Anda di halaman 1dari 19

EVALUASI LUAS PETAK TERSIER DAERAH IRIGASI KERTOSARI

KEJURON AJUNG KABUPATEN JEMBER

LAPORAN PRAKTIKUM
diajukan guna memenuhi tugas Matakuliah Irigasi

Oleh :
TEP-A
Muhammad Afandi NIM. 151710201049

JURUSAN TEKNIK PERTANIAN


1

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN


UNIVERSITAS JEMBER
2017
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Irigasi berdasarkan konstruksi jaringan meliputi irigasi sederhana, irigasi


semi teknis, irigasi teknis. Irigasi berdasarkan metode pengambilan air meliputi
irigasi gravitasi dan irigasi pompa. Irigasi berdasarkan pendistribusian air meliputi
irigasi permukaan ( surface irrigation), irigasi bawah permukaan (sub surface
irrigation), irigasi curah (sprinkle), irigasi tetes ( drip/trickle). Berdasarkan latar
belakang diatas maka diperlukan upaya inventarisasi aset irigasi yang ada guna
mengetahui kebutuhan air suatu wilayah layanan bangunan bendung misalnya pada
praktikum kali ini yang dilakukan di Kejuron Ajung bangunan primer Kertosari 11
yang memilki dua bangunan sekunder yaitu Curah Kates dan Renes. Bangunan
Kertosari 11 melayani lima wiayah desa seperti Klompangan, Ajung, Pancakarya,
Klompangan dan Sukamakmur. Inventarisai Aset Irigasi meliputi data bangunan
bangunan utama, jaringan pembawa, kelengkapan pendukung, saluran pembuang,
kelengkapan pembuang, saluran pembuang, dan petak tersier. Agar kerusakan pada
Aset Irigasi dapat cepat diketahui dan diperbaiki guna peningkatan produktivitas
pertanian di Indonesia.
Pemanfaatan sumber daya air dalam bidang pertanian misalnya digunakan
dalam usaha penyediaan, pengaturan, dan pembuangan airuntuk menunjang sektor
pertanian yang jenisnya meliputi irigasi permukaan, irigasi rawa, irigasi air bawah
tanah, irigasi pompa, dan irigasi tambak. Tujuan irigasi secara umum yaitu untuk
mengalirkan air secara teratur sesuai kebutuhan tanaman pada saat persedian air
tanah tidak mencukupi untuk mendukung pertumbuhan tanaman, sehingga tanaman
bisa tumbuh secara normal. Pemberian air irigasi yang efisien selain dipengaruhi
oleh tata cara aplikasi, juga ditentukan oleh kebutuhan air guna mencapai kondisi
air tersedia yang dibutuhkan tanaman (Juhana et al., 2015).Perencanaan dasar yang
berkenaan dengan unit tanah adalah petak tersier.
2

Petak ini menerima air irigasi yang dialirkan dan diukur pada bangunan
sadap (off take) tersier.Petak tersier harus mempunyai batas-batas yang jelas seperti
misalnya parit, jalan, batas desa dan batas perubahan bentuk medan (terrain fault).
Petak tersier dibagi menjadi petak-petak kuarter, masing- masing seluas kurang
lebih 8 - 15 ha.Ukuran petak tersier bergantung pada besarnya biaya pelaksanaan
jaringan irigasi dan pembuang (utama dan tersier) serta biaya eksploitasi dan
pemeliharaan jaringan. Petak tersier yang berukuran kecil akan meningkatkan
tingkat efisiensi dalam penyalurn air. Menurut Prijono (2012), irigasi
diklasifikasikan menjadi beberapa bagian, yaitu berdasarkan kontruksi jaringan,
metode pengambilan air, dan proses pendistribusian ke tanaman.

1.2 Rumasan Masalah


Rumuasan masalah dari penulisan laporan praktikum mengenai petak tersier, yaitu.
1. Apa yang dimaksud dengan petak tersier ?
2. Bagaimana hasil pengukuran petak tersier di daerah Kejuron Ajung Bangunan
Primer Kertosari 11 ?
3. Bagaimana alih fungsi lahan di Indonesa ?

1.3 Tujuan
Tujuan dari penulisan laporan praktikum mengenai petak tersier, yaitu
1. Mengetahui pengertian petak tersier secara umum
2. Mengetahuiluasan daearah petak tersier di Kejuron Ajung Bangunan Primer
Kertosari 11
3. Mengetahui penegertian alih fungsi lahan di indonesia secara umum

1.4 Manfaat
Manfaat yang didapatkan dari penulisan laporan praktikum mengenai petak tersier,
yaitu.
1. Dapat mengetahui pengertian petak tersier secara umum

2. Menambah pengetahuan mengenailuasan daearah petak tersier di Kejuron


Ajung Bangunan Primer Kertosari 11
3

3. Dapat mengetahui pengertian alih fungsi lahan di indonesia secara umum

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Petak Tersier

Perencanaan dasar yang berkenaan dengan unit tanah adalah petak tersier.
Petak ini menerima air irigasi yang dialirkan dan diukur pada bangunan sadap (off
take) tersier. Petak yang kelewat besar akan mengakibatkan pembagian air menjadi
tidak efisien. Faktor-faktor penting lainnya adalah jumlah petani dalam satu petak,
jenis tanaman dan topografi. Di daerah-daerah yang ditanami padi luas petak tersier
idealnya maksimum 50 ha, tapi dalam keadaan tertentu dapat ditolelir sampai seluas
75 ha, disesuaikan dengan kondisi topografi dan kemudahan eksploitasi dengan
tujuan agar pelaksanaan Operasi dan Pemeliharaan lebih mudah. Petak tersier harus
mempunyai batas-batas yang jelas seperti misalnya parit, jalan, batas desa dan batas
perubahan bentuk medan (terrain fault). Petak tersier dibagi menjadi petak-petak
kuarter, masing- masing seluas kurang lebih 8 - 15 ha. Apabila keadaan topografi
memungkinkan bentuk petak tersier sebaiknya bujur sangkar atau segi empat untuk
mempermudah pengaturan tata letak dan memungkinkan pembagian air secara
efisien. Petak tersier harus terletak langsung berbatasan dengan saluran sekunder
atau saluran primer (Kriteria Perencanaan, Hal : 47)

2.2 Petak Tersier yang Ideal

Petak tersier yang ideal yaitu jika masing-masing kepemilikan sawah


memiliki pengambilan sendiri dan dapat membuang kelebihan air langsung ke
jaringan pembuang. Selain itu peani dapat mengangkut hasil pertanian dan
peralatan yang digunakan dalam bertnai melalui jalan petaniyang ada. Petak tersier
yang ideal bisa tercapai jika para petani mau membentuk petak-petak sawah mereka
dengan cara saling menukar bagian-bagian tertentu dari sawah mereka atau dengan
cara lain sehingga petak tersier yang ideal bisa terwujud (Kriteria Perencanaa, Hal
: 52).
4

2.3 Ukuran dan Bentuk Petak Tersier


Ukuran petak tersier bergantung pada besarnya biaya pelaksanaan jaringan
irigasi dan pembuang (utama dan tersier) serta biaya eksploitasi dan pemeliharaan
jaringan. Ukuran optimum suatu petak tersier yaitu antara 50 sampai 100 ha.
Ukurannya dapat ditambah sampai maksimum 150 ha jika keadaan topografi
memaksa demikian. Petak tersier yang berukuran kecil akan meningkatkan tingkat
efisiensi dalam penyalurn air hal ini dikarenakan beberapa hal antara lain yaitu,
1. titik pembagian air lebih sedikit.
2. saluran-salurannya pendek sehingga kehilangan airnya bisa lebih sedikit.
3. petani yang terlibat lebih sedikit sehingga bisa lebih mudah dalam bekerja
sama.
4. Pengaturan air lebih baik sesuai dengan kondisi tanaman.
5. Perencanaan lebih fleksibel sehubungan dengan batas.
Bentuk optimal suatu petak tersier bergantung pada biaya minimum pembuatan
saluran, jalan dan wilayah bagi. Apabila semua saluran kuarter diberi air dari satu saluran
tersier, maka panjang total jalan dan saluran menjadi minimu dengan dua saluran tersier
untuk areal yang sarna, maka panjang total jalan dan saluran akan bertambah. Bentuk
optimal petak tersier adalah bujur sangkar, karena pembagian air menjadi sulit pada petak
tersier berbentuk memanjang. Ukuran petak kuarter bergantung kepada ukuran sawah,
keadaan topografi, tingkat teknologi yang dipakai, kebiasaan bercocok tanam, biaya
pelaksanaan, sistem pembagian air dan efisiensi. Ukuran optimum suatu petak kuarter
adalah 8 - 15 ha. Lebar petak akan bergantung pada cara pembagian air, yakni apakah air
dibagi dari satu sisi atau kedua sisi saluran kuarter. Di daerah-daerah datar atau
bergelombang, petak kuarter dapat membagi air ke dua sisi. Dalam hal ini lebar maksimum
petak akan dibatasi sampai 400 m (2 x 200 m). Pada tanah terjal, dimana saluran kuarter
mengalirkan air ke satu sisi saja, lebar maksimum diambil 300 m. Panjang maksimum petak
ditentukan oleh panjang saluran kuarter yang diisinkan (500 m). Kriteria untuk
pengembangan petak tersier yaitu sebagai berikut :
1. Ukuran petak tersier , 50 - 100 ha.
2. Ukuran petak kuarter 8 - 15 ha.
3. Panjang saluran tersier < 1500 m
4. Panjang saluran kuarter < 500 m.
5

5. Jarak antar saluran & pembuang < 300 m (Kriteria Perencanaa, Hal : 52).

2.4 Batas Petak


Batas-batas petak tersier didasarkan pada kondisi topografi. Daerah ini hendaknya
diatur sebaik mungkin, sedemikian rupa sehingga satu petak tersier terletak dalam satu
daerah administrasi desa agar E & P jaringan lebih baik. Jika ada dua desa di petak tersier
yang sangat luas, maka dianjurkan untuk membagi petak tersier tersebut menjadi dua petak
sub-tersier yang berdampingan sesuai dengan daerah masing-masing.
Batas-batas petak kuarter biasanya akan berupa saluran irigasi dan pembuang kuarter yang
memotong kemiringan medan dan saluran irigasi tersier serta pembuang tersier atau primer
yang mengikuti kemiringan medan. Jika mungkin batas-batas ini bertepatan dengan batas-
batas hak milik tanah. Jika batas-batas ini belum tetap, dan jaringan masih harns
dikembangkan, dipakai kriteria umum (Kriteria Perencanaa, Hal : 54).

2.5 Peta RBI

Peta merupakan suatu representasi atau gambaran unsur-unsur atau


kenampakan – kenampakan abstrak yang dipilih dari permukaan bumi atau yang
kaitannya dengan permukaan bumi atau benda-benda angkasa, dan umumnya
digambarkan pada suatu bidang datar dan perkecil atau diskalakan. Peta rupabumi
(RBI) digunakan sebagai peta dasar untuk pembuatan peta-peta lain. Informasi peta
rupabumi (RBI) menggambarkan tentang kenampakan di permukaan bumi secara
detail dan lengkap sehingga, peta rupabumi bersifat baku dan tidak dapat diubah –
ubah. Indonesia telah berhasil merevisi dan memperluas cakupan wilayah yang
dipetakan dengan adanya kemajuan teknologi, seluruh wilayah Indonesia telah
dibuat peta rupabuminya oleh Jawatan Topografi Angkatan Darat (Jantop) dan
Bakosurtanal pada 1973. (Miswar, 2013: 26-28).

2.7 Alih Fungsi Lahan


Lestari (2009) mendefinisikan alih fungsi lahan atau lazimnya disebut
sebagai konversi lahan adalah perubahan fungsi sebagian atau seluruh kawasan
lahan dari fungsinya semula (seperti yang direncanakan) menjadi fungsi lain yang
6

menjadi dampak negatif (masalah) terhadap lingkungan dan potensi lahan itu
sendiri. Alih fungsi lahan juga dapat diartikan sebagai perubahan untuk penggunaan
lain disebabkan oleh faktor-faktor yang secara garis besar meliputi keperluan untuk
memenuhi kebutuhan penduduk yang makin bertambah jumlahnya dan
meningkatnya tuntutan akan mutu kehidupan yang lebih baik. Konversi lahan
sawah adalah suatu proses yang disengaja oleh manusia (anthropogenic), bukan
suatu proses alami. Kita ketahui bahwa percetakan sawah dilakukan dengan biaya
tinggi, namun ironisnya konversi lahan tersebut sulit dihindari dan terjadi setelah
system produksi pada lahan sawah tersebut berjalan dengan baik. Konversi lahan
merupakan konsekuensi logis dari peningkatan aktivitas dan jumlah penduduk serta
proses pembangunan lainnya. Konversi lahan pada dasarnya merupakan hal yang
wajar terjadi, namun pada kenyataannya konversi lahan menjadi masalah karena
terjadi di atas lahan pertanian yang masih produktif.
Konversi lahan berarti alih fungsi atau mutasinya lahan secara umum
menyangkut transformasi dalam pengalokasian sumberdaya lahan dari satu
penggunaan ke penggunaan lainnya. Pemerintah pusat maupun daerah yang
berkaitan dengan perubahan fungsi lahan pertanian. Proses terjadinya alih fungsi
lahan pertanian ke penggunaan non pertanian disebabkan oleh beberapa faktor.
menyatakan bahwa setidaknya ada tiga faktor penting yang menyebabkan
terjadinya alih fungsi lahan sawah sebagai berikut.
1. Faktor eksternal; merupakan faktor yang disebabkan oleh adanya dinamika
pertumbuhan perkotaan (fisik maupun spasial), demografi maupun
ekonomi.
2. Faktor internal; faktor ini lebih melihat sisi yang disebabkan oleh kondisi
sosial ekonomi rumah tangga pertanian pengguna lahan.
3. Faktor kebijakan; yaitu aspek regulasi yang dikeluarkan.
Menurut Wahyunto (2001), perubahan penggunaan lahan dalam pelaksanaan
pembangunan tidak dapat dihindari. Perubahan tersebut terjadi karena dua hal,
pertama adanya keperluan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang makin
meningkat jumlahnya dan kedua berkaitan dengan meningkatnya tuntutan akan
mutu kehidupan yang lebih baik.
7

Alih fungsi lahan sawah ke penggunaan non pertanian dapat berdampak


terhadap turunnya produksi pertanian, serta akan berdampak pada dimensi yang
lebih luas berkaitan dengan aspek-aspek perubahan orientasi ekonomi, sosial,
budaya, dan politik masyarakat. Konversi lahan juga berdampak pada menurunnya
porsi dan pendapatan sektor pertanian petani pelaku konversi dan menaikkan
pendapatan dari sektor non – pertanian. Sihaloho (2004) menjelaskan konversi
lahan berimplikasi atau berdampak pada perubahan struktur agrarian. Adapun
perubahan yang terjadi sebagai berikut.
1. Perubahan pola penguasaan lahan. Pola penguasaan tanah dapat diketahui
dari kepemilikan tanah dan bagaimana tanah tersebut diakses oleh orang
lain. Perubahan yang terjadi akibat alih konversi yaitu terjadinya perubahan
jumlah penguasaan tanah. Dalam hal ini dapat dijelaskan bahwa petani
pemilik berubah menjadi penggarap dan petani penggarap berubah menjadi
buruh tani. Implikasi dari perubahan ini yaitu buruh tani sulit mendapatkan
lahan dan terjadinya proses marginalisasi.
2. Perubahan pola penggunaan tanah. Pola penggunaan tanah dapat dari
bagaimana masyarakat dan pihak – pihak lain memanfaatkan sumber daya
agrarian tersebut. Konversi lahan menyebabkan pergesaran tenaga kerja
dalam pemanfaatan sumber agraria, khususnya tenaga kerja wanita.
Konversi lahan mempengaruhi berkurangnya kesempatan kerja di sektor
pertanian. Selain itu, konversi lahan menyebabkan perubahan pada
pemanfaatan tanah dengan intensitas pertanian yang makin tinggi. Implikasi
langsung dari perubahan ini adalah dimanfaatkannya lahan tanpa mengenal
sistem “bera”, khususnya untuk tanah sawah.
3. Perubahan pola hubungan agraria. Tanah yang makin terbatas menyebabkan
memudarnya sistem bagi hasil tanah “maro” menjadi “mertelu”. Demikian
juga dengan munculnya sistem tanah baru yaitu sistem sewa dan sistem jual
gadai. Perubahan terjadi karena meningkatnya nilai tanah dan makin
terbatasnya tanah.
4. Perubahan pola nafkah agraria. Pola nafkah dikaji berdasarkan sistem mata
pencaharian masyarakat dan hasil – hasil produksi pertaanian dibandingkan
8

dengan hasil non pertanian. Keterbatasan lahan dan keterdesakan ekonomi


rumah tangga menyebabkan pergeseran sumber mata pencaharian dari
sektor pertanian ke sektor non pertanian.
5. Perubahan sosial dan komunitas. Konversi lahan menyebabkan kemunduran
kemampuan ekonomi (pendapatan yang makin menurun). Alih fungsi lahan
yang tidak terkendali dan terjadi secara berlebihan sudah tentu akan
berdampak negatif bagi masa depan pertanian. Apalagi Indonesia dikenal
sebagai Negara agraris dengan sawah terbentang luas dari sabang sampai
merauke. Jika lahan pertanian berkurang atau bahkan habis dikonversi maka
Indonesia akan mengalami krisis pangan. Dari tahun ke tahun, luas lahan
produktif yang beralih fungsi terus bertambah, yang akan mengakibatkan
terjadi penurunan produksi pangan nasional sedangkan kebutuhan pangan
penduduk semakin besar karena adanya pertumbuhan penduduk yang juga
semakin besar. Demi memenuhi kebutuhan pangan masyarakat yang
semakin meningkat, otomatis diperlukan lahan pertanian yang luas pula.
Namun, dengan adanya alih fungsi lahan maka produksi pangan mengalami
penurunan dan kebutuhan masyarakat akan sangat sulit dipenuhi. Dampak
alih fungsi lahan secara langsung mengurangi luas lahan sektor pertanian
yang dapat ditanami berbagai komoditas pertanian yang dapat ditanami
berbagai komoditas pertanian terutama padi. Apabila hal ini terus dibiarkan
dan tidak ada penanganan lebih lanjut, maka dampaknya akan mengancam
ketahanan pangan (Lestari, 2009).
Impilkasi alih fungsi lahan pertanian terhadap kehidupan sosial ekonomi
masyarakat sangat kompleks. Dimulai dari semakin mahalnya harga pangan,
hilangnya lapangan keja bagi petani hingga tingginya angka urbanisasi. Selain itu,
dampak yang ditimbulkan yaitu berkurangnya minat generasi muda untuk bekerja
di bidang pertanian dan rusaknya saluran irigasi akibat pendirian bangunan di atas
lahan yang awalnya merupakan lahan sawah (Sihaloho 2004). Dampak alih fungsi
lahan berpengaruh pada ketahanan sosial. Ketahanan sosial dalam konteks ini
merujuk pada kemampuan masyarakat, kelembagaan sosial atau komunitas sosial
yang terkait dengan lahan pertanian agar tetap bertahan dan mampu menghadapi
9

perubahan karena alih fungsi lahan. Untuk kasus Bali, eksistensi kelembagaan
subak mewakili kelembagaan sosial tersebut. Kajian sosial mencerminkan upaya
kelompok atau kelembagaan masyarakat mempertahankan kelembagaan dan nilai
sosial serta norma lokal dalam proses intervensi atau introduksi nilai dan norma
eksternal. Pada ketahanan ekonomi merujuk pada kemampuan masyarakat yang
secara ekonomi harus mampu menghadapi perubahan sebagai akibat proses
terjadinya alih fungsi lahan. Dengan membandingkan beberapa variabel ekonomi
seperti. peluang kerja, tingkat pendapatan dan kesejahteraan sebelum dan sesudah
alih fungsi lahan. Sedangkan pada ekologi mengacu pada pemahaman subak
sebagai suatu ekosistem. Hal yang paling sederhana yang dapat dilihat dalam
ekosistem subak setelah terjadinya alih fungsi lahan adalah menyangkut debit air,
pencemaran air, dan lahan sawah, keadaan biota sawah, produktivitas hasil dan
keberlanjutan usahatani.
10

BAB 3. METODOLOGI PRAKTIKUM


3.1 Waktu dan Lokasi Praktikum
Waktu pengamatan praktikum lapang komoditi dilaksanakan pada Hari
Kamis,7 Desember 2017 dan dimulai pada pukul 07.00 sampai selesai. Lokasi
pengamatan praktikum yaitu di daerah irigasi Kertosari, saluran sekunder renes
kejuron Ajung, Kecamatan Ajung, Kabupaten Jember.

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1 Alat
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum sebagai berikut.
1. GPS
2. Kamera digital
3. Peralatan tulis

3.2.1 Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum sebagai berikut.
1. Sumber Peta, yang diantaranya sebagai berikut.
a. Peta Konsultan (PT. Angga Anugrah Konsultan,1:10000, 0.792.500–
9.085.500)
2. Software (Perangkat Lunak), yang diantaranya sebagai berikut.
a. Map Info Profesional Versi 11.0
b. Map Sourrce
c. Microsoft Office Excel
d. Easy Google Map Downloader

3.3 Prosedur Kerja


Prosedur kerja praktikum evaluasi lahan petak tersier saluran sekunder renes
pada kejuron ajung secara umum dapat ditunjukan dalam Gambar 3.1 berikut.
11

Mulai

GPS, Roll meter, Alat


Tulis, Peta konsultan
Kejuron Ajung

Melakukan penelusuran lapang

Melakukan pengumpulan data yang dibutuhkan :


1. Titik koordinat
2. Nomenklatur
3. Nomenklatur Uraian
5. Foto GPS dan komoditi tanaman

Melakukan pengolahan data ke dalam excel untuk di


interpretasikan dalam pembuatan peta petak tersier
saluran sekunder renes

Melakukan pembuatan peta petak tersier saluran


sekunder renes di map info 11

Membuat pemfolderan foto sesuai dengan aset


jaringan irigasi kejuron ajung

Peta petak tersier dan foto komoditi

Selesai

Gambar 3.1Prosedur kerja praktikum komoditi


12

Berdasarkan Gambar 3.1 prosedur kerja praktikum jaringan irigasi dapat di


gambarkan sebagai berikut.
1. Penelusuran lapang
Penelusuran lapang yang dilakukan yaitu melakukan survey pendigitan titik
koordinat komofidi. Penelusuran saluran dilakukan di saluran sekunder renes DI.
Kertosari pada bagian kejuron ajung.
2. Pengumpulan data
Data yang di butuhkan untuk melakukan praktikum pendigitan komoditi untuk
petak tersier pada saluransekunder renes meliputi data koordinat, nomenklatur,
nomenklatur uraian, dan foto tanaman komoditi.
a. Titik koordinat diperoleh dari pendigitan titik koordinat menggunakan GPS
pada saluran sekunder renes.
b. Data nomenklatur diperoleh dari hasil survey langsung disetiap daerah sesuai
dengan peta konsultan pada saluran sekunder renes. Penamaan nomenklatur
pada excel sesuai dengan nomenklatus pada peta satelit.
c. Data nomenklatur uraian diperoleh dari data pengamatan langsung yang
merupakan penjabaran dari setiap tanaman komoditi sesuai dengan
penjelasan dari pendigitan GPS.
d. Foto taman komoditi diperoleh dari foto tanaman secara langsung setiap
pendigitan titik koordinat (GPS).
3. Pengolahan excel
Pengolahan excel dilakukan untuk merekap data hasil lapang. Data lapang
koordinat diperoleh dari hasil transfer menggunakan software garmin. Pada
pengolahan excel dilakukan pengolahan pada data GPS, nomenklatur, nomenklatur
uraian sesuai hasil praktikum yang dilakukan. Pengolahan excel digunakan untuk
menginterpretasikan ke map info untuk membuat peta petak tersier.
4. Pembuatan peta jaringan irigasi di map. Info 11
Pembuatan peta petak tersier di map info dilakukan untuk menghasilkan luas
daerah yang dihasillkan dari peta satelit dengan peta konsultan. Peta satelit
diperoleh dari egmd pengolahan menggunakn software Easy Google Map
13

Downloader, sedangkan peta konsultan diperoleh dari register peta konsultan sesuai
daerah kejuron ajung.
5. Pembuatan pemfolderan foto komoditi
Pembuatan pemfolderan foto dokumentasi komoditidigunakan untuk merekap
hasil foto lapang sesuai dengan masing-masing tanaman komoditi pada setiap
daerah luas lahan pada saluran sekunder renes sesuai dengan No. GPS yang didigit.
14

BAB 4. PEMBAHASAN
4.1 Analisis Luasan Lahan Petak Tersier pada Sekunder Haji Karim
Petak tersier merupakan daerah atau petak yang menerima air irigasi yang
dialirkan dan diukur pada bangunan sadap (off take) tersier. Pada praktikum irigasi
ini dilakukan pengamatan dan penginterpretasikan data mengenai petak tersier pada
saluran Sekunder Haji Karim. Penginterpretasian data mengenai petak tersier ini
bertujuan untuk mengetahui perbandingan antara luasan petak tersier pada peta
konsultan dan luasan petak tersier pada peta satelit. Berikut data perbandingan
luasan lahan pada peta konsultan dan luasan petak tersier pada peta satelit.

Tabel 4.1 Perbandingan Luasan Lahan Pada Peta Konsultan Dan Luasan Petak
Tersier Pada Peta Satelit

Luas Lahan pada Peta


Luas Lahan pada Peta
No Wilayah Konsultan
Satelit (Ha)
(Ha)

1 KS. 5 Ka 36 35,51

2 KS. 5 Ki 4 4,41

3 KR. 1 Ka 9 9,4

4 KR. 2 Ka 46 45,74

5 KR. 2 Ki 98 76,57

Dari data tabel di atas menunjukkan bahwa rata-rata luas lahan pada
penginterpretasian peta satelit lebih kecil dari luasan lahan pada peta konsultan. Hal
ini dikarenakan terjadinya alih fungsi lahan pada lahan pertanian. pada praktikum
yang telah dilakukan alih fungsi lahan yang terjadi yaitu alih fungsi lahan pertanian
menjadi pemukiman penduduk. Selain dijadikan pemukiman, sebagian luasan lahan
pertanian telah dialih fungsikan ke sektor lainnya seperti digunakan untuk jalan,
kolam pancing, pertokohan, dan lainnya.

Selain itu faktor yang menyebabkan jauhnya jumlah luasan pada peta
konsultan dengan peta satelit yaitu peta konsultan yang digunakan masih belum
diupdate atau diperbaruhi. Peta konsultan yang digunakan yaitu peta konsultan pada
15

tahan 2007, sehingga luasan lahan yang dihasilkan akan berbeda jauh dengan luasan
lahan petak tersier pada image satelit. Semakin lama peta konsultan yang digunakan
sebagai pembanding, maka semakain jauh pula perbandingan lusan lahan yang akan
dihasilkan.

Selain itu, pada wilayah KR. 2 Ka menunjukkan luasan yang berbeda


dengan luasan pada wilayah-wilayah lainnya. Pada wilayah KR. 2 Ki luasan petak
tersier pada peta konsultan menunjukkan hasil yang lebih kecil bila dibandingkan
dengan luasan pada peta satelit. Luasan petak tersier pada peta konsultan sekitar 36
Ha, sedangkan luasan petak tersier pada peta image satelit yaitu sekitar 35,51 Ha.
Pada KR. 2. Ki luasan peta image satelit lebih luas yaitu 98 Ha sedangkan pada peta
konsultan yaitu 76,57 Ha. Hal ini dapat di pengaruhi oleh kesalahan saat proses
pemetakan pada peta satelit, sehingga menyebabkan luasan menjadi lebih besar.
Kesalahan pada proses pemetaan ini seperti, melakukan pemetaan pada pematang
sawah dan lahan bukan sawah. Hal ini menyebabkan bertambahnya luasan petak
tersier pada peta satelit. Pemetakaan petak tersier pada peta satelit yang paling tepat
yaitu dengan memetak satu per satu petak sawah, sehingga hasil luasan yang
dihasilkan akan mendekati luasan yang sebenarnya.
16

4.2 Analisis Kebutuhan Air pada Sekunder Haji Karim


Kebutuhan air pada setiap petak tersier berbeda-beda, pada dasarnya
semakin luas wilayah petak tersier maka kebutuhan airnya juga akan semakin
banyak. Petak tersier yang terlalu besar akan mengakibatkan pembagian air menjadi
tidak efisien. Berikut tabel kebutuhan air pada setiap luasan petak tersier.

Tabel 4.2 Kebutuhan Air pada Masing-masing Petak Tersier di Sekunder Curah
Kates dan Sekunder Renes

No Wilayah Luas Lahan (Ha) Kebutuhan Air (L/dt)

1 KS. 5 Ka 36 41

2 KS. 5 Ki 4 7

3 KR. 1 Ka 9 13

4 KR. 2 Ka 46 56

5 KR. 2 Ki 98 103

Dari tabel 4.2 di atas menunjukkan bahwa kebutuhan air pada setiap lahan
atau petak tersier berbeda-beda. Dari tabel tersebut menunjukkan bahwa semakin
besar luasan lahan pada petak tersier, maka semakin besar pula kebutuhan air yang
diperlukan untuk mengairi tanaman pada lahan. Selain itu, faktor lain yang
mempengaruhi kebutuhan air pada setiap lahan yaitu jenis tanaman dan topografi.
Jenis tanaman sangat mempengaruhi banyak sedikitnya kebutuhan air dari
saluran atau sumber air. Semisal pada tanaman padi kebutuhan airnya relatif lebih
besar (tinggi) bila dibandingkan dengan tanaman palawija seperti jagung, kedelai,
dan lainnya. Selain itu keadaan topografi juga sangat mempengaruhi kebutuhan air
pada suatu lahan.
17

BAB 5. KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan

Kesimpulan dari laporan praktikum tentang petak irigasi pad Sekunder Curah
Kates dan Renes antara lain:
1. Rata-rata luas lahan pada penginterpretasian peta satelit lebih kecil dari
luasan lahan pada peta konsultan. Hal ini dikarenakan terjadinya alih fungsi
lahan pada lahan pertanian.
2. Kebutuhan air pada setiap lahan atau petak tersier berbeda-beda. Semakin
besar luasan lahan pada petak tersier, maka semakin besar pula kebutuhan
air yang diperlukan untuk mengairi tanaman pada lahan.
3. Peta konsultan yang digunakan yaitu peta konsultan pada tahan 2007,
sehingga luasan lahan yang dihasilkan akan berbeda jauh dengan luasan
lahan petak tersier pada image satelit. Semakin lama peta konsultan yang
digunakan sebagai pembanding, maka semakain jauh pula perbandingan
lusan lahan yang akan dihasilkan.
18

DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. 2010. Standar Perencanaan Irigasi Kriteria
Perencanaan Bagian Jaringan Irigasi KP - 01.

Juhana, E. A., Permana, S., dan Farida, I. 2015. Analisis Kebutuhan Air Irigasi Pada
Daerah Irigasi Bangbayang Uptd Sdap Leles Dinas Sumber Daya Air
Dan Pertambangan Kabupaten Garut. Jurnal Konstruksi Sekolah Tinggi
Teknologi Garut. Vol 13 (1): 1.

Lestari, T. 2009. Dampak Konversi Lahan Pertanian Bagi Taraf Hidup Petani.
Skripsi. Bogor. Institut Pertanian Bogor.

Sihaloho, M. 2004. Konversi Lahan pertanian dan Perubahan Struktur Agraria


(Kasus di Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan, Kota
Bogor, Jawa Barat). Tesis. Sekolah Pasca Sarjana IPB.

Universitas Udayana. Defenisi alih Fungsi Lahan dan Faktor-Faktor Penyebabnya.


erepo.unud.ac.id/11421/3/cf390881f66d15d472178d867b94d19e.pdf
alih fungsi lahan pdf. [Diakses 27-12-2017].

Universitas Gunadarma. Tanpa Tahun. Sistem Irigasi Jaringan.


elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/irigasidanbangunanair/bab4-sist
em_jaringan_irigasi.pdf sistem jaringan irigasi pdf [Diakses 27-12-
2017]

Wahyunto, 2001, Studi Perubahan Lahan di Sub Das Citarik, Jawa Barat dan Kali
Garang Jawa Tengah. Prosiding Seminar Nasional Multif