Anda di halaman 1dari 7

15

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian mengenai prevalensi kontaminasi telur cacing pada sayuran


kubis yang disajikan pada warung makan yang ada di Kecamatan Grogol
Petamburan, akan dijabarkan sebagai berikut :

4.1 Analisi univariat

4.1.1 Faktor - faktor yang mempengaruhi

Pencucian kubis oleh pedagang lalapan adalah sangat penting, mengingat


kubis yang akan digunakan sebagai lalapan adalah kubis yang masih mentah
sehingga kebersihannya perlu diperhatikan untuk menjaga keamanan pangan
bagi konsumen.
Faktor yang akan dijabarkan disini ada tiga, yaitu lapisan kubis yang dicuci,
teknik menggunakan air dalam mencuci kubis, dan air yang digunakan dalam
mencuci.
4.1.1.1 Lapisan kubis yang dicuci
Tabel 1. Frekuensi lapisan kubis yang dicuci

Lapisan kubis yang Jumlah Persentase (%)


dicuci
Tidak perlapis 44 64.7
Perlapis 24 35.3
Total 68 100

Dari hasil wawancara dengan penjual didapatkan bahwa 24 penjual


mencuci kubisnya satu persatu tiap lapis sedangkan sisanya 44 penjual
mencuci kubis tapi tidak mencuci tiap lapisnya.

4.1.1.2 Teknik menggunakan air dalam mencuci


Tabel 2. Teknik menggunakan air dalam mencuci

Universitas Kristen Krida Wacana


16

Teknik menggunakan Jumlah Persentase (%)


air dalam mencuci
Dengan air yang diam 40 58.8
Dengan air yang 28 41.2
mengalir
Total 68 68
Dari tabel diatas bisa diketahui bahwa penjual yang mencuci dengan air
yang diam (air yang ada di baskom) sebanyak 40, sedangkan sebagian
penjual lagi mencuci dengan air yang mengalir (dengan kran air yang
mengalir). Tentunya jika dicuci dengan air mengalir maka kotoran yang
ada akan terbawa air yang mengalir tersebut, termasuk telur cacing yang
masih menempel pada daun kubis.3
4.1.1.3 Air yang digunakan dalam mencuci
Tabel 3. Air yang digunakan dalam mencuci

Air yang digunakan Jumlah Persentase (%)


Air PDAM 68 100
Air sumur 0 0
Total 68 100
Dari data yang dikumpulkan dari penjual didapatkan semua penjual
mencuci sayur dengan air PDAM, tidak ada yang menggunakan air
sumur dalam mencuci sayuran sebelum disajikan kepada konsumen.

4.1.1.4 Kontaminasi telur cacing

Dalam penelitian ini, kubis dibeli dari 68 pedagang lalu dilakukan


pengamatan dan menghasilkan data kubis yang diteliti sebagai berikut:

Tabel 4. Frekuensi kontaminasi telur cacing

Jumla Persentase
h (%)
Telur Ascaris lumbricoides 11 16.2
Telur Trichuris trichiura 3 4.4
Telur cacing tambang 0 0

Universitas Kristen Krida Wacana


17

Tidak ditemukan 54 79.4


Total 68 100

Dari tabel diatas, didapatkan bahwa jumlah kubis yang positif


ditemukan telur ascaris lumbricoides sebanyak 11 dengan persentase
16.2%. Dan jumlah sayuran kubis yang ditemukan telur trichuris
trichiura sejumlah 3 kubis dengan persentase 4.4 %. Sisanya tidak
ditemukan telur Ascaris lumbricoides, telur Trichuris trichiura (cacing
cambuk), maupun telur cacing tambang yaitu sebanyak 54 kubis dari
68 sampel yang sudah dilakukan pengamatan melalui mikroskop.

4.2 Analisis bivariat


4.2.1 Lapisan kubis yang dicuci dengan kontaminasi
telur cacing
Tabel 5. Lapisan kubis yang dicuci dengan prevalensi kontaminasi telur cacing

Telur cacing yang ditemukan Total


Ascaris Trichuris Cacing Tidak (n = 68)
lumbricoides trichiura tambang ditemukan
(n = 11) (n = 3) (n = 0) (n = 54)
Lapisan Tidak 11 3 0 30 44
(100%) (100%) (0%) (55.6%) (64.7%)
kubis perlapis
Perlapis 0 0 0 24 24
yang
(0%) (0%) (0%) (44.4 %) (35.3%)
dicuci

Dari data diatas ditemukan kubis yang terkontaminasi telur cacing


Ascaris lumbricoides sebanyak 11 dan semuanya ditemukan pada sayur kubis yang
dicuci dengan cara tidak perlapis, sedangkan telur Trichuris trichiura sebanyak 3 dan
semuanya juga ditemukan pada sayur yang dicuci secara tidak perlapis. Lalu telur
cacing tambang tidak ditemukan pada semua sampel yang diteliti. Terdapat 30
sayuran yang dicuci dengan cara tidak perlapis tidak ditemukan telur cacing Soil
Transmitted Helmints.

Universitas Kristen Krida Wacana


18

4.2.2 Teknik menggunakan air dalam mencuci dengan


kontaminasi telur cacing
Tabel 6. Teknik menggunakan air dalam mencuci dengan Prevalensi kontaminasi
telur cacing

Telur cacing yang ditemukan Total


Ascaris Trichuris Cacing Tidak (n = 68)
lumbricoide trichiura tambang ditemuka
s (n = 3) (n = 0) n
(n = 11) (n = 54)
Teknik Air yang 9 3 0 28 40
menggunaka diam (81.8%) (100%) (0%) (51.9%) (58.8%)
n air dalam Air yang 2 0 0 26 28
mencuci mengalir (18.2%) (0%) (0%) (48.1%) (41.2%)

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa pada pencucian sayur dengan
cara air yang diam terdapat 9 sayur yang ditemukan telur cacing Ascaris
lumbricoides, 3 sayur yang setelah diteliti ditemukan telur cacing Trichuris trichiura
dan 28 sayur tidak ditemukan telur cacing. Ada juga sayur yang setelah dicuci dengan
air yang mengalir tetapi masih mengandung telur Ascaris lumbricoides yaitu
sebanyak 2 kubis dan sisanya tidak ditemukan telur cacing.

4.2.3 Air yang digunakan dengan kontaminasi telur cacing

Tabel 7. Air yang digunakan dengan prevalensi kontaminasi telur


cacing

Telur cacing yang ditemukan Total


Ascaris Trichuris Cacing Tidak
lumbricoide trichiura tambang ditemuka
s (n = 3) (n = 0) n
(n = 11) (n = 54)
Air yang Air 11 3 0 54 68
digunaka PDAM (100%) (100%) (0%) (54%) (100%)
n Lain-lain 0 0 0 0 0
(0%) (0%) (0%) (0%) (0%)
Dari semua penjual yang diwawancara, semua mencuci menggunakan
air PDAM namun terdapat 11 telur cacing Ascaris lumbricoides, 3 telur Trichuris
trichiura, dan sisanya tidak ditemukan telur cacing.

4.2 Pembahasan

Universitas Kristen Krida Wacana


19

4.2.1 Kontaminasi telur cacing


Hasil dari penelitian diketahui jumlah kontaminasi telur Soil
Transmitted Helminths (STH) pada lalapan kubis sebesar 20.6%.
Terdiri dari 11 sampel (16.2%) yang mengandung telur cacing
Ascaris lumbricoides, 3 kubis (4.4%) yang ditemukan telur cacing
Trichuris trichiura, dan tidak ada yang dtemukan telur cacing
tambang pada sisanya. Penelitian yang dilakukan Wardhana (2013)
menunjukan prevalensi kontaminasi sampel yang diteliti yaitu 11
sampel (26.19%) dari 42 sampel sayur kubis di Lampung. Jenis yang
ditemukan juga terdiri dari telur cacing gelang (Ascaris
lumbricoides), dan telur cacing cambuk (Trichuris trichiura). Telur
cacing gelang ditemukan pada 6 sampel (14.28%) sedangkan telur
cacing cambuk pada 3 sampel (7.14%) dan 2 sampel ditemukan
kedua telur tersebut.7
Angka ini masih termasuk cukup tinggi mengingat resiko terjadinya
transmisi telur cacing tersebut pada para konsumen. Jika sudah
terjadi transmisi ke tubuh manusia maka telur cacing tersebut dapat
melanjutkan siklus hidupnya, sehingga pengkonsumsi dapat terkena
infeksi cacing atau lebih dikenal cacingan.12
Dominasi telur Ascaris lumbricoides pada penelitian ini lebih
disebabkan oleh sifat dari telur Ascaris lumbricoides yang di dalam
tanah tetap hidup pada suhu beku yang biasa terdapat pada musim
dingin. Telur cacing ini tahan terhadap desinfektan kimiawi dan
terhadap rendaman sementara di dalam berbagai bahan kimia yang
keras. Telur dapat hidup berbulan-bulan di dalam air selokan dan
tinja.13
4.2.2 Hal hal yang mempengaruhi
Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang memungkinkan
telur cacing yang masih tertinggal pada sayuran kubis yang dijadikan
sebagai lalapan.7 Kontaminasi telur cacing pada lalapan kubis ini
dapat dipengaruhi oleh lapisan kubis yang dicuci, teknik
menggunakan air dalam mencuci, dan air yang digunakan. Pencucian
yang dilakukan pada lalapan dapat mengurangi atau bahkan
menambah telur cacing tergantung pada cara pencucian.14
Kontaminasi telur cacing pada sayuran sendiri sudah banyak
dilaporkan, khususnya pada sayuran kubis karena memiliki
permukaan daun yang sangat berlekuk sehingga telur cacing yang
menempel pada daun kubis sulit untuk dibersihkan, terutama jika
proses pencucian tidak dilakukan dengan baik. Namun hal tersebut

Universitas Kristen Krida Wacana


20

dapat diatasi dengan menggunakan larutan garam terlebih dahulu


yang kemudian dilanjutkan dengan mencuci kembali sayuran dengan
air yang mengalir.12
4.2.2.1 Lapisan kubis yang dicuci
Faktor pertama pada penelitian ini adalah lapisan kubis yang
dicuci. Cara mencuci kubis untuk lalapan ada yang dicuci
dalam keadaan utuh (bulatan utuh) dan ada yang mencuci
dalam keadaan dilepas per lembar. Pada penelitian ini dari 68
penjual, 24 penjual (35.3%) diantaranya mencuci kubisnya
dengan melepas satu persatu tiap lapisnya sedangkan 44
penjual (64.7%) lainnya mencuci sayur tersebut secara utuh.
Pada penelitian Rahayu (2007), sebagian besar penjual
mencuci sayurnya secara utuh (92.3%) sisanya mencuci
dengan melepas satu persatu tiap lapisnya.3 para pedagang
yang hanya mencuci bagian luar kubisnya saja tidak akan
dapat mengurangi tingkat kontaminasi telur nematoda usus
pada lalapan.1
4.2.2.2 Teknik menggunakan air dalam mencuci
Faktor kedua adalah bagaimana air itu digunakan untuk
mencuci. Cara mencuci nya bisa menggunakan air yang diam
(air yang ditampung di wadah) dan air yang mengalir (bisa
menggunakan kran air). Tentunya jika dicuci dengan air
mengalir maka kotoran yang ada akan terbawa air yang
mengalir tersebut, termasuk telur cacing yang masih
menempel pada daun kubis.
Pada penelitian ini, masih banyak yang mencuci dengan air
yang diam. Tercatat 40 penjual (58.8%) mencuci sayur kubis
mereka dengan air yang diam. Sedangkan yang mencuci
dengan air mengalir hanya 28 penjual (41.2%). Jika pada
penelitian yang dilakukan Rahayu (2007) dari 13 pedagang
yang mencuci kubisnya ternyata sebagian besar (76,9%)
pedagang mencuci kubisnya dengan air yang tidak mengalir,
yaitu air yang ditaruh pada wadah (waskom) atau ember. 3
4.2.2.3 Air yang digunakan untuk mencuci
Faktor yang ketiga adalah jenis air yang digunakan untuk
mencuci sayuran kubis. Penggunaan air sebagai media untuk
mencuci sayuran memiliki pengaruh terhadap terjadinya
kontaminasi. Terbukti pada penelitian yang dilakukan oleh
Kodijat pada tahun 1988 di Bandung, menunjukkan bahwa

Universitas Kristen Krida Wacana


21

sumber kontaminasi juga berasal dari air dan lumpur yang


berasal dari PLTA Bandung, yang sepanjang alirannya dipakai
untuk menyiram, mencuci dan memupuk tanaman/sayuran.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa air (36,8%) dan
lumpur (21,0%) telah tercemar dengan telur A. lumbricoides,
T. trichiura dan cacing tambang dan juga ditemukan adanya
larva rhabditiform dan larva filariform.
Pada penelitian ini semua penjual menggunakan air PDAM.
Itu membuktikan semua sudah tidak menggunakan air sumur.
Sedangkan pada penelitian Cahyono pada tahun 2010 di
Yogyakarta, air bersih yang dipakai untuk mencuci sayuran
yang digunakan sebagai sayuran mentah (lalapan) di warung
makan lesehan di kota Wonosari Gunungkidul, sebagian besar
berasal dari air PDAM. Sumber perolehan kebutuhan air
bersih dari PDAM tersebut diantaranya berasal dari sumur
arthesis dan sungai bawah tanah kemudian diistribusikan
kepada masyarakat tanpa disertai dengan pengolahan terlebih
dahulu.5

Universitas Kristen Krida Wacana