Anda di halaman 1dari 69

MONITORING DAN EVALUASI PENYELENGGARAAN IMUNISASI

DI PUSKESMAS MAESAN

PUSKESMAS MAESAN
DINAS KESEHATAN KABUPATEN BONDOWOSO
TAHUN 2014
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Salah satu misi Puskesmas Maesan adalah memelihara dan meningkatkan kesehatan
perorangan, keluarga, masyarakat beserta lingkungannya, selalu berupaya mencegah dan
menyembuhkan penyakit, serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga dan
masyarakat yang berkunjung dan yang bertempat tinggal di wilayah kerjanya, tanpa
diskriminasi dan dengan menerapkan kemajuan ilmu dan teknologi kesehatan yang sesuai.
Misi tersebut dapat dicapai apabila Puskesmas Maesan ikut berperan serta aktif dalam
upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat di wilayah Kecamatan Maesan. Salah
satunya adalah dengan meningkatkan angka cakupan imunisasi dasar bayi di Kecamatan
Maesan sebab dengan penigkatan angka cakupan tersebut Puskesmas Maesan dapat secara
nyata menurunkan resiko terjadinya kasus penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi
(PD3I).
Masalah PD3I akhir-akhir ini kembali menjadi masalah besar kesehatan nasional setelah
sebelumnya berhasil ditekan. Begitu pula di wilayah kerja Puskesmas Maesan, kejadian
PD3I kembali muncul pada akhir tahun 2014. Oleh karena itu perlu ada upaya untuk
meninjau dan mengkaji kembali penyelenggaraan imunisasi di Puskesmas Maesan apakah
sudah memenuhi standar yang ditetapakan oleh pemerintah baik prosedur pelaksanaan
maupun pencapaian targetnya. Maka perlu kiranya upaya monitoring dan evaluasi
penyelenggaraan imunisasi di Puskesmas Maesan secara komprehensif.
Monitoring dan evaluasi sudah dilaksanakan pada akhir tahun 2014 dan menemukan
beberapa permasalahan penting yang harus segera ditindaklanjuti demi perbaikan kinerja
penyelenggaraan imunisasi. Permasalahan utama yang diangkat sebagai prioritas untuk
perbaikan adalah rendahnya angka cakupan imunisasi dasar bayi. Dan melalui pembahasan
yang efektif antara penanggung jawab program imunisasi, tim manajamen mutu, pelaksana
imunisasi dan Kepala Puskesmas, maka ditemukan beberapa penyebab yang mendasari
permasalahan tersebut serta dibuat perencanaan untuk mengatasinya.
Dengan kerja keras semua elemen di Puskesmas serta melibatkan peran serta aktif lintas
sector, masyarakat serta sasaran, maka proses perbaikan tersebut membuahkan hasil yang
membanggakan dengan ditandai oleh meningkatnya angka cakupan imunisasi hingga
melebihi batas minimal yang ditetapkan pemerintah, yaiyu 90% dari jumlah sasaran bayi.
Dengan keberhasilan yang telah dicapai, perlu kiranya upaya untuk menjaga stabilitas
pencapaian tersebut untuk waktu-waktu mendatang. Maka dibuat dan ditetapkanlah standar
baru penyelenggaraan imunisasi di Puskesmas Maesan sebagai pedoman dalam kegiatan
untuk terus menjaga dan meningkatkan angka cakupan imunisasi dengan hasil akhir yang
bisa dinikmati dalam beberapa tahun kedepan, yaitu ttidak terjadinya lagi kejadian PD3I.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Tujuan upaya monitoring evaluasi dan perbaikan kinerja penyelenggaraan kegiatan
imunisasi adalah:
Menemukan permasalahan penyelenggaraan imunisasi di wilayah kerja Puskesmas Maesan
agar dapat diatasi dengan upaya perbaikan yang efektif.

1. Menemukan
1.3 Manfaat
BAB II
HASIL MONITORING DAN EVALUASI HAMBATAN

2.1 Hasil Monitoring


2.1.1 Monitoring Input dan Proses
A. Perencanaan
1. Kegiatan imunisasi di Puskesmas masuk ke dalam Rencana usulan kegiatan (RUK)
puskesmas.
2. Rencana kegiatan imunisasi tidak memfasilitasi kebutuhan masyarakat.
Sebab koordinator imunisasi tidak mengerti cara untuk memfasilitasi kebutuhan
masyarakat.
3. Perencanaan kegiatan Imunisasi melibatkan peran serta lintas sector, lintas program dan
masyarakat serta sasaran.
Yang terlibat antara lain:
a. Perangkat desa
b. Tokoh masyarakat
c. Kader kesehatan
d. Sasaran program
e. PLKB
f. PKK
Yang seharusnya terlibat tapi tidak dilibatkan:
a. KUA
b. Kecamatan
4. Rencana kegiatan imunisasi tidak mengandung unsur inovasi.
Sebab Koordinator imunisasi tidak ada upaya untuk menggali peluang adanya inovasi
dan peran serta aktif masyarakat.
5. Rencana kegiatan imunisasi memiliki jadwal yang jelas dan terintegrasi dengan
kegiatan program lainnya.
6. Pelaksanaan kegiatan sesuai dengan jadwal
7. Sasaran imunisasi ditentukan di awal tahun pada sasaran bayi imunisasi dasar dan Anak
SD untuk imunisasi lanjutan. Sedangkan sasaran WUS tidak ditentukan.
Sasaran Imunisasi Rutin: 635.
Sasaran Anak SD pada imunisasi lanjutan: 1176.
Sasaran Wus tidak ditentukan sebab kurang kerja sama dengan pihak KUA dan
kecamatan.
8. Sasaran Imunisasi Tambahan dan khusus tidak ditentukan.
Sasaran Imunisasi Tambahan dan khusus tidak ditentukan sebab petugas tidak mengerti
cara menentukan sasaran Imunisasi Tambahan dan khusus.
9. Kebutuhan Logistik direncanakan.
Perencanaan vaksin:
a. BCG: 60 x 12 = 660 vial
b. DPT: 80 x 12 = 880 vial
c. Polio: 80 x 12 = 880 vial
d. Campak: 60 x 12 = 660 vial
e. TT: 60 x 12 = 660 vial
f. DT: 100% jumlah murid kelas I, II dan II = 1776.
g. Hb Uniject: 100 x 12 = 1100 vial.
Perencanaan Auto Disable Syringe:
a. Auto Disable Syringe 0,05 = 750
b. Auto Disable Syringe 0,5 = 4500
Perencanaan Safety Box?
12 x 15 = 180 biji.
Perencanaan kebutuhan peralatan Cold Chain: 15 biji.
10. Pendanaan direncanakan dengan menggunakan dana JKN dan BOK.

B. Pengadaan Logistik
1. Logistic yang ada:
a. Vaksin:
BCG, DPT, HB, Polio, Campak, TT, DT, HB Uniject, Pentavalen.
b. Auto Disable Syringe: 250.
c. Safety Box: 25
d. Cold Chain: 2
e. Emergency Kit: 0
2. Distribusi logistic sering terlambat.
Sebab:
a. Stok di Dinas Kesehatan sering kosong
b. Pelaksana vaksin (Bidan dan Perawat Desa) kadang mengambil vaksin tidak
berdasarkan kebutuhan sasaran.
c. Koordinator Imunisasi tidak melakukan kontrol penerimaan logistic dan
pengeluaran logistic.
3. Vaksin disimpan pada suhu 20C s/d 80C pada lemari Es
4. Vaksin Hepatitis B pada Bidan Desa disimpan pada suhu ruangan dan terlindung dari
sinar matahari
5. Ada metode pemakaian vaksin berdasarkan keteterpaparan terhadap panas, masa
kadaluarsa, waktu penerimaan dan pemakaian vaksin sisa berdasarkan metode VVM,
Fifo in out control suhu.
6. Monitoring administrasi dan fisik vaksin dan logistic dilakukan setiap akhir bulan.
7. Hasil monitoring tidak dicatat di kartu stok dan tidak dilaporkan secara berjenjang
bersamaan dengan laporan cakupan imunisasi.
Sebab Dinas kesehatan tidak pernah meminta laporan kartu stok.
8. Ada Lemari es and freezer untuk penyimpanan vaksin dan upaya untuk menjaga
kestabilan suhu.
9. Petugas menggunakan Cold Box pada saat membawa vaksin.
10. Petugas menggunakan Vaksin Carrier untuk membawa/mengirim vaksin dari
puskesmas ke posyandu.
11. Saat membawa/mengirim vaksin menggunakan cold pack.
Cold pack beku disimpan di suhu -150C s/d -250C selama minimal 24 Jam.
Cold pack cair apakah disimpan di suhu +20C s/d +80C selama minimal 24 Jam.
12. Pemeliharaan sarana cold chain dilakukan rutin secara harian, mingguan dan bulanan

C. Tenaga pengelola
1. Ada petugas khusus dalam mengelola imunisasi.
2. Ada petugas khusus dalam mengelola imunisasi yaitu koordinator imunisasi dan
surveilence KIPI namun pendidikan tidak berlatar belakang medis, keperawatan,
kebidanan atau kesehatan lainnya yang kompeten.
3. Koordinator imunisasi dan surveilence KIPI serta pengelola vaksin sudah mendapatkan
pelatihan Imunisasi?
4. Ada kebijakan puskesmas untuk pengembangan pelatihan petugas imunisasi dan
kebijakan tersebut ditindaklanjuti dengan analisis kebutuhan pelatihan dan tindak
lanjutnya.

D. Pelaksanaan Pelayanan Imunisasi Wajib


1. Puskesmas menyelenggarakan pelayanan imunisasi di dalam gedung.
Unit yang menyelenggarakan:
a. Pustu
b. Polindes
c. Unit KIA Puskesmas Maesan
d. Bidan Praktek Swasta.
2. Semua petugas pelaksana vaksinasi berkompeten untuk melakukan vaksinasi
3. Semua petugas pelaksana vaksinasi telah mendapatkan pelatihan untuk melakukan
vaksinasi.
Sebab tidak ada perencanaan pelatihan vaksinasi dari dinas kesehatan ataupun
Puskesmas.
4. Puskesmas tidak memfasilitasi pengadaan logistic untuk Unit Pelayanan Kesehatan
Swasta (UPKS).
Sebab tidak ada kebijakan dari kepala puskesmas untuk memfasulitasi kebutuhan
logistic untuk UPKS.
5. Puskesmas tidak melibatkan peran mitra swasta sebagai provider/pemberi pelayanan
imunisasi untuk melengkapi peralatan sesuai standar minimal.
Sebab tidak ada kebijakan dari kepala puskesmas untuk memfasulitasi kebutuhan
logistic untuk UPKS dan kurangnya kerja sama puskesmas dengan lintas sector.
6. Puskesmas menyelenggarakan pelayanan imunisasi di luar gedung dalam bentuk
posyandu.
7. Petugas pelaksana vaksin sudah memperhatikan:
a. Vaksin sensitive beku
b. Keterpaparan suhu
c. Batas waktu vaksin yang sudah dibuka
d. Pencampuran vaksin dengan pelarut
8. Petugas imunisasi kurang memperhatikan tanggal kadaluarsa sebab koordinator
imunisasi tidak ada inisiatif untuk memperhatikannya.
9. Petugas vaksinasi dalam pemberian imunisasi, menggunakan Auto disable syringe.
10. Petugas vaksinasi selalu tepat dosis, cara pemberian dan tempat pemberian saat
melaksanakan vaksinasi?
11. Petugas vaksinasi selalu memberikan imunisasi dalam rentang minimal 4 minggu.
12. Petugas vaksinasi selalu melaksanakan tindakan aseptik saat pemberian imunisasi.
13. Petugas vaksinasi selalu memperhatikan kontra indikasi saat pemberian imunisasi pada
kelompok resiko.
14. Penyelanggaraan pelayanan imunisasi baik di luar gedung maupun dalam gedung
sesuai dengan jadwal yang telah dibuat.
15. Dalam pelaksanaan imunisasi, pelaksana vaksin juga melakukan penyuluhan imunisasi
namun tidak menggunakan media penyuluhan.

E. Penanganan Limbah Imunisasi


1. Pengelolaan limbah infeksius tidak menggunakan incinerator.
Sebab tidak ada petugas yang terlatih untuk mengoperasikan incinerator.
2. Sebagai alternative juga tidak menggunakan alternative bak beton.
Sebab petugas tidak berinisiatif untuk merencanakan pembuatan bak beton.
3. Sebagai alternative menggunakan bak beton, juga tidak menggunakan alternative
pengelolaan jarum dan pengelolaan syringe.
Sebab petugas tidak berinisiatif untuk merencanakan pembuatan bak beton.
4. Limbah infeksius non tajam berupa sisa vaksin tidak dikeluarkan dari dalam botol atau
ampul dan sampah juga tidak didesinfeksi?
Sebab petugas tidak mengetahui prosedur tersebut.
5. Limbah infeksius non tajam berupa sisa botol atau ampul tidak dimasukkan ke dalam
tempat sampah berwarna kuning untuk selanjutnya dibakar dalam incinerator.
Sebab petugas tidak mengetahui prosedur tersebut.
6. Limbah infeksius non tajam berupa sisa limbah kertas pembungkus alat suntik dan
kardus pembungkus tidak dimasukkan ke dalam tempat sampah berwarna hitam dan
selanjutnya disalurkan ke pemanfaat atau langsung ke TPA.
Sebab petugas tidak mengetahui prosedur tersebut.

F. Pemantauan dan Evaluasi


1. Koordinator Imunisasi melakukan Pemantauan Wilayah Setempat (PWS)
2. Dalam PWS selalu memanfaatkan data yang ada
3. Dalam PWS menggunakan indicator yang sederhana
4. PWS tidak dimanfaatkan untuk pengambilan keputusan setempat
Koordinator Imunisasi tidak mengerti cara memanfaatkan data PWS untuk
pengambilan keputusan setempat dan kurangnya kerja sama lintas program dan lintas
sector.
5. PWS dilaksanakan secara teratur dan tepat waktu
6. PWS tidak dimanfaatkan untuk umpan balik dalam mengambil keputusan dari pada
sekedar laporan
Koordinator Imunisasi tidak mengerti cara memanfaatkan data PWS untuk
pengambilan keputusan setempat.
7. PWS dibuat dan ditampilkan dalam bentuk grafik untuk analisis data.
8. Koordinator imunisasi tidak melakukan evaluasi stok vaksin secara rutin.
Sebab:
a. Koordinator imunisasi tidak punya waktu cukup untuk mengevaluasi stok vaksin
secara rutin sebab merangkap tugas sebagai pengemudi ambulan.
b. Kepala puskesmas tidak menunjuk seorang petugas pengelola vaksin untuk
membantu tugas-tugas koordinator imunisasi.
9. Koordinator imunisasi tidak melakukan Evaluasi Indeks Pemakaian Vaksin tiap jenis
vaksin berdasarkan pencatatan stok setiap bulan.
Sebab Koordinator imunisasi tidak melakukan evaluasi stok vaksin secara rutin
10. Pencatatan suhu lemari es dilakukan 2 kali sehari (siang dan sore).
11. Koordinator imunisasi melakukan evaluasi cakupan imunisasi pertahun (berdasarkan
data sekunder).
12. Koordinator imunisasi tidak melakukan survey cakupan imunisasi.
Sebab:
Koordinator imunisasi tidak mengerti cara melakukan survey cakupan imunisasi.

13. Koordinator imunisasi tidak melakukan survey dampak imunisasi.


Sebab:
Koordinator imunisasi tidak mengerti cara melakukan survey dampak imunisasi.

G. Kejadian Ikutan Paska Imunisasi


1. Petugas imunisasi melakukan pemantauan KIPI namun keterlibatan peran serta aktif
lintas sektor dan lintas program (masyarakat atau petugas lapangan, Supervisor tingkat
Puskesmas, Tim KIPI Kabupaten, Komda PP KIPI, Komnas PP KIPI dan Badan
Pengawas Obat dan makanan) masih lemah.
Sebab koordinasi lintas sector dan lintas program masih lemah.
2. Tidak ada sosialisasi kepada lintas sector dan masyarakat tentang KIPI dalam rangka
kerjasama upaya antisipasi penanggulangan KIPI.
Sebab koordinasi lintas sector dan lintas program masih lemah.
3. Koordinator Imunisasi melakukan upaya-upaya untuk mencegah kejadian KIPI dalam
bentuk sosialisasi kepada pelaksana vaksinasi tentang cara-cara dan prosedur
melakukan vaksinasi yang benar.

H. Pencatatan dan pelaporan?


1. Pencatatan yang ada sebagai berikut:
a. Buku Stok Vaksin
b. Pencatatan Logistik Imunisasi
c. Buku Grafik Suhu
d. Register Kohort Ibu dan Bayi
e. Form Pelaporan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi
f. Hasil Pendataan Sasaran Bayi per Desa
g. Jadwal Pertemuan Rutin Program Imunisasi
h. Data Sasaran
i. Rekap imunisasi di lapangan (Buku Kuning dan Merah)
j. Buku Bantu Pemberian Imunisasi di Komponen Statik
k. Rekap Pencatatan Imunisasi Puskesmas (Buku Biru)

2. Pencatatan yang harus ada namun kenyataannya tidak ada antara lain sebagai berikut:
a. Laporan Uniject Rusak
Sebab koordinator imunisasi tidak pernah melakakukan evaluasi kualitas vaksin.
b. Jadwal Pengambilan Vaksin
Sebab kurang kerja sama antara koordinator imunisasi dengan pelaksana dan
koordinator program UKS.

c. Rekap Imunisasi Anak Sekolah


Sebab kurang kerja sama antara koordinator imunisasi dengan pelaksana dan
koordinator program UKS.

3. Pelaporan yang dilakukan sebagai berikut:


a. Laporan Imunisasi
b. Laporan Hasil Pencapaian UCI
c. Laporan Penerimaan dan Pengiriman Vaksin HB Uniject
d. Laporan Imunisasi HB Uniject
e. Laporan Hasil Imunisasi Bayi
f. Laporan Hasil Perhitungan Bayi yang Mendapat Imunisasi Dasar Lengkap
g. PWS Cakupan Imunisasi pada Bayi Dan Bumil
h. PWS Campak
i. PWS Polio 4
a. Laporan Drop Out (DO) DPT/HB, Campak

4. Laporan yang harus dilakukan namun tidak dilakukan, antara lain sebagai berikut:
b. Laporan Cakupan Imunisasi BIAS Puskesmas
Sebab tidak ada kerja sama antara koordinator imunisasi dengan pelaksana dan
koordinator program UKS.
c. Laporan Cakupan BIAS Campak
Sebab tidak ada kerja sama antara koordinator imunisasi dengan pelaksana dan
koordinator program UKS.
d. Hasil Kegiatan Skrining dan Imunisasi TT WUS per Desa/Kelurahan
Sebab tidak ada kerja sama antara koordinator imunisasi dengan KUA dan
Kecamatan.
e. Laporan Imunisasi di Unit Pelayanan Kesehatan Swasta
Sebab tidak ada kerja sama antara koordinator imunisasi dengan pihak swasta.

5. Apakah ada visualisasi data sebagai berikut:


a. Cakupan Desa/Kelurahan Univrsal Child
b. Imunization (UCI)
c. Grafik Pencapaian Bias Campak Anak Sekolah SD/MI
d. Grafik Pencapaian HB O (0-7) Hari
e. Grafik Pencapaian Polio 1,2,3,4
f. Grafik Pencapaian BCG
g. Grafik Pencapaian DPT/HB 1,2,3
h. Grafik Pencapaian Campak
i. Grafik Pencapaian Hasil Imunisasi Bayi
j. Grafik Pencapaian Hasil Imunisasi Dasar Lengkap
k. Pemetaan Desa UCI
l. Grafik Drop Out DPT/HB (1) – Campak

6. Visualisasi data yang harus ada namun kenyataannya tidak ada, adalah Grafik
Pencapaian BIAS DT/TD Anak Sekolah SD/MI Kelas 1.
Sebab tidak ada kerja sama antara koordinator imunisasi dengan pelaksana dan
koordinator program UKS.

7. Pelaksana vaksin selalu mencatat status imunisasi ke dalam buku Kesehatan Ibu dan
Anak (KIA)
8. Koordinator imunisasi telah menggunakan teknologi atau komputerisasi dalam
pencatatan dan laporan.
9. Hasil pencatatan dan visualisasi data tidak digunakan untuk mengambil keputusan
dalam upaya perbaikan kinerja program.
Sebab petugas tidak mengerti cara mengambil keputusan dalam angka perbaikan
kinerja program.
10. Pencatatan, laporan dan dokumen-dokumen terkait program imunisasi yang ada
dikendalikan dan diarsipkan dengan baik.
2.1.2 Monitoring Output dan Outcome
A. Hasil Cakupan Imunisasi Per Desa

Sumber Pakem
100

90

80

70

60
Presentase

52.63
50 45.26 46.32
41.05 38.95 37.89
40 34.74

30 25.26

20

10

0
POLIO 1 POLIO 2 POLIO 3 POLIO 4 DPT-HB 1 DPT-HB 2 DPT-HB 3 CAMPAK

Maesan
100.00 98.81 100.00
100 95.24 96.43
88.10 89.29 89.29
90

80

70

60
Presentase

50

40

30

20

10

0
POLIO 1 POLIO 2 POLIO 3 POLIO 4 DPT-HB 1 DPT-HB 2 DPT-HB 3 CAMPAK
Pakuniran
100

90
82.83 80.81 81.82
78.79
80
71.72 70.71 72.73
70 65.66

60
Presentase

50

40

30

20

10

0
POLIO 1 POLIO 2 POLIO 3 POLIO 4 DPT-HB 1 DPT-HB 2 DPT-HB 3 CAMPAK

Tanah Wulan
100

90 85.47 84.92 85.47


79.33 81.01
80 74.30 73.74
70 67.04

60
Presentase

50

40

30

20

10

0
POLIO 1 POLIO 2 POLIO 3 POLIO 4 DPT-HB 1 DPT-HB 2 DPT-HB 3 CAMPAK
Sumberanyar
100
90.00
90 86.67
83.33 81.11 81.11 82.22 83.33
80.00
80

70

60
Presentase

50

40

30

20

10

0
POLIO 1 POLIO 2 POLIO 3 POLIO 4 DPT-HB 1 DPT-HB 2 DPT-HB 3 CAMPAK

Penanggungan
100.00 100.00 100.00 100.00
100
92.16 92.16
90
80.39 80.39
80

70

60
Presentase

50

40

30

20

10

0
POLIO 1 POLIO 2 POLIO 3 POLIO 4 DPT-HB 1 DPT-HB 2 DPT-HB 3 CAMPAK
suger lor
100

90

80
68.03 67.21
70

60 54.10
Presentase

51.64
50 44.26
41.80 41.80
40 34.43
30

20

10

0
POLIO 1 POLIO 2 POLIO 3 POLIO 4 DPT-HB 1 DPT-HB 2 DPT-HB 3 CAMPAK

Pujer Baru
100

90 85.23 85.23 85.23 84.66 85.23 85.23 84.66 85.23

80

70

60
Presentase

50

40

30

20

10

0
POLIO 1 POLIO 2 POLIO 3 POLIO 4 DPT-HB 1 DPT-HB 2 DPT-HB 3 CAMPAK
Suco Lor
100
90.37 90.37 88.89
90 86.67
82.96
77.78
80 74.07
70.37
70

60
Presentase

50

40

30

20

10

0
POLIO 1 POLIO 2 POLIO 3 POLIO 4 DPT-HB 1 DPT-HB 2 DPT-HB 3 CAMPAK

Gambangan
100

90
79.00 77.00
80 75.00 76.00
73.00
68.00 66.00
70
61.00
60
Presentase

50

40

30

20

10

0
POLIO 1 POLIO 2 POLIO 3 POLIO 4 DPT-HB 1 DPT-HB 2 DPT-HB 3 CAMPAK
Gunung Sari
100

90
79.95
80 75.81

70 65.21

60 53.92
Presentase

50
39.40
40
29.49
30

20 13.82
10.83
10

0
POLIO 1 POLIO 2 POLIO 3 POLIO 4 DPT-HB 1 DPT-HB 2 DPT-HB 3 CAMPAK

Sumbersari
100 93.51
92.86
88.31 89.61
90 83.77
81.17
78.57 77.92
80

70

60
Presentase

50

40

30

20

10

0
POLIO 1 POLIO 2 POLIO 3 POLIO 4 DPT-HB 1 DPT-HB 2 DPT-HB 3 CAMPAK
B. Hasil Cakupan Imunisasi Kecamatan

Kecamatan
100

90
81.98 81.98
80 74.63 75.20

70 64.75 63.84
60 57.23 56.61
Presentase

50

40

30

20

10

0
POLIO 1 POLIO 2 POLIO 3 POLIO 4 DPT-HB 1 DPT-HB 2 DPT-HB 3 CAMPAK

C. Kesimpulan Monitoring dan Evaluasi Output/Outcome


1. Ada 5 Desa (41,67%) di Kecamatan Maesan yang mencapai target minimal
cakupan imunisasi Polio 1, yaitu: Maesan, Sumbersari, Penanggungan,
Sumberanyar dan Suco Lor.
2. Ada 4 Desa (33,33%) di Kecamatan Maesan yang mencapai target minimal
cakupan imunisasi Polio 2, yaitu: Maesan, Sumbersari, Penanggungan dan Suco
Lor.
3. Ada 2 Desa (16,67%) di Kecamatan Maesan yang mencapai target minimal
cakupan imunisasi Polio 3, yaitu: Maesan dan Penanggungan.
4. Tidak ada satupun Desa (0%) di Kecamatan Maesan yang mencapai target minimal
cakupan imunisasi Polio 4.
5. Ada 2 Desa (16,67%) di Kecamatan Maesan yang mencapai target minimal
cakupan imunisasi DPT-HB1, yaitu: Maesan dan Penanggungan.
6. Ada 2 Desa (16,67%) di Kecamatan Maesan yang mencapai target minimal
cakupan imunisasi DPT-HB2, yaitu: Maesan dan Penanggungan.
7. Tidak ada satupun Desa (0%) di Kecamatan Maesan yang mencapai target minimal
cakupan imunisasi DPT-HB3.
8. Tidak ada satupun Desa (0%) di Kecamatan Maesan yang mencapai target minimal
cakupan imunisasi Campak.
9. Tidak ada satupun Desa (0%) di Kecamatan Maesan yang mencapai target minimal
cakupan imunisasi secara keseluruhan 90%.
10. Kecamatan Maesan secara keseluruhan tidak mencapai target minimal cakupan
imunisasi 90%.

2.1.3 Monitoring Impact (Dampak)


A. Kejadian Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)
Kasus penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi pada tahun 2014 adalah kasus
difteri di desa Gunung Sari pada bulan Desember Tahun 2014 sampai menyebabkan
kematian sehingga menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri.

B. Kejadian Ikutan Paska Imunisasi (KIPI)


KIPI yang terjadi selama tahun 2014 sebanyak 1 kasus yaitu di desa Sumber Pakem.

2.2 Evaluasi Hambatan


2.2.1 Hambatan Non Budaya/Agama
Hambatan non budaya yang terjadi dalam pelaksanaan imunisasi adalah sering ada orang
tua bayi yang tidak mau anaknya diimunisasi oleh karena takut demam setelah imunisasi.

2.2.2 Hambatan Budaya/Agama


Hambatan budaya yang terjadi dalam pelaksanaan imunisasi adalah adanya orang tua bayi
yang tidak mau anaknya diimunisasi oleh karena larangan dari salah satu kepercayaan.
BAB III
ANALISIS DATA

3.1 Identifikasi Masalah


Setelah dilakukan monitoring dan evaluasi hambatan, masalah-masalah utama dapat diidentifikasi sebagai berikut:
1. Cakupan Imunisasi rendah
2. Terjadi kasus penyakit yang dapat diatasi dengan imunisasi (PD3I) sampai terjadi KLB Difteri.
3. Penanganan limbah imunisasi tidak benar
4. Terjadi kasus kejadian ikutan paska imunisasi (KIPI)

Alasan pemilihan 4 (empat) masalah utama di atas adalah sebagai berikut:


No Masalah P (Productivity) Q ( Quality ) C ( Cost ) D ( Delivery ) S ( Safety ) M ( Moral )
1 Cakupan Imunisasi Tidak memenuhi Kualitas pelayanan Beresiko Beresiko gagal Beresiko
rendah target pemerintah imunisasi tidak menyebabkan biaya memberikan menyebabkan
Universal Child memenuhi target yang dikeluarkan keamanan pada penurunan semangat
Immunization (UCI) pemerintah pemerintah masyarakat di bidang kerja karyawan
meningkat apabila kesehatan
terjadi kasus PD3I
2 Terjadi PD3I sampai Gagal Menekan Kualitas pelayanan Biaya yang Gagal memberikan Beresiko
terjadi KLB Difteri. Angka Morbiditas imunisasi tidak dikeluarkan keamanan pada menyebabkan
memenuhi tujuan pemerintah masyarakat di bidang penurunan semangat
utama program meningkat terhadap kesehatan kerja karyawan
imunisasi yaitu penanganan kasus
pencegahan PD3I PD3I
3 Penanganan limbah Gagal Melaksanakan Beresiko Beresiko mengakibatkan Beresiko gagal Beresiko
imunisasi tidak benar Manajemen Resiko menyebabkan pendapatan puskesmas memberikan menyebabkan
Terhadap complain masalah menurun disebabkan keamanan terhadap penurunan semangat
Lingkungan sampah dan limbah angka kunjungan rendah efek sampah dan kerja karyawan
oleh masyarakat oleh karena adanya limbah infeksius
kepada Puskesmas complain pada lingkungan
sekitar
4 Terjadi KIPI Gagal Menjaga Mutu Beresiko Biaya yang Mengakibatkan Beresiko gagal Beresiko
Pencegahan Resiko menyebabkan dikeluarkan pendapatan puskesmas memberikan menyebabkan
Klinis complain masalah pemerintah menurun disebabkan keamanan terhadap penurunan semangat
efek samping meningkat terhadap angka kunjungan rendah efek samping kerja karyawan
pelayanan imunisasi penanganan kasus oleh karena kepercayaan pelayanan imunisasi.
KIPI pelanggan rendah

3.2 Analisis Prioritas Masalah


Masalah yang telah teridentifikasi diprioritaskan dengan metode CARL.
Metode CARL (Capability, Accesibility, Readness, Leverage) dengan menggunakan skore nilai 1 – 5. Kriteria CARL tersebut mempunyai arti:
C : Ketersediaan Sumber Daya (dana dan sarana/peralatan)
A : Kemudahan, masalah yang ada diatasi atau tidak Kemudahan dapat didasarkan pada ketersediaan metode/cara/teknologi serta penunjang pelaksanaan
seperti peraturan atau juklak.
R: Kesiapan dari tenaga pelaksana maupun kesiapan sasaran seperti keahlian/kemampuan dan motivasi
L: Seberapa besar pengaruh kriteria yang satu dengan yang lain dalam pemecahan yang dibahas.
Nilai total merupakan hasil perkalian C x A x R x L, urutan ranking atau prioritas adalah nilai tertinggi sampai nilai terendah.
Tabel Analisis CARL
Masalah C A R L Nilai % ∑% Ranking Prioritas
A 4 4 3 4 192 69.06% 69.06% 1 Ya
B 2 3 3 3 54 19.42% 88.49% 2 Tidak
C 2 2 2 3 24 8.63% 97.12% 3 Tidak
D 1 1 2 4 8 2.88% 100.00% 4 Tidak
Jumlah 278 100.00%

Keterangan:
A: Cakupan Imunisasi rendah
B: Terjadi kasus penyakit yang dapat diatasi dengan imunisasi (PD3I) sampai terjadi KLB Difteri.
C: Penanganan limbah imunisasi tidak benar
D: Terjadi kasus kejadian ikutan paska imunisasi

Berdasarkan analisis prioritas, masalah utama yang akan diatasi oleh Puskesmas Maesan adalah Cakupan Imunisasi rendah.
Target minimal yang ditetapkan oleh pemerintah dalam cakupan imunisasi berdasarkan Peraturan menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 42 tahun
2013 adalah sebesar 90% untuk semua jenis imunisasi dasar bayi yang terdiri dari imunisasi Polio 1, Polio 2, Polio 3, Polio 4, DPT-HB 1, DPT-HB 2, DPT-
HB dan Campak. Maka target perbaikan dalam upaya perbaikan ini sebesar 90% untuk semua jenis imunisasi dasar bayi. Sehingga upaya perbaikan
penyelenggaraan imunisasi dapat disimpulkan sebagai berikut:
“Meningkatkan cakupan imunisasi sampai lebih dari 90% untuk semua jenis imunisasi dasar bayi.”
3.3 Analisis Sebab Akibat
Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi hambatan, maka penyebab dari masalah cakupan imunisasi dasar bayi yang rendah, dapat di analisis sebagai
berikut:
Tabel Analisis Sebab Akibat

No Dampak Masalah Penyebab Penyebab Penyebab Paling Dasar


Utama Intermediate
1 Kasus Cakupan Imunisasi Logistik 1. Pengambilan Vaksin Tidak didasarkan kebutuhan sasaran yang disebabkan oleh:
PD3I Imunisasi tidak sering 2. Meningkatnya kebutuhan sasaran yang disebabkan oleh:
Rendah dilakukan terlambat a. UPKS tidak difasilitasi
saat b. Tidak ada kebijakan kapus untuk memfasilitasi UPKS
posyandu 3. Kurangnya control terhadap logistic yang disebabkan oleh kurangnya pengawasan saat
pengambilan vaksin dan logistic oleh Koordinator Imunisasi sebagai akibat dari:
a. Kartu Stok Jarang diisi sebab koordinator merangkap tugas dan tidak ada petugas
khusus pengelola logistik
b. Koordinator Imunisasi tidak kompeten sebab petugas tidak berlatar belakang medis
atau kesehatan lainnya
c. Koordinator Imunisasi merangkap tugas
d. Tidak ada petugas khusus untuk mengelola vaksin.
4. Vaksin banyak tidak terpakai saat posyandu disebabkan oleh kunjungan posyandu
dipengaruhi musim (musim tanam, musim panen, musim pernikahan dan kegiatan
keagamaan)
No Dampak Masalah Penyebab Penyebab Penyebab Paling Dasar
Utama Intermediate
2 Kasus Cakupan Orang tua Pengetahuan 1. Tingkat pendidikan dan status social ekonomi masyarakat rendah pada beberapa desa
PD3I Imunisasi bayi menolak masyarakat 2. Kurangnya kegiatan promosi kesehatan tentang imunisasi yang disebabkan oleh:
Rendah imunisasi rendah a. Rendahnya ketrampilan pelaksana vaksinasi dalam upaya promosi kesehatan
sebagai akibat dari kurangnya pelatihan promkes
b. Kurangnya media promkes
3 Kasus Cakupan Kurangnya Inisiatif yang Kerja sama lintas sector rendah sebab koordinator imunisasi tidak mempunyai kemampuan
PD3I Imunisasi bantuan rendah dari untuk menjalin komunikasi lintas sector yang disebabkan tidak kompeten di bidangnya.
Rendah pelaksanaan lintas sector
vaksinasi dan
oleh lintas masyarakat
sector dan
masyarakat
4 Kasus Cakupan Vaksin Tidak Tidak Koordinator Imunisasi tidak mengerti cara melakukan survey cakupan & IP disebabkan
PD3I Imunisasi Cukup dilakukannya oleh Koordinator imunisasi tidak kompeten sebagai akibat dari latar belakang pendidikan
Rendah Vaksin (IP) survey bukan kesehatan.
cakupan
imunisasi dan
Indeks
Pemakaian
3.4 Diagram Tulang Ikan
Kurangnya
Kurangnya
Kontrol Tidak
pengawasan Metode
logistik menjalin Petugas tidak
pengambilan vaksin
kerjasa sama kompeten
Imunisasi tidak dilakukan Inisiatif
Kartu Stok Tidak ada
saat posyandu rendah dari
tidak diisi Petugas
Linsek
Khusus Petugas tidak
Vaksin Tidak
pengelola kompeten Bantuan
terpakai Saat
vaksin Linsek tidak
Posyandu
Meningkatnya optimal
kebutuhan Pengunjung
Koordinator Pengambilan
sasaran Posyandu
Imunisasi vaksin tdk
Logistik sering fluktuatif
merangkap Tidak ada berdasar
terlambat tergantung
UPKS tidak kebutuhan
tugas kebijakan Kapus musim tertentu
difasilitasi sasaran Cakupan Imunisasi
Rendah
Petugas tidak Petugas Vaksin
Ortu bayi tidak mau imunisasi anaknya
Tidak
melakukan survey tidak Pengetahuan
cakupan & IP melakukan Cukup masyarakat rendah &
Petugas tidak survey Hambatan Budaya
kompeten cakupan &
Tingkat pendidikan dan
IP
sosek masyarakat
Petugas tidak Kurangnya media
rendah
mengerti cara penyuluhan
melakukan survey Kurangnya pelatihan
cakupan & IP penyuluhan
Kurangnya kegiatan
promkes untuk Rendahnya ketrampilan
Material Manusia imunisasi penyuluhan pelaksana
imunisasi
3.5 Identifikasi Penyebab Prioritas
Berdasarkan analisisis sebab akibat dalam brainstorming antara tim manajemen mutu dengan koordinator UKM dan kepala puskesmas, penyebab masalah
yang prioritas ditetapkan seperti yang tertuang dalam diagram tulang ikan di atas, yaitu antara lain:
1. Koordinator imunisasi tidak kompeten karena tidak berlatar pendidikan kesehatan
2. Kurangnya pelatihan penyuluhan kepada semua pelaksana vaksinasi
3. Kurangnya media penyuluhan untuk imunisasi
4. Tidak ada petugas khusus pengelola logistik imunisasi
5. Pengambilan vaksin dan logistic tidak berdasar kebutuhan sasaran
6. Tidak ada kebijakan kepala puskesmas untuk memfasilitasi UPKS
7. Koordinator imunisasi merangkap tugas sebagai pengemudi ambulan
8. Pengunjung Posyandu Fluktuatif tergantung musim tertentu
Maka 8 penyebab prioritas di atas menjadi focus perbaikan dalam perencanaan perbaikan kinerja penyelenggaraan imunisasi di Puskesmas
Maesan.

Sedangkan penyebab paling dasar tingkat status social ekonomi tidak dijadikan penyebab yang akan di atasi sebab Puskesmas Maesan tidak mempunyai
sumber daya untuk mengatasi permasalahan tersebut.

3.6 Menetapkan Jangka Waktu Perbaikan


Berdasarkan permasalahan dan penyebab yang ditetapkan, jangka waktu yang digunakan untuk perbaikan dan monitoring dampak dibutuhkan waktu 1 bulan.
BAB 4
RENCANA TINDAK LANJUT

4.1 Rencana Perbaikan


Tabel 4.1 Tabel Rencana Perbaikan Berdasarkan Hasil Brainstorming

No Faktor Why What Where When Who How How


Penyebab Much
Dominan
1. Menunjuk Anwar Hidayat, Amd. Kep Sebagai
1. Koordinator Kurangnya Penggantian Puskesmas 1 hari Kepala
Koordinator Imunisasi yang baru menggantikan
imunisasi tidak pengawasan koordinator Maesan Puskesmas
(Tanggal 2
koordinator yang lama.
kompeten karena terhadap logistic Imunisasi
Januari
2. Menetapkan rekomendasi kerja kepada Koordinator
tidak berlatar sehingga vaksin dengan
2015)
Imunisasi untuk melaksanakan tugas perbaikan
pendidikan sering terlambat koordinator
antara lain:
kesehatan. yang berakibat imunisasi yang
a. Melakukan pengawasan pengambilan vaksin
sasaran tidak kompeten
2. Koordinator
dan penggunaan logistic
diimunisasi saat (berlatar
Imunisasi
b. Melaksanakan sosialisasi imunisasi dan
posyandu belakang
merangkap tugas
menjalin kerja sama dengan lintas sector dan
pendidikan
lintas program dalam upaya meningkatkan
kesehatan)
partisipasi lintas sector, lintas program dan

masyarakat dalam penyelenggaraan imunisasi.


c. Melakukan survey cakupan imunisasi dan

Indeks Pemakaian vaksin untuk bahan

perencanaan kebutuhan vaksin.

3. Kurangnya Kurangnya Memberikan Puskesmas 3 hari Koordinator 1. Semua pelaksana vaksinasi mengikuti pelatihan

pelatihan pelatihan pelatihan Maesan Promosi teknik penyuluhan kesehatan selama 3 hari di Aula
(Tanggal 8,
penyuluhan menyebabkan penyuluhan Kesehatan dan Puskesmas Maesan yang dikoordinir oleh
9 dan 10
kepada semua rendahnya kesehatan Pemberdayaan koordinator Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan
Januari
pelaksana efektifitas kepada semua Kesehatan Kesehatan Masyarakat dengan mendatangkan nara
2015)
vaksinasi pendidikan pelaksana Masyarakat sumber dari Dinas Kesehatan.

kesehatan untuk vaksinasi (bidan


2. Fokus utama pelatihan adalah teknik memberikan
mengubah desa, perawat
informasi yang efektif kepada masyarakat dalam
perilaku desa dan bidan
rangka upaya mengubah perilaku kesehatan.
masyarakat KIA)

sehingga banyak

orang tua bayi

yang tidak

bersedia

anaknya

diimunisasi.
4. Kurangnya Kurangnya Melengkapi Puskesmas 3 hari Koordinator 1. Koordinator Promkes dan koordinator imunisasi

media (alat media media Maesan Promosi mendesain media penyuluhan


(Tanggal 4,
bantu) menyebabkan penyuluhan Kesehatan dan
5 dan 6 2. Kepala Puskesmas menetapkan media penyuluhan
penyuluhan rendahnya imunisasi Pemberdayaan
Januari
3. Jumlah media ditetapkan berdasarkan jumlah
imunisasi efektifitas Kesehatan
2015)
posyandu dan UPKS.
vaksinasi pendidikan Masyarakat
4. Staf tata usaha (TU) mencetak media penyuluhan
kesehatan untuk berkoordinasi
(Mencetak sendiri dengan kertas HVS oleh karena
mengubah dengan

perilaku Koordinator belum ada anggaran yang dapat digunakan dalam

waktu dekat).
masyarakat imunisasi

sehingga banyak 5. Sebagian media penyuluhan diusulkan untuk

orang tua bayi mendapatkan dropping dari Dinas kesehatan.

yang tidak
6. Untuk keperluan jangka panjang, penyediaan media
bersedia
penyuluhan menggunakan dana SILPA anggaran
anaknya
JKN tahun 2014 yang diakumulasikan dengan
diimunisasi.
anggaran JKN tahun 2015.

7. Koordinator Imunisasi, Koordinator promkes dan

Tim manajemen mutu membuat Standar Prosedur

Operasional (SPO) penyuluhan imunisasi.


5. Tidak ada Tidak ada Mengangkat Puskesmas 1 hari Kepala 1. Menunjuk Imam Muji Sebagai petugas pengelola

petugas khusus petugas khusus seorang petugas Maesan Puskesmas vaksin.


(Tanggal 2
pengelola pengelola pengelola mengangkat 2. Menetapkan rekomendasi kerja kepada petugas
Januari
logistik vaksin membuat vaksin Imam Muji pengelola vaksin yaitu untuk membantu tugas
2015)
imunisasi koordinator sebagai koordinator imunisasi dalam mengelola vaksin,

tidak mampu pengelola dengan tugas antara lain:

melakukan vaksin untuk a. Melakukan pengawasan pengambilan vaksin

pengawasan membantu dan penggunaan logistic

logistic tugas b. Mengisi kartu stok

sehingga koordinator c. Melakukan perawatan lemari Es dan Cold Box.

logistic sering imunisasi 3. Koordinator imunisasi dan tim manajemen mutu

terlambat atau membuat Standart Prosedur Operasional (SPO)

kehabisan stok pengelolaan vaksin dan logistik.

yang

mengakibatkan

sasaran tidak

diimunisasi saat

posyandu.
1. Mengusulkan ke Dinas Kesehatan agar Puskesmas
6. Tidak ada Tanpa Kepala Puskesmas 1 hari Kepala
dapat memfasilitasi Pengadaan vaksin bagi UPKS
kebijakan memfasilitasi Puskesmas Maesan Puskesmas
(Tanggal 2
2. Jika usulan diterima, Kepala Puskesmas menunjuk
Kepala pengadaan membuat Maesan
Januari s/d
koordinator imunisasi sebagai pelaksana fasilitasi
Puskesmas untuk vaksin bagi kebijakan dengan
10 Januari
pengadaan vaksin bagi UPKS
memfasilitasi UPKS memfasilitasi persetujuan
2015)
3. Koordinator imunisasi melakukan pendataan dan
pengadaan menyebabkan pengadaan dari Dinas
sosialisasi terhadap UPKS yang melakukan
vaksin bagi kebutuhan vaksin bagi Kesehatan
pelayanan imunisasi agar bisa bekerja sama dengan
UPKS vaksin dan UPKS
Puskesmas Maesan dalam pengadaan vaksin
logistic
4. UPKS yang bersedia bekerja sama mengusulkan
meningkat di
kepada Koordinator imunisasi kebutuhan vaksin dan
luar sasaran
logistic berdasarkan rata-rata jumlah imunisasi per
kebutuhan yang
bulan selama satu tahun
menyebabkan
5. Koordinator imunisasi melakukan validasi data
sering
usulan, menghitung kebutuhan UPKS dan
terlambatnya
mengusulkan pengadaan vaksinnya ke dinas
vaksin atau
kesehatan serta melakukan pemantauan berkala
kehabisan stok.
pelaksanaan imunisasi oleh UPKS.

6. Tidak ada pungutan biaya apapun untuk pengadaan

vaksin bagi UPKS.


7. Pengambilan Pengambilan Membuat Puskesmas 1 hari Kepala Kepala Puskesmas Maesan membuat kebijakan

vaksin dan vaksin dan kebijakan dan Maesan Puskesmas pengambilan vaksin berdasarkan kebutuhan sasaran
(Tanggal 2
logistik tidak logistik tidak prosedur Maesan dengan prosedur:
Januari s/d
berdasar berdasar pengambilan dengan
10 Januari 1. Pelaksana vaksin harus membuat usulan kebutuhan
kebutuhan kebutuhan vaksin. persetujuan
2015) vaksin berdasarkan kebutuhan dan perencanaan
sasaran sasaran dari Dinas
pelaksanaan imunisasi selama sebulan kepada
menyebabkan Kesehatan
koordinator imunisasi setiap sebulan sekali
banyak vaksin
2. Koordinator imunisasi melakukan validasi data
terbuang karena
kebutuhan vaksin dan perencanaan pelaksanaan
tidak terpakai
imunisasi
saat posyandu

sehingga 3. Koordinator Imunisasi melakukan monitoring

ketepatan jadwal imunisasi, jumlah vaksin dan


menyebabkan
logistic yang keluar, jumlah cakupan dan
keterlambatan

logistic yang perhitungan indeks pemakaian vaksin.

berakibat

sasaran tidak

diimunisasi saat

posyandu.
8. Pengunjung Pengunjung Mewajibkan Pelaksana 7 hari Pelaksana 1. Sosialisasi kepada pelaksana vaksinasi agar

Posyandu Posyandu pelaksana vaksinasi vaksinasi pelaksana vaksinasi membuat jadwal posyandu
(Tanggal 11
Fluktuatif Fluktuatif vaksinasi untuk selama satu bulan kedepan dengan melibatkan peran
Januari s/d
tergantung tergantung melibatkan serta aktif sasaran agar dapat menjaring kebutuhan
17 Januari
musim tertentu musim tertentu kebutuhan masyarakat. Dengan tujuan agar posyandu
2015).
menyebabkan sasaran dalam dilaksanakan pada hari-hari yang memungkinkan
Untuk
banyak vaksin membuat jadwal sasaran bisa berkunjung ke posyandu.
jangka
tidak terpakai kegiatan
2. Pelaksana vaksinasi melibatkan sasaran dalam
panjang:
sebab jumlah posyandu.
pembuatan jadwal posyandu dan memenuhi
pembuatan
kunjungan
kebutuhan sasaran.
jadwal
sedikit sehingga
posyandu 3. Pelaksana vaksinasi bekerja sama dengan perangkat
berakibat sering
dengan desa, kader dan tokoh masyarakat dalam rangka
terjadi
melibatkan meningkatkan jumlah kunjungan posyandu oleh
keterlambatan
masyarakat sasaran.
vaksin atau
harus
kehabisan stok
dilakukan
vaksin.
tiap bulan.
BAB 5
PELAKSANAAN PERBAIKAN

5.1 Pelaksanaan Perbaikan


Tabel 5.1 Tabel Pelaksanaan Perbaikan

Tanggal
No Perencanaan Jadwal Kriteria Hasil Hasil Kegiatan Kesimpulan Tindak lanjut
Realisasi
1. Dikeluarkan SK Kepala Puskesmas
1. Penggantian Tanggal 2 Tanggal 2 Diangkatnya Penanggung jawab Sesuai dengan Melakukan pemantauan
No ………. Tentang Penetapan
koordinator Januari Januari 2015 program yang baru dan penanggung kriteria hasil terhadap kinerja penanggung
penanggung jawab program
Imunisasi dengan 2015 jawab program yang baru menjalankan jawab program yang baru
imunisasi menggantikan SK
koordinator rekomendasi perbaikan dalam khususnya terhadap
Kepala Puskesmas No
imunisasi yang pengawasan dan kendali logistic rekomendasi yang sudah
……………………
kompeten (berlatar imunisasi serta survey cakupan diberikan.
belakang pendidikan imunisasi. 2. Menetapkan dan menegaskan
kesehatan) uraian tugas penanggung jawab
program yang baru:
a. Melakukan pengawasan
pengambilan vaksin dan
penggunaan logistic
b. Melaksanakan sosialisasi
imunisasi dan menjalin kerja
sama dengan lintas sector dan
lintas program dalam upaya
meningkatkan partisipasi lintas
sector, lintas program dan
masyarakat dalam
penyelenggaraan imunisasi.
c. Melakukan survey cakupan
imunisasi dan Indeks
Pemakaian vaksin untuk bahan
perencanaan kebutuhan vaksin.
2. Memberikan Tanggal 8, Tanggal 8, 9 Semua pelaksana vaksinasi mengikuti 1. Koordinator Promosi Kesehatan Sesuai dengan Melakukan pemantauan
pelatihan 9 dan 10 dan 10 pelatihan teknik promosi kesehatan dan Pemberdayaan Kesehatan kriteria hasil terhadap pelaksana vaksinasi
penyuluhan Januari Januari untuk imunisasi dan dapat Masyarakat memfasilitasi dalam penerapan promosi
kesehatan kepada 2015 2015 menerapkannya di lapangan. pelaksanaan pelatihan bagi seluruh kesehatan yang efektif tentang
semua pelaksana pelaksana vaksinasi tentang teknik imunisasi.
vaksinasi (bidan promosi kesehatan. Nara sumber
desa, perawat desa adalah ………………
dan bidan KIA)
2. Pelaksanaan diikuti oleh semua
pelaksana vaksinasi selama 3 hari
di Aula Puskesmas Maesan yang
dikoordinir oleh koordinator
Promosi Kesehatan dan
Pemberdayaan Kesehatan
Masyarakat dengan mendatangkan
nara sumber dari Dinas Kesehatan.
3. Menetapkan kebijakan kepala
puskesmas tentang kewajiban
pelaksana vaksinasi untuk untuk
menerapkan teknik promosi
kesehatan yang efektif kepada
sasaran program imunisasi
3. Melengkapi media Tanggal 4, Tanggal 4, 5 1. Tersedia media penyuluhan 1. Media penyuluhan sudah dicetak Sesuai dengan 1. Melakukan pemantauan
penyuluhan 5 dan 6 dan 6 imunisasi yang cukup (minimal 3 dan didistribusikan sebanyak 3 x kriteria hasil terhadap pelaksana
imunisasi Januari Januari 2015 media) pada setiap posyandu dan 68 jumlah posyandu serta sudah vaksinasi terhadap
2015 digunakan untuk alat bantu digunakan untuk alat bantu dalam penggunaan media
penyuluhan oleh pelaksana penyuluhan imunisasi oleh penyuluhan dalam rangka
vaksinasi pelaksana vaksinasi. promosi kesehatan yang
efektif tentang imunisasi.
2. Dana SILPA anggaran JKN tahun 2. Anggaran JKN tahun 2015 memuat
2014 yang diakumulasikan dengan penyediaan media penyuluhan 2. Melakukan pemantauan
anggaran JKN tahun 2015 imunisasi. kesesuaian proses
digunakan untuk penyedian media penyuluhan dengan SPO
3. SPO penyuluhan imunisasi dibuat
penyuluhan dalam rangka keperluan penyuluhan imunisasi.
oleh Koordinator Imunisasi,
jagka panjang.
Koordinator promkes dan Tim
3. Koordinator Imunisasi, Koordinator manajemen mutu.
promkes dan Tim manajemen mutu
membuat Standar Prosedur
Operasional (SPO) penyuluhan
imunisasi.
4. Mengangkat seorang Tanggal 2 Tanggal 2 1. Diangkat seorang pengelola vaksin 1. Sudah diangkat pengelola vaksin Sesuai dengan Melakukan pemantauan
petugas pengelola Januari Januari 2015 dengan rekomendasi yang dengan rekomendasi tugas. kriteria hasil kinerja pengelola vaksin dan
vaksin 2015 ditetapkan: keseuaian pengelolaan dengan
2. Dibuat SPO pengelolaan vaksin
a. Melakukan pengawasan SPO
Koordinator imunisasi dan tim
pengambilan vaksin dan
manajemen mutu.
penggunaan logistic
b. Mengisi kartu stok
c. Melakukan perawatan lemari Es
dan Cold Box.
2. Koordinator imunisasi dan tim
manajemen mutu membuat Standart
Prosedur Operasional (SPO)
pengelolaan vaksin dan logistik.
5. Kepala Puskesmas Tanggal 2 Tanggal 2 Semua UPKS terfasilitasi dalam Semua UPKS sudah terfasilitasi dalam Sesuai dengan Melakukan pemantauan
membuat kebijakan Januari s/d Januari s/d penyediaan vaksin. penyediaan vaksin. kriteria hasil terhadap pelaksanaan
memfasilitasi 10 Januari 10 Januari imunisasi pada UPKS dan
Penyediaan vaksin bagi UPKS sesuai Vaksin bagi UPKS sudah dipenuhi dan
pengadaan vaksin 2015 2015 penggunaan serta pengelolaan
dengan kebutuhan dengan data yang sesuai dengan kebutuhan berdasarkan
bagi UPKS vaksin.
sudah tervalidasi. data yang sudah tervalidasi.
6. Membuat kebijakan Tanggal 2 Tanggal 2 Kepala Puskesmas Maesan membuat Ditetapkan SK No ………… tentang Sesuai dengan Melakukan pemantauan
dan prosedur Januari s/d Januari s/d kebijakan pengambilan vaksin pengambilan vaksin berdasarkan kriteria hasil terhadap penerapan kebijakan
pengambilan vaksin. 10 Januari 10 Januari berdasarkan kebutuhan sasaran dengan kebutuhan sasaran. dan prosedur pengambilan
2015 2015 prosedur: vaksin.
a. Pelaksana vaksin harus membuat
usulan kebutuhan vaksin
berdasarkan kebutuhan dan
perencanaan pelaksanaan imunisasi
selama sebulan kepada koordinator
imunisasi setiap sebulan sekali
b. Koordinator imunisasi melakukan
validasi data kebutuhan vaksin dan
perencanaan pelaksanaan imunisasi
c. Koordinator Imunisasi melakukan
monitoring ketepatan jadwal
imunisasi, jumlah vaksin dan
logistic yang keluar, jumlah
cakupan dan perhitungan indeks
pemakaian vaksin.
7. Mewajibkan Tanggal 11 Tanggal 11 Pelaksana vaksinasi melaksanakan Pelaksanaan posyandu sudah dilakukan Sesuai dengan Melakukan pemantauan
pelaksana vaksinasi Januari s/d Januari s/d posyandu berdasarkan jadwal yang berdasarkan jadwal yang dibuat dengan kriteria hasil terhadap pelaksanaan
untuk melibatkan 17 Januari 17 Januari dibuat dengan usulan dari masyarakat, usulan dari masyarakat, lintas sector posyandu apakah sesuai
kebutuhan sasaran 2015 2015 lintas sector dan sasaran. dan sasaran. dengan jadwal yang dibuat
dalam membuat dengan usulan dari
jadwal kegiatan masyarakat, lintas sector dan
posyandu. sasaran.

5.2 Monitoring Dampak


Dampak negatif yang terjadi dalam upaya perbaikan adalah resiko terhadap lingkungan akibat sampah dan limbah vaksin dari UPKS. Dampak tersebut dapat
diatasi dengan berbagai metode:
1. Membuat kebijakan tentang pengelolaan sampah dan limbah imunisasi yang didalamnya memuat pengelolaan limbah infeksius akibat pelaksanaan
imunisasi oleh UPKS.
2. Membuat SPO penanganan sampah dan limbah infeksius UPKS.
3. Menerapkan kebijakan dan SPO penanganan sampah dan limbah infeksius akibat pelaksanaan imunisasi.

Sedangkan dampak positif yang berpotensi terjadi adalah menurunnya angka kesakitan penyakit yang dapat dicegah oleh imunisasi (PD3I) oleh karena
cakupan imunisasi meningkat hingga batas minimal yang dianjurkan oleh pemerintah yaitu 90%. Namun dampak ini dapat terlihat untuk beberapa bulan
hingga beberapa tahun kemudian. Tetapi di pihak lain, oleh karena cakupan imunisasi yang rendah pada periode sebelum perbaikan, maka resiko terjadinya
kasus PD3I sangat besar. Oleh karena itu perlu upaya kewaspadaan dini terhadap kasus-kasus PD3I di wilayah kerja Puskesmas Maesan hingga beberapa
tahun kemudian.
BAB 6

EVALUASI HASIL PERBAIKAN

6.1 Evaluasi Terhadap Penyebab Masalah

Tabel 6.1 Evaluasi Hasil Perbaikan

No Penyebab Kesimpulan Tindak lanjut

1. Koordinator imunisasi tidak Berhasil Lanjutkan pemantauan terhadap kinerja


kompeten karena tidak berlatar Diselesaikan sesuai penanggung jawab program yang baru
pendidikan kesehatan. kriteria hasil khususnya terhadap rekomendasi yang
sudah diberikan.
2. Koordinator Imunisasi merangkap
tugas

3. Kurangnya pelatihan penyuluhan Berhasil Lanjutkan pemantauan terhadap


kepada semua pelaksana vaksinasi Diselesaikan sesuai pelaksana vaksinasi dalam penerapan
kriteria hasil promosi kesehatan yang efektif tentang
imunisasi.

4. Kurangnya media (alat bantu) Berhasil 1. Lanjutkan pemantauan terhadap


penyuluhan imunisasi vaksinasi Diselesaikan sesuai pelaksana vaksinasi terhadap
kriteria hasil penggunaan media penyuluhan
dalam rangka promosi kesehatan
yang efektif tentang imunisasi.
2. Lanjutkan pemantauan kesesuaian
proses penyuluhan dengan SPO
penyuluhan imunisasi.

5. Tidak ada petugas khusus pengelola Berhasil Lanjutkan pemantauan kinerja


logistik imunisasi Diselesaikan sesuai pengelola vaksin dan keseuaian
kriteria hasil pengelolaan dengan SPO

6. Tidak ada kebijakan Kepala Berhasil Lanjutkan pemantauan terhadap


Puskesmas untuk memfasilitasi Diselesaikan sesuai pelaksanaan imunisasi pada UPKS dan
pengadaan vaksin bagi UPKS kriteria hasil penggunaan serta pengelolaan vaksin.

7. Pengambilan vaksin dan logistik Berhasil Lanjutkan pemantauan terhadap


tidak berdasar kebutuhan sasaran Diselesaikan sesuai penerapan kebijakan dan prosedur
kriteria hasil pengambilan vaksin.

8. Pengunjung Posyandu Fluktuatif Berhasil Lanjutkan pemantauan terhadap


tergantung musim tertentu Diselesaikan sesuai pelaksanaan posyandu apakah sesuai
kriteria hasil dengan jadwal yang dibuat dengan
usulan dari masyarakat, lintas sector
dan sasaran.

Kesimpulan:
Setelah dilakukan perbaikan, semua penyebab masalah teratasi.
6.2 Evaluasi Terhadap Masalah
Tabel Evaluasi Perbaikan Terhadap Masalah

SEBELUM PERBAIKAN SESUDAH PERBAIKAN

Sumber Pakem Sumber Pakem


100 100 92.63
90.53
90 90 85.26 83.16 85.26 84.21
80.00 81.05
80 80
70 70
Presentase

Presentase
60 52.63 60
50 45.26 46.32 50
41.05 38.95 37.89
40 34.74 40
30 25.26 30
20 20
10 10
0 0
Maesan Maesan
100.00 100.00 100.00 98.81 97.62 100.00 97.62
100 98.81 100 95.24 95.24 94.05
98 90
96.43
95.24 80
96
70
94

Presentase
60
Presentase

92
50
90 89.29 89.29
88.10 40
88 30
86 20

84 10
0
82
Pakuniran Pakuniran
98.99 97.98 98.99 95.96
100 100 92.93 91.92 92.93 91.92
90 82.83 81.82 90
80.81 78.79
80 71.72 72.73 80
70.71
70 65.66 70

Presentase
60
Presentase

60
50 50
40
40
30
30
20
20
10
10
0
0
Tanah Wulan Tanah Wulan
100 100 96.65 94.97 96.09
93.30 90.50 93.30 92.74
90 85.47 84.92 85.47 90 84.36
79.33 81.01
80 74.30 73.74 80
67.04
70 70
Presentase

60

Presentase
60
50 50
40 40
30 30
20 20
10 10
0
0
Sumberanyar Sumberanyar
100 100 98.89 98.89 98.89
90.00
90 86.67
83.33 81.11 81.11 82.22 83.33 97.78
80.00
80 98
96.67
70
96
Presentase

Presentase
60 94.44
50 94 93.33
40 92.22
30 92
20
90
10
0 88
Penanggungan Penanggungan
100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 97.06 100.00 97.06 100.00
100 92.16 92.16 100 93.14 92.16
90 90
80.39 80.39
80 80
70 70

Presentase
60
Presentase

60
50
50
40
40
30
30
20
20 10
10 0
0
suger lor suger lor
100 100 95.08
88.52 87.70
90 90 85.25
80 80 75.41 74.59 73.77
68.03 71.31
67.21
70 70
Presentase

Presentase
60 51.64 54.10 60
50 41.80 44.26 41.80 50
40 34.43 40
30 30
20 20
10 10
0 0
Pujer Baru Pujer Baru
99.43 97.73 97.16 97.16 98.30 97.73
100 100 95.45 93.18
90 85.23 85.23 85.23 84.66 85.23 85.23 84.66 85.23 90
80 80
70 70
Presentase

Presentase
60 60
50 50
40 40
30 30
20 20
10 10
0 0
Suco Lor Suco Lor
99.26 98.52
100 100 95.56 94.07 95.56
90.37 90.37 88.89 91.11 88.15
86.67 87.41
90 82.96 90
77.78
80 74.07 80
70.37
70 70
Presentase

Presentase
60 60
50 50
40 40
30 30
20 20
10 10
0 0
Gambangan Gambangan
98.00 96.00
100 100 94.00
90.00 89.00 89.00
90 90 85.00
79.00 77.00 81.00
80 75.00 76.00 73.00 80
68.00 66.00
70 61.00 70
Presentase

60

Presentase
60
50 50
40
40
30
30
20
20
10
10
0
0
Gunung Sari Gunung Sari
100 100
88.02
90 90 84.10
79.95
80 75.81 80 75.81
70 65.21 70 65.67
Presentase

53.92

Presentase
60 60 53.92
50 50 44.01
39.40
40 40
29.49 28.34
30 30 25.58
20 13.82 10.83 20
10 10
0 0
Sumbersari Sumbersari
98.05 97.40
100 92.86 93.51 100 94.81 93.51
88.31 89.61 90.91
87.01 87.66 86.36
90 83.77 81.17 90
78.57 77.92
80 80
70 70
Presentase

Presentase
60 60
50 50
40 40
30 30
20 20
10 10
0 0
Kecamatan Kecamatan
100 100 94.41 94.18
87.91 89.32
90 81.98 81.98 90 80.11 80.45
80 74.63 75.20 80 74.46 72.66
70 64.75 63.84 70
57.23 56.61
Presentase

Presentase
60 60
50 50
40 40
30 30
20 20
10 10
0 0

Kesimpulan:
Setelah dilakukan perbaikan, masalah teratasi dengan ditandai oleh:
1. Pencapaian Target Cakupan Imunisasi tidap desa meningkat pada semua indicator, dan pada indicator Polio 1 dan DPT-HB 1 meningkat
hingga lebih dari 90%.
2. Pencapaian Target Cakupan Imunisasi tingkat kecamatan meningkat pada semua indicator, dan pada indicator Polio 1 dan DPT-HB 1
meningkat hingga lebih dari 90%.
BAB 7
MEMBUAT STANDAR BARU

Dengan mempertimbangkan hasil monitoring selama proses perbaikan, hasil perbaikan


serta analisa dampak positif dan negatif, maka Tim Manajemen Mutu membuat Standart Baru
penyelenggaraan Imunisasi. Standart baru tersebut sebagai berikut:

Menetapkan Uraian Tugas Penanggung Jawab Program Imunisasi dan Surveilence KIPI
dan Uraian Tugas Pengelola Vaksin Imunisasi

Tujuan: Menjamin ketersediaan vaksin dan logistic imunisasi sesuai kebutuhan sasaran
Standart Prosedur:
1. Uraian Tugas Penanggung Jawab Program Imunisasi dan Surveilence KIPI
a. Melakukan pengawasan pengambilan vaksin dan penggunaan logistic
b. Melaksanakan sosialisasi imunisasi dan menjalin kerja sama dengan lintas sector dan
lintas program dalam upaya meningkatkan partisipasi lintas sector, lintas program dan
masyarakat dalam penyelenggaraan imunisasi.
c. Melakukan survey cakupan imunisasi dan Indeks Pemakaian vaksin untuk bahan
perencanaan kebutuhan vaksin.

2. Uraian Tugas Pengelola Vaksin Imunisasi


a. Melakukan pengawasan pengambilan vaksin dan penggunaan logistic
b. Mengisi kartu stok
c. Melakukan perawatan lemari Es dan Cold Box.

Standart Hasil:
1. Semua kebutuhan vaksin dan logistic terpenuhi saat pelaksanaan imunisasi.
2. Pelaksanaan imunisasi dalam kegiatan posyandu balita tidak terhambat akibat dari
keterlambatan vaksin atau stok vaksin yang habis.
3. Tidak ada vaksin yang rusak akibat gangguan pada lemari es atau coldbox dan akibat vaksin
kadaluarsa.

Manfaat Penerapan Standar :


1. Pengawasan vaksin dan logistic yang optimal dapat mencegah pemborosan vaksin karena
terbuang akibat tidak terpakai saat posyandu sehingga dapat memberikan jaminan
ketersediaan vaksin saat dibutuhkan.
2. Survey Cakupan Imunisasi dan Indeks Pemakaian vaksin jika dilaksanakan dapat
menentukan jumlah vaksin dan logistic yang dibutuhkan selama periode pelaksanaan
vaksinasi yang telah dijadwalkan, sehingga dapat menjamin ketersediaan vaksin dan logistic
saat dibutuhkan.
3. Ketersediaan vaksin dan logistic pada saat dibutuhkan dapat meningkatkan angka cakupan
imunisasi sehingga memberikan perlindungan kepada masyarakat terhadap ancaman kasus
penyakit yang dapat dicegah oleh imunisasi (PD3I).
4. Perawatan lemari es dan cold box yang baik dapat mencegah kerusakan vaksin sehingga
tidak terjadi pemborosan vaksin yang berakibat kehabisan stok vaksin.
5. Pengawasan tanggal kadaluarsa bermanfaat untuk menentukan prioritas penggunaan vaksin
berdasarkan tanggal kadaluarsa sehingga dapat mencegah vaksin kadaluarsa sebelum
digunakan. Hasil akhirnya adalah dapat mencegah terjadinya pemborosan vaksin yang
berakibat kehabisan stok vaksin.
INSTRUMEN PENYELENGGARAAN IMUNISASI
DI PUSKESMAS MAESAN

I. Perencanaan
1. Apakah kegiatan imunisasi di Puskesmas masuk ke dalam Rencana usulan kegiatan
(RUK) puskesmas?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika ya:
Apakah rencana kegiatan imunisasi memfasilitasi kebutuhan masyarakat?
Jika tidak memfasilitasi kebutuhan masyarakat, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
2. Apakah dalam perencanaan kegiatan Imunisasi melibatkan peran serta lintas sector,
lintas program dan masyarakat serta sasaran?
Jika Ya, sebutkan yang dilibatkan!
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
3. Apakah rencana kegiatan imunisasi mengandung unsur inovasi?
Jika Ya, sebutkan bentuk inovasinya!
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika Ya, Sebutkan inovasi tersebut!
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
4. Apakah rencana kegiatan imunisasi memiliki jadwal yang jelas dan terintegrasi dengan
kegiatan program lainnya?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika Ya, Apakah pelaksanaan kegiatan sesuai dengan jadwal?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
5. Apakah sasaran imunisasi ditentukan?
Jika Tidak, sebutkan alasannya!
Jika Ya:
a. Apakah ditentukan Sasaran Imunisasi Rutin?
Jika Tidak, sebutkan alasannya!
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika Ya:
1) Apakah ditentukan Sasaran Bayi pada Imunisasi Dasar?
Jika Tidak, sebutkan alasannya!
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika Ya, berapa sasarannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
2) Apakah ditentukan Sasaran Anak SD pada Imunisasi Lanjutan?
Jika Tidak, sebutkan alasannya!
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika Ya, berapa sasarannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
3) Apakah ditentukan Sasaran WUS pada Imunisasi lanjutan?
Jika Tidak, sebutkan alasannya!
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika Ya, berapa sasarannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
b. Apakah ditentukan Sasaran Imunisasi Tambahan?
Jika Tidak, sebutkan alasannya!
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika Ya, berapa sasarannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
c. Apakah ditentukan Sasaran Imunisasi Khusus?
Jika Tidak, sebutkan alasannya!
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika Ya, berapa sasarannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
6. Apakah Kebutuhan Logistik Direncanakan?
Jika Tidak, sebutkan alasannya!
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika Ya:
a. Apakah ada perencanaan vaksin?
Jika Tidak, sebutkan alasannya!
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika Ya:
Berapa Kebutuhan Vaksin?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
b. Apakah ada perencanaan Auto Disable Syringe?
Jika Tidak, sebutkan alasannya!
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika Ya:
Berapa Kebutuhan Auto Disable Syringe?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
c. Apakah ada perencanaan Safety Box?
Jika Tidak, sebutkan alasannya!
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika Ya:
Berapa Kebutuhan Safety Box?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
d. Apakah ada perencanaan kebutuhan peralatan Cold Chain?
Jika Tidak, sebutkan alasannya!
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika Ya:
Berapa Kebutuhan Cold Chain?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
7. Apakah Pendanaan sudah direncanakan?
Jika Tidak, sebutkan alasannya!
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika Ya: Dari mana sumber dana? Atau ceritakan!
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..

J. Pengadaan Logistik
13. Sebutkan logistic yang ada!
f. Vaksin: sebutkan semua jenis vaksin!
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
g. Auto Disable Syringe?
h. Safety Box?
i. Cold Chain?
j. Emergency Kit?
14. Apakah distribusi logistic sering terlambat?
Jika Ya, sebutkan apa saja logistic yang sering terlambat dan Distribusi dari mana yang
terlambat! Sebutkan alasannya!
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
15. Apakah vaksin disimpan pada suhu 20C s/d 80C pada lemari Es?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
16. Apakah vaksin Hepatitis B pada Bidan Desa disimpan pada suhu ruangan dan
terlindung dari sinar matahari?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
17. Apakah ada metode pemakaian vaksin berdasarkan keteterpaparan terhadap panas,
masa kadaluarsa, waktu penerimaan dan pemakaian vaksin sisa?
Jika ada, ceritakan!
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
18. Apakah dilakukan monitoring administrasi dan fisik vaksin dan logistic setiap akhir
bulan?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika Ya, apakah hasil monitoring dicatat di kartu stok dan dilaporkan secara berjenjang
bersamaan dengan laporan cakupan imunisasi?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika tidak dicatatat, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
19. Adakah lemari es and freezer untuk penyimpanan vaksin?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika Ya:
Apakah melakukan kegiatan menjaga kestabilan suhu?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
20. Apakah menggunakan Cold Box pada saat membawa vaksin?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
21. Apakah menggunakan Vaksin Carrier untuk membawa/mengirim vaksin dari
puskesmas ke posyandu?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
22. Apakah saat membawa/mengirim vaksin menggunakan cold pack?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika Ya:
Cold pack beku apakah disimpan di suhu -150C s/d -250C selama minimal 24 Jam?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Cold pack cair apakah disimpan di suhu +20C s/d +80C selama minimal 24 Jam?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
23. Apakah melakukan pemeliharaan sarana cold chain (harian, mingguan dan bulanan)?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
K. Tenaga pengelola
5. Apakah ada petugas khusus dalam mengelola imunisasi?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika ada:
a. Apakah ada koordinator imunisasi dan surveilence KIPI?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika ya, apakah pendidikan petugas berlatar belakang medis, keperawatan,
kebidanan atau kesehatan lainnya yang kompeten?

Jika tidak kompeten, apa alasannya?


…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
b. Apakah ada petugas pengelola vaksin?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika ada, berapa orang?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Apakah pendidikan petugas berlatar belakang medis, keperawatan, kebidanan
atau kesehatan lainnya yang kompeten?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika tidak kompeten, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
6. Apakah koordinator imunisasi dan surveilence KIPI serta pengelola vaksin sudah
mendapatkan pelatihan Imunisasi?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika ada, sebutkan pelatihan apa saja! Apakah ada rencana tindak lanjut dan tindak
lanjut terhadap hasil pelatihan?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika tidak ada rencana tindak lanjut atau tindak lanjut, apa alassannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
7. Apakah ada kebijakan puskesmas untuk pengembangan pelatihan petugas imunisasi?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika ada, apakah kebijakan tersebut ditindaklanjuti dengan analisis kebutuhan pelatihan
dan tindak lanjutnya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika tidak ada kebijakan, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
L. Pelaksanaan Pelayanan Imunisasi Wajib
16. Apakah puskesmas menyelenggarakan pelayanan imunisasi di dalam gedung?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika ya:
17. Unit apa saja yang menyelenggarakan?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
18. Apakah semua petugas pelaksana vaksinasi berkompeten untuk melakukan vaksinasi?
Jika tidak, sebutkan dan apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
19. Apakah semua petugas pelaksana vaksinasi telah mendapatkan pelatihan untuk
melakukan vaksinasi?
Jika tidak, sebutkan dan apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
20. Apakah puskesmas memfasilitasi pengadaan logistic untuk Unit Pelayanan Kesehatan
Swasta (UPKS)?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika ya, apakah kebutuhan logistic didasarkan pada analisis kebutuhan (pemakaian
rata-rata bulanan ditambah 25%)
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika tidak berdasarkan analisis, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Apakah puskesmas melakukan monitoring terhadap UPKS?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika ya, apakah terjadwal dan ada petugas khusus untuk melakukan
monitoring?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
21. Apakah puskesmas melibatkan peran mitra swasta sebagai provider/pemberi pelayanan
imunisasi untuk melengkapi peralatan sesuai standar minimal?
Jika Tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
22. Apakah puskesmas menyelenggarakan pelayanan imunisasi di luar gedung?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika Ya:
23. Apakah petugas pelaksana vaksin memperhatikan:
1) Tanggal kadaluarsa?
2) Vaksin sensitive beku?
3) Keterpaparan suhu?
4) Batas waktu vaksin yang sudah dibuka?
5) Pencampuran vaksin dengan pelarut?
24. Apakah dalam pemberian imunisasi, menggunakan Auto disable syringe?
Jika tidak, apa alassannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
25. Apakah petugas imunisasi selalu tepat dosis, cara pemberian dan tempat pemberian
imunisasi?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
26. Apakah petugas imunisasi selalu memberikan imunisasi dalam rentang minimal 4
minggu?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
27. Apakah petugas imunisasi selalu melaksanakan tindakan aspetik saat pemberian
imunisasi?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
28. Apakah petugas imunisasi selalu memperhatikan kontra indikasi saat pemberian
imunisasi pada kelompok resiko?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
29. Jika puskesmas menyelanggarakan pelayanan imunisasi baik luar gedung maupun
dalam gedung, apakah sesuai dengan jadwal yang telah dibuat (jika ada jadwal)?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
30. Apakah dalam pelaksanaan imunisasi, pelaksana vaksin juga melakukan penyuluhan
imunisasi?
Jika tidak, apa alasannya?
Jika ya, apakah menggunakan media penyuluhan (lembar balik, poster, leaflet, dll)?

M. Penanganan Limbah Imunisasi


7. Apakah pengelolaan limbah infeksius menggunakan incinerator?
Jika Ya:
Apakah petugas yang bertanggung jawab pada kegiatan incinerator sudah kompeten
dan terlatih?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika tidak kompeten dan terlatih, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
8. Jika tidak menggunakan incinerator, apakah menggunakan alternative bak beton?
Jika Ya:
Apakah bak beton memenuhi syarat (Ukuran minimal 2 x 2 meter, kedalaman minimal
1,5 meter dan mempunyai penutup kuat dan aman)?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika tidak memenuhi syarat, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
9. Jika tidak menggunakan bak beton, apakah menggunakan alternative pengelolaan jarum
dan pengelolaan syringe?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
10. Apakah limbah infeksius non tajam berupa sisa vaksin dikeluarkan dari dalam botol
atau ampul, kemudian dilakukan desinfeksi?
Jika Tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika Ya, apakah limbah yang sudah didesinfeksi dialirkan ke Instalasi Pembuangan Air
limbah (IPAL)?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
11. Apakah limbah infeksius non tajam berupa sisa botol atau ampul dimasukkan ke dalam
tempat sampah berwarna kuning selanjutnya dibakar dalam incinerator?
Jika Tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
12. Apakah limbah infeksius non tajam berupa sisa limbah kertas pembungkus alat suntik
dan kardus pembungkus dimasukkan ke dalam tempat sampah berwarna hitam dan
selanjutnya disalurkan ke pemanfaat atau langsung ke TPA?
Jika Tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..

N. Pemantauan dan Evaluasi


14. Apakah melakukan Pemantauan Wilayah Setempat (PWS)
Jika tidak, apa alasannya?
Jika ya:
a. Apakah Memanfaatkan data yang ada?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
b. Apakah menggunakan indicator yang sederhana?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
c. Apakah Dimanfaatkan untuk pengambilan keputusan setempat?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
d. Apakah teratur dan tepat waktu?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
e. Apakah dimanfaatkan untuk umpan balik dalam mengambil keputusan dari pada
sekedar laporan?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
f. Apakah dibuat dan ditampilkan dalam bentuk grafik untuk analisis data?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
15. Apakah koordinator imunisasi melakukan Evaluasi stok vaksin?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
16. Apakah koordinator imunisasi melakukan Evaluasi Indeks Pemakaian Vaksin tiap jenis
vaksin berdasarkan pencatatan stok?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika ya, apakah dilakukan setiap bulan?
Jika tidak setiap bulan, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
17. Apakah pencatatan suhu lemari es dilakukan 2 kali sehari (siang dan sore)?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
18. Apakah melakukan evaluasi cakupan pertahun (berdasarkan data sekunder)?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………..
19. Apakah melakukan survey cakupan imunisasi?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………..
20. Apakah melakukan survey cakupan imunisasi?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………..
21. Apakah melakukan survey dampak imunisasi?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………..

O. Kejadian Ikutan Paska Imunisasi


4. Apakah melakukan pemantauan KIPI?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika Ya:
Apakah dalam pemantauan KIPI, melibatkan masyarakat atau petugas lapangan,
Supervisor tingkat Puskesmas, Tim KIPI Kabupaten, Komda PP KIPI, Komnas PP
KIPI dan Badan Pengawas Obat dan makanan?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
5. Apakah melakukan sosialisasi kepada lintas sector dan masyarakat tentang KIPI dalam
rangka kerjasama upaya antisipasi penanggulangan KIPI?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
6. Apakah melakukan upaya-upaya untuk mencegah kejadian KIPI?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..
Jika Ya, sebutkan upaya yang telah dilakukan!
…………………………………………………………………............
…………………………………………………………………………..

P. Pencatatan dan pelaporan?


11. Apakah ada pencatatan sebagai berikut:
d. Buku Stok Vaksin?
e. Pencatatan Logistik Imunisasi?
f. Buku Grafik Suhu?
g. Register Kohort Ibu dan Bayi?
h. Laporan Uniject Rusak?
i. Form Pelaporan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi?
j. Hasil Pendataan Sasaran Bayi per Desa?
k. Jadwal Pengambilan Vaksin?
l. Jadwal Pertemuan Rutin Program Imunisasi?
m. Data Sasaran?
n. Rekap imunisasi di lapangan (Buku Kuning dan Merah)?
o. Rekap Pencatatan Imunisasi Puskesmas (Buku Biru)?
p. Rekap Imunisasi Anak Sekolah?
q. Buku Bantu Pemberian Imunisasi di Komponen Statik?
12. Apakah ada pelaporan sebagai berikut:
f. Laporan Imunisasi?
g. Laporan Hasil Pencapaian UCI?
h. Laporan Cakupan Imunisasi BIAS Puskesmas?
i. Laporan Cakupan BIAS Campak?
j. Laporan Penerimaan dan Pengiriman Vaksin HB Uniject?
k. Laporan Imunisasi HB Uniject?
l. Drop Out (DO) DPT/HB, Campak?
m. Laporan Hasil Imunisasi Bayi?
n. Laporan Hasil Perhitungan Bayi yang Mendapat Imunisasi Dasar Lengkap?
o. PWS Cakupan Imunisasi pada Bayi Dan Bumil?
p. PWS Campak?
q. PWS Polio 4?
r. Hasil Kegiatan Skrining dan Imunisasi TT WUS per Desa/Kelurahan?
s. Laporan Imunisasi di Unit Pelayanan Kesehatan Swasta?
13. Apakah ada visualisasi data sebagai berikut:
m. Cakupan Desa/Kelurahan Univrsal Child
n. Imunization (UCI)?
o. Grafik Pencapaian Bias Campak Anak Sekolah SD/MI?
p. Grafik Pencapaian HB O (0-7) Hari?
q. Grafik Pencapaian Polio 1,2,3,4?
r. Grafik Pencapaian BCG?
s. Grafik Pencapaian DPT/HB 1,2,3?
t. Grafik Drop Out DPT/HB (1) – Campak?
u. Grafik Pencapaian Campak?
v. Grafik Pencapaian Hasil Imunisasi Bayi?
w. Grafik Pencapaian Hasil Imunisasi Dasar Lengkap?
x. Grafik Pencapaian BIAS DT/TD Anak Sekolah SD/MI Kelas 1?
y. Pemetaan Desa UCI?
14. Pada poin 1, 2 dan 3 di atas, apabila tidak ada (satu atau sebagian), sebutkan alasannya!
…………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………..

15. Apakah status imunisasi juga dicatat dalam buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………..
16. Apakah menggunakan teknologi atau komputerisasi dalam pencatatan dan laporan?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………..
17. Apakah hasil pencatatan dan visualisasi data digunakan untuk mengambil keputusan
dalam upaya perbaikan kinerja program?
Jika Ya, sebutkan upaya perbaikannya!
…………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………..
Jika Tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………..
18. Apakah pencatatan, laporan dan dokumen-dokumen terkait program imunisasi
dikendalikan dan diarsipkan dengan baik?
Jika tidak, apa alasannya?
…………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………..