Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

SISTEM SARAF NEUROTRANSMITTER

Disusun oleh :

Rahma Amalia Safitri


(P27820716012)

PROGRAM STUDI D IV KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA

TAHUN AKADEMIK 2016/2017

i
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirannya yang telah menimpakan
rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang
Sistem Saraf Neurotransmiter

Makalah ini disusun penulis dengan maksimal dan mendapatkan bantuan


dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini.

Harapan penulis semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan


pengalaman bagi pembaca. Karena keterbatasan dan pengetahuan penulis oleh
karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari
pembaca.

Surabaya, Desember 2016

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul ......i

Kata Pengantar ....ii

Daftar Isi ....iii

Bab I Pendahuluan

1.1. Latar Belakang....1


1.2. Rumusan Masalah.... ......1

1.3. Tujuan Penulisan.. ..2

Bab II Pembahasan
2.1. Pengertian Neurotransmitter...............................3

2.2. Macam - macam neuritransmitter.......................................................3

2.3. Cara kerja neurotransmitter....................................8

Bab III Penutup


3.1. Kesimpulan .10

3.2. Saran ...10

Daftar Pustaka .......

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Sistem saraf adalah sistem organ yang terdiri atas serabut saraf yang
tersusun atas sel-sel saraf yang saling terhubung dan esensial untuk persepsi
sensoris indrawi, aktivitas motorik volunter dan involunter organ atau
jaringan tubuh, dan homeostasis berbagai proses fisiologis tubuh. Sistem saraf
merupakan jaringan paling rumit dan paling penting karena terdiri dari jutaan
sel saraf (neuron) yang saling terhubung dan vital untuk perkembangan
bahasa, pikiran dan ingatan. Satuan kerja utama dalam sistem saraf adalah
neuron yang diikat oleh sel-sel glia.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Adapun rumusan masalah yang dibahas pada makalah ini antara lain:
1. Apa pengertian dari neurotransmitter ?
2. Bagaimana macam - macam neurotransmiter ?
3. Apa saja cara kerja neurotransmitter ?

1.3 TUJUAN PENYUSUNAN

Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini antara lain sebagai berikut:
1. Dapat menjelaskan pengertian dari neurotransmitter
2. Dapat mengetahui bagaimana macam - macam neurotransmitter
3. Dapat mengetahui cara kerja neurotransmitter

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Neurotransmitter


Neurotransmitter adalah bahan kimia endogen yang mengirimkan
sinyal dari neuron ke sel di target sinaps. Neurotransmitter yang dikemas ke
dalam vesikel sinaptik berkerumun di bawah membran di sisi presynaptic
sinaps, dan dilepaskan ke dalam celah sinaptik, di mana mereka mengikat
pada reseptor dimembran pada sisi postsynaptic dari sinaps. Pelepasan
neurotransmitter biasanya mengikuti kedatangan sebuah potensial aksi pada
sinapsis, tetapi juga dapat mengikuti potensial listrik dinilai. Rendahnya
tingkat dasar rilis juga terjadi tanpa stimulasi listrik. Neurotransmitter
disintesis dari precursor berlimpah dan sederhana, seperti asam amino, yang
tersedia dari diet dan yang hanya membutuhkan sejumlah kecil langkah
biosintesis untuk mengkonversi.
Neurotransmiter merupakan zat kimia yang disintesis dalam neuron dan
disimpan dalam gelembung sinaptik pada ujung akson. Zat kimia ini
dilepaskan dari akson terminal melalui eksositosis dan juga direabsorpsi
untuk daur ulang. Neurotransmiter merupakan cara komunikasi antar neuron.
Zat-zat kimia ini menyebabkan perubahan permeabilitas sel neuron, sehingga
neuron menjadi lebih kurang dapat menyalurkan impuls, tergantung dari
neuron dan transmiter tersebut. Contoh-contoh neurotransmiter adalah
norepinefrin, acetilkolin, dopamin, serotonin, asam gama aminobutirat
(GABA), glisin, dan lain-lain.

2.2 Macam macam neurotransmitter


a. Asetilkolin
Asetilkolin merupakan substansi transmitter yang disintesis
diujung presinap dari koenzim asetil A dan kolin dengan menggunakan
enzim kolin asetiltransferase. Kemudian substansi ini dibawa ke dalam
gelembung spesifiknya. Ketika kemudian gelembung melepaskan

2
asetilkolin ke dalam celah sinap, asetilkolin dengan cepat memecah
kembali asetat dan kolin dengan bantuan enzim kolinesterase, yang
berikatan dengan retikulum proteoglikan dan mengisi ruang celah sinap.
Kemudian gelembung mengalami daur ulang dan kolin juga secara aktif
dibawa kembali ke dalam ujung sinap untuk digunakan kembali bagi
keperluan sintesis asetilkolin baru. Bersifat inhibisi melalui susunan saraf
parasimpatis. Berfungsi mengendalikan kontraksi otot dan pembentukan
ingatan

b. Norepinefrin, epinephrine, dan dopamine


Noepinephrine, epinephrine, dan dopamine dikelompokkan dalam
cathecolamines. Hidroksilasi tirosin merupakan tahap penentu (rate-
limiting step) dalam biosintesis cathecolamin. Disamping itu, enzim tirosin
hidroksilase ini dihambat oleh oleh katekol (umpan balik negatif oleh hasil
akhirnya).
Dopamin
Merupakan neurotransmiter yang mirip dengan adrenalin
dimana mempengaruhi proses otak yang mengontrol gerakan, respon
emosional dan kemampuan untuk merasakan kesenangan dan rasa
sakit. Dopamin sangat penting untuk mengontrol gerakan
keseimbangan. Jika kekurangan dopamin akan menyebabkan
berkurangnya kontrol gerakan seperti kasus pada penyakit Parkinson.
Jika kekurangan atau masalah dengan aliran dopamine dapat
menyebabkan orang kehilangan kemampuan untuk berpikir rasionil,
ditunjukkan dalam skizofrenia. dari perut tegmental area yang banyak
bagian limbic sistem akan menyebabkan seseorang selalu curiga dan
memungkinkan untuk mempunyai kepribadian paranoia. Jika
kekurangan Dopamin di bidang mesocortical dari daerah perut
tegmental ke neocortex terutama di daerah prefrontal dapat
mengurangi salah satu dari memori.

Norephineprin
Disekresi oleh sebagian besar neuron yang badan
sel/somanya terletak pada batang otak dan hipothalamus. Secara khas

3
neuron-neuron penyekresi norephineprin yang terletak di lokus
seruleus di dalam pons akan mengirimkan serabut-serabut saraf yang
luas di dalam otak dan akan membantu pengaturan seluruh aktivitas
dan perasaan, seperti peningkatan kewaspadaan. Pada sebagian daerah
ini, norephineprin mungkin mengaktivasi reseptor aksitasi, namun
pada yang lebih sempit malahan mengatur reseptor inhibisi.
Norephineprin juga sebagian disekresikan oleh sebagian besar neuron
post ganglion sistem saraf simpatis dimana ephineprin merangsang
beberapa organ tetapi menghambat organ yang lain.

c. Glutamate
Glutamate merupakan neurotransmitter yang paling umum di
sistem saraf pusat, jumlahnya kira-kira separuh dari semua neurons di
otak. Sangat penting dalam hal memori. Kelebihan Glutamate akan
membunuh neuron di otak. Terkadang kerusakan otak atau stroke akan
mengakibatkan produksi glutamat berlebih akan mengakibatkan kelebihan
dan diakhiri dengan banyak sel-sel otak mati daripada yang asli dari
trauma. AlS, lebih dikenal sebagai penyakit Lou Gehrigs, dari hasil
produksi berlebihan glutamate. Banyak percaya mungkin juga cukup
bertanggung jawab untuk berbagai penyakit pada sistem saraf, dan
mencari cara untuk meminimalisir efek.

d. Serotonin
Serotonin (5-hydroxytryptamine, atau 5-HT) adalah suatu
neurotransmitte rmonoamino yang disintesiskan dalam neuron-neuron
serotonergis dalam sistem saraf pusat (CNS) dan sel-sel enterochromaffin
dalam saluran pencernaan. Pada system saraf pusat serotonin memiliki
peranan penting sebagai neurotransmitter yang berperan pada proses
marah, agresif, temperature tubuh, mood, tidur, human sexuality, selera
makan, dan metabolisme, serta rangsang muntah. Serotonin memiliki
aktivitas yang luas pada otak dan variasi genetic pada reseptor serotonin
dan transporter serotonin, yang juga memiliki kemampuan untuk reuptake
yang jika terganggu akan memiliki dampak pada kelainan neurologist.
Obat-obatan yang mempengaruhi jalur dari pembentukan serotonin

4
biasanya digunakan sebagai terapi pada banyak gangguan psikiatri, selain
itu serotonin juga merupakan salah satu dari pusat penelitian pengaruh
genetic pada perubahan genetic psikiatri.

e. GABA
-Aminobutyric acid (GABA) adalah neurotransmiter inhibisi
utama pada sistem saraf pusat. GABA berperan penting dalam mengatur
exitability neuron melalui sistem saraf. Pada manusia, GABA juga
bertanggung jawab langsung pada pengaturan tonus otot. GABA dibentuk
dari dekarboksilasi glutamat yang dikatalis oleh glutamate decarboxylase
(GAD).GAD umumnya terdapat dalam akhiran saraf. Aktivitas GAD
membutuhkan pyridoxal phosphate (PLP) sebagai kofaktor. PLP dibentuk
dari vitamin B6 (pyridoxine, pyridoxal, and pyridoxamine) dengan bantuan
pyridoxal kinase. Pyridoxal kinase sendiri membutuhkan zinc untuk
aktivasi. Kekurangan pyridoxal kinase atau zinc dapat menyebabkan
kejang, seperti pada pasien preeklamsi.Reseptor GABA dibagi dalam dua
jenis: GABAA dan GABAB. Reseptor GABAA membuka saluran florida dan
diantagonis oleh pikrotoksin dan bikukulin, yang keduanya dapat
mnimbulkan konvulsi umum.
Reseptor GABAB yang secara selektif dapat diaktifkan oleh obat
anti spastik baklofen, tergabung dalam saluran kalium dalam membran
pascasinaps. Pada sebagian besar daerah otak IPSP terdiri atas komponen
lambat dan cepat. Bukti-bukti menunjukkan bahwa GABA adalah
transmiter penghambat yang memperantarai kedua componen tersebut.
IPSP cepat dihambat oleh antagonis GABAA, sedangkan IPSP lambat oleh
antagonis GABAB. Penelitian imunohistokimia menunjukkan bahwa
sebagian besar dari saraf sirkuit local mensintesis GABA. Satu kelompok
khusus saraf dari sirkuit local terdapat di tanduk dorsal sumsum tulang
belakang juga menghasilkan GABA. Saraf-saraf ini membentuk sinaps
aksoaksonik dengan terminal saraf sensoris primer dan bekerja untuk
inhibisi presinaps. Pada vertebrata, GABA berperan dalam inhibisi sinaps
pada otak melalui pengikatan terhadap reseptor spesifik transmembran
dalammembran plasma pada proses pre dan post sinaps. Pengikatan ini

5
menyebabkan terbukanya saluran ion sehingga ion klorida yang bermuatan
negatif masuk kedalam sel dan ion kalium yang bermuatan positif keluar
dari sel. Akibatnya terjadi perubahan potensial transmembran, yang
biasanya menyebabkan hiperpolarisasi. Reseptor GABAA merupakan
reseptor inotropik yang merupakan saluran ion itu sendiri, sedangkan
Reseptor GABAB merupakan reseptor metabotropik yang membuka
saluran ion melalui perantara G protein (G protein-coupled reseptor).
Neuron-neuron yang menghasilkanyang menghasilkan GABA disebut
neuron GABAergic. Sel medium spiny merupakan salah satu contoh sel
GABAergic

f. Aspartat
Asam aspartat (Asp) adalah -asam amino dengan rumus kimia
HO2CCH(NH2)CH2CO2H. Asam aspartat (atau sering disebut aspartat
saja, karena terionisasi di dalam sel), merupakan satu dari 20 asam amino
penyusun protein. Asam aspartat bersama dengan asam glutamat bersifat
asam dengan pKa dari 4.0. Bagi mamalia aspartat tidaklah esensial.
Fungsinya diketahui sebagai pembangkit neurotransmisi di otak dan saraf
otot. Diduga, aspartat berperan dalam daya tahan terhadap kelelahan.
Senyawa ini juga merupakan produk dari daur urea dan terlibat dalam
glukoneogenesis. Aspartat (basa konjugasi dari asam aspartat) merupakan
neurotransmiter yang bersifat eksitasi terhadap sistem saraf pusat. Aspartat
merangsang reseptor NMDA (N-metil-D-Aspartat), meskipun tidak sekuat
rangsangan glutamat terhadap reseptor tersebut. Sebagai neurotransmitter,
aspartat berperan dalam daya tahan terhadap kelelahan. Tetapi,bukti-bukti
yang mendukung gagasan ini kurang kuat.
g. Glisin (NH2CH2COOH)
Glisin (Gly, G) atau asam aminoetanoat adalah asam amino alami
paling sederhana. Glisin merupakan asam amino terkecil dari 20 asam
amino yang umum ditemukan dalam protein. Kodonnya adalah GGU,
GGC, GGA dan GGG. Glisin merupakan satu-satunya asam amino yang
tidak memiliki isomer optik karena gugus residu yang terikat pada atom
karbon alpha adalah atom hidrogen sehingga terjadi simetri. Jadi, tidak

6
ada L-glisin atau D-glisin. Glisin merupakan asam amino yang mudah
menyesuaikan diri dengan berbagai situasi karena strukturnya sederhana.
Sebagai contoh, glisin adalah satu-satunya asam amino internal pada
heliks kolagen, suatu protein struktural. Pada sejumlah protein penting
tertentu, misalnya sitokrom c, mioglobin, dan hemoglobin, glisin selalu
berada pada posisi yang sama sepanjang evolusi (terkonservasi).
Penggantian glisin dengan asam amino lain akan merusak struktur dan
membuat protein tidak berfungsi dengan normal. Secara umum protein
tidak banyak pengandung glisina. Perkecualian ialah pada kolagen yang
dua per tiga dari keseluruhan asam aminonya adalah glisin. Glisin bekerja
sebagai transmiter inhibisi pada sistem saraf pusat, terutama pada medula
spinalis, brainstem, dan retina. Jika reseptor glisin teraktivasi, korida
memasuki neuron melalui reseptor inotropik, menyebabkan terjadinya
potensial inhibisi post sinaps (Inhibitory postsynaptic potential / IPSP).
Strychnine merupakan antagonis reseptor glisin yang kuat, sedangkan
bicuculline merupakan antagonis reseptor glisin yang lemah. Glisin
merupakan reseptor agonis bagi glutamat reseptor NMDA.

h. Neuropeptida
Neuropeptida merupakan kelompok transmitter yang sangat
berbeda dan biasanya bekerja lambat dan dalam hal lain sedikit berbeda
dengan yang terdapat pada transmitter molekul kecil. Sekitar 40 jenis
peptida diperkirakan memiliki fungsi sebagai neurotransmitter. Daftar
peptida ini semakin panjang dengan ditemukannya putative
neurotransmitter (diperkirakan memiliki fungsi sebagai neurotransmitter
berdasarkan bukti-bukti yang ada tetapi belum dapat dibuktikan secara
langsung). Neuropeptida sudah dipelajari sejak lama, namun bukan dalam
fungsinya sebagai neurotransmitter, namun fungsinya sebagai substansi
hormonal. Peptida ini mula-mula dilepaskan ke dalam aliran darah oleh
kelenjar endokrin, kemudian hormon-hormon peptida itu akan menuju ke
jaringan-jaringan otak. Dahulu para ahli meyangka bahwa peptida
dihasikan dalam kelenjar hormon danmasuk ke dalamjaringan otak, namun
saat ini sudah dapat dibuktikan bahwa peptida yang berfungsi sebagai

7
neurotransmitter, dapat disintesa dan dilepaskan oleh neuron di susunan
saraf.

2.3 Cara Kerja Neurotransmitter


1. Neurotransmitter disintesis di precursor dengan katalis enzim
2. Neurotransmitter disimpan di vesikel dalam neuron presinaps
3. Karena adanya potensial aksi, saluran Ca terbuka. Sehingga Ca masuk
ke dalam sinaps
4. Adanya potensial aksi menyebabkan vesikel berikatan dengan presinaps
dan melepaskan neurotransmitter
5. Neurotransmitter yang dilepaskan akan berikatan dengan autoreseptor
dan
menghambat pelepasan neurotransmitter lainnya
6. Neurotransmitter yang dilepaskan berikatan dengan reseptor pada post
sinaps.
7. Neurotransmitter yang dilepaskan di de-aktivasi, baik oleh up take
maupun degradasi enzimatik

8
Neurotransmiter merupakan senyawa kimia pembawa pesan yang
meneruskan informasi elektrik dari sebuah neuron ke neuron lain atau sel
efektor. Sifat neurotransmiter adalah sebagai berikut:
Disintesis di neuron presinaps
Disimpan di vesikel dalam neuron presinaps
Dilepaskan dari neuron di bawah kondisi fisiologis
Segera dipindahkan dari sinaps melalui uptake atau degradasi
Berikatan dengan reseptor menghasilkan respon biologis.

9
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Neurotransmitter merupakan senyawa endogenus yang mengirimkan
sinyal dari neuron ke sel di target sinaps. Fungsi dari neurotransmitter yaitu
sebagai penghubung antara otak ke seluruh jaringan saraf lainnya dan
pengendalian fungsi tubuh.
3.2 Saran
Penyusun menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat
banyak kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat
diharapkan untuk perbaikan selanjutnya.

10
DAFTAR PUSTAKA

Cara Kerja Neurotransmitter. Update 4 Desember 2016. Pukul 22.50 WIB.


( http://dokumen.tips/documents/cara-kerja-neurotransmitter.html )

Oompa Loompa. 2012. Macam macam neurotransmitter. Update 4 Desember


2016. Pukul 20.45 WIB (acces online)
( http://explore-3p.blogspot.co.id/2012/01/macam-macam-neurotransmitter.html ).

Sistem Saraf. Update 4 Desember 2016. Pukul 20.50 WIB (acces online)
( https://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_saraf )

Neurotransmitter. Update 4 Desember 2016. Pukul 21.10 WIB (acces online)


( http://medshisof.tumblr.com/post/30851782551/neurotransmitter )

Sulistiwati, dkk. 2005. Otak Manusia, Neurotransmitter dan Stress. Jakarta :


Wahyu Media

Ethel Sloane, Anatomi dan Fisiologi untuk Permula, Alih Bahasa James Veldman,
Jakarta: EGC.

11