Panduan BTQ
Panduan BTQ
PANDUAN PENYELENGGARAN
KEGIATAN TUNTAS BACA TULIS AL-QURAN
DI SEKOLAH DASAR
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Segala puji dan syukur dipanjatkan ke hadirat Allah SWT,
yang telah memberikan kekuatan dan bimbingan kepada
penyusun sehingga draft awal ini selesai sesuai dengan rencana
yang telah ditetapkan. Shalawat serta salam semoga tetap
terlimpah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarganya, sahabat-
sahabatnya, tabiin, tabiit tabiin, dan sampai kepada kita selaku
umat yang berjuang menegakkan risalahnya.
Panduan Penyelenggaraan Kegiatan Tuntas Baca Tulis Al-
Quran di Sekolah Dasar ini merupakan draft awal, sebagai bahan
workshop tingkat nasional. Pada workshop nanti diharapkan draft
awal ini diperkaya dengan berbagai masukan dari seluruh
peserta, sehingga draft ini semakin lengkap dan sempurna, yang
pada tataran akhirnya menjadi sebuah buku panduan yang
digunakan oleh seluruh Sekolah Dasar di Indonesia.
Pada kesempatan ini penyusun ingin menyampaikan terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
menyelesaikan draft ini. Semoga Allah SWT membalasnya
dengan pahala yang berlipat ganda. Amin.
Hanya kepada Allah SWT penyusun memohon petunjuk,
bimbingan, dan perlindungan.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Jakarta, Agustus
2010
Penyusun
3
DAFTAR ISI
Hal
KATA PENGANTAR...............................................................2
DAFTAR ISI..........................................................................3
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .........................................4
B. Landasan Hukum ......................................6
C. Tujuan .......................................................7
D. Sasaran ....................................................7
BAB II KOMPETENSI DAN TARGET
A. Pengertian ................................................8
B. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
..................................................................................................8
BAB III METODE ..........................................................15
BAB IV POLA PENYELENGGARAAN BIMBINGAN BACA TULIS
AL-QURAN
A. Seleksi Peserta .......................................25
B. Pola Pelaksanaan ....................................25
C. Waktu Pelaksanaan.................................29
D. Tempat Pelaksanaan................................29
E. Tenaga Pengajar/Pembimbing..................29
F. Sarana dan Prasarana..............................30
G. Pembiayaan.............................................30
BAB V PENILAIAN DAN SERTIFIKASI
A. Penilaian .................................................31
B. Sertifikasi ................................................31
BAB VI PENUTUP........................................................34
DAFTAR PUSTAKA..............................................................35
4
LAMPIRAN ........................................................................37
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Landasan Hukum
Landasan hukum penyusunan buku pedoman ini antara lain:
1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan
Nasional.
3. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
4. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan.
5. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan
Pendidikan Keagamaan.
6. Keputusan Menteri Agama Nomor 373 Tahun 2003 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Kanwil Departemen Agama Provinsi dan Kantor Departemen
Agama Kabupaten/Kota.
7. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang
Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.
8. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang
Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.
6
9. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006 tentang
Pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006
tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Mennengah dan
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang
Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.
10. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2007 tentang
Pendidikan Agama dan Keagamaan pasal 24 dan 25.
11. Peraturan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama
Republik Indonesia Nomor: Dj.I/12A Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan
Kegiatan Ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam (PAI) pada Sekolah.
12. Instruksi Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1990 tentang
Pelaksanaan Upaya Peningkatan Kemampuan Baca Tulis Huruf Al-Quran.
13. Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri
Republik Indonesia Nomor 44 A dan 124, tanggal 13 Mei Tahun 1982
tentang Usaha Peningkatan Kemampuan Baca Tulis Al-Quran bagi Umat
Islam dalam Rangka Peningkatan Penghayatan dan Pengamalan Al-Quran
dalam Kehidupan Sehari-hari.
15. Instruksi Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1990 tentang
Pelaksanaan Upaya Peningkatan Kemampuan Baca Tulis Huruf Al-Quran.
D. Sasaran
BAB II
KOMPETENSI DAN TARGET
A. Pengertian
Secara bahasa, kompetensi (competency) berarti
kemampuan atau kecakapan. Adapun secara istilah, kompetensi
artinya seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku
yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasai oleh seseorang dalam
melaksanakan tugasnya.
Dengan demikian kompetensi baca tulis Al-Quran yang
dimaksud dalam buku panduan ini adalah seperangkat
kemampuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki,
dihayati, dan dikuasai oleh peserta didik di Sekolah Dasar dalam
membaca dan menulis Al-Quran.
Kelas I, Semester 2
Kelas V, Semester 1
Kelas V, Semester 2
STANDAR
KLS SMT KOMPETENSI DASAR
KOMPETENSI
1.1. Membaca huruf-huruf
1. Mengenal huruf-
tunggal berharokat fatah,
1 huruf dalam Al-
kasrah, dummah
Quran
1.2. Menebalkan huruf hijaiyah
I 1.3.Membaca dua huruf tunggal
1. Mengenal huruf- berharokat fatah, kasrah, dan
2 huruf dalam Al- dommah
Quran 1.4.Mencontoh tulisan huruf
hijaiyah
2.1. Membaca kata-kata dalam Al
2.Mengenal kata
Qur'an
1 dalam
2.2. Menulis kata-kata dalam Al
Al-Quran
Qur'an
3.1.Membaca kata-kata pilihan
II dalam Al-Quran yang
3. Mengenal kata- mengandung harakat tanwin,
2 kata pilihan sukun, dan
dalam Al-Quran 3.2.Menulis kata-kata pilihan
dalam
Al-Quran
III 1 4. Mengenal ayat- 4.1. Membaca ayat-ayat Al
ayat Al-Quran Qur'an yang mengandung
bacaan mad asli
4.2. Menulis 1 ayat sederhana
dalam Al-Quran
13
4.3. Membaca ayat-ayat Al
4. Mengenal ayat- Qur'an yang mengandung
ayat Al- alif lam ta'rif
2
Quran 4.4. Menulis ayat-ayat Al Qur'an
yang mengandung alif lam
ta'rif
5.1. Membaca ayat-ayat yang
mengandung bacaan gunnah
dan qalqalah
5. Mengenal surat
1 5.2. Membaca QS. Al-Fatihah, Al-
dalam Al-Quran
Ikhlas, dan An-Nas dengan
tartil
5.3. Menulis satu surat pendek
IV
5.4. Membaca surat dalam Al
Qur'an yang mengandung
hukum bacaan nun
5. Mengenal surat
2 sukun/tanwin (idzhar, idgam)
dalam Al-Quran
5.5. Membaca QS. Al-Kautsar, An-
Nashr, Al-Ashr, Al-Humazah
5.6. Menulis surat pilihan
5.7. Membaca surat dalam Al-
Quran yang mengandung
hukum bacaan nun suku
5. Mengenal surat
1 /tanwin (iqlab, ikhfa'
dalam Al-Quran
5.8. Membaca QS. Al-Lahab dan
Al-Kafirun
5.9. Menulis surat pilihan
5.10.Membaca Al-Quran yang
terdapat lafadz jalalah dan
V
tanda waqaf
5.11.Membaca QS. Al-Maun dan
Al-Fiil
5. Mengenal surat
2 5.12.Menulis surat pilihan
dalam Al-Quran
BAB III
METODE TUNTAS BACA TULIS AL-QURAN
5. Metode Tilawati
Metode Tilawati disusun pada tahun 2002 oleh Tim terdiri
dari Drs. H. Hasan Sadzili, Drs. H. Ali Muaffa, dkk. Kemudian
dikembangkan oleh Pesantren Virtual Nurul Falah Surabaya.
Metode Tilawati dikembangkan untuk menjawab permasalahan
yang berkembang di TK-TPA, antara lain:
BAB IV
POLA PENYELENGARAAN
BIMBINGAN BACA TULIS AL-QURAN
26
A. Seleksi Peserta
Seleksi peserta ini merupakan placement test (tes
penempatan), artinya seleksi yang dilakukan pada intinya
bertujuan untuk menempatkan peserta didik pada kelompok
yang sesuai dengan kemampuannya. Seleksi ini berupaya untuk
menetapkan seorang peserta didik berada dalam kategori
kelompok pemula, menengah, atau mahir.
Seleksi peserta baca tulis Al-Quran dapat dilakukan
dengan cara:
1. Bagi peserta didik kelas I yang baru memasuki jenjang
Sekolah Dasar (SD), seleksi dilakukan dengan cara mengetes
secara langsung satu persatu kemampuan mereka dalam
membaca dan menulis Al-Quran, dilaksanakan pada awal
semester ganjil, di luar waktu jam pelajaran agama (bisa
sebelum atau setelah proses pembelajaran di kelas selesai).
Hasil dari pengetesan itu peserta didik dikelompokkan menjadi
kelompok pemula, menengah, dan mahir. Sedangkan bagi
peserta didik kelas I yang sedang berada pada semester
sekarang, maka seleksi dapat dilakukan pada saat semester
sekarang yang sedang berjalan.
2. Bagi peserta didik kelas II sampai kelas VI yang sedang
berada pada semester sekarang, seleksi dilakukan dengan
cara mengetes secara langsung satu persatu kemampuan
mereka dalam membaca dan menulis Al-Quran. Pelaksanaan
tesnya dilakukan pada saat semester sekarang yang sedang
berjalan dan mengambil waktu di luar jam pelajaran agama
(bisa sebelum atau setelah proses pembelajaran di kelas
selesai). Berdasarkan hasil tes, peserta didik dikelompokkan
menjadi kelompok pemula, menengah, dan mahir.
Penempatan peserta didik ke dalam kelompok, diupayakan
tidak dicampur satu kelas dengan kelas lain, karena guna
memudahkan bagi pembimbing dalam melayani dan
27
membimbing peserta didik. Selain itu juga dalam upaya
menghindari rasa malu dan ketidakpercayaan diri, serta
memudahkan dalam kenaikan ke tingkat/kelas selanjutnya.
Misalnya: jika di kelas I ada siswa yang sudah mahir, maka
satukanlah ia dengan siswa mahir kelas I lagi, tidak dicampur
dengan siswa mahir kelas II atau III.
B. Pola Pelaksanaan
Ada tiga alternatif pola pelaksanaan dalam kegiatan tuntas
baca tulis Al-Quran. Ketiga alternatif itu adalah sebagai berikut:
1. Pola Intensif (Diniyah Sekolah)
Pelaksanaan pola intensif dilakukan dengan:
a. Tempat pelaksanaan kegiatan tuntas baca tulis Al-Quran
diselenggarakan secara mandiri di lingkungan sekolah. Pihak
sekolah dapat memanfaatkan ruangan kelas dan mushola
sekolah untuk dijadikan tempat kegiatan.
b. Pelaksanaan baca tulis Al-Quran melibatkan semua unsur
sekolah yang dianggap mampu.
c. Rencana program pelaksanaan kegiatan tuntas baca tulis Al-
Quran dirumuskan oleh pihak sekolah dengan melibatkan
komite sekolah.
d. Dalam penyusunan rencana program tersebut, kepala sekolah
sebagai penanggung jawab, guru agama sebagai koordinator,
dan dibantu oleh guru-guru yang lain yang ada di sekolah.
2. Pola Mandiri
Pola ini dilaksanakan dengan:
a. Tempat utama kegiatan tuntas baca tulis Al-Quran
memanfaatkan fasilitas yang ada di rumah dan lingkungan
sekolah.
b. Pembimbing kegiatan tuntas baca tulis Al-Quran dapat
dilakukan oleh orang tua yang bersangkutan dan dari
lingkungan sekitar tempat tinggal, seperti pesantren,
madrasah diniyah, majelis talim, Taman Kanak-Kanak Al-
28
Quran (TKA)/Taman Pendidikan Al-Quran (TPA)/Talimul Quran
Lil Aulad (TQA).
c. Program pengawasan kegiatan tuntas baca tulis Al-Quran
dilakukan oleh pihak sekolah.
3. Pola Kerjasama
Pola ini dilaksanakan dengan:
a. Tempat pelaksanaan kegiatan tuntas baca tulis Al-Quran
bukan hanya di sekolah, akan tetapi dilaksanakan juga di luar
sekolah, seperti di madrasah diniyah/pesantren/Taman Kanak-
Kanak Al-Quran (TKA)/Taman Pendidikan Al-Quran
(TPA)/Talimul Quran Lil Aulad (TQA) yang sudah menjalin
kerjasama dengan pihak sekolah.
b. Pembimbing melibatkan guru-guru di sekolah dan ustadz-
ustadzah yang yang berasal dari lembaga pendidikan di luar
sekolah, seperti dari pesantren, madrasah diniyah, majelis
talim, Taman Kanak-Kanak Al-Quran (TKA)/Taman Pendidikan
Al-Quran (TPA)/Talimul Quran Lil Aulad (TQA).
c. Penyusunan rencana program pelaksanaan kegiatan tuntas
baca tulis Al-Quran dirumuskan secara bersama-sama antara
pihak sekolah dan pihak luar sekolah (pengelola/pembina dari
dari pesantren, madrasah diniyah, majelis talim,
TKA/TPA/TQA). Pihak luar sekolah terlibat secara aktif dalam
penyusunannya.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
melaksanakan ketiga pola pelaksanaan di atas, antara lain:
29
1. Sekolah yang menetapkan waktu utama kegiatan tuntas baca
tulis Al-Quran setelah selesai proses pembelajaran, siswa
yang sudah dikelompokkan, dibimbing oleh satu atau dua
orang pembimbing.
2. Teknis pelaksanaan bimbingan dapat dilakukan dengan cara
klasikal dan privat.
3. Pembimbing menyiapkan buku pedoman dan alat peraga.
4. Sekolah yang menetapkan waktu utama kegiatan tuntas baca
tulis Al-Quran pada hari khusus kegiatan ekstrakurikuler,
berkoordinasi dengan Pembina ekstrakurikuler lain untuk
menghindari jadwal waktu yang bersamaan.
5. Khusus bagi kelompok peserta didik yang sudah mencapai
tahap mahir, diupayakan untuk menjadi tutor sebaya bagi
peserta didik yang masih tahap pemula dan atau menengah.
Hal ini dilakukan untuk membantu pembimbing dalam
mempercepat penguasaan Al-Quran, terutama dalam
penguasaan aspek membaca. Peserta didik yang menjadi tutor
sebaya tetap berada dalam pengawasan dan kontrol dari
pembimbing.
6. Sekolah yang menetapkan ada tambahan waktu utama, yakni
tambahan waktu pendukung pelaksanaan kegiatan tuntas
baca tulis Al-Quran dengan 15 menit jam pelajaran pertama di
setiap hari, lebih baik dikhususkan untuk kegiatan membaca
dan menulis secara klasikal saja, sebab ketersediaan waktu
sangat singkat. Dalam hal ini tentu guru agama harus
berkoordinasi dengan seluruh guru kelas agar kegiatan
mengisi 15 menit pertama ini digunakan dengan sebaik
mungkin, dan para guru kelas terlebih dahulu diberikan
pemahaman tentang baca tulis Al-Quran, sesuai dengan
kelasnya masing-masing.
7. Bagi sekolah yang menetapkan ada tambahan waktu utama,
yakni tambahan waktu pendukung pelaksanaan kegiatan
tuntas baca tulis Al-Quran dengan 15 menit jam pelajaran
30
pertama pelajaran PAI, juga lebih baik dikhususkan untuk
kegiatan membaca dan menulis secara klasikal saja, sebab
ketersediaan waktu sangat terbatas. Pelaksanaannya tentu
tidak tiap hari setiap kelas, tergantung pada jadwal guru
agama mengajar di kelas yang bersangkutan. Dalam waktu
satu minggu seluruh kelas mendapat giliran satu kali
pelaksanaan kegiatan tuntas baca tulis Al-Quran dengan
waktu 15 menit pertama sebelum pelajaran PAI.
C. Waktu Pelaksanaan
Ada beberapa alternatif waktu pelaksanaan kegiatan tuntas
baca tulis Al-Quran di Sekolah Dasar, antara lain:
1. Waktu pendukung: 15 menit pertama sebelum pelajaran
pertama dimulai setiap hari (secara klasikal).
2. Waktu Pendukung: 15 menit pertama sebelum pelajaran
agama Islam dimulai (secara klasikal).
3. Waktu utama: Setiap hari setelah proses pembelajaran di
kelas selesai. Waktunya bisa 30 menit atau selama satu
jam (secara kelompok).
31
4. Waktu utama: Pada hari khusus kegiatan ekstrakurikuler
agama, misalnya pada hari Sabtu bagi sekolah yang
menetapkan hari Sabtu khusus kegiatan ekstrakurikuler.
Adapun rentang waktunya disesuaikan dengan kebijakan
sekolah.
D. Tempat Pelaksanaan
Tempat pelaksanaan kegiatan tuntas baca tulis Al-Quran
dapat diselenggarakan di:
1. Sekolah (kelas dan atau mushola).
2. Madrasah yang ada di sekitar sekolah.
3. Masjid yang ada di sekitar sekolah.
4. Pesantren yang ada di sekitar sekolah.
5. Penggabungan antara sekolah dan
madrasah/masjid/pesantren yang ada di sekitar sekolah.
E. Tenaga Pengajar/Pembimbing
Beberapa alternatif untuk tenaga pengajar/pembimbing
kegiatan tuntas baca tulis Al-Quran antara lain:
1. Guru agama dan guru-guru bidang/kelas yang lain di
sekolah yang bersangkutan yang dianggap mampu
menguasai baca tulis Al-Quran.
2. Bagi sekolah dasar yang satu komplek dengan sekolah
dasar yang lain, bisa bekerjasama antar guru agamanya
serta antar guru bidang/kelas yang dianggap mampu
menguasai baca tulis Al-Quran.
3. Kerjasama dengan madrasah diniyah, pesantren, TKA, TPA,
atau TQA yang ada di sekitar sekolah, untuk merekrut
tambahan pembimbing baca tulis Al-Quran.
F. Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana yang diperlukan dalam pelaksanaan
kegiatan tuntas baca tulis Al-Quran adalah:
1. Tempat belajar.
2. Buku pegangan guru.
3. Buku pegangan siswa.
32
4. Media audio visual.
5. Papan tulis dan alat-alat tulisnya.
6. Alat peraga.
7. Administrasi pembelajaran.
G. Pembiayaan
Pembiayaan dalam kegiatan tuntas baca tulis Al-Quran ini
bersumber dari:
1. Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
2. Sumbangan/infak lain yang halal dan tak mengikat.
BAB VI
PENILAIAN DAN SERTIFIKASI
A. Penilaian
1. Pengertian
Penilaian baca tulis Al-Quran adalah usaha mengumpulkan
berbagai informasi secara berkesinambungan dan menyeluruh
33
tentang proses belajar (kegiatan dan kemajuan belajar baca tulis
Al-Quran) dan hasil belajar peserta didik yang dapat dijadikan
dasar untuk menentukan perlakuan bimbingan baca tulis Al-
Quran selanjutnya.
2. Tujuan Penilaian
Tujuan penilaian dalam bimbingan baca tulis Al-Quran adalah:
a. Untuk mengetahui tingkat kemajuan membaca dan menulis Al-Quran
yang telah dicapai oleh peserta didik dalam suatu kurun waktu proses belajar
tertentu. Hal ini berarti dengan penilaian, pembimbing dapat mengetahui
kemajuan perubahan tingkah peserta didik sebagai hasil proses belajar dan
mengajar baca tulis Al-Quran yang melibatkan dirinya selaku pembimbing
dan pembantu kegiatan belajar peserta didiknya itu.
b. Untuk mengetahui posisi atau kedudukan seorang peserta didik dalam
kelompok bimbingan baca tulis Al-Quran. Dengan demikian, hasil penilaian
itu dapat dijadikan pembimbing sebagai alat penetap apakah pseerta didik
tersebut termasuk kategori cepat, sedang, atau lambat dalam arti mutu
kemampuan belajar baca tulis Al-Qurannya.
c. Untuk mengetahui tingkat usaha yang dilakukan peserta didik dalam
belajar membaca dan menulis Al-Quran. Hal ini berarti dengan penilaian,
pembimbing akan dapat mengetahui gambaran tingkat usaha peserta didik.
Hasil yang baik pada umumnya menunjukkan tingkat usaha yang efisien,
sedangkan hasil yang buruk adalah cermin usaha yang tidak efisien.
d. Untuk mengetahui hingga sejauh mana peserta didik telah
mendayagunakan kapasitas kognitifnya (kemampuan kecerdasan yang
dimilikinya) untuk keperluan belajar baca tulis Al-Quran. Jadi, hasil penilaian
itu dapat dijadikan pembimbing sebagai gambaran realisasi pemanfaatan
kecerdasan peserta didik.
e. Untuk mengetahui tingkat daya guna dan hasil guna metode mengajar
membaca dan menulis Al-Quran yang telah digunakan pembimbing dalam
proses pembelajaran. Dengan demikian apabila sebuah metode yang digunakan
pembimbing tidak mendorong munculnya prestasi belajar peserta didik yang
memuaskan, pembimbing seyogyanya mengganti metode tersebut atau
mengkombinasikannya dengan metode lain yang serasi.
3. Ruang Lingkup
34
Penilaian mencakup penilaian proses dan hasil. Dalam
penilaian proses dilakukan pengamatan (observasi) terhadap
aktivitas belajar peserta didik dalam membaca dan menulis Al-
Quran. Sedangkan penilaian hasil dilakukan dengan uji
kompetensi dasar, ujian/ulangan tengah semester, dan
ujian/ulangan akhir semester. Dari penilaian hasil inilah, maka
peserta didik dapat diputuskan naik tidaknya ke kelompok, kelas,
atau tingkat berikutnya.Teknik penilaian hasil pembelajarannya
mencakup: tes lisan (praktek membaca Al-Quran), tes tulisan
(menulis Al-Qur`an), penugasan, dan fortofolio.
4. Fungsi Penilaian
Penilaian dalam bimbingan baca tulis Al-Quran mempunyai beberapa
fungsi, antara lain:
a. Fungsi administratif: untuk penyusunan daftar nilai dan pengisian buku
raport baca tulis Al-Quran.
b. Fungsi promosi: untuk menetapkan kenaikan atau kelulusan ke
tingkat/kelompok berikutnya.
c. Fungsi diagnostik: untuk mengidentifikasi kesulitan belajar peserta didik
dan merencanakan program remedial teaching (pengajaran perbaikan).
d. Fungsi Pertimbangan: bahan pertimbangan pengembangan pada masa
yang akan datang yang meliputi pengembangan kurikulum, metode, dan alat-
alat pembelajaran.
e. Fungsi Efektivitas: untuk mengetahui keefektifan proses pembelajaran
yang telah dilakukan pembimbing, dengan ini pembimbing dapat mengetahui
berhasil tidaknya ia mengajar baca tulis Al-Quran.
f. Fungsi Umpan Balik (Feed Back): memberikan umpan balik kepada
pembimbing sebagai dasar untuk memperbaiki cara belajar mengajar,
mengadakan perbaikan bagi peserta didik serta menempatkan peserta didik
pada situasi belajar mengajar yang lebih tepat sesuai dengan tingkat
kemampuan yang dimiliki oleh mereka.
g. Fungsi Penyempurnaan: menyusun laporan dalam rangka penyempurnaan
program belajar mengajar baca tulis Al-Quiran yang sedang berlaku.
5. Instrumen Penilaian
35
Yang dimaksud instrumen dalam penilaian bimbingan baca tulis Al-Quran
ini adalah perangkat administrasi berupa format-format yang digunakan guru
dalam melakukan penilaian. Instrumen tersebut terdiri dari :
BAB V
PENUTUP
37
Kegiatan Bimbingan Baca Tulis Al-Quran (BTQ) ini merupakan kegiatan
pembelajaran tambahan yang dilaksanakan di sekolah maupun di luar sekolah.
Tujuannya adalah untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam bidang
membaca dan menulis al-Quran.
Dengan memahami buku panduan ini diharapkan seluruh unsur terkait dapat
melaksanakan kegiatan tuntas baca tulis Al-Quran secara baik dan benar. Buku
panduan ini tentunya masih berlaku secara umum, sehingga dalam
implementasinya di lapangan disesuaikan dengan situasi, kondisi, dan potensi
sekolah, serta tetap memperhatikan kemampuan peserta didik dan tradisi yang ada
di daerah masing-masing.
Pelaksanaan kegiatan BTQ harus dibarengi dengan penilaian agar dapat
diketahui hasil dan manfaatnya. Setiap satuan pendidikan harus menyusun
program terencana, sistematis dan berkelanjutan sehingga dapat menghasilkan
peserta didik yang memiliki tingkat kompetensi baca tulis al-Quran sebagaimana
yang diharapkan.
Tim penyusun menyadari bahwa buku panduan ini masih banyak kekurangan
yang perlu, dievaluasi, dan direvisi. Kritik dan saran yang membangun guna
perbaikan kedepan menjadi hal yang sangat berharga bagi tim penyusun untuk
memperbaiki buku panduan ini.
DAFTAR PUSTAKA
Wagiman, dkk. (2007). Pendidikan Agama Islam Untuk Sekolah Dasar Kelas 1,
2, 5, dan 6. Depok: Arya Duta.
39
40
LAMPIRAN-LAMPIRAN
41
Lampiran 1. (Contoh Sertifikat)
PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA .
UPTD PENDIDIKAN KECAMATAN
SEKOLAH DASAR
Alamat :
SERTIFIKAT
..:No
Yang telah mengikuti program bimbingan Baca Tulis Al-Quran tingkat Sekolah
Dasar tahun pelajaran .., dengan hasil :
.
..,
20
..
..
NIP. NIP.
42
NILAI
NO ASPEK YANG DINILAI
Angka Huruf
Membaca Al-Qur'an:
a. Kelancaran membaca
1 b. Makhorijul huruf
c. Tajwid
Jumlah:
Menulis ayat Al-Qur'an:
a. Huruf tunggal
2 b. Merangkai huruf
c. Kerapihan
Jumlah
Hafalan:
a. Surat-surat pilihan
3
b. Do'a harian
Jumlah:
Absensi: Kepribadian:
a. Alpa a. Kerajinan
.hari
4
b. Sakit b. Kerapihan
.hari
c. Izin c. Kebersihan
.hari
Catatan : Tingkatkan belajar menulis dan menghapalnya!
Mengetahui:
Wali Peserta Didik
Pembimbing
() ()
NIP.
43
Keterangan
No Nama Kelompok Nilai Tidak
Lulus
Lulus
dst.
44
Peserta didik yang telah memperoleh nilai A dan B dinyatakan lulus/berhasil. Sementara
yang belum berhasil terus mengikuti bimbingan BTQ. Format penilaian dapat dikembangkan sesuai
dengan kebutuhan penilaian .
The primary purpose of the 'Panduan Baca Tulis al-Quran' at different educational levels (SD, SMP, SMA/SMK) is to provide guidelines for Islamic Education Teachers (Guru Pendidikan Agama Islam, GPAI) and educational units on the organization of reading and writing the Quran for students. This includes enhancing the understanding, appreciation, and practical implementation of the Quran in daily life .
The Tilawati Method addresses challenges such as the low quality of Quran graduates from TK/TPA and a lack of a conducive learning environment. It provides solutions by offering a structured and quality-guaranteeing approach. Santri learn to read with tartil, correct wrong readings, and achieve individual learning completion (70%) and group completion (80%). It also employs practical delivery using a Rost tune and balances between classical and individual approaches .
The implementation and adaptability of Bimbingan Baca Tulis al-Qur’an in diverse educational environments is designed to be flexible, allowing schools to choose suitable strategies based on their conditions. Although the guide provides a general framework, it requires adjustments to fit local traditions, potential, and student capabilities. This adaptability ensures that the program can achieve effective results across varying contexts while being open to revisions as needed .
The Qira’ah method's multimedia approach, which includes pictures and Indonesian-language exercises in Arabic script, benefits younger students by making learning visually engaging and culturally relevant. This approach ensures that students find it easier to relate to and remember lessons. However, a potential limitation could be the dependence on visuals, which might hinder students from adapting to less illustrative teaching contexts. Nonetheless, the method fosters sustained interest and rapid learning through practical engagement .
Extracurricular Pendidikan Agama Islam (PAI) activities are critical for enhancing Quranic literacy as they provide additional educational opportunities beyond the regular curriculum. They aim to enhance the grasp of Quranic reading and writing, promote religious values, and offer a structured approach for applying these skills in daily life. Furthermore, these activities aid in reaching the goals of faster achievement of Quran literacy, making the learning process both accessible and efficient for students at various educational levels .
The Dirosa method is specifically tailored for adult learners by integrating continuous Islamic education starting with Quran reading. It uses a systematic 20-session class approach that includes practical learning strategies like 'Read-Point-Listen-Repeat', which encourages active listening and repetition. This method, supported by Wahdah Islamiyah Gowa, contrasts with traditional methods by focusing on adult-paced learning and incorporating Islamic foundational teachings effectively .
The 'Al-Barqy' method is designed to facilitate quick learning of the Quran. It introduces an 'Anti-Lupa' structure which helps learners remember previously learned letters without teacher assistance, based on research by the Indonesian Ministry of Religion. This method, intended for all ages, shortens the learning time, making it engaging and less monotonous. For teachers, it offers additional skills; for students, it boosts confidence by enabling quick learning; and for schools, it enhances reputation by producing fast-learning students .
The "LIBAT" method focuses on 'Lihat (See), Baca (Read), Tulis (Write)' principles, inspired by a guide from Pondok Gontor. It employs an anatomy of letters approach, highlighting the interconnection of letter forms and leveraging cultural contexts to enhance understanding. This method efficiently enables students to learn Quran writing and reading in as little as 10 hours, utilizing a CBSA (Monitor Own Learning Activities) strategy to reinforce independence in learning .
Method Qiraati improves traditional methods by encouraging self-reading without spelling out, and it emphasizes reading correctly from the start. It targets children aged 4-6, 6-12, and also extends to university students, thus offering flexibility across various age groups .
The certification process ensures competency in Quranic literacy by requiring students to complete all standards and basic competencies from grades I to VI. Certificates are issued by schools or the Ministry of Religion and are signed off by relevant authorities, verifying that the student meets the educational standards for Quranic literacy, thus formalizing and recognizing their ability to read and write the Quran effectively .