Anda di halaman 1dari 10

Nama : Putra Maulana (5213415062)

Teknologi Minyak Bumi dan Petrokimia


PENANGANAN PENCEMARAN LIMBAH MINYAK BUMI DENGAN
MENGGUNAKAN BAKTERI PENDEGRADASI
Putra Maulana (Universitas Negeri Semarang)

A. Pendahuluan

Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai kekayaan sumberdaya alam


yang melimpah. Salah satunya yaitu indonesia mempunyai sumber-sumber minyak bumi
yang tersebar di berbagai wilayah mulai dari wilayah Sumatra hingga ujung Papua. Dalam
pemanfaattannya minyak bumi di ambil dengan cara pengeboran(drilling). Sehingga terjadi
proses pengangkutan atau pemindahan hasil pengeboran minyak bumi dari tempat
pengeboran ke tempat pengolahan. Dalam proses pengeboran maupun pendistribusian
minyak bumi terkadang terjadi suatu tumpahan minyak yang mengakibatkan pencemaran
terhadap lingkuan. Salah satu contoh dari pencemaran lingkungan akibat tumpahan minyak
yaitu kilang minyak yang beroperasi di daerah Cepu, yang mana pada dasarnya mempunyai
resiko untuk menghasilkan limbah yang dapat berpotensi mencemari lingkungan termasuk
laut. Karena dari kegiatan pengolahan minyak tidak sedikit bahan baku yang tumpah dan
mencemari laut dan sekitarnya sehingga memerlukan penanganan untuk dapat mengatasi
permasalahan tersebut. Kemudian di daerah cilacap juga terdapat perusahaan migas terbesar
dan sangat berpotensi mengalami pencemaran minyak pada lingkungan sekitar.
Limbah minyak akibat tumpahan minyak (oil spill) dapat terjadi disaat sedang atau
telah berlangsung proses loading dan unloading di tangki timbun (storage tank), pembersihan
tangki timbun (tank cleaning), pada proses di separator dan pada pompa feed maupun pompa
produk. Minyak yang tumpah bisa berupa minyak mentah (crude oil) mau-pun produk..
Sehingga berdasarkan neraca massa arus minyak kilang Pusdiklat Migas, minyak yang hilang
(losses) karena men-guap, tumpah maupun tercecer selama proses produksi rata-rata 0,4%
atau 108,38 barrel per bulan atau 17.232,42 liter per bu-lan (Pusdiklat Migas, 2011).
Dari jumlah kehilangan (losses) minyak tersebut, jika diasumsikan jum-lah minyak
yang menguap sebanyak 70%, maka jumlah minyak yang tumpah dan ter-cecer di sekitar
kilang sebanyak 5.169,73 liter per bulan, atau rata-rata sebanyak 62.036 liter per tahun. Saat
berdirinya kilang minyak Cepu pada tahun 1928, belum ada kewa-jiban mengenai AMDAL
(Analisis Men-genai Dampak Lingkungan), sehingga perhatian terhadap pengelolaan
lingkun-gan belum begitu serius. Pengelolaan ling-kungan terutama pengelolaan limbah baru
mendapat perhatian serius mulai tahun 1985 menjelang diberlakukannya Pera-turan
Pemerintah No. 29 tahun 1986 ten-tang AMDAL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan).
Pengelolaan limbah tersebut dilakukan dengan melengkapi sarana dan fasilitas pengolahan
limbah minyak den-gan menggunakan metode perangkap min-yak (oil catcher).
Status mutu air adalah tingkat kondisi mutu air yang menunjukkan kon-disi cemar atau
kondisi baik pada suatu sumber air dalam waktu tertentu den-gan membandingkan dengan
baku mutu air yang ditetapkan. Salah satu metode dalam penentuan status mutu air adalah
dengan menggunakan metode Indeks Pencemaran (IP) mengacu pada Kepmen LH No 115
tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air. Metode ini dapat mem-beri
masukan pada pengambil keputusan agar dapat menilai kualitas badan air un-tuk suatu
peruntukan serta melakukan tin-dakan untuk memperbaiki kualitas air jika terjadi penurunan
kualitas akibat kehadiran senyawa pencemar
Rumusan Pernyataan Indeks (PI)

untuk suatu peruntukan (j) adalah:

Keterangan :

Ci: nilai hasil analisis laboratorium

Lij: nilai baku mutu air

M : nilai maksimal

R : nilai rata-rata
Tabel. Evaluasi Terhadap Nilai Pernyataan Indeks

Nilai PI Status Mutu Air

0 < PIj < 1 Memenuhi baku mutu (kondisi baik

1 < PIj < 5 Cemar ringan

5 < PIj < 10 Cemar sedang

PIj > 10 Cemar berat

B. Pembahasan (Tujuan/ISI)

Masalah pencemaran di laut, tanah, maupun di air diperlukan perencanaan


penanganan dampak yang ditimbulkan akibat tumpahan minyak yang berasal dari sumber-
sumber di sekitar perairan di Cilacap dan juga di Cepu harus diprediksi dengan cepat pola
penyebarannya yang berpotensi mencemari lingkuanan pada beberapa lokasi yang dianggap
rawan terjadi tumpahan minyak karena aktivitas pengeboran dan kapal tanker diperairan
Cilacap dan Cepu. Oleh karena itu diperlukan model sebaran tumpahan minyak. Masalah
lainnya yang timbul adalah bagaimana kualitaas air tanah dan tanah disekitar tempat yang
tercemar limbah minyak bumi tersebut.
Tempat lokasi penelitian adalah di area kilang minyak Pusdiklat Migas Cepu seluas +
34 Ha. Lokasi penelitian terletak di daerah Cepu, kabupaten Blora, provinsi Jawa Tengah.
Dalam analisis kualitas air limbah kilang minyak akan dikaitkan dengan baku mutu air
limbah menurut Permen LH no. 19 tahun 2010 tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha
dan /atau Kegiatan Minyak dan Gas Serta Panas Bumi. Sedangkan un-tuk kualitas air sungai
dan air sumur akan dikaitkan dengan baku mutu pengelolaan kualitas air menurut PP No. 82
tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pen-gendalian Pencemaran Air. Adapun
para-meter yang diamati yaitu BOD, COD, Fe, fenol, kadar minyak dan lemak. Dengan
membandingkan kualitas air limbah kilang minyak dari hasil pengujian laboratorium dengan
syarat baku mutu air limbah bagi usaha dan atau kegiatan pengolahan min-yak bumi dan gas
serta panas bumi, maka akan dapat ditentukan kesesuaian setiap parameter kualitas air limbah
didaerah penelitian. Begitu pula dengan memband-ingkan kualitas air sumur hasil pengujian
laboratorium dengan persyaratan baku mutu pengelolaan kualitas air, maka akan dapat
diketahui seberapa jauh kadar pence-maran air sumur tersebut. Membandingkan hasil
laboratorium kualitas air sumur den-gan kualitas air limbah kilang minyak seh-ingga dapat
diketahui apakah ada dampak air limbah kilang minyak terhadap kualitas air sumur di
sekitarnya.

1. Hasil Pengujian Air Limbah Kil-ang Minyak


Tabel. Hasil Pengujian Air Limbah Outlet Kilang Minyak

Hasil Analisis
Parameter Satuan Baku Mutu (A1)
BOD5 mg/L 80 49,33
COD mg/L 160 77,8

Minyak dan
Lemak mg/L 20 1,3

Fenol mg/L 0,8 0,015

Besi (Fe) mg/L - 1,03

Tabel. Rekapitulasi hasil uji korelasi dan uji regresi

Koeisien Korelasi Persamaan Indeks Determinasi


Parameter Uji (r) Regresi (R2)
Y= -0,012x +
BOD -0.717 14,48 0,773
Y= -0,022x +
COD -0.741 25,67 0,783

Y= -0,010x +
Fe -0.350 9,483 0,487

Y= -0,031x +
Fenol -0.645 29,27 0,590

Minyak dan Y= -0,354 +


Lemak -0.686 393,5 0,260

Gambar. Graik Regresi IP Terhadap Jarak Sumur

Hasil penelitian menunjukkan bah-wa semakin jauh jarak sumur dari outlet limbah
minyak maka kualitas air semakin bagus yang ditunjukkan dengan nilai In-deks Pencemaran
(IP) semakin kecil. Seh-ingga kualitas air yang aman adalah sumur pada jarak lebih dari 1090
m dari outlet limbah. Sementara untuk kualitas tanah se-makin jauh jarak sampel tanah dari
outlet limbah maka kualitas tanah semakin baik yang ditunjukkan dengan kadar minyak yang
semakin kecil. Sehingga kualitas ta-nah yang aman adalah tanah pada jarak lebih dari 184 m
dari outlet limbah.
C. Metode penelitian

Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif, karena teknik yang dilakukan
dengan survei untuk mendapatkan data-data penelitian yang berupa data angka dan data
penelitian. Kemudian data-data tersebut diolah dan ditampilkan dalam bentuk grafik ataupun
gambar.
Selain itu juga dilakukan observasi lapangan dengan mengambil sampel kemudian
dianalisis di laboratorium dan hasilnya dianalisis diskriptif kuantitatif.
Tempat lokasi penelitian adalah di area kilang minyak Pusdiklat Migas Cepu seluas +
34 Ha. Lokasi penelitian terletak di daerah Cepu, kabupaten Blora, provinsi Jawa Tengah.
Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan di area kilang Pusdiklat Migas ini dikategori-kan ke
dalam jenis penelitian observasion-al analitic environmental. Penelitian mela-lui observasi
lapangan dengan mengambil sampel kemudian dilakukan analisis di laboratorium dan
hasilnya dianalisis secara deskriptif kuantitatif.
Populasi dan Sampel
1. Polulasi
Populasi dalam penelitian ini adalah air di lokasi area kilang pada jarak sampai dengan
radius 1000 m dari outlet limbah kilang minyak, Selain itu juga tanah pada jarak sampai
radius 100 m dari outlet lim-bah kilang minyak.
2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah air tanah dengan jumlah sampel sebanyak 7 (tujuh)
sampel yang terdiri dari 1 (satu) sampel limbah kilang minyak, 2 (dua) sampel air sungai dan
sebanyak 4 (empat) sampel disekitar outlet limbah
Variabel Penelitian dan Deinisi Operasional
1. Variabel bebas, yaitu variabel yang mempunyai pengaruh pada variabel terikat. Pada
penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah jarak sumur dari outlet limbah kilang
minyak yang akan diteliti. Selain itu juga jarak sampel tanah dari outlet limbah kilang
minyak yang akan diteliti.

A. Variabel terikat, yaitu variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas. Da-lam
penelitian ini yang menjadi variabel terikat adalah parameter kualitas air yang akan diteliti
dan juga parameter kualitas tanah yang akan diteliti.

D. Hasil penelitian

Hasil penelitian menunjukkan bah-wa semakin jauh jarak sumur dari outlet limbah
minyak maka kualitas air semakin bagus yang ditunjukkan dengan nilai In-deks Pencemaran
(IP) semakin kecil. Seh-ingga kualitas air yang aman adalah sumur pada jarak lebih dari 1090
m dari outlet limbah. Sementara untuk kualitas tanah se-makin jauh jarak sampel tanah dari
outlet limbah maka kualitas tanah semakin baik yang ditunjukkan dengan kadar minyak yang
semakin kecil. Sehingga kualitas ta-nah yang aman adalah tanah pada jarak lebih dari 184 m
dari outlet limbah.
Penanganan kondisi lingkungan yang tercemari minyak bumi dapat dilakukan secara
fisika, kimia dan biologi. Remediasi secara fisika dan kimia bersifat remediasi jangka pendek
dan tidak tuntas (perpindahan massa antar media lingkungan), hanya sekitar 10-15%
pencemar dapat dipindahkan dari media laut [2]. Untuk penuntasan remediasi diperlukan
penghilangan media secara biologi (bioremediasi).

Bioremediasi didefinisikan sebagai teknologi yang menggunakan mikroba untuk


mengolah (cleaning) hidrokarbon minyak bumi dari kontaminan melalui mekanisme
biodegradasi alamiah ( intrinsic bioremediation) atau meningkatkan mekanisme biodegradasi
alamiah dengan menambahkan mikroba, nutrien, donor elektron dan atau akseptor elektron
(enhanced bioremediation) [3].

BTX (Benzene, Toluene, dan Xylena) merupakan senyawa aromatik dalam jumlah
kecil dalam hidrokarbon, namun pengaruhnya sangat besar terhadap pencemaran perairan.
Canadian Water Quality Guidelines Protection memberi ambang batas benzena pada badan
air tawar adalah 0,3 mg/l [4].

Pseudomonas aeruginosa mampu menggunakan lebih dari75 macam organik sebagai


sumber karbon dan sumber energi, mampu menggunakan respirasi aerobik (dengan oksigen)
dan anaerob pada nitrat atau akseptor elektron alternatif lainnya juga mampu tumbuh pada
nutrien dalam jumlah sedikit. Pseudomonas aeruginosa dapat mendegradasi hidrokarbon
polisiklik aromatik seperti toluena, bentuk sederhana dari methylbenzene, melalui oksidasi
dari kelompok metil aldehida, alkohol, dan asam, yang kemudian diubah menjadi katekol.
P.aeruginosa tumbuh dengan optimal pada suhu 37C dan bertahan hidup pada suhu berkisar
dari 10 C sampai 45 C dalam air garam dan air distilat, serta pada pH media antara 6,0-9,0
[5]. Pseudomonas aeruginosa dapat tumbuh pada air garam hingga salinitas 50 [6].
A. Peremajaan Isolat Bakteri Pseudomonas aeruginosa dan pembuatan starter
Peremajaan isolat bakteri Pseudomonas aeruginosa dilakukan pada media cair
(Nutrien Broth ). Bakteri dalam media agar miring diinokulasikan ke dalam labu erlenmeyer
250 ml yang berisi 100 ml media cair Nutrien Broth. Kemudian media baru tersebut di
inkubasi pada suhu 30C dan setelahnya dilakukan analisa populasi bakteri serta membuat
kurva pertumbuhan bakteri, pada saat bakteri mencapai phase log, bakteri dibudidayakan
pada media air laut buatan dimana sebelumnya bakteri diadaptasikan dengan air laut tetes
demi tetes dan siap digunakan untuk bioremediasi.
B. Persiapan Media Air Laut Buatan
Air laut buatan dibuat sesuai ASTM D1141-90, Standard Specification for
Substitute Ocean Water [7], dengan salinitas 35 . Tabel 1 menunjukkan kandungan garam
terlarut dalam larutan pengganti air laut
Proses Bioremediasi

Media air laut buatan dimasukkan ke dalam bioreaktor A dan B, dimana bioreaktor A
diperlakukan tanpa aerasi sedangkan bioreaktor B dilengkapi dengan aerator sebagai
pensuplai oksigen untuk kebutuhan bakteri dengan kadar DO 5 mg O2/l. Kemudian
bioreaktor A dan B diperlakukan sesuai variabel konsentrasi kontaminan (1000 dan 1500
ppm minyak bumi) dan penambahan bakteri Pseudomonas aeruginosa (0%, 1% dan 3% v/v).
Masing-masing bioreaktor diinjeksikan nutrien dengan cara menambahkan urea dan KH2PO4
hingga rasio C : N : P = 100 : 10 : 1. Secara periodik dilakukan pengukuran temperatur, pH,
DO (Dissolved oxygen), populasi bakteri ,TPH, dan BTX.
A. Pengaruh terhadap Total Petroleum Hidrokarbon (TPH)
TPH keberadaannya dalam limbah minyak bumi harus sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Nilai TPH pada baku mutu air laut daerah pelabuhan
ditentukan dibawah 5 mg/liter atau 5 ppm, sedangkan untuk biota laut dibawah 1 mg/liter
atau 1 ppm [8].

B Pengaruh terhadap Populasi Bakteri P.aeruginosa selama bioremediasi


Pertumbuhan mikroorganisme merupakan indikator terjadinya proses biodegradasi.
Pertumbuhan mikroorganisme akan meningkat bila ia mampu hidup dengan memanfaatkan
substrat yang ada dalam air laut tersebut.
Berdasarkan gambar 4 dan 5 terlihat adanya beberapa fase pertumbuhan. Pada hari
pertama proses bioremediasi terlihat adanya fase lag yang merupakan masa penyesuaian
mikroorganisme. Kemudian setelah fase lag, terjadi peningkatan jumlah sel bakteri yang
sangat tajam pada bioreaktor dengan penambahan bakteri Pseudomonas aeruginosa hingga
waktu yang berbeda- beda. Setelah itu terjadi penurunan jumlah sel P.aeruginosa dalam
bioreaktor. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri mulai mengalami fase kematian. Diduga hal
ini disebabkan senyawa hidrokarbon yang ada dalam air laut tercemar limbah minyak bumi,
yang merupakan nutrisi untuk bakteri semakin berkurang.
C. Pengaruh terhadap kadar Benzene, Toluene, dan Xylene (BTX)
BTX (Benzene, Toluene dan Xylene), merupakan komponen senyawa hidrokarbon
aromatik yang terkandung dalam minyak bumi. BTX bersifat rekalsitran dan mutagenik. Oleh
karena itu, BTX menjadi salah satu parameter keberhasilan pada penelitian ini.

E. Analisis Data (Kesimpulan)

Berdasarkan data dan hasil analisa pada penelitian dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut:
1. Pencemaran yang diakibatkan oleh tumpahan minyak sangat merugikan dan harus
ditangani dengan cara yang efektif. Karena bagaimanapun lingkungan juga harusdijaga
agar tidak tercemar dengan limbah yang dapat membahayakan dan mengganggu
keberlangsungan hidup makhluk hidup. Dan limbah minya merupakan salah satu dari
pencemaran yang harus ditangani.
2. Salah satu cara untuk dapat menangani masalah pencemaran tersebut adalah dengan
menggunakan bantuan dati bakteri Pseudomonas aeruginosa
3. Pseudomonas aeruginosa yang ditambahkan maka akan meningkatkan persen
biodegradasi TPH, rate penurunan TPH pada fase log yang dinyatakan sebagai nilai slope
serta mempercepat degradasi BTX. Bioreaktor dengan media teraerasi dan konsentrasi
cemaran minyak 1000 ppm, pada penambahan bakteri P.aeruginosa 1% v/v menghasilkan
% biodegradasi TPH akhir sebesar 100% dalam waktu 28 hari, slope penurunan TPH pada
fase log sebesar 61,812 mg/l.hari, dan degradasi senyawa BTX seluruhnya pada hari ke-28.
Sedangkan pada penambahan bakteri P.aeruginosa 3% v/v menghasilkan % biodegradasi
TPH akhir sebesar 100% dalam waktu 21 hari, slope penurunan TPH pada fase log sebesar
73,34 mg/l.hari, dan degradasi senyawa BTX seluruhnya pada hari ke-14.
4. Semakin tinggi konsentrasi cemaran minyak bumi maka akan memperlama waktu
biodegradasi TPH dan BTX. Bioreaktor dengan penambahan 3% v/v P.aeruginosa dan
media teraerasi pada cemaran minyak 1000 ppm memerlukan waktu 21 hari untuk
degradasi TPH dan 14 hari untuk degradasiBTX, sedangkan pada cemaran minyak 1500
ppm memerlukan waktu 28 hari untuk degradasi TPH dan 21 hari untuk degradasi senyawa
BTX.

F. Daftar pustaka
Sabhan, Eko Effendi, M. Tri Hartanto, Dan Andri Purwandani. 2010. Pemodelan Pola
Sebaran Tumpahan Minyak Yang Berbeda Di Pelabuhan Tanjung Priok. Jurnal Ilmu Kelautan.
IPB, Bogor

Arintika Widhayanti, Aris Ismanto, Bambang Yulianto. 2015. Pemodelan Pola Sebaran
Tumpahan Minyak Yang Berbeda Di Pelabuhan Tanjung Priok. Jurnal Ilmu Kelautan. IPB, Bogor
Kurniawan Hasan Fuad. 2014. Bioremidiasi Pencemaran Minyak Di Sedimen Pantai
Balongan, Indramayu. Jurnal Teknik Sipil Dan Lingkungan
Safitiani, Thontowi Ahmad, Yetti Elvi, Suryani Dan Yopi. 2016. Pertumbuhan Optimal
Bakteri Laut Pseudomonas Aeruginosa LBF-1-0132 Dalam Senyawa Piren.Jurnaln Biologi
Indonesia. IPB, Bogor
Umroh. 2011. Bioremidiasi Pencemaran Minyak Di Sedimen Pantai Balongan, Indramayu
Dengan Menggunakan Bakteri Alcanivorax Sp.TE-9 Skala Laboratorium. Jurnal Sumberdaya
Perairan
Ristiai N. P., M. Sanusi, Putra I.M.G.P. 2016. Uji Kemampuan Degradasi Minyak Solar Oleh
Konsorsium Bakteri Hasil Preservasi Dengan Kombinasi Metode Liofiliasi Dan Metode Gliserol.
Jurnal Pendidikan Biologi Universitas Pendidikan Ganesha,Singaraja. Fmipa Undiksha.
Nugroho Astri, Effendi Edison Dan Annisa Fiona. 2007. Pertumbuhan Konsorsium Isolat
Bakteri Asal Benakat Pada Media Minyak Bumi Bersalinitas Tinggi: Studi Kasus Biodegradasi
Minyak Bumi Skala Laboratorium.Jurnal Ilmu Dasar.Universitas Trisakti, Jakarta
Sulistyono, Suntoro, Dan Masyukri M.. 2012.Kajian Dampak Tumpahan Minyak Dari
Kegiatan Operasi Kilang Minyak Terhadap Kualitas Air Dan Tanah(Studi Kasus Kilang Minyak
Pusdiklat Migas Cepu).Jurnal EKOSAINS Universitas Sebelas Maret. Surakarta
Nashikin Roksun Dan Shovitri Maya. 2013. Isolasi Dan Karakterisasi Bakteri Pendegradasi
Solar Dan Bensin Dari Perairan Pelabuhan Gresik. Jurnal SAINS Dan SENI POMITS. ITS.
Surabaya
Widhayanti Arintika, Ismanto Aris, Dan Yulianto Bambang. 2015. Sebaran Tumpahan
Minyak Dengan Pendekatan Model Hidrodinamika Dan Spill Analysis Di Perairan Cilacap, Jawa
Tengah. Jurnal Oseanografi. Undip. Semarang
Nugroho Astri.2007 .Dinamika Populasi Konsorsium Bakteri Hidrokarbonoklastik: Studi
Kasus Biodegradasi Hidrokarbon Minyak Bumi Skala Laboratorium. Jurnal Ilmu Dasar.
Universitas Trisakti
Salim Fadliah Dan Suryati Tuti. 2014. Firoremediasi Tanah Terccemar Minyak Bumi
Menggunakan Empat Jenis Rumput.Jurnal Riset Industri. Balai Teknologi Lingkungan, Bppt
Kurniawan Allen Dan Effendi Agus Jatnika. 2014.Biodegradasi Residu Total Proteleum
Hidrokarbon Dibawah Konsentrasi 1%(W/W) Hasil Proses Bioremidiasi. Jurnal Manusia
Danlingkungan. Itb. Bandung
Fanani Zainal, Yudono Bambang, Dan Situmorang Veriana Romarito.2014. Degradasi Tanah
Lahan Subotimal Oleh Baccilus Mycoides Indigenous Dan Kinetika Reaksinya. Jurnal Lahan
Suboptimal. Universitas Sriwijaya
Ristiati Ni Putu Dan Mulyadiharjo Sanusi.2014.Pengembangan Briket Jerami Padi(Oryza
Sativa) Yang Mengadung Isolat Bakteri Pendegradasi Minyak Bumi Sebagai Upaya Mengatasi
Pencemaran Diperairan Laut.Jurnal Sains Dan Teknologi. Undhiksa Singaraja