Anda di halaman 1dari 13

Batu Lempung : Pengertian, Jenis dan

Manfaatnya

Batuan sedimen merupakan jenis batuan penyusun lapisan kulit bumi yang berasal dari
hasil pelapukan batuan (baca : pelapukan mekanik dan pelapukan kimia ). Keberadaannya hanya
sekitar 5 persen di lapisan terluar kerak bumi. Batuan ini termasuk batuan sekunder yang karena
terbentuk dari jenis- jenis batuan lain yaitu batuan beku dan batuan metamorf. Terdapat banyak
contoh batuan sedimen (baca : batuan endapan). Ada yang mempunyai struktur butiran kasar,
dan ada juga yang berstruktur butiran halus. Salah satu contoh batuan sedimen yang memiliki
ukuran butiran halus yakni batu lempung. Apa itu batu lempung dan apa saje jenisnya? Berikut
adalah uraiannya.

Pengertian batu lempung


Pengertian batu lempung yaitu batuan yang memiliki struktur padat dengan susunan mineral yang
lebih banyak dari batu lanau. Selain itu, batu lempung juga dapat diartikan sebagai salah satu
jenis batuan sedimen yang bersifat liat atau plastis, tersusun dari hidrous aluminium
silikat (mineral lempung) yang ukuran butirannya halus. Ukuran butiran batu lempung sangatlah
halus, yakni tidak lebih dari 0,002 mm.

Mirip dengan batu serpih, batu lempung sangat sulit diteliti. Sangat dibutuhkan analisis secara
kimiawi agar ilmuwan tahu mineral penyusun batu lempung yang banyak mengandung silika.
Silika ini berasal dari feldspar yang banyak di temukan di lapisan kulit bumi. Selain itu, batu
lempung juga memiliki susunan unsur oksida besi yaitu berupa siderit, markit atau pirit. Mineral
karbonat berupa bahan- bahan organik dan anorganik juga ditemukan pada batu lempung.
Mineral- mineral penyusun batu lempung tersebut adalah mineral yang aktif secara
elektrokimiawi. Para pakar harus menggunakan jenis mikroskop elektron untuk melihat jenis
mineral yang terdapat pada batu lempung.

Jenis- Jenis Batu Lempung


Batu lempung mempunyai bentuk yang berbeda satu dengan yang lain. Hal tersebut dipengaruhi
oleh lingkungan tempat pembentukan batu lempung. Batu lempung yang pembentukannya di
lingkungan danau berbeda dengan batu lempung yang terbentuk di laut. Pada umumnya, batu
yang terbentuk di laut akan mengandung fosil binatang laut dan memiliki lapisan yang tebal.
Selain perbedaan yang sudah disebutkan, batu lempung dapat dibedakan menjadi 2 jenis
berdasarkan ada tidaknya proses pengangkutan (transportasi), yaitu :

1. Transported clay

Disebut transported clay karena batu lempung sudah mengalami pengangkutan dari tempat
terbentuknya. Ada 3 sumber terbentuknya batu lempung yaitu hasil dari abrasi pantai, hasil dari
pelapukan yang mengalami transportasi serta hasil tercampurnya unsur kimia dan bio kimia.
Selama proses transportasi, batu lempung memungkinkan untuk tercampur dengan mineral
halus, diantaranya adalaha oksida besi, kuarsa dan bahan organisme.

2. Residual clay

Batu lempung jenis ini merupakan batu lempung yang tidak mengalami pengangkutan atau masih
berada di tempat asalnya. Karakteristik fisiknya dipengaruhi oleh kondisi batuan induk, cuaca dan
aliran air. Jenis batu lempung ini biasanya memiliki kualitas yang lebih baik dari pada transported
clay, serta banyak ditemukan di sekitar batuan induknya.

Jenis- jenis mineral lempung


Seperti yang telah dijelaskan bahwa batu lempung tersusun atas mineral lempung (hidrous
aluminium silikat). Mineral lempung tersebut dapat dibedakan lagi menjadi beberapa jenis,
diantaranya adalah :

 Kaolinit

Mineral ini termasuk ke dalam kategori kaolin yang terdiri atas kepingan silika tetrahedra dan
kepingan aluminium oktahedra. Kedua kepingan tersebut terikat satu sama lain sehingga
terbentuk suatu lapisan yang satu kesatuan. Ikatan keduanya merupakan ikatan hidrogen yang
sulit dipisahkan. Karena ikatannya yang kuat, mineral ini tergolong stabil sehingga air tidak bisa
menerobos masuk di antara kedua kepingan tersebut. Ketiadaan air di antara kedua kepingan
tidak dapat menyusutkan atau pun mengembangkan sel satuannya.

 Halloysit

Mineral halloysit mirip dengan kaolinit, akan tetapi ikatannya lebih acak dan bisa terpisahkan oleh
lapisan tunggal molekul air. Jika mineral ini tidak mengandung lapisan tunggal air karena telah
dipanaskan, maka sifat dasar mineral akan berubah. Sifat dasar dari mineral halloysit yaitu bentuk
partikelnya mirip seperti silinder- silinder yang memanjang.

 Montmorillonit

Mineral montmorillonit juga disebut dengan smectit, yang merupakan mineral hasil bentukan satu
kepingan aluminium dan dua kepingan silika. Di antara dua kepingan silika terdapat kepingan
oktahedra yang membentuk suatu lapisan yang satu. Montmorillonit terbentuk dari proses
sedimentasi bersuasana basa (alkali) yang sangat silikan. Selain itu, montmorillonit mempunyai
ukuran kristal yang sangat kecil tetapi memiliki gaya tarik terhadap air yang sangat kuat sehingga
air tersebut dapat memisahkan kepingan. Hal tersebut merupakan akibat kurangnya muatan
negatif pada kepingan oktahedran dan lemahnya gaya ikatan van der Waals pada ujung kepingan
silika. Air yang masuk di antara kepingan dapat melunakkan dan merusak struktur tanah yang
mengandung mineral montmorillonit.

 Illit

Bentuk susunan mineral illit terdiri dari kepingan aluminium oktahedra yang berada di antara dua
kepingan silika tetrahedra. Kepingan – kepingan tersebut saling terikat satu sama lain dengan
ikatan antar ion- ion kalium yang terdapat pada setiap kepingan. Ikatan ini tidak lebih kuat dari
pada ikatan hidrogen yang mengikat mineral kaolinit, tetapi lebih kuat dari pada ikatan ionik yang
mengikat mineral montmorillonit. Meski ikatannya tidak terlalu kuat, susunan mineral illit tidak
dapat mengembang akibat dari gerakan air yang berada di antara kedua kepingannya.

Manfaat Batu Lempung


Sifat batu lempung yang liat (plastis) banyak dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan
berbagai jenis benda. Berikut adalah beberapa manfaat dari batu lempung :

 Sebagai bahan dasar keramik – Batu lempung yang dicampur dengan air dan membentuk tanah
liat dapat digunakan untuk membuat keramik. Keramik tersebut dapat berupa ubin lantai &
dinding, gerabah atau porselen. Bahkan pembuatan porselen menggunakan lempung yang
mengandung kaolinit akan menghasilkan produk yang tahan panas (produk refraktori). Selain
keramik, tanah liat dari batu lempung juga dimanfaatkan untuk membuat semen, batu bata dan
agregat ringan lainnya.
 Sebagai bahan dasar kertas – Batu lempung yang memiliki kandungan mineral kaolinit juga
merupakan bahan dasar yang baik untuk pembuatan kertas yang berkualitas tinggi.
 Sebagai penyerap cairan – Batu lempung yang terbentuk dari abu hasil letusan gunung berapi
sering digunakan untuk menyerap cairan yang ada pada kandang binatang ternak.
 Membantu proses pengeboran – Batu lempung yang terbuat dari abu vulkanik juga dapat
dimanfaatkan sebagai lumpur yang membantu pengeboran. Selain itu, dapat juga digunakan
dalam industri palletizing bijih besi.

5. Batu Lempung

Proses Terjadinya : Type utama batulempung menurut terjadinya terdiri dari


lempung residu dan lempung letakan (sedimen), lempung residu adalah sejenis
lempung yang terbentuk karena proses pelapukan (alterasi) batuan beku dan
ditemukan disekitar batuan induknya. Kemudian material lempung ini mengalami
proses diagenesa sehingga membentuk batu lempung.

Warna : Coklat, keemasan, coklat, merah, abu-abu


Manfaat : Dapat dijadikan kerajinan, seperti asbak, patung, celengan,
dll.
Tempat : Sering ditemukan di Pinggiran Sungai ataupun pinggiran
danau.
LEMPUNG

Lempung
Oleh :
Doddy Setia Graha
Alamat :
Jl. Tb Suwandi Ciracas
Mahar Regency E No. 6, Ciracas, Serang, BANTEN, 42116
HP 0817799567

SARI
Lempung atau clay merupakan material yang terdiri dari mineral kaya
alumina, silika dan air. Clay bukan mineral tunggal, tetapi sejumlah mineral.
Mineral lempung merupakan silikat yang berlapis; struktur kristal mineral-
mineral tersebut tersusun dari lapisan tetrahedron SiO4. Di tengah
tetrahedron SiO4 yang bergelang-6 biasanya terdapat ion hidroksil (OH).
Mineral lempung berukuran sangat kecil (kurang dari 2 mikron) dan
merupakan partikel yang aktif asecara elektrokimiawi dan hanya dapat
dilihat secara mikroskop elektron. Mineral yang membentuk lempung begitu
halus sehingga sampai penemuan X-ray analisis difraksi, mineral ini tidak
secara khusus dikenal. Pembesaran sangat tinggi dapat melihat mineral
lempung dapat berbentuk seperti serpih, serat dan bahkan tabung hampa.
Lempung dapat juga mengandung bahan lain seperti oksida besi (karat),
silika dan fragmen batuan. Kotoran ini dapat mengubah karakteristik dari
lempung.
Mineral lempung meliputi kaolin, haloisit (hauoysite),illit, vermikulit,
bentonit dan masih banyak lagi.
Sumber utama dari mineral lempung adalah pelapukan kimiawi dari
batuan yang mengandung : felspar ortoklas, felspar plagioklas dan mika
(muskovit), dapat disebut sebagai silikat aluminium komples. Mineral
lempung dapat terbentuk dari hampir setiap jenis batuan selama terdapat
cukup banyak alkali dan tanah alkali untuk dapat membuat terjadinya reaksi
kimia (dekomposisi).
Lempung digunakan terutama pembuatan tembikar, ubin lantai,
keramik. membuat sanitary ware, menyerap cairan, bahan bangunan seperti
batu bata, semen, dan agregat ringan. Lempung digunakan sebagai lumpur
di dalam pengeboran juga digunakan dalam industri lainnya seperti
"pelletizing" bijih besi selain itu digunakan pulauntuk membuat berbagai
jenis barang tahan terhadap panas ekstrim (refraktori).

1. Asal Mula jadi


Lempung atau clay merupakan material yang terdiri dari mineral kaya
alumina, silika dan air. Clay bukan mineral tunggal, tetapi sejumlah mineral.
Ketika sebagian besar lempung basah, mereka menjadi "plastik" yang
berarti mereka dapat dibentuk dan dibentuk menjadi bentuk. Ketika mereka
"dipecat" (terkena suhu yang sangat tinggi), air didorong keluar menjadi
sekeras batu. Akibatnya, hampir semua peradaban telah menggunakan
beberapa bentuk dari lempung untuk segala sesuatu dari batu bata dengan
tembikar untuk tablet untuk transaksi bisnis rekaman.
Mineral yang membentuk lempung begitu halus sehingga sampai
penemuan X-ray analisis difraksi, mineral ini tidak secara khusus dikenal.
Pembesaran sangat tinggi dapat melihat mineral lempung dapat berbentuk
seperti serpih, serat dan bahkan tabung hampa. Lempung dapat juga
mengandung bahan lain seperti oksida besi (karat), silika dan fragmen
batuan. Kotoran ini dapat mengubah karakteristik dari lempung. Misalnya,
oksida besi warna lempung merah. Kehadiran silika meningkatkan plastisitas
lempung (yakni, membuatnya lebih mudah untuk cetakan dan bentuk ke
bentuk).
Lempung dikategorikan ke dalam enam kategori dalam industri.
Kategori ini ball clay, bentonit, lempung umum, api lempung, bumi penuh,
dan kaolin.

2. Latar Belakang
Mineral lempung merupakan silikat yang berlapis; struktur kristal
mineral-mineral tersebut tersusun dari lapisan tetrahedron SiO4. Di tengah
tetrahedron SiO4 yang bergelang-6 biasanya terdapat ion hidroksil (OH).
Mineral-mineral lempung, terutama terdiri dari silikat aluminium
dan/atau besi dan magnesium. Beberapa diantaranya juga mengandung
alkali atau tanah alkalin sebagai komponen dasarnya. Mineral-mineral ini
terutama terdiri dari kristalin di mana atom-atom yang membentuknya
tersusun dalam suatu pola geometrik tertentu (Gambar 1.). Sebagian besar
mineral lempung mempunyai struktur berlapis. Beberapa diantaranya
mempunyai bentuk silinder memanjang atau struktur yang berserat. Cluster
adalah tumpukan satuan yang berlapis tipis atau kumpulan satuan silinder
atau serat. Massa tanah biasanya mengandung campuran beberapa mineral,
lempung yang diberi nama sesuai dengan mineral lempung yang Iterbanyak
dengan berbagai jumlah mineral bukan lempung lainnya.
Gambar 1. Unit dasar mineral lempung
a. Sebuah unit oktahedron tunggal, dalam gibsit Al dikelilingi oleh 6 oksigen
b. Struktur unit-unit oktahedron
c. Struktur tetrahedron silika
d. Struktur tetrahedron silika tersusun dalam sebuah jaringan heksagonal

Kaolin adalah mineral lempung paling tidak aktif yang pernah diamati.
Kaolin dapat dihasilkan oleh pelapukan beberapa mineral lempung yang
lebih aktif atau dapat juga terbentuk langsung dari produk sampingan
pelapukan batuan.
“Keluarga” kaolin adalah haloisit (hauoysite). Mineral ini berbeda dari
kaolin, karena tertumpuk secara lebih acak sehingga satu molekul air dapat
masuk diantara satuan-satuan. Mineral ini juga berbeda dari kaolin
disebabkan lembaran-lembaran elemennya tergulung menjadi suatu silinder.
Dehidrasi akibat panas sebesar 60 sampai 70° C, dan bahkan pengeringan
udara, sering dapat mengubah haloisit ini secara permanen, sehingga
menjadi 2H20 atau sama sekali meniadakan molekul air dan berubah
menjadi kaolin. Sifat-sifat teknis dari haloisit sangat berbeda dengan kaolin,
karena pengeringan udara dapat mempengaruhi reaksi-reaksi kimia yang
secara tidak langsung dapat di ukur dengan batas Atterberg. Dalam analisis
diperlukan ketelitian untuk mendapatkan contoh yang realitis antara batas
Atterberg dan analisis hidrometer.
Mineral lempung illit diturunkan dari muskovit (mika) dan biotit dan
kadang-kadang disebut lempung mika. Mineral lempung illit, terdiri atas
lapisan gibsit oktahedral yang terletak diantara dua lapisan silika tetrahedra.
Hal ini menghasilkan mineral 1 : 2, dengan tambahan perbedaan dimana
beberapa posisi silika akan terisi oleh atom-atom aluminium dan ion-ion
potasium ikut berada di antara lapisan-lapisan untuk mengatasi kekurangan
muatan. Rekatan seperti ini mengakibatkan kondisi yang kurang stabil jika
dibandingkan dengan kaolin, karena itu aktivitas illit adalah lebih besar.
Vermikulit merupakan mineral lempung dalam keluarga illit yang
bersifat sama, kecuali molekul air lapisan-ganda di antara lapisan-lapisannya
diselangi dengan ion-ion kalsium atau magnesium, dengan substitusi oleh
brusit sebagai pengganti gibsit di dalam lapisan oktahedralnya.
Lempung illit dan vermikulit serta serpih lempung banyak dipakai
untuk membuat agregat berbobot ringan (kadang-kadang disebut “serpih
mengembang”). Vermikulit terutama sangat mengembang apabila
mengalami pemanasan yang tinggi, karena lapisan-lapisan airnya dengan
cepat berubah menjadi uap sehingga mengakibatkan terjadinya
pengembangan yang besar.
Sifatnya liat dan sering kali agak gembur. Disusun terutama dari
mineral kaolinit (Al2O3, 2SO3, 2H2O). Kaolin berasal dari felspar dan terjadi
dari proses perapukan pada permukaan bumi atau hasil larutan hidrotermal.
Proses ini disebut dengan kaolinisasi, reaksi kimianya sebagai berikut :
2KAlSi3 O8 + 2H2O + CO2 A12O3.2SiO2 + 4SiO2 +
K2CO3
(Felspar) (Kaolin)
Di dunia ini banyak terdapat bentuk mineral lempung yang masing-
masing berbeda dalam susunan, struktur dan perilakunya. Semua mineral
lempung tersebut memiliki butiran yang sangat halus (biasanya lebih kecil
dari 2u m), itulah sebabnya mengapa tanah dengan butiran yang sangat
halus < 2u dinamakan “lempung”. Pada umumnya lempung terdiri dari
sebagian besar dari mineral lempung, akan tetapi mineral lain, misalnya
kuarsa juga terdapat dengan butiran yang sangat halus. Karena mineral
lempung memiliki butiran yang sangat halus, maka mineral ini mempunyai
permukaan yang cukup besar per satuan massa.
Mineral lempung berukuran sangat kecil (kurang dari 2 m m) dan
merupakan partikel yang aktif asecara elektrokimiawi dan hanya dapat
dilihat secara mikroskop elektron. Walaupun berukuran kecil, mineral
lempung telah dipelajari dengan cukup mendalam karena kepentingan
ekonomisnya terutama dalam keramik, pengecoran logam, pemakaiannya
dilapangan minyak dan dalam mekanika tanah. Mineral lempung
menunjukkan karakteristik daya tarik-menarik dengan air menghasilkan
plastisitas yang tidak ditunjukkan oleh material lain walaupun mungkin
material itu berukuran lempung. atau lebih kecil. Sebagai contoh, kuarsa
tanah yang halus tidak menunjukkan plastisitas apabila dibasahi. Perlu
dicatat bahwa setiap deposit “lempung” berbutir-halus mengandung
sekaligus mineral lempung dan berbagai ukuran partikel dari material-
material lainya yang dianggap sebagai “pengisi” (filler).
Pertukaran ion merupakan hal yang relatif sederhana dalam struktur
lempung. Dengan demikian pertukaran ion tersebut adalah aktif-kimiawi. Ini
misalnya akan merupakan sebuah persoalan dalam air yang terkena
pencemaran (banyak sekali ion di dalam larutan). Dalam keadaan tertentu,
dapat terjadi pertumbuhan mineral lempung yang berlangsung dengan cepat
(pembentukan lumpur dalam reservoar penjernih air, penyumbatan pipa-
pipa drainase).

3. Sumber
Sumber utama dari mineral lempung adalah pelapukan kimiawi dari
batuan yang mengandung : felspar ortoklas, felspar plagioklas dan mika
(muskovit), dapat disebut sebagai silikat aluminium komples. Mineral
lempung dapat terbentuk dari hampir setiap jenis batuan selama terdapat
cukup banyak alkali dan tanah alkali untuk dapat membuat terjadinya reaksi
kimia (dekomposisi). Pelapukan batuan menghasilkan sejumlah besar
mineral lempung dengan sifat-daya gabung (affinity) yang sama terhadap
air, tetapi dalam jumlah sangat berbeda.

4. Kegunaan
Lempung kualitas yang baik digunakan terutama di tembikar, tetapi
juga ditambahkan ke lempung lain untuk meningkatkan plastisitas mereka.
Lempung bola tidak biasa seperti varietas lempung lainnya. Sepertiga dari
lempung bola digunakan setiap tahun digunakan untuk membuat ubin lantai
dan dinding. Hal ini juga digunakan untuk membuat sanitary ware, keramik
dan penggunaan lainnya.
Bentonit terbentuk dari abu vulkanik perubahan. Bentonite digunakan
dalam kandang hewan peliharaan untuk menyerap cairan. Hal ini digunakan
sebagai lumpur di dalam pengeboran juga digunakan dalam industri lainnya
seperti "pelletizing" bijih besi.
Lempung yang umum digunakan untuk membuat bahan bangunan
seperti batu bata, semen, dan agregat ringan.
Lempung api semua lempung (tidak termasuk lempung bentonit dan
bola) yang digunakan untuk membuat berbagai jenis barang tahan terhadap
panas ekstrim. Produk-produk ini disebut produk refraktori. Hampir semua
(81%) dari lempung api yang digunakan untuk membuat produk tahan api.
Fuller bumi terdiri dari mineral palygorskite (pada satu waktu mineral
ini disebut "atapulgit"). Bumi Fuller digunakan terutama sebagai bahan
penyerap (74%), tetapi juga untuk pestisida dan produk pestisida yang
terkait (6%).
Kaolinit merupakan lempung kaolin terdiri dari mineral. Ini merupakan
unsur penting dalam produksi kertas berkualitas tinggi dan beberapa
porselen tahan api.

5. Penyebaran
Lempung yang umum di seluruh dunia. Beberapa daerah, seperti yang
diharapkan, menghasilkan jumlah besar jenis tertentu dari lempung.
Produsen lempung dunia adalah Amerika Serikat, Meksiko, Brasil, Inggris,
Kanada, dan negara-negara lain macam. Amerika Serikat ekspor hampir
setengah dari seluruh dunia produksi.
Penyebaran lokasi lempung di Indonesia meliputi daerah yang sangat
luas seperti di Provinsi Bangka Belitung, Riau dan masih banyak lagi (Tabel
1.). Berbagai jenis lempung dihasilkan dari beberapa daerah tersebut.
Tabel 1. Lempung
Provinsi Lokasi
Bangka Belitung Belinyu, Koba, Toboali, Jebus, Sungailiat,
Muntok, Kelapa, Merawang, Pangkalan Baru,
Pangkal Balam, Rangkui, Bukit Intan, Koba,
Payung, Sungai Selan, Lepar Pongok, Taman
Sari, Dendang, Gantung, Kelapa Kampit,
Manggar, Membalong, Tanjung Pandan
Riau Bangun Jaya, Tali Kumain, Daludalu,
Kepenuhan Hulu, Rokan Timur, Tibawan,
Sukadamai, Bantaian, Tanjungpadang,
Tanjungmedan, Desa Siarangarang
Lampung Wirabangun, Mekartitama, Sidang Gunung
Tiga, Batu Ampar, Panaragan Kampung,
Buyut, Desa Sukamarga, Way Maya, Dusun
Sukajadi, Desa Lintik, Desa Lemong, Dusun
Serarukuh, Desa Luas, Kp Tanjungbaru, Desa
Bahu/Baru, S. Giham, Dusun Dangduanan
Bambu Kuning, Pekon Sedayu, Kecamatan
Semaka; Desa Banyuwangi, Desa Panjirejo
Sumut Ilinaa, Lahewa, Hilibasi, Teterosihiram,
Lelegohi, Lelehua, Simalungun
Sumsel Batuampar, Kijang ulu, Talang Pangeran,
Teluk Gelam, Bunut, Sepucuk, Gading Rejo,
Sidomulyo, Muara Burnai, Tugu Agung
DI Aceh Bakongan, Trumon, Desa Solok, Desa
Sumber Mukti, Desa Mukti Jaya, Desa
Singkohor, Desa Singgersing, Desa
Namabuaya, Desa Danau Bungara, Desa
Amaiting Jaya, Desa Lugu, Desa Dihit
Banten Luhur Jaya, Cipay, Ciruas, Pabuaran
Papua Desa Yeruboy, Desa Sosmay, Desa
Saukobiye
Kalimantan Barat Belimbing, Nanga Pinoh, Nanga Ella Hilir,
Nanga Sayan, Desa Jelimpo, Desa Tubang,
Desa Tebedak, Desa Ambarang, Desa
Engkadu, Pedataran Desa Muara Behe, Desa
Sidas, Desa Anik, Desa Darit, Desa Keranji
Panjang, Desa Sungai Mawang, Desa Meliau
Hilir, Desa Subah, Batu Besi, Sei Jotang,
Kedakas Binjai, Desa Tanjung, Desa Tanap,
Desa Mobuy, Tunggul Boyok, Desa Sape,
Desa Manawai, Desa Balaikarang Satu, Desa
Lubuk Sabuk
Kalimantan Tengah Seruyan, Kotawaringin Timur,
Nusa Tenggara Jereweh, Taliwang
Barat
Nusa Tenggara Desa Padiratana, Mbulur Pangadu
Timur
Papua Sarmi, Foumes, Erewen
Papua Barat Kampung Jagiro, Kampung Wasiri, Kampung
Kalikodok, Kampung Banjar Ausoi
Maluku Utara Falabisahaya, Modapuhi, Lala, Batu Buoy,
Wailo Wabloi, Sinavati, Waleman, Botit,
Waeno Waelo, Wahanga, Lai Uwin, Kilo Dua,
Kotania Pantai, Taman Jaya, Alang Asaude,
Kawa, Musihuwei, Sanahu
Maluku Ds. Yaputih, Tehoru
Sulawesi Barat Lamaru, Bonde, Segeri, Baurung, Lembang,
Taludu, Seleto, Bambu, Salubatu, Taludu,
Seleto, Bambu, Salubatu
Sulawesi Selatan Karampuang, Bonto Sinala Pasir Putih,
Tanaeja, Kampala, Biringere, Lamatti
Riattang, Manciri, Lebbae, Salewangeng,
Leppangeng, Sampulili, Langi Bulusirua,
Abumpungeng Rawamangun, Desa Terpedo
Jaya, Desa Pongkeru, Desa Puncak Indah,
Desa Wonorejo,
Sumber : Dari berbagai sumber

6. Daftar Acuan

Undang-Undang
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok
Pertambangan.
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup.

Peraturan Pemerintah
Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisa Mengenai Dampak
Lingkungan Hidup.
Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2010 tentang Wilayah Pertambangan.
Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha
Pertambangan Mineral dan Batubara.

Keputusan Presiden
Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.

Peraturan Menteri
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 05 Tahun 2008 tentang Tata Kerja
Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup.
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 24 Tahun 2009 tentang Panduan
Penilaian Dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup.

Buku, Majalah, Peta


Bahar, N., Latif, N.A., 2002, Kusdarto, Arifin D., Inventarisasi Dan Evaluasi Mineral Non
Logam Di Kabupaten Gorontalo Dan Boalemo Provinsi Gorontalo. Direktorat
Inventarisasi Sumber Daya Mineral, Bandung.
Bates, R.L., 1969, Geology of the Industrial Rocks and Minerals, Dover Pub. Inc.
Battay, M.H., 1972, Mineralogy For Student, Longman Group Ltd.
Departemen Pertambangan, 1969, Bahan Galian Indonesia.
Eneste, Pamusuk, 2009, Buku Pintar Penyuting Naskah, PT. Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.
Graha, D.S., 1987, Batuan dan Mineral, PT. Nova, Bandung.
……......, 1994, Bahan Galian Indonesia, Unpub.
.........., 2011, Kisi Kisi Pertambangan, Unpub.
Halim, S., Harahap, I.A., Sukmawan, 2005, Inventarisasi Dan Evaluasi Mineral Non
Logam Kabupaten Sumbawa Barat Dan Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara
Barat. Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral, Bandung.
Halim, A.S., Muksin, I., Bakkara, J., 2006, Inventarisasi Dan Penyelidikan Mineral Non
Logam Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua. Pusat Sumber Daya Geologi, Bandung.
Hurlburt, C.S., 1971, Dana’s Manual of Mineralogy, Eignteenth Ed., John Wiley and Sons.
Kaelani M.S., Sutisna T., Muksin I., Kusumah T., Inventarisasi Dan Evaluasi Mineral Non
Logam di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan Dan Kabupaten
Tulang Bawang, Provinsi Lampung. Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral,
Bandung.
Madjadipoera, T., 1990, Bahan Galian Industri Indonesia, Direktorat Sumberdaya
Mineral.
Priyono, S., Labaik, G., Abdullah, S., Kusumah, T.T., Susilo, H., Jajah, 2005,
Inventarisasi Dan Evaluasi Mineral Non Logam Daerah Kabupaten Sinjai
Dan Bone, Provinsi Sulawesi Selatan. Direktorat Inventarisasi Sumber Daya
Mineral, Bandung.
Priyono, S., Bahar, N., Labaik, G., Mudjahar, Arifin, D., Susilo H., 2006,
Inventarisasi Dan Evaluasi Mineral Non Logam Di Daerah Kabupaten Buru
Dan Kabupaten Seram Bagian Barat Provinsi Maluku Utara. Pusat Sumber Daya
Geologi, Bandung.
Priyono, S., Latif, N.A., Tandjung, S.A.W., Inventarisasi Dan Evaluasi Mineral Non
Logam Di Kabupaten Pangkajene Kepulauan Dan Kabupaten Barru, Provinsi
Sulawesi Selatan. Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral, Bandung.
Raja, M., 2006, Inventarisasi Dan Evaluasi Bahan Galian Non Logam Daerah Kabupaten
Nias Dan Nias Selatan. Provinsi Sumatera Utara. Pusat Sumber Daya Geologi,
Bandung.
………., 2006, Inventarisasi dan Penyelidikan Bahan Galian Non Logam di Kabupaten Raja
Ampat, Provinsi Irian Jaya Barat. Pusat Sumber Daya Geologi, Bandung.
Rusmana, E., K. Suwitodirdjo, Suharsono, 1991, Geologi Lembar Serang, Jawa, Pusat
Penelitian dan Pengembangan Geologi.
Santosa, S., 1991, Geologi Lembar Anyer, Jawa, Pusat Penelitian dan Pengembangan
Geologi.
Sanusi, B., 1984, Mengenal Hasil Tambang Indonesia, PT Bina Aksara, Jakarta.
Suhala, S., M. Arifin (Ed.), 1997, Bahan Galian Industri, Pusat Penelitian dan
Pengembangan Teknologi Mineral.
Sukmawardany, R., Adrian, Z., Bahar, N., 2004, Inventarisasi Dan Evaluasi Mineral Non
Logam Di Daerah Kabupaten Majene Dan Mamuju Provinsi Sulawesi Barat.
Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral, Bandung.
Supardan, K.M., Sutandi, A., 2006, Inventarisasi Dan Evaluasi Bahan Galian Non Logam
Di Kabupaten Musi Rawas Dan Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Pusat
Sumber Daya Geologi, Bandung.
Supardan K.M., Sukmawan, Sutandi A., 2006, Inventarisasi Dan Evaluasi Bahan Galian
Non Logam Di Kabupaten Lampung Tengah Dan Lampung Timur, Provinsi Lampung.
Pusat Sumber Daya Geologi, Bandung.
Yusuf A.F., Aswan I., Halim S., Inventarisasi Dan Penyelidikan Bahan Galian Non
Logam Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah Direktorat Inventarisasi
Sumber Daya Mineral, Bandung.
Zulfikar, Zainith, A., Sulaeman, A.S., 2005, Inventarisasi Dan Evaluasi Mineral Non
Logam Kabupaten Rokan Hulu Dan Rokan Hilir, Provinsi Riau. Direktorat
Inventarisasi Sumber Daya Mineral, Bandung.