Anda di halaman 1dari 24

Case Report Session

DEMAM TYPHOID

Oleh :

Nurbeyti Nasution 1740312125

Preseptor :

dr. Djunianto, Sp.PD

BAGIAN PENYAKIT DALAM

RSUD LUBUK BASUNG

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS

2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Penyakit demam tifoid (typhoid fever) yang biasa disebut tifus merupakan

penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella, khususnya turunannya yaitu

Salmonella typhi yang menyerang bagian saluran pencernaan. Selama terjadi infeksi,

kuman tersebut bermultiplikasi dalam sel fagositik mononuklear dan secara berkelanjutan

dilepaskan ke aliran darah.

Demam tifoid termasuk penyakit menular yang tercantum dalam Undang - undang

nomor 6 Tahun 1962 tentang wabah. Kelompok penyakit menular ini merupakan penyakit

yang mudah menular dan dapat menyerang banyak orang sehingga dapat menimbulkan

wabah (Sudoyo A.W., 2010).

Penularan Salmonella typhi sebagian besar melalui minuman/makanan yang

tercemar oleh kuman yang berasal dari penderita atau pembawa kuman dan biasanya

keluar bersama-sama dengan tinja. Transmisi juga dapat terjadi secara transplasenta dari

seorang ibu hamil yang berada dalam bakteremia kepada bayinya (Soedarno et al, 2008).

Penyakit ini dapat menimbulkan gejala demam yang berlangsung lama, perasaan

lemah, sakit kepala, sakit perut, gangguan buang air besar, serta gangguan kesadaran

yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi yang berkembang biak di dalam sel-sel

darah putih di berbagai organ tubuh. Demam tifoid dikenal juga dengan sebutan Typhus

abdominalis, Typhoid fever, atau enteric fever. Istilah tifoid ini berasal dari bahasa

Yunani yaitu typhos yang berarti kabut, karena umumnya penderita sering disertai

gangguan kesadaran dari yang ringan sampai yang berat.


1.2 Batasan Masalah

Makalah ini membahas definisi, epidemiologi, etiologi, patofisiologi,

patogenesis, manifestasi klinis, pemeriksaan penunjang, diagnosis, tatalaksana,

komplikasi, dan pencegahan komplikasi demam typhoid.

1.3 Tujuan penulisan

Makalah ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman

tentang demam typhoid.

1.4 Metode penulisan

Makalah ini ditulis dengan menggunakan metode tinjauan pustaka yang

merujuk dari berbagai literatur.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Demam tifoid adalah suatu penyakit infeksi sistemik yang bersifat akut oleh

Salmonella enteric serotype typhi. Penyakit demam tifoid merupakan infeksi akut pada

usus halus dengan gejala demam lebih dari satu minggu, mengakibatkan gangguan

pencernaan dan dapat menurunkan tingkat kesadaran (Rahmatillah et al., 2015). Gejala

klinis dari demam tifoid yaitu demam berkepanjangan, bakterimia, serta invasi bakteri

sekaligus multiplikasi ke dalam sel-sel fagosit mononuklear dari hati, limpa, kelanjar

limfe, usus dan peyer’s patch (Soedarmo et al., 2008).

2.2 Epidemiologi

Demam tifoid merupakan penyakit infeksi yang dijumpai di seluruh dunia,

secara luas di daerah tropis dan subtropis terutama di daerah dengan kualitas

sumber air yang tidak memadai dengan standar higienis dan sanitasi yang rendah

yang mana di Indonesia dijumpai dalam keadaan endemis.

Dari laporan World Health Organization (WHO) pada tahun 2003 terdapat

17 juta kasus demam tifoid per tahun di dunia dengan jumlah kematian mencapai

600.000 kematian dengan Case Fatality Rate (CFR = 3,5%). Insidens rate

penyakit demam tifoid di daerah endemis berkisar antara 45 per 100.000

penduduk per tahun sampai 1.000 per 100.000 penduduk per tahun. Tahun 2003

insidens rate demam tifoid di Bangladesh 2.000 per 100.000 penduduk per tahun.

Insidens rate demam tifoid di negara Eropa 3 per 100.000 penduduk, di Afrika

yaitu 50 per 100.000 penduduk, dan di Asia 274 per 100.000 penduduk (Crump,

2004).
Indisens rate di Indonesia masih tinggi yaitu 358 per 100.000 penduduk pedesaan

dan 810 per 100.000 penduduk perkotaan per tahun dengan rata-rata kasus per tahun

600.000 – 1.500.000 penderita. Angka kematian demam tifoid di Indonesia masih tinggi

dengan CFR sebesar 10%. Tingginya insidens rate penyakit demam tifoid di negara

berkembang sangat erat kaitannya dengan status ekonomi serta keadaan sanitasi

lingkungan di negara yang bersangkutan.

2.3 Etiologi demam tifoid

Demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi atau Salmonella

paratyphi dari Genus Salmonella. Bakteri ini berbentuk batang, gram negatif, tidak

membentuk spora, motil, berkapsul dan mempunyai flagela (bergerak dengan rambut

getar). Bakteri ini dapat hidup sampai beberapa minggu di alam bebas seperti di dalam

air, es, sampah dan debu. Bakteri ini dapat mati dengan pemanasan (suhu 600C) selama

15 – 20 menit, pasteurisasi, pendidihan dan khlorinisasi.

Salmonella typhi adalah bakteri batang gram negatif yang menyebabkan demam

tifoid. Salmonella typhi merupakan salah satu penyebab infeksi tersering di daerah tropis,

khususnya di tempat-tempat dengan higiene yang buruk.

Manusia terinfeksi Salmonella typhi secara fekal-oral. Tidak selalu Salmonella

typhi yang masuk ke saluran cerna akan menyebabkan infeksi karena untuk menimbulkan

infeksi, Salmonella typhi harus dapat mencapai usus halus. Salah satu faktor penting

yang menghalangi Salmonella typhi mencapai usus halus adalah keasaman lambung. Bila

keasaman lambung berkurang atau makanan terlalu cepat melewati lambung, maka hal

ini akan memudahkan infeksi Salmonella typhi.

Setelah masuk ke saluran cerna dan mencapai usus halus, Salmonella typhi akan

ditangkap oleh makrofag di usus halus dan memasuki peredaran darah, menimbulkan
bakteremia primer. Selanjutnya, Salmonella typhi akan mengikuti aliran darah hingga

sampai di kandung empedu. Bersama dengan sekresi empedu ke dalam saluran cerna,

Salmonella typhi kembali memasuki saluran cerna dan akan menginfeksi Peyer’s patches,

yaitu jaringan limfoid yang terdapat di ileum, kemudian kembali memasuki peredaran

darah, menimbulkan bakteremia sekunder. Pada saat terjadi bakteremia sekunder, dapat

ditemukan gejala-gejala klinis dari demam tifoid. Salmonella typhi mempunyai 3 macam

antigen, yaitu:

1. Antigen O (Antigen somatik), yaitu terletak pada lapisan luar dari tubuh kuman. Bagian

ini mempunyai struktur kimia lipopolisakarida atau disebut juga endotoksin. Antigen ini

tahan terhadap panas dan alkohol tetapi tidak tahan terhadap formaldehid.

2. Antigen H (Antigen flagela), yang terletak pada flagela, fimbriae atau pili dari kuman.

Antigen ini mempunyai struktur kimia suatu protein dan tahan terhadap formaldehid

tetapi tidak tahan terhadap panas dan alkohol yang telah memenuhi kriteria penilaian.

3. Antigen Vi yang terletak pada kapsul (envelope) dari kuman yang dapat melindungi

kuman terhadap fagositosis.

Ketiga macam antigen tersebut di atas di dalam tubuh penderita akan

menimbulkan pula pembentukan 3 macam antibodi yang lazim disebut aglutinin.

2.4 Patogenesis demam tifoid

Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi masuk kedalam tubuh manusia

melalui makanan yang terkontaminasi kuman. Sebagian kuman dimusnahkan oleh asam

lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus dan berkembang biak. Bila respon

imunitas humoral mukosa IgA usus kurang baik maka kuman akan menembus sel-sel

epitel dan selanjutnya ke lamina propia. Di lamina propia kuman berkembang biak dan

difagosit oleh sel-sel fagosit terutama oleh makrofag. Kuman dapat hidup dan
berkembang biak di dalam makrofag dan selanjutnya dibawa ke plaque Peyeri ileum

distal dan kemudian ke kelenjar getah bening mesenterika.

Selanjutnya melalui duktus torasikus kuman yang terdapat di dalam makrofag ini

masuk ke dalam sirkulasi darah (mengakibatkan bakteremia pertama yang asimptomatik)

dan menyebar ke seluruh organ retikuloendotelial tubuh terutama hati dan limpa. Di

organ-organ ini kuman meninggalkan sel-sel fagosit dan kemudian berkembang biak di

luar sel atau ruang sinusoid dan selanjutnya masuk ke dalam sirkulasi darah lagi yang

mengakibatkan bakteremia yang kedua kalinya dengan disertai tanda-tanda dan gejala

penyakit infeksi sistemik, seperti demam, malaise, mialgia, sakit kepala dan sakit perut

Imunitas humoral pada demam tifoid berperan dalam menegakkan diagnosis berdasarkan

kenaikan titer antibodi terhadap antigen kuman S.typhi. Imunitas seluler berperan dalam

penyembuhan penyakit, berdasarkan sifat kuman yang hidup intraselluler. Adanya

rangsangan antigen kuman akan memicu respon imunitas humoral melalui sel limfosit B,

kemudian berdiderensiasi menjadi sel plasma yang akan mensintesis immunoglobulin

(Ig). Yang terbentuk pertama kali pada infeksi primer adalah antibodi O (IgM) yang cepat

menghilang, kemudian disusul antibodi flagela H (IgG). IgM akan muncul 48 jam setelah

terpapar antigen, namun ada pustaka lain yang menyatakan bahwa IgM akan muncul pada

hari ke 3-4 demam.


Gambar 2. Respons antibodi terhadap infeksi Salmonella typhi.

2.5 Gejala Klinis demam tifoid

Gejala klinis demam tifoid seringkali tidak khas dan sangat bervariasi yang sesuai

dengan patogenesis demam tifoid. Spektrum klinis demam tifoid tidak khas dan sangat

lebar, dari asimtomatik atau yang ringan berupa panas disertai diare yang mudah

disembuhkan sampai dengan bentuk klinis yang berat baik berupa gejala sistemik panas

tinggi, gejala septik yang lain, ensefalopati atau timbul komplikasi gastrointestinal berupa

perforasi usus atau perdarahan. Hal ini mempersulit penegakan diagnosis berdasarkan

gambaran klinisnya saja

Gejala klinis demam tifoid pada anak biasanya lebih ringan jika dibanding dengan

penderita dewasa. Masa inkubasi rata-rata 10 – 20 hari. Setelah masa inkubasi maka

ditemukan gejala prodromal, yaitu perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing

dan tidak bersemangat. Gejala-gejala klinis yang timbul sangat bervariasi dari ringan

sampai dengan berat, dari asimptomatik hingga gambaran penyakit yang khas disertai

komplikasi hingga kematian .


Demam merupakan keluhan dan gejala klinis terpenting yang timbul pada semua

penderita demam tifoid. Demam dapat muncul secara tiba-tiba, dalam 12 hari menjadi

parah dengan gejala yang menyerupai septikemia oleh karena Streptococcus atau

Pneumococcus daripada S.typhi. Gejala menggigil tidak biasa didapatkan pada demam

tifoid tetapi pada penderita yang hidup di daerah endemis malaria, menggigil lebih

mungkin disebabkan oleh malaria.

Demam tifoid dan malaria dapat timbul secara bersamaan pada satu penderita.

Sakit kepala hebat yang menyertai demam tinggi dapat menyerupai gejala meningitis, di

sisi lain S.typhi juga dapat menembus sawar darah otak dan menyebabkan meningitis.

Manifestasi gejala mental kadang mendominasi gambaran klinis, yaitu konfusi,

stupor, psikotik atau koma. Nyeri perut kadang tak dapat dibedakan dengan apendisitis.

Penderita pada tahap lanjut dapat muncul gambaran peritonitis akibat perforasi usus.

Gejala klinis yang biasa ditemukan, yaitu :

1. Demam

Pada kasus-kasus yang khas, demam berlangsung 3 minggu. Bersifat febris

remiten dan suhu tidak berapa tinggi. Selama minggu pertama, suhu tubuh berangsur-

angsur meningkat setiap hari, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat lagi pada

sore dan malam hari. Dalam minggu kedua, penderita terus berada dalam keadaan

demam. Dalam minggu ketiga suhu tubuh berangsur-angsur turun dan normal kembali

pada akhir minggu ketiga.

2. Gangguan pada saluran pencernaan

Pada mulut terdapat nafas berbau tidak sedap. Bibir kering dan pecah pecah

(ragaden). Lidah ditutupi selaput putih kotor (coated tongue), ujung dan tepinya

kemerahan, jarang disertai tremor. Pada abdomen mungkin ditemukan keadaan perut
kembung (meteorismus). Hati dan limpa membesar disertai nyeri pada perabaan.

Biasanya didapatkan konstipasi, akan tetapi mungkin pula normal bahkan dapat terjadi

diare.

3. Gangguan kesadaran

Umumnya kesadaran penderita menurun walaupun tidak berapa dalam, yaitu

apatis sampai somnolen. Jarang terjadi sopor, koma atau gelisah

2.6 Diagnosis

Diagnosis demam tifoid yakni melalui anamnesis yang sesuai dan dari hasil

pemeriksaan fisik dimana kita dapat menemukan klinis yang sesuai untuk penegakan

diagnosis demam tifoid. Dari anamnesis kita dapat melihat hygiene pasien setiap kali

makan, lingkungan tinggal, proses pengolahan makanan di rumah tinggal, atau riwayat

makan di lingkungan yang kurang higienis dsb. Selain dari anamnesis dan pemeriksaan

fisik, beberapa pemeriksaan penunjang dapat membantu kita dalam menegakkan

diagnosis diantaranya :

1) Pemeriksaan darah tepi

Pada hasil pemeriksaan darah pada penderita demam tifoid umumnya ditemukan

anemia, jumlah leukosit normal (bisa menurun atau meningkat), mungkin juga terdapat

trombositopenia. Adanya leukopenia dan limfositosis relatif dapat menjadi dugaan kuat

untuk diagnosis demam tifoid.

2) Uji biakan darah

Diagnosis pasti demam tifoid dapat ditegakkan apabila ditemukan bakteri

Salmonella typhi dalam biakan dari darah, urin, feses, sumsum tulang, dan cairan

duodenum penderita. Berkaitan dengan patogenesis penyakit, maka bakteri akan lebih
mudah ditemukan dalam darah dan sumsum tulang pada awal penyakit, sedangkan pada

stadium berikutnya di dalam urin dan feses.

3) Uji serologi

Uji serologi dapat digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis demam

tifoid dengan cara mendeteksi antibodi spesifik terhadap komponen antigen Salmonella

typhi maupun mendeteksi antigen itu sendiri. Beberapa uji serologis yang dapat

digunakan pada demam tifoid ini meliputi uji widal dan tubex test.

a) Uji Widal

Uji widal dimaksudkan untuk mendeteksi antibodi terhadap kuman Salmonella

typhi. Pada uji widal terjadi reaksi aglutinasi antara antigen kuman Salmonella typhi dan

antibodi penderita. Antigen yang digunakan adalah suspensi biakan Salmonella typhi

yang telah dimatikan dan diolah di laboratorium. Salmonella typhi memiliki 3 macam

antigen, yaitu: Antigen O (antigen somatik), antigen H (antigen flagela) dan antigen Vi

(antigen kapsul). Ketika ketiga macam antigen tersebut ada di dalam tubuh penderita,

maka secara alami tubuh penderita tersebut akan membentuk 3 macam antibodi yang

biasa disebut agglutinin. Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang

ditentukan titernya untuk diagnosis, semakin tinggi titernya maka semakin kuat

penegakkan diagnosa tifoidnya.

b) Pemeriksaan Tubex

Pemeriksaan tubex merupakan metode diagnosis demam tifoid dengan tingkat

sensitifitas dan spesifisitas yang lebih baik dibandingkan dengan pemeriksaan Widal.

Pemeriksaan tersebut lebih cepat, mudah, sederhana dan akurat untuk digunakan dalam

penegakan diagnosis demam tifoid.


c) Pemeriksaan kuman secara molekuler.

Pendeteksian DNA (asam nukleat) gen flagellin bakteri Salmonella typhi dalam

darah dengan teknik hibridisasi asam nukleat atau amplifikasi DNA dengan cara

polymerase chain reaction (PCR) melalui identifikasi antigen Vi yang spesifik untuk

Salmonella typhi merupakan cara paling akurat untuk diagnosis demam tifoid.

2.7 Tatalaksana

Penderita dengan gambaran klinik jelas disarankan untuk dirawat di rumah sakit

agar pengobatan lebih optimal, proses penyembuhan lebih cepat, observasi penyakit

lebih mudah, meminimalisasi komplikasi dan menghindari penularan (Menkes RI, 2006).

Antibiotik akan diberikan segera setelah diagnosa klinik ditegakkan. Sebelum itu

pemeriksaan spesimen darah atau sumsum tulang harus dilakukan terlebih dahulu untuk

memastikan bakteri penyebab infeksi, kecuali fasilitas biakan ini benar benar tidak

tersedia dan tidak dapat dilaksanakan (Menkes RI, 2006).

Menurut Kamus Saku Kedokteran Dorland (2013) antibiotik adalah zat kimiawi

yang dihasilkan oleh mikroorganisme atau secara semisintesis, yang memiliki

kemampuan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme lain

dimana antibiotik bersifat kurang toksik untuk penjamunya. Beberapa antibiotik telah

dikenal luas memiliki sensitifitas dan efektifitas tinggi untuk mengobati demam tifoid

berdasarkan pedoman pengendalian demam tifoid yang dikeluarkan oleh WHO (2011)

diantaranya :

1) Ciprofloxacin dan ofloxacin

Antibiotik golongan fluoroquinolone (ciprofloxacin dan ofloxacin,) merupakan

terapi yang efektif untuk demam tifoid dengan angka kesembuhan klinis sebesar 98%,

waktu penurunan demam 4 hari, dan angka kekambuhan dan fecal carrier kurang dari 2%.
Fluoroquinolone lain yang telah diteliti dan memiliki efektivitas yang baik adalah

levofloxacin. Efikasi klinis yang dijumpai pada studi ini adalah 100% dengan efek

samping yang minimal (Nelwan, 2012).

2) Cefixime

Cefixime saat ini sering digunakan sebagai alternatif. Obat ini diberikan jika ada

indikasi penurunan jumlah leukosit hngga < 2000/μl atau dijumpai adanya resistensi

terhadap Salmonella typhi. Obat ini diberikan secara per oral.

3) Azithromycin

Azithromycin dan cefixime memiliki angka kesembuhan klinis lebih dari 90%

dengan waktu penurunan demam 5-7 hari, durasi pemberiannya lama (14 hari) dan angka

kekambuhan serta fecal carrier terjadi pada kurang dari 4% .

4) Kloramfenikol

Banyak penelitian membuktikan bahwa kloramfenikol masih sensitif terhadap

Salmonella typhi . Kekurangan dari obat ini adalah tingginya angka relaps dan karier.
5) Ceftriaxone

Antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga ini terbukti efektif untuk

mengobati pasien demam tifoid. Ceftriaxone diberikan secara parenteral (Muliawan dan

Suryawidjaya, 1999).

6) Amoxicilin

Amoxicilin memiliki efek penyembuhan yang setara dengan kloramfenikol

namun waktu penurunan demamnya lebih lambat. Obat ini berspektrum luas sehingga

banyak digunakan untuk mengobati infeksi lain, akibatnya kemungkinan resistensi

semakin meningkat. Namun obat ini aman digunakan untuk ibu hamil (Menkes RI, 2006).

7) Kotrimoksazol

Obat ini merupakan kombinasi antara trimetroprim dan sulfametoksazol dengan

perbandingan 1:5. Efektivitas obat ini dilaporkan hampir setara dengan kloramfenikol.

Namun obat ini banyak digunakan untuk infeksi lain sehingga meningkatkan resiko

resistensi.
2.7 Komplikasi demam tifoid

Menurut Sudoyo (2010), komplikasi demam tifoid dapat dibagi atas dua bagian, yaitu:

1. Komplikasi Intestinal

a. Perdarahan Usus

Sekitar 25% penderita demam tifoid dapat mengalami perdarahan minor yang

tidak membutuhkan tranfusi darah. Perdarahan hebat dapat terjadi hingga penderita

mengalami syok. Secara klinis perdarahan akut darurat bedah ditegakkan bila terdapat

perdarahan sebanyak 5 ml/kgBB/jam.

b. Perforasi Usus

Terjadi pada sekitar 3% dari penderita yang dirawat. Biasanya timbul pada minggu ketiga

namun dapat pula terjadi pada minggu pertama. Penderita demam tifoid dengan perforasi

mengeluh nyeri perut yang hebat terutama di daerah kuadran kanan bawah yang

kemudian meyebar ke seluruh perut. Tanda perforasi lainnya adalah nadi cepat, tekanan

darah turun dan bahkan sampai syok.

2. Komplikasi Ekstraintestinal

a. Komplikasi kardiovaskuler: kegagalan sirkulasi perifer (syok, sepsis),

miokarditis,trombosis dan tromboflebitis.

b. Komplikasi darah: anemia hemolitik, trombositopenia, koaguolasi intravaskuler

diseminata, dan sindrom uremia hemolitik.

c. Komplikasi paru: pneumoni, empiema, dan pleuritis.

d. Komplikasi hepar dan kandung kemih: hepatitis dan kolelitiasis.

e. Komplikasi ginjal: glomerulonefritis, pielonefritis, dan perinefritis.

f. Komplikasi tulang: osteomielitis, periostitis, spondilitis, dan artritis.


g. Komplikasi neuropsikiatrik: delirium, meningismus, meningitis, polineuritis

perifer, psikosis, dan sindrom katatonia.

2.8 Prognosis

Secara keseluruhan prognosis untuk penyakit ini adalah bonam (baik), jika

mendapat tata laksana yang adekuat dengan pemberian antibiotika yang sesuai diiringi

dengan istirahat yang cukup , nutrisi yang adekuat, dan tanpa adanya komplikasi

penderita dapat sembuh dalam waktu yang relatif singkat.


BAB III
ILUSTRASI KASUS

Identitas

• Nama : Mulfa Oktavia

• Umur : 22 tahun

• Kelamin : Perempuan

• Pekerjaan : Mahasiswa

• Nomor RM : 183941

• Tanggal Pemeriksaan : 26 maret 2018

• Alamat : Koto Kaciak

• Status Perkawinan : Belum Menikah

• Negeri Asal : Koto Kaciak

• Agama : Islam

• Nama Ibu Kandung : Eva Susanti

• Suku : Minang

Anamnesis

Keluhan Utama

• Demam sejak ± 8 hari sebelum masuk rumah sakit.

Riwayat Penyakit Sekarang

• Demam sejak ± 8 hari sebelum masuk rumah sakit. Demam dirasakan terus –

menerus meningkat dari hari ke hari dan dirasa lebih tinggi pada malam hari. Demam

tidak menggigil dan tidak berkeringat banyak.

• Mual ada, namun muntah tidak ada.

• Penurunan nafsu makan ada.


• Rasa tidak nyaman di perut ada.

• Batuk tidak ada.

• Mimisan tidak ada

• Nyeri tenggorokan tidak ada.

• Nyeri otot tidak ada.

• Nyeri kepala tidak ada.

• Pasien belum BAB sejak 5 hari sebelum masuk rumah sakit

• Nyeri berkemih tidak ada

• BAK jumlah dan frekuensi biasa

• Riwayat bepergian ke Painan dan Mentawai tidak ada,

Riwayat Penyakit Dahulu

• Pasien belum pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya.

Riwayat Penyakit Keluarga

• Tidak ada keluarga yang memiliki penyakit serupa

Riwayat Pekerjaan, Sosial, Ekonomi, Kejiwaan, dan Kebiasaan

• Pasien seorang mahasiswa

Status Generalis
• Keadaan Umum : sedang

• Kesadaran : CMC

• Tekanan Darah : 110/70 mmHg

• Nadi : 72 kali/menit

• Suhu : 37,80 C

• Pernafasan : 20 kali/menit

• Edema : Tidak ada


• Anemis : Tidak ada

• Sianosis : Tidak ada

• Ikterus : Tidak ada

• Kulit : Tidak ada kelainan

• KGB : Tidak ada pembesaran KGB superfisial

• Kepala : Normosefal, simetris, tidak ada kelainan

• Rambut : Tidak ada kelainan

• Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

• Telinga : Tidak ada kelainan

• Hidung : Tidak ada kelainan

• Tenggorokan : Tidak ada kelainan

• Gigi dan Mulut : Tidak ada caries dentis, Lidah kotor tidak ada

• Leher : JVP 5 - 2 cmH2O

• Paru:

• Inspeksi : normochest, Simetris kiri dan kanan, Pergerakan dinding dada


simetris kanan dan kiri

• Palpasi : Fremitus sama kiri dan kanan

• Perkusi : Sonor kiri dan kanan

• Auskultasi : Suara nafas vesikular, rhonki -/-, wheezing -/-

• Jantung:

• Inspeksi : Iktus Kordis terlihat

• Palpasi : Iktus Kordis teraba 1 jari medial LMCS RIC V


• Perkusi : Batas jantung kiri 1 jari medial LMCS RIC V

• Auskultasi : S1 dan S2 normal, Murmur (-), Gallop (-)

• Perut:

• Inspeksi : Distensi (-)

• Palpasi : Supel, NT(-), H/L tidak teraba

• Perkusi : Timpani

• Auskultasi : BU (+) N

Punggung

• Inspeksi : simetris, tidak tampak kelaianan

• Palpasi : fremitus kiri sama dengan kanan

• Perkusi : Nyeri ketok CVA (-)

• Auskultasi : Suara nafas vesikular, rhonki -/-, wheezing -/-

• Ekstremitas : Akral hangat, CRT <2

Pemeriksaan Penunjang

 Laboraturium

Hb : 11,6 gr/dl

Leukosit : 6600/mm3

Eritrosit : 4.210.000/mm3

Hematokrit : 34%

Hitung Jenis : 0/2/1/62/24/11

SGOT /SGPT : 9/7

Ur/Cr : 13/0,7

Tes Widal : Salmonella Typhii O (+) : 1/160

Salmonella Typhii H (+) : 1/160


Diagnosis Kerja

• Demam Typhoid

Diagnosis Banding

• Malaria

Tindakan Pengobatan

Non farmakologis

 Tirah baring

 IVFD RL 20 tpm

Farmakologis :

 Cotrimoxazol 2 x 960 mg

 Paracetamol 3 x 500 mg

 Inj. Ranitidin 2 x 1 amp

 Dulcolax tab 2 x 5 mg

IX. Prognosis

- Quo ad vitam : bonam

- Quo ad functionam : bonam

- Quo ad sanationam : dubia ad bonam


BAB IV

DISKUSI

Telah diperiksa seorang pasien perempuan berusia 22 tahun di bangsal penyakit

dalam RSUD Lubuk basung pada tanggal 26 maret 2018. Pasien masuk dengan keluhan

utama Demam sejak ± 8 hari sebelum masuk rumah sakit.

Pada anamnesis didapatkan demam sejak ± 8 hari sebelum masuk rumah sakit.

Demam dirasakan terus – menerus meningkat dari hari ke hari dan dirasa lebih tinggi

pada malam hari. Demam tidak menggigil dan tidak berkeringat banyak. Demam seperti

ini merupakan ciri – ciri demam pada kasus typhoid dimana terdapat demam continue

yang semakin hari semakin tinggi dan lebih tinggi pada malam hari. Pasien mengeluhkan

Mual, namun muntah tidak ada. Penurunan nafsu makan dan rasa tidak nyaman di perut

ada. Batuk, mimisan, dan nyeri tenggorokan tidak ada. Nyeri otot dan nyeri kepala tidak

ada. Nyeri berkemih tidak ada. Buang air kecil normal. Namun, Pasien mengeluhkan

belum BAB sejak 5 hari sebelum masuk rumah sakit. Ini merupakan salah satu bentuk

keluhan gastrointestinal yang dapat muncul pada pasien tifoid, baik itu konstipasi atau

diare.

Dari pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum sedang dengan vital sign

terdapat bradikardia relatif dimana jika pada kasus febris cenderung takikardi, pada

pasien ditemukan nadi justru semakin lambat yaitu 72 kali per menit dimana pada saat

masuk nadi pasien yaitu 88 kali per menit, suhu pasien masih tinggi yaitu 37,8 derajat

celcius. Dari pemeriksaan mulut tidak didapatkan lidah kotor yang umumnya ditemukan

pada pasien demam typhoid. Pada pemeriksaan fisik paru dan jantung dalam batas

normal. Pada pemeriksaan abdomen tidak didapatkan nyeri tekan perut.


Dari pemeriksaan lab didapatkan dalam batas normal dengan tes widal Salmonella

Typhii O (+) : 1/160 dan Salmonella Typhii H (+) : 1/160. Hasil ini belum menunjukkan

definitif demam typhoid dimana untuk definitif hasil titer setidaknya 1/320 atau terdapat

kenaikan titer 4x dari titer sebelumnya. Namun karena pasien belum melakukan

pemeriksaan tes widal untuk kedua kalinya hasil ini belum dapat diketahui. Namun dari

klinis pasien yang diperoleh dari anamnesis dan pemeriksaan fisik, cenderung mengarah

pada kasus typhoid sehingga diagnosis kerja adalah demam typhoid dengan diagnose

banding malaria, dimana pada kasus malaria demam juga lebih dari 7 hari, namun pada

malaria pasien biasanya mengeluhkan demam yang menggigil namun pada pasien yang

bersangkutan tidak ditemukan keluhan demikian. Selain itu tidak ditemukan riwayat

bepergian ke wilayah endemik seperti painan dan Mentawai.

Terapi yang diberikan pada pasien diantaranya antipiretik yaitu Paracetamol 3 x

500 mg untuk menurunkan demam pada pasien , lalu antibiotik Cotrimoxazol dosis 2 x

960 mg. Obat ini merupakan kombinasi antara trimetroprim dan sulfametoksazol dengan

perbandingan 1:5. Efektivitasnya dalam mengobati demam tifoid dilaporkan hampir

setara dengan kloramfenikol yang merupakan antibiotika yang paling sering diberikan

untuk demam tifoid. Pada pasien juga diberikan injeksi ranitidine dengan harapan dapat

mengatasi rasa tidak nyaman di perutnya.


DAFTAR PUSTAKA

1. Cammie, F.L. & Samuel, I.M. 2005. Salmonellosis: Principles of Internal Medicine:
Harrison 16th Ed. 897-900.

2. Brusch, J.L. 2010. Typhoid Fever. www.emedicine.medscape.com.

3. Djoko Widodo. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi IV. Jakarta:
Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI.

4. Mansjoer, A. 2000. Demam Tifoid: Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: FK UI.

5. Lentnek, A.L. 2007. Typhoid Fever: Division of Infection Disease. www.medline.com.

6. Chin, J. 2006. Pemberantasan Penyakit Menular Edisi 17. Jakarta: Infomedika.

7. Jawetz, Melnick, & Adelbergh’s. 2005. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta: Salemba


Medika.

8. Soedarmo, P., dkk. 2010. Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis Edisi II. Jakarta:
Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UI.

9. Chambers, H.F. 2006. Infectious Disease: Bacterial and Chlamydial. Current Medical
Diagnosis and Treatment 45th Ed. 1425-6.

10. Alan, R.T. 2003. Diagnosis dan Tatalaksana Demam Tifoid: Pediatrics Update.
Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia.

11. Rampengan, T. H. 2007. Penyakit Infeksi Tropis pada Anak Edisi II. Jakarta: EGC.

12. http://www.jevuska.com/2008/05/10/demam-tifoid-typhoid-fever