BAB I
PENDAHULUAN
Ureterolithiasis adalah suatu keadaan terjadinya penumpukan oksalat,
calculi (batu ginjal) pada ureter atau pada daerah ginjal. Ureterolithiasis terjadi
bila batu ada di dalam saluran perkemihan. Batu itu sendiri disebut calculi.
Pembentukan batu mulai dengan kristal yang terperangkap di suatu tempat
sepanjang saluran perkemihan yang tumbuh sebagai pencetus larutan urin. Calculi
bervariasi dalam ukuran dan dari fokus mikroskopik sampai beberapa centimeter
dalam diameter cukup besar untuk masuk dalam pelvis ginjal. Gejala rasa sakit
yang berlebihan pada pinggang, nausea, muntah, demam, hematuria. Urine
berwarna keruh seperti teh.
Batu ureter pada umumnya berasal dari batu ginjal yang turun ke ureter.
Batu ureter mungkin dapat lewat sampai ke kandung kemih dan kemudian keluar
bersama kemih. Batu ureter juga bisa sampai ke kandung kemih dan kemudian
berupa nidus menjadi batu kandung kemih yang besar. Batu juga bisa tetap tinggal
di ureter sambil menyumbat dan menyebabkan obstruksi kronik dengan
hidroureter yang mungkin asimtomatik. Tidak jarang terjadi hematuria yang
didahului oleh serangan kolik.
1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi Sistem Perkemihan
Gambar 2.1 Sistem Perkemihan
Sistem perkemihan merupakan suatu sistem dimana terjdinya proses
penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang yang tidak
dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih dipergunakan oleh
tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan lagi oleh tubuh larut dlam air dan
dikeluarkan berupa urin (air kemih). Pada manusia, sistem ini terdiri dari dua
ginjal, dua ureter, kandung kemih, dua otot sphincter, dan uretra.
2
1. Ginjal
Gambar 2.2 Ginjal
Kedudukan ginjal di belakang dari kavum abdominalis di belakang
peritoneum pada kedua sisi vertebra lumbalis III melekat langsung pada
dinding abdomen.
Manusia memiliki sepasang ginjal yang terletak di belakang perut atau
[Link] ini terletak di kanan dan kiri tulang belakang, di bawah hati
dan [Link] bagian atas (superior) ginjal terdapat kelenjar adrenal (juga
disebut kelenjar suprarenal).
Ginjal bersifat retroperitoneal, yang berarti terletak di belakang
peritoneum yang melapisi rongga [Link] ginjal terletak di sekitar
3
vertebra T12 hingga [Link] kanan biasanya terletak sedikit di bawah ginjal
kiri untuk memberi tempat untuk hati.
Sebagian dari bagian atas ginjal terlindungi oleh iga ke sebelas dan
[Link] ginjal dibungkus oleh dua lapisan lemak (lemak perirenal dan
lemak pararenal) yang membantu meredam goncangan.
Ginjal adalah organ ekskresi dalam vertebrata yang berbentuk mirip
[Link] bagian dari sistem urin, ginjal berfungsi menyaring kotoran
(terutama urea) dari darah dan membuangnya bersama dengan air dalam
bentuk [Link] dari kedokteran yang mempelajari ginjal dan penyakitnya
disebut nefrologi.
a. Lapisan ginjal
Setiap ginjal terbungkus selaput tipis (kapsula renalis) berupa
jaringan fibrus berwarna ungu tua. Lapisan ginjal terbagi atas :
lapisan luar (yaitu lapisan korteks / substantia kortekalis)
lapisan dalam (yaitu medulla (substantia medullaris)
Bagian paling luar dari ginjal disebut korteks, bagian lebih dalam
lagi disebut [Link] paling dalam disebut [Link] bagian
medulla ginjal manusia dapat pula dilihat adanya piramida yang
merupakan bukaan saluran [Link] dibungkus oleh lapisan
jaringan ikat longgar yang disebut kapsula.
b. Unit Fungsional Ginjal
Unit fungsional dasar dari ginjal adalah nefron yang dapat
berjumlah lebih dari satu juta buah dalam satu ginjal normal manusia
4
[Link] berfungsi sebagai regulator air dan zat terlarut
(terutama elektrolit) dalam tubuh dengan cara menyaring darah,
kemudian mereabsorpsi cairan dan molekul yang masih diperlukan
tubuh. Molekul dan sisa cairan lainnya akan dibuang. Reabsorpsi dan
pembuangan dilakukan menggunakan mekanisme pertukaran lawan
arus dan [Link] akhir yang kemudian diekskresikan disebut
urin.
Gambar 2.3 Nefron Ginjal
Sebuah nefron terdiri dari sebuah komponen penyaring yang
disebut korpuskula (atau badan Malphigi) yang dilanjutkan oleh
saluran-saluran (tubulus).
5
Setiap korpuskula mengandung gulungan kapiler darah yang
disebut glomerulus yang berada dalam kapsula [Link]
glomerulus mendapat aliran darah dari arteri [Link] kapiler
dari glomerulus memiliki pori-pori untuk filtrasi atau
[Link] dapat disaring melalui dinding epitelium tipis yang
berpori dari glomerulus dan kapsula Bowman karena adanya tekanan
dari darah yang mendorong plasma darah. Filtrat yang dihasilkan akan
masuk ke dalan tubulus ginjal. Darah yang telah tersaring akan
meninggalkan ginjal lewat arteri eferen.
Tubulus ginjal merupakan lanjutan dari kapsula [Link]
yang mengalirkan filtrat glomerular dari kapsula Bowman disebut
tubulus konvulasi [Link] selanjutnya adalah lengkung
Henle yang bermuara pada tubulus konvulasi distal.
Lengkung Henle diberi nama berdasar penemunya yaitu Friedrich
Gustav Jakob Henle di awal tahun 1860-an. Lengkung Henle menjaga
gradien osmotik dalam pertukaran lawan arus yang digunakan untuk
filtrasi. Sel yang melapisi tubulus memiliki banyak mitokondria yang
menghasilkan ATP dan memungkinkan terjadinya transpor aktif untuk
menyerap kembali glukosa, asam amino, dan berbagai ion
[Link] besar air (97.7%) dalam filtrat masuk ke dalam
tubulus konvulasi dan tubulus kolektivus melalui osmosis.
Cairan mengalir dari tubulus konvulasi distal ke dalam sistem
pengumpul yang terdiri dari:
6
tubulus penghubung
tubulus kolektivus kortikal
tubulus kloektivus medularis
Tempat lengkung Henle bersinggungan dengan arteri aferen
disebut aparatus juxtaglomerular, mengandung macula densa dan sel
[Link] juxtaglomerular adalah tempat terjadinya sintesis
dan sekresi [Link] menjadi makin kental di sepanjang tubulus
dan saluran untuk membentuk urin, yang kemudian dibawa ke
kandung kemih melewati ureter.
c. Persyarafan pada ginjal
Ginjal mendapat persarafan dari nervus renalis (vasomotor), saraf
ini berfungsi untuk mengatur jumlah darah yang masuk ke dalam
ginjal, saraf ini berjalan bersamaan dengan pembuluh darah yang
masuk ke ginjal.
2. Ureter
Ureter merupakan saluran sepanjang 25-30 cm yang membawa hasil
penyaringan ginjal (filtrasi, reabsorpsi, sekresi) dari pelvis renalis menuju
vesica [Link] sepasang ureter yang terletak retroperitoneal,
masing-masing satu untuk setiap ginjal.
Ureter laki-laki melintas di bawah [Link] lateral dan ductus
deferens sedangkan pureter oerempuan melintas di sepanjang sisi cervix uteri
dan bagian atas vagina.
7
Ureter setelah keluar dari ginjal (melalui pelvis) akan turun di depan
[Link] major, lalu menyilangi pintu atas panggul dengan [Link] communis.
Ureter berjalan secara postero-inferior di dinding lateral pelvis, lalu
melengkung secara ventro-medial untuk mencapai vesica [Link]
katup uretero-vesical mencegah aliran balik urine setelah memasuki kandung
kemih. Terdapat beberapa tempat di mana ureter mengalami penyempitan
yaitu peralihan pelvis renalis-ureter, fleksura marginalis serta muara ureter ke
dalam vesica [Link]-tempat seperti ini sering terbentuk
batu/kalkulus.
Ureter diperdarahi oleh cabang dari [Link], aorta abdominalis,
[Link] communis, [Link]/ovarica serta [Link] [Link]
persarafan ureter melalui segmen T10-L1 atau L2 melalui pleksus renalis,
pleksus aorticus, serta pleksus hipogastricus superior dan inferior.
3. Vesika Urinaria
Vesika urinaria atau kandung kemih adalah satu kantung berotot yang
dapat mengempis, terletak di belakang simfisis [Link] kemih
mempunyai tiga muara, yaitu dua muara ureter dan satu muara
[Link] besar dinding kandung kemih tersusun dari otot polos yang di
sebut muskulus destrusor. Di dinding kandung kemih terdapat scratch
reseptor yang akan bekerja memberikan stimulus sensasi berkemih apabila
volume kandung kemih telah mencapai kurang lebih 150 cc.
8
Gambar 2.4 Vesika Urinaria
4. Uretra
Uretra merupakan saluran yang membawa urine keluar dari vesica
urinaria menuju lingkungan [Link] beberapa perbedaan uretra pada
pria dan wanita. Uretra pada pria memiliki panjang sekitar 20 cm dan juga
berfungsi sebagai organ seksual (berhubungan dengan kelenjar prostat),
sedangkan uretra pada wanita panjangnya sekitar 3.5 cm. selain itu, Pria
memiliki dua otot sphincter yaitu [Link] interna (otot polos terusan dari
[Link] dan bersifat involunter) dan [Link] externa (di uretra pars
membranosa, bersifat volunter), sedangkan pada wanita hanya memiliki
[Link] externa (distal inferior dari kandun kemih dan bersifat volunter).
9
Gambar 2.5 Uretra pria
Pada pria, uretra dapat dibagi atas pars pre-prostatika, pars prostatika,
pars membranosa dan pars spongiosa.
Pars pre-prostatika (1-1.5 cm), merupakan bagian dari collum
vesicae dan aspek superior kelenjar prostat. Pars pre-prostatika
dikelilingi otot m. sphincter urethrae internal yang berlanjut
dengan kapsul kelenjar prostat. Bagian ini disuplai oleh persarafan
simpatis.
Pars prostatika (3-4 cm), merupakan bagian yang
melewati/menembus kelenjar prostat. Bagian ini dapat lebih dapat
berdilatasi/melebar dibanding bagian lainnya.
Pars membranosa (12-19 mm), merupakan bagian yang terpendek
dan tersempit. Bagian ini menghubungkan dari prostat menuju
bulbus penis melintasi diafragma urogenital. Diliputi otot polos
dan di luarnya oleh [Link] urethrae eksternal yang berada di
bawah kendali volunter (somatis).
10
Pars spongiosa (15 cm), merupakan bagian uretra paling panjang,
membentang dari pars membranosa sampai orifisium di ujung
kelenjar penis. Bagian ini dilapisi oleh korpus spongiosum di
bagian luarnya.
Gambar 2.6 Uretra wanita
Letak uretra wanita berada di bawah simphis pubis dan bermuara
disebelah anterior [Link] dalam uretra bermuara kelenjar periuretra
diantara kelenjar [Link] lebih 1/3 medial uretra, terdapat sfingter
uretra eksterna yang terdiri dari otot [Link] otot sfingter uretra
terdapat eksterna dan tonus otot levator ini berfungsimempertahankan urine
tetap berada di dalam buli pada saat perasaan ingin [Link] terjadi jika
tekanan intra vesika melebihi tekanan intrauretra akibat kontraksi otot
destrusor dan relaksasi sfingter uretra eksterna.
11
B. Fisiologi Sistem Perkemihan
Fungsi primer ginjal adalah mempertahankan volume dan komposisi cairan
ekstrasel dalam batas batas [Link] dan volume cairan ekstra sel ini
dikontrol oleh filtrasi glomerolus, reabsorpsi dan sekresi tubulus. Untuk lebih
jelasnya fungsi dasar ginjal dapat dibagi menjadi dua fungsi, yaitu :
Fungsi Eksresi
a. Mempertahankan osmolalitas plasma sekitar 285 m-osmol dengan
mengubah ubah eksresi air.
b. Mempertahankan kadar masing masing elektrolit plasma dalam
rentang normal.
c. Mempertahankan Ph plasma sekitar 7.4 dengan mengeluarkan H+dan
membentuk kembali HCO3- .
d. Mengeksresikan produk akhir nitrogen dari metabolisme protein,
terutama urea, asam urat dan kreatinin.
Fungsi Non Eksresi
a. Menghasilkan renin, penting untuk pengaturan tekanan darah.
b. Menghasilkan eritripoetin, faktor penting dalam stimulasi produksi sel
darah merah oleh sum sum tulang.
c. Metabolisme vitamin D menjadi bentuk aktif.
d. Degradasi insulin, sekitar 20 % dari insulin dibentuk oleh pankreas dan
didegradasi oleh sel sel tubulus ginjal, akibatnya penderita diabetes
yang menderita payah ginjal mungkin membutuhkan insulin yang
jumlahnya sedikit. (Suharyanto, Toto & Abdul Madjid. 2009:18)
12
1. Pembentukan Urine
Pembentukan urine adalah fungsi ginjal yang paling esensial dalam
mempertahankan homeostasis tubuh. Pembentukan urine berlangsung
dalam tiga tahap yaitu :
a. Filtrasi glomerulus
Tahap filtrasi terjadi di badan Malpighi yang di dalamnya terdapat
glomerulus yang dikelilingi sangat dekat oleh kapsula Bowman .
Proses filtrasi: Ketika darah yang mengandung air, garam, gula,
urea dan zat-zat lain serta sel-sel darah dan molekul protein masuk
ke glomerulus, tekanan darah menjadi tinggi sehingga mendorong
air dan komponen-komponen yang tidak dapat larut, melewati
pori-pori endotelium kapiler glomerulus, kecuali sel-sel darah dan
molekul protein. Kemudian menuju membran dasar dan melewati
lempeng filtrasi, masuk ke dalam ruang kapsula [Link]
filtrasi dari glomerulus dan kapsula Bowman disebut filtrat
glomerulus atau urine primer. Urine primer ini mengandung: air,
protein, glukosa, asam amino, urea dan ion anorganik. Glukosa,
ion anorganik dan asam amino masih diperlukan tubuh.
b. Reabsorpsi
Reabsorpsi yaitu proses penyerapan kembali zat-zat hasil filtrasi
yang masih diperlukan tubuh misalnya vitamin, glukosa & asam
amino. Dimulai dari tubulus kontortus proksimal, reabsorpsi
dilakukan oleh dinding usus secara difusi & transfor aktif.
13
Dinamakan reabsorpsi obligat, dimana 80% air diserap kembali di
tubulus ini. Filtrat yang keluar dinamakan urine sekunder/filtrat
tubulus. Lalu masuk melewati lengkung henle desenden(turun)
terjadi reabsorpsi 6% air dan lengkung henle asenden(naik) terjadi
reabsorosi Na+ & Cl-. Akhirnya masuk ke tubulus kontortus distal,
terjadi penambahan dan pengurangan filtrat. Reabsorpsi Na+, Ca2+
& air dikontrol oleh hormon antideuretik(ADH), reabsorbsi ini
dinamakan reabsorpsi fakultatif karena reabsorpsinya disesuikan
dengan kebutuhan.
c. Sekresi
sekresi beberapa zat dari darah dikapiler ke filtrat berupa ion K+,
PO3-, keratin, obat-obatan dan senyawa toksik terjadi di tubulus
kontortus distal, lalu mengalir ke duktus kolektifus akan terjadi
reabsorpsi air dan ion Na+ dipengaruhi oleh ADH & aldesteron
dan augmentasi ion K+ dan ion bikarbonat. Kemudian urine
diampung di katung kemih, daya tampungnya 300 cc, tekanan ke
dinding katung menyababkan ingin buang air kencing..
C. Nefrolitiasis
1. Pengertian
Ureterolitiasis adalah kalkulus atau batu di dalam [Link]
ureter pada umumnya adalah batu yang terbentuk di dalam sistem kalik
ginjal, yang turun ke [Link] tiga penyempitan sepanjang ureter
14
yang biasanya menjadi tempat berhentinya batu yang turun dari kalik yaitu
ureteropelvic junction (UPJ), persilangan ureter dengan vasa iliaka, dan
muara ureter di dinding buli.
Batu ureter mungkin dapat lewat sampai ke kandung kemih dan
kemudian keluar bersama [Link] ureter juga bisa sampai ke kandung
kemih, kemudian berupa nidus menjadi batu kandung kemih yang
[Link] juga bisa tetap tinggal di ureter sambil menyumbat dan
menyebabkan obstruksi kronik dengan hidroureter yang mungkin
[Link] jarang terjadi hematuria yang didahului oleh serangan
kolik.
Komposisi batu ureter sama dengan komposisi batu saluran
kencing pada umumnya yaitu sebagian besar terdiri dari garam kalsium,
seperti kalsium oksalat monohidrat dan kalsium oksalat dihidrat. Sedang
sebagian kecil terdiri dari batu asam urat, batu struvit dan batu sistin.
15
Gambar 2.7 Nefrolitiasis
2. Etiologi
Batu terbentuk dari traktus urinarius ketika konsentrasi subtansi
tertentu seperti kalsium oksalat, kalsium fosfat, dan asam urat
[Link] juga dapat terbentuk ketika terdapat defisiensi subtansi
tertentu, seperti sitrat yang secara normal mencegah kristalisasi dalam
urine. Kondisi lain yang mempengaruhi laju pembentukan batu mencakup
pH urin dan status cairan pasien (batu cenderung terjadi pada pasien
dehidrasi).
Penyebab terbentuknya batu digolongkan dalma 2 faktor :
a. Faktor endogen :
Hyperkalsemia : Meningkatnya kalsium dalam darah
Hyperkasiuria : Meningkatnya kalsium dalam urin
Ph urin
Kelebihan pemasukan cairan dlam tubuh yang bertolak belakang
dengan keseimbangan cairan yang masuk dalam tubuh
b. Faktor eksogen :
Air minum
Kurang minum atau kurang mengkonsumsi air mengakibatkan
terjadinya pengendapan kalsium dalam pelvis renal akibat ketidak
seimbangan cairan yang masuk
16
Suhu
Tempat yang bersuhu panas menyebabkan banyaknya pengeluaran
keringat,yang akan mempermudah pengurangan produksi urin dan
mempermudah terbentuknya batu.
Makanan
Kurangnya mengkonsumsi protein dapat menjadi factor
terbentuknya batu
Dehidrasi
Kurangnya pemasukan cairan dalam tubuh juga ikut membantu
proses pembentukan urin.
3. Patofisiologi
Nefrolitiasis merupakan kristalisasi dari mineral dan matriks
seperti pus darah, jaringan yang tidak vital dan tumor. Komposisi dari batu
ginjal bervariasi, kira-kira tiga perempat dari batu adalah kalsium, fosfat,
asam urin dan [Link] konsentrasi larutan akibat dari intake
yang rendah dan juga peningkatan bahan-bahan organic akibat infeksi
saluran kemih atau urin ststis sehingga membuat tempat untuk
pembentukan batu. Ditambah dengan adanya infeksi meningkatkan
kebasaan urin oleh produksi ammonium yang berakibat presipitasi kalsium
dan magnesium pospat (Jong, 1996 : 323)
17
Proses pembentukan batu ginjal dipengaruhi oleh beberapa faktor
yang kemudian dijadikan dalam beberapa teori :
a. Teori supersaturasi
Tingkat kejenuhan kompone-komponen pembentuk batu ginjal
mendukung terjadinya kristalisasi. Kristal yang banyak menetap
menyebabkan terjadinya agresi kristal kemudian timbul menjadi batu.
b. Teori matriks
Matriks merupakan mukoprotein yang terdiri dari 65% protein, 10%
heksose, 3-5 heksosamin dan 10% air. Adapun matriks menyebabkan
penempelan kristal-kristal sehingga menjadi batu.
c. Teori kurang inhibitor
Pada kondisi normal kalsium dan fosfat hadir dalam jumlah yang
melampui daya kelarutan, sehingga diperlukan zat penghambat
pengendapat. Phospat mukopolisakarida dan dipospat merupakan
penghambatan pembentukan kristal. Bila terjadi kekurangan zat ini
maka akan mudah terjadi pengendapan.
d. Teori epistaxi
Merupakan pembentukan baru oleh beberapa zat secara bersama-sama,
salauh satu batu merupakan inti dari batu yang merupakan pembentuk
pada lapisan luarnya. Contohnya ekskresi asam urat yang berlebihan
dalam urin akan mendukung pembentukan batu kalsium dengan bahan
urat sebagai inti pengendapan kalsium.
18
e. Teori kombinasi
Batu terbentuk karena kombinasi dari berbagai macam teori di atas.
4. Jenis-jenis Batu dan Komposisi Batu
Batu saluran kemih pada umumnya mengandung unsur kalsium:
kalsium oksalat atau kalsium fosfat, asam urat, magnesium-amonium-
fosfat (MAP), xanthyn, da sistin, silikat dan senyawa lainnya. Data
mengenai kandungan / komposisi zat yang terdapat pada batu sangat
penting untuk usaha pencegahan terhadap kemungkinan timbulnya batu
residif.
a. Batu Kalsium
Batu jenis ini paling banyak di jumpai, yaitu kurang lebih 70 - 80%
dari seluruh batu saluran [Link] batu jenis ini terdiri atas
kalsium oksalat, kalsium fosfat, atau campuran dari kedua unsur itu.
Faktor tejadinya batu kalsium adalah:
o Hiperkasiuria: Kadar kasium urine lebih dari 250-300 mg/24
jam, dapat terjadi karena peningkatan absorbsi kalsium pada
usus (hiperkalsiuria absorbtif), gangguan kemampuan reabsorbsi
kalsium pada tubulus ginjal (hiperkalsiuria renal) dan adanya
peningkatan resorpsi tulang (hiperkalsiuria resoptif) seperti pada
hiperparatiridisme primer atau tumor paratiroid.
19
o Hiperurikosuria: Kadar asam urat urine melebihi 850 mg/24
jam. Asam urat dalam urine dapat bertindak sebagai inti batu
yang mempermudah terbentuknya batu kalsium oksalat. Asam
urat dalam urine dapat bersumber dari konsumsi makanan kaya
purin atau berasal dari metabolisme endogen. Pasien dengan
batu kalsium hiperurikosuria memiliki pH > 5,5.
o Hiperoksaluria: Pasien dengan batu kalsium hiperurikosuria
biasanya karena gangguan utama di usus, pasien memiliki
sejarah dari diare kronik yang sering dikaitkan dengan
inflammatory bowel disease atau steatorrhea. Asam askorbat
lebih dari 2 g/hari akan meningkatkan kadar oksalat urin.
Ekskresi oksalat urien melebihi 45 gram/24 jam, banyak
dijumpai pada pasien pasca pembedahan usus dan kadar
konsumsi makanan kaya oksalat seperti the, kopi instan, soft
drink, kakao, arbei, jeruk sitrun dan sayuran hijau terutama
bayam.
o Hipositraturia: Dalam urine, sitrat bereaksi dengan kalsium
membentuk kalsium sitrat sehingga menghalangi ikatan kalsium
dengan oksalat atau fosfat. Keadaan hipositraturia dapat terjadi
pada penyakit asidosis tubuli ginjal, sindrom malabsorbsi atau
pemakaian diuretik golongan thiazide dalam jangka waktu lama.
o Hipomagnesiuria: Seperti halnya dengan sitrat, magnesium
bertindak sebagai penghambat timbulnya batu kalsium karena
20
dalam urine magnesium akan bereaksi dengan oksalat menjadi
magnesium oksalat sehingga mencegah ikatan dengan kalsium
ddengan oksalat.
b. Batu Struvit
Batu struvit disebut juga sebagai batu infeksi, karena terbentuknya
batu ini disebabkan oleh adanya infeksi saluran kemih. Kuman penyebab
infeksi ini adalah kuman golongan pemecah urea atau urea splitter yang
dapat menghasilkan enzim urease dan merubah urine menjadi bersuasana
basa melalui hidrolisis urea menjadi amoniak. Kuman-kuman yang
termasuk pemecah urea di antaranya adalah : Proteusspp, Klebsiella,
Serratia, Enterobakter, Pseudomonas, dan Stafilokokus. Meskipun E coli
banyak menimbulkan infeksi saluran kemih tetapi kuman ini bukan
termasuk pemecah urea.
Sekitar 75% kasus batu staghorn, didapatkan komposisi batunya
adalah matriks struvit-karbonat-apatit atau disebut juga batu struvit atau
batu triple phosphate, batu fosfat, batu infeksi, atau batu urease, walaupun
dapat pula terbentuk dari campuran antara kalsium oksalat dan kalsium
fosfat.
c. Batu Asam Urat
Batu asam urat merupakan 5-10% dari seluruh batu saluran
kemih. Di antaranya 75-80% batu asam urat terdiri atas asam murni dan
sisanya merupakan campuran kalsium oksalat. Penyakit batu asam urat
banyak diderita oleh pasien-pasien gout, penyakit mieloproliferatif, pasien
21
yang mendapatkan terapi antikanker, dan yang banyak mempergunakan
obat urikosurik diantaranya adalah sulfinpirazone, thiazide, dan salisilat.
Kegemukan, peminum alkohol, dan diet tinggi protein mempunyai
peluang yang lebih besar untuk mendapatkan penyakit ini. Faktor yang
mempengaruhi terbentuknya batu asam urat adalah: urine terlalu asam (pH
< 6, volume urine < 2 liter/hari atau dehidrasi dan hiperurikosuria.
d. Batu sistin
Sistin lithiasis umumnya sekunder akibat inborn error of
metabolism yang berakibat terjadinya absorpsi abnormal di mukosa
intestinal dan absorpsi tubulus renalis.
e. Batu xantin
Terjadi akibat defisiensi xanthine oxidase kongenital.
f. Batu indinavir
Indinavir merupakan protease inhibitor yang paling umum
menyebabkan batu radiolusen pada sekitar 6% pasien yang mendapat obat
ini.
5. Tanda dan Gejala
Batu yang terjebak diureter menyebabkan gelombang nyeri yang
luar biasa, akut, kolik, yang menyebar kepaha dan [Link] merasa
selalu ingin berkemih, namun hanya sedikit urin yang keluar dan biasanya
mengandung darah akibat aksi abrasive [Link] yang terjebak dikandung
22
kemih biasanya menyebabkan gejala iritasi dan berhubungan dengan
infeksi traktus urinarius dan hematuria.
Keluhan yang sering ditemukan adalah sebagai berikut :
a. Hematuria
b. Piuria
c. Polakisuria/fregnancy
d. Urgency
e. Nyeri pinggang menjalar ke daerah pingggul, bersifat terus menerus
pada daerah pinggang.
f. Kolik ginjal yang terjadi tiba-tiba dan menghilang secara perlahan-
lahan.
g. Rasa nyeri pada daerah pinggang, menjalar ke perut tengah bawah,
selanjutnya ke arah penis atau vulva.
h. Anorexia, muntah dan perut kembung
i. Hasil pemeriksaan laboratorium, dinyatakan urine tidak ditemukan
adanya batu leukosit meningkat.
6. Komplikasi
Menurut guyton, 1993 komplikasi dari nefrolitiasis adalah :
a. Gagal ginjal
Terjadinya karena kerusakan neuron yang lebih lanjut dan pembuluh
darah yang disebut kompresi batu pada membrane ginjal oleh karena
23
suplai oksigen terhambat. Hal in menyebabkan iskemis ginjal dan jika
dibiarkan menyebabkan gagal ginjal
b. Infeksi
Dalam aliran urin yang statis merupakan tempat yang baik untuk
perkembangbiakan microorganisme. Sehingga akan menyebabkan
infeksi pada peritoneal.
c. Hidronefrosis
Oleh karena aliran urin terhambat menyebabkan urin tertahan dan
menumpuk diginjal dan lam-kelamaan ginjal akan membesar karena
penumpukan urin
d. Avaskuler ischemia
Terjadi karena aliran darah ke dalam jaringan berkurang sehingga
terjadi kematian jaringan.
7. Pemeriksaan Diagnostik
a. Pemeriksaan Urin
PH lebih dari 7,6
Sediment sel darah merah lebih dari 90%
Biakan urin
Ekskresi kalsium fosfor, asam urat
b. Pemeriksaan darah
Hb turun
Leukositosis
24
Urium krestinin
Kalsium, fosfor, asam urat
c. Pemeriksaan kultur urine mungkin menunjukkan adanya pertumbuhan
kuman pemecah urea.
d. Pemeriksaan faal ginjal bertujuan untuk mencari kemungkinan
terjadinya penurunan fungsi ginjal dan untuk mempersiapkan pasien
menjalani pemeriksaan IVP.
e. Perlu juga diperiksa kadar elektrolit yang diduga sebagai faktor
penyebab timbulnya batu saluran kemih (antara lain kadar: kalsium,
oksalat, fosfat maupun urat didalam darah maupun dalam urine)
f. Foto polos abdomen (BNO)
Hanya untuk melihat adanya batu radio-opak. Batu-batu jenis kalsium
oksalat dan kalsium fosfat bersifat radio-opak dan paling sering
dijumpai diantara batu jenis lain. Sedangkan batu asam urat bersifat
non opak (radio-lusen).
Intravenous Pyelografi (IVP) dapat mendeteksi adanya batu semi-opak
ataupun batu non opak yang tidak dapat terlihat oleh foto polos
[Link] merupakan pemeriksaan terpilih dalam mendiagnosis
batu ureter.
g. Ultrasonografi (USG)
Dikerjakan bila pasien tidak mungkin menjalani pemeriksaan IVP,
yaitu pada keadaan-keadaan: alergi terhadap bahan kontras, faal ginjal
yang menurun, dan pada wanita yang sedang hamil. Adakalanya USG
25
dapat mendeteksi batu pada ureterovesival junction yang tidak terlihat
pada helical CT atau IVP.
h. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
Walaupun bukan merupakan perangkat diagnostik yang utama dalam
mendeteksi batu ureter, akan tetapi MRI merupakan pilihan yang tepat
untuk mengetahui batu ureter pada wanita hamil yang tidak
terdiagnosis dengan USG. Penelitian yang melibatkan 40 pasien
dengan nyeri regio flank akut, MRI mempunyai sensitifitas 54-58%
dan spesifisitas 100 %.
8. Penatalaksanaan
Sebagian besar batu ureter mempunyai diameter < 5 mm. Seperti
disebutkan sebelumnya, batu ureter < 5 mm bisa keluar spontan. Karena itu
dimungkinkan untuk pilihan terapi konservatif berupa :
1. Minum sehingga diuresis 2 liter/ hari
2. - blocker
3. NSAID
Batas lama terapi konservatif adalah 6 minggu. Di samping ukuran batu
syarat lain untuk observasi adalah berat ringannya keluhan pasien, ada
tidaknya infeksi dan obstruksi. Adanya kolik berulang atau ISK menyebabkan
observasi bukan merupakan pilihan. Begitu juga dengan adanya obstruksi,
apalagi pada pasien-pasien tertentu (misalnya ginjal tunggal, ginjal trasplan
dan penurunan fungsi ginjal ) tidak ada toleransi terhadap obstruksi. Pasien
seperti ini harus segera dilakukan intervensi.
26
Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL)
Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL) telah menjadi metode
yang paling sering digunakan dalam tatalaksana aktif batu ureter. ESWL
didasarkan pada prinsip bahwa gelombang kejut bertekanan tinggi akan
melepaskan energi ketika melewati area-area yang memiliki kepadatan
akustik berbeda. Gelombang kejut yang dibangkitkan di luar tubuh dapat
difokuskan ke sebuah batu menggunakan berbagai teknik
[Link] kejut melewati tubuh dan melepaskan energinya
saat melewati sebuah [Link] dari metode ini adalah untuk memecah
batu menjadi partikel-partikel yang cukup kecil sehingga dapat melewati
ureter tanpa menimbulkan nyeri yang berarti.
Ureterorenoskopi (URS)
Penemuan ureteroskopi pada tahun 1980-an telah mengubah secara dramatis
manajemen batu saluran kemih. Ureteroskopi rigid digunakan bersama dengan
litotripsi ultrasonik, litotripsi elektrohidrolik, litotripsi laser dan litotripsi
pneumatik agar memberikan hasil lebih baik. Pengangkatan batu juga dapat
dilakukan dengan ekstraksi keranjang di bawah pengamatan langsung dengan
fluoroskopi. Perkembangan dalam bidang serat optik dan sistem irigasi
menghasilkan alat baru yaitu ureteroskop semirigid yang lebih kecil. (6,9 sampai
8,5 F). Penemuan miniskop semirigid dan ureteroskop fleksibel membuat kita
dapat mencapai ureter atas dan sistem pengumpul intrarenal secara lebih aman.
Namun, keterbatasan dari alat semirigid dan fleksibel ini adalah sempitnya
27
saluran untuk [Link] ini, pilihan alat tergantung dari lokasi batu, komposisi
batu dan pengalaman klinikus, serta ketersediaan alat.
Percutaneus Nephrolithotomy (PNL)
Prosedur ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu akses perkutan dan pengangkatan
batu. Untuk mencapai akses perkutan, urolog atau radiolog memasang kabel
penuntun fleksibel berukuran kecil di bawah kontrol fluoroskopi melalui
pinggang pasien ke dalam ginjal lalu turun ke ureter. Jika akses sudah diperoleh,
saluran dilebarkan sampai ukuran 30 F dan dimasukkan selongsong, lalu
nefroskop atau ureteroskop rigid / fleksibel dimasukkan melalui selongsong.
Dengan tuntunan fluoroskopi dan endokamera, batu diangkat secara utuh atau
setelah dipecahkan menggunakan litotripsi intrakorporal. PNL memiliki
keuntungan sebagai berikut : (1) Jika batu dapat dilihat, hampir dipastikan batu
tersebut dapat dihancurkan. (2) Dengan alat fleksibel, ureter dapat dilihat secara
langsung sehingga fragmen kecil dapat diidentifikasi dan diangkat. (3) Proses
cepat, dengan hasil yang dapat diketahui saat itu juga. Perawatan di rumah sakit
biasanya 3 sampai 5 hari, pasien dapat kembali melakukan aktivitas ringan
setelah 1 sampai 2 minggu. Angka transfusi PNL sekitar 2-6%. Angka perawatan
kembali, yaitu angka dimana instrumen harus dimasukkan kembali untuk
mengangkat batu yang tersisa bervariasi dari 10% sampai 40-50%. Angka bebas
batu adalah 75-90%. Komplikasi yang dapat terjadi meliputi perdarahan, infeksi,
dan fistula arteri-vena.
Pembedahan Terbuka
28
Berbagai variasi operasi spesifik dapat dilakukan untuk mengangkat batu
[Link] pada anatomi dan lokasi batu, ureterolitotomi dapat
dilakukan melalui insisi samping, dorsal atau [Link] ini,
ureterolitotomi sudah jarang dilakukan, kecuali pada kasus dimana batu
berukuran besar atau pasien memiliki kelainan anatomi ginjal atau
[Link] di rumah sakit berkisar antara 2 sampai 7 [Link]
pasca operasi berkisar antara 4 sampai 6 minggu.
29
BAB III
LAPORAN KASUS
I. IDENTIFIKASI PASIEN
No. RM : 09.91.67
Nama : Tn. A
Jenis kelamin : Laki-laki
Tanggal lahir : 12-04-1972
Umur : 45 tahun
Status perkawinan : Menikah
Agama : Islam
Pekerjaan : Wiraswasta
Pendidikan :-
Alamat : Jl. Purnawirawan 4, Gunung terang
Masuk IGD RSPBA : Selasa, 21/11/2017, pukul 13.17 WIB
Masuk Rawat Inap : Selasa, 21/11/2017, pukul 15.00 WIB
II. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis dan alloanamnesis tanggal
24 November 2017.
Keluhan utama
Nyeri pinggang kanan yang semakin memberat sejak 3 hari yang lalu.
30
Keluhan tambahan
Nyeri ulu hati, Mual (+), muntah (+) frekuensi 7x, BAK tidak lancar.
Riwayat Perjalanan Penyakit
Sejak 1 tahun sebelum masuk rumah sakit, Os merasa sering
nyeri di pinggang kanan. Nyeri dirasakan tumpul, tidak terlalu
berat, VAS 1, dan hilang timbul. Os mengeluh sering sulit BAK,
anyang-anyangan, dan sulit BAB. Os berobat ke dokter umum dan
diberikan obat maag.
Sejak 1 bulan sebelum masuk rumah sakit pasien merasa nyeri
semakin memberat, VAS 3, dan hilang timbul. Os pernah mengalami
keluar batu kecil-kecil saat kencing, kecing berwarna kuning agak
keruh, nyeri saat kencing, buang air kecil tiba-tiba berhenti dan
dapat keluar lagi setelah bergerak-gerak, nyeri tidak menjalar yang
menjalar ke kemaluan. Os mengaku setelah keluar batu nyeri
pinggang berkurang dan tidak anyang-anyangan lagi.
Pada tanggal 21 November Os datang ke IGD RSPBA dengan
keluhan nyeri pinggang kanan yang semakin memberat sejak 3 hari
yang lalu. Os juga merasa nyeri ulu hati, mual (+), muntah (+) 7x,
BAK tidak lancar, BAB (+), demam (-), dan badan terasa lemas (+).
Kemudian Os disarankan untuk dirawat inap untuk diperiksa lebih
lanjut.
31
Riwayat Penyakit Dahulu
Os memiliki riwayat hipertensi sejak 3 tahun yang lalu, dan
tidak terkontrol. Riwayat batu saluran kemih sebelumnya tidak
ada. Riwayat OAT dalam 1 tahun terakhir tidak ada.
Riwayat Penyakit Keluarga
Os mengaku tidak ada keluarga yang mengalami hal serupa.
Riwayat darah tinggi, kencing manis, sakit jantung pada keluarga
disangkal oleh pasien.
Riwayat Pengobatan
Pasien pernah berobat ke dokter umum dengan keluhan yang
sama, oleh dokter umum diberikan obat maag. Sebelumnya Os
mengalami hipertensi namun jarang kontrol berobat ke dokter.
Riwayat Alergi Obat
Disangkal
Riwayat Pekerjaan, Sosial Ekonomi, Kejiwaan dan Kebiasaan
Os bekerja sebagai wiraswasta, aktivitas fisik sedang, jarang
konsumsi air putih. Pasien menggunakan jaminan kesehatan BPJS.
32
III. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos Mentis
Vital Sign
TD : 120/80 mmHg
S : 35,8 C
N : 79x / menit
P : 20x / menit
Tinggi badan (cm) : Tidak diketahui pasti
Berat badan (kg) : Tidak dikeahui pasti, sekitar 65 kg
IMT : Tidak diketahui pasti
Aspek Kejiawaan
Tingkah laku : wajar/gelisah/tenang/hipoaktif/hiperaktif
Alam perasaan : biasa/sedih/gembira/cemas/takut/marah
Proses pikir : wajar/cepat/gangguan waham/fobia/obsesi
Status Generalisata
Kulit
Warna kulit sawo matang, tidak ikterik, tidak sianosis, turgor kulit
cukup, capillary refill time <2 detik, dan teraba hangat.
33
Kepala
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera tidak
ikterik, pupil isokor 3 mm, refleks cahaya
langsung ada, refleks cahaya tidak langsung
ada, penurunan visus (-).
Hidung : Deformitas (-), nyeri tekan (-), krepitasi
(-), deviasi septum (-), sekret (-/-),
pernapasan cuping hidung (-).
Telinga : Norrmotia (+/+), nyeri tekan (-/-), nyeri
tarik (-/-), sekret (-/-), perdarahan (-/-).
Mulut : Kering (-), sianosis (-), asimetris (-).
Tengorokan : Trismus (-), arcus faring simetris, hiperemis
(-), uvula di tengah.
Leher
JVP 5-2 cmH2O, tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening,
tidak ada pembesaran tiroid.
Torax
Bentuk simetris, sela iga normal.
34
Paru
Depan Belakang
Kanan
Inspeksi Simetris dalam statis dan dinamis
Kiri
Kanan
Palpasi Kiri Vocal fremitus simetris kanan dan kiri
Kanan Sonor Sonor
Perkusi Sonor
Kiri Sonor
Suara napas vesikuler
Kanan
Rh (-/-)
Auskultasi
Kiri Wh(-/-)
Jantung
Inspeksi : Iktus cordis tidak tampak
Palpasi : Iktus cordis tidak teraba
Perkusi : Kiri: Atas, ics II linea parasternalis sinistra
Bawah, ics IV linea midclavikularis
sinistra
Kanan: Atas, ics II linea parasternalis dextra
Bawah, ics IV linea parasternalis
dextra
35
Auskultasi : Bunyi jantung S1 dan S2 tungga normal,
reguler. Murmur (-) gallop (-)
Abdomen
Inspeksi : Dinding perut simetris dengan dinding
dada, asistes (-), distended (-), venektasi(-),
caput medusa (-), ikterik (+).
Auskultasi : Bising usus (+) normal.
Palpasi : Nyeri tekan hepar (-), hepar tidak teraba,
limpa tidak teraba, nyeri ketok CVA (-)
kanan/kiri.
Perkusi : shiffting dullness (-)
Ekstremitas
Superior dextra dan sinistra: Oedem ( - ) Deformitas (-)
Bengkak (-) Sianosis (-)
Nyeri sendi (-) Ptekie (-)
Akral hangat
Inferior dextra dan sinistra: Oedem (-) Nekrotik (-)
Deformitas (-) Sianosis (-)
Nyeri sendi (-) Ptekie (-)
Akral hangat
36
Status urologis
Flank kanan : Tidak ditemukan kelainan
Flank kiri : Tidak ditemukan kelainan.
Supra simfisis : Nyeri tekan tidak ada, buli-buli tidak
penuh, tidak ada teraba batu.
Genitalia eksterna : Tidak diperiksa.
IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Laboratorium (22 November 2017)
Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Satuan Ket
URINE
Warna Kuning Kuning N
Kejernihan Jernih Jernih N
Berat jenis 1.020 1.005-1.030 N
pH 5 5-8 N
Leukosit Negatif Negatif (<10) leuko/ul N
Nitrit Negatif Negatif N
Protein 30 Negatif (<30) mg/dL
Glukosa 50 Negatif (<30) mg/dL
Keton Negatif Negatif (<50) mg/dL N
Urobilinogen Negatif Negatif (<1) mg/dL N
Bilirubin Negatif Negatif (<2) mg/dL N
Darah samar 10 Negatif (<10) ery/dl
Sedimen Leukosit 3-5 10 /LBP N
Sedimen Eritrosit 17-20 5 /LBP
Sedimen Epitel Beberapa
37
Sedimen Bakteri Negatif
Sedimen Kristal Negatif
Sedimen Silinder Negatif
Rontgen BNO (23 November 2017)
Ekspertise : Pre-peritonial fat normal, psoas line normal, kontur ginjal
kanan dan kiri tampak membesar, gambaran udara dalam usus halus,
38
distribusi udara dalam kolon normal dengan fecal material di dalamnya,
tampak kongkramen opak oval di abdomen kanan setinggi corpus
vertebrae L3 dan di abdomen kiri setinggi corpus vertebrae L4.
Skoliosis dan osteofit pada endplate corpora intervertebra lumbalis.
Kesimpulan : Pembesaran ginjal bilateral, ureterolitiasis bilateral.
V. DIAGNOSIS KERJA
Ureterolithiasis bilateral.
VI. DIAGNOSIS BANDING
Kolik abdomen
Hidronefrosis bilateral
VII. TATALAKSANA
Monitor tanda vital, status lokalis, dan produksi nefrostomi.
IVFD RL xx tpm
Ketorolac drip 1 amp.
Omeprazole 1 vial/12 jam
Ondancetron 1 amp/12 jam
Mucogard 3x1C
Cephataxim 2x1 tab
Bicnat 3x1 tab
39
VIII. PROGNOSIS
Quo ad vitam: bonam
Quo ad functionam: dubia at bonam
Quo ad sanactionam: dubia at bonam
40
BAB IV
ANALISIS KASUS
41