Anda di halaman 1dari 15

PENDAHULUAN

Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit tertua yang menginfeksi


manusia. Penyakit ini menjadi masalah kesehatan di seluruh dunia dan
menyebabkan angka kematian yang tinggi. Penyakit ini disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis yang berbentuk batang, tidak membentuk spora,
bersifat aerob dan tahan asam. TB umumnya terjadi pada paru, tetapi dapat pula
menyerang organ lain pada sepertiga kasus. Berdasarkan laporan World Health
Organization (WHO) tahun 2011 mengenai perkiraan kasus TB secara global
disebutkan bahwa pada tahun 2010 terdapat insidensi TB sebanyak 8,59,2 juta
kasus per tahun, sedangkan pada tahun 2009 terdapat 1,7 juta kematian akibat TB.
Pengendalian TB saat ini diperkirakan mulai mengalami kendala seiring dengan
peningkatan jumlah pasien diabetes mellitus (DM) di dunia, yaitu terdapat sekitar
285 juta pasien DM dan akan bertambah menjadi 438 juta di tahun 2030. 1,2
Di Indonesia penyakit ini adalah pembunuh nomor satu di antara penyakit
menular dan merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung
dan penyakit pernapasan akut pada seluruh kalangan usia. Meskipun keberhasilan
strategi dalam mengontrol kasus TB cukup tinggi, keberadaan TB di berbagai
belahan dunia menunjukkan kebutuhan untuk mengidentifikasi berbagai faktor
yang meningkatkan risiko terjadinya TB, antara lain usia dan imunitas.1,2
Meskipun strategi kontrol kasus TB paru cukup berhasil, World Health
Organization (WHO) menduga pengendalian TB paru makin dipersulit dengan
peningkatan jumlah penderita diabetes melitus (DM). Saat ini telah diketahui
bahwa pada penderita diabetes mempunyai gangguan respons imun tubuh,
sehingga dapat memfasilitasi infeksi M.Tb dan menimbulkan penyakit TB paru.
Penderita DM memiliki risiko 2 hingga 3 kali lebih tinggi untuk mengidap
penyakit TB paru dibandingkan penderita tanpa DM.3
Istilah DM menggambarkan suatu kelainan metabolik dengan berbagai
etiologi yang ditandai oleh hiperglikemia kronis dengan gangguan metabolisme
karbohidrat, protein, dan lemak, sebagai akibat defek pada sekresi insulin, kerja
insulin, atau keduanya. DM dapat meningkatkan frekuensi maupun tingkat

keparahan suatu infeksi. Hal tersebut disebabkan oleh adanya abnormalitas dalam
imunitas yang diperantarai oleh sel dan fungsi fagosit berkaitan dengan
hiperglikemia, termasuk berkurangnya vaskularisasi.4
Dalam dua dekade terakhir terjadi peningkatan prevalensi DM, terutama
DM tipe II. Hal ini disebabkan oleh perubahan gaya hidup, meningkatnya
obesitas, dan berkurangnya aktivitas yang umumnya terjadi pada negara-negara
yang mulai mengalami industrialisasi. Peningkatan prevalensi DM, sebagai faktor
risiko TB juga disertai dengan peningkatan prevalensi TB. Para ahli mulai
memberi perhatian pada epidemi DM dan TB, terutama pada negara-negara
berpenghasilan rendah-menengah, seperti Cina dan India yang mengalami
peningkatan prevalensi DM tercepat dan memiliki beban TB tertinggi di dunia.4
Definisi
Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi paru yang disebabkan oleh kuman
Mycobacterium tuberculosis.3
Etiologi
Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh kuman dari
kelompok Mycobacterium yaitu Mycobacterium tuberculosis. Terdapat beberapa
spesies Mycobacterium, antara lain: M. tuberculosis, M. africanum, M. bovis, M.
leprae dsb. yang juga dikenal sebagai Bakteri Tahan Asam (BTA). Kelompok
bakteri

Mycobacterium

menimbulkan

gangguan

selain

Mycobacterium

pada

saluran

nafas

tuberculosis
dikenal

yang

sebagai

bisa

MOTT

(Mycobacterium Other Than Tuberculosis) yang terkadang bisa mengganggu


penegakan diagnosis dan pengobatan TB. Untuk itu pemeriksaan bakteriologis
yang mampu melakukan identifikasi terhadap Mycobacterium tuberculosis
menjadi sarana diagnosis ideal untuk TB.1
Secara umum sifat kuman TB (Mycobacterium tuberculosis) antara lain adalah
sebagai berikut :1

Berbentuk batang dengan panjang 1 10 mikron, lebar 0,2 0,6 mikron.


Bersifat tahan asam dalam pewarnaan dengan metode Ziehl Neelsen.

Memerlukan media khusus untuk biakan, antara lain Lowenstein Jensen,

Ogawa.
Kuman nampak berbentuk batang berwarna merah dalam pemeriksaan

dibawah mikroskop.
Tahan terhadap suhu rendah sehingga dapat bertahan hidup dalam jangka

waktu lama pada suhu antara 4C sampai minus 70C .


Kuman sangat peka terhadap panas, sinar matahari dan sinar ultraviolet.
Paparan langsung terhadap sinar ultraviolet, sebagian besar kuman akan

mati dalam waktu beberapa menit.


Dalam dahak pada suhu antara 30 37C akan mati dalam waktu lebih

kurang 1 minggu.
Kuman dapat bersifat dormant (tidur / tidak berkembang)

Epidemiologi
Prevalensi TB meningkat seiring dengan peningkatan prevalensi DM. Frekuensi
DM pada pasien TB dilaporkan sekitar 10-15% dan prevalensi penyakit infeksi ini
2-5 kali lebih tinggi pada pasien diabetes dibandingkan dengan kontrol yang nondiabetes. Dalam studi terbaru di Taiwan disebutkan bahwa diabetes merupakan
komorbid dasar tersering pada pasien TB yang telah dikonfirmasi dengan kultur,
terjadi pada sekitar 21,5% pasien. Prevalensi TB paru meningkat seiring dengan
peningkatan prevalensi DM. Studi Dobler, dkk. di Australia (2012) dan Leung,
dkk.di Hong Kong (2008) menemukan penderita DM dengan kadar HbA1c >7%
lebih banyak menderita TB paru. Simpulan penelitian tersebut bahwa kondisi
hiperglikemia, bahkan pengguna insulin berisiko tinggi menderita TB paru.5
Alisjahbana, dkk. menyatakan bahwa lebih dari 10% penderita TB paru di dunia
adalah penduduk Indonesia. Penelitiannya di Indonesia pada tahun 2001-2005,
melaporkan 40% penderita TB paru memiliki riwayat DM. Pada penderita DM,
ditemukan 60 kasus TB paru di antara 454 penderita; risiko penderita DM untuk
mengalami TB paru sebesar 4,7 kali lipat.4
Patogenesis Tuberkulosis
Penularan TB umumnya terjadi melalui droplet, yang dikeluarkan dengan cara
batuk, bersin, atau percikan ludah orang terinfeksi TB paru. Droplet ini dapat

bertahan di udara dalam waktu beberapa jam. Diameter droplet yang sangat kecil
(<5-10 m) menyebabkan droplet tersebut dapat mencapai jalan napas terminal
jika terhirup dan membentuk sarang pneumonia, yang dikenal sebagai sarang
primer atau afek primer. Dari sarang primer dapat terjadi peradangan saluran
getah bening (limfangitis lokal) yang diikuti pembesaran kelenjar getah bening di
hilus (limfadenitis regional). Afek primer bersama-sama dengan limfangitis dan
limfadenitis regional membentuk kompleks primer. Kompleks primer ini dapat
sembuh tanpa meninggalkan cacat, sembuh dengan meninggalkan fibrotik atau
kalsifikasi, ataupun menyebar secara perkontinuitatum, bronkogen, limfogen,
maupun hematogen. Kejadian tersebut merupakan perjalanan tuberculosis
primer.1,2
Tuberkulosis pasca primer terjadi bertahun-tahun setelah tuberkulosis primer.
Bentuk tuberkulosis ini menjadi masalah kesehatan karena dapat menjadi sumber
penularan. Tuberkulosis pasca primer diawali dengan pembentukkan sarang dini
(sarang pneumonia), umumnya di segmen apical lobus superior maupun inferior.
Sarang pneumonia tersebut dapat diresorbsi dan sembuh tanpa cacat, meluas dan
menyembuh dengan fibrotic dan perkapuran, atau meluas dan mengalami nekrosis
kaseosa membentuk kavitas. Kavitas tersebut dapat meluas dan membentuk
sarang pneumonia baru, membentuk tuberkuloma, atau menyembuh membentuk
kavitas terbuka yang sembuh.1,2
Baik imunitas alamiah maupun imunitas adaptif berperan dalam mekanisme
defensi terhadap M. tuberculosis. Imunitas alamiah yang diawali oleh ikatan
antara M. tuberculosis dengan reseptor fagosit dan masuknya M. tuberculosis ke
dalam makrofag alveolar, sel dendrit, maupun monosit, merupakan kunci untuk
terbentuknya imunitas adaptif terhadap M. tuberculosis. Imunitas adaptif berupa
imunitas yang diperantarai oleh sel, akan menimbulkan resistensi terhadap M.
tuberculosis dan menyebabkan terbentuknya hipersensitivitas terhadap antigen
TB. Imunitas alamiah dan imunitas adaptif tersebut akan menentukan hasil akhir
dari paparan terhadap M. Tuberculosis.4

Gambar 1. Patofisiologi Tuberkulosis : inhalasi basil (A), terkurung dalam granuloma (B),
rusaknya granuloma pada individu immunodefisiensi (C).12

Terdapat tiga kemungkinan hasil akhir paparan M. tuberkulosis. Pada beberapa


orang, kuman TB ini langsung segera dieliminasi oleh pejamu setelah inhalasi.
Frekuensi dan penyebab dari penyembuhan spontan tidak diketahui dengan pasti.
Kemungkinan kedua dan kelompok terbesar ialah bertahannya infeksi melalui
keberhasilan pembentukan granuloma, sebuah fungsi respon imun alamiah dan
adaptif yang kuat oleh pejamu dan menghasilkan infeksi laten. Pada kelompok ini,
reaktivasi dari infeksi laten dapat terjadi akibat beberapa faktor, seperti penuaan

atau status imunokompromais dari pejamu. Pada sejumlah kecil pejamu yang
terinfeksi, imunitas adaptif gagal dan terbentuklah infeksi primer.1
Stadium awal TB primer ditandai oleh proliferasi M. tuberculosis di dalam
makrofag alveolar. Proliferasi ini pada akhirnya dapat menyebabkan lisis
makrofag. Lisisnya makrofag melepaskan berbagai kemoatraktan, seperti
komplemen, molekul bakteri, dan sitokin yang merekrut dan mengaktivasi lebih
banyak makrofag imatur, termasuk sel dendrit. Makrofag-makrofag tersebut
kemudian bermigrasi ke dalam aliran limfatik dan mempresentasikan antigen M.
tuberculosis pada limfosit T, dengan perantara MHC kelas II. Pada saat ini,
pembentukan imunitas yang diperantarai sel dimulai. Reseptor menyerupai Toll
(TLR) juga diperkirakan memiliki peranan dalam pembentukan imunitas adaptif
terhadap M. tuberculosis. Akibat utama dari interaksi antara TLR pada makrofag
dan sel dendrit dengan M. tuberculosis adalah terjadinya sekresi sitokin dan
kemokin. Sitokin dan kemokin ini selanjutnya bertanggung jawab dalam
pembentukan respon imun adaptif terhadap M. tuberculosis. 1,6
Limfosit T CD4 merupakan sel yang memainkan peran paling penting dalam
respon imun adaptif terhadap M. tuberculosis. Apoptosis atau lisis sel-sel yang
terinfeksi oleh sel T CD4 juga dapat memainkan peranan dalam mengontrol
infeksi. Limfosit T CD4 ini akan berdiferensiasi menjadi sel Th1 dan Th2, yang
memproduksi sitokin. Pada saat ini, dikenal tiga jenis sitokin yang menginduksi
perubahan sel T menjadi Th1. Ketiga jenis sitokin tersebut adalah IL-12, yang
merupakan sitokin yang dominan dalam induksi dan pemeliharaan Th1; IL-23,
yang memiliki aktivitas pada sel T memori; dan IL-27, yang terlibat dalam inisiasi
Th1. Th1 memproduksi IFN- dan IL-2, sedangkan Th2 memproduksi IL-4, IL-5,
IL-10, IL-13, dan berperan pada timbulnya imunitas humoral. Namun, hingga saat
ini peran sel Th2 pada TB masih kontroversial. Limfosit T CD8 juga memiliki
peranan dalam proteksi terhadap TB. Sel CD8 juga memiliki kemampuan untuk
mensekresi sitokin, seperti IFN- dan IL-4, dan berperan dalam meregulasi
keseimbangan sel Th1 dan Th2 pada paru pasien dengan TB paru. 1,6
Selain menstimulasi makrofag untuk membunuh M. tuberculosis, respons Th juga
merancang pembentukan granuloma dan nekrosis kaseosa. Makrofag teraktivasi,

yang distimulasi oleh IFN-, memproduksi tumor necrosis factor (TNF), yang
merekrut monosit. Monosit-monosit ini berdiferensiasi menjadi histiosit epiteloid,
yang merupakan gambaran respon granulomatosa. Pada sebagian orang, respon
ini tidak menimbulkan destruksi jaringan yang signifikan maupun penyakit. Akan
tetapi pada sebagian orang yang lain, infeksi bersifat progresif menyebabkan
destruksi jaringan melalui nekrosis kaseosa dan kavitasi. Progresivitas infeksi ini
berkaitan dengan umur dan imunosupresi. Di samping itu, TNF juga berperanan
dalam menginduksi terbentuknya reactive nitrogen intermediates dan terjadinya
apoptosis makrofag yang terinfeksi, sehingga mengurangi jumlah kuman.1,6

Gambar 2. Patofisiologi dari infeksi yang berkaitan dengan DM3

Kemungkinan penyebab meningkatnya insiden tuberculosis paru pada pengidap


diabetes dapat berupa defek pada fungsi sel-sel imun dan mekanisme pertahanan
pejamu. Mekanisme yang mendasari terjadinya hal tersebut masih belum dapat
dipahami hingga saat ini, meskipun telah terdapat sejumlah hipotesis mengenai
peran sitokin sebagai suatu molekul yang penting dalam mekanisme pertahanan

manusia terhadap TB. Selain itu, ditemukan juga aktivitas bakterisidal leukosit
yang berkurang pada pasien DM, terutama pada mereka yang memiliki kontrol
gula darah yang buruk. Meningkatnya risiko TB pada pasien DM diperkirakan
disebabkan oleh defek pada makrofag alveolar atau limfosit T. Terdapat
peningkatan jumlah makrofag alveolar matur (makrofag alveolar hipodens) pada
pasien TB paru aktif. Namun, tidak ditemukan perbedaan jumlah limfosit T yang
signifikan antara pasien TB dengan DM dan pasien TB saja. Proporsi makrofag
alveolar matur yang lebih rendah pada pasien TB yang disertai DM
bertanggungjawab terhadap lebih hebatnya perluasan TB dan jumlah bakteri
dalam sputum pasien TB dengan DM. Pada plasma darah manusia didapatkan
bahwa tidak ada perbedaan produksi sitokin antara pasien TB dengan atau tanpa
DM. Jika pasien dengan DM tipe 2 dibandingkan dengan kontrol yang sehat,
produksi IFN- spesifik M. tuberculosis sama saja, tetapi produksi IFN- yang
non-spesifik berkurang secara signifikan pada kelompok DM. Diduga bahwa
berkurangnya IFN- yang non-spesifik tersebut menunjukkan adanya defek pada
respon imun alamiah yang berperan pada meningkatnya risiko pasien DM untuk
mengalami TB aktif.4
Derajat hiperglikemi juga berperan dalam menentukan fungsi mikrobisida pada
makrofag. Pajanan kadar gula darah sebesar 200 mg% secara signifikan dapat
menekan fungsi penghancuran oksidatif dari makrofag. Penderita DM yang
kurang terkontrol dengan kadar hemoglobin terglikasi (HbA1c) tinggi
menyebabkan TB menjadi lebih parah dan berhubungan dengan mortalitas yang
lebih tinggi. Selain terjadi kerusakan pada proses imunologi, pada pasien DM
juga terdapat gangguan fisiologis paru seperti hambatan dalam proses
pembersihan sehingga memudahkan penyebaran infeksi pada inang. Glikosilasi
non enzimatik pada protein jaringan menginduksi terjadinya gangguan pada
fungsi mukosilier atau menyebabkan neuropati otonom diabetik sehingga
menyebabkan abnormalitas pada tonus basal jalan napas yang mengakibatkan
menurunnya reaktifitas bronkus serta bronkodilatasi.7
Tabel 1. Defek Imunologi dan fungsi fisiologi pulmonal pada penderita diabetes melitus3

Diabetes melitus merupakan penyakit kronik yang berkaitan dengan gangguan


fungsi imunitas tubuh, sehingga penderita lebih rentan terserang infeksi, termasuk
TB paru. Penyebab infeksi TB paru pada penderita DM adalah karena defek
fungsi sel-sel imun dan mekanisme pertahanan tubuh, termasuk gangguan fungsi
dari epitel pernapasan serta motilitas silia. Paru pada penderita DM akan
mengalami perubahan patologis, seperti penebalan epitel alveolar dan lamina
basalis kapiler paru yang merupakan akibat sekunder dari komplikasi
mikroangiopati sama seperti yang terjadi pada retinopati dan nefropati. Gangguan
neuropati saraf autonom berupa hipoventilasi sentral dan sleep apneu. Perubahan
lain yang juga terjadi yaitu penurunan elastisitas rekoil paru, penurunan kapasitas
difusi karbonmonoksida, dan peningkatan endogen produksi karbondioksida.8
Manifestasi Klinis
Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2 minggu atau lebih.
Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah, batuk
darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun.1
Kondisi neuropati, mikro dan makroangiopati serta gangguan respons imun dapat
memberikan perbedaan gejala klinis TB pada pasien DM dengan non DM.
Gangguan motilitas silia memungkinkan turunnya reflek batuk, namun gangguan
mikro dan makroangiopati yang terjadi dapat menimbulkan kegagalan migrasi
sistem imun, yang dapat menyebabkan kondisi penyakit yang lebih buruk.
Alisjahbana dkk. dalam penelitiannya di Indonesia menunjukkan bahwa pasien
TB dengan DM sebelum mendapatkan terapi memiliki gejala yang lebih banyak
dibandingkan pasien TB tanpa DM. Meskipun begitu tidak ada bukti terdapatnya
kondisi penyakit yang lebih parah jika dilihat dari pemeriksaan darah,

bakteriologi, maupun radiologi. Gejala yang dilihat dari penelitian ini adalah
batuk, hemoptisis, sesak napas, demam, keringat malam, dan penurunan berat
badan, masing masing gejala diberikan poin 1 dengan total 6. Skor gejala lebih
dari 4 digolongkan dengan gejala yang berat. Dengan demikian pada pasien TB
yang juga menderita DM dapat ditemukan gejala, seperti batuk, batuk berdarah,
sesak nafas, demam, keringat malam, dan penurunan berat badan, namun gejala
cenderung lebih banyak dan keadaan umum lebih buruk.10
Diagnosis
Diagnosis tuberkulosis dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan
fisik, pemeriksaan bakteriologi, radiologi, dan pemeriksaan penunjang lainnya.
Gejala klinis yang dapat timbul, antara lain demam dan keringat malam,
penurunan berat badan, batuk lebih dari 2 minggu, batuk darah, sesak napas, dan
nyeri dada. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan suara napas bronkial,
amforik, suara napas yang melemah, dan rhonki basah. Diagnosis pasti
tuberkulosis paru adalah dengan menemukan kuman Mycobacterium tuberculosis
dalam sputum atau jaringan paru biakan. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan
adalah dengan pencitraan radiologi.1

Gambar 3. Alur Diagnosis dan tindak lanjut TB Paru pada pasien dewasa1

Secara radiologis, TB paru pada penderita DM sering menunjukkan gambaran dan


distribusi radiografi yang atipikal; pada penderita TB tanpa DM kavitas atau
infiltrat banyak ditemukan pada lobus atas, sedangkan pada penderita TB paru
disertai DM, lapangan paru bawah lebih sering terlibat (29% pada kasus dengan
DM, 4,5% pada kasus non-DM), diikuti lobus atas kemudian tengah. Gambaran
radiologi atipikal TB paru disebabkan karena penderita DM memiliki gangguan
imunitas seluler dan disfungsi sel leukosit polimorfonuklear (PMN). Penurunan
jumlah dan aktivitas bakterisidal, kemotaktik dan fagositik, diduga menjadi faktor
utama yang berperan terhadap timbulnya lesi dan kavitas di lapangan paru
bawah.9
Tatalaksana
Prinsip pengobatan TB paru pada pasien DM serupa dengan yang bukan pasien
DM, dengan syarat kadar gula darah terkontrol. Prinsip pengobatan obat antituberkulosis (OAT) terdiri dari dua fase, yaitu fase intensif selama 2 sampai 3
bulan dan fase lanjutan selama 4 sampai 6 bulan. Lini pertama pengobatan TB
paru

menggunakan

rifampisin,

isoniazid,

pirazinamid,

etambutol,

dan

streptomisin. Tatalaksana pengobatan pada penderita TB paru yang memiliki DM


sama dengan penderita TB paru saja, akan tetapi lebih sulit, terutama karena ada
beberapa hal penting yang harus diperhatikan, yaitu interaksi antar obat TB paru
dengan obat DM dan efek samping obat. Apabila gula darah tidak terkontrol,
pengobatan perlu dilanjutkan hingga 9 bulan.1 Tahun 2011, American Diabetes
Association (ADA) merekomendasikan target HbA1c kurang dari 7% atau setara
dengan gula darah sewaktu sebesar 130 mg/dL.11
Dosis harian rifampisin adalah 8-12 mg/kgBB/hari, maksimal 600 mg. Efek
samping rifampisin yang sering yaitu hepatitis imbas obat (HIO) termasuk mual
dan muntah, serta warna kemerahan pada urin, keringat, dan air mata. Obat DM
golongan sulfonylurea dan thiazolidinedion (TZD) dimetabolisme di hati oleh
enzim sitokrom P450 dan enzim ini diinduksi kuat oleh rifampisin, sehingga kadar
obat antidiabetik tersebut jika diberikan bersamaan dengan rifampisin akan
mengalami penurunan (sulfonilurea 22%-30%, TZD 54%-64%). Metformin tidak
dipengaruhi oleh rifampisin. Kadar plasma obat rifampisin pada pasien TB paru

dengan DM hanya 50% dari kadar rifampisin pasien TB paru tanpa DM.
Konsentrasi plasma maksimal rifampisin di atas target (8 mg/L) hanya ditemukan
pada 6% pasien, sedangkan pada yang bukan DM ditemukan 47%. Hal ini dapat
menjelaskan mengapa respons pengobatan pasien TB paru dengan DM lebih
rendah dibandingkan dengan pasien TB tanpa DM.10
Tabel 2. Dosis OAT lini pertama bagi pasien dewasa1

Isoniazid (INH) merupakan penghambat P450 sehingga dapat mengurangi efek


rifampisin, tetapi pemberian INH dan rifampisin secara bersamaan tetap akan
meningkatkan enzim hati. Dosis harian INH adalah 4-6 mg/kgBB/hari, maksimal
300 mg. Efek samping berupa gejala-gejala saraf tepi, kesemutan, rasa terbakar di
kaki, dan nyeri otot. Pasien DM juga sering disertai dengan gejala neuropati,
maka perlu diberi vitamin B6 (piridoksin) 100 mg/hari untuk mencegah neuropati
perifer akibat pemberian INH.1,4
Dosis harian etambutol 15-20 mg/kgBB/hari. Pemberian etambutol pada penderita
DM harus hati-hati karena efek sampingnya adalah penurunan tajam penglihatan,
serta buta warna hijau dan merah, padahal penderita DM sering mengalami
retinopati. Dosis harian pirazinamid 20-30 mg/kgBB/ hari. Efek samping
utamanya adalah hepatitis imbas obat; dapat terjadi nyeri sendi yang dapat
ditanggulangi dengan aspirin. Pirazinamid dan etambutol tidak mempengaruhi
kadar obat antiglikemik dalam darah. Dosis harian streptomisin 12-18
mg/kgBB/hari dengan dosis maksimal 1000 mg. Efek samping utamanya adalah

kerusakan nervus VIII yang berkaitan dengan keseimbangan dan pendengaran.


Keadaan dapat pulih kembali jika obat dihentikan.1,4
Tabel 3. Efek Samping OAT dan Penatalaksanaan1

Rifampisin dan INH diduga tidak berpengaruh terhadap insulin karena insulin
didegradasi di hati melalui hidrolisis disulfida antara rantai A dan rantai B oleh
insulin degrading enzyme (IDE). Setelah selesai pengobatan TB paru, dapat
dilanjutkan kembali dengan obat anti-diabetes oral.7
Prognosis
Penderita TB paru dengan DM memiliki risiko kematian lebih tinggi
dibandingkan penderita TB paru tanpa DM selama terapi dan juga peningkatan
risiko kekambuhan setelah pengobatan dan penularan yang lebih besar.9

1. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). Tuberkulosis: Pedoman


diagnosis dan penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta: Indah Off set Citra
Grafika; 2011.
2. Raviglione MC, OBrien RJ. Tuberculosis. Dalam: Fauci AS, Braunwald
E, Kasper DL, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL, et al. penyunting.

Harrisons Principles of Internal Medicine. Edisi ke-17. USA: The


McGraw-Hill Companies, Inc.; 2008.h.1006-20.
3. Wijaya, Indra. Tuberkulosis Paru Pada Penderita Diabetes Melitus. CDK229/ vol. 42 no. 6, th. 2015.
4. Cahyadi A, Venty. Tuberkulosis paru pada pasien diabetes melitus. J Indon
Med Assoc. 2011;61(4):173-8.
5. World Health Organization. Global tuberculosis report: 2012. France:
World Health Organization; 2012.
6. Bhatt K, Salgame P. Host innate immune response to Mycobacterium
tuberculosis. J Clin Immunol. 2007;27(4):347-62.
7. Wulandari DR, Sugiri YJ. Diabetes melitus dan permasalahannya pada
infeksi tuberkulosis. J Respir Indon. 2013;33(2):126-34.
8. Kapur A, Harries AD, Lonnroth K, Bygbjerg C, Lefebvre P. Diabetes and
tuberculosis-old associates posing a renewal public health challenge. US
Endrocinology. 2009;5(1):12-14.
9. Casqueiro J, Casqueiro J, Alves C. Infections in patients with diabetes
mellitus: A review of pathogenesis. Indian J Endocrinol Metab.
2012;16(1):S27-S36.
10. Alisjahbana B, Sahiratmadja E, Nelwan EJ, Purwa AM, Ahmad Y,
Ottenhoff THM, et al. The effect of type 2 diabetes mellitus on the
presentation and treatment response of pulmonary tuberculosis. Clin Infect
Dis. 2007; 45:428-35.
11. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. Konsensus pengelolaan dan
pencegahan diabetes melitus tipe 2 di Indonesia. Jakarta: PB PERKENI;
2011.
12. Knechel Nancy. Tuberculosis : Pathophysiology, Clinical Features, and
Diagnosis. American Association of Critical Care Nurse Vol 29, No. 2,
April 2009.