Anda di halaman 1dari 5

BorangPortofolio

Topik:
Drowning dengan Pneumonia Aspirasi
Tanggal (kasus):10 maret 2016
Presenter:dr. Dewi Jumantan Hamzah
Tanggal presentasi: 29 juni 2016

Pendamping:dr. Iznih R Maricar

Tempat presentasi: Ruang Pertemuan RSUD Tulehu


Obyektif presentasi:
Keilmuan

Keterampilan

Penyegaran

Tinjauan Pustaka

Diagnostik

Manajemen

Masalah

Istimewa

Anak

Remaja

Neonatus

Bayi

Dewasa

Lansia

Deskripsi : Anak perempuan 13 tahun masuk rumah sakit dengan napas cepat dan dalam.

Tujuan :Mengetahui diagnosis, pentalaksanaan dan komplikasi drowning (tenggelam)


Bahan bahasan:
Cara membahas:

Tinjauan Pustaka
Diskusi

Riset
Presentasi dan diskusi

Kasus

Audit
Email

Pos

Bumil

Data pasien:

Nama: An.K

Nama klinik:Ruang Anak

Telp:-

Data utama untuk bahan diskusi:


1. Diagnosis / Gambaran Klinis:
Anak perempuan 13 tahun masuk ke rumah sakit dengan keluhan sesak nafas, nafas cepat dan dalam, dialami sejak 1
jam setelah tenggelam. Pasien tenggelam 15 menit sebelum diselamatkan dan tidak sadarkan diri, 10 menit kemudian
pasien sadar dan dibawa ke rumah sakit. Mual, muntah-muntah frekuensi banyak, perut kembung.

2. Riwayat Penyakit Dahulu:


Epilepsi sejak 2 tahun yang lalu
3. Riwayat Pengobatan:
Pengobatan epilepsi hanya 1 tahun dan tidak dilakukan control kembali.
Daftar Pustaka

1.
2.

http://www.eMedicine Drowning : Article by Suzanne Moore Shepherd. Feb, 11 2014.

Varon J, Marik PE. Complete neurological recovery following delayed initiation of hypothermia in a victim of warm water neardrowning. Resuscitation. Mar 2006;68(3):421-3
Hasil Pembelajaran
Gejala yang timbul akibat tengelam, Penatalaksanaan gawat darurat apda pasien tengelam dan Komplikasi yang terjadi pada
pasien tenggelam.

Rangkuman hasil pembelajaran portofolio:


1. Subjektif
Anak perempuan 13 tahun masuk ke rumah sakit dengan keluhan sesak nafas, nafas cepat dan dalam, dialami
sejak 1 jam setelah tenggelam. Pasien tenggelam 15 menit sebelum diselamatkan dan tidak sadarkan diri, 10 menit
kemudian pasien sadar dan dibawa ke rumah sakit. Mual, muntah-muntah frekuensi banyak, perut kembung. Riwayat
kejang saat pasien berenang.
2. Objektif
Tanda Vital:
Nadi 140 x/menit (reguler), Suhu: 36,2 C dan Laju nafas: 42 x/menit.
Pemeriksaan Fisik Umum:
Conjunctiva pucat -/Leher: Dalam Batas Normal
Thoraks:
Jantung: SI N-SII N, murmur (-) dan gallop (-)
Paru -paru: Suara nafas vesikuler, ronchi basah Halus +/+, wheezing -/Ekstremitas: Akral dingin +/+
Foto Thoraks PA
Kesan: Tidak ditemukan tanda-tanda proses spesifik
EKG:
Atrial fibrilasi rate 140 x/menit
Pemeriksaan laboratorium
Darah rutin: Hb 13 g/dl, Leukosit 9000, trombosit 230.000, Ht: 32%
3. Assesment (Penalaran Klinis)
Hipoksia merupakan hal utama yang terjadi setelah seorang individu tenggelam. Keadaan terhambatnya jalan nafas akibat
tenggelam menyebabkan adanya gasping dan kemudian aspirasi, dan diikuti dengan henti nafas (apnea) volunter dan
laringospasme. Hipoksemia dan asidosis yang persisten dapat menyebabkan korban beresiko terhadap henti jantung dan kerusaka
sistenm syaraf pusat. Laringospasme menyebabkan keadaan paru yang kering, namun karena aspiksia membuat relaksi otot polos,

air dapat masuk ke dalam paru dan menyebabkan edema paru. Pada pasien ini ditemukan sesak nafas yang berat akibat mekanisme
kompensasi paru-paru untuk pemenuhan oksigen.
Pada pasien ini dditemukan bunyi pernafasan vesikuler dan terdapat suara tambahan ronkhi halus, menandakan adanya cairan
atau udema paru hal ini disebabkan oleh adanya aspirasi dari air laut. Aspirasi paru terjadi pada sekitar 90% korban tenggelam dan
80 90% pada korban hamper tenggelam. Jumlah dan komposisi aspirat dapat mempengaruhi perjalanan klinis penderita, isi
lambung, organism pathogen, bahan kimia toksisk dan bahan asing lain dapat memberi cedera pada paru dan atau menimbulkan
obstruksi jalan nafas.
4. Plan
Konsultasi:
- Konsultasi dengan dokter spesialis anak mengenai diagnosis pasien dan tatalaksana pasien
- Pemberian oksigenasi untuk mengurangi sesak pasien
- Pemberian loop diuretik dengan tujuan mengeluarkan cairan berlebih dari paru paru sehingga volume berlebihan dalam sirkulasi
darah juga akan berkurang sehingga mengurangi beban jantung.
- Pemberian Kortikosteroid dan antibiotik untuk mengurangi inflamasi pada paru-paru karena aspirasi dari air asin.
- Pemasangan NGT terbuka untuk mengurangi distensi abdomen.
Edukasi:
- Memberi pengetahuan kepada pasien dan keluarga pasien tentang komplikasi yang dapat terjadi pada pasien.
- Memberitahukan mengenai rencana pengobatan penyakit penyertanya (epilepsy) serta hal-hal yang mesti dihindari pasien untuk
mencegah kejadian serupa.