Anda di halaman 1dari 5

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Seperti yang telah tertulis di dalam Undang Undang nomor 6 tahun 2011
tentang Keimigrasian pasal 1 (1) bahwa keimigrasian adalah hal ihwal lalu lintas
orang yang masuk atau keluar Wilayah Indonesia serta pengawasannya dalam
rangka menjaga tegaknya kedaulatan negara. Dalam fungsi mengawasi untuk
menjaga tegaknya kedaulatan negara, nampaknya hal ini tidak jauh dari proses
penyimpangan terkait hukum keimigrasian.
Latar belakang penulisan makalah ini adalah menganalisa lebih rinci kasus
/ topik terkini terkait penyimpangan yang ada di dalam ranah hukum keimigrasian
di Indonesia dengan tujuan sebagai pelengkap tugas Ujian Akhir Semester mata
kuliah Hukum Kewarganegaraan & Imigrasi.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang membuat pemerintah mendeportasi kedua WN tersebut?
2. Bagaimana kinerja Tim Pengawasan Orang Asing (Tim PORA)
terkait hal ini?
C. Tujuan Penelitian
1. Memahami langkah pemerintah mendeportasi WNA tersebut.
2. Memahami kinerja bidang Pengawasan Orang Asing terkait kasus
ini.

PEMBAHASAN
A. Penyelesaian Masalah
Dari keterangan yang diperoleh, ada dua WNA berbeda kewarganegaraan
yang menjadi tersangka dalam kasus ini. WN Malaysia berusia 19 tahun dengan
inisial AH dan WN China berusia 35 tahun dengan inisial WG. AH diketahui telah
tinggal di Indonesia, tepatnya di Lamongan sejak empat bulan dari berita tersebut
diturunkan. AH melakukan penyimpangan karena izin tinggal nya telah berakhir
dan masih berada di Indonesia lebih dari 60 hari. Pemerintah mengeluarkan sanksi
berdasar pasal 78 Undang-Undang nomor 6 tahun 2011 terkait izin tinggal warga
negara asing yang telah berakhir tetapi masih berada di Indonesia dalam kurun
waktu 60 hari maka dikenai tindakan administratif keimigrasian berupa deportasi
& penangkalan ke Indonesia selama enam bulan kedepan. AH dideportasi pada
hari Jum'at 3 Juni 2016.
Sementara itu, WN China alias WG (35 tahun) dideportasi karena
memberikan data yang tidak benar dalam pengurusan visa. Dalam visa yang
diurusnya, WG mengaku mendapat sponsor dari sebuah perusahaan di Jakarta
untuk bekerja di sana. Padahal ia menuju ke Surabaya menggunakan visa travel,
mengunjungi seseorang yang diakunya merupakan ibu angkatnya. WG diamankan
di kawasan Surabaya Utara. WG sendiri sudah berada di Surabaya selama dua
bulan. Untuk kasus WG, pemerintah mengeluarkan sanksi berdasar pasal 123
Undang-Undang nomor 6 tahun 2011 terkait kesengajaan memberikan surat atau
data palsu atau yang dipalsukan atau keterangan tidak benar dengan maksud untuk
memperoleh Visa atau Izin Tinggal bagi dirinya sendiri atau orang lain. WG
dideportasi pada hari Selasa 7 Juni 2016. Selain dideportasi, WG juga dikenakan
penangkalan masuk ke wilayah Indonesia. Kedua WNA ini selanjutnya
dideportasi oleh Kantor Imigrasi Kelas I Tanjung Perak melalui Bandara
Internasional Juanda, Surabaya.
Meskipun baru terbentuk, Tim PORA (Pengawasan Orang Asing) yang
dibentuk oleh Kemenkumham sangatlah cermat. Dalam kasus tersebut, peran Tim

PORA sudah dirasa signifikan oleh masyarakat. Hal ini sesuai dengan amanat
pasal 69 Undang-Undang nomor 6 tahun 2011. Unsur-unsur yang mendasari
dibentuknya Tim PORA terdiri dari:

Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Ditjen Imigrasi,

Kanwil Kemenkumham, Kantor Imigrasi)


Pemerintahan Daerah (Kesbangpolinmas, Disnakertrans,

Dishubkominfo, Disdukcapil masing-masing daerah)


Penegak Hukum (Polri dan Kejaksaan Agung)
Pengamanan Negara (TNI dan BIN)
Intansi Vertikal Lainnya (Kemenlu, Kemenag, Kemendagri)

Dinsos,

Tujuan pembentukan Tim Pengawasan Orang Asing ini tidak lain adalah
agar pengawasan orang asing dilakukan secara terorganisir. Tim Pengawasan
Orang Asing dapat dibentuk di pusat dan daerah (provinsi, kabupaten/kota, atau
kecamatan) yang beranggotakan perwakilan dari instansi dan/atau lembaga
pemerintahan baik di pusat maupun daerah.
Tim Pengawasan Orang Asing tingkat pusat dibentuk dengan Keputusan
Menteri yang diketuai oleh Menteri atau Pejabat Imigrasi yang ditunjuk. Tim
Pengawasan Orang Asing tingkat provinsi dibentuk dengan Keputusan Kepala
Kantor Wilayah Kemenkumham yang diketuai oleh Kepala Divisi Keimigrasian
Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Tim Pengawasan
Orang Asing tingkat kabupaten/kota dan kecamatan dibentuk dengan Keputusan
Kepala Kantor Imigrasi yang diketuai oleh Kepala Kantor Imigrasi. Tim
Pengawasan Orang Asing bertugas memberikan saran dan pertimbangan kepada
instansi dan/atau lembaga pemerintahan terkait, mengenai hal yang berkaitan
dengan pengawasan orang asing Tim Pengawasan Orang Asing juga dapat
melakukan operasigabungan jika diperlukan, baik itu bersifat khusus maupun
insidental1.

1 Pasal 200 Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2013 tentang Peraturan Pelaksanaan UndangUndang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian.

Pengawasan

orang

asing

sendiri

merupakan

bagian

dari

Pengawasan

Keimigrasian. Sebagaimana ketentuan Pasal 66 ayat (2) huruf b Undang-Undang


Nomor 6 Tahun 2011, bahwa Pengawasan Keimigrasian meliputi pengawasan
terhadap lalu lintas Orang Asing yang masuk atau keluar Wilayah Indonesia serta
pengawasan terhadap keberadaan dan kegiatan Orang Asing di Wilayah
Indonesia.
Pengawasan keimigrasian terhadap orang asing dilakukan pada saat2:
1. Permohonan Visa
2. Masuk / keluar wilayah Indonesia
3. Pemberian izin tinggal, dan
4. Berada dan melakukan kegiatan di wilayah Indonesia
Pelaksanaan Pengawasan Keimigrasian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 172
dilakukan oleh3:
1. Direktur Jenderal, untuk melaksanakan pengawasan keimigrasian dipusat
2. Kepala Kantor Wilayah Kemenkumham, untuk melaksanakan pengawasan
keimigrasian di provinsi
3. Kepala Kantor Imigrasi, untuk melaksanakan pengawasan keimigrasian di
tingkat kota/ kabupaten atau kecamatan
4. Pejabat Imigrasi yang ditunjuk atau Pejabat Dinas Luar Negeri, untuk
melaksanakan pengawasan keimigrasian di luar wilayah Indonesia

2 Pasal 172 ayat (4) Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2013 tentang
PeraturanPelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian.
3 Pasal 172 ayat (4) Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2013 tentang Peraturan
Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian.

PENUTUP
Demikian yang dapat saya paparkan mengenai makalah ini, tentunya
banyak kekurangan dan kelemahan kerena terbatasnya pengetahuan, kurangnya
rujukan atau referensi yang saya peroleh hubungannya dengan makalah ini. Saya
banyak berharap kepada para pembaca yang budiman memberikan kritik saran
yang membangun kepada saya demi sempurnanya makalah ini. Semoga makalah
ini dapat bermanfaat.