Anda di halaman 1dari 23

1

A. JUDUL PENELITIAN

HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU KONSUMSI


TABLET ZAT BESI (FE) TERHADAP KEJADIAN ANEMIA PADA IBU
HAMIL DI DESA CILANGKAP KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN
2015

B. BIDANG ILMU

HEMATOLOGI

BAB I PENDAHULUAN

Masalah-masalah kesehatan yang dihadapi bangsa Indonesia sekarang ini adalah

masih tingginya angka kematian ibu dan bayi, penyakit infeksi, penyakit degeneratif

dan masalah gizi. Masalah gizi dan pangan merupakan masalah yang mendasar

karena secara langsung menentukan kualitas sumber daya manusia serta dapat

meningkatkan derajat kesehatan. Empat masalah gizi utama di Indonesia yang belum

teratasi, salah satunya adalah anemia. Anemia masih merupakan masalah pada

wanita sebagai akibat kekurangan zat besi dan asam folat dalam tubuh serta faktor

lain seperti infeksi, cacingan dan penyakit kronis. Dari semua golongan umur, remaja

putri mempunyai resiko paling tinggi menderita anemia karena terjadi peningkatan

kebutuhan serta adanya menstruasi. Selain pada remaja putri kelompok yang rawan

kekurangan zat besi adalah ibu hamil.

Anemia sangat berbahaya bagi yang sedang hamil. Penyakit anemia sering

menyerang pada masa kehamilan. Sebab pada saat hamil, kebutuhan ibu terhadap

unsur-unsur makanan semakin banyak seperti zat besi, asam folat dan protein. Jika

kebutuhan ini tidak tercukupi, ibu akan mengalami anemia. Anemia yang lazim

dialami ibu hamil adalah anemia kekurangan zat besi. Hal ini disebabkan jika ibu

kekurangan protein menyebabkan berkurangnya pembentukan haemoglobin dan


2

pembentukan sel darah merah sehingga unsur zat besi dalam darah berkurang

(Kurnia, 2009).

Dampak anemia pada kehamilan bervariasi dari keluhan yang sangat ringan

hingga terjadi gangguan pada kehamilan (abortus, partus immature atau prematur),

gangguan proses persalinan (inertia, atonia, partus lama, perdarahan gangguan masa

nifas (sub involusi rahim, infeksi dan stress, kurang produksi asi), dan gangguan

pada janin (abortus, dismatur, mikrosomi, BBLR, kematian perinatal, dll). (Rukiyah,

2009)

Menurut WHO bahwa prevalensi ibu-ibu hamil yang mengalami kekurangan

Fe sekitar 35-75%, serta semakin meningkat seiring dengan pertambahan usia

kehamilan. Di Indonesia prevalensi anemia pada kehamilan masih tinggi yaitu sekitar

40,1% (SKRT 2003). Cakupan pemberian tablet Fe di Indonesia sebesar 69,14%.

Salah satu dari beberapa faktor tidak langsung penyebab kematian itu adalah

kekurangan Fe, persalinan risiko kematian maternal, prematuritas, BBLR, dan post

partum lebih sering di jumpai pada wanita yang kekurangan Fe. Kebutuhan zat besi

pada ibu hamil berbeda pada setiap umur kehamilannya, pada trimester I naik dari

0,8 mg/hari, menjadi 6,3 mg/hari pada trimester III. Kebutuhan akan zat besi sangat

meningkat kenaikannya. Dengan demikian kebutuhan zat besi pada trimester II dan

III tidak dapat dipenuhi dari makanan saja, walaupun makanan yang dimakan cukup

baik kualitasnya dan bioavailabilitas zat besi tinggi, namun zat besi juga harus

disuplai dari sumber lain agar dapat cukup memenuhi kebutuhan tubuhnya.

Jika persediaan Fe minimal, maka setiap hemodilusi atau pengenceran

dengan peningkatan volume 30-40% yang puncaknya pada kehamilan 32 sampai 34

minggu. Jumlah peningkatan sel darah 18-30% dan hemoglobin sekitar 19%, bila

hemoglobin ibu sebelum sekitar 11% maka fisiologis dan Hb ibu akan menjadi 9,5
3

sampai 10%. Akan tetapi dalam kenyataan tidak semua ibu hamil yang mendapatkan

tablet Fe secara rutin, hal ini biasanya disebabkan karena faktor ketidaktahuan

pentingnya tablet Fe untuk kehamilannya. Kurangnya pengetahuan ibu hamil tentang

tablet Fe juga mengakibatkan ibu tidak mengkonsumsi Fe secara rutin. Dampak yang

diakibatkan minum tablet Fe secara tidak teratur penyerapan atau respon tubuh

terhadap tablet zat besi kurang baik sehingga tidak terjadi peningkatan kadar

hemoglobin sesuai dengan yang diharapkan.

Faktor lain yang menyebabkan berkurangan zat besi dalam darah ibu hamil

karena tidak mengkomsumsi cukup makanan yang mengandung zat besi. Misalnya

karena ibu mengalami emesis. sehingga sulit makan secara normal. Selain itu, sedikit

mengkomsumsi makanan mengandung vitamin C kehamilan yang terlalu dekat,

sosial ekonomi yang rendah, perdarahan yang berulang-ulang. Faktor yang

berhubungan dengan anemia adalah adanya infeksi penyakit bakteri, parasit, usus

seperti cacing tambang, malaria. Faktor sosial ekonomi yang rendah juga memiliki

peranan penting kaitannya dengan asupan gizi ibu selama hamil ( Lamadhah, 2008 ).

Untuk memenuhi kebutuhan akan zat besi selama hamil, ibu harus

mengkonsumsi tablet Fe sekitar 45-50 mg sehari. Kebutuhan ini dapat terpenuhi dari

makanan yang kaya akan zat besi, seperti daging berwarna merah, hati, kuning telur,

sayuran berdaun hijau, kacang-kacangan, tempe, roti, dan sereal. Ibu hamil yang

menunjukkan gejala anemia biasanya akan diberikan suplemen zat besi berupa tablet

Fe, biasanya dikonsumsi satu kali dalam sehari.

BAB II RUMUSAN MASALAH

aaaaaaaBerdasarkan uraian latar belakang di atas maka masalah dalam penelitian

ini dapat dirumuskan sebagai berikut : bagaimana hubungan pengetahuan ,


4

sikap dan perilaku konsumsi tablet zat besi (Fe) terhadap kejadian anemia pada

ibu hamil di Desa Cilangkap Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2015 ?.

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

A. Obat Penambah Darah atau Tablet Fe

1. Pengertian Obat Penambah Darah atau Tablet Fe

Zat besi (Fe) merupakan mikro elemen yang esensial bagi tubuh,

zat ini dibutuhkan terutama bagi pembentukan darah,yaitu dalam syntesa

hemoglobin. Zat besi (Fe) yang terdapat dalam semua sel tubuh

mempunyai peran penting, diantaranya dalam pembentukan sel darah

merah. Sel ini diperlukan untuk mengangkat oksigen keseluruh jaringan

tubuh (Achmat,1996).

Seorang ibu dalam masa hamilnya telah mengalami kekurangan

zat besi, sehingga tidak bisa memberikan cadangan zat besi kepada

bayinya dalam jumlah yang cukup pada beberapa bulan pertama. Pada

beberapa orang, pemberian zat besi dapat menimbulkan gejala-gejala

seperti mual,nyeri didaerah lambung, kadang-kadang terjadi diare,

sulit buang air besar (Depkes RI, 1999). Selain itu setelah

mengkonsumsi tablet Fe feaces akan menjadi hitam, namun hal ini tidak

membahayakan

2. Fungsi Fe / Zat Besi

Zat besi adalah mineral yang dibutuhkan untuk membentuk sel

darah merah (hemoglobin). Selain itu, mineral ini juga berperan sebagai

komponen untuk membentuk mioglobin (protein yang membawa oksigen

ke otot), kolagen (protein yang terdapat di tulang, tulang rawan, dan


5

jaringan penyambung), serta enzim. Zat besi juga berfungsi dalam sistim

pertahanan tubuh.

3. Kebutuhan Fe / Zat Besi Pada Masa Kehamilan

Kebutuhan zat besi pada wanita hamil yaitu rata-rata mendekati

800 mg. Kebutuhan ini terdiri dari, sekitar 300 mg diperlukan untuk janin

dan plasenta serta 500 mg lagi digunakan untuk meningkatkan massa

haemoglobin maternal. Kurang lebih 200 mg lebih akan dieksresikan

lewat usus, urin dan kulit. Makanan ibu hamil setiap 100 kalori akan

menghasilkan sekitar 810 mg zat besi. Perhitungan makan 3 kali dengan

2500 kalori akan menghasilkan sekitar 2025 mg zat besi perhari. Selama

kehamilan dengan perhitungan 288 hari, ibu hamil akan menghasilkan

zat besi sebanyak 100 mg sehingga kebutuhan zat besi masih kekurangan

untuk wanita hamil (Manuaba, 1989).

Sumber lain mengatakan, kebutuhan ibu hamil akan Fe meningkat

(untuk pembentukan plasenta dan sel darah merah) sebesar 200-300%.

Perkiraan besaran zat besi yang perlu ditimbun selama hamil ialah 1040

mg. Dari jumlah ini, 200 mg Fe tertahan oleh tubuh ketika melahirkan

dan 840 mg sisanya hilang. Sebanyak 300 mg Fe ditransfer ke janin,

dengan 50-75 mg untuk pembentukan plasenta, 450 mg untuk menambah

jumlah darah merah, dan 200 mg lenyap ketika melahirkan.

Besarnya angka kejadian anemia ibu hamil pada trimester I

kehamilan adalah 20%, trimester II sebesar 70%, dan trimester III sebesar

70%. Hal ini disebabkan karena pada trimester pertama kehamilan, zat besi

yang dibutuhkan sedikit karena tidak terjadi menstruasi dan pertumbuhan


6

janin masih lambat. Menginjak trimester kedua hingga ketiga, volume

darah dalam tubuh wanita akan meningkat sampai 35%, ini ekuivalen

dengan 450 mg zat besi untuk memproduksi sel-sel darah merah. Sel darah

merah harus mengangkut oksigen lebih banyak untuk janin. Sedangkan

saat melahirkan, perlu tambahan besi 300 350 mg akibat kehilangan

darah. Sampai saat melahirkan, wanita hamil butuh zat besi sekitar 40 mg

per hari atau dua kali lipat kebutuhan kondisi tidak hamil.

Penyerapan besi dipengaruhi oleh banyak faktor. Protein hewani

dan vitamin C meningkatkan penyerapan. Kopi, teh, garam kalsium,

magnesium dan fitat dapat mengikat Fe sehingga mengurangi jumlah

serapan. Karena itu sebaiknya tablet Fe ditelan bersamaan dengan

makanan yang dapat memperbanyak jumlah serapan, sementara makanan

yang mengikat Fe sebaiknya dihindarkan, atau tidak dimakan dalam waktu

bersamaan. Disamping itu, penting pula diingat, tambahan besi sebaiknya

diperoleh dari makanan, karena tablet Fe terbukti dapat menurunkan kadar

seng dalam serum(Engram, 1998)

4. Manfaat Fe / Zat Besi Untuk Ibu Hamil

Tablet Fe penting bagi kesehatan ibu hamil, diantaranya yaitu :

a. Mencegah terjadinya anemia defisiensi besi

b. Mencegah terjadinya perdarahan pada saat persalinan

c. Dapat meningkatkan asupan nutrisi bagi ibu hamil

5. Akibat Kekurangan Zat Besi Pada Masa Kehamilan

Kurangnya zat besi dan asam folat akan menyebabkan anemia,

Proses kekurangan zat besi sampai menajadi anemia melalui beberapa

tahap. Awalnya terjadi penurunan simpanan zat besi, bila tidak dipenuhi
7

masukan zat besi lama kelamaan timbul gejala anemia serta penurunan

kadar hemoglobin. Kadar normal hemoglobin dalam darah yaitu pada

anak balita 11 gr%, anak usia sekolah 12 gr%, wanita dewasa 12 gr%,

ibu hamil 11 gr%, laki-laki 13 gr%, ibu menyusui 12 gr%, (Departemen

Kesehatan RI, 1992).

Ciri-ciri anemia tidak khas dan sulit ditemukan tetapi dapat

terlihat dari kulit dan konjogtiva yang pucat, tubuh yang lemah, nafas

pendek dan nafsu makan hilang, Penentuan anemia klinis dipengaruhi

oleh banyak variabel seperti ketebalan kulit dan pigmentasi tidak dapat

diandalkan kecuali pada anemia berat. Oleh karena itu, pemeriksaan

labaratorium sebaiknya untuk mendiagnosis dan menentukan beratnya

anemia (Mufdlilah, 2009).

6. Pemberian Tablet Fe Untuk Mencegah Anemia Dalam Kehamilan

Memberikan preparat besi yaitu fero sulfat, fero

glukonat atauNa-fero bisirat. Pemberian preparat 60 mg/hari dapat

menaikan kadar Hb sebanyak 1 gr%/ bulan. Saat ini program nasional

menganjurkan kombinasi 60 mg besi dan 50 nanogram asam folat untuk

profilaksis anemia (Saifuddin, 2002).

B. Anemia Pada Ibu Hamil

1. Gejala Ibu Hamil Pada Saat Kehamilan

Gejala anemia pada ibu hamil salah satunya sering mengalami

sakit kepala selama kehamilan. Anemia merupakan istilah untuk

menggambarkan jika seseorang kekurangan sel darah merah. Warna merah


8

ini terbentuk dari hemoglobin yang berasal dari zat besi. Warna darah akan

semakin merah jika kandungan oksigen dalam darah semakin banyak.

Dengan kata lain, jika sel darah merah kurang berarti oksigen di

dalam tubuh juga kurang. Termasuk pasokan oksigen ke otak. Itulah

kenapa ibu hamil menderita sakit kepala.

2. Bahaya Kekurangan Sel Darah Merah (Anemia) pada Ibu Hamil

Selama kehamilan, ibu hamil sangat membutuhkan banyak sel darah

merah. Tubuhnya harus memproduk 50 % lebih banyak sel darah. Sel

darah merah ini diproduksi di sumsum tulang belakang. Di saat inilah ibu

hamil sangat membutuhkan zat besi sebagai pembentuk sel darah darah

merah (hemoglobin).

Hemoglobin bertugas untuk mengikat oksigen. Jika kekurangan

hemoglobin, maka berkurang juga asupan oksigen untuk seluruh tubuh.

Termasuk jantung, otak, dan syaraf ibu hamil dan si janin yang

dikandungnya.

Selain oksigen, darah juga mengangkut berbagai jenis nutrisi dari

makanan yang dimakan ibu hamil. Jika darah menurun kualitasnya maka

distribusi air dan nutrisi pasti akan sangat terganggu. Maka proses

pembentukan dan pertumbuhan janin pasti terganggu bahkan terancam

gagal.

3. Solusi Pengobatan Anemia dengan Obat Penambah Darah

Salah satu efek samping dalam mengkonsumsi zat besi adalah

timbulnya sembelit, sebaiknya makan buah-buahan atau makanan yang

mengandung serat, serta minum sedikitnya delapan gelas cairan dalam

sehari. Saat meminum suplemen zat besi, kadang timbul mual, nyeri
9

lambung, kontipasi, maupun diare sebagai efek sampingnya. Keluhan-

keluhan tersebut biasanya ringan, untuk mengatasinya, mulailah dengan

setengah dosis yang dianjurkan. Dalam mengkonsumsi zat besi sebaiknya

pada malam hari sebelum tidur, biasakan pula menambahkan subtansi

yang memudahkan penyerapan zat besi seperti vitamin C, air jeruk, daging

ayam dan ikan. Sebaliknya substansi penghambat penyerapan zat besi

seperti teh dan kopi patut di hindari.

Untuk mengobati anemia menggunakan obat penambah darah bisa

dilakukan. Tapi menggunakan suplemen penambah darah jauh lebih tepat.

Salah satunya menggunakan Spirulina, sebab mengandung zat besi 25 kali

lebih banyak dari bayam. Selain itu Spirulina juga dilengkapi vitamin

B.12, dengan kandungan 5 kali lebih banyak vitamin B 12 hati sapi.

Terbuat dari tumbuhan alga / ganggang biru yang sudah diakui sebagai

makanan terbaik abad ini.

C. HEMOGLOBIN

1. Pengertian Hemoglobin

Hemoglobin adalah molekul protein pada sel darah merah yang

berfungsi sebagai media transport oksigen dari paru-paru keseluruh

jaringan tubuh dan membawa karbondioksida dari jaringan tubuh ke

paru-paru. Kandungan zat besi yang terdapat dalam hemoglobin

membuat darah berwarna merah.

Saat ini pengukuran kadar hemoglobin dalam darah sudah

menggunakan mesin otomatis selain mengukur hemoglobin mesin

pengukur akan memecah hemoglobin menjadi sebuah larutan.


10

Hemoglobin dalam larutan ini kemudian dipisahkan zat lain dengan

menggunakan zat kimia bernama nilai sinar yang berhasil diserap oleh

hemoglobin.

Hemoglobin adalah metaloprotein pengangkut oksigen yang

mengandung besi dalam sel darah merah mamalia dan hewan lainnya.

Molekul hemoglobin terdiri dari globin, apoprotein dan empat gugus

heme, suatu molekul organik dengan satu atom besi.

2. Fungsi Hemoglobin

Fungsi hemoglobin dalam darah adalahmengatur pertukaran

oksigen dengan karbondioksida di dalam jaringan tubuh.Mengambil

oksigen dari paru-paru kemudian dibawa keseluruh jaringan tubuh untuk

dipakai sebagai bahan baku.Membawa karbondioksida dari jaringan

tubuh sebagai hasil metabolisme ke paru-paru untuk dibuang.

Untuk mengetahui apakah seseorang kekurangan darah atau tidak

dapat diketahui dengan pengukuran kadar hemoglobin. Penurunan kadar

hemoglobin dari normal berarti kekurangan darah. Kekurangan darah

berarti anemia. Selain kekurangan hemoglobin juga disertai dengan

eritrosit yang berkurang serta nilai hematokrit dibawah normal(Kresno,

1988).

3. Jenis-jenis Hemoglobin

Pada manusia telah dikenal kurang dari 14 macam hemoglobin

yang dipelajari secara mendalam dengan bantuan elektrokoresis. Hb

diberi nama dengan simbol alfabeta misalnya ; Hb A, Hb C, Hb D, Hb E,

Hb F, Hb G, Hb I, Hb M, Hb S dan sebagainya(Joice, 2008)


11

Kadang-kadang Hb diberi nama menurut kota tempat ditemukan

jenis Hb atau orang yang menemukannya, misalnya ; Hb New York, Hb

Sydney, Hb Bart, Hb Gower dan lain-lain. Hb A (Adult Dewasa) mulai

diproduksi pada usia 5 - 6 bulan kehidupan intrauterine janin, pada usia 6

bulan postnatal kosentrasi Hb A 99%. Hb A terdiri dari 2 rantai dan 2

rantai . Hb F (Foetus janin) mulai ditemukan dalam darah pada minggu

ke dua puluh usia kehamilan. Pada bayi Hb F dan sebelum usia 2 tahun

jumlah tinggal sedikit, diganti oleh Hb A. Karena sifatnya yang resisten

terhadap alkali, Hb F ini mudah dipisahkan dari Hb A. Hb F terdiri dari 2

rantai dan 2 rantai T.

4. Sintesis Hemoglobin

Fungsi utama sel darah merah adalah mengangkut O2 ke jaringan

dan mengembalikan CO2 dari jaringan ke paru-paru. Untuk mencapai

pertukaran gas ini, sel darah merah mengandung protein khusus, yaitu

hemoglobin dan setiap hemoglobin dewasa normal (Hb A) terdiri atas

empat rantai polipeptida 2 2, masing-masing dengan gugus haemnya

sendiri. Berat molekul Hb A adalah 68.000 darah dewasa normal juga

berisi jumlah kecil dua hemoglobin lain, Hb F dan Hb A2 yang juga

mengandung rantai y dan rantai s masing-masing sebagai pengganti .

65% hemoglobin disintesis dalam eritroblas dan tiga puluh lima persen

hemoglobin disintesis pada stadium retikulosit. Sintesis haem, terjadi

banyak dalam mitokondria oleh sederet reaksi biokimia yang dimulai

dengan kondensasi glisin dan suksinil. Koenzim A dibawah aksi enzim

kunci data-amino laevulinic acid (Ala) sintase yang membatasi

kecepatan. Pridoksal fosfat (Vitamin B) adalah koenzim untuk reaksi ini


12

yang diransang oleh eritro protein dan dihambat oleh hacm. Akhirnya

protoporfirin bergabung dengan besi untuk membentuk hacm yang

masing-masing molekulnya bergabung dengan rantai globin yang terbuat

pada poliribosom(Hoffbrand, 2005)

5. Stuktur Hemoglobin

Pada pusat molekul terdapat cincin heterosiklik yang dikenal

dengan porifin yang menahan satu atom besi. Atom besi ini merupakan

situs/lokal ikatan oksigen. Porifin yang mengandung besi disebut heme.

Nama hemoglobin merupakan gabungan dari heme dan globin. Globin

sebagai istilah generik untuk protein globural. Ada beberapa protein

mengandung heme dan hemoglobin adalah yang paling dikenal dan paling

banyak dipelajari.

Pada manusia dewasa, hemoglobin berupa tetramer (mengandung

4 subunit protein), yang terdiri dari masing-masing dua sub unit mirip

secara struktural dan berukuran hampir sama. Tiap sub unit memiliki berat

molekul 16,000 Dalton, sehingga berat molekul total tetramernya

menjadi sekitar 64,000 Dalton. Tiap sub unit hemoglobin mengandung

satu heme, sehingga secara keseluruhan hemoglobin memilki kapasitas

empat molekul oksigen (Hariono, 2006)


13

Gambar 3.1, Struktur Hemoglobin

D. Pengetahuan
Menurut Wahyudi, pengetahuan harus dimiliki oleh setiap tenaga kerja agar

dapat melaksanakan pekerjaannya dengan baik. Pengetahuan tenaga kerja tersebut

diperoleh sewaktu pendidikan atau pada waktu setelah bekerja.

Pengetahuan merupakan hasil dari suatu usaha untuk tahu dan ini terjadi setelah

orang melakukan penginderaan melalui panca indera terutama penglihatan dan

pendengaran terhadap suatu objek tertentu. Kegiatan, aktivitas dan kepatuhan

seseorang ditentukan oleh pengetahuan. Sebelum seseorang berperilaku baru maka

harus tahu terlebih dahulu atau seseorang harus memiliki pengetahuan terlebih

dahulu. Penerimaan perilaku baru didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap

positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting), dan sebaliknya

apabila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan, kesadaran maka tidak akan

berlangsung lama.

Pengetahuan dalam dominan kognitif mempunyai enam tingkatan yaitu :

1) Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat sesuatu materi yang telah dipelajari

sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat


14

kembali sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan

yang telah diterima. Ini merupakan tingkat pengetahuan paling rendah.

2) Memahami (comprehension)

Suatu kemauan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan

dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah faham

terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan atau meringkas sesuatu,

menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya objek yang

dipelajarinya.

3) Aplikasi (aplication)

Kemampuan untuk menggunakan materi yang dipelajari pada situasi atau kondisi

sebenarnya atau menafsirkan suatu bahan sudah dipelajari kedalam situasi baru

atau situasi kongkret.

4) Analisis (analysis)

Suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau objek kedalam komponen-

komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi, dan masih ada

kaitannya satu sama lain sehingga susunannya dapat dimengerti.

5) Sintetis (synthesis)

Suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di

dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

6) Evaluasi (evaluation)

Kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi

objek. Kemampuan menggunakan pengetahuan untuk membuat penilaian

terhadap sesuatu berdasarkan kriteria tertentu yang ditentukan sendiri atau

menggunakan kriteria yang telah ada.


15

E. Sikap (attitude)

1) Pengertian Sikap

Sikap adalah cara bereaksi terhadap suatu perangsang. Sikap merupakan suatu

perbuatan atau tingkah laku sebagai reaksi (respons) terhadap suatu stimulus, yang

disertai dengan pendirian dan perasaan. Tiap orang mempunyai sikap yang berbeda-

beda terhadap suatu perangsang. Ini disebabkan oleh berbagai faktor yang ada pada

individu masing-masing seperti adanya perbedaan dalam bakat, minat, pengalaman,

pengetahuan, intensitas perasaan dan juga situasi lingkungan. Demikian pula sikap

pada diri seseorang terhadap sesuatu perangsang yang sama mungkin juga tidak

selalu sama. Bagaimana sikap kita terhadap berbagai hal di dalam hidup kita, adalah

termasuk kedalam kepribadian kita.

Di dalam kehidupan manusia, sikap selalu mengalami perubahan atau

perkembangan. Menurut Azwar menyatakan bahwa sikap merupakan suatu kesiapan

untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara tertentu. Dapat dikatakan bahwa

kesiapan yang dimaksud merupakan kecenderungan potensial untuk berekasi dengan

cara tertemu apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki

adanya respon.

2) Komponen Sikap

Menurut Notoatmodjo bahwa sikap mempunyai 3 komponen pokok, yaitu :

(1) Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek.

(2) Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek.

(3) Kecenderungan untuk bertindak.

Ketika komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total

attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, pikiran, keyakinan dan

emosi memegang peranan penting. Pengetahuan akan membawa seseorang akan


16

berfikir dan berusaha supaya diri dan keluarganya terhindar dari penyakit. Dalam

berpikir ini komponen emosi dan keyakinan ikut bekerja sehingga seseorang berniat

untuk mencegah terjadinya penyakit, misalnya dengan melakukan imunisasi,

kebersihan perseorangan dan lingkungan.

3) Tingkatan Sikap

Ada beberapa kategori atau tingkatan sikap. Kategori ini dimulai dari tingkat

dasar sampai tingkat yang komplek, yaitu :

(1) Receiving/attending (menerima), kepekaan dalam menerima rangsangan yang

datang dari luar. Dalam tingkatan ini termasuk kesadaran, keinginan untuk

menerima stimulus, kontrol dan seleksi gejala rangsangan dari luar.

(2) Responding (merespon) atau jawaban yakni reaksi yang diberikan seseorang

terhadap stimulus yang datang dari luar. Hal ini mencakup ketepatan reaksi

perasaan, kepuasaan dalam menjawab stimulus dari luar yang datang kepada

dirinya.

(3) Valuing (penilaian). Berkenaan dengan nilai dan kepercayaan terhadap gejala

atau stimulus tadi. Dalam penilaian (evaluasi) ini termasuk di dalamnya

kesediaan menerima nilai, latar belakang atau pengalaman untuk menerima nilai

dan kesepakatan terhadap nilai tersebut.

(4) Organisasi, yakni pengembangan dari nilai ke dalam suatu sistem organisasi,

termasuk hubungan nilai dengan nilai lain, pemantapan dan prioritas nilai yang

telah diikutinya, yang termasuk kedalam organisasi ialah konsep tentang nilai,

organisasi sistem nilai, dll.

(5) Karakteristik nilai atau internalisasi nilai, yakni keterpaduan semua sistem nilai

yang telah dimiliki seseorang, yang dipengaruhi pola kepribadian dan tingkah

lakunya.
17

F. Praktek atau Tindakan

Suatu sikap belum optimis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior).

Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor

pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas.

Disamping juga diperlukan faktor dukungan (support) dari pihak lain. Praktek

mempunyai beberapa tingkatan, yaitu :

1) Persepsi

Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan

diambil merupakan praktek tingkat pertama.

2) Respon terpimpin

Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan

contoh merupakan indikator praktek tingkat dua.

3) Mekanisme

Apabila seseorang dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau

sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan, maka seseorang sudah mencapai praktek

tingkat tiga.

4) Adopsi

Adalah suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. Artinya

tindakan itu sudah dimodifikasikannya tanpa mengurangi kebenaran tindakan

tersebut.

G. Faktor-faktor yang memengaruhi pengetahuan, Sikap dan Praktik

Faktor-faktor yang memengaruhi pengetahuan, sikap dan praktik, yaitu :


18

1) Faktor Internal

(1) Pendidikan

Pendidikan dapat memengaruhi seseorang termasuk juga perilaku seseorang

akan pola hidup terutama dalam memotivasi untuk sikap berperan serta dalam

pembangunan, pada umumnya makin tinggi pendidikan seseorang makin

mudah menerima informasi.

(2) Pekerjaan

Pekerjaan merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi dan

menunjang kebutuhan hidup. Tujuannya adalah mencari nafkah. Lingkungan

pekerjaan dapat menjadikan seseorang memperoleh pengalaman dan

pengetahuan baik secara langsung dan tidak langsung.

(3) Umur

Umur dapat memengaruhi seseorang, semakin cukup umur maka tingkat

kemampuan, kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam

berpikir, bekerja dan menerima informasi.

2) Faktor Eksternal

(1) Faktor Lingkungan

Lingkungan merupakan seluruh kondisi yang ada di sekitar manusia dan

pengaruhnya yang dapat memengaruhi perkembangan dan perilaku orang

atau kelompok.

(2) Sosial Budaya

Sistem sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat mempengaruhi dari

sikap dalam menerima informasi.

(3) Tingkat ekonomi berpengaruh terhadap tingkah laku seseorang. Individu

dan keluarga yang berstatus sosial ekonominya baik dimungkinkan lebih


19

memiliki pengetahuan lebih baik karena mudah mengakses berbagai

informasi dibandingkan yang berasal dari keluarga berstatus ekonomi

rendah.

BAB IV TUJUAN PENELITIAN


Untuk mengetahui hubungan pengetahuan, sikap dan perilaku konsumsi tablet zat
besi (Fe) terhadap kejadian anemia pada ibu hamil di Desa Cilangkap Kabupaten
Tasikmalaya.

BAB V METODE PENELITIAN


A. Metode Penelitian

Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan menggunakan desain


penelitian cross sectional dimana variabel bebas dan terikat diteliti secara
bersama dan sekaligus. Sampel penelitian ini ditentukan secara systematic
random sampling.
B. Hipotesis Penelitiam

Ada hubungan antara pengetahuan, sikap dan perilaku konsumsi tablet zat besi

(Fe) terhadap kejadian anemia pada ibu hamil di Desa Cilangkap Kabupaten

Tasikmalaya Tahun 2015.

C. Variabel Penelitian

Variabel independent (bebas) dalam penelitian ini adalah pengetahuan, sikap dan

perilaku konsumsi tablet zat besi (fe). Variabel dependen (terikat) adalah

kejadian anemia pada ibu hamil.


20

D. Definisi Operasional

Tabel 5.1
Definisi Operasional

Variabel Definisi Alat Ukur Kategori Skala


Operasional
Variabel independent
1. Pengetahuan Pemahaman responden Kuesioner 1.Baik (> Ordinal
tentang konsumsi tablet Fe mean)
2. Kurang baik
(< mean)
2. Sikap Penilaian atau pendapat Kuesioner 1.Baik (> Ordinal
responden terhadap konsumsi mean)
tablet Fe 2. Kurang baik
(< mean)
3. Perilaku Tindakan dan kebiasaan yang Kuesioner 1. Baik (> Ordinal
selalu dilakukan (Konsumsi mean)
tablet Fe) 2. Kurang baik
(< mean)
Variabel Dependent
1. Kejadian anemia Kejadian anemia pada ibu Kuesioner 1. Normal (hb Ordinal
hamil dengan dilakukan 11 gr/dl)
pengukuran hemoglobin 2. Tidak
normal (hb
< 11 gr/dl)

E. Instrument Penelitian

Instrument penelitian dalam penelitian ini yaitu menggunakan kuesioner

mengenai pengetahuan, sikap dan perilaku konsumsi tablet zat besi (Fe) terhadap

kejadian anemia pada ibu hamil.

F. Subyek Penelitian

1) Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu hamil di Desa Cilangkap

Kabupaten Tasikmalaya.

2) Sampel

Adapun cara pengambilan sampel menggunakan teknik non probability

sampling model acak sistematik.


21

BAB VI JADWAL PELAKSANAAN

Kegiatan penelitian ini dilakukan selama 5 bulan, diagram waktu pelaksanaan

penelitian yang akan dilakukan ditunjukkan pada tabel 6.1.

Tabel 6.1
Jadwal Pelaksanaan Penelitian

BULAN KE-/MINGGU KE-

NO PEKERJAAN I II III IV V

1 Survey sampling
2 Studi literatur

persiapan sampel
3
penelitian

persiapan alat
4 dan bahan
penelitian

Analisis dan
5
pengujian sampel

6 Analisa data

Penyusunan
7
laporan
22

BAB VII. PERSONALIA PENEITIAN

1. Ketua Peneliti
a. Nama Lengkap dan Gelar : Yane Liswanti, MKM
b. Golongan Pangkat dan NIDN : Penata muda/III a dan 0427018101
c. Jabatan Fungsional :-
d. Jabatan Struktural :-
e. Prodi : Analis Kesehatan
f. Perguruan Tinggi :STIKes Bakti Tunas Husada
Tasikmalaya
g. Bidang Keahlian : Hematologi
h. Waktu Untuk Penelitian ini : 4 jam / hari
2. Anggota Peneliti
a. Nama Lengkap dan Gelar :-
b. Golongan Pangkat dan NIDN :-
c. Jabatan Fungsional :-
d. Jabatan Struktural :-
e. Prodi :-
f. Perguruan Tinggi :-
g. Bidang Keahlian :-
h. Waktu Untuk Penelitian ini :-
23

DAFTAR PUSTAKA

Achadi, E. 2007. Gizi dan Kesehatan Masyarakat. PT Raja Grafindo Pustaka.


Jakarta.

Almatseir, S. 2009. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Azwar. Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya. Jakarta : Pustaka Belajar; 2007.

Freemeta, . 2009. Kekurangan dan kelebihan zat besi.

Kurniasih. 2009. Anemia Turunkan Kualitas Hidup. Nakita. Jakarta.

Lamandha. 2008. Buku Pintar Kehamilan dan Melahirkan. Diva press. Yogyakarta.

Morgan. 2009. Obstetri dan ginekologi edisi 2. EGC. Jakarta.

Nurhati. 2009. 9 bulan yang menabjubkan. Garamond.

Notoatmodjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta.

Notoatmodjo, S. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta : Rineka Cipta; 2007.

Rukiyah. 2010. Asuhan Kebidanan 4Patologi Kebidanan. Trans Info Medika.


Jakarta.

Sulistyawati. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Kehamilan. Salemba Medika.

Tarwoto. 2007. Buku saku anemia pada ibu hamil konsep dan penatalaksanaan. TIM.
Jakarta

Wawan A, Dewi M. Teori & Pengukuran Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Manusia.
Yogyakarta : Nuha Medika; 2010.

Wahyudi, B. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung : Penerbit Sulita; 2002.