Pengendalian Mutu Krimer Non-Dairy
Pengendalian Mutu Krimer Non-Dairy
TUGAS KHUSUS
Pengendalian mutu produk akhir dimulai dari holding hopper sampai menjadi krimer
nabati yang siap dijual. Holding hopper ditangani dengan ukuran ayakan pada proses
pengayakan harus > 2 mm. Hal ini dilakukan untuk menjaga agar produk akhir berukuran
seragam. Selain itu dilakukan pengambilan sampel sebanyak 3 kali yaitu di awal, tengah
dan akhir untuk memastikan produk telah sesuai dengan parameter yang telah ditetapkan.
Pengendalian mutu holding hopper harus dilakukan sesuai SOP yang telah ditetapkan.
Kemudian pengendalian krimer dilakukan pada proses pengemasan sampai krimer tersebut
didistribusikan. Setiap proses harus dijalankan sesuai dengan SOP agar produk yang
dihasilkan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.
5.2.1 Kriteria Mutu Produk Setengah Jadi/Semi Finish Good (SFG) NDC
Kualitas produk setengah jadi yang baik ditunjang oleh beberapa kriteria yang
terpenuhi. Kriteria tersebut dapat menunjukkan apakah dalam proses produksi tidak terdapat
masalah dan seberapa layak produk dapat didistribusikan. Kriteria yang terdapat pada
produk setengah jadi digunakan sebagai adjusment process oleh bagian QC, dimana proses
ini berfungsi untuk memberikan warning kepada bagian produksi jika terjadi ketidaksesuaian
agar bagian produksi dapat mengevaluasi penyebabnya sehingga proses produksi berjalan
lancar. Apabila produk setengah jadi yang dihasilkan tidak memenuhi standar maka pihak
QC akan menyampaikan informasi kepada bagian produksi secara langsung dengan
HT/telepon dan besoknya akan disertai dengan NCR (Non Conformity Report). Berikut ini
kriteria produk setengah jadi yang harus dihasilkan.
Tabel 5.1 Standar Mutu Produk Setengah Jadi NDC di PT Lautan Natural Krimerindo
Section of
Analysis Method Specification Sample
Process
Colour SNI 4444-2009 Cream
Fatty SNI 4444:2009 No Fatty
Appearance Appearance
Viscosity Brookfield 100-1200 CPS
pH (10% larutan) SNI 01-2891- 6.0-9.0
1992 3
Hydration Tank 0
Brix Refractometer 60-75% sample/inspection
Temperature See Process 55-800C
Loss On Drying Thermogravimetri 20-50%
(LOD)
Fat ISO 2446:2008 30-50%
Density Gravimetri 1.0-2.0 g/mL
Sumber : Dept. QC PT Lautan Natural Krimerindo (2017)
Tabel 5.2 Standar Mutu Produk Jadi NDC di PT Lautan Natural Krimerindo
Kepercayaan dan kepuasan konsumen akan suatu produk yang mensyaratkan mutu
tertentu sangat berpengaruh terhadap penanganan mutu produk akhir, sehingga harus
dilakukan dengan baik. Penyimpanan produk akhir, proses produksi dan pemilihan bahan
baku merupakan beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya keragaman mutu suatu
produk. Pengawasan mutu mutlak diperlukan agar produk yang dihasilkan sesuai dengan
sistem yang ditetapkan. Penanganan mutu produk akhir diperusahaan ini dilakukan dengan
pengujian mutu produk akhir di laboratorium. Pada produk NDC, pengujian mutu produk
akhir yang dilakukan meliputi pengamatan fisik, pengamatan kimia dan pengamatan
mikrobiologi.
A. Keasaman (pH)
Nilai pH dapat dijadikan sebagai salah satu indikator kualitas krimer. Nilai keasaman
produk krimer dapat mudah dievaluasi dengan nilai pH. Nilai pH yang terdapat pada produk
dapat dianalisis dengan mengambil sampel di holding hopper. Pengujian pada tiap
batch/sampling dilakukan sebanyak 3x. Berdasarkan hasil uji pH dalam hopper diperoleh
hasil rata-rata untuk tiap batch/sampling sebesar 7,25. Jika dibandingkan dengan SNI, hasil
nilai pH yang diperoleh sudah memenuhi standar yang ada. Standar pH untuk produk krimer
yang sesuai SNI adalah 6.0-9.0, sehingga nilai pH yang diperoleh masih dalam range dan
produk dapat diterima.
Pengendalian ukuran partikel sangat penting sekali dalam mencapai sifat aliran yang
diperlukan dan pencampuran yang benar dari granul dan serbuk. Penurunan ukuran partikel
dapat meningkatkan laju absorpsi dan berpengaruh pada proses pelarutan (Oktavia dkk,
2012). Setiap produk krimer memiliki kriteria ukuran partikel yang berbeda-beda. Pengujian
ukuran partikel dianalisis dengan mengambil sampel di holding hopper. Pengujian pada tiap
batch/sampling dilakukan sebanyak 3x. Berdasarkan hasil uji dalam hopper diperoleh hasil
rata-rata untuk tiap batch/sampling sebesar 70. Jika dibandingkan dengan standar produk
yang ditetapkan, hasil nilai ukuran partikel yang diperoleh sudah memenuhi standar yang
ada. Standar ukuran partikel untuk produk krimer yang ditetapkan adalah min 60-max 100,
sehingga nilai ukuran partikel yang diperoleh masih dalam range dan produk dapat diterima.
D. Uji Organoleptik (Penampakan, Bau, Rasa, Warna, Benda Asing, Partikel Coklat, Free
Flowing Powder, Agglomerated Powder, Fatty Appearance, White Spots)
Kadar air merupakan banyaknya air yang terkandung dalam bahan pangan yang
dinyatakan dalam persen. Kadar air juga salah satu karakteristik yang sangat penting dalam
bahan pangan, karena air dapat mempengaruhi kenampakan tekstur dan cita rasa pada
bahan pangan. Kadar air dalam bahan pangan ikut menentukan kesegaran dan daya awet
bahan pangan tersebut (Elisa, 2011). Kadar air atau moisture content harus diminimumkan
dalam batas terkecil yang bisa dihilangkan karena air dapat membuat produk menggumpal.
Analisis kandungan air pada produk yang dihasilkan adalah untuk mengetahui banyaknya
kandungan air yang masih tercampur pada produk. Kandungan air yang terdapat pada
produk dapat dianalisis dengan mengambil sampel di holding hopper. Pengujian pada tiap
batch/sampling dilakukan sebanyak 3x. Nilai dari kandungan air sangat penting, karena
kadar air yang banyak dapat menyebabkan kerusakan mutu pada produk. Berdasarkan hasil
analisis kadar air dalam hopper diperoleh hasil rata-rata untuk tiap batch/sampling sebesar
2,70%. Jika dibandingkan dengan SNI, hasil kadar air yang diperoleh sudah memenuhi
standar penjualan. Standar kadar air untuk produk krimer yang sesuai SNI adalah 5%,
sehingga nilai yang diperoleh tetap layak dan dapat dipasarkan.
Sebagian besar bahan pangan terdiri dari 96% bahan anorganik dan air, sedangkan
sisanya merupakan unsur-unsur mineral. Unsur-unsur mineral dikenal sebagai zat organik
atau kadar abu. Kadar abu menunjukkan total mineral dalam suatu bahan pangan (Widodo
dkk, 2010). Pengujian kadar abu dianalisis dengan mengambil sampel di holding hopper.
Pengujian pada tiap batch/sampling dilakukan sebanyak 3x. Berdasarkan hasil uji dalam
hopper diperoleh hasil rata-rata untuk tiap batch/sampling sebesar 3,55. Jika dibandingkan
dengan standar produk yang ditetapkan, hasil nilai kadar abu yang diperoleh sudah
memenuhi standar yang ada. Standar kadar abu untuk produk krimer yang ditetapkan
adalah min 0-max 3,0, sehingga nilai kadar abu yang diperoleh masih dalam range dan
produk dapat diterima.
Pengujian kadar lemak di PT. Lautan Natural Krimerindo dilakukan secara manual
(sentrifuge) menggunakan metode gerber. Prosedur pengujian yang dilakukan adalah
dengan mula-mula memastikan semua alat, bahan dan area kerja kondisi bersih sesuai
tempatnya, APD sarung tangan karet dan masker. Kemudian masukkan larutan H2SO4 90-
91% sebanyak 10 ml pada butyrometer. Masukkan larutan sampel pada butyrometer dan
tambahkan 2 ml, air untuk pembilasan sisa larutan sampel di cup plastik. Tambahkan amyl
alkohol sebanyak 1 ml. Tutup butyrometer dengan penutup karet, pastikan penutup karet
kencang. Kocok butyrometer dengan posisi tutup ditekan dengan ibu jari selama 2 menit,
pastikan gunakan pelindung tangan dan pelindung mata. Masukkan butyrometer dan
letakkan dalam centrifuge gerber dengan posisi diagonal (minimal 2 butyrometer terpasang
dalam sentrifuse), dimana cara pemakaiannya yaitu hubungkan kabel pada stopkontak,
nyalakan dengan menekan switch on di bagian belakang alat, tunggu hingga display
muncul, proses analisa menggunakan metode gerber dengan speed centrifuge 1100/350
(RpM/g) dan waktu 5 menit. Tutup sentrifuse dan jalankan sentrifuse gerber selama 2x5
menit, lalu tarik tutup karet butyrometer ke skala baca setelah putaran 1 (setelah 1x5 menit).
Baca kadar lemak pada skala butyrometer (minyak akan terlihat jernih dan terpisah) dari
miniskus bawah dan hitung kadar lemak sampel. Cara perhitungan kadar lemak dapat
dilakukan dengan rumus
2,5 x % L
% = (berat sampel)
( ) 14,007 100
% =
()
Kadar protein termasuk salah satu karakteristik yang harus ada pada produk krimer, karena
ini dapat memberikan efek yang baik bagi yang mengonsumsi. Nilai kadar protein yang
tedapat pada krimer juga harus sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Apabila terjadi
ketidaksesuaian maka departemen terkait akan melakukan evaluasi mengenai tindakan
yang harus dilakukan terhadap produk yang tidak memenuhi standar tersebut.
Pengujian kadar protein di PT. Lautan Natural Krimerindo dilakukan dengan
menggunakan alat kjeltec 8200. Prosedur pengujian yang dilakukan adalah dengan mula-
mula memastikan semua alat, bahan dan area kerja kondisi bersih sesuai tempatnya, APD
sarung tangan karet dan masker. Kemudian menyiapkan larutan alkali NaOH 40% per liter,
receiver solution H3BO3 4 % per liter dan larutan scrubber alkali NaOH 15% per liter.
Selanjutnya membuat larutan HCI 0,1 N lalu lakukan standarisasi dengan menggunakan
NaOH atau THAM (Tris Hidroxymethyl Amino Methane). Setelah itu lakukan digesti sampel
dengan digester lalu lakukan distilasi kjeltec. Kemudian lakukan standarisasi alat seperti
titrator dan indikator probe. Setelah selesai lakukan titrasi sampel dengan auto titration
mettler toredo.
Sumber karbohidrat utama pada formula krimer nabati berasal dari kandungan sirup
glukosa. Hal ini dikarenakan sirup glukosa terbuat dari komposisi monosakarida hingga
polisakarida. Kandungan karbohidrat pada krimer nabati sangat penting karena dapat
memberikan manfaat yang baik bagi yang mengonsumsi.
Logam berat pada umumnya mempunyai sifat toksik dan berbahaya bagi, walaupun
beberapa diantaranya diperlukan dalam jumlah kecil. Apabila kadar logam berat sudah
melebihi ambang batas yang ditentukan dapat membahayakan dan menyebabkan kematian
(Supriatno dan Lelifajri, 2009). Pengujian logam berat di PT. Lautan Natural Krimerindo
dilakukan setiap berapa tahun sekali dan hal itu dilakukan di luar perusahaan atau
bekerjasama dengan pihak luar. Pengujian yang dilakukan meliputi logam berat seperti
Arsen (As), Timbal (Pb), Raksa (Hg), Kadmium (Cd) dan Timah (Sn). Kandungan logam
berat dalam produk akhir menjadi penentu produk tersebut dapat di jual ke konsumen. Jika
kandungan logam berat sedikit maka departemen terkait melakukan evaluasi untuk
menentukan tindakan yang akan dilakukan terhadap produk tersebut. Sebaliknya jika
kandungan logam berat banyak maka secara otomatis produk tersebut di reject dan tidak di
izinkan untuk di jual ke konsumen.
Faktor yang dapat memicu pertumbuhan mikroba antara lain pada proses
pemanasan 1, 2 dan 3. Proses pemanasan hanyalah membunuh mikroba patogen yang
berbahaya bagi manusia sehingga kemungkinan spora bakteri yang tahan panas masih
hidup. Oleh karena itu bagian produksi setidaknya mengantisipasi hal tersebut dengan tetap
melakukan jalannya proses produksi sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Hal itu
perlu dilakukan agar produk akhir baik dan aman untuk dikonsumsi.
Berdasarkan identifikasi CCP, diperoleh tiga proses dalam pembuatan NDC yang
memiliki CCP, yaitu proses pemanasan 3 & holding tube, pengeringan (spray dryer) dan
metal detecting. Pemanasan 3 & holding tube, proses ini memiliki potensi kontaminasi
produk dengan bakteri patogen dan hanya bakteri patogen yang mati, sedangkan bakteri
yang tahan panas belum mati. Terbawanya mikroba dalam produk akan sangat berbahaya
apabila jumlahnya melebihi ambang batas yang telah ditetapkan. Tindakan pengendalian
yang dilakukan yaitu dengan mengatur suhu yang digunakan dalam proses sesuai dengan
karakteristik produk dan mengatur kecepatan aliran bahan. Pengeringan (spray dryer),
proses ini memiliki potensi produk tidak berbentuk bubuk dengan seragam/kadar air masih
banyak sehingga produk sedikit menggumpal. Tindakan pengendalian yang dilakukan yaitu
dengan mengatur temperatur yang digunakan sesuai dengan karakteristik produk, lama
waktu yang digunakan, set point parameter seperti kadar air. Terakhir metal detecting,
proses ini memiliki potensi kontaminasi produk dengan logam. Logam ini sangat berbahaya
apabila terbawa dalam produk. Tindakan pengendalian yang dilakukan yaitu dengan
memasang magnetic trap pada separating system. Tindakan evaluasi perlu dilakukan
terhadap keseluruhan aspek, mulai dari bahan baku hingga produk akhir. Aspek bahan baku
perlu dilihat dari segi kontaminasi yang ada baik secara fisik, kimia dan biologi. Kemudian
aspek proses perlu dilihat dari prosedur yang digunakan telah sesuai dengan sistem
diterapkan. Sedangkan dari segi keamanan produk dengan cara mendata semua temuan
dan dilaporkan kepada suplier.
Material Machines
b. Machine
Faktor produksi yang berperan dalam proses transformasi bahan baku menjadi
produk jadi adalah mesin dan peralatan. Sebelum mesin dan peralatan digunakan untuk
proses produksi sebaiknya diperhatikan kebersihannya agar tidak mempengaruhi proses
produksi maupun produk jadi. Produk cacat dapat disebabkan oleh mesin dan peralatan
yang digunakan selama proses produksi berlangsung. Berikut merupakan penyebab produk
cacat yang disebabkan oleh mesin dan peralatan.
Kebersihan kurang
Agar mesin yang digunakan dapat berfungsi optimal dan tahan lama maka
kebersihan pada mesin perlu menjadi perhatian. Mesin pengisi produk harus bersih agar
tidak terdapat benda asing yang masuk ke dalam produk. Akibatnya ditemukan benda asing
terdapat pada produk jadi. Hal ini dapat berdampak produk di reject karena terdapat benda
asing didalamnya yang artinya produk tidak higienis.
Terjadi kerusakan
Mesin akan bekerja secara optimal apabila berada dalam kondisi yang baik. Kerusakan
yang terjadi pada mesin akan mempengaruhi suatu proses yang terjadi. Misalnya mesin
pengisi produk tidak dapat mengisi produk dengan cepat sehingga memperlambat proses
pengemasan produk. Selain itu mesin pengemasan yang tidak dapat mengemas produk
dengan baik akan menyebabkan produk cepat rusak.
c. Metode
Metode merupakan prosedur kerja yang secara lengkap tertulis dalam SOP.
Karyawan harus melaksanakan prosedur tersebut yang sesuai dengan SOP. Kualitas
produk dapat menyebabkan terjadinya produk reject, hal ini dikarenakan metode
pengolahan yang dilakukan belum tepat. Berikut merupakan penyebab produk reject yang
bersumber dari faktor metode.
Pengisian tidak sesuai
Proses pengisian produk harus dilakukan dengan benar. Hal ini akan berpengaruh
terhadap hasil akhir agar sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Misalnya saat
pengisian produk jangan sampai yang ouger gravitasi dimana udara yang masuk ke dalam
produk lebih banyak sehingga hal tersebut akan menyebabkan kerusakan pada produk.
Handling tidak sesuai
Penanganan bahan yang tidak sesuai akan menyebabkan umur simpan produk
menjadi lebih pendek. Oleh karena itu perlu dilakukan handling yang sesuai agar kerusakan
produk dapat diminimalkan. Misalnya penyimpanan produk jadi harus disusun diatas palet
yang sudah dibersihkan terlebih dahulu. Kemudian sebelum palet berisi produk jadi masuk
gudang penyimpanan terlebih dahulu harus ditutup dengan plastik wrap untuk menjaga
kebersihan produk dan palet.
d. Material
Faktor utama dalam proses produksi adalah bahan baku yang digunakan. Bahan
baku yang baik akan menghasilkan produk jadi yang baik. Penanganan khusus terhadap
bahan baku perlu dilakukan dan disesuaikan dengan karakteristiknya. Penanganan bahan
baku yang kurang sesuai akan mempengaruhi kualitas bahan baku dan memungkinkan
dapat berpenaruh terhadap produk jadi. Berikut merupakan penyebab produk reject yang
bersumber dari faktor material.
Mutu tidak sesuai
e. Environment
Sirkulasi udara bermasalah
Suhu tidak sesuai
5.5.4 Histogram
5.5.7 Flowchart
Flowchart meruapakan langkah-langkah penyelesaian masalah yang dituliskan
dalam simbol-simbol tertentu. Flowchart menggambarkan urutan logika dari suatu prosedur
pemecahan masalah. Tujuan flowchart adalah untuk menggambarkan suatu tahapan
penyelesaian masalah secara sederhana, terurai, rapi dan jelas menggunakan simbol-
simbol yang standar (Sitorus, 2015).
Siklus PDCA (Plan, Do, Check dan Action) merupakan salah satu langkah dalam
pengendalian mutu yang dapat diterapkan untuk perbaikan kualitas suatu produk. Metode ini
dilakukan melalui langkah pengendalian mutu yaitu diawali dengan memahami kebutuhan
peningkatan kualitas, menyatakan masalah kualitas yang ada, mengevaluasi penyebab
utama, dan merencanakan solusi terhadap masalah yang ada. Langkah-langkah tersebut
merupakan satu rangkaian Plan. Tahap selanjutnya Do, yaitu dengan melakukan perbaikan
terhadap masalah yang terjadi. Kemudian tahap Check, yaitu dengan melakukan penelitian
dan evaluasi terhadap hasil perbaikan yang dilakukan serta menstandarisasikan solusi
terhadap masalah yang terjadi. Tahap terakhir Action, yaitu dengan melakukan pemecahan
masalah yang terjadi dan masalah selanjutnya yang mungkin akan terjadi. Berikut
merupakan uraian dari metode PDCA.
A. Plan
2. Pelatihan terbaru terkait keterampilan dan SOP untuk karyawan agar dapat bekerja
sesuai dengan sistem yang berlaku di perusahaan.
4.Melakukan perbaikan pada proses pengisian harus dilakukan dengan benar. Pemilihan
teknik yang sesuai dapat meminimalkan kerusakan produk.
B. Do
C. Check
D. Action
SOP merupakan suatu dokumen yang berisi standar prosedur yang secara
kronologis menunjukkan bagaimana cara menyelesaikan suatu pekerjaan dengan tujuan
agar hasil kerja yang diperoleh lebih efektif dan efisien. Mulai dari atasan hingga karyawan
harus mematuhi dan melaksanakannya dengan baik. Setiap departemen diperusahaan ini
memiliki SOP masing-masing. Berikut merupakan standar SOP produk jadi dan SOP
pemeriksaan produk jadi.
1. Foreman QCT melakukan input data hasil analisa pengecekan produk jadi.
2. Foreman QCT mengeluarkan status Block Stock yang diketahui oleh Mgr QCT dan
setiap hasil trial RnD akan diberi status Block Trial RnD.
3. Admin QCT melakukan usage decision blocked untuk produk dengan status TP 01.
4. Admin QCT pada saat itu juga melakukan transfer posting dari block ke UU. Produk
dengan status Block Stock non TP01 akan diteruskan proses selanjutnya ke proses L
(block stock non TP01).
5. Foreman QCT menempelkan form status block warna merah pada fisik untuk menandai
bahwa produk tersebut termasuk dalam Block Stock non TP01.
6. Yang lalu diikuti dengan memberikan status block yang dilakukan admin QCT by SAP.
8. Tim managemen atau PPC akan mengisi ttd form berita acara release produk sebagai
tanda persetujuan untuk me-release produk Block Stock non TP01 untuk dijual ke
customer.
9. Setelah ttd lengkap, QCT foreman akan mentransfer posting dari block ke UU by SAP dan
melepas form status barang dari fisik. Release produk disertai dengan pembuatan COA
untuk dijual ke customer. Produk Block Stock non TP01 yang tidak bisa dijual akan melalui
proses selanjutnya.
10. Tim managemen/RnD menginformasikan bahwa produk akan released untuk reproses
melalui email yang akan di tindak lanjuti oleh PPC.
11. PPC menginformasikan mengenai detail produk akan direproses melalui email yang
akan diproses lebih lanjut oleh tim logistik.
12. Tim logistik akan memintakan transfer posting dari block ke UU dengan mengirimkan
form transfer posting lewat email.
13. QCT foreman akan mengkroscek kesesuaian antara permintaan dari tim logistik
dibandingkan dengan data yang diinfokan oleh PPC.
15. Produksi yang selanjutnya akan mereproses sesuai rekomendasi dari tim
managemen/RnD/PPC setelah dikirim barang oleh tim logistik. Produk Block Stock non
TP01 yang tidak bisa dijual dan direproses akan melalui proses selanjutnya.
17. Tim logistik akan mengirimkan form permintaan transfer posting dikirim by email.
18. QCT Foreman akan mentransfer posting dari block ke UU by SAP. Produk akan
dipindahkan ke WG01 oleh tim logistik setelah produk sudah di transfer posting terlebih
dahulu.
1. Tim PPC akan menginformasikan barang yang akan quick delivery melalui email dan
meminta form UD Kimia Fisika.
2. QCT menerima permintaan analisa produk jadi dan atau menerima informasi bahwa
proses produksi berjalan tidak normal dari departemen produksi. Permintaan anaiisa dibuat
rangkap 2 (QCT & PRD). Spv/Foreman QCT melakukan analisa, apakah perlu melakukan
sampling normal atau diperketat.
6. Staff QCT melakukan usage decision. Hasil analisis yang sesuai standar di masukkan
pada status Unrestricted Use, produk tidak perlu ditempel label status barang pada
paletnya. Hasil analisis yang tidak sesuai standar di masukkan pada status Block. Blocking
produk tidak sesuai standar yang dilakukan dengan sistem WMS tanpa perlu dilakukan
penempelan form status barang pada palet. Untuk barang yang tidak masuk sistem WMS
harus ditempel label status barang block pada paletnya.
8. QAS akan membuat statement letter untuk direktur, jika terdapat produk yang belum
tervalidasi secara mikrobiologi harus direlease sebelum hasil analisa mikrobiologi keluar.
BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Krimer non-dairy adalah produk krimer nabati yang dihasilkan dari sirup glukosa,
sodium caseinate, HCNO (Hydrolized Coconut Oil) dan HPKO (Hydrolized Palm Kernel Oil)
yang telah mengalami proses pengeringan (spray drying). PT Lautan Natural Krimerindo
merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan krimer, khususnya krimer
nabati dengan berbagai macam bentuk kemasan dan tipe produk. PT Lautan Natural
Krimerindo berlokasi di Jalan Raya Mojosari, Pacet Km. 4, Desa Pesanggrahan, Kecamatan
Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. PT Lautan Natural Krimerindo menggunakan
struktur organisasi . Perusahaan ini didukung oleh tenaga kerja sejumlah 330 orang. PT
Lautan Natural Krimerindo menerapkan jenis layout yaitu Product Layout. Sistem produksi di
PT Lautan Natural Krimerindo kontinyu semi batch karena setiap berapa hari sekali
dilakukan CIP dan COP. Pada proses produksi menggunakan mesin semi otomatis.
Pengendalian mutu produk akhir adalah kegiatan yang dilakukan agar produk yang
dihasilkan sesuai dengan spesifikasi mutu yang direncanakan. Pengendalian mutu produk
akhir di PT Lautan Natural Krimerindo meliputi pengamatan fisik, kimia dan mikrobiologi.
6.2 Saran
Amrina, E dan Nofriani, F. 2015. Analisis Ketidaksesuaian Produk Air Minum dalam
Kemasan Di PT Amanah Insanillahia. Jurnal Optimasi Sistem Industri. 14 (1): 85-101.
Aqimuddin, E, A dan Marye, A, K. 2010. Tip Hukum Praktis : Masalah Seputar Bisnis.
Jakarta: Raih Asa Sukses.
Arif, M. 2016. Bahan Ajar Rancangan Teknik Industri. Yogyakarta: Deepublish.
Elisa, N. 2011. Analisa Kadar Air. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Handes, D., Kishi, S., Lusia, N., Andre, M, R, W. 2013. Statistical Quality Control (SQC)
Pada Proses Produksi Produk E Di Pt Dyn, Tbk. Jurnal INASEA. 14(2): 177-186.
Ilmiawan, N., Sussi, A., dan Otik, N. 2014. Penggabungan Penerapan Sistem Jaminan
Mutu ISO 9001:2008 dan Sistem HACCP ke dalam Sistem Manajemen Keamanan
Pangan ISO 22000:2009 (Studi Kasus di PT Indokom Samudra Persada). Jurnal
Teknologi dan Industri Hasil Pertanian. 19(3): 229-242.
Irianto, K. 2007. Mikrobiologi Menguak Dunia Mikroorganisme Jilid 1. Bandung: CV.
Yarma Widya.
Madjid. 2010. Sifat dan Ciri Tanah. Bogor: Fakultas Pertanian IPB.
Oktavia, M, D., Auzal, H dan Rika, I. 2012. Pengaruh Besar Ukuran Partikel Terhadap
Sifat-Sifat Tablet Metronidazol. Jurnal Farmasi Higea. 4 (2): 74-92.
Sandjaja dan Atmarita, 2009. Kamus Gizi. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.
Simanjuntak, M, R, A dan Skarlet, S, S. 2014. Analisis Sistem Manajemen Mutu dan
Pengaruhnya Dalam Meningkatkan Kinerja Operasional Bangunan Gedung Tinggi
Perkantoran Di Jakarta Pusat. Jurnal Ilmiah Media Engineering. 4 (2): 92-102.
Sitorus, L. 2015. Algoritma dan Pemrograman. Yogyakarta. CV. ANDI OFFSET.
Supriatno dan Lelifajri. 2009. Analisis Logam Berat Pb dan Cd dalam Sampel Ikan dan
Kerang secara Spektrofotometri Serapan Atom. Jurnal Rekayasa Kimia dan Lingkungan.
7(1): 5-8.
Widodo., Didik, S dan Retno, A, L. 2010. Kimia Analisis Kuantitatif Dasar Penguasaan
Aspek Eksperimental. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Wisnubroto, P dan Arya, R. 2015. Pengendalian Kualitas Produk dengan Pendekatan
Six Sigma dan Analisis Kaizen serta New Seven Tools Sebagai Usaha Pengurangan
Kecacatan Produk. Jurnal Teknologi. 8 (1): 65-74.