Anda di halaman 1dari 22

Etika Moral Profesi dan Nilai-Nilai Profesi Kebidanan

Keprofesian Ilmu Kebidanan


Dosen Pengampu Mundarti, S.Pd. S.SiT. M.Kes

Disusun Oleh:
1. Christina Ayu Indraswari P1337424517095
2. Hani Uswah Hasanah P1337424517096
3. Mariana Mar’atussolihah P1337424517097
4. Titis Rahma Tania P1337424517100
5. Titis Juwanita N P1337424517101
6. Hanika Tri Mardini P1337424517103
7. Rahmasari Ardiyantini P1337424517104

PRODI PROFESI KEBIDANAN MAGELANG


POLTEKKES KEMENKES SEMARANG
2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bidan merupakan bentuk profesi yang erat kaitannya dengan etika
karena lingkup kegiatan bidan sangat berhubungan erat dengan masyarakat.
Karena itu, selain mempunyai pengetahuan dan keterampilan, agar dapat
diterima di masyarakat bidan juga harus memiliki etika yang baik sebagai
pedoman bersikap/ bertindak dalam memberikan suatu pelayanan khususnya
pelayanan kebidanan. Agar mempunyai etika yang baik dalam pendidikannya
bidan dididik etika dalam mata kuliah Etika profesi namun semuanya mata
kuliah tidak ada artinya jika peserta didik tidak mempraktekannya dalam
kehidupannya di masyarakat. Pada masyarakat daerah, bidan yang di percaya
adalah bidan yang beretika. Hal ini tentu sangat menguntungkan baik bidan
yang mempunyai etika yang baik karena mudah mendapatkan relasi dengan
masyarakat sehingga masyarakat juga akan percaya pada bidan.
Etika dalam pelayanan kebidanan merupakan isu utama diberbagai
tempat, dimana sering terjadi karena kurang pemahaman para praktisi
pelayanan kebidanan terhadap etika. Pelayanan kebidanan adalah proses yang
menyeluruh sehingga membutuhkan bidan yang mampu menyatu dengan ibu
dan keluarganya. Bidan harus berpartisipasi dalam memberikan pelayanan
kepada ibu sejak konseling pra konsepsi, skrening antenatal, pelayanan
intrapartum, bidanan intensif pada neonatal, dan postpartum serta
mempersiapkan ibu untuk pilihannya meliputi persalinan di rumah, kelahiran
seksio sesaria, dan sebagainya. Bidan sebagai pemberi pelayanan harus
menjamin pelayanan yang profesional dan akuntibilitas serta aspek legal dalam
pelayanan kebidanan. Bidan sebagai praktisi pelayanan harus menjaga
perkembangan praktik berdasarkan evidence based (Fakta yang ada) sehingga
berbagai dimensi etik dan bagaimna kedekatan tentang etika merupakan hal
yang penting untuk digali dan dipahami. Dari uraian diatas, makalah ini akan
membahas tentang “Etika Profesi Bidan” dalam masyarakat agar pembacanya

1
dapat termotivasi dan terpacu untuk menjadi bidan yang beretika, profesional
dan berdedikasi tinggi di kalangan masyarakat yang dapat dipelajari dalam
kode etik bidan dan etik profesi.

B. Rumusan Masalah
1. Etika moral profesi dan nilai-nilai profesi kebidanan.
2. Nilai dan kepercayaan kebidanan.
3. Konsep role model dalam kebidanan.
4. Konsep keputusan moral dan teori moral.
5. Sosial budaya masyarakat berdasarkan etika dan tanggung jawab bidan.

C. Tujuan
1. Tujuan Umum :
Agar pembaca bisa mengerti dan memahami:
a. Etika moral profesi dan nilai-nilai profesi kebidanan.
b. Nilai dan kepercayaan kebidanan.
c. Konsep role model dalam kebidanan.
d. Konsep keputusan moral dan teori moral.
e. Sosial budaya masyarakat berdasarkan etika dan tanggung jawab
bidan.
2. Tujuan Khusus:
a. Bagi mahasiswa
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas Mata Kuliah “Etika moral
dan nilai-nilai Profesi Kebidanan” sebagai salah satu bagian dalam
pengambilan nilai Mata Kuliah.
b. Bagi Dosen
Makalah ini dapat membantu dosen sebagai pengambilan
pertimbangan nilai mahasiswa.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Etika
Etik merupakan bagian dari filosofi yang berhubungan erat dengan
nilai manusia dalam menghargai suatu tindakan, apakah benar atau salah dan
apakah penyelesaiannya baik atau salah (Jones, 1994). Penyimpangan
mempunyai konotasi yang negative yang berhubungan dengan hukum.
Seseorang bidan dikatakan professional bila mempunyai kekhususan. Sesuai
dengan peran dan fungsinya seorang bidan bertanggung jawab menolong
persalinan. Dalam hal ini bidan mempunyai hak untuk mengambil keputusan
sendiri yang harus mempunyai pengetahuan yang memadai dan harus selalu
memperbaharui ilmunya dan mengerti tentang etika yang berhubungan
dengan ibu dan bayi.
Derasnya arus globalisasi yang semakin mempengaruhi kehidupan
sosial masyarakat dunia, juga mempengaruhi munculnya
masalah/penyimpangan etik sebagai akibat kemajuan teknologi/ilmu
pengetahuan yang menimbulkan konflik terhadap nilai. Arus kesejahteraan
ini tidak dapat dibendung, pasti mempengaruhi pelayanan kebidanan. Dengan
demikian penyimpangan etik Mungkin terjadi juga dalam praktek kebidanan
misalnya dalam praktek mandiri, tidak seperti bidan yang bekerja di RS, RB
atau institusi Kesehatan lainnya, mempertanggungjawabkan sendiri yang
dilakukan. Dalam hal ini bidan yang praktek mandiri menjadi pekerja yang
bebas Mengontrol dirinya sendiri. Situasi ini besar sekali pengaruhnya
terhadap kemungkinan terjadinya penyimpangan etik.

B. Pengertian Nilai
Nilai – nilai (values) adalah suatu keyakinan seseorang tentang
penghargaan terhadap suatu standar atau pegangan yang mengarah pada
sikap atau perilaku seseorang. Sistem nilai dalam suatu organisasi adalah

3
tentang nilai – nilai yang dianggap penting dan sering diartikan sebagai
perilaku personal.
Nilai merupakan milik setiap pribadi yang mengatur langkah–langkah
yang seharusnya dilakukan karena merupakan cetusan dari hati nurani yang
dalam dan di peroleh seseorang sejak kecil. Nilai dipengaruhi oleh
lingkungan dan pendidikan, yang mendapat perhatian khusus, terutama bagi
para petugas kesehatan karena perkembangan peran menjadikan mereka
lebih menyadari nilai dan hak orang lain.
Klasifikasi nilai- nilai adalah suatu proses dimana seorang dapat
menggunakannya untuk mengidentifikasi nilai-nilai mereka sendiri.
Seorang bidan dalam melaksanakan asuhan kebidanannya. Selain
menggunakan ilmu kebidanan yang ia miliki juga diperkuat oleh nilai yang
ada didalam diri mereka

C. Pengertian Profesi
Profesi adalah pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan
penguasaan terhadap suatu pengetahuan khusus. Suatu profesi biasanya
memiliki asosiasi profesi, kode etik, serta proses sertifikasi dan lisensi yang
khusus untuk bidan profesi tersebut. Contoh profesi adalah pada bidang
hukum, kedokteran, keuangan, militer, dan teknik.

D. Bidan Sebagai Profesi


Sebagai anggota profesi, bidan mempunyai ciri khas yang khusus.
Sebagaii pelayan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan
kesehatan. Bidan mempunyai tugas yang sangat unik, yaitu:
1. Selalu mengedepankan fungsi ibu sebagai pendidik bagi anak-anaknya.
2. Memiliki kode etik dengan serangkaian pengetahuan ilmiah yang didapat
melalui proses pendidikan dan jenjang tertentu
3. Keberadaan bidan diakui memiliki organisasi profesi yang bertugas
meningkatkan mutu pelayanan kepada masyarakat,

4
4. Anggotanya menerima jasa atas pelayanan yang dilakukan dengan tetap
memegang teguh kode etik profesi.
Hal tersebut akan terus diupayakan oleh para bidan sehubungan
dengan anggota profesi yang harus memberikan pelayanan profesional.
Tentunya harus diimbangi dengan kesempatan memperoleh pendidikan
lanjutan, pelatihan, dan selalu berpartisipasi aktif dalam pelayanan kesehatan.
Sehubungan dengan profesionalisme jabatan bidan, perlu dibahas
bahwa bidan tergolong jabatan profesional. Jabatan dapat ditinjau dari dua
aspek, yaitu jabatan struktural dan jabatan fungsional. Jabatan struktural
adalah jabatan yang secara tegas ada dan diatur berjenjang dalam suatu
organisasi, sedangkan jabatan fungsional adalah jabatan yang ditinjau serta
dihargai dari aspek fungsinya yang vital dalam kehidupan masyarakat dan
negara.
Selain fungsi dan perannya yang vital dalam kehidupan masyarakat,
jabatan fungsional juga berorientasi kwalitatif. Dalam konteks inilah jabatan
bidan adalah jabatan fungsional profesional, dan wajarlah apabila bidan
tersebut mendapat tunjangan profesional.
Bidan sebagai profesi memiliki ciri-ciri tertentu, yaitu :
1. Bidan disiapkan melalui pendidikan formal agar lulusannya dapat
melaksanakan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya secara
profesional
2. Bidan memiliki alat yang dijadikan panduan dalam menjalankan
profesinya, yaitu standar pelayanan kebidanan, kode etik,dan etika
kebidanan
3. Bidan memiliki kelompok pengetahuan yang jelas dalam menjalankan
profesinya
4. Bidan memiliki kewenangan dalam menjalankan tugasnya
5. Bidan memberi pelayanan yang aman dan memuaskan sesuai dengan
kebutuhan masyarakat
6. Bidan memiliki organisasi profesi

5
7. Bidan memiliki karakteristik yang khusus dan dikenal serta dibutuhkan
masyarakat
8. Profesi bidan dijadikan sebagai suatu pekerjaan dan sumber utama
penghidupan.

E. Nilai dan Kepercayaan Bidan


1. Nilai dan kepercyaan bidan :
a. Respek terhadap individu dan kehidupannya.
b. Fokus pada wanita dalm proses childbirth.
c. Keterpaduan yang merefleksikan kejujuran dan prinsip moral.
d. Keadilan dan kebenaran.
e. Menerapkan proses dan prinsip demokrasi.
f. Pengembangan diri diambil dari pengalaman hidup dan proses
pendidikan.
g. Pendidikan kebidanan merupakan dasar dari praktik kebidanan.
2. Kepercayaan yang harus dipegang oleh profesi bidan :
1. Setiap ibu adalah individu yang memiliki hak, kebutuhan, harapan,
dan keinginan.
2. Adanya profesi kebidanan yang mempunyai kekuatan untuk
mempengaruhi kondisi kehamilan dan pelayanan yang diberikan
pada wanita dan keluarganya pada proses persalinan.
3. Kesehatan yang mendatang tergantung pada kualitas asuhan yang
diberikan pada calon ibu, calon ayah dan bayi.
4. Ibu dan bayi membutuhkan sesuatu yang bernilai sesuai dengan
kebutuhannya.

F. Konsep Role Model


Bidan merupakan bagian dari tenaga kesehatan yang ada dilingkungan
masyarakat. Tidak hanya itu, bidan bahkan dapat dijumpai sampai pelosok
tanah air. Oleh karena itu, bidan hidup ditengah masyarakat haruslah menjadi
panutan/contoh (role model) dalam berkehidupan dimasyarakat. Karena

6
bidan merupakan publik figure yang ada ditengah masyarakat Indonesia,
maka semua perilaku atau kebiasaan bidan menjadi contoh dimasyarakat.
Terlebih lagi kebiasaan dalam bidang kesehatan, misalnya perilaku bersih dan
sehat, ini menjadi sorotan masyarakat.
Oleh karena bidan dituntut menjadi Role model/contoh ditengah
masyarakat, maka bidan harus terlebih dahulu mengenali diri sendiri sebelum
menjadi contoh untuk masyarakat. Bidan yang mempunyai masalah pribadi,
seperti ketergantungan obat, hubungan interpersonal yang terganggu,
mempengaruhi hubungannya dengan klien (Stuart dan Sundeen, 1987,
h.102). Bidan mungkin menolak dan mengatakan dapat memisahkan
hubungan professional dengan kehidupan pribadi. Hal ini tidak mungkin pada
asuhan kesehatan jiwa karena bidan memakai dirinya secara terapeutik dalam
menolong klien. Bidan yang efektif adalah bidan yang dapat memenuhi dan
memuaskan kehidupan pribadi serta tidak didominasi oleh konflik, distres
atau pengingkaran dan memperlihatkan perkembangan serta adaptasi yang
sehat. Bidan diharapkan bertanggung jawab atas perilakunya, sadar dengan
kelemahan dan kekurangannya.
Ciri bidan yang dapat menjadi role model:
1. Puas akan hidupnya
2. Tidak didominasi oleh stres
3. Mampu mengembangkan kemampuan
4. Adaptif.

G. Konsep Keputusan Moral dan Teori Moral


1. Pengertian keputusan moral dalam kebidanan
Pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis
terhadap hakikat suatu masalah dengan pengumpulan fakta-fakta dan
data, menentukan alternatif yang matang untuk mengambil suatu
tindakan yang tepat. Ada 5 hal yang perlu diperhatikan dengan
pengambilan keputusan:
a. Dalam proses pengambilan keputusan tidak terjadi secara kebetulan.

7
b. Pengambilan keputusan tidak dilakukan secara sembrono tetapi
harus berdasarkan pada sistematika tertentu :
1) Tersedianya sumber-sumber untuk melaksanakan keputusan
yang diambil.
2) Kualifikasi tenaga kerja yang tersedia.
3) Falsafah yang dianut organisasi.
4) Situasi lingkungan internal dan eksternal yang mempengaruhi
administrasi dan manajemen didalam organisasi.
c. Masalah harus diketahui dengan jelas
d. Pemecahan masalah harus didasarkan pada fakta-fakta yang
terkumpul dengan sistematis.
e. Keputusan yang baik adalah keputusan yang telah dipilih dari
berbagai alternatif yang telah dianalisa secara matang.
Apabila pengambilan keputusan tidak didasarkan pada kelima hal
diatas menimbulkan berbagai masalah:
a. Tidak tepatnya keputusan
b. Tidak terlaksananya keputusan karena tidak sesuai dengan
kemampuan organisasi baik dari segi manusia, uang maupun
material
c. Ketidakmampuan pelaksana untuk bekerja karena tidak ada
sinkrinisasi antara kepentingan organisasi dengan orang-orang
didalam organisasi tersebut.
d. Timbulnya penolakan terhadap keputusan.
2. Faktor yang mempengaruhi pada pengambilan keputusan
a. Faktor yang mempengaruhi pada pengambilan keputusan:
1) Faktor Internal
Faktor internal dari diri manajer sangat mempengaruhi
proses pengambilan keputusan. Faktor internal tersebut
meliputi: keadaan emosional dan fisik, personal karakteristik,
kultural, sosial, latar belakang filosofi, pengalaman masa lalu,

8
minat, pengetahuan dan sikap pengambilan keputusan yang
dimiliki.
2) Faktor Eksternal
Faktor eksternal termasuk kondisi dan lingkungan waktu.
Suatu nilai yang berpengaruh pada semua aspek dalam
pengambilan keputusan adalah pernyataan masalah, bagaimana
evaluasi itu dapat dilaksanakan. Nilai ditentukan oleh salah satu
kultural, sosial, latar belakang, filosofi, sosial dan kultural.
b. Pengambila keputusan kelompok
Ada dua kriteria utama untuk pengambilan keputusan yang
efektif:
1) Keputusan harus berkualitas tinggi dan dapat mencapai tujuan
atau sasaran yang sebelumnya telah didefinisikan.
2) Keputusan harus diterima oleh orang yang bertanggung jawab
melaksanakannya. Contoh: rapat merupakan salah satu alat
terpenting untuk mencapai informasi dan mengambil keputusan.
Langkah utama proses pengambilan keputusan adalah proses
pemecahan masalah. Fase ini termasuk mendefinisikan keuntungan
dan kerugian masing-masing pilihan, memprioritaskan pilihan,
menyeleksi pilihan yang paling baik untuk menilai sebelum
mendefinisikan tujuan, implementasi, dan evaluasi.
3. Teori Moral dalam kebidanan
Moral hampir sama dengan etika, biasanya merujuk pada standar
personal tentang benar atau salah. Hal ini sangat penting untuk mengenal
antara etika dalam agama, hukum, adat, dan praktek profesional.
a. Teori moral kebanyakan tidak ada “algorithma moral moral” untuk
membuat keputusan atau jawaban.
b. Pilihan yang dapat dilakukan adalah “Teori Moral” yang memberi
kerangka membuat keputusan-keputusan moral dan etika.
c. Masalah teori moral tidak selalu memberi jawaban yang sama,
bahkan sering bertentangan.

9
4. Penentu teori moral :
a. Egoisme Etikal
1) Pemikiran : tindakan boleh (dapat diterima) atas dasar kepentingan
sendiri
Contoh : membunuh perampok untuk membela diri
b. Utilitarianisme
1) Pemikiran : tindakan diterima bila memberikan paling banyak
manfaat untuk orang banyak.
Contoh : penggunaan DDT untuk melawan malaria
2) Analisis utilitarianisme
3) Tentukan target audiens
4) Tentukan kerusakan, keuntungan, bobot pada target audiens
5) Evaluasi fungsi kebahagiaan untuk setiap tindakan
6) Pilih tindakan yang memberikan fungsi kebahagiaan tertinggi.
c. Analisis hak
1) Pemikiran : hak siapa didahulukan dan tepo seliro
Contoh : penculikan di bohongi untuk menyelamatkan sandra
2) Urutan hak menurut kepentingan :
 Hak untuk hidup
 Hak untuk menjaga kepenuhan hidup
 Hak untuk meningkatkan kepenuhan hidup
d. Analisis hak
1) Tentukan target audiens
2) Evaluasi tindakan pelanggaran hak sesuai urutan diatas
3) Pilih tindakan yang menyebabkan pelanggaran hak yang kurang
penting.

H. Etika Profesi
1. Pengertian etika profesi kebidanan
Istilah etik secara umum, digunakan sehari-hari pada hakikatnya
berkaitan dengan falsafah dan moral yaitu mengenai apa yang dianggap

10
baaik atau buruk dimasyarakat dalam kurun waktu tertentu. Sesuai
dengan perubahan/ perkembangan norma/nilai. Dikatakan kurun waktu
tertentu karena etik dan moral bisa berubah dengan lewatnya waktu.
Etika sosial (etika profesi) merupakan suatu pernyataan
komprehensif dari profesi yang memberikan tuntutan bagi anggotanya
untuk melaksanakan praktik dalam bidan profesinya, baik yang
berhubungan dengan klien/pasien, keluarga, masyarakat, teman sejawat,
profesi dan dirinya sendiri.
Etik merupakan bagian dari filosofi yang berhubungan erat dengan
nilai manusia dalam menghargai suatu tindakan, apakah benar atau salah
dan apakah penyelesaiannya baik atau salah (Jones, 1994).
Penyimpangan mempunyai konotasi yang negatif yang berhubungan
dengan hukum. Seorang bidan dikatakan profesional bila mempunyai
kekhususan. Sesuai peran dan fungsinya seorang bidan bertanggung
jawab menolong persalinan.
Dalam hal ini bidan mempunyai hak untuk mengambil keputusan
sendiri yang harus mempunyai pengetahuan yang memadai dan harus
selalu memperbaharui ilmunya dan mengerti tentang etika yang
berhubungan dengan ibu dan bayi. Derasnya arus globalisasi yang
semakin mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat dunia, juga
mempengaruhi munculnya masalah/penyimpangan etik sebagai akibat
kemajuan teknologi/ilmu pengetahuan yang menimbulkan konflik
terhadap nilai. Arus kesejahteraan yang tidak dapat dibendung ini, pasti
mempengaruhi pelayanan kebidanan. Dengan demikian penyimpangan
etik mungkin saja terjadi juga dalam praktek kebidanan misalnya dalam
praktek mandiri, tidak seperti bidan yang bekerja di RS, RB atau institusi
kesehatan lainnya, mempertanggung jawabkan sendiri apa yang
dilakukan. Dalam hal ini bidan yang praktek mandiri menjadi pekerja
yang bebas mengontrol dirinya sendiri. Situasi ini akan besar sekali
pengaruhnya terhadap kemungkinan terjadinya penyimpangan etik.

11
2. Masalah etik yang berhubungan dengan teknologi
a. Bidanan intensif pada bayi
Bidanan intensif pada bayi harus dilakukan dalam ruang bidanan
khusus yang terdiri dari tiga level, berdasarkan derajat kesakitan,
resiko masalah dan kebutuhan pengawasannya:
1) Level 1 adalah untuk bayi beresiko rendah, dengan kata lain bayi
normal yang sering digunakan istilah rawat gabung (bidanan
bersama ibu).
2) Level 2 adalah untuk bayi resiko tinggi tetapi pengawasan belum
perlu intensif. Pada level ini bayi diawasi oleh bidan 24 jam, akan
tetapi perbandingan bidan dan bayi tidak perlu 1:1.
3) Level 3 adalah pengawasan yang dilakukan benar-benar ekstra
ketat. Satu orang bidan yang bertugas hanya boleh menangani
satu pasien selama 24 jam penuh. Pada ketiga level peran dokter
boleh dibagi, artinya 1 orang dokter pada ketiga level, akan tetapi
dengan keterampilan dan pengetahuan khusus mengenai masalah
gawat darurat pada neonatus.
b. Screening bayi
“ tindakan pencegahan gangguan perkembangan motorik anak “
Screening Denver Test DDST merupakan alat untuk menemukan
secara dini masalah penyimpangan perkembangan anak umur 0 s/d
<6 tahun. Instrumen ini merupakan revisi dari DDST yang pertama
kali dipublikasikan tahun 1967 untuk tujuan yang sama.
Pemeriksaan yang dihasilkan DDST II bukan merupakan pengganti
evaluasi diagnostik, namun lebih kearah membandingkan
kemampuan perkembangan seorang anak dengan anak lain yang
seumur. DDST II digunakan untuk menilai tingkat perkembangan
anak sesuai umur.
c. Transplantasi organ

12
Teknik transplantasi dimungkinkan untuk memindahkan suatu organ
atau jaringan tubuh manusia yang berfungsi baik, dari orang yang
masih hidup maupun yang sudah meninggal, ketubuh manusia lain.
Dalam penyembuhan suatu penyakit, ada kalanya transplantasi
dalam usaha penyembuhan suatu penyakit dan dengan
meningkatnya keterampilan dokter-dokter dalam melakukan
transplantasi, upaya transplantasi mulai diminati oleh para penderita
dalam upaya penyembuhan yang cepat dan tuntas.

I. Sosial Budaya Masyarakat Berdasarkan Etika dan Tanggungjawab


Bidan
1. Pendekatan Melalui Budaya dan Kegiatan Kebudayaan Kaitannya
dengan Peran Seorang Bidan
Bidan sebagai salah seorang anggota tim kesehatan yang terdekat
dengan masyarakat, mempunyai peran yang sangat menentukan dalam
meningkatkan status kesehatan masyarakat, khususnya kesehatan ibu dan
anak di wilayah kerjanya.
Seorang bidan harus mampu menggerakkan peran serta
masyarakat khususnya, berkaitan dengan kesehatan ibu hamil, ibu
bersalin, ibu nifas, bayi baru lahir, anak remaja dan usia lanjut. Seorang
bidan juga harus memiliki kompetensi yang cukup berkaitan dengan
tugas, peran serta tanggung jawabnya.
Dalam rangka peningkatan kualitas dan mutu pelayanan
kebidanan diperlukan pendekatan-pendekatan khususnya sosial budaya,
untuk itu sebagai tenaga kesehatan khususnya calon bidan agar
mengetahui dan mampu melaksanakan berbagai upaya untuk
meningkatkan peran aktif masyarakat agar masyarakat sadar pentingnya
kesehatan.
Menurut Departemen Kesehatan RI, fungsi bidan di wilayah
kerjanya adalah sebagai berikut:

13
a. Memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di rumah-
rumah, mengenai persalinan, pelayanan keluarga berencana, dan
pengayoman medis kontrasepsi.
b. Menggerakkan dan membina peran serta masyarakat dalam bidang
kesehatan, dengan melakukan penyuluhan kesehatan yang sesuai
dengan permasalahan kesehatan setempat.
c. Membina dan memberikan bimbingan teknis kepada kader serta
dukun bayi.
d. Membina kelompok dasa wisma di bidang kesehatan.
e. Membina kerja sama lintas program, lintas sektoral, dan lembaga
swadaya masyarakat.
f. Melakukan rujukan medis maupun rujukan kesehatan ke fasilitas
kesehatan lainnya.
g. Mendeteksi dini adanya efek samping dan komplikasi pemakaian
kontrasepsi serta adanya penyakit-penyakit lain dan berusaha
mengatasi sesuai dengan kemampuannya.
Melihat dari luasnya fungsi bidan tersebut, aspek sosial-budaya
perlu diperhatikan oleh bidan. Sesuai kewenangan tugas bidan yang
berkaitan dengan aspek sosial-budaya, telah diuraikan dalam peraturan
Menteri Kesehatan No. 363/Menkes/Per/IX/1980 yaitu: Mengenai
wilayah, struktur kemasyarakatan dan komposisi penduduk, serta sistem
pemerintahan desa dengan cara:
a. Menghubungi pamong desa untuk mendapatkan peta desa yang telah
ada pembagian wilayah pendukuhan/RK dan pembagian wilayah RT
serta mencari keterangan tentang penduduk dari masing-masing RT.
b. Mengenali struktur kemasyarakatan seperti LKMD, PKK, LSM,
karang taruna, tokoh masyarakat, kelompok pengajian, kelompok
arisan, dan lain-lain.
c. Mempelajari data penduduk yang meliputi:
1) Jenis kelamin

14
2) Umur
3) Mata pencaharian
4) Pendidikan
5) Agama
d. Mempelajari peta desa
e. Mencatat jumlah KK, PUS, dan penduduk menurut jenis kelamin
dan golongan.
Agar seluruh tugas dan fungsi bidan dapat dilaksanakan secara
efektif, bidan harus mengupayakan hubungan yang efektif dengan
masyarakat. Salah satu kunci keberhasilan hubungan yang efektif adalah
komunikasi. Kegiatan bidan yang pertama kali harus dilakukan bila
datang ke suatu wilayah adalah mempelajari bahasa yang digunakan oleh
masyarakat setempat.
Kemudian seorang bidan perlu mempelajari sosial-budaya
masyarakat tersebut, yang meliputi tingkat pengetahuan penduduk,
struktur pemerintahan, adat istiadat dan kebiasaan sehari-hari, pandangan
norma dan nilai, agama, bahasa, kesenian, dan hal-hal lain yang berkaitan
dengan wilayah tersebut.
Bidan dapat menunjukan otonominya dan akuntabilitas profesi
melalui pendekatan social dan budaya yang akurat. Manusia sebagai
mahluk ciptaan Tuhan yang di anugerahi pikiran, perasaan dan kemauan
secara naluriah memerlukan prantara budaya untuk menyatakan rasa
seninya, baik secara aktif dalam kegiatan kreatif, maupun secara pasif
dalam kegiatan apresiatif. Dalam kegiatan apresiatif, yaitu mengadakan
pendekatan terhadap kesenian atau kebudayaan seolah kita memasuki
suatu alam rasa yang kasat mata. Maka itu dalam mengadakan
pendekatan terhadap kesenian kita tidak cukup hanya bersimpati
terhadap kesenian itu, tetapi lebih dari itu yaitu secara empati. Melalui
kegiatan-kegiatan kebudayaan tradisional setempat bidan dapat berperan
aktif untuk melakukan promosi kesehatan kepada masyaratkat dengan
melakukan penyuluhan kesehatan di sela-sela acara kesenian atau

15
kebudayaan tradisional tersebut. Misalnya: Dengan Kesenian wayang
kulit melalui pertunjukan ini diselipkan pesan-pesan kesehatan yang
ditampilkan di awal pertunjukan dan pada akhir pertunjukan.
2. Konsep Tanggungjawab Profesi
a. Tanggung jawab terhadap peraturan perundang-undangan
Bidan adalah salah satu tenaga kesehatan. Pengaturan tenaga
kesehatan ditetapkan didalam undang-undang dan peraturan
pemerintah. Tugas dan kewenangan bidan serta ketentuan yang
berkaitan dengan kegiatan praktik bidan diatur dalam peraturan atau
keputusan menteri kesehatan.
Kegiatan praktik bidan dikontrak oleh peraturan tersebut.
Bidan harus dapat mempertanggung jawabkan tugas dan kegiatan
yang di lakukannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
b. Tanggung jawab terhadap pengembangan kompetensi
Setiap bidan memiliki tanggung jawab memelihara
kemampuan profesionalnya. Oleh karena itu, bidan harus selalu
meningkatkan pegetahuan dan keterampilannya dengan mengikuti
pelatihan, pendidikan berkelanjutan, seminar, serta pertemuan
ilmiah lainnya.
c. Tanggung jawab terhadap penyimpanan catatan kebidanan
Setiap bidan diharuskan mendokumentasikan kegiatannta
dalam bentuk catatan tertulis. Catatan bidan mengenai pasien yang
dilayaninya ddapat dipertanggung jawabkan bila terjadi gugatan.
Catatan yang dilakukan bidan dapat digunakan sebagai bahan
laporan untuk disampaikan kepada atasannya. Di inggris bidan harus
menyimpan catatan kegiatannya selama 25 tahun.
d. Tanggung jawab terhadap keluarga yang dilayani
Bidan memiliki kewajiban memberi asuhan kepada ibu dan
anak yang meminta pertolongan kepadanya. Ibu dan anak
merupakan bagian dari keluarga. Oleh karena itu, kegiatan bidan

16
sangat erat kaitannya dengan keluarga. Tanggung jawab bidan tidak
hanya pada kesehatan ibu dan anak, tetapi juga menyangkut
kesehatan keluarga. Bidan harus dapat mengidentifikasi masalah dan
kebutuhan keluarga serta memberi pelayanan dengan tepat dan
sesuai dengan kebutuhan keluarga. Pelayanan terhadap kesehatan
keluarga merupakan kondisi yang diperlukan ibu yang
membutuhkan keselamatan, kepuasan dan kebahagiaan selama masa
hamil atau melahirkan. Oleh karena itu, bidan harus menggerahkan
segala kemampuan pengetahuan, sikap dan perilakunya dalam
memberi pelayanan kesehatan keluarga yang membutuhkan.
e. Tanggung jawab terhadap profesi
Bidan harus menerima tanggung jawab keprofesian yang
dimilikinya. Oleh karena itu, ia harus mematuhi dan berperan aktif
dalam melaksanakan asuhan kebidanan sesuai dengan kewenangan
dan standar keprofesian. Bidan harus ikut serta dalam kegiatan
organisasi bidan dan badan resmi kebidanan. Untuk
mengembangkan kemampuan keprofesiannya, bidan harus mencari
informasi tentang perkembangan kebidanan melalui media
kesehatan, seminar, dan pertemuan ilmiah lainnya. Semua bidan
harus menjadi anggota organisasi bidan. Bidan memiliki hak
mengajukan suara dan dapat pendapat tentang profesinya.
f. Tanggung jawab terhadap masyarakat
Bidan adalah anggota masyarakat yang bertanggung jawab.
Oleh karena itu, bidan turut bertanggung jawab dalam memecahkan
masalah kesehatan masyarakat (mis. Lingkungan yang tidak sehat,
penyakit menular, masalah gizi terutama yang menyangkut
kesehatan ibu dan anak). Baik secara mandiri maupun bersama
tenaga kesehatan lain, bidan berkewajiban memanfaatkan sumber
daya yang ada untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. Bidan
harus memelihara kepercayaan masyarakat. Imbalan yang diterima
dari masyarakat sesuai dengan kepercayaan yang diberikan oleh

17
masyarakat kepada bidan. Tanggung jawab terhadap masyarakat
merupakan cakupan dan bagian tanggung jawabnya kepada tuhan.

J. Nilai Dan Kepercayaan Bidan Dipandang Dari Role Model, Keputusan


Moral Dan Sosial Budaya Masyarakat Yang Berdasarkan Etika Dan
Tanggung Jawab Profesi
Agar seluruh tugas dan fungsi bidan dapat dilaksanakan secara efektif,
bidan harus berupaya hubungan efektif adalah komunikasi. Kegiatan bidan
yang pertama kali harus dilakukan bila datang kesuatu wilayah adalah
mempelajari bahasa yang digunakan oleh masyarakat setempat.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh bidan agar dirinya dikenal
0leh masyarakat, harus mempromosikan dirinya dengan menampilkan
kepribadian sesuai norma dan nilai yang berlaku dimasyarakat. Memahami
bahwa masyarakat merupakan bagian dari dirinya. Sehingga bidan memiliki
karismatik bagi masyarakat diwilayah kerja.
Untuk dapat menampilkan kepribadian yang sesuai dengan norma dan
nilai yang berlaku, bidan terlebih dahulu harus mempelajari sosial budaya
masyarakat tersebut, yang meliputi tingkat pengetahuan penduduk, struktur
pemerintah, adat istiadat dan kebiasaan sehari-hari, pandangan nilai dan
norma, agama, bahasa, keserasian hal-hal yang berkaitan dengan wilayah
tersebut.
Bidan harus memiliki komitmen yang tinggi untuk memberikan asuhan
kebidanan yang berkulaitas berdasarkan standar perilaku etik dalam praktik
kebidanan. Pengetahuan tentang perilaku etis dimulai dari pendidikan bidan
dan berlanjut pada forum atau kegiatan ilmiah baik formal atau nonformal
dengan teman sejawat profesi lain maupun masyarakat.
Bidan harus mampu menampilkan perilaku profesional, ataupun
kriteria-kriteria perilaku profesional adalah sebagai berikut:
1. Bertindak sesuai keahliannya dan didukung oleh pengetahuan dan
pengalaman serta keterampilan.
2. Bermoral tinggi.

18
3. Berlaku jujur, baik kepada orang lain maupun kepada diri sendiri, tidak
melakukan tindakan coba-coba yang tidak didukung oleh ilmu
pengetahuan profesi.
4. Tidak memberikan janji yng berlebihan.
5. Tidak memberikan/melakukan tindakan yang semata-mata didorong oleh
pertimbangan komersial.
6. Memegang teguh etika profesi.
7. Mengamati batas-batas kemampuan.
8. Menyadari ketentuan hukum yang memberi geraknya.

19
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Bidan adalah seorang yang telah menjalani program pendidikan bidan
yang diakui oleh negara tempat dia tinggal, dan telah berhasil menyelesaikan
studi terkait serta memenuhi persyaratan untuk terdaftar dan atau memiliki
izin formal untuk praktek bidan.Sebagai anggota profesi, bidan mempunyai
ciri khas yang khusus. Sebagai pelayan profesional yang merupakan bagian
integral dari pelayanan kesehatan.
Kebidanan sebagai profesi merupakan komponen yang paling penting
dalam meningkatkan kesehatan perempuan meskipun kadangkala bidan
diperhadapkan pada dilematis dalam menjalankan praktiknya. Oleh karena itu
bidan sebagai profesional harus mentaati rambu-rambu pelayanannya yaitu
kode etik profesi yang harus dilaksanakan dalam praktik pelayanannya.

B. Saran
1. Agar pemerintah terus berupaya mendukung profesi bidan dengan cara
meningkatkan kualitas SDM bidan melalui penyediaan fasilitas
pendidikan bagi bidan.
2. Bagi organisasi diharapkan agar terus berupaya mengembangkan
pelayanan dan pengetahuan bagi semua bidan secara adil dan merata.
3. Bidan sebagai tenaga profesional diharapkan dapat berpartisipasi secara
aktif dalam organisasi dan mampu melaksanakan tugas dan kewajibannya
sesuai dengan etika dan nilai-nilai profesi kebidanan.

20
DAFTAR PUSTAKA

Marimbi, Hanum. 2008. Etika dan Kode Etik Profesi Kebidanan. Mitra Cendikia
Press: Jogjakarta.

Syafrudin dan Hamidah 2009. Kebidanan Komunitas. EGC: Jakarta.

Wahyuningsih, Heni Puji. 2008. Etika Profesi Kebidanan. Fitramaya: Yogyakarta.

http://kakdewi.blogspot.com/2011/07/issue-etik-dalam-pelayanan-kebidanan.html