Anda di halaman 1dari 6

Laporan Tanggal : Jumat, 27 Mei 2016

MK. Ekonomi Pangan dan Gizi Tempat : RK. X 302

ANALISIS DAN DAMPAK PAKET KEBIJAKAN JOKOWI


MEMPERLONGGAR INVESTASI DAN MENINGKATKAN
PERLINDUNGAN BAGI UMKM

Oleh:

Celline Pangesti I14144006

Asisten Praktikum :
Dena Aulia
Nur Hidayati

Koordinator Mata Kuliah :


Dr. Ir. Drajat Martianto, M.Si

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT


FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016
Pertumbuhan UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) di Indonesia
membawa dampak yang baik bagi perkembangan ekonomi dan juga berpengaruh
terhadap jumlah pendapatan negara sehingga UMKM meningkatkan kesejahteraan
masyarakat dan mengurangi angka pengangguran. UMKM diharapkan mampu
bersaing dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (BPOM 2015).
Kerjasama dalam usaha atas dasar memperkuat dan menguntungkan yang
melibatkan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan Usaha
Besar telah tertuang dalam pasal 25 Undang Undang Nomor 20 tahun 2008
tentang UMKM. Dalam pengembangan kerjasama ini maka pemerintah perlu
memfasilitasi, mendukung usaha UMKM baik dibidang produksi, pengolahan,
pemasaran, permodalan, sumber daya manusia maupun pengembangan teknologi.
Untuk mendukung percepatan target pertumbuhan ekonomi nasional peran
investasi sangatlah penting, maka pemerintah mengeluarkan kebijakan dalam
Paket Kebijakan Ekonomi Jilid 10.
Paket Kebijakan Ekonomi Jilid 10 berisi revisi terhadap daftar negatif
investasi (DNI). Sebelumnya, DNI telah diatur dalam Peraturan Presiden
(Perpres) No 34 Tahun 2014. Paket kebijakan ini dibagi ke berbagai sektor yang
porsi kepemilikan asingnya akan menjadi 100% (Prasetyantoko 2016). Berikut
daftar 29 jenis industri yang dibuka 100 persen untuk asing.

Penanaman Modal Asing (PMA) dibuka 100 persen untuk sektor


komunikasi dan informatika
1. Warung telekomunikasi. Semula Usaha Mikro Kecil Menengah dan
Koperasi, dikeluarkan dari DNI.
2. Pembentukan lembaga pengujian perangkat telekomunikasi (tes
laboratorium). Semula 95 persen, dikeluarkan dari DNI.
3. Penyelenggara transaksi perdagangan melalui elektronik
(platform),market place, price grabber, dialy deals, iklan baris online.
Semula Penanaman Modal Dalam Negeri, modal diatas Rp 100 miliar
sampai dengan Rp 100 miliar, PMA 49 persen (sebelumnya di sektor
perdagangan).
PMA dibuka 100 persen untuk sektor kesehatan
1. Industri bahan baku obat. Semula 85 persen, dikeluarkan dari DNI.
2. Jasa konsultasi bisnis dan manajemen dan atau jasa manajemen rumah
sakit. Semula 67 persen, dikeluarkan dari DNI.
3. Jasa pelayanan penunjang kesehatan (penyewaan peralatan medik).
Semula 49 persen, dikeluarkan dari DNI.
4. Jasa pelayanan penunjang kesehatan laboratorium klinik. Semula 67
persen, dikeluarkan dari DNI.
5. Jasa pelayanan penunjang kesehatan, klinik medical check up semula
67 persen, dikeluarkan dari DNI.
PMA dibuka 100 persen untuk sektor perindustrian

1. Industri crumb rubber. Semula 49 persen, dikeluarkan dari DNI.

PMA dibuka 100 persen untuk sektor pekerjaan umum


1. Pengusahaan jalan tol. Semula 95 persen, dikeluarkan dari DNI.
2. Pengelolaan dan pembuangan sampah yang tidak berbahaya. Semula 95
persen, dikeluarkan dari DNI.

PMA dibuka 100 persen untuk sektor perdagangan


1. Direct selling. Semula 95 persen, dikeluarkan dari DNI.
2. Cold Storage. Semula 33 persen, dikeluarkan dari DNI.
3. Pialang berjangka. Semula 95 persen, dikeluarkan dari DNI.

PMA 100 persen sektor pariwisata dan ekonomi kreatif


1. Restoran. Semula 51 persen, dikeluarkan dari DNI.
2. Bar. Semula 49 persen, dikeluarkan dari DNI.
3. Cafe. Semula 49 persen, dikeluarkan dari DNI.
4. Gelanggang olahraga (renang, sepakbola, tenis, kebugaran, sport
center, kegiatan olahraga lain). Semula 49 persen, dikeluarkan dari
DNI.
5. Studio pengambilan gambar film. Semula 49 persen, dikeluarkan dari
DNI.
6. Laboratorium pengolahan film. Semula 49 persen, dikeluarkan dari
DNI.
7. Sarana pengisian suara film. Semula 49 persen, dikeluarkan dari DNI.
8. Sarana percetakan dan atau penggandaan film. Semula 49 persen,
dikeluarkan dari DNI.
9. Sarana pengambilan gambar film. Semula PMDN, dikeluarkan dari
DNI.
10. Sarana penyuntingan film. Semula PMDN, dikeluarkan dari DNI.
11. Sarana pemberian teks film. Semula PMDN, dikeluarkan dari DNI.
12. Pembuatan film. Semula PMDN, dikeluarkan dari DNI.
13. Pertunjukan film. Semula PMDN, semula PMDN, dikeluarkan dari
DNI.
14. Studio rekaman. Semula PMDN, dikeluarkan dari DNI.
15. Pengedaran film. Semula PMDN, dikeluarkan dari DNI.

Tujuan dari Paket Kebijakan Ekonomi Jilid 10 ini adalah untuk


melindungi UMKMK dari revisi DNI, memotong mata rantai ekonomi yang
hanya berpusat pada kelompok tertentu sehingga diharapkan harga-harga dapat
menjadi lebih murah seperti obat dan alat kesehatan. Lalu, memperluas lapangan
pekerjaan serta memperkuat usaha kecil untuk berkompetisi.
Meningkatnya investor asing dalam industri dalam negeri terlihat pada
tahun 2015 komposisi penanaman modal asing lebih besar dibandingkan dengan
penanaman modal dalam negeri. Ada tiga negara yang menanam modal dalam
jumlah besar pada tahun 2016 (BKPM 2105). Selama tahun 2014, jumlah
penanam modal asing (PMA) mencapai Rp 27 triliun. Nilai ini lebih besar
daripada penanaman modal dalam negeri (PMDN) yaitu sebesar Rp 15 triliun
(GAPMMI 2014).
Industri makanan dan minuman menjadi primadona bagi investor asing.
Berdasarkan data BKPM tahun 2015, realisasi investasi industri makanan
mencapai Rp 43,5 triliun yang terdiri dari 2.185 proyek. Sedangkan tahun 2016,
BKPM menargetkan capaian ini dapat tumbuh 14,4% dari tahun 2015 atau
mencapai Rp 594,8 triliun. Realisasi ini dikontribusi dari PMA sebesar Rp 386,4
triliun atau naik 12,6% dari target PMA tahun lalu dan PMDN sebesar Rp 208,4
triliun naik 18,4% dari target PMDN tahun lalu.
Dari sisi penyerapan tenaga kerja, dengan meningkatnya investasi dan
perusahaan baru di bidang pangan maka BKPM menargetkan penyerapan 2 juta
tenaga kerja. Hal ini mendorong ekspansi 15 pabrik gula yang sudah ada dengan
memperluas lahan kebun tebu seluas 200 hektare dan menambah 19 pabrik gula
dengan total investasi Rp 95 triliun.
Hal ini akan berdampak positif terhadap produksi atau penyediaan pangan
dan terwujudnya ketahanan pangan. Ketahanan pangan terwujud apabila sudah
memenuhi dua aspek sekaligus. Pertama adalah tersedianya pangan yang cukup
dan merata bagi seluruh penduduk. Kedua, setiap penduduk mempunyai akses
fisik dan ekonomi terhadap pangan untuk memenuhi kecukupan gizi guna
menjalani kehidupan yang sehat dan produktif. Menurunnya tingkat
pengangguran dan meningkatnya pendapatan akan meningkatkan kemampuan
daya beli masyarakat terhadap pangan sehingga kebutuhan pangan dapat
terpenuhi. Produksi yang meningkat juga akan meningkatkan ketersediaan pangan
nasional juga di daerah dan khususnya di rumah tangga.

Daftar Pustaka

Prasentyantoko A. 2016. Paket kebijakan ekonomi jilid 10 dan tantangan global.


[Internet]. [diakses 2016 Mei 27]. Tersedia pada:
http://www.mediaindonesia.com/news/read/28756/paket-kebijakan-
ekonomi-jilid-10-dan-tantangan-global/2016-02-15
http://www2.bkpm.go.id
http://www.gapmmi.or.id/
http://www.bappenas.go.id
http://www.pom.go.id