material yang sangat kompleks. Tanah dari
environmental yang berbeda menunjukkan karakteristik yang dapat dikenali,
khususnya yang mengacu pada sifat-sifat mineral claynya. Sebagai contoh, tanah
kaolinite adalah biasa terdapat dalam cuaca dengan temperatur moderat hingga ke
daerah dengan curah hujan besar, sementara montmorillonite dan clay illite
(mineral clay dengan kandungan kation seperti magnesium, besi, dan potassium
yang tinggi) adalah melimpah di dalam tanah di daerah semi gersang. Yang paling
langsung mempengaruhi environmental pada tanah adalah pembentukan tanah
agak merah yang merupakan bagian pada daerah tropis dan subtropis lembab.
Tanah-tanah seperti ini memiliki lebih banyak alumina dan ferri oksida dan lebih
sedikit silica dibanding tanah di daerah yang lebih dingin. Tanah dari jenis ini
yang ekstrim disebut laterite yang mengandung hampir semuanya alumina dan
atau besi oksida dan praktis tanpa silica sama sekali. Alasan kimia untuk
kerusakan clay dan hilangnya silica di bawah kondisi temperatur tinggi dan curah
hujan tinggi menghasilkan berbagai argumen, tetapi masih tetap merupakan teka
teki yang tak terpecahkan.
Kecuali perbedaan-perbedaan yang terdpat pada mineral clay, perbedaan
yang nyata pada proses-proses dan produk-produk chemical weathering yang
dapat menggambarkan semata-mata hanya untuk environmental sulit ditemukan.
Peruraian berlangsung lebih cepat dan pada cuaca yang hangat lembab penetrasi
terjadi lebih dalam dibanding pada cuaca kering, tetapi reaksi-reaksi kimia tidak
dapat dideteksi dengan cara yang berbeda.Weathering granite dari Carolina
Selatan dan weathering granite dari Arizona terlihat sama, yang menunjukkan
bahwa weathering tercapai pada tingkatan yang kira-kira sama untuk kedua
spesimen. Bahkan dimana batuan menjadi basah oleh percikan garam di daerah
tepi pantai, reaksi-reaksi weathering yang esensial tetap sama.
Seberapa dalam zona weathering dapat terjadi? Karena kita biasa
memikirkan weathering hanya terjadi pada proses permukaan, tetapi secara jelas
weathering dapat level yang lebih rendah dimanapun udara dan air dapat masuk.
Pertambangan, terowongan, dan lubang galian sering menjadi bukti bahwa
weathering dapat terjadi hingga ratusan kaki di permukaan kedalaman, dan di
tempat manapun dapat ditentukan oleh keefektifan sirkulasi udara dan air. Batas
antara batuan yang dapat mangalami weathering dan yang tidak dapat bisa sangat
ekstrim tak beraturan, semakin besar bagian batuan yang tak dapat ditembus akan
menjadi batuan yang menonjol atau terisolasi sebagai material unweathered di
zona weathering.
Bahwa weathering dapat juga berlangsung pada sedimen terpendam
ditunjukkan oleh butiran ferromagnesian yang rapuh dan menampakkan korosi.
Sehubungan dengan hal ini, terdapat fakta bahwa kebanyakan pasir batu Paleozoic
yang praktis tidak mengandung mineral kecuali mineral yang paling resistan
seperti quartz, orthoclase, zircon, dan tourmaline. Penurunan yang progressif dari
mineral-mineral yang lebih rentan di dalam batuan yang lebih tua, menunjukkan

bahwa reaksi-reaksi weathering dapat berlangsung untuk waktu yang lama. Hal ini
membawa kita kembali pada persoalan mendefinisikan weathering: bagian dari
peruraian mineral-mineral yang rapuh dapat berlangsung dibawah pengaruh
larutan-larutan yang sama yang menyebabkan pergantian dan penyemenan di
dalam sedimen; dimanakah seharusnya garis dapat digambarkan antara proses
weathering dan proses lithification?
Environment terakhir dari weathering adalah environmentdasar laut.
Disini, weathering diberikan nama khusus yaitu halmyrolisis, tetapi penjelasan
prosesnya belum diketahui. Pereaksi-pereaksi yang tersedia tidak sangat berbeda
dari pereaksi-pereaksi yang terdapat di atas tanah, sebanyak air laut yang secara
umum mengandung O2 dan CO2; air bersifat sedikit alkaline, tetapi pH bisa turun
hingga 5 atau 6 di dalam sedimen yang terdapat beberapa sentimeter di bawah
dasar laut; terdapatnya magnesium, potassium, dan sodium dalam jumlah yang
lumayan di dalam air, dan belerang dari peruraian zat-zat organik di dasar
sedimen, menghasilkan beberapa perbedaan dari kebanyakan environment darat.
Mineral-mineral clay (bisa jadi illite), ferri oksida, dan mangaan dioksida adalah
merupakan produk-produk yang umum dari weathering sub-marine, sama seperti
di darat. Perbedaan environmen yang lebih nyata terdapat pada mineral-mineral
seperti glauconite (silikat dari K, Fe2+, dan Fe3+) dan phillipsite (suatu potassium
zeolite).

Oksidasi Deposit Bahan Galian


Setelah deposit bahan galian terbentuk, pada akhirnya erosi dapat
membawanya ke permukaan bumi. Bagaimana mineral-mineral tersebut merespon
pereaksi kimia weathering (pengaruh cuaca)? Untuk menjawab pertanyaan ini
tidak dibutuhkan diskusi yang berlanjut, tetapi reaksi-reaksi weathering dari
mineral bahan galian umumnya lebih kompleks dibanding reaksi-reaksi dari
pembentukan mineral batuan, sebab kebanyakan logam yang terlibat
menunjukkan lebih dari satu bilangan oksidasi dalam keadaan lingkungan
weathering yang normal. Sebaliknya, reaksi-reaksi ini berlangsung dibawah
temperature dan tekanan biasa dan oleh karena itu dimungkinkan untuk
melakukan observasi yang detail di lapangan dan study eksperimental di
laboratorium dengan mudah. Untuk alas an ini dan juga karena proses-proses
weathering sering memiliki kepentingan ekonomi yang besar dalam pengumpulan
logam-logam bernilai ekonomi dari deposit grade-rendah, maka weathering bahan
galian telah menjadi subjek untuk investigasi yang panjang dan intensif.
Salah satu subjek adalah kimiawi belerang, yakni mineral bahan galian
sulfida yang sangat mudah dipengaruhi (dirusak) oleh kimia weathering. Belerang
dapat kita prediksi akan teroksidasi menjadi ion sulfat, SO42-; yang mana oksidasi
akan melalui tahap intermediate berupa belerang bebas dan SO2, tetapi kedua
intermediate ini jarang bisa dideteksi pada zona teroksidasi di alam. Logam-logam
dapat diubah menjadi senyawa-senyawa stabil yang tak larut dibawah kondisi
permukaan (oksida, karbonat, sulfat, dan silikat) atau kemungkinan terdapat
dalam larutan. Ion-ion logam terlarut dapat diperoleh secara komplit di dalam
aliran air dan air tanah atau kemungkinan sebagian terdapat dalam bentuk porsi
tak teroksidasi dari deposit sulfida dan diendapkan oleh reaksinya dengan
mineral-mineral sulfida. Penjelasan dari proses-proses seperti ini yang mana dapat

diikuti baik di lapangan maupun di laboratorium, akan menjadi penting. Di


belakang penjelasan kita harus melihat sekali lagi bagaimana prinsip-prinsip kimia
dasar dapat membawa keteraturan dan pengukuran dari ke-prediksian menjadi
fenomena alam yang kompleks.
Oksidasi Sulfida
Cukup mudah menuliskan persamaan simbolik untuk oksidasi dari sulfida
sederhana seperti galena:
PbS + 2 O2 PbSO4
(1)
Tetapi, bagaimana sebenarnya reaksi berlangsung? Hampir pasti hal itu bukanlah
sesuatu yang sederhana tentang tumbukan antara molekul-molekul oksigen dan
molekul-molekul sulfida timbal, seperti yang dinyatakan oleh persamaan reaksi di
atas, sebab dalam hal ini, spesimen berkilau (galena) dapat terus mengadakan
kontak dengan udara biasa dalam jumlah yang tak tentu tanpa menunjukkan
sedikitpun perubahan. Peranan air dalam perubahan dinyatakan oleh observasi
bahwa kelembaban (uap air) pada permukaan galena secara perlahan-lahan
mengalami tarnish di laboratorium. Secara pasti peranan air tidak diketahui, tetapi
satu kemungkinannya adalah adanya satu seri reaksi seperti:
H2O + CO2
H2CO3
(2)
2+
PbS + 2 H2CO3
Pb + 2 HCO3 + H2S
(3)
H2S + 2 O2 SO42- + 2 H+
(4)
Pb2+ SO42PbSO4
(5)
+
H + HCO3
H2O + CO2
(6)
Jika reaksi-reaksi di atas digabung, maka hasilnya adalah seperti pada persamaan
(1). Mengacu pada mekanisme ini dapat diketahui bahwa air bertindak sebagai
katalis yang mana aktifitas katalisisnya menunjukkan pembentukan asam karbonat
yang kemudian melarutkan sejumlah kecil PbS dan menyebabkan O2 berekasi
dengan H2S terlarut; bukan dengan sulfida padat. Reaksi-reaksi O2 pada
temperatur kamar berjalan lambat, tetapi reaksinya dengan molekul-molekul dan
ion-ion di dalam larutan dapat berlangsung lebih cepat dibanding dengan padatan,
maka langkah-langkah reaksi di atas adalah yang paling masuk akal.
Tetapi hal ini jauh dari sekedar mekanisme yang mungkin. Sebagai contoh,
Sato (1960) menyarankan bahwa air dalam jumlah trace dioksidasi menjadi
hidrogen peroksida dan bahwa peroksida adalah merupakan pereaksi yang aktif
dalam oksidasi sulfida
2H2O + O2 2H2O2
4H2O2 + PbS PbSO4 + 4H2O
Reaksi pertama agaknya berjalan sangat lambat dan dicatat untuk kelambatan
reaksi yang melibatkan O2. Beberapa pembenaran untuk mekanisme ini dihasilkan
dari observasi Sato yang mengukur harga-harga Eh dalam air pertambangan dan
hasilnya adalah dibawah harga maksimum teoritis untuk pasangan O2 H2O
2H2O

O2 + 4H+ +4e-

Eh = 1,22 0,059 pH

tetapi dekat ke harga-harga untuk pasangan O2 H2O2


H2O2

O2 + 2H+ + 2e-

Eh = 0,68 0,059pH

Sato juga mempresentasikan bukti bahwa oksidasi belerang di dalam sulfida tidak
berjalan secara langsung menjadi sulfat tetapi berjalan dalam satu seri oksidasi
parsial.
Reaksi oksidasi secara keseluruhan adalah mudah untuk dituliskan untuk
sulfat-sulfat, tetapi kurang mudah untuk karbonat-karbonat. Sebagai contoh, untuk
menuliskan seakurat persamaan yang mungkin untuk pengubahan sphalerite
menjadi smithsonite dalam zona teroksidasi dari suatu deposit bahan tambang.
Kita dapat mengeliminasi persamaan seperti
ZnS + 3/2 O2 + CO2 ZnCO3 + SO2
dan
ZnS + 2O2 + CO2 ZnCO3 + SO3
menjadi lebih sederhana yang mana baik SO2 maupun SO3 tidak terdapat dalam
environment. Persamaan
ZnS + 2O2 + CO2 + H2O ZnCO3 + SO42- + 2H+
adalah yang lebih dapat diterima, dalam hal air tanah berada dekat deposit sulfida
teroksidasi yang umumnya bersifat asam dan mengandung ion sulfat. Formulasi
ini bisa dikatakan objektif untuk kimia murni tanah dan dapat menunjukkan
karbonat yang tidak larut dan dapat menghasilkan asam kuat pada waktu yang
sama. Kemungkinan yang lebih baik adalah
ZnS + 2O2 + 2HCO3- ZnCO3 + H2CO3 + SO42Persamaan ini realistik dalam hal bahwa semua zat yang ditunjukkan diketahui
terdapat dalam environmental oksidasi sulfida dan bahwa zat-zat di sisi kanan
secara kimia adalah tepat/cocok sepanjang H2CO3 tidak pekat. Mungkin lebih baik
menuliskan reaksi dalam langkah-langkah, urutan langkah terdapat dalam
environment yang berbeda, sebagai contoh, reaksi
ZnS + 2O2 Zn2+ + SO42harus diikuti oleh pengendapan dari karbonat kapanpun Zn2+ bergerak menuju ke
dalam environment yang lebih alkalis. Atau di tempat-tempat dimana smithsonite
menggantikan calcite, CaCO3 dapat ditunjukkan sebagai pereduksi keasaman dan
membantu terjadinya pengendapan
ZnS + O2 + H2O + 2CaCO3 ZnCO3 + 2Ca2+ + 2HCO3- + SO42-

Maka tidak ada cara yang benar menuliskan persamaan untuk perubahan
sphalerite menjadi smithsonite. Persamaan harus dituliskan untuk
menggambarkan serealistik mungkin situasi kimia pada keberadaan smithsonite
secara individual.
Oksidasi dari sulfida yang tidak larut menghasilkan pembentukan larutan
asam. Naiknya keasaman dapat disebabkan oleh hidrolisis sederhana ion logam
atau oleh pengendapan dari suatu hidroksida yang tidak larut. Tingkat keasaman
tergantung pada sifat ion logam khususnya pada sejauh mana hidrolisisnya
berlangsung atau tergantung pada ketidaklarutan hidroksidanya. Kebanyakan
asam adalah larutan yang dihasilkan dari oksidasi sulfida-sulfida yang
mengandung besi, sebab ion ferri yang dihasilkan terhidrolisis menjadi oksida
atau hidroksida yang sangat tidak larut.
2FeS2 + 15/2O2 + 4H2O Fe2O3 + 4SO42- + 8H+
Terlihat bahwa masuk akal untuk menunjukkan asam bebas dalam persamaan,
sebab ferri oksida dapat muncul jika kontak dengan asam dengan konsentrasi
lumayan tinggi.
Maka weathering dari sulfida-sulfida dapat digambarkan oleh berbagai
persamaan, semuanya hanya merupakan representasi dari proses alam yang
kompleks. Hasil net adalah (1) menyebabkan ion logam ke dalam larutan atau ke
dalam bentuk senyawa stabil yang tidak larut dibawah kondisi permukaan, (2)
mengubah belerang menjadi ion sulfat, dan (3) menghasilkan larutan yang relatif
asam.
Oksidasi Emas
Emas, walaupun dapat membentuk sulfida tak stabil di alam, secara umum
emas ditemukan bergabung dengan mineral-mineral sulfida. Ketika mineral
sulfida mengalami weathering, emas menjadi subjek dari aksi larutan yang
mengandung oksigen plus asam sulfat dari oksidasi belerang. Emas sangat inert,
bahkan larutan yang bersifat korosif sekalipun hanya memberikan sedikit efek
padanya, dan emas asli tahan dibawah kondisi permukaan. Namun demikian,
pengayaan sedikit supergene dari emas dan kadang-kadang dilaporkan adanya
emas dalam bentuk film dan sedikit kristal pada koral/kerikil menyiratkan bahwa
trace-trace logam teroksidasi dan larut selama weathering. Baik eksperimen
maupun teoritis menemukan bahwa kelarutan emas mendukung kesimpulan ini
dari observasi.
Dua ion emas sederhana adalah Au+ dan Au3+ yang memiliki potensial
okisdasi tinggi sehingga ion-ion ini tidak terdapat dalam jumlah yang cukup besar
dalam larutan alami. Namun demikian, kompleks klorida, AuCl4- cukup stabil
yang mana potensialnya lebih kecil dibanding potensial elektroda oksigen;
oksidasi emas membutuhkan oksidator sangat kuat dan larutan ion klorida secara
simultan. Dalam larutan basa, ion kompleks lainnya seperti AuO2- dan AuS- dapat
juga memainkan peranan tetapi larutan ini hanya sedikit akan memasuki proses
weathering.
Potensial elektroda menyiratkan hanya dua zat terdapat secara luas di alam
yang merupakan oksidator lebih kuat dibanding AuCl4- yaitu MnO2 dan oksigen
bebas. Dua lainnya adalah Fe3+ dan Fe2+ memiliki potensial yang cukup dekat

dengan potensial AuCl4-, sehingga dalam konsentrasi tinggi ion-ion ini bisa dalam
larutan yang kira-kira sama. Berbagai kemungkinan ini dapat dipelajari secara
kuantitatif.
Penggabungan dua reaksi elektroda menghasilkan persamaan untuk
oksidasi
2Au + 12H+ + 3MnO2 + 8Cl3Mn2+ + 2AuCl4- + 6H2O
Dari potensial elektroda
Eo = 1,00 1,23 = - 0,23 volt
Go = nf Eo = 6 x 23,1 x (-0,23) = -31,8 kkal
-Go
log K =
= 23,3
dan K = 1023,3
1,364
Bukti menunjukkan bahwa reaksi berjalan jauh ke kanan; dengan kata lain, emas
seharusnya dapat larut dengan cepat di dalam campuran MnO2 dan HCl 1 M.
Tetapi, koefisien H+ yang besar menyatakan bahwa kelarutan sangat sensitif
terhadap perubahan konsentrasi ion-ion ini. Untuk menghitung efek konsentrasi:
[Mn2+]3[AuCl4-]2
K=
= 1023,3
+ 12
- 8
[H ] [Cl ]
Dengan asumsi tidak terdapat Mn2+ kecuali apa yang dihasilkan dalam reaksi.
Dengan kata lain bahwa 3/2 mol Mn2+ akan terdapat untuk setiap mol AuCl4-.
Dengan substitusi ini, [AuCl4-]5 = 8/27 x 1023,3 x [H+]12[Cl-]8
Dari persamaan ini konsentrasi dalam Tabel di bawah dihitung untuk berbagai
pilihan [H+] dan [Cl-]. Gambaran ini hanya approksimasi sebab disini kita hanya
perhatikan order magnitude.
Tabel di bawah menunjukkan bahwa emas cukup larut (10-5 g. L-1 atau
lebih) dengan adanya MnO2 dalam HCl encer 0,001 M, atau tetap dalam
konsentrasi H+ atau Cl- yang lebih kecil dan yang lain dalam jumlah yang besar.
Konsentrasi ion-ion ini adalah 0,001 M dan yang lebih tinggi telah pernah
dilaporkan dari oksidasi bagian-bagian deposit bahan tambang, tetapi jumlah yang
cukup adalah tidak umum, sehingga transportasi yang lumayan besar dari emas
adalah kecil dan fenomena lokal setuju dengan observasi geologi.
Dalam literatur yang lebih tua ditemukan fakta bahwa HCl dengan adanya
MnO2 dapat melarutkan emas. Dalam terminologi modern dapat dikatakan bahwa
emas dapat larut terutama karena kestabilan yang tinggi dari kompleks ion AuCl4-;
fungsi MnO2 adalah untuk mengoksidasi emas dan fungsi Cl- adalah untuk
mengikat emas yang telah teroksidasi dalam ion. Larutan harus asam sebab
penggabungan ion hidrogen dengan oksigen dari MnO2 untuk membentuk air
menyebabkan MnO2 adalah oksidator yang jauh lebih baik dibanding jika terjadi
dalam larutan netral atau basa.
Diketahui bahwa oksigen bebas sama efektifnya seperti MnO2 dalam
pelarutan emas. Namun demikian, dari studi reaksi menunjukkan bahwa oksigen
encer di atmosfir dapat memberikan efek yang lumayan besar hanya pada
konsentrasi H+ dan/atau Cl- lebih tinggi dari yang terdapat di alam. Bahkan jika
konsentrasi tersebut diperoleh, reaksi akan sangat lambat seperti kebanyakan

proses yang melibatkan molekuler oksigen. Dua pereaksi lain yang mungkin
untuk mengoksidasi dan melarutkan emas adalah Fe3+ dan Cu2+ dan harus terdapat
Cl- dalam konsentrasi yang sangat tinggi, khususnya karena potensial
elektrodanya lebih rendah dibanding potensial dari pasangan Au-AuCl4- .
Semua reaksi yang menggambarkan pelarutan emas telah dapat dilakukan
di laboratorium kecuali reaksi dengan oksigen bebas.Terdapat kesesuaian yang
memuaskan antara hasil laboratorium, prediksi termodinamik, dan observasi
geologi. Kerja laboratorium juga mengkonfirmasikan bahwa pelarut-pelarut
lainnya yang disarankan dalam literatur, misalnya, Al2(SO4)3 dan Fe2(SO4)3 tanpa
Cl-, tidak memberika efek apapun terhadap emas.
Bertolak belakang dengan larutan asam, data teoritis untuk larutan alkaline
amat kurang. Beberapa percobaan yang telah dilaporkan menyatakan bahwa emas
dapat larut dalam jumlah yang lumayan dalam larutan NaHS pada temperatur
kamar. Kesulitan memahami reaksi dikarenakan NaHS tampaknya tidak
mengandung oksidator yang cukup kuat untuk menyerang emas. Ada
kemungkinan hidrogen dibebaskan
Au + HS- AuS- + H2
tetapi hal ini hanya mungkin terjadi jika AuS- (atau beberapa kompleks sulfida
atau ion hidrosulfida yang sama) bersifat sangat stabil. Keberadaan ion-ion seperti
ini telah didemonstrasikan secara eksperimental di dalam larutan yang
menstimulasi kondisi hidrotermal, tetapi bukan di dalam larutan oksidator pada
temperatur rendah.
Tabel kelarutan emas dengan adanya MnO2 pada 25oC
[H+] mol.L-1 [Cl-] mol.L-1
Konsentrasi AuCl4mol.L-1
g.L-1 Au
-1
-1
10
10
4
800
10-2
10-2
10-3,4
10-1,1
-3
-3
-7,4
10
10
10
10-5,1
10-4
10-1
10-6,6
10-4,3
-2
-4
-6,6
10
10
10
10-4,3
OKSIDASI URANIUM
Senyawa uranium yang utama yang terdapa di dalam lapisan deposit
adalah dioksida, UO2, yang terdapat dalam berbagai bentuk kristal-yang baik
uraninite dan dalam berbagai bentuk mikrokristal pitchblende. Oksidasi dan
hilangnya uranium oleh peluruhan radioaktif dapat meningkatkan perbandingan
oksigen : uranium, akibatnya uraninite dan pitchblende jarang menunjukkan
komposisi UO2 secara pasti, sering menunjukkan komposisi yang disimbolkan
oleh U3O8. Pada zona weathering, pitchblende dan uraninite diubah menjadi satu
atau lebih mineral uranium teroksidasi berwarna cerah, seperti carnotite
[K2(UO2)2(VO4)2.3H2O], tyuyamunite [Ca(UO2)2(VO4)2.nH2O], autunite
[Ca(UO2)2(PO4)2.nH2O], dan rutherfordine (UO2CO3). Mineral-mineral ini sedikit
larut, sehingga uraniumnya dapat terbawa oleh permukaan air atau air tanah
mengakibatkan penurunan environment (contohnya, dasar lignite atau serpihan

hitam) dan diendapkan sebagai pitchblende atau coffinite (USiO4.nH2O). Sama


seperti besi atau tembaga, uranium adalah merupakan unsur yang menunjukkan
perubahan dari satu tingkat oksidasi ke tingkat oksidasi lainnya dalam
environment geologi. Detail kimiawinya memberikan suatu penjelasan sifatsifatnya. Uranium memiliki banyak bilangan oksidasi (+2, +3, +4, +5, +6), tetapi
hanya bilangan oksidasi +4 dan +6 yang menarik secara geologi. Pada dua
bilangan oksidasinya yang paling rendah, uranium adalah merupakan suatu
reduktor yang sangat kuat yang dapat membebaskan hidrogen dari air, dan
bilangan oksidasi +5 dengan adanya air bersifat tidak stabil dan berubah menjadi
+4 dan +6
2UO2+ + 4H+

UO22+ + U4+ + 2H2O

G0 = -13,0 kkal

Transisi dari +4 ke +6 memiliki potensial redoks dalam range normal untuk


environment geologi
U4+ + 2H2O

UO22+ + 4H+ + 2e-

Eo = +0,33 volt

sehingga dapat diharapkan menemukan senyawa-senyawa dari dua bilangan


oksidasi di alam.
Ion uranous, U4+, bereaksi dengan basa membentuk hidroksida, U(OH)4
yang sangat tidak larut. Konstanta dissosiasi yang rendah, kira-kira 10-50 pada 25o,
berarti bahwa di dalam larutan netral konsentrasi U4+ kecil bahkan pada pH 4 bisa
10-10 M. Hidroksida bersifat tidak stabil terhadap dehidrasi
U(OH)4

UO2 + 2H2O

Go = -8,4 kkal

bahwa konsentrasi maksimum U4+ dalam kesetimbangan dengan UO2 bahkan


lebih rendah dibanding untuk hidroksida. Keanehan kecil dari pitchblende dan
uraninite adalah keduanya sangat stabil dalam reduksi environment.
Ion uranil, UO22+, sebaliknya membentuk hidroksida yang lebih larut
UO2(OH)2
UO2OH+

UO2OH+ + OHUO22+ + OH-

K = 10-14,2
K = 10-8,2

Dalam larutan pada pH 7 konsentrasi UO2OH+ bisa mencapai 10-7,2 M dan


konsentrasi UO22+ bisa mencapai 10-8,4 M. Pada pH 4 konsentrasi UO22+ bisa naik
menjadi 10-2,4 M, yang menghasilkan total uranium mendekati 1 g. L. Dalam hal
ini hidroksida bersifat lebih stabil dibanding oksida
UO2(OH)2

UO3 + H2O

Go = +10,0kkal

Paling sedikit ada dua lagi hidrat atau hidroksida dari UO3 yang telah dikenal
yang semuanya memiliki kestabilan yang hampir sama. Di alam, hidrat dari UO3
kadang-kadang ditemukan sebagai mineral, tetapi yang lebih umum ion uranil
bergabung dengan anion-anion lain seperti karbonat, fosfat, dan vanadate lebih

sering dibanding yang lain. Banyak sekali kompleks mineral uranium dengan
bilangan oksidasi 6 yang telah dikenal.
Uranil hidroksida bersifat sedikit larut di dalam larutan alkaline sama
seperti di dalam asam
UO2(OH)2 + OHUO2(OH)2 + 2OH-

UO2(OH)3UO2(OH)42 -

K = 10-3,6
K = 10-3,8

(Ini adalah ion diuranate dan ion uranate, sering ditulis tanpa H2O sebagai HUO4dan UO42-). Harga konstanta yang rendah memberi pengertian bahwa kelarutan
bisa meningkat hanya di dalam larutan alkaline kuat). Mineral-mineral yang
mengandung uranium dalam ion-ion ini belum dikenal.
Dalam larutan yang mengandung ion karbonat, kelarutan senyawasenyawa uranium dengan bilangan oksidasi 6 sangat meningkat karena
pembentukan kompleks karbonat
UO2(CO3)22-

UO22+ + 2CO32-

UO2(CO3)34-

UO2(CO3)22- + CO32-

K = 10-14,6
K = 10-3,8

Sebagai contoh, persamaan pertama memberi arti bahwa larutan pada pH 7


dengan konsentrasi 0,01 M, total karbonat bisa mengandung UO2(CO3)22- kira-kira
10.000 kali lebih banyak dari UO22-. Dari perhitungan untuk larutan bebas
karbonat di atas, dapat diestimasi bahwa total uranium terlarut mengandung kirakira UO2OH+ = 10-7 M, UO22+ =10-8 M, dan UO2(CO3)22- =10-4 M atau 1000 kali
lebih banyak dari estimasi untuk larutan bebas karbonat. Kontribusi dari kompleks
karbonat dapat meningkat dengan cepat sebanyak peningkatan jumlah CO32-, bisa
dengan cara melarutkan karbonat lebih banyak atau dengan cara menaikkan pH.
Jumlah kompleks karbonat kedua bisa signifikan dengan jumlah karbonat pertama
hanya dalam larutan alkaline kuat.
Oleh karena itu, geokimia umum dari uranium di dekat permukaan
environment dapat digambarkan dengan cepat. Mineral utama teroksidasi menjadi
ion uranil, yang bersifat mobil di dalam larutan asam lemah dan juga di dalam
larutan netral dan alkaline jika terdapat CO32-. Permukaan air yang mengadakan
kontak dengan mineral uranium bisa mengandung per milliar bagian uranium dan
dalam keadaan tertentu bisa mengandung hingga ribuan bagian per juta. Dari
larutan seperti ini uranium dengan bilangan oksidasi 6 bisa diendapkan oleh
berbagai anion, membentuk mineral teroksidasi; atau dapat direduksi oleh
sejumlah reduktor, khususnya, zat-zat organik, yang umumnya membentuk UO2
atau salah satu dari bentuk hidratnya. Proses-proses tersebut kemungkinan bisa
berlangsung atau telah dapat berlangsung baru-baru ini di Colorado Plateau yang
merupakan deposit uranium terkenal dan di Wyoming tengah, dimana mineralmineral teroksidasi terdisseminasi pada batupasir dekat permukaan dan pada level
yang lebih rendah ditemukan bahan galian hitam yang tak teroksidasi yang
terdapat dalam sediment yang mengandung banyak material organik. Secara

khusus, yang sangat menyolok mata adalah konsentrasi mineral uranium di sekitar
penimbunan kayu, fragmen tulang, dan lensa terisolasi dari serpihan hitam.
Namun demikian, harus dicatat, bahwa pemahaman akan kimia tentang
sumber-sumber uranium tidak bisa memberi penjelasan asal usul deposit tersebut.
Sepanjang mengenai kimiawinya dan mengacu pada permukaan, sangat masuk
akal memahami bahwa mineral dihasilkan dari oksidasi deposit asli di dalam
sediment-kaya zat organik, atau memahami bahwa bahan galian tak teroksidasi
dihasilkan dari pencucian (leaching) dan reduksi dari deposit asal yakni material
teroksidasi di dalam batupasir. Mekanisme oksidasi, pengendapan, pelarutan, dan
reduksi dijelaskan oleh kimia uranium, tetapi urutan kejadian harus dilakukan dari
hubungan geologi.
Untuk menghasilkan catatan yang lengkap tentang oksidasi bahan galian
uranium di dalam deposit seperti yang terdapat di Colorado Plateau membutuhkan
pertimbangan-pertimbangan geokimia dari vanadium, sebab vanadium sangat erat
bergabung dengan uranium di dalam deposit Plateau. Dalam sifat-sifat kimianya,
vanadium mirip dengan uranium, tetapi detailnya adalah lebih kompleks, sebab
vanadium memiliki tiga bilangan oksidasi bukan dua (yang stabil dalam range
normal dari environment geologi), dan disebabkan vanadium dapat membentuk
berbagai ion kompleks.
Selain diskusi geokimia vanadium yang mendetail, diagram Eh pH di
bawah ini yang dikerjakan oleh Garrels dan teman-teman, menunjukkan hubungan
beberapa senyawa uranium dan senyawa vanadium yang mengadakan kontak
dengan air pada 25o dan tekanan 1 atm. Untuk konsentrasi vanadium yang spesifik
(total terlarut = 10-3 M), karbonat (total = 0,1 M), dan potassium (total = 10-3 M),
diagram menunjukkan bahwa bahan galian tak teroksidasi mengandung uraninite
dan montroseite, mineral-mineral dengan kedua logam tersebut yang terdapat di
alam dalam bilangan oksidasi paling rendah. Peningkatan oksidasi dapat
mengubah uranium menjadi senyawa-senyawa uranil dan vanadium menjadi
senyawa-senyawa dengan bilangan oksidasi 4. Oksidasi maksimum menghasilkan
carnonite, yang mana kedua unsur berada pada bilangan oksidasi paling tinggi;
carnonite menempati sebagian besar bagian atas diagram, sesuai dengan
sebarannya di dalam bahan galian teroksidasi. Pada kedua sisi diagram uranium
menunjukkan total kestabilan melebihi 10-4 M, pada sisi asam terlihat bentuk ion
uranil dan pada sisi alkaline menunjukkan kompleks karbonat. Diagram
menunjukkan hubungan yang umum dari bilangan oksidasi secara jelas, tetapi
hanya meliputi sedikit senyawa yang ditemukan di alam.
Gambar diagram hal 429

METAMORPHISM
Kontak dekat granite bagian dalam, batuan pada umumnya menunjukkan
perubahan yang nyata pada warna dan tekstur. Serpihan dan batupasir menjadi
keras, batuan menjadi rapuh, dan limestone diubah menjadi kristal marmer
berkuarsa. Mineral-mineral baru dapat muncul pada batuan-batuan yang berubah,
buktinya diperoleh dari intrusif yang terjadi pada temperatur tinggi. Di tempat lain
diatas area yang luas yang tidak dapat terlihat bergabung dengan aktifitas berapi,

batuan menunjukkan perbedaan jenis perubahan; serpihan ditransformasikan


menjadi batu tulis (gerip) dan retakan mika, lava menjadi klorit dan retakan
amphibole, limestone menjadi marmer. Semua perubahan-perubahan tersebut
yang menggambarkan aksi panas dan tekanan di bawah permukaan bumi, disebut
metamorphisme.
Untuk membingkai definisi yang lebih tepat, dibutuhkan satu pembeda
antara proses metamorfis dan proses sedimentari. Walaupun proses sedimentari
melibatkan perubahan yang membingungkan dalam material asalnya: sementasi,
rekristalisasi, dehidrasi, pertukaran ion, dan beberapa proses lainnya. Kita dapat
menyatakan bahwa perubahan-perubahan tersebut berlangsung pada temperatur
rendah dan pada kedalaman yang dangkal, kebalikan dari perubahan yang terjadi
pada temperatur tinggi dan di penimbunan kedalaman yang dibutuhkan untuk
metamorfisme, tetapi untuk menspesifikkan batasan temperatur dan kedalaman
berarti menggambarkan suatu batas yang berubah-ubah dimana tidak ada batas di
alam. Pada keadaan ekstrim yang berlawanan kita membutuhkan satu kriteria
untuk membedakan proses-proses metamorfisme dari proses-prose batuan berapi.
Hal ini juga memberikan masalah, sebab batuan yang dipanasi secukupnya akan
meleleh, dan pelelehan pada umumnya berlangsung pada range temperatur yang
cukup besar. Pada titik mana kita dapat memisahkan metamorfis dari fenomena
batuan berapi sebagai suatu batuan yang meleleh secara perlahan-lahan? Untuk itu
kita harus mempelajari kimia dari proses metamorfism proses-proses bertingkat
menjadi reaksi-reaksi sedimentari pada satu ujung skala temperatur dan menjadi
reaksi-reaksi batuan berapi di ujung lainnya.
Kondisi dari Metamorfisme
Reaksi metamorfisme berbeda dari proses batuan berapi dalam hal bahwa
reaksi-reaksi tersebut terjadi pada keadaan padat. Tidak terjadi pelelehan yang
nyata yang melibatkan metamorphisme kecuali pada temperatur paling tinggi.

Distribusi Unsur-unsur
Klassifikasi Periodik
Penggolongan unsur-unsur yang paling fundamental adalah klassifikasi
periodik yang pertama kali diusulkan oleh Mendeleev pada tahun 1869. Secara
orisinil didasarkan pada sifat-sifat kimia seperti yang diobservasi dalam reaksi
laboratorium biasa, khususnya pada sifat valensi, klassifikasi Mendeleev telah
dibuktikan juga dengan satu pernyataan keteraturan dalam susunan elektron di
dalam struktur atom. Kepentingannya dalam kimia meningkat dari tahun ke tahun,
dan agak kurang penting di dalam geokimia. Beberapa hubungan geokimia
diyakini tidak dinyatakan dalam hukum periodik, tetapi secara umum hubungan
tersebut adalah merupakan dasar klassifikasi yang mana semua yang lain
mengacu.
Hubungan yang berbelit-belit didalam struktur elektron atom yang
dinyatakan oleh hukum periodik dapat ditunjukkan dalam berbagai cara. Tabel di
bawah ini menunjukkan suatu susunan yang cocok untuk kepentingan geokimia.
Urutan unsur-unsur secara horisontal adalah periode dari tabel, dan urutan vertikal
adalah kolom atau golongan. Nomor di bawah tiap simbol adalah nomor atom

yang sama dengan jumlah total elektron dalam atom netral (dan juga sama dengan
total jumlah muatan positif di dalam inti atom). Untuk unsur-unsur utama
(terdapat pada kedua sisi tabel), angka Romawi pada puncak kolom
mengindikasikan jumlah elektron yang terdapat di kulit terluar atom, atau elektron
valensi, elektron yang digunakan bersama atau ditransfer selama pembentukan
ikatan kimia dan oleh karena itu menjadi yang paling penting dalam penentuan
sifat-sifat kimia suatu unsur. Nomor-nomor yang sama ini juga digunakan sebagai
perancangan golongan unsur-unsur; maka unsur N, P, As, Sb, dan Bi berada pada
golongan V dan memiliki atom yang mengandung lima elektron valensi.
Hubungan yang utama dari unsur-unsur golongan utama nyata dengan
segera. Gas inert membentuk satu golongan yang terletak paling kanan. Logamlogam aktif terdapat pada bagian kiri dan unsur-unsur non-logam yang aktif
terletak pada bagian kanan. Dalam tiap-tiap sifat periode menunjukkan perubahan
yang perlahan-lahan dengan naiknya nomor atom, sifat aktif logam menurun dan
sifat aktif non-logam meningkat. Dalam satu golongan, dari atas ke bawah
menunjukkan sifat-sifat yang sama tetapi kurang dinyatakan perubahan unsurunsur dengan naiknya karakter logam. Hal ini berarti bahwa kebanyakan logam
aktif dari semuanya terdapat pada sudut kiri lebih bawah dan kebanyakan nonlogam aktif terdapat pada bagian atas kanan.
Hubungan logam-logam transisi yang terletak di tengah tabel adalah lebih
kompleks. Unsur-unsur ini memiliki atom dengan elektron valensi 1, 2, atau 3,
dan dengan 8 sampai 18 elektron pada kulit dibawah kulit valensi. Oleh karena
jumlah elektron valensi kecil, maka semua unsur adalah logam. Banyak dari
unsur-unsur ini menunjukkan beberapa bilangan oksidasi di dalam senyawasenyawanya, sebab elektron yang terdapat pada kulit kedua (elektron d)
memiliki energi yang hampir sama seperti jumlah elektron terluar dan beberapa
senyawa dapat bertindak sebagai elektron valensi tambahan. Sifat-sifat kimia
unsur-unsur dalam satu golongan dari golongan transisi menunjukkan hubungan
yang lumayan dekat. Beberapa dari unsur-unsur ini memiliki hubungan yang
kurang jelas dengan unsur-unsur golongan utama, seperti yang ditunjukkan oleh
angka Romawi untuk menggambarkan sub-golongan A dan B. Namun demikian,
secara umum, unsur-unsur transisi menunjukkan kurang keteraturan di dalam
sifat-sifatnya dibanding unsur-unsur di dalam golongan utama, dan sifat-sifatnya
kurang dapat diprediksi dengan cepat dari posisinya dalam tabel.
Lanthanida, atau unsur-unsur tanah jarang, dan unsur-unsur aktinida, yang
membentuk bagian golongan transisi tetapi untuk kemudahan ditunjukkan pada
dasar tabel, masih tetap terdapat kekompleksan. Semua unsur-unsur tanah jarang
dan kebanyakan unsur-unsur aktinida memiliki atom dengan tiga elektron valensi
dan delapan elektron pada kulit dibawah kulit valensi. Masing-masing atom
berbeda satu elektron dari atom sebelumnya dalam kulit ketiga (elektron f), dua
kulit dibawah kulit valensi. Oleh karena struktur elektron terluar sangat mirip,
unsur-unsur pada tiap-tiap dua golongan menunjukkan sifat-sifat kimia yang
sangat mirip, begitu mirip sehingga unsur-unsur sulit terpisahkan di laboratorium
dan secara umum ditemukan bergabung erat di alam. Generalisasi ini kurang
nyata untuk aktinida dibanding untuk unsur-unsur tanah jarang, sebab beberapa
dari unsur-unsur sebelumnya stabil dan memiliki bilangan oksidasi yang lebih
tinggi (elektron tambahan berasal dari kulit dibawah kulit valensi) yang
menyebabkan pemisahan menjadi lebih mudah.

Berdasarkan klassifikasi periodik banyak prediksi yang sanga sukses


dapat dibuat tentang sifat-sifat kimia dari unsur-unsur tanah jarang. Prediksi
tentang sifat-sifat geologi juga dimungkinkan tetapi pada umumnya kurang
memuaskan. Sebagai contoh, satu hal yang bisa diharapkan adalah bahwa unsur
tanah jarang selenium dan tellurium terdapat bersama-sama dengan belerang,
bahwa gallium terdapat dalam mineral aluminium, bahwa molybdenum terdapat
dengan kromium dan tantallum dengan vanadium. Dua pertama dari prediksiprediksi tersebut menunjukkan keakuratan, tetapi dua prediksi terakhir tidak.
Penggolongan periodik sangat berguna dalam geokimia, tetapi penggolongan
tersebut tidak dapat memberikan distribusi unsur-unsur.
Tabel 20.1, hal 466

Klassifikasi Geokimia Goldschmidt


V. M. Goldschmidt, pionir investigator tentang aturan distribusi unsurunsur menyarankan jenis klassifikasi yang lain, yang sebagian didasarkan secara
langsung pada distribusi terobservasi. Klassifikasi ini mencoba menjawab
pertanyaan teoritis: jika bumi pada suatu waktu pada masa lalu berupa leburan
yang besar dan jika pada pendinginan material leburan tersebut terpisah menjadi
fase logam, fase sulfida, dan fase silikat, bagaimana unsur-unsur mendistribusikan
dirinya diantara ketiga fase tersebut? Jawaban dapat dicari dari argumen teoritis
dan juga dari tiga jenis observasi: (1) dari komposisi meteorit, dengan asumsi
bahwa meteorit memiliki komposisi rata-rata yang sama dengan komposisi bumi
primitif dan mengalami differensiasi yang sama, (2) dari analisis logam, kerak
silikat dan fase matte (sulfida) dalam operasi metallurgi, (3) dari komposisi batuan
silikat, biji sulfida, dan sedikit besi murni yang terdapat dalam perut bumi.
Dari sudut pandang teoritis, kita dapat mempertimbangkan pertama
distribusi unsur yang diharapkan antara metallik besi dan silikat, dalam suatu
sistem besi berlebih. Logam lebih aktif secara kimia dibanding besi yang
sebelumnya bergabung dengan silika, dan sisa silika akan bereaksi sejauh
mungkin dengan besi. Logam-logam yang kurang aktif dibanding besi tidak akan
punya kesempatan membentuk silikat tetapi akan tetap sebagai logam-logam
bebas dengan besi bebas. Dengan kata lain, nasib setiap logam tertentu tergantung
pada keseluruhan energi bebas pembentukan silikatnya. Untuk kebanyakan logam
energi bebas silikat tidak diketahui, tetapi untuk approksimasi yang baik kita
bahkan dapat menggunakan energi bebas oksida-oksida, karena pada
pembentukan suatu silikat energi reaksi Me + O2 MeO selalu jauh lebih
besar dibanding energi reaksi MeO + SiO2 MeSiO3. Energi bebas
pembentukan oksida-oksida yang representatif dapat dilihat pada tabel di bawah
ini. Dari tabel kita dapat memprediksi bahwa unsur-unsur di atas besi akan lebih
suka menjadi fase silikat (atau oksida), dan unsur-unsur di bawah besi menjadi
fase metallik. Penggolongan tidak semuanya tidak ambigu, dalam hal dua unsur
(timah dan tungsten) muncul di atas besi pada temperatur rendah dan di bawah
besi pada temperatur tinggi.

Tabel20-2 Energi Bebas Oksida-oksida


Energi bebas pembentukan, kkal
Pada 25o
Pada 827o
CaO
-144,4
-124,7
ThO2
-139,7
-121,8
MgO
-136,1
-115,2
Al2O3
-126,0
-105,7
ZrO2
-123,9
-105,8
UO2
-123,3
-107,0
TiO2
-106,2
-89,0
SiO2
-102,3
-85,2
VO
-91,4
-74,9
MnO
-86,7
-72,8
Cr2O3
-84,4
-67,8
K2O
-77,0
-48,6
ZnO
-76,1
-56,1
WO2
-62,3
-45,8
SnO2
-62,1
-42,1
FeO
MoO2
CoO
NiO
PbO
Cu2O
PdO
HgO
Ag2O

-60,1
-59,2
-51,4
-50,6
-45,1
-35,0
-16,8
-14,0
-2,5

-48,0
-45,5
-37,6
-33,6
-25,9
-21,8
-1,1

Daftar yang sama dapat dibuat ke bawah yang menunjukkan distribusi


logam-logam yang diharapkan antara fase logam dan fase sulfida dengan besi
berlebih, dan antara fase sulfida dan fase silikat dengan silika berlebih. Namun
demikian, dibutuhkan banyak asumsi tambahan karena harga-harga numerik tidak
sangat membantu.
Pada sisi observasional, komposisi dari ketiga fase (logam, sulfida, dan
silikat) dalam meteorit dan dalam produk-produk peleburan telah diketahui
dengan baik. Beberapa harga rata-rata yang umum untuk meteorit dan satu contoh
analisis produk peleburan bijih tembaga ditunjukkan pada tabel di bawah ini.
Kemiripan jauh dari sempurna, tetapi pada umumnya sifat-sifat unsur-unsur minor
adalah mirip.

Tabel 20-3 Konsentrasi Beberapa Unsur Dalam Fase logam, Fase sulfida, dan
Fase silikat Dalam Meteorit dan Dalam Produk-produk Metallurgi Dari
Bijih Temabaga Mansfeld
Meteorit
Fase
logam
0,015

Si
Al
Fe 88,60
Mg
Ca
Na
K
P
Cr
Ni
Co
V
Ti
Zr
Mn
Cu
Pb
Zn
Ag
Au
Pt
Sn
W
Mo

1800
300
84900
5700
6
100
8
300
200
56
115
5
2
16
100
8
17

Fase Sulfida
(troilite)
0

3000
1200
1000
100
0
0
460
500
20
1530
19
0,5
3
15
trace
11

Produk-produk Metallurgi
Fase
silikat
21,60
1,83
13,25
16,63
2,07
0,82
0,21

Logam
Sulfida
(besi tuang) (matte tembaga)
0,02
0,05
0,05
0
73,58
22,92
0
0,05
0,003
~ 0,001
~ 0,1
0,1
0,49

700
18400
3900
0
3300
17200
400
24400
50
800
1800
20
95
2050
0
2
64400
2
20
76
8
0
150
0
8
0
8
5
80
18
0
3
66400

Silikat
(kerak)
22,09
9,11
3,0
7,46
13,50
0,64
3,28

0
0
2800
2500
~ 100
20
6400
462000
2200
16800
2520
0
0
0
0
0

300
40
500
40
200
300

Corong
debu
4,03
5,3

~50
0
20
0
70
0

2000
~10
2340
~ 30000
200 ~100000
3700 ~ 400000
0
300
0
0
0
0
0
0
30
0
20
~5

Catatan: Unsur-unsur utama (bukan oksida) dalam persen berat


Unsur-unsur minor dalam ppm
Terdapatnya unsur-unsur dalam batuan silikat, bijih sulfida, dan besi agak setuju
dengan distribusi terobservasi di dalam meteorit dan analisis peleburan. Kurang
sempurnanya persetujuan tidaklah mengejutkan, seperti yang telah diisyaratkan
oleh Goldschmidt, karena kondisi pembentukan deposit bijih sulfida agak berbeda
dari kondisi pemisahan sulfida pada peleburan artificial.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan ini, Goldschmidt menyarankan
bahwa unsur-unsur dapat dikelompokkan menjadi kelompok yang lebih suka
terdapat bersama besi dan yang mungkin terkonsentrasi di dalam inti besi bumi
(unsur-unsur siderophile); unsur-unsur yang terkonsentrasi dalam sulfida dan oleh
karena itu karakteristik deposit bijih sulfida (unsur-unsur chalcophile); dan unsurunsur yang umumnya terdapat di dalam silikat atau bersama silikat (unsur-unsur
lithophile). Sebagai pelengkap, unsur-unsur yang utama di udara dan pada gas-gas
alam lainnya dapat diletakkan dalam golongan keempat, unsur-unsur atmophile.
Klassifikasi ini ditunjukkan oleh tabel 20.4 di bawah ini yang sangat konsisten
dengan data pada tabel 20-2 dan tabel20-3 di atas sebelumnya. Unsur-unsur
lithophile merupakan unsur-unsur yang paling banyak pada bagian atas tabel 20-2

dan unsur-unsur yang terkonsentrasi dalam fase silikat pada tabel 20-3; unsurunsur siderophile adalah merupakan unsur-unsur dekat dasar tabel 20-2, dan
unsur-unsur yang utama dalam fase logam yang terdapat pada tabel 20-3. Unsurunsur chalcophile tidak dibedakan di dalam tabel 20-2, tetapi disebarkan melalui
setengah bagian lebih bawah; dalam tabel 20-3 unsur-unsur tersebut adalah
merupakan unsur-unsur yang utama di dalam fase sulfida.
Seperti yang diharapkan, klassifikasi Goldschmidt sangat berkaitan erat
dengan hukum periodik. Perbandingan tabel 20-1 dan tabel 20-4 menunjukkan
bahwa secara umum unsur-unsur siderophile terkonsentrasi di pusat tabel, unsurunsur lithopile terkonsentrasi di bagian kiri, unsur-unsur chalcophile
terkonsentrasi di bagian kanan, dan unsur-unsur atmophile terkonsentrasi pada
bagian paling kanan. Klassifikasi juga dapat dikorelasikan dengan potensial
elektroda; unsur-unsur siderophile mendominasi logam-logam mulia dengan
potensial elektroda rendah; unsur-unsur lithophile adalah unsur-unsur dengan
potensial tinggi; dan unsur-unsur chalcophile memiliki posisi intermediate.
Tabel 20-4 Klassifikasi Geokimia Unsur-unsur Goldschmidt
Siderophile
Chalcophile
Lithophile
Atmophile
Fe Co Ni
Cu Ag (Au)
Li Na K Rb Cs
H N (C) (O)
Ru Rh Pd
Zn Cd Hg
Be Mg Ca Sr Ba (F) (Cl) (Br) (I)
Re Os Ir Pt Au Ga In Tl
B Al Sc Y UTJ* Gas inert
Mo Ge Sn C P (Ge) (Sn) Pb (C) Si Ti Zr Hf Th
(Pb) (As) (W)
As Sb Bi
(P) V Nb Ta
S Se Te
O Cr W U
(Fe) (Mo) (Re) (Fe) Mn
F Cl Br I
(H) (Tl) (Ga) (Ge)
(N)
Pengelompokan unsur-unsur seperti ini dapat dianggap sebagai pernyataan
terbaik hanyalah tendensi semata, bukan hubungan quantitatif. Tumpang tindih
golongan-golongan yang berbeda seperti yang ditunjukkan oleh letak unsur-unsur
dalam lebih dari satu kategori. Sebagai contoh, besi bukan hanya merupakan
unsur utama dari inti bumi, tetapi juga biasa terdapat dalam deposit sulfida dan
dalam batuan beku/berapi. Tumpang tindih seperti ini tak dapat dihindari dalam
pengklassifikasian yang sebagian didasarkan pada distribusi pada proses-proses
temperatur sangat tinggi dan sebagian lagi pada distribusi dibawah kondisi
permukaan biasa. Berbagai perbaikan telah disarankan, tetapi tampaknya masih
sedikit hal yang dilakukan untuk mencoba membuat klassifikasi menjadi lebih
quantitatif atau menjadi lebih jelas.
Distribusi Dalam Batuan Sedimen
Umum
Sering dicatat bahwa proses-proses weathering dan sedimentasi berlaku
seperti satu jenis analisis kimia yang rumit dan tidak efisien, pemutusan atau
penghancuran unsur-unsur di dalam batuan beku dan mengelompokkannya

kembali menjadi kumpulan (kesatuan) yang pada umumnya lebih sederhana.


Secara lokal, analisis dapat menjadi sangat efektif, isolasi silika dalam bentuk
batupasir quartz murni atau chert, alumina dalam bauksit, besi dalam residu
laterite atau dalam sedimen oksida-oksida, karbonat, dan silikat, kalsium dalam
limestone atau gypsum, sodium dan potassium dalam deposit garam. Lebih umum
lagi, pemutusan/penghancuran berlangsung tidak sempurna, hanya menghasilkan
silika dalam batupasir, alumina dan silika dalam clay, dan kalsium dan magnesium
dalam karbonat dalam jumlah yang lebih besar. Dalam berbagai operasi prosedur
analisis yang rumit seperti ini apa yang terjadi terhadap unsur-unsur minor?
Apakah unsur-unsur minor tersebut dapat dipisahkan dari unsur-unsur utama
secara komplit? atau dengan apa unsur-unsur utama biasanya dibuat menjadi
konsentrat?
Untuk sedimen hasil pembusukan jawabannya adalah mudah. Sesungguhnya
banyak unsur-unsur trace dapat dipisahkan (hampir komplit) dari unsur-unsur
lainnya, secara sederhana didasarkan pada resistensi mineral-mineralnya terhadap
larutan dan abrasi. Penempatan deposit emas, platinum, monazite, dan zircon
menjadi pertanyaan. Mineral-mineral yang kurang resisten terhadap serangan
sering menunjukkan palingsedikit konsentrasi parsial; lapisan-lapisan kaya
magnetite dalam batupasir adalah merupakan contoh yang baik.
Proses-proses kimia yang jauh lebih kompleks yang dapat menyebabkan
pengendapan dari unsur-unsur minor keluar dari larutan. Perbedaan kelarutan
senyawa-senyawa, proses-proses adsorbsi, dan aktifitas organisme semuanya
memainkan satu peranan. Secara umum, proses-proses tersebut di atas tidak
sangat efektif dalam pemisahan unsur-unsur minor dari unsur-unsur utama/mayor.
Dengan perkecualian fosfat, borat, nitrat, deposit mangaan, dan akumulasi
tembaga, vanadium, dan uranium dengan zat-zat organik, konsentrasi unsur-unsur
tanah jarang yang dihasilkan dari proses sedimentari murni tidak dapat diketahui.
Tabel 20.6 Konsentrasi Rata-rata Unsur-unsur Minor di Shales, Batupasir, dan
Batuan Karbonat (ppm)
Li
B
F
P
Cl
Sc
Ti
V
Cr
Mn
Co
Ni
Cu
Zn
Ga

Shales
60
100
600
750
180
15
4600
130
100
850
20
80
50
90
25

Batupasir
15
35
270
170
10
1
1500
20
35
X0
0,3
2
X
16
12

Karbonat
5
20
330
400
150
1
400
20
11
1100
0,1
20
4
20
4

Ge
As
Se
Br
Rb
Sr
Y
Zr
Mo
I
Ba
Ce
Pb
Th
U

Shales
1,5
10
0,6
5
140
400
35
180
2
2
600
70
20
12
3,5

Batupasir
0,8
1
0,05
1
60
20
40
220
0,2
1,7
X0
92
7
1,7
0,45

Karbonat
0,2
1
0,08
6,2
3
610
30
19
0,4
1,2
10
11,5
9
1,7
2,2

Penjelasan Distribusi
Satu generalisasi tentang distribusi: kebanyakan unsur-unsur tanah jarang
lebih melimpah di shale dibanding di batupasir dan limestone. Perkecualian yang
luar biasa adalah Sr dan Mn yang diketahui diperkaya sedimen karbonat, dan Zr
dan unsur-unsur alkali tanah yang terkonsentrasi dalam batupasir. Pengayaan
dalam batupasir dengan mudah dapat dijelaskan oleh konsentrasi mekanik dari
mineral-mineral yang resisten seperti zircon dan monazite. Pengayaan Sr dalam
limestone dapat diasumsikan bahwa Sr2+ dapat dengan cepat mensubstitusi ion
yang sangat mirip seperti Ca2+. Lebih kecil, tetapi konsentrasi mangaan, yittrium,
dan logam-logam tanah jarang yang besar di dalam sedimen karbonat
kemungkinan juga dapat juga sebabkan oleh kesamaan dalam ukuran ion.
Pertanyaan kini adalah, mengapa kebanyakan unsur-unsur minor
menunjukkan ciri-ciri yang lebih cocok untuk sedimen butir halus? Jawabannya
sebagian bisa dikarenakan substitusi ionik, unsur-unsur seperti Mn dan Zr untuk
magnesium dari montmorillonite atau barium untuk potassium untuk illite atau
galium untuk aluminium dalam mineral-mineral clay. Jawaban sebagian lagi
adalah disebabkan reaksi-reaksi yang terjadi beberapa unsur minor dengan zat-zat
organik yang lebih melimpah di dalam sedimen butir halus dibanding di dalam
sedimen jenis lainnya. Tetapi, adsorbsi adalah merupakan proses yang mudah
terjadi pada pengayaan unsur-unsur tanah jarang di dalam clay dan shales.
Dari diskusi sebelumnya diketahui adanya aturan-aturan adsorbsi, yaitu
ion-ion kecil lebih kuat teradsorbsi dibanding ion-ion besar, ion multivalen lebih
kuat teradsorbsi dibanding ion univalen, ion terpolarisasi lebih kuat teradsorbsi
dibanding ion non-polarisasi. Walaupun pada kenyataannya terdapat beberapa
perkecualian dari aturan-aturan tersebut, khususnya timbulnya reversal adsorbsi
dari ion-ion logam alkali, yang kemungkinan disebabkan oleh hidrasi yang dapat
mengubah ukuran relatif. Tingkat adsorbsi bergantung pada sifat adsorben dan
pada kondisi adsorbsi berlangsung.
Potensial Ionik
Penjelasan lain yang sering menyarankan untuk pengayaan yang sedikit
umum dari unsur-unsur minor di dalam sedimen butir halus adalah bahwa
beberapa unsur minor ini dapat diendapkan dengan clay sebagai hidroksida.
Kecenderungan dari suatu ion untuk mengendap sebagai hidroksida dapat
dihubungkan paling tidak secara teoritis, untuk mengkuantifikasi apa yang disebut
sebagai potensial ionik, yang didefinisikan sebagai pangkat dari muatan positif
dari ion sederhana dibagi dengan jari-jari.
Ide tentang potensial ionik sebenarnya sederhana. Setiap ion positif di
dalam air selalu tertarik ke ujung negatif dari molekul air yang polar. Dari attraksi
ini dapat dibangun suatu kompetisi antara ion positif dan ion hidrogen untuk
oksigen dari air
Me O H
Jika attraksi antara Me dan O lemah dibanding attraksi antara H dan O, maka ionion Me akan tetap bebas di dalam larutan, semata-mata dikelilingi dirinya sendiri
dengan suatu lapisan molekul air yang hilang; Na+ adalah suatu contoh yang baik.
Jika ikatan Me O kuat dibanding ikatan H O, maka Me menyukai satu atau

lebih ion O, membentuk satu anion dan melepaskan H+ bebas; ion hipotetis S6+
adalah contoh yang baik, yang dapat bereaksi dengan air membentuk SO42S6+ + 4H2O SO42- + 8H+
Jika dua ikatan mempunyai kekuatan yang sebanding, maka struktur yang
terbentuk adalah hidroksida yang tidak larut, contohnya, Zn(OH)2. Kekuatan
ikatan Me O adalah lebih besar untuk ion-ion bermuatan (tinggi) positif dan jarijari ion kecil; oleh karena potensial ionik adalah merupakan ukuran dari
kecenderungan suatu ion untuk tetap bebas membentuk anion dengan oksigen atau
mengendap sebagai hidroksida.
Seperti biasanya terjadi bila sifat-sifat ionik dinyatakan sebagai fungsi dari
kuantitas geometri sederhana, maka persetujuannya akan sangat baik untuk unsurunsur pada kedua sisi dari tabel periodik, tetapi kurang memuaskan untuk unsurunsur pada bagian tengan tabel periodik. Unsur-unsur pada bagian tengah tabel
periodik, karena kecenderungannya membentuk ikatan kovalen, distort anion yang
besar O2- sehingga kekuatan relatif dari ikatan Me O dan O H tidak lagi hanya
merupakan hal sederhana dari muatan dan jari-jari. Berbagai percobaan telah
dibuat untuk mengkoreksi potensial ionik untuk karakter kovalen dari ikatan
Me O, tetapi tak satupun yang sangat memuaskan. Potensial ionik hanya
signifikan sebagai suatu alat kualitatif untuk menggambarkan sifat-sifat
hidroksida.
Dalam hubungannya dengan sifat-sifat unsur-unsur tanah jarang di dalam
sedimen, pentingnya potensial ionik adalah merupakan dubious. Unsur-unsur
yang membentuk hidroksida yang tidak larut sesungguhnya diperkaya oleh
sedimen butir halus tetapi tidak ada bukti sedikitpun yang menyatakan keberadaan
nya sebagai hidroksida. Jumlah kecil dari hidroksida seperti ini akan sulit
dideteksi tetapi tampaknya tak ada asumsi keberadaannya bila adsorbsi dijelaskan
secara lebih langsung.
Kemungkinan potensial ionik memiliki lebih banyak hambatan pada sifatsifat unsur-unsur minor dalam sedimen hidroksida, seperti bauksit dan sedimen
bijih besi. Sebagai suatu penjelasan tentang konsentrasi minor dari Be dan Ti di
dalam bauksit, kesamaan dalam potensial ionik dapat diterapkan.
Pengendapan, Oksidasi, dan Reduksi
Pemisahan unsur-unsur tanah jarang dengan cara pengendapan secara
langsung senyawa-senyawa tak larut tidak umum dilakukan. Satu cara pemisahan
yang disarankan untuk fosforit, mangaan karbonat, dan deposit yang mengandung
mineral boron, nitrogen, dan iodine adalah evaporasi. Tetapi cara yang umum
untuk mengendapkan unsur-unsur tanah jarang adalah oksidasi dan reduksi.
Mangaan adalah unsur minor yang paling penting yang sering diendapkan
dalam environment sedimentary yang diperoleh dari hasil oksidasi. Demikian juga
halnya dengan arsen dan antiomon, tetapi arsenat dan antimonat yang tak larut
yang terbentuk dari oksidasi deposit bahan galian menyebabkan kontribusi yang
sangat kecil terhadap batuan sedimentary.
Biasanya zat-zat organik dapat menyebabkan reduksi, yang bertanggung
jawab terhadap pembentukan beberapa deposit uranium dan vanadium di dalam
sedimen, karena senyawa-senyawa dari unsur-unsur ini dalam keadaan bilangan

oksidasinya yang lebih rendah secara umum sangat lebih tidak larut dibanding
senyawa-senyawa dengan bilangan oksidasi yang lebih tinggi. Namun demikian,
sulit mengatakan dengan tepat bahwa ini adalah suatu proses sedimentary, oleh
karena kebanyakan deposit uranium-vanadium biasanya dapat membuktikan
dengan jelas bahwa logam-logam telah terdapat di dalam larutan lama setelah
batuan sedimentary terbentuk. Tembaga asli telah ditemukan dalam swamps
modern, dibawah kondisi yang sangat disarankan bahwa unsur ini terbentuk oleh
reduksi dimana larutan tembaga masuk ke dalam zat-zat organik. Mekanisme
yang sama sering diusulkan untuk mencatat jumlah minor tembaga asli yang
kadang-kadang ditemukan di dalam shales hitam dan yang bergabung dengan zatzat organik di dalam batuanpasir, tetapi untuk sumber seperti ini biasanya sulit
dibuktikan bahwa laruran tembaga telah terkontemporasi dengan sedimen.
Bilamana reduksi berlangsung dengan adanya ion sulfida, banyak logam, secara
teoritis dapat mengendap sebagai sulfida, tetapi hanya logam besi yang akan
mengendap dalam environmen sedimentary. Deposit sulfida logam lainnya di
dalam batuan sedimen (kebanyakan chalcopyrite, kadang-kadang galena dan
sphalerite) sering dijelaskan oleh postulat reduksi dan pengendapan selama
sedimentasi, tetapi bukti yang cukup jarang diperoleh untuk mengeliminasi
kemungkinan bahwa logam-logam diperoleh lama setelah sedimen terbentuk.
Seberapa penting reduksi dan pengendapan untuk konsentrasi unsur-unsur minor
selama sedimentasi tetap menjadi hal yang sangat membingungkan.
Reaksi Dengan Zat-zat Organik
Zat-zat organik dalam batuan sedimen diketahui memberi sedikit pengayaan
di dalam unsur-unsur tanah jarang, khususnya, V, Mo, Ni, Co, As, Cu, Br, I, dan
unsur-unsur lokal lainnya.