0% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
382 tayangan17 halaman

Pengendalian Mutu Krimer Non-Dairy

Bab V dokumen tersebut membahas tentang tugas khusus pengendalian mutu produk akhir pada produk krimer non-dairy di PT Lautan Natural Krimerindo Mojokerto, Jawa Timur. Ia menjelaskan proses pengendalian mutu mulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi, hingga produk jadi yang disampaikan ke konsumen. Kriteria mutu produk setengah jadi dan jadi ditetapkan beserta metode pengujiannya untuk memastikan kualitas

Diunggah oleh

Icha Sari
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
382 tayangan17 halaman

Pengendalian Mutu Krimer Non-Dairy

Bab V dokumen tersebut membahas tentang tugas khusus pengendalian mutu produk akhir pada produk krimer non-dairy di PT Lautan Natural Krimerindo Mojokerto, Jawa Timur. Ia menjelaskan proses pengendalian mutu mulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi, hingga produk jadi yang disampaikan ke konsumen. Kriteria mutu produk setengah jadi dan jadi ditetapkan beserta metode pengujiannya untuk memastikan kualitas

Diunggah oleh

Icha Sari
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB V

TUGAS KHUSUS

PENGENDALIAN MUTU PRODUK AKHIR PADA PRODUK KRIMER NON-DAIRY DI PT


LAUTAN NATURAL KRIMERINDO MOJOKERTO, JAWA TIMUR

5.1 Pengendalian Mutu Produk Krimer

Pengendalian kualitas merupakan suatu sistem verifikasi dan penjagaan/perawatan


dari suatu tingkatan/derajat kualitas produk atau proses yang dikehendaki dengan cara
perencanaan yang seksama, pemakaian peralatan yang sesuai, inspeksi yang terus
menerus, serta tindakan korektif bilamana diperlukan. Dengan demikian hasil yang diperoleh
dari kegiatan pengendalian kualitas ini benar-benar bisa memenuhi standar-standar yang
telah direncanakan/ditetapkan (Wisnubroto dan Arya, 2015 ). Pengendalian kualitas dimulai
sejak perencanaan kualitas produk yang bersangkutan, tahap pengorganisasian dan
pelaksanaan. Diantara tahapan-tahapan tersebut harus disertai pengawasan kualitas.
Pengendalian kualitas suatu produk merupakan penggabungan dari berbagai aspek dalam
perusahaan untuk mendukung dan berpartisipasi dalam peningkatan kualitas produk.
Pengendalian mutu produk akhir perlu dilakukan untuk menjaga kualitas produk agar pada
saat sampai ke tangan konsumen produk dalam keadaan yang baik.

Semakin banyaknya kompetitor yang bermunculan tentu menjadi ancaman tersendiri


bagi perusahaan. Kompetitor pasti berusaha untuk menyamai atau bahkan melakukan lebih
baik. Oleh karena itu perusahaan perlu melaksanakan strategi yang baik untuk
meningkatkan kualitas produk sehingga mampu bertahan di pangsa pasar. Hal ini ditujukan
agar produk memiliki mutu yang konsisten dan tetap laku dipasaran. Pengendalian mutu
juga diperlukan untuk meminimalkan produk yang tidak sesuai sehingga mengurangi waktu
dan biaya produksi.

Pengendalian mutu diperusahaan ini dilakukan oleh setiap karyawan di masing-


masing departemen. Pengendalian mutu yang diterapkan dimulai dari pemilihan bahan
baku, proses produksi, produk jadi sampai ditangan konsumen. Pengendalian mutu yang
dillakukan tersebut akan mempengaruhi mutu produk akhir yang dihasilkan. Dimana mutu
suatu produk akan mempengaruhi tingkat penjualan, semakin baik maka penjualan
meningkat dan feedback dari konsumen akan produk yang dihasilkan positif.

Pengendalian mutu produk akhir dimulai dari holding hopper sampai menjadi krimer
nabati yang siap dijual. Holding hopper ditangani dengan ukuran ayakan pada proses
pengayakan harus > 2 mm. Hal ini dilakukan untuk menjaga agar produk akhir berukuran
seragam. Selain itu dilakukan pengambilan sampel sebanyak 3 kali yaitu di awal, tengah
dan akhir untuk memastikan produk telah sesuai dengan parameter yang telah ditetapkan.
Pengendalian mutu holding hopper harus dilakukan sesuai SOP yang telah ditetapkan.
Kemudian pengendalian krimer dilakukan pada proses pengemasan sampai krimer tersebut
didistribusikan. Setiap proses harus dijalankan sesuai dengan SOP agar produk yang
dihasilkan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.

5.2 Kriteria Mutu Produk

5.2.1 Kriteria Mutu Produk Setengah Jadi/Semi Finish Good (SFG) NDC
Kualitas produk setengah jadi yang baik ditunjang oleh beberapa kriteria yang
terpenuhi. Kriteria tersebut dapat menunjukkan apakah dalam proses produksi tidak terdapat
masalah dan seberapa layak produk dapat didistribusikan. Kriteria yang terdapat pada
produk setengah jadi digunakan sebagai adjusment process oleh bagian QC, dimana proses
ini berfungsi untuk memberikan warning kepada bagian produksi jika terjadi ketidaksesuaian
agar bagian produksi dapat mengevaluasi penyebabnya sehingga proses produksi berjalan
lancar. Apabila produk setengah jadi yang dihasilkan tidak memenuhi standar maka pihak
QC akan menyampaikan informasi kepada bagian produksi secara langsung dengan
HT/telepon dan besoknya akan disertai dengan NCR (Non Conformity Report). Berikut ini
kriteria produk setengah jadi yang harus dihasilkan.

Tabel 5.1 Standar Mutu Produk Setengah Jadi NDC di PT Lautan Natural Krimerindo
Section of
Analysis Method Specification Sample
Process
Colour SNI 4444-2009 Cream
Fatty SNI 4444:2009 No Fatty
Appearance Appearance
Viscosity Brookfield 100-1200 CPS
pH (10% larutan) SNI 01-2891- 6.0-9.0
1992 3
Hydration Tank 0
Brix Refractometer 60-75% sample/inspection
Temperature See Process 55-800C
Loss On Drying Thermogravimetri 20-50%
(LOD)
Fat ISO 2446:2008 30-50%
Density Gravimetri 1.0-2.0 g/mL
Sumber : Dept. QC PT Lautan Natural Krimerindo (2017)

5.2.2 Kriteria Mutu Produk Jadi/Finished Good (FG)


Keunikan Non Dairy Creamer (NDC) salah satunya tergantung pada upaya yang
tepat dalam menjaga kualitas. Langkah-langkah dan standar yang tepat tersebut
dicantumkan dalam SOP yang harus dipatuhi dan dijalankan baik oleh atasan maupun
karyawan. Hal tersebut mutlak dilakukan agar hasil yang diharapkan sesuai dengan visi misi
dan sistem yang telah ditetapkan. Dengan begitu seluruh produk yang dihasilkan memiliki
kualitas yang baik sehingga akan berdampak pada keuntungan yang maksimal bagi
perusahaan. Berikut ini adalah standar produk jadi NDC yang diharapkan mencapai
kepuasan konsumen.

Tabel 5.2 Standar Mutu Produk Jadi NDC di PT Lautan Natural Krimerindo

Sumber : Dept. QC PT Lautan Natural Krimerindo

5.3 Penanganan Mutu Produk Akhir

Kepercayaan dan kepuasan konsumen akan suatu produk yang mensyaratkan mutu
tertentu sangat berpengaruh terhadap penanganan mutu produk akhir, sehingga harus
dilakukan dengan baik. Penyimpanan produk akhir, proses produksi dan pemilihan bahan
baku merupakan beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya keragaman mutu suatu
produk. Pengawasan mutu mutlak diperlukan agar produk yang dihasilkan sesuai dengan
sistem yang ditetapkan. Penanganan mutu produk akhir diperusahaan ini dilakukan dengan
pengujian mutu produk akhir di laboratorium. Pada produk NDC, pengujian mutu produk
akhir yang dilakukan meliputi pengamatan fisik, pengamatan kimia dan pengamatan
mikrobiologi.

5.3 1 Pengamatan Mutu Fisik

A. Keasaman (pH)

Nilai pH dapat dijadikan sebagai salah satu indikator kualitas krimer. Nilai keasaman
produk krimer dapat mudah dievaluasi dengan nilai pH. Nilai pH yang terdapat pada produk
dapat dianalisis dengan mengambil sampel di holding hopper. Pengujian pada tiap
batch/sampling dilakukan sebanyak 3x. Berdasarkan hasil uji pH dalam hopper diperoleh
hasil rata-rata untuk tiap batch/sampling sebesar 7,25. Jika dibandingkan dengan SNI, hasil
nilai pH yang diperoleh sudah memenuhi standar yang ada. Standar pH untuk produk krimer
yang sesuai SNI adalah 6.0-9.0, sehingga nilai pH yang diperoleh masih dalam range dan
produk dapat diterima.

Pengujian pH di PT. Lautan Natural Krimerindo dilakukan dengan menggunakan alat


pH Meter. Prosedur pengujian yang dilakukan adalah dengan mula-mula memastikan
semua alat, bahan dan area kerja kondisi bersih sesuai tempatnya. Kemudian larutkan
sampel sesuai dengan konsentrasi yang ditentukan untuk masing-masing sampel dan
letakkan dalam beaker glass. Lakukan pengukuran pH meter dengan cara pemakaian yaitu
sediakan larutan yang akan diukur derajat keasamannya, bilas elektroda dengan air RO lalu
keringkan elektroda memakai tisu, hidupkan pH meter dan masukkan elektroda ke larutan
sampel yang diukur, tunggu sampai dengan hasil stabil (kira-kira 30 detik). Catat hasil
pengukuran nilai keasaman (pH). Dalam analisis pH, sampel harus dilarutkan dengan 10%
larutan. Apabila konsentrasi larutan kurang dari 10% maka pH meter tidak dapat melakukan
pengukuran pH terhadap larutan sampel. Sampel berbentuk bubuk sehingga perlu
dilarutkan karena tujuannya agar nilai pH dapat terbaca oleh pH meter.

B. Ukuran partikel (Particle Size Distribution)

Pengendalian ukuran partikel sangat penting sekali dalam mencapai sifat aliran yang
diperlukan dan pencampuran yang benar dari granul dan serbuk. Penurunan ukuran partikel
dapat meningkatkan laju absorpsi dan berpengaruh pada proses pelarutan (Oktavia dkk,
2012). Setiap produk krimer memiliki kriteria ukuran partikel yang berbeda-beda. Pengujian
ukuran partikel dianalisis dengan mengambil sampel di holding hopper. Pengujian pada tiap
batch/sampling dilakukan sebanyak 3x. Berdasarkan hasil uji dalam hopper diperoleh hasil
rata-rata untuk tiap batch/sampling sebesar 70. Jika dibandingkan dengan standar produk
yang ditetapkan, hasil nilai ukuran partikel yang diperoleh sudah memenuhi standar yang
ada. Standar ukuran partikel untuk produk krimer yang ditetapkan adalah min 60-max 100,
sehingga nilai ukuran partikel yang diperoleh masih dalam range dan produk dapat diterima.

Pengujian ukuran partikel di PT. Lautan Natural Krimerindo dilakukan dengan


menggunakan alat Siever. Prosedur pengujian yang dilakukan adalah dengan mula-mula
memastikan semua alat, bahan dan area kerja kondisi bersih sesuai tempatnya. Kemudian
timbang berat kosong masing-masing sieve screen, lalu timbang 20 g sampel. Setelah itu
tuang sampel ke dalam siever, tutup dan nyalakan (amplitudo = 40, time = 2 menit).
Kemudian timbang dan catat masing-masing sieve screen + sampel sebagai hasil analisa.

C. Kerapatan Massa (Bulk Density)


Bulk Density merupakan berat suatu massa produk per satuan volume tertentu,
satuannya g/mL3. Makin padat suatu produk maka semakin tinggi bulk density, yang berarti
semakin sulit untuk ditembus air (Madjid,2012). Cara pengujian ada 2 yaitu tapped density
dan untapped density. Pengujian bulk density dianalisis dengan mengambil sampel di
holding hopper. Pengujian pada tiap batch/sampling dilakukan sebanyak 3x. Berdasarkan
hasil uji dalam hopper diperoleh sebesar 0,532 untuk tapped density dan 0,45 untuk
untapped density. Jika dibandingkan dengan standar produk yang ditetapkan, hasil nilai bulk
density yang diperoleh sudah memenuhi standar yang ada. Standar bulk density untuk
produk krimer yang ditetapkan adalah 0,4 0,5 untuk untapped density dan 0,5 - 0,6 untuk
tapped density, sehingga nilai bulk density yang diperoleh masih dalam range dan produk
dapat diterima.

Pengujian kerapatan massa (Bulk Density) di PT. Lautan Natural Krimerindo


dilakukan dengan menggunakan alat Tapped Density Tester. Prosedur pengujian yang
dilakukan adalah dengan mula-mula memastikan semua alat, bahan dan area kerja kondisi
bersih sesuai tempatnya. Kemudian lakukan penimbangan sampel sebanyak 100 g dan
dimasukkan dalam gelas ukur 250 ml. Setelah itu masukkan menu pada tapped density
tester, pilih menu produk run sellect produk NDC batch confrim OK. Kemudian
lakukan tapped sebanyak 100 kali hentakan, lihat volume bubuk dan catat. Lalu hitung
dengan persamaan: bulk density = berat sampel (g)/volume sampel (mL), catat hasil
perhitungan/pembacaan tabel.

D. Uji Organoleptik (Penampakan, Bau, Rasa, Warna, Benda Asing, Partikel Coklat, Free
Flowing Powder, Agglomerated Powder, Fatty Appearance, White Spots)

Pengujian organoleptik di PT. Lautan Natural Krimerindo meliputi penampilan, bau,


rasa, warna, benda asing, partikel coklat, free flowing powder, agglomerated powder, fatty
appearance, dan white spots. Uji ini dilakukan untuk menunjukkan hasil pengukuran objektif
panelis terhadap atribut sensori suatu produk. Atribut sensori yang digunakan pada uji ini
yaitu sistem indera manusia, antara lain penampakan (peraba), warna, benda asing, partikel
coklat, free flowing powder, agglomerated powder, fatty appearance, dan white spots
menggunakan penglihatan, bau (penciuman), rasa (pengecap).

Prosedur pengujian yang dilakukan adalah dengan mula-mula memastikan semua


alat, bahan dan area kerja kondisi bersih sesuai tempatnya. Kemudian ambil contoh uji
secukupnya dan rasakan dengan lidah untuk uji rasa. Sedangkan untuk uji-uji lainnya, ambil
contoh uji secukupnya dan letakkan di atas gelas arloji yang bersih dan kering. Kemudian
lihat contoh apakah contoh uji tersebut telah sesuai dengan yang ditetapkan atau tidak. Uji
organoleptik dilakukan minimal oleh 3 orang panelis atau 1 orang tenaga ahli. Uji ini
dilakukan dengan menggunakan metode skala hedonik.

5.3.2 Pengamatan Mutu Kimia

A. Kadar Air (Moisture Content)

Kadar air merupakan banyaknya air yang terkandung dalam bahan pangan yang
dinyatakan dalam persen. Kadar air juga salah satu karakteristik yang sangat penting dalam
bahan pangan, karena air dapat mempengaruhi kenampakan tekstur dan cita rasa pada
bahan pangan. Kadar air dalam bahan pangan ikut menentukan kesegaran dan daya awet
bahan pangan tersebut (Elisa, 2011). Kadar air atau moisture content harus diminimumkan
dalam batas terkecil yang bisa dihilangkan karena air dapat membuat produk menggumpal.
Analisis kandungan air pada produk yang dihasilkan adalah untuk mengetahui banyaknya
kandungan air yang masih tercampur pada produk. Kandungan air yang terdapat pada
produk dapat dianalisis dengan mengambil sampel di holding hopper. Pengujian pada tiap
batch/sampling dilakukan sebanyak 3x. Nilai dari kandungan air sangat penting, karena
kadar air yang banyak dapat menyebabkan kerusakan mutu pada produk. Berdasarkan hasil
analisis kadar air dalam hopper diperoleh hasil rata-rata untuk tiap batch/sampling sebesar
2,70%. Jika dibandingkan dengan SNI, hasil kadar air yang diperoleh sudah memenuhi
standar penjualan. Standar kadar air untuk produk krimer yang sesuai SNI adalah 5%,
sehingga nilai yang diperoleh tetap layak dan dapat dipasarkan.

Pengujian kadar air di PT. Lautan Natural Krimerindo dilakukan dengan


menggunakan alat moisture analyzer. Prosedur pengujian yang dilakukan adalah dengan
mula-mula memastikan semua alat, bahan dan area kerja kondisi bersih sesuai tempatnya.
Kemudian nyalakan alat dan setting untuk heat mode standart, auto stop adaptstop, timer
stop off dan temperatur 1050C. Tera alat tanpa cawan, lalu masukkan cawan timbang dan
dipanaskan, biarkan sampai mati sendiri dan kemudian di nol kan lagi (tera). Timbang 2.0 gr
sampel bubuk dan diletakkan dalam cawan timbang, lalu ratakan sampel sampai memenuhi
seluruh permukaan cawan timbang dan di catat berat sampelnya. Tutup alat untuk memulai
analisis (automatic start) atau tekan tombol start secara manual. Baca dan tulis hasil analisa
kadar air serta waktu yang terukur dari alat ketika pembacaan alat berhenti. Dalam analisis
kandungan air, alat moisture analyzer perlu ditera dan cawan timbang perlu dipanaskan. Hal
tersebut perlu dilakukan agar pembacaan alat sesuai dan akurat.

B. Kadar Abu (Ash)

Sebagian besar bahan pangan terdiri dari 96% bahan anorganik dan air, sedangkan
sisanya merupakan unsur-unsur mineral. Unsur-unsur mineral dikenal sebagai zat organik
atau kadar abu. Kadar abu menunjukkan total mineral dalam suatu bahan pangan (Widodo
dkk, 2010). Pengujian kadar abu dianalisis dengan mengambil sampel di holding hopper.
Pengujian pada tiap batch/sampling dilakukan sebanyak 3x. Berdasarkan hasil uji dalam
hopper diperoleh hasil rata-rata untuk tiap batch/sampling sebesar 3,55. Jika dibandingkan
dengan standar produk yang ditetapkan, hasil nilai kadar abu yang diperoleh sudah
memenuhi standar yang ada. Standar kadar abu untuk produk krimer yang ditetapkan
adalah min 0-max 3,0, sehingga nilai kadar abu yang diperoleh masih dalam range dan
produk dapat diterima.

Pengujian kadar abu di PT. Lautan Natural Krimerindo dilakukan dengan


menggunakan alat furnace. Prosedur pengujian yang dilakukan adalah dengan mula-mula
memastikan semua alat, bahan dan area kerja kondisi bersih sesuai tempatnya. Kemudian
timbang cawan kosong. Lalu timbang 2.0 gr sampel + cawan. Selanjutnya masukkan dalam
furnace selama 5500C selama 5 jam. Setelah selesai, lalu angkat dan masukkan desikator
15 menit. Kemudian timbang dan catat berat cawan + abu. Dalam perhitungan % abu

digunakan persamaan: x 100 %.

C. Kadar Lemak (Fat Content)

Kadar lemak merupakan banyaknya karbohidrat baik monogliserida, digliserida serta


trigliserida yang terkandung dalam bahan makanan yang dinyatakan dalam gram per
seratus bahan makanan (Sandjaja dan Atmarita, 2009). Kandungan lemak yang terdapat
pada produk dapat dianalisis dengan mengambil sampel di holding hopper. Pengujian pada
tiap batch/sampling dilakukan sebanyak 3x. Berdasarkan hasil analisis kadar lemak dalam
hopper diperoleh hasil rata-rata untuk tiap batch/sampling sebesar 17,42%. Jika
dibandingkan dengan SNI, hasil kadar lemak yang diperoleh sudah memenuhi standar
penjualan. Standar kadar air untuk produk krimer yang sesuai ISO adalah 30-50%, sehingga
nilai yang diperoleh tetap layak dan dapat dipasarkan.

Pengujian kadar lemak di PT. Lautan Natural Krimerindo dilakukan secara manual
(sentrifuge) menggunakan metode gerber. Prosedur pengujian yang dilakukan adalah
dengan mula-mula memastikan semua alat, bahan dan area kerja kondisi bersih sesuai
tempatnya, APD sarung tangan karet dan masker. Kemudian masukkan larutan H2SO4 90-
91% sebanyak 10 ml pada butyrometer. Masukkan larutan sampel pada butyrometer dan
tambahkan 2 ml, air untuk pembilasan sisa larutan sampel di cup plastik. Tambahkan amyl
alkohol sebanyak 1 ml. Tutup butyrometer dengan penutup karet, pastikan penutup karet
kencang. Kocok butyrometer dengan posisi tutup ditekan dengan ibu jari selama 2 menit,
pastikan gunakan pelindung tangan dan pelindung mata. Masukkan butyrometer dan
letakkan dalam centrifuge gerber dengan posisi diagonal (minimal 2 butyrometer terpasang
dalam sentrifuse), dimana cara pemakaiannya yaitu hubungkan kabel pada stopkontak,
nyalakan dengan menekan switch on di bagian belakang alat, tunggu hingga display
muncul, proses analisa menggunakan metode gerber dengan speed centrifuge 1100/350
(RpM/g) dan waktu 5 menit. Tutup sentrifuse dan jalankan sentrifuse gerber selama 2x5
menit, lalu tarik tutup karet butyrometer ke skala baca setelah putaran 1 (setelah 1x5 menit).
Baca kadar lemak pada skala butyrometer (minyak akan terlihat jernih dan terpisah) dari
miniskus bawah dan hitung kadar lemak sampel. Cara perhitungan kadar lemak dapat
dilakukan dengan rumus
2,5 x % L
% = (berat sampel)

D. Kadar Protein (Protein Content)

Kadar protein merupakan kandungan protein dalam bahan makanan/pangan yang


dinyatakan dalam gram per seratus gram bahan makanan/pangan. Pengukuran kadar
protein bisa dilakukan dengan cara kuantitatif dan kualitatif (Sandjaja dan Atmarita, 2009).
Analisa kadar protein di PT. Lautan Natural Krimerindo dilakukan dengan menggunakan
cara Kjeltec. Cara ini dibagi menjadi beberapa tahapan proses yaitu pembuatan larutan,
standarisasi larutan, digesti sampel, destilasi (penyulingan), dan titrasi. Jumlah HCI (mL)
yang tercatat, digunakan untuk perhitungan % protein dengan menggunakan rumus:

( ) 14,007 100
% =
()

Kadar protein termasuk salah satu karakteristik yang harus ada pada produk krimer, karena
ini dapat memberikan efek yang baik bagi yang mengonsumsi. Nilai kadar protein yang
tedapat pada krimer juga harus sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Apabila terjadi
ketidaksesuaian maka departemen terkait akan melakukan evaluasi mengenai tindakan
yang harus dilakukan terhadap produk yang tidak memenuhi standar tersebut.
Pengujian kadar protein di PT. Lautan Natural Krimerindo dilakukan dengan
menggunakan alat kjeltec 8200. Prosedur pengujian yang dilakukan adalah dengan mula-
mula memastikan semua alat, bahan dan area kerja kondisi bersih sesuai tempatnya, APD
sarung tangan karet dan masker. Kemudian menyiapkan larutan alkali NaOH 40% per liter,
receiver solution H3BO3 4 % per liter dan larutan scrubber alkali NaOH 15% per liter.
Selanjutnya membuat larutan HCI 0,1 N lalu lakukan standarisasi dengan menggunakan
NaOH atau THAM (Tris Hidroxymethyl Amino Methane). Setelah itu lakukan digesti sampel
dengan digester lalu lakukan distilasi kjeltec. Kemudian lakukan standarisasi alat seperti
titrator dan indikator probe. Setelah selesai lakukan titrasi sampel dengan auto titration
mettler toredo.

E. Kadar Karbohidrat (Carbohydrate Content)

Kadar karbohidrat merupakan banyaknya karbohidrat baik monosakarida, disakarida


serta polisakarida yang terkandung dalam bahan makanan yang dinyatakan dalam gram per
seratus bahan makanan. Cara yang umum dilakukan adalah dengan cara tak langsung
melalui cara pengurangan yaitu (Sandjaja dan Atmarita, 2009):

Kadar karbohidrat = 100% - % (air + protein + lemak + serat kasar + abu)

Sumber karbohidrat utama pada formula krimer nabati berasal dari kandungan sirup
glukosa. Hal ini dikarenakan sirup glukosa terbuat dari komposisi monosakarida hingga
polisakarida. Kandungan karbohidrat pada krimer nabati sangat penting karena dapat
memberikan manfaat yang baik bagi yang mengonsumsi.

F. Logam Berat (Heavy Metal)

Logam berat pada umumnya mempunyai sifat toksik dan berbahaya bagi, walaupun
beberapa diantaranya diperlukan dalam jumlah kecil. Apabila kadar logam berat sudah
melebihi ambang batas yang ditentukan dapat membahayakan dan menyebabkan kematian
(Supriatno dan Lelifajri, 2009). Pengujian logam berat di PT. Lautan Natural Krimerindo
dilakukan setiap berapa tahun sekali dan hal itu dilakukan di luar perusahaan atau
bekerjasama dengan pihak luar. Pengujian yang dilakukan meliputi logam berat seperti
Arsen (As), Timbal (Pb), Raksa (Hg), Kadmium (Cd) dan Timah (Sn). Kandungan logam
berat dalam produk akhir menjadi penentu produk tersebut dapat di jual ke konsumen. Jika
kandungan logam berat sedikit maka departemen terkait melakukan evaluasi untuk
menentukan tindakan yang akan dilakukan terhadap produk tersebut. Sebaliknya jika
kandungan logam berat banyak maka secara otomatis produk tersebut di reject dan tidak di
izinkan untuk di jual ke konsumen.

5.3.3 Pengamatan Mutu Mikrobiologi

PT Lautan Natural Krimerindo melakukan pengamatan mutu mikrobiologi dengan


menggunakan metode hitungan cawan atau Total Plate Count (TPC). Menurut Irianto (2007)
prinsip dari metode hitungan cawan adalah menumbuhkan sel mikrobia yang masih hidup
pada metode agar, sehingga sel mikrobia tersebut akan berkembang biak dan membentuk
koloni yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa menggunakan mikroskop.
Pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme tertentu harus diminimalkan dan
dihilangkan pada produk akhir, hal ini karena dapat menyebabkan perubahan-perubahan
pada produk seperti perubahan fisik dan kimiawi, contohnya muncul aroma tertentu yang
membahayakan, timbul jamur pada produk. Beberapa bakteri yang dihindari demi keamanan
produk akhir yaitu Escherichia Coli, Enterobacteriaceae, Salmonella, Staph. Aureus dan
lainnya yaitu jamur dan khamir.

Faktor yang dapat memicu pertumbuhan mikroba antara lain pada proses
pemanasan 1, 2 dan 3. Proses pemanasan hanyalah membunuh mikroba patogen yang
berbahaya bagi manusia sehingga kemungkinan spora bakteri yang tahan panas masih
hidup. Oleh karena itu bagian produksi setidaknya mengantisipasi hal tersebut dengan tetap
melakukan jalannya proses produksi sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Hal itu
perlu dilakukan agar produk akhir baik dan aman untuk dikonsumsi.

5.4 Sistem Manajemen Mutu


PT Lautan Natural Krimerindo terus berupaya dalam rangka meningkatkan dan
menjaga kualitas produk serta keamanan pangan yaitu melalui Sistem Manajemen Mutu.
Sistem manajemen mutu merupakan sekumpulan prosedur terdokumentasi dan praktek-
praktek standar untuk manajemen sistem yang bertujuan menjamin kesesuaian dari suatu
proses dan produk terhadap kebutuhan atau persyaratan tertentu. Kebutuhan atau
persyaratan itu ditentukan atau dispesifikasikan oleh pelanggan dan organisasi (Simanjuntak
dan Skarlet, 2014). Perusahaan ini telah mendapatkan beberapa sertifikat keamanan
pangan seperti sertifikat jaminan halal, ISO 9001-2008, dan ISO 22000-2005. Berikut ini
adalah penjelasan mengenai sertifikat-sertifikat tersebut.

5.4.1 Sistem Jaminan Halal


Sertifikat halal adalah fatwa tertulis Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menyatakan
kehalalan suatu produk sesuai dengan syriat islam. Pembuatan sertifikasi halal pada produk
pangan, obat-obatan, dan kosmetik untuk memberikan kepastian status kehalalan suatu
produk sehingga dapat menenteramkan hati konsumen (Aqimuddin dan Marye, 2010).
Sertifikat halal merupakan syarat untuk mendapatkan izin pencantuman label halal pada
kemasan produk dari suatu perusahaan yang bergerak pada bidang pangan, obat-obatan
dan kosmetik. Sertifikat ini berlaku selama 2 tahun sejak tangga penetapan. Perusahaan ini
memperoleh sertifikat halal pada Oktober 2016. Sehubungan dengan adanya sertifikat halal
tersebut menunjukkan bahwa perusahaan dalam kondisi aman dan baik dari segi higiene
dan sanitasi perusahaan, bahan baku, proses produksi, mutu dan keamanan pangan serta
pertanggungjawaban terhadap kehalalan dari produk.
PT Lautan Natural Krimerindo melakukan pengendalian bahan baku dengan
menggunakan tabel military standar dan CoA (Certificate of Analysis). Tabel military standar
digunakan untuk memutuskan diterima/tidaknya suatu lot produk. Sedangkan sertifikat CoA
digunakan untuk menunjukkan bahwa bahan baku, bahan penunjang dan bahan kemas
yang dibawa oleh pihak ketiga yang berwenang/produsen/suplier telah sesuai dengan yang
diminta oleh perusahaan, telah diperiksa dan memenuhi sistem kehalalan. Kemudian dalam
proses produksi, penggunaan alat maupun proses yang baik serta higiene karyawan juga
dilakukan oleh perusahaan demi terciptanya produk yang halal.

5.4.2 ISO 22000:2005


Sistem yang sesuai atau harmonis dengan sistem manajemen yang lain. Dalam
penerapannya, sistem manajemen mutu ISO 22000 dapat diterapkan secara terpisah
ataupun diintegrasikan dengan sistem manajemen yang sudah ada, misalnya ISO 9001.
Sistem manajemen mutu ISO 22000 juga mengintegrasikan prinsip-prinsip sistem HACCP
dan langkah-langkah yang dikembangkan oleh Codex Alimentarius Commission (Ilmiawan
dkk, 2014). Masa berlaku sertifikat ISO 22000-2005 selama 3 tahun. Perusahaan ini
mendapatkan sertifikat ISO 22000:2005 dan ISO 9001-2008 pada tahun 2013. Sertifikat ISO
22000:2005 di perusahaan ini dinyatakan baik artinya sistem manajemen telah berjalan
sesuai dengan prosedur yang berlaku. Selain itu dari segi higienitas dan keamanan pangan
telah terjamin. Audit eksternal pada perusahaan ini dilakukan setiap 6 bulan sekali dan 1
tahun sekali oleh pihak SGS. Kemudian terdapat audit BPOM yang dilakukan setiap 1 tahun
sekali dan audit halal yang dilakukan setiap 2 tahun sekali dari MUI. Sedangkan audit
internal juga dilakukan oleh departemen purchasing, quality assurance, human resources
and general affair, quality control, produksi, maintenance and utility, logistik dan research
and development untuk audit 5R dan surveilence.

Berdasarkan identifikasi CCP, diperoleh tiga proses dalam pembuatan NDC yang
memiliki CCP, yaitu proses pemanasan 3 & holding tube, pengeringan (spray dryer) dan
metal detecting. Pemanasan 3 & holding tube, proses ini memiliki potensi kontaminasi
produk dengan bakteri patogen dan hanya bakteri patogen yang mati, sedangkan bakteri
yang tahan panas belum mati. Terbawanya mikroba dalam produk akan sangat berbahaya
apabila jumlahnya melebihi ambang batas yang telah ditetapkan. Tindakan pengendalian
yang dilakukan yaitu dengan mengatur suhu yang digunakan dalam proses sesuai dengan
karakteristik produk dan mengatur kecepatan aliran bahan. Pengeringan (spray dryer),
proses ini memiliki potensi produk tidak berbentuk bubuk dengan seragam/kadar air masih
banyak sehingga produk sedikit menggumpal. Tindakan pengendalian yang dilakukan yaitu
dengan mengatur temperatur yang digunakan sesuai dengan karakteristik produk, lama
waktu yang digunakan, set point parameter seperti kadar air. Terakhir metal detecting,
proses ini memiliki potensi kontaminasi produk dengan logam. Logam ini sangat berbahaya
apabila terbawa dalam produk. Tindakan pengendalian yang dilakukan yaitu dengan
memasang magnetic trap pada separating system. Tindakan evaluasi perlu dilakukan
terhadap keseluruhan aspek, mulai dari bahan baku hingga produk akhir. Aspek bahan baku
perlu dilihat dari segi kontaminasi yang ada baik secara fisik, kimia dan biologi. Kemudian
aspek proses perlu dilihat dari prosedur yang digunakan telah sesuai dengan sistem
diterapkan. Sedangkan dari segi keamanan produk dengan cara mendata semua temuan
dan dilaporkan kepada suplier.

5.5 Penerapan Statistical Quality Control dalam Pengendalian Mutu


5.5.1 Peta Kendali (Control Chart)
Peta kendali adalah grafik yang digunakan untuk menentukan apakah suatu proses
berada dalam keadaan in control atau out control. Batas pengendalian yang meliputi batas
atas (upper control limit) dan batas bawah (lower control limit) dapat membantu untuk
menggambarkan performansi yang diharapkan dari suatu proses, yang menunjukkan bahwa
proses tersebut konsisten (Amrina dan Nofriani, 2015).

5.5.2 Diagram Pareto


Diagram pareto adalah diagram yang dibuat untuk menemukan atau mengetahui
masalah atau penyebab yang merupakan kunci dalam penyelesaian masalah dan
perbandingan terhadap keseluruhan. Fungsi diagram pareto adalah untuk mengidentifikasi
atau menyeleksi masalah utama untuk peningkatan kualitas. Diagram ini menunjukkan
seberapa besar frekuensi berbagai macam tipe permasalahan yang terjadi dengan daftar
masalah pada sumbu x dan jumlh/frekuensi kejadian pada sumbu y (Arif, 2016).

5.5.3 Diagram Sebab Akibat (Fishbone)


Diagram sebab akibat merupakan diagram yang menunjukkan penyebab-penyebab
dari sebuah even yang spesifik. Diagram ini dapat membantu mengidentifikasi faktor-faktor
yang signifikan memberi efek terhadap sebuah kejadian. Pemakaian diagram sebab akibat
yang paling umum adalah untuk mencegah defek serta mengembangkan kualitas produk
(Handes dkk, 2013). Diagram sebab akibat digunakan untuk mencari penyebab terjadinya
suatu permasalahan. Salah satu permasalahan dialami perusahaan ini adalah penyimpanan
dan distribusi produk jadi. Produk jadi yang rusak dapat menimbulkan reject. Oleh karena itu
penyebab kerusakan tersebut dianalisis menggunakan diagram sebab akibat (fishbone
diagram). Diagram sebab akibat digunakan untuk menganalisis penyebab kerusakan produk
ditempat penyimpanan.

Penyebab kerusakan produk disebabkan oleh beberapa faktor seperti karyawan,


cara kerja, mesin dan peralatan, bahan baku dan kondisi lingkungan. Penyebab kerusakan
tersebut dianalisis menggunakan diagram sebab akibat. Berikut ini diagram sebab akibat
produk jadi tidak memenuhi standar yang terjadi diperusahaan.

Environment Metode Personel

Sirkulasi udara bermasalah Pengisian tidak sesuai Kurang terampil

Suhu tidak sesuai Handling tidak sesuai Tidak sesuai SOP

Penyimpanan dan Distribusi

Mutu tidak sesuai Kebersihan kurang

Komposisitidak sesuai Terjadikerusakan

Material Machines

Gambar 5.3 Cause and Effect Diagram

Berdasarkan analisis yang dilakukan dengan menggunakan diagram sebab akibat


pada Gambar 5.3 diketahui beberapa faktor yang menyebabkan reject pada produk krimer
non-dairy. Adapun faktor-faktor penyebab reject adalah sebagai berikut.
a. Personel
Salah satu faktor produksi yang berhubungan baik langsung maupun tidak langsung
dengan produk adalah personel/karyawan. Karyawan bagian produksi dan quality control
merupakan karyawan yang berhubungan secara langsung dengan produk. Sedangkan
karyawan yang tidak berhubungan langsung dengan produk yakni karyawan logistik.
Keduanya sangat penting karena berhubungan dengan produksi langsung maupun dengan
penanganan bahan baku. Terdapat beberapa macam penyebab produk rusak maupun
kerusakan lainnya yang bersumber dari karyawan.
Kurang terampil
Setiap karyawan perlu memiliki keterampilan agar pekerjaan yang dilakukan
mendapatkan hasil yang baik. Kesalahan akan banyak dilakukan apabila seorang karyawan
tidak terampil dalam bekerja, seperti kurang teliti saat pengecekan kemasan akibatnya
produk tidak dapat didistribusikan. Kemudian keterampilan saat menggunakan forklift juga
perlu dimiliki karyawan agar tidak terjadi kesalahan yang berdampak fatal. Apabila tidak
sesuai maka akan menimbulkan produk reject yang dapat menyebabkan kerugian pada
perusahaan.
Tidak melaksanakan SOP
Setiap karyawan diwajibkan oleh perusahaan untuk mematuhi dan melaksanakan
SOP yang telah dibuat. Apabila karyawan tidak mematuhi SOP tersebut maka sangat
mungkin terjadinya kesalahan, seperti meletakkan produk tidak sesuai dengan tempatnya.
Hal tersebut tentunya dapat menyebabkan umur simpan produk menjadi pendek dan produk
cepat rusak.

b. Machine
Faktor produksi yang berperan dalam proses transformasi bahan baku menjadi
produk jadi adalah mesin dan peralatan. Sebelum mesin dan peralatan digunakan untuk
proses produksi sebaiknya diperhatikan kebersihannya agar tidak mempengaruhi proses
produksi maupun produk jadi. Produk cacat dapat disebabkan oleh mesin dan peralatan
yang digunakan selama proses produksi berlangsung. Berikut merupakan penyebab produk
cacat yang disebabkan oleh mesin dan peralatan.
Kebersihan kurang
Agar mesin yang digunakan dapat berfungsi optimal dan tahan lama maka
kebersihan pada mesin perlu menjadi perhatian. Mesin pengisi produk harus bersih agar
tidak terdapat benda asing yang masuk ke dalam produk. Akibatnya ditemukan benda asing
terdapat pada produk jadi. Hal ini dapat berdampak produk di reject karena terdapat benda
asing didalamnya yang artinya produk tidak higienis.
Terjadi kerusakan
Mesin akan bekerja secara optimal apabila berada dalam kondisi yang baik. Kerusakan
yang terjadi pada mesin akan mempengaruhi suatu proses yang terjadi. Misalnya mesin
pengisi produk tidak dapat mengisi produk dengan cepat sehingga memperlambat proses
pengemasan produk. Selain itu mesin pengemasan yang tidak dapat mengemas produk
dengan baik akan menyebabkan produk cepat rusak.

c. Metode
Metode merupakan prosedur kerja yang secara lengkap tertulis dalam SOP.
Karyawan harus melaksanakan prosedur tersebut yang sesuai dengan SOP. Kualitas
produk dapat menyebabkan terjadinya produk reject, hal ini dikarenakan metode
pengolahan yang dilakukan belum tepat. Berikut merupakan penyebab produk reject yang
bersumber dari faktor metode.
Pengisian tidak sesuai
Proses pengisian produk harus dilakukan dengan benar. Hal ini akan berpengaruh
terhadap hasil akhir agar sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Misalnya saat
pengisian produk jangan sampai yang ouger gravitasi dimana udara yang masuk ke dalam
produk lebih banyak sehingga hal tersebut akan menyebabkan kerusakan pada produk.
Handling tidak sesuai
Penanganan bahan yang tidak sesuai akan menyebabkan umur simpan produk
menjadi lebih pendek. Oleh karena itu perlu dilakukan handling yang sesuai agar kerusakan
produk dapat diminimalkan. Misalnya penyimpanan produk jadi harus disusun diatas palet
yang sudah dibersihkan terlebih dahulu. Kemudian sebelum palet berisi produk jadi masuk
gudang penyimpanan terlebih dahulu harus ditutup dengan plastik wrap untuk menjaga
kebersihan produk dan palet.

d. Material
Faktor utama dalam proses produksi adalah bahan baku yang digunakan. Bahan
baku yang baik akan menghasilkan produk jadi yang baik. Penanganan khusus terhadap
bahan baku perlu dilakukan dan disesuaikan dengan karakteristiknya. Penanganan bahan
baku yang kurang sesuai akan mempengaruhi kualitas bahan baku dan memungkinkan
dapat berpenaruh terhadap produk jadi. Berikut merupakan penyebab produk reject yang
bersumber dari faktor material.
Mutu tidak sesuai

Komposisi tidak sesuai

e. Environment
Sirkulasi udara bermasalah
Suhu tidak sesuai

5.5.4 Histogram

5.5.5 Diagram Pencar (Scatter Diagram)

5.5.6 Lembar Pemeriksaan (Check Sheet)


Check sheet adalah alat yang sering digunakan untuk menghitung seberapa sering
sesuatu itu terjadi dan sering digunakan dalam pengumpulan dan pencatatan data. Data
yang sudah terkumpul tersebut kemudian dimasukkan ke dalam grafik seperti pareto
diagram atau pun histogram untuk kemudian dilakukan analisis terhadapnya (Amrina dan
Nofriani, 2015).

5.5.7 Flowchart
Flowchart meruapakan langkah-langkah penyelesaian masalah yang dituliskan
dalam simbol-simbol tertentu. Flowchart menggambarkan urutan logika dari suatu prosedur
pemecahan masalah. Tujuan flowchart adalah untuk menggambarkan suatu tahapan
penyelesaian masalah secara sederhana, terurai, rapi dan jelas menggunakan simbol-
simbol yang standar (Sitorus, 2015).

5.6 Perbaikan Kualitas

Siklus PDCA (Plan, Do, Check dan Action) merupakan salah satu langkah dalam
pengendalian mutu yang dapat diterapkan untuk perbaikan kualitas suatu produk. Metode ini
dilakukan melalui langkah pengendalian mutu yaitu diawali dengan memahami kebutuhan
peningkatan kualitas, menyatakan masalah kualitas yang ada, mengevaluasi penyebab
utama, dan merencanakan solusi terhadap masalah yang ada. Langkah-langkah tersebut
merupakan satu rangkaian Plan. Tahap selanjutnya Do, yaitu dengan melakukan perbaikan
terhadap masalah yang terjadi. Kemudian tahap Check, yaitu dengan melakukan penelitian
dan evaluasi terhadap hasil perbaikan yang dilakukan serta menstandarisasikan solusi
terhadap masalah yang terjadi. Tahap terakhir Action, yaitu dengan melakukan pemecahan
masalah yang terjadi dan masalah selanjutnya yang mungkin akan terjadi. Berikut
merupakan uraian dari metode PDCA.

A. Plan

Permasalahan kualitas yang terjadi di PT Lautan Natural Krimerindo adalah


kerusakan produk yang disebabkan oleh penyimpanan dan distribusi produk yang tidak
sesuai. Hal tersebut dapat menyebabkan reject terhadap produk krimer yang gagal di jual ke
konsumen. Perusahaan akan mengalami kerugian apabila permasalahan tersebut terus
menerus terjadi karena biaya yang dikeluarkan untuk proses produksi besar. Oleh karena itu
perlu dilakukan tindakan pengendalian mutu untuk meminimalkan kerusakan produk. Tahap
identifikasi terhadap suatu masalah yang terjadi dilakukan setiap sehari sekali. Terdapat 5
faktor yang mempengaruhi kerusakan produk yaitu man, machine, method, material, dan
environment.

Berikut solusi yang direncanakan untuk mengatasi permasalahan kualitas produk.

1. Memperbaiki kondisi lingkungan dari tempat penyimpanan seperti sirkulasi udara


,kebersihan tempat penyimpanan, dan pallet yang digunakan.

2. Pelatihan terbaru terkait keterampilan dan SOP untuk karyawan agar dapat bekerja
sesuai dengan sistem yang berlaku di perusahaan.

3. Melakukan evaluasi material terutama bahan kemas, untuk mengantisipasi terjadinya


kerusakan produk akibat bahan kemas tidak sesuai. Pemilihan supplier juga harus
diperhatikan, sebelum pengiriman dimintai informasi secara lengkap, adanya kesepakatan
dan bukti berupa CoA.

4.Melakukan perbaikan pada proses pengisian harus dilakukan dengan benar. Pemilihan
teknik yang sesuai dapat meminimalkan kerusakan produk.

5. Melakukan perbaikan pada proses handling (penanganan bahan). Penataan produk di


pallet dan penyimpanan merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan dalam proses
handling. Penataan di pallet kemasan 500 kg hanya berisi satu/tidak ada tumpukan,
kemasan 25 kg berisi 4 paper bag dengan 6 tumpukan, lalu ditutup dengan plastik wrap.
Penyimpanan harus mengikuti suhu ruang pada umumnya, dan pest control rutin dilakukan.

B. Do

Tahap Do dilakukan dengan melaksanakan perbaikan kualitas sesuai dengan yang


tercantum pada rencana kualitas (quality plan). Adanya pencatatan terhadap setiap kegiatan
merupakan salah satu upaya dalam pelaksanaan perbaikan. Mulai dari atasan hingga
karyawan yang berhubungan langsung dengan bidang masing-masing harus melaksanakan
perbaikan kualitas tersebut. Bukti berupa laporan dan dokumentasi diperlukan pada setiap
perbaikan yang telah dilakukan sehingga dapat diketahui perubahan yang terjadi setelah
perbaikan. Rencana perbaikan yang telah disusun harus dilaksanakan sesuai dengan
prosedur, akan tetapi tetap diperlukan evaluasi untuk meningkatkan komitmen agar
perbaikan dapat dilakukan secar konsisten. Perbaikan harus dilakukan secara bertahap dan
rutin dilakukan hingga dirasakan dampak perbaikan yang signifikan.

C. Check

Pelaksanaan perbaikan harus diimbangi dengan pemeriksaan. Pemeriksaan


dilakukan secara rutin untuk menjaga konsistensi perbaikan. Beberapa pemeriksaan yang
perlu dilakukan yaitu pada sistem tata udara dan suhu, penanganan bahan (handling),
bahan kemas (material packaging), proses pengisian produk yang benar dan evaluasi
karyawan (refresh training). Semua pemeriksaan tersebut perlu dilakukan untuk memastikan
agar pelaksanaan perbaikan telah berjalan dengan baik. Kemudian setiap hasil pemeriksaan
yang telah dilakukan harus dicatat dan dituliskan dalam sebuah laporan. Sehingga apabila
diperlukan guna kebutuhan evaluasi untuk peninjauan lebih lanjut maupun peningkatan
terhadap sistem akan mudah dilakukan dikarenakan data yang diperlukan sudah tersedia.

D. Action

Action merupakan tahap akhir dari siklus PDCA. Produktivitas perusahaan


meningkat menunjukkan bahwa pelaksanaan perbaikan yang dilakukan memberikan
dampak positif terhadap kualitas disertai dengan pelaksanaan tahap-tahap yang lainnya
yang telah dilaksanakan dengan baik. SOP adalah suatu metode yang dapat digunakan
untuk mencantumkan hasil yang baik dan tepat, sehingga prosedur kerja lebih update setiap
ada perubahan dan dapat terlaksana secara berkelanjutan. Setiap permasalahan harus
teratasi dengan sistem pemecahan masalah yang tepat maka selanjutnya dapat dicari
pemecahan masalah untuk masalah yang lainnya. Hal tersebut perlu dilakukan agar kualitas
produk terus meningkat sehingga keuntungan perusahaan meningkat dan perusahaan
dapat melakukan pengembangan dari produk yang sudah ada.

5.7 SOP (Standar Operating Procedur)

SOP merupakan suatu dokumen yang berisi standar prosedur yang secara
kronologis menunjukkan bagaimana cara menyelesaikan suatu pekerjaan dengan tujuan
agar hasil kerja yang diperoleh lebih efektif dan efisien. Mulai dari atasan hingga karyawan
harus mematuhi dan melaksanakannya dengan baik. Setiap departemen diperusahaan ini
memiliki SOP masing-masing. Berikut merupakan standar SOP produk jadi dan SOP
pemeriksaan produk jadi.

5.7.1 SOP Produk Jadi

1. Foreman QCT melakukan input data hasil analisa pengecekan produk jadi.

2. Foreman QCT mengeluarkan status Block Stock yang diketahui oleh Mgr QCT dan
setiap hasil trial RnD akan diberi status Block Trial RnD.

3. Admin QCT melakukan usage decision blocked untuk produk dengan status TP 01.

4. Admin QCT pada saat itu juga melakukan transfer posting dari block ke UU. Produk
dengan status Block Stock non TP01 akan diteruskan proses selanjutnya ke proses L
(block stock non TP01).

5. Foreman QCT menempelkan form status block warna merah pada fisik untuk menandai
bahwa produk tersebut termasuk dalam Block Stock non TP01.

6. Yang lalu diikuti dengan memberikan status block yang dilakukan admin QCT by SAP.

7. Berdasarkan tim managemen atau PPC melakukan evaluasi, merekomendasikan status


produk dan menginfokan proses tindak lanjut produk yang termasuk dalam block stock non
TP01. Pilihan yang pertama yaitu dijual kepada customer.

8. Tim managemen atau PPC akan mengisi ttd form berita acara release produk sebagai
tanda persetujuan untuk me-release produk Block Stock non TP01 untuk dijual ke
customer.
9. Setelah ttd lengkap, QCT foreman akan mentransfer posting dari block ke UU by SAP dan
melepas form status barang dari fisik. Release produk disertai dengan pembuatan COA
untuk dijual ke customer. Produk Block Stock non TP01 yang tidak bisa dijual akan melalui
proses selanjutnya.

10. Tim managemen/RnD menginformasikan bahwa produk akan released untuk reproses
melalui email yang akan di tindak lanjuti oleh PPC.

11. PPC menginformasikan mengenai detail produk akan direproses melalui email yang
akan diproses lebih lanjut oleh tim logistik.

12. Tim logistik akan memintakan transfer posting dari block ke UU dengan mengirimkan
form transfer posting lewat email.

13. QCT foreman akan mengkroscek kesesuaian antara permintaan dari tim logistik
dibandingkan dengan data yang diinfokan oleh PPC.

14. QCT foreman akan mentransfer posting dari block ke UU by SAP.

15. Produksi yang selanjutnya akan mereproses sesuai rekomendasi dari tim
managemen/RnD/PPC setelah dikirim barang oleh tim logistik. Produk Block Stock non
TP01 yang tidak bisa dijual dan direproses akan melalui proses selanjutnya.

16. Supervisor PPC/tim logistik akan menginformasikan produk-produk yang termasuk


dalam feed grade melalui email. Feed Grade produk Block Stock non TP01 yang tidak
dapat dijual atau direproses, maka feed grade jalan terakhir yaitu dimusnahkan.

17. Tim logistik akan mengirimkan form permintaan transfer posting dikirim by email.

18. QCT Foreman akan mentransfer posting dari block ke UU by SAP. Produk akan
dipindahkan ke WG01 oleh tim logistik setelah produk sudah di transfer posting terlebih
dahulu.

5.7.2 SOP Pemeriksaan Produk Jadi

1. Tim PPC akan menginformasikan barang yang akan quick delivery melalui email dan
meminta form UD Kimia Fisika.

2. QCT menerima permintaan analisa produk jadi dan atau menerima informasi bahwa
proses produksi berjalan tidak normal dari departemen produksi. Permintaan anaiisa dibuat
rangkap 2 (QCT & PRD). Spv/Foreman QCT melakukan analisa, apakah perlu melakukan
sampling normal atau diperketat.

3. Operator QCT melakukan sampling dan melakukan analisa produk jadi.

4. Foreman/Supervisor QCT memeriksa hasil analisis.

5. Staff QCT melakukan result recording pada sistem SAP.

6. Staff QCT melakukan usage decision. Hasil analisis yang sesuai standar di masukkan
pada status Unrestricted Use, produk tidak perlu ditempel label status barang pada
paletnya. Hasil analisis yang tidak sesuai standar di masukkan pada status Block. Blocking
produk tidak sesuai standar yang dilakukan dengan sistem WMS tanpa perlu dilakukan
penempelan form status barang pada palet. Untuk barang yang tidak masuk sistem WMS
harus ditempel label status barang block pada paletnya.

7. QCT memberikan informasi status barang kepada departemen terkait.

8. QAS akan membuat statement letter untuk direktur, jika terdapat produk yang belum
tervalidasi secara mikrobiologi harus direlease sebelum hasil analisa mikrobiologi keluar.

9. Foreman/Staff QCT membuat dan memberikannya kepada departemen terkait.

BAB VI

PENUTUP

6.1 Kesimpulan

Krimer non-dairy adalah produk krimer nabati yang dihasilkan dari sirup glukosa,
sodium caseinate, HCNO (Hydrolized Coconut Oil) dan HPKO (Hydrolized Palm Kernel Oil)
yang telah mengalami proses pengeringan (spray drying). PT Lautan Natural Krimerindo
merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan krimer, khususnya krimer
nabati dengan berbagai macam bentuk kemasan dan tipe produk. PT Lautan Natural
Krimerindo berlokasi di Jalan Raya Mojosari, Pacet Km. 4, Desa Pesanggrahan, Kecamatan
Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. PT Lautan Natural Krimerindo menggunakan
struktur organisasi . Perusahaan ini didukung oleh tenaga kerja sejumlah 330 orang. PT
Lautan Natural Krimerindo menerapkan jenis layout yaitu Product Layout. Sistem produksi di
PT Lautan Natural Krimerindo kontinyu semi batch karena setiap berapa hari sekali
dilakukan CIP dan COP. Pada proses produksi menggunakan mesin semi otomatis.

Pengendalian mutu produk akhir adalah kegiatan yang dilakukan agar produk yang
dihasilkan sesuai dengan spesifikasi mutu yang direncanakan. Pengendalian mutu produk
akhir di PT Lautan Natural Krimerindo meliputi pengamatan fisik, kimia dan mikrobiologi.

6.2 Saran

Secara keseluruhan, pelaksanaan proses produksi maupun penerapan pengendalian


mutu di PT Lautan Natural Krimerindo sudah berjalan dengan baik. Pada pengendalian mutu
sebaiknya dilakukan analisis lebih mendalam mengenai penyebab ketidaksesuaian pada
standar yang telah ditetapkan. Sehingga perusahaan dapat melakukan perbaikan kualitas
dengan memfokuskan perbaikan terhadap jenis kerusakan atau penyimpangan yang
terdapat pada produk dengan jumlah besar atau paling dominan didalam proses produksi
krimer non-dairy.
DAFTAR PUSTAKA

Amrina, E dan Nofriani, F. 2015. Analisis Ketidaksesuaian Produk Air Minum dalam
Kemasan Di PT Amanah Insanillahia. Jurnal Optimasi Sistem Industri. 14 (1): 85-101.
Aqimuddin, E, A dan Marye, A, K. 2010. Tip Hukum Praktis : Masalah Seputar Bisnis.
Jakarta: Raih Asa Sukses.
Arif, M. 2016. Bahan Ajar Rancangan Teknik Industri. Yogyakarta: Deepublish.
Elisa, N. 2011. Analisa Kadar Air. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Handes, D., Kishi, S., Lusia, N., Andre, M, R, W. 2013. Statistical Quality Control (SQC)
Pada Proses Produksi Produk E Di Pt Dyn, Tbk. Jurnal INASEA. 14(2): 177-186.
Ilmiawan, N., Sussi, A., dan Otik, N. 2014. Penggabungan Penerapan Sistem Jaminan
Mutu ISO 9001:2008 dan Sistem HACCP ke dalam Sistem Manajemen Keamanan
Pangan ISO 22000:2009 (Studi Kasus di PT Indokom Samudra Persada). Jurnal
Teknologi dan Industri Hasil Pertanian. 19(3): 229-242.
Irianto, K. 2007. Mikrobiologi Menguak Dunia Mikroorganisme Jilid 1. Bandung: CV.
Yarma Widya.
Madjid. 2010. Sifat dan Ciri Tanah. Bogor: Fakultas Pertanian IPB.
Oktavia, M, D., Auzal, H dan Rika, I. 2012. Pengaruh Besar Ukuran Partikel Terhadap
Sifat-Sifat Tablet Metronidazol. Jurnal Farmasi Higea. 4 (2): 74-92.
Sandjaja dan Atmarita, 2009. Kamus Gizi. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.
Simanjuntak, M, R, A dan Skarlet, S, S. 2014. Analisis Sistem Manajemen Mutu dan
Pengaruhnya Dalam Meningkatkan Kinerja Operasional Bangunan Gedung Tinggi
Perkantoran Di Jakarta Pusat. Jurnal Ilmiah Media Engineering. 4 (2): 92-102.
Sitorus, L. 2015. Algoritma dan Pemrograman. Yogyakarta. CV. ANDI OFFSET.
Supriatno dan Lelifajri. 2009. Analisis Logam Berat Pb dan Cd dalam Sampel Ikan dan
Kerang secara Spektrofotometri Serapan Atom. Jurnal Rekayasa Kimia dan Lingkungan.
7(1): 5-8.
Widodo., Didik, S dan Retno, A, L. 2010. Kimia Analisis Kuantitatif Dasar Penguasaan
Aspek Eksperimental. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Wisnubroto, P dan Arya, R. 2015. Pengendalian Kualitas Produk dengan Pendekatan
Six Sigma dan Analisis Kaizen serta New Seven Tools Sebagai Usaha Pengurangan
Kecacatan Produk. Jurnal Teknologi. 8 (1): 65-74.

Anda mungkin juga menyukai