Anda di halaman 1dari 24

ASAM BASA

DEFINISI ASAM BASA


Senyawa asam dan basa merupakan zat kimia yang sering ditemukan dan berperan
penting dalam kehidupan sehari-hari. Contoh bahan yang bersifat asam yaitu pada buahan-
buahan misalnya lemon dan jeruk. Sedangkan contoh bahan yang bersifat basa yaitu sabun
dan deterjen. Untuk menjelaskan mengenai senyawa asam dan basa, terdapat empat teori
asam basa yaitu : teori Arrhenius, teori Bronsted-Lowry, teori asam basa Lewis, teori Lux-
Flood, Definisi sistem pelarut, dan Definisi Usanovich.

Sifat-sifat asam:
1. Mempunyai rasa asam dan bersifat korosif.
2. Dapat mengubah warna kertas lakmus biru menjadi warna merah.
3. Dapat menghantarkan arus listrik (untuk asam kuat).
4. Bereaksi dengan logam menghasilkan hidrogen dan garam,

Contoh:
2HCl (aq) + Mg(s) → H2(g) + MgCl2(aq) atau
2H+ (aq) + Mg(s) → H2(g) + Mg 2+ (aq)
5. Bereaksi dengan karbonat dan hydrokarbonat membentuk karbondioksida air dan
garam,
Contoh:
H2SO4(aq) + Na2CO3(s) → CO2 (g) + H2O(l) + Na2SO4(aq) atau
2H+(aq) + Na2CO3(s) → CO2 (g) + H2O(l) + Na 2+
Contoh:
HNO3(aq) + KHCO3(aq) → CO2(g) + H2O(l) +KNO3(aq) atau
H+ (aq) + HCO 3- (aq) → CO2(g) + H2O(l)
6. Bereaksi dengan oksida logam menghasilkan garam dan air
Contoh:
2HNO3 (aq) + CuO (s) → Cu(NO3)2 (aq) + H2O (l) atau
2H- (aq) + CuO(s) → Cu 2+ (aq) + H2O(l)
7. Bereaksi dengan logam hidroksida membentuk garam dan air
Contoh:
2HCl (aq) + Ba(OH)2 (aq) → BaCl2 (aq) + 2H2O (l)
H+ (aq) + OH- (aq) → H2O (l)
Sifat – sifat basa:
1. Mempunyai rasa pahit dan merusak kulit. Terasa licin bila terkena kulit.
2. Dapat mengubah kertas lakmus merah menjadi kertas lakmus biru.
3. Menghantarkan arus listrik
4. Bereaksi dengan asam membentuk garam dan air
5. Bereaksi dengan logam amfoter seperti aluminium, chromium, dan seng membentuk
gas hidrogen,
Contoh:
2Al (s) +2 NaOH (aq) + 6H2O(l) → 2Na[Al(OH)4]- (aq) + 3H2(g)
2Al(s) + 2OH- (aq) + 6H2O(l) → 2[Al(OH)4]- (aq) + 3H2(g)
6. Larut dalam logam amfoter hidroksida seperti: Al(OH)3, Cr(OH)3 dan Zn(OH)2
Contoh:
Al(OH)3(s) + NaOH(aq) → Na[Al(OH)4] (aq) atau
Al(OH)3(s) + OH- (aq) → [Al(OH)4](aq)

A. Teori Asam dan Basa Arrhenius


Teori Arrhenius berasl dari dissosiasi elektrolilitik yang meghasilkan kesetimbangan asam
basa dalam air. Hidrogen yang bersifat asam dianggap sebagai suatu proton dan dianggap
sebagai suatu proton dan teori ini memfokuskan pada autoprotolisis air.
HOH ⇌ H + + OH –
Tetapan kesetimbangan reaksi tersebut dinyatakan dalam hasil kali ion – ion air , KW,
Sebagai
𝑲𝒘 = [𝑯+ ][𝑶𝑯− ]
dan tergantung pada suhu. Pada suhu 298 K. KW nilainya sama dengan 1,02 x 10-14 . Suatu
larutan air dikatakan bersifat asam jika [𝑯+ ] > [𝑶𝑯− ], netral [𝑯+ ] = [𝑶𝑯− ], basa [𝑯+ ] <
[𝑶𝑯− ].
Arhenius mendefinisikan asam sebagai senyawa yang mengandung hidrogen yang mengion
dalam air memberikan proton (H+) , (misalnya : HCl, H2SO4, CH3COOH) dan basa sebagai
senyawa yang mengion memberikan (OH-) dalam larutan air, (misalnya: NaOH, NH4OH)
oleh karena itu penetralan adalah suatu kombonasi ion – ion H+ dan OH- yang membentuk
garam dan air.
𝑵𝒂𝑶𝑯 + 𝑯𝑪𝒍 → 𝑵𝒂𝑪𝒍 + 𝑯𝟐 𝑶
𝑵𝑯𝟒 𝑶𝑯 + 𝑯𝑪𝒍 → 𝑵𝑯𝟒 𝑪𝒍 + 𝑯𝟐 𝑶
Konsep ini, untuk asam dan basa harus dimodifikasi karena:
1. Proton tidak terdapat dalam keadaan yang demikian, secara umum tersedia sebagai
hidrasi 𝑯𝟑 𝑶+ atau spesi 𝑯𝟗 𝑶𝟒 +
2. Proton dapat terbentuk pada pelarut lain seperti NH3 atau ROH
3. Senyawa yang tidak mengandung H+ dan OH- dapat menghasilkan ion H+ atau
OH- dalam air
𝑺𝑶𝟑 + 𝑯𝟐 𝑶 → 𝑯𝟐 𝑺𝑶𝟒 ⇌ 𝑯+ + 𝑯𝑺𝑶−
𝟒

𝑪𝒂𝑶 + 𝑯𝟐 𝑶 → 𝑪𝒂(𝑶𝑯)𝟐 ⇌ 𝑪𝒂𝟐+ + 𝟐𝑶𝑯−


4. Tidak dapat digunakan untuk pelarut yang jenuh
B. Definisi Bronsted – Lowry
Pada 1923, J.N Brosnted dan T. M Lowry secara terpisah mengemukakan bahwa asam
adalah pemberi (donor) proton dan basa adalah penerima (akseptor) proton. Ini mencakup
zat – zat seperti SO3, P2O5, H3BO3, sebagai asam dan CaO Na2CO3 sebagai basa. Hal ini
tidak berbeda banyak dari Arrhenius dalam media air tetapi memiliki beberapa kelebihan
dalam pelarut non air.
Titrasi asam – basa terdiri dari pemindahan proton dari suatu asam HA ke basa B. Ini
menghasilkan asam lain BH+ , disebut asam konjugat dari basa lain disebut basa konjugat
dari asam asal.
𝑯𝑨 + 𝑩 ⇌ 𝑩𝑯+ + 𝑨−
𝑯𝑪𝒍 + 𝑵𝑯𝟑 ⇌ 𝑵𝑯+
𝟒 + 𝑪𝒍−
Asam Basa
Asam1 Basa2
konjugasi konjugasi
2
Spesi yang berbeda satu proton saja, disebut masing – masing basa dan asam konjugat. Bila
asanya kuat , konjugatnya basa akan lebih memiliki kecenderungan kecil untuk bergabung
dengan proton dan sebaliknya.
Manfaat konsep Bronsted – Lowry ialah:
i. Dapat berlaku untuk sebarang pelarut protonik seperti amonia atau H2SO4
𝑵𝑯𝟑 + 𝑵𝑯𝟑 ⇌ 𝑵𝑯𝟒 + + 𝑵𝑯𝟐 −
𝑯𝟐 𝑺𝑶𝟒 + 𝑯𝟐 𝑺𝑶𝟒 ⇌ 𝑯𝟑 𝑺𝑶𝟒 + + 𝑯𝑺𝑶𝟒 −
𝑎𝑠𝑎𝑚 𝑘𝑜𝑛𝑗𝑢𝑔𝑎𝑡 𝑏𝑎𝑠𝑎 𝑘𝑜𝑛𝑗𝑢𝑔𝑎𝑡
ii. Semua reaksi pemindahan proton (tidak lazim disebut reaksi asam –asam) dapat
diperlukan sebagai berikut:
𝑵𝑯𝟒 + 𝑺𝟐− ⇌ 𝑵𝑯𝟑 + 𝑯𝑺−
Asam 1 Basa2 Asam2 Basa1
Tetapi, definisi Bronsted-Lowry tidak bisa digunakan untuk pelarut non protonik seperti
SO2, POCl3 atau BrF3.

C. Definisi Lux – Flood


Definisi yang dikemukakan oleh Lux (1939) dan disempurnakan oleh Flood (1947)
menyatakan bahwa reaksi asam-basa berhubungan dengan ion oksida. Asam adalah
penerima (akseptor) ion oksida sedangkan basa adalah donor ion oksida. Jadi, reaksi:
𝑪𝒂𝑶 + 𝑺𝒊𝑶𝟐 → 𝑪𝒂𝑺𝒊𝑶𝟑
𝑷𝒃𝑶 + 𝑺𝑶𝟑 → 𝑷𝒃𝑺𝑶𝟒

melibatkan oksida basa (CaO, PbO) dan oksida asam (SO3, SiO2) bereaksi untuk
membentuk garam.
Asam tidak harus selalu berupa oksida seperti yang dapat ditunjukkan dengan reaksi
pyrosulphates dengan oksida dari titanium. Niobium atau tantalum pada suhu 1100 K
𝑻𝒊𝑶𝟐 + 𝑵𝒂𝟐 𝑺𝟐 𝑶𝟕 → 𝑵𝒂𝟐 𝑺𝑶𝟒 + 𝑻𝒊𝑶𝑺𝑶𝟒
Asam Basa Garam
Berbagai zat dianggap amfoterik jika zat itu memperlihatkan kecenderungan baik
melepas maupun menerima oksida,
𝒁𝒏𝑶 + 𝑶𝟐− ⇌ 𝒁𝒏𝑶𝟐 𝟐− ; 𝒁𝒏𝑶 ⇌ 𝒁𝒏𝟐+ + 𝑶𝟐−
𝑨𝒍𝟐 𝑶𝟑 + 𝑶𝟐− ⇌ 𝟐𝑨𝒍𝑶𝟐 − ; 𝑨𝒍𝟐 𝑶𝟑 ⇌ 𝑨𝒍𝟑+ + 𝟑𝑶𝟐−
Definisi Lux-Flood dapat diperluas untuk mencakup pemindahan dari sebarang anion
misalnya halida, sulfida, dan sebagainya.
D. Definisi Sistem Pelarut
Didasarkan pada autoionisasi dari sebuah pelarut AB menjadi kation A+ dan anion B-.
spesi yang meningkatkan konsentrasi dari kation A+ disebut asam dan yang
meningkatkan konsentrasi anion B- disebut basa. Keuntungan dari definisi seperti itu
adalah memudahkan untuk mempermudah memperlakukan sistem pelarut yang berbeda
secara analog.
Contoh:
Solven asam + basa
2 H2 O ⇌ H3O+ + OH-
2 NH3 ⇌ NH4+ + NH2+
2 SO2 ⇌ SO2+ + SO3=
2 BrF3 ⇌ BrF2+ + BrF4_
Adapun hasil ion pelarut dapat didefinisikan sebagai :
𝑲𝑨𝑩 = [𝑨]+ [𝑩]−
dan skala pA analogi dengan skala pH dalam pelarut encer dapat digunakan untuk
1
pelarut jenuh dimana titik netral setara dengan − 2 𝑙𝑜𝑔𝐾𝐴𝐵

Meskipun definisi asam-basa berdasarkan sistem pelarut dapat digunakan untuk


berbagai macam kegunaan, tetapi masih mempunyai kelemahan, yaitu;
1. Dalam medium tetapan dielektik yang rendah, kewujudan ion tidak mungkin.
2. Titik berat hanya pada sifat kimia dari sebuah larutan, sifat fisika tidak dihiraukan
3. Dalam banyak hal autoionisasi diterapkan terlalu jauh.
4. Terlalu besar perhatian diarahkan pada reksi ion sedangkan efek tetapan dielektrik
cukup untuk menjelaskan reaksi itu.. Untuk reaksi antara akseptor ion klorida
(FeCl3, SnCl4, dan lain-lain) dan donor ion klorida (Me4NCl) dalam OPCl3 dapat
dijelaskan oleh Gutman dan rekan kerjanya (1952-60) sebagai berikut:
𝑶𝑷𝑪𝒍𝟑 ⇌ 𝑶𝑷𝑪𝒍𝟐 + + 𝑪𝒍− (𝒂𝒖𝒕𝒐𝒊𝒐𝒏𝒊𝒔𝒂𝒔𝒊)
𝑴𝒆𝟒 𝑵𝑪𝒍 ⇌ 𝑴𝒆𝟒 𝑵+ + 𝑪𝒍− (𝒃𝒂𝒔𝒂)
𝑶𝑷𝑪𝒍𝟑 + 𝑭𝒆𝑪𝒍𝟑 ⇌ 𝑶𝑷𝑪𝒍𝟐 + + 𝑭𝒆𝑪𝒍𝟒 − (𝒂𝒔𝒂𝒎)
Meek dan Drago (1962) menunjukkan bahwa proses dari reaksi tersebut berjalan sama
baiknya pada medium triethyl phosphate tanpa keterlibatan ion klorida, karena
konstanta dielektrik dari sebuah medium lebih penting daripada reaksi ionisasi dari
pelarut.
E. Definisi Lewis
G.N Lewis (1923) mendefinisikan basa adalah donor pasangan elektron dan asam adalah
akseptor pasangan elektron. Netralisasi merupakan pembentukan suatu ikatan kovalen
koordinat baru diantara donor pasangan elektron dan atom atom akseptor. Menurut
definisi Lewis pembentukan suatu ikatan kovalen koordinat baru diantara donor
pasangan elektron dan atom – atom akseptor.
𝑹𝟑 𝑵 ∶ + 𝑩𝑭𝟑 → 𝑹𝟑 𝑵 → 𝑩𝑭𝟑
𝟒𝑪𝑶 + 𝑵𝒊 → 𝑵𝒊(𝑪𝑶)𝟒
𝟐 (𝒃𝒂𝒔𝒂) + 𝑺𝒏𝑪𝒍𝟒 → 𝑺𝒏𝑪𝒍𝟒 (𝒃𝒂𝒔𝒂)𝟐
𝟐𝑵𝑯𝟑 + 𝑨𝒈+ → 𝑨𝒈(𝑵𝑯𝟑 )𝟐 +

Donor Akseptor
elektron elektron
Senyawa-senyawa tersebut tidak dapat diklasifikasikan sebagai asam dan basa pada teori
dasar seperti Arrhenius atau Bronsted-Lowry, tetapi donor dan akseptor pasangan
elektron, disebut dengan asam-basa Lewis secara berurutan.
Asam Lewis dapat diklasifikasikan dalam tiga kategori:
1. Semua kation adalah asam Lewis karena mereka dapat bergabung dengan
pasangan elektron.
2. Senyawa yang tidak memiliki cukup elektron atau senyawa yang atom pusatnya
dapat mengembangkan kulit valensinya Contoh: GaCl2, SnCl2, BF3, SbF3, SbF5,
dan lain-lain

3. Molekul dimana atom pusatnya mempunyai satu atau lebih macam ikatan ganda
seperti sulfur trioksida atau karbon dioksida (kecuali organo ethenic atau ikatan
ethynic)karena terjadi sedikit pemisahan muatan. Hal ini berdasarkan kenyataan
bahwa atas pendekatan basa leweis terhadap atom yang kurang elektronegatof
awam elektron π mengalami polarisasi menghasilkan muatan positif pada atom
yang kurang elektronegatif dan muatan negatif pada atom yang lebih
elektronegatif . Jadi atom yang didekati oleh basa Lewis menjadi bermuatan
positif dan berlaku sebagai akseptot elektron.

Ciri – ciri Basa lewis adalah:


1. Semua anion, densitas muatan makin besar, makin besar kekuatan basa itu.
2. Molekul mempunyai sepasang elektron bebas. Contoh, air, alkohol dan eter.
3. Alkena atau alkil dapat membentuk ikatan koordinasi dengan ion logam, contoh,
karbon monooksida, benzene, nitrit oksida dan lain-lain, yang membentuk
kompleks  dengan logam transisi.

Jadi atom yang mendapat muatan positif dan bertindak sebagai akseptor elektron
merupakan asam menurut pendekatan lewis.

F. Definisi Usanovich
Usanovich (1934) memperluas definisi Lewis dengan menghapus batasan penyerahan
dan penerimaan pasangan elektron. Menurut Usanovich asam adalah sebarang spesi
kimia yang bereaksi dengan basa. Asam memberikan kation atau menerima anion atau
elektron . basa adalah spesi yang bereaksi dengan asam . Basa memberikan anion atau
elektron atau bergabung dengan kation. Kecuali asam dan basa Arrhenius , Bronsted –
Lowry atau Lewis definisi Usanovich mencakup semua bahan pengosidasi sebagai asam
dan bahan pereduksi sebagai basa. Jadi untuk sistem besi (II) - besi(III), besi (II)
bertindak sebagai basa dan besi (III) bertindak sebagai asam.

𝑭𝒆𝟐+ ⇌ 𝑭𝒆𝟑+ + 𝒆−
Sistem Asam-Basa Protonik
1. Afinitas Proton
Afinitas proton (PA) spesies kimia X‾ didefinisikan sebagai energi yang dilepaskan dalam
reaksi
X‾(g) + H+(g) → HX(g) PA = –ΔH

dan dapat ditentukan denga siklus


H(g) + X(g)
D
+I
–EA HX(g)

H+(g) + X‾(g) PA

Dan memberikan
+I – EA – D = ΔH = –PA
Atau
PA = D – I + EA
dimana I adalah energi ionisasi hidrogen, EA adalah energi afinitas X, dan D adalah energi
disosiasi HX.

Tabel: Afinitas Proton (PA) Ion dan Molekul Unsur Golongan IV sampai VII,
dalam kJ mol‾1

H‾
1680
CH3‾ NH2‾ OH‾ F‾ CH4 NH3 H2 O HF
1690 1645 1567 1535 675 375 760 380
PH2‾ SH‾ Cl‾ NH2‾ O2‾
1640 1450 1385 2560 2315
AsH2‾ SeH‾ Br‾
1560 1420 1340
I‾
1300
Tabel diatas menunjukkan bahwa afinitas proton untuk semua molekul dan anion adalah
positif. Karenanya, proton akan tetap untuk setiap spesies tidak membawa muatan positif.
Tren berikut diketahui:
a. Perbedaan afinitas proton ion halide disebabkan karena energi disosiasi ikatan
hidrogen halida.
b. Afinitas proton ion negatif menurun dengan meningkatnya jari – jari dan dengan
menurunnya densitas muatan
c. Untuk sistem isoelektrik, NH2‾, OH‾, dan F‾; atau O2‾ dan F‾, tolakan proton sebagai
akibat dari inti proton lebih besar daripada peningkatan elektronegativitas dari unsur.
Ini mungkin dikarenakan menurunnya jari – jari ion (menurunnya jarak antar inti).
Urutan penurunan afinitas proton adalah
NH2‾ > OH‾ > F‾ dan O2‾ > F‾
Afinitas proton metana, tidak mempunyai pasangan elektron bebas dan
mengakibatkan pembentukan CH5+, lebih besar (675 kJ mol‾1) daripada HF (380 kJ
mol‾1).
d. Afinitas spesies ion dalam unsur yang sama dengan nomor proton yang berbeda
adalah sama seperti yang diharapkan karena penurunan tolakan proton.
H2O (760) < OH‾ (1567) < O2‾ (2315)
2. Pelarut Pembada dan Perata(Defferentiating and Levelling Solvents)
Agar dapat membandingkan kekuatan asam HA, dipilihlah referensi basa B, biasanya
bersifat pelarut dan tetapan kesetimbangan K dari reaksi:
HA + B BH+ + A‾
Sehingga didapatkan:
[A‾] [BH+]
K=
[HA] [B]
Atau
K [B] = [A‾] [BH+]/[HA] = Ka
Dengan asumsi bahwa konsentrasi molar pelarut tidak berubah akibat protonasinya, Ka
dapat dianggap tetap harganya dan dinamakan tetapan disosiasi proton asam HA.
Jika dalam pelarut, transfer proton dari dua asam berbeda HA1 dan HA2 hampir 100%,
nilai Ka keduanya tidak dapat dibedakan dalam pelarut yang digunakan. Seperti
pelarut, B, dimana di dalamnya dua asam mentransfer proton sempurna, membentuk
BH+ sebagai satu – satunya spesies yang terprotonasi yang disebut pelarut perata untuk
asam. Jadi amonia sebagai pelarut, maka HF, HCl sebaik CH3COOH terionisasi
membentuk ion NH4+ (BH+)
HX + NH3 NH4+ + X‾ (X = F, Cl, CH3COO)
Jadi, bagi asam asam ini amonia adalah pelarut perata. Dalam air, karena asam asam
ini terionisasi secara berbeda ( HCl terionisasi sempurna , pKa = - log Ka untuk Hfdan
CH3COOH masing – masing adalah 5,2 dan 4,76). Air merupakan pelarut pembeda
untuk asam. Air merupakan pelarut perata untuk HCl, HBr dan HI, untuk asam asetat
menjadi pelarut perata karena protonasi asam asetat yang tidak komplit:
CH3COOH + HX CH3COOH2+ + X‾ (X = Cl, Br,I)
Urutan asam kuat HI > HBr > HCl.
Dapat disimpulkan bahwa pelarut asam cenderung membedakan antara asam dan
meratakan basa sedangkan pelarut basa, seperti amonia, cenderung meratakan asam
dan membedakan basa. Pada kenyataannya, semua asam dan basa yang lebih kuat dari
pada karakteristik ion autoionisasi dari pelarut sedangkan asam atau basa yang lebih
lemah dari pada autoionisasi pelarut akan tinggal dalam keseimbangan.
Kekuatan asam kuat dapat ditentukan dengan: (1) menggunakan pelarut asam seperti
asam asetat, asam sulfat, atau hidrogen fluorida; atau (2) menggunakan pelarut aprotik
seperti benzena yang tidak membantu ionisasi asam. Dua alternatif itu memiliki
kesulitan. Dalam pelarut aprotik, dimana pelarut tidak menerima atau memberi proton,
penambahan asam atau basa menjadi referensi penting untuk perbandingan. Konstanta
dielektrik pelarut aprotik yang lemah mendorong pembentukan pasangan ion, maka
hasilnya tidak dapat diandalkan. Pelarut asam sebaliknya, menyajikan keuntungan
yang berbeda dalam hal konstanta dielektrik tetapi (1) mungkin bereaksi dengan asam
membentuk produk yang rumit; dan (2) transfer proton sederhana tidak akan terjadi
seperti yang terjadi dengan asam nitrat dalam asam sulfat sebagai pelarut:
HNO3 + H2SO4 H2O + NO2+ + HSO4‾

3. Zat Kosolvasi
Zat kosolvasi merupakan substansi yang lebih kuat berinteraksi dengan anion A‾,
molekul netral HA, kation BH+ atau basa netral B, daripada pelarut itu sendiri, dan
sehingga meningkatkan ionisasi asam HA atau basa B dalam medium. BF3 merupakan
zat kosolvasi untuk HF dalam medium air disebabkan oleh interaksi
HF + BF3 + H2O H3O+ + BF4‾
Keasaman ion NH4+ ditingkatkan dengan penambahan Cu2+ yang membentuk
kompleks dengan NH3:
Cu2+ + 4 NH4+ [Cu(NH3)4]2+ + 4 H+
4. Kekuatan Asam Hidro
Kekuatan relatif asam hidro golongan VI A dan VII A adalah

H2Te > H2Se > H2S > H2O HI > HBr > HCl > HF
3 4 7 16 –10 –9 –7 3
Untuk golongan V A, urutannya sama, pKa untuk amonia (35) lebih besar daripada
fosfin (27). Ini menunjukkan bahwa kekuatan asam menurun dengan meningkatnya
elektronegativitas unsur. Namun bukan urutan karakter ikatan ionik. Karakter ikatan
naik dengan elektronegativitas unsur. Memiliki nilai tertinggi untuk anggota terlemah
pada H2O dan HF. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
a. Densitas muatan pada basa konjugat
F‾ > Cl‾ > Br‾ > I‾ dan O2‾ > S2‾ > Se2‾ > Te2‾
Meningkatnya densitas muatan pada basa konjugat menghasilkan antar aksi
dengan proton akan naik sehingga asam menjadi lemah. Anion yang besar akan
lebih stabil dengan solvasi utama untuk asam lebih terionisasi, oleh karena itu
anion yang lebih kecil menghasilkan pembentukan asam hidro lemah.
b. Anion yang lebih kecil terikat dengan ikatan hidrogen, menurunkan kekuatan
asam senyawa hidrogen.
c. Menurunnya kekuatan ikatan H–X, menurunkan pKa sehingga meningkatkan
kekuatan asam.

5. Kekuatan Asam Oksi


Asam oksi dapat dianggap sebagai turunan air. Beberapa faktor yang mempengaruhi
keasaman senyawa.
a. Kekuatan asam meningkat dengan naiknya elektronegativitas, mengganti proton,
karena efek induksi
HOH (15,7) < HOI (11) < HOBr (8,7) < HOCl (7,4)
b. Kekuatan asam akan meningkat dengan naiknya bilangan oksidasi atom yang
menggantikan atom H pada air
HOCl < HOClO < HOClO2 < HOClO3
Bilangan oksidasi +1 +3 +5 +7
c. Untuk asam oksi yang tidak bermuatan di mana semua atom oksigen yang melekat
pada atom pusat, kekuatan asam akan meningkat dengan meningkatnya jumlah
ikatan oksi
O3Cl(OH) < O2S(OH)2 < OS(OH)2 < As(OH)3
d. Asam oksi yang mempunyai komposisi yang sama dan bilangan oksidasi atom pusat
X, kekuatan asam akan menurun dengan naiknya ukuran atom X. urutan penurunan
kekuatan asam HClO4 > HBrO4 > HIO4; H3PO4 > H2AsO4 > H3SbO4; HNO3 > HPO3
> HasO3; H2SO4 > H2SeO4 > H2TeO4

Faktor – faktor yang lebih umum yang mempengaruhi kekuatan asam oksi adalah:
a. Efek muatan formal. Meningkatnya muatan formal atom pusat X sebagai hasil
pembentukan ikatan koordinasi antara X dan O akan meningkatkan kekuatan asam
akibat efek induksi atom M dengan muatan yang lebih tinggi akan memperlemah
ikatan O–H.
b. Efek ikatan π. Mempertimbangkan semua atom oksigen non hidroksil melekat
pada M melalui ikatan raangkap, ionisasi proton O–H memberikan anion yang stabil
melalui distribusi muatan seluruh ion. Semakin besar jumlah ikatan π atau ikatan
rangkap atom O, maka semakin besar delokalisasi muatn, maka kekuatan asam
meningkat.
O
O
H – O – Cl = O H+ + O – Cl – O
O O
c. Arti orbital d. perbedaan unsur asam pada periode kedua dan periode yang lebih
besar (contohnya HNO3 dan HPO3) karena (1) relatif meningkat dalam ukuran atom
besar, (2) stabiliotas rendah untuk ikatan p–p–π karena sifat lebih tersebar pada
orbital p ketiga dan dan kulit yang lebih besar, dan (3) kecenderungan atom besar
menerima elektron dalam orbital d kosong membentuk M–O dengan ikatan p→d–π.
Kekuatan ikatan p–p–π dari berbagai senyawa: 21% untuk ion IO3‾, 37% untuk ion
BrO3‾, dan 54% untuk ion ClO3‾.
d. Efek solvasi. Selain muatan formal dan kemungkinan resonansi, solvasi atom
oksigen keto merupakan asam penguatan sedangkan solvasi dari gugus hidroksil
melemahkan karena efek induksi molekul air.
H
H–O–X=O……..H+–Oδ‾–H H–O–X–O–H……Oδ‾–Hδ+
I→ ←I
Nilai pKa untuk H3PO4 (2,16), (CH3O)PO3H2 (1,52) dan (CH3O)2PO2H (0,76)
menunjukkan bahwa solvasi gugus hidrosiklik berperan penting memperlemah
kekuatan asam karena ikatan pelarut dengan proton terionisasi.
6. Kekuatan Asam Organik
Asam organik mempunyai mempunyai gugus karkoksilat, –COOH, atau gugus –OH
yang mampu terionisasi melepaskan proton, H+. efek substituen pada asam organik
menyebabkan adanya induksi dan resonansi.
a. Efek induksi. Efek yang ditimbulkan akibat substitusi baik dengan atom C atau
atom yang lebih besar elektronegatifnya dibandingkan C. kekuatan asam meningkat
dengan naiknya asam alifatis
Me3CCH2COOH 5,05 MeOCH2COOH 3.53 FCH2COOH
2,66
Me3SiCH2COOH 5,22 MeSCH2COOH 3,72 ClCH2COOH
2,86
HCH2COOH 4,76 ICH2COOH
2,86
Pasangan elektron ikatan pada ikatan C–X (atom X lebih elektronegatif daripada
atom C) akan terpolarisasi membentuk muatan sedikit positif pada atom karbon,
yang akan menyebabkan distribusi elektron pada ikatan berdekatan. Sejak polarisasi
ikatan bagian dalam menurun daridari satu atom ke atom berikutnya disebut efek
induksi. Lebih dari dua atau tiga atom. Pada XCH2COOH, X memberikan muatan
posirif δ+ ke atom karbon yang terikat. Karbon ini mempengaruhi distribusi elektron
pada ikatan C=O dan C–O–H dengan menarik elektron karena muatan positif. Ikatan
O–H lemah dan menjadi lebih mudah disosiasi proton daripada meniadakan efek ini.
Mengganti X dengan gugus pendorong elektron seperti Me3Si, densitas elektron
pada karbon yang berdekatan naik juga pada karbon dan oksigen pada gugus C–O–
H (menurunkan jarak) menyebabkan proton sulit terlepas dan menurunkan keasaman

Dari diskusi konstanta substituen asam asetat, urutan gugus substituen dengan
meningkatnya energi penarik elektron
H < CH2=CH– < C6H5– < CH3S– < CH3O– < C2H5OOC– < –I < –N3 < –CF3 < –Br
< –Cl < C6H5SO– < –CN < CH3SO2– < –NO2
Tenaga penarik elektron meningkat dengan:
1) Meningkatnya bilangan oksidasi atom pusat
CH3S– < CH3SO– < CH3SO2– < CH3– < CH2=CH– < CH≡C– < (CH3)2N– < –N3
< –NO < –NO2 < –I < –IO < –IO2
2) Meningkatnya karakter orbital s hibrid untuk ikatan
–CH3 < CH2=CH– < CH≡C– < –CONH2 < –CN
b. Efek resonansi. Sistem aromatik, efek resonansi lebih penting daripada efek induksi
dalam menentukan polaritas ikatan dan pemisahan muatan.
1) Nitrofenol. Gugus nitro adalah gugus penarik elektron. Karena pengaruh induksi,
akan meningkatkan keasaman fenol dengan urutan orto > meta > para. Tetapi
karena resonansi, ikatan O–H melemah ketika gugus nitro pada posisi para,
sehingga keasaman fenol meningkat dengan urutan para > orto > meta.

Oksida
Sebuah oksida disebut asam atau basa bergantung pada sifatnya dalam pemutusan,
oksida asam cenderung meningkatkan konsentrasi H+, dimana oksida basa menurunkan
konsentrasi H+:
𝑀𝑂 + 𝐻2 𝑂 → 2𝐻 + + 𝑀𝑂2 2− (𝑜𝑘𝑠𝑖𝑑𝑎 𝑎𝑠𝑎𝑚)
𝑀𝑂 + 2𝐻 + → 𝑀2+ + 𝐻2 𝑂 (𝑜𝑘𝑠𝑖𝑑𝑎 𝑏𝑎𝑠𝑎)
Oksida amfoter dapat bertindak sebagai asam atau basa bergantung pada pH larutan
𝐴𝑙2 𝑂3 + 6𝐻 + ⇌ 2𝐴𝑙 3+ + 3𝐻2 𝑂 (𝑜𝑘𝑠𝑖𝑑𝑎 𝑏𝑎𝑠𝑎)
𝐴𝑙2 𝑂3 + 2𝑂𝐻 − → 2𝐴𝑙𝑂2 − + 𝐻2 𝑂 (𝑜𝑘𝑠𝑖𝑑𝑎 𝑎𝑠𝑎𝑚)
Beberapa dari oksida amfoterik antara lain adalah Zn(II), Cd(II), Be(II), Ge(II),
Sn(II), Pb(II), Al(III), Cr(III), Sb(III), As(III), Sn(IV), Pb(IV), Pt(IV), Th(IV), V(V),
U(VI) dan lainnya.
Kekuatan Asam-Basa Lewis
Kecenderungan untuk mendonorkan atau menerima pasangan elektron adalah susah
untuk diperkirakan. Bermacam-macam metode seperti dissosiasi fase gas, kalorimetri
panas larutan, pemindahan reaksi, reaksi asam-basa kompetitif, dan lainnya telah
digunakan dengan maksud tersebut. Beberapa generalisasi untuk kecenderungan yang
dapat diamati adalah sebagai berikut
a. Posisi dalam Tabel Periodik
Kekuatan dari basa Lewis menurun dengan meningkatnya elektronegatifitas dari
atom pendonor: Me3N > Me2O > MeF dengan Me3N mudah mengganti Me2O dari
Me2O:BF3. Meskipun kecenderungan tersebut tidak sesederhana untuk asam Lewis,
untuk basa nitrogen dan oksigen, kecenderungannya serupa dengan kecenderungan
terhadap hidrolisis: B > Be > Li; Be > Mg > Ca dan lainnya.
b. Efek dari Subtituen
Efek induktif, resonansi, dan sterik dapat digunakan untuk memprediksi
kecenderungan dari kekuatan asam dan basa Lewis. Gugus penarik elektron akan
meningkatkan kekuatan asam dan menurunkan kekuatan basa. Gugus pendonor
elektron akan bertindak sebaliknya. Jadi kekuatan basa diharapkan sesuai dengan
urutan sebagai berikut Me3N > NH3 > NF3 dan kekuatan asam sesuai dengan urutan
berikut Me3B < B2H6 < BF3
c. Efek Resonansi
Berdasarkan pada urutan kekuatan asam BF3 < BCl3 < BBr3 atau (MeO)3B <
BMe3 efek induktif bukan salah satu yang diharapkan menjadi dasar. Hal tersebut
didasarkan pada stabilitas resonansi dari BF3 atau B(OMe)3 sebagai perbandingan
untuk BCl3 atau BMe3 secara berurutan.
d. Efek Sterik
Efek sterik secara umum tidak berakibat pada reaksi transfer ionic yang
melibatkan ion kecil seperti proton, tetapi menjadi sangat berpengaruh pada reaksi
asam-basa Lewis. Tipe yang paling umum dari halangan sterik adalah antara
subtituen dengan atom yang membentuk ikatan koordinasi.
Teori asam basa keras lunak
Untuk beberapa waktu, ahli kimia koordinasi telah menyadari bahwa beberapa ligan
tretentu menyuaki membentuk komplek yang paling stabil dengan ion ion berat dengan
elektron orbital d hampir terisi penuh (Ag +, Hg 2+
, Pt 2+
) sementara yang lain tidak
memiliki ion – ion tak memiliki elektron – elektron d (Al +, Ti 4+
). Berdasarkan ion
yang disukai ini logam diklasifikasikan sebagai logam (a) ( Logam alkali , ion logam
alkali tanah dsb) dan logam kelas (b) ( ion logam berat, atau ion dalam keadaan
oksidasi rendah, Ag + , Cu + , Pd +, Pt +) . Demikian juga ligan di klasifikasikan sebagai
ligan tipe (a) atau (b). Jadi fosfin dan tioeter memiliki kecenderungan yang sangat besar
2+ 2+
untuk berkoordinasi dengan Hg , Pd , atau Pt2+, sedangkan amonia air dan ion
florida menunjukkan pilihannya pada Be2+ dan Ti 4+
dan sebagainya dengan demikian
fosfin dan tioeter adalah ligan tipe kelas (b) sedangkan air dan amonia termasuk tipe
kelas (a).
Tabel kecenderungan atom donor membentuk kompleks dengan ion –ion logam

Pearson (1963) menyatakan bahwa istilah keras dan lunak dapat dipergunakan untuk
kelas (a) dan (b), jadi orang menyatakan bahwa suatu spesi keras cenderung untuk spesi
yang berukuran kecil dan kepolarannya rendah. Sedangkan spesi yang lunak berukuran
besar dan mudah untuk dipolarosasi. Prinsip pearson untuk ikatan antara sam dan basa
adalah bahwa spesies keras cenderung mengikat spesies yang keras sedangkan spesies
yang lunak akan menyukai spesies yang lunak. Aturan pearson hanyalah suatu ramalan
kualitatif dari stabilitas relative tehadap penemuan bukan suatu teori atau suatu
penjelasan dari pengamatan.
a. Kekuatan Asam dan Basa ABKL
Sebarang asam atau basa dapat diklasifikasikan sebagai keras atau lunak atas
pilihannya yang nyata terhadap pereaksi keras dan lunak. Misal, basa B dapat
diklasifikasikan sebagai keras atau lunak tergantung apakah konstanta
kesestimbangan, K, bagi reaksi.
BH+ + CH3Hg+  CH3HgB+ + H+
Adalah kurang atau lebih dari pada satu satuan

Atau log K = log Ks + log Ka


dengan Ks merupakan konstan pembentuk CH3HgB+ dari CH3Hg+ dan B, dan Ka
adalah konstan disosiasi asam dari asam konjugat BH+. Sedangkan kekerasan diukur
dari perbedaan dalam konstan stabilitas dengan kation metilmerkuri (TI) sebagai
ligan Ks (periksa bab lain) dan konstan disosiasi asam Ka. Untuk basa keras, pKa
lebih besar dari pada log Ks, sedangkan untuk suatu basa lunak, pKa lebih kecil dari
pada log Ks.
Secara kualitatif suatu basa keras akan menjadikan reaksi yang disebutkan di atas
menjurus ke kiri, sedangkan basa lunak akan menjadikan reaksi itu berjalan ke
kanan. Kation metilmerkuri (TI) adalah kation yang dipilih, karena zat ini
merupakan suatu asam lunak yang khas dan merupakan ion univalent seperti proton,
membuat perhitungan menjadi sederhana.
Asam keras yang khas adalah kation Golongan I sampai IV dalam tingkat oksidasi
tinggi, sedangan asam lunak yang khas adalah kation Golongan IB dan IIB, atau
logam dalam tingkat oksidasi rendah (0 atau 1). Vanadium (V), chromium (IV),
mangan (VI), besi (III), kobalt (III) adalah asam keras. Logam sebagian besar adalah
asam lunak. Juga bortriflorida dan klorida, aluminium triklorida dan metiltimah (IV)
merupakan asam keras tetapi gallium triklorida atau tribromida adalah asam lunak.
Tidak ada batas yang tajam antara spesies keras dan lunak dan terdapat pula hal yang
tidak tentu, misalnya ion logam d bivalen dengan elektron orbital d yang hampir
2+ 2+ 2+ 2+ 3+ 3+ 3+ 3+
penuh (Cu , Co , Ni , Zn , Ru , Rh , Sb , Bi ). Logam dan non logam
pada keadaan oksidasi rendah bersifat asam lunak, tetapi pada keadaan oksidasi
tinggi mereka itu menjadi asam keras. Selanjutnya, tidak semua asam keras.
Selanjutnya, tidak semua asam keras itu sama kekerasannya: ion sesium ternyata
jauh lebih lunak daripada ion litium yang lebih kecil.
Basa keras yang khas adalah amina, ammonia, air, dan ion florida dan klorida, dan
basa lunak adalah ion-ion sianida, tiosulfat, gugus tioalkoksi dan iodide. Aniline,
priding dan bromide adalah basa peralihan. Walaupun ammonia bersifat khas keras,
terdapatnya cincin-cincin aromatic yang mudah terpolarisasikan menjadi aniline dan
piridi cukup lunak untuk dipertimbangkan sebagai kasus peralihan.
Kekerasan dan kelunakan mengacu kepada interaksi keras-keras, dan lunak-lunak
dan berbeda dari kekuatan asam basa yang inherent. Jadi baik ion hidroksida
maupun ion fluoride keduanya basa-keras, walaup ion hidroksida (pKa = 15,7) 1013
kali lebih besar dari pada ion fluoride (pKa= 2,85). Suatu asam atau basa kuat dapat
mengusir suatu asam atau basa lemah, walaupun hal itu nampaknya menyalahi
prinsip interaksi ABKL. Jadi sulfit, suatu basa lunak yang lebih kuat dapat mengusir
fluoride, suatu basa keras yang lebih lemah dari suatu proton asam keras, misalnya:

Hal yang serupa, hidroksida, suatu basa keras yang sangat kuat, dapat mengusir
suatu basa lemah yang lunak dari suatu kation metilmerkuri (II) yang lunak,
misalnya:

memaksa reaksi-reaksi ini menentang prinsip keras- lunak. Namun, bila kekuatan
dan kekerasan keduanya diperhatikan aturan keras-lunak itu akan tetap berlaku
dengan baik.

Ion-ion sulfide dan hidroksil keduanya dapat bergabung dengan proton (masing-
masing pKa= 14,2 dan 15,7). Ks untuk ion sulfide dengan kation metilmerkuri (II)
adalah 21,2, dimana hal seperti itu, untuk ion hidroksil hanya sebesar 9,4. Karenanya
sulfide diklasifikasikan sebagai suatu basa lunak. Sebaliknya, anion, seperti itu juga
ada, dimana baik Ks maupun Ka nya rendah atau hampir berurutan, misalnya
fluoride (log Ks = 1,50, pKa =2,85) dan sulfit (log Ks = 1,50, pK = 2,85) dan sulfit
(log Ks = 8,1 dan pK =6,8). Dalam hal seperti ini, peningkatan harga numeric
sedikit saja atas konstanta K memiringkan skala menuju basa keras (sesuai dengan
ukuran yang kecil dan polarisabilitas yang rendah) bagi fluoride dan basa lunak bagi
ion sulfit.
Ikatan antar asam keras dan basa keras bersifat ionik, sedangkan interaksi lunak-
lunak sebagian besar menghasilkan senyawa kovalen. Asam keras memiliki orbital
kosong dan dapat menerima elektron σ sedangkan basa keras dengan orbital kulit
valensi terluar yang terisi, dapat menyerahkan pasangan elektron σ untuk asam
lemah danbasa lemah, ikatan  nampaknya menjadi penting.
b. Penerapan Konsep ABKL
Walaupun dasar teoritis kuantitatif untuk HSAB tidak dapat ditemukan, namun
konsepnya membantu dalam menemukan korelasi dari data yang sifatnya bermacam-
macam. Sebagai missal, konsep itu menjelaskan stabilitas dari AgI2 karena interaksi
lunak-lunak, terjadinya AgF2 yang tidak stabil karena interaksi lunak-keras. Hal
yang serupa, reaksi antara LiI dan CsF dapat ditinjau sebagai kombinasi yang
istimewa dari spesies lunak-lunak dan keras-keras:

Pearson telah menunjukkan bahwa logam lunak mengabsorbsikan basa lunak, dan
dengan demikian menerangkan reaksi katalitik tertentu.Jorgenson menunjukkan
bahwa ligan keras dan lunak cenderung secara terpisah membentuk kelompok
bersama. Jadi [Co(CN)5I]3-dan [Co(NH3)5F]2+ diharapkan bersifat stabil, tetapi
[Co(CN)5F]3- dan [Co(NH3)5I]2+ akan tidak stabil.
Pelarut keras diharapkan akan melarutkan solute keras. Baik dalam reaksi substitusi
elektrofilik maupun nukleofilik, laju reaksi dapat dikorelasikan dengan sifat keras-
lunak dari sudut asam dan basa.
Jorgenson (1968) telah menyatakan adanya kecenderungan ligan lunak untuk
bergabung dengan suatu pusat yang telah memiliki ligan dan sebaliknya, sebagai
simbiosis. Selanjutnya ia menerangkan bahwa senyawa seperti itu akan tersubstitusi
simetris dan tidak memiliki substituen campuran.

kekerasan dan kelunakan dari suatu atom bukan sifat yang inheren, tetapi tergantung
dari substituennya. Jadi, ammonia adalah suatu basa keras, tetapi piridin bersifat
tidak tentu. Ion asam B3+ bersifat tidak tentu pula. Substituent yang menarik
elektron dan berukuran kecil yang tak dapat dipolarisasikan seperti fluoride
menjadikan senyawanya suatu asam Lewis keras, tetapi kelompok pendonor elektron
dan mudah terpolarisasikan seperti hidrida, menjadikannya lunak.
c. Dasar untuk Kekerasan dan Kelunakan
Interaksi ELektrostatik atau Ionik dan Interaksi Sigma Kovalen
Asam dan basa keras yang khas membentuk senyawa ionic. Karena energy
elektrostatik (energy Madelung) dari suatu pasangan ion merupakan perbandingan
terbalik dari jarak internuklir, makin kecil ion makin besar stabilitasnya. Karena
interaksi elektrostatik tidak dapat menjelaskan interaksi lunak-lunak karena ukura
yang lebih besar dari ion-ion lunak maka diasumsikan bahwa interaksi ini bersifat
kovalen. Dalam kaitannya hal ini, polarisabilitas dari elektron d menjadi penting.
Hampir semua asam lunak (logam) memiliki enam atau lebih elektron d dan suatu
konfigurasi d10 menjadikan suatu asam lunak yang sangat baik (Ag+, Hg2+).
Dengan mempertimbangkan interaksi keras sebagai ionic dan yang lunak sebagai
kovalen, Misons, dkk (1967) menetapkan hubungan:
pK = - log K = aX + bY + C
dimana:
K = konstanta kesetimbangan bagi disosiasi kompleks ligan-logam
X,Y = parameter untuk ion logam
a, b = parameter untuk ligan
c = suatu konstan dari ligan untuk menyesuaikan nilai pK sehingga semua nilai
berada pada skala yang sama
parameter Y menunjukkan kelunakan dan dapat dievaluasi dari parameter atom. Ion
keras memiliki Y kurang dari 2,8, yang lunak memeiliki Y lebih dari 3,2.

parameter b meningkat pula dengan kelunakannya dari ligan (OH- : 0,40; NH3: 1,08;
Cl-: 2,49; Br: 5,58; I-: 7,17; S2O92-: 12,4)
Walaupun a dan x dapat dipertimbangkan menjadi ukuran kekerasan yang lain, hal
ini tercakup pula kekuatan asam-basa yang inheren. X berhubungan erat dengan
elektronegativitas dari ion logam dan mengukur kecenderungan dari ion logam
dalam menerima elektron dari ligan. X bervariasi sejalan seperti urutan Irving-
William untuk kestabilan konstanta-konstanta dari senyawa kompleks,
Mn(II) < Fe(II)<Co(II)<Ni(II)<Cu(II)<Zn(II)……………….. (23)
Kekuatan yang inheren dari faktor kekeras-lunakan cenderung bercampur karena
persamaan (7.22) dapat ditafsirkan dalam dua cara:
(i) Persamaan itu suatu ukuran dari kekuatan s karena gangguan oleh faktor
kelunakan 𝛼 seperti yang ditetapkan oleh Pearson (1968).
SQSR = 𝛼QR = S………………………………. (24)
(ii) Faktor kekerasan dan kelunakan dapat dibangun bersama degan kekuatan
yang inheren ke dalam faktor sebagaimana dilakukan oleh Dargo, dkk.
(1972), dan parameter itu mengukur kekuatan sebagai spesies yang keras
atau kekuatan sebagai spesies yang lunak.
d. Kontribusi ikatan –pi
Karena spesies lunak memiliki orbital d hampir penuh dan mudah dapat
dipolarisasikan, ikatan- pi dalam interaksi lunak-lunak tidak dapat diketahui,
sebagaimana dikatakan oleh Chatt dan Milikan. Asam yang lazimnya logam dalam
keadaan oksidasi rendah memiliki kecenderungan besar untuk membentuk ikatan –
pidan ligan dengan ikatan yang baik (PR3, CO, I-) semuanya merupakan basa
lunak.
Akhirnya gaya disperse London yang meningkat dengan ukuran atom dan
polarisabilitasny, dapat pula menstabilkan ikatan antara spesies besar, tetapi lunak,
dan dapat terpolarisasikan dengan mudah.
e. Elektronegativitas dan Spesis Keras-Lunak
Lazimnya spesies dengan elektronegativitas tinggi bersifat keras dan yang
elektronegativitasnya rendah bersifat lunak. Perbedaan antara konsep Pauling dan
Pearson adalah sebagai berikut. Menurut Pauling, energi resonansi ionik yang
menjurus pada terbentuknya ikatan heteronuklir kovalen yang stabil adalah
sebanding denga perbedaan elektronegativitas atom, dan secara tidak langsung
menyatakan bahwa stabilitas twertinggi itu akan berlaku dalam ikatan yang terjadi
anatar atom yang perbedaan keelektronegativannya besar. Hal ini menunjukkan
bahwa CsF dan LiI berlangsung secara eksotermik. Karena dalam hal ini aturan
lunak-lunak lebih menentukan daripada perbedaan elektronegativitas.
Ketidaksesuaian yang terjadi ini dapat dibedakan dengan dua cara:
(i) Entalpi atomisasi dari empat spesi dalam reaksi itu adalah LiF: 573; CsF:
501; LiF: 347; dan CsI: 335 kJ/mol (masing-masing 137, 120, 83, dan 80
kkal/mol). Walaupun interaksi keras-keras adalah terkuat (573kJ/mol) dan
interaksi lunak-lunak adalah terlemah (335kJ/mol), terlihat bahwa tenaga
pendorong dari reaksi adalah interaksi keras-keras. Kita dapat meninjau
sebagai suatu interaksi kovalen dan hasilnya akan sama pula.

Interaksi keras-keras (1262 kJ/mol) memaksa reaksinya berjalan terus dengan


entalpi reaksi yang teramati sebagai -397kj/mol.
(ii) Energi ikatan dalam suatu molekul dapat dibagi menjadi energi ikatan
kovalen, ionik, dan sebagainya. Dengan mempertimbangkan ikatan menjadi
kovalen penuh, dalam arti bahwa atom memiliki muatan ionik nol, energy
ikatan kovalen akan sebanding dengan kebalikan jarak ikatan. Atom yang
lebih kecil akan membentuk ikatan yang lebih kuat (perkecualian bagi ikatan
N-N, O-), dan F-F akibat dari tolak interelektronik yang non-ikatan). Karena
itu, interaksi keras-keras tidak dapat dianggap bersifat elektrostatik murni,
kontribusi kovalen akan sama pentingnya. Perhitungan menunjukkan bahwa
untuk LiF, hampir seperempat dari energi ikatan (573 kj/mol) berasal dari
ikatan kovalen, separuh berasal dari tarikan elektrostatik Madelung antara
muatan-muatan partial pada atom-atom litium dan flor (sekitar 2/3 elektron),
dan seperempat dari perpidahan muatan dari atom litium yang lebih
elektronegatif (sesuai dengan energi resonansi Pauling)

f. Keterbatasan Konsep ABKL


Keterbatasan yang pokok dari konsep ABKL, pertama adalah sifat keumumannya
tanpa suatu skala pengukuran yang kuantitaf. Kedua, kesepakatan yang diambil
untuk membagi suatu senyawa menjadi penggala asam dan basa dengan maksud
menjelaskan fenomena pengamatan, hanya akan sesuai bilamana reaksinya telah
diketahui. Jadi, walaupun pemecahan I bagi reaksi esterifikasi menjelaskan perilaku
yang teramati pemecahan II tidak dapat diabaikan atas dasar interaksi keras-lunak:

ketiga, karena faktor keras-lunak adalah sifat senyawa asam atau basa yang berdiri
sendiri, faktor-faktor itu bertindak secara bebas. Banyak contoh telah dibahas untuk
memperlihatkan saling ketergantungan dari dua konsep itu. Akhirnya, perhatikan
reaksi:

yang seharusnya berlangsung karena interaksi lunak-lunak (CH 3+


– H+). Perubahan
entropi reaksi yang tidak menguntungkan tidak menjadi reaksi itu berlangsung sama
sekali (+359 kJ/mol atau +86 kkal/mol) dan hal ini akibat dari keasaman yang realtif
sangat besar dari proto terhadap kation CH 3+.
Sebagai rangkuman, dapat dikatakan bahwa pentingnya interaksi ABKL terletak
pada kemanfaatan secara akuratdengan memperhatikan stabilitas relatif dari
senyawa. Perlu diperhatikan benar, bahwa interaksi lunak-lunak bukan kekuatan
pendorong dari reaksi tetapi sekedar akibat dari sepsis yang lebih keras yang
mengikat satu dengan yang lain. Dalam hal ini ion logam transisi atau asam Lewis
yang nampak mengembangkan oktetnya, betul-betul menstabilkan oktetnya, ikatan
itu akan betul-betul menstabilkan interaksi lunak-lunak. Pada tahap ini hal ini
hanyalah merupakan suatu dugaan belaka.
DAFTAR PUSTAKA

Amaria. 2005. Asam Basa. Surabaya: Jurusan Kimia. Universitas Negeri Surabaya.

Anderton, J.D, P.J. Garnet, W.R.Liddelow, R.K. Lowe, dan I.J. Manno. 2003. Foundation
Of Chemistry. Second edition. Sydney: Pearson Education Australia.

Manku, G.S. 1980. Theoretical Principles of Inorganic Chemistry. New Delhi: Tata
McGraw.Hill Publishing Company Limited.

Pearson, Ralph G. 1963. “Hard and Soft Acids and Bases”. Journal of The American
Chemical Society. Volume 85, Number 22. November 20, 1963.