Anda di halaman 1dari 17

Tugas Final

KIMIA PADATAN

MATERIAL NANO

OLEH :

NAMA : DIAN RATNA SARI


STAMBUK : A1C414011
KELAS : GANJIL

JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Semakin maju peradaban manusia maka permasalahan yang dihadapi

menjadi sangat kompleks dan menantang. Tak jarang solusi yang harus

dimunculkan memerlukan perhatian sampai pada ukuran yang sangat kecil yang

sebelumnya belum pernah terpikirkan oleh manusia. Sesuai dengan namanya,

nanoteknologi atau nanosains adalah ilmu pengetahuan dan teknologi pada skala

nanometer, atau sepermilyar meter. Nano teknologi merupakan suatu teknologi

yang dihasilkan dari pemanfaatan sifat-sifat molekul atau struktur atom apabila

berukuran nanometer. Jadi apabila molekul atau struktur dapat dibuat dalam

ukuran nanometer maka akan dihasilakan sifat-sifat baru yang luar biasa. Sifat-

sifat baru inilah yang dimanfaatkan untuk keperluan teknologi, sehingga teknologi

ini disebut nano teknologi.

Nanomaterial adalah bidang ilmu material dengan pendekatan berbasis

Nanoteknologi. Material berukuran nano atau yang dikenal dengan istilah

nanomaterial merupakan topik yang sedang ramai diteliti dan dikembangkan di

dunia sains dan teknologi. Material berukuran nano sendiri bukan merupakan hal

baru di dunia penelitian karena material nano atau nanomaterial memang sudah

lama diteliti dan dikembangkan terkait banyak kelebihan dan keutungannya.

Material berskala nano merupakan material yang sangat atraktif kerena

memiliki sifat-sifat yang sangat berbeda dibandingkan dengan yang diperlihatkan

pada skala makroskopisnya. Terdapat berbagai fenomena quantum atraktif yang


timbul sebagai akibat pengecilan ukuran material hingga ke dimensi nano. Logam

platina meruah yang dikenal sebagai material inert dapat berubah menjadi

material katalitik jika ukurannya diperkecil mencapai skala nano. Material stabil,

seperti aluminium, menjadi mudah terbakar, bahan-bahan isolator berubah

menjadi konduktor (Karna, 2010). Sehingga dengan nanomaterial maka setiap

bahan atau material akan memungkinkan pengurangan berat disertai dengan

peningkatan stabilitas dan meningkatkan fungsionalitas.

Misalkan manusia ingin mendapatkan air murni dari air laut dengan cara

memisahkan kandungan garamnya. Metode lama yang bisa dipakai adalah dengan

menguapkan air laut sehingga garam akan tertinggal kemudian uap bisa

diembunkan kembali dan didapatkan air suling. Namun metode ini sangat

menguras energi yang sudah tidak layak lagi diterapkan dimasa depan karena

biaya energi yang menjadi semakin mahal. Salah satu solusi yang dimunculkan

adalah bagaimana kita bisa menyaring ionion garam dalam air laut sehingga kita

dapatkan air murni tanpa perlu menaikkan suhu. Maka orang mulai merekayasa

saringan molekuler untuk memisahkan air dari ion ionnya. Saringan molekuler

membutuhkan perhatian sampai dengan skala nanometer yang 1nm = 1x10-9 m.

Pada perkuliahan Kimia Padatan kali ini akan dibahas mengenai material

nano, pembuatan dan aplikasinya.


B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang diajukan dalam makalah ini:

1. Apa itu material nano?

2. Bagaimana pembuatan material nano?

3. Apa saja pengaplikasian dari material nano?

C. Tujuan

Tujuan dalam pembuatan makalah ini:

1. Untuk mengetahui pengertian material nano

2. Untuk mengetahui cara pembuatan material nano

3. Untuk mengetahui apa saja pengaplikasian dari material nano.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Material Nanometer

Konsep Nanoteknologi secara tidak langsung diperkenalkan oleh Richard

P. Feynman dalam ceramahnya di The American Society pada Desember 1959

dengan judul Theres Plenty of Room at the Bottom: An Invitation to Enter a

New Field of Physics, Artinya adalah ada banyak kesempatan dan ruang jika

dapat memproduksi suatu struktur yang sangat kecil. Feynman menghitung bahwa

isi keseluruhan dari Encyclopedia Britannica dapat dikurangi menjadi hanya

dengan ukuran normal 35 halaman saja. Ia juga menekankan pentingnya

mengkombinasikan pengetahuan, peralatan, dan metodologi yang digunakan oleh

ahli ilmu fisika, ahli kimia, dan ahli ilmu biologi. Ia menunjuk dunia sebagai suatu

contoh dari berapa banyak informasi dan dapat dimasukkan dalam suatu volume

yang kecil sebagai fungsi, jika telah diciptakan suatu bentuk dimensi dengan

ukuran yang lebih kecil.

Sehingga kelak akan banyak ditemukan peralatan robotika yang mampu

menembus dimensi yang sangat kecil sehingga dapat diaplikasikan dalam dimensi

yang lebih kecil. (Richard P. Feynman, 1960). Dari konsep yang dikemukakan

oleh Richard P. Feynman belum menyentuh kata Nanoteknologi, namun

hakekatnya mengarah pada nanoteknologi. Kemudian dalam perkembangan

selanjutnya konsep tersebut dikembangkan menjadi konsep nanoteknologi.

Karena semua benda kecil atau besar bahkan makhluk hidup tersusun dari

atom atom berukuran nano. Karakteristik benda sangat bergantung pada susunan
atomnya. Perbedaan struktur/ susunan atom dapat mengubah sifat molekul yang

dihasilkannya. Jika atom-atom yang sama disusun ulang membentuk stuktur yang

berbeda, molekul atau materi akan membentuk sifat yang berbeda pula.

Atom-atom yang terdapat dalam grafit sama persis dengan atom-atom

sejenis yang terdapat dalam berlian (diamond) yang indah. Yang berbeda adalah

susunan strukturnya saja. Atom-atom dalam partikel pasir sangat mirip dengan

atom-atom dalam chip komputer yang canggih. Bahkan atom-atom penyusun air,

udara, dan partikel debu sebenarnya sama dengan atom-atom dalam sebuah

kentang. Sedikit saja susunan struktur atomnya diubah, karakteristik suatu benda

bisa berubah drastis. Inilah konsep utama dalam nanomaterial.

B. Definisi Nano Material

Karena memiliki ukuran partikel yang sangat kecil dalam skala nanometer

maka para ahli bersepakat bahwa yang disebut material nano adalah material

dengan ukuran dimensi 1 nm sampai dengan ukuran 100 nm. Material tersebut

memiliki keunggulan dibandingkan dengan material yang berukuran lebih besar.

Material ukuran nano penting untuk dipelajari karena material ukuran nano

memiliki sifat yang khas yang ditimbulkan oleh luasnya fraksi interfasa atau

permukaan yang besar ( Jeremi. J.Ramsden, 2009).

Berdasarkan standart pengukuran internasional, maka 1 nm sama dengan

(1/1.000.000.000 ) meter atau (0,000000001 m), hal ini hampir sama dengan

sekitar 1/ 50.000 garis tengah rambut manusia. Material dengan skala 1 nm

sampai dengan 100 nm memiliki ukuran yang lebih kecil dari material biologi

seperti sel manusia berukuran 5.000 nm sampai 200.000 nm. Material biologi
yang masuk dalam ukuran nano seperti virus berukuran 10 sampai 200 nm

(Jeremi. J.Ramsden, 2009). Dalam bidang fisika atom skala nano dapat mencakup

atom seperti atom germanium berukuran 1 nm, sedangkan atom yang lebih kecil

seperti atam hydrogen berukuran 0,1 nm.

Nanomaterial merupakan material yang mempunyai ukuran dalam skala

nanometer yaitu berkisar antara 1-100 nm. Banyak orang tertarik dengan

nanomaterial, karena dengan ukuran nano, sifat material lebih menguntungkan

dari pada ukuran besar. Rekayasa material nanopartikel pada dasarnya adalah

rekayasa pengendalian ukuran, bentuk, dan morfologi, serta penataan material

pada ukuran nanometer, yang akan menentukan karakteristik nanopartikel hasil

sintesis. Secara geometris, nanomaterial dapat dimasukkan dalam material

berdimensi rendah (dibawah 3). Karena ukuran yang sangat kecil maka secara

umum karakteristik dari material nano adalah: kecil, ringan, properti unggul, dan

cerdas.

Nanomaterials menjadi penting karena menawarkan kemampuan untuk

memanipulasi, mengontrol dan mensintesa material pada level atom dan molekul.

Serta mampu menyediakan afinitas, kapasitas dan selektifitas tingkat tinggi dari

suatu material dikarenakan sifat kimia, fisika dan bilogi yang unik. Karakteristik

material dapat menjadi berbeda setelah menjadi nanomaterial. Nanomaterial

memiliki surface area yang besar daripada material awalnya. Hal ini dapat

meningkatkan reaktifitas kimia dan meningkatkan kekuatan sifat elektronik. Efek

kuantum yang mendominasi bahan nanoscale terutama pada pengaruh optikal dan

sifat magnetik material. Terdapat berbagai fenomena quantum atraktif yang


timbul sebagai akibat pengecilan ukuran material hingga ke dimensi nano. Logam

platina meruah yang dikenal sebagai material inert dapat berubah menjadi

material katalitik jika ukurannya diperkecil mencapai skala nano. Material stabil,

seperti aluminium, menjadi mudah terbakar, bahan-bahan isolator berubah

menjadi konduktor.

C. Proses Pembentukan Material Nano

Pembuatan nanomaterial dapat dilakukan dengan menggunakan dua

pendekatan, yaitu pendekatan top-down dan bottom-up.

1) Top down

Dalam pendekatan top-down, pertama bulk material dihancurkan dan

dihaluskan sedemikian rupa sampai berukuran nano meter. Pendekatan top-down

dapat dilakukan dengan teknik MA-PM (mechanical alloying-powder metallurgy)

dan atau MM-PM (mechanical milling-powder metallurgy). Dalam mekanisme

mechanical alloying, material dihancurkan hingga menjadi bubuk dan dilanjutkan

dengan penghalusan butiran partikelnya sampai berukuran puluhan nanometer.

Kemudian, bubuk yang telah halus disinter hingga didapatkan material final.

Contohnya nano baja diperoleh dari penghalusan bubuk besi dan karbon hingga

berukuran 30 nm, dan disinter pada suhu 723C pada tekanan 41 Mpa dalam

suasana gas nitrogen.


Teknik MM-PM (mechanical alloying-powder metallurgy) ini dapat

dilakukan dengan :

a) Ball milling

Teknologi ball milling yaitu menggunakan energi tumbukan antara bola-

bola penghancur dan dinding wadahnya. Untuk mendapatkan partikel nano dalam

jumlah banyak dan dalam waktu relatif pendek, dilakukan inovasi pada mesin ball

mill, dengan merubah putaran mill menjadi berlintasan planet (planetary) di dalam

wadahnya yang memiliki tuas pada kedua sisi, untuk mengatur sudut putaran yang

optimal. Dan distabilisasi dengan meng-gunakan larutan kimia seperti polyvinyl

alcohol (PVA) atau polyethilene glycol (PEG) sehingga membentuk nanokoloid

yang stabil (Fahlefi, 2010)

b) Ultrasonic milling atau sonikasi

Prosesnya dengan cara menggunakan gelombang ultrasonik dengan

rentang frekuensi 20kHz10MHz. Gelombang ultrasonik ditembakkan ke dalam

mediium cair untuk menghasilkan kavitasi bubble yang dapat membuat partikel

memiliki diameter dalam skala nano. Gelombang ultrasonik bila berada di dalam

medium cair akan dapat menimbulkan acoustic cavitation. Selama proses

cavitation akan terjadi bubble collapse (ketidakstabilan gelembung), yaitu

pecahnya gelombang akibat suara. Akibatnya akan terjadi peristiwa hotspot yang

melibatkan energi yang sangat tinggi. Dimana hotspot adalah pemanasan lokal

yang sangatintens sekitar 5000 K pada tekanan sekitar 1000 atm, laju pemanasan

dan pendinginannya sekitar 1010 K/s


2) Bottom up

Dalam pendekatan bottom-up, material dibuat dengan menyusun dan

mengontrol atom demi atom atau molekul demi molekul sehingga menjadi suatu

bahan yang memenuhi suatu fungsi tertentu yang diinginkan. Sintesa nanomaterial

dilakukan dengan mereaksikan berbagai larutan kimia dengan langkah-langkah

tertentu yang spesifik sehingga terjadi suatu proses nukleasi yang meng-hasilkan

nukleus-nukleus sebagai kandidat nonpatikel setelah melalui proses pertumbuhan.

Laju pertumbuhan nukleus dikendalikan sehingga menghasilkan nanopartikel

dengan distribusi uku-ran yang relatif homogen.

a) Proses nano Milling

Proses nano milling adalah proses pembuatan partikel ukuran nano dari

bahan berbentuk serbuk ukuran mikron. Proses penghalusan ukuran partikel

secara teori dapat dibuat dengan proses fisik hal ini sesuai dengan prinsip bahwa

material apabila bertumbukan dengan material lain yang lebih keras akan pecah.

Pada proses nano milling semakin kecil ukuran partikel akan semakin susah untuk

digiling terutama untuk ukuran nano hal ini karena adanya gaya Van Der Walls

antar partikel yang berakibat munculnya aglomerasi.

Sebagai contoh hasil percobaan pembuatan nano partikel zeolit mampu

menghasilkan partikel ukuran 300 nm selama proses penggilingan dalam

planetary ball mill selama 60 jam, kemudian dengan penambahan Grinding Agent

ammonium cerium Nitrat dan dalam pelarut ethanol mampu menghasilkan

partikel ukuran 42 nm. Namun demikian partikel ukuran 42 nm tersebut perlu

diuraikan dengan menggunakan gelombang ultrasonik dengan intensitas 750 watt


selama 30 menit. Demikian pula dengan percobaan pembuatan parikel nano

LiMnO4 dengan proses penghalusan dengan planetary ball mill selama 80 jam

hanya diperoleh partikel nano LiMnO4 dalam ukuran 178nm. Pada proses

pembuatan nano material dengan bantuan peralatan gerus ( milling ) kendala yang

dihadapi adalah skala proses, dimana jika diaplikasikan untuk skala besar

memerlukan energi yang jauh lebih besar.

b) Proses Busur Logam

Proses pembuatan nano material yang paling awal dilakukan orang adalah

proses dispersi partikel dalam media cair dengan cara mengalirkan arus listrik

dalam logam mulia. Pada proses ini partikel dibuat dari dua batang logam yang

dicelupkan dalam media cair kemudian dialiri listrik searah sehingga terjadi

percikan arus listrik yang mampu melepaskan partikel dari permukaan logam ke

dalam media cair. Pada umumnya logam yang digunakan adalah logam mulia

seperti emas ( Au ) , perak ( Ag ) dan Platina ( Pt ) yang tidak mudah terkorosi.

Proses ini dikenal dengan sebutan Bredig Arc Method , yang menghasilkan

butiran logam mulia dengan ukuran nanometer. Butiran tersebut karena ukuran

sangat kecil mampu membiaskan cahaya sehingga larutan menjadi berwarna

tertentu jika terkena sinar.

Metode ini sebenarnya menghasilkan partikel ukuran nano, namun karena

masa itu belum ada peralatan yang dapat mendeteksi ukuran partikel nano maka

belum muncul istilah teknologi nano. Adapun ilustrasi pembuatan partikel nano

dengan busur logam dapat dilihat pada gambar dibawah :


Gambar 1. Ilustrasi pembuatan partikel nano dengan bususr logam

c) Proses koagulasi

Proses koagulasi adalah cara yang paling banyak dilakukan dalam

pembuatan partikel ukuran nano, hal ini karena proses koagulasi adalah proses

yang paling sederhana karena mengikuti mekanisme pertumbuhan kristal secara

alami. Kemudian pertumbuhan kristal secara alami tersebut dihentikan secara

mendadak atau dimodifikasi dengan larutan tertentu. Salah satu contoh proses

pembuatan senyawa ukuran nano dengan proses pengendapan adalah pembuatan

nano material - Al2O3 dari mineral kaolin dengan proses pengaturan pH larutan

dan penambahan surfaktan tertentu. Dari hasil penelitian tersebut pada proses

pengendapan dengan pengaturan pH diperoleh butiran - Al2O3 dengan ukuran

partikel 510 nm lebarnya dan tingginya 1520 nm.

Gambar 2. Mekanisme proses koagulasi pembentukkan material nano Al2O3


dari mineral kaolin
D. Aplikasi Material Nano

a) Lingkungan hidup

Nanofiltration terutama digunakan untuk menghilangkan ion atau

pemisahan fluida yang berbeda.

b) Elektronika

Salah satu aplikasi dalam elektronika adalah sebagai Memori Storage.

c) Kesehatan

Contrast agent untuk pencitraan sel dan terapi untuk mengobati kanker

Nanoteknologi-on-a-chip

Drug delivery vehicles

Kosmetik yang dapat melindungi diri dari bahaya sinar ultraviolet

E. Dampak Material Nano

Potensi manfaat material nano bagi kesehatan dan lingkungan telah

banyak dipelajari, walaupun demikian pengaruh negatif material tersebut terhadap

kesehatan dan lingkungan atau lebih khususnya dapat menyebabkan keracunan

tidak dapat lepas dari pemikiran. Diantaranya pemikiran tersebut tentang efek

samping penggunaan material nano dalam bidang kesehatan serta kemampuan

alam untuk menguraikan partikel tersebut. Partikel nano mempunyai skala ukuran

sama dengan komponen seluler dan protein-protein yang lebih besar. Berdasarkan

pemikiran ini ada kemungkinan partikel nano menghindari pertahanan alami

tubuh manusia dan makhluk hidup yang lain serta dapat merusakan sel. Secara

umum manusia telah banyak menerima paparan berbagai jenis partikel nano yang

bersumber dari alam seperti fotokimia dari atmosfer, kebakaran hutan. Manusia
menghirup jutaan polutan partikel nano pada waktu menggunakan api untuk

pembakaran.
BAB III
KESIMPULAN

1. Material nano merupakan material dengan ukuran diameter antara 1 sampai

100 nanometer. Pada skala ukuran ini partikel dapat mempunyai sifat dan

fungsi yang jauh berbeda dibandingkan dengan partikel yang sama tetapi

dengan ukuran yang lebih besar. Banyak orang tertarik dengan nanomaterial,

karena dengan ukuran nano, sifat material lebih menguntungkan dari pada

ukuran besar. Satu nanometer setara dengan sepersatu miliar meter , kurang

lebih seratus ribu kali lebih kecil dari diameter rambut manusia , seribu kali

lebih kecil dari sel darah merah , dan setengah kali diameter DNA.

2. Sebagaimana disebutkan di atas material nano berukuran sangat kecil yaitu

antara 1 nm sampai dengan 100 nm sehingga diperlukan proses khusus dalam

pembuatan nano material. Pembuatan material ukuran nano secara garis besar

terdiri dari dua cara yaitu dengan memperkecil ukuran partikel dari partikel

ukuran besar dengan skala mikron ke atas dan memperbesar partikel atau

menumbuhkan partikel baru sampai ukuran nano, proses pertumbuhan

dihentikan.

3. Aplikasi

a) Lingkungan hidup

Nanofiltration terutama digunakan untuk menghilangkan ion atau pemisahan

fluida yang berbeda.

b) Elektronika

Salah satu aplikasi dalam elektronika adalah sebagai Memori Storage.


c) Kesehatan

Contrast agent untuk pencitraan sel dan terapi untuk mengobati kanker

Nanoteknologi-on-a-chip

Drug delivery vehicles

Kosmetik yang dapat melindungi diri dari bahaya sinar ultraviolet


DAFTAR PUSTAKA

Sulistiyono, Eko. 2012. Pembuatan Nano Magnesium Karbonat Hasil Ekstraksi


Mineral Dolomit dengan Gelombang Ultrasonik. Tesis: Jakarta.
Universitas Indonesia.

Riwayati, I. 2007. Analisa Resiko Pengaruh Partikel Nano Terhadap Kesehatan


Manusia. Momentum, Vol. 3(2).