Anda di halaman 1dari 12

2.

1 Geologi Regional Cekungan Kutai


Cekungan Kutai merupakan salah satu cekungan sedimen yang sangat bernilai ekonomis di
Indonesia yang menutupi daerah seluas 60.000 km2 dan cekungan ini terdiri dari endapan
sedimen Tersier dengan ketebalan 14 km (Rose dan Hartono, 1971 dalam Mora dkk., 2001).
Cekungan ini adalah cekungan Tersier terbesar dan terdalam di Indonesia Bagian Timur.
Cekungan Kutai terletak di tepi bagian timur dari Paparan Sunda, yang dihasilkan sebagai akibat
dari gaya ekstensi di bagian selatan Lempeng Eurasia (Howes, 1977 dalam Allen dan Chambers,
1998).
Cekungan Kutai dibatasi di bagian utara oleh suatu daerah tinggian batuan dasar yang
terjadi pada Oligosen (Chambers dan Moss, 2000), yaitu Tinggian Mangkalihat dan Sesar
Sangkulirang yang memisahkannya dengan Cekungan Tarakan. Di bagian timur daerah cekungan
ini, terdapat Delta Mahakam yang terbuka ke Selat Makassar. Di bagian barat, cekungan dibatasi
oleh daerah Tinggian Kuching (Central Kalimantan Ranges) yang berumur Kapur (Chambers
dan Moss, 2000). Di bagian tenggara cekungan ini, terdapat Paparan Paternoster yang dipisahkan
oleh gugusan Pegunungan Meratus. Di bagian selatan cekungan ini, dijumpai Cekungan Barito
yang dipisahkan oleh Sesar Adang.
Gambar 2.1. Sketsa Fisiografi Regional Cekungan Kutai (Paterson dkk., 1997 dalam Mora dkk.,
2001)

Cekungan Kutai yang berada di bagian timur Pulau Kalimantan dibagi menjadi dua bagian
yaitu bagian barat yang disebut sebagai Cekungan Kutai Atas (Upper Kutai Basin) dan bagian
timur yang disebut sebagai Cekungan Kutai Bawah (Lower Kutai Basin). Cekungan Kutai atas
merupakan daerah pengangkatan tektonik dan subsekuen erosi yang dihasilkan dari inversi
deposenter Paleogen. Batas dari sedimen berumur Paleogen dan Cekungan Kutai sulit ditentukan
karena adanya tektonik ekstensional pada saat Eosen Tengah yang menghasilkan graben dengan
arah utara-selatan dan timurlaut-baratdaya yang terkoneksi dan yang tidak terkoneksi di bagian
timur Kalimantan. Kedua bagian Cekungan Kutai tersebut berada di atas deposenter Paleogen
tersebut (Moss dan Chambers, 1999).

2.1.1 Tatanan Tektonik Regional


Berikut adalah urutan kejadian tektonik dari Eosen hingga Miosen seperti yang terlihat
pada Gambar 2.2.
a. Fase Pra-Eosen
Baratdaya dari Kalimantan terdiri dari kerak stabil yang berasal dari Kapur Awal (Gambar
2.2), kemudian terjadi tumbukan dari Paparan Sunda yang menghasilkan akresi di zaman Kapur
sehingga menambahkan bagian pada Paparan Sunda dari Laut Jawa bagian timur, bagian timur
Kalimantan, dan Sulawesi. Ofiolit dan sedimen island-arc hadir di Pegunungan Meratus. Zona
subduksi ini bergerak ke arah utara. Pertama kali terjadi kolisi antara India dengan Asia terjadi di
Eosen Tengah (50 Ma) dan menghasilkan pengaturan kembali lempeng-lempeng di Asia.
Permulaan penurunan cekungan dan sedimentasi zaman Eosen di Kalimantan merupakan
fenomena regional dari hasil pengaturan kembali lempeng-lempeng di Asia dan juga merupakan
permulaan pembukaan Laut Celebes (Silver dkk., 1989 dalam Weerd dan Armin, 1992).
Gambar 2.2. Struktur Geologi Cekungan Kutai (Allen dan Chambers, 1998)

b. Fase Syn-Rift Eosen


Pemekaran lantai samudera di Selat Makassar menghasilkan deposenter yang diskrit.
Selama pemekaran lantai samudera, terbentuk komplek half-graben yang berkembang dengan
arah timurlaut-baratdaya dan offset di sepanjang sesar yang berhubungan dengan pemekaran
dengan arah tenggara-baratlaut. Setelah itu terjadi pengisian sedimen yang cukup cepat, terutama
di bagian timur (Moss dan Chambers, 1999).

c. Fasa Sagging di Eosen Akhir-Oligosen Akhir


Di akhir Eosen, ekstensi berhenti di Selat Makassar dan di Kalimantan Timur. Selain itu
penurunan cekungan regional terjadi di seluruh Kalimantan Timur (Moss dkk., 1997 dalam Moss
dan Chambers, 1999). Deposenter yang lebih regional berkembang sebagai hasil dari
penggenangan air laut dana atau penurunan cekungan regional. Fasa sagging ini terus terjadi
hingga Oligosen Akhir.
d. Fasa Oligosen Akhir
Terdapat ketidakselarasan di atas lapisan batuan berumur Oligosen Awal yang berhubungan
dengan pembaharuan pengangkatan di bagian tengah Kalimantan dan ekstensi dalam cekungan.
Ekstensi sesar baru ini orthogonal terhadap ekstensi sesar Eosen dan berada di bawah rezim
tekanan yang berbeda. Sesar di Oligosen akhir mengikuti bidang lemah patahan yang telah ada
sebelumnya, trend-nya berarah baratlaut-tenggara, yaitu sesar yang memisahkan graben pada
saat Eosen (Cloke dkk., 1999 dalam Moss dan Chambers, 1999). Saat ini masih terbentuk
deposenter Cekungan Kutai dengan Zona Sesar Sangkurilang dan Zona Sesar Sungai Bengalon
di sebelah utara dan Zona Sesar Adang di sebelah selatan yang bertindak sebagai zona utama di
Oligosen Akhir hingga Miosen Awal (Moss dan Chambers., 1999). Pendinginan di Oligosen
Akhir dari basement metasedimen dari Kapur Akhir-Paleosen terinduksi oleh pengangkatan
tektonik di sepanjang batas baratlaut Cekungan Kutai (Moss dkk., 1998 dalam Moss dan
Chambers, 1999).

e. Fasa Miosen Awal


Pada Miosen awal terjadi penurunan muka air laut yang ditandai terbentuknya pola
progradasi dan delta di berbagai tempat di Cekungan Kutai (Weerd dan Armin, 1992) (Gambar
2.3.A dan B). Tektonik yang terjadi di Oligosen Akhir terus berlanjut hingga Miosen Awal
dengan beberapa episode inversi yang menghasilkan pengangkatan syn-rift Eosen. Tinggian
Kuching adalah hasil dari inversi di zaman ini (Gambar 2.3.C). Terdapat dua asosiasi di Miosen
Awal yaitu fasies laut dalam dari saat setelah pemekaran kedua dan fasies deltaik Miosen Awal.
Terdapat juga campuran endapan akibat inversi di fasa ini yaitu rijang dari saat terjadi syn-rift,
endapan turbidit dari hasil pengangkatan Oligosen Akhir, dan endapan dari saat Paleogen yang
terdapat di bagian barat cekungan, serta material vulkanik dari gunung api aktif.

f. Fasa Miosen Tengah-Resen: Agradasi, Progradasi dan Inversi Fasies Deltaik


Pada Miosen Awal hingga Miosen Akhir, pengangkatan Tinggian Kuching di sebelah barat
mengakibatkan batuan di dekat Tinggian Kuching mengalami pengangkatan dan membentuk
lereng ke arah timur (Gambar 2.3.D). Lereng ini tergelincir ke timur akibat gravitasi dan
mengangkat lapisan di bagian timur menjadi Antiklinorium Samarinda (Gambar 2.3.E). Pada
Pliosen hingga Pleistosen, pengangkatan Gunung Meratus terjadi di bagian selatan Cekungan
Kutai serta terbentuk struktur inversi (Moss dan Chambers, 1999).

Gambar 2.3. Diagram penampang rekonstruksi geologi struktur di Cekungan Kutai (dimodifikasi
dari Ott, 1987)

Setelah terjadi inversi di Miosen Awal, terjadi pembanjiran sedimen deltaik yang
berprogradasi ke arah timur menuju deposenter Delta Mahakam dimana akomodasi cekungan
cocok dengan adanya input sedimen. Pada interval sedimen ini terdapat eksploitasi aktif sistem
petroleum di Cekungan Kutai (Graves dan Swauger, 1997; Paterson dkk., 1997 dalam Moss dan
Chambers, 1999).

2.1.2 Stratigrafi Regional


Menurut Allen dan Chambers (1998), Cekungan Kutai tersusun atas endapan-endapan
sedimen berumur Tersier yang memperlihatkan endapan fase transgresi dan regresi laut, yaitu:
1. Fase Transgresi Paleogen
Fase sedimentasi Paleogen dimulai ketika terjadi fasa tektonik ekstensional dan
pengisian rift pada kala Eosen. Pada masa ini, Cekungan Barito, Kutai, dan Tarakan
merupakan zona subsidence yang saling terhubungkan (Chambers dan Moss, 2000),
kemudian sedimentasi Paleogen mencapai puncak pada fasa pengisian pada saat
cekungan tidak mengalami pergerakan yang signifikan, sehingga mengendapkan serpih
laut dalam secara regional dan batuan karbonat pada Oligosen Akhir.
2. Fase Regresi Neogen
Fase ini dimulai pada Miosen Awal hingga sekarang, yang menghasilkan progradasi
delta (deltaic progradation) yang masih berlanjut hingga sekarang. Sedimen regresi ini
terdiri dari lapisan-lapisan sedimen klastik delta hingga laut dangkal dengan progradasi
dari barat kearah timur dan banyak dijumpai lapisan batubara (lignite).
Kolom stratigrafi Cekungan Kutai terlihat pada Gambar 2.4. Pengendapan di Cekungan
Kutai dimulai dengan pengendapan sedimen alluvial Formasi Kiham Halo pada cekungan bagian
dalam (Satyana dkk., 1999). Pada saat tersebut terjadi post-rift sagging di Cekungan Kutai.
Formasi ini terdiri dari batupasir dan konglomerat. Penurunan cekungan yang sangat cepat pada
Eosen Akhir sampai Oligosen Awal menghasilkan pengendapan lempung laut Formasi Atan yang
terdiri dari serpih dan batulempung.
Pada Miosen Awal dimulai penurunan cekunganyang mengakibatkan pengendapan
endapan alluvial dan delta yang terdiri dari sedimen delta Formasi Pamaluan, Kelompok Bebulu,
Kelompok Balikpapan, Kelompok Kampung Baru, dan Kelompok Mahakam (Satyana dkk.,
1999).
Formasi Pamaluan tersusun oleh batulempung serpih dengan sisipan napal, batupasir, dan
batugaping. Formasi ini terbentuk pada Oligosen Akhir hingga Miosen Awal. Lingkungan
pengendapan formasi ini adalah neritic luar hingga bathyal (Marks dkk., 1982).
Kelompok Berbulu terdiri atas Formasi Maruat dan Formasi Pulau Balang. Formasi Maruat
tersusun oleh batugamping paparan. Sedangkan Formasi Pulau Balang terdiri dari batulempung,
batupasir lempungan, batupasir, dan batulempung karbonatan. Kelompok berbulu diendapkan di
delta-laut dagkal (Satyana dkk., 1999).
Kelompok Balikpapan terdiri dari Formasi Mentawir dan Fowmasi Gelingseh. Formasi
Mentawir yang diendapkan pada lingkungan pengendapan delta tersusun oleh batupasir tanpa
struktur dan batupasir dengan perlapisan batulanau dan batulumpur. Sedangkan Formasi
Gelingseh yang diendapkan pada lingkungan pengendapan neritic tengah terdiri dari batupasir,
batulempung, batulanau dan lapisan tipis batugamping. Anggota Klandasan merupakan anggota
formasi gelingseh yang terdiri dari batugamping yang berinterkalasi dengan napal (Marks, dkk.,
1982).

Gambar 2.4. Kolom stratigrafi Cekungan Kutai (modifikasi dari Satyana dkk, 1999)

Kelompok Kampung Baru terdiri dari Formasi Tanjung Batu dan Formasi Sepinggan.
Formasi Tanjung Batu tersusun oleh batupasir, batulempung, dan batulanau. Sedangkan Formasi
Sepinggan tersusun oleh batupasir, batulempung, batulanau dan batubara. Lingkungan
pengendapan kelompok ini adalah delta hingga laut dangkal yang diendapkan pada Miosen Akhir
hingga Plio-Pleistosen (Satyana dkk, 1999).
Kelompok Mahakam diendapkan di atas Kelompok Kampung Baru yang terdiri dari
Formasi Attaka dan Formasi Handil. Formasi Attaka tersusun oleh batulempung, batupasir, dan
kalkarenit bioklastik yang diendapkan pada lingkungan pengendapan neritic tengah hingga laut
dangkal. Sedangkan Formasi Handil tersusun oleh batupasir yang diendapkan pada lingkungan
pengendapan delta pada Holosen. Sementara itu, endapan Delta Mahakam yang terbentuk pada
lingkungan sungai, rawa, pantai dan delta diendapkan secara tidak selaras terhadap batuan di
bawahnya. Endapan Delta Mahakam ini berupa pasir, lumpur, kerikil dan endapan pantai
(Satyana dkk, 1999).

A.3. Sistem Petroleum


Cekungan Kutai adalah cekungan yang paling produktif di Kalimantan. Produksi
hidrokarbon di Cekungan Kutai terkonsentrasi di Cekungan Kutai Bawah. Semua lapangan
minyak terdapat di Antiklinorium Samarinda-Foldbelt Mahakam. Beberapa lapangan merupakan
trap stratigrafi yang berhubungan dengan tektonik (Satyana dkk., 1999).
Sebagian besar hidrokarbon berada di reservoir batupasir deltaic dari Formasi Balikpapan dan
Kampung Baru. Litologi Source rocknya adalah batbara dan serpih karbonatan dari kedua
formasi tersebut. Sealnya berupa serpih intra-formasi. Tiap lapangan memiliki dapur hidrokarbon
proksimal yang berlokasi di area dip-slip sinklin. Generasi hidrokarbon di area ini termigrasi
secara lateral updip dengan jarak maksimum 10 km (Paterson dkk., 1997, dalam Satyana dkk,
1999) untuk mengakumulasikan akumulasi jebakan. Pada Gambar 2.5, generasi dan migrasi
hirokarbon dimulai dari Miosen Akhir dan puncak akumulasi minyak terjadi saat Pliosen Akhir.
Pemerangkapan hidrokarbon ini terjadi saat Miosen Tengah hingga Plio-Pleistosen (Satyana
dkk., 1999).

Gambar 2.5 Penampang struktur di sepanjang Cekungan Kutai yang memperlihatkan jebakan
hidrokarbon (Ott, 1987).

Tektonik sangat berperan dalam pembentukan hidrokarbon di Cekungan Kutai. Akibat


terbentuknya Tinggian Kuching dan Cekungan Kutai Atas (Ott, 1987), tersedia sumber sedimen
deltaic yang diendapkan di Cekungan Kutai Bawah. Kehadiran dapur hidrokarbon dari sinklin
yang berulang dan jebakan hidrokarbon antiklin di Antiklinorium Samarinda atau Sabuk Lipatan
Mahakam mendemonstrasikan peran tektonik dalam akumulasi hidrokarbon. Tektonik juga
mengontrol distribusi batupasir produktif (Ferguson dan McClay, 1997, dalam Satyana dkk.,
1999).
A. Geologi Lapangan Sepinggan
Lapangan Sepinggan merupakan salah satu lapangan offshore milik PT. Chevron
Indonesia Company yang ditemukan pertama tahun 1973 dan mulai diproduksi di tahun
1975. Lapangan Sepinggan berjarak 30 km di sebelah tenggara kota Balikpapan dengan
kedalaman air laut 149 kaki (Gambar 2.6). Lapangan ini terdiri dari enam platform
utama. Dalam penelitian ini, penulis hanya meneliti sumur dari tiga platform utama.

Gambar 2.6 Lokasi daerah penelitian

B.1 Struktur Geologi


Lapangan Sepinggan dilewati oleh satu sesar berarah baratlaut-tenggara yaitu sesar
sepinggan (Gambar 2.7). Sesar ini memotong section Neogen dari Lapangan Sepinggan.
Lapangan Sepinggan memproduksi minyak dan gas dari reservoir deltail berumur Miosen
Tengah-Akhir dan reservoir laut dangkal dalam beberapa blok sesar dan kompartemen.

Gambar 2.7. Fitur geologi yang melewati Lapangan Sepinggan (dimodifikasi dari Ssianto
dkk., 2012).

Sesar Sepinggan di Lapangan Sepinggan memiliki beberapa sesar minor di blok


hangingwall dan footwall (Gambar 2.8). Terdapat tiga tahap pembentukan Sesar
Sepinggan (PT. Chevron Indonesia Company, 1996):

Gambar 2.8. Sesar Sepinggan beserta sesar-sesar minor lainnya di Lapangan Sepinggan
(dimodifikasi dari PT. Chevron Indonesia Company, 2011).

a. Ekstensi di Miosen Tengah


Zona Sesar Adang terbentuk selama ekstensi yang terjadi di Eosen. Salah satu
kemungkinan bahwa zona ini berkembang sebagai zona transfer ekstensional antara
Cekungan Kutai dan Cekungan Barito, dan antara Cekungan Makassar Utara dan
Barat. Zona transfer ekstensional ini terjadi akibat tegangan dari ekstensi
berlawangan arah. Hal ini menghasilkan sesar diskret yang tersebar dalam area yang
luas. Kemungkinan lainnya adalah adanya ekstensi Tersier berarah baratlaut-tenggara
sepanjang jurus sesar baratlaut seperti system Sesar Adang (PT. Chevron Indonesia
Company, 1996).
Sesar Sepinggan, Tengah, dan Bungur yang disebut sebagai zona transfer sintetik
aktif dan terekstensi selama Miosen Tengah hingga Miosen Akhir. Sesar ini memiliki
komponen pergerakan normal (PT. Chevron Indonesia Company, 1996).

b. Kompresi di Miosen Akhir


Serial thrust imbrikasi berarah Timurlaut hadir di bawah paparan yang ada saat ini di
sisi timurlaut Zona Sesar Adang. Imbrikasi sesar ini diinterpretasikan akan bergabung
dengan potongan sesar sub-horizontal. Ketidakselarasan bersudut memisahkan
lembaran thrust di timur dari lapisan yang lebih muda. Di bawah ketidakselarasan ini
terdapat penebalan lapisan yang terdiri dari endapan sedimen pada punggung
cekungan selama thrusting. Lapisan imbrikasi di sebelah barat memiliki geometri
yang sama, tetapi erosi dan ketidakselarasan lebih sedikit dan terdapat lipatan
propagasi sesar di ujung lembaran thrust. Thrust ini lebih dulu dibandingkan thrust
yang terjadi di darat dan sebagian overlap dengan Sesar Adang bertindak sebagai tear
fault selama proses thrusting.

c. Ekstensi di Pliosen-Pleistosen
Selama Miosen Akhir hingga Pliosen Awal, Sabuk Lipatan Samarinda berkembang.
Sabuk Lipatan Samarinda ini berpropagasi terhadap waktu ke arah tenggara. Di akhir
deformasi ini, sesar dengan arah jurus beratlaut teraktivasi sebagai tear fault dan
mengakomodasi perbedaan slip pada lembaran thrust yang berkulit tipis dan lipatan
yang terganggu. Karena arah transport thrust, sesar dengan arah jurus baratlaut
muncul dan direaktivasi sebagai sesar mengiri lateral. Kompresi juga menghasilkan
sesar-sesar baru yang menghubungkan sesar normal lama. Contohnya adalah sesar
sepinggan yang memperlihatkan reverse displacement.
B.2. Pada Gambar 2.9, Lapangan Sepinggan memiliki beberapa sekuen dalam kolom
stratigrafi menurut PT. Chevron Indonesia Company, yaitu (dari tua ke muda):

Gambar 2.9 modifikasi kolom stratigrafi dari Cekungan Kutai (Satyana dkk., 1999) dan
kolom stratigrafi Lapangan Sepinggan (PT. Chevron Indonesia Company).

1. Maruat
Sekuen maruat ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu (dari tua ke muda): Klastik
Maruat dominasi serpih, Klastik Maruat dominasi batupasir, dan Karbonat maruat.
Untuk Lapangan Sepinggan, jarang sekali sumur yang menembus sekuen Maruat, dan
hanya ada beberapa sumur yang menembus bagian Karbonat Maruat.
Seperti namanya, untuk Maruat dominasi serpih ini litologinya terdiri dari serpih laut
dalam dan sedikit batugamping. Pada maruat dominasi batupasir, litologinya terdiri
dari batupasir yang mendominasi, batubara, dan batugamping. Sedangkan pada
Karbonat Maruat, litologi yang mendominasi adalah batugamping. Batugamping ini
muncul sebagai sekuen tebal yang berada di sepanjang upthrown Sesar Tengah dan
sesar lainnya. Ketebalan karbonat ini bervariasi mulai dari 10 kaki hingga 100 kaki.
Umur Maruat Karbonat yaitu akhir dari Miosen Awal. Sedangkan umur Maruat
klastik dominasi batupasir dan serpih yaitu di pertengahan Miosen Awal.

2. Yakin
Sekuen Yakin ini dibagi menjadi dua yaitu Yakin Atas dan Yakin Bawah. Litologi
Yakin Bawah adalah perselingan batupasir dan serpih. Sedimentasi batupasir adalah
sedimentasi distal (jauh dari sumber sedimen). Lingkungan pengendapannya yaitu
prodelta dan marine shelf. Di Yakin Atas, litologinya juga perselingan batupasir dan
serpih. Pada Yakin Atas, terlihat bahwa terdapat regresi yang tiba-tiba dibandingkan
dengan formasi diatasnya. Sedimentasi batupasir di Yakin Atas adalah sedimentasi
proksimal (dekat dengan sumber sedimen). Lingkungan pengendapan Yakin Atas
adalah fluvial dan tidal delta plain.
3. Sepinggan Deltaik
Sepinggan Deltaik dibagi menjadi beberapa bagian (dari tua ke muda): Deltaik
bawah, deltaic tengah, dan deltaic atas. Pada sepinggan deltaic bawah, litologi yang
dominan adalah batupasir deltaic yang banyak berselingan dengan batubara.
Sedangkan pada sepinggan deltaic tengah, kehadiran batubara lebih sedikit
dibandingkan sepinggan deltaic bawah. Pada sepinggan deltaic atas, litologi masih
didominasi batupasir tetapi terlihat adanya transisi menuju Sepinggan Karbonat.
Umur Sepinggan Deltaik ini yaitu pertengahan Miosen Tengah.

4. Karbonat Sepinggan
Seperti nama sekuen ini, litologi yang umum yaitu batugamping. Lingkungan
pengendapan Sekuen Karbonat Sepinggan di bagian atas yaitu inner shelf, sedangkan
sekuen karbonat sepinggan di bagian bawah yaitu transisi antara laut dangkal dan laut
dalam. Umur sekuen ini dari akhir Miosen Tengah hingga bagian awal dari Miosen
Awal.

5. Low Resistives
Sekuen ini dinamakan Low Resistives karena karakteristik resistivitasnya rendah
pada lognya. Lingkungan pengendapan sekuen ini adalah inner shelf dengan adanya
pengaruh deltaic dari delta front. Litologi utama adalah batupasir dan sedikit serpih di
bagian atas sekuen ini. Serpih di sekuen ini memiliki ciri khas di log, yaitu nilai
gamma-ray yang tinggi. Umur sekuen ini yaitu di pertengahan Miosen Awal hingga
Miosen Akhir.

6. Shallow
Sekuen ini berumur Miosen Akhir hingga Resen. Litologinya berupa batupasir deltaic
yang masih diendapkan hingga saat ini.