Anda di halaman 1dari 7

ABORSI

DEFINISI

Aborsi adalah keluarnya hasil konsepsi sebelum usia kehamilan 20 minggu. Dari segi
mediko-legal maka istilah abortus, keguguran, dan kelahiran prematur mempunyai arti yang
sama dengan menunjukan pengeluaran janin sebelum usia kehamilan cukup.

ISTILAH ABORTUS

Secara klinis di bidang medis dikenal istilah-istilah abortus sebagai berikut :

a) Abortus Imminens, atau keguguguran mengancam. Pasien pada umumnya dirawat


untuk menyelamatkan kehamilannya, walaupun tidak selalu berhasil.

b) Abortus Insipiens, atau keguguran berlangsung atau dalam proses keguguran dan tidak
dapat dicegah lagi

c) Abortus Incomplet, atau keguguran tidak lengkap. Sebagian buah kehamilan telah
dilahirkan tetapi sebagian lagi belum, biasanya ari-ari masih tertinggal dalam rahim

d) Abortus Complet, atau keguguran lengkap. Apabila seluruh buah kehamilan telah
dilahirkan secara lengkap

e) Missed Abortion, atau keguguran tertunda, ialah keadaan dimana janin telah mati di
dalam rahim sebelum minggu ke-22 kemudian tertahan di dalam selama 2 bulan atau
lebih

f) Abortus Habitualis, atau keguguran berulang, ialah abortus yang telah berulang dan
terjadi tiga kali berturut-turut

JENIS ABORTUS

Abortus dapat dibagi atas 2 kelompok, yakni :

1) Abortus alami (natural, spontaneus), merupakan 10-12% dari semua kasus abortus.

2) Abortus buatan (provocation), merupakan 80% dari semua kasus abortus.


a) Legal

b) Kriminal

Abortus buatan legal artinya pelaku abortus dapat melakukan tanpa ada sanksi
hukum. Indikasi dalam keadaan apa saja abortus legal ini dapat dilakukan mempunyai
rentang panjang, yaitu dari indikasi yang sempit (absolut, terbatas hanya untuk
menyelamatkan jiwa ibu) sampai luas (cukup hanya atas permintaan), tergantung dari
kebijaksanaan masing-masing negara.

EMPAT MACAM ABORTUS MENURUT PROSES TERJADINYA

Abortus dapat menjadi empat macam tipe, yaitu :

Abortus yang terjadi secara spontan atau natural

Hal mana dapat disebabkan karena adanya kelainan dari mudigah atau fetus maupun
adanya penyakit pada ibu.

Diperkirakan antara 10-20% dari kehamilan akan berakhir dengan abortus secara
spontan, dan secara yuridis tidak membawa implikasi apa-apa. Sekitar 1/3 dari fetus
yang dikeluarkan tersebut perkembangannya normal tidak terdapat kelainan.

Abortus yang terjadi akibat kecelakaan

Seorang ibu yang sedang hamil bila mengalami rudapaksa, khususnya rudapaksa di
daerah perut, akan dapat mengalami abortus; yang biasanya disertai dengan perdarahan
yang hebat. Kecelakaan yang dapat terjadi karena si ibu terpukul, shock atau rudapaksa
lain pada daerah perut, hal mana biasanya jarang terjadi kecuali bila si-ibu mendapat
luka yang berat.

Abortus yang demikian kadang-kadang mempunyai implikasi yuridis, perlu penyidikan


akan kejadiannya.

Abortus provocatus medicinalis atau abortus theurapeticus

Yaitu penghentian kehamilan dengan tujuan agar kesehatan si-ibu baik agar nyawanya
dapat diselamatkan. Abortus yang dilakukan atas dasar pengobatan (indikasi medis),
biasanya baru dikerjakan bila kehamilan mengganggu kesehatan atau membahayakan
nyawa si ibu, misalnya bila si ibu menderita kanker atau penyakit lain yang akan
mendatangkan bahaya maut bila kehamilan tidak dihentikan.

Dengan adanya kemajuan di dalam dunia kedokteran, khususnya kemajuan pengobatan


maka kriteria penyakit yang membahayakan atau dapat menyebabkan kematian si ibu
akan selalu mengalami perubahan, hal mana tentunya akan memberi pengaruh didalam
penyidikan khususnya perundang-undangan pada umumnya, demikian pula dengan
definisi sehat menurut WHO dimana selain sehat dalam arti jasmani/fisik juga termasuk
sehat dalam arti kata rohani dan keadaan sosial-ekonomi dari si ibu. Dengan demikian
didalam menghadapi kasus semacam ini penyidik harus memahami permasalahan, bila
perlu penyidik meminta bantuan kepada organisasi proteksi yang bersangkutan.

Abortus provocatus criminalis atau abortus kriminalis

Yaitu tindakan abortus yang tidak mempunyai alasan medis yang dapat
dipertanggungjawabkan atau tanpa mempunyai arti medis yang bermakna. Jelas
tindakan penguguran kandungan di sini semaa-mata untuk tujuan yang tidak baik dan
melawan hukum. Tindakan abortus tidak bisa dipertanggungjawabkan secara medis,
dan dilakukan hanya untuk kepentingan si-pelaku, walaupun ada kepentingan juga dari
si-ibu yang malu akan kehamilannya. Kejahatan jenis ini sulit untuk melacaknya oleh
karena kedua belah pihak menginginkan agar abortus dapat terlaksana dengan baik
(crime without victim, walaupun sebenarnya korbannya ada yaitu bayi yang dikandung).

METODE YANG SERING DIPERGUNAKAN DALAM ABORTUS

Terdapat berbagai metode yang sering dipergunakan dalam abortus provocatus yang
perlu diketahui, oleh karena berkaitan dengan komplikasi yang terjadi dan bermanfaat di
dalam melakukan penyidikan serta pemeriksaan mayat untuk menjelaskan adanya
hubungan antara tindakan abortus itu sendiri dengan kematian yang terjadi pada si-ibu.
Metode-metode yang dipergunakan biasanya disesuaikan dengan umur kehamilan, semakin
tua umur kehamilan semakin tinggi resikonya. Hal ini perlu diketahui penyidik dalam
kaitannya dengan pengumpulan barang-barang bukti.

Pada umur kehamilan sampai dengan 4 minggu

- Kerja fisik yang berlebihan

- Mandi air panas

- Melakukan kekerasan pada daerah perut


- Pemberian obat pencahar

- Pemberian obat-obatan dan bahan-bahan kimia

- electric shock untuk merangsang rahim

- Menyemprotkan cairan ke dalam liang vagina

Pada umur kehamilan sampai dengan 8 minggu

- Pemberian obat-obatan yang merangsang otot rahim dan pencahar agar terjadi
peningkatan menstrual flow, dan preparat hormonal guna mengganggu
keseimbangan hormonal

- Penyuntikan cairan ke dalam rahim agar terjadi separasi dari placenta dan amnion,
atau menyuntikkan cairan yang mengandung karbol (carbolic acid)

- Menyisipkan benda asing ke dalam mulut rahim, seperti kateter atau pinsil dengan
maksud agar terjadi dilatasi mulut rahim yang dapat berakhir dengan abortus

Pada umur kehamilan antara 12 16 minggu

- Menusuk kandungan

- Melepaskan fetus

- Memasukkan pasta atau cairan sabun

- Dengan instrumen ; kuret

KOMPLIKASI ABORTUS

Komplikasi yang dapat terjadi pada si-ibu adalah terjadinya perdarahan hebat,
kejang, infeksi dan kematian. Kematian dapat berlangsung dengan cepat, hal mana
disebabkan oleh karena terjadinya syok vagal (kematian secara refleks akibat perangsangan
pada daerah rahim dan genitalia pada umumnya), pendarahan hebat dan terjadinya emboli
udara (udara masuk ke dalam pembuluh balik dari luka-luka pada daerah rahim menuju
jantung dan menyumbat pembuluh nadi paru-paru).
Penyulit yang mungkin timbul adalah :

Perdarahan akibat luka pada jalan lahir, atonia uteri, sisa jaringan tertinggal, diatesa
hemoragik dan lain-lain. Perdarahan dapat timbul segera pasca tindakan, dapat pula
timbul lama setelah tindakan.
Syok (renjatan) akibat refleks vasovagal atau neurogenik. Komplikasi ini dapat
mengakibatkan kematian yang mendadak. Diagnosis ini ditegakkan bila setelah
seluruh pemeriksaan dilakukan tanpa membawa hasil.
Emboli udara dapat terjadi pada teknik penyemprotan cairan kedalam uterus. Hal ini
terjadi karena pada waktu penyemprotan, selain cairan juga gelembung udara masuk
ke dalam uterus, sedangkan di saat yang sama sistem vena di endometerium dalam
keadaan terbuka. Udara dalam jumlah kecil biasanya tidak menyebabkan kematian,
sedangkan jumlah 70-100 ml dilaporkan sudah dapat mematikan dengan segera.
Inhibisi vagal, hampir selalu terjadi pada tindakan abortus yang dilakukan tanpa
anestesi pada ibu dalam keadaan stres, gelisah dan panik. Hal ini dapat terjadi akibat
alat yang digunakan atau suntikan secara mendadak dengan cairan yang terlalu
panas atau terlalu dingin.
Keracunan obat/zat abortivum, termasuk karena anestesia.
Infeksi dan sepsis. Komplikasi ini tidak segera timbul pasca tindakan tetapi
memerlukan waktu.
Lain-lain seperti tersengat arus listrik saat melakukan abortus dengan menggunakan
pengaliran listrik local.

ABORTUS DALAM PERSPEKTIF HUKUM

Menurut hukum, penguguran kandungan adalah tindakan penghentian kehamilan


atau mematikan janin sebelum waktunya kelahiran, tanpa melihat usia kandungan. Ini
terlihat dari ketentuan undang-undang sebagai berikut :

KUHP Pasal 299

1) Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruh supaya
diobati, dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan bahwa karena pengobatan itu
hamilnya dapat digugurkan, diancam dengan pidana penjara paling lama 4 tahun, atau
pidana denda paling banyak empat puluh ribu rupiah

2) Jika yang bersalah berbuat demikian untuk mencari keuntungan atau menjadikan
perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan atau jika dia seorang tabib, bidan atau
juru obat, pidananya dapat ditambah sepertiga
3) Jika yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam menjalankan pencarian, maka
dapat dicabut haknya untuk melakukan pencarian tersebut

KUHP Pasal 346

Seorang perempuan yang sengaja menggugurkan atau memastikan kandungannya atau


menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun

KUHP Pasal 347

1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang


perempuan tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas
tahun

2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya perempuan tersebut, iancam dengan pidana
penjara paling lama lima belas tahun

KUHP Pasal 348

1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang


perempuan dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun
enam bulan

2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya perempuan tersebut, diancam paling lama
tujuh tahun

KUHP Pasal 349

Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan berdasarkan pasal
346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang diterapkan
dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah
dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencarian dalam mana
kejahatan dilakukan.

Dalam KUHP Pasal 299 terlibat tiga orang:

1) Barang siapa dengan sengaja mengobati

2) Barang siapa meyuruh supaya diobati


3) Pasien sendiri

Seorang abortur adakalanya tidak bekerja sendirian, tetapi mempunyai seorang pembantu,
seorang kaki tangan atau seorang calo, untuk orang inilah berlaku: barang siapa menyuruh
supaya diobati. Yang penting dalam pasal ini: diberitahukan atau ditimbulkan harapan
bahwa karena pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan. Si perempuan dalam pasal ini
tidak perlu hamil, tetapi cukup bahwa dia merasa hamil. Obat yang diberikan tidak perlu
harus mujarab, dapat diberikan secangkir air yang sudah diberi mantra, yang penting adalah
memberikan atau menimbulkan harapan bahwa karena pengobatan itu hamilnya dapat
digugurkan. Bila si perempuan memang hamil berlakulah KUHP pasal 346 dan yang lain.

Yang diancam dengan hukuman adalah:

1) Si perempuan sendiri yang hamil

2) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan

Pada butir (1) si perempuan tidak perlu melakukan sendiri penguguran itu, tetapi ia
dapat menyuruh orang lain untuk itu. Untuk orang lain itu kemudian berlaku butir (2).

Dalam ketiga pasal dijumpai:

Dengan sengaja mematikan kandungan


Dengan sengaja menggugurkan kandungan

Mematikan kandungan berarti mematikan anak dalam kandungan yang masih hidup.
Karena anak yang dikeluarkan sudah mati, maka pembuktian bahwa anak masih hidup
dalam kandungan sulit dilakukan, bahkan mungkin tidak dapat dilakukan. Dengan sengaja
menggugurkan kandungan yang dinilai adalah perbuatan. Di rumah sakit, bila anak dalam
kandungan sudah mati, dokter tidak tergesa-gesa mengeluarkannya, kecuali ada indikasi
untuk itu, seperti pendarahan yang parah, bahaya infeksi yang mengancam sang ibu.
Biasanya anak yang mati dalam kandungan akan lahir sendiri, sebab anak yang mati
merupakan benda asing bagi ibunya. Jarang sekali anak yang mati dalam kandungan tidak
dikeluarkan, tetapi cairan dalam tubuh anak kemudian diserap, diabsorpsi, sehingga anak
menjadi keras membatu: lithopedion.

Dalam pasal mengenai pengguguran tidak disinggung tentang umur anak dalam
kandungan, ini berarti pengguguran dapat dilakukan sejak dari saat pembuahan sampai
anak hampir dilahirkan. Anak yang digugurkan tidak perlu selalu mati setelah keluar dari
rahim, ini dapat terjadi bila pengguguran dilakukan pada kandungan 28 minggu.