Anda di halaman 1dari 13

SEJARAH HK.

PIDANA
INTERNASIONAL
Yudhistira Jatmiko
M.Febryan Sandra A.
Satria Tahta A.
M.Faris Ridho
Huda Nurur Rizki

11010110120188
11010110141175
1101014140611
11010114130386
11010114140564

Sejarah Perkembangan Hk. Pidana Internasional


TRIBES
Pada

= JUST CAUSE (16 M)= KAISAR


JUSTINIANUS

era Kerajaan Romawi dibawah Kaisar Justinianus,


dimana dengan kekuatan undang-undang, Justinianus telah
memberikan dukungan perdamaian ke seluruh Kerajaan
Romawi termasuk jajahanya. Peraturan tentang perang
diperjelas dan harus dilandaskan pada sebab yang layak dan
benar, diumumkan sesuai dengan aturan kebiasaan yang
berlaku dan dilaksanakan dengan cara cara yang benar.
Pengaturan pengaturan tersebut berasal dari pengajaran
hukum yang diberikan oleh ahli-ahli hukum seperti Cicero
dan St Augustine. Mereka yang melakukan tindakan

Era Francisco de Vittoria 14801546


Era

penjajahan disertai dengan penyebarluasan agama Kristen


dengan cara-cara kekerasan dan kekejaman telah berkecamuk
terutama yang telah dilakukan oleh Kerajaan Spanyol terhadap
penduduk pribumi Indian, pada masa itu munculah seorang
professor theologia, Francisco de Vittoria yang memperingatkan
kerajaan bahwa ancaman perang dan peperangan tidak dapat
dibenakan dengan alasan perbedaan agama, perluasan kerajaan
dan kemenangan yang bersifat pribadi sekalipun dengan alasan
untuk self defence, maka kerugian atau kekerasan sedapatdapatnya diperkecil, Pandangan dari Vittoria ini dapat dikatakan
sebagai tonggak sejarah bagi perkembangan hukum hukum pidana
internasional pada masa yang akan datang

Era Abad 16-18 ,pakar hukum Alberto


Gentili, Francisco Suares, Samuel
Pufendorf dan Emerich de vattel dan Era
Hugo
de Groot, 1625
Perkembangan pesat tentang masalah perang di dalam sejarah hukum
internasional terjadi pada abad 16-18 ketika penulis-penulis terkenal seperti,
Alberto Gentili, Francisco Suarez, Samuel dan Emerich de Vattel telah
membahas dan mencari dasar-dasar hukum suatu peperangan. Namun
seorang tokoh yang terkenal pada masa itu adalah seorang ahli hukum
Belanda, Hugo Grotius yang telah menulis dan menerbitkan sebuah treatise
the Law of War and Peace in The Tree Books pada tahun 1625

Mereka yang melakukan perang dengan niat tidak benar layak untuk dituntut

Mereka yang melakukan perang secara melawan hukum bertanggung jawab


atas akibat yang timbul

Jenderal atau prajurit yang dapat mencegah perang dapat dipertanggung


jawabkan atas perbuatannya.

Pasal 227 Verssailles Agreement tidak


dipatuhi
Perjanjian

Versailes yang mengakhiri Perang


Dunia I, ternyata dalam praktek hukum
Internasional tedak berhasil melaksanakan
ketentuan pasal 227 yang menetapkan
antara lain penuntutan dan penjatuhan
pidana atas pelaku kejahatan perang

Era 1920
Pada

masa ini telah tampak adanya upaya


pembentukan mahkamah pidana internasional
terutama setelah terbentuknya liga bangsabangsa, upaya ini berasal dari sejumlah ahli
hukum terkemuka antara lain Vespasien Pella,
Megalos Ciloyanni dan Rafael. Dukungan atas
upaya tersebut juga berdatangan dari
perkumpulan masyarakat international

1927 LBB = WAR OF AGRESSION


Liga

bangsa-bangsa telah membuka era baru dalam


sejarah hukum pidana internasional dengan menetapkan
bahwa perang agresi atau a war of aggression
merupakan internasional crime, bahkan pernyataan LBB
tersebut merupakan awal dari penyusunan kodifikasi
dalam bidang hukum pidana internasional. Namun
demikian pada saat itu pembentukan suatu Mahkamah
Internasional yang dapat menetapkan telah terjadinya
pelanggaran atas kodifikasi tersebut masih belum secara
serius diperbincangkan.

Era Pasca Perang Dunia II


Perang

Dunia II telah melahirkan berbagai tindak pidana baru yang


merupakan pelanggaran atas perjanjian-perjanjian yang telah
ditandatangani di antara Negara anggota liga bangsa-bangsa.
Pelanggaran pelanggaran tersebut adalah dalam bentuk
kekejaman yang tiada taranya serta pelanggaran atas hukum
perang yang tiada bandingnya oleh pihak tentara jerman dan
sekutunya, kejadian-kejadian itu telah memperkuat kehendak untk
mengajukan kembali gagasan pembentukan suatu Mahkamah
Pidana Internasional. Profesor Lauterpacht dan Hans Kelsen yang
menegaskan bahwa pembentukan mahkamah itu sangat penti
untuk mengadili penjahat perang dan sekaligus membawa akibat
penting terhadap perbaikan perbaikan di dalam hubungan
internasional.

Nuremberg Trial 1946


Pengadilan

Nuremberg yang dibentuk melalui London Charter yang


ditandatangani 8 Agustus 1945

Jerman

dibawah kepemimpinan Adolf Hitler memulai kancah perang dunia


kedua dengan menganeksasi Polandia pada September 1939, tepatnya
dikota Danzig litzkrieg, pada Tahun 1940, Hitle rmenaklukkan Denmark,
Norwegia, Belanda, Belgia dan Perancis. Tahun tersebut merupakan tahun
kemenagan NaziJerman. Dalam waktu yang bersamaan dengan perang
dunia kedua, bahkan jauh sebelumnya, Hitle rtelah melakukan genosida
terhadap bangsa Yahudi hamper diseluruh daratan Eropa.

Genosida

yang dilakukan oleh Nazi Jerman selanjutnya dikenal dengan


istilah holocaust. Secara harafiah holocaust berart ideskripsi genosida
yang dilakukan terhadap kelompok-kelompok minoritas diEropa dan Afrika
Utara selama perang dunia kedua oleh Nazi Jerman

TOKYO TRIBUNAL 1946


Pengadilan

Tokyo justru dibentuk melalui proklamasi Komandan Tertinggi Pasukan Sekutu di


Timur Jauh, Jenderal Douglas Mac Arthur. Dalam Pasal 1 proklamasi itu, Jendral Douglas Mac
Arthur menyatakan "Harus dibentuk suatu Pengadilan Militer Internasional untuk Timur Jauh
guna mengadili orang yang dituduh secara individual, atau sebagai anggota organisasi, atau
dalam kapasitas keduanya, atas pelanggaran yang menyangkut kejahatan terhadap
perdamaian."

Jadi

dasar pembentukan Pengadilan Tokyo adalah proklamasi Komandan Tertinggi Sekutu di


Timur Jauh pada tanggal 19 Januari 1946. Adapun Charter of the International Military Tribunal
for the far East yang merupakan piagam berisi aturan hukum yang berlaku dalam Pengadilan
Tokyo baru dikeluarkan pada 26 April 1946. Disinilah letak perbedaan antara Pengadilan
Nuremberg dengan Pengadilan Tokyo dari segi pembentukannya.

Tokyo

Trial (Proses Persidangan Pengadilan Tokyo) berlangsung sejak 3 Mei 1946 sampai dengan
12 November 1948. Selama persidangan berlangsung, lebih dari 5700 terdakwa, diadili oleh
Pengadilan Tokyo. Namun yang paling penting diantara proses tersebut ialah persidangan tahap
pertama yang mengadili 28 tokoh utama terdakwa kejahatan perang Jepang.

The Nuremberg Principles


Dari

Nuremberg Trial sebelumnya, lahirlah Nuremberg Priciples


yang menjadi acuan peraturan-peraturan Hukum Pidana
Internasional

Definisi

dari perbuatan yang digolongkan kedalam kejahatan


perang diatur dalam Prinsip Nrnberg (Nuremberg Principles), yaitu
suatu dokumen yang dibuat sebagai hasil dari persidangan.
Eksperimen medis yang dilakukan oleh para dokter Jerman
tersebut yang dituntut hukuman disebut Peradilan Dokter (Doctors'
Trial) yang dilakukan berdasarkan Nuremberg Code sebagai acuan
untuk mengatur persidangan dikemudian hari yang melibatkan
umat manusia

CONVENTION AGAINST GENOCIDE


1948
Convention on the Prevention and Punishment of the Crime of
Genocide (1948) adalah salah satu konvensi hak asasi manusia
internasional yang tertua, yang lahir bahkan sebelum Deklarasi
Umum Hak Asasi Manusia (DUHAM). Salah satu agenda transisional
adalah pengakuan dan penghormatan hak asasi manusia dalam
sistem hukum nasional. Ratifikasi konvensi genosida dipercaya
sebagai langkah yang sangat penting bagi perlindungan dan
pemajuan hak asasi manusia.

Statuta Roma
Tanggal

17 Juli 1998, dalam konfrensi Diplomatik Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) telah


menghasilkan satu langkah penting dalam penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) yaitu
disetujuinya Statuta Roma. Statuta Roma, sebuah perjanjian untuk membentuk
Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court) untuk mengadili tindak
kejahatan kemanusiaan dan memutus rantai kekebalan hukum (impunity). Dari 148
negara peserta konferensi; 120 mendukung, 7 menentang dan 21 Abstain.
Ada empat jenis tindak pelanggaran serius yang menjadi perhatian internasional, yaitu:
Genocide (genosida), Crime Againts Humanity (kejahatan terhadap kemanusiaan), War
crimes (Kejahatan Perang),Aggression (kejahatan Agresi)
Dalam

statuta ini juga menjelaskan beberapa hal tentang struktur mahkamah, jenis
pelanggaran, penyelidikan dan penuntutan, persidangan dan hukuman serta beberapa hal
penting lainnya. Beberapa mahkamah yang telah dibentuk untuk berbagai kasus
pelanggaran berat HAM : International Criminal Tribunal for Yugoslavia (ICTY), dibentuk
pada tahun 1993, International Criminal Tribunal for Rwanda (ICTR), dibentuk oleh Dewan
Keamanan 1994.