Anda di halaman 1dari 15

Clinical Science Session

INFANTISID

Disusun oleh :
Aiza Amierah Abdull Ropha 1301 1211 3504
David Marcelius 1301 1211 0536
Vengadesh Varatharajoo 1301 1211 3602

Preseptor :
Noorman Herryadi, dr., Sp.F., S.H.

SMF/BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN


MEDIKOLEGAL
RUMAH SAKIT DR. HASAN SADIKIN
BANDUNG
2013
A. Pendahuluan
Infantisid adalah pembunuhan bayi baru lahir oleh ibunya sendiri (sesuai
dengan pasal 341 KUHP: seorang ibu yang karena takut akan ketahuan
melahirkan anak pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian, dengan
sengaja merampas nyawa anaknya, diancam karena membunuh anaknya sendiri,
dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun).
Di dalam KUHp terdapat pasal-pasal yang berkaitan dengan pembunuhan
anak; yaitu: pasal 341, 342 dan 343.

Pasal 341 KUHP


Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak pada saat anak
dilahirkan atau tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas nyawa anaknya,
diancam karena membunuh anaknya sendiri, dengan pidana penjara paling lama
tujuh tahun.

Pasal 342 KUHP


Seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut akan
ketahuan bahwa ia akan melahirkan anak, pada saat dilahirkan atau tidak lama
kemudian merampas nyawa anaknya, diancam karena melakukan pembunuhan
anak sendiri dengan rencana, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.

Pasal 343 KUHP


Kejahatan yan diterangkan dalam pasal 341 dan 342 dipandang, bagi orang lain
yang turut serta melakukan, sebagai pembunuhan atau pembunuhan anak dengan
rencana.

Terdapat 3 unsur penting pada kasus infantisid:


1. Si pelaku haruslah ibu kandung korban.
2. Alasan pembunuhan ialah karena takut ketahuan akan melahirkan anak.
3. Pembunuhan segera dilakukan pada saat anak dilahirkan atau tidak berapa
lama kemudian, yang dapat diketahui dari ada tidaknya tanda-tanda
perawatan.
B. PEMERIKSAAN KEDOKTERAN FORENSIK
Tujuan pemeriksaan jenazah bayi :
1. Untuk mengetahui umur kandungan (berapa lama dalam kandungan).
2. Untuk menentukan viabilitas bayi (kesanggupan bayi untuk hidup di luar
kandungan).
3. Untuk memeriksa penyebab kematiannya, ada luka-luka yang dapat
dikaitkan dengan penyebab kematian.
4. Untuk menentukan apakah bayi sudah mendapat perawatan atau belum.
5. Untuk menentukan adakah tanda-tanda bayi pernah bernafas atau lahir
mati.
6. Untuk mencari identitas bayi.
7. Untuk mencari adanya kelainan bawaan yang dapat mempengaruhi
kelangsungan hidup bayi.

Pertanyaan yang sering ditanyakan untuk memperolah kejelasan:


1. Apakah anak tersebut dilahirkan hidup/mati?
2. Apakah terdapat tanda-tanda perawatan?
3. Apakah ada luka-luka yang dapat dikaitkan dengan penyebab
kematian?
4. Berapakah umur bayi tersebut (intra dan ekstrauterin)?
5. Apakah pada anak tersebut terdapat kelainan bawaan yang dapat
mempengaruhi kelangsungan hidup si anak?

Apakah anak tersebut dilahirkan hidup?


Penentuan apakah seorang anak itu dilahirkan dalam keadaan hidup atau
mati, pada dasarnya adalah sebagai berikut:
Adanya udara di dalam paru-paru,
Adanya udara di dalam lambung dan usus,
Adanya udara di dalam liang telinga bagian tengah, dan
Adanya makanan di dalam lambung.
Untuk memnetukan sama ada berlaku atau tidaknya respirasi pada anak,
beberapa kriteria dapat dipertimbangkan:
1. Bentuk dada: dada berbentuk cembung atau drum-shaped setelah
berlakunya respirasi, di mana bentuk dada sebelum terjadinya respirasi
adalah datar.
2. Diafragma: untuk memastikan anak lahir hidup, pada saat otopsi
dilakukan, sebaiknya dibuka bagian abdomen terlebih dahulu, untuk
melihat letak diafragma. Sekiranya diafragma cekung dan terletak di costa
4 atau 5, respirasi belum terjadi. Sekiranya respirasi telah berlaku,
diafragma datar dan terletak di costa enam atau tujuh.
3. Paru-paru:
a. Volume: paru-paru tampak kecil dengan tepi tajam sebelum
berlakunya respirasi. Sekiranya telah terjadi respirasi, paru-paru
menjadi ukuran yang lebih besar dengan tepi lebih bulat.
b. Konsistensi: sebelum terjadi respirasi paru-paru padat, berbentuk
seperti hati dan non-krepitan. Setelah terjadinya respirasi, paru-
paru menjadi krepitan dan spongy.
c. Warna: paru-paru berwarna coklat kemerahan sebelum respirasi
berlaku dan menjadi rosy red setelah berlakunya respirasi.
d. Berat: paru-paru menjadi 2 kali lebih berat setelah berlakunya
respirasi.

Apakah terdapat tanda-tanda perawatan?


Penentuan ada tidaknya tanda-tanda perawatan sangat penting artinya
dalam kasus pembunuhan anak oleh karena dari sini dapat diduga apakah kasus
yang dihadapi memang benar kasus pembunuhan anak seperti apa yang dimaksud
oleh Undang-undang, atau menjadi kasus lain yang ancaman hukumannya
berbeda.
Adapun anak yang baru dilahirkan dan belum mengalami perawatan dapat
diketahui dari tanda-tanda berikut :
- Tubuh masih berlumuran darah
- Ari-ari (plasenta), masih melekat dengan tali pusat dan masih berhubungan
dengan pusar.
- Bila ari-ari tidak ada, maka ujung tali pusat tampak tidak beraturan, hal ini
dapat diketahui dengan meletakan ujung tali pusat tersebut ke permukaan air.
- Adanya lemak bayi (vernix caseosa), pada daerah dahi serta di daerah yang
mengandung lipatan-lipatan kulit seperti daerah lipat ketiak, lipat paha dan
bagian belakang bokong.
Pada seorang anak yang telah mendapat perawatan tentunya akan memberikan
gambaran yang jelas, dimana tubuhnya sudah dibersihkan, tali pusat telah
dipotong dan diikat, daerah-daerah lipatan kulit telah dibersihkan dari lemak bayi
dan tidak jarang setelah diberi pakaian atau pembungkus agar tubuhnya menjadi
hangat.

Apakah ada luka-luka yang dapat dikaitkan dengan penyebab kematian?


Cara atau metode yang banyak dijumpai untuk melakukan tindakan
pembunuhan anak adalah cara atu metode yang menimbulkan keadaan mati lemas
(asfiksia), seperti penjeratan, pencekikan dan pembekapan serta membenamkan ke
dalam air. Adapun cara atau metode yang lain seperti menusuk atau memotong
serta melakukan kekerasan dengan benda tumpul relatip lebih jarang dijumpai.
Dengan demikian pada kasus yang diduga merupakan kasus pembunuhan
anak, yang harus diperhatikan adalah:
- Adanya tanda-tanda mati lemas: sianosis bibir dan ujung-ujung jari, bintik-
bintik perdarahan pada selaput biji mata dan selaput kelopak mata serta
jaringan longgar lainnya, lebam mayat yang lebih gelap dan luas, busa
halus berwarna putih atu putih kemerahan yang keluar dari lubang hidung
dan atau mulut serta tanda-tanda bendungan pada alat-alat dalam.
- Keadaan mulut dan sekitarnya: adanya luka lecet tekan di bibir atau
sekitarnya yang tidak jarang berbentuk bulan sabit, memar pada bagian
bibir bagian dalam yang berhadapan dengan gusi, serta adanya benda-
benda asing seperti gumpalan kertas koran atau kain yang mengisi rongga
mulut.
- Keadaan di daerah leher dan sekitarnya: adanya luka lecet tekan yang
melingkari sebagian atau seluruh bagian leher yang merupakan jejas jerat
sebagai akibat tekanan yang ditimbulkan oleh alat penjerat yang
dipergunakan, adanya luka lecet kecil-kecil yang sering kali berbentuk
bulan sabit yang diakibatkan oleh tekanan dari ujung kuku si pencekik,
adanya luka-luka lecet dan memar yang tidak beraturan yang dapat terjadi
akibat tekanan yang ditimbulkan oleh ujung-ujung jari si pencekik.
- Adanya luka-luka tusuk atau luka sayat pada daerah leher, mulut atau
bagian tubuh lainnya, dimana menurut literature ada satu metoda yang
dapat dikatakan khas yaitu tusukan benda tajam pada langit-langit sampai
menembus ke rongga tengkorak yang dikenal dengan nama tusukan
bidadari.

- Adanya tanda-tanda terendam seperti: tubuh yang basah dan berlumpur,


telapak tangan dan telapak kaki yang pucat dan keriput (washer womans
hand), kulit yang berbintil-bintil (cutis anserine) seperti kulit angsa, seta
adanya benda-benda asing terutama di dalam saluran pernafasan, yang
dapat berbentuk pasir, lumpur, tumbuhan air atau binatang.

Apakah anak yang dilahirkan itu cukup bulan dalam kandungan?

Apakah anak yang dilahirkan cukup bulan dalam kandungan (matur) atau
belum (premature), dapat diketahui dari pemeriksaan:

- Pengukuran lingkar kepala, lingkar dada, tinggi badan dan berat


badan: dimana mempunyai nilai tinggi adalah lingkar kepala dan tinggi
atau panjang badan.

- Keadaan ujung-ujung jari: apakah kuku-kuku telah meliwati ujung jari


seperti pada anak yang dilahirkan cukup bulan atau belum.

- Keadaan genitalia eksterna: bila telah terjadi descensus testiculorum


maka hal ini dapat diketahui terabanya testis pada scrotum, demikian pula
halnya dengan keadaan labia mayora apakah telah menutupi labia minora
atau belum; testis yang telah turun serta labia mayora yang telah menutupi
labia minora terdapat pada anak yang dilahirkan cukup bulan dalam
kandungan si-ibu.

- Pusat-pusat penulangan: khususnya pada tulang paha (os. Femur),


mempunyai arti yang cukup penting di dalam membantu perkiraan apakah
anak dilahirkan dalam keadaan cukup bulan atau tidak; bagian distal dari
os.femur serta bagian proksimal dari os.tibia akan menunjukkan pusak
penulangan pada umur kehamilan 36 minggu, demikian pula pusat
penulangan pada os.cuboideum dan os.cuneiforme, sedangkan ps.talus dan
os.calcaneus pusat penulangannya akan tampak pada umur kehamilan 28
minggu.
Untuk mengetahui umur kandungan bayi.
1. Mengukur berat badan : menurut tabel Struber.
Tabel tersebut dibuat umur kehamilan 1-10 bulan :
1 bulan belum ada berat
2 bulan 1,1 gram
3 bulan 14,2 gram
4 bulan 108 gram
5 bulan 316 gram
6 bulan 630 gram
7 bulan 1045 gram
8 bulan 1680 gram
9 bulan 2478 rgam
10 bulan 3405 gram

Pengukuran berat badan bayi kurang akurat, karena berat badan bayi dapat
berkurang karena pembusukan, sehingga lebih akurat pengukuran panjang badan
bayi.

2. Panjang badan bayi baru lahir rata-rata 51 sentimeter.


a. Mengukur panjang badan menurut rumus Haase :
* Umur 1-5 bulan : panjang badannya adalah umur dalam bulan
dikuadratkan.
Misalnya : 1 bulan panjang badan :12 = 1 cm
2 bulan panjang badan : 22 = 4 cm
* Umur 6-10 bulan : panjang badannya adalah umur dalam bulan dikali lima.
Misalnya : 6 bulan panjang badan : 6 x 5 = 30 cm
7 bulan panjang badan : 7 x 5 = 35 cm
b. Mengukur panjang badan dari puncak kepala sampai tulang ekor (Streeter)
atau mengukur dari puncak kepala sampai tumit (Haase).
Tabel 1. Panjang badan janin menurut Haase dan Streeter
c. Mengukur panjang badan menurut Arey, yaitu :
- panjang kepala-tumit (sentimeter) dikali 0,2
- panjang kepala-bokong (sentimeter) dikali 0,3
Hasilnya dalam bulan.
Rumus ini digunakan untuk bayi yang panjang badannya lebih dari 10
sentimeter.
3. Mengukur lingkar kepala (Finstrom).
- membedakan bayi laki-laki dan perempuan:
Bayi = 21,6 + 21,46 + 8,57 X
= 52,54 + 6,65 X
- rata-rata untuk semua bayi (tidak membedakan bayi laki-laki/ perempuan)
= 11,03 + 7,75 X

Keterangan : X = lingkar kepala (sentimeter)


Hasilnya menyatakan umur bayi dalam hari.
Pengukuran ini paling dapat akurat, karena digunakan parameter lingkar kepala
yang merupakan parameter antropometri yang paling bermakna.
4. Berdasarkan pemeriksaan pusat penulangan.
- Pemeriksaan pusat penulangan ini dilakukan karena seringkali bayi
ditemukan sudah tidak ada kepala ataupun tangan, sehingga sulit dilakukan
pemeriksaan yang telah disebutkan sebelumnya.
- Dilakukan pemeriksaan pada tulang tibia, femur, talus, calcaneus,
cuboideum.
- Dilihat pusat penulangan di daerah epifise (tampak sebagai bercak-bercak
lima milimeter berwarna merah).

Pusat penulangan Tampak setelah


Tabel 2. Klavikula 6 minggu Pusat
Tulang panjang (diafisis) 8 minggu
Ischium 12 minggu
Pubis 16 minggu
Calcaneus 20 minggu-24 minggu
Manubrium sterni 24 minggu
Talus Akhir minggu ke 28
Sternum bawah Akhir minggu ke 32
Distal femur 36 minggu
Proksimal tibia 38 minggu
Os cuboideum 40 minggu
penulangan pada tiap usia janin

- Caranya :
# untuk os femur dan tibia :
Tungkai bawah diflexikan pada sendi lutut, kemudian dibuat sayatan melintang
sehingga tampak patella, kemudian patella diangkat sehingga tampak distal
femur dan proksimal tibia tampak pusat penulangan di daerah epifise.
# untuk tulang kaki :
Buat sayatan ke tengah-tengah tumit sehingga os talus dan os calcaneus teriris.
Untuk os cuboideum, buat sayatan di lateral pergelangan kaki.

* Tanda-tanda aterm (bayi cukup bulan) 37-42 minggu


1. Ukuran antropometri :
- berat badan > 2500 gram
- jarak puncak kepala sampai tumit > 48 cm
- jarak puncak kepala sampai bokong 30-33 cm
- diameter kepala 33 cm
- diameter dada 30-33 cm
- jarak anterior-posterior dada 8-9 cm
- jarak anterior-posterior perut 7-8 cm
- lingkar perut 28-30 cm
2. Tanda-tanda eksternal yang lain :
- Pada bayi aterm, lanugo (rambut halus pada permukaan kulit) tinggal
sedikit, terdapat pada dahi, punggung, dan bahu.
- Kulit berwarna merah muda (pada bayi kullit putih) atau merah kebiru-
biruan (pada bayi kulit berwarna), yang setelah 1-2 minggu berubah
menjadi lebih pucat atau coklat kehitam-hitaman.
- Kuku melewati ujung jari.
- Dactilografi (gambaran garis-garis sidik jari pada jari jelas).
- Garis-garis telapak kaki telah terdapat melebihi 2/3 bagian depan kaki.
- Diameter tonjolan susu 7 mm.
- Testis sudah turun ke skrotum.
- Labia minor sudah tertutup labia mayor.
- Daun telinga elastis (sudah terbentuk tulang rawan).
- Jaringan lemak di bawah kulit cukup tebal (sehingga kulit tidak
berkeriput).
- Processus xiphoideus melengkung ke arah dorsal.
- Telah terbentuk alis ke arah lateral.
Pada bayi cukup bulan, hampir selalu terlihat pusat penulangan pada distal
femur, sedangkan pada proksimal tibia, kadang-kadang terdapat atau baru terdapat
sesudah lahir, juga pada tulang cuboideum. Pada bayi wanita, pusat penulangan
timbul lebih cepat.
* Tanda-tanda bayi postmatur ( 42 minggu) :
- Lanugo hampir tidak ada.
- Vernix caseosa (lemak bayi) tidak ada.
- Rambut panjang.
- Kuku panjang (melewati ujung jari).
- Kulit mengering (karena mengalami proses deskuamasi).
- Jaringan di bawah kulit berkurang, sehingga air di dalam jaringan longgar
sedikit. Hal ini menyebabkan berat badan bayi berkurang.
- Tampak seperti bayi berumur 1 minggu.

Untuk menentukan viabilitas bayi


- Umur kehamilan > 28 minggu
- Panjang badan (kepala-tumit) > 35 cm
- Panjang badan (kepala-tungging) > 23 cm
- Berat badan > 1000 gram
- Lingkar kepala > 32 cm
- Tidak ada cacat bawaan fatal, misalnya anencephaly

Apakah pada anak didapatkan kelainan bawaan yang dapat mempengaruhi


kelangsungan hidup bagi dirinya?
Hal ini sebenarnya berkaitan dengan permasalahan viabilitas dari anak
yang baru dilahirkan dan dapat diketahui dari pemeriksaan yang lengkap dari
dirinya, adapun keadaan yang perlu diperhatikan adalah :
- jantung : adakah kelainan seperti defek pada serambi dan bilik jantung (atrial
septal defek dan ventrikel septal defek)
- otak : apakah pertumbuhannya normal atau tidak, sempurna atau tidak seperti
misalnya anencephalus atau mikrocephalus
- saluran pencernaan : apakah ada kelainan pada kerongkongan seperti stenosis
esofagus.
Pada prinsipnya pemeriksaan forensik pada bayi sama seperti pemeriksaan pada
orang dewasa, hanya saja harus lebih memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
Pemeriksaan Luar, perhatikan :
- Bayi cukup bulan, prematur atau non viable
- Kulit, sudah dibersihkan atau belum, lihat keadaan verniks kaseosa, warna,
berkeriput atau tidak.
- Mulut, apakah ada benda asing yang menyumbat atau tidak
- Tali pusat, apakah sudah terputus atau masih melekat pada plasenta. Bila
terputus periksa apakah terpotong dengan rata atau tidak (dengan memasukan
ujung potongan kedalam air), apakah sudah terikat dan diberi obat antiseptik,
apakah ada tanda-tanda kekerasan pada tali pusat, hematom atau whartons jelly
berpindah tempat, apakah terputusnya dekat plasenta atau pusat bayi.
- Kepala, apakah terdapat caput succadaneum, moulage tulang tengkorak
- Tanda kekerasan. Perhatikan apakah terdapat tanda-tanda pembekapan disekitar
mulut dan hidung serta memar pada mukosa bibir dan pipi, apakah ada tanda
pencekikan atau penjeratan pada leher, memar atau lecet pada tengkuk.

Pemeriksaan Dalam, perhatikan :


- Leher, apakah terdapat tanda-tanda penekanan resapan darah pada kulit sebelah
dalam. Pada bayi, karena jaringan lebih elastis dibandingkan orang dewasa,
maka tanda-tanda kekerasan tersebut lebih jarang terlihat. Perhatikan apakah
terdapat benda asing dalam jalan nafas.
- Mulut, apakah terdapat benda asing dan perhatikan pada palatum mole apakah
ada robekan.
- Rongga dada. Pengeluaran rongga organ mulut, leher dan dada dilakukan
dengan teknik tanpa sentuhan. Perhatikan makroskopik paru-paru dan setelah
itu sebaiknya satu paru difiksasi dalam larutan formalin 10% untuk
pemeriksaan histopatologi dan pada paru yang lain dilukan uji apung paru.
- Tanda asfiksia, berupa Tardieus spots pada permukaan paru, jantung, timus dan
epiglottis.
- Tulang belakang, apakah terdapat kelainan kongenital dan tanda kekerasan.
Pusat penulangan pada femur, tibia, calcaneus, talus dan cuboideum.
Teknik otopsi :
Teknik otopsi pada bayi biasanya sama dengan orang dewasa, bedanya pada :
- Pemeriksaan pusat penulangan.
- Pemeriksaan paru-paru lebih detail.
- Membuka kepala.
Sebelum membuka kepala bayi, disuntik dulu dengan formalin (formaldehid) 10
% sehingga diharapkan otak bayi lebih padat.
1. Membuka kulit kepala.
Membuat sayatan melintang di atas telinga kiri dan kanan, kemudian
kulitnya dibuka, dilipat ke depan kemudian ke belakang. (sama seperti pada
orang dewasa).
2. Membuka tengkorak.
Tulang tengkorak dibuka dengan gunting, dengan cara menusuk fontanel
mayor 0,5-1 cm dari garis pertengahan dan dilakukan pengguntingan pada tulang
dahi dan ubun-ubun ke depan dan ke belakang pada sisi kiri dan kanan. Ke depan
sampai kira-kira 1cm di atas lengkung atas rongga mata ( margo superior orbita)
dan ke belakang sampai perbatasan dengan tulang belakang kepala. Kemudian
dilakukan pengguntingan kearah lateral sampai 1 cm di atas basis mastoid dengan
menyisakan tulang pelipis di atas telinga kira-kira sepanjang 2 cm.
Kedua keping tulang atap tengkorak dipatahkan ke arah lateral. Biasanya
duramater ikut tergunting karena pada bayi, duramater melekat erat pada tulang.
Perhatikan apakah terdapat perdarahan subdural atau subarakhnoid.
Perhatikan keadaan falks serebri dan tentorium serebeli terutama pada
perbatasannya (sinus rektus dan sinus transversus), apakah terdapat robekan.
Selanjutnya dilakukan pengeluaran otak seperti pada orang dewasa.
Tujuan pembukaan tengkorak seperti ini adalah supaya falks serebri serta
tentorium tetap dalam keadaan utuh, sehingga tiap kelainan dapat ditentukan
dengan jelas.

Aspek Medikolegal Infantisid


Pasal-pasal yang berkaitan dengan infantisid, antara lain :
1. Pasal 181 KUHP : menyembunyikan kelahiran dan kematian.
Barangsiapa mengubur, menyembunyikan, membawa ke lain tempat atau
menghilangkan mayat dengan maksud menyembunyikan kematian atau
kelahirannya, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau
pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
2. Pasal 304 KUHP :
Barangsiapa dengan sengaja menempatkan atau membiarkan seorang dalam
keadaan sengsara, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena
persetujuan dia wajib memberi kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan pada
orang itu, diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan
atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
3. Pasal 305 KUHP : membuang anak usia kurang dari 7 tahun.
Barangsiapa menempatkan anak yang umurnya belum tujuh tahun untuk
ditemukan atau meninggalkan anak itu dengan maksud melepaskan diri
daripadanya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam
bulan.
4. Pasal 306 KUHP :
(1) Jika salah satu perbuatan berdasarkan pasal 304 dan 305 mengakibatkan
luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama
tujuh tahun enam bulan.
(2) Jika mengakibatkan kematian, pidana penjara paling lama sembilan tahun.
5. Pasal 307 KUHP :
Jika yang melakukan kejahatan berdasarkan pasal 305 adalah bapak atau ibu
dari anak itu, maka pidana yang ditentukan dalam pasal 305 dan 306 dapat
ditambah sepertiga.
6. Pasal 308 KUHP :
Jika seorang ibu karena takut akan diketahui orang tentang kelahiran anaknya,
tidak lama sesudah melahirkan, menempatkan anaknya untuk ditemukan atau
meninggalkannya dengan maksud untuk melepaskan diri daripadanya, maka
maksimum pidana tersebut dalam pasal 305 dan 306 dikurangi separuh.
7. Pasal 338 KUHP :
Barangsiapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena
pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
8. Pasal 340 KUHP :
Barangsiapa dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas
nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan berencana, dengan pidana mati
atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua
puluh tahun.
9. Pasal 341 KUHP :
Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak pada saat anak
dilahirkan atau tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas nyawa
anaknya, diancam karena membunuh anak sendiri, dengan pidana penjara
paling lama tujuh tahun.
Sanksi pelaku infantisid (ibunya) biasanya ringan, karena ibu yang baru
melahirkan tidak dalam keadaan sehat/ keadaan sadar yang penuh akibat proses
melahirkan yang menyakitkan ibu.
10. Pasal 342 KUHP :
Seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut akan
ketahuan bahwa ia akan melahirkan anak, pada saat anak dilahirkan atau tidak
lama kemudian merampas nyawa anaknya, diancam karena melakukan
pembunuhan anak sendiri dengan rencana, dengan pidana penjara paling lama
sembilan tahun.
11. Pasal 343 KUHP :
Kejahatan yang diterangkan dalam pasal 341 dan 342 dipandang bagi orang
lain yang turut serta melakukan, sebagai pembunuhan atau pembunuhan anak
berencana.
Pada infantisid, jenazah bayi biasanya dibunuh, dibuang, ditelantarkan / tidak ada
yang mengurus sehingga bayi meninggal, atau lahir mati dan dibuang.