Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Termoregulasi adalah suatu mekanisme makhluk hidup untuk mempertahankan suhu internal agar
berada di kisaran yang dapat ditolerir ( Camphbel, 2004 ). Berdasarkan Tobin ( 2005 ), suhu berpengaruh
pada tingkat metabolisme. Suhu yang tinggi akan menyebabkan aktivitas molekul molekul semakin
tinggi karena energi kinetiknya makin besar dan kemungkinan terjadinya tumbukan antara molekul satu
dengan molekul lain semakin besar pula ( Chang, 1996 ). Akan tetapi, kenaikan aktivitas metabolisme
hanya akan bertambah seiring dengan kenaikan suhu hingga batas tertentu saja. Hal ini disebabkan
metabolisme di dalam tubuh di atur oleh enzim ( salah satunya ) yang memiliki suhu optimum dalam
bekerja. Jika suhu lingkungan atau tubuh meningkat atau munurun drastis, enzim enzim tersebut dapat
terdenaturasi dan kehilangan fungsinya.
Di dalam tubuh organisme ( tingkat individu ) pasti ada mekanisme regulasi untuk mencapai keadaan
yang hemeostatic. Hemeostatic pada dasarnya merupakan suatu upaya mempertahankan atau menciptakan
kondisi yang stabil dinamis ( steady state ) yang menjamin optimalisasi berbagai proses aktivitas
regulasi, sebagai mekanisme untuk mencapai hemeostatis yang diharapkan. Regulasi dan Hemeostatis
juga terjadi di tingkat populasi dan komunitas dalam suatu ekosistem.
Regulasi merupakan suatu proses untuk mencapai keadaan yang stabil. Regulasi dilakukan dalam
banyak bentuk, misalnya regulasi untuk mempertahankan cairan tubuh, osmolaritas tubuh, keasaman,
suhu, kadar lemak, gula, dan protein darah, dll. Pada tubuh manusia, regulasi diperankan antara lain
adalah syaraf dan hormone. Karena kedua komponen merupakan pengendali utama dalam proses regulasi
dalam tubuh. Pengaturan suhu tubuh ( termoregulasi ), pengaturan cairan tubuh, dan ekskresi adalah
elemen elemen dari homeostatis. Pada topik yang di bahas yang mengenai termoregulasi ( pengaturan
suhu tubuh ) beruang tubuh.

BAB II

PEMBAHASAN
A. Pengertian Termoregulasi

Termoregulasi adalah Suatu pengaturan fisiologis tubuh manusia mengenai keseimbangan


produksi panas dan kehilangan panas sehingga suhu tubuh dapat dipertahankan secara konstan.
Keseimbangan suhu tubuh diregulasi oleh mekanisme fisiologis dan prilaku. Agar suhu tubuh
tetap konstan dan berada dalam batasan normal, hubungan antara prodksi panas dan pengeluaran
panas harus dipertahankan. Hubungan diregulasi melalui mekanisme neurologis dan
kardiovaskular. Perawat menerapkan pengetahuan mekanisme kontrol suhu untuk meningkatkan
regulasi suhu.
Hipotalamus yang terletak antara hemisfer serebral, mengontror suhu tubuh sebagaimana
kerja termostat dalam rumah. Hipotalamus merasakan perubahan ringan pada suhu tubuh.
Hipotalamus anterior mengontror pengeluaran panas, dan hipotalamus posterior mengontror
produksi panas.
B. Faktor - faktor yang mempengaruhi termoregulasi

Banyak faktor yang mempengaruhi suhu tubuh. Perubahan pada suhu tubuh dalam rentang
normal terjadi ketika hubungan antara produksi panas dan kehilangan panas diganggu oleh
variabel fisiologis atau prilaku. Berikut adalah faktor yang mempengarui suhu tubuh :
a. Usia
Pada saat lahir, bayi meninggalkan lingkungan yang hangat, yang relatif konstan, masuk
dalam lingkungan yang suhunya berfluktuasi dengan cepat.suhu tubuh bayi dapat berespon
secara drastis terhadap perubahan suhu lingkungan. Bayi baru lahir mengeluaran lebih dari 30%
panas tubuhnya melalui kepala oleh karena itu perlu menggunakan penutup kepala untuk
mencegah pengeluaran panas. Bila terlindung dari ingkungan yang ektrem, suhu tubuh bayi
dipertahankan pada 35,5 C sampai 39,5C. Produksi panas akan meningkat seiring dengan
pertumbuhan bayi memasuki anak-anak. Perbedaan secara individu 0,25C sampai 0,55 C
adalah normal (Whaley and Wong, 1995).
Regulasi suhu tidak stabil sampai pubertas. Rentang suhu normal turun secara berangsur
sanpai seseorang mendekati masa lansia. Lansia mempunyai rentang suhu tubuh lebih sempit
daripada dewasa awal. Suhu oral 35 C tidak lazim pada lansia dalam cuaca dingin. Nmun

rentang shu tubuh pada lansia sekitar 36 C. Lansia terutama sensitif terhadap suhu yang ektrem
karena kemunduran mekanisme kontrol, terutama pada kontrol vasomotor ( kontrol
vasokonstriksi dan vasodilatasi), penurunan jumlah jaringan subkutan, penurunan aktivitas
kelenjr keringat dan penurunan metabolisme.
b. Olahraga
Aktivitas otot memerlukan peningkatan suplai darah dalam pemecahan karbohidrat dan
lemak. Hal ini menyebabkan peningkatan metabolisme dan produksi panas. Segala jenis olahraga
dapat meningkatkan produksi panas akibatnya meningkatkan suhu tubuh. Olahraga berat yang
lama, seperti lari jaak jauh, dapat meningatkan suhu tubuh untuk sementara sampai 41 C.
c. Kadar hormon
Secara umum, wanita mengalami fluktuasi suhu tubuh yang lebih besar dibandingkan pria.
Variasi hormonal selama siklus menstruasi menyebabkan fluktuasi suhu tubuh. Kadarprogesteron
meningkat dan menurun secara bertahap selama siklus menstruasi. Bila kadar progesteron
rendah, suhu tubuh beberapa derajat dibawah kadar batas. Suhu tubuh yang rendah berlangsung
sampai terjadi ovulasi. Perubahan suhu juga terjadi pada wanita menopause. Wanita yang sudah
berhenti mentruasi dapat mengalami periode panas tubuh dan berkeringat banyak, 30 detik
sampai 5 menit. Hal tersebut karena kontrol vasomotor yang tidak stabil dalam melakukan
vasodilatasi dan vasokontriksi (Bobak, 1993)
d. Irama sirkadian
Suhu tubuh berubah secara normal 0,5 C sampai 1 C selama periode 24 jam.
Bagaimanapun, suhumerupakan irama stabil pada manusia. Suhu tubuh paling rendah biasanya
antara pukul 1:00 dan 4:00 dini hari. Sepanjang hari suhu tubuh naik, sampai seitar pukul 18:00
dan kemudian turun seperti pada dini hari. Penting diketahui, pola suhu tidak secara otomatis
pada orang yang bekerja pada malam hari dan tidur di siang hari. Perlu waktu 1-3 minggu untuk
perputaran itu berubah. Secara umum, irama suhu sirkadian tidak berubah sesuai usia. Penelitian
menunjukkan, puncak suhu tubuh adalah dini hari pada lansia (lenz,1984)
e. Stres
Stres fisik dan emosi meningkatkan suhu tubuh melalui stimulasi hormonal dan persarafan.
Perubahan fisiologi tersebut meningkatkan panas. Klien yang cemas saat masuk rumah sakit atau
tempat praktik dokter, suhu tubuhnya dapat lebih tinggi dari normal
f. Lingkungan

Lingkungan mempengaruhi suhu tubuh. Jika suhu dikaji dalam ruangan yang sangat hangat,
klien mungkin tidak mampu meregulasi suhu tubuh melalui mekanisme pengeluaran - panas dan
suhu tubuh akan naik. Jika kien berada di lingkungan tanpa baju hangat, suhu tubh mungkin
rendah karena penyebaran yang efektif dan pengeluaran panas yang konduktif. Bayi dan lansia
paling sering dipengaruhi oleh suhu lingkungan karena mekaisme suhu mereka kurang efisien.

Perubahan suhu

Perubahan suhu tubuh di luar rentang normal mempengaruhi set point hipotalamus.
Perubahan ini dapat berhubungan dengan produksi panas yang berlebihan, pengeluaran panas
yang berlebihan, produksi panas minimal. Pengeluaran panas minimal atau setiap gabungan dari
perubahan tersebut. Sifat perubahan tersebut mempengauhi masalah klinis yang dialami klien.
a. Demam
Demam atau hiperpireksia terjadi karena mekanisme pengeluara panas tidak mampu untuk
mempertahankan kecepatan pengeluaran kelebihan produksi panas, yang mengakibatkan
peningkatan suhu tubuh abnormal. Tingkat ketika demam mengancamkesehatan seringkali
merupkan sumber yang diperdebatkan di antara pemberi perawatan kesehatan. Demam biasanya
tidak berbahaya jika berada pada suhu dibawah 39 C. Pembacaan suhu tunggal mungkin tidak
menandakan demam. Davis dan lentz (1989) merekomendasikan untuk menentukan demam
berdasarkan beberapa pembacaan suhu dalam waktu yang berbeda pada satu hari dibandingkan
dengan suhu normal tersebut pada waktu yang sama, di samping terhadap tanda vital dan gejala
infeksi. Demam sebenarnya merupakan akibat dari perubahan set point hipotalamus.
b. Kelelahan akibat panas
Kelelehan akibat panas terjadi bila diaforesis yang banyak mengakibatkan kehilangan cairan
dan elektrolit secara berlebih. Disebabkan oleh lingkungan yang terpajan panas. Tanda dan gejala
kurang volume cairan adalah hal yang umum selama kelelehan akibat panas. Tindakan pertama
yaitu memindahkan klien ke lingkungan yg lebih dingin serta memperbaiki keseimbangan cairan
dan elektrolit.
c. Hipertermia
Peningkatan suhu tubuh sehubungan dengan ketidakmampuan tubuh untuk meningkatkan
pengeluaran panas atau menurunkan produksi panas adalah hipertermia. Setiap penyakit
atautrauma pada hipotalamus dapat mempengaruhi mekanisme pengeluaran panas. Hipertermia

malignan adalah kondisi bawaan tidak dapat mengontrol produksi panas, yang terjadi ketika
orang yang rentan menggunakan obat-obatan anestetik tertentu.
d. Heatstroke
Pajanan yang lama terhadap sinar matahari atau lingkungan dengan suhu tinggi dapat
mempengaruhi mekanisme pengeluaran panas. Kondisi ini disebut heatstroke, kedaruratan yang
berbahaya panas dengan angka mortalitas yg tinggi. Klien berisiko termasuk yang masih sangat
muda atau sangat tua, yang memiliki penyakit kardiovaskular, hipotiroidisme, diabetes atau
alkoholik. Yang juga termasuk beresiko adalah orang yang mengkonsumsi obat yang
menurunkan kemampuan tubuh untuk mengeluarkan panas (mis. Fenotiasin, antikolinergik,
diuretik, amfetamin, dan antagonis reseptor beta- adrenergik) dan mereka yang menjalani latihan
olahraga atau kerja yang berat (mis. Atlet, pekerja kontruksi dan petani). Tanda dan gejala
heatstroke termasuk gamang, konfusi, delirium, sangat haus, mual, kram otot, gangguan visual,
dan bahkan inkotinensia. Tanda yang paling dari heatstroke adalah kulit yang hangat dan kering.
Penderita heatstroke tidak berkeringat karena kehilangn elektrolit sangat berat dan malfungsi
hipotalamus. Heatstroke dengan suhu lebih besar dari 40,5 C mengakibatkan kerusakan jaringan
pada sel dari semua organ tubuh. Tanda vital menyatakan suhu tubuh kadang-kadang setinggi 45
C, takikardia dan hipotensi. Otak mungkin merupakan organ yang terlebih dahulu terkena
karena sensitivitasnyaterhdap ketidakseimbangan elektrolit. Jika kondisi terus berlanjut, klien
menjadi tidak sadar, pupil tidak reaktif. Terjadi kerusakan nourologis yang permanen kecuali jika
tindakan pendinginan segera dimulai.
e. Hipotermia
Pengeluaran panas akibat paparan terus-menerus terhadap dingin mempengaruhi kemampuan
tubuh untuk memproduksi panas, mengakibatkan hipotermia. Hipotermia diklasifikasikan
melalui pengukuran suhu inti. Hal tersebut dapat terjadi kebetulan atau tidak sengaja selama
prosedur bedah untuk mengurangi kebutuhan metabolik dan kebutuhan tubuh terhada oksigen.
Hipotermia aksidental biasanya terjadi secara berangsur dan tidak diketahui selama beberapa
jam. Ketika suhu tubuh turun menjadi 35 C, klien menglami gemetar yang tidak terkontrol,
hilang ingatan, depresi, dan tidak mampu menila. Jika suhu tubuh turun di bawah 34,4 C,
frekuensi jantung, pernafasan, dan tekanan darah turun. kulit menjadi sianotik.

C. Fisiologi Termoregulasi

a. Suhu Inti Dan Suhu Kulit


Suhu jaringan bagian dalam tubuh ( suhu inti atau core temperature ) hampir selalu konstan,
berfluktuasi sepanjang hari dalam rentang sempit, hanya sekitar 1F ( 0,6C ) kecuali dalam
keadaan demam. Manusia dapat terpapar pada suhu serendah 55F atau setinggi 130F dengan
tetap mempertahankan suhu inti mendekati konstan. Mekanisme yang mengendalikan suhu tubuh
menunjukkan suatu sistem pengaturan yang amat baik.
Berbeda dengan suhu inti, suhu kulit naik-turun dipengaruhi suhu lingkungan. Hal ini penting
karena salah satu fungsi kulit adalah melepaskan panas ke lingkungan.

b. Suhu Tubuh Normal


Tidak ada nilai tunggal suhu yang dapat dianggap sebagai satu-satunya nilai suhu normal,
karena pengukuran pada banyak orang normal memperlihatkan berbagai variasi suhu pada
berbagai keadaan dan aktivitas sepanjang hari, seperti yang dilukiskan dalam Gambar 1, mulai
kurang dari 97F (36C) sampai lebih dari 99F (37,5C). Suhu normal rata-rata secara umum
adalah antara 98,0 F sampai 98,6 F (36,7C sampai 37C) bila diukur per oral, dan kira-kira
1F atau 0,6C lebih tinggi bila diukur per rektal.
Suhu tubuh sedikit bervariasi pada kerja fisik dan pada suhu lingkungan yang ekstrem,
karena mekanisme pengaturan suhu tidak 100 persen tepat. Bila dibentuk panas yang berlebihan
di dalam tubuh karena kerja fisik yang melelahkan, suhu rektal akan meningkat sampai setinggi
101F-104F. Sebaliknya, ketika tubuh terpapar dengan suhu yang dingin, suhu rektal dapat
turun sampai di bawah nilai 96F.
c. Keseimbangan Produksi Panas Dan Kehilangan Panas
Bila laju pembentukan panas dalam tubuh lebih besar daripada laju hilangnya panas, timbul
kelebihan panas dalam tubuh dan suhu tubuh meningkat. Sebaliknya, bila kehilangan panas lebih
besar, suhu tubuh menurun. Keseimbangan antara produksi panas dan hilangnya panas serta mekanisme yang mengatur masing-masing proses tersebut dijelaskan pada bagian berikut.

Produksi Panas

Produksi panas adalah produk tambahan metabolisme. Faktor - faktor yang menentukan laju
produksi panas ( laju metabolisme tubuh ) meliputi:
1. laju metabolisme basal dari semua sel tubuh;
2. laju cadangan metabolisme yang disebabkan oleh aktivitas otot, termasuk kontraksi otot yang
disebabkan oleh menggigil;
3. metabolisme tambahan yang disebabkan oleh pengaruh tiroksin ( dan sebagian kecil hormon
lain, seperti hormon pertumbuhan dan testosteron ) terhadap sel;
4. metabolisme tambahan yang disebabkan oleh efek epinefrin, norepinefrin, dan perang
sangan simpatis terhadap sel;
5. metabolisme tambahan yang disebabkan oleh meningkatnya aktivitas kimiawi di dalam sel
sendiri, terutama bila temperatur sel meningkat.
Kehilangan Panas
Sebagian besar produksi panas di dalam tubuh dihasilkan oleh proses metabolisme pada organ
dalam, terutama dalam hati, otak, jantung, dan otot rangka selama kerja. Kemudian panas ini
dihantarkan dari organ dan jaringan yang lebih dalam ke kulit, di mana panas hilang ke udara dan
lingkungan sekitar. Oleh karena itu, laju hilangnya panas ditentukan hampir seluruhnya oleh dua
faktor:
1. seberapa cepat panas dapat dikonduksi dari tempat panas dihasilkan dalam inti tubuh ke kulit
2. seberapa cepat panas kemudian dapat dihantarkan dari kulit ke sekitarnya. Marilah kita
mulai dengan mendiskusikan sistim insulator yang menyekat inti dari permukaan kulit.
d. Sistem Penyekat Tubuh
Kulit, jaringan subkutan, dan terutama lemak dari jaringan subkutan merupakan suatu
penyekat panas dari tubuh. Lemak menyalurkan panas hanya sepertiga kecepatan jaringan lain.
Bila tidak ada darah yang mengalir dari organ internal yang panas ke kulit, daya penyekat yang
dimiliki oleh tubuh laki - laki normal kira - kira sebanding dengan tiga perempat kali daya
penyekat pakaian biasa. Pada perempuan, penyekatan ini masih lebih baik.

e. Aliran Darah ke Kulit dari Inti Tubuh Menyediakan Pemindahan Panas

Pembuluh darah menembus jaringan penyekat subkutan dan dengan segera menyebar
sebanyak - banyaknya di bawah kulit. Yang penting terutama adalah pleksus venosus yang
disuplai oleh aliran darah dari kapiler kulit. Pada area tubuh yang paling banyak terpapar tangan, kaki, dan telinga darah juga disuplai langsung ke pleksus arteri kecil
melalui anastomosis arteriovenosa yang sangat berotot.
Kecepatan aliran darah ke dalam pleksus venosa bervariasi dari sedikit di atas 0% sampai
setinggi 30 persen dari total curah jantung. Kecepatan aliran darah yang tinggi menyebabkan
konduksi panas yang disalurkan dari inti tubuh ke kulit sangat efisien, sedangkan reduksi
kecepatan aliran darah menurunkan efisiensi konduksi panas dari inti tubuh. Gambar 3
memperlihatkan secara kuantitatif efek aliran darah kulit pada konduksi panas dari inti tubuh ke
permukaan kulit, menggambarkan peningkatan konduksi panas hampir delapan kali lipat antara
keadaan vasokonstriksi penuh dan keadaan vasodilatasi penuh.
Oleh karena itu, kulit merupakan sistem pengatur "radiator panas" yang efektif, dan aliran
darah ke kulit adalah mekanisme penyebaran panas yang paling efektif dari inti tubuh ke kulit.

f. Pengaturan Konduksi Panas Ke Kulit Oleh Sistem Saraf Simpatis


Konduksi panas ke kulit oleh darah diatur oleh tingkat vasokonstriksi arteriol dan
anastomosis arteriovenosa yang mensuplai darah ke pleksus venosa kulit. Selanjutnya
vasokonstriksi ini hampir seluruhnya dikontrol oleh sistem saraf simpatis dalam memberikan
respons terhadap perubahan suhu inti tubuh dan perubahan suhu lingkungan. Hal ini akan
dibicarakan kemudian pada bab ini yang berhubungan dengan pengaturan suhu tubuh oleh
hipotalamus.
g. Fisika Dasar Bagaimana Panas Hilang dari Permukaan Kulit
Cara tersebut meliputi radiasi, konduksi, dan evaporasi dan dapat dijelaskan berikut ini:
1. Radiasi

Kehilangan panas melalui radiasi berarti kehilangan dalam bentuk gelombang panas infra
merah, suatu jenis gelombang elektromagnetik. Sebagian besar gelombang panas infra merah

yang memancar dari tubuh memiliki panjang gelombang 5 sampai 20 mikrometer, 10 sampai 30
kali panjang gelombang cahaya. Semua benda yang tidak pada suhu nol absolut memancarkan
panas seperti gelombang tersebut. Tubuh manusia menyebarkan gelombang panas ke segala
penjuru. Gelombang panas juga dipancarkan dari dinding dan benda-benda lain ke tubuh. Bila
suhu tubuh lebih tinggi dari suhu lingkungan, kuantitas panas yang lebih besar dipancarkan
keluar dari tubuh ke lingkungan. Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4, orang yang telanjang
pada suhu kamar yang normal kehilangan panas kira-kira 60 persen dari kehilangan panas total
melalui radiasi.
2. Konduksi

Hanya sejumlah kecil panas yang biasanya hilang dari tubuh melalui konduksi langsung dari
permukaan tubuh ke benda - benda lain, seperti kursi atau tempat tidur. Sebaliknya, kehilangan
panas melaluikonduksi ke udara memang mencerminkan bagian kehilangan panas tubuh yang
cukup besar ( kira - kira 15 persen ) walaupun dalam keadaan normal. Diingatkan kembali bahwa
panas adalah energi kinetik dari gerakan molekul, dan molekul - molekul yang menyusun kulit
tubuh terus-menerus mengalami gerakan vibrasi. Sebagian besar energi dari gerakan ini dapat
dipindahkan ke udara bila suhu udara lebih dingin dari kulit, sehingga meningkatkan kecepatan
gerakan molekul - molekul udara. Sekali suhu udara yang berlekatan dengan kulit menjadi sama
dengan suhu kulit, tidak terjadi lagi kehilangan panas dari tubuh ke udara. Oleh karena itu,
konduksi panas dari tubuh ke udara mempunyai keterbatasan kecuali bila udara yang dipanaskan
bergerak dari kulit sehingga udara baru secara terus menerus bersentuhan dengan kulit, fenomena
ini disebut konveksi udara.
3. Konveksi

Pemindahan panas dari tubuh melalui konveksi udara secara umum disebut kehilangan panas
melalui konveksi. Sebenarnya, panas pertama - tama harus di konduksi ke udara kemudian
dibawa melalui aliran konveksi.
Sejumlah kecil konveksi hampir selalu terjadi di sekitar tubuh akibat kecenderungan udara di
sekitar kulit untuk bergerak naik sewaktu menjadi panas. Oleh karena itu, orang telanjang yang
duduk di ruangan yang nyaman tanpa gerakan udara yang besar masih tetap kehilangan sekitar

15 persen dari panas tubuhnya melalui konduksi ke udara kemudian oleh konveksi udara
menjauhi tubuhnya.
h. Efek Pendinginan oleh Angin
Bila tubuh terpapar angin, lapisan udara yang berbatasan dengan kulit digantikan terus
menerus oleh udara baru jauh lebih cepat dari keadaan normal, dan kehilangan panas melalui
konveksi meningkat. Efek pendinginan oleh angin pada kecepatan rendah mendekati akar
kuadrat kecepatan angin. Misalnya, angin dengan kecepatan 4 km/jam memiliki efektivitas
pendinginan kira - kira dua kali dari angin dengan kecepatan 1km/jam.
i. Konduksi dan Konveksi Panas pada Paparan Air
Air memiliki kemampuan menyerap panas beberapa ribu kali lebih besar daripada udara,
sehingga setiap unit bagian air yang berdekatan ke kulit dapat mengabsorbsi jumlah kuantitas
panas yang lebih besar daripada udara. Juga, konduktivitas air terhadap panas terlihat sangat
berbeda dengan konduktivitas udara. Oleh karena itu, kecepatan kehilangan panas ke air pada
suhu yang cukup rendah jauh lebih besar daripada kecepatan kehilangan panas ke udara pada
suhu yang sama. Saat air dan udara sangat dingin, kecepatan kehilangan panas ke udara menjadi
hampir sama besar dengan air, karena air dan udara pada dasarnya mampu membawa semua
panas yang dapat berdifusi melalui penyekat subkutan kulit.
4. Evaporasi

Bila air berevaporasi dari permukaan tubuh, panas sebesar 0,58 Kalori ( kilokalori ) hilang
untuk setiap satu gram air yang mengalami evaporasi. Bahkan bila seseorang tidak berkeringat
sekalipun, air masih berevaporasi secara tidak kelihatan dari kulit dan paru-paru dengan
kecepatan sekitar 450 sampai 600 ml/hari. Hal ini menyebabkan kehilangan panas terus menerus
dengan kecepatan 12 sampai 16 Kalori per jam. Evaporasi air melalui kulit dan paru-paru yang
tidak kelihatan ini tidak dapat dikendalikaan untuk tujuan pengaturan suhu karena evaporasi
tersebut dihasilkan dari difusi molekul air terus menerus melalui permukaan kulit dan permukaan
sistem pernapasan. Akan tetapi, kehilangan panas melalui evaporasi keringat dapat diatur dengan
pengaturan kecepatan berkeringat, yang akan dibicarakan kemudian pada modul ini.

Evaporasi merupakan mekanisme pendinginan yang penting pada suhu udara sangat tinggi.
Selama suhu kulit lebih tinggi dari suhu lingkungan, panas dapat hilang melalui radiasi dan
konduksi. Tetapi ketika suhu lingkungan lebih tinggi dari suhu kulit, tubuh memperoleh panas
melalui radiasi dan konduksi. Dalam keadaan seperti ini, satu - satunya cara tubuh melepaskan
panas adalah dengan evaporasi. Oleh sebab itu, setiap faktor yang mencegah evaporasi yang
adekuat ketika suhu lingkungan lebih tinggi dari suhu kulit akan menyebabkan peningkatan suhu
tubuh. Hal ini kadang terjadi pada manusia yang dilahirkan dengan kelainan kelenjar keringat.
Orang ini dapat tahan terhadap suhu dingin seperti halnya orang normal, tetapi mereka hampir
mati akibat serangan panas pada daerah tropis, karena tanpa sistem pendinginan evaporatif,
orang ini tidak dapat mencegah peningkatan suhu tubuh ketika suhu udara lebih tinggi dari suhu
tubuh.

D. Efek Pakaian Pada Kehilangan Panas

Pakaian mengurung udara di antara kulit dan rajutan pakaian yang mengakibatkankecepatan
kehilangan panas tubuh melalui konduksi dan konveksi sangat ditekan. Pakaian dengan bahan
biasa menurunkan kecepatan kehilangan panas kira - kira setengah dari tubuh yang telanjang,
sedangkan pakaian kutub dapat menurunkan kecepatan kehilangan panas paling sedikit sampai
seperenam kali.
Sekitar setengah dari panas yang dipindahkan dari kulit ke pakaian dipancarkan melalui
radiasi ke pakaian dan bukan dipancarkan melalui konduksi melewati ruang kecil. Oleh sebab
itu, melapisi bagian dalam pakaian dengan lapisan emas tipis, yang memantulkan panas kembali
ke tubuh, membuat perangkat penyekat pakaian tersebut jauh lebih efektif daripada bila tidak
dilapisi. Dengan menggunakan teknik ini, pakaian yang digunakan di kutub dapat dikurangi
beratnya sampai setengahnya.
Efektivitas pakaian dalam mempertahankan suhu tubuh hampir hilang semuanya bila pakaian
menjadi basah karena konduktivitas air yang tinggi meningkatkan kecepatan pemindahan panas
sebesar 20 kali lipat atau lebih. Oleh karena itu, salah satu faktor terpenting untuk melindungi
tubuh terhadap udara dingin di kutub adalah menjaga dengan sangat hati-hati agar pakaian tidak
basah. Tentu saja, seseorang harus berhati-hati untuk tidak menjadi kepanasan walaupun untuk

sementara waktu, karena dengan berkeringat di dalam pakaian akan membuat pakaian tersebut
kurang efektif sebagai penyekat.
E. Berkeringat dan Pengaturannya oleh Sistem Saraf Otonom

Rangsangan pada area preoptik di bagian anterior hipotalamus baik secara elektrik atau oleh
panas yang berlebihan akan menyebabkan berkeringat. Impuls dari area yang menyebabkan
berkeringat ini dipindahkan melalui jaras otonom ke medula spinalis dan kemudian melalui jaras
simpatis ke kulit di seluruh tubuh.
Diingatkan kembali dari pembahasan tentang sistem saraf otonom bahwa kelenjar keringat
dipersarafi oleh serabut-serabut saraf kolinergik ( serabut yang mensekresikan asetilkolin ).
Kelenjar ini dapat juga dirangsang oleh epinefrin atau norepinefrin yang bersirkulasi dalam
darah, walaupun kelenjar itu sendiri tidak memiliki persarafan adrenergik. Hal ini penting selama
kerja fisik, saat hormon disekresikan oleh medula adrenal dan tubuh perlu melepaskan panas
yang berlebihan yang dihasilkan oleh otot yang aktif.
F. Aklimatisasi Mekanisme Berkeringat Peranan Aldosteron

Walaupun seseorang yang normal dan tidak dapat menyesuaikan diri dengan iklim kadang
dapat membentuk keringat lebih dari 1 liter per jam, ketika terpapar pada cuaca panas selama 1
sampai 6 minggu, orang tersebut akan secara perlahan-lahan berkeringat lebih banyak, seringkali
meningkatkan sekresi maksimal keringat 2 sampai 3 liter/jam. Evaporasi keringat yang lebih
banyak ini dapat memindahkan panas dari tubuh dengan kecepatan lebih dari 10 kali kecepatan
pembentukan panas basal normal. Peningkatan efektivitas mekanisme berkeringat ini disebabkan
oleh peningkatan langsung pada kemampuan kelenjar keringat itu sendiri.
Kepentingan aklimatisasi adalah penurunan konsentrasi natrium klorida dalam keringat yang
memungkinkan konservasi garam yang lebih baik secara perlahan - lahan. Sebagian besar efek
ini disebabkan oleh peningkatan sekresi aldosteron, yang selanjutnya dihasilkan dari penurunan
kadar natrium klorida dalam cairan ekstraselular dan plasma. Orang yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan iklim, yang banyak berkeringat sering kehilangan garam sebesar 15 sampai
30 gram setiap hari untuk beberapa hari pertama. Setelah 4 sampai 6 minggu menyesuaikan diri,
kehilangan garam biasanya turun menjadi 3 sampai 5 gram/hari.

G. Kehilangan Panas melalui Terengah-engah

Banyak hewan tingkat rendah memiliki sedikit kemampuan untuk menghilangkan panas dari
permukaan tubuhnya karena dua alasan:
1. permukaan tubuh biasanya ditutupi oleh bulu, dan
2. kulit dari sebagian besar hewan tingkat rendah tidak disuplai dengan kelenjar keringat, yang
mencegah sebagian besar hilangnya panas melalui evaporasi dari kulit. Suatu mekanisme
pengganti, mekanisme terengah-engah,digunakan oleh banyak hewan tingkat rendah sebagai
alat untuk menghilangkan panas.
Fenomena terengah - engah "dihidupkan" oleh pusat pengatur suhu di otak. Yaitu, bila darah
menjadi terlalu panas, hipotalamus menimbulkan sinyal neurogenik untuk menurunkan
temperaiur tubuh. Satu dari sinyal ini menimbulkan terengah - engah. Proses terengah - engah
yang sebenarnya diatur oleh pusat terengah-engah yang berhubungan dekat dengan pusat
pernapasan pneumotaksik di dalam pons.
Bila seekor hewan terengah - engah, hewan tersebut bernapas masuk dan keluar dengan
cepat, sehingga jumlah besar udara yang baru dari luar berkontak dengan bagian atas susunan
pernapasan; proses ini akan mendinginkan darah di dalam mukosa sebagai akibat evaporasi air
dari permukaan mukosa, terutama evaporasi saliva dari lidah. Namun terengah - engah tidak
meningkatkan ventilasi alveolar lebih dari yang dibutuhkan untuk kontrol gas darah yang tepat
karena setiap pernapasan sangat dangkal; oleh karena itu, sebagian besar udara yang masuk ke
alveoli adalah udara ruang mati.

H. Pengaturan Suhu Tubuh Peranan Hipotalamus

Suhu tubuh diatur hampir seluruhnya oleh mekanisme persarafan umpan balik, dan hampir
semua mekanisme ini terjadi melalui pusat pengaturan suhu yang terletak padahipotalamus. Agar
mekanisme umpan balik ini dapat berlangsung, harus juga tersedia pendetektor suhu untuk
menentukan kapan suhu tubuh menjadi sangat panas atau sangat dingin.
I. Deteksi Termostatik Suhu pada Hipotalamus Peranan Hipotalamus Anterior -

Area Preoptik

Telah dilakukan percobaan pemanasan dan pendinginan pada suatu area kecil di otak dengan
menggunakan alat yang disebut thermode. Alat kecil seperti jarum ini dipanaskan dengan alat
elektrik atau dialirkan air panas atau didinginkan dengan air dingin. Area utama dalam otak di
mana panas yang dihasilkan oleh thermode mempengaruhi pengaturan suhu tubuh terdiri dari
nukleus preoptik dan nukleus hipotalamik anterior hipotalamus.
Dengan menggunakan thermode, area preoptik hipotalamus anterior diketahui mengandung
sejumlah besar neuron yang sensitif terhadap panas yang jumlahnya kira - kira sepertiga neuron
yang sensitif terhadap dingin. Neuron - neuron ini diyakini berfungsi sebagai sensor suhu untuk
mengontrol suhu tubuh.
Neuron - neuron yang sensitif terhadap panas ini meningkatkan kecepatan kerjanya sesuai
dengan peningkatan suhu, kecepatannya dapat meningkat 2 sampai 10 kali lipat pada kenaikan
suhu tubuh sebesar 10C. Neuron yang sensitif terhadap dingin, sebaliknya, meningkatkan
kecepatan kerjanya saat suhu tubuh turun.
Apabila area preoptik dipanaskan, kulit di seluruh tubuh dengan segera mengeluarkan banyak
keringat, sementara pada waktu yang sama pembuluh darah kulit di seluruh tubuh menjadi sangat
berdilatasi. Jadi, hal ini merupakan reaksi yang cepat untuk menyebabkan tubuh kehilangan
panas, dengan demikian membantu mengembalikan suhu tubuh kembali normal. Di samping itu,
pembentukan panas tubuh yang berlebihan dihambat. Oleh karena itu, jelas bahwa area preoptik
dari hipotalamus memiliki kemampuan untuk berfungsi sebagai termostatik pusat kontrol suhu
tubuh.
J. Deteksi Suhu dengan Reseptor pada kulit dan Jaringan Dalam Tubuh

Walaupun sinyal yang ditimbulkan oleh reseptor suhu dari hipotalamus sangat kuat dalam
mengatur suhu tubuh, reseptor suhu pada bagian lain dari tubuh juga mempunyai peranan
penting dalam pengaturan suhu. Hal ini terjadi pada reseptor suhu di kulit dan beberapa jaringan
khusus dalam tubuh.
Diingatkan kembali dari pembicaraan mengenai reseptor sensoris, bahwa kulit dibantu oleh
reseptor dingin dan panas. Reseptor dingin terdapat jauh lebih banyak daripada reseptor panas;

tepatnya, terdapat 10 kali lebih banyak di seluruh kulit. Oleh karena itu, deteksi suhu oleh
reseptor perifer ini lebih peka terhadap suhu sejuk dan dingin daripada suhu hangat.
Apabila seluruh kulit tubuh menggigil, terjadi pengaruh refleks yang segera dibangkitkan
untuk meningkatkan suhu tubuh melalui beberapa cara, sebagai berikut:
1. memberikan

rangsangan

kuat

sehingga

menyebabkan

menggigil,

dengan

akibat

meningkatnya kecepatan pembentukan panas tubuh;


2. menghambat proses berkeringat bila hal ini harus terjadi
3. meningkatkan vasokonstriksi kulit untuk menghilangkan pemindahan panas tubuh ke kulit
Reseptor suhu tubuh bagian dalam juga ditemukan pada bagian tertentu dari tubuh, terutama
di medula spinalis, organ dalam abdomen, dan di sekitar vena - vena besar. Reseptor dalam ini
berbeda fungsinya dengan reseptor kulit, karena reseptor tersebut lebih banyak terpapar dengan
suhu inti tubuh daripada suhu permukaan tubuh. Namun, seperti halnya reseptor suhu kulit,
reseptor tersebut lebih banyak mendeteksi dingin daripada hangat. Adalah suatu kemungkinan
bahwa baik reseptor kulit maupun reseptor tubuh bagian dalam berperan mencegah hipotermia,
yaitu mencegah suhu tubuh yang rendah
K. Hipotalamus Posterior Menjumlahkan Sinyal Sensoris Temperatur Pusat dan

Perifer
Walaupun banyak sinyal sensoris temperatur berasal dari reseptor perifer, sinyal ini
membantu pengaturan suhu tubuh terutama melalui hipotalamus. Area pada hipotalamus yang
dirangsang oleh sinyal sensoris ini adalah suatu area yang terletak secara bilateral dalam
hipotalamus posterior kira - kira setinggi korpus mamilaris. Sinyal sensoris temperatur dari
hipotalamus anterior - area preoptik juga dipindahkan ke dalam area hipotalamus posterior ini.
Di sini sinyal dari area preoptik dan sinyal dari perifer tubuh digabung untuk mengatur reaksi
pembentukan panas atau reaksi penyimpanan panas tubuh.
L. Mekanisme Efektor Neural Yang Menurunkan atau Meningkatkan Temperatur

Tubuh
Sewaktu pusat temperatur hipotalamus mendeteksi bahwa temperatur tubuh terlalu panas
atau terlalu dingin, pusat akan memberikan prosedur penurunan atau peningkatan temperatur

yang sesuai. Mahasiswa lebih banyak mengetahui hal ini dari pengalaman pribadi, tetapi
gambaran khususnya adalah sebagai berikut.

M. Mekanisme Penurunan Temperatur Bila Tubuh Terlalu Panas

Sistem pengatur temperatur menggunakan tiga mekanisme penting untuk menurunkan panas
tubuh ketika temperatur menjadi sangat tinggi:
1. Vasodilatasi. Pada hampir semua area tubuh, pembuluh darah kulit berdilatasi dengan kuat.
Hal ini disebabkan oleh hambatan dari pusat simpatis pada hipotalamus posterior yang menyebabkan vasokonstriksi. Vasodilatasi penuh akan meningkatkan kecepatan pemindahan
panas ke kulit sebanyak delapan kali lipat.
2. Berkeringat. Efek dari peningkatan temperatur yang menyebabkan berkeringat digambarkan
oleh garis kurva utuh pada Gambar 73-7, yang memperlihatkan peningkatan kecepatan
kehilangan panas melaui evaporasi yang dihasilkan dari berkeringat ketika temperatur inti
tubuh meningkat di atas temperatur kritis 370C (98,60F). Peningkatan tempertaur tubuh 10C
menyebabkan keringat yang cukup banyak untuk membuang 10 kali lebih besar kecepatan
metabolisme basal dari pembentukan panas tubuh
3. Penurunan pembentukan panas. Mekanisme yang menyebabkan pembentukan panas yang
berlebihan, seperti menggigil dan termogenesis kimia dihambat dengan kuat.
N. Mekanisme Peningkatan Temperatur Saat Tubuh Terlalu Dingin

Ketika tubuh terlalu dingin, sistem pengaturan temperatur mengadakan prosedur yang sangat
berlawanan, yaitu:
1. Vasokonstriksi kulit di seluruh tubuh. Hal ini disebabkan oleh rangsangan pusat simpatis
hipotalamus posterior.
2. Piloereksi. Piloereksi berarti rambut "berdiri pada akarnya." Rangsangan simpatis
menyebabkan otot erektor pili yang melekat ke folikel rambut berkontraksi, yang
menyebabkan rambut berdiri tegak. Hal ini tidak penting pada manusia, tetapi pada hewan
yang lebih rendah, berdirinya rambut memungkinkan mereka untuk membentuk lapisan tebal
"isolator udara" di atas kulit sehingga pemindahan panas ke lingkungan sangat ditekan.

3. Peningkatan pembentukan panas. Pembentukan panas oleh sistem metabolisme meningkat


dengan (a) menggigil, (b) rangsangan simpatis pembentukan panas, dan (c) sekresi tiroksin.
Hal ini membutuhkan keterangan tambahan, sebagai berikut:
Rangsangan Hipotalamik terhadap Menggigil. Terletak pada bagian dorsomedial dari
hipotalamus posterior dekat dinding ventrikel ketiga adalah suatu area yang disebut pusat
motorik primer untuk menggigil. Area ini normalnya dihambat oleh sinyal dari pusat panas
pada area preoptik - hipotalamus anterior tetapi dirangsang oleh sinyal dingin dari kulit dan
medula spinalis. Oleh karena itu, seperti yang ditunjukkan oleh peningkatan yang tiba-tiba
dalam "produksi panas", pusat ini teraktivasi ketika temperatur tubuh turun bahkan hanya
sedikit di bawah derajat temperatur kritis. Pusat ini kemudian meneruskan sinyal yang
menyebabkan menggigil melalui traktus bilateral turun ke batang otak, ke dalam kolumna
lateralis medula spinalis, dan akhirnya, ke neuron - neuron motorik anterior. Sinyal ini tidak
teratur, dan tidak benar - benar menyebabkan gerakan otot yang sebenarnya. Sebaliknya,
sinyal tersebut meningkatkan tonus otot rangka di seluruh tubuh. Ketika tonus meningkat di
atas tingkat kritis tertentu, proses menggigil dimulai. Kemungkinan hal ini dihasilkan dari
umpan balik osilasi mekanisme refleks regangan dari gelondong otot. Selama proses
menggigil maksimum, pembentukan panas tubuh dapat meningkat sebesar empat sampai
lima kali dari normal.
O. Eksitasi Kimiawi "Simpatis" Pembentukan

Panas. Perangsangan simpatis maupun norepinefrin dan epinefrin yang bersirkulasi dalam
darah dapat menyebabkan peningkatan kecepatan metabolisme selular dengan cepat; efek ini
disebut termogenesis kimia, dan hal ini dihasilkan sebagian dari kemampuan norepinefrin dan
epinefrin untuk memisahkan fosforilasi oksidatif, yang berarti bahwa kelebihan makanan akan
dioksidasi dan oleh karena itu melepaskan energi dalam bentuk panas tetapi tidak menyebabkan
pembentukan adenosin trifosfat.
Derajat termogenesis kimia yang terjadi pada hewan hampir sebanding dengan jumlah
lemak coklat yang dikandung pada jaringan hewan. Lemak ini merupakan jenis lemak yang
mengandung sejumlah besar mitokondria khusus tempat terjadinya pemisahan oksidasi. Sel - sel
ini dipersarafi oleh persarafan simpatis yang kuat.

Proses penyesuaian diri terhadap iklim sangat mempengaruhi intensitas termogenesis kimia;
beberapa hewan, seperti tikus, yang telah terpapar beberapa minggu dengan lingkungan yang
dingin, memperlihatkan peningkatan pembentukan panas sebesar 100 sampai 500 persen ketika
terpapar secara tiba - tiba dengan udara dingin, sebaliknya, pada hewan yang tidak dapat
menyesuaikan diri dengan iklim, memberikan respons dengan meningkatkan pembentukan panas
kira-kira sebesar sepertiganya.
Pada manusia dewasa, yang hampir tidak memiliki lemak coklat, jarang sekali bahwa
termogenesis kimia meningkatkan kecepatan pembentukan panas lebih dari 10 sampai 15 persen.
Akan tetapi, pada bayi, yang memang memiliki sejumlah kecil lemak coklat pada ruang
interskapula, termogenesis kimia dapat meningkatkan kecepatan pembentukan panas sebesar 100
persen, yang kemungkinan merupakan faktor penting dalam mempertahankan temperatur normal
tubuh pada neonatus.
P. Peningkatan Keluaran Tiroksin sebagai Penyebab Peningkatan Pembentukan

Panas Jangka Panjang


Pendinginan area preoptik-hipotalamus anterior juga meningkatkan pembentukan hormon
neurosekretorik hormon pelepas-tirotropinoleh hipotalamus. Hormon ini diangkut melalui vena
porta hipotalamus ke kelenjar hipofisis anterior, di mana hormon merangsang sekresi hormon
perangsang-tiroidHormon

perangsang-tiroid

sebaliknya,

merangsang

peningkatan

keluaran tiroksin oleh kelenjar tiroid. Peningkatan tiroksin meningkatkan kecepatan metabolisme
selular di seluruh tubuh. Peningkatan metabolisme ini tidak terjadi segera tetapi membutuhkan
waktu beberapa minggu agar kelenjar tiroid menjadi hipertrofi sebelum mencapai tingkat sekresi
tiroksin yang baru.
Pemaparan hewan terhadap udara dingin yang berlebihan selama beberapa minggu dapat
menyebabkan ukuran kelenjar tiroid hewan tersebut meningkat 20 sampai 40 persen. Akan tetapi,
manusia jarang membiarkan dirinya terpapar terhadap derajat udara dingin seperti yang terjadi
pada hewan. Oleh karena itu, kita masih tidak mengerti, secara kuantitatif, berapa penting
metode adaptasi tiroid terhadap dingin pada manusia. Pengukuran yang terpisah telah
memperlihatkan bahwa anggota militer yang ditugaskan di kutub mengalami peningkatan
kecepatan metabolisme; demikian juga dengan orang Eskimo yang memiliki kelainan kecepatan

metabolisme yang tinggi. Juga, efek rangsangan udara dingin yang terus menerus pada kelenjar
tiroid mungkin dapat menjelaskan insiden goiter tiroid toksika yang lebih tinggi pada orang yang
tinggal di iklim yang lebih dingin daripada mereka yang tinggal di iklim yang lebih hangat.
Konsep "Set-Point" untuk Pengaturan Temperatur
Pada temperatur inti tubuh yang kritis, pada tingkat hampir tepat 37.1C, terjadi
perubahan drastis pada kecepatan kehilangan panas dan kecepatan pembentukan panas. Pada
temperatur di atas tingkat ini, kecepatan kehilangan panas lebih besar dari kecepatan
pembentukan panas, sehingga temperatur tubuh turun dan mencapai kembali tingkat 37,1C.
Pada temperatur di bawah tingkat ini, kecepatan pembentukan panas lebih besar dari kecepatan
kehilangan panas, sehingga temperatur tubuh kini meningkat dan kembali mencapai tingkat
37,1C. Tingkat temperatur kritis ini disebut "set-point" dari mekanisme pengaturan
temperatur. Semua mekanisme pengaturan temperatur terus menerus berupaya untuk mengembalikan suhu tubuh kembali ke tingkat set-point.

BAB III

KESIMPULAN
Termoregulasi adalah Suatu pengaturan fisiologis tubuh manusia mengenai keseimbangan
produksi panas dan kehilangan panas sehingga suhu tubuh dapat dipertahankan secara konstan.
Keseimbangan suhu tubuh diregulasi oleh mekanisme fisiologis dan prilaku. Agar suhu tubuh
tetap konstan dan berada dalam batasan normal, hubungan antara prodksi panas dan pengeluaran
panas harus dipertahankan. Hubungan diregulasi melalui mekanisme neurologis dan
kardiovaskular. Perawat menerapkan pengetahuan mekanisme kontrol suhu untuk meningkatkan
regulasi suhu.
Hipotalamus yang terletak antara hemisfer serebral, mengontror suhu tubuh sebagaimana
kerja termostat dalam rumah. Hipotalamus merasakan perubahan ringan pada suhu tubuh.
Hipotalamus anterior mengontror pengeluaran panas, dan hipotalamus posterior mengontror
produksi panas.