Anda di halaman 1dari 22

Contoh Sengketa yang Diselesaikan Mahkamah Internasional

Guru Semangat Wednesday, 2 March 2016 Pembelajaran

Pengertian Sengketa dan Mahkamah Internasional


Sengketa internasional adalah suatu perselisihan antara subjek-subjek
hukum internasional mengenai fakta, hukum atau politik dimana tuntutan
atau pernyataan satu pihak ditolak, dituntut balik atau diingkari oleh pihak
lainnya.

Mahkamah Internasional adalah badan


pengadilan internasional resmi bersifat tetap dan bertugas untuk memeriksa
dan memutus perkara-perkara yang diajukan kepadanya. Mahkamah
internasional ini terdiri dari 15 (limabelas) hakim yang dipilih oleh Majelis
Umum berdasarkan kemampuan/kecakapan mereka, bukan atas dasar
kewarganegaraan mereka. Mahkamah internasional berkedudukan di Den
Haag, Belanda. Mahkamah Internasional (The International Court of Justice,
ICI) adalah organ utama lembaga kehakiman PBB, yang berkedudukan di
Den Haag, Belanda. Didirikan pada tahun 1945 berdasarkan Piagam
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Mahkamah ini mulai berfungsi sejak
tahun 1946 sebagai pengganti Mahkamah Internasional Permanen
(Permanent Court Internasional Justice).

Fungsi Mahkamah Internasional adalah menyelesaikan kasus-kasus


persengketaan internasional yang subjeknya adalah negara. Pasal 34 Statuta
Mahkamah Internasional menyatakan bahwa yang boleh beracara di
Mahkamah Internasional hanyalah subjek hukum negara (Only States may
be parties in cases before the Court). Dalam hal ini, ada tiga kategori negara,
yaitu: negara anggota PBB; negara bukan anggota PBB yang menjadi
anggota Statuta Mahkamah Internasional; dan negara bukan Statuta
Mahkamah Internasional. (Baca Juga: Sejarah Hukum Internasional)
Contoh Kasus/Sengketa yang Diselesaikan Mahkamah Internasional
1. Indonesia dengan Malaysia
Persengketaan antara Indonesia dengan Malaysia, mencuat pada tahun 1967
ketika dalam pertemuan teknis hukum laut antara kedua negara, masing-
masing negara ternyata memasukkan pulau Sipadan dan pulau Ligitan ke
dalam batas-batas wilayahnya. Kedua negara lalu sepakat agar Sipadan dan
Ligitan dinyatakan dalam keadaan status status quo akan tetapi ternyata
pengertian ini berbeda. Pihak Malaysia membangun resor parawisata baru
yang dikelola pihak swasta Malaysia karena Malaysia memahami status quo
sebagai tetap berada di bawah Malaysia sampai persengketaan selesai,
sedangkan pihak Indonesia mengartikan bahwa dalam status ini berarti
status kedua pulau tadi tidak boleh ditempati/diduduki sampai persoalan
atas kepemilikan dua pulau ini selesai. Pada tahun 1969 pihak Malaysia
secara sepihak memasukkan kedua pulau tersebut ke dalam peta
nasionalnya.

Keputusan Mahkamah Internasional pada tahun 1998 masalah sengketa


Sipadan dan Ligitan dibawa ke ICJ, kemudian pada hari selasa 17 Desember
2002 ICJ mengeluarkan keputusan tentang kasus sengketa kedaulatan pulau
Sipadan-Ligatan antara Indonesia dengan Malaysia. Hasilnya, dalam voting di
lembaga itu, Malaysia dimenangkan oleh 16 hakim, sementara hanya 1
orang yang berpihak kepada Indonesia. Dari 17 hakim itu, 15 merupakan
hakim tetap dari Mahkamah Internasional, sementara satu hakim merupakan
pilihan Malaysia dan satu lagi dipilih oleh Indonesia. Kemenangan Malaysia,
oleh karena berdasarkan pertimbangan effectivity (tanpa memutuskan pada
pertanyaan dari perairan teritorial dan batas-batas maritim), yaitu
pemerintah Inggris (penjajah Malaysia) telah melakukan tindakan
administratif secara nyata berupa penerbitan ordonansi perlindungan satwa
burung, pungutan pajak terhadap pengumpulan telur penyu sejak tahun
1930, dan operasi mercusuar sejak 1960-an.

2. Irak dengan Kuwait


Invasi Irak ke Kuwait disebabkan oleh kemerosotan ekonomi Irak setelah
perang delapan tahun dengan Iran dalam perang Iran-Irak. Irak sangat
membutuhkan petro dolar sebagai pemasukan ekonominya sementara
rendahnya harga petro dolar akibat kelebihan produksi minyak oleh Kuwait
serta Uni Emirat Arab yang dianggap Saddam Hussein sebagai perang
ekonomi serta perselisihan atas ladang minyak Rumeyla sekalipun pada
pasca-perang melawan Iran, Kuwait membantu Irak dengan mengirimkan
suplai minyak secara gratis. Selain itu, Irak mengangkat masalah
perselisihan perbatasan akibat warisan Inggris dalam pembagian kekuasaan
setelah jatuhnya pemerintahan Turki Usmani.

Dewan Keamanan PBB mengambil hak veto. Israel diminta Amerika Serikat
untuk tidak mengambil serangan balasan atas Irak untuk menghindari
berbaliknya kekuatan militer negara-negara Arab yang dikhawatirkan akan
mengubah jalannya peperangan. Pada tanggal 27 Februari 1991 pasukan
koalisi berhasil membebaskan Kuwait dan presiden Bush menyatakan perang
selesai.
3. Indonesia dan Timor Leste
Klaim wilayah Indonesia, ternyata bukan hanya dilakukan oleh Malaysia,
tetapi juga oleh Timor Leste, negara yang baru berdiri sejak lepas dari
negara kesatuan Republik Indonesia pada tahun 1999. Klaim wilayah
Indonesia ini dilakukan oleh sebagian warga Timor Leste tepatnya di
perbatasan wilayah Timor Leste dengan wilayah Indonesia, yaitu perbatasan
antara Kabupaten Timor Tengah Utara (RI) dengan Timor Leste.
Permasalahan perbatasan antara RI dan Timor Leste itu kini sedang dalam
rencana untuk dikoordinasikan antara pemerintah RI dengan pemerintah
Timor Leste dan kemungkinan akan dibawa ke Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB) untuk mendapatkan penyelesaian masalah perbatasan antara
Indonesia dan Timor Leste, khususnya di lima titik yang hingga kini belum
diselesaikan akan dibawa ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Lima titik tersebut adalah Imbate, Sumkaem, Haumeniana, Nimlat, dan Tubu
Banat, yang memiliki luas 1.301 hektare (ha) dan sedang dikuasai warga
Timor Leste. Tiga titik diantaranya terdapat di perbatasan Kabupaten Belu
dan dua di perbatasan Timor Leste dengan Kabupaten Timor Tengah Utara.
Berlarutnya penyelesaian lima titik di perbatasan tersebut mengakibatkan
penetapan batas laut kedua negara belum bisa dilakukan.

Di lima titik tersebut, ada dua hal yang belum disepakati warga dari kedua
negara:
1. Penetapan batas apakah mengikuti alur sungai terdalam, dan
persoalan pembagian tanah. Semula, pemerintah Indonesia dan Timor Leste
sepakat batas kedua negara adalah alur sungai terdalam, tetapi tidak
disepakati warga, karena alur sungai selalu berubah-ubah. Selain itu, ternak
milik warga di perbatasan tersebut minum air di sungai yang berada di tapal
batas kedua negara. Jika sapi melewati batas sungai terdalam, warga tidak
bisa menghalaunya kembali, karena melanggar batas negara.
2. Warga negara yang bermukim di perbatasan harus rela membagi
tanah ulayat mereka, karena menyangkut persoalan batas negara.

4. Jepang dan Korea


Perebutan kepemilikan pulau Daioyu/Senkakuantara China-Jepang telah
berlangsung sejak tahun 1969. Sengketa ini diawali ketika ecafe menyatakan
bahwa diperairan sekitar pulau Daioyu/Senkakuterkandung hidrokarbon
dalam jumlah besar. Kemudian pada tahun 1970, Jepang dan Amerika Serikat
menandatangani perjanjian pengembalian Okinawa, termasuk pulau
Daioyu/Senkaku kepada Jepang. Hal inilah yang kemudian diprotes China,
karena China merasa bahwa pulau tersebut adalah miliknya. Sengketa ini
semakin berkembang pada tahun 1978, ketika Jepang membangun
mercusuar di pulau Daioyu untuk melegitimasi pulau tersebut.

Ketegangan ini berlanjut ketika Jepang mengusir kapal Taiwan dari perairan
Daioyu. Meskipun protes yang terus menerus dari China maupun Taiwan,
namun tahun 1990an Jepang kembali memperbaiki mercusuar yang telah
dibangun oleh kelompok kanan Jepang di Daiyou. Secara resmi China
memprotes tindakan Jepang atas pulau tersebut.

Sampai saat ini permasalahan ini belum dapat diselesaikan. Kedua negara
telah mengadakan pertemuan untuk membicarakan dan menyelesaikan
sengketa. Namun dari beberapa kali pertemuan yang telah dilakukan belum
ada penyelesaian, karena kedua negara bersikeras bahwa pulau tersebut
merupakan bagian kedaulatan dari negara mereka, akibat overlapping
antara ZEE Jepang dan landas kontinen China. Hal inilah yang belum
terjawab oleh hukum laut 1982. Meskipun saat ini banyak yang
menggunakan pendekatan median/equidistance line untuk pembagian
wilayah yang saling tumpang tindih, namun belum dapat menyelesaikan
perebutan antara kedua negara, karena adanya perbedaan interpretasi
terhadap definisi equidistance line. Alternatif lain juga telah ditawarkan
untuk penyelesaian konflik, yaitu melalui pengelolaan bersama (JDA, Joint
Development Agreement). Sebenarnya dengan pengelolaan bersama tidak
hanya akan menyelesaikan sengketa perbatasan laut kedua negara, tetapi
memiliki unsur politis. Hal ini akan memperbaiki hubungan China-Jepang,
karena menyangkut kepentingan kedua negara, sehingga kedua negara
harus selalu menjaga hubungan baik agar kesepakatan dapat berjalan
dengan baik. Namun sayangnya tawaran ini ditolak China, padahal
sebenarnya kesepakatan ini dapat digunakan untuk membangun masa
depan yang cerah bersama Jepang melihat sulitnya dicapai kesepakatan
China-Jepang, alternatif penyelesaian akhir yang harus ditempuh adalah
melalui mahkamah internasional. Namun penyelesaian tersebut cukup
beresiko, karena hasilnya akan take all or nothing.

5. Kamboja dengan Thailand


Sengketa perbatasan sekitar Candi Preah Vihear antara Kamboja dan
Thailand jadi pusat perhatian media internasional pada saat KTT ASEAN, Mei,
di Jakarta. Diharapkan mediasi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selaku
Ketua ASEAN merukunkan Perdana Menteri Kamboja Hun Sen dan Perdana
Menteri Thailand (waktu itu) Abhisit Vejjajiva dalam masalah Candi Preah
Vihear membuahkan hasil. Itu karena konsep Masyarakat Politik dan
Keamanan ASEAN yang dicanangkan para kepala negara dan pemerintahan
ASEAN menggambarkan mekanisme penyelesaian sengketa antarnegara
ASEAN. Di samping itu, Dewan Keamanan PBB telah memberikan amanah
kepada ASEAN untuk menyelesaikan masalah tersebut secara damai.

6. ASEAN dan Laut China Selatan


Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN di Phnom Penh, Kamboja, minggu lalu,
berakhir dengan menyisakan satu persoalan rumit. Negara-negara ASEAN
belum berhasil menyatukan sikap mengenai bagaimana mengelola sengketa
di Laut China Selatan yang belakangan ini kian panas. Proses pengelolaan
sengketa yang melibatkan China dan empat negara ASEAN (Vietnam,
Filipina, Malaysia, Brunei) itu kini memasuki tahapan penting dengan adanya
rencana menyusun Code of Conduct (CoC) yang nantinya akan disepakati
oleh semua negara anggota ASEAN dan China.

7. Jepang dengan China


Memperebutkan kepemilikan Pulau Daioyu/Senkaku. Sengketa kedua negara
besar tersebut telah berlangsung lama yaitu sejak tahun 1969. Awal mula
sengketa ini adalah dari pernyataan ECAFE tentang hidrokarbon dalam
jumlah besar yang menurutnya terkandung di sekitar Pulau Daioyu/Senkaku.
Kemudian pada tahun 1970, Amerika Serikat dan Jepang sepakat untuk
menandatangani perjanjian pengembalian Okinawa, termasuk pulau
Daioyu/Senkaku kepada Jepang. Dengan perjanjian tersebut, kemudian China
memprotesnya, karena menurut China keberadaan pulau tersebut adalah
hak miliknya. Sengketa tersebut semakin berkembang pada tahun 1978,
ketika Jepang membangun mercusuar di Pulau Daioyu untuk melegitimasi
pulau tersebut. Dan ketegangan tersebut semakin memuncak pada saat
Jepang mengusir kapal Taiwan dari perairan Daioyu. Walaupun China dan
Taiwan terus melakukan protes, tetapi pada tahun 1990an Jepang kembali
memperbaiki mercusuar yang telah dibangun oleh kelompok kanan Jepang di
Daiyou. Penyelesaian sengketa internasional Penyelesaian dari kasus
tersebut sangatlah rumit, karena dari masing-masing negara bersikukuh
dengan hak mereka masing-masing.

Ada beberapa alternatif yang ditawarkan untuk menyelesaikan sengketa


tersebut misalnya dengan jalan pengelolaan bersama (JDA, Joint
Development Agreement). Namun cara penyelesaian tersebut masih tetap
susah untuk dilakukan karena kasus tersebut lama-kelamaan menjadi
bermuatan politik. Dengan semakin sulitnya dicapai antara kesepakatan
China-Jepang, alternatif penyelesaian akhir yang harus dilakukan adalah
melalui Mahkamah Internasional. Walaupun penyelesaian tersebut cukup
beresiko, namun jalan itulah yang paling efektif untuk dilakukan.
8. Indonesia dengan Filipina
Sengketa Indonesia dengan Filipina adalah perairan laut antara P. Miangas
(Indonesia) dengan pantai Mindanao (Filipina) serta dasar laut antara P. Balut
(Filipina) dengan pantai Laut Sulawesi yang jaraknya kurang dari 400 mil.
Disamping itu letak P. Miangas (Indonesia) di dekat perairan Filipina, dimana
kepemilikan P. Miangas oleh Indonesia berdasarkan Keputusan Peradilan
Arbitrage di Den Haag tahun 1928. Di Kecamatan Nanusa, Kabupaten Talaud,
Pulau Miangas merupakan titik terluar yang paling jauh dan berbatasan
dengan Filipina. Dalam adat Nanusa, Miangas disebut Tinonda. Konon, pulau
ini sering menjadi sasaran bajak laut. Selain merebut harta benda, perompak
ini membawa warga Miangas untuk dijadikan budak di Filipina. Di masa
Filipina dikuasai penjajah Spanyol, Miangas dikenal dengan sebutan Poilaten
yang memiliki arti: Lihat pulau di sana. Karena di Miangas banyak ditumbuhi
palm mulailah disebut Las Palmas. Lambat laun pulau ini disebut Miangas.
Miangas bukan hanya menjadi sasaran perompakan. Pulau ini memiliki
sejarah panjang karena menjadi rebutan antara Belanda dan Amerika.
Amerika mengklaim Miangas sebagai jajahannya setelah Spanyol yang
menduduki Filipina digeser Amerika. Tapi, Belanda keberatan. Sengketa
berkepanjangan terjadi, kasus klaim Pulau Miangas ini diusung ke Mahkamah
Internasional.

9. Abkhazia dan Ossetia Selatan


Abkhazia dan Ossetia Selatan adalah dua negara republik pecahan Georgia
di Kaukasus. Keduanya telah berupaya melepaskan diri dari Georgia sejak
tahun 1920-an. Setelah Revolusi Rusia tahun 1917, Abkhazia dan Ossetia
Selatan ditetapkan sebagai dua republik otonom yang merupakan bagian
dari Georgia dan termasuk di dalam wilayah Uni Soviet. Namun setelah
perang tahun 1920-an, Abkhazia dan Ossetia Selatan mendeklarasikan
kemerdekaannya pada 1923 dan 1922. Masalah kedaulatan keduanya
semakin kompleks di masa keruntuhan Uni Soviet dan Georgia
mendeklarasikan independensinya yang akhirnya berujung pada perang di
tahun 1992 dan 2008. Rusia pada akhirnya mengakui kedua republik
tersebut sebagai negara yang terpisah dan berdiri sendiri. Namun PBB, Uni
Eropa dan NATO menolak mengakui kedaulatan Abkhazia dan Ossetia
Selatan.

10. Inggris dan Argentina


Kepulauan Falkland pada awalnya diperebutkan Inggris dan Spanyol selama
bertahun-tahun. Sampai pada 1816, terjadi perkembangan baru di Amerika
Selatan. Argentina menyatakan merdeka dari jajahan Spanyol, dan membuat
batas wilayah negaranya sampai ke Kepulauan Falkland. Jadilah kini, Inggris
yang berseteru dengan Argentina memperebutkan kepulauan di Amerika
Selatan itu.

Perebutan itu terus berlangsung selama bertahun-tahun. Bahkan Argentina


berhasil memasukkan masalah klaim kepulauan itu ke Perserikatan Bangsa
Bangsa (PBB). Pada 1965, PBB mengeluarkan Resolusi 2065 yang
menyebutkan perlunya penyelesaian masalah itu, dengan memperhatikan
kepentingan penduduk yang ada di kawasan tersebut. Negosiasi antara
Inggris dan Argentina secara baik baik. Menurut survey masyarakat kedua
belah negara menginginkan adanya kompromi mengenai masalah Malvinas.
Momen ini dapat dimanfaatkan sehingga terjadi kesepakatan mengenai
pulau tersebut.Penyelidikan. Dalam hal ini harus ada penyelidik independen
untuk mencari fakta-fakta dalam sengketa yang pada akhirnya akan menjadi
pertimbangan untuk keputusan dalam penyelesaian sengketa. Menteri Luar
Negeri Hillary Clinton menyatakan Amerika Serikat siap membantu Argentina
dan Inggris untuk menyelesaikan sengketa Kepulauan Falkland.Posisi kami
adalah bahwa ini merupakan masalah yang harus diselesaikan antara Inggris
dan Argentina. Apabila kami bisa membantu memfasilitasi upaya semacam
itu, kami siap melakukan itu, ujar Hillary di Montevideo, ibu kota Uruguay.
Sedangkan esensi terbesar jika dimasukkan ke Mahkamah Internasional
adalah mengenai efektifitas putusan mahkamah itu sendiri. Hingga sekarang
belum terdengar jika pihak atau salah satu pihak sampai menggugat putusan
Mahkamah atau secara terbuka memprotes keras putusan Mahkamah. Hal ini
menunjukkan bahwa putusan dan wibawa Mahkamah masih dihormati
dengan baik. Sehingga diharapkan sengketa Malvinas akan selesai dan tidak
berlarut larut.

Kasus-Kasus yang Sudah mendapat keputusan Mahkamah Internasional

nestiituagnes / 17 May 2010


Contoh kasus-kasus yang sudah mendapat keputusan Mahkamah
internasional

1. Sengketa Sipadan dan Ligitan

Sengketa Sipadan dan Ligitan adalah


persengketaan Indonesia dan Malaysia atas pemilikan terhadap
kedua pulau yang berada di Selat Makassar yaitu pulau Sipadan (luas:
50.000 meter) dengan koordinat: 4652.86N 1183743.52E dan pulau
Ligitan (luas: 18.000 meter) dengan koordinat: 49N 11853E. Sikap
Indonesia semula ingin membawa masalah ini melalui Dewan Tinggi ASEAN
namun akhirnya sepakat untuk menyelesaikan sengketa ini melalui jalur
hukum Mahkamah Internasional

Kronologi sengketa

Persengketaan antara Indonesia dengan Malaysia, mencuat pada tahun 1967


ketika dalam pertemuan teknis hukum laut antara kedua negara, masing-
masing negara ternyata memasukkan pulau Sipadan dan pulau Ligitan ke
dalam batas-batas wilayahnya. Kedua negara lalu sepakat
agar Sipadan dan Ligitan dinyatakan dalam keadaan status status quo akan
tetapi ternyata pengertian ini berbeda. Pihak Malaysia membangun resor
parawisata baru yang dikelola pihak swasta Malaysia karena Malaysia
memahami status quo sebagai tetap berada di bawah Malaysia sampai
persengketaan selesai, sedangkan pihak Indonesia mengartikan bahwa
dalam status ini berarti status kedua pulau tadi tidak boleh
ditempati/diduduki sampai persoalan atas kepemilikan dua pulau ini selesai.
Pada tahun 1969 pihak Malaysia secara sepihak memasukkan kedua pulau
tersebut ke dalam peta nasionalnya.
Pada tahun 1976, Traktat Persahabatan dan Kerja Sama di Asia
Tenggara atau TAC (Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia)
dalam KTT pertama ASEAN di pulau Bali ini antara lain menyebutkan bahwa
akan membentuk Dewan Tinggi ASEAN untuk menyelesaikan perselisihan
yang terjadi di antara sesama anggota ASEAN akan tetapi pihak Malaysia
menolak beralasan karena terlibat pula sengketa dengan Singapura untuk
klaim pulau Batu Puteh, sengketa kepemilikan Sabah dengan Filipina serta
sengketa kepulauan Spratley di Laut Cina Selatan dengan Brunei
Darussalam, Filipina, Vietnam, Cina, dan Taiwan. Pihak Malaysia pada tahun
1991 lalu menempatkan sepasukan polisi hutan (setara Brimob) melakukan
pengusiran semua warga negara Indonesia serta meminta pihak Indonesia
untuk mencabut klaim atas kedua pulau.
Sikap pihak Indonesia yang ingin membawa masalah ini melalui Dewan
Tinggi ASEAN dan selalu menolak membawa masalah ini ke ICJkemudian
melunak. Dalam kunjungannya ke Kuala Lumpur pada tanggal 7 Oktober
1996, Presiden Soeharto akhirnya menyetujui usulan PM Mahathir tersebut
yang pernah diusulkan pula oleh Mensesneg Moerdiono dan Wakil PM Anwar
Ibrahim, dibuatkan kesepakatan Final and Binding, pada tanggal 31 Mei
1997, kedua negara menandatangani persetujuan tersebut. Indonesia
meratifikasi pada tanggal 29 Desember 1997 dengan Keppres Nomor 49
Tahun 1997 demikian pula Malaysia meratifikasi pada 19 November 1997.,
sementara pihak mengkaitkan dengan kesehatan Presiden Soeharto dengan
akan dipergunakan fasilitas kesehatan di Malaysia

Keputusan Mahkamah Internasional

Pada tahun 1998 masalah sengketa Sipadan dan Ligitan dibawa ke


ICJ, kemudian pada hari Selasa 17 Desember 2002 ICJ mengeluarkan
keputusan tentang kasus sengketa kedaulatan Pulau Sipadan-Ligatan antara
Indonesia dengan Malaysia. Hasilnya, dalam voting di lembaga itu, Malaysia
dimenangkan oleh 16 hakim, sementara hanya 1 orang yang berpihak
kepada Indonesia. Dari 17 hakim itu, 15 merupakan hakim tetap dari MI,
sementara satu hakim merupakan pilihan Malaysia dan satu lagi dipilih oleh
Indonesia. Kemenangan Malaysia, oleh karena berdasarkan
pertimbangan effectivity (tanpa memutuskan pada pertanyaan dari perairan
teritorial dan batas-batas maritim), yaitu pemerintahInggris (penjajah
Malaysia) telah melakukan tindakan administratif secara nyata berupa
penerbitan ordonansi perlindungan satwa burung, pungutan pajak terhadap
pengumpulan telur penyu sejak tahun 1930, dan operasi mercu suar sejak
1960-an. Sementara itu, kegiatan pariwisata yang dilakukan Malaysia tidak
menjadi pertimbangan, serta penolakan berdasarkan chain of title (rangkaian
kepemilikan dari Sultan Sulu) akan tetapi gagal dalam menentukan batas di
perbatasan laut antara Malaysia dan Indonesia di selat Makassar.
KRONOLOGIS SENGKETA INDONESIA MALAYSIA
ATAS PULAU SIPADAN DAN LIGITAN

Tahu
Peristiwa
n

Sengketa Pulau Sipadan dan Ligitan muncul pertama kali pada


perundingan mengenai batas landas kontinen antara RI dan Malaysia
1969 di Kuala Lumpur (9-12 September 1969). Hasil Kesepakatan: kedua
pihak agar menahan diri untuk tidak melakukan kegiatan-kegiatan
yang menyangkut kedua pulau itu sampai penyelesaian sengketa.

Malaysia melakukan tindakan sepihak dengan menerbitkan peta


yang memasukkan kedua pulau tersebut ke dalam wilayah
1970 nasionalnya, dan beberapa tahun kemudian melakukan
pembangunan dan pengelolaan fasilitas-fasilitas wisata di kedua
pulau itu.

Pembahasan sengketa oleh Presiden RI Soeharto dan PM Malaysia


Mahathir Muhammad di Yogyakarta, tahun 1989. Hasil kesimpulan:
1989
sengketa mengenai kedua pulau tersebut sulit untuk diselesaikan
dalam kerangka perundingan bilateral.

Kedua pihak sepakat untuk mengajukan penyelesaian sengketa


tersebut ke Mahkamah Internasional dengan menandatangani
dokumen Special Agreement for the Submission to the International
1997
Court of Justice on the Dispute between Indonesian and Malaysia
concerning the Sovereignty over Pulau Ligitan and Pulau Sipadan di
Kuala Lumpur pada tanggal 31 Mei 1997.

Pada tanggal 2 November 1998, kesepakatan khusus yang telah


ditandatangani itu kemudian secara resmi disampaikan kepada
1998
Mahkamah Internasional, melalui suatu joint letter atau notifikasi
bersama.
Proses argumentasi tertulis (written pleadings) dari kedua belah
pihak dianggap rampung pada akhir Maret 2000 di Mahkamah
2000 Internasional. Argumentasi tertulis itu terdiri atas penyampaian
memorial, counter memorial, dan reply ke Mahkamah
Internasional.

Proses penyelesaian sengketa Pulau Sipadan dan Ligitan di


Mahkamah Internasional memasuki tahap akhir, yaitu proses
argumentasi lisan (oral hearing), yang berlangsung dari tanggal 3-
12 Juni 2002. Pada kesempatan itu, Menlu Hassan Wirajuda selaku
pemegang kuasa hukum RI, menyampaikan argumentasi lisannya
(agents speech), yang kemudian diikuti oleh presentasi
argumentasi yuridis yang disampaikan Tim Pengacara RI. Mahkamah
2002
Internasional kemudian menyatakan bahwa keputusan akhir atas
sengketa tersebut akan ditetapkan pada Desember 2002.

Pada tanggal 17 Desember 2002, Mahkamah Internasional di Den


Haag menetapkan Pulau Sipadan dan Ligitan menjadi bagian dari
wilayah kedaulatan Kerajaan Malaysia atas dasar efektivitas karena
Malaysia telah melakukan upaya administrasi dan pengelolaan
konservasi alam di kedua pulau tersebut.
1. Sengketa Pulau Miangas
Kondisi geografi Indonesia sebagai negara kepulauan yang dipersatukan oleh
lautan dengan Pancasila sebagai ideologi bangsa telah melahirkan suatu
budaya politik persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara. Dalam usaha mencapai kepentingan, tujuan dan cita-cita
nasional, bangsa Indonesia dihadapkan pada tantangan, ancaman,
hambatan dan gangguan yang harus ditanggulangi. Salah satu bentuk
ancaman tersebut adalah masalah perbatasan NKRI yang mencuat beberapa
pekan terakhir ini yaitu klaim Negara Philipina atas pulau Miangas yang
secara posisi geografis kedudukannya lebih dekat dengan negara tetangga
yang diindikasikan memiliki keinginan memperluas wilayah. Pulau Miangas
ini adalah salah satu pulau terluar Indonesia yang memiliki luas 3, 15 km2
dan masuk dalam desa Miangas, Kecamatan Nanusa Kabupaten Talaud
Propinsi Sulawesi Utara. Pulau Miangas dan Pulau Manoreh berdasarkan peta
Spanyol 300 tahun lalu dan Trakat Paris tahun 1989, merupakan wilayah
Philiphina. Pernyataan Konsulat Jenderal RI untuk Davao City Philipina yang
mengejutkan bahwa Pulau Miangas dan Pulau Manoreh berdasarkan peta
Spanyol 300 tahun lalu merupakan wilayah Philiphina, bahkan masalah ini
dengan UU pemerintah Philipina yang baru, kedua pulau ini telah masuk
pada peta pariwisata Philipina. Pemerintah Philipina mengakui keberadaan
pulau Miangas sebagai miliknya berdasarkan Trakat Paris tahun 1989, Trakat
Paris tersebut memuat batas-batas Demarkasi Amerika serikat (AS) setelah
menang perang atas Spanyol yang menjajah Philipina hingga ke Miangas
atau La Palmas. Trakat itu sudah dikomunikasikan Amerika Serikat ke
Pemerintah Hindia Belanda, tetapi tidak ada reservasi formal yang diajukan
pemerintah hindia Belanda terhadap Trakat itu. Hingga kini Indonesia dan
Philipina belum mengikat perjanjian batas wilayah tersebut.
Putusan Mahkamah Internasional/MI,International Court of Justice (ICJ)
tanggal 17-12-2002 yang telah mengakhiri rangkaian persidangan sengketa
kepemilikan P. Sipadan dan P. Ligitan antara Indonesia dan Malaysia
mengejutkan berbagai kalangan. Betapa tidak, karena keputusan ICJ
mengatakan kedua pulau tersebut resmi menjadi milik Malaysia. Disebutkan
dari 17 orang juri yang bersidang hanya satu orang yang berpihak kepada
Indonesia. Hal ini telah memancing suara-suara sumbang yang menyudutkan
pemerintah khususnya Deplu dan pihak-pihak yang terkait lainnya. Dapat
dipahami munculnya kekecewaan di tengah-tengah masyarakat, hal ini
sebagai cermin rasa cinta dan kepedulian terhadap tanah air.
Sengketa Indonesia dengan Filipina adalah perairan laut antara P. Miangas
(Indonesia) dengan pantai Mindanao (Filipina) serta dasar laut antara P. Balut
(Filipina) dengan pantai Laut Sulawesi yang jaraknya kurang dari 400 mil.
Disamping itu letak P. Miangas (Indonesia) di dekat perairan Filipina, dimana
kepemilikan P. Miangas oleh Indonesia berdasarkan Keputusan Peradilan
Arbitrage di Den Haag tahun 1928. Di Kecamatan Nanusa, Kabupaten Talaud,
Pulau Miangas merupakan titik terluar yang paling jauh dan berbatasan
dengan Filipina. Dalam adat Nanusa, Miangas disebut Tinonda. Konon, pulau
ini sering menjadi sasaran bajak laut. Selain merebut harta benda, perompak
ini membawa warga Miangas untuk dijadikan budak di Filipina. Di masa
Filipina dikuasai penjajah Spanyol, Miangas dikenal dengan sebutan Poilaten
yang memiliki arti: Lihat pulau di sana. Karena di Miangas banyak ditumbuhi
palm mulailah disebut Las Palmas. Lambat laun pulau ini disebut Miangas.
Miangas bukan hanya menjadi sasaran perompakan. Pulau ini memiliki
sejarah panjang karena menjadi rebutan antara Belanda dan Amerika.
Amerika mengklaim Miangas sebagai jajahannya setelah Spanyol yang
menduduki Filipina digeser Amerika. Tapi, Belanda keberatan. Sengketa
berkepanjangan terjadi, kasus klaim Pulau Miangas ini diusung ke Mahkamah
Internasional. Secara geografis, penjajah Amerika Serikat mulai bersentuhan
dengan Sulawesi bagian utara sejak akhir abad ke 19. Di tahun 1898 itu,
Amerika baru saja menguasai Filipina, setelah memerangi Spanyol yang
ratusan tahun menduduki negara kepulauan itu. Setelah Spanyol
ditaklukkan, muncul sengketa antara Amerika dengan Hindia Belanda.
Sejumlah warga Karatung mempertahankan pulau itu sebagai bagian dari
gugusan Kepulauan Nanusa. Saat penentuan demarkasi antara Amerika dan
Belanda, wakil raja Sangihe dan Talaud, serta tokoh adat Nanusa dihadirkan
di Miangas. Dalam pertemuan untuk menentukan pulau itu masuk jajahan
Belanda atau Spanyol, salah seorang tokoh adat Petrus Lantaa Liunsanda
mengucapkan kata-kata adat bahwa Miangas merupakan bagian Nanusa.
Gugusan Nanusa mulai dari Pulau Malo atau disebut tanggeng kawawitan
(yang pertama terlihat) hingga Miangas.
Setelah Indonesia merdeka, kehidupan di Kepulauan Nanusa ini tidak
berubah. Di masa Soekarno menjadi Presiden, hampir tak ada pembangunan
di daerah itu. Terutama untuk fasilitas umum, seperti sekolah. Sekolah di
pulau-pulau ini paling banyak dijalankan Yayasan Pendidikan Kristen. daerah
perbatasan tampaknya selalu berarti wilayah terisolasi, tertinggal. Ini
merupakan dampak kebijakan pembangunan nasional di masa lalu. Potensi
sumber daya laut yang dapat menjadi sumber kemakmuran masyarakat
kepulauan, tidak mendapat perhatian. Sebanyak 16 pulau di Talaud sendiri
telah membentuk kabupaten. Dari jumlah itu, sembilan pulau belum didiami
dan tujuh pulau lainnya sudah berpenghuni. Pembentukan kabupaten ini
tidak lepas lantaran rendahnya tingkat pengembangan daerah perbatasan
selama ini.

Status Pulau Miangas


KEKALAHAN Indonesia dalam sengketa kepemilikan Pulau Sipadan dan
Ligitandi Mahkamah Internasional tampak cukup menyentak perhatian para
elite terhadap pulau-pulau di perbatasan yang selama ini terabaikan.
Mengutip keterangan para anggota DPR, sebagaimana diberitakan pers,
salah satunya adalah Pulau Miangas (berbatasan dengan Filipina).

Khusus berkaitan dengan status kepemilikan Pulau Miangas, ada beberapa


hal yang perlu dijelaskan:

1. Pulau Miangas adalah salah satu pulau kecil di gugusan Kepulauan


Talaud yang sejak zaman dulu dalam tradisi masyarakat setempat
dianggap sebagai bagian integral dari wilayah kepulauan di Sulawesi
Utara, yakni Kepulauan Sangihe dan Talaud. Di Sangihe Talaud, pulau
yang bersentuhan langsung dengan wilayah negara tetangga, Filipina,
bukan hanya Miangas, tapi ada beberapa pulau lain, yang termasuk
dalam wilayah Kepulauan Kawio, Marore, Kawaluso. Namun, karena
posisi geografisnya, Miangas dijadikan tapal batas terutara dari
wilayah Kepulauan Sangihe Talaud, yang mencakup sejumlah pulau
dari Miangas hingga Biaro.
2. Miangas bukan pulau kosong, tapi berpenghuni bahkan berstatus
kecamatan di Kabupaten Talaud (dulu Kabupaten Sangihe Talaud),
Sulawesi Utara. Dengan demikian, pulau tersebut secara administratif
sudah berada dalam penguasaan efektif pemerintah Indonesia.
3. Miangas memang pernah menjadi sengketa antara Indonesia dan
Filipina. Namun sengketa tersebut sudah berakhir, yakni dengan
penetapan status Miangas sebagai bagian RI melalui Mahkamah
Internasional. Keputusan tersebut didasarkan pada kenyataan
adanya ?penguasaan efektif? Kerajaan Pulau-Pulau Talaud atas Pulau
Miangas di masa lampau, serta faktor kesamaan tradisi, bahasa, dan
asal-usul penduduk Miangas dengan penduduk Kepulauan Talaud pada
umumnya (dari aspek sosiokultural, penduduk Miangas lebih dikenal
sebagai ?orang Talaud?) meski dalam aspek ekonomi Miangas lebih
dekat dengan Filipina.
4. Dalam literatur, Pulau Miangas dikenal dengan tiga nama, yakni Las
Palmas (Pulau Kelapa), Miangas, dan Tinonda. Sebutan ?Las Palmas?
berasal dari bangsa Eropa dan memasyarakat di Filipina. Sedangkan ?
Miangas? adalah nama asli pulau tersebut, yang secara tradisional
dipakai oleh masyarakat Talaud. ?Tinonda? adalah sebutan tradisional
untuk penduduk yang menetap di Pulau Miangas.
5. Penguasaan efektif Indonesia atas Miangas telah berlangsung sejak
zaman Hindia Belanda, bahkan menjadi petunjuk batas wilayah ?
Kerajaan Kepulauan Talaud? yang mencakup wilayah ?dari Miangas
hingga Napombalu.?
6. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 4
Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia, Miangas adalah salah satu
patokan penentuan batas perairan Indonesia. Dengan demikian, dari
aspek hukum Indonesia, status Pulau Miangas sudah sangat jelas.
Namun Indonesia dan Filipina seyogianya segera menyelesaikan
masalah batas landas kontinen yang hingga kini belum juga tuntas.
7. Untuk menjaga keutuhan wilayah Negara Kesatuan RI, pembangunan
Pulau Miangas memang perlu perhatian serius. Namun pembangunan
tersebut hanya bermakna positif bila bersifat integratif dengan wilayah
sekitarnya, yakni dikaitkan dengan Kepulauan Kawio, Marore,
Kawaluso, serta dengan Kecamatan Nanusa, Essang, Beo, yang
berdekatan dengan pulau tersebut.
1. Keputusan Mahkamah Internasional antara Bosnia vs. Serbia
Keputusan bersejarah yang dikeluarkan oleh Mahkamah Internasional
(International Court of Justice/ICJ) terhadap genosida atau pembunuhan
secara massal dalam perkara Bosnia-Herzegovina melawan Serbia-
Montenegro merupakan suatu contoh bahwa keputusan yang bijaksana tidak
selalu menjadi putusan yang baik.

Inilah pertama kalinya negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa


mencoba untuk mengajukan perkara genosida kepada ICJ. Namun ICJ
nampaknya telah menghilangkan satu-satunya kesempatan yang masih
tersisa bagi pemegang kekuasaan yang sah, sejak kematian Slobodan
Milosevic yang secara tidak langsung berakibat dengan dihapuskannya
Mahkamah Kejahatan Perang di Yugoslavia (International Criminal Tribunal for
Former Yugoslavia/ICTY) yang berkemungkinan untuk meminta
pertanggungjawaban terhadap dirinya.

Keputusan mahkamah yang menjelaskan bahwa meskipun apa yang terjadi


pada tahun 1995 di Srebenica memang merupakan tindakan dari genosida
namun negara Serbia tidaklah secara langsung mempunyai keterlibatan
terhadap tindakan tersebut, merupkan keputusan yang diharapkan dapat
diterima oleh masing-masing pihak. Putusan yang seakan-akan bersifat
kompromi ini tidaklah mampu berbuat banyak, akan tetapi justru
menyalakan api lama di tengah-tengah etnik Balkan yang rentan akan
konflik.

Keputusan tersebut menimbulkan berbagai isyu besar. Genosida dikenal


secara luas sebagai kejahatan internasional luar biasa dan seiring dengan
meningkatnya perkembangan dunia, setiap usaha terjadinya hal tersebut
sangatlah penting untuk dijadikan perhatian. Berbagai pengamat
berpendapat bahwa pemerintah Serbia pada saat ini tidak dapat dimintakan
pertanggungjawaban terhadap kejahatan yang dilakukan oleh pemerintah
sebelumnya. Terdapat juga pendapat yang mencoba untuk menggambarkan
perbedaan antara pemerintah dan negara. Bagaimanapun juga, sifat yang
luas biasa dan kejam dari genosida membawa perintah secara moril kepada
masyarakat internasional maupun nasional untuk membawa pelaku
kejahatan pada posisinya. Tetapi, kesulitan untuk menjalankan maksud
utama guna meniadakan kelompok yang dilindungi secara khusus berarti
bahwa keputusan seperti halnya dikeluarkan oleh ICJ masihlah jauh dari
harapan.

Menurut Alexander Solzhenistan, hal ini membuktikan bahwa pengadilan


mungkin bukanlah instrument terbaik untuk mencapai rekonsiliasi dalam
politik internasional. Jika pemerintahan berkuasa saat ini, Perdana Menteri
Vladimir Kostunica, cukup serius mengenai kurangnya keterlibatan dalam
pemberantasan sistematis terhadap golongan minoritas pada masa lalu,
maka jejak rekam mereka semasa konflik seharusnya merefleksikan usaha
adanya rehabilitasi dan reintegrasi.

Pengalaman dari Eropa Barat setelah Perang Dunia II merupakan suatu bukti
bahwa bangsa yang terbagi-bagi perlu dipertemukan kembali dalam
tingkatan personal. Apa yang diperlukan adalah naratif yang sama
sebagaimana dengan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi di Afrika Selatan
membawa cerita-cerita masa lalu dari mereka yang menderita. Bersama
dengan rencana untuk reintegrasi di mana termasuk dengan kompensasi
tempat tinggal dan moneter untuk para pelarian di pengasingan, hal
tersebut mungkin merupakan jalan terbaik untuk meyakinkan bukan hanya
terciptanya perdamaian, tetapi juga menghilangkan rasa trauma masa lalu.
1. Putusan Mahkamah Internasional: AS Langgar Hak Narapidana
Meksiko
Washington-Amerika Serikat (AS) mengaku akan mempelajari terlebih dahulu
keputusan Mahkamah Pengadilan Internasional, yang mengharuskannya
meninjau kembali vonis mati atas 51 narapidana asal Meksiko.

Kami akan mempelajarinya. Ini merupakan putusan yang sangat kompleks,


kata Juru Bicara Gedung Putih, Scott McClellan, di washington, Kamis (1/4)
waktu setempat.
Mahkamah Pengadilan Internasional dalam sidang Rabu (31/3) lalu
menyatakan bahwa Amerika Serikat (AS) telah melanggar hak 51 warga
Meksiko yang divonis hukuman mati. Selanjutnya pihak berwenang AS
diperintahkan agar kasus para terpidana mati tersebut ditinjau kembali.
Demikian putusan pengadilan yang dibentuk Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB) di Den Haag, Belanda, tersebut dalam menanggapi tuntutan yang
diajukan Meksiko bahwa hak para warga mereka, yang dipidana dalam kasus
pembunuhan, untuk mendapat bantuan hukum dari pemerintah tidak boleh
dihalangi pihak berwenang di AS. AS harus meninjau keputusan dan
hukuman yang diberikan, kata ketua dewan hakim, Shi Jiuyong.
Dia mengatakan bahwa peninjauan kembali tersebut dapat dilakukan
berdasarkan proses banding normal dalam sistem pengadilan di AS.
Namun McClellan mengatakan bahwa pihaknya tidak dapat langsung
melaksanakan keputusan tersebut karena para narapidana diadili di
beberapa pengadilan yang tersebar di beberapa negara bagian yang
memiliki otonomi hukum.

Permohonan Banding
Mahkamah memutuskan agar pihak berwenang di AS harus menerima
permohonan banding dari tiga narapidana asal Meksiko yang yang telah
divonis hukuman mati. Para pejabat Meksiko memuji putusan mahkamah
tersebut sebagai kemenangan hukum internasional. Mereka yakin bahwa AS
akan mematuhi putusan mahkamah tersebut.
Arturo Dajer, penasihat hukum Departemen Luar Negeri Meksiko,
mengatakan bahwa putusan tersebut merupakan perangkat hukum yang
penting yang menentukan masa depan narapidana asal Meksiko di AS.
Departemen Kehakiman AS sampai belum memberikan tanggapan. Namun
Duta Besar AS untuk Belanda, Clifford Sobel, mengatakan bahwa dia turut
gembira dengan beberapa bagian dari putusan tersebut.
Menurut Sobel pemerintahnya akan mempertimbangkan putusan tersebut
berdasarkan wewenang pemerintah federal kepada negara bagian yang
memroses kasus yang melibatkan warga Meksiko.
Putusan mahkamah tersebut bersifat mengikat, mutlak, dan tidak dapat
diajukan banding. Selama ini putusan dari mahkamah tersebut jarang
diabaikan. Bila salah satu pihak yang bersangkutan tidak mematuhi putusan
tersebut maka dapat diadukan ke PBB.
Putusan tersebut diambil berdasarkan Konvensi Wina 1963 yang menjamin
orang yang dituduh melakukan tindak kriminal serius di suatu negara asing
memiliki hak untuk menghubungi pemerintahnya untuk meminta bantuan
dan yang bersangkutan patut diberitahu hak hukumnya oleh pihak yang
menahan.
Pihak berwenang di AS dianggap lalai memberi tahu hak hukum tersebut
bagi 51 narapidana asal Meksiko. Namun, penasihat hukum AS, William Taft,
berargumen bahwa Meksiko tidak berhak mencampuri sistem pengadilan
negaranya berkaitan hak hukum 51 narapidana tersebut