Anda di halaman 1dari 44

Referat Luka Bakar (Combustio)

Budi Hartono
112017029
Pembimbing: dr. Hariatmoko, SpB
Pendahuluan
 Luka bakar atau combustio adalah kerusakan kulit yg
dpt disertai dgn kerusakan jaringan dibawahnya
 Luka bakar dapat terjadi karena langsung terbakar
oleh api ataupun secara tidak langsung melalui
pajanan atau kontak dengan sumber panas spt api,
air panas, listrik, bhn kimia dan radiasi
PATOFISIOLOGI

• PD yg terpajan suhu tinggi rusak& permeabilitas↑


 sel darah rusak  anemia
• Permeabilitas↑  edema  bula yang
mengandung banyak elektrolit  volume cairan
intravaskuler ↓
• Kerusakan kulit akibat luka bakar  cairan ↓
akibat penguapan yang berlebihan, masuknya
cairan ke bula yang terbentuk pada luka bakar
derajat II, dan pengeluaran cairan dari keropeng
luka bakar derajat III.
Cedera Panas

Edema
Kehilangan Epitel Hipermetabolism

Syok
Imunosupresi Malnutrisi

Paru Ginjal Usus


Kehilangan protein

Insuf.
ARF Ileus Transl. Bakteri Infeksi Luka
Paru

Sepsis
ARDS ATN

MODS
Kematian
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BERAT
RINGANNYA LUKA BAKAR

 Derajat luka bakar


 Luas luka bakar
 Umur penderita
 Lokasi luka bakar
 Keadaan umum sebelum mendapat luka bakar
 Ada tidaknya trauma lain selain luka bakar
Derajat luka bakar

Derajat luka bakar atau


kedalaman luka bakar
ditentukan oleh tingginya
suhu suatu benda dan
lamanya penderita terpajan
dengan benda tersebut
 Derajat I : hanya mengenai epidermis,
biasanya kelihatan kemerahan dan bengkak,
tidak ada blister (gelembung) kecil-kecil /
bula, kulitnya kering tapi sangat sensitif
(hipersensitivitas) dan biasanya sembuh dalam
5 – 7 hari, misalnya tersengat matahari.
Biasanya tidak menimbulkan parut
2. Derajat II : luka mencapai dermis namun masih ada
elemen epitel sehat yang tersisa, yaitu sel epitel
basal, sel kelenjar sebasea, kelenjar keringat dan
pangkal rambut. Dengan adanya sisa epitel-epitel
ini, luka dapat sembuh sendiri dalam 2-3 minggu.
Gejala yang timbul adalah kulit kemerahan yang
lebih jelas, kulitnya basah dan masih sensitif , ada
gelembung / bula. Bula berisi cairan eksudat yang
keluar dari pembuluh darah karena permeabilitas
meninggi.
 Dibagi menjadi:
i. Superfisial
- Luka bakar kena seluruh epidermis (papilar dermis
and sensitive nerve ends).
- Timbul kemerahan dan lepuh (blister) (pink or moist).
- Folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea
masih utuh.
- Penyembuhan dalam waktu 10-14 hari, bisa ada scar
atau tidak.
 ii. Profunda
- Luka bakar sudah kena stratum germinativum dan
korium (papillary reticular dermis).
- Kulit tampak merah atau merah muda (white or
mottled pink).
- Folikel rambut, kelenjar keringat dan sebasea
sebagian mengalami kerusakan (dapat tak sakit).
- Penyembuhan dalam 25-35 hari, significant scar
 keloid.
3. Derajat III : luka meliputi seluruh lapisan kulit sampai
sub-kutis atau organ yang lebih dalam. Biasanya
terjadi karena temperatur yang tinggi dan kontak
yang lama. Tidak ada lagi elemen kulit yang hidup.
Untuk mendapatkan kesembuhan harus dilakukan
skin-grafting. Kulit tampak pucat abu-abu gelap /
hitam atau putih dengan permukaan lebih rendah
dari jaringan sekeliling yang masih sehat,
permeabilitas kapiler meningkat. Bula tidak ada,
rasa nyeri tidak ada.
 Terjadi anestesi dimana kulit tidak bisa merasakan
nyeri karena sudah terjadi kerusakan reseptor rasa
nyeri. Pin prick test: jarum steril dimasukkan ke
daerah luka bakar. Bila tidak terasa nyeri, test
dikatakan (+).
 Eritrosit banyak yang rusak, terjadi edema hebat
dan kerusakan permanen.
 Penyembuhan berlangsung lama karena tidak ada
proses epitelisasi spontan
Pembagian zona kerusakan jaringan

 Zona koagulasi, zona nekrosis (Daerah yang lsg


mgalami kerusakan)
 Zona statis
 Daerah yang berada disekitar zona koagulasi
 Kerusakan endotel p. darah, trombosit, leukosit 
gangguan perfusi (no flow phenomena) -->
perubahan permeabilitas kapiler dan respon
inflamasi lokal
 12-24 jam pasca cedera
 Zona hiperemi
 Daerah diluar zona statis
 Vasodilatasi, reaksi sellular (-)

Zona Koagulasi
Epidermis

Zona Statis
Dermis

Zona Hiperemi

Jaringan Sub-Kutis
Luas luka bakar

 Cara telapak tangan

- Cara ini menggunakan luas telapak tangan


penderita, prinsipnya luas telapak tangan = 1%.
Cara ini merupakan cara cepat dapat digunakan
pada keadaan darurat
 Rumus Rule of Nine, yaitu : luas kepala dan leher,
dada, punggung, perut, pinggang dan bokong,
ekstremitas atas kanan, ekstremitas atas kiri, paha
kanan, paha kiri, tungkai dan kaki kanan, serta
tungkai dan kaki kiri masing-masing 9%, sisanya 1%
untuk daerah genital.
 Untuk anak dapat digunakan Rule of five, yaitu :
 Digunakan pada bayi dan anak-anak karena luas
permukaan bagian tubuh anak berbeda dimana luas
relatif permukaan kepala anak lebih besar dan luas
relatif permukaan kaki lebih kecil
 Umur penderita
Pada anak kecil dan orang tua lebih berbahaya karena daya tahan tubuh
relatif kurang sehingga toleransi daya tahan tubuh terhadap stress kurang.

 Lokasi luka bakar


Didaerah muka dan leher terutama di ruang tertutup lebih berbahaya
karena berpotensial untuk terjadi gangguan pernafasan yang disebut
edema laring. Juga pada tempat-tempat yang sering bergerak, luka
bakar lama sembuh.

 Keadaan umum sebelum luka bakar (Associated Disease)


Penderita mempunyai penyakit Diabetes melitus, congestive heart failure,
penyakit paru-paru, immunosupresison drugs.

 Ada tidaknya trauma lain selain luka bakar


Ada faktor lain seperti adanya inhalation injury, fraktur, head injury.
Menurut Berat Ringannya luka bakar dibagi
menjadi :

 Luka bakar ringan


-Luka bakar derajat I dan II dengan luas < 15% pada orang
dewasa.
-Luka bakar derajat I dan II dengan luas < 10% pada anak-
anak.
-Luka bakar derajat III dengan luas < 2%.
 Penderita cukup berobat jalan
 Luka bakar sedang
-Luka bakar derajat II dengan luas 15-25% pada
orang dewasa.
-Luka bakar derajat II dengan luas 10-20% pada
anak-anak.
-Luka bakar derajat III dengan luas < 10%
 Penderita sebaiknya dirawat
 Luka bakar sedang
-Luka bakar derajat II dengan luas 15-25% pada
orang dewasa.
-Luka bakar derajat II dengan luas 10-20% pada
anak-anak.
-Luka bakar derajat III dengan luas < 10%
 Penderita sebaiknya dirawat
 Luka bakar berat
-Luka bakar derajat II dengan luas > 25% pada orang
dewasa.
-Luka bakar derajat II dengan luas > 20% pada anak-
anak.
-Luka bakar derajat III dengan luas > 10%.
-Luka bakar yang mengenai tangan, wajah, mata, telinga,
kaki, dan genitalia, persendian sekitar ketiak.
-Semua penderita dengan trauma inhalasi, luka bakar
dengan komplikasi trauma berat, luka bakar resiko tinggi.
 Penderita harus dirawat
Trauma inhalasi
 Luka bakar pada wajah
 Bulu mata dan hidung hangus
 Timbunan karbon dan tanda2 inflamasi akut dlm.
orofaring
 Sputum mengandung karbon / arang
 Riwayat terkurung dlm. kepungan api
 Ledakan menyebabkan trauma bakar pd. kpla dan
badan
 Kdr. Karboksihemoglobin > 10 % stlh berada dlm.
lingk. api
Perawatan Umum

 Terapi Cairan
 Pemberian analgetik yang kuat
 Pemberian Antibiotik
 Antitetanus
 Fisioterapi
 Psikoterapi
 Nutrisi (kalori,protein,dan vitamin)
Pemberian cairan intravena dapat
menggunakan rumus

Rumus Evans, pada rumus evans untuk pengganti diberikan :


 Elekrolit : NaCl 0,9% atau Ringer Laktat = 1cc/kg/1% untuk 24 jam
pertama
 Protein : Plasma expander (albumin) = 1cc/kg/1% untuk 24 jam
pertama
 Untuk maintenance diberi Dextrose 5% sebanyak 2000 cc
 ½ dari jumlah kebutuhan cairan diberikan dalam 8 jam I
dan sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya. Waktu
pemberian cairan dihitung dari saat terjadi luka bakar.
Pada hari ke II diberikan cairan dengan jumlah ½ dari
jumlah cairan yang diberikan pada hari I/24 jam.
Rumus Brooke

 Hari I diberikan untuk pengganti cairan :


 NaCl 0,9% / Ringer Laktat 1,5cc/kg/1%
 Plasma expander / kolloid 0,5cc/kg/1%
 Dextrose 5% 2L/2000cc
 Maintenance cairan

 Hari II :
 NaCl 0,9% / Ringer Laktat 0,5cc/kg/1%
 Plasma expander / kolloid 0,5cc/kg/1%
 Maintenance cairan
Rumus Baxter
yaitu :
 Ringer Laktat = 3-4cc x % luas luka bakar x Berat
Badan/ 24 jam
 ½ dari jumlah kebutuhan cairan diberikan dalam 8 jam I
dan sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya. Waktu
pemberian cairan dihitung dari saat terjadi luka bakar.
 Pada hari ke II diberikan cairan dengan jumlah ½ dari
jumlah cairan yang diberikan pada hari I/24 jam.
 Pada hari ke III diberikan cairan dengan jumlah ½ dari
jumlah cairan yang diberikan pada hari II/24 jam.
 Monitoring sirkulasi : observasi tensi, nadi,
kesadaran
 Monitoring diuresis (dewasa : 30 cc/jam, anak :
1cc/kgBB/jam), CVP, Hb, Ht, elektrolit, ureum,
creatinine
Perawatan luka bakar
 Perawatan luka bakar tertutup
 Biasa digunakan antibiotik topikal yang langsung
pada luka bakar kemudian tutup dengan kasa
steril. Atau menggunakan kasa khusus yang sudah
ada antibiotiknya (sufratulle, daryantulle, dll).
 Kasa pembalut harus ada daya serap dan diganti
tiap 8-24 jam, bila basah, berbau dan bila timbul
nyeri.
 Keuntungan: imobilisasi luka lebih sempurna
 Perawatan luka bakar terbuka
 Luka dibiarkan terbuka dan diharapkan sembuh
sendiri.
 Perawatan harus benar-benar steril.
 Bila terdapat pus, kompres dengan NaCl 0,9%.
 Keuntungan: luka mudah kering, bakteri sukar
berkembang biak, pengawasan luka lebih mudah,
tidak perlu ganti verban
Komplikasi luka bakar
 Infeksi: Merupakan masalah utama, jika infeksi
berat dapat terjadi sepsis. Jika terjadi infeksi beri
antibiotik spektrum luas atau dalam bentuk
kombinasi. Kortikosteroid jangan diberikan karena
bersifat imunosupresif kecuali pada keadaan
tertentu misalnya edema laring berat
Sistemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS),
Multi-system Organ Dysfunction Syndrome (MODS),
dan Sepsis
 Gangguan jalan napas: Komplikasi yang biasanya
sudah muncul pada hari ke-1. Terjadi akibat
inhalasi, aspirasi, edema paru dan infeksi.
Penanganannya dengan membersihkan jalan napas,
memberikan oksigen trakeostomi, kortikosteroid
dosis tinggi dan antibiotik
 Konvulsi: Komplikasi paling unik terjadi pada anak-
anak disebabkan ketidakseimbangan elektrolit,
hipoksia, infeksi, obat-obatan.
Prognosis pd Luka Bakar
 Pemulihan tergantung kepada kedalaman dan lokasi
luka bakar
 Pada luka bakar superfisial (derajat I dan derajat II
superfisial), lapisan kulit yang mati akan mengelupas
dan lapisan kulit paling luar kembali tumbuh menutupi
lapisan di bawahnya. Lapisan epidermis yang baru
dapat tumbuh dengan cepat dari dasar suatu luka
bakar superfisial dengan sedikit atau tanpa jaringan
parut. Luka bakar superfisial tidak menyebabkan
kerusakan pada lapisan kulit yang lebih dalam (dermis)
 Luka bakar dalam menyebabkan cedera pada
dermis. Lapisan epidermis yang baru tumbuh secara
lambat dari tepian daerah yang terluka dan dari
sisa-sisa epidermis di dalam daerah yang terluka.
Akibatnya, pemulihan berlangsung sangat lambat
dan bisa terbentuk jaringan parut
Kesimpulan
 Luka bakar perlu diperhatikan derajat, luasnya,
dan lokasi. Dicari juga adanya trauma inhalasi
serta tanda – tanda keracunan CO. Dapat
diberikan perawatan luka bakar secara terbuka
maupun tertutup. Komplikasi yang ditakutkan
adalah MODS. Prognosis nya tergantung pada luas,
derajat dan lokasinya.