Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tuberkulosis paru (TB) adalah masalah kesehatan masyarakat yang
penting di dunia ini1.Tuberkuosis paru merupakan penyakit infeksi menular
yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan paling sering
bermanifestasi di paru. Mikobakterium ini ditransmisikan melalui droplet di
udara, sehingga seorang

penderita tuberculosis paru merupakan sumber

penyebab penularan tuberculosis paru pada populasi di sekitarnya.1


Menurut WHO (2006) dilaporkan angka prevalensi kasus penyakit
tuberculosis paru di Indonesia 130/100.000, setiap tahun ada 539.000 kasus
baru dan jumlah kematian sekitar 101.000 pertahun, angka insidensi kasus
Tuberkulosis paru BT (+) sekitar 110/100.000 penduduk. Penyakit ini
mrupakn penyebab kematian urutan ketiga, setelah penyakit jantung dan
penyakit saluran pernafasan.2 WHO dalam Annual Report on Global TB
Control (2003) menyatakan terdapat 22 negara dikategorikan sebagai high
burden countries terhadap tuberculosis paru, termasuk Indonesia dan
Indonesia menempati urutan ketiga di dunia dalam hal penderita tuberculosis
paru setelah India dan China.2 Di Indonesia tahun 2004 tercatat 627.000
insiden tuberculosis paru dengan 282.000 diantaranya positif pemeriksaan
dahak.3
Konsekuensi yang dapat terjadi pada penderita TB paru yang tidak
melakukan pengobatan, setelah lima tahun menderita diprediksikan 50% dari
penderita TB paru akan meninggal. Sedangkan sekitar 25% akan sembuh
sendiri dengan daya tahan tubuh tinggi dan 25% lainnya sebagai kasus
kronis yang tetap menular (WHO, 1996).4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Definisi
Tuberkulosis paru adalah suatu penyakit yang menyerang jaringan
paru

disebabkan

infeksi

basil

Mycobacterium

tuberculosis

(M.

tuberculosis).1
2.2

Epidemiologi
Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan dunia yang penting
khususnya di negara berkembang. Pada bulan Maret tahun 1993 World
Health Organization (WHO) telah mendeklarasikan tuberkulosis sebagai
Global Health Emergency. Berdasarkan laporan Penanggulangan TB
Global yang dikeluarkan oleh WHO pada tahun 2007, angka insidensi TB
pada tahun 2007 mencapai 555.000 kasus (256 kasus/100.000 penduduk),
dan 46% diantaranya diperkirakan merupakan kasus baru. Asia termasuk
kawasan dengan penyebaran tuberkulosis (TB) tertinggi di dunia sebesar
33%. Setiap 30 detik, ada satu pasien di Asia meninggal dunia akibat
penyakit ini.2,3,4
Indonesia adalah negara dengan prevalensi TB ke-3 tertinggi di dunia
setelah Cina dan India Perkiraan kejadian BTA positif di Indonesia adalah
266.000 kasus tahun 1998. TB menempati peringkat nomor 3 sebagai
penyebab kematian teringgi di Indonesia setelah penyakit jantung dan
penyakit pernafasan akut pada seluruh kalangan usia.2

2.3

Etiologi
Mikobakterium tipe humanus dan tipe bovinus adalah mikobakterium
yang paling banyak menyebabkan penyakit tuberkulosis. Kuman ini
berbentuk batang, bersifat aerob, dinding sel mengandung; lipid, fosfatida
polisakarida, tuberkulo protein, mudah mati pada air mendidih (5 menit
pada suhu 800C, dan 20 menit pada suhu 600C), dan apabila terkena sinar
ultraviolet (matahari). Basil tuberkulosis tahan hidup berbulan-bulan pada
suhu kamar dan ruangan yang lembab. Ia mempunyai sifat khusus yaitu

tahan terhadap asam pada pewarnaan, oleh karena itu disebut pula sebagai
Basil Tahan Asam (BTA).1,4,5
2.4

Cara Penularan
Penularan penyakit ini melalui inhalasi droplet khususnya yang
didapat dari pasien TB paru dengan batuk berdarah atau berdahak yang
mengandung BTA positif. Pada waktu batuk atau bersin, penderita
menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan Dahak).
Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup kedalam saluran
pernapasan. Dalam 1 tahun, 1 penderita TB BTA positif menularkan 10-15
orang. Selama kuman TB masuk kedalam tubuh manusia melalui
pernapasan, kuman TB tersebut dapat menyebar dari paru kebagian tubuh
lainnya, melalui sistem peredaran darah, sistem saluran limfe, salura
napas,atau penyebaran langsung kebagian-bagian tubuh lainnya.1,5,6
Risiko mendapat infeksi Mycobacterium tuberculosis ditentukan
terutama oleh faktor-faktor eksogen :3
a. Kontak dengan penderita BTA positif (seberapa dekat dan seberapa
lama)
b. Lingkungan tempat kontak (lingkungan yang padat dan ventilasi ruang
yang buruk)
Sedangkan faktor-faktor endogen :3
a. Daya tahan tubuh
b. Usia
c. Penyakit penyerta (infeksi HIV, silikosis, limfoma, leukemia,
malnutrisi, gagal ginjal kronis, diabetes melitus, orang dengan terapi
imunosupresif dan hemophilia)

Gambar 2.1 Faktor risiko kejadian tuberculosis paru 2


2.5

Patogenesis
2.5.1

Tuberkulosis Primer
Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan

kuman TB. Droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya, sehingga dapat
melewati sistem pertahanan mukosillier bronkus, dan terus berjalan ke
alveolus dan menetap di sana. Bila kuman menetap di jaringan paru,
berkembang biak dalam sitoplasma makrofag. Di sini kuman dapat terbawa
masuk ke organ tubuh lainnya. Kuman yang bersarang di jaringan paru
akan berbentuk sarang tuberkulosis pneumonia kecil dan disebut kompleks
primer atau fokus Ghon. Kompleks primer ini dapat terjadi di setiap bagian
jaringan paru. Waktu antara terjadinya infeksi sampai pembentukan
kompleks primer adalah 3-8 minggu.1-4
Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan reaksi
tuberkulin dari negatif menjadi positif. Kelanjutan setelah infeksi primer
tergantung kuman yang masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh
(imunitas seluler). Pada umumnya reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat
menghentikan perkembangan kuman TB. Meskipun demikian, ada
beberapa kuman akan menetap sebagai kuman persisten atau dormant
(tidur). Kadang-kadang daya tahan tubuh tidak mampu menghentikan

perkembangan kuman, akibatnya dalam beberapa bulan, yang bersangkutan


akan menjadi penderita Tuberkulosis.3,4,6
Kompleks primer tersebut selanjutnya dapat menjadi:2
1. Sembuh sama sekali tanpa meninggalkan cacat. Ini yang paling sering
terjadi.
2. Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas berupa garis-garis
fibrotik, kalsifikasi di hilus dan 10% diantaranya dapat terjadi
reaktivasi lagi karena kuman yang dormant.
3. Berkomplikasi dan menyebar secara :
a. Per kontinuitatum, yakni menyebar kesekitarnya
b. Secara bronkogen pada paru yang bersangkutan maupun paru di
sebelahnya. Kuman ini juga tertelan bersama sputum dan ludah
sehingga menyebar ke usus.
c. Secara hematogen, ke organ tubuh lainnya
d. Secara limfogen.
2.5.2

Tuberkulosis Post Primer (Sekunder)


Kuman yang dormant pada tuberkulosis primer

akan muncul

bertahun-tahun kemudian sebagai infeksi endogen menjadi tuberkulosis


dewasa (tuberkulosis post primer = TB pasca primer = TB sekunder).
Mayoritas reinfeksi mencapai 90%. Tuberkulosis sekunder terjadi karena
imunitas menurun seperti malnutrisi, alkohol, penyakit maligna, diabetes,
AIDS dan gagal ginjal. Tuberkulosis pasca primer ini dimulai dari sarang
dini yang berlokasi di regio atas paru (bagian apikal-posterior lobus
superior atau inferior). Invasinya adalah ke daerah parenkim paru-paru dan
tidak ke nodus hiler paru. Sarang dini ini mula-mula juga berbentuk sarang
pneumonia kecil. Dalam 3-10 minggu sarang ini menjadi tuberkel yakni
suatu granuloma yang terdiri dari sel-sel histiosit dan sel Datia-Langhans
yang dikelilingi oleh sel-sel limfosit dan berbagai jaringan ikat.1-4
Sarang dini pada tuberkulosis sekunder ini akan mngikuti salah satu
jalan sebagai berikut:2-4
1. Direabsorbsi kembali dan sembuh tanpa meninggalkan cacat.

2. Sarang tersebut akan meluas dan segera terjadi proses penyembuhan


dengan

serbukan

jaringan

fibrosis.

Selanjutnya

akan

terjadi

pengapuran dan akan sembuh dalam bentuk perkapuran. Sarang


tersubut dapat menjadi aktif kembali dengan membentuk jaringan keju
dan menimbulkan kavitas bila jaringan keju dibatukkan keluar.
3. Sarang tersebut meluas, membentuk jaringan keju. Kavitas akan
muncul dengan dibatukkannya jaringan keju keluar. Kavitas awalnya
berdinding tipis, kemudian dindinganya akan menjadi tebal (kavitas
sklerotik).
Kavitas tersebut akan menjadi:
a. Meluas kembali dan menimbulkan sarang baru.
b. Memadat dan membungkus diri (enkapsulasi), dan disebut
tuberkuloma. Tuberkuloma dapat mengapur dan sembuh, dan
mungkin aktif kembali, mencair lagi dan terus menjadi kavitas lagi.
c. Bersih dan menyembuh yang disebut open healed cavity, atau
kavitas menyembuh dengan membungkus diri dan akhirnya
mengecil. Kemungkinan berakhir sebagai kavitas yang terbungkus
dan menciut sehingga kelihatan seperti bintang.

2.6

Klasifikasi
TB paru diklasifkasikan atas:2,7
a. Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak (BTA)
1. TB paru BTA(+)
2. TB paru BTA (-)
b. Berdasarkan lokasi
1. TB paru
2. TB extra paru
c. Berdasarkan tipe pasien
1. Kasus baru, bila pasien belum pernah mendapat pengobatan dengan
OAT atau sudah pernah menelan obat kurang dari satu bulan.
2. Kasus relaps (kambuh), bila pasien sebelumnya pernah mendapat
pengobatan TB dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap,
kemudian kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan sputum BTA
(+).
3. Kasus defaulted atau drop out , bila pasien telah menjalani pengobatan
1 bulan dan tidak mengambil obat 2 bulan berturut-turut atau lebih
sebelum masa pengobatan selesai.
4. Kasus gagal, bila pasien BTA positif yang masif tetap positif atau
kembali positif pada akhir bulan ke 5 atau akhir pengobatan.
5. Kasus kronik, bila pasien dengan hasil pemeriksaan BTA masih positif
setelah selesai pengobatan ulang dengan pengobatan kategori 2 dengan
pengawasan yang baik.
6. Kasus bekas TB, bila hasil pemeriksaan BTA negatif dan gambaran
radiologi paru menunjukkan lesi TB yang tidak aktif.

2.7

Gejala Klinis
Gejala klinis tuberkulosis dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu
gejala lokal (repiratorik) dan gejala sistemik.
a. Gejala Respiratorik2,3,8
Gejala respiratorik ini sangat bervariasi, dari mulai tidak ada gejala
sampai gejala yang cukup berat tergantung dari luas lesi.

1. Batuk
Batuk baru timbul apabila proses penyakit telah melibatkan
bronkus. Batuk 2 minggu dan mula-mula terjadi oleh karena iritasi
bronkus, selanjutnya akibat adanya peradangan pada bronkus batuk
akan menjadi produktif. Batuk produktif ini berguna untuk
membuang produk-produk ekskresi peradangan. Dahak dapat
bersifat mukoid atau purulen.
2. Batuk darah
Batuk darah terjadi akibat pecahnya pembuluh darah. Berat dan
ringannya batuk darah yang timbul tergantung dari besar kecilnya
pembuluh darah yang pecah. Batuk darah tidak selalu timbul akibat
pecahnya aneurisma pada dinding kavitas, juga dapat terjadi karena
ulserasi pada mukosa bronkus. Batuk darah inilah yang paling sering
membawa penderita berobat ke dokter.
3. Nyeri dada
Gejala ini jarang ditemukan. Nyeri dada timbul bila infiltrasi
radang sudah sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis.
Terjadi gesekan kedua pleura sewaktu pasien menarik/melepaskan
nafasnya.
4. Wheezing
Terjadi karena penyempitan lumen endobronkus yang disebabkan
oleh sekret, peradangan, jaringan granulasi dan ulserasi.
5. Dispneu
Gejala ini ditemukan pada penyakit yang lanjut dengan
kerusakan paru yang cukup luas. Pada awal penyakit gejala ini tidak
pernah didapatkan.
b. Gejala sistemik-4,8,9
1. Demam
Demam merupakan gejala pertama dari TB paru, biasanya
subfebril, mirip demam influenza yang segera mereda. Tergantung dari
daya tahan tubuh dan virulensi kuman, serangan demam yang berikut

dapat terjadi setelah 3 bulan, 6 bulan, 9 bulan (multiplikasi 3 bulan).


Demam dapat mencapai suhu tinggi yaitu 40-41C.
2. Keringat malam
Keringat malam bukanlah gejala yang patognomonis untuk
penyakit tuberkulosis paru. Keringat malam umumnya baru timbul bila
proses telah lanjut, kecuali pada orang-orang dengan vasomotor labil,
keringat malam dapat timbul lebih dini.
3. Malaise dan nafsu makan berkurang
Tuberkulosis bersifat radang menahun sehingga dapat terjadi rasa
tidak enak badan, pegal-pegal, nafsu makan berkurang, badan makin
kurus, sakit kepala dan mudah lelah.
4. Gangguan Menstruasi
Terjadi pada proses tuberkulosis paru sudah menjadi lanjut.
2.8

Diagnosis
Diagnosis tuberkulosis paru dibuat atas dasar1,3,4,8:
a. Anamnesa
Dari anamnesa didapatkan keluhan pasien berupa keluhan respiratorik
dan keluhan sistemik.
b. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan pertama terhadap keadaan umum pasien mungkin
ditemukan konjungtiva dan kulit yang pucat karena anemia, suhu demam
subfebris, badan kurus atau berat badan menurun.
Dasar kelainan anatomis tuberkulosis paru terletak pada lobuli, jadi
meliputi alveoli dan beberapa bronkiolus terminalis. Tanda-tanda dini
berupa konsolidasi serta didapatkan sekret dibronkus kecil. Karena proses
menjalar pelan-pelan dan menahun, maka biasanya penderita datang
dengan keadaan yang sudah lanjut sehingga kelainan fisik mudah
diketahui, berupa:
-

Kelainan parenkim yaitu konsolidasi, fibrosis, atelektasis,


dan/atau kerusakan parenkim dengan sisa suatu kavitas.

Kelainan saluran pernafasan : berupa radang dari mukosa


disertai dengan penyempitan maupun penimbunan sekret.

Kelainan pleura : oleh karena proses terletak dekat pleura,


maka hampir selalu terjadi reaksi pleura berupa penabalan atau nyeri
pleura.
Konsolidasi dan fibrosis pada parenkim paru dengan saluran
pernafasan yang masih terbuka akan meningkatkan penghantaran
getaran suara sehingga fremitus suara meningkat. Suara nafas menjadi
bronko-vesikuler atau bronkial, didapatkan bronkofoni atau suara bisik
yang disebut whispered pectoraliloque.
Sekret yang berada didalam bronkus akan menyebabkan suara
tambahan berupa ronki basah. Suara ronki kasar atau halus tergantung
dari

tempat

sekret

berada.

Penyempitan

saluran

pernafasan

menimbulkan ronki kering, dan penyempitan ini disertai kavitas dapat


terdengar suara yang disebut hallow sound sampai amforik.
c. Pemeriksaan laboratorium

Sputum
Sputum

dijadikan

tanda

yang

patognomonis,

dengan

ditemukannya kuman BTA, diagnosis tuberkulosis sudah dapat


dipastikan. Di samping itu pemeriksaan sputum juga dapat
memberikan evaluasi terhadap pengobatan yang sudah diberikan. BTA
dari sputum bisa juga didapat dengan cara bilasan bronkus, jaringan
paru, pleura, cairan pleura, cairan lambung, jaringan kelenjar, cairan
serebrospinal, urin dan tinja. Hal ini sering dikerjakan pada anak-anak
karena mereka sulit mengeluarkan dahaknya. Bila sputum sudah
didapat, kuman BTA pun kadang-kadang sulit ditemukan. Kuman baru
dapat ditemukan bila bronkus yang terlibat proses penyakit ini terbuka
ke luar. Cara pengambilan sputum yaitu 3 kali (sewaktu-pagi-sewaktu).
Pembacaan hasil pemeriksaan sediaaan sputum dilakukan dengan
menggunakan skala International Union Against Tuberkulosis and
Lung Disease (IUATLD), sebagai berikut:
a. Tidak ditemukan BTA dalam 100 lapang pandang, disebut negatif
b. Ditemukan 1-9 BTA dalam 100 lapang pandang, ditulis jumlah
kuman yang ditemukan.

10

c. Ditemukan 10-99 BTA dalam 100 lapang pandang, disebut + (1+)


d. Ditemukan 1-10 BTA dalam 1 lapang pandang disebut ++ (2+),
minimal dibaca 50 lapang pandang.
e. Ditemukan >10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut +++ (3+),
minimal dibaca 20 lapang pandang.
Hasil pemeriksaan dikatakan positif bila apabila sedikitnya
2 dari 3 spesimen SPS hasilnya positif. Bila hanya 1 spesimen yang
positif perlu diadakan pemeriksaan lebih lanjut yaitu pemeriksaan
rontgen dada atau pemeriksaan sputum SPS diulang.

Darah
Pemeriksaan darah tidak dapat digunakan sebagai pegangan untuk
menyokong diagnosis TB paru, karena hasil pemeriksaan darah tidak
menunjukkan gambaran yang khas. Tapi gambaran darah kadangkadang dapat membantu menentukan aktivitas penyakit.
-

Laju endap darah


Laju endap darah sering meningkat pada proses aktif, tetapi
laju endap darah yang normal tidak dapat mengesampingkan
proses tuberkulosis aktif.

Leukosit
Jumlah leukosit dapat normal atau sedikit meningkat pada
proses yang aktif.

Hemoglobin
Pada penyakit tuberkulosis berat sering disertai dengan
anemi derajat sedang. Bersifat normositik dan sering disebabkan
defisiensi besi.

Tes tuberkulin
Tes tuberkulin hanya menyatakan apakah seseorang individu
sedang atau pernah mengalami infeksi M. Tuberculosa, M. Bovis,
vaksinasi BCG dan Mycobacteria patogen lainnya.

d. Pemeriksaan Radiologis

11

Pemeriksaan standar ialah foto thoraks PA. Pada pemeriksaan foto


toraks, tuberkulosis dapat memberi gambaran bermacam-macam bentuk
(multiform). Gambaran radiologi yang dicurigai sebagai lesi TB aktif1 :
-

Bayangan berawan / nodular disegmen apikal dan posterior lobus atas


paru dan segmen superior lobus bawah paru.

Kaviti, terutama lebih dari satu, dikelilingi oleh bayangan opak


berawan atau nodular.

Bayangan bercak milier

Efusi pleura unilateral (umumnya) atau bilateral (jarang)

Gambaran radiologi yang dicurigai lesi TB inaktif :


-

Fibrotik

Kalsifikasi

Schwarte atau penebalan pleura


Luas lesi yang tampak pada foto toraks untuk kepentingan pengobatan

dapat dinyatakan sebagai berikut:


-

Lesi minimal, bila proses mengenai sebagian dari satu atau dua paru
dengan luas tidak lebih dari sela iga 2 depan, serta tidak dijumpai
kavitas

2.9

Lesi luas, bila proses lebih luas dari lesi minimal.

Diagnosis Banding
Pada proses paru minimal sebagai diagnosis banding adalah simple
bronchopneumonia, kanker paru stadium dini, dan pneumonia lobaris. Pada
proses tuberkulosis menahun perlu diingat bahwa ada penyakit paru non
tuberkulosis yang bersifat menahun, seperti bronkiektasis, bronkitis,
emfisema dan kanker paru.4,8
a.

Simple bronkopneumonia1
Terdapat pada bronkiolus

dan

bronkus.

Disebabkan

oleh

streptococcus, hemophilus influenza, koliform dan jamur. Sering


ditandai dengan septikemia, demam dan kurang kesadaran. Juga terdapat
b.

bercak-bercak konsolidasi.1
Pneumonia lobaris1

12

Disebabkan oleh streptococcus pneumonia. Disertai dengan keluhan


batuk, nyeri dada, demam,dan sputum purulen. Pneumonia lobaris
c.

mengenai seluruh lobus.1


Kanker paru stadium dini1
Tidak ada stadium batuk berdarah. Ditemukan gambaran patologis

d.

ditemukan sel neoplasma.1


Bronkitis1
Ditandai dengan keluhan batuk, dyspneu dan takypneu. Biasanya
disebabkan oleh virus (hemophilus influenza) dan bakteri (streptococcus
pneumonia).1
Diagnosis banding TB dengan Ca paru dan aspergilosis

Etiologi

CA paru4
-Merokok. (Hidrokarbon

ASPERGILOSIS7
- Aspergillus fumigatus dan Aspergillus

karsinogenik telah ditemukan dalam

flavus adalah penyebab paling umum

ter dari tembakau rokok),

dari aspergillosis pada manusia, walau

-radiasi(cth: penambang kobalt

spesies lain dapat juga sebagai

adanya bahan radioaktif dalam

penyebab. Aspergillus fumigatus

bentuk radon)

menyebabkan banyak kasus bola jamur

- Polusi udara

di paru-paru

- Genetik(Terdapat perubahan/

- jamur dengan hifa berseptum yang

mutasi beberapa gen yang berperan

berdiameter 2-4 m

dalam kanker paru)

- riwayat penyakit paru kronis

-Kanker paru akibat kerja

sebelumnya seperti :

- Diet( bahwa rendahnya konsumsi

tuberculosis,sarkoidosis,bronkiektasis.

betakaroten, seleniumdan vitamin A


menyebabkan tingginya resiko
Patofisio

terkena kanker paru)


-Dari etiologi yang menyerang

- infeksi di tandai oleh invasi hifa

logi

percabangan segmen/ sub bronkus

kedalam pembuluh darah kemudian

menyebabkan cilia hilang dan

dapat menimbulkan percabangan

deskuamasi sehingga terjadi

bronkus yang rusak,kista pulmonalis

pengendapan

atau pembentukan kavitas seperti bola-

karsinogenmetaplasia,hyperplasia

bola hifa di dalam kista atau kavitas.

13

dan displasia. Bila lesi perifer yang


disebabkan oleh metaplasia,
hyperplasia dan displasia menembus
ruang pleura, biasa timbul efusi
pleura, dan bisa diikuti invasi
langsung pada kosta dan korpus
vertebra, khususnya pada hati.
Kanker paru dapat bermetastase ke
struktur struktur terdekat seperti
kelenjar limfe, dinding esofagus,
pericardium, otak, tulang rangka.
Manifest
1. Batuk yang terus menerus

1. tidak enak badan

asi klinis

2. demam

atau menjadi hebat.


2. Dahak berdarah, berubah

3. sesak nafas

warna dan makin banyak.

4. dada sakit

3. Napas sesak dan pendek-

5. wheezing

pendek.
4. Sakit kepala, nyeri atau retak

6. batuk dengan dahak yang


purulen dan batuk darah.

tulang dengan sebab yang


tidak jelas.
5. Kelelahan kronis
6. Kehilangan selara makan
atau turunnya berat badan
tanpa sebab yang jelas.
7. Suara serak/parau.
8. Pembengkakan di wajah atau
leher

14

Pengoba

- Tujuan pengobatan kanker dapat

-pada kasus ini di gunakan pengobatan

tan

berupa :

mikosis sistemik :

a. Kuratif

1. obat amfoterisin B deoksilat

Memperpanjang masa bebas

dengan dosis ( 0,7-

penyakit dan meningkatkan angka

1,0/mg/kg/hari

harapan hidup pasien.

2. obat itrakonasol oral ( 200

b. Paliatif.

mg/hari 2 x sehari untuk 4

Mengurangi dampak kanker,

dosis ) selama 6-12 minggu.

meningkatkan kualitas hidup..

3. obat varikonasol ( 6 mg/kg 2 x

c. Supotif.
Menunjang pengobatan kuratif,
paliatif dan terminal sepertia

sehari untuk 2 dosis )


4. koloidal dispersi ( 6 mg/kg
sehari )

pemberian nutrisi, tranfusi darah dan


komponen darah, obat anti nyeri dan
anti infeksi.
d. . Pembedahan.
Tujuan pada pembedahan kanker
paru sama seperti penyakit paru lain,
untuk mengankat semua jaringan
yang sakit sementara
mempertahankan sebanyak mungkin
fungsi paru paru yang tidak
terkena kanker.
1. Toraktomi eksplorasi.
Untuk mengkomfirmasi diagnosa
tersangka penyakit paru atau toraks
khususnya karsinoma, untuk
melakukan biopsy.
2. Pneumonektomi pengangkatan
paru).
3. Lobektomi (pengangkatan lobus
paru).

15

Karsinoma bronkogenik yang


terbatas pada satu lobus,.
4. Resesi segmental.
Merupakan pengankatan satu atau
lebih segmen paru.

2.10 Penatalaksanaan
Pengobatan tuberkulosis ditujukan untuk menyembuhkan penderita,
mencegah kekambuhan dan menurunkan tingkat penularan. Pengobatan
dibagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif dan fase lanjutan:1-4,6
a. Tahap intensif
Penderita mendapat obat setiap hari, awasi langsung. Bila pengobatan
tahap intensif diberikan secara tepat, biasanya penderita menular menjadi
tidak menular dalam 2 minggu. Sebagian besar penderita BTA positif akan
menjadi negatif pada akhir pengobatan
b. Tahap lanjutan
Paduan obat yang digunakan terdiri dari panduan obat utama dan obat
tambahan.
1. Jenis obat utama (lini 1) yang digunakan adalah:
a. Isoniazid (INH), bersifat bakterisid, dapat membunuh 90% populasi
kuman dalam beberapa hari pertama pengobatan.
b. Rifampisin, bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman semi dorman
yang tidak dapat dibunuh INH.
c. Prazinamid, bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman yang berada
dalam sel dengan suasana asam.
d. Streptomisin, bersifat bakterisid.
e. Ethambutol, bersifat bakteriostatik.
2. Jenis obat tambahan lainnya (lini 2) :
- Kanamisin
- Amikasin
- Kuinolon

16

- Obat lain masih dalam penelitian yaitu makrolid dan amoksilin + asam
klavulanat
Obat-obatan tersebut tersedia dalam kemasan obat tunggal dan obat
kombinasi (Fixed Dose Combination/FDC). FDC direkomendasikan bila
tidak dilakukan pengawasan menelan obat.6
Program

Nasional

Penanggulangan

TB

paru

di

Indonesia

menggunakan paduan OAT:2


1. Kategori I (2HRZE/4H3R3)
Diberikan untuk penderita baru TB paru BTA positif, TB paru BTA
negatif rontgen positif yang sakit berat, dan penderita TB paru ekstra
paru berat.
2. Kategori II (2HRZES/HRZE/5H3R3E)
Diberikan untuk penderita kambuh (relaps), penderita gagal (failure) dan
penderita dengan pengobatan lalai (drop out).
3. Kategori III (2HRZ/4H3R3)
Diberikan untuk penderita baru BTA negatif dan rontgen positif sakit
ringan, pasien ekstra paru ringan yaitu limfadenitis TB, TB kulit, TB
tulang (kecuali tulang belakang), sendi dan kelenjar adrenal.
4. Obat sisipan (HRZE)
Bila pada akhir tahap intendif pengobatan penderita baru BTA positif
dengan kategori I atau penderita BTA positif pengobatan ulang dengan
kategori II hasil pemeriksaan dahak masih BTA positif.
Dosis OAT yaitu:3
Dosis Kategori 1 (2HRZE/4H3R3)

17

Dosis Kategori 2 (2HRZES/HRZE/5H3R3E3)

2.11 Komplikasi
Penyakit tuberkulosis paru bila tidak ditangani dengan benar akan
menimbulkan komplikasi, yang dibagi atas:2
-

Komplikasi dini : pleuritis, efusi pleura, empiema, dan laringitis

Komplikasi lanjut: obstruksi jalan nafas (SOPT : Sindrom Obstruksi Paska


Tuberkulosis), kerusakan parenkim berat, fibrosis paru, kor pulmonal,
sindrom gagal nafas, yang sering terjadi pada TB milier dan kavitas TB.
Adapun komplikasi lainnya yaitu Hemoptitis adalah peredaran dari
saluran nafas yang dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik
atau tersumbatnya jalan nafas Kolaps dari lobus akibat retraksi bronchial,
sehingga terjadi ketidak mampuan menampung atau menyimpan oksigen
dari lobus. Pneumotorak adalah adanya udara dalam rongga pleura.
Penyebabnya adalah tekanan pneumotorak udara dalam membran berada
dalam tekanan yang lebih tinggi dari udara dalam paru-paru yang
berdampingan dan pembuluh darah, sehingga kapasitas oksigen yang dihirup
hanya sebagian.1
Bronkiektasis adalah endapan nanah pada bronkus setempat karena
terdapat infeksi pada bronkus. Penyebab nya yaitu kerusakan yang berulang

18

pada dinding bronchial dan keadaan abnormal dari jaringan penghilang


mucus mengakibatkan rusaknya jaringan yang menuju saluran nafas.
Fibrosis adalah pembentukan jaringan ikat pada proses penyembuhan.
Penyebaran infeksi ke organ lain seperti Otak, tulang, persendian, ginjal, dan
yang lain. Insufisiensi kardio pulmonal atau penurunan fungsi jantung dan
paru-paru sehingga kadar oksigen dalam darah rendah.1
11. Pencegahan
a. Terhadap Infeksi tuberkulosis4
1. Pencegahan terhadap sputum yang infeksius
- bila batuk, mulut ditutup
- Isolasi penderita dan mengobati penderita
- Ventilasi harus baik, kepadatan penduduk dikurangi.
- Jangan sembarangan membuang dahak bila batuk
2. Pasteurisasi susu sapi dan membunuh hewan yang terinfeksi oleh
Mikobakterium bovis akan mencegah tuberkulosis bovin pada manusia
b. Meningkatkan daya tahan tubuh1,4
1. Memperbaiki standar hidup
2. Usahakan peningkatan kekebalan tubuh dengan vaksinasi BCG
Imunisasi BCG diberikan dibawah usia 2 bulan, jika baru diberikan setelah
usia 2 bulan, disarankan tes Mantoux dahulu. Vaksinasi dilakukan bila
hasil tes tersebut negatif.
12. Standar Internasional Penanganan Tuberkulosis 7
Enam Standar Diagnosis yaitu :
Standar 1
Setiap individu dengan batuk produktif selama 2-3 minggu atau lebih yang
tidak dapat dipastikan penyebabnya harus dievaluasi untuk TB.
Standar 2
Semua pasien yang diduga menderita TB paru, (dewasa, remaja, dan anakanak yang dapat mengeluarkan dahak) harus menjalani pemeriksaan dahak secara
mikrokopis sekurang-kurangnya 2 kali dan sebaiknya 3 kali. Bila kemungkinan
minimal 1 kali pemeriksaan dahak pagi hari.
Standar 3

19

Semua pasien yang diduga menderita TB ekstra paru (dewasa, remaja dan
anak) harus menjalani pemeriksaan spesimen yang didapat dari lokasi kelainan
yang dicurigai. Bila fasilitas dan sumber daya tersedia, sebaiknya dilakukan juga
pemeriksaan biakan dan histopalagi.
Standar 4
Semua individu dengan gambaran foto toraks yang dicurigai TB harus
menjalani pemeriksaaan dahak secara mikrobiologi
Standar 5
Diagnosis TB paru BTA negatif harus berdasarkan kriteria berikut: paling
kurang 3 kali pemeriksaan hasilnya negatif (termasuk minimal 1 kali dahak pagi
hari), foto toraks menunjukkan gambaran TB, tidak ada respon terhadap
pemberian antibiotik spektrum luas (catatan: pemakaian fluorokuinolon sebaiknya
dihindari karena mempunyai efek melawan Mycobacterium tubercolosis yang
dapat menyebabkan perbaikan sesaat pada individu dengan tuberkulosis). Pada
pasien dengan atau diduga HIV, evaluasi diagnostik tersebut di atas harus
dilakukan sesegera mungkin.
Standar 6
Diagnosis TB intratoraks

(paru,

pleura,

kelenjar

getah

bening

hilus/mediastinal) pada anak dengan gejala TB dan BTA negatif sebaiknya


berdasarkan foto toraks yang sesuai dengan TB, adanya riwayat kontak dengan
pasien TB menular atau bukti adanya infeksi TB (uji tuberkulin/interferon gamma
release assay positif). Pada pasien tersebut dilakukan pemmeriksaan biakan dari
spesimen dahak (yang berasal dari batuk, bilasan lambung atau induksi dahak).
Sembilan Standar Pengobatan
Standar 7
Setiap dokter yang mengobati pasien TB harus menyadari pentingnya
tanggung jawab terhadap kesehatan masyarakat. Untuk memenuhi tanggung
jawab ini, dokter tidak hanya memberikan panduan obat yang sesuai tetapi juga
harus memantau kepatuhan berobat sekaligus menemukan kasus-kasus yang tidak
patuh terhadap pengobatan. Dengan melakukan hal tersebut petugas dapat
menjamin kepatuhan hingga pengobatan selesai.
Standar 8
Semua pasien (termasuk ODHA) yang belum pernah diobati sebelumnya,
harus diberikan paduan obat lini pertama yang disepakati secara internasional
menggunakan obat yang bioavailabilitinya sudah diketahui. Fase awal terdiri dari
dari INH, Rifampisin, Pirazinamid dan Etambutol diberikan selama 2 bulan. Fase

20

lanjutan yang dilanjutkan yang dianjurkan adalah INH dan Rifampisin yang
diberikan selama 4 bulan. Pemberian INH dan Etambutol selama 6 bulan
merupakan panduan alternatif untuk fase lanjutan yang digunakan bila kepatuhan
pasien tidak dapat dinilai namun berkaitan dengan angka kegagalan dan
kekambuhan yang tinggi khususnya pada ODHA.
Dosis obat anti tuberkulosis ini harus sesuai dengan rekomendasi
internasional. FDC (Fixed Dose Combination) yang terdiri dari 2 obat (INH dan
Rifampisin), 3 obat (INH, Rifampisin, Pirazinamid) yang terdiri dari 4 obat (INH,
Rifampisin, Pirazinamid dan Etambutol) sangat dianjurkan khususnya bila tidak
dilakukan pengawasan menelan obat.
Standar 9
Untuk menjaga dan menilai kepatuhan terhadap pengobatan perlu
dikembangkan suatu pendekatan yang terpusat kepada pasien berdasarkan
kebutuhan pasien dan hubungan yang saling menghargai antara pasien dan
petugas Supervisi dan dukungan harus sensitif gender dan kelompok usia tertentu
serta sesuai dengan intervensi yang dianjurkan dan pelayanan pendukung yang
tersedia termasuk edukasi dan konseling pasien.
Elemen utama pada strategi yang terpusat kepada pasien adalah kegiatan
yang digunakan untuk menilai dan meningkatkan kepatuhan terhadap panduan
pengobatan serta dapat menangani bila terjadi ketidakpatuhan terhadap
pengobatan. Kegiatan ini harus dirancang secara individual sesuai dengan keadaan
masing-masing individu dan dapat diterima baik oleh pasien maupun petugas.
Kegiatan-kegiatan dapat meliputi pengawasan menelan obat secara langsung oleh
PMO yang dapat diterima dan dapat dipertanggungjawabkan oleh pasien dan
sistem kesehatan.
Standar 10
Semua pasien harus dimonitor hasil pengobatannya. Penilaian terbaik pada
pasien TB paru adalah dengan pemeriksaan dahak ulang (2 kali) paling sedikit
pada akhir fase awal (2 bulan), bulan kelima dan pada akhir pengobatan. Pasien
dengan BTA positif dalam bulan kelima pengobatan dianggap sebagai gagal
pengobatan dan diberikan pengobatan dengan modifikasi yang sesuai (lihat
standar 14 dan 15).

21

Penilaian hasil pengobatan pada pasien TB ekstra paru dan anak-anak,


paling sedikit dinilai secara klinis. Penilaian dengan pemeriksaan foto toraks
umumnya tidak diperlukan dan mungkin menyesatkan (misleading).
Catatan tertulis mengenai semua obat yang diberikan, respon bakteriologik dan
efek samping obat harus terdokumentasi dan tersimpan secara baik untuk semua
pasien.
Standar 11
Catatan

tertulisnmengenainsemua

obat

yang

diberikan,

respon

bakteriologik dan efek samping obat haruss terdokumentasi dan tersimpan secara
baik untuk semua pasien.
Standar 12
Pada daerah dengan angka prevalensi HIV yang tinggi pada populasi
umum dengan kemungkinan ko-infeksi TB-HIV, maka konseling dan testing HIV
diindikasikan untuk seluruh pasien TB sebagai bagian dari penatalaksanaan rutin.
Pada daerah dengan prevalensi HIV rendah, konseling dan testing HIV hanya
diindikasikan pada pasien TB dengan keluhan dan tanda-tanda yang diduga
berhubungan dengan HIV dan pada pasien TB dengan riwayat risiko tinggi
terpajan HIV.
Standar 13
Semua pasien TB-HIV harus dievaluasikan untuk menentukan apakah
mempunyai indikasi untuk diberi terapi anti retroviral dalam masa pengobatan TB
pengaturan untuk memperoleh obat antiretroviral harus dilakukan pada pasien
yang memenuhi indikasi. Dengan adanya kompleksitas pemberian ARV dan OAT
secara bersamaan maka dianjurkan untuk berkonsultasi kepada dokter yang ahli di
bidang

tersebut

sebelum

memulai

pengobatan

TB

dan

HIV

tanpa

mempertimbangkan penyakit yang muncul lebih dahulu. Meskipun demikian


pemberian OAT jangan sampai ditunda. Semua pasien TB-HIV harus
mendapatkan kotrimoksazol sebagai profilaksis untuk infeksi lainnya.
Standar 14
Penilaian terhadap kemungkinan resistensi obat harus dilakukan pada
semua pasien yang berisiko tinggi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya,
pajanan terhadap kasus yang sudah resisten dan prevalensi resistensi obat pada
masyarakat. Pada pasien dengan kemungkinan MDR, pemeriksaan biakan uji
sensitifitas terhadap INH, Rifampisin dan Etambutol harus dilakukan secar tepat.
Standar 15

22

Pasien TB dengan MDR harus diterapi dengan paduan khusus yang terdiri
dari atas obat-obatan lini kedua. Paling kurang diberikan 4 macam obat yang
diketahui atau dianggap sensitif dan diberikan paling sedikit selama 18 bulan.
Untuk memastikan kepatuhan diperlukan kegiatan yang berorientasi kepada
pasien. Konsultasi dengan dokter yang berpengalaman dalam pengobatan
penderita dengan MDR harus dilakukan.
Dua Standar Tanggung Jawab Kesehatan Masyarakat
Standar 16
Semua petugas yang melayani pasien TB harus memastikan bahwa
individu (terutama anak usia dibawah 5 tahun dan ODHA) yang kontak erat
dengan pasien TB harus dievaluasi dan dilakukan penanganan sesuai dengan
rekomendasi internasional. Anak dibawah usia 5 tahun dan ODHA yang kontak
dengan kasus menular (penderita TB BTA positif) harus dievaluasi baik untuk TB
yang laten maupun yang aktif.
Standar 17
Semua petugas harus melaporkan semua kasus TB (kasus baru maupun
kasus pengobatan ulang) dan hasil pengobatannya kepada dinas kesehatan
setempat sesuai dengan ketentuan hukun dan kebijakan yang berlaku.
13 Prognosis8
a)

Bila tidak menerima pengobatan spesifik (Grzybowski/1976)


25 % akan meninggal dalam 18 bulan
50 % akan meninggal dalam 5 tahun
8-12,5 % akan menjadi chroni exeretors yang artinya mereka

terus-menerus mengeluarkan basil TB dalam sputumnya


Sisanya akan mengalami kesembuhan spontan dengan bekas
berupa proses fibrotik dan perkapuran. Dapat pula kesembuhan
berlangsung

b)

melalui

resolusi

sempurna

sehingga

tidak

meninggalkan bekas.
Bila diberikan pengobatan spesifik
Bila pengobatan spesifik sesuai aturan sebenarnya (penyembuhan)
Pengobatan spesifik hanya bekerja membunuh basil TB saja,
namun kelainan paru yang sudah ada pada saat pengobatan spesifik
dimulai (misal proses fibrotik, kavitas dan lain-lain), tidak akan
hilang. Penting diberikan pengobatan secara spesifik sedini

23

mungkin yaitu sebelum terjadi kerusakan paru yang bersifat


irreversibel.
Bila pengobatan spesifik tidak memenuhi syarat
Basil TB yang tadinya sensitif terhadap obat-obat yang dipakai
akan menjadi resisten. Dengan begitu penderita sukar sembuh dan
akan dapat menularkan basil-basil yang resisten pada sekelilingnya.
Hasil akhirnya, mereka yang ditulari akan mendapatkan penyakit
TB dengan basil-basil yang punya resistensi primer terhadap
beberapa tuberkulostatika yang semestinya masih relatif.

BAB III
ILUSTRASI KASUS

Identitas pasien :
Nama

: Tn.H

Umur

: 29 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Petani

Status

: Menikah

Alamat

: Dusun tello Bangkinang

Masuk RS

: 25 November 2014

24

Keluar RS

: 2 Desember 2014

ANAMNESIS
Autoanamnesis dan alloanamnesis
Keluhan Utama
Batuk berdahak sejak 7 bulan SMRS (Sebelum Masuk Rumah Sakit)
Riwayat Penyakit Sekarang
-

Sejak 7 bulan SMRS pasien mengeluhkan batuk


berdahak. Batuk berdahak kental berwarna putih,sebanyak 1 sendok teh.
Batuk dirasakan terus menerus.

Sesak nafas sejak 6 bulan yang lalu. Sesak nafas semakin


memberat ketika beraktifitas dan tidak beraktifitas. Sesak tidak menciut.

Pasien juga mengeluhkan nyeri dada seperti tertusuktusuk.nyeri dirasakan ketika beraktifitas dan tidak beraktifitas. Nyeri tidak
menjalar. nyeri dirasakan hilang timbul.

Batuk berdarah tidak ada.

Demam sejak 6 bulan ini. Demam dirasakan naik-turun.


Demam meningkat saat malam hari. Demam disertai menggigil.

Keringat malam sejak 6 bulan yang lalu, meskipun cuaca


dingin.

Nafsu makan berkurang sejak 8 hari yang lalu.

Berat badan menurun sejak 8 hari yang lalu. Berat badan


pasien menurut dari 75 Kg menjadi 50 Kg.

BAB dan BAK tidak ada keluhan

Riwayat Penyakit Dahulu


-

Riwayat TB.Paru ada 1 tahun yang lalu.

Riwayat asma tidak ada

Riwayat hipertensi tidak ada

Riwayat DM tidak ada

Riwayat sakit jantung tidak ada

Riwayat DHF ada 1,5 tahun yang lalu.


Riwayat Penggunaan Obat

25

Riwayat minum obat TB.paru sejak 1 tahun yang lalu. Tetapi pasien hanya
meminum obat selama 3 hari.
Riwayat Penyakit Keluarga
- Tidak ada anggota keluarga yang menderita keluhan seperti pasien.
Riwayat Pekerjaan, Sosial Ekonomi, dan Kebiasaaan
-

Pasien tinggal diaderah padat penduduk

Pasien bekerja sebagai Petani.

Riwayat minum alkohol tidak ada

Riwayat merokok tidak ada

Sosial-ekonomi : kurang

Pola makan : baik 3x1/hari. Sekali makan bisa habis 1 piring nasi.

Pemeriksaan Umum
- Kesadaran

: Komposmentis

- Keadaan umum

: Tampak sakit sedang

- Tekanan darah

: 130/80 mmHg

- Nadi

: 80 x / menit

- Nafas

: 24 x / menit

- Suhu

: 36,70C

Pemeriksaan Fisik
Kepala
- Mata :

Konjungtiva anemis (-/-), sklera tidak ikterik (-/-), pupil bulat (+/
+), isokor (+/+), reflek cahaya (+/+)

- Leher :

Pembesaran kelenjar getah bening (-)


tidak ada peningkatan JVP (5-2 cm H20)

Toraks
- Paru :
Thoraks depan :
Inspeksi

: Simetris kanan dan kiri

Statis

26

Dinamis : Tidak ada pergerakan dinding dada yang tertinggal


kanan = kiri

Palpasi

: Vokal fremitus kanan = kiri.

Perkusi

: Sonor kanan = kiri

Auskultasi

:Kanan : Bronkovesikuler, Rhonki (-), Wheezing


Kiri

(-), Amforis (+)


: Bronkovesikuler, Rhonki (-), Wheezing (-),
Amforis (+)

Thoraks Belakang :
Inspeksi

Statis

: Simetris kanan dan kiri

Dinamis : Tidak ada pergerakan dinding dada yang tertinggal


kanan = kiri

Palpasi

: Vokal fremitus kanan = kiri.

Perkusi

: Sonor kanan = kiri

Auskultasi

:Kanan : Bronkovesikuler, Rhonki (-), Wheezing


Kiri

(-), Amforis (+)


: Bronkovesikuler, Rhonki (-), Wheezing (-),
Amforis (+).

- Jantung: Inspeksi

: Iktus kordis tidak terlihat

Palpasi

: Iktus kordis teraba 1 Jari LMC sinistra RIC V

Perkusi

:
-

Batas jantung atas : RIC II linea mid clavikularis


sinistra

- Batas jantung kanan : linea parasternalis dekstra


- Batas jantung kiri : 1 jari medial linea
midclavicularis sinistra
- Batas jantung bawah : RIC V
Auskultasi : Suara jantung normal, gallop tidak ada, murnur
tidak ada.
Abdomen
Inspeksi

: Perut datar, venektasi (-), scar (-).

27

Auskultasi : Bising usus (+) Normal


Palpasi

: Supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba

Perkusi

: Timpani seluruh kuadran abdomen.

Ekstremitas
-

Atas

: Akral hangat, oedema (-/-)

Bawah : Akral hangat, CRT < 2 detik, edema tungkai (-/-)

Pemeriksaan Penunjang :
Tanggal 27 November 2014
LABORATORIUM DARAH RUTIN :
Hb

: 12,0 gr %

Leukosit

: 16.400 / mm3

Trombosit

: 516.000 / mm3

Ht

: 34,6 vol %.

Fungsi Hati :
- Bilirubin Total : 1,14 Mg/dl
Imuno Serologi :
-

HBs Ag

: Negatif.

Kesan :
- Leukositosis
-

Trombositosis

Tanggal 2 Desember 2014


MIKROBIOLOGI :
Pewarnaan BTA :
SS1

: Positif (+3)

: Positif (+3)

SS2

: Positif (+3)

RONTGEN TORAKS PA:

28

29

Interpretasi :

Paru :

Sudut costo frenikus tumpul

Cavitas dikedua lapang paru

Letak diafragma normal di costa 9.

Terdapat tenting

Terdapat fibrotik

30

Jantung :

Terdapat infiltrat dikedua lapangan paru.


Tidak ada pembesaran.

Diafragma :

Sudut costoprenikus lancip.

Letak diafragma normal (Costa 9 )

Jantung CRT < 50%.

Kesan : TB.Paru
RESUME / KESIMPULAN SEMENTARA
Tn.H, 29 tahun, Laki-laki, Agama Islam, Alamat Dusun tello Bangkinang,
datang ke RSUD Bangkinang dengan keluhan utama batuk berdahak sejak 7 bulan
SMRS (Sebelum Masuk Rumah Sakit). Batuk berdahak kental berwarna putih,
sebanyak 1 sendok teh. Batuk dirasakan terus menerus. Sesak nafas sejak 6 bulan
yang lalu. Sesak nafas semakin memberat ketika beraktifitas dan tidak
beraktifitas. Sesak tidak menciut. Pasien juga mengeluhkan nyeri dada seperti
tertusuk-tusuk. nyeri dirasakan ketika beraktifitas dan tidak beraktifitas. Nyeri
tidak menjalar. nyeri dirasakan hilang timbul. Batuk berdarah tidak ada. Demam
sejak 6 bulan ini. Demam dirasakan naik-turun. Demam meningkat saat malam
hari. Demam disertai menggigil. Keringat malam sejak 6 bulan yang lalu,
meskipun cuaca dingin. Nafsu makan berkurang sejak 8 hari yang lalu. Berat
badan menurun sejak 8 hari yang lalu. Berat badan pasien menurut dari 75 Kg
menjadi 50 Kg. Karena kondisi semakin lemah, pasien kemudian dibawa ke
RSUD Bangkinang. Pada pemeriksaan fisik ditemukan konjungtiva anemis, Suara
nafas Amforis. Pada pemeriksaan laboratorium leukosit 16.400 / mm3, trombosit
516.000 / mm3, dan pemeriksaan sputum BTA +3. Pada thoraks ditemukan sudut
costo frenikus tumpul, cavitas kedua lapang paru, iga terletak di costa 9, terdapat
tenting, terdapat fibrotik dan infiltrat dikedua lapangan paru.
DAFTAR MASALAH
- Batuk berdahak
- Keringat malam
- Nafsu makan menurun

31

- Berat badan turun


- Leukositosis
- Trombositosis
Diagnosis Utama : TB.Paru
PENGKAJIAN MASALAH
Penegakkan diagnosis TB paru dapat berdasarkan anamnesis, pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan penunjang. Pada anamnesis didapatkan adanya keluhan
batuk berdahak, badan lemah, keringat malam hari, tidak nafsu makan dan
penurunan berat badan.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan suara nafas amforis. Pemeriksaan sputum
BTA (+3). Pada foto toraks ditemukan infiltrat dikedua lapangan paru, terdapat
kavitas diapeks paru kanan dan kiri, terdapat fibrotik dan kalsifikasi di kedua
paru. Hasil ini menunjukkan aktivitas penyakit dari pasien ini masih dalam status
aktif. pada pemeriksaan fisik. Didapatkan juga peninggian jumlah leukosit
16.400 / mm3, trombosit 516.000 / mm3.
Rencana Penatalaksanaan:
Non Farmakologi :

Edukasi
Pasien perlu diingatkan bahwa pengobatan TB paru ini berlangsung lama
yakni minimal 6 bulan. Obat harus diminum secara teratur dan tidak boleh
putus. Pasien juga diberitahu tentang efek samping obat seperti rifampisin
yang dapat mengakibatkan air seni berwarna merah, sehingga jika
ditemukan kondisi tersebut pasien tidak menghentikan minum obat.

Tidak membuang dahak sembarangan.

Anjuran untuk menutup mulut jika batuk

Makan makanan yang banyak mengandung karbohidrat dan protein.


Konsul ke bagian gizi.

Pola hidup sehat yakni menjaga kebersihan lingkungan dan tempat tinggal.

Farmakologi :

IVFD Rl 20 Tpm

Inj. Methilpretnisolon 2 x 1

32

Inj.Ceftriakson 2 x 1

Nebu Falbiven 4 x 1

Drip Aminofilin / kolf

Curcuma tab 3 x 1

B6 1 x 10 mg

Azitromicin tab 500 mg 1 x 1

Ethambutol 500 Mg 1 x 1

Rimactacid 1 x 1

Anjuran :
-

Pemeriksaan BTA
Pemeriksaan Darah Rutin : Leukosit, Trombosit.

FOLLOW UP :
1 Desember 2014
S : Sesak sudah mulai berkurang, nafsu makan baik, Bab

dan Bak dalam batas

normal.
O : TD = 130/80 mmHg
N = 80 x/i
RR = 24 x/i
T = 36,7oC
Inspeksi:

Statis : Simetris kanan dan kiri

Dinamis

: Simetris gerakan dada kanan dan kiri

Palpasi

: vokal fremitus kanan = kiri.

Perkusi

: sonor kedua lapangan paru

Auskultasi : Suara nafas = Amforis.


A : TB. Paru
P:

IVFD Rl 20 Tpm

Inj. Methilpretnisolon 2 x 1

Inj.Ceftriakson 2 x 1

Nebu Falbiven 4 x 1

Drip Aminofilin / kolf

33

Curcuma tab 3 x 1

B6 1 x 10 mg

Azitromicin tab 500 mg 1 x 1

Ethambutol 500 Mg 1 x 1

Rimactacid 1 x 1

2 Desember 2014
S : Sesak sudah mulai berkurang, nafsu makan baik, Bab

dan Bak dalam batas

normal.
O : TD = 120/80 mmHg
N = 76 x/i
RR = 20 x/i
T = 36oC
Inspeksi:

Statis

: Simetris kanan dan kiri

Dinamis

: Simetris gerakan dada kanan dan kiri

Palpasi

: vokal fremitus kanan = kiri.

Perkusi

: sonor kedua lapangan paru

Auskultasi : Suara nafas = Amforis


A : TB. Paru
P:

Cefixime 2 x 1

Curcuma tab 3 x 1

B6 1 x 10 mg

Rimactacid 1 x 1
Pasien pulang

BAB IV
KESIMPULAN UMUM
Seorang pasien laki-laki nama Tn.H, usia 29 tahun, Agama Islam, Alamat
Dusun tello Bangkinang, datang ke RSUD Bangkinang dengan keluhan utama
batuk berdahak sejak 7 bulan SMRS (Sebelum Masuk Rumah Sakit). Batuk
berdahak kental berwarna putih, sebanyak 1 sendok teh. Batuk dirasakan terus
menerus. Sesak nafas sejak 6 bulan yang lalu. Sesak nafas semakin memberat

34

ketika beraktifitas dan tidak beraktifitas. Sesak tidak menciut. Pasien juga
mengeluhkan nyeri dada seperti tertusuk-tusuk. nyeri dirasakan ketika beraktifitas
dan tidak beraktifitas. Nyeri tidak menjalar. nyeri dirasakan hilang timbul. Batuk
berdarah tidak ada. Demam sejak 6 bulan ini. Demam dirasakan naik-turun.
Demam meningkat saat malam hari. Demam disertai menggigil. Keringat malam
sejak 6 bulan yang lalu, meskipun cuaca dingin. Nafsu makan berkurang sejak 8
hari yang lalu. Berat badan menurun sejak 8 hari yang lalu. Berat badan pasien
menurut dari 75 Kg menjadi 50 Kg. Karena kondisi semakin lemah, pasien
kemudian dibawa ke RSUD Bangkinang.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan konjungtiva anemis, Suara nafas
Amforis. Pada pemeriksaan laboratorium leukosit 16.400 / mm3, trombosit
516.000 / mm3, dan pemeriksaan sputum BTA +3. Pada thoraks ditemukan sudut
costo frenikus tumpul, cavitas kedua lapang paru, iga terletak di costa 9, terdapat
tenting, terdapat fibrotik dan infiltrat dikedua lapangan paru.
Keluhan pada pasien tersebut di atas disebabkan karena telah terinfeksi
oleh kuman tuberkulosis tersebut. Yang mana kuman tersebut telah menempel
pada jaringan paru.
Pengobatan yang diberikan selama perawatan pada pasien yaitu diberikan
Azitromisin tab 500 mg 1x1 sebagai antimikroba ataupun antibakteri golongan
makrolida untuk infeksi saluran nafas atas maupun bawah. Pasien juga diberikan
Ethambutol 500 mg 1x1 yang diindikasikan untuk pengobatan TB dan beberapa
infeksi microbial oportunistik, Inj.Methilpretnisolon 2x1 berfungsi sebagai supresi
inflamasi, Inj.Ceftriaxone 2x1 efektif untuk mikroorganisme gram positif dan
negatif, Nebu Farbiven 4x1 berfungsi untuk mengurangi sesak,mengencerkan
dahak, bronkospasme berkurang/menghilang, Drip Aminofilin / kolf untuk
obstruksi saluran nafas yang reversible dan serangan asma, Curcuma tab 3x1 yang
diindikasikan untuk meningkatkan nafsu makan dan stamina, dan membantu
memelihara kesehatan. Kemudian juga diberikan B6 1x10 mg sebagai suplement
untuk menjaga stamina. Azitromicin tab 500 mg 1x1 berfungsi untuk anti
bakterial makrolid, Ethambutol 500 mg 1x1 yang diindikasikan untuk pengobatan
TB dan beberapa infeksi microbial oportunistik, Rimactacid 1x1

berfungsi

35

berfungsi pada tuberculosis yang disebabkan mikroorganisme tuberculosis sensitif


terhadap rifampicin dan isonicotine hydrazibe.
Obat yang diberikan saat pulang yaitu Cefixime 2x1 yaitu obat antibiotik
golongan

cephalosporin

golongan

III

bakterisid,

menghambat

sintesis

mukopeptida pada dinding sel bakteri utunk gram positif (+) dan negatif (-) ,
Curcuma tab 3x1 yang diindikasikan untuk meningkatkan nafsu makan dan
stamina, dan membantu memelihara kesehatan, B6 1x10 mg sebagai suplement
untuk menjaga stamina. Rimactacid 1x1 berfungsi pada tuberculosis yang disebabkan
mikroorganisme

tuberculosis sensitif terhadap rifampicin dan isonicotine

hydrazibe.

DAFTAR PUSTAKA

1. Raviglion MC, OBrien RJ. Tuberculosis. In: Harrisons Principles of internal


medicine. 15th Edition. USA: McGraw-Hill, 2001.

36

2. Bahar A, Amin Z. Tuberkulosis paru. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam,
Jilid 2. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FKUI, 2007. 988-993
3. Aditama TY, et al. Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan Tuberkulosis di
Indonesia. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2006
4. Alsagaff H, Mukty A. Tuberkulosis paru. Dalam: Dasar-Dasar Ilmu Penyakit
Paru. Jakarta: Airlangga, 2002. 73-108
5. Jawetz E, Melnick JL, Adelberg EA, Brooks GF, Butel JS, Ornston LN.
Mikrobiologi Kedokteran, Buku II Edisi I Jakarta: Salemba Medika, 2005.
6. Departemen Kesehatan RI. Buku Pedoman Program Penanggulangan
Tuberkulosis. http://www.tbcindonesia.or.id [Diakses 22 Oktober 2009]
7. WHO. Standar Internasional Penanganan Tuberkulosis. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI, 2006
8. Yunus F. Diagnosis Tuberkulosis. http://www.kalbe.co.id/files/cdk [Diakses 22
Oktober 2009]
9. Permatasari A. Pemberantasan Penyakit TB Paru dan Strategi DOTS.
http://www.Adln.lib.unair.ac.id/go.php.id=jiptunair

[Diakses

22

Oktober

2009]

37