Anda di halaman 1dari 20

“Produksi Benih”

Dosen: Ir. Euis F.S Pangemanan, Msi

Disusun Oleh
Kiandreas Tarigan
17031107016
Ilmu Kehutanan
Fakultas Pertanian
Universitas Sam Ratulaangi
2018

1
Kata Pengantar
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas segala rahmatNya
sehingga makalah yang berjudul “Produksi benih” ini dapat tersusun hingga selesai.
Makalah ilmiah ini telah disusun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini.
Saya berharap semoga makalah ilmiah tentang produksi benih ini dapat memberikan
manfaat terhadap pembaca.
Terlepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik
dari segi sususan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu saya sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan
makalah ini.

2
Daftar Isi
Halaman
Kata Pengantar ...................................................................................................... 2
Daftar Isi ................................................................................................................. 3
Bab I Pendahuluan
A. Latar belakang .................................................................................... 4
B. Ruang lingkup ..................................................................................... 5
C. Maksud dan tujuan penulisan ........................................................... 6
Bab II Pembahasan
A. Produksi benih dan tujuannya .......................................................... 6
B. Tahapan dalam produksi benih ........................................................ 7
C. Tujuan produksi benih ...................................................................... 11
D. Prinsip-prinsip produksi benih.......................................................... 12
E. Sertifikasi benih ................................................................................. 15
Bab III Penutup
A. Kesimpulan ........................................................................................ 19
B. Saran .................................................................................................. 19
Daftar Pustaka ..................................................................................................... 20

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Produksi benih memiliki peran langsung dalam peningkatan pembangunan pertanian
yaitu varietas unggul dan benih bermutu yang mempengaruhi produksi dan produktivitas
serta efisiensi, mutu, dan daya sainghasil pertanian.Peran perbenihan secara makro yaitu
dalam penyerapan tenaga kerja yang banyak serta mendorong perkembangan inovasi dan
teknologi untuk menghasilkan produk benih yang semakin baik.
Jika perbenihan nasional sukses maka suatu negara semakin dekat dengan ketahanan
pangan. Produk pertanian akan memiliki daya saing dibandingkan negara lain serta petani
yang semakin sejahtera.
Selama ini benih varietas yang dikembangkan secara lokal dan bersertifikat
tersedia dalam jumlah terbatas dan untuk alasan ini perusahaan benih tidak dapat
menghasilkan jumlah besar benih bersertifikat. Keadaan ini dapat menghambat
komersialisasi.
Lembaga yang bertanggung jawab untuk pengendalian mutu benih dan sertifikasi sering
tidak tahu klien mereka serta tidak memiliki personil dan peralatan yang diperlukan untuk
melakukan pendataan yang diperlukan untuk memenuhi syarat sertifikasi.
Masyarakat di daerah terpencil tidak memiliki akses ke benih bersertifikat dan pedagang
benih tidak memiliki informasi yang cukup untuk menyarankan petani untuk memakai
varietas yang mereka jual. Kendala lain bagi industri perbenihan yaitu biaya yang cukup
mahal bagi perusahaan benih untuk memberikan masyarakat terpencil benih bersertifikat.
Infrastruktur jalan yang buruk juga menghambat perluasan pemasaran pengusaha benih ke
daerah-daerah petani.
Sektor swasta kurang tertarik untuk mengembangkan varietas tanaman menyerbuk
sendiri atau vegetatif dengan nilai pasar rendah karena varietas tersebut menghasilkan
keuntungan rendah sehingga petani sering menyisihkan sebagian dari hasil panen mereka

4
sebagai benih untuk musim tanam berikutnya. Menghadapi kondisi agribisnis, perusahaan
benih besar swasta memilih organisasi petani benih sebagai mitra. Harapan perusahaan
adalah bahwa benih yang dihasilkan akan menutupi bagian dari permintaan benih untuk
tanaman pangan utama.
Pentingnya peran produksi benih dalam pengadaan benih, maka diperlukan teknik
produksi yang baik dengan strategi produksi yang tepat. Teknik produksi yang baik akan
diterjemahkan melalui berbagai kegiatan produksi benih yang secara umum akan masuk
dalam prinsip-prinsip produksi benih. Strategi produksi benih yang tepat lebih
diimplikasikan kepada tingkat pengelolaan produksi yang efisien dan efektif.

B. RUANG LINGKUP
Masalah pokok yang ingin dibahas dalam tulisan ini adalah bagaimana cara
memproduksi benih yang berkualitas dan tersertifikasi untuk memajukan masyarakat
melalui sektor pertanian.
Penulisan makalah ini berusaha untuk memperjelas bagaimana cara memproduksi benih
yang berkualitas dengan memperhatikan prinsip-prinsip dalam memproduksi benih
tersebut. Serta membahas sertifikasi benih. Pada tulisan saya ini, benih yang akan dibahas
adalah benih yang diproduksi dalam bentuk biji (hasil fertilisasi/seed).
Berdasarkan tujuan pembuatan makalah ini maka masalan ataupun pembahasan yang
akan di kaji dalam penulisan makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
Apa itu produksi benih?
Apa tujuan dari produksi benih?
Membahas tentang prinsip-prinsip dalam produksi benih
Membahas persiapan lahan dalam produksi benih
Bagaiman standar mutu dari setiap kelas benih?

5
C. MAKSUD DAN TUJUAN PENULISAN
Memahami bagaimana proses dalam memproduksi benih yang berkualitas dengan
memperhatikan prinsip-prinsip produksi benih. Serta mengetahui tujuan-tujuan produksi
benih.
Mampu memproduksi benih yang unggul dengan mengikuti tahapan-tahapan yang harus
dilakukan dalam memproduksi benih.
Mengerti apa itu sertifikasi benih dan mengetahui pentingnya sertifikasi benih baik
terhadap benih hasil produksi maupun produsen benih itu sendiri, serta mengetahui apa
tujuan-tujuan dari sertifikasi benih.

6
BAB II
PEMBAHASAN
A. Produksi benih dan tujuannya
Benih merupakan bahan dasar tanaman yang berasal dari biji. Biji dikatakan benih
apabila telah masak fisiologis. Baiknya setiap benih yang akan kita produksi adalah benih
yang telah memiliki sertifikat dan lulus uji mutu. Hal ini dikarenakan agar tidak ada pihak
yang merasa dirugikan apabila di kemudian hari benih yang kita produksi merugikan.
Misalnya benih tersebut tidak tumbuh, karena benih tersebut telah mengalami deteriorasi
karena penyimpanan yang kurang baik, dan lain sebagainya.
Produksi benih merupakan salah satu kegiatan pokok dalam pengadaan benih, dan
berperan sebagai kegiatan pokok yang paling awal dilakukan. Produk kegiatan produksi
tersebut adalah "calon benih" yang merupakan bahan yang akan digunakan dalam
rangkaian kegiatan-kegiatan pokok yang lain. Tingkat mutu dari calon benih yang
dihasilkan dari kegiatan produksi, sangat menentukan terhadap tingkat mutu yang akan
dihasilkan dalam pengadaan benih.
Produksi benih ini bertujuan untuk memperbanyak atau menciptakan suatu benih yang
di kemudian hari benih tersebut akan digunkan oleh masyarakat. Serta cara untuk
mempertahankan atau mewariskan kekuatan (viabilitas, vigor suatu benih) yang dimiliki
tetua kepada anaknya. atau menciptakan suatu kekuatan baru yang lebih baik dari yang
sudah ada baik dari segi kwalitas maupun harga. benih suatu tanaman atau varietas tanaman
tersebut.
Produksi benih dapat dikategorikan menjadi 3 macam, yaitu :
1. Produksi benih dalam konteks produksi benih awal (initial seed production)
2. Produksi benih dalam konteks pemeliharaan varietas (variety maintenance)
3. Produksi benih dalam konteks produksi benih komersial (commercial seed production).

7
B. Tahapan dalam produksi benih

1. Komponen dan Lingkup Kegiatan Produksi Benih


Secara agronomis, pelaksanaan produksi benih mencakup hal-hal sebagai berikut :
1. Pemilihan dan Penyiapan Lahan Produksi
Untuk menghasilkan benih bermutu, tanaman harus diusahakan secara intensif pada
lahan yang memenuhi persyaratan dan dikelola sesuai dengan keadaan agroklimat
setempat.
Lahan untuk tempat produksi benih bersertifikat harus dipilih dengan beberapa
pertimbangan dan syarat-syarat sebagai berikut:
a. Lahan yang subur dan ketersediaan air
b. Adaptasi tanaman/varietas terhadap lingkungan produksi
c. Sejarah pertanaman yang berkaitan dengan varietas atau spesies yang ditanam
sebelumnya
d. Rotasi tanaman
e. Kemudahan akses untuk informasi dan transportasi yang kaitannya nanti dalam
menunjang berbagai pemberian masukan ke lapang produksi dan pemasaran.
2. Penumbuhan tanaman
Penumbuhan tanaman adalah proses dimana benih mengalami perkembangan sampai
siap dipanen dengan berbagai perlakukan. Perlakuan yang dilakukan untuk menumbuhkan
tanaman yaitu dengan penanaman dan pemeliharaan tanaman. pada penanaman ini biasanya
dilakukan persemaian atau pembibitan. Pada pembibitan kultivar hybrid (F1) biasanya
benih disemai dalam barisan telah ditetapkan sebelumnya. Persemaian biasanya dilakukan
dengan menbuat bedengan-bedengan, lokasi pembuatan bedengan sebaiknya di dekat lokasi
penanaman agar mudah melakukan pemindahan (transplanting).
Setelah penumbuhan tanaman atau benih, maka pemeliharaan benih itu sendiri juga
diperlukan agar dapat bertumbuh dengan baik. Beberapa kegiatan yang termasuk dalam
kgiatan pemeliharaan tanaman, yaitu:

8
1. Penjarangan untuk memproleh kerapatan dari tanaman itu sendiri supaya hasilnya lebih
optimum per satuan luas.
2. Pendangiran untuk menghindari pemadatan tanah di sekitar tanaman dan membersihkan
lahan dari gulma.
3. Pengendalian Gulma dengan cara drainase, penggenangan, rotasi tanaman, penggunaan
pupuk, penyemaian, dan penggunaan herbisida.
4. Irigasi untuk menghindari kekurangan air pada tanaman
5. Pemupukan untuk mencukupi asupan hara bagi tanaman.
6. Pemberantasan Hama dan Penyakit
Salah satu faktor penghambat yang perlu dipertimbangkan selain benih yang baik adalah
serangan hama dan penyakit. Penguburan sisa-sisa tanaman dengan pembajakan dan rotasi
tanaman bisa mengurangi resiko penyakit terbawa dari tanaman musim sebelumnya.
Perawatan benih dan penyemprotan insektisida merupakan praktek yang lazim, tetapi
tambahan insektisida khusus kadang-kadang perlu untuk tanaman benih. Resiko
penggunaan insektisida terhadap serangga penyerbuk harus selalu diperhatikan.
7. Penegakan Lanjaran dan Para-Para untuk menompang tanaman, panjang dan posisinya
juga harus disesuaikan dengan masing-masing kebutuhan tanaman..
8. Pemangkasan untuk tanaman-tanaman tertentu guna menghasilkan tajuk yang tinggi.
9. Membantu Penyerbukan untuk tanaman-tanaman yang membutuhkan bantuan serangga
saat proses penyerbukannya.
10. Perlindungan Tanaman dari Kontaminan Serbuk Sari Lain supaya kontaminasi serbuk
sari dari luar areal produksi benih bisa dikurangi.
11. Pemanenan Tanaman
Pemanenan harus dilaksanakan pada waktu dan cara yang tepat agar daya simpan benihnya
tinggi. Saat terbaik untuk melaksanakan panen bagi tanaman-tanaman yang ditanam untuk
menghasilkan benih adalah pada saat tanaman menghasilkan benih bermutu tinggi dalam
jumlah yang maksimum.

9
2. Klasifikasi dan Sistem Produksi Benih
Benih sumber atau benih yang akan digunakan untuk memproduksi benih haruslah
bermutu tinggi dan jelas asal-usulnya. Syarat mutu bagi benih bersertifikat antara lain
murni (sesuai dengan sifat-sifat induknya), sehat (bebas dari hama maupun penyakit),
bersih (bebas dari kotoran maupun campuran varietas lain), dan memiliki daya tumbuh
yang tinggi. Benih sumber yang digunakan dalam produksi benih harus berasal dari kelas
yang lebih tinggi seperti dalam sistem alur perbanyakan mono generation flow atau poly
generation flow.
Berdasarkan fungsi dan cara produksi, benih terdiri atas benih inti (nucleous seed),
benih sumber, dan benih sebar. Benih inti adalah benih awal yang penyediaannya
berdasarkan proses pemuliaan dan/ atau perakitan suatu varietas tanaman oleh pemulia
pada lembaga penyelenggara pemuliaan (Balai Penelitian Komoditas). Benih inti
merupakan benih yang digunakan untuk perbanyakan atau menghasilkan benih penjenis
(Breeder Seed/BS).
Benih sumber terdiri atas tiga kelas, yaitu:
1. Benih Penjenis (Breeder Seed/BS)
Benih penjenis adalah benih sumber yang diproduksi dan dikendalikan langsung oleh
pemulia (breeder) yang menemukan atau diberi kewenangan untuk mengembangkan
varietas tersebut. Dalam sertifikasi, benih penjenis dicirikan oleh label berwarna putih
(rencana menjadi warna kuning) yang ditandatangani oleh pemulia dan Kepala Institusi
penyelenggara pemuliaan tersebut. Benih penjenis digunakan sebagai benih sumber untuk
produksi atau perbanyakan benih dasar
2. Benih Dasar (BD/ Foundation Seed/FS)
Benih dasar merupakan benih sumber untuk perbanyakan/produksi benih pokok. .
Karena benih dasar merupakan turunan pertama (F1) dari benih penjenis. Benih ini
diproduksi dan diawasi secara ketat oleh pemulia tanaman sehingga kemurnian varietasnya
dapat dipertahankan. Benih dasar ini diberi label sertifikasi berwarna putih.

10
3. Benih Pokok (BP/ Stock Seed/SS)
Benih pokok merupakan F1 dari benih dasar atau F2 dari benih penjenis dan diberi label
sertifikasi berwarna ungu. Benih pokok adalah benih sumber yang diproduksi oleh
produsen penangkar benih di daerah dan pengendalian mutunya melalui sertifikasi benih.
4. Benih Sebar (BR/ Extension Seed/ES)
Benih sebar (BR/ Extension oleh Balai Benih atau penangkar benih dengan
mendapatkan bimbingan, pengawasan dan sertifikasi dari BPSB. Benih sebar diberi label
sertifikasi berwarna biru, dan hijau untuk keturunan benih Seed/ES) disebut benih
komersial karena merupakan benih turunan dari benih pokok, yang ditanam oleh petani
untuk tujuan konsumsi. Benih pokok dan benih sebar umumnya diperbanyak berlabel biru.
Selain dengan pengkelasan benih, upaya pemenuhan kebutuhan benih bersertifikat juga
dilakukan dengan strategi alur perbanyakan benih yang terbagi menjadi 3 yaitu:
a. Perbanyakan Tunggal
Pada sistem alur perbanyakan benih alur tunggal, tiap kelas benih diperbanyak untuk
menghasilkan kelas benih di bawahnya sehingga F3 dari benih penjenis adalah kelas benih
sebar
b. Perbanyakan Ganda
Pada sistem alur perbanyakan ganda, setiap kelas benih dapat diperbanyak untuk
menghasilkan kelas benih yang sama dengan maksimal generasi diperbanyak 4 kali.
c. Perbanyakan Transisi
Pada sistem alur perbanyakan ini, benih diperbanyak secara alur generasi tunggal
sampai dengan kelas benih pokok dan selanjutnya benih diperbanyak secara alur ganda
untuk menghasilkan kelas benih sebar. Hal ini pun diterapkan dengan pertimbangan
kebutuhan benih di lapang sehingga tidak perlu benih F4.

C. Tujuan produksi benih


Tujuan dari produksi benih adalah :
1. Menyebarkan varietas unggul baru hasil pemuliaan untuk produksi secara komersial
2. Mempertahankan identitas genetik (mengenai kebenaran, kemurnian, dan kemantapan)
varietas unggul tersebut

11
3. Menjaga dan memelihara produktivitas varietas unggul
Produksi benih merupakan salah satu cara untuk mempertahankan atau mewariskan
kekuatan (viabilitas, vigor suatu benih) yang dimiliki tetua kepada anaknya. atau
menciptakan suatu kekuatan baru yang lebih baik dari yang sudah ada baik dari segi
kualitas maupun harga. Benih suatu tanaman atau varietas tanaman tersebut. Sehingga
setiap benih harus memiliki kualitas yang baik.
Untuk mendapatkan hasil yang baik dalam produksi benih, kita perlu memperhatikan
faktor-faktor yang mempengaruhi produksi benih tersebut. Karena selain nutrisi dan
budidaya tanaman yang tepat pada suatu tanaman, faktor-faktor ini pun perlu diketahui.
Dengan mengetahui faktor-faktor ini maka kita dapat mengetahui pula proses fisiologi
suatu tanaman.

D. Prinsip-prinsip produksi benih

A. Prinsip Genetik
Terkait dengan kegiatan-kegiatan pengendalian internal yang harus dilaksanakan
produsen benih agar kemunduran genetis tidak terjadi dan benih memiliki kemurnian yang
tinggi yaitu dengan memperhatikan faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran atau
penurunan mutu genetik yang meliputi :
1.Sejarah lapang
Sejarah lapang terkait dengan sejarah penanaman sebelumnya, terbebas dari tanaman
voluntir sehingga untuk menghindari hal tersebut perlu adanya jarak waktu penanaman
2.Sumbar benih
Benih sumber yang digunakan harus jelas yang berasal dari kelas yang lebih tinggi atau
sekelas dan bersertifikat.
3.Isolasi
Tujuan isolasi adalah untuk menghindari kemungkinan penyebaran oleh serbuk sari lain
dari tanaman lain atau tanaman voluntir ataupun tanaman liar dari species yang sama.
Isolasi dibagi menjadi 3 jenis yaitu :

12
Isolasi waktu
Isolasi Jarak
Dua varietas yang berbeda ditanam terpisah dengan jarak tertentu dengan teknik :
-Mengosongkan lahan diantara dua areal
-Menanami dengan tanaman lain
Isolasi fisik
Memisahkan pertanaman dengan menggunakan atribut fisik seperti bangunan-bangunan,
sangkar atupun rumah kassa
4.Roguing
Yang termasuk Rogues meliputi tanaman dari species lain, tanaman dari satu species,
kultivar lain dan tipe simpang.
Tanaman tipe simpang :
-Adanya gen-gen resesif dalam kondisi heterozygote atau karena mutasi
-Tanaman voluntir karena ketercampuran benih
-Tanaman memiliki keragaman yang luas
-Benih hasil persilangan yang -mengalami segregasi pada tanaman berikutnya
5.Kontaminasi mekanis
Untuk menghindari kontaminasi mekanis hal-hal yang perlu diperhatikan alat-alat dan
wadah yang digunakan harus bersih, misalkan alat pengolahan tanah, mesin pemotong,
mesin perontok, lori, karung dan lain-lain.
6.Penanaman diwilayah adaptasi tanaman
Tujuan penanaman diwilayah adaptasi adalah untuk menjaga kesetabilan genetik dari
benih sehingga tidak terjadi perubahan dan variasi dari identitas semula selain itu juga hasil
dan mutu benih lebih terjamin.
7.Mengikuti program sertifikasi benih
Tujuan utama sertifikasi benih adalah untuk menjamin atau memelihara kemurnian dan
mutu benih dari varietas unggul serta penyediannya secara kontinyu kepada pengguna
benih.

13
B. Prinsip Agronomik
Prinsip agronomis menunjukkan pada berbagai kegiatan dalam rangka pengelolaan
lapang produksi untuk menghasilkan produksi tanaman yang maksimal sesuai potensinya.
Kegiatan-kegiatan tersebut adalah :
1. Penentuan jenis tanaman/varietas dengan potensi hasil yang jelas
Langkah awal dalam kegiatan produksi benih adalah menetapkan jenis tanaman atau
varietas yang akan diproduksi. Deskripsi karakteristik dari jenis tanaman yang akan
diproduksi harus diketahui dengan baik, terutama potensi hasil yang telah ditetapkan oleh
pemuliaan tanaman, supaya tidak salah menentukan langkah-langkah dalam pengelolaan
lapangan produksi.
2. Penentuan agroklimat dan kondisi tanah yang sesuai.
Setiap jenis tanaman atau varietas memiliki wilayah sebaran geografis masing-masing
untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Begitu pula dengan kondisi tanah secara fisik,
biologis dan kimia akan menjadi kendala terhadap pertumbuhan dan perkembangan
tanaman, jika tidak sesuai dengan yang dibutuhkan tanaman. Unsur agroklimat yang
terpenting adalah radiasi matahari untuk proses fotosintesis, sedangkan kondisi tanah yang
terpenting adalah ketersediaan unsur hara untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
Indikator sederhana yang dapat digunakan untuk menentukan kesesuaian tanaman
terhadap agroklimat dan kondisi tanah adalah dengan mencari daerah sentra produksi dari
tanaman yang akan diproduksi.
Indikator objektif tentunya berdasarkan pada pengetahuan yang detail dan kuantitatif
terhadap karakteristik dan perilaku tanaman, sehingga dapat ditentukan kondisi agroklimat
dan tanah yang diperlukan.
3. Penentuan dan penyiapan lapang produksi
Berdasarkan kesesuaian agroklimat dan kondisi tanah terhadap kebutuhan tanaman yang
akan diproduksi, maka dapat ditentukan lapang produksi yang akan digunakan untuk
produksi benih. Hamparan lapang produksi juga perlu diperhatikan dalam rangka
meningkatkan efisiensi pengelolaan, lapang produksi yang terfragmentasi menjadi lahan
yang kecil-kecil akan menyebabkan efisiensi yang lebih rendah.

14
4. Penentuan tingkat populasi tanaman
Penentuan populasi tanaman yang tepat sangat menentukan terhadap pemanfaatan hara
dan radiasi matahari secara optimum. Populasi yang ditentukan menyebabkan pengaturan
jarak tanam yang kanopi antar tanaman relatif tidak tumpang tindih.
Populasi tanaman yang diaplikasikan dalam bentuk ukuran jarak tanam, dijadikan dasar
untuk penghitungan kebutuhan benih yang diperlukan. Informasi daya tumbuh benih sangat
diperlukan untuk memperhitungkan jumlah benih yang harus disiapkan selama pertanaman
termasuk penyulaman yang akan dilakukan
5. Penanaman mulai dari penentuan metode tanam (langsung atau tidak langsung),
persemaian, pembibitan, hingga pelaksanaan tanam.
Metode tanam dapat dibedakan antara tanaman yang direct planting dan indirect
planting. Tanaman indirect planting akan memerlukan kegiatan lain seperti persemaian,
pembibitan dan penyiapan luabgn tanam (kecuali padi).
6. Pemeliharaan Tanaman
Pemeliharaan tanaman mencakup diantaranya : kegiatan pemupukan, pengairan,
pengendalian hama penyakit dan gulma (proteksi tanaman), pemangkasan, pemberian
lanjaran, pembumbunan dan pemberian para. Pemupukan mencakup pemberian pupuk
organik dan pupuk anorganik dengan memperhatikan unsur hara yang terkandung
didalamnya. Pengendalian hama penyakit dan gulma dapat dilakukan berbagai cara seperti
sanitasi, biologis, fisik dan kimia.
7. Pemanenan dan pengangkutan
Kegiatan pemanenan yang sangat memengaruhi tingkat produksi adalah penentuan saat
panen dan cara panen.
Saat panen yang tepat adalah pada saat tanaman menghasilkan jumlah benih yang
maksimum. Cara panen dapat dilakukan secara manual dan juga maksimum. Cara panen
dapat dilakukan secara manual dan juga dengan mesin panen.

15
E. Sertifikasi benih
Sertifikasi benih merupakan suatu kegiatan yang termasuk dalam program produksi
benih unggul atau berkualitas tinggi dari varietas-varietas yang genesis unggul yang selalu
harus terpelihara dan dipertanggung jawabkan. Benih bersertifikat merupakan benih yang
proses produksinya diterapkan cara-cara dalam persyaratan tertentu sesuai dengan
ketentuan sertifikasi benih.
Tujuan Sertifikasi Benih
Tujuan sertifikasi benih adalah untuk menjaga kemurnian genetik dari varietas yang
dihasilkan oleh pemuli atau untuk menjaga kemurnian dan kebenaran dari varietas dan
mendapatkan benih bermutu dengan standar mutu yang berlaku baikdi lapangan maupun
laboratorium serta untuk tersedianya benih unggul bermutu secara berkesinambungan pada
produsen, penangkar, maupun pedagang benih yang dibutuhkan oleh konsumen.
Landasan hukum sertifikasi benih
1. UU. No. 12 tahun 1992, tentang Sistem Budidaya Tanaman.
2. Peraturan Pemerintah No. 44 / ‘95, tentang Perbenihan Tanaman.
3. Peraturan Menteri Pertanian No. 39/Permentan/OT.140/ 8/2006, tentang Produksi,
Sertifikasi dan Peredaran Benih Bina.
4. Peraturan Menteri Pertanian No. 38/Permentan/OT.140 /8/2006 tentang Pemasukan dan
Pengeluaran Benih.
5. Peraturan Menteri Pertanian No. 37/Permentan/ OT.140/8/2006, tentang Pengujian,
Penilaian dan Pelepasan Varietas.
6. Peraturan Menteri Pertanian No. 28/ Permentan/ SP.120/ 3/2007
7. Keputusan Menteri Pertanian No. 1100 tahun 1999 tentang Pembentukan Lembaga
Sertifikasi Sistem Mutu
8. Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura.
Sertifikasi dititik beratkan pada sifat-sifat yang diunggulkan tanaman, terutama sifat
agronomis yang memiliki nilai ekonomis antara lain:
 Umur tanaman
 Daya hasil

16
 Ketahan terhadap OPT
 Katahanan terhadap cekaman lingkungan
 Ketahanan terhadap penyimpanan
 Toleran benih terhadap kerusakan mekanis
 Mutu hasil dan nilai gisi
 Kandungan zat-zat tertentu yang bermanfaat

Lembaga yang bergerak dalam sertifikasi benih meliputi :


-BPSB (Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih)
-LSSMB (Lembaga Sertifikasi Sistem Mutu Benih

Tahapan sertifikasi benih meliputi;


1. Pemeriksaan lapangangan yang dilakukan terhadap pertanaman ,dokumen, peralatan dan
pengangkutan dan kemudian jika lulus akan dikelompokkan dengan penggabungan dua
atau lebih unit sertifikasi dan kelas benih yang sama dengan perbedaan tanggal panen dan
setelah diolah dan ditetapkan sebagai kelompok benih harus ditandai dengan identitas yang
jelas.
2. Pengujian laboratorium untuk mengetahui mutu fisik dan fisiologis kelompok calon
benih
3. Pelabelan oleh produsen dengan menggunakan nomor seri label dari penyelenggara
sertifikasi yang diawasi oleh penyelenggara sertifikasi.

Syarat-syarat Sertifikasi Benih

1. Permohonan/Pendaftaran Sertifikasi
Permohonan sertifikasi dapat dilakukan oleh perorangan atau badan hukum yang
bermaksud memproduksi benih bersertifikat, ditujukan kepada Balai Pengawasan dan
Sertifikasi Benih. Permohonan serifikasi hanya dapat dilakukan oleh penangkar benih yang
telah memenuhi persyaratan yang telah ditentukan.

17
2. Sumber Benih
Benih yang akan ditanam untuk menghasilkan benih bersertifikat harus berasal dari
kelas benih yang lebih tinggi tingkatannya, misalnya untuk menghasilkan benih sebar harus
ditanam benih pokok, oleh sebab itu benih yang akan ditanam harus bersertifikat/berlabel.
3. Areal Sertifikasi
Tanah/lahan yang akan dipergunakan untuk memproduksi benih bersertifikat harus
memenuhi persyarataan sesuai dengan komoditi yang akan diproduksi, karena tiap-tiap
komoditi memerlukan persyaratan sejarah lapang yang berbeda. Adapun syarat areal
tersebut diantaranya
1. Letak dan batas areal jelas`
2. Satu blok untuk satu varietas dan satu kelas benih
3. Sejarah lapangan (Bekas tanaman lain, bekas varietas yang sama dengan kelas benih
yang lebih tinggi dll.)
4. Luas areal diarahkan minimal 5 Ha (BR) mengelompok

4. Varietas
Varietas benih yang dapat disertifikasi, yaitu varietas benih yang telah ditetapkan
sebagai varietas unggulan dan telah dilepas oleh Menteri Pertanian serta dapat disertifikasi.
5. Pemeriksaan Lapangan
Guna menilai apakah hasil benih dari pertanaman tersebut memenuhi standar benih
bersertifikat, maka diadakan pemeriksaan lapangan oleh pengawas benih secara bertahap.
6. Peralatan Panen dan Processing Benih
Peralatan/perlengkapan yang digunakan untuk panen dan processing harus bersih
terutama dari jenis atau varietas yang tidak sama dengan yang akan diproses/dipanen.
7. Uji Laboratorium
Untuk mengetahui mutu benih yang dihasilkan setelah dinyatakan lulus lapangan maka
perlu diuji mutunya di laboratorium oleh analis benih, yang meliputi uji kadar
air,kemurnian,kotoran benih,campuran varietas lain, benih tanaman lain, dan daya tumbuh.
8. Label dan Segel
Dalam ketentuan yang sudah ditetapkan juga tercantum bahwa proses sertifikasi
dinyatakan selesai apabila benih telah dipasang label dan disegel.

18
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pembahasan dari makalah, maka dapat disimpulkan bbeberapa hal,
antara lain:
1. Benih tanaman adalah bakal biji yang dibuahi (struktural), yang digunakan untuk
pertanaman (fungsional), sebagai sarana untuk mencapai produksi maksimum (agronomis),
sebagai wahana teknologi maju yang mampu melestarikan identitas genetik dengan
mencapai derajat kemurnian genetik yang setinggi-tingginya (teknologi), dan sebagai
produk artifisial yang sangat spesifik dan efisien.
2. Berdasarkan kadar air yang mempengaruhi kemampuan penyimpanan benih dibagi
menjadi benih rekalsitran dan benih ortodoks.
3. Lama penyimpanan mempengaruhi viabilitas benih.
4.Semakin lama benih disimpan maka viabilitasnya akan semakin menurun
5.Ruang serta wadah penyimpanan mempengaruhi kualitas benih yang disimpan.
6.Penyimpanan benih dipengaruhi faktor Internal (faktor genetik, kadar air benih, vigor
benih) dan faktor eksternal (faktor lingkungan seperti suhu, kelembaban)

B. Saran
Dengan makalah yang telah saya buat ini semoga bermanfaat bagi kita semua. Mohon
maaf jika ada kesalahan dalam penulisan yang telah saya buat ini karena masih dalam
proses pembelajaran. Kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan demi
kesempurnaan makalah ini.

19
DAFTAR PUSTAKA

Blogs, Taufik Doank2 Agro. (15 November 2010). Faktor-faktor yang


mempengaruhi produksi benih. Diperoleh dari
http://taufikagt2.blogspot.co.id/2010/11/faktor-faktor-yang-mempengaruhi.html
Blogs, Taufik Doank2 Agro. (09 Februari 2011). Pelaksanaan produksi benih.
Diperoleh dari http://taufikagt2.blogspot.co.id/2011/02/pelaksanaan-produksi-benih.html
Benih, Tegnologi. (29 September 2015). Prinsip-prinsip dalam memproduksi benih.
Diperoleh dari https://teknologibenih.wordpress.com/2015/09/29/prinsip-prinsip-dalam-
memproduksi-benih/
Floem, Dan Xylem. (Maret 2016). Prinsip agronomis. Diperoleh dari
http://xylemfloem.blogspot.co.id/2016/03/prinsip-agronomis.html
Pangan, Dinas Pertanian Dan Ketahanan. (21 Juli 2014). Sertifikasi benih.
Diperoleh dari https://pertanian.malangkota.go.id/2014/07/21/sertifikasi-benih/

20

Anda mungkin juga menyukai