Anda di halaman 1dari 13

PEDOMAN

SURVEILANS ACUTE FLACCID


PARALYSIS (AFP)

UPT PUSKESMAS KEDUNGGALAR


2017
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami
dapat menyelesaikan pedoman internal Serveilans Acute Flaccid Paralysis (AFP)
di wilayah UPT puskesmas Kedunggalar.
Pedoman internal ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan pedoman
ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang
telah berkontribusi dalam pembuatan pedoman internal Serveilans Acute Flaccid
Paralysis (AFP).
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik agar kami dapat
memperbaiki pedoman internal Serveilans Acute Flaccid Paralysis (AFP).
Akhir kata kami berharap semoga pedoman internal Serveilans Acute
Flaccid Paralysis (AFP) ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi.

Kedunggalar, Januari 2017

Penyusun

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................. 2


DAFTAR ISI ............................................................................................................ 3
BAB 1 ..................................................................................................................... 4
PENDAHULUAN .................................................................................................... 4
LATAR BELAKANG ................................................................................................... 4
TUJUAN ................................................................................................................. 4
DASAR HUKUM ....................................................................................................... 5
RUANG LINGKUP .................................................................................................... 5
BAB 2 ..................................................................................................................... 6
TUJUAN DAN KEGIATAN SURVEILANS AFP ..................................................... 6
TUJUAN SURVEILANS AFP ...................................................................................... 6
KEGIATAN SURVEILANS AFP ................................................................................... 6
BAB 3 ..................................................................................................................... 8
KONSEP DASAR PROGRAM SURVEILANS AFP ............................................... 8
DEFINISI ................................................................................................................ 8
KONSEP ................................................................................................................ 8
BAB 4 ..................................................................................................................... 9
PENGORGANISASIAN PROGRAM SURVEILANS AFP ...................................... 9
PERENCANAAN SURVEILANS AFP ............................................................................ 9
PELAKSANAAN SURVEILANS AFP............................................................................. 9
PELAPORAN ........................................................................................................... 9
INDIKATOR ........................................................................................................... 10
BAB 5 ................................................................................................................... 11
PEMANTAUAN DAN PENILAIAN ........................................................................ 11
BAB 6 ................................................................................................................... 12
PEMANGKU KEPENTINGAN .............................................................................. 12
BAB 7 ................................................................................................................... 13
PENUTUP ............................................................................................................. 13

3
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Polio merupakan salah satu dari beberapa penyakit yang dapat
dibasmi. Strategi untuk membasmi polio didasarkan atas pemikiran bahwa
virus polio akan mati bila ia disingkirkan dari tubuh manusia dengan
pemberian imunisasi.
Dengan upaya keras yang telah dilakukan, polio telah berhasil dibasmi
di 3 wilayah dari 6 wilayah dunia : benua Amerika (1998), Pasifik Barat (2000).
Diwilayah selebihnya : Asia Tenggara, Mediterania Timur dan Afrika, polio
sangat terfokus dan hanya terjadi di beberapa negara yang menjangkiti
bebrapa provinsi saja. Saat ini hanya ada 4 negara yang digolongkan sebagai
negara endemis polio : India, Pakistan, Afganistan dan Nigeria.
Sejalan dengan upaya global tersebut, untuk membebaskan Indonesia
dari polio, pemerintah melaksanakan program Eradikasi Polio (ERAPO). Yang
terdidi dari pemberian imunisasi polio secara rutin, pemberian imunisasi
tambahan ( PIN, Sub PIN, Mopping UP) pada anak balita, surveilans AFP dan
pengamanan virus polio di Laboratorium.
Setelah dilaksanakan PIN 3 tahun berturut turut pada tahun 1995,
1996 dan 1997, virus polio liar asli Indonesia tidak ditemukan lagi sejak tahun
1996. Namun pada tanggal 13 maret 2005 ditemukan kasus polio pertama di
Kecamatan Cidahu Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Ditemukanya virus liar
tersebut menunjukan salah satu peran surveilans AFP.
Kasus polio tersebut berkembang menjadi KLB, dimana pada kurun
waktu 2005 sampai awal 2006 kasus polio telah berjumlah 305 orangyang
tersebar di 10 provinsi dan 47 kabupaten/kota.
Sebagaimana kita ketahui, sebagian besar kasus poliomielitis bersifat
non paralitik atau tidak disertai manifestasi klinis yang jelas. Dalam surveilans
AFP, pengamatan difokuskan pada kasus poliomielitis yang mudah
diidentidfikasikan, yaitu poliomielitis paralitik.

B. Tujuan

1. Mengidentifikasi daerah resiko tinggi, untuk mendapatkan informasi


tentang adanya transmisi VPL, VDPV dan daerah dengan kinerja
surveilans AFP yang tidak memenuhi standar.

4
2. Memantau program eradikasi polio. Surveilans AFP memberikan informasi
dan rekomendasi kepada para pengambil keputusan dalam rangka
keberhasilan dalam program ERAPO.
3. Membuktikan Indonesia bebas polio

C. Dasar Hukum
1. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor :
483/MENKES/SK/IV/2007. Tentang Pedoman Serveilans Acute Flaccid
Paralysis (AFP).
2. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor :
1116/MENKES/SK/VIII/2003. Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem
Surveilans Epidemiologi
3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor :
949/MENKES/SK/VIII/2004. Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem
Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (KLB).

D. Ruang Lingkup
1. Satu kasus AFP marupakan suatu kejadian luar biasa (KLB).
2. Semua kasus yang terjadi pada tahun yang sedang berjalan harus
dilaporkan.
3. Laporan rutin liburan termasuk laporan nihil, memanfaatkan laporan
mingguan PWS-KLB (W2) untuk Puskesmas dan surveilans aktif rumah
sakit (FP-PD).
4. Mengintegrasikan laporan rutinbulanan dengan penyakit yang dapat
dicegah dengan imunisasi (PD3I).
5. Kasus AFP yang tidak bisa diklasifikasikan secara laboratoris dan atau
masih terdapat sisa kelumpuhan pada kunjungan ulang 60 hari, maka
klasifikasi final dilakukan oleh Kelompok Kerja Ahli Surveilens AFP/
Profinsi/ Nasional.

5
BAB 2
TUJUAN DAN KEGIATAN SURVEILANS AFP

A. Tujuan Surveilans AFP


1. Tujuan umum :
a. Mengidentifikasi daerah resiko tinggi, untuk mendapatkan informasi
tentang adanya transmisi VPL, VDPV dan daerah dengan kinerja
surveilans AFP yang tidak memenuhi standar.
b. Memantau program eradikasi polio. Surveilans AFP memberikan
informasi dan rekomendasi kepada para pengambil keputusan
dalam rangka keberhasilan dalam program ERAPO.
c. Membuktikan Indonesia bebas polio yaitu dibuktikan dengan tidak
ada lagi penyebaran virus polio liar maupun CVDPV di Indonesia
dan sistem surveilans terhadap polio mampu mendeteksi setiap
kasus polio paralitik yang mungkin terjadi.
2. Tujuan khusus :
a. Menemukan semua kasus AFP yang ada di suatu wilayah.
b. Melacak semua kasus AFP yang ditemukan disuatu wilayah.
c. Mengumpulkan dua spesimen semua kasus AFP sesegera mungkin
setelah kelumpuhan.
d. Memeriksa spesimen tinja semua kasus AFP yang ditemukan di
Laboratorium Polio Nasional.
e. Memeriksa spesimen kontak terhadap Hor Cace untuk mengetahui
adanya sirkulasi VPL.

B. Kegiatan Surveilans AFP


a. Penemuan Kasus
Surveilans AFP harus dapat menemukan semua kasus AFP dalam satu
wilayah diperkirakan minimal 2 kasus AFP diantara 100.000 penduduk
usia <15 tahun per tahun (Non polio AFP rate minimal 2/100.000 per
tahun).
Strategi penemuan AFP dapa dilakukan melalui:
1. Sistem surveilans aktif rumah sakit (hospital based surveillance=HBS)
2. Sistem surveilans masyarakat (community based surveillance=CBS)
b. Pelacakan Kasus AFP
Berdasarkan kriteria tersebut, maka setiap kasus AFP yang ditemukan
harus segera dilacak dan dilaporkan ke unit pelaporan yang lebih tinggi
selambat-lambatnya dalam waktu 24 jam setelah laporan diterima.

6
c. Pengumpulan Spesimen Kasus AFP
Spesimen yang diperlukan dari penderita AFP adalah tinja, namun tidak
semua kasus AFP yang dilacak harus dikumpulkan spesimen tinjanya.
Pengumpulan spesimen tinja tergantung dari lamanya kelumpuhan kasus
AFP.
d. HOT CASE
Pada KLB polio di Indonesia pada 2005 2006, transmisi virus polio liar
(VPL) tertinggi terjadi di bulan Mei Juni tahun 2005 dan tranmisi rendah
mulai bulan Oktober 2005. Pada transmisi VPL yang rendah perlu
peningkatan kewaspadaan kemungkinan masih berlangsungnya transmisi
VPL. Oleh karena itu terhadap kasus-kasus yang sangat menyerupai polio
yang ditemukan < 6 bulan sejak kelumpuhan dan spesimennya tidak
adekuat ( Hot Case) perlu dilakukan pengambilan sampel kontak. Hal ini
dilakukan untuk menghindari lolosnya VPL dan menjamin sensitivtas
sistem surveilans.

7
BAB 3
KONSEP DASAR PROGRAM SURVEILANS AFP

A. Definisi
Kasus AFP adalah semua anak berusia kurang dari 15 tahun dengan
kelumpuhan yang sifat flaccid (layuh), terjadi secara ankut (mendadak), bukan
disebabkan oleh ruda paksa.

Yang dimaksud kelumpuhan terjadi secara akut adalah perkembangan


kelumpuhan yang berlangsung cepat (rapid progressive) antara 1 14 hari
sejak terjadi gejala awal (rasa nyeri, kesemutan, rasa tebal/kebas) sampai
kelumpuhan maksimal.

Yang dimaksud kelumpuhan flaccid merupakan kelumpuhan bersifat


lunglai, lemas atau layuh bukan kaku, atau terjadi penurunan tonus otot.

B. Konsep
Upaya pemberantasan polio dilakukan melalui 4 strategi yaitu: imunisasi
rutin, imunisasi tambahan, surveilans AFP, dan pengamanan VPL di
laboratorium. Dengan intersifnya program imunisasi polio, maka kasus polio
makin jarang ditemukan. Berdasar rekomendasi WHO tahun dilakukan
kegiatan surveilans AFP yaitu menjaring semua kasus dengan gejala mirip
polio yaitu lumpuh layu mendadak (Acute Flaccid Paraysis/AFP), untuk
membuktikan masih terdapat kasus polio atau tidak populasi.

Survelans AFP adalah pengamatan yang dilakukan terhadap semua


kasus kelumpuhan yang sifatnya layuh (flaccid) seperti kelumpuhan pada
polimielitis dan terjadi pada anak berusia <15 tahun, dalam upaya untuk
menemukan adanya transmisi virus polio liar.

C. Sasaran
Anak usia kurang dari 15 tahun yang merupakan kelompok rentan
penyakit polio di wilayah UPT Puskesmas Kedunggalar.

8
BAB 4
PENGORGANISASIAN PROGRAM SURVEILANS AFP

A. Perencanaan Surveilans AFP


`Kebutuhan dana dan logistik untuk pelaksanaan kegiatan program
Surveilans AFP di wilayahan Puskesmas Kedunggalar dibuat dalam Rencana
Usulan Kegiatan (RUK), kemudian dihasilkan kesepakatan dalam Rencana
Pelaksanaan Kegiatan (RPK).

B. Pelaksanaan Surveilans AFP


Puskesmas berperan sebagai kooordinator surveilans AFP di
masyarakat dalam penemuan kasus AFP sedini mungkin di wilayah kerjanya
dengan tugas utama sebagai berikut :
1. Menemukan kasus dipelayanan kesehatan
2. Menemukan kasus dan menyebarluaskan informasi di masyarakat dan
pelayanan kesehatan dengan mengikutkan peran masyarakat.
3. Menyebarluaskan informasi di masyarakat mengenai :
a. Pengertian kasus AFP secara sederhana melaui poster, leaflet,
buku saku dan pertemuan.
b. Pengenalan kasus kelumpuhan dan cara menginformasikan ke
puskesmas maupun petugas kesehatan terdekat.
4. Melacak setiap kelumpuhan yang dilaporkan oleh masyarakat untuk
memastikan bahwa kelumpuhan tersebut AFP
5. Melaporkan setiap kasus AFP ke Dinas Kesehatan Kabupaten/kota
selambat-lambatnya dalam waktu 24 jam setelah ditemukan.
6. Bersama surveilans kabupaten/kota melakukan pelacakan di lapangan.
7. Mengamankan spesimen tinja penderita sebelum dikirim ke
kabupaten/kota
8. Setiap minggu mengirimkan laporan mingguan menggunakan formulir
PWS-KLB (W2) ke dinas kesehatan kabupaten/kota.

C. Pelaporan
Puskesmas melaporkan adanya kasus AFP ke Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota dalam 24 jam setelah kasus tersebut dikonfirmasikan secara
klinis. Laporan sapat disampaikan melalui formulir W1 atau telepon. Laporan
mingguan dilakukan melalui sistem pelaporan PWS KLB (W2) ada maupun
tidak ada kasus.

9
D. Indikator
Untuk mengukur sensitifitas penemuan kasus AFP, maka ditetapkan
indikator Non polio AFP rate 2 per 100.000 anak berusia kurang 15 tahun
pertahun dan spesimen adekuat 80 %. Kedua indikator ini lebih akurat untuk
mengukur kinerja surveilans AFP di daerah berpenduduk besar yaitu dengan
jumlah populasi anak usia kurang 15 tahun 50.000 orang, disamping indikator
pelaporan rutin termasuk zero reporting.

Dalam surveilans AFP berlaku pelaporan nihil (zero reporting) , yaitu


laporan harus dikirimkan dengan teratur dan tepat waktu pada saat yang telah
ditetapkan, walaupun tidak dijumpai kasus AFP selama periode waktu
tersebut . Laporan yang dikirim dalam keadaan tidak ada kasus tersebut
adalah dengan menuliskan jumlah kasus 0 (nol), tidak ada kasus, atau
kasus nihil. Zero reporting merupakan suatu pembuktian ada/tidaknya kasus
AFP di rumah sakit dan wilayah kerja puskesmas setelah dilakukan
pemantauan. Di daerah dengan populasi anak usia kurang 15 tahun < 50.000
orang, untuk mengukur sensitifitas penemuan kasus AFP dapat menggunakan
indikator zero reporting rumah sakit dan puskesmas.

10
BAB 5
PEMANTAUAN DAN PENILAIAN

Tujuan utama pemantauan AFP adalah untuk melihat apakah sistem yang
ada berjalan sesuai dengan yang diharapkan . pemantauan ini harus diikuti
dengan upaya mengidentifikasikan dan memecahkan masalah yang dihadapi bila
pelaksanaan surveilans AFP tidak sesuai dengan yang diharapkan. Penilaian
keberhasilan surveilans AFP dilakukan dengan menggunakan data pencatatan,
pelaporan, pengamatan khusus dan penelitian. Keberhasilan tersebut dapat dilihat
dari :
1. Berkurangnya jumlah penderita/tidak adanya penderita AFP di wilayah
UPT Puskesmas Kedunggalar.
2. Meningkatnya kesadaran masyarakat mengenai polio dan imunisasi polio.
3. Meningkatnya sosialisasi masyarakat mengenai AFP dan penangananya.
4. Berkembangnya jangkauan pelayanan kesehatan bagi penderita AFP.
5. Meningkatnya pengetahuan masyarakat atau keluarga tentang AFP.

11
BAB 6
PEMANGKU KEPENTINGAN

A. Tingkat Pusat
Umpan balik analisis surveilans AFP diterbitkan setiap bulan dalam
bentuk buletin data surveilans.
B. Tingkat Provinsi
Umpan balik absensi laporan mingguan dan analisis kinerja
surveilans AFP dikirim setiap 3 bulan ke seluruh dinas kesehatan
kabupaten/kota.
C. Tingkat Kabupaten/Kota
Umpan balik absensi laporan mingguan dan analisis kinerja
surveilans AFP dikirim setiap 3 bulan ke seluruh RS dan Puskesmas .
D. Tingkat Puskesmas
Puskesmas melaporkan adanya kasus AFP ke Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota dalam 24 jam setelah kasus tersebut dikonfirmasikan secara
klinis. Laporan sapat disampaikan melalui formulir W1 atau telepon. Laporan
mingguan dilakukan melalui sistem pelaporan PWS KLB (W2) ada maupun
tidak ada kasus.

12
BAB 7
PENUTUP

Program surveilans AFP merupakan program yang bertujuan mencegah


munculnya penderita untuk mencapai derajat kesehatan yang baik. Sedangkan
bagi keluarga dan masyarakat manfaat dari program ini adalah meningkatkan
kesadaran masyarakat mengenai cara mencegah dan menangani penderita AFP
dengan baik dan benar.
Banyak kendala yang dihadapi dalam program surveilans AFP, tetapi
kendala tersebut dapat diatasi dengan kerjasama dari semua pihak, yaitu
pemerintah pusat, pemerintah daerah, pemerintah kabupaten/kota, pihak swasta
dan seluruh elemen masyarakat. Akhir kata kami berharap semoga pedoman
internal surveilans AFP ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi.

13