Anda di halaman 1dari 72

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

4.1.1 Kondisi Geografis Desa Mekar Sari

Desa Telaga Sari adalah salah satu desa yang berada di Kecamatan Tanjung

Morawa Kabupaten Deli Serdang, Propinsi Sumatera Utara. Nama "Morawa" berasal

dari kata Moravia, nama sebuah kawasan di Ceko. Dekat dengan kota Medan

menjadikan Tanjung Morawa salah satu sentra industri pengusaha Kota Medan.

Tanjung Morawa terhubung dengan Medan melalui Tol Belmera. Adapun batas-batas

desa telaga sari adalah sebagai berikut:

1. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Sungai Belumai.

2. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Bangun Sari Baru.

3. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Dalu Sepuluh A.

4. Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Buntu Bedimbar.

Luas wilayah Desa Telaga Sari yaitu 200 HA. Secara administratif desa telaga

sari ini terdiri dari 5 (lima) dusun.

1. Dusun I : 6 RT, 2 RW

2. Dusun II : 4 RT, 2 RW

3. Dusun III : 6 RT, 2 RW

4. Dusun IV : 4 RT, 2 RW

5. Dusun V : 5 RT, 2 RW
TABEL 4.1
Luas Wilayah Desa Telaga Sari

No. Keterangan Luas Wilayah


1. Pemakaian Umum / Halaman 165. 15 HA
2. Sawah Tadah / Sawah Tadah Hujan 5.0 HA
3. Kebun Sayur / Tanah Darat 7.0 HA
4. Kuburan Muslim 1.5 HA
5. Lokasi Sekolah Rendah (SD) 1.0 HA
6. Lapangan Voli 0.15 HA
7. Halaman Kantor dan Balai Desa 0.20 HA
8. Lokasi Industri 20.0 HA
Jumlah 200.0 HA
Sumber: Kantor Kepala Desa Telaga Sari

4.1.2 Jumlah Penduduk Desa Telaga Sari Secara Umum

Penduduk merupakan potensi utama dalam setiap pembangunan selain dari

potensi lain yang dimiliki suatu Negara ataupun daerah secara khususnya. Pengaruh

pendududuk baik secara perilaku maupun status sosialnya menjadi tolak ukur dalam

setiap perencanaan pembangunan. Begitu juga yang terjadi pada desa, efektif dan

tidaknya jalan pembangunan di desa diukur dari kacamata partisipasi masyarakat

terhadap fungsi dari lembaga-lembaga desa.

Jumlah penduduk Desa Telaga Sari berdasarkan sensus penduduk yang

dilakukan pihak BPS Kabupaten Deli Serdang terakhir kali yaitu pada tahun 2016

adalah 7546 jiwa yang dapat dirinci sebagai berikut:

Tabel 4.2
Klasifikasi Penduduk Desa Telaga Sari Berdasarkan Jenis Kelamin
No Jenis Kelamin Jumlah
1 Laki-Laki 3.857
2 Perempuan 3.689
Jumlah 7.546
Sumber: Kantor Kepala Desa Telaga Sari
4.1.3 Sarana dan Prasarana

Sukses atau tidaknya pembangunan baik secara fisik maupun 3administratif

seperti partisipasi masyarakat dalam mempotensikan lembaga-lembaga desa pada

hakekatnya dapat dilihat dari jumlah sarana dan prasarana yang ada. Untuk

mengetahui perkembangan pembangunan Desa Telaga Sari, terutama pada faktor

kelembagaan pemerintah desa perlu kiranya penulis paparkan jenis-jenis sarana dan

prasarana yang ada sebagai tolak ukur untuk melihat tingkat perkembangan Desa

Telaga Sari. Desa yang memiliki sarana dan prasarana yang baik adalah faktor

pendukung untuk melihat tingkat keseriusan kerja pemerintah desa dan aparatnya.

Warga Desa Telaga Sari bersifat heterogen yang terdiri dari suku: Batak,

Jawa. Mayoritas penduduk Desa Telaga Sari adalah Suku Jawa. Heterogenitas

masyarakat membawa berbagai agama penganutnya yaitu: Islam, Kristen Protestan,

Katolik, Buddha. Kehidupan masyarakat di Desa Telaga Sari masih diwarnai dengan

sifat-sifat masyarakat desa pada umumnya, penganut adat istiadat yang kental masih

terlihat dalam keseharian begitu juga dengan budaya gotong royong masih terlihat

jelas ditengah-tengah masyarakat Desa Telaga Sari.

Tabel 4.3
Jumlah Penduduk Menurut Agama
No Keterangan Jumlah
1 Islam 7252
2 Kristen 142
3 Katolik 121
4 Budha 31
5 Hindu 0
Jumlah 7546
Sumber : Kantor Kepala Desa Telaga Sari
Dalam waktu tertentu, budaya gotong royong juga terjalin antar dusun seperti

di saat acara pesta pernikahan ataupun perayaan hari-hari besar keagamaan ataupun

nasional. Lain dari itu gotong royong yang sifatnya untuk membersihkan lingkungan

atau pembersihan desa, dilakukan berdasarkan program desa yang terkadang tidak

terlaksana secara baik terkecuali atas kemauan sendiri masyarakat. Hal ini yang

menjadi ukuran tingkat pastisipatif yang rendah dari masyarakat dalam program-

program desa.

Namun kehidupan beragama di Desa Telaga Sari di antara warga desa terjalin

dengan baik. Toleransi, saling hormat-menghormati, dan menghargai tercermin dalam

kehidupan yang harmonis. Bagi pembangunan desa ini merupakan modal besar pada

desa yang heterogen. Stabilitas merupakan potensi yang akan memberi manfaat besar

bagi tumbuh dan kembangnya pembangunan desa selain dari sarana yang

memfasilitasinya.

Fasilitas sarana sosial yang ada di Desa Telaga Sari, rata-rata dibangun atas

swadaya masyarakat sendiri terkecuali berskala besar. Beberapa fasilitas sosial yang

ada di Desa Telaga Sari seperti, sarana pendidikan, sarana kesehatan, sarana

peribadatan, dan sarana olahraga dapat terlihat secara terperinci dalam tabel 4.4 di

bawah ini:
Tabel 4.4
Sarana Pendidikan, Peribadatan, Kesehatan dan Olahraga
No. Jenis Sarana Jumlah
1. TK/ TPA 5
2. Sekolah Dasar 3
3. Mesjid 3
4. Gereja -
5. Posyandu 5
6. Bidan Desa 2
7. Lapangan Bola Kaki 1
8. Lapangan Bola Volley 2
9. Lapangan Badminton 2
Sumber : Kantor Kepala Desa Telaga Sari

4.2 Karang Taruna

4.2.1 Karang Taruna Indonesia

Karang Taruna lahir pada tanggal 26 September 1969 di Kampung Melayu

Jakarta, melalui proses Experimental Project Karang Taruna, kerjasama masyarakat

Kampung Melayu/ Yayasan Perawatan Anak Yatim (YPAY) dengan Jawatan

Pekerjaan Sosial/Departemen Sosial. Pembentukan Karang Taruna dilatar belakangi

oleh banyaknya anak-anak yang menyandang masalah sosial antara lain seperti anak

yatim, putus sekolah, mencari nafkah membantu orang tua dan sebagainya. Masalah

tersebut tidak terlepas dari kemiskinan yang dialami sebagian masyarakat pada saat

itu.

Tahun 1960-1969 adalah awal dimana bangsa Indonesia mulai melaksanakan

pembangunan disegala bidang.Instansi-instansi sosial di DKI Jakarta (Jawatan

Pekerjaan Sosial/Departemen Sosial) berupaya menumbuhkan Karang Taruna -


Karang Taruna baru di kelurahan melalui kegiatan penyuluhan sosial.Pertumbuhan

Karang Taruna saat itu terbilang sangat lambat, hal ini disebabkan peristiwa G 30

S/PKI sehingga pemerintah memprioritaskan berkonsentrasi untuk mewujudkan

stabilitas nasional.Salah satu pihak yang berjasa mengembangkan Karang Taruna

adalah Gubernur DKI Jakarta H. Ali Sadikin (1966-1977).

Tahun 1980 dilangsungkan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Karang

Taruna di Malang, Jawa Timur. Dan sebagai tindak lanjutnya, pada tahun 1981

Menteri Sosial mengeluarkan keputusan tentang susunan organisasi dan tata kerja

Karang Taruna dengan surat keputusan nomor. 13/HUK/KEP/I/1981 sehingga

Karang Taruna mempunyai landasan hukum yang kuat.

Tahun 1982 lambang Karang Taruna ditetapkan dengan keputusan Menteri

Sosial RI nomor.65/HUK/KEP/XII/1982, sebagai tindak lanjut hasil Mukernas di

Garut tahun 1981. Dalam lambang tercantum tulisan Aditya Karya Mahatva Yodha

(artinya: Pejuang yang berkepribadian, berpengetahuan dan terampil). Pada tahun

1983 Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) mengeluarkan TAP MPR Nomor

II/MPR/1983 tentang Garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang didalamnya

menempatkan Karang Taruna sebagai wadah pengembangan generasi muda.

Gambar 4.1
Lambang Karang Taruna
Krisis ekonomi yang terjadi tahun 1997 dengan cepat menjadi krisis

multidimensi.Imbas dari krisis tersebut juga berdampak pada perkembangan Karang

Taruna.Puncaknya pada saat pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid

membubarkan Departemen Sosial pada tahun 2000, Karang Taruna pada umumnya

mengalami stagnansi, bahkan mati suri.Konsolidasi organisasi terganggu, aktivitas

terhambat dan menurun bahkan cenderung terhenti.

Tahun 2001 Temu Karya Nasional Karang Taruna dilaksanakan di Medan,

Sumatera Utara. Hasil pertemuan ini antara lain menambah nama Karang Taruna

menjadi Karang Taruna Indonesia (KTI), memilih Ketua Umum Pengurus Nasional

KTI, serta menyusun Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga KTI. Pertemuan

ini kembali menghidupkan semangat pegurus Karang Taruna se-Indonesia sehingga

Karang Taruna masih bertahan hingga saat ini.

A. Pengertian Karang Taruna

Sesuai dengan Permensos No 77 /HUK/2010, Karang Taruna adalah

organisasi sosial kemasyarakatan sebagai wadah dan sarana pengembangan setiap

anggota masyarakat yang tumbuh dan berkembang atas dasar kesadaran dan

tanggung jawab sosial dari, oleh dan untuk masyarakat terutama generasi muda di

wilayah desa/ kelurahan dan terutama bergerak di bidang usaha kesejahteraan sosial.

Rumusan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Karang Taruna adalah suatu organisasi sosial, perkumpulan sosial yang dibentuk

oleh masyarakat yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam

melaksanakan Usaha Kesejahteraan Sosial (UKS).


2. Sebagai wadah pengembangan generasi muda, Karang Taruna merupakan tempat

diselenggarakannya berbagai upaya atau kegiatan untuk meningkatkan dan

mengembangkan cipta, rasa, karsa, dan karya generasi muda dalam rangka

pengembangan sumber daya manusia.

3. Karang Taruna tumbuh dan berkembang atas dasar kesadaran terhadap keadaan

dan permasalahan di lingkungannya serta adanya tanggung jawab sosial untuk

turut berusaha menanganinya. Kesadaran dan tanggung jawab sosial tersebut

merupakan modal dasar tumbuh dan berkembangnya Karang Taruna.

4. Karang Taruna tumbuh dan berkembang dari generasi muda, diurus atau dikelola

oleh generasi muda dan untuk kepentingan generasi muda dan masyarakat di

wilayah desa/kelurahan atau komunitas adat sederajat. Oleh sebab itu, setiap

desa/kelurahan atau komunitas adat sederajat dapat menumbuhkan dan

mengembangkan Karang Taruna sendiri.

5. Gerakannya di bidang usaha kesejahteraan sosial berarti semua upaya program dan

kegiatan yang diselenggarakan Karang Taruna ditujukan guna mewujudkan

kesejahteraan sosial masyarakat terutama generasi mudanya.

B. Tujuan, Tugas Pokok & Fungsi

Karang Taruna bertujuan untuk mewujudkan :

1. pertumbuhan dan perkembangan setiap anggota masyarakat yang berkualitas,

terampil, cerdas, inovatif, berkarakter serta memiliki kesadaran dan tanggung

jawab sosial dalam mencegah, menangkal, menanggulangi dan mengantisipasi

berbagai masalah kesejahteraan sosial, khususnya generasi muda;


2. kualitas kesejahteraan sosial setiap anggota masyarakat terutama generasi muda

di desa/kelurahan secara terpadu, terarah, menyeluruh serta berkelanjutan;

3. pengembangan usaha menuju kemandirian setiap anggota masyarakat terutama

generasi muda; dan

4. pengembangan kemitraan yang menjamin peningkatan kemampuan dan potensi

generasi muda secara terarah dan berkesinambungan

Karang Taruna memiliki tugas pokok secara bersama-sama dengan

Pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota serta masyarakat

lainnya menyelenggarakan pembinaan generasi muda dan kesejahteraan sosial.

Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud dalam

PERMENSOS NO. 77/HUK/2010 Pasal 5, Karang Taruna mempunyai fungsi:

1. mencegah timbulnya masalah kesejahteraan sosial, khususnya generasi muda;

2. menyelenggarakan kesejahteraan sosial meliputi rehabilitasi, perlindungan

sosial, jaminan sosial, pemberdayaan sosial dan diklat setiap anggota

masyarakat terutama generasi muda;

3. meningkatkan Usaha Ekonomi Produktif;

4. menumbuhkan, memperkuat dan memelihara kesadaran dan tanggung jawab

sosial setiap anggota masyarakat terutama generasi muda untuk berperan secara

aktif dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial;

5. menumbuhkan, memperkuat, dan memelihara kearifan lokal; dan

6. memelihara dan memperkuat semangat kebangsaan, Bhineka Tunggal Ika dan

tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

4.2.2 Karang Taruna Satria Pandawa Desa Telaga Sari


4.2.2.1 Sejarah Pembentukan Karang Taruna Satria Pandawa.

Hasil wawancara dengan beberapa pendiri Karang Taruna di Desa Telaga

Sari, di antaranya Erwin Syahputra yang merupakan Ketua Karang Taruna Desa

Telaga Sari pertama, berdirinya Karang Taruna Satria Pandawa desa Telaga sari yaitu

dimulai pada Bulan September tahun 2008, diawali dengan banyaknya kegiatan para

pemuda desa yang cenderung ke arah negatif dan anarkis yaitu ngebut di jalan raya,

mabuk-mabukan dan bahkan sebagian pemuda desa telah mulai meresahkan

masyarakat dengan kecanduan Narkoba. Melihat situasi dan kondisi ini maka

beberapa tokoh pemuda desa yang diprakarsai oleh 5 orang yaitu: Yudi, Erwin, Fajar,

Yadi dan Heri yang selama ini aktif sebagai anggota Remaja Masjid Sholihin di

Dusun-I desa Telagasari. Para tokoh pemuda tersebut berkeinginan untuk berusaha

meredam dampak negatif yang ada dengan mengimbanginya membuat berbagai

kegiatan sosial yang positif.

Selanjutnya mereka menghimpun pemuda desa dari 3 dusun yaitu dusun I, II

dan III untuk bermusyawarah dengan melibatkan Kepala Desa Telagasari yang pada

waktu itu dijabat oleh Bapak Suwandi. Ada sekitar 20 orang hadir dalam rapat

tersebut yang terdiri dari pemuda dan pemudi desa, tokoh masyarakat sebagai

Pembina dan Kepala Desa beserta staf. Dalam rapat tersebut ada 3 keputusan:

1. Telah sepakat akan mendirikan Karang Taruna dalam waktu 2 minggu dan untuk

menentukan nama karang Taruna serta para pengurusnya akan diadakan rapat

lanjutan.
2. Kegiatan pra terbentuknya Karang Taruna akan diadakan gotong royong massal

pada hari Minggunya untuk membersihkan selokan jalan utama dan lingkungan

masjid.

3. Untuk mencari info lebih lanjut tentang Organisasi karang Taruna dimandatkan

kepada saudara Wahyudi dimana beliau telah pernah menjadi pengurus Karang

Taruna didesa asalnya dulu yaitu Dolok Merawan.

Dalam perjalanan pembentukan Karang Taruna ternyata bertepatan dengan

agenda pemilihan kepala desa Telagasari sehingga pada bulan Oktober 2008 Bapak

Suwandi yang menjabat Kepala Desa harus mengundurkan diri karena akan ikut lagi

dalam pemilihan Kepala Desa pada bulan Januari yang akan datang dan melalui SK

Bupati telah ditetapkan Bapak Rantam (Kadus-I) sebagai PLT Kepala Desa

Telagasari hingga terpilih dan dilantiknya Kepala Desa hasil pemilihan di bulan

Januari 2009. Setelah 2 minggu berselang, selanjutnya diadakan rapat pemuda desa

yang ke-2 dengan jumlah peserta rapat ditambah menjadi 43 orang. Dari hasil rapat

telah ditetapkan nama Karang Taruna desa Telagasari yaitu Karang Taruna Satria

pandawa dengan makna: Satria adalah jiwa yang berani, jujur dan tegas,

sedangkan Pandawa bermakna sebuah cerita perjalanan/perjuangan suci melawan

kebhatilan. Sehingga Satria Pandawa akan bermakna perjuangan suci para pemuda

yang menanamkan jiwa berani, jujur dan tegas untuk memerangi kebodohan,

kemiskinan, ketidakadilan, kesombongan dan keangkaramurkaan yang terjadi di

tengah-tengah masyarakat desa.

Pada rapat itu juga terpilih kepengurusan Karang Taruna Satria Pandawa

periode 2008-2013 dengan ketua terpilih yaitu sdr. Erwin Saputra dan Sekretarisnya
Arifin. Untuk selanjutnya tepatnya pada tanggal 12 November 2008 diadakan acara

pelantikan oleh PLT Kepala Desa yaitu Bapak Rantam dengan sekaligus

memperingati hari Pahlawan Nasional yang dimeriahkan dengan Festival Musik yang

diadakan di halaman Kantor Desa Telagasari, dihadiri juga oleh Camat Tanjung

Morawa beserta unsur Muspika dan Tokoh Masyarakat.

Berikut Struktur Kepengurusan Karang Taruna Satria Pandawa Periode

2008-2013 sesuai dengan Surat Keputusan Kepala Desa Telagasari :

Nomor :02/SK/III/2008 Tentang penetapan dan Pengukuhan Pengurus Karang Taruna

Desa Telagasari Masa Bhakti 2008 2013

Pembina : Kepala Desa Telagasari


Kasi Kesos Kecamatan Tanjung Morawa
Majelis Pertimbangan Desa (MPKT) : Agus Sudarto
Ketua : Erwin Saputra
Wakil Ketua : 1. Wahyudi
2. Suratman
Sekretaris : Arifin
Wakil Sekretaris : 1.Indri Pranita
2. Ruhama Ubainahum
Bendahara : Nopianto
Wakil Bendahara : 1. Heri Purnomo
2. Yupi Wulandari
Seksi Organisasi dan Pengembangan Hubungan Kerjasama Kemitraan : Solihin
Seksi Pendidikan dan Pelatihan : Rini
Seksi Hubungan Masyarakat dan Publikasi : Sunarno
Seksi Bantuan Pelayanan dan Rehabilitasi : Yos Saptohadi
Seksi Penanggulangan Bencana Sosial : Misriyanto
Seksi Olah Raga : Syaputra
Seksi Pengembangan Ekonomi dan Koperasi : Nurdin Arraniri
Seksi Kependudukan dan Kemitraan : Syafii
Seksi Seni Budaya : Yuda Prasetyo Wibowo
Anggota : 133 orang
Alamat : Desa Telagasari Kecamatan Tanjung Morawa Kab. Deli Serdang
Kode Pos : 20362
Kontak Person : 082362939351 (Erwin) 085362619438 (Yudi)
Dan Struktur Kepengurusan Karang Taruna Satria Pandawa Periode 2013-

2018 sesuai dengan Surat Keputusan Kepala Desa Telagasari Nomor :

044/SK/XI/2013 Tentang penetapan dan Pengukuhan Pengurus Karang Taruna Desa

Telagasari Masa Bhakti 2013 2018

Pembina : Kepala Desa Telagasari


Kasi Kesos Kecamatan Tanjung Morawa
Majelis Pertimbangan Desa (MPKT) : Ir. Suyetno
Drs. Suparlan
Ketua Umum : Syahputra
Ketua : 1. Nurdin Arraniri
2. Firman Pebrianto
Sekretaris Umum : Andi Sukoco
Sekretaris : 1.Rafni Hidayanti
2.Yuli Purnamasari
Bendahara : Nopianto
Wakil Bendahara : 1. Sholihin
2. Ita
Kabid Seni dan Budaya : Yuda Prasetyo Wibowo
Kabid Keagamaan : Heri Purnomo
Kabid Panser : Wahyudi Syahputra
Kabid Wira Usaha : Dodi Siswanto
Kabid Pertanian & Peternakan : Kasiono
Kabid Humas : Budiono S.
Kabid Anti Narkoba : Heri Susanto
Kabid Sosial : Misriyanto
Anggota Aktif + Pasif : 187 orang
Alamat : Desa Telagasari Kecamatan Tanjung Morawa Kab. Deli Serdang
Kode Pos : 20362
Kontak Person : 085276520783 (Putra)/ Ketua Umum
085262400250 (Andi) Sekretaris Umum
Registrasi Peraturan Menteri Sosial RI : Nomor : 77 / HUK / 2010 Tentang Pedoman
Dasar Karang Taruna menteri Sosial Republik Indonesia.

Mendengar penjelasan dari Erwin Saputra tersebut, dapat diketahui bahwa

keterlibatan dan kepedulian pemuda-pemuda di Desa Telaga Sari telah dimulai sejak

tahun 2008. Karang Taruna mereka pilih sebagai organisasi yang menaungi mereka

karena mereka sadar, hanya Karang Taruna yang merupakan satu-satunya organisasi

sosial kepemudaan yang diakui pemerintah, Wahyudi adalah tokoh pemuda Desa

Telaga Sari yang memberikan informasi kepada pemuda Desa Telaga Sari tentang

pentingnya kehadiran Karang Taruna di tengah masyarakat desa.

4.2.2.2 Visi dan Misi Karang Taruna Satria Pandawa

Visi :

Unggul dalam Produk, Mandiri dalam berkarya dan Terpercaya sebagai mitra

pembangunan Kesejahteraan Sosial.

Misi :

1. Menumbuhkembangkan prakarsa Karang Taruna dalam menciptakan produk-

produk unggulan daerah.


2. Menciptakan usaha-usaha yang mandiri dan profesional melalui Kelompok

Usaha Karang Taruna.

3. Mengkader generasi muda yang ulet, rajin, jujur dan handal dalam berorganisasi.

4. Menggali dan memanfaatkan SDM dan SDA desa Telagasari untuk peningkatkan

kesejahteraan sosial anggota dan masyarakat.

5. Mengembangkan sistem jaringan dan kemitraan dalam penanganan permasalahan

kesejahteraan sosial dengan sistem open manajemen.

4.2.2.3 Sumber Dana

Sumber dana Karang Taruna Satria Pandawa terdiri dari :

1. Iyuran Anggota.

2. Usaha sendiri yang diperoleh secara syah.

3. Sumbangan yang Tidak Mengikat.

4. Bantuan/Subsidi dari Pemerintah.

5. Usaha-usaha lain yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan

yang berlaku.

4.2.2.4 Keanggotaan Karang Taruna

Keanggotaan Karang Taruna menganut sistem stelsel pasif yang berarti

seluruh generasi muda dalam lingkungan desa Telagasari yang berusia 13 tahun

sampai 45 tahun secara otomatis menjadi anggota Karang taruna, yang selanjutnya

disebut sebagai warga Karang Taruna. Sedangkan anggota aktif dibuat dalam 3

klasifikasi, yaitu: 1) Anggota Inti, 2) Anggota Kelompok Kerja dan 3) Anggota

Istimewa.

1. Anggota Inti Anggota Inti Karang Taruna Satria Pandawa terdiri dari:
1) Pengurus Inti berjumlah 14 orang dan 2) Tim Inti Majelis Pertimbangan

Karang Taruna Satria Pandawa berjumlah 3 orang, sehingga jumlah keseluruhan

anggota inti adalah 17 orang. Ketua Umum Karang Taruna adalah sebagai

Koordinator Anggota Inti. Tugas Anggota Inti adalah sebagai Tim Penggerak

Organisasi dengan tugas pokok antara lain: 1) Membuat perencanaan kegiatan, 2)

Menentukan Tim Pelaksana Kegiatan, 3) Menggalang dana melalui donator dan

investor, 4) Melakukan Monitoring dan Evaluasi setiap kegiatan per-even dalam

skala 1 tahun sd 4 tahun (masa periodisasi).

2. Anggota Kelompok Kerja Seluruh anggota aktif akan dibagi dalam Kelompok

Kerja. Sesuai dengan petunjuk teknis pembinaan Karang Taruna maka program

umum Karang taruna dibagi menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu:

1) Kelompok Kerja Bidang Organisasi dan Kesekretariatan Koordinator Pokja

Bidang Organisasi dijabat oleh Wakil Ketua I dan Wakil Sekretaris I dengan

anggota berjumlah 11 orang anggota aktif dan dibantu anggota magang yang

direkrut dari anggota pasif yang akan dikader sebanyak 10 orang.

Tugas Pokok Pokja Organisasi dan Kesekretariatan adalah:

i. melakukan penataan secretariat baik administrasi surat menyurat,

pembukuan kegiatan, administrasi keuangan maupun pengelolaan

barang-barang inventaris.

ii. Mengadakan pembinaan anggota melalui pendidikan dan latihan bagi

anggota secara bergilir dan berjenjang.

iii. Menyiapkan perlengkapan sarana dan prasarana kegiatan rapat intern

dan kegiatan rutin mingguan.


iv. Membuat program kegiatan untuk peningkatan kuantitas dan kualitas

anggota melalui: Magang, Studi Banding dan Kunjungan Kemitraan.

2) Kelompok Kerja Bidang Usaha Ekonomis Produktif (UEP) Pokja UEP

Karang Taruna Satria Pandawa ada 2 klasifikasi, yaitu:

i. UEP murni yang di buat oleh anggota inti karang taruna yang disebut

UEP Inti.

ii. UEP binaan yaitu usaha-usaha masyarakat yang sudah ada sebelum

karang taruna Satria Pandawa berdiri yang direkrut dan bergabung

dengan Karang Taruna

3) Kelompok Kerja Bidang Usaha Kesejahteraan Sosial (UKS). Pokja UKS

Karang Taruna Satria Pandawa ada 3 Jenis, yaitu: a. Penangan Masalah Sosial

b. Rehabilitasi Sosial c. Pencegahan

3. Anggota Istimewa Anggota istimewa Karang Taruna Satria Pandawa terdiri dari

anggota MPKT, Tokoh Masyarakat yang berpotensi tinggi, Para Donatur,

Penanam modal (saham), dan simpatisan baik yang berasal dari desa Telagasari

maupun yang berasal dari luar desa. Anggota Istimewa Karang Taruna satria

Pandawa saat ini berjumlah 15 orang.

4.2.2.5 Kegiatan Karang Taruna Satria Pandawa

Selama perjalanannya SATRIA PANDAWA telah melakukan aktivitas-

aktivitas berdasarkan visi misi yang telah ditetapkan oleh Karang Taruna Satria

Pandawa. Secara garis besar kegiatan yang dilakukan oleh Satria Pandawa terbagi

kedalam dua hal; peningkatan kapasitas anggota dan pengabdian masyarakat.

1. Peningkatan Kapasitas Anggota


Peningkatan kapasitas pengetahuan dan keterampilan anggota ini dilakukan

untuk meningkatkan wawasan dan keterampilan anggota guna menjalankan

program kerja yang telah ditetapkan bersama. Hal ini menjadi penting untuk

membangun atmosfir profesionalitas dalam menjalankan tugas dan tanggung

jawab yang diemban. Peningkatan kapasitas ini dilakukan dengan metode

pelatihan. Pelatihan-pelatihan yang telah dilakukan adalah;

a. Pelatihan Pemetaan Kampung dan Pengorganisasian. Pelatiahan ini

dimaksudkan guna meningkatkan kemampuan anggota untuk mampu melihat

dan memetakan potensi desa. Analisis masalah dan merumuskan rencana kerja

untuk meyelesaikan permasalahan yang terjadi berdasarkan hasil pemetaan

kampung.

b. Pelatihan Tanggap Bencana. Sebelah Timur desa berbatasan dengan sungai

menjadikan desa Telagasari menjadi salah satu wilayah yang memang rawan

terkena bencana khususnya bajir, maka Karang Taruna SATRIA PANDAWA

harus menyiapkan seluruh warga Karang Taruna menjadi siaga bencana.

Untuk itu Karang Taruna mengikutkan anggotanya pada pelatihan yang

diselenggarakan oleh TAGANA SUMUT. Harapannya adalah terbangunnya

Tim Siaga Bencana Desa Telagasari yang terampil dalam menangani

kemungkinan bencana banjir yang mungkin saja datang sewaktu-waktu.

2. Program Pengembangan Pertanian Organik.

Melalaui gerakan Go Organic, maka Karang Taruna merasa harus terlibat

bersama dengan Pemerintah Desa dan Kelompok Tani yang tergabung dalam

wadah GAPOKTAN Desa Telagasari. Berbagai upaya telah dilakukan oleh


kelompok tani terkait pengembangan pertanian organik. Artinya tujuan dari

pertanian organik ini adalah dapat menekan biaya produksi para petani dalam

mengelola lahan, selain itu mendapatkan hasil panen yang terbebas dari pestisida.

Salah satu bentuk kegiatan yang telah dilakukan adalah : Pelatihan Komposting.

Mengajak semua Warga Karang Taruna untuk tahu dan memahami bagaimana

memproduksi pupuk organik untuk pertanian. Harapannya dari pelatihan ini

adalah para pemuda yang nota bene nya adalah petani dapat menerapkan pola

pertanian organik untuk diri mereka sendiri.

3. Program Bakti Sosial. Bakti Sosial ini adalah merupakan salah satu bentuk

komitmet organisasi pemuda yang tergabung dalam wadah karang taruna. Bentuk

penumbuhan dan pengembangan semangat kebersamaan, jiwa kekeluargaan,

kesetiakawanan sosial dan memperkuat nilai-nilai kearifan lokal dalam bingkai

Negara Kesatuan Republik Indonesia Gotong Royong. Berbagai kegaiatan

gotong royong telah dilakukan oleh warga karang taruna berkerjasama dengan

masyarakat dan Pemerintah Desa. Berbagai kegiatan gotong royong yang telah

dilakukan sampai dengan tahun 2009 antara lain : pembersihan jalan sekaligus

penananam bibit pohon kayu mahoni disepanjang jalan dusun, penimbunan

badan jalan dusun, pembersihan tempat ibadah, pembangunan balai tani,

pembuatan jalan lorong, dan masih banyak kegiatan bakti sosial lainnya.

4. Pengembangan Usaha Mandiri. Sebagai salah satu bentuk dari perwujudan fungsi

Karang Taruna yaitu Pemupukan kearifan generasi muda untuk dapat

mengembangkan tanggung jawab sosial yang bersifat rekreatif, kreatif, edukatif,

ekonomis produktif dan kegiatan praktis lainnya dengan mendayagunakan segala


sumber dan potensi kesejahteraan sosial di lingkungannya secara swadaya.

Beberapa bentuk kegiatan ekonomi produktif yang dikembangkan melalui Seksi

Pengembangan Ekonomi dan Koperasi adalah : Budidaya tanaman holtikultura

antara lain buah pisang, ubi kayu, jagung dan sayuran, Kerajinan Logam,

budidaya ikan air tawar.

Kelompok usaha bersama (KUBE) Karang Taruna Satria Pandawa Desa Telaga

Sari:

1) KUBE Pertanian Lahan yang dimiliki oleh Karang Taruna Satria Pandawa

seluas 6 ha, dan status lahan tersebut adalah lahan tidur, dikelola oleh anggota

Karang Taruna dan di Tanami berbagai macam tanaman antara lain : a. Jagung

e. Pohon jabon b. Pisang f. ubi c. Cabe g. kangkung d. Kedelai i. Bayam

2) KUBE Peternakan Adapun Peternakan Sapi Karang Taruna Satria Pandawa

saat ini mengelola 40 ekor sapi milik pemodal. Sedangkan milik Karang

Taruna Satria Pandawa sendiri berjumlah 10 ekor sapi.

3) KUBE Perikanan Telah memiliki kolam yang diberi bibit ikan Gurame

sebanyak 2.000 ekor beserta ikan lele dan sudah Berjalan selama 20 bulan.

4) Sanggar Seni Logam

Berikut adalah beberapa kegiatan yang telah di lakukan Karang Taruna

SATRIA PANDAWA
Tabel. 4.5
Kegiatan yang telah di lakukan Karang Taruna SATRIA PANDAWA

NO KEGIATAN TUJUAN HASIL


1 Bedah Rumah Beberapa masyarakat Desa Telaga 6 Rumah telah
Sari memiliki rumah yang sudah selesai di
tidak layak huni oleh karena itu renovasi dengan
bersama Bapak Camat Tanjung baik
Morawa dan Bapak Kepala Desa
Telaga Sari, Karang Taruna Satria
Pandawa ikut mensukseskan
terselenggaranya kegiatan ini
2 Peduli Anak Yatim Dalam rangka membantu program 20 orang telah
pemerintah wajib belajar 9 tahun, menerima
Karang Taruna Satria Pandawa bantuan biaya
desa Telaga Sari setiap bulanna sekolah, selama 1
memberikan santunan kepada tahun dan akan
anak yatim yang kurang mampu, terus berjalan
untuk tambahan biaya sekolah.
3 Penggalangan dana Dalam rangka meringankan Dana yang
Gempa Padang & Beban saudara2 kita yang terkena terkumpul
Jogjakarta musibah bencana alam, Karang berkisar Rp.
Taruna satria Pandawa melakukan 6.800.000.
Penggalangan Dana di jalan dan
dari rumah ke rumah selama 1
minggu.
4 Musik Amal Acara diselenggarakan dengan Dana yang
tujuan untuk membantu berdirinya terkumpul
Mesjid Sholihin di desa Telaga berkisar Rp.
Sari kecamatan Tanjung Morawa, 4.000.000
dan acara ini sudah dilakukan
sebanyak 2 kali
5 Musik Anak Jalanan Untuk mempererat Silaturahmi Acara ini diikuti
sesama anggota Karang Taruna oleh sekitar 20
Satria Pandawa dan menyalurkan anak jalanan yang
bakat music anak jalanan yang berada di
berada di Kecamatan Tanjung Kecamatan
Morawa. Tanjung Morawa.
6 Touring Sepeda Untuk Mempererat hubungan Berkisar 50
Motor sesama anggota Karang Taruna peserta yang
Satria Pandawa dan untuk mengikuti acara
mengajarkan cara berlalu lintas ini
dengan benar serta mencintai
alam Indonesia khususnya
Sumatera Utara selama 2 hari,
Rute yang di lalui adalah :
Tanjung Morawa Siantar
Bahbutong Danau Toba -
Berastagi Tanjung Morawa. -
7 Camping Untuk Mengkader anggota agar Berkisar 50
lebih mencintai Karang Taruna peserta yang
dan mencintai alam Bebas. - mengikuti acara
ini

8 Gotong Royong Bersama Masyarakat Desa Telaga Acara ini


Sari melakukan Gotong Royong biasanya
Pembersihan Parit, Pembanguna dilakukan setiap
Mesjid Sholihin di Desa Telaga bulannya pada
Sari hari minggu
pertama.
9 Kelompok Usaha 1. Pertanian Lahan yang dimiliki Sebanyak 20
Bersama (KUBE) oleh Karang Taruna Satria orang anggota
Pandawa seluas 6 Ha, dan Karang Taruna
status lahan tersebut adalah telah bercocok
lahan tidur eks PTPN II, tanam dan
didalamnya oleh anggota menghasilkan
Karang Taruna di Tanami rupiah untuk
berbagai macam tanaman menghidupi
antara lain : keluarga masing
a. Jagung masing.
b. Pisang
c. Cabe
d. Kedelai
e. Bunga Kol Thailand
f. Pohon Jabon
g. Ubi
h. Kangkung
i. Bayam
j. Dll
2. Sanggar Seni Logam Produk Sanggar
Sanggar Seni Logam di kelola Seni Logam telah
oleh Anggota Karang Taruna berhasil di
bidang Seni Logam dan sudah pasarkan ke
menghasilkan beberapa berbagai daerah
produk seperti : a. Garuda b. dan pernah di beli
Logo Karang Taruna c. Dll oleh anggota
Dan pernah di tampilkan pada DPRD Kab. Deli
acara Karang Taruna Expo Serdang.
2011 di Istana Maimun.

3. Perikanan Telah memiliki Belum Pernah


sebidang Kolam yang di Menghasilkan,
Tanami Ikan berkisar 2.000 karena program
ekor ikan Gurame dan sudah ini baru dimulai,
berjalan 3 bulan akan tetapi kolam
diisi sebanyak
2.000 ekor bibit
Ikan Gurame

4.2.2.6 Manajemen Keuangan

Jumlah besaran iyuran bulanan anggota karang taruna adalah Rp 5.000,- per

anggota dan iyuran tidak tetap juga diadakan sedangkan mengenai besaran iyuran

tidak dipatokkan dan hasil dari pengumpulan dipergunakan untuk kegiatan sosial

,seperti gotong-royong, pembelian ATK, penyantunan anak yatim, pembagian

sembako untuk lansia dan fakir miskin dan kegiatan sosial lainnya. Sedangkan

pengelolaan uang dimasukkan di Buku kas karang taruna dan Bendahara karang

taruna Satria Pandawa sebagai penanggung jawab.


4.3 Partisipasi Karang Taruna Satria Pandawa dalam Implementasi UU No 6

Tahun 2014 di Desa Telaga Sari

Pembangunan desa yang tertuang dalam uu no 6 tahun 2014 erat kaitannya

dengan partisipasi masyarakat, karena partisipasi masyarakat merupakan

perwujudan dari kesadaran dan kepedulian serta tanggung jawab masyarakat

terhadap pentingnya pembangunan yang bertujuan untuk memperbaiki mutu hidup

mereka. Artinya melalui keterlibatan masyarakat, berarti mereka benar-benar

menyadari bahwa kegiatan pembangunan bukanlah sekedar kewajiban yang harus

dilaksanakan oleh (aparat) pemerintah sendiri, tetapi juga menuntut keterlibatan

masyarakat yang akan diperbaiki. Karang Taruna merupakan organisasi sosial yang

ada di desa, dituntut untuk berpartisipasi dalam setiap tahapan dan proses

pembangunan, karena hal ini sejalan dengan tujuan Karang Taruna yaitu Karang

Taruna hadir untuk meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat.

Keterlibatan Karang Taruna dalam setiap proses pembangunan yang ada di

Telaga Sari dipandang sangat penting, hal ini sejalan dengan hasil wawancara

dengan beberapa tokoh pemerintahan, tokoh masyarakat, dan pemuda Desa Telaga

Sari. Kepala Desa Telaga Sari periode 2016-2022, Indra Sembada,ST., mengatakan,

partisipasi Karang Taruna Satria Pandawa sangat penting dalam setiap aspek

pembangunan, karena Karang Taruna merupakan wadah penyambung aspirasi

masyarakat desa kepada pemerintah desa. Menurut beliau, melalui fungsi Karang

Taruna, keluhan-keluhan masyarakat dapat tersampaikan kepada pemerintah.


Hal yang senada juga disampaikan oleh bendahara Karang Taruna Satria

Pandawa, Nopianto, beliau mengatakan,

"Kedekatan yang dilakukan oleh Karang Taruna kepada masyarakat


biasanya dilakukan melalui duduk bersama di warung kopi, karena di sana
dapat mendengarkan keinginan masyarakat. Kami juga terkadang
mengunjungi rumah warga untuk menyambung silaturahim, dari kunjungan
tersebut, kami dapat mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan oleh
masyarakat."

Erwin mengatakan bahwa pembangunan desa, baik dari segi fisik maupun non

fisik, tidak terlepas dari keterlibatan Karang Taruna. Karang Taruna tetap bersama

dengan pemerintah merumuskan pembanguan yang akan dilakukan untuk

kesejahteraan masyarakat desa. Mantan Ketua Karang Taruna Satria Pandawa ini juga

mengatakan, setiap ada kegiatan pembanguan desa, Karang Taruna ikut bergotong

royong. Semangat gotong royong menjadi kekuatan masyarakat untuk berpartisipasi

dalam pembangunan desa, Kepala Desa Telaga Sari periode 2010-2016, Supranoto

mengatakan,

" semangat gotong royong masyarakat dan anak-anak Karang Taruna,


berhasil membuat desa ini lebih maju dari sebelumnya. Lewat usaha
ekonomi produktif yang mereka adakan dapat membantu mengurangi
pengangguran yang ada di desa ini."

Irma salah satu staf pemerintah desa mengatakan, partisipasi yang dilakukan

oleh Karang Taruna dalam meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat desa,

salah satunya bekerja sama dengan pemerintah desa membuat pelatihan-pelatihan

untuk meningkatkan keterampilan masyarakat. Karang Taruna bekerjasama dengan

Departemen Sosial maupun Departemen Tenaga Kerja dalam penyelenggaraan


pelatihan tersebut. Irawati staf kaur pemerintahan desa menyebutkan, Karang Taruna

juga aktif terlibat dalam pembinaan terhadap kelompok-kelompok remaja yang ada

di setiap dusun desa. Mereka mengajak remaja desa dalam kegiatan yang positif.

Cohen dan Uphoff (1977, dalam Dea, 2013) membagi partisipasi masyarakat

dalam pembangunan ke dalam empat tingkatan, yaitu :pertama, partisipasi dalam

perencanaan yang diwujudkan dengan keikutsertaan masyarakat dalam rapat-rapat.

Sejauh mana masyarakat dilibatkan dalam proses penyusunan dan penetapan

program pembangunan dan sejauh mana masyarakat memberikan sumbangan

pemikiran dalam bentuk saran untuk pembangunan. Kedua, partisipasi dalam

pelaksanaan dengan wujud nyata partisipasi berupa: partisipasi dalam bentuk tenaga,

partisipasi dalam bentuk uang, partisipasi dalam bentuk harta benda. Ketiga,

Partisipasi dalam pemanfaatan hasil yang diwujudkan dalam keterlibatan seseorang

pada tahap pemanfaatan suatu proyek setelah proyek tersebut selesai

dikerjakan. Partisipasi masyarakat pada tingkatan ini berupa tenaga dan uang untuk

mengoperasikan dan memelihara proyek yang telah dibangun. Keempat, Partisipasi

dalam evaluasi, yang diwujudkan melalui keikutsertaan masyarakat dalam menilai

serta mengawasi kegiatan pembangunan serta hasil-hasilnya. Berdasarkan pendapat

tersebut, maka bentuk-bentuk partisipasi Karang Taruna Satria Pandawa dalam

pembangunan di Desa Telaga Sari baik secara fisik maupun non fisik dapat

dikonsepsikan dalam empat tahapan, yaitu : tahap perencanaan, tahap pelaksanaan,

tahap pemanfaatan dan pemeliharaan, dan tahap evaluasi.


4.3.1 Partisipasi dalam Perencanaan Pembangunan Desa Telaga Sari

Bentuk partisipasi Karang Taruna Satria Pandawa dalam tahapan

perencanaan pembangunan fisik maupun non fisik akan terlihat dari keaktifan

Karang Taruna Satria Pandawa dalam menghadiri setiap rapat atau pertemuan yang

dilaksanakan di kantor desa dengan agenda sosialisasi rencana pembangunan desa

Berdasarkan hasil wawancara bersama kepala Desa Telaga Sari periode 2016-2022,

Indra Sembada, ST., mengatakan,

"Setiap pertemuan yang diadakan di kantor desa dalam rangka


merencanakan pembangunan, Karang Taruna Satria Pandawa diundang
untuk hadir. Mereka hadir dan memberikan saran terhadap rencana
pembangunan Desa Mekar Sari, terutama ketika Erwin saputra sebagai
ketua Karang Taruna. Banyak ide dan masukan yang mereka berikan
terhadap kemajuan desa."

Partisipasi dalam tahapan perencanaan tidak hanya diukur dari kehadiran

masyarakat dalam rapat perencanaan, namun juga terlibat dalam proses pengambilan

keputusan. Sekretaris Desa Telaga Sari, H. M. Husin, sejak berdirinya karang Taruna

Satria Pandawa sampai dengan saat ini dalam tahap perencanaan pembangunan desa,

baik pembangunan fisik maupun non fisik yang berlangsung di Desa Telaga Sari,

secara umum ada keterlibatan Karang Taruna Satria Pandawa dalam rapat rencana

pembangunan desa. Mereka memberikan masukan dan gagasan terkait rencana

pembangunan yang akan dilakukan.

Demikian juga disampaikan oleh Irawati, Kaur Pemerintahan Desa Telaga

Sari, bahwasanya setiap rapat yang diadakan di kantor desa terkait perencanaan

pembangunan ataupun penyelenggaraan pelatihan yang ada di Desa Telaga Sari

selalu mengundang masyarakat, Karang Taruna, dan Ibu-ibu PKK.


Irma Yuni Kaur Umum, mengatakan keterlibatan Karang Taruna Satria Pandawa

dalam rapat perencanaan pembangunan desa mewakili suara pemuda, namun

terkadang mereka juga menyuarakan atas nama masyarakat.

Pada kesempatan lain Suswanto salah satu tokoh yang ada di Desa Telaga Sari

mengatakan,

"Dengan mengumpulkan pemuda dalam rapat perencanaan, membuat


mereka memiliki rasa kepemilikan terhadap desanya. Sehingga muncul
tanggung jawab untuk mengembangkan desa."

Mantan ketua umum Karang Taruna Satria Pandawa, Erwin Syahputra


mengatakan,
"Karang Taruna tidak pernah absen dalam proses perencanaan. Persoalan
pembangunan yang ada di Desa Telaga Sari merupakan persoalan semua
unsur masyarakat, termasuk pemuda. Saya dan teman-teman terkadang
berkumpul di rumah Bapak Supranoto untuk membicarakan gagasan-
gagasan yang kami miliki, untuk dapat meningkatkan kesejahteraan
masyarakat. Seperti saat kami akan melaksanakan program kegiatan bakti
sosial, setelah pembahasan matang di dalam internal Karang Taruna, maka
ide tersebut disampaikan dihadapan kepala desa dan tokoh masyarakat.
Alhamdulillah sambutan yang luar biasa terhadap program tersebut."
Menurut Putra Ketua Karang Taruna Satria Pandawa, selama ini pemuda

Karang Taruna dilibatkan dalam proses perencanaan pembangunan desa, misalnya

pada saat pembangunan parit atau renovasi kantor desa, pemerintah mengundang

Karang Taruna dalam pertemuan tersebut. Bendahara Karang Taruna, Nopianto

mengatakan, tidak semua pengurus Karang Taruna yang mengikuti rapat di kantor

desa. Dalam rapat-rapat di kantor desa, ketua Karang Taruna hadir sebagai

perwakilan dari organisasi.

Informasi terkait undangan rapat di kantor desa selalu berada di pengurus inti

dan dihadiri oleh ketua dan pengurus inti Karang Taruna, hal ini mengakibatkan

anggota biasa Karang Taruna tidak mengetahui tentang pertemuan tersebut. Seperti

yang disampaikan oleh Fahmi salah satu anggota Karang Taruna mengatakan,
"Jika ada urusan dengan pemerintahan biasanya hanya ketua saja yang
terlibat.Anggota hanya menanti arahan saja dari ketua"

Anggota Remaja Masjid Sholihin, Heri juga mengatakan,

"Dalam perencanaan pembangunan desa, anak-anak remaja masjid tidak


pernah di undang, karena anak-anak remaja masjid merupakan binaan dari
Karang Taruna, sehingga yang di undang dalam setiap rapat di kantor desa,
hanya pengurus Karang Taruna saja."
Toni, salah satu pemuda Desa Telaga Sari, mengatakan

"Saya tidak mengetahui apakah ada keterlibatan Karang Taruna dalam


rapat-rapat yang ada di kantor desa.

Pembahasan atas partisisipasi Karang Taruna dalam tahapan perencanaan

dapat dijelaskan pada tabel 4.6. Penilaian partisipasi Karang Taruna Satria Pandawa

dalam tahapan perencanaan mendapatkan nilai aktif. Hal ini telah memenuhi kriteria

partisipasi masyarakat. Seperti yang diungkapkan Yakop Napu ( 2009 dalam Suudi,

2014) partisipasi adalah keterlibatan seseorang atau kelompok secara sadar dalam

interaksi sosial dalam situasi tertentu. Secara umum, bentuk partisipasi Karang Taruna

Satria Pandawa dalam tahap perencanaan pembangunan fisik maupun non fisik pada

Desa Telaga Sari dilakukan melalui proses audiensi dengan pemerintah, merumuskan

serta memberikan saran dan ide-ide kegiatan, memberikan rekomendasi, serta ikut

terlibat dalam proses musyawarah desa. Hal ini sesuai dengan pendapat Cohen dan

Uphoff (1977, dalam Dea, 2013) partisipasi dalam perencanaan yang diwujudkan

dengan keikutsertaan masyarakat dalam rapat-rapat. Sejauh mana masyarakat

dilibatkan dalam proses penyusunan dan penetapan program pembangunan dan sejauh

mana masyarakat memberikan sumbangan pemikiran dalam bentuk saran untuk

pembangunan.
Tabel 4.6
Penilaian Partisipasi Pada Tahapan Perencanaan

Konsep Indikator Empirik


Implementasi Kehadiran dan keterlibatan Karang Karang Taruna Satria
UU No 6 Tahun Taruna Citra Yodha secara aktif Pandawa terlibat dalam
dalam menerima informasi, rapat perencanaan
2014
pembinaan atau pemahaman dari pembangunan desa
aparat pemerintah baik melalui
rapat maupun disampaikan secara
pribadi sehubungan dengan
perencanaan pembangunan desa.
Kehadiran dan keaktifan Karang Karang Taruna Satria
taruna Citra Yodha dalam Pandawa memberikan
memberikan usul atau gagasan saran dan gagasan terhadap
dalam rencana pembangunan desa. rencana pembangunan
Keikutsertaan Karang Taruna Citra Karang Taruna Satria
Yodha dalam setiap survey Pandawa tidak selalu
pembangunan desa. terlibat dalam melakukan
survey pembangunan desa
Keikutsertaan Karang Taruna Karang Taruna Satria
dalam pengambilan keputusan Pandawa ikut serta dalam
rencana pembangunan desa. pengambilan keputusan
rencana pembangunan
desa.
Penilaian Empat indikator terpenuhi Sangat Aktif
Partisipasi Tiga indikator terpenuhi Aktif
Dua indikator terpenuhi Kurang Aktif
Satu indikator terpenuhi Tidak Aktif

4.3.2 Partisipasi dalam Pelaksanaan Pembangunan Desa Telaga Sari

Penilaian partisipasi Karang Taruna Satria Pandawa dalam tahapan

pelaksanaan pembangunan dapat dilihat dari keterlibatan Karang Taruna Satria

Pandawa dalam pelaksanaan gotong royong pembangunan desa, baik pembangunan

fisik maupun non fisik. Kepala Desa Mekar Sari tahun 2009-2015, Supranoto
mengatakan, pemerintah desa selalu melibatkan pemuda dalam pembangunan desa.

Pembangunan fisik desa seperti pembangunan parit dan jalan desa, pemuda

dilibatkan untuk menggali aliran air. Pemuda memiliki peranan penting dalam

pembangunan, mereka memiliki semangat dan fisik yang kuat. Karang Taruna

merupakan organisasi sosial yang senantiasa bersedia membantu desa, walaupun

kegiatan mereka lebih banyak dalam aspek pembangunan secara non fisik, yaitu

pengembangan sumber daya manusia Desa Telaga Sari.

Kegiatan gotong royong merupakan salah satu bentuk kegiatan yang dilakukan

Karang Taruna untuk menunjukkan keberadaan mereka di tengah masyarakat. Hal

ini diperkuat oleh penuturan Bapak Suswanto,

"Karang Taruna Satria Pandawa latar belakang terbentuknya adalah untuk


menghimpun seluruh kelompok pemuda yang ada di desa ini. Kegiatan awal
yang mereka lakukan untuk menunjukkan keberadaan mereka di tengah
masyarakat adalah melakukan gotong royong kebersihan desa. seluruh
masyarakat mendukung kegiatan tersebut dan ikut berpartisipasi."

Kegiatan Karang Taruna tidak hanya gotong royong yang melibatkan seluruh

unsur yang ada di Desa Telaga Sari, dalam pembangunan masyarakat Desa Telaga

Sari, Karang Taruna membentuk usaha ekonomi produktif. Erwin Syahputra, Mantan

Ketua Karang Taruna juga mengatakan,


32

"Masyarakat sepanjang Jalan Batang Kuis Psr. VI dusun I Desa Telaga Sari
baik bapak-bapak, ibu-ibu, dan pemuda desa ikut dalam kegiatan gotong
royong tersebut. Tidak hanya gotong royong, kegiatan Karang Taruna juga
untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam hal ekonomi, Karang
Taruna membentuk kelompok-kelompok usaha ekonomi produktif. Unit
usaha ekonomi produktif yang berkembang saat itu adalah KUBE pertanian,
pertanian organik, KUBE Peternakan dan KUBE Perikanan serta Sanggar
Seni Logam

Pada kesempatan lain, Rantam Kepala Dusun I mengatakan,

"Pembangunan desa bukan hanya sekedar membangun fisik, tetapi


membangun sumber daya manusia desa.Untuk memberikan pengetahuan
kepada masyarakat desa, Karang Taruna meningkatkan wawasan dan
keterampilan anggota guna menjalankan program kerja yang telah
ditetapkan bersama. Hal ini menjadi penting untuk membangun atmosfir
profesionalitas dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab yang
diemban. Peningkatan kapasitas ini dilakukan dengan metode pelatihan.
Pelatihan-pelatihan yang telah dilakukan adalah;a. Pelatihan Pemetaan
Kampung dan Pengorganisasian serta Pelatihan Tanggap Bencana.

Partisipasi Karang Taruna dalam tahapan pelaksanaan dapat dinilai dari

keterlibatan Karang Taruna dalam memberikan bantuan secara materi maupun

tenaga. Syahriani KAUR Pembangunan Desa Telaga Sari mengatakan, partisipasi

Karang Taruna dalam pelaksanaan pembangunan juga ada dalam renovasi kantor

desa. Dalam proses renovasi kantor desa, Karang Taruna Satria Pandawa melalui

usaha ekonomi produktif (UEP) Sanggar Seni Logam mengambil bagian dalam

pembuatan pintu besi, dan jerjak-jerjak jendela yang ada. KAUR Pembangunan ini

mengungkapkan,

"Karang Taruna punya Sanggar Seni Logam, jadi kami memberikan


pekerjaan membuat pintu besi itu untuk membantu anak-anak Karang
Taruna agar mereka semangat untuk terus berkarya. Pelaksaan pelatihan-
pelatihan untuk meningkatkan keterampilan masyarakat baik yang ditujukan
kepada ibu-ibu maupun kepada pemuda desa. Karang Taruna tetap
mengambil peran disana. Mereka ikut sebagai panitia pelaksana kegiatan.
Seperti halnya pelatihan pertanian Organik ,pelatihan dan Pembibitan
tanaman kebun dan Buah ."
33

Keterlibatan Karang Taruna dalam pelaksanaan pembangunan juga terlihat

dari keterlibatan Karang Taruna menjadi panitia kegiatan dan membantu mencari

kerjasama dengan pihak lain. Kepala Desa Telaga Sari, Indra Sembada mengatakan,

selama ini Karang Taruna dilibatkan dalam menjaga keamanan desa, menjadi panitia

dalam pelaksanaan hari-hari besar, dan kegiatan gotong royong dalam pembangunan

desa. Hal senada juga disampaikan oleh Irawati, Kaur Pemerintahan Desa Telaga

Sari, menurutnya pemuda Karang Taruna sering dilibatkan oleh pemerintah dalam

bentuk menjaga ketertiban, keamanan, dan kebersihan lingkungan Desa Telaga Sari.

Tidak hanya pemerintah desa, Karang Taruna juga melakukan kerjasama dengan

Dinas Sosial maupun Dinas Tenaga Kerja dalam pelaksanaan kegiatan mereka.

Sedangkan menurut mantan kepala Desa Telaga Sari, Supranoto, ada dua cara

pemerintah melibatkan Karang Taruna dalam pembangunan Desa Telaga Sari.

Pertama, dengan cara mendukung setiap kegiatan yang mereka lakukan melalui

anggaran untuk keberlangsungan organisasi tersebut. Kedua, pemerintah mendukung

melalui non anggaran, akan tetapi pemerintah mendukung melalui pembinaan.

Mantan Ketua Karang Taruna Satria Pandawa, Erwin Syahputra mengatakan

selama menjabat sebagai ketua Karang Taruna Satria Pandawa, banyak yang sudah

mereka lakukan untuk pembangunan Desa Telaga Sari. Usaha Ekonomi Produktif

(UEP) Sanggar Seni Logam dan KUBE yang lain merupakan unit usaha ekonomi

yang masih bertahan hingga saat ini.

Pembahasan atas partisisipasi Karang Taruna dalam tahapan pelaksanaan

dapat dijelaskan pada tabel 4.7. Penilaian partisipasi dalam tahapan pelaksanaan
34

pembangunan desa mendapatkan nilai aktif. Partisipasi Karang Taruna Satria

Pandawa mulai tahun 2008 hingga tahun 2016 dalam hal pelaksanaan pembangunan

sudah cukup dan menyentuh hampir semua penduduk desa termasuk pemuda.
Tabel 4.7
Penilaian Partisipasi Pada Tahapan Pelaksanaan

Konsep Indikator Empirik


Pembangunan Keterlibatan Karang Taruna Satria Karang Taruna Satria
Fisik dan Non Pandawa dalam gotong royong Pandawa terlibat dalam
Fisik pembangunan desa. gotong royong
pembangunan desa.
Keterlibatan Karang Taruna Satria Karang Taruna Satria
Pandawa dalam memberikan Pandawa memberikan
bantuan secara materi seperti semen, bantuan secara tenaga
pasir, makanan, dan sebagainya.
Keterlibatan Karang Taruna Satria Karang Taruna Satria
Pandawa dalam panitia pelaksana Pandawa terlibat dalam
kegiatan kepanitian pembangunan
desa
Keterlibatan Karang Taruna Satria Karang Taruna Satria
Pandawa dalam mencari bantuan Pandawa ikut serta dalam
kerjasama untuk pembangunan desa mencari kerjasama untuk
pembangunan desa.
Penilaian Empat indikator terpenuhi Sangat Aktif
Partisipasi Tiga indikator terpenuhi Aktif
Dua indikator terpenuhi Kurang Aktif
Satu indikator terpenuhi Tidak Aktif

Salah satu permasalahan Nasional sekarang ini adalah dimana semakin

tingginya pertambahan penduduk usia pekerja saat ini tidak tertampung oleh lapangan

pekerjaan yang ada. Akibatnya menimbulkan dampak negatif yang sangat besar

seperti pengangguran, penyalahgunaan NARKOBA dan kejahatan lainnya. Untuk

mengatasi hal ini sebuah upaya yang dilakukan Karang Taruna SATRIA PANDAWA

adalah bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan baru dengan terlebih dahulu

menimbulkan semangat kewirausahaan kepada Masyarakat sehingga mampu


35

menciptakan usaha Ekonomi Produktif. Yang mampu membangun usaha berorientasi

pada pemanfaatan potensi dan peluang lokal yang akan memberikan manfaat bagi

dirinya, masyarakat sekitar, bahkan bagi Pemerintah dengan mengurangi

pengangguran dan Urbanisasi tersebut.

Peran aktif Karang Taruna di Desa Telaga Sari sejak berdirinya di tahun 2008

sangat dirasakan oleh masyarakat, berdasarkan hasil observasi di lapangan, Karang

Taruna Desa Telaga Sari telah banyak membuat kegiatan-kegiatan yang bersifat

sosial seperti memberikan beasiswa kepada anak-anak sekolah dasar yang tidak

mampu membiayai sekolahnya, rutin menggelar kegiatan bakti sosial, bergotong

royong bersama warga membersihkan lingkungan, mengumpulkan sumbangan untuk

korban bencana alam dan membantu pemerintah menyukseskan program bedah

rumah.

Karang Taruna Desa Telaga Sari juga telah banyak menghasilkan usaha

ekonomi produktif (UEP) seperti mengelola peternakan sapi, ikan lele, bebek dan

ayam, membuat usaha di bidang pertanian dengan menanam jagung, singkong, cabai

dan tomat. Keaktifan mereka menggerakkan kepedulian pemuda setempat diakui oleh

Kepala Desa Telaga Sari, Supranoto yang mengatakan bahwa karang taruna Satria

Pandawa sangat membantu pemerintah desa khususnya dalam program

pemberdayaan masyarakat.

Ia mengaku senang dengan kegiatan-kegiatan yang dibuat oleh Karang Taruna

Desa Telaga Sari, karenanya di setiap kesempatan kegiatan Karang Taruna,

Supranoto mengusahakan hadir dan mengupayakan bantuan maksimal demi


36

suksesnya kegiatan sosial di Desa Telaga Sari, khususnya yang digawangi oleh anak-

anak muda dari Karang Taruna.

Kepala Desa Telaga Sari periode 2008-2014 ini juga menjelaskan bahwa

keaktifkan Karang Taruna di Desa Telaga Sari juga sering ditanyakan oleh para

kepala desa lainnya di Kecamatan Tanjung Morawa. Setelah ditelusuri, dari 26 desa

di Kecamatan Tanjung Morawa ternyata hanya ada tiga Karang Taruna yang aktif di

kecamatan Tanjung Morawa, yakni Desa Wonosari dan Desa Tanjung Baru. Dari

tiga, menurut penuturan Supranoto, hanya Desa Telaga Sari yang aktif. Hal ini

membuat, kepala desa dan pemuda lainnya sering berguru ke Desa Telaga Sari

untuk menimba ilmu tentang Karang Taruna.

4.3.3 Partisipasi dalam Pemanfaatan dan Pemeliharaan Pembangunan Desa

Telaga Sari

Tahap pemanfaatan pembangunan desa oleh masyarakat khususnya pemuda

merupakan tahap yang penting sebagai upaya partisipasi pemuda dalam memelihara

hasil pembangunan. Pemanfaatan bertujuan agar sarana dan prasarana desa terpakai

untuk kemajuan masyarakat sedangkan pemeliharaan agar sarana dan prasarana

tersebut dapat terus ada berkelanjutan.

Penilaian partisipasi dalam tahapan pemeliharaan dan pemanfaatan terlihat

dari keterlibatan Karang Taruna secara aktif untuk melakukan gotong royong

kebersihan dan pemugaran sarana pembangunan, serta memanfaatkan setiap pelatihan

yang dilakukan oleh pemerintah desa untuk meningkatkan wawasan dan

pemeliharaan Infrastruktur yang sering dilakukan oleh Karang Taruna adalah


37

pembersihan saluran air. Anggota Karang Taruna sering melakukan gotong royong

untuk menjaga kebersihan jalan, masjid, mushola, dan saluran air. Kegiatan Pekan

Bakti dilaksanakan setiap minggu. Sarana umum yang dimanfaatkan anggota Karang

Taruna adalah sarana bermain, Desa Telaga Sari memiliki dua buah lapangan Voli,

sehingga lapangan tersebut sering digunakan oleh pemuda dan ibu-ibu Desa Telaga

Sari. Sekretaris Desa Telaga Sari, H. M Husin mengatakan,

"Karang Taruna sering memakai aula kantor desa untuk kegiatan pelatihan
yang mereka adakan. Karang Taruna juga terlibat dalam kegiatan gotong
royong desa."

Dalam pemeliharaan sarana dan prasarana Desa Telaga Sari, mantan Kepala

Desa Telaga Sari, Supranoto mengakui, pada masa kepemimpinannya Desa Telaga

Sari aktif mengadakan gotong royong dan kerja bakti untuk membersihkan

lingkungan desa dengan mengajak masyarakat desa, termasuk para pemuda Karang

Taruna dan Remaja Masjid. Menurutnya, masyarakat desa antusias dengan kegiatan

tersebut. Kaur Umum Desa Telaga Sari, Irma Yuni juga berpendapat, selain

keterlibatan pemuda dalam gotong royong kebersihan desa, mereka juga terlibat

dalam penjagaan parkir dan keamanan jika ada masyarakat yang memiliki hajatan.

Rio seorang anggota remaja mesjid mengatakan kegiatan-kegiatan

keagamaan di Masjid Sholihin merupakan bagian dari usaha pemanfaatan sarana

ibadah yang ada di Desa Telaga Sari. Ia mengakui, bahwa Remaja Masjid Sholihin

sering mengadakan kegiatan, seperti pengajian, perayaan hari-hari besar agama

Islam, dan melakukan gotong-royong serta kerja bakti untuk membersihkan dan

memelihara Masjid Sholihin yang berada di Dusun I, Desa Telaga Sari. Fahmi
38

mengakui, ia juga terlibat dalam kegiatan kerja bakti yang diadakan oleh

masyarakat desa. Endang mengatakan, pada kegiatan gotong royong biasanya

kepala dusun mendatangi rumah warga dan mengajak untuk berpartisipasi, tidak

jarang pengumuman kegiatan tersebut disiarkan melalui pengeras suara Masjid.

Susan, mengakui sebagai pemuda Desa Telaga Sari sudah seharusnya ikut terlibat

dalam memelihara sarana yang ada di Desa Telaga Sari, jika sarana tersebut terus

dimanfaatkan namun tidak dipelihara maka sarana tersebut tidak akan bertahan

lama.

Putra, dengan membersihkan jalan, parit, lapangan, dan masjid kita dapat

melihat kekurangan sarana tersebut, sehingga dapat memberi saran kepada para

pengelola untuk memperbaiki kekurangannya, serta dapat memahamkan masyarakat

untuk sama-sama merawat sarana yang telah ada merupakan bagian penting dalam

upaya pemeliharaan Desa Telaga Sari agar semakin nyaman dan indah dipandang.

Wahyudi salah satu pendiri Karang Taruna Satria Pandawa menekankan, Karang

Taruna Satria Pandawa harus menjadi teladan dan mampu mengajak para pemuda dan

masyarakat Desa Telaga Sari untuk bersama-sama dalam memelihara dan

memanfaatkan sarana yang telah disediakan oleh pemerintah Desa Telaga Sari guna

meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pembahasan atas partisisipasi Karang Taruna dalam tahapan pemeliharaan dan

pemanfaatan dapat dijelaskan sebagai berikut :


39

Tabel 4.8
Penilaian Partisipasi Pada Tahapan Pemeliharaan dan Pemanfaatan
Pembangunan Desa

Konsep Indikator Empirik


Pembangunan Keterlibatan Karang Taruna Satria Karang Taruna Satria
Fisik Pandawa dalam gotong royong Pandawa terlibat dalam
kebersihan desa. gotong royong Kebersihan
desa.
Kehadiran dan keterlibatan Karang Taruna Satria
Karang Taruna Satria Pandawa Pandawa terlibat dalam
dalam pemugaran sarana umum, pemugaran sarana ibadah
sarana ibadah, sarana olahraga
dan sarana kesehatan.
Keterlibatan Karang Taruna Citra Karang Taruna Citra
Yodha dalam memanfaatkan Yodha terlibat dalam
fasilitas pembangunan yang ada. memanfaatkan fasilitas
pembangunan desa
Pembangunan non Keterlibatan Karang Taruna Karang Taruna
Fisik dalam memanfaatkan pelatihan memanfaatkan pelatihan
untuk meningkatkan kemampuan untuk meningkatkan
atau keterampilan anggota Karang kemampuan atau
Taruna Satria Pandawa keterampilan anggota
Karang Taruna Satria
Pandawa
Keterlibatan Karang Taruna Karang Taruna Satria
dalam memanfaatkan pelatihan Pandawa ikut serta
untuk meningkatkan penghasilan memanfaatkan pelatihan
anggota Karang Taruna maupun untuk meningkatkan
masyarakat desa penghasilan anggota
Karang Taruna maupun
masyarakat desa
Keterlibatan Karang Taruna Karang Taruna terlibat
dalam memanfaatkan program dalam memanfaatkan
pembangunan untuk menambah program pembangunan
wawasan. untuk menambah
wawasan.
Penilaian Tiga Indikator terpenuhi Aktif
Partisipasi
Dua Indikator terpenuhi Kurang Aktif
Satu Indikator terpenuhi Tidak Aktif
40

Penilaian partisipasi Karang Taruna Satria Pandawa dalam tahapan

pemeliharaan dan pemanfaatan pembangunan desa mendapatkan nilai aktif. Karang

Taruna selalu ikut serta dalam setiap kegiatan pemeliharaan dan memanfaatkan

fasilitas pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

4.3.4 Partisipasi dalam Pengevaluasian Pembangunan Desa Telaga Sari

Partisipasi Karang Taruna dalam tahap evaluasi sangatlah penting, mengingat

perannya sebagai partner pemerintah yang bertugas bersama-sama dengan pemerintah

dan komponen masyarakat lainnya untuk menanggulangi berbagai masalah

kesejahteraan sosial terutama yang dihadapi generasi muda serta pengembangan

potensi generasi muda di lingkungannya. Oleh Sebab itu, Karang Taruna harus kritis

dan solutif dalam mendukung setiap pembangunan yang ada di Desa Telaga Sari

terutama yang dikhususkan dalam penanganan masalah pemuda. Dalam tahapan

evaluasi, penilaian partisipasi Karang Taruna dilihat dari kehadiran dan keterlibatan

Karang Taruna Satria Pandawa dalam rapat evaluasi kegiatan pembangunan desa.

Memberikan masukan kepada pemerintah desa atas kegiatan pembangunan yang telah

dilakukan.

Partisipasi Karang Taruna pada tahap evaluasi dalam pembangunan dan

pengembangan Desa Mekar Sari secara umum dipandang sudah baik. Kepala Desa

Telaga Sari 2016-2022, Indra Sembada mengatakan,

"Partisipasi Karang Taruna dalam tahap evaluasi pembangunan sudah


baik, dalam rapat evaluasi pelaksanaan kegiatan mereka diundang, dan
mereka menghadiri rapat-rapat tersebut."

Irawati, Kaur Pemerintahan Desa Telaga Sari juga mengatakan,


41

"Pengurus Karang Taruna terlihat dalam rapat desa, mereka sering datang
pada saat rapat untuk mengadakan kegiatan, seperti rapat pelaksanaan
kegiatan hari-hari besar, rapat dalam pembentukan panitia pemilihan desa,
dan kegiatan gotong royong. Dalam kegiatan evaluasi mereka juga aktif
terlihat dan member kontribusi masukan dan saran.

Ketua Karang Taruna Satria Pandawa periode 2008-2013, Erwin mengatakan,

pada saat beliau masih aktif di Karang Taruna, setiap kegiatan pertemuan yang

diadakan di kantor Desa Telaga Sari, baik dalam rapat-rapat pembentukan ataupun

rapat evaluasi, dirinya dan beberapa orang pengurus Karang Taruna Satria Pandawa

selalu hadir dalam pertemuan tersebut. Untuk periode sekarang, beliau tidak

mengetahui keaktifan Karang Taruna dalam pertemuan-pertemuan yang ada di

Kantor Desa. M.Husin Sekretaris Desa Telaga Sari mengatakan, Jika ada pertemuan

di kantor desa dan mengundang organisasi pemuda, biasanya yang hadir dalam

kegiatan pertemuan tersebut hanya ketuanya saja sebagai perwakilan, dia

menyampaikan hasil evaluasi dan memberikan masukan kepada pemerintah desa.

Rio pemuda telaga sari mengatakan, biasanya mereka hanya terlibat dalam

diskusi kecil untuk membahas tentang evaluasi dalam pelaksanaan kegiatan yang

sudah dilakukan, kemudian hasil evaluasi disampaikan kepada Ketua Karang

Taruna, beliau tidak mengetahui bagaimana prosesnya di pemerintah desa, karena

tidak pernah mengikuti pertemuan di kantor desa. Sama halnya dengan pengakuan

yang disampaikan oleh Fahmi,

"Saya ini hanya anggota biasa, jadi untuk pertemuan-pertemuan yang


diadakan pemerintah desa, saya tidak mengetahuinya. Kami hanya
menerima arahan saja dari ketua, kalaupun kami mengevaluasi tentang
pembangunan yang ada di desa ini, kami hanya melakukannya sambil
ngumpul-ngumpul biasa."
42

Ketua Karang Taruna Satria Pandawa periode 2008-2013, Erwin mengakui,

bahwa setiap pertemuan-pertemuan yang diadakan di kantor desa, Karang Taruna

selalu di ikut sertakan, namun terkadang undangan tersebut tidak dapat di hadiri oleh

semua pengurus karena ada kegiatan lainnya. Beliau menjelaskan,

"Ketika kami bisa hadir, kami datang dan terlibat dalam pertemuan tersebut.
Dalam pertemuan itu, biasanya kami menyalurkan pemikiran kami tentang
pembangunan desa, khususnya yang terkait dengan pemberdayaan pemuda
desa. Kami memberikan kritik dan saran terhadap kegiatan yang pernah
dilakukan sehingga untuk kegiatan kedepannya pelaksanaannya bisa lebih
baik lagi dan lebih tepat sasaran."

Pembahasan atas partisisipasi Karang Taruna dalam tahapan evaluasi dapat


dijelaskan sebagai berikut :

Tabel 4.9
Penilaian Partisipasi Pada Tahapan Evaluasi Pembangunan Desa

Konsep Indikator Empirik


Pembangunan Kehadiran dan keterlibatan Karang Taruna Satria
Fisik dan Non Karang Taruna Satria Pandawa Pandawa selalu hadir
fisik secara aktif dalam menilai dan terlibat dalam
kegiatan pembangunan dalam menilai kegiatan
rapat desa pembangunan dalam
rapat desa.
Keterlibatan Karang Taruna Karang Taruna Satria
dalam menyampaikan masukan Pandawa terlibat
dan saran masyarakat dalam dalam menyampaikan
evaluasi pembangunan desa masukan dan saran
masyarakat dalam
evaluasi
pembangunan desa
Penilaian Dua indikator terpenuhi Aktif
Partisipasi Satu Indikator terpenuhi Kurang Aktif
Indikator tidak terpenuhi Tidak Aktif
43

Penilaian partisipasi Karang Taruna Satria Pandawa dalam tahapan evaluasi

pembangunan desa mendapatkan nilai aktif. Karang Taruna sering memberikan

masukan dan saran masyarakat kepada pemerintah desa dalam situasi yang formal.

4.4 Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Partisipasi Karang Taruna Satria

Pandawa

Dea (2013) mengatakan ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi

partisipasi masyarakat dalam suatu program, dimana timbulnya partisipasi

merupakan ekspresi perilaku manusia untuk melakukan suatu tindakan. Perilaku

tersebut didorong oleh adanya tiga faktor utama yang mendukung, yaitu : kemauan,

kemampuan, dan kesempatan bagi masyarakat untuk berpartisipasi. Selain itu

partisipasi masyarakat juga dipengaruhi oleh faktor usia, tingkat pendidikan, dan

pekerjaan (Patabang, 2010).

Partisipasi Karang Taruna Satria Pandawa terhadap pembangunan yang ada

di Desa Telaga Sari, seperti yang telah dijelaskan pada bahasan sebelumnya, Karang

Taruna terlibat aktif untuk merumuskan, melaksanakan, dan memelihara

pembangunan yang ada di Desa Telaga Sari. Faktor yang mempengaruhi partisipasi

Karang Taruna dalam pembangunan desa dibagi menjadi dua, yakni faktor internal

dan faktor eksternal. Seperti yang disampaikan oleh Edi selaku anggota karang

taruna

"Faktor yang mempengaruhi partisipasi Karang Taruna Satria Pandawa,


kalau dari ekternal, kepala desa sangat mendorong dan mendukung setiap
kegiatan yang diadakan oleh Karang Taruna. Kami selalu diundang dalam
setiap rapat desa, kepala desa juga mau memberi nasehat buat karang
44

taruna. Kalau di internal, karena pengurusnya kebanyakan kurang dapat


membagi waktu, jadi dalam setiap kegiatan tidak semua anggota Karang
Taruna yang terlibat."

Keterlibatan anggota Karang Taruna dalam kegiatan pembangunan desa

merupakan atas keinginan sendiri, Rio mengakui,

"Ketika pengurus Karang Taruna mengajak saya untuk mengikuti kegiatan,


saya tidak menolak. Kegiatan yang diadakan oleh Karang Taruna sangat
membantu saya. Salah satu kegiatan yang saya ikuti adalah pelatihan
organisasi. Pelatihan ini dilakukan aula kantor desa, dari pelatihan ini saya
belajar agar bisa lebih professional.

Yadi mengatakan hal yang sama, " Kalau ada kegiatan gotong royong

kebersihan dan waktu pelaksanaannya cocok sama waktu saya, saya ikut."

Rasa kepedulian anggota Karang Taruna Satria Pandawa terhadap potensi dan

kemampuan generasi muda terlihat dari program-program kerja yang mereka miliki.

Putra mengatakan,

"Untuk menarik perhatian pemuda desa, kami mulai dari kegiatan yang
mereka suka, salah satunya futsal. Setelah mereka dekat, maka pengurus
Karang Taruna mengajak mereka untuk ikut dalam kegiatan-kegiatan yang
dapat meningkatkan kemampuan mereka."

Ketua Karang Taruna tahun 2008-2013, Erwin Syahputra mengatakan,

pada tahun 2008 Karang Taruna telah menjalankan program-program

pengembangan potensi pemuda desa. Kegiatan usaha ekonomi produktif

menjadikan pemuda desa memiliki penghasilan sendiri. Pemupukan kearifan

generasi muda untuk dapat mengembangkan tanggung jawab sosial yang bersifat

rekreatif, kreatif, edukatif, ekonomis produktif dan kegiatan praktis lainnya


45

dengan mendayagunakan segala sumber dan potensi kesejahteraan sosial di

lingkungannya secara swadaya. Beberapa bentuk kegiatan ekonomi produktif

yang dikembangkan melalui Seksi Pengembangan Ekonomi dan Koperasi adalah :

Budidaya tanaman holtikultura antara lain buah pisang, ubi kayu, jagung dan

sayuran, Kerajinan Logam, budidaya ikan air tawar .

Inovasi dan kreatifitas sangat dibutuhkan untuk mempertahankan

keberlangsungan sebuah organisasi. Menurut Erwin Inovasi dan kreatifitas karang

taruna Satria Pandawa dapat dilihat dari program yang sedang berjalan dan program

akan dijalankan karang taruna sebagai berikut:

1.PROGRAM JANGKA PENDEK


a. Pengembangan Olah Raga Futsal, Badminton Bola kaki
b. Pengajian Remaja.
c. Pengembangan Seni music : Group Band
d. Penyantunan anak yatim
2.PROGRAM JANGKA MENENGAH
a. Gotong Royong dan Penghijauan.
b. Pengembangan Manajemen Organisasi dan Peningkatan kapasitas kader
melalui berbagai pelatihan keterampilan.
c. Lantainisasi Rumah tidak Layak Huni.
d. Penyuluhan kesehatan.
e. Pengobatan Gratis.
f. Pembuatan perpustakaan kampung.
g. Penyuluhan Anti Narkoba.
h. Penggalangan dana untuk pembangunan
3.PROGRAM JANGKA PANJANG
a. Mengadakan Perlengkapan administrasi organisasi untuk anggota
Karang Taruna Satria Pandawa dan Gapoktan Desa Telagasari
b. Jembatan permanen pengganti jembatan gantung. .
c. Pelatihan Pengorganisasian Masyarakat untuk pembekalan dan
menambah wawasan petani dan anggota karang taruna
d. Pengembangan usaha ekonomi produktif keluarga karang taruna
bekerjasama dengan Kelompok Tani.
4.PROGRAM USAHA EKONOMI PRODUKTIF
a. Kelompok Tani Karang Taruna Satria Pandawa.
b. Kelompok Perikanan Karang Taruna Satria Pandawa.
c. Kelompok Peternakan Karang Taruna Satria Pandawa.
46

d. Pengelolaan Objek wisata.


e. Seni Kerajinan patung.
f. Pertanian Organik.
5.PROGRAM KERJASAMA KEMITRAAN
a. Kerjasama kemitraan antara Karang Taruna Desa Tetangga, kecamatan
dan Kabupaten Deli Serdang serta Kabupaten Lainnya dalam Program
Kerja.
b. Taruna Tanggap Bencana ( TAGANA ) Kabupaten Deli Serdang dalam
hal pelatian pengurangan resiko bencana dan simulasi .
c. Dinas Pendidian dalam kegiatan Paket C
d. Dinas Pertanian dalam hal kelompok tani ,Pertanian Organik dan
Pengelolaan Hasil tani.
e. Dinas Perkebunan Dalam hal Pembibitan Tanaman Kebun dan
pengelolaan Hasil Kebun.
f. Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN) dalam hal kampanye
pertanian Organik ,pelatihan dan Pembibitan tanaman kebun dan Buah.
g. Kelompok Masyarakat Pengurangan Resiko Bencana ( KMPRB ) dalam
pengurangan resiko bencana dengan penghijauan didaerah aliran sungai
dan jalan desa Telagasari.
h. Remaja Masjid dalam kegiatan sosial dan hari besar keagamaan.
i. Kelompok perwiritan Ibu dan Bapak dalam kegiatan sosial.
j. Barisan Mahasiswa ( Barmas ) Universitas Muhammadiyah Sumut dalam
hal Pengorganisasian Masyarakat Dan Kegiatan Sosial.
k. Lembaga SOI (Soucial Of Indonesion) dalam hal penggalangan dana
Korban Bencana dan Kegiatan Sosial.

Adanya dukungan yang diberikan pemerintah desa untuk setiap kegiatan yang

diadakan Karang Taruna membuat Karang Taruna tetap bertahan hingga saat ini.

Tidak hanya dari pemerintah desa, Karang Taruna Satria Pandawa juga mendapat

dukungan dan kesempatan dari Departemen Sosial dan Dinas Tenaga Kerja agar

dapat mengembangkan potensi sumber daya manusia yang ada di Desa Telaga Sari,

khususnya generasi Muda. Sekretaris Desa Telaga Sari, M. Husin mengatakan,

"Karang Taruna merupakan organisasi yang sangat baik, sebagai wadah


yang menampung aspirasi masyarakat dapat memberikan masukan terhadap
pembangunan desa kami sangat mendukung setiap kegiatan yang mereka
lakukan.Saya berharap, kedepannya Karang Taruna dapat lebih baik lagi
dalam mengembangkan potensi pemuda desa."
47

Bapak Suswanto juga mengatakan, bahwa sebagai ketua BPD beliau sangat

mendukung kegiatan Karang Taruna. Kegiatan Karang Taruna yang dapat

bekerjasama dengan Dinas Sosial maupun Dinas Tenaga Kerja mampu

meminimalisir permasalahan sosial yang ada dimasyarakat, khususnya pemuda desa.

Karang Taruna dengan kegiatan gotong royong dan penghijauan serta penyuluhan

anti narkoba mampu menjadikan Desa Telaga Sari sebagai desa percontohan.

Pembahasan di atas terkait faktor yang mempengaruhi partisipasi Karang

Taruna dalam pembangunan desa dapat dijelaskan melalui tabel 4.10.

Tabel 4.10
Faktor yang Mempengaruhi Partisipasi Karang Taruna

Konsep Indikator Empirik


Faktor Internal Adanya keterlibatan Anggota Karang Taruna
seluruh anggota Karang terlibat atas dasar
Taruna atas dasar keinginan sendiri
keinginan sendiri.
Adanya rasa kepedulian Karang Taruna memiliki
anggota Karang Taruna rasa kepedulian terhadap
terhadap generasi muda generasi muda Desa
Desa Telaga Sari. Telaga Sari

Adanya inovasi dan kreatifitas Terdapat inovasi dan


dalam diri anggota Karang kreatifitas dalam diri
Taruna untuk mengisi anggota Karang Taruna
pembangunan desa. untuk mengisi
pembangunan desa
Rentang usia pengurus Rentang usia pengurus
Karang Taruna 13-45 tahun Karang taruna 13-45 tahun

Tingkat Pendidikan pengurus Tingkat pendidikan


Karang Taruna SMA hingga pengurus Karang Taruna
Perguruan Tinggi ada yang tamat SMP

Adanya pengurus Karang Ada 15 orang Pengurus


Taruna yang bekerja. Karang Taruna yang
bekerja
48

Penilaian Lima sampai enam Sangat Berpengaruh


indikator terpenuhi.
Tiga sampai empat indikator Berpengaruh
terpenuhi
Satu sampai Dua indikator Kurang Berpengaruh
terpenuhi
Tidak ada indikator terpenuhi Tidak Berpengaruh

Konsep Indikator Empirik


Faktor Eksternal Adanya dukungan dari aparat Adanya dukungan dari
pemerintah desa. aparat pemerintah desa.
Adanya dukungan dari Adanya bantuan dari
instansi/lembaga yang terkait Dinas Sosial dan Dinas
dengan bidang sosial. Tenaga Kerja dalam
kegiatan yang dilakukan
Karang Taruna.
Adanya dukungan dari Masyarakat mendukung
masyarakat desa. kegiatan positif yang
dilakukan Karang Taruna

Penilaian Tiga indikator terpenuhi Sangat Berpengaruh


Dua indikator terpenuhi Berpengaruh
Satu indikator terpenuhi Kurang Berpengaruh
Tidak ada indikator terpenuhi Tidak Berpengaruh

Ketua Karang Taruna Desa Telaga Sari, Erwin Saputra yang ditanyai terkait

dukungan pemerintah desa dalam setiap kegiatan Karang Taruna yang dipimpinnya

mengatakan, peran pemerintah desa dalam mendukung program kerja Karang Taruna

diakui memang cukup nyata. Pemerintah desa juga setiap tahun sering mengundang

pengurus Karang Taruna Desa Telaga Sari untuk mengikuti musyawarah di desa

untuk membuat program kerja desa ke depan. Dalam setiap rapat, pengurus Karang

Taruna selalu meminta adanya anggaran untuk usaha ekonomi produktif (UEP)

pembibitan, namun sayang selalu tidak direalisasikan dengan alasan pemerintah desa
49

kurang percaya dengan sumber daya manusia (SDM) Karang Taruna dalam hal

pembibitan yang dianggarkan Rp10.000.000 tersebut.

Akhirnya, kata Erwin, untuk mengganti usaha pembibitan itu, pemerintah

desa memberikan bantuan sebesar Rp 8.500.000 untuk membeli peralatan olahraga

seperti membeli net, tenis meja, bola voli, sepak bola, kaos futsal dan raket.

Selama kurun waktu lima tahun, setiap tahunnya, Karang Taruna Desa Telaga

Sari selalu mendapat bantuan paket olahraga yang dianggarkan melaui anggaran dana

desa (ADD). Kepala Desa Telaga Sari Supranoto mengakui program pembibitan yang

diminta pengurus Karang Taruna selalu tidak direalisasi, sebab menurutnya, risiko

yang akan ditanggung cukup besar begitupun dalam penyusunan laporan pertanggung

jawaban (LPJ)-nya akan sulit sehingga diambil jalan tengah untuk memberikan

peralatan olahraga.

Meskipun secara finansial bantuan pemerintah desa minim, namun pengurus

Karang Taruna Desa Telaga Sari tidak patah arang, mereka berhasil meyakinkan

tokoh masyarakat setempat dengan program-program kerjanya sehingga berhasil

mengumpulkan sumbangan dari berbagai pihak, termasuk menarik sumbangan dari

PT Olaga Food yang pabriknya berada di lokasi Desa Telaga Sari. Bantuan-bantuan

itu juga tidak terlepas dari peran pemerintah desa yang mendukung pengumpulan

dana itu lewat stempel dan tanda tangan kepala desa.

Peran yang aktif pemuda Karang Taruna di Desa Telaga Sari turut diamini

Hendy yang kini menjadi Ketua Karang Taruna di Desa Dalu X A Kecamatan

Tanjung Morawa. Pada awal ia menggeluti Karang Taruna, Hendy mengaku banyak

belajar dari pengurus Karang Taruna di Desa Telaga Sari. Dirinya juga mengakui
50

keberhasilan Karang Taruna di Desa Telaga Sari menjadi motivasi terbesarnya untuk

sukses menjalankan organisasi Karang Taruna.

Bukan hanya desa dari Kecamatan Tanjung Morawa yang melihat keaktifan

Karang Taruna Desa Telaga Sari, Ketua Karang Taruna Kecamatan Delitua Edy S

Effendy, Ketua Karang Taruna Lubuk Pakam Suyono, Ketua Karang Taruna

Hamparan Perak Sulaiman ketika diwawancarai peran aktif Karang Taruna di Desa

Telaga Sari serentak menjawab dan mengakui bahwa Karang Taruna di Desa Telaga

Sari memiliki peran yang aktif di tengah masyarakat dan membantu pemerintahan

desanya.

Pengakuan dari beberapa kecamatan di Kabupaten Deliserdang itu juga

ditegaskan oleh Kepala Bidang Kesejahteraan Sosial (Kabid Kesos) Dinas Sosial

Kabupaten Deliserdang Parlagutan Nasution. Parlagutan berpendapat, sejak dirinya

menjabat, Karang Taruna di Desa Telaga Sari dilihatnya memiliki program-program

yang menyentuh masyarakat. Pembukaan peternakan sapi yang digawangi anak-anak

muda Karang Taruna berhasil menciptakan lapangan kerja baru. Program sosial yang

mereka lakukan juga sangat menyentuh masyarakat.

Ketua Karang Taruna Sumatera Utara, Solahuddin Nasution turut

mengapresiasi kegiatan positif yang dilakukan oleh Karang Taruna Desa Telaga Sari,

menurutnya, Karang Taruna di Desa Telaga Sari pantas dijadikan Karang Taruna

percontohan pengelolaan Karang Taruna di desa se Sumatera Utara. Karang Taruna

di Desa Telaga Sari menurut pantauannya dikelola dengan sangat baik karena adanya

sokongan dari masyarakat dan pemerintah desa.


51

Tidak bisa dipungkiri, imbuhnya, keterlibatan pemerintah desa dalam

memajukan organisasi Karang Taruna sangat dibutuhkan. Kader-kader Karang

Taruna di Desa Telaga Sari juga dikenal sangat loyal terhadap pimpinan, pekerja

keras dan pantang menyerah.

Pengurus Karang Taruna di Desa Telaga Sari sangat kompak sehingga setiap

acara yang digelar masyarakat selalu antusias, baik hadir menjadi peserta maupun

membantu secara materil. Karena itulah, pada 2013 Tim Penilai Karang Taruna

Tingkat Provinsi Sumatera Utara menjatuhkan predikat Karang Taruna Teladan bagi

Karang Taruna di Desa Telaga Sari.

Pada tahun yang sama, sebagai juara Karang Taruna Teladan tingkat provinsi,

pengurus Karang Taruna Desa Telaga Sari diminta mempresentasikan

keberhasilannya menjalankan roda organisasi di Jakarta untuk diadu dengan Karang

Taruna provinsi lainnya di Indonesia untuk memperebutkan Karang Taruna Teladan

Tingkat Nasional. Setelah melewati serangkaian proses seleksi, dan peninjauan

langsung Tim Penilai Karang Taruna Teladan Tingkat Nasional ke Desa Telaga Sari,

akhirnya Karang Taruna Desa Telaga Sari dinobatkan sebagai Karang Taruna

Teladan Tingkat Nasional.

Melihat peran Karang Taruna Desa Telaga Sari dalam kerangka teori

partisipasi sebagaimana diungkapkan dalam Cohen dan Uphoff (1979) yang membagi

partisipasi ke beberapa tahapan, yaitu tahap pengambilan keputusan, yang

diwujudkan dengan keikutsertaan masyarakat dalam rapat-rapat. Tahap pengambilan

keputusan yang dimaksud disini yaitu pada perencanaan dan pelaksanaan suatu

program. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Desa Telaga Sari dan Ketua
52

Karang Taruna Telaga Sari, bahwa kader Karang Taruna Desa Telaga Sari sering

dilibatkan dalam perencanaan program Desa Telaga Sari yang biasanya dibahas

dalam musyawarah rencana pembangunan (Musrembang) desa setiap setahun sekali.

Kemudian menurut Cohen dan Uphoff tahap pelaksanaan merupakan yang

terpenting dalam partisipasi pembangunan. Wujud nyata partisipasi pada tahap ini

digolongkan menjadi tiga, yaitu partisipasi dalam bentuk sumbangan pemikiran,

bentuk sumbangan materi, dan bentuk tindakan sebagai anggota proyek. Sebagaimana

telah dipaparkan terkait peran pemuda Karang Taruna Desa Telaga Sari di atas,

berdasarkan hasil wawancara dan hasil observasi di lapangan, Karang Taruna Desa

Telaga Sari telah sangat baik melaksanakan program kerjanya, khususnya dalam

program yang terkait dengan permasalahan sosial. Dengan menyelenggarakan aneka

kegiatan yang positif dan membuat usaha ekonomi produktif seperti yang terlihat

dalam Tabel. 4.5. Peran Karang Taruna Telaga Sari dapat disimpulkan bahwa

partisipasi pemuda Karang Taruna telah memenuhi syarat sebagaimana yang

terungkap dalam teori partisipasi Cohen dan Uphoff.

Evaluasi, menurut Cohen dan Uphoff juga merupakan bagian penting dalam

partisipasi masyarakat, karena bagian ini dapat memberikan masukan demi perbaikan

pelaksanaan program kerja selanjutnya. Berdasarkan keterangan dari Mantan Ketua

Karang Taruna Desa Telaga Sari, Erwin Saputra, pihaknya sering melakukan

sarasehan diskusi dengan pihak pemerintahan desa dan kader Karang Taruna serta

tokoh masyarakat lainnya untuk membahas persoalan-persolan dan kendala-kendala

yang dihadapi dalam pembangunan desa. Dalam internal Karang Taruna Desa Telaga
53

Sari, pengurus juga menggelar rapat evaluasi terkait program kerja yang dilaksanakan

per tri wulan secara rutin selama satu periodesasi kepengurusan.

Tahap yang terakhir konsep partisipasi sebagaimana diungkap oleh Cohen dan

Uphoff adalah menikmati hasil. Sebagaimana hasil observasi dan hasil wawancara

terkait program kerja Karang Taruna Desa Telaga Sari, terlihat bahwa Karang Taruna

Desa Telaga Sari cukup aktif dan secara konsisten membuat program kerja yang

positif bagi masyarakat sekitar. Program kerja yang mereka lakukan terbukti turut

diikuti oleh anak-anak muda sekitar sehingga hampir rata kegiatan berlangsung

dengan sukses. Begitu pula dengan program Kelompok Usaha Bersama (KUBE) yang

berhasil menyerap tenaga kerja masyarakat desa. Masyarakat yang tadinya tak

berpenghasilan, berhasil menghidupi keluarganya dengan cara bercocok tanam.

Besarnya manfaat yang dirasakan masyarakat sekitar akan keberadaan Karang Taruna

Desa Telaga Sari yang cukup aktif berperan di tengah masyarakat mengindikasikan

bahwa apabila Karang Taruna di suatu wilayah aktif dan disinergikan serta disokong

oleh pemerintah desa, maka dapat dipastikan implementasi Undang-undang No. 6

tahun 2014 tentang Desa dapat berjalan dengan baik dan membawa dampak positif

bagi perkembangan masyarakat desa sesuai yang diamanahkan UU Desa tersebut.

Pada kesempatan ini Erwin juga menyebutkan beberapa prestasi yang sudah

didapat Karang Taruna Satria Pandawa sebagai berikut :

1. Juara II Festival Musik Rock Piala PT. Olagafood tahun 2010


2. Juara I Lomba Nyanyi lagu pop daerah pada kegiatan expo Karang
Taruna Sumut tahun 2011
3. Karang taruna Teladan-III tingkat Propinsi Sumatera Utara tahun 2012
4. Karang Taruna Terbaik Nasional tahun 2013
54

Dari semua yang sudah dilakukan tidak terlepas dari kendala, menurut Erwin

kendala yang di hadapi Karang Taruna Satria Pandawa adalah sebagai berikut :

1. Kurangnya minat masyarakat dalam pemanfaatan sumber daya alam


dalam program Desa Telagasari menuju Desa yang menghasilkan
produk pertanian organik.
2. Belum memiliki Donatur tetap sebagai Bapak angkat sehingga
terkendala untuk mewujutkan program-program ke depan.
3. kurangnya fasilitas pendukung di dalam sekretariatan sehingga data
base karang taruna sering hilang.
4. Belum terpenuhinya PMKS secara menyeluruh.
5. Kurangnya pemahaman dalam berorganisasi dan Berjaringan .
6. Kurangnya pendidikan dikalangan pengurus dan anggota karang
Taruna.

4.5. Analisis SWOT terhadap Peran Karang Taruna Satria Pandawa dalam

Implementasi UU No 6 Tahun 2014

Mendeskripsikan tantangan dan hambatan yang dihadapi pemuda Karang

Taruna Desa Telaga Sari Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deliserdang dalam

implementasi Undang-undang No. 6 tahun 2014 tentang Desa akan diidentifikasi

dengan menggunakan data-data strength/kekuatan, weakness/kelemahan,

opportunity/peluang dan threat/ancaman (SWOT) atas kondisi internal dan eksternal

dari organisasi Karang Taruna Desa Telaga Sari.

Alat yang biasa dipakai adalah matrik SWOT, yang menggambarkan

bagaimana menggabungkan antara faktor internal dan eksternal, sehingga

menghasilkan empat bentuk strategi sebagai berikut:


55

Tabel 4.11
Matrix SWOT

Strengths (S): Weaknesses (W):


Internal 1. Kekompakan pengurus di 1. Kurangnya minat masyarakat
setiap bidang . dalam pemanfaatan sumber daya
2. Dukungan masyarakat Desa alam dalam program Desa
Telagasari menuju Desa yang
Telaga Sari terhadap program
menghasilkan produk pertanian
Karang Taruna Desa Telaga Sari organik.
3. Dukungan pemerintahan desa 2. Belum memiliki Donatur tetap
di setiap kegiatan perencanaan sebagai Bapak angkat sehingga
pembangunan dan pengakuan terkendala untuk mewujutkan
yang sah kepada Karang Taruna program-program ke depan.
di Desa Telaga Sari 3. kurangnya fasilitas pendukung
di dalam sekretariatan sehingga
4. Sumber daya alam di Desa
data base karang taruna sering
Telaga Sari, khususnya adanya hilang.
tanah garapan PTPN IV di 4. Kurangnya pemahaman dalam
Eksternal Kecamatan Tanjung Morawa berorganisasi dan Berjaringan .
5. Kurangnya pendidikan
dikalangan pengurus dan
anggota karang Taruna.

Opportunities (O): Strategi S-O Strategi W-O


1. Undang-undang
No.6 tahun 2014 - Memanfaatkan peluang . -Meningkatkan intensitas dan
tentang Desa yang kerjasama oleh PEMDA kualitas sosialisasi melalui
menyebutkan Deli Serdang dengan kegiatan penyuluhan dan
bahwa organisasi dijadikan desa Telaga Sari bimbingan sosial serta
Karang Taruna sebagai kawasan yang tepat publikasi berbagai kegiatan
sebagai Lembaga untuk pengembangan Desa Karang Taruna melalui
Kemasyarakatan media cetak, elektronik
Desa (LKMD) maupun media lainnya.
- Memberi peningkatan dan
yang diakui - Pelatihan dan pembinaan
pemahaman tentang
pemerintah. harskill dan softskill bisa
2. Beroperasinya pembuatan KUBE Souvenir
membuat mereka semakin
Bandara percaya diri dengan
- Dilakukan sebuah ide kreatif
Internasional kemampuan mereka
dan inovatif untuk
Kualanamu sehingga berani untuk
mengemas daerah mereka
(KNIA) yang membuka usahanya sendiri
bisa menjadi tempat wisata,
berdekatan dengan
yang bisa dilakukan dengan
lokasi Desa Telaga
kerjasama dinas pariwisata.
Sari
Dan pelatihan mengenai
3. Memiliki potensi
promosi daerah mereka
Wisata Agraris
56

Threats (T): Strategi S-T Strategi W-T


1. Tumbuhnya
organisasi- -Kerja sama dengan berbagai -Peningkatan pendidikan dan
organisasi baru pihak yang bersangkutan pelatihan bagi pengurus
yang berbasis di maupun aktivis Karang
Meningkatkan kejujuran dan Taruna dalam bidang
desa seiring dengan
ketaqwaan kepada Allah manajemen organisasi,
implementasi ketrampilan Usaha
Undang-undang Perekrutan anggota dan Kesejahteraan Sosial (UKS)
No.6 tahun 2014 program pengkaderan yang dan Usaha Ekonomis
tentang Desa. baik Produktif (UEP),
2. Pemilihan kepala kepemimpinan dan
desa yang kaderisasi serta ketrampilan
teknis.
membuat kader
- meningkatkan kwalitas SDM
Karang Taruna melalui pelatihan dan
Desa Telaga Sari magang bagi generasi
harus pintar-pintar penerus
melakukan strategi
politik.
3. Semakin
bertambahnya usia
pengurus Karang
Taruna Desa
Telaga Sari.

Melihat Tabel. 4.11. Analisis SWOT organisasi Karang Taruna Desa Telaga

Sari di atas dapat dijabarkan bahwa yang menjadi hambatan bagi peran pemuda

Karang Taruna dalam Implementasi Undang-undang Undang-undang No.6 tahun

2016 tentang Desa adalah minimnya sumber daya manusia atau kepengurusan di

Karang Taruna Desa Telaga Sari yang menempuh jenjang pendidikan perguruan

tinggi. Berdasarkan datayang dihimpun, belum ada satu pun pengurus Karang Taruna

Desa Telaga Sari yang menempuh jenjang ke perguruan tinggi berimbas pada pola

kerja dan manajemen pengorganisasian yang tidak terstruktur dengan rapi.


57

Harus diakui bahwa pendidikan adalah salah satu sarana untuk meningkatkan

kualitas sumber daya manusia. Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI)

menyebutkan, orang yang memiliki pendidikan sampai jenjang doktoral akan

mendapat nilai 9. Meskipun, dalam KKNI juga dikatakan mereka yang tidak

berpendidikan bisa mendapat nilai tertinggi asal bisa memenuhi syarat

profesionalisme dalam bidangnya masing-masing, namun tetap saja pendidikan

menjadi tolok ukur utama.

Rendahnya pendidikan di kalangan pengurus adalah salah satu faktor

mengapa program kerja Karang Taruna Desa Telaga Sari tidak ada yang

berkelanjutan. Program-program yang dijalankan sifatnya hanya seremonial. Kalau

pun ada yang bersifat pemberdayaan umumnya tidak berjalan dengan baik atau

berhenti di tengah jalan. Sebab, pengurus Karang Taruna Desa Telaga Sari banyak

yang kurang memahami manajerial atau tata kelola program kerja yang

berkesinambungan.

Minimnya kemampuan manajemen untuk mengelola suatu program juga

menjadi hambatan tersendiri. Dari beberapa program kerja yang dijalankan, dalam

Usaha Ekonomi Produktif (UEP) Kandang Sapi misalnya, hanya bertahun selama dua

tahun. Setelahnya program ini berhenti dan justru melahirkan konflik antarpengurus.

Berdasarkan data yang dihimpun, ketidakmampuan membagi hasil dan mengelola

beban kerja antara pengurus yang satu dengan yang lain menjadi faktor utama. Untuk

mencari jalan tengahnya, pengurus Karang Taruna Desa Telaga Sari lebih

mengutamakan menghentikan program daripada mencarikan solusi manajemen UEP

tersebut.
58

Padahal, dalam mengelola program berbasis bisnis dibutuhkan kemampuan

yang andal dalam pengelolaannya. Kalau dikelola sembarangan maka hasilnya tidak

akan optimal. Hal tersebut tidak hanya merugikan kader-kader Karang Taruna Desa

Telaga Sari namun juga bisa menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat yang

menjadi investor dan pihak pemerintah yang memberikan bantuan dalam realisasi

UEP tersebut. Keadaan serupa juga terjadi pada pelaksanaan Kelompok Usaha

Bersama (KUBE) Karang Taruna Desa Telaga Sari, khususnya dalam bidang

pertanian. Lahan garapan yang dijadikan fondasi utama untuk mengelola hasil

pertanian yang dikelola oleh para pengurus Karang Taruna Desa Telaga Sari akhirnya

harus berhenti.

Persoalannya adalah tidak adanya mekanisme pembagian hasil penjualan yang

merata. Besar lahan petani penggarap dengan penggarap yang lain tidak sama

sehingga menimbulkan kecemburuan sosial. Bantuan-bantuan yang diberikan kepada

pemerintah juga terbatas sehingga hanya segelintir saja yang memanfaatkan bantuan

pertanian tersebut. Kondisi ini membuat perpecahan, sehingga solusinya adalah

tanah-tanah garapan itu dijual kepada orang lain, dan hasil penjualannya dibagi rata.

Ketidakmampuan memanajemen dan mengelola KUBE serta UEP sebagaimana

dicontohkan di atas menjadi suatu kelemahan yang harus segera diatasi. Sebab bila

dibiarkan, Karang Taruna Desa Telaga Sari tidak akan mampu mengimplementasikan

perannya sebagaimana yang diharapkan dalam Undang-undang No. 6 tahun 2014

tentang Desa.

Kelemahan lain yang kerap menjadi hambatan adalah tidak adanya pengurus

Karang Taruna Desa Telaga Sari yang memahami persoalan administrasi secara
59

profesional. Bantuan-bantuan dari dinas terkait kerap tidak teroptimalkan karena

ketidaksiapan pengurus Karang Taruna Desa Telaga Sari dalam menyiapkan proses

administrasi yang menjadi syarat utama bantuan bisa dikucurkan. Persoalan

administrasi ini kerap dianggap remeh oleh para pengurus, padahal administrasi

organisasi adalah suatu bagian yang cukup penting dalam mengembangkan suatu

organisasi. Lewat administrasi yang rapi, suatu organisasi bisa mengetahui sejauh

mana organisasinya telah berkembang.

Persoalan lain yang kerap menjadi hambatan adalah soal mekanisme

pengkaderan. Tidak adanya jadwal khusus perekrutan bisa mengancam regenerasi di

tubuh Karang Taruna Desa Telaga Sari. Usia pengurus saat ini rata-rata 30-35 tahun.

Sementara amanat undang-undang menegaskan mereka yang bisa menjadi pengurus

adalah maksimal berusia 40 tahun. Artinya bila manajemen pengkaderan tidak segera

dibenahi, maka dalam 10 sampai 5 tahun terakhir Karang Taruna Desa Telaga Sari

akan mengalami lost generation.

Selain faktor penghambat, peran Karang Taruna Desa Telaga Sari dalam

Implementasi Undang-undang No. 6 tahun 2014 tentang Desa juga memiliki

tantangan tersendiri. Disahkannya undang-undang tentang desa yang secara spesifik

tidak mengatur mengenai pembentukan Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKMD)

membuat organisasi baru berbasis desa bermunculan. Kemunculan organisasi baru

ini, apabila dilihat dari segi implementasi undang-undang yang mengedepankan pola

partisipatif sejatinya menjadi hal yang positif. Namun bagi Karang Taruna Desa

Telaga Sari, hal ini bisa menjadi ancaman.


60

Peran pemuda Karang Taruna Desa Telaga Sari untuk ikut mengambil

kebijakan dalam perumusan program kerja di pemerintahan desa akan terbatasi

dengan munculnya organisasi baru itu. Karenanya, penguatan Karang Taruna Desa

Telaga Sari menjadi suatu keniscayaan. Penguatan itu akan membuat nilai tawar

organisasi Karang Taruna Desa Telaga Sari menjadi tinggi sehingga organisasi-

organisasi baru itu harus berinduk dengan Karang Taruna yang notabene memiliki

pengalaman di desa yang jauh lebih panjang dari organisasi berbasis desa lainnya.

Ancaman berikutnya datang dari proses mekanisme pemilihan kepala desa

yang menggunakan mekanisme pemilihan langsung. Tidak bisa dipungkiri, para calon

kepala desa yang akan maju selalu menggunakan segala cara. Menggandeng

organisasi-organisasi kemasyarakatan yang ada, termasuk Karang Taruna.

Persoalannya, Karang Taruna sebagai institusi harus bersifat independen atau tidak

memihak. Pernyataan sikap itu jelas tertulis di dalam anggaran dasar dan anggaran

rumah tangga Karang Taruna yang disahkan secara nasional. Namun, dinamika di

lapangan memaksa keberpihakan itu. Sebab, tanpa dukungan dari pemerintah, Karang

Taruna sulit berjalan. Sebagaimana telah disebutkan, Karang Taruna adalah mitra

pemerintah. Anak kandung pemerintah.

Berdasarkan pengamatan dan pengumpulan data di lapangan, keberpihakan

yang dilakukan Karang Taruna Desa Telaga Sari dalam proses pemilihan kepala

daerah di desa itu menjadi suatu ancaman tersendiri. Pasalnya, hanya dengan

mengusung salah satu calon maka Karang Taruna Desa Telaga Sari harus siap

menang dan siap kalah. Dalam artian, apabila menang maka program kerja Karang

Taruna akan sepenuhnya didukung oleh si calon kepala desa yang diusung. Namun
61

apabila kalah, maka Karang Taruna Desa Telaga Sari akan menjadi oposisi di

pemerintahan desa, karena kepala desa yang tidak diusung Karang Taruna sudah

terlanjur menganggap Karang Taruna sebagai rival politik.

Bertambahnya usia para pengurus juga menjadi ancaman tersendiri.

Pembatasan batas usia maksimal untuk menjadi pengurus di Karang Taruna Desa

Telaga Sari menjadi ancaman apabila proses regenerasi tidak dijalankan dengan baik.

Pola pengkaderan yang selama ini ada di Karang Taruna Desa Telaga Sari

berdasarkan pengamatan tidak berjalan dengan baik. Proses rekrutmen dan seleksi

hanya didasarkan pada seleksi alam. Artinya tidak memiliki konsep yang jelas kapan

seseorang bisa dinyatakan mampu secara organisasi menjadi pengurus Karang

Taruna.

Persoalan usia sebenarnya bukan hanya persoalan di Karang Taruna Desa

Telaga Sari semata, pada level kabupaten dan provinsi sekalipun, pengurus Karang

Taruna masih banyak yang berusia di atas 40 tahun. Selain karena proses

pengkaderan yang tidak berjalan dengan baik, faktor lain adalah adanya ego dari para

senior yang seolah enggan digantikan oleh juniornya. Persoalan tersebut akan

menjadi ancaman. Karena dengan mandeknya proses regenerasi, maka organisasi

akan sulit berkembang dan tidak dinamis megikuti perkembangan zaman.

Mengatasi tantangan dan hambatan itu, Karang Taruna Desa Telaga Sari harus

mampu memafaatkan peluang dan kekuatan baik dari segi internal maupun eksternal

organisasi Karang Taruna. Disahkannya Undang-undang No.6 tahun 2016 tentang

Desa merupakan peluang yang sangat baik bagi perkembangan Karang Taruna Desa

Telaga Sari. Sebab pengakuan atas organisasi ini disebutkan dalam undang-undang
62

tersebut. Artinya, secara legitimasi organisasi Karang Taruna semakin kokoh,

khususnya di tingkat desa. Partisipasi anggota Karang Taruna dalam membangun

kemajuan daerahnya juga akan semakin terbuka lebar. Para anggota Karang Taruna

akan lebih leluasa dalam menjalankan tugas serta fungsinya di tengah masyarakat.

Selain itu, di kawasan Desa Telaga Sari juga telah dibangun Bandara

Internasional Kualanamu yang sedikit banyak memengaruhi tingkat perekonomian

masyarakat. Dengan adanya bandara internasional itu, seharusnya pemuda Karang

Taruna bisa menjadikannya sebagai peluang untuk meningkatkan perekonomian

masyarakatnya akibat dampak pembangunan infrastruktur yang terjadi di daerah itu.

Dengan adanya bandara, maka jalan-jalan menuju Desa Telaga Sari Kecamatan

Tanjungmorawa Kabupaten Deliserdang menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Pinggir-pinggir jalan yang tadinya sepi berubah menjadi pusat bisnis kuliner sampai

penginapan. Peluang kerja terbuka lebar. Kelompok Usaha Bersama (KUBE) yang

dibuat oleh Karang Taruna dapat berkembang dengan pesat, harga tanah semakin

tinggi.

Dari segi politik, organisasi Karang Taruna saat ini juga diuntungkan.

Diangkatnya T Erry Nuradi sebagai Gubernur Sumatera Utara menjadi angin segar

bagi seluruh kader Karang Taruna di Sumatera Utara, tak terkecuali Karang Taruna

Desa Telaga Sari. Sebab T Erry Nuradi merupakan kader Karang Taruna, yang kini

menjadi Ketua Majelis Pertimbangan Karang Taruna (MPKT) Sumatera Utara.

Dengan adanya kader Karang Taruna di level tertinggi dalam bidang pemerintahan

membuat program-program Karang Taruna seharusnya menjadi lebih baik. Kucuran

dana dari APBD yang disalurkan melalui bantuan-bantuan ternak, perikanan dan
63

pertanian seharusnya membuat Karang Taruna maju pesat, dari segi pengembangan

ekonomi. Melalui intervensi dari kepala daerah, para kepala daerah mulai dari tingkat

kabupaten/kota, para camat dan kepala desa sadar untuk membentuk dan mendukung

program-program Karang Taruna.

Membuat peluang-peluang itu menjadi maksimal, sejatinya Karang Taruna

Desa Telaga Sari memiliki modal yang bagus. Kekompakan antarpengurus di Karang

Taruna Desa Telaga Sari sangat kuat. Kekuatan itu ditunjukkan dalam setiap kegiatan

yang selalu ramai dihadiri oleh para kader Karang Taruna. Dukungan masyarakat

sekitar juga menjadi kekuatan yang besar, modal sosial itu akan mampu menjadikan

Karang Taruna Desa Telaga Sari mudah dalam melakukan setiap aktivitas sosialnya.

Begitupun dengan besarnya dukungan dari pemerintah desa.

Dukungan modal sosial yang besar itu seharusnya mampu dijadikan solusi

untuk meminimalisir hambatan dan tantangan. Penguatan organisasi Karang Taruna

Desa Telaga Sari akan membuat organsiasi tersebut sebagai wadah organisasi

kepentingan masyarakat setempat, termasuk untuk kepentingan ketahanan sosial

(social security) masyarakat, dan menyokong daya tahan ekonomi warga (economic

survival).

Pentingnya peran lembaga kemasyarakatan desa yang termasuk salah satunya

adalah Karang Taruna dalam implementasi Undang-undang No. 6 tahun 2014 tentang

Desa disampaikan oleh Mendagri, Gamawan Fauzi dalam Keterangan Pemerintahan

Atas RUU Desa pada 4 April 2012. Ketika itu, Mendagri berharap undang-undang

mampu mewadahi dan menyelesaikan berbagai permasalahan kemasyarakatan dan

pemerintahan sesuai dengan perkembangan dan dapat menguatkan identitas lokal


64

yang berbasis pada nilai-nilai sosial budaya masyarakat setempat dengan semangat

modernisasi, globalisasi dan demokratisa-si yang terus berkembang.

Mendagri juga menjelaskan argumen historis bahwa sejak dahulu desa-desa

yang beragam di seluruh Indonesia merupakan pusat penghidupan masyarakat

setempat yang memiliki otonomi dalam mengelola tata kuasa dan tata kelola atas

penduduk, pranata lokal dan sumberdaya ekonomi. Selain itu masyarakat lokal atau

desa memiliki kearifan lokal yang mengandung roh kecukupan, keseimbangan dan

keberlanjutan terutama dalam mengelola sumberdaya alam dan penduduk. Sebagian

dari kearifan lokal tersebut ada yang mengatur masalah pemerintahan, pengelolaan

sumberdaya alam dan hubungan sosial. Pada prinsipnya aturan lokal tersebut

bertujuan untuk menjaga ke-seimbangan dan keberlanjutan hubungan antar manusia,

dan antara manusia dengan alam dan Tuhan.

Alasan filosofis-konseptual juga disampaikan Mendagri, yakni adalah

kebutuhan ke depan atas desa sebagai entitas lokal yang bertenaga secara sosial,

berdaulat secara politik, berdaya secara ekonomi dan bermartabat secara budaya.

Sementara secara sosiologis, Mendagri menyatakan pengaturan tentang desa ke depan

dimaksudkan untuk menjawab permasalahan sosial, budaya, ekonomi dan politik

desa, memulihkan basis penghidupan masyarakat desa dan memperkuat desa sebagai

entitas masyarakat paguyuban yang kuat dan mandiri. Selain itu pengaturan tentang

desa juga dimaksudkan untuk mempersiapkan desa merespon proses modernisasi,

globalisasi dan demokratisasi yang terus berkembang.

Regulasi tentang desa dalam sebuah perundangan juga tidak sekadar regulasi

yang hanya mengatur tata kelola pemerintahan desa semata. Regulasi tentang desa
65

harus menjadi landasan dan instrumen penguatan dan peningkatan kesejahteraan

masyarakat desa. Kesejahteraan masyarakat desa harus menjadi hal utama dari

regulasi ini yang dicapai melalui tata kelola pemerintahan desa. Menjadi tidak berarti

dan tidak urgen bila regulasi tentang desa hanya mengatur soal pemerintahan desa,

apalagi hanya mengatur soal elit desa saja. Selain itu, yang juga tidak kalah

pentingnya dengan menempatkan desa sebagai entitas subjek dari tata pemerintahan

dan pembangunan kesejahteraan.

Maka konsekuensi logis regulasi tentang desa juga harus memosisikan

masyarakat desa sebagai subjek dalam konteks ini, regulasi tentang desa harus

mendorong partisipasi masyarakat desa dalam tata kelola pemerintahan desa dan

pembangunan kesejahteraan dengan membuka ruang prakarsa yang berpijak pada

lokal aset yakni kelembagaan sosial yang sudah ada di desa.

Lokal aset yang dimaksud adalah kelembagaan sosial yang sudah ada di desa-

desa. Harry Soeria selaku perwakilan dari Karang Taruna Nasional dalam rapat

dengar pendapat undang-undang (RDPU) 10 Oktober 2012 memaparkan bahwa

Karang Taruna adalah satu-satunya organisasi yang jelas-jelas menyatakan

berkedudukan di desa.

Peningkatan peran pemuda Karang Taruna di Desa Telaga Sari dengan modal

sosial yang dimiliki ini juga bukan hanya berarti kecenderungan untuk

mempertahankan hubungan sosial (kerjasama dan kepercayaan) yang dibangun

berdasarkan kesamaan identitas yang homogen (ikatan keagamaan, kekekerabatan)

dan kemudian menjadi ekslusif. Modal sosial yang ada juga perlu dikembangkan agar
66

terbuka dengan komunitas heterogen lainnya, sehingga tercipta kerukunan dan

perdamaian.

Pada gilirannya, modal sosial yang dimiliki Karang Taruna Desa Telaga Sari

perlu dijaringkan dengan modal sosial pada komunitas lokal lainnya yang lebih luas

dengan dunia luar, sehingga mampu membangun kerjasama yang kokoh dengan desa

lainnya baik dalam penguatan kelembagaan sosial itu sendiri maupun pembangunan

ekonomi, misalnya daam pengelolaan Badang Usaha Milik Desan (BUMDes).

Jika mempelajari pembaharuan desa di Gerakan Saemaul Undong di Korea,

peran penting lembaga kemasyarakatan desa adalah memompa spirit warga untuk

membangun desa. Orientasi yang dibangun adalah menjadikan kehidupan yang lebih

baik dan melepaskan diri dari jerat kemiskinan. Penanaman spirit itu disebarluaskan

melalui pelatihan yang sangat masif, baik oleh pemimpin pemerintahan desa maupun

pemimpin lembaga kemasyarakatan. Spirit yang ditekankan dalam Gerakan Saemaul

Undong adalah bekerja rajin, kepercayaan dan kerjasama.

Karang Taruna Desa Telaga Sari, dengan melihat peluang dan kekuatannya

bisa mencontoh Gerakan Saemaul Undong di Korea itu. Pelatihan yang massif,

membuat kebijakan pengkaderisasian, meningkatkan kualitas sumber daya manusia

dengan menggandeng perguruan tinggi dan lembaga kursus akan membuat peran

Karang Taruna Desa Telaga Sari dalam implementasi Undang-undang No. 6 tahun

2014 menjadi lebih kuat. Khususnya dalam penguatan partisipasi, transparansi, dan

efektifitas pemerintahan desa.

Karang Taruna Desa Telaga Sari dapat dikuatkan lagi menjadi lembaga

kemasyarakatan yang dapat mendukung penyelenggaraan pemerintahan desa yang


67

akuntabel, melindungi dan mensejahterakan masyarakat sehingga cita-cita dan ruh

Undang-undang Desa No. 6 tahun 2014 tentang Desa dapat terimplementasikan

dengan baik di tengah masyarakat desa.


68

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan dalam peran pemuda Karang Taruna dalam

Implementasi Undang-undang No. 6 tahun 2016 tentang Desa di Desa Telaga Sari

Kabupaten Deliserdang, dapat disimpulkan bahwa pemuda Karang Taruna di Desa

Telaga Sari memiliki peran yang Aktif dalam implementasi undang-undang tersebut.

Pemuda Karang Taruna di Desa Telaga Sari menjadi garda terdepan dalam gerakan

sosial kemasyarakatan dan meningkatkan partisipasi masyarakat sebagaimana yang

diamanat dalam Undang-undang No. 6 tahun 2016 tentang Desa.

Meskipun berperan, namun untuk penguatan implementasinya lebih lanjut

Karang Taruna Desa Telaga Sari Kabupaten Deliserdang memiliki hambatan dan

tantangan yang harus segera diatasi. Dengan mengandalkan kelebihan dan peluang,

Karang Taruna Desa Telaga Sari seharusnya mampu lebih berperan aktif dalam

mewujudkan pola partisipasi lembaga kemasyarakatan desa sebagaimana yang diatur

dalam Undang-undang No. 6 tahun 2016 tentang Desa, sehingga fungsinya sebagai

organisasi sosial dapat lebih dirasakan manfaatnya oleh masyarakat desa.


69

5.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian, maka penulis merumuskan beberapa saran yang

ditujukan kepada pemerintah Desa Telaga Sari, Organisasi Karang Taruna, dan penelitian

selanjutnya sebagai berikut :

1. Pemerintah Desa Telaga Sari diharapkan tetap bekerjasama dengan Karang Taruna

dalam rangka membina pemuda desa agar terhindar dari penyakit sosial remaja.

2. Organisasi Karang Taruna Satria Pandawa merupakan organisasi sosial yang

bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, diharapkan untuk

meningkatkan fungsi dan perannya di tengah masyarakat. Karang Taruna Satria

Pandawa diharapkan mampu meningkatkan keterampilan dan kepedulian pemuda

desa terhadap pembangunan Desa Telaga Sari, pengurus Karang Taruna diharapkan

mampu membagi waktu antara aktifitas keseharian dengan kegiatan Karang Taruna,

dan dapat menciptakan kegiatan yang kreatif, edukatif, dan inovatif.

3. Bagi peneliti lain, tentu memiliki kesempatan untuk mengkaji lebih luas terkait

strategi yang dapat diberikan untuk lebih meningkatkan pembangunan Desa Telaga

Sari
70

Daftar Pustaka

Afra Suci Ramadhan, Kebijakan Anak Muda di Indonesia:Mengaktifkan Peran Anak


Muda; Seri Laporan dari Membangun Kapasitas untuk Pemberdayaan dan
Keterlibatan Anak Muda di Indonesia, Mei 2013.
Anderson, Ben. 1988. Revolusi Pemoeda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan
Pemuda di Jawa 1944-1949. Jakarta: Sinar Harapan.
Anto, Jepry. 2010. Pemuda dalam Lintasan Sejarah: Potret Pemikiran Pemuda
Indonesia (1908-1998). Artikel pada http://www.kompasiana.com tanggal 5
November diakses pada 23 Juli 2015.
Aprian, rendy. 2014. Peran Pemuda Dalam Pembangunan di Indonesia. Artikel pada
https://rendyaprian21.wordpress.com tanggal 18 November diakses pada 23
Juli 2015.
Aqorie, Harpandi. 2015. Sejarah Karang Taruna. Artikel pada
https://uranglaye.wordpress.com tanggal 13 Februari diakses 23 juli 2015.
Beratha, I Nyoman. 1982. Desa, Masyarakat Desa dan Pembangunan Desa, Ghalia
Indonesia, Jakarta.
Eko, Sutoro.2007. Bergerak Menuju Mukim dan Gampong, Yogyakarta: IRE.2007.
Endrizal, Edi. 1997. Memahami Konsep Perdesaan Dan Tipologi Desa Di Indonesia
Dalam isip.unand.ac.id/media/rpkps diakses 23 Juni 2015.
Hadin, Hanifah. 2011. Ketahanan Nasional dari Peran Generasi Muda. Artikel pada
https://hanifahadin29.wordpress.com tanggal 16 Mei diakses pada 23 Juli
2015.
Harir, Muhammad. 2014. Selayang Pandang Zaman Bergerak Masyarakat Indonesia.
Artikel pada http://smi-semarang.blogspot.com/ tanggal 16 Februari diakses
23 Juli 2015.
Hasibuan, Muhammad Umar Syadat. 2008. Revolusi Politik Kaum Muda. Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia.
Iskandar, Sigit. 2015. Gerak Pemuda dalam Pembangunan. Artikel pada
http://www.knpijuara.com tanggal 7 Juni diakses 23 Juli 2015.
Iver, Mac. 1999. Jaring-Jaring Pemerintahan (The Web of Goverment). Jilid I
diterjemahkan oleh Laila Hasyim, Jakarta: Aksara Baru.
Karim, Marsil. 2014. Partisipasi Masyarakat dalam Perencanaan Pembangunan Desa
Kaiyasa Kecamatan Oba Utara Kota Tidore Kepulauan. ejournal.unsrat.ac.id.
Kartohadikoesoemo, Soetardjo.1984. Desa, Jakarta: PN Balai Pustaka.
Koentjaraningrat (ed.). 1977. Masyarakat Desa di Indonesia. Jakarta: Lembaga
Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
71

Labolo, Muhadam. 2014. Peluang dan Ancaman Otonomi Desa Pasca Undang-
Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa. Makalah tentang Otonomi
daerah yang dimuat pada http://kecamatankalitidubaru.blogspot.com diakses
18 Juli 2015.
Muradi. 2007. Memperkuat Profesionalisme Kepemimpinan Pemuda. Artikel pada
https://muradi.wordpress.com tanggal 22 February diakses 04 juli 2015.
Nazir. 1998. Metode Penelitian. Jakarta. Ghalia Indonesia.
Nasdian, Fredian Tonny. 2006. Pengembangan Masyarakat (Community
Development). Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Ndraha, Taliziduhu. 2010. Ilmu Pemerintahan (Kybernology), PT. Rineka Cipta,
Jakarta.
Nuari, Harto. 2014. Gagasan Perkampungan Pemuda Butur jadi Pioneer KNPI.
Artikel pada http://www.sultrakini.com tanggal 7 November di akses pada 23
Juli 2015.
Nurcholis, Hanif. 2013. Dua Ratus Tahun Praktek Demokrasi Desa, Potret
Kegagalan Adopsi Demokrasi Barat,Jurnal Ilmu Pemerintahan, MIPI, Edisi
38, Jakarta.
Pambudi, Himawan S. dkk. 2003. Politik Pemberdayaan Jalan Mewujudkan Otonomi
Desa. Yogyakarta: Lappera Pustaka Utama.
Santoso Purwo (ed). 2003. Pembaharuan Desa Secara Partisipatif. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Sapari, Sumber. 1977. Tata Pemerintahan dan Administrasi Pemerintahan Desa.
Jakarta : Ghalia Indonesia
Soeparmo. 1977. Mengenal Desa: Gerak dan Penelolaannya, Jakarta: PT. Intermasa.
Tahir, Irwan. 2013. Sejarah Perkembangan Desa di Indonesia, Desa di Masa Lalu,
Masa Kini dan bagaimana Masa Depannya, Jurnal MIPI, Edisi 38, 2012, hal. 98,
Jakarta
Wahyudini, Siti. 2011. Strategi Kebijakan Pengarusutamaan Pemuda. Tesis
dipublikasi dalam https://www.academia.edu.
Wasistiono, Sadu. 2012. Telaah Kritis Terhadap Rancangan Undang-Undang Desa,
Jurnal Ilmu Pemerintahan, MIPI, Edisi 38, Jakarta.
Wibowo, H. Mungin Eddy. 2012. Menyiapkan Bangkitnya Generasi Emas Indonesia.
Artikel pada http://bk-fkip.umk.ac.id tanggal 17 september diakses pada 23
Juli 2015.
Wijaya, HAW. 2002. Pemerintahan Desa/ Marga: Berdasarkan Undang-Undang
Nomor 22 tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah (Suatu Telaah
Administrasi Negara). Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
72

Undang-undang:

- UU Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa

- UU Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah

- UU Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah

- UU Nomor 5 Tahun 1979 Tentang Pemerintahan Desa