Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

Pendidikan Karakter & Anti Korupsi

Disusun oleh:

Nama Stambuk

1. Nia Heriani G 701 14 005


2. Ni Putu Evi Primayanti G 701 14 008
3. Muthaharah Ramadhani G 701 14 026
4. Andi Martini G 701 14 065
5. Sofia Angelin Anastasia G 701 14 074
6. Nurul Jannah G 701 14 080
7. Komang Rinaldi Adi putra G 701 14 083
8. Sakina G 701 14 086
9. A. Devi Adriani Lestari G 701 14 098
10. Resti Wiyandari G 701 14 128
11. Siti Atika G 701 14 134
12. Suciatmih Andarharwi G 701 14 176
13. Ercela Ayu Nuramita G 701 14 214

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS TADULAKO

2015

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat, taufik, serta hidayah-Nya sehingga kami dapat menyusun Tuga
Pendidikan Karakter & Anti Korupsi ini dengan baik dan tepat waktu.
Seperti yang telah kita ketahui Pendidikan Karakter itu sangat penting
bagi anak bangsa dari mulai dini. Semua akan dibahas pada makalah ini kenapa
Pendidikan Karakter itu sangat dibutuhkan dan layak dijadikan sebagai materi
pelajaran.
Tugas ini kami buat untuk memberikan penjelasan tentang keberadaan
Pendidikan Karakter bagi kemajuan bangsa. Semoga makalah yang kami buat ini
dapat membantu menambah wawasan kita menjadi lebih luas lagi.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam menyusun
makalah ini. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat
kami harapkan guna kesempurnaan makalah ini.Kami mengucapkan terima kasih
kepada Bapak Pembina mata Pendidikan Karakter & Anti Korupsi yang telah
membimbing kami.
Atas perhatian dan waktunya, kami sampaikan banyak terima kasih.

Palu , 19 Februari 2015

Penyusun

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar
Daftar Isi
Bab I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
Bab II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Pendidikan Karakter
2.2 Faktor-Faktor Pendidikan Karakter
2.3 Pentingnya pendidikan karakter
2.4 Pilar-Pilar Pendidikan Karakter
2.5 Tujuan,Fungsi dan Media Pendidikan Karakter & Nilai-Nilai
Pembentukan Karakter
2.6 Pendidikan karakter di universitas
2.7 Contoh Kasus yang Terkandung Didalamnya
Bab III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
Daftar Pustaka

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia memerlukan sumber daya manusia dalam jumlah dan mutu yang
memadai sebagai pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi
sumber daya manusia tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat penting.
Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan
nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab. Seperti yang akan kami bahas pada makalah
ini yaitu contoh kasus yang mengandung nilai-nilai religius, disiplin, kerja keras,
kejujuran dan toleransi. Salah satu contoh yang akan kami bahas yaitu kasus
maraknya korupsi akibat merosotnya pendidikan di indonesia.
Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa
pendidikan di setiap jenjang, termasuk di sekolah harus diselenggarakan secara
sistematis guna mencapai tujuan tersebut.Hal tersebut berkaitan dengan
pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral,
sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Berdasarkan penelitian di
Harvard University Amerika Serikat, ternyata kesuksesan seseorang tidak
ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja,
tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian
ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill
dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa
berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard

4
skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik
sangat penting untuk ditingkatkan. Melihat masyarakat Indonesia sendiri juga
lemah sekali dalam penguasaan soft skill. Untuk itu penulis menulis makalah ini,
agar pembaca tahu betapa pentingnya pendidikan karakter bagi semua orang,
khususnya bangsa Indonesia sendiri. (Ali Ibrahim Akbar, 2000)

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian dari pendidikan karakter itu?
2. Apa saja faktor pendidikan karakter ?
3. Apa saja pilar pilar pendidikan karakter ?
4. Bagaimana tujuan, fungsi dan media pendidikan karakter serta nilai nilai
pendidikan karakter ?
5. Bagaimana pentingnya pendidikan karakter ?
6. Bagaimana pendidikan karakter di tingkat universitas ?
7. Apa saja contoh kasus serta yang terkandung di dalamnya ?

BAB II

5
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pendidikan Karakter


Istilah karakter dihubungkan dan dipertukarkan dengan istilah etika, ahlak,
dan atau nilai dan berkaitan dengan kekuatan moral, berkonotasi positif, bukan
netral. Sedangkan Karakter merupakan sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi
pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Dengan demikian karakter
adalah nilai-nilai yang unik-baik yang terpateri dalam diri dan terejawantahkan
dalam perilaku. Karakter secara koheren memancar dari hasil olah pikir, olah hati,
olah rasa dan karsa, serta olahraga seseorang atau sekelompok orang.
(KBBI,2008)
Karakter juga sering diasosiasikan dengan istilah apa yang disebut dengan
temperamen yang lebih memberi penekanan pada definisi psikososial yang
dihubungkan dengan pendidikan dan konteks lingkungan. Sedangkan karakter
dilihat dari sudut pandang behaviorial lebih menekankan pada unsur somatopsikis
yang dimiliki seseorang sejak lahir. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
proses perkembangan karakter pada seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor
yang khas yang ada pada orang yang bersangkutan yang juga disebut faktor
bawaan (nature) dan lingkungan (nurture) dimana orang yang bersangkutan
tumbuh dan berkembang. Faktor bawaan boleh dikatakan berada di luar
jangkauan masyarakat dan individu untuk mempengaruhinya. Sedangkan faktor
lingkungan merupakan faktor yang berada pada jangkauan masyarakat dan
ndividu. Jadi usaha pengembangan atau pendidikan karakter seseorang dapat
dilakukan oleh masyarakat atau individu sebagai bagian dari lingkungan melalui
rekayasa faktor lingkungan.(pndkarakter.wordpress.com)

2.2 Faktor pendidikan Karakter


Faktor lingkungan dalam konteks pendidikan karakter
(pndkarakter.wordpress.com) memiliki peran yang sangat peting karena
perubahan perilaku peserta didik sebagai hasil dari proses pendidikan karakter

6
sangat ditentunkan oleh faktor lingkungan ini. Dengan kata lain pembentukan dan
rekayasa lingkungan yang mencakup diantaranya lingkungan fisik dan budaya
sekolah, manajemen sekolah, kurikulum, pendidik, dan metode mengajar.
Pembentukan karakter melalui rekasyasa faktor lingkungan dapat dilakukan
melalui strategi :
1. Keteladanan

2. Intervensi

3. Pembiasaan yang dilakukan secara Konsisten

4. Penguatan.
Dengan kata lain perkembangan dan pembentukan karakter memerlukan
pengembangan keteladanan yang ditularkan, intervensi melalui proses
pembelajaran, pelatihan, pembiasaan terus-menerus dalam jangka panjang yang
dilakukan secara konsisten dan penguatan serta harus dibarengi dengan nilai-nilai
luhur.

2.3 Pilarpilar Pendidikan Karakter


Pendidikan karakter didasarkan pada enam nilai-nilai etis bahwa setiap
orang dapat menyetujui nilai-nilai yang tidak mengandung politis, religius, atau
bias budaya. Beberapa hal di bawah ini yang dapat kita jelaskan untuk membantu
siswa memahami Enam Pilar Pendidikan Berkarakter
(pndkarakter.wordpress.com) yaitu sebagai berikut :
1. Trustworthiness (Kepercayaan)
Jujur, jangan menipu, menjiplak atau mencuri, jadilah handal melakukan
apa yang anda katakan anda akan melakukannya, minta keberanian untuk
melakukan hal yang benar, bangun reputasi yang baik, patuh berdiri dengan
keluarga, teman dan negara.

2. Recpect (Respek)

7
Bersikap toleran terhadap perbedaan, gunakan sopan santun, bukan bahasa
yang buruk, pertimbangkan perasaan orang lain, jangan mengancam, memukul
atau menyakiti orang lain, damailah dengan kemarahan, hinaan dan perselisihan.

3. Responsibility (Tanggungjawab)
Selalu lakukan yang terbaik, gunakan kontrol diri, disiplin, berpikirlah
sebelum bertindak mempertimbangkan konsekuensi, bertanggung jawab atas
pilihan anda.

4. Fairness (Keadilan)
Bermain sesuai aturan, ambil seperlunya dan berbagi, berpikiran terbuka;
mendengarkan orang lain, jangan mengambil keuntungan dari orang lain, jangan
menyalahkan orang lain sembarangan.

5. Caring (Peduli)
Bersikaplah penuh kasih sayang dan menunjukkan anda peduli, ungkapkan
rasa syukur, maafkan orang lain, membantu orang yang membutuhkan.

6. Citizenship (Kewarganegaraan)

Menjadikan sekolah dan masyarakat menjadi lebih baik, bekerja sama,


melibatkan diri dalam urusan masyarakat, menjadi tetangga yang baik, mentaati
hukum dan aturan, menghormati otoritas, melindungi lingkungan hidup.

2.4Tujuan, Fungsi dan Media Pendidikan karakter & Nilai-nilai Pembentuk


Karakter
2.4.1 Tujuan, Fungsi dan Media Pendidikan karakter
Pendidikan karakter pada intinya bertujuan membentuk bangsa yang
tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong,
berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan
teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan yang Maha
Esa berdasarkanPancasila. Pendidikan karakter berfungsi untuk
(pndkarakter.wordpress.com):

8
1. Mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan
berperilaku baik.

2. Memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang multikultur.

3. Meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia.


Pendidikan karakter dilakukan melalui berbagai media yang mencakup
keluarga, satuan pendidikan, masyarakat sipil, masyarakat politik,
pemerintah, dunia usaha, dan media massa.

2.4.2 Nilai-nilai Pembentuk Karakter


Satuan pendidikan sebenarnya selama ini sudah mengembangkan dan
melaksanakan nilai-nilai pembentuk karakter melalui program operasional satuan
pendidikan masing-masing. Hal ini merupakan prakondisi pendidikan karakter
pada satuan pendidikan yang untuk selanjutnya pada saat ini diperkuat dengan 18
nilai hasil kajian empirik Pusat Kurikulum. Nilai prakondisi (the existing values)
yang dimaksud antara lain takwa, bersih, rapih, nyaman, dan santun Dalam
rangka lebih memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter telah teridentifikasi 18
nilai yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan
nasional (pndkarakter.wordpress.com) yaitu:
1. Jujur

2. Toleransi

3. Disiplin

4. Kerja keras

5. Kreatif

6. Mandiri

7. Demokratis

9
8. Rasa Ingin Tahu

9. Semangat Kebangsaan

10. Cinta Tanah Air

11. Menghargai Prestasi

12. Bersahabat/Komunikatif

13. Cinta Damai

14. Gemar Membaca

15. Peduli Lingkungan

16. Peduli Sosial

17. Tanggung Jawab

18. Religius
Meskipun telah terdapat 18 nilai pembentuk karakter bangsa, namun
satuan pendidikan dapat menentukan prioritas pengembangannya dengan cara
melanjutkan nilai prakondisi yang diperkuat dengan beberapa nilai yang
diprioritaskan dari 18 nilai di atas. Dalam implementasinya jumlah dan jenis
karakter yang dipilih tentu akan dapat berbeda antara satu daerah atau sekolah
yang satu dengan yang lain. Hal itu tergantung pada kepentingan dan kondisi
satuan pendidikan masing-masing. Di antara berbagai nilai yang dikembangkan,
dalam pelaksanaannya dapat dimulai dari nilai yang esensial, sederhana, dan
mudah dilaksanakan sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah/wilayah, yakni
bersih, rapih, nyaman, disiplin, sopan dan santun.

2.5 Pentingmya Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi

10
Secara khusus, Pemerintah Indonesia melalui kebijakan nasional
pembangunan karakter bangsa, menekankan perlunya pendidikan karakter bagi
bangsa dengan beberapa alasan adanya (1) disorientasi dan belum dihayatinya
nilai-nilai Pancasila; (2) keterbatasan perangkat kebijakan terpadu dalam
mewujudkan nilai-nilai Pancasila; (3) bergesernya nilai etika dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara; (4) memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya
bangsa; ancaman disintegrasi bangsa; dan (5) melemahnya kemandirian bangsa
(Buku Induk Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa 2010-2025,
dalam Siswanto 2011). Melalui UU no 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional ditegaskan komitmen tentang pendidikan karakter sebagaimana termuat
dalam rumusan fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Pendidikan nasional
berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, dan
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab. Dalam kaitannya dengan perguruan tinggi, Peraturan
Pemerintah no 17 tahun 2010 pasal 84 ayat 2, menyebutkan bahwa perguruan
tinggi memiliki tujuan membentuk insan yang beriman dan bertaqwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur, sehat, berilmu
dan cakap, kritis, kreatif, inovatif, mandiri, percaya diri, dan berjiwa wirausaha,
serta toleran, peka sosial dan lingkungan, demokrtis dan bertanggung jawab.
(Muhammad Fauzi Ahmad - Academia.edu )
Berdasarkan UU Sisdiknas tahun 2003 dan PP no 17 tahun 2010 diatas,
nampak jelas bahwa pemerintah Indonesia memberikan dukungan secara konkrit
pada pendidikan karakter ini. Mengingat keberhasilan institusi pendidikan
terletak tidak saja pada penguasaan ilmu pengetahuan namun juga pada
pembentukan karakter yang baik pada anak didiknya, maka tanggungjawab
pembentukan karakter baik tidak hanya terletak pada tingkat pendidikan sekolah
dasar dan menengah namun juga perguruan tinggi. Meskipun demikian, yang

11
selama ini terjadi adalah penerapan pendidikan karakter dominan dilakukan pada
pendidikan dikedua level sebelumnya, dan belum pada level perguruan tinggi.
Pendidikan karakter adalah pendidikan yang menekankan pada
pembentukan nilai-nilai karakterpada anak didik. Saya mengutip empat ciri
dasar pendidikan karakter yang dirumuskan oleh seorang pencetus pendidikan
karakter dari Jerman yang bernama FW Foerster:
1. Pendidikan karakter menekankan setiap tindakan berpedoman terhadap
nilai normatif. Anak didik menghormati norma-norma yang ada dan
berpedoman pada norma tersebut.

2. Adanya koherensi atau membangun rasa percaya diri dan keberanian,


dengan begitu anak didik akan menjadi pribadi yang teguh pendirian dan
tidak mudah terombang-ambing dan tidak takut resiko setiap kali
menghadapi situasi baru.

3. Adanya otonomi, yaitu anak didik menghayati dan mengamalkan aturan


dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadinya. Dengan begitu, anak
didik mampu mengambil keputusan mandiri tanpa dipengaruhi oleh
desakan dari pihak luar.

4. Keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan adalah daya tahan anak didik dalam
mewujudkan apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan marupakan dasar
penghormatan atas komitmen yang dipilih.
Pendidikan karakter penting bagi pendidikan di Indonesia. Pendidikan
karakter akan menjadi basic atau dasar dalam pembentukan karakter berkualitas
bangsa, yang tidak mengabaikan nilai-nilai sosial seperti toleransi, kebersamaan,
kegotongroyongan, saling membantu dan mengormati dan sebagainya.Pendidikan
karakter akan melahirkan pribadi unggul yang tidak hanya memiliki kemampuan
kognitif saja namun memiliki karakter yang mampu mewujudkan kesuksesan.
Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat, ternyata
kesuksesan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh pengetahuan dan

12
kemampuan teknis dan kognisinyan (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan
mengelola diri dan orang lain (soft skill).
Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20
persen hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Dan, kecakapan soft skill
ini terbentuk melalui pelaksanaan pendidikan karater pada anak didik. Berpijak
pada empat ciri dasar pendidikan karakter di atas, kita bisa menerapkannya dalam
polapendidikan yang diberikan pada anak didik. Misalanya, memberikan
pemahaman sampai mendiskusikan tentang hal yang baik dan buruk, memberikan
kesempatan dan peluang untuk mengembangkan dan mengeksplorasi potensi
dirinya serta memberikan apresiasi atas potensi yang dimilikinya, menghormati
keputusan dan mensupport anak dalam mengambil keputusan terhadap dirinya,
menanamkan pada anakdidik akan arti keajekan dan bertanggungjawab dan
berkomitmen atas pilihannya. Kalau menurut saya, sebenarnya yang terpenting
bukan pilihannnya, namun kemampuan memilih kita dan pertanggungjawaban
kita terhadap pilihan kita tersebut, yakni dengan cara berkomitmen pada pilihan
tersebut.
Pendidikan karakter hendaknya dirumuskan dalam kurikulum, diterapkan
metode pendidikan, dan dipraktekkan dalam pembelajaran. Selain itu, di
lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar juga sebaiknya diterapkan
pola pendidikan karakter. Dengan begitu, generasi-generasi Indonesia nan unggul
akan dilahirkan dari sistem pendidikan karakter.

2.6 Model-Model Implementasi Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi


Sebagai individu dewasa, mahasiswa dicirikan dengan ciri-ciri
(Muhammad Fauzi Ahmad - Academia.edu )antara lain:
1. Merupakan pribadi mandiri yang memiliki identitas diri
2. Pentingnya keterlibatan / partisipasi
3. Mengharapkan pengakuan, saling percaya dan menghargai
4. Tidak senang dipaksa atau ditekan
5. Memiliki kepercayaan dan tanggung jawab diri
6. Pengawasan dan pengendalian berada disekililingnya

13
7. Belajar mengarahkan pada pencapaian pemantapan identitas diri
8. Belajar merupakan proses untuk mencapai aktualisasi diri (self
actualization)
Selain sebagai orang dewasa, mahasiswa juga disebut sebagai pembelajar
dewasa (adult learner/adult student) adalah individu yang sedang dalam proses
belajar yang oleh lingkungan sosialnya sudah dianggap dewasa, baik dalam
pendidikan formal maupun non formal. Pebelajar dewasa dicirikan belajar
berbasis masalah dan mencari ilmu untuk memecahkan solusi tertentu dank arena
suatu kebutuhan yang jelas, terutama berhubungan dengan karier dan
kehidupannya (Budu:2012).
Mahasiswa dengan berbagai karakternya memiliki peranan dan fungsi
yang sangat strategi dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Ada tiga
peran dan fungsi utama mahasiswa, yaitu: agent of change, social of control, dan
moral force (manggala:2011). Sebagai agen perubahan (agent of change),
mahasiswa memiliki tanggung jawab yang besar dalam membuat perubahan-
perubahan mendasar dalam masyarakat.
Melihat peran dan fungsi mahasiswa yang begitu strategis, mahasiswa
perlu memiliki karakter yang kuat. Karakter tersebut tidak bisa dibentuk secara
otomatis. Seorang mahasiswa yang menyelesaikan pendidikan disebuah perguruan
tinggi misalnya, tidak serta merta memiliki karakter mulia tertentu secara otomatis
setelah melalui semua proses pembelajarannya.
Karakter mahasiswa dapat dikembangkan diperguruan tinggi. Karena
karakter seseorng dapat tumbuh secara perlahan dan berkelanjutan melalui proses
pendidikan. Perguruan tinggi merupakan jenjang pendidikan kelanjutan dari
jenjang-jenjang pendidikan sebelumnya, dari TK, SD, SMP dan SMA. Seorang
tidak mungkin menjadi mahasiswa tanpa melalui jenjang-jenjang pendidikan
sebelumnya.
Buchori(2010) mengungkapkan: pembentukan karakter perlu waktu
panjang, dari masa kanak-kanak sampai usia dewasa ketika seseorang mampu
mengambil keputusan mengenai dirinya sendiri dan mempertanggung jawabkan
kepada dirinya sendiri.

14
Berdasarkan pada pemikiran bahwa karakter mahasiswa dapat
dikembangkan secara perlahan dan berkelanjutan, pendidikan karakter
diperguruan tinggi haruslah memperhatikan bahwa terbentuknya karakter
seseorang dipengaruhi banyak factor. Djohar(2011) mengidentifikasi tiga factor
yang mempengaruhi terbentuknya karakter seseorag yaitu:
1. Modal budaya yang dibawa sejak kecil
2. Dampak lingkungannya
3. Kekuatan individu orang merespons dampak lingkungannya.

2.7 Contoh Kasus Serta Nilai Yang Terkandung di dalamnya


2.7.1 Kasus Bullying

Saat ini publik tengah dihebohkan dengan beredarnya video kekerasan


sejumlah siswa di salah satu Sekolah Dasar Swasta di Kota Bukittinggi Sumatera
Barat. Dalam video yang diunggah di jejaring youtube tersebut- tampak seorang
siswi berpakaian seragam SD dan berjilbab, berdiri di pojok ruangan. Sementara
beberapa siswa termasuk siswi lainnya secara bergantian melakukan pemukulan
dan tendangan. Sang siswi yang menjadi obyek kekerasan tersebut tampak tidak
berdaya/pasrah dan menangis menerima perlakuan kasar teman-temannya itu.
Tampak pula adegan tendangan salah seorang siswa yang dilakukan sambil
melompat bak aktor laga. Di sela-sela penyiksaan, ada juga siswa yang tertawa-
tawa sambil menghadap kamera dan terdengar pula ungkapan dalam bahasa
minang yang meminta agar aksi tersebut dihentikan

2.7.1.1 Nilai yang Terkandung dalam Kasus Bullying

Bullying adalah perilaku yang disengaja yang menyebabkan orang lain


terganggu baik melalui kekerasan verbal, serangan secara fisik, maupun
pemaksaan dengan cara-cara halus seperti manipulasi. Secara harfiah bullying
berasal dari kata bully yang artinya pemarah, orang yang suka marah.
Praktek bullying sendiri dibagi dalam 3 bagian, yaitu :

15
1. Bullying secara fisik: tindakan menikam, memalak, mencubit, memukul,
meludah, menarik leher kerah baju, mendorong, yang semuanya dilakukan
dengan sengaja (deliberately).
2. Bullying secara verbal: mengolok olok, menertawakan, memanggil nama
orangtua, mencemooh, menghina bahkan memfitnah, dan lagi-lagi dilakukan
dengan sengaja.
3. Bullying secara psikologis: mendiamkan, mengucilkan, tidak diajak dalam
kegiatan apapun, dibiarkan sendirian.
Semua praktek bullying, tentu saja sangat menyakitkan bagi seorang anak maupun
remaja, karena masa mereka adalah masa berkawan, dan di-bully merupakan hal
yang paling dibenci oleh seluruh anak dan remaja diseluruh dunia, dan hal ini
harus dicegah, oleh berbagai pihak.
Faktor- faktor moral yang mempengaruhi bullying:
1. Toleransi
1. Status sosial
Status sosial menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi bagaimana
masing-masing orang saling menghargai. Di saat seseorang memiliki status
sosial tinggi misalnya seseorang yang berpengaruh di suatu wilayah (Ex.
Gubernur, Walikota, Ustad, dst.), tingkat pendapatan, memiliki banyak
kenalan pejabat, pasti ia akan memiliki tingkat penghargaan yang lebih tinggi
pula. Begitu juga di saat seseorang yang tidak memiliki status sosial yang
tinggi.
2. Status ekonomi
3. Hak asasi
4. Pengaruh media
2. Religius
Kurangnya pendidikan agama (dendam).
3. Tanggung jawab
Perbuatan yang dilakukan tidak didasari tanggng jawab (menyebarkan
gossip yang membuat seseorang dibully).

2.7.1.1.1 Alternatif / solusi

Dalam kasus ini, ada beberapa alternatif atau solusi yg dapat kita lakukan
untuk mencegah atau menghentikan tindakan bullying antara lain :

16
a. perlunya penambahan wawasan dalam bidang ke agamaan, atau perlunya
pendekatan diri kepada Tuhan. Serta mentaaiti segala perintah dan
larangan-Nya
b. sangat di butuhkan partisipasi dari orang tua ataupun lingkungan sekitar,
untuk lebih menanamkan nilai nilai moral antara sesama
c. perlunya kesadaran dari dalam diri kita sendiri untuk lebih menghargai
orang lain.

2.7.2 Kasus Korupsi kecurangan UN

Bangsa Indonesia yang konon katanya adalah bangsa yang religius


ternyata menjadi gudang korupsi. Hasil survei bisnis yang dirilis Political &
Economic Risk Consultancy atau PERC menyebutkan Dalam survei tahun 2010,
Indonesia menempati peringkat pertama sebagai negara terkorup dengan
mencetak skor 9,07 dari nilai 10. Angka ini naik dari 7,69 poin tahun lalu. Korupsi
terjadi diberbagai bidang, juga diberbagai tempat bahkan Departemen Agama
yang seharusnya menjadi contoh bagi departemen-departemen yang lain ternyata
menjadi tempat dimana korupsi paling besar terjadi. Berbagai cara telah dilakukan
yang paling nyata adalah pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Walaupun sejauh ini KPK telah berhasil mengusut bahkan membuikan orang-
orang yang melakukan korupsi baik pejabat pemerintah mau pun anggota DPR,
tetapi KPK sepertinya belum bisa mencabut akar korupsi terbukti kasus korupsi
tetap marak terjadi. Bahkan akhir-akhir ini KPK sedang mengalami konflik yang
mengakibatkan menurunnya kinerja mereka. Yang menjadi permasalahannya
adalah konflik yang terjadi malah diakibatkan oleh permasalahan tiap anggota
KPK mulai dari kasus Antasari sampai kasus Bibit-Chandra. Sehingga KPK pun
sepertinya malah disibukkan oleh urusan rumah tangga sendiri.

Seperti pembongkaran terhadap kasus korupsi sedang mengalami serangan


balik dari orang-orang yang merasa tergangu oleh gerak-gerik pemberantasan
korupsi. Persoalan yang melanda para pimpinan KPK menjadi salah satu
buktinya. Sementara KPK sibuk mengurusi persoalan pribadi, muncullah buka-
bukaan yang diprakarsai oleh Susno Duadji. Nyanyian susno yang kian merdu

17
membuka mata bangsa Indonesia bahwa oknum yang seharusnya menangkat
genderang perang bagi korupsi ternyata melakukan praktek korupsi. Dari berbagai
pemaparan di atas dapat kita lihat bahwa mental dan moral anak bangsa sudah
rusak. Kalau boleh dikatakan- walaupun saya sangat bergumul mengatakannya-
bahwa mental anak bangsa kita adalah mental korupsi. Membenahi persoalan
korupsi dalam negeri ini sama dengan membenahi persoalan karakter bangsa
Indonesia.

Pendidikan yang tidak Mendidik

Berbicara apa yang terjadi dalam pendidikan di Indonesia sepertinya kita


akan lebih nyaman jika memulainya dengan topik yang masih hangat yaitu Ujian
Nasional (UN). Sejak awal diberlakukannya UN memang sudah menuai kritik
dari berbagai pihak. Bahkan pada tanggal 14 September 2009, Mahkamah Agung
telah memenangkan gugatan warga Negara (citizen lawsuit), yaitu melarang
pemerintah melaksanakan UN.

Namun pemerintah tetap kekeh melaksanakannya. Padahal dalam


pelaksanaannya UN telah diwarnai oleh ketidakjujuran. Pasalnya, Komunitas Air
Mata Guru (KAMG) melalui tim investigasinya menemukan sejumlah kecurangan
salah satunya beredarnya soal secara bebas dan dijual dengan harga yang murah
Rp100.000 per paket (Sumut Post, 23/3). Persoalan lain yang menyangkut
kejujuran UN antara lain:

(1) Ditemukannya soal bahasa Indonesia tertukar dengan bahasa Inggris di Bali;

(2) Ditemukannya lembar jawaban UN yang rusak di Bali;

(3) Jual beli soal UN yang belum diketahui asli atau palsu di Sumbar;

(4) Ada Guru mata pelajaran bahasa Indonesia ikut menjaga ujian bahasa
Indonesia, padahal dalam standar operasional pelaksanaan, hal itu jelas-jelas
dilarang;

18
(5) Ada laporan yang masuk di posko pengaduan UNAS di Kemendiknas (Sumut
Post, 23/3).

Belum lama ini kita juga dihentakkan oleh kasus plagiat yang terjadi di
dunia pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan yang seharusnya
menjunjung tinggi kejujuran ternyata telah memberi contoh sebaliknya.
Pendidikan yang seharusnya menghargai proses pembelajaran ternyata lebih
menyukai sesuatu yang instan. Pendidikan yang bertujuan untuk menghasilkan
peserta didik yang cinta akan negara, kenyataannya pendidikan tidak demikian,
malah sebaliknya pendidikan menjadi tempat tumbuhnya kecurangan.
Pembentukan karakter tidak lagi ditemukan bahkan yang ironinya malah menjadi
tempat ditemukan kecurangan, kriminalitas, bahkan individualisme, yang ternyata
bukan hal yang seharusnya terjadi dalam dunia pendidikan.

2.7.2.1 Nilai yang Terkandung Dalam Kasus Korupsi kecurangan UN

Korupsi terjadi karena bobroknya karakter bangsa. Pendidikan tidak lagi


menjalankan perannya dalam pembentukan karakter. Tidak sedikit juga ditemukan
korupsi terjadi dalam pendidikan. Pendidikan yang seharusnya adalah senjata
melawan korupsi tidak lagi memiliki amunisi. Hal ini terbukti dari pemaparan di
atas dimana pendidikan karakter telah hilang dari pendidikan.

Faktor-faktor moral yang mempengaruhi Korupsi-Kecurangan UN:


1. Religius
Kurangnya pendidikan Agama.
2. Kejujuran
Kurangnya pendidikan agama juga turut mempengaruhi tingkat kejujuran
seseorang. Apabila seseorang mengetahui secara benar ajaran agama
mengenai kejujuran, pasti ia tidak akan melakukan kecurangan-kecurangan
dalam bentuk apapun.
3. Kerja Keras
Seseorang yang tidak melakukan sesuatu dengan bekerja keras dan
bersunguh-sungguh, pasti akan mengalami kesulitan dalam memenuhi

19
segala keinginannya baik itu kecerdasan, kekayaan, kebahagiaan, dan
kesejahteraan. Sehingga orang tersebut akan mencoba segala cara untuk
memenuhinya keinginannya. Yaitu dengan cara melakukan kecurangan
UN agar lulus dan mendapat nilai yang bagus, dan melakukan korupsi agar
dapat cepat memiliki kekayaan.
4. Disiplin
Disiplin merupakan suatu hal yang perlu dilakukan dalam menaati aturan
atau hukum yang berlaku. Dalam pelaksanaan UN pun telah memiliki
aturan yang berlaku, salah satunya yaitu tidak dapat melakukan
kecurangan dalam bentuk apapun berkaitan dalam pelaksanaan UN
tersebut. Jadi, apabila terdapat kecurangan dalam pelaksanaan UN maka
orang tersebut tidak disiplin dalam melaksanakan aturan yang berlaku.

Alternatif atau solusi


Dalam kasus ini, ada beberapa alternatif atau solusi yg dapat kita lakukan
untuk mencegah atau menghentikan tindakan korupsi serta kecurangan UN antara
lain :
A . lebih mendalami Agama, serta mendekatkan diri kepada sang Pencipta
B. memulai kejujuran dari hal- hal yang terkecil.
c. lebih giat belajar serta yakin bahwa diri kita pasti bisa
d. lebih banyak melakukan hal hal yang positif
2.7.3 Kasus Pencurian Sandal Jepit
Beberapa waktu yang lalu, seorang petugas melaporkan bahwa ada anak
kecil berusia 13 tahun yang ditangkap pada saat itu karena kedapatan sedang
mencuri sandal orang, dan mengalami luka lebam akibat dipukul oleh masyarakat
sekitar.

2.7.3.1 Nilai yang Terkandung Dalam Kasus Pencurian Sandal Jepit


Faktor-faktor moral yang mempengaruhi kasus pencurian sandal jepit:
a. Religius
Kurangnya pendidikan Agama.
b. Kejujuran

20
Kurangnya pendidikan agama juga turut mempengaruhi tingkat kejujuran
seseorang. Apabila seseorang mengetahui secara benar ajaran agama
mengenai kejujuran, pasti ia tidak akan melakukan hal yang tidak baik,
seperti mencuri.

Alternatif atau solusi

Dalam kasus ini, ada beberapa alternatif atau solusi yg dapat kita lakukan untuk
mencegah atau menghentikan tindakan pencurian antara lain :

A. Lebih mendalami Agama


B. Perlunya bimbingan dari orang tua dan masyarakat untuk menanamkan
nilai kejujuran
C. Perlunya kesadaran dari dalam diri kita sendiri untuk tidak mengambil
milik orang lain karena itu bukanlah hak kita.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Bangsa Indonesia telah berusaha untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu
pendidikan karakter melalui sekolah-sekolah, terutama Sekolah Menengah
Pertama (SMP), karena anak usia SMP sangat cocok untuk diberi pembelajaran
tentang pendidikan karakter.
Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan
dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan
karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang. Bila

21
pendidikan karakter telah mencapai keberhasilan, tidak diragukan lagi kalau masa
depan bangsa Indonesia ini akan mengalami perubahan menuju kejayaan. Dan bila
pendidikan karakter ini mengalami kegagalan sudah pasti dampaknya akan sangat
besar bagi bangsa ini, negara kita akan semakin ketinggalan dari negara-negara
lain.

3.2 Saran
Pemerintah harus selalu memantau atau mengawasi dunia pendidikan,
karena dari dari dunia pendidikan Negara bisa maju dan karena dunia pendidikan
juga Negara bisa hancur, bila pendidikan sudah disalah gunakan. Selain mengajar,
seorang guru atau orang tua juga harus mendoakan anak atau muridnya supaya
menjadi lebih baik, bukan mendoakan keburukan bagi anak didiknya. Guru harus
memberikan rasa aman dan keselamatan kepada setiap peserta didik di dalam
menjalani masa-masa belajarnya, karena jika tidak semua pembelajaran yang di
jalani anak didik akan sia-sia. Semoga karya tulis dapat bermanfaat bagi kita
semua, khususnya bagi pembaca. Amiiin..

DAFTAR PUSTAKA

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Keempat . Jakarta: Pusat Bahasa/PT


Gramedia Pustaka Utama, 2008

Buku Induk Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa 2010-


2025, dalam Siswanto 2011

Alma, Buchari. (2010). Kewirausahaan (edisirevisi), Bandung: CV


Alfabeta

Kompas.com, Senin 13 oktober 2014

Sumut Pos, 23 maret 2014

Budu : 2012

22
Djohar : 2011

Manggala : 2011

http://www.pendidikankarakter.com/peran-pendidikan-karakter-dalam-
melengkapi-kepribadian/

http://www.pendidikankarakter.com/kurikulum-pendidikan-karakter/

http://pndkarakter.wordpress.com/

https://www.academia.edu/3317403/MODEL_PENDIDIKAN_KARAKTER_DI
_PERGURUAN_TINGGI_AGAMA_ISLAM_Studi_tentang_Pendidikan_Karakter_Berb
asis_Ulul_albab_di_Universitas_Islam_Negeri_

http://news.metrotvnews.com/read/2014/10/13/304302/kpai-sanksi-bagi-bocah-
pelaku-bullying-bukan-penjara

http://www.republika.co.id/berita/koran/halaman-1/14/10/15/ndh4sp-aduan-
bullying-tertinggi

23
DAFTAR PUSTAKA

http://www.pendidikankarakter.com/peran-pendidikan-karakter-dalam-
melengkapi-kepribadian/

24
http://www.pendidikankarakter.com/kurikulum-pendidikan-karakter/

http://www.pendidikankarakter.com/peran-pola-asuh-dalam-membentuk-
karakter-anak/

http://www.academia.edu/

25