Anda di halaman 1dari 16

KATARAK JUVENIL

I. PENDAHULUAN
Katarak adalah setiap kekeruhan pada lensa1, yang dapat terjadi akibat hidrasi
(penahanan cairan) lensa, denatuasi protein lensa atau akibat kedua-duanya.
Katarak terjadi ketika transparansi dari lensa berkurang sehingga mengganggu
penglihatan. Istilah katarak berasal dari bahasa Yunani, katarraktes (air terjun),
karena sebelumnya katarak dianggap merupakan cairan terkoagulasi yang berasal
dari otak yang dialirkan ke bagian depan lensa.2
Penuaan merupakan penyebab katarak yang terbanyak, tetapi banyak juga faktor
lain yang mungkin terlibat, antara lain: trauma, toksin, penyakit sistemik
(misalnya diabetes), merokok dan herediter. Patogenesis katarak belum
sepenuhnya dimengerti. Walaupun demikian, pada lensa katarak secara
karakteristik terdapat agregat-agregat protein yang menghamburkan berkas cahaya
dan mengurangui transparansinya. Perubahan protein lainnya akan mengakibatkan
perubahan warna lensa menjadi kuning atau coklat. Temuan tambahan mungkin
berupa vesikel di antara serat-serat lensa atau migrasi sel epitel dan pembesaran
sel-sel epitel yang menyimpang. Sejumlah faktor yang diduga turut berperan
dalam terbentuknya katarak, antara lain kerusakan oksidatif (dari proses radikal
bebas), sinar ultraviolet, dan malnutrisi.1
II. ANATOMI LENSA DAN FISIOLOGI
Lensa mata merupakan struktur yang terletak diantara iris dan corpus vitreous
yang bersifat transparan, bikonveks, menyerupai kristal. Diameternya berkisar
antara 9-10 mm dan ketebalannya bervariasi menurut umur antara 3,5 mm (saat
lahir) hingga 5 mm. Beratnya sekitar 135 mg (0-9 tahun) hingga 225 mg (40-80
tahun). Lensa memiliki dua permukaan. Bagian anterior kurang cembung
dibandingkan posterior (radius kurvatura 10mm : 6 mm). Kedua permukaan ini
bertemu pada satu garis ekuator. Indeks refraksi lensa adalah 1,39 dan kekuatan
lensa mencapai 15-16 Dioptri. Daya akomodasi lensa berbeda beda bergantung

pada umur meliputi 14-16 D (saat lahir), 7-8 D (pada usia 25 tahun) dan 1-2 D
(pada usia 50 tahun). 3,4
STRUKTUR4
1. Kapsula Lensa. Merupakan bagian yang tipis, transparan dan dikelilingi
membran hyaline yang lebih tebal pada bagian anterior dibandingkan posterior
lensa. Kapsula lensa paling tebal pada regio preekuator (14 ) dan paling tipis
pada kutub posterior (3 ).
2. Epitel Anterior. Merupakan lapisan sel kuboid tunggal yang terletak lebih
dalam dari kapsula anterior. Pada area ekuator, sel ini berubah menjadi kolumnar
yang secara aktif membelah dan memanjang untuk membentuk serat lensa baru
sepanjang masa hidup. Tidak ada epitel pada bagian posterior karena sel ini
mengisi kavitas sentral lensa selama periode pembentukan lensa.
3. Serat Lensa Sel epitelial memanjang membentuk serat lensa yang memiliki
struktur yang rumit. Serat lensa yang matur adalah sel yang telah kehilangan inti.
Karena serat lensa dibentuk sepanjang usia kehidupan, lensa ini ttersusun dan
akan membentuk suatu barisan teratur sebagai nukleus dan korteks dari lensa.
i. Nukleus.Merupakan bagian pusat lensa yang mengandung serat lensa yang
paling tua. Nukleus tersusun atas zona yang berbeda yang tersusun sesuai
dengan perlangsungan perkembangan lensa. Melalui cahaya slit lamp, area
ini akan terlihat sebagai zona yang tidak bersambung. Bergantung pada
waktu perkembangannya, zona pada lensa meliputi:
Nukleus Embrionik. Merupakan bagian nukleus yang paling dalam yang
terbentuk pada trimester pertama kehamilan. Bagian ini mengandung serat
lensa primer yang dibentuk dari elongasi sel dari dinding posterior vesikel
lensa.
Nukleus Fetal. Tersusun diatas nukleus embrionik dan terbentuk sejak dari
trimester pertama hingga kelahiran bayi, Seratnya bertemu pada suatu sutura
dimana pada bagian anterior beberntuk Y dan bagian posterior berbentuk Y
terbalik.
Nukleus Infantil. Terbentuk sejak lahir hingga mencapai pubertas

Nukleus Dewasa terbentuk mulai dari pubertas hingga sepanjang hidup


ii. Korteks. Merupakan bagian perifer yang mengandung serat lensa yang
paling muda

Gambar 1. Anatomi Lensa


4. Ligamentum Suspensoria Lentis (Zonula Zinn).
Juga disebut sebagai zonula siliaris yang terbentuk dari sekelompok serat yang
berasal dari badan siliar hingga ke lensa. Serat ini akan menahan lensa pada posisi
tertentu dan memungkinkan otot siliaris menggerakkannya. Serat ini digolongkan
dalam tiga kelompok
i.

Serat yang berasal dari pars plana dan bagian anterior ora serrata berjalan

ii.

anterior menuju ke equator anterior.


Serat yang berasal dari prosesus siliaris yang berlawanan dengan bagian

iii.

anterior berjalan secara posterior menuju ke bagian posterior equator


Kelompok serat yang ketiga yang berjalan dari bagian tengah prosesus
siliaris menempel langsung ke equator

Struktur kristalin lensa merupakan struktur transparan yang memainkan peran


penting dalam proses pengelihatan. Aspek fisiologinya meliputi:
1. Transparansi lensa
2. Aktivitas metabolik lensa
3. Daya Akomodasi

Transparansi Lensa4
Faktor yang memiliki peranan signifikan dalam mempertahan kejernihan dan
transparansi lensa adalah
1.
2.
3.
4.
5.

Avaskularitas
Sel lensa yang tersusun sangat rapat
Pengaturan protein lensa
Karakterisitik kapsula lensa yang semipermeabel
Mekanisme pompa pada pemukaan serat lensa untuk mengatur

keseimbangan air dan elektrolit untuk menjaga proses dehidrasi


6. Proses Autooksidasi dan tingginya kadar glutathion pada lensa yang
mempertahankan protein lensa pada strukturnya dan mempertahakan
integritas pompa pada membran
Metabolisme4
Lensa membutuhkan suplai energi yang berkesinambungan (ATP)
Untuk transpor aktif ion dan asam amino, mempertahankan dehidrasi lensa dan
untuk sintesis protein dan glutation yang berkelanjutan. Sebagian besar energi
yang dibentuk digunakan oleh epitel yang menjadi tempat untuk semua proses
transpor aktif. Hanya sekitar 10-20% ATP yang dibentuk digunakan untuk
mensintesis protein
Sumber suplai nutrisi.
Lensa

yang

merupakan

struktur

avaskular

menggantungkan

proses

metabolismenya pada pertukaran zat kimia pada humor aquos. Komposisi kimia
lensa yang berasal dari humor aquos dan proses pertukaran zat kimia.
Jalur Metabolisme Glukosa
Glukosa sangat penting untuk kinerja lensa yang normal. Aktivitas metabolik
lensa terbatas hanya pada epitelium dan korteks sedangkan nukleus cenderung
tidak aktif. Pada lensa, 80% glukosa dimetabolisme secara anaerobik melalui jalur
glikolitik. 15% melalui jalur heksosa pentosa monofosfat dan sebagian kecil
melalui siklus kreb asam sitrat. Jalur sorbital sangat tidak umum terjadi namun
peranannya dalam menimbulkan katarak pada pasien diabetes dan dan
galaktosemia sangat tinggi.

III.

EPIDEMIOLOGI

Penelitian-penelitian di Amerika Serikat mengidentifikasi adanya katarak pada


sekitar 10% orang, dan angka kejadian ini meningkat hingga sekitar 50% untuk
mereka yang berusia antara 65 sampai 74 tahun, dan hingga sekitar 70% untuk
mereka yang berusia lebih dari 75 tahun. Sperduto dan Hiller menyatakan bahwa
katarak ditemukan lebih sering pada wanita dibanding pria. Pada penelitian lain
oleh Nishikori dan Yamomoto, rasio pria dan wanita adalah 1:8 dengan dominasi
pasien wanita yang berusia lebih dari 65 tahun dan menjalani operasi katarak.1,3,5
Sama halnya di Indonesia, katarak juga merupakan penyebab utama berkurangnya
penglihatan. Diketahui bahwa prevalensi kebutaan di Indonesia berkisar 1,2% dari
jumlah penduduk dan katarak menduduki peringkat pertama dengan persentase
terbanyak yaitu 0,7%. Berdasarkan beberapa penelitian katarak lebih sering terjadi
pada wanita dibanding pria dengan ras kulit hitam paling banyak.5
IV.

KATARAK JUVENIL

Katarak juvenil adalah penurunan penglihatan secara bertahap dan kekeruhan


lensa terjadi pada saat masih terjadi perkembangan serat- serat lensa sehingga
konsistensinya lembek seperti bubur atau soft cataract. Mulai terbentuknya pada
usia kurang dari 40 tahun dan lebih dari 3 bulan. Katarak juvenil biasanya
merupakan lanjutan katarak kongenital. Katarak yang lembek dan terdapat pada
orang muda, yang mulai terbentuknya pada usia kurang dari 9 tahun dan lebih dari
3 bulan. Katarak juvenil biasanya merupakan kelanjutan katarak kongenital. 5
Etiologi yang pasti tidak diketahui. Beberapa faktor yang berhubungan dengan
kejadian katarak dirincikan dalam penjabaran dibawah ini.4
a.

Herediter.
Katarak yang genetis biasanya terjadi karena anomali pada pola
kromosom individu. Sekira 1/3 kasus katarak kongenital biasanya
bersifat hereditar. Metode penurunan biasanya bersifat dominan.
Gambaran katarak familial meliputi katarak pulverulenta,katarak

zonular (dapat juga bersifat non familial) katarak koroner dan total
soft cataract (dapat pula terjadi karena rubella)
b.

Faktor Maternal
1. Malnutrisi selama kehamilan berhubungan dengan katarak zonular
non familial.
2. Infeksi. Infeksi maternal misalnya rubella berhubungan dengan
katarak pada 50% kasus. Infeksi maternal lainnya meliputi
toxoplasmosis dan cytomegalo-inclusion.
3. Obat obatan. Katarak congenital juga dilaporkan pada anak
dengan ibu yang mengkonsumsi obat obatan tertentu selama
kehamilan misalnya (thalidomide, kortikosteroid).
4. Radiasi Paparan radiasi pada ibu selama kehamilan dapat

c.

menyebabkan katarak kongenital.


Faktor infantil
1. Defisit oksigenasi (anoksia) misalnya pada perdarahan plasenta.
2. Gangguan Metabolik pada fetus dan bayi, misalnya galaktosemia,
defisiensi galaktokinase dan hipoglikemia neonatal.
3. Ckatarak yang berhubungan dengan kelainan kongenital lain
misalnya pada sindrom Lowe, distrofika myotonia dan ichtyosis
kongenital
4. Trauma Lahir
5. Malnutrisi pada awal masa pertumbuhan dapat menyebabkan

d.

katarak developmental .
Idiopatik.Sekitar 50% kasus bersifat sporadik tanpa etiologi yang
jelas.

Katarak memberikan pengaruh yang berbeda pada anak yang berbeda. Katarak
biasanya menyebabkan buramnya penglihatan. Semakin keruh lensa, semakin
buramlah penglihatan. Banyak anak dengan katarak pada satu mata mempunyai
penglihatan yang baik pada mata lainnya. Anak ini tidak begitu mengeluhkan
masalah penglihatannya.
Anak dengan katarak bilateral merasa bahwa penglihatan mereka normal.
Awalnya mereka berpikir bahwa orang lain memiliki penglihatan yang sama
dengan mereka. Kekeruhan penglihatan tergantung pada:

kekeruhan lensa

bagian lensa yang keruh

apakah terdapat mata malas

adanya kondisi lain pada mata yang menurunkan penglihatan


Jika hanya sebagian kecil lensa yang kabur, jauh dari bagian sentral, anak akan
memiliki penglihatan yang bagus. Jika bagian sentral lensa yang keruh, sehingga
sangat sedikit cahaya yang masuk, anak akan memiliki penglihatan yang buruk.
Jika katarak telah timbul pada usia yang lebih kecil, anak kemungkinan akan
mengalami ambliopia. Ambliopia mempengaruhi bagian penglihatan khusus pada
otak. Otak hanya dapat melihat gambaran yang tajam yang diberikan ke mata. Jika
otak tidak diberikan gambaran yang tajam karena katarak pada mata, otak tidak
dapat belajar untuk melihat dengan jelas. Walaupun katarak telah diangkat dengan
operasi, penglihatannya akan tetap kabur karena otak tidak mengembangkan
kemampuannya untuk melihat dengan jelas.
Katarak kongenital dan developmental diklasifikasikan dalam berbagai variasi.
Kalsifikasi sederhana yang digunakan antara lain:4
a.
b.
c.
d.
e.

f.

V.

Katarak Kapsular Kongenital


1) Katarak Kapsular Anterior
2) Katarak Kapsular Posterior
Katarak Polar
1) Katarak Polar Anterior
2) Katarak Polar Posterior
Katarak Nuklear
Katarak Lamellar
Katarak Sutural dan Axial
1) Katarak Floriform
2) Katarak Coralliform
3) Katarak bentuk Spear
4) Katarak axial embryonik Anterior
Katarak Generalisata
1) Katarak Koronar
2) Katarak Bintik Biru
3) Katarak Kongenital Total
4) Katarak kongenital membranosa

DIAGNOSIS

Katarak didiagnosa melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan


penunjang yang lengkap.
Perkembangan penyakit katarak dan gejalanya secara umum seperti proses
yang tersembunyi. Pasien mengalami gejala yang bervariasi seperti hanya
melihat hanya bayangan abu-abu, gangguan penglihatan, penglihatan kabur,
distorsi, silau atau star burst, diplopia monokuler, persepsi warna berubah,
dll, dalam berbagai tingkat, dan gejala ini akan berbeda pada jenis katarak
spesifik. 2,6

Gambar 2. Gambaran visual orang normal/tanpa katarak (kiri) dan dengan


katarak (kanan).
Katarak kongenital dan developmental terjadi karena adanya gangguan
pertumbuhan pada lensa. Bila gangguan terjadi sebelum kelahiran, maka
disebut sebagai katarak kongenital. Sehingga pada katarak kongenital,
opasitas lensa terjadi pada nukleus embrional atau nukleus fetal. Katarak
developmental dapat terjadi pada saat bayi hingga remaja sehingga opasitas
dapat terjadi pada bagian infantil atau nukelus dewasa, hingga bagian dalam
korteks atau kapsul. Katarak developmental biasanya mempengaruhi bagian
tertentu dimana proses pembentukan bagian tersebut itu terganggu, Serat
yang tersusun sebelumnya dan berdekatan dengan serat tersebut biasanya
normal dan tetap jernih. Opasitas pada katarak ini memberikan gambaran
yang berbeda dan opasitas yang ringan tanpa gangguan pengelihatan sangat
umum ditemui pada populasi normal. Biasanya opasitas ini hanya akan

ditemukan dengan menggunakan pemeriksaan slitlamp dengan midriasis


total. 4
VI.

PENATALAKSANAAN KATARAK
Pembedahan dilakukan jika penderita tidak dapat melihat dengan baik
dengan bantuan kaca mata untuk melakukan kegitannya sehari-hari.
Beberapa penderita mungkin merasa penglihatannya lebih baik hanya
dengan mengganti kaca matanya, menggunakan kaca mata bifokus yang
lebih kuat atau menggunakan lensa pembesar. Jika katarak tidak
mengganggu biasanya tidak perlu dilakukan pembedahan.
Indikasi operasi katarak dibagi dalam 3 kelompok:4
1. Indikasi Optik
Merupakan indikasi terbanyak dari pembedahan katarak. Jika
penurunan tajam penglihatan pasien telah menurun hingga
mengganggu kegiatan sehari-hari, maka operasi katarak seharusnya
dilakukan.
2. Indikasi Medis
Pada beberapa keadaan di bawah ini, katarak perlu dioperasi
segera, bahkan jika prognosis kembalinya penglihatan kurang baik:
-

Katarak hipermatur

Glaukoma sekunder

Uveitis sekunder

Dislokasi/Subluksasio lensa

Benda asing intra-lentikuler

Retinopati diabetika

Ablasio retina

3. Indikasi Kosmetik
Jika penglihatan hilang sama sekali akibat kelainan retina atau
nervus optikus, namun kekeruhan katarak secara kosmetik tidak
dapat diterima, misalnya pada pasien muda, maka operasi katarak

dapat dilakukan hanya untuk membuat pupil tampak hitam


meskipun pengelihatan tidak akan kembali.
a. Persiapan Bedah Katarak
Biasanya pembedahan dipersiapkan untuk mengeluarkan bagian lensa
yang keruh dan dimasukkan lensa buatan yang jernih permanent. Pra
bedah diperlukan pemeriksaan kesehatan tubuh umum untuk menentukan
apakah ada kelainan yang menjadi halangan untuk dilakukan pembedahan.
Pemeriksaaan ini akan memberikan informasi rencana pembedahan
selanjutnya.
Pemeriksaan tersebut termasuk hal-hal seperti:2,4,7
-

Gula darah
Hb, Leukosit, masa perdarahan, masa pembekuan
Tekanan darah
Elektrokardiografi
Riwayat alergi obat
Pemeriksaan rutin medik lainnya dan bila perlu konsultasi untuk

keadaan fisik prabedah


Tekanan bola mata
Uji Anel

A-scan Ultrasonografi: untuk mengukur panjang bola mata yang


bersama dengan mengukur. Pada pasien tertentu kadang-kadang
terdapat perbedaan lensa yang harus ditanam pada kedua mata.
Dengan cara ini dapat ditentukan ukuran lensa yang akan ditanam
untuk mendapatkan kekuatan refraksi pasca bedah.

Sebelum dilakukan operasi harus diketahui fungsi retina, khususnya

makula, diperiksa dengan alat retinometri


Jika akan melakukan penanaman lensa

kekuatannya ( dioptri ) dengan alat biometri.


Keratometri untuk mengukur kelengkungan kornea untuk bersama

maka

lensa

diukur

ultrasonografi dapat menentukan kekuatan lensa yang akan ditanam


b. Teknik-Teknik Pembedahan Katarak

10

Penatalaksanaan utama katarak adalah dengan ekstraksi lensa melalui


tindakan bedah. Dua tipe utama teknik bedah adalah Intra Capsular
Cataract Extraction/Ekstraksi katarak Intra Kapsular (ICCE) dan Extra
Capsular Cataract Extraction/Ekstraksi katarak Ekstra Kapsular (ECCE).
Di bawah ini adalah metode yang umum digunakan pada operasi katarak,
yaitu ICCE, ECCE dan phacoemulsifikasi.
1. Operasi katarak intrakapsular/ Ekstraksi katarak intrakapsular
ICCE merupakan teknik pembedahan dengan cara mengeluarkan
seluruh lensa bersama kapsul. Dapat dilakukan pada zonula zinnia
yang telah rapuh atau berdegenerasi dan mudah putus. Teknik ini
telah jarang digunakan. Indikasi utama yaitu jika terjadi subluksasi
atau dislokasi lensa. Kontraindikasi pada pasien berusia kurang dari
40 tahun yang masih mempunyai ligament hialoidea kapsular. 4,5
Kurangnya instrumen yang digunakan memungkinkan ICCE untuk
digunakan dalam berbagai kondisi. Rehabilitasi visual, dengan
menggunakan kacamata afakik sementara dapat dilakukan segera
setelah operasi. Masalah yang ditemui setelah ICC adalah karena
ukuran insisinya, menyebabkan penyembuhan yang lebih lambat dan
astigmatisma, hilangnya barrier antara segmen anterior dan posterior,
serta terbatasnya pilihan dan posisi IOL. 7
2.

Operasi katarak ekstrakapsular


Teknik ini memiliki beberapa kelebihan dibanding ICCE, antara lain:
a) Trauma yang minimal pada endotel kornea
b) Kurangnya astigmatisma
c) Insisi yang lebih stabil dan aman
Selain itu, kapsul posterior masih intak sehingga mengurangi resiko
hilangnya vitreus selama operasi memungkinkan fixasi IOL, adanya
barrier yang mencegh pertukaran molekul antara aquous dan
vitreus, mengurangi kemungkinan infeksi pada vitreus, mencegah
komplikasi terkait perlekatan vitreus terhadap iris, kornea, dan
insisi.7

11

Gambar 3. Ektraksi Ekstrakapsular2


3. SICS
Small Incision Cataract Surgery (SICS) merupakan salah satu teknik
pilihan yang dipakai dalam operasi katarak dengan penanaman lensa
intraokuler. Teknik ini dilakukan dengan adanya tunnel sklerokorneal
untuk mengeluarkan lensa yang katarak. Teknik ini lebih menjanjikan
dengan insisi konvensional karena astigmatisme yang rendah, dan
tajam penglihatan tanpa koreksi yang lebih baik.4
4. Fakoemulsifikasi
Fakoemulsifikasi

menggunakan

getaran

ultrasonik

untuk

menghancurkan nukleus sehingga material nukleus dan kortek dapat


diaspirasi melalui insisi 3 mm.4
Fakoemulsifikasi merupakan teknik ekstraksi katarak terbaik yang
pernah ada saat ini. Teknik ini di tangan operator yang berpengalaman
menghasilkan rehabilitasi tajam penglihatan yang lebih cepat, kurang
menginduksi astigmatisme, memberikan prediksi refraksi pasca
operasi yang lebih tepat, rehabilitasi yang lebih cepat dan tingkat
komplikasi yang rendah.9
12

Gambar 4. Fakoemulsifikasi8
Intraokular Lens (IOL)
Setelah pembedahan, pasien akan mengalami hipermetropi karena
kahilangan kemampuan akomodasi. Maka dari itu dilakukan penggantian
dengan lensa buatan (berupa lensa yang ditanam dalam mata, lensa kontak
maupun kacamata). IOL dapat terbuat dari bahan plastik, silikon maupun
akrilik.
Untuk metode fakoemulsifikasi digunakan bahan yang elastis sehingga
dapat dilipat ketika akan dimasukan melalui lubang insisi yang kecil.
VII.

KOMPLIKASI

Glaukoma dikatakan sebagai komplikasi katarak. Glaukoma ini dapat timbul


akibat intumesenensi atau pembengkakan lensa. Jika katarak ini muncul dengan
komplikasi glaukoma maka diindikasikan ekstraksi lensa secara bedah.
Komplikasi katarak yang tersering adalah glaukoma yang dapat terjadi karena
proses fakolitik, fakotopik, fakotoksik.
Berikut ini adalah komplikasi intraoperatif yang ditemukan selama operasi
katarak, yaitu:9
a. Kamera okuli anterior dangkal atau datar
b. Ruptur kapsul
c. Edem kornea
d. Perdarahan atau efusi suprakoroid
13

e. Perdarahan koroid yang ekspulsif


f. Tertahannya material lensa
g. Gangguan vitreous dan inkarserasi ke dalam luka
h. Iridodialisis
Berikut ini merupakan komplikasi post operatif yang ditemukan segera selama
operasi katarak, yang sering terlihat dalam beberapa hari atau minggu setelah
operasi, yaitu:4
a. Kamera okuli anterior datar atau dangkal karena luka robek
b. Terlepasnya koroid
c. Hambatan pupil
d. Hambatan korpus siliar
e. Perdarahan suprakoroid
f. Edem stroma dan epitel
g. Hipotoni
h. Sindrom Brown-Mc. Lean (edem kornea perifer dengan kornea sentral
jernih sangat sering terlihat mengikuti ICCE)
i. Perlekatan vitreokornea dan edem kornea yang persisten
j. Perdarahan koroid yang lambat
k. Hifema
l. Tekanan intraokuler yang meningkat (sering karena tertahannya
viskoelastis)
14

m. Edem makular kistoid


n. Terlepasnya retina
o. Endoptalmitis akut
p. Sindrom uveitis-glaukoma-hifema (UGH)
VIII.

PROGNOSIS
Prognosis penglihatan untuk pasien anak-anak yang memerlukan

pembedahan tidak sebaik prognosis untuk pasien katarak senilis. Adanya


ambliopia dan kadang-kadang anomali saraf optikus atau retina membatasi tingkat
pencapaian pengelihatan pada kelompok pasien ini. Prognosis untuk perbaikan
ketajaman pengelihatan setelah operasi paling buruk pada katarak kongenital
unilateral dan paling baik pada katarak kongenital bilateral inkomplit yang
progesif lambat.1

15

DAFTAR PUSTAKA
1. Harper RA, Shock JP. Lensa. Dalam: Raurdan P, Whitcher JP. Vaughan
dan Asbury: Oftalmologi Umum. Edisi 17. Jakarta: EGC; 2009.hal.169-83.
2. Lang GK. Lens. In: Lang GK. Ophthalmology: A Pocket Textbook Atlas.
2nd Edition. New York: Thieme Stuttgart; 2006.p.169-98.
3. Widyasari J. Katarak. Bagian Mata RSUD Cianjur Fakultas Kedokteran
Universitas Muhammadiyah Jakarta.2010.
4. Khurana AK, editor. Comprehensive Ophthalmology. 4th Edition. New
Delhi: New Age International; 2007.p.175-202.
5. Ilyas S, Yulianti SR. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 4. Jakarta:Balai Penerbit
FKUI; 2011. 204-16.
6. Olver J, Cassidy L. Cataract Assessment. Ophtalmology at A Glance.
Blackwell Publishing Company. p 72-3
7. Zorab AR, Straus H, Dondrea LC, Arturo C, Mordic R, Tanaka S, et all.
Lens and Cataract. San Francisco: American Academy of Oftalmology.
2006.p.45-69.
8. Khaw PT, Shah P, Elkinhton AR, editors. ABC of Eyes. 4th Edition.
London: BMJ Books; 2004.p.42-51.
9. Sundaram V, Barsam A, Alwitry A, Khaw PT, editors. Training in
Ophthalmology. New York: Oxford University Press; 2009.p.244-54.

16