Anda di halaman 1dari 5

Menjawab Misteri Persamaan Akuntansi

dengan Clearing Account


Posted on 16 February 2016

Kali ini topik yang akan saya ulas kembali adalah mengenai persamaan akuntansi. Ya, topik
yang pernah saya bahas tahun 2009 (tautan) ini menyebabkan diskusi yang cukup seru
bersama salah satu dosen saya melalui pos-el pada tahun 2014 dan, akan kembali saya bahas
karena kemunculan paper ini.

Dari sudut pandang saya, sebenarnya isu yang muncul dari paper tersebut dan pembahasan
berkepanjangan mengenai persamaan akuntansi adalah pendekatan mana yang akan
digunakan untuk menjelaskan kepada para pembelajar akuntansi. Apakah pendekatan bahwa
persamaan akuntansi merupakan persamaan aljabar atau persamaan akuntansi merupakan
persamaan yang mencerminkan kejadian bisnis dan artikulasi laporan keuangan.

Menurut hemat saya, isu ini dapat dikaji dengan melihat akuntansi (khususnya pelaporan
keuangan) sebagai suatu sistem, dan sebagai sistem, pasti ada input-proses-output.

Dari sudut pandang input, akuntansi mencatat transaksi menggunakan sistematika tertentu
(aljabar tentunya), sehingga transaksi (atau kejadian ekonomik) tidak ada yang terlupakan,
hilang, atau tak terlacak. Menurut saya intinya adalah, sudut pandang konsep accounting
mathemathics atau persamaan aljabar akuntansi (konsep dalam paper) membahas persamaan
akuntansi dari sudut pandang input. Melihat dari bagaimana transaksi dicatat ke dalam jurnal
(debit kredit) dan dibuat dengan sistematika aljabar yang mencerminkan kejadian ekonomik
dan diukur dalam satuan moneter. Dikarenakan persamaan akuntansi dipandang dari segi
input menggunakan dasar aljabar, maka persamaan ini boleh saja dibolak-balik urutannya
bahkan dipindah ruas, yang penting bisa menjelaskan penjurnalan dalam pencatatan transaksi.

Aset = Liabilitas + Modal + Pendapatan Biaya. Agar biaya menjadi positif maka dipindah
ruas ke kiri, sehingga persamaan tadi ekuivalen dengan Aset + Biaya = Liabilitas + Modal +
Pendapatan >>> persamaan debit = kredit (lebih lengkapnya cek di tautan paper).

Dari sudut pandang output, akuntansi adalah proses menyajikan transaksi dan kejadian
ekonomik ke para pemangku kepentingan. Dari sudut padang ini, akuntan harus melihat
bagaimana informasi keuangan yang tersaji dalam laporan keuangan dapat meringkas
kejadian ekonomik yang terjadi dalam satu periode untuk para pemangku kepentingan.
Menyajikan informasi ini juga termasuk bagaimana suatu transaksi atau kejadian ekonomik
dapat direpresentasikan dengan wajar dan jujur dalam elemen laporan keuangan. Sehingga,
menggunakan sudut pandang output, persamaan akuntansi adalah persamaan yang
merepresentasikan kejadian bisnis dalam bentuk elemen laporan keuangan. Dikarenakan
persamaan ini merepresentasi kejadian bisnis, maka persamaan ini secara urutan seharusnya
jangan dibolak-balik atau malah dipindah ruas, karena mengubah susunan elemen persamaan
akan mengubah makna dari kejadian bisnis.

Persamaan dasar akuntansi, yaitu Aset = Liabilitas + Ekuitas mencerminkan kondisi bahwa
aset yang dikuasai entitas asalnya dari kreditur (liabilitas) dan pemilik (ekuitas). Liabilitas
diurutkan lebih dulu dari ekuitas dalam persamaan untuk menunjukkan kewajiban entitas
pertama adalah kepada kreditur baru kemudian residualnya untuk pemilik. Persamaan ini
mencerminkan prinsip entitas, yang mana entitas terpisah dari pemilik. Jika dilanjutkan, pada
suatu saat, aset yang dikuasai entitas akan meningkat (atau menurun) ketika entitas
melakukan kegiatan usaha sehingga mendapatkan laba (atau rugi) dalam berusaha. Jika upaya
(biaya) lebih besar daripada hasil (pendapatan) maka entitas mengalami rugi, sebaliknya
maka entitas akan mengalami laba. Kegiatan usaha ini akan menjadi hak atau tanggungan
pemilik. Sehingga, dengan adanya kegiatan usaha, persamaan dasar akuntansi dijabarkan lagi
menjadi,

Aset = Liabilitas + Ekuitas (+Pendapatan Biaya). Persamaan ini menunjukkan bahwa aset
yang dikuasai oleh entitas sumbernya dari liabilitas (kreditur) dan ekuitas (termasuk kegiatan
usaha yang menjadi tanggungan atau hak pemilik).

Dengan menggunakan pendekatan input, pembelajar akan lebih mudah memahami konsep
pencatatan transaksi ke dalam jurnal debit kredit. Namun dengan pendekatan output,
pembelajar akan lebih memahami bahwa akuntansi merupakan suatu rangkaian proses yang
hasil akhirnya adalah menyajikan informasi ekonomik bagi pemangku kepentingan,
sedangkan input merupakan konsekuensi logis dari output yang diharapkan.

Contoh kemudahan pendekatan input (persamaan aljabar) adalah untuk menjelaskan jurnal
yang mana salah satu akunnya bukan merupakan pos dari elemen laporan keuangan. Saya
ambil contoh dari pengalaman saya menggunakan ERP.

Dalam proses pembukuan modern yang menggunakan ERP, ada akun yang dinamakan
dengan clearing account. Clearing account merupakan pos/akun yang bukan merupakan
komponen laporan keuangan. Clearing account ini digunakan untuk keperluan pengendalian
atau cek transaksi. Contohnya di MySAP adalah akun GR/IR Clearing dan BIC (Bank
Incoming Clearing).

Clearing account ini sifatnya sementara dan akan dibersihkan secara berulang. Jika pada
suatu periode tertentu belum dibersihkan, maka clearing account akan menjadi bagian dari
backlog di ERP dan akan berpengaruh pada akurasi data laporan keuangan karena pada saat
pelaporan, akun clearing ini akan dimasukkan ke pos laporan keuangan sesuai sifatnya.

Clearing account muncul pada saat:

1. Adanya beda waktu antar kejadian transaksi (GR/IR Clearing, Clearing Others)

2. Segregasi tugas dalam organisasi (Bank Incoming Clearing, Bank Outcoming


Clearing)

3. Transaksi akuntansi memerlukan klarifikasi

Contoh kejadian transaksi yang sering terjadi adalah, pada saat Purchase Order (PO) barang
memasuki tanggal delivery, katakanlah bahwa barang ini sudah diterima 100% dari vendor
sejumlah 100 barang. Dikarenakan vendor sudah menyerahkan barang sejumlah 100, maka
PO ini dicatat sebagai GR (Goods Received) oleh bagian penerimaan. Pencatatan Goods
Received ini dalam sistem akan memunculkan jurnal Material (debit) pada GR/IR Clearing
(kredit). Material di sini merupakan pos dari akun persediaan yang merupakan akun dari
elemen aset.

Pada akuntansi pengantar, jurnal yang akan ditemui pembelajar akuntansi dari transaksi ini
adalah Material (debit) pada Hutang (kredit) jika pembayaran mencicil atau Material (debit)
pada Kas (kredit) jika pembayaran tunai.

Jika kita memasukkan unsur pengendalian internal dalam kejadian bisnis di atas, akan rawan
jika penerimaan barang, pencatatan penerimaan barang, pencatatan penagihan, dan
pembayaran dilakukan oleh satu pihak. Sehingga, kegiatan ini disegregasikan. Penerimaan
dan pencatatan barang dilakukan oleh bagian penerimaan, pencatatan penagihan dan
pembayaran dilakukan oleh bagian keuangan.

Segregasi tugas dan pengendalian transaksi inilah yang memunculkan pos GR/IR Clearing
dalam ERP. Sehingga, pada saat tagihan diterima (tagihan datang seringkali beberapa hari
atau bahkan beberapa bulan setelah barang diterima), bagian keuangan (di lapangan) akan
memasukkan tagihan ke dalam sistem dan dalam sistem akan muncul jurnal GR/IR Clearing
(debit) pada Vendor 3rd party (kredit). Dengan adanya proses ini, akan dapat diketahui jika
terjadi perbedaan pencatatan barang diterima dengan barang yang ditagihkan. Jika misalnya
bagian penerimaan membuat GR yang lebih besar atau lebih kecil dari nilai tagihan, maka
akan dilakukan koreksi GR.

Sebagai tambahan cerita, jika prosesnya dilanjutkan lagi sampai ketika bagian pembayaran
akan melakukan pembayaran, maka jurnal yang akan muncul adalah Vendor 3rd party (debit)
pada Bank Outcoming Clearing (kredit), dan ketika pembayaran dilakukan, maka Bank
Outcoming Clearing akan didebit dan Main Bank akan dikredit.

Menggunakan pendekatan input, mudah menjelaskan debit kredit dan kemunculan pos-pos
clearing, karena pendekatan input menjelaskan persamaan akuntansi secara aljabar dan debit
kredit merupakan konsekuensi logis dari persamaan aljabar tersebut.

Namun, contoh clearing account dan adanya ERP ini memunculkan suatu isu, bahwa dengan
adanya ERP, pada dasarnya akuntan tidak perlu terlalu fokus pada permasalahan jurnal dan
debit kredit, karena persamaan aljabar dan jurnal bisa dilakukan oleh sistem ERP. Bahkan,
orang-orang operasi di lapangan yang notabene non-keuangan bisa mencatat transaksi, dan
karena saking canggihnya ERP, tanpa mereka sadari pencatatan yang mereka lakukan tersebut
secara otomatis sudah menjadi jurnal di sistem. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa dengan
adanya teknologi informasi, kemampuan tata buku menjadi tidak terlalu diperlukan lagi.
Mungkin untuk bisnis kecil atau bisnis start-up yang baru akan menyusun laporan masih
perlu, tapi kalau dipikir-pikir, sistem akuntansi seperti Myob atau Accurate sekarang juga
sudah terjangkau.

Dalam konteks akuntansi modern yang mana saat ini kita hidup di dalamnya, pemahaman
jurnal akuntansi jika tidak dikaitkan ke outputnya yaitu sebagai informasi yang bermanfaat
bagi pemangku kepentingan, akan menjadi tidak bermanfaat, karena jurnal akuntansi sebagai
persamaan aljabar sudah dibenamkan ke dalam struktur program ERP. Mengajarkan
persamaan akuntansi dari sudut pandang input memang mudah dan praktis (practical), namun
sudut pandang ini akan mendistorsi akuntansi menjadi sebesar apa yang dapat dilakukan
sistem ERP secara otomatis.
Permasalahan akuntansi era ini (dan mungkin sudah sejak era berkembangnya bisnis,
kapitalisme dan pasar saham) adalah bagaimana agar informasi ekonomik dapat disajikan
secara jujur dan wajar, sehingga pemangku kepentingan dapat mengambil keputusan yang
optimal dengan adanya informasi tersebut. Peran akuntan bukan lagi bagaimana mencatatat
dan mendebit kredit seperti era pacioli dan merchant dari timur tengah, namun bagimana
memperlakukan dan menyajikan suatu transaksi yang sesuai dengan prinsip akuntansi
(terutama PABU). Sebagai contoh, bagimana akuntan menentukan unit penghasil kas dari
suatu entitas, konsep apa saja yang digunakan dalam penentuan tersebut. Kemudian
bagaimana akuntan menghitung nilai pakai dan nilai terpulihkan dalam melakukan uji
penurunan nilai. Selain itu, bagaimana akuntan menerapkan model revaluasi untuk aset tetap.
Bagaimana menentukan penurunan nilai untuk piutang. Bagaimana menentukan
komponenisasi aset dan menerapkan review umur manfaat atas aset tersebut. Bahkan
perubahan penyajian penghasilan komprehensif lain menjadi pos yang akan direklas ke laba
rugi dan pos yang tidak direklas ke laba rugi merupakan isu bagaimana informasi keuangan
disajikan sehingga dapat bermanfaat untuk pemangku kepentingan.

Berdasar apa yang saya alami, penguasaan atas prinsip akuntansi, konsep dasar, dan filosofi
akuntansi jauh lebih diperlukan daripada penguasaan praktis akuntansi seperti yang saat ini
sudah dapat dilakukan oleh ERP.

Pendekatan output yang dilengkapi dengan pemahamaman atas prinsip akuntansi akan lebih
memudahkan pembelajar akuntansi dalam memahami apa yang harus dihasilkan oleh akuntan
dan apa kaitannya dengan bisnis. Terlebih lagi, persamaan akuntansi merupakan persamaan
elemen akuntansi bukan persamaan jurnal. Terlihat dari adanya persamaan dasar dan
persamaan ekstensi, yang mana persamaan dasar adalah Aset = Liabilitas + Ekuitas, dengan
variabel persamaan yang merupakan elemen utama laporan posisi keuangan (neraca), dan
persamaan ekstensi menunjukkan adanya kinerja keuangan (laporan laba rugi) dan
artikulasinya dengan laporan posisi keuangan. Persamaan ini memiliki filosofi yang dalam
(sebagian telah saya jelaskan sebelumnya) dan membungkus (wrap up) seluruh kejadian
bisnis yang dialami sehari-hari ke dalam sebuah penyajian informasi periodik. Sekali lagi
saya tekankan, mengubah urutan persamaan sama saja mendistorsi akuntansi menjadi sebesar
otomatisasi jurnal yang bisa dilakukan oleh ERP.

Coba bayangkan jika tiba-tiba pembelajar akuntansi diberitahu bahwa persamaan dasar
akuntansi adalah Liabilitas = Aset Ekuitas. Secara aljabar tidak masalah, tapi secara bisnis,
ini tidak mencerminkan apapun. Apakah informasi bisnis artinya liabilitas adalah nilai dari
aset setelah dikurangi ekuitas? Penjelasan ini akan membingungkan pembelajar mengenai
konsep entitas dan konsep tanggungjawab entitas. Akan lebih mudah jika kita menjelaskan,
bahwa ketika perusahaan baru berdiri (belum melakukan kegiatan usaha), aset yang dikuasai
oleh perusahaan asalnya pasti hanya dari pemilik (ekuitas). Sehingga pada awal perusahaan
berdiri, Aset = Ekuitas. Ini menunjukkan konsep entitas, memisahkan antara perusahaan dan
pemilik sebagai entitas yang berbeda secara ekonomik. Kemudian, jika sumber ekonomik
dari pemilik tidak cukup, perusahaan pasti akan meminjam dari kreditur (liabilitas). Namun,
kreditur sebagai pihak ketiga memiliki hak atas aset yang harus didahulukan oleh perusahaan
daripada hak pemilik atas aset perusahaan, oleh karena itu persamaan akuntansi ditulis
sebagai Aset = Liabilitas + Ekuitas, bukan Aset = Ekuitas + Liabilitas, ini untuk menunjukkan
prioritas hak atas aset yang dikuasai perusahaan.

Kemudian, ketika aset meningkat atau menurun karena adanya laba atau rugi, maka
persamaan dasar harus dijabarkan untuk mencerminkan kegiatan bisnis ini, menjadi Aset =
Liabilitas + Ekuitas (+Laba/-Rugi). Kenapa persamaannya bukan Aset = Liabilitas (+Laba/-
Rugi) + Ekuitas? Toh secara aljabar tidak masalah bukan? Permasalahannya, karena
Laba/Rugi merupakan hak/tanggungan pemilik, bukan kreditur. Pemilik mendirikan
perusahaan untuk melakukan kegiatan usaha yang harapannya menghasilkan laba (apesnya ya
rugi). Sehingga, persamaan ekstensi ditulis Aset = Liabilitas + Ekuitas (+Laba/-Rugi), selain
untuk menunjukkan bahwa aset meningkat/menurun karena adanya variabel laba atau rugi di
ruas kanan, juga karena untuk menunjukkan bahwa laba/rugi merupakan hak/tanggungan
pemilik. Begitu seterusnya jika dijabarkan akan menjadi satu kuliah teori akuntansi. Jadi,
permasalahannya bukan pada kenapa kok debit kredit? Kenapa kok persamaan aljabar? Tetapi
lebih kepada, kenapa persamaan dasar akuntansi adalah Aset = Liabilitas + Ekuitas. Bukan
yang lain?

Baiklah, karena tulisan saya sudah terlalu panjang untuk posting blog, saya simpulkan bahwa
pendekatan terbaik untuk menjelaskan akuntansi bagi para pembelajar tetap pendekatan
output. Pendekatan input memberikan sebuah sudut pandang lain pada akuntansi. Namun
perlu diingat bahwa filosofi akuntansi bukan jurnal menjurnal. Akuntansi bukan merupakan
formulasi kimia atau fisika yang walaupun sama-sama menggunakan aljabar namun hasilnya
tetap sama karena berdasar hukum alam dan digunakan untuk menjabarkan fenomena alam.
Akuntansi merupakan formulasi yang menjabarkan kegiatan bisnis dan hubungan sosial.
Akuntansi selalu dan sampai kini merupakan respon manusia atas adanya kebutuhan
informasi antar entitas. Sehingga akuntansi muncul dan berkembang karena adanya
kebutuhan output (melaporkan) yang semakin banyak, bukan kebutuhan input (mencatat)
saja.

Sebagai penutup, konsep utama yang tidak boleh dilupakan oleh siapapun yang belajar
akuntansi, bahwa akuntansi dibuat oleh manusia untuk tujuan tertentu, yaitu sebagai alat
komunikasi yang memastikan agar hubungan bisnis antar entitas dapat berjalan dengan jujur
dan wajar