Anda di halaman 1dari 27

66

BAB III
TUGAS KHUSUS

3.1 Judul
Evaluasi Kinerja Reboiler FLRS E-107 pada Unit RFCCU(Riser Fluid Catalytic
Cracking Unit) di PT. Pertamina RU III Plaju-Sungai Gerong.
3.2 Latar Belakang
Riser Fluidized Catalytic Cracking Unit (RFCCU) di Refinery Unit III Sungai
Gerong merupakan salah satu Secondary Processing Unit untuk mengolah
komponen crude menjadi produk produk turunannya yang mempunyai nilai
ekonomis tinggi. Fungsi RFCCU adalah merengkah fraksi berat yaitu gasoil dan
long residu menjadi minyak fraksi ringan dengan bantuan panas dan katalis,
katalis yang digunakan adalah Silika Alumina (Al2O3 SiO2). Feed dari unit
FCC adalah Bottom Product dari Crude Distiller (Long Residue) dan Medium
Product dari High Vacuum Unit/HVU yaitu (High/Medium Vacuum Gas Oil).
Reboiler merupakan peralatan perpindahan panas yang berfungsi untuk
mendidihkan kembali (reboil) atau menguapkan sebagian produk bottom dari
kolom distalasi sehingga fraksi-fraksi ringan yang terikut bottom produk dapat
diuapkan kembali. Biasanya alat ini dihubungkan dengan dasar kolom fraksinasi
atau stripper untuk melengkapi panas pendidihan yang diperlukan untuk distilasi.
Sebagai media pemanas dapat berupa steam yang berasal dari uitlitas. Fluida
panas berupa naphta digunakan pada Reboiler FLRS E-107 unit RFCCU yang
berasal dari bottom debutanizer T-102. Reboiler FLRS E-107 ini merupakan heat
exchanger yang mempunyai tipe Thermopishon reboiler berfungsi untuk
mempertahankan suhu bottom debutanizer yang berupa fase cair menjadi fase uap
agar fraksi ringan yang masih terikut dapat dipisahkan sempurna dengan
memanfaatkan fluida panas berupa Middle Pump Around (MPA). Untuk
mengetahui kinerja dari reboiler tersebut, perlu dilakukan perhitungan secara
actual pada kondisi operasi saat ini. Kemudian dilakukan perhitungan secara
67

actual pada kondisi operasi saat ini. Kemudian dilakukan optimasi untuk
meningkatkan efisiensi dari reboiler FLRS E-107.

3.3 Tujuan
Adapun tujuan dari tugas khusus ini adalah:
1) Untuk menghitung efisiensi dari reboiler FLRS E-107.
2) Menentukan kinerja alat reboiler FLRS E-107 dengan melihat perbandingan
pressure drop pada shell maupun tube secara actual dengan pressure drop
desain.

3.4 Manfaat
Adapun manfaat dari tugas khusus ini adalah:
1) Memberikan informasi serta masukan kepada industri menegenai kondisi
operasi kinerja alat reboiler FLRS E-107 di butanizer pada unit RFCCU
kilang CD-L di PT. Pertamina (Persero) RU-III.
2) Mengaplikasikan ilmu yang didapat selama proses pembelajaran di bangku
kuliah dalam skala industri, khususnya di PT.Pertamina (Persero) RU-III
kilang CD-L.
3) Menjadi referensi sebagai sumber pengetahuan untuk mengetahui prinsip
kerja reboiler FLRS E-107 di botanizer.
4) Menambah pengetahuan pembaca menegenai perhitungan evaluasi kinerja alat
reboiler FLRS E-107 di botanizer.

3.5 Perumusan Masalah


Adapun perumusan masalah dari tugas khusus ini adalah:
1) Bagaimana cara menghitung efisiensi dari reboiler FLRS E-107 di botanizer?
2) Bagaimana pengaruh kondisi actual penurunan tekanan (pressure drop)dari
reboiler FLRS E-107.
68

3.6 Tinjauan Pustaka


1.6.1. Pengertian Reboiler
Reboiler merupakan peralatan perpindahan panas yang berfungsi untuk
mendidihkan kembali (reboil) atau menguapkan sebagian produk bottom dari kolom
distalasi sehingga fraksi-fraksi ringan yang terikut bottom produk dapat diuapkan
kembali. Biasanya alat ini dihubungkan dengan dasar kolom fraksinasi atau stripper
untuk melengkapi panas pendidihan yang diperlukan untuk distilasi. Sebagai media
pemanas dapat berupa steam yang berasal dari uitlitas. Fluida panas berupa steam
digunakan pada Reboiler LS E6 Depropanizer Unit Stabilizer III yang menjadi
bahan evaluasi pada Tugas Akhir ini.

Reboiler dapat berupa heat exchanger atau peralatan lainnya dengan tujuan
untuk melengkapi kebutuhan panas pendidihan sebelum diteruskan ke kolom.
Reboiler yang berupa shell and tube exchanger terdiri dari selongsong (shell) dan
saluran-salluran kecil yang menyerupai pipa (tube) yang tersusun di dalam
selongsong. Baik shell maupun tube merupakan tempat mengalirkan media pemanas
ataupun fluida dingin. Ada 2 jenis aliran yang dijumpai pada heat exchanger, yaitu
aliran searah (co-current) dan aliran berlawanan arah (counter current). Jenis aliran
yang sering dipakai di industri adalah aliran berlawanan arah.

Gambar 9. Reboiler berupa Shell and Tube Exchanger

Aliran Berlawanan Arah


69

Tipe reboiler dapat diklasifikasikan berdasarkan sirkulasi dan posisi reboiler.


Aliran reboiler dapat disirkulasikan secara alami dengan head yang cukup. Aliran
Forced Circulation dilakukan dengan memakai pompa sebagai alat pensirkulasi.
Posisi reboilerpun dapat diletakkan secara horizontal ataupun vertikal.

3.2 Klasifikasi Reboiler


Dari cara sirkulasi cairan sari reboiler dan kembali lagi ke reboiler maka alat
ini dibagi menjadi dua bagian,yaitu :
1. Termocyphon Reboiler/Natural Circulation Reboiler
2.Forced Circulation Reboiler

3.2.1. Thermosiphon Reboiler

Thermosiphon reboiler adalah salah satu alat penukar kalor. Alat penukar
kalor adalah perpindahan panas dari suatu fluida yang temperaturnya lebih tinggi
kepada fluida lain yang temperaturnya lebih rendah. Proses perpindahan panas
tersebut dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung, yakni : (Subagjo,
1991)

a. Pada alat penukar kalor yang langsung, fluida yang panas akan bercampur secara
langsung dengan fluida dingin (tanpa adanya pemisah) dalam suatu bejana atau
ruangan tertentu.
b. Pada alat penukar kalor yang tidak langsung, fluida panas tidak berhubungan
langsung dengan fluida dingin. Jadi proses perpindahan panas itu mempunyai
media perantara, seperti pipa, pelat atau peralatan jenis lainnnya.
Aliran yang terjadi pada thermosiphon reboiler berlangsung tanpa adanya
bantuan dari pompa melainkan terjadi secara alami akibat perbedaan suhu pada inlet
dan outlet. Seperti yang tampak pada Gambar 10, thermosiphon reboiler terhubung
secara langsung dengan kolom fraksinasi. Propan dan propilen dalam kondisi cair
mengalir melalui shell inlet, kemudian dipanaskan dengan bantuan steam yang
70

mengalir melalui tube. Propan dan propilen yang berubah fase menjadi uap mengalir
melalui shell outlet menuju kolom fraksinasi.

Gambar 10. Thermosiphone Reboiler

3.2.2.Forced Circulation Reboiler


Forced Circulation Reboiler adalah salah satu jenis Reboiler di mana fluida
yang di handle dipompkan melewati reboiler dan uap yang terbentuk dipanaskan di
dalam kolom. Pada Forced Circulation Reboiler cairan mengalir dari reboiler dan
kembali reboiler karena bantuan pompa.
Seperti pada pump through exchanger dan furnace reboiler, Forced
Circulation reboiler cocok untuk digunakan untuk menghandle prose dengan fluida
yang kental (viskos) dan proses yang dapat menyebabkan fouling, juga untuk tekanan
operasi vaccum dengan kecepatan penguapan
Forced circulation reboiler biasanya cocok digunakan menghandle fluida proses yang
memiliki viskositas yang tinggi dan fouling factor. Reboiler jenis adalah kita
membutuhkan pompa untuk proses laju penguapan rendah. Kerugian menggunakan
reboiler jenis adalah kita membutuhkan pompa untuk mentrkulasikan fluida ke
71

reboiler dan biaya instalasi pipa yang dibutuhkan sangat tinggi. Sedangkan bahaya
yang mungkin timbul dari penggunan jenis reboiler.ini adalah keretakan pada seal
pompa yang di akinatkan oleh fluida proses panas yang melalui pompa saat fluida
tersebut digunakan ke reboiler.namun hal ini dapat ditanggulangi dengan mengganti
jenis pompa yang sesuai dengan lingkungan tersebut jenis Cned Rotor Pommp.
Pompa jenis ini dapat memperkecil resiko kebocoran pada scal pompa.

3.3 Dasar-dasar pemilihan reboiler


Ada beberapa faktor yang mempengaruhi atau menjadi dasar penentuan jenis
reboiler yang paling tepat untuk digunakan dalam suatu proses tertentu. Faktor-faktor
tersebut antara lain :
1. Sumber fluida
Sumber fluida sangat berpengaruh pada pemilihan jenis reboiler yang
sesuai untuk proses tersebut. Seperti tingkat kekentalam, fouling factor
dan lain-lain
2. Tekanan operasi
Tekanan operasi sangat berpengaruh dalam pemilihan jenis reboiler yang
akan digunakan dalam proses tertentu. Jenis reboiler akan berbeda untuk
proses bertekanan tinggi, rendah atau vakum
3. Susunan peralatan
Susunan atau rangkaian reboiler pada kolom distalasi dapat menentukan
dalam pemilihan jenis reboiler yang sesuai untuk suatu proses.

1.4. Komponen-komponen Utama Shell and Tube Heat Exchanger


1. Shell
Komponen alat yang merupakan cangkang atau pembungkus berkas
pembuluh, dimana salah satu fluida mengalir masuk dan keluar.

2. Tube
72

Komponen alat yang dialiri fluida lainnya, yang dindingnya merupakan lintas
pertukaran panas. Berkas tube, dirangkum oleh tube sheet, dan tersusun dalam pola
segitiga (triangular), pola bujur sangkar (square) atau pola diagonal (diagonal
square).

3. Baffle
Komponen ini merupakan lempengan logam yang dipasang tegak lurus poros
shell dan berfungsi mengatur pola aliran fluida dalam shell, dengan tujuan untuk
memperbaiki kontak antara fluida dalam shell dengan tube nya, sehingga pertukaran
panas dapat berlangsung lebih sempurna. Selain itu, buffle juga berfungsi menunjang
tube supaya tidak melengkung, menahan getaran karena aliran fluida dan menjaga
jarak diantara tube.

4. Channel
Komponen alat ini berfungsi untuk membalikan arah aliran fluida dalam tube
pada jenis fixed tube exchanger. Pada konstruksi lain disebut juga channel cover,
shell cover dan head cover.
5. Nozzle
Komponen alat ini merupakan saluran masuk dan keluar fluida kedalam shell
dan kedalam tube.

3.5 Pengertian Perpindahan Panas

Proses perpindahan panas yang terjadi pada suatu fluida proses merupakan
bagian terpenting dalam proses industri kimia. Mekanisme perpindahan panas ini
disebabkan beda temperature antara fluida yang satu dengan fluida yang lain, baik
perpindahannya secara konduksi, konveksi maupun radiasi. Sifat perpindahan panas
adalah bila dua buah benda mempunyai suhu yang berbeda mengalami kontak baik
secara langsung maupun tidak langsung, maka panas akan mengalir dari benda yang
suhunya lebih tinggi ke benda yang suhunya lebih rendah.
73

3.5.1 Macam macam proses perpindahan panas

Proses perpindahan panas yang terjadi di dalam proses-proses kimia dapat


berlangsung dengan tiga cara yaitu :

a. Perpindahan Panas Secara Konduksi

Perpindahan panas secara konduksi adalah perpindahan panas antara molekul-


molekul yang saling berdekatan antara satu sama lain dan tidak diikuti oleh
perpindahan molekul-molekul secara fisis. Perpindahan secara konduksi ini dapat
berlangsung pada benda padat. Contoh perpindahan panas secara konduksi adalah
perpindahan panas dalam zat padat yang tidak tembus cahaya, seperti dinding bata
pada tungku atau dinding logam pada tabung.

b. Perpindahan Panas secara Konveksi


Perpindahan panas secara konveksi adalah perpindahan panas yang terjadi
dari suatu tempat ke tempat lain dengan gerakan partikel secara fisis. Perpindahan
panas secara konveksi menurut terjadinya ada dua macam, yaitu:

1. Konveksi bebas natural convection

Adalah proses perpindahan panas yang berlangsung secara alamiah, dimana


perpindahan panas molekul-molekul dalam zat yang dipanaskan terjadi dengan
sendirinya tanpa adanya tenaga dari luar.

2. Konveksi paksa forced convection

Adalah proses perpindahan panas yang terjadi karena adanya tenaga dari luar,
misalnya pengadukan. Jika dalam suatu alat dikehendaki pertukaran panas, maka
perpindahan panas terjadi secara konveksi paksa karena laju panas yang dipindahkan
naik dengan adanya aliran atau pengadukan.
74

c. Perpindahan Panas secara Radiasi

Radiasi adalah istilah yang digunakan untuk perpindahan energi panas melalui
ruang oleh gelombang elektromagnetik. Perambatan gelombang elektromagnetik
dapat berlangsung baik dalam suatu medium maupun dalam ruang hampa (vacuum).

Jika radiasi berlangsung melalui ruang hampa, maka partikel partikel tidak
ditransformasikan menjadi kalor atau bentuk lain dari energi, dan tidak pula terbelok
dari lintasannya. Tetapi sebaliknya, apabila terdapat zat pada lintasannya, maka
radiasi akan terjadi transmisi, refleksi, dan absorpsi

Berikut ini adalah gambar beberapa tipe reboiler : (Ibnu Dwinanto, 2009)

Gambar 11. Beberapa Tipe Reboiler


75

3.5.2 Jenis jenis heat exchanger berdasarkan bentuknya

Heat Exchanger dapat dikelompokkan menjadi beberapa macam berdasarkan


bentuknya, yaitu :

1. Double Pipe Exchanger

Merupakan jenis yang paling sederhana yang hanya terdiri atas pipa besar dan
pipa kecil yang disusun secara konsentris. Digunakan untuk mendinginkan atau
memanaskan fluida proses.

2. Shell and Tube Exchanger

Merupakan heat exchanger yang terdiri atas suatu pipa besar yang berisi
sejumlah tube yang lebih kecil. Jenis ini dapat digunakan untuk mendinginkan atau
memanaskan fluida proses.

3. Plate and Frame Exchanger

Heat Exchanger ini terdiri atas plate plate yang dipasang sebagai penyekat
antara fluida dingin dan fluida panas.

4. Box Cooler

Merupakan salah satu jenis heat exchanger yang bentuknya seperti bak atau
kotak , digunakan untuk mendinginkan liquid yang panas dengan menyerahkan
panasnya pada air yang berada di dalam bak.

3.5.3 Kategori penukar panas berdasarkan penggunaannya


76

Berdasarkan jenis penggunaannya alat penukar panas dapat dikategorikan


sebagai berikut :

1. Preheater

Alat ini digunakan untuk mentransfer panas dari fluida yang masih bersuhu
tinggi ke fluida yang bersuhu rendah yang bertujuan untuk dimanfaatkan oleh fluida
yangbersuhu rendah sebelum masuk ke furnace, yang mnan bertujuan agar kerja
furnace lebih ringan.

2. Condensor

Alat ini digunakan untuk menurunkan suhu dari uap atau vapour sampai
mencapai titk pengembunan atau kondensasi ke suhu cair, dengan mentransfer
panasnya ke fluida lain, biasanya air, dapat air tawar ataupun air laut.

3. Reboiler

Alat ini digunakan untuk memproduksi uap dari liquid, dimana liquid tersebut
dipanaskan dengan melewatkan uap air yang ada pada tube bundle.yang mana media
pemanas biasa digunakan adalah steam. Perpidahan panas yang terjadi juga disertai
perubahan fase, tetapi dari bentuk liquid menjadi vapour dengan sumber panas dari
fluida proses maupun sistem.

4. Cooler

Alat ini digunakan untuk mendinginkan liquid yang panas sampai mencapai
suhu tertentu yang dikehendaki. Peristiwa perpindahan panas yang terjadi tanpa
perubahan fasa.

5. Chiller

Alat ini digunakan untuk mendinginkan fluida pada suhu yang lebih rendah.
Dimana media pendingin biasanya dapat digunakan berupa air, propane, freon,
ataupun ammonia.
77

6. Evaporator

Alat ini digunakan untuk menguapkan fluida cair dengan menggunakan suatu
media pemanas (steam) atau media pemanas lainnya.

7. Cooling tower

Alat ini digunakan untuk mendinginkan fluida dengan menggunakan


hembusan udara.

8. Furnace

Alat ini digunakan bertujuan untuk menaikan suhu feed sampai temperatur
tertentu sebelum diproses dikolom CDU, HVU, dan RFFU.

3.6 Tipe Penukar Panas

- Direct
Pada peralatan tipe direct, kedua fluida yang akan dipertukarkan panasnya
bercampur menjadi satu.

- Indirect
Pada peralatan tipe indirect, kedua fluida yang akan dipertukarkan panasnya
tidak bersentuhan langsung sehingga perpindahan panasnya terjadi melalui dinding
pemisah.

3.7 Klasifikasi Heat Exchanger Berdasarkan Bentuk

Double Pipe Exchanger


Heat Exchanger ini adalah jenis yang paling sederhana yang hanya terdiri atas
pipa besar dan kecil yang disusun secara konsentris. Jenis ini biasanya digunakan
untuk mendinginkan atau memanaskan fluida proses.
78

Shell and Tube Exchanger


Merupakan Heat Exchanger yang terdiri dari suatu pipa besar yang berisi
sejumlah tube yang lebih kecil. Jenis ini dapat dugunakan untuk mendinginkan atau
memanaskan fluida proses.

Flate and Fram Exchanger


Merupakan Heat Exchanger yang terdiri atas plate-plate yang dipasang
sebagai penyekat antara fluida dingin dan ffluida panas.

Air Cooled Exchanger


Alat ini digunakan untuk mendinginkan suatu cairan dengan udara sebagai
fluida pendinginnya. Cairan disalurkan kedalam pipa dan udara dialirkan kebagian
luar pipa tersebut.

Box Cooler
Merupakan alat pendingin yang terdiri dari suatu coil pipa yang direndam
dalam sebuah tangki terbuka ( segi empat ).

3.8 Jenis-jenis Aliran

Berdasarkan konfigurasi arah aliran, maka alat penukar panas dapat


dikategorikan pada tiga jenis konfigurasi aliran yaitu :

1. Aliran Sejajar (Co current flow)


Kedua jenis fluida masuk dari satu sisi secara bersamaan, mengalir pada arah
yang sama dan keluar dari sisi lainnya yang sama.
79

Gambar 12. Co Current flow

2. Aliran berlawanan arah (Counter current flow)


Dua jenis fluida masuk dari arah yang berlawanan dan keluar dari sisi yang
berlawanan pula.

Gambar 13. Counter current flow

3. Aliran kombinasi (gabungan)


Satu fluida masuk dari satu sisi kemudian berbagi arah ke arah sisi masuk,
sedangkan fluida lainnya masuk dan keluar dari sisi yang berlainan.
80

Gambar 14. Aliran kombinasi

Shell dan Tube Exchanger sejauh ini paling umum digunakan untuk proses
perpindahan panas di industri kimia. Keuntungan yang diperoleh dari heat exchanger
jenis ini adalah :

- Konfigurasinya memberikan luas permukaan yang besar dengan volume


yang kecil
- Secara mekanis, bentuknya cocok untuk proses bertekanan
- Teknik pembuatannya lebih mudah
- Lebih mudah dibersihkan
- Prosedur perancangannya mudah
- Dapat digunakan untuk berbagai jenis bahan proses
- Dapat dibuat dari berbagai jenis bahan
-
3.9 Fouling factor (Rd)
Fouling factor adalah suatu angka yang menunjukkan hambatan akibat adanya
kotoran yang terbawa oleh fluida yang mengalir dalam heat exchanger, yang melapisi
bagian dalam dan luar tube. Fouling factor sangat berpengaruh terhadap proses
perpindahan panas, karena pergerakannya terhambat oleh deposit. Fouling factor
ditentukan berdasarkan harga koefisien perpindahan panas menyeluruh untuk kondisi
bersih maupun kotor pada alat penukar panas yang digunakan.Nilai fouling factor
81

didapat dari perhitungan dan desain yang dapat dilihat dari Tabel 12 Kern. Apabila
nilai fouling factor hasil perhitungan lebih besar dari nilai fouling factor desain maka
perpindahan panas yang terjadi di dalam alat tidak memenuhi kebutuhan prosesnya
dan harus segera dibersihkan. Nilai fouling factor dijaga agar tidak melebihi nilai
fouling factor desainnya agar alat heat exchanger dapat mentransfer panas lebih besar
untuk keperluan prosesnya. Perhitungan fouling factor berguna dalam mengetahui
apakah terdapat kotoran di dalam alat dan kapan harus dilakukan pencucian.

Fouling dapat terjadi dikarenakan adanya :


1. Pengotor berat / Hard Deposit, yaitu kerak keras yang berasal dari hasil korosi
atau coke keras.
2. Pengotor berpori / Porous Deposit, yaitu kerak lunak yang berasal dari
dekomposisi kerak keras.
3. Loss deposit, yaitu berasal dari deposit, seperti lumpur dan materi lunak.

Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya fouling pada alat heat


exchanger adalah :
1. Kecepatan aliran fluida
2. Temperatur fluida
3. Temperatur permukaan dinding tube
4. Fluida yang mengalir di dalam dinding tube
Pencegahan fouling dapat dilakukan dengan tindakan tindakan sebagai
berikut :
1. Mengatur kecepatan fluida agar dapat berada pada aliran turbulen.
2. Menekan potensi fouling, misalnya dengan melakukan penyaringan.
3. Mengatur temperatur fluida.
82

3.10 Pressure Drop

Pressure drop merupakan penurunan tekanan yang terjadi pad tube dan shell.
Pressure drop sangat penting pada alat penukar panas (Reboiler) karena berhubungan
dengan erat pada laju alir fluida dingin maupun fluida panas. Semakin tinggi Pressure
Drop mengindikasikan banyak terjadinya fouling dan hal ini membuat laju alir fluida
yang mengalir pada tube atau shell akan menurun dari kondisi desain. Dengan
menurunnya laju alir fluida pada Reboiler memerlukan lebih banyak pompa untuk
meningkatkan flow ratenya, hal ini sangat tidak diinginkan dari segi ekonomi.

3.7 Metode Pengambilan Data


Beberapa metode yang kami gunakan untuk mengumpulkan semua data yang
dibutuhkan dalam penyusunan laporan kerja praktek dn penyelesaian tugas
khusus ini adalah :
1) Study Literatur
Metode ini dilakukan dengan cara membaca buku-buku pegangan yang ada,
seperti buku laporan kerja praktek sebelum penulis.
2) Metode Interview
Metode ini dilakukan dengan cara bertanya langsung dengan karyawan-
karyawan yang telah berpengalaman dibidangnya untuk membahas
permasalahan dalam laporan kerja praktek ini.
3) Metode Referensi
Metode ini dilakukan dengan cara mencari data-data lain yang diperlukan
untuk menyelesaikan laporan kerja praktek ini keperpustakaan atau buku-buku
yang berhubungan.
4) Metode Observasi
Onservasi dilakukan untuk mengetahui kondisi dilapangan. Selanjutnya,
dilakukan pengamatan langsung dan pengambilan data lapangan yang
kemudian diolah dan dicari hubungannya dengan perhitungan peforma
reboiler FLRS E-107.
83

3.8 Metode Perhitungan

Evaluasi Kinerja alat perpindahan panas dapat dilakukan dengan menghitung


fouling factor aktual dan pressure drop aktual untuk dapat mengetahui alat
perpindahan panas masih layak beroperasi atau sudah harus dilakukan pembersihan.

Data operasi yang di butuhkan berupa :

a. Laju alir fluida panas (Overhead Debutanizer) dan laju alir fluida dingin
(Cooling Water)
b. Temperatur fluida panas (T1) dan suhu keluar fluida panas (T2)
c. Suhu masuk fluida dingin (t1) dan suhu keluar fluida dingin (t2)

Dasar desain yang di butuhkan :

a. Lewatan shell and tube


b. Spesifikasi tube meliputi outside diameter, BWG, Panjang tube, Jarak tube, dan
jumlah tube.
c. Spesifikasi shell meliputi insiden diameter, jarak antar buffle dan jumlah buffle.
Data yang di peroleh dilakukan pengolahan data melalui perhitungan dengan
menggunakan menggunakan beberapa referensi terutama buku Process Heat Transfer
oleh D.Q. Kern :

3.8.1 Perhitungan Neraca Panas (Heat Balance)


Untuk mengetahui besar panas yang di transfer dari fluida panas ke fluida
dingin pada reboiler, dapat dihitung dengan cara sebagai berikut :
Q = mCp (T1-T2) . .. (4.1)

Rumus untuk fluida dingin :

Q = mCp (t2-t1) ... (4.2)

di mana :
84

Q = Jumlah panas yang di pindahkan (Btu/hr)


m = Aliran zat (lb/hr)
Cp = Spesific heat (Btu/lb of)

T = Suhu fluida panas (of)

t = Suhu fluida dingin (of)

3.8.2 Log Mean Teamperature Different (LMTD)


( ) ( )
( ) ... (4.3)
( )

(Sumber ; D.Q Kern., Process Heat Transfer, Hal 89. Eq ; 5.14)

di mana : LMTD = Log Mean Temperature Different

T1 = Temperatur fluida panas masuk (of)

T2 = Temperatur fluida panas keluar (of)

t1 = Temperatur fluida dingin masuk (of)

t2 = Temperatur fluida dingin keluar (of)

3.8.3 Menghitung Faktor Koreksi dengan Menghitung R dan S


Suatu koreksi LMTD dinyatakan dengan faktor koreksi (Ft), oleh sebab itu
untuk tujuan tersebut di butuhkan besaran R dan S. S menyatakan efisiensi
temperatur dan R merupakan pembanding daya tampung kalor fluida dingin
dan fluida panas.
... (4.4)

(Sumber ; Tunggul M Sitompul, Alat Penukar Kalor, Hal 207. Eq 9,2)

... (4.5)

(Sumber ; Tunggul M Sitompul, Alat Penukar Panas, Hal 208. Eq 9.4)


85

Dengan besaran R dan S tersebut di dapat Ft menggunakan kurva pada


Fig.18 Kern sehingga didapat :

... (4.6)

(Sumber ; Tunggul M Sitompul, Alat Penukar Panas, Hal 207. Eq 9.2)

3.8.4 Perhitungan Temperatur Colorific (Tc dan tc)


Dari fig. 17 Kern, didapat harga Kc dan Fc dengan perbandingan

... (4.7)

(Sumber ; D.Q. Kern, Process Heat Transfer, Hal 827. Fig ; 827)

Temperatur rata rata fluida (Tc dan tc) yang terlibat dalam pertukaran panas.

( )... (4.8)

(Sumber ; D.Q. Kern, Process Heat Transfer, Hal 96. Eq ; 5.28)

( )... (4.9)

(Sumber ; D.Q. Kern, Process Heat Transfer, Hal 96. Eq ; 5.28)

3.8.5 Perhitungan Flow Area


Flow area merupakan luas penampang yang tegak lurus arah aliran
a. Tube side
... (4.10)

(Sumber ; D.Q. Kern, Process Heat Transfer, Hal 150. Eq ; 7.48)


di mana : N1 = Jumlah Tube
at = Internal area (Table 10 kern)
n = Jumlah Tube Passes
b. Shell side
... (4.11)
86

(Sumber ; D.Q.Kern, Process Heat Transfer, Hal 138. Eq ; 7.1)


di mana : ID = Inside diameter (in)
C = Jarak antara Tube (in)
B = Jarak baffle (in)
C = Tube Pitch (in)
3.8.6 Perhitungan Mass Velocity
Kecepatan massa merupakan perbandingan laju alir dengan Low area
a. Tube Side
(4.12)

(Sumber ; D.Q.Kern, Process Heat Transfer, Hal 138. Eq ; 7.2)


di mana : W = laju alir fluida panas (lb/hr)
b. Shell side
... (4.13)

(Sumber ; D.Q.Kern, Process Heat Transfer, Hal 138. Eq ; 7.2)


di mana : W = laju alir fluida dingin (lb/hr)

3.8.7 Perhitungan reynold number


a. Tube Side
... (4.14)

(Sumber ; Tunggul M Sitompul, Alat Penukar Kalor, Hal 208. Eq ; 9.11)


di mana : D = Inside diameter (Ft) (tabel 10 kern)
Gt = Mass velocity (lb/hr ft2)
= Viskositas fluida pada suhu Tc
b. Shell side
... (4.15)

(Sumber ; Tunggul M Sitompul, Alat Penukar Kalor, Hal 208. Eq ; 9.11)


di mana : De= Equivalent diameter (ft) (fig.28 Kern)
Gs = Mass velocity (lb/hr ft2)
87

= Viskositas fluida pada suhu tc


3.8.8 Perhitungan Heat Transfer Factor (JH)
a. Tube side
Nilai Jb untuk sisi Tube dapat diketahui dari fig. 24 D.Q. Kern
b. Shell side
Nilai Jb untuk sisi Tube dapat diketahui dari Fig. 28 D.Q. Kern
3.8.9 Menentukan Thermal Function
Pada tiap suhu, yaitu Tc (Hot fluida) untuk Tube dan Tc (Cold fluid) untuk
Shell di peroleh masing - masing nilai c, (viscosity) dan K (konduktivitas
Termal) (fig. 16 Kern).

( ) ... (4.16)

(Sumber ; D.Q. Kern, Process Heat Transfer, Hal 826, Fig ; 16)

Di mana : C = Panas Spesifik (Btu/lbof)

K = konduktivitas Termal (Btu/hr.ftof)

3.8.10 Menentukan Nilai Outside Film Coefficient (ho) dan Inside Film
Coefficient (hi)
a. Tube Side

( ) ... (4.17)

(Sumber ; D.Q.Kern, Process Heat Transfer, Hal 111, Eq ; 6.15a)


... (4.18)

(Sumber ; D.Q.Kern, Process Heat Transfer, Hal 105, Eq ; 6.5)

b. Shell side

( ) ... (4.19)
88

(Sumber ; D.Q.Kern, Process Heat Transfer, Hal 112, Eq ; 6.15b)


di mana : C = Outside film coefficient (Btu/hr.ft of)
hi = Inside film coefficient (Btu/hr.ft of)
3.8.11 Perhitungan Clean Overall Coefficient, Uc
Uc merupakan heat transfer coefficient jika tidak terjadi fouling / kerak.

... (4.20)

(Sumber ; D.Q. Kern. Process Heat Transfer, Hal. 121. Eq ; 6.38)

di mana : Uc = Overall heat transfer coefficient (Btu/hr. Ft2 oF)

3.8.12 Perhitungan dirty overall coefficient, UD


UD merupakan overall heat transfer coefficient jika terjadi fouling / kerak

... (4.21)

(Sumber ; D.Q. Kern, Process Heat Transfer, Hal. 150)

di mana : A = Heat transfer surface (ft2)

Nr = Jumlah Tube

a = luas area (ft2/in ft), Tabel 10 Kern

L = Panjang Tube

Maka : ... (4.22)

(Sumber ; D.Q. Kern, Process Heat Transfer, Hal 86 ; Eq :5.3)

di mana : Up = Overall heat transfer coefficient (Btu/hr. ft2of)


89

3.8.13 Perhitungan Dirt Factor, Rd

... (4.23)

(Sumber ; D.Q. Kern, Process Heat Transfer, Hal 105 ; Eq :6.13)

di mana : Rd = Fouling Factor (hr.ft2.oF/Btu)

3.8.14 Perhitungan Pressure drop


a. Tube Side

... (4.24)

(Sumber ; D.Q. Kern, Process Heat Transfer, Hal 148 ; Eq :7.45)


di mana : Pt = Pressure drop pada tube (psi)
f = Friction factor Tube (ft2/in2) (fig.29)
Gt = Mass velocity (lb/hr.ft2)
s = Spec. Gravity
D = insiden diameter (ft)
n = jumlah pas Tube

Mengingat bahwa fluida itu mengalami belokan pada saat pas nya, maka akan
terdapat kerugian tambahan penurunan tekanan.

... (4.25)

(Sumber ; D.Q. Kern, Process Heat Transfer, Hal 148 ; Eq : 7.46)

di mana : Pr = return pressure drop (psi)

n = number of tube passes

s = Spec. Gravity

v = Velocity (fps)

Total pressure drop pada tube


90

... (4.26)

(Sumber ; D.Q. Kern, Process Heat Transfer, Hal 148 ; Eq : 7.47)

b. Shell Side
( )
... (4.27)

(Sumber ; D.Q. Kern, Process Heat Transfer, Hal 147 ; Eq : 7.46)


di mana : Ps = total pressure drop pada shell (psi)
F = Friction Factor Shell (ft2/in2)
Gs = Mass velocity (lb/hr.Ft2)
s = Spec. Gravity
N+1 = Jumlah lintasan aliran melalui baffle

3.8.15 Penentuan % Effisiensi


91

3.9 Hasil dan Pembahasan


3.9.1 Hasil Pengolahan Data
Reboiler FLRS E-107

Aktual
Perhitungan Desain
Tube Shell
LMTD 123,63 F 158 F
Flow Area 0,1846 ft2 0,4012 ft2 -
Mass Velocity 1106791,035 lb/hr 288824,5887 -
ft2 lb/hr ft2
Reynold Number -
93185,4022 59814,9124

Heat Transfer 160 170 -


Temperatur wall 395,4788 F -
Uc 148,2726 Btu/hr ft2 F -
Ud 45,4568 Btu/hr ft2 F -
Fouling Factor 0,0001663 hr ft2 C/Kcal 0,0002 hr ft2 C/Kcal
Prssure Drop 0,028 0,99
2 -6 2
0,00012060 kg/m 4,5310 kg/m kg/m2 kg/m2

Effisiensi 69,82% 75 %

3.9.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil perhiyungan FLRS E-107 dengan metode Kern,
maka diperoleh bebrapa nilai yang berkaitan dengan kinerja Heat
Exchanger FLRS E-107 seperti: Heat Loss, Fouling Factor, Over all Heat
Coefficient, Pressure Drop dan Effisiensi. Heat Exchanger FLRS E-107
pada RFCCU berfungsi untuk memanaskan produk botton dan T20
dengan media pemanas berupa MPAdan zat yang dipanaskan berupa
komponen naptha degan tujuan agar fraksi ringan yang masih terkandung
dalam produk bottom dapat teruapkan dan naikkeatas dan menjadi top
92

produk dari T20. Sehinga bottom produk yang dihasilkan dari T20 tidak
mengandung fraksi ringan lagi.
Fouling factor adalah angka yang menunjukan hambatan akibat
adanya kotoran yang terbawa oleh fluida yang mengalir dalam reboiler,
yang melapisi bagian dalam dan luar tube. Nilai fouling factor yang besar
akan menghambat proses perpindahan panas. Dari perhitungan terlihat
besar nilai fouling factor yang didapat sebesar 0,0001663 hr ft2 C/Kcal
berada dibawah data desain yaitu sebesar 0,0002 hr ft2 C/Kcal. Dengan
ini kita ketahui bahwa tidak ada hambatan yang begitu berpengaruh yang
diakibatkan kotoran fluida (coke) yang hanya ada sedikit, panas ynag
terserap tidak akan terhalang oleh kotoran.
Terjadinya perbedaan hasil perhitungan fouling factor secara actual
dan desain diakibatkan oleh beberapa factor yaitu: kecepatan aliran
fluidayang laminar, perbedaan temperature fluida yang jauh, temperature
permukaan dinding tube yang tinggi. Berdasarkan data pengamatan dan
perhitungan data actual pressure drop untuk shell dan tube masih berada
dibawah data design. Baik shell maupun tube memiliki ambang batas
masing-masing yaitu 0,99 kg/m2 dan 0,028 kg/m2 .
Pressure drop dipengaruhi oleh fouling factor dan laju alir fluida yang
terdapat pada reboiler. Penurunan tekan baik di shell maupun tube
biasanya diharapkan tidak melebihi batas pressure drop yang diizinkan.
Karena jika melebihi batas yang diizinkan, maka dapat menimbulkan
erosi baik di shell maupun di tube. Sehingga perlu dilakukan tindakan
pembersihn pada alat agar alat dapat digunakan dengan baik.
Pressure drop (P) sangat bergantung dengan fouling factor (Rd) pada
heat exchanger karena semakin tinggi pressure drop mengindikasikan
banyaknya fouling factor dan hal ini membuat laju alir fluida ayang
mengalir pada shell maupun di tube akan menurun dari data design serta
besarnya nilai pressure drop aiakibatkan adanya akumulasi kerak yang
terbentuk akibat terdepositnya fouling pada permukaan shell dan ditube.