Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Syok adalah sindrom klinis akibat kegagalan sirkulasi dalam mencukupi kebutuhan
oksigen jaringan tubuh. Syok terjadi akibat penurunan perfusi jaringan vital atau
menurunnya volume darah secara bermakna. Syok juga dapat terjadi akibat dehidrasi jika
kehilangan cairan tubuh lebih 20% BB (berat badan) atau kehilangan darah ≥ 20% EBV
estimated blood volume.
Syok dibagi menjadi beberapa kategori berdasarkan penyebab, yaitu: syok
hipovolemik (volume intravaskuler berkurang), syok kardiogenik (pompa jantung
terganaggu), syok obstruksi (hambatan sirkulasi menuju jantung), syok distributive
(vasomotor terganggu) yang terdiri dari syok anafilaktik, syok neurogenic, insufisiensi
adrenal akut, dan syok septik.
Penanganan tahap awal syok adalah untuk mengembalikan perfusi dan oksigenasi
jaringan dengan memulihkan volume sirkulasi intravaskuler. Terapi cairan paling penting
pada syok distributif dan syok hipovolemik, yang paling sering terjadi pada trauma,
perdarahan, dan luka bakar. Pemberian cairan intravena akan memperbaiki volume
sirkulasi intravaskuler, meningkatkan curah jantung dan tekanan darah.
Terapi resusitasi cairan dinyatakan berhasil dengan menilai perbaikan outcome hemo-
dinamik klinis, seperti: MAP (mean arterial pressure) ≥65 mmHg, CVP (central venous
pressure) 8-12 mmHg, Urine output ≥0,5 mL/kgBB/jam, Central venous (vena cava
superior) atau mixed venous oxygen saturation ≥70%, Status mental normal.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, masalah yang akan dibahas pada makalah ini yaitu
“Bagaimanakah konsep syok dalam system kegawatdaruratan?”
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, tujuan dari penyusunan makalah ini yaitu untuk
mengetahui konsep syok dalam system kegawatdaruratan.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Jenis Syok
Syok atau renjatan dapat diartikan sebagai keadaan terdapatya pengurangan yang
sangat besar dan tersebar luas pada kemampuan pengangkutan oksigen serta unsur- unsur

1
gizi lainnya secara efektif ke berbagai jaringan sehingga timbul cidera seluler yang mula-
mula reversible dan kemudian bila keadaan syok berlangsung lama menjadi irreversible.
Syok adalah sindrom klinis akibat kegagalan sirkulasi dalam mencukupi kebutuhan
oksigen jaringan tubuh. Syok terjadi akibat penurunan perfusi jaringan vital atau
menurunnya volume darah secara bermakna. Syok juga dapat terjadi akibat dehidrasi jika
kehilangan cairan tubuh lebih 20% BB (berat badan) atau kehilangan darah ≥ 20% EBV
estimated blood volume. Secara umum, syok dibagi menjadi beberapa kategori berdasarkan
penyebab, yaitu:
1. Hipovolemik (volume intravaskuler berkurang)
Syok hipovolemik terjadi karena volume intravaskuler berkurang akibat
perdarahan, kehilangan cairan akibat diare, luka bakar, muntah, dan third space loss,
sehingga menyebabkan pengiriman oksigen dan nutrisi ke sel tidak adekuat. Beberapa
perubahan hemodinamik yang terjadi pada kondisi syok hipovolemik adalah CO
(cardiac output) ↓, BP (blood pressure) ↓, SVR (systemic vascular resistance) ↑, dan
CVP (central venous pressure)↓.
Terapi syok hipovolemik bertujuan untuk restorasi volume intravaskuler, dengan
target utama mengembalikan tekanan darah, nadi, dan perfusi organ secara optimal.
Bila kondisi hipovolemia telah teratasi dengan baik, selanjutnya pasien dapat diberi
agen vasoaktif, seperti dopamine, dobutamine.
Penanganan syok hipovolemik adalah sebagai berikut:
a. Tentukan defisit cairan
b. Atasi syok: cairan kristaloid 20 mL/kgBB dalam ½ - 1 jam, dapat diulang
c. Sisa defisit: 50% dalam 8 jam pertama, 50% dalam 16 jam berikutnya
d. Cairan RL atau NaCl 0,9%
e. Kondisi hipovolemia telah teratasi, apabila produksi urin: 0,5 – 1 mL/kgBB/jam

2. Kardiogenik (pompa jantung terganggu)


Syok kardiogenik terjadi apabila terdapat gangguan kontraktilitas miokardium,
sehingga jantung gagal berfungsi sebagai pompa untuk mempertahankan curah jantung
yang adekuat. Disfungsi ini dapat terjadi pada saat sistolik atau diastolik atau dapat
terjadi akibat obstruksi pada sirkulasi jantung.
Terapi syok kardiogenik bertujuan untuk memperbaiki fungsi miokardium dan
sirkulasi. Beberapa perubahan hemodinamik yang terjadi pada kondisi syok
kardiogenik adalah CO↓, BP↓, SVR↑, dan CVP↑.
Penanganan yang dapat dilakukan untuk mengatasi syok kardiogenik adalah
sebagai berikut:

2
a. Infus cairan untuk memperbaiki sirkulasi
b. Inotropik
c. Apabila CO↓, BP↓, SVR↑, berikan dobutamine 5 μg/kg/min
d. Pada keadaan tekanan darah sangat rendah harus diberi obat yang berefek
inotropik dan vasopressor, seperti norepinephrine
3. Obstruktif (hambatan sirkulasi menuju jantung)
Syok obstruktif terjadi apabila terdapat hambatan aliran darah yang menuju
jantung (venous return) akibat tension pneumothorax dan cardiac tamponade.
Beberapa perubahan hemodinamik yang terjadi pada syok obstruktif adalah CO↓, BP↓,
dan SVR↑.
Penanganan syok obstruktif bertujuan untuk menghilangkan sumbatan; dapat
dilakukan sebagai berikut:
a. Pemberian cairan kristaloid isotonic untuk mempertahankan volume intravaskuler
b. Pembedahan untuk mengatasi hambatan/obstruksi sirkulasi
4. Distributif (vasomotor terganggu)
Syok distributif apabila terdapat gangguan vasomotor akibat maldistribusi aliran
darah karena vasodilatasi perifer, sehingga volume darah yang bersirkulasi tidak
adekuat menunjang perfusi jaringan. Vasodilatasi perifer dapat menyebabkan
hipovolemia.

Beberapa syok yang termasuk dalam golongan syok distributif ini antara lain:
a. Syok Anafilaktik
Syok anafilaktik adalah syok yang disebabkan reaksi antigen-antibodi
(antigen IgE). Antigen menyebabkan pelepasan mediator kimiawi endogen,
seperti histamin, serotonin, yang menyebabkan peningkatan permeabilitas
endotelial vaskuler disertai bronkospasme. Gejala klinis dapat berupa pruritus,
urtikaria, angioedema, palpitasi, dyspnea, dan syok.
Terapi syok anafilaktik:
1) Baringkan pasien dengan posisi syok (kaki lebih tinggi)
2) Adrenaline: Dewasa 0,3-0,5 mg SC (subcutaneous); anak 0,01 mg/kgBB SC
(larutan 1:1000)
3) Fungsi adrenaline: meningkatkan kontraktilitasmiokard, vasokonstriksi
vaskuler, meningkatkan tekanan darah dan bronkodilatasi
4) Pasang infus RL
5) Kortikosteroid: dexamethasone 0,2 mg/kgBB IV (intravena)
6) Bila terjadi bronkospasme dapat diberi aminophyline 5-6 mg/kgBB IV bolus
secara perlahan, dilanjutkan dengan infus 0,4-0,9 mg/kgBB/menit
b. Syok Neurogenik

3
Umumnya terjadi pada kasus cervical atau high thoracic spinal cord injury.
Gejala klinis meliputi hipotensi disertai bradikardia. Gangguan neurologis akibat
syok neurogenic dapat meliputi paralisis flasid, reflex ekstremitas hilang dan
priapismus.
Penanganan syok neurogenik:
1) Resusitasi cairan secara adekuat
2) Berikan vasopressor
c. Insufisiensi Adrenal Akut
Insufisiensi adrenal akut dapat disebabkan oleh beberapa hal, seperti:
Kegagalan adrenal gland: penyakit autoimun, adrenal hemorrhagic, infeksi HIV,
penggunaan ketoconazole dosis tinggi, meningococcemia, penyakit
granulomatous. Kegagalan hypothalamic/pituitary axis: efek putus obat dari terapi
glucocorticoid
Gejala klinisnya antara lain hiperkalemia, hiponatremia, asidosis,
hipoglikemia, azotemia prarenal. Kelompok pasien yang memiliki risiko tinggi
insufisiensi adrenal akut adalah pasien dengan sepsis, penggunaan antikoagulan
pascaCABG (coronary artery bypass graft), putus obat pada terapi glukokortikoid
dalam jangka 12 bulan, HIV AIDS, tuberkulosis diseminata. Gejala umumnya
meliputi lemah, mual/muntah, nyeri abdominal, hipotensi ortostatik, hipotensi
refrakter terhadap resusitasi volume atau agen vasopressor, dan demam.
Terapi:
1) Infus D5% atau NS untuk mempertahankan tekanan darah
2) Dexamethasone 4 mg IV , dilanjutkan dengan 4 mg tiap 6 jam
3) Atasi faktor pencetus
4) Bila diagnosis telah pasti, dapat diberikan hydrocortisone 100 mg setiap 8
jam atau infus kontinu 300 mg/24 jam
5) Ambil sampel darah, periksa elektrolit dan kortisol
d. Syok Septik
Syok septik adalah sepsis yang disertai hipotensi (tekanan sistolik <90
mmHg) dan tanda-tanda hipoperfusi meskipun telah dilakukan resusitasi cairan
secara adekuat. Syok septik merupakan salah satu penyebab kematian utama pada
unit perawatan intensif.
Patofisiologi:
Vasodilatasi akibat menurunnya SVR
Kebocoran kapiler difus disebabkan peningkatan permeabilitas endothelial
vaskuler yang menyebabkan penurunan preload bermakna, sehingga berdampak
perburukan perfusi jaringan

4
Penanganan syok septik antara lain:
1) Pemberian antibiotik, umumnya dengan golongan spektrum luas
2) Perbaiki dan mempertahankan hemodinamik dengan terapi berikut:
a) Terapi cairan: Meskipun syok septik tergolong dalam syok hiperdinamik
(terjadi hipovolemi relatif akibat vasodilatasi dan hipovolemi absolut
akibat kebocoran kapiler), cairan yang direkomendasikan tetap cairan
kristaloid
b) Vasopressor: Norepinephrine
c) Inotropik: Dobutamine
d) Oksigen
B. Pengkajian Syok (Setiawan)
1. Tahap awal: kehilangan volume cairan sebanyak <15 % = <750 ml. Meknisme
kompensasi dengan meningkatkan co, pasien belum menunjukkan gejala.
2. Tahap komensatori :Kehilangan volume cairan sebanyak >15 – 30 % = >750 - 1500
ml. Hr meningkat akibat rangsangan saraf simpatis. Tekanan darah dan nadi meningkat
meningkat karena vasokonstriksi pembuluh darah. Frekuensi dan kedalaman
pernafasan meningkat untuk meningkatkan oksigenasi. Alkalosis respiratorik & dan
hipoksemia → paco2 dan pao2 menurun. Urine output berkurang. Kulit pucat dan
dingin crt < 2 detik. Penurunan tingkat kesadaran, disorientasi, bingung, gelisah,
cemas dan irritable.
3. Tahap progresif: kehilangan volume cairan 30 - 40% atau >1500 – 2000 ml. Hr
meningkat, dysrythmia → mci. Respiratory distress. Analisa gas darah → acidosis
metabolik dan respiratorik, hypoxemia, paco2 meningkat, bikarbonat (hco3-)
menurun, pao2 menurun. Oliguria: < 100 cc. Bun dan kretinin serum meningkat. Kulit
dingin dan berkeringat CRT lambat. Lethargi
4. Tahap refraktori: kehilangan volume cairan > 40 % (>2000 ml). Mekanisme
kompensasi seluruhnya menurun, takikardi hebat dan hipotensi terjadi, pola perifer
tidak ada, CRT tidak ada, sianosis, diaphoresi
C. Pengelolaan Syok
Tujuan penanganan tahap awal adalah untuk mengembalikan perfusi dan oksigenasi
jaringan dengan memulihkan volume sirkulasi intravaskuler. Terapi cairan paling penting
pada syok distributif dan syok hipovolemik, yang paling sering terjadi pada trauma,
perdarahan, dan luka bakar. Pemberian cairan intravena akan memperbaiki volume
sirkulasi intravaskuler, meningkatkan curah jantung dan tekanan darah.

5
Cairan kristaloid umumnya digunakan sebagai terapi lini pertama, dapat dilanjut- kan
dengan cairan koloid apabila cairan kristaloid tidak adekuat atau membutuhkan efek
penyumbat untuk membantu mengurangi perdarahan. Cairan kristaloid yang umum
digunakan sebagai cairan resusitasi pada syok adalah RL , NaCl 0,9% den dextrose 5%.
Terapi pada syok antara lain:
1. Tentukan defisit cairan.
2. Atasi syok: berikan infus RL (jika terpaksa NaCl 0,9%) 20 mL/kgBB dalam ½-1 jam,
dapat diulang. Apabila pemberian cairan kristaloid tidak adekuat/gagal, dapat diganti
dengan cairan koloid, sepert HES, gelatin, dan albumin.
3. Bila dosis maksimal, cairan koloid tidak dapat mengoreksi kondisi syok, dapat diberi
noradrenaline, selanjutnya apabila tidak terdapat perbaikan, dapat ditambahkan
dobutamine.
4. Sisa defisit 8 jam pertama: 50% defisit + 50% kebutuhan rutin; 16 jam berikutnya :
50% defisit + 50% kebutuhan rutin.
5. Apabila dehidrasi melebihi 3-5% BB, periksa kadar elektrolit; jangan memulai
koreksi defisit kalium apabila belum ada diuresis.
Langkah pertolongan pertama dalam menangani syok
1. Posisi Tubuh
a. Posisi tubuh penderita diletakkan berdasarkan letak luka. Secara umum posisi
penderita dibaringkan telentang dengan tujuan meningkatkan aliran darah ke
organ-organ vital.
b. Apabila terdapat trauma pada leher dan tulang belakang, penderita jangan
digerakkan sampai persiapan transportasi selesai, kecuali untuk menghindari
terjadinya luka yang lebih parah atau untuk memberikan pertolongan pertama
seperti pertolongan untuk membebaskan jalan napas.
c. Penderita yang mengalami luka parah pada bagian bawah muka, atau penderita
tidak sadar, harus dibaringkan pada salah satu sisi tubuh (berbaring miring) untuk
memudahkan cairan keluar dari rongga mulut dan untuk menghindari sumbatan
jalan nafas oleh muntah atau darah. Penanganan yang sangat penting adalah
meyakinkan bahwa saluran nafas tetap terbuka untuk menghindari terjadinya
asfiksia.
d. Penderita dengan luka pada kepala dapat dibaringkan telentang datar atau kepala
agak ditinggikan. Tidak dibenarkan posisi kepala lebih rendah dari bagian tubuh
lainnya.

6
e. Kalau masih ragu tentang posisi luka penderita, sebaiknya penderita dibaringkan
dengan posisi telentang datar.
f. Pada penderita-penderita syok hipovolemik, baringkan penderita telentang dengan
kaki ditinggikan 30 cm sehingga aliran darah balik ke jantung lebih besar dan
tekanan darah menjadi meningkat. Tetapi bila penderita menjadi lebih sukar
bernafas atau penderita menjadi kesakitan segera turunkan kakinya kembali.
2. Pertahankan Respirasi
a. Bebaskan jalan napas. Lakukan penghisapan, bila ada sekresi atau muntah.
b. Tengadah kepala-topang dagu, kalau perlu pasang alat bantu jalan nafas
(Gudel/oropharingeal airway).
c. Berikan oksigen 6 liter/menit
d. Bila pernapasan/ventilasi tidak adekuat, berikan oksigen dengan pompa sungkup
(Ambu bag) atau ETT.
3. Pertahankan Sirkulasi
Segera pasang infus intravena. Bisa lebih dari satu infus. Pantau nadi, tekanan
darah, warna kulit, isi vena, produksi urin, dan (CVP).
D. Terapi Cairan
Terapi cairan ialah tindakan untuk memelihara, mengganti cairan tubuh dalam batas-
batas fisiologis dengan cairan infus kristaloid (elektrolit) atau koloid (plasma ekspander)
secara intravena. Terapi cairan berfungsi untuk mengganti defisit cairan saat puasa sebelum
dan sesudah pembedahan, mengganti kebutuhan rutin saat pembedahan, mengganti
perdarahan yang terjadi, dan mengganti cairan yang pindah ke rongga ketiga
1. Terapi cairan resusitasi
Terapi cairan resusitasi ditujukan untuk menggantikan kehilangan akut cairan
tubuh atau ekspansi cepat dari cairan intravaskuler untuk memperbaiki perfusi
jaringan. Misalnya pada keadaan syok dan luka bakar. Terapi cairan resusitasi dapat
dilakukan dengan pemberian infus Normal Saline (NS), Ringer Asetat (RA), atau
Ringer laktat (RL) sebanyak 20 ml/kg selama 30-60 menit. Pada syok hemoragik bisa
diberikan 2-3 L dalam 10 menit.

Target Akhir Resusitasi


Resusitasi dikatakan berhasil jika mampu memenuhi kriteria sebagai berikut :
a. Tekanan darah, laju nadi, produksi urin kembali ke batas normal.
b. Volume sirkulasi tercukupi.
c. Volume cairan di tiap kompartemen tercukupi.
d. Parameter hemodinamik kembali normal.

7
e. Hantaran oksigen maksimal.
f. Asidosis jaringan teratasi, metabolism tubuh kembali ke aerob, kekurangan
oksigen tergantikan.
2. Terapi rumatan
Terapi rumatan bertujuan memelihara keseimbangan cairan tubuh dan nutrisi.
Orang dewasa rata-rata membutuhkan cairan 30-35 ml/kgBB/hari dan elektrolit utama
Na+=1-2 mmol/kgBB/haridan K+= 1mmol/kgBB/hari. Kebutuhan tersebut merupakan
pengganti cairan yang hilang akibat pembentukan urine, sekresi gastrointestinal,
keringat (lewat kulit) dan pengeluaran lewat paru atau dikenal dengan insensible water
losses.
Jenis-Jenis Cairan
1. Cairan Kristaloid
Cairan ini mempunyai komposisi mirip cairan ekstraseluler (CES = CEF). Cairan
kristaloid bila diberikan dalam jumlah cukup (3-4 kali cairan koloid) ternyata sama
efektifnya seperti pemberian cairan koloid untuk mengatasi defisit volume
intravaskuler. Waktu paruh cairan kristaloid di ruang intravaskuler sekitar 20-30 menit.
Larutan Ringer Laktat merupakan cairan kristaloid yang paling banyak digunakan
untuk resusitasi cairan walau agak hipotonis dengan susunan yang hampir menyerupai
cairan intravaskuler. Laktat yang terkandung dalam cairan tersebut akan mengalami
metabolisme di hati menjadi bikarbonat. Cairan kristaloid lainnya yang sering
digunakan adalah NaCl 0,9%, tetapi bila diberikan berlebih dapat mengakibatkan
asidosis hiperkloremik (delutional hyperchloremic acidosis) dan menurunnya kadar
bikarbonat plasma akibat peningkatan klorida.
Karena perbedaan sifat antara koloid dan kristaloid dimana kristaloid akan lebih
banyak menyebar ke ruang interstitiel dibandingkan dengan koloid maka kristaloid
sebaiknya dipilih untuk resusitasi defisit cairan di ruang interstitiel.
Pada suatu penelitian mengemukakan bahwa walaupun dalam jumlah sedikit
larutan kristaloid akan masuk ruang interstitiel sehingga timbul edema perifer dan paru
serta berakibat terganggunya oksigenasi jaringan dan edema jaringan luka, apabila
seseorang mendapat infus 1 liter NaCl 0,9Selain itu, pemberian cairan kristaloid
berlebihan juga dapat menyebabkan edema otak dan meningkatnya tekanan intra
kranial.
2. Cairan Koloid
Disebut juga sebagai cairan pengganti plasma atau biasa disebut “plasma
substitute” atau “plasma expander”. Di dalam cairan koloid terdapat zat/bahan yang

8
mempunyai berat molekul tinggi dengan aktivitas osmotik yang menyebabkan cairan
ini cenderung bertahan agak lama (waktu paruh 3-6 jam) dalam ruang intravaskuler.
Oleh karena itu koloid sering digunakan untuk resusitasi cairan secara cepat terutama
pada syok hipovolemik/hermorhagik atau pada penderita dengan hipoalbuminemia
berat dan kehilangan protein yang banyak (misal luka bakar).

BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Terdapat beberapa jenis syok berdasarkan penyebabnya. Secara umum syok
merupakan kegagalan sirkulasi dan perfusi jaringan yang umumnya disebabkan karena
kehilangan/gangguan volume cairan intravaskuler, ditandai gejala klinis seperti takikardi,
hipotensi, dan penurunan kesadaran. Tujuan penanganan syok tahap awal adalah untuk
mengembalikan perfusi dan oksigenasi jaringan dengan mengembalikan volume sirkulasi
intravaskuler. Terapi cairan merupakan terapi paling penting pada syok distributif dan syok
hipovolemik. Penanganan syok secara dini dapat berdampak sangat bermakna pada
perbaikan outcome klinis. Keberhasilan resusitasi syok dinilai berdasarkan perbaikan
hemodinamik, seperti MAP, CVP, urine output, saturasi vena sentral, dan status mental.

B. Saran
Dengan mempelajari materi ini mahasiswa keperawatan yang nantinya menjadi
seorang perawat professional agar dapat lebih peka terhadap tanda dan gejala ketika
menemukan pasien yang mengalami syock sehingga dapat melakukan pertolongan segera.
Mahasiswa dapat melakukan tindakan-tindakan emergency untuk melakukan
pertolongan segera kepada pasien yang mengalami syock.

9
10