Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Wawasan kebangsaan pada hakekatnya adalah hasrat yang sangat kuat untuk
kebersamaan dalam mengatasi segala perbedaan dan diskriminasi. Wawasan
kebangsaan tidak dilandasi atas asal-usul kedaerahan, suku, keturunan, status sosial,
agama dan keyakinan. Jadi wawasan kebangsaan itu sangat mutlak untuk di miliki
oleh setiap warga negara Indonesia, wawasan kebangsaan tidak timbul dengan
sendirinya, tetapi muncul secara bertahap pada diri seseorang, yaitu dengan seringnya
menegakan wawasan yang diketahuinya dan kemudian bisa di aplikasikan kepada
kehidupannya sehari-hari.
Dewasa ini, di Indonesia wawasan kebangsaan sudah mulai tergeser oleh
berbagai budaya asing yang masuk, dan warga negara nya cenderung tidak peduli
terhadap wawasan kebangsaan tersebut, apalagi pada kalangan generasi muda saat
ini, mereka tidak bangga atas negaranya sendiri dan lebih membanggakan negara lain
yang menurut pandangan mereka lebih baik dan tentunya lebih modern.
Apabila hal ini terus terjadi, maka lambat laun wawasan kebangsaan mereka
akan terkikis dan wawasan kebangsaan itu akan menghilang dari diri mereka. Jadi,
dengan keadaan tersebut, kita sebagai generasi muda sudah seharusnya untuk
menjaga dan menegakan wawasan kebangsaan kita dan senantiasa untuk bangga atas
tanah air kita, yaitu Indonesia.

1.2. Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan Wawasan Nusantara?
2. Apa yang dimaksud dengan Wawasan Nusantara sebagai Wawasan Nasional
Indonesia?
3. Apa yang dimaksud dengan asas dan kedudukan Wawasan Nusantara?
4. Apa tujuan dan manfaat dari Wawasan Nusantara?
5. Bagaimana bentuk dan implementasi dari Wawasan Nusantara?
6. Bagaimana penerapan dan keberhasilan implementasi dari Wawasan
Nusantara?

1
7. Apa yang dimaksud dengan Wawasan Kebangsaan?
8. Bagaimana hakikat, perwujudan dan unsur dasar dari Wawasan Kebangsaan?
9. Apa tujuan dan manfaat dari Wawasan Kebangsaan?
10. Apa hubungan Pendidikan Kewarganegaraan dan Wawasan Kebangsaan?
11. Bagimana penerapan Wawasan Kebangsaan?

1.3. Tujuan Penulisan


Penulisan makalah ini ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah
Pendidikan Kewarganegaraan, memperdalam mengenai materi Wawasan Nusantara
dan Wawasan Kebangsaan terhadap Negara Indonesia, mengetahui penerapan dan
perwujudan dari Wawasan Nusantara dan Wawasan Kebangsaan yang bisa dilakukan
serta pandangan Islam mengenai Wawasan Nusantara dan Wawasan kebangsaan.

BAB II
PEMBAHASAN

2
2.1. Wawasan Nusantara
2.1.1. Pengertian Wawasan Nusantara
Wawasan Nusantara berasal dari kata Wawasan dan Nusantara. Wawasan
berasal dari kata wawas (dalam bahasa Jawa) yang berarti pandangan, tinjauan atau
penglihatan indrawi. Nusantara berasal dari kata nusa dan antara. Nusa berarti pulau
atau unsure kesatuan keoulauan. Antara berarti menunjukkan letak antara dua unsur.
Jika keduanya digabungkan maka akan berarti kesatuan kepulauan yang terletak
antara dua benua yaitu benua Asia dan benua Australia dan dua samudra yaitu
samudra Hindia dan samudra Pasifik. Nusantara juga digunakan sebagai pengganti
nama Indonesia.
Prof. Wan Usman dalam Winarno menyebutkan bahwa wawasan Nusantara
adalah cara pandang bangsa Indonesia mengenai diri dan tanah airnya sebagai negara
kepulauan dengan semua aspek kehidupan yang beragam. Sedangkan pengertian
wawasan Nusantara dalam GBHN 1988 adalah cara pandang dan sikap bangsa
Indonesia mengenai diri dan lingkungannya, dengan mengutamakan persatuan dan
kesatuan bangsa serta kesatuan wilayah dalam penyelenggaraan kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

2.1.2. Wawasan Nusantara sebagai Wawasan Nasional Indonesia


Sebagai bangsa majemuk yang telah menegara, bangsa Indonesia dalam
membina dan membangun atau menyelenggarakan kehidupan nasionalnya, baik pada
aspek politik, ekonomi, sosbud maupun hankamnya, selalu mengutamakan persatuan
dan kesatuan bangsa serta kesatuan wilayah. Untuk itu pembinaan dan
penyelenggaraan tata kehidupan bangsa dan negara Indonesia disusun atas dasar
hubungan timbal balik antara falsafah, cita-cita dan tujuan nasional, serta kondisi
sosial budaya dan pengalaman sejarah yang menumbuhkan kesadaran tentang
kemajemukan dan kebhinekaannya dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan
nasional.
Gagasan untuk menjamin persatuan dan kesatuan dalam kebhinekaan tersebut
merupakan cara pandang bangsa Indonesia tentang diri dan lingkungannya, yang

3
dikenal dengan istilah Wawasan Kebangsaan atau Wawasan Nasional Indonesia dan
diberi nama Wawasan Nusantara, disingkat Wasantara. Dari pengertian-pengertian
seperti di atas, pengertian yang digunakan sebagai acuan pokok ajaran dasar
Wawasan Nusantara ialah Wawasan Nusantara sebagai geopolitik Indonesia, yaitu
cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungannya yang
serba beragam dan bernilai strategis dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan
wilayah dan tetap menghargai serta menghormati kebhinekaan dalam setiap aspek
kehidupan nasional untuk mencapai tujuan nasional.
1. Landasan Ideal : Pancasila
Pancasila telah diakui sebagai ideologi dan dasar negara yang terumuskan
dalam pembukaan UUD 1945. Pada hakikatnya, Pancasila mencerminkan nilai
keseimbangan, keserasian, keselarasan, persatuan dan kesatuan, kekeluargaan,
kebersamaan dan kearifan dalam membina kehhidupan nasional. Pancasila
merupakan sumber motivasi bagi perjuangan seluruh bangsa Indonesia dalam
tekadnya untuk menata kehidupan di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia
secara berdaulat dan mandiri. Pancasila sebagai falsafah, ideologi bangsa, dan dasar
negara mempunyai kekuatan hukum yang mengikat para penyelenggara negara, para
pimpinan pemerintahan, dan seluruh rakyat Indonesia.
2. Landasan Konstitusional : UUD 1945
Bangsa Indonesia menyadari bahwa bumi, air, dan dirgantara di atasnya serta
kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan
sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Karena itu, bangsa Indonesia bertekad
mendayagunakan segenap kekayaan alam, sumber daya, serta seluruh potensi
nasionalnya berdasarkan kebijaksanaan yang terpadu, seimbang, serasi, dan selaras
untuk mewujudkan kesejahteraan dan keamanan segenap bangsa dan seluruh tumpah
darah dengan tetap memperhatikan kepentingan daerah penghasil secara proporsional
dalam keadilan.
Dengan demikian, UUD 1945 seharusnya dan sewajarnya menjadi landasan
konstitusional dari Wawasan Nusantara yang merupakan cara pandang bangsa
Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

4
Hakikat Wawasan Nusantara adalah keutuhan nusantara, dalam pengertian cara
pandang yang selalu utuh menyeluruh dalam lingkup nusantara demi kepentingan
nasional. Hal tersebut berarti bahwa setiap warga bangsa dan aparatur negara harus
berpikir, bersikap, dan bertindak secara utuh menyeluruh demi kepentingan bangsa
dan negara Indonesia. Demikian juga produk yang dihasilkan oleh lembaga negara
harus dalam lingkup dan demi kepentingan bangsa dan negara Indonesia, tanpa
menghilangkan kepentingan lainnya, seperti kepentingan daerah, golongan, dan orang
per orang.

2.1.3. Asas Wawasan Nusantara


Asas Wawasan Nusantara merupakan ketentuan-ketentuan atau kaidah-kaidah
dasar yang harus dipatuhi, ditaati, dipelihara, dan diciptakan demi tetap taat dan
setianya komponen pembentuk bangsa Indonesia (suku bangsa atau golongan)
terhadap kesepakatan bersama. Harus disadari bahwa jika asas wawasan nusantara
diabaikan, komponen pembentuk kesepakatan bersama akan melanggar kesepakatan
bersama tersebut, yang berarti bahwa tercerai berainya bangsa dan negara Indonesia.
Asas Wawasan Nusantara terdiri dari: kepentingan yang sama, tujuan yang sama,
keadilan, kejujuran, solidaritas, kerjasama, dan kesetiaan terhadap ikrar atau
kesepakatan bersama demi terpeliharanya persatuan dan kesatuan dalam kebhinekaan.

2.1.4. Kedudukan Wawasan Nusantara


Kedudukan (status) wawasan nusantara adalah posisi, cara pandang, dan
perilaku bangsa Indonesia mengenai dirinya yang kaya akan berbagai suku bangsa,
agama, bahasa, dan kondisi lingkungan geografis yang berwujud negara kepulauan,
berdasarkan pancasila dan UUD 1945. Secara hierarki, posisi atau status wawasan
nusantara menempati urutan ketiga setelah UUD 1945. Urutan sistem kehidupan
nasional Indonesia adalah:
1. Pancasila sebagai filsafat, ideologi bangsa, dan dasar negara.
2. UUD 1945 sebagai konstitusi negara.
3. Wawasan nusantara sebagai geopolitik Indonesia.

5
4. Petahanan nasional sebagai geostrategi bangsa dan negara Indonesia.
5. Politik dan strategi nasional sebagai kebijaksanaan dasar nasional dalam
pembangunan nasional.

2.1.5. Fungsi Wawasan Nusantara


Menjadi pedoman, motivasi, dorongan serta rambu dalammenentukan segala
kebijaksanaan, keputusan, tindakan danperbuatanbagi penyelenggara negara di
tingkat pusat dan daerah maupun bagiseluruh rakyat indonesia dalam hidup
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

2.1.6. Tujuan Wawasan Nusantara


Mewujudkan nasionalisme yang tinggi di segala aspek kehidupan bangsa
Indonesia yang mengutamakan kepentingan nasional. Nasionalisme yang tinggi demi
tercapainya tujuan nasional merupakan pancaran dari makin meningkatnya rasa,
paham dan semangat kebangsaan dalam jiwa kita sebagai hasil pemahaman dan
penghayatan wawasan nusantara.
Tujuan wawasan nusantara terdiri dari dua, yaitu:
Tujuan nasional, dapat dilihat dalam Pembukaan UUD 1945, dijelaskan bahwa
tujuan kemerdekaan Indonesia adalah untuk melindungi segenap bangsa
Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk mewujudkan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan
ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan perdamaian abadi dan
keadilan sosial.
Tujuan ke dalam adalah mewujudkan kesatuan segenap aspek kehidupan baik
alamiah maupun sosial, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan bangsa Indonesia
adalah menjunjung tinggi kepentingan nasional, serta kepentingan kawasan untuk
menyelenggarakan dan membina kesejahteraan, kedamaian dan budi luhur serta
martabat manusia di seluruh dunia.

2.1.7. Bentuk Wawasan Nusantara

6
Gambaran dari isi Deklarasi Djuanda :
Wawasan nusantara sebagai landasan konsepsi ketahanan nasional.
Mempunyai arti bahwa wawasan nusantara dijadikan konsep dalam
pembangunan nasional, pertahanan keamanan, dan kewilayahan.
Wawasan nusantara sebagai wawasan pembangunan.
Berarti bahwa cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri
serta lingkungannya selalu mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara mencakup:
1. Perwujudan kepulauan nusantara sebagai satu kesatuan politik.
2. Perwujudan kepulauan nusantara sebagai satu kesatuan ekonomi.
3. Perwujudan kepulauan nusantara sebagai satu kesatuan sosial dan
ekonomi.
4. Perwujudan kepulauan nusantara sebagai satu kesatuan sosial dan
politik.
5. Perwujudan kepulauan nusantara sebagai satu kesatuan pertahanan dan
keamanan.
Wawasan nusantara sebagai wawasan pertahanan dan keamanan
negara.
Berarti pandangan geopolitik Indonesia dalam lingkup tanah air
Indonesia sebagai satu kesatuan yang meliputi seluruh wilayah dan
segenap kekuatan negara.
Wawasan nusantara sebagai wawasan kewilayahan.
Wilayah nasional perlu ditentukan batasannya, agar tidak terjadi
sengketa dengan negara tetangga.

2.1.8. Implementasi Wawasan Nusantara


Implementasi wawasan nusantara bertujuan untuk menerapkan wawasan
nusantara dalam kehidupan sehari-hari yang mencakup bidang politik, ekonomi,
sosial, budaya, serta pertahanan nasional.

7
1. Implementasi dalam Kehidupan Politik.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
mengimplementasikan wawasan nusantara, yaitu:
Pelaksanaan kehidupan politik yang diatur dalam undang undang,
seperti UU Partai Politik, UU Pemilihan Umum, dan UU Pemilihan
Presiden. Pelaksanaan undang-undang tersebut harus sesuai hukum dan
mementingkan persatuan bangsa. Contohnya seperti dalam pemilihan
presiden, anggota DPR, dan kepala daerah harus menjalankan prinsip
demokratis dan keadilan, sehingga tidak menghancurkan persatuan dan
kesatuan bangsa.
Pelaksanaan kehidupan bermasyarakat dan bernegara di Indonesia harus
sesuai denga hukum yang berlaku. Seluruh bangsa Indonesia harus
mempunyai dasar hukum yang sama bagi setiap warga negara, tanpa
pengecualian. Di Indonesia terdapat banyak produk hukum yang dapat
diterbitkan oleh provinsi dan kabupaten dalam bentuk peraturan daerah
(perda) yang tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku secara
nasional.
Mengembagkan sikap hak asasi manusia dan sikap pluralisme untuk
mempersatukan berbagai suku, agama, dan bahasa yamg berbeda, sehingga
menumbuhkan sikap toleransi.
Memperkuat komitmen politik terhadap partai politik dan lembaga
pemerintahan untuk menigkatkan semangat kebangsaan dan kesatuan.
Meningkatkan peran Indonesia dalam kancah internasional dan
memperkuat korps diplomatik ebagai upaya penjagaan wilayah Indonesia
terutama pulau-pulau terluar dan pulau kosong.

2. Implementasi dalam Kehidupan Ekonomi.


Wilayah nusantara mempunyai potensi ekonomi yang tinggi, seperti
posisi khatulistiwa, wilayah laut yang luas, hutan tropis yang besar, hasil
tambang dan minyak yang besar, serta memiliki penduduk dalam jumlah

8
cukup besar. Oleh karena itu, implementasi dalam kehidupan ekonomi
harus berorientasi pada sektor pemerintahan, pertanian, dan perindustrian.
Pembangunan ekonomi harus memperhatikan keadilan dan
keseimbangan antardaerah. Oleh sebab itu, dengan adanya otonomi
daerah dapat menciptakan upaya dalam keadilan ekonomi.
Pembangunan ekonomi harus melibatkan partisipasi rakyat, seperti
dengan memberikan fasilitas kredit mikro dalam pengembangan usaha
kecil.
3. Implementasi dalam Kehidupan Sosial.
Banyak hal yang bisa dijadikan contoh dalam implementasi dalam
kehidupan sosial, salah satu contohnya Tari pendet dari Bali merupakan
budaya Indonesia yang harus dilestarikan sebagai implementasi dalam
kehidupan sosial. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kehidupan
sosial, yaitu :
a) Mengembangkan kehidupan bangsa yang serasi antara masyarakat yang
berbeda, dari segi budaya, status sosial, maupun daerah. Contohnya dengan
pemerataan pendidikan di semua daerah dan program wajib belajar harus
diprioritaskan bagi daerah tertinggal.
b) Pengembangan budaya Indonesia, untuk melestarikan kekayaan Indonesia,
serta dapat dijadikan kegiatan pariwisata yang memberikan sumber
pendapatan nasional maupun daerah. Contohnya dengan pelestarian
budaya, pengembangan museum, dan cagar budaya.
4. Implementasi dalam Kehidupan Pertahanan dan Keamanan.
Membagun TNI Profesional merupakan implementasi dalam kehidupan
pertahanan keamanan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kehidupan
pertahanan dan keamanan, yaitu :
Kegiatan pembangunan pertahanan dan keamanan harus memberikan
kesempatan kepada setiap warga negara untuk berperan aktif, karena
kegiatan tersebut merupakan kewajiban setiap warga negara, seperti
memelihara lingkungan tempat tinggal, meningkatkan kemampuan

9
disiplin, melaporkan hal-hal yang menganggu keamanan kepada aparat
dan belajar kemiliteran.
Membangun rasa persatuan, sehingga ancaman suatu daerah atau
pulau juga menjadi ancaman bagi daerah lain. Rasa persatuan ini dapat
diciptakan dengan membangun solidaritas dan hubungan erat antara
warga negara yang berbeda daerah dengan kekuatan keamanan.
Membangun TNI yang profesional serta menyediakan sarana dan
prasarana yang memadai bagi kegiatan pengamanan wilayah
Indonesia, terutama pulau dan wilayah terluar Indonesia.

2.1.9. Penerapan Wawasan Nusantara


Salah satu manfaat paling nyata dari penerapan wawasan nusantara,
khususnya di bidang wilayah, adalah diterimanya konsepsi nusantara di forum
internasional sehingga terjaminlah integritas wilayah territorial Indonesia. Laut
nusantara yang semula dianggap laut bebas menjadi bagian integral dari wilayah
Indonesia.Pertambahan luas wilayah sebagai ruang lingkup tersebut menghasilkan
sumber daya alam yang mencakup besar untuk kesejahteraan bangsa
Indonesia.Pertambahan luas wilayah tersebut dapat diterima oleh dunia internasional
terutama negara tetangga yang dinyatakan dengan persetujuan yang dicapai.
Penerapan wawasan nusantara dalam pembangunan negara di berbagai bidang
tampak pada berbagai proyek pembangunan sarana dan prasarana ekonomi,
komunikasi dan transportasi.
Penerapan di bidang sosial dan budaya terlihat pada kebijakan untuk
menjadikan bangsa Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika tetap merasa sebangsa,
setanah air, senasib sepenanggungan dengan asas pancasila.
Penerapan wawasan nusantara di bidang pertahanan keamanan terlihat pada
kesiapsiagaan dan kewaspadaan seluruh rakyat melalui sistem pertahanan dan
keamanan rakyat semesta untuk menghadapi berbagai ancaman bangsa dan Negara.
Dewasa ini kita menyaksikan bahwa kehidupan individu dalam
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sedang mengalami perubahan. Dan kita

10
juga menyadari bahwa faktor utama yang mendorong terjadinya proses perubahan
tersebut adalah nilai-nilai kehidupan baru yang dibawa oleh negara maju dengan
kekuatan penetrasi globalnya. Apabila kita menengok sejarah kehidupan manusia dan
alam semesta, perubahan dalam kehidupan itu adalah suatu hal yang wajar dan
alamiah.

2.1.10. Keberhasilan Implementasi Wawasan Nusantara


Wawasan Nusantara perlu menjadi pola yang mendasari cara berpikir,
bersikap dan bertindak dalam rangka menghadapi, menyikapi, dan menangani
permasalahan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang berorientasi
kepada kepentingan rakyat dan keutuhan wilayah tanah air. Wawasan Nusantara juga
perlu diimplementasikan dalam kehiduan politik, ekonomi, sosial budaya dan
pertahanan keamanan serta dalam upaya menghadapi tantangan-tantangan dewasa ini.
Karena itu, setiap warga negara Indonesia perlu memiliki kesadaran untuk:
a) Mengerti, memahami, dan menghayati hak dan kewajiban warga negara
serta hubungan warga negara dengan negara, sehingga sadar sebagai bangsa
Indonesia yang cinta tanah air berdasarkan Pancasila, UUD 1945, dan
Wawasan Nusantara.
b) Mengerti, memahami, dan menghayati bahwa di dalam menyelenggarakan
kehidupannya negara memerlukan Konsepsi Wawasan Nusantara, sehingga
sadar sebagai warga negara yang memiliki Wawasan Nusantara guna
mencapai cita-cita dan tujuan nasional.
Untuk mengetuk hati nurani setiap warga negara Indonesia agar sadar
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, diperlukan pendekatan dengan program
yang teratur, terjadwal dan terarah. Hal ini akan mewujudkan keberhasilan dari
implementasi Wawasan Nusantara. Dengan demikian Wawasan Nusantara
terimplementasi dalam kehidupan nasional guna mewujudkan Ketahanan Nasional.

2.2. Wawasan Kebangsaan


2.2.1. Pengertian Wawasan Kebangsaan

11
Wawasan berasal dari pangkal kata wawas dan akhiran an. wawas
mempunyai arti pandang, sedangkan wawasan berarti cara memandang, cara
meninjau, cara melihat, cara tanggap inderawi.
Dalam arti luas wawasan adalah cara pandang yang bersumber pada falsafah
hidup suatu bangsa dan merupakan pantulan daripadanya yang berisi dorongan dan
rangsangan di dalam usaha mencapai aspirasi serta tujuan nasional.
Wawasan adalah cara pandang yang lahir dari keseluruhan kepribadian kita
terhadap lingkungan sekitar, sifatnya adalah subyektif dan bisa kita pandang sebagai
suatu rangkuman dan penerapan praktis dan pemikiran filsafat yang melatarbelakangi
cara pandangan tersebut.
Bangsa adalah kesatuan tekad dari rakyat untuk hidup bersama, mencapai
cita-cita dan tujuan bersama terlepas dari perbedaan etnis, ras, agama, atau golongan
asalnya. Kesadaran Kebangsaan adalah perekat yang akan memikat batin seluruh
rakyat.
Jadi, wawasan kebangsaan pada hakekatnya adalah hasrat yang sangat kuat
untuk kebersamaan dalam mengatasi perbedaan dan diskriminasi. Dan wawasan
kebangsaan tidak dilandasi oleh asal-usul, kedaerahan, suku, keturunan, status sosial,
agama, dan keyakinan.

2.2.2. Hakikat Wawasan Kebangsaan


Bangsa Indonesia adalah bangsa yang dipandang dari aspek sosial budaya
adalah bangsa yang beragam yang dari segi kewilayahannya bercorak nusantara,
sehingga kita memandang sebagai satu kesatuan yang utuh. Dalam GBHN telah
disebutkan bahwa hakikat Wawasan Kebangsaan diwujudkan dengan menyatakan
kepulauan Nusantara sebagai satu kesatuan politik, ekonomi, sosial budaya, dan
pertahanan keamanan. Selain itu dapat disebutkan pula bahwa hakikat Wawasan
Kebangsaan adalah ketuhan bangsa dan kesatuan wilayah nasional.

2.2.3. Perwujudan Wawasan Kebangsaan

12
Konsepsi Wawasan Kebangsaan dituangkan dalam peraturan perundang-
undangan, yaitu dalam ketetapan MPR mengenai GBHN. Ketentuan-ketentuan
tersebut adalah:
1. Tap MPR No. IV/MPR/1973
2. Tap MPR No. IV/MPR/1978
3. Tap MPR No. II/MPR/1983
4. Tap MPR No. II/MPR/1988
5. Tap MPR No. II/MPR/1993
6. Tap MPR No. II/MPR/1978
Dalam ketetapan tersebut dinyatakan bahwa Wawasan dalam penyelenggaraan
pembangunan nasional dalam mencapai tujuan pembangunan Nasional disebut
wawasan kebangsaan atau wawasan nusantara dan juga merupakan cara pandang dan
sikap bangsa Indonesia terhadap diri dan lingkungannya dengan mengutamakan
persatuan dan kesatuan. Wawasan Kebangsaan adalah wawasan yang bersumber dari
Pancasila dan UUD 1945. Cara pandang bansa Indonesia tersebut mencakup :
1. Perwujudan kepulauan Nusantara sebagai Satu Kesatuan Politik
Kebutuhan wilayah nasional dengan segala isi dan kekayaannya merupakan
satu kesatuan wilayah, wadah, ruang hidup dan kesatuan mitra seluruh bangsa.
Bangsa Indonesia adalah bangsa yag terdiri dari berbagai suku, bahasa, dan agama.
Selain itu, bangsa Indonesia harus merasa satu, senasib sepenanggungan, sebangsa
dan setanah air, serta mempunyai satu tekad untuk mencapai cita-cita bangsa.hal ini
atas dasar Pancasila yang berfungsi sebagai ideologi bangsa dan negara yang
melandasi, membimbing, dan mengarahkan kepada tujuan bangsa serta merupakan
kesatuan hukum. Perwujudan ini meliputi masalah kewilayahan nasional, persatuan
dan kesatuan bangsa untuk mencapai cita-citanya, kesatuan falsafah dan ideologi
negara, serta kesatuan hukum yang mengabdi kepada kepentingan nasional.
2. Perwujudan kepulauan Nusantara sebagai Satu Kesatuan Ekonomi
Kekayaan wilayah Nusantara baik potensial maupun efektif adalah modal dan
milik bersama bangsa, dan keperluan hidup sehari-hari harus tersedia merata
diseluruh wilayah tanah air sehingga tercipta tingkat perkembangan ekonomi yang

13
serasi dan seimbang diseluruh daerah tanpa meninggalkan cirri-ciri khas yang dimilki
setiap daerah dalam mengembangkan ekonominya. Perwujudan ini meliputi masalah
kepemilikan bersama kekayaan efektif maupun potensial wilyah Nusantara,
pemerataan hasil kekayaan, keserasian dan keseimbangan tingkat pengembangan
ekonomi diseluruh daerah.
3. Perwujudan kepulauan Nusantara sebagai Satu Kesatuan Sosial Budaya
Masyarakat Indonesia harus berperikehidupan yang serasi dan terdapat tingkat
kemajuan masyarakat yang sama, merata, seimbang, serta selaras. Corak budaya
Indonsia merupakan kekayaan budaya yang menjadi modal dan landasan
pengembangan budaya bangsa seluruhnya dan hasil-hasilnya dapat dinikmati oleh
seluruh bangsa. Perwujudan ini meliputi masalah pemerataan, keseimbangan, dan
persamaan dalam kemajuan masyarakat serta mempersatukan corak ragam budaya
yang ada sebagai kekayaan nasional budaya bangsa.
4. Perwujudan kepulauan Nusantara sebagai Satu Kesatuan Pertahanan
Ancaman terhadap satu daerah merupakan ancaman bagi seluruh bangsa dan
negara sehingga tiap-tiap warga negara mempunyai hak dan kewajiban yang sama
dalam pembelaan negara. Perwujudan ini meliputi masalah persamaan hak dan
kewajiban bagi setiap warga negara untuk melakukan bela negara.
Wawasan Nusantara mengajarkan perlunya kesatuan sistem politik, ekonomi,
sosial budaya, dan pertahanan. Namun, tidak memungkinkan terjadinya penguasaan
suatu kekayaan alam oleh pemerintah pusat sehingga diperlukannya suatu konsep dan
aturan yang mengatur tentang keadilan untuk menikmati hasil kekayaan alam
tersebut. Meskipun di era modern ini GBHN sudah tidak ada lagi, rumusan Wawasan
Kebangsaan tetap tertuang dalam pasa 25 A UUD 1945 amandemen keempat yang
berbunyi Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara kepulauan
yang berciri Nusantaradengan wilayah yang batas-batas dan hak-haknya ditetapkan
dengan undang-undang.

2.2.4. Unsur Dasar Wawasan Kebangsaan

14
Wawasan kebangsaan mengandung tiga unsur dasar yaitu wadah (contour), isi
(content), dan tata laku (conduct).
1. Wadah (contour) meliputi seluruh wilayah Indonesia yang memiliki sifat serba
nusantara dengan kekeyaan alam dan penduduk serta aneka ragam budaya. Bangsa
Indonesia memiliki sebuah organisasi kenegaraan yang merupakan wadah berbagai
kegiatan kenegaraan dalam wujud supra struktur politik, sedangkan wadah kehidupan
bermasyarakat adalah berbagai kelembagaan dalam wujud infrasturktur politik.
2. Isi (content) adalah aspirasi bangsa yang berkembang di masyarakat dan cita-cita
serta tujuan nasional yang terdapat dalam Pembukaan UUD 1945. Untuk
mencapainya, bangsa Indonesia harus mampu menciptakan persatuan dan kesatuan
dalam keragaman yang ada pada Indonesia.
3. Tata laku (conduct) merupakan hasil interaksi antara wadah dan isi yang terdiri dari
tata laku batiniah dan lahiriah. Tata laku batiniah mencerminkan jiwa, semangat, dan
mentalitas yang baik dari bangsa Indonesia. Tata laku lahiriah tercermin dalam
tindakan, perbuatan, dan perilaku.

2.2.5. Tujuan Wawasan Kebangsaan


Tujuan wawasan kebangsaan dibedakan menjadi tujuan ke dalam dan tujuan
ke luar. Tujuan ke dalam yaitu menjamin perwujudan persatuan dan kesatuan segenap
aspek kehidupan nasional yaitu politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan
keamanan. Sedangkan tujuan ke luar yaitu terjaminnya kepentingan nasional dalam
dunia yang serba berubah dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial serta mengembangkan suatu
kerjasama dan saling menghormati.

2.2.6. Manfaat Wawasan Kebangsaan


Manfaat yang kita dapatkan dari konsepsi Wawasan Kebangsaan adalah
diterima dan diakuinya konsepsi Nusantara di forum Internasional, pertambahan luas
wilayah teritorial Indonesia, pertambahan luas wilayah sebagai ruang hidup yang
memberikan potensi sumber daya yang besar bagi peningkatan kesejahteraan rakyat,

15
menghasilkan cara pandang tentang keutuhan wilayah Nusantara yang perlu
dipertahankan oleh bangsa Indonesia, serta sebagai sarana integrasi Nasional.

2.2.7. Hubungan Pendidikan Kewarganegaraan dan Wawasan Kebangsaan


Pendidikan kewarganegaraan adalah suatu pendidikan yang mengajarkan
tentang bagaimana hak dan kewajiban sebagai warga negara serta segala hal yang
berkaitan dengan warga negara. Sedangkan wawasan nusantara adalah cara pandang
bangsa Indonesia mengenai diri dan tanah airnya sebagai negara kepulauan dengan
semua aspek kehidupan yang beragam.
Dari pengertian diatas, keduanya mempunyai hubungan yang sangat
berkaitan. Melalui pendidikan kewarganegaraan yang diajarkan sejak siswa berada di
tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi akan tercipta generasi penerus yang
mempunyai sikap dan tindakan yang mencerminkan jati diri bangsa Indonesia. Selain
itu juga diajarkan tentang bela negara. Jika satu daerah di Indonesia mendapat
ancaman maka ancaman itu berlaku untuk seluruh warga negara Indonesia.
Warga negara Indonesia yang mengetahui pentingya memahami wawasan
kebangsaan akan menjadi warga negara yang bertanggung jawab dalam arti mampu
mempertahankan persatuan, kesatuan, keutuhan, dan jati diri bangsa Indonesia.
Sehingga jati diri bangsa Indonesia tidak akan pudar walaupun era globalisasi telah
berkembang dan budaya-budaya asing masuk dengan bebas ke dalam kawasan
Indonesia.

2.2.8. Penerapan Wawasan Kebangsaan


Wawasan kebangsaan pada setiap warga negara juga bisa mengalami
penurunan, hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya:
Semangat kebangsaan telah mendangkal atau terjadi erosi, terutama pada
kalangan generasi muda.
Kekhawatiran ancaman disintegrasi kebangsaan seperti contoh pada negara
Afrika yang paham kebangsaannya merosot menjadi paham kesukuan.

16
Masyarakat dewasa ini, khususnya kaum muda tidak bangga atas negaranya
sendiri, dan anti tradisionalisme (terpengaruh oleh gaya masyarakat modern
yang berlebihan).
Kurangnya pemahaman tentang kebangsaan pada hampir setiap masyarakat
yang dengan kekurangan tersebut akan membuat rasa kebangsaan dan semangat
untuk mencintai dan memajukan bangsa nya menjadi berkurang.
Wawasan kebangsaan yang tidak ditegakan membuat masyarakat menjadi
tidak bersatu, dan tidak mempunyai lagi rasa ke bhinekaan dan masyarakat
cenderung untuk menjadi kaum yang individualis, bahkan sampai tingkatan
kapitalis, dan kurang peka terhadap lingkungan sekitar.
Banyaknya perbedaan dalam hal kebangsaan yang penyelesaiannya berlarut-
larut yang membuat tidak kokohnya suatu pondasi kebangsaan.
Sekarang ini wawasan kebangsaan Indonesia tidak lagi berakar pada asas
kedaulatan yang berada ditangan rakyat, tetapi berakar pada penguasa dan
kaum kapitalis.
Wawasan kebangsaan harus mampu menjawab tantangan dan peluang yang
terbuka dihadapan kita. Untuk menjawab berbagai tantangan yang timbul, bangsa
Indonesia menggunakan pendekatan atau sudut pandang, yang akhirnya berkembang
menjadi sudut pandang atau pola pikir falsafah pancasila. Sudut pandang tersebut
adalah :
a. Monodualistik adalah suatu paham yang menganggap bahwa hakikat sesuatu
adalah merupakan dua unsur yang terikat menjadi satu kebulatan. Manusia trdiri
atas pria dan wanita, kehilangan salah satu unsur, maka eksistensi manusia akan
punah. Manusia terdiri dari unsur jasmani dan rohani sebagai satu kesatuan.
Dalam memandang manusia menurut paham monodualis, maka : a). Manusia
adalah makhluk tuhan yang mengadakan hubungan serasi antara pencipta dan
ciptaan-Nya; b). Manusia terdiri atas unsur jasmani dan rohani yang merupakan
kesatuan tak terpisahkan dan masing-masing unsur memiliki dharmanya sendiri-
sendiri; c). Manusia akan mengalami hidup duniawi dan akhirat; d). Manusia
merupakan bagian dari masyarakat/bangsanya.

17
b. Monopluralistik adalah paham yang mengakui bahwa bangsa Indonesia terdiri
dari berbagai unsur beraneka ragam, seperti suku, adat dan budaya, agama,
namun semuanya terikat menjadi satu-kesatuan.
c. Keselarasan adalah keadaan yang menggambarkan suasana yang tertib, teratur,
aman, damai, sehingga akan timbul ketentraman lahir dan batin.
d. Keserasian adalah keadaan yang menggambarkan terpadunya unsur-unsur yang
terlibat dalam kehidupan bersama.
e. Keseimbangan adalah keadaan yang menggambarkan bahwa masing-masing
unsur yang terlibat dalam hidup bersama dalam hubungan bersama, diperlakukan
sepatutnya.
Cara berpkir integralistik (berpikir inklusif) berpandangan bahwa :
a. Kebahagiaan yang dapat saya capai dengan memberikan kemungkinan pada
orang lain untuk mencapai kebahagiaaan juga.
b. Survival hanya mungkin juga di perjuangkan tidak hanya untuk kepentingan
individu saja, melainkan untuk semua orang.
c. Kesejahteraan yang tidak merata adalah kesejahteraan yang terancam punah.
Wawasan Kebangsaan harus ada pada setiap diri warga negara, dan hal itu
perlu dibangun oleh oleh setiap warga negara tersebut, yaitu dengan cara :
a. Adanya rasa ikatan yang kokoh dalam satu kesatuan dan kebersaman diantara
sesama anggota masyarakat tanpa membedakan suku, agama, ras maupun
golongan.
b. Saling memebantu antar sesama komponen bangsa demi mencapai tujuan dan
cita-cita bersama.
c. Tidak membangun primodialisme dan ekslusifisme.
d. Membangun kebersamaan.
e. Mengembangkan sifat berfikir dan prilaku positif dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
f. Senantiasa berfikir jauh kedepan, membuat gagasan untuk kemajuan bangsa dan
negaranya menuju kemandirian.

18
Wawasan kebangsaan yang luas dan tegas, akan membuat masyarakat menjadi
percaya diri atas bangsanya dan akan berusaha untuk membuat harum nama
bangsanya tersebut, jadi untuk memebuat masyarakat bangga loyal atas bangsanya,
wawasan kebangsaan pada masyarakat tersebutharus di kokohkan terlebih dahulu dan
bentuk loyalitas seorang warga negara terhadap bangsanya :
a. Tercapainya persatuan dan kesatuan bangsa
b. Tercapainya keselarasan, keserasian dan keseimbangan dalam segala aspek
kehidupan
c. Tercapinya kesejahteraan yang adil lahir batin bagi seluruh masyarakat indonesia
d. Mendudukan manusia menurut kodrat, harkat dan martabatnya
e. Mengutamakan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam menghadapi
berbagai persoalan
f. Melandaskan diri pada keimanan dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
Apabila wawasan kebangsaan telah terwujud, maka kita akan mampu
menjawab tantanagn dan peluang yang terbuka dihadapan kita, yaitu seperti tantangan
globalisasi dan modernisasi yang di bawa oleh kaum barat, akibat adanya wawasan
kebangsaan yang kuat, maka seseorang tidak akan tergerus oleh arus modrenisasi
yang liberal dan bisa sampai melupakan bangsanya sendiri.

2.2.9. Pandangan Islam mengenai Wawasan Kebangsaan dan Wawasan


Nusantara
Tidak sedikit Islam memberikan sumbangsihnya kepada bangsa dan Negara
ini sejak zaman penjajahan, pengusiran penjajah, kemerdekaan, mempertahankan
kemerdekaan atau revolusi fisik, masa pembangunan, era reformasi hingga sekarang.
Oleh karena itu, wajib hukumnya mempertahankan persatuan dan kesatuan
Bangsa. Islam sangat menganjurkan adanya persatuan dan mengecam terjadinya
perpecahan.
Firman Allah didalam Al-quran surat Ali-imran, 3:103 yang artinya:
Dan berpegang teguhlah kamu sekalian dengan tali Allah dan janganlah kamu
sekalian berpecah belah, dan ingatlah nikmat Allah atas kamu semua ketika kamu

19
bermusuh-musuhan maka Dia (Allah) menjinakkan antara hati-hati kamu maka kamu
menjadi bersaudara sedangkan kamu diatas tepi jurang api neraka, maka Allah
mendamaikan antara hati kamu. Demikianlah Allah menjelaskan ayat ayatnya agar
kamu mendapat petunjuk

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Geopolitik diartikan sebagai sistem politik atau peraturan-peraturan
dalam wujud kebijaksanaan dan strategi nasional yang didorong oleh aspirasi

20
nasional geografik (kepentingan yang titik beratnya terletak pada
pertimbangan geografi, wilayah atau territorial dalam arti luas) suatu Negara,
yang apabila dilaksanakan dan berhasil akan berdampak langsung kepada
system politik suatu Negara. Sebaliknya, politik Negara itu secara langsung
akan berdampak pada geografi Negara yang bersangkutan. Geopolitik
bertumpu pada geografi sosial (hukum geografis), mengenai situasi, kondisi,
atau konstelasi geografi dan segala sesuatu yang dianggap relevan dengan
karakteristik geografi suatu Negara. Jadi wawasan Nusantara adalah sebagai
cara pandang bangsa Indonesia mengenal diri dan tanah air sebagai negara
kepulauan dari berbagai aspek kehidupan.
Wawasan kebangsaan intinya adalah loyalitas warga terhadap
bangsanya. Bentuk loyalitas bagi bangsa Indonesia diantaranya adalah:
Mengakui bahwa warga negara Indonesia dengan sadar sebagai
pendukung cita-cita dan tujuan yang menjadi jatidiri bangsa indonesia,
seperti:
1.1 Tercapainya persatuan dan kesatuan bangsa
1.2 Tercapainya keselarasan, keserasian dan keseimbangan dalam segala
aspek kehidupan
1.3 Tercapinya kesejahteraan yang adil lahir batin bagi seluruh masyarakat
indonesia
1.4 Mendudukan manusia menurut kodrat, harkat dan martabatnya
1.5 Mengutamakan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam menghadapi
berbagai persoalan
1.6 Melandaskan diri pada keimanan dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha
Esa
Wawasan kebangsaan harus dijaga, di pelihara dan di perjuangkan
terus menerus. Paham integralistik/ cara berfikir integralistik (menurut Prof.
Mr. Soepomo) akan memperkokoh wawasan kebangsaan. Ideologi Pancasila
melandasi wawsan kebangsaan kita. Globalisasi akan berdampak positif bila
ditujukan untuk perdamaian dunia. Perang modern sulit diidentifikasi sebagai

21
suatu bentuk peperangan yang nyata, sehingga bangsa Indonesia harus hati-
hati agar tidak teradu domba.

DAFTAR PUSTAKA

Adjisoedarmo, Soedito, Yuwono Edi, dkk. 2012. Jatidiri Wawasan


Kebangsaan . Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto

Kaelan MS. 2010. Pendidikan Pancasila. Paradigma: Jakarta

22
Lembaga Pengkajian Strategi & Pembangunan, Pendidikan Wawasan
Kebangsaan,Jakarta: PT. Gramedia Widia Sarana Indonesia, 1994

Sinamo, Nomensen. 2012. Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Perguruan


Tinggi. Jakarta: Permata Aksara.

Suhady, Idup dan A.M. Sinaga, Wawasan Kebangsaan dalam kerangka NKRI
-Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia, 2006

Sumarsono, S, et al. 2001. Pendisikan Kewarganegaraan. Jakarta: Gramedia


Pustaka Utama.

Taniredja, Tukiran. 2014. Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi


Muhammadiyah. Purwokerto: Alfabeta

23