Anda di halaman 1dari 81

HUBUNGAN INFEKSI CHLAMYDIA TRACHOMATIS DENGAN INFERTILITAS PADA WANITA DI MAKASSAR

Correlation Between Chlamydia trachomatis Infection with Women Infertility in Makassar

ALEXANDER MARVIN

with Women Infertility in Makassar ALEXANDER MARVIN PROGRAM PASCA SARJANA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS

PROGRAM PASCA SARJANA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR

2017

Infertility in Makassar ALEXANDER MARVIN PROGRAM PASCA SARJANA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2017

ii

HUBUNGAN INFEKSI Chlamydia trachomatis DENGAN INFERTILITAS PADA WANITA DI MAKASSAR

Tesis

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar Magister

Program Studi Biomedik

Pendidikan Dokter Spesialis Terpadu

Disusun dan diajukan oleh

ALEXANDER MARVIN SUSATYA

Terpadu Disusun dan diajukan oleh ALEXANDER MARVIN SUSATYA kepada PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR

kepada

PROGRAM PASCA SARJANA

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2017

iii

iii

iv

PERNYATAAN KEASLIAN TESIS

Yang bertandatangan di bawah ini:

Nama

: Alexander Marvin Susatya

No. Pokok

: P1507213093

Program Studi

: Biomedik

Konsentrasi

: Program Pendidikan Dokter Spesialis Terpadu Fakultas

Kedokteran Universitas Hasanuddin

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa tesis yang saya tulis ini

benar-benar

merupakan

hasil

karya

saya

sendiri,

bukan

merupakan

pengambilalihan tulisan atau pemikiran orang lain. Apabila dikemudian

hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa sebagian atau keseluruhan tesis

ini hasil karya orang lain, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan

tersebut.

lain, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut. Makassar, 04 Juni 2017 Yang menyatakan Alexander Marvin

Makassar, 04 Juni 2017

Yang menyatakan

Alexander Marvin Susatya

v

PRAKATA

Dengan memanjatkan puji dan syukur ke hadapan Tuhan Yesus,

atas segala berkat, karunia serta perlindungan-Nya, sehingga penulis

dapat menyelesaikan tesis ini sebagaimana mestinya sebagai salah satu

syarat dalam menyelesaikan Program Pendidikan Dokter Spesialis 1 pada

Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas

Hasanuddin Makassar.

Penulis

bermaksud

memberikan

informasi

ilmiah

mengenai

hubungan infeksi Chlamydia trachomatis dengan infertilitas pada wanita

terutama di kota Makassar yang dapat menjadi bahan rujukan untuk

penelitian selanjutnya.

Penulis

menyampaikan

ucapan

terima

kasih

yang

sebesar-

besarnya kepada Dr. dr. A Mardiah Tahir, Sp.OG(K) sebagai pembimbing

I dan Dr.dr. Sharvianty Arifuddin, Sp.OG(K) sebagai pembimbing II atas

bantuan dan bimbingan yang telah diberikan mulai dari pengembangan

minat terhadap permasalahan penelitian ini, pelaksanaan sampai dengan

penulisan tesis ini. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada Dr. dr. St.

Maisuri T. Chalid, Sp.OG(K) sebagai pembimbing statistik yang telah

memberikan

arahan

dan

bimbingan

dalam

bidang

statistik

dan

pengolahan

data

dalam

penelitian

ini.

Terima

kasih

juga

penulis

sampaikan

kepada

dr.

Umar

Malinta,

Sp.OG(K)

dan

Prof.dr.

John

dr. Umar Malinta, Sp.OG(K) dan Prof.dr. John Rambulangi, Sp.OG(K) sebagai penyanggah yang memberikan

Rambulangi, Sp.OG(K) sebagai penyanggah yang memberikan kritik dan

saran dalam menyempurnakan penelitian ini.

vi

Penulis juga menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-

besarnya kepada :

1. Kepala Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran

Universitas

Hasanuddin

Prof.

Dr.

dr.

Nusratuddin

Abdullah,

Sp.OG(K), MARS (periode 2013 sampai dengan Maret 2017) dan

Prof. Dr. dr. Syahrul Rauf, Sp.OG(K) (periode Maret 2017 sampai

sekarang); Ketua Program Studi

Dr. dr. Deviana Soraya Riu,

Sp.OG; Sekretaris Program Studi, dr. Nugraha Utama Pelupessy,

Sp.OG(K), seluruh staf pengajar beserta pegawai di Departemen

Obstetri

dan

Ginekologi

Fakultas

Kedokteran

Universitas

Hasanuddin yang memberikan arahan, dukungan dan motivasi

kepada penulis selama pendidikan.

2. Penasihat akademik penulis dr. Johnsen Mailoa, Sp.OG(K) yang

telah mendidik dan memberikan arahan selama mengikuti proses

pendidikan.

3. Teman sejawat peserta PPDS-1 Obstetri dan Ginekologi atas

bantuan dan kerjasamanya selama proses pendidikan

4. Paramedis dan staf Departemen Obstetri dan Ginekologi di seluruh

rumah sakit jejaring atas kerjasamanya selama penulis mengikuti

pendidikan.

5. Kedua orang tua penulis Guwandi Prasada Susatya dan Imelda

Kedua orang tua penulis Guwandi Prasada Susatya dan Imelda Nancy Sanjata, telah memberikan restu untuk penulis

Nancy Sanjata, telah memberikan restu untuk penulis melanjutkan

pendidikan, disertai dengan doa, kasih sayang, dan dukungan yang

vii

luar biasa selama penulis menjalani pendidikan.

6.

Adik

kandung

penulis

Richard

Anderson

dan

Billy

Marciano,

saudara-saudara dan keluarga besar yang telah memberikan kasih

sayang yang tulus, dukungan, doa dan pengertiannya selama

7.

penulis mengikuti proses pendidikan.

Pasien

yang

telah

bersedia

mengikuti

penelitian

ini

sehingga

penelitian dapat berjalan sebagaimana mestinya.

8. Semua pihak yang namanya tidak tercantum namun telah banyak

membantu penulis dalam menyelesaikan tesis ini.

Semoga tesis memberikan manfaat dalam perkembangan ilmu

pengetahuan pada umumnya serta Ilmu Obstetri dan Ginekologi pada

khususnya di masa yang akan datang.

Ilmu Obstetri dan Ginekologi pada khususnya di masa yang akan datang. Makassar, 27 Juni 2017 Alexander

Makassar, 27 Juni 2017

Alexander Marvin Susatya

viii

ABSTRAK

ALEXANDER MARVIN.Hubungan infeksi Chlamydia trachomatis dengan

infertilitas pada wanita di Makassar (dibimbing oleh Mardiah Tahir,

Sharvianty Arifuddin,Maisuri Chalid,Umar Malinta, John Rambulangi)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah penderita infeksi Chlamydia trachomatis wanita usia reproduktif di Makassar serta hubungan infeksi Chlamydia trachomatis denga infertilitas pada wanita

Metode penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Penelitian dilaksanakan di Rumah Sakit Pendidikan Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin periode Desember 2016 Maret 2017. Total sampel yang diperoleh adalah 40 untuk kelompok wanita infertil dan 40 sampel untuk kelompok wanita fertil.

Dari hasil yang didapat menunjukan jumlah sampel positif (terdeteksi) terhadap DNA Chlamydia trachomatis pada pemeriksaan PCR swap vagina lebih tinggi pada kelompok infertil sebanyak 17,5% sedangkan pada kelompok fertil yaitu sebanyak 2,5% tetapi secara statistik infeksi Chlamydia trachomatis dengan infertilitas tidak memiliki hubungan yang bermakna (p=0,057), selain itu ditemukan juga bahwa tidak ada hubungan bermakna antara infeksi Chlamydia trachomatis dengan vaginal discharge (nilai p =0,611)

.

Kata Kunci: Infeksi Chlamydia trachomatis, Wanita fertil, wanita infertil

dengan vaginal discharge (nilai p =0,611) . Kata Kunci : Infeksi Chlamydia trachomatis , Wanita fertil,

ix

ABSTRACT

ALEXANDER MARVIN. Correlation between Chlamydia trachomatis infection with female infertility in Makassar (advised by Mardiah Tahir, Sharvianty Arifuddin, Maisuri Chalid,Umar Malinta, John Rambulangi)

The objective of the study is to determine the number of Chlamydia trachomatis infection in reproductive women in Makassar and correlation between Chlamydia trachomatis infection with women infertility.

The study used a cross sectional method. It was conducted at the Teaching Hospital, Department of Obstetrics and Gynecology, Faculty of Medicine, Hasanuddin University from December 2016 - March 2017. There were 40 samples for the infertile women group and 40 samples for the fertile women group.

Based on the research findings, the number of Chlamydia trachomatis DNA positive samples (detected) on the vaginal swap examination using PCR was higher in the infertile group (17.5%), meanwhile there was only 2.5% in the fertile group. However, the relationship between infertility and Chlamydia trachomatis infection was not statistically significant (p = 0.057). Moreover, there was no significant relationship between Chlamydia trachomatis infection and vaginal discharge (p value = 0.611).

Keywords:

Chlamydia

trachomatis

infection,

fertile

woman,

infertile

woman

(p value = 0.611). Keywords : Chlamydia trachomatis infection, fertile woman, infertile woman

x

DAFTAR ISI

 

halaman

PRAKATA

v

ABSTRAK

viii

ABSTRACT

ix

DAFTAR ISI

x

DAFTAR TABEL

xiii

DAFTAR GAMBAR

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

xv

DAFTAR SINGKATAN

xvi

I. PENDAHULUAN

1

A. Latar Belakang Masalah

1

B. Rumusan Masalah

3

C. Tujuan Penelitian

3

I. Tujuan Umum

3

II. Tujuan Khusus

3

D. Manfaat Penelitian

4

II. TINJAUAN PUSTAKA

5

A.

Infertilitas

5

I.

Definisi

5

II.

Etiologi

6

B.
B.

Chlamydia trachomatis

8

xi

I. Morfologi

II. Siklus hidup

III. Patogenesis

IV. Manifestasis klinis

V. Penatalaksanaan

VI. Pencegahan

C. Tes diagnostik

I. Kultur

II. Nucleic acid amplification

III. Deteksi antigen dan metode genetic probe

IV. Pemeriksaan Chlamydia rapid

D. Kerangka teori

E. Kerangka konsep

III. METODE PENELITIAN

A. Desain penelitian

B. Tempat dan Waktu Penelitian

C. Populasi Penelitian

D. Sampel dan cara pengambilan Sampel

E. Perkiraan besar sampel

F. Kriteria inklusi dan eksklusi

G. Ijin penelitian dan kelayakan etik

H. I.
H.
I.

Cara Kerja

Identifikasi variabel

10

12

14

16

17

18

19

21

22

22

22

24

25

26

26

26

26

26

27

27

28

29

33

xii

J. Hipotesis Penelitian

33

K. Definisi operasional dan kriteria obyektif

33

L. Alur penelitian

35

M. Metode analisis

36

N. Jadwal penelitian

36

O. Personalia penelitian

36

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

37

A. Hasil Penelitian

37

1. Karakteristik Sampel

38

2. Hubungan Vaginal Discharge Terhadap Infeksi Chlamydia trachomatis

39

3. Hubungan infeksi primer atau sekunder dengan infeksi Chlamydia trachomatis

41

4. Perbandingan jumlah penderita Chlamydia trachomatis antara wanita infertil dengan fertil serta hubungan antara infertilitas dengan infeksi Chlamydia trachomatis

42

B. Pembahasan

44

V. SIMPULAN DAN SARAN

51

A. Simpulan

51

B. Saran

51

DAFTAR PUSTAKA

53

LAMPIRAN

58

44 V. SIMPULAN DAN SARAN 51 A. Simpulan 51 B. Saran 51 DAFTAR PUSTAKA 53 LAMPIRAN

xiii

DAFTAR TABEL

Nomor

halaman

1

Penyebab infertilitas

 

6

2

Patotipe dan serotype Chlamydia trachomatis

 

11

3

Rekomendasi

metode

diagnostik

berdasarkan

tipe

23

spesimen untuk Chlamydia trachomatis.

 

4

Karakteristik Sampel Penelitian

 

38

5

Hubungan

vaginal

discharge

terhadap

infeksi

39

Chlamydia trachomatis

 

6

Hubungan

infeksi

primer

atau

sekunder

dengan

41

infeksi Chlamydia trachomatis

 

7

Hubungan infeksi Chlamydia trachomatis terhadap terjadinya infertilitas

42

Chlamydia trachomatis   7 Hubungan infeksi Chlamydia trachomatis terhadap terjadinya infertilitas 42

xiv

DAFTAR GAMBAR

Nomor

halaman

1

Penyebab infertilitas

7

2

Kasus infeksi Chlamydia trachomatis dan PID .

9

3

Chlamydia trachomatis di dalam sel host: Lingkaran merah adalah elementary body (EB) dan lingkaran biru adalah reticulate body (RB).

12

4

Skema siklus perkembangan Chlamydia trachomatis

13

5

Mucopurulen servicitis

17

6

Kerangka teori

24

7

Kerangka konsep

25

8

Prosedur swab vagina

30

9

PCR amplifier DNA

32

10

Alur penelitian

35

11

Gambaran vaginal discharge pada pasien dengan infeksi Chlamydia trachomatis

40

12

Perbandingan jumlah penderita infeksi Chlamydia trachomatis pada wanita fertil dan infertil

43

40 12 Perbandingan jumlah penderita infeksi Chlamydia trachomatis pada wanita fertil dan infertil 43

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor

halaman

1

Naskah Penjelasan bagi Responden

58

2

Surat Persetujuan Mengikuti Penelitian

60

3

Profil Peserta Penelitian

61

4

Data Primer

62

2 Surat Persetujuan Mengikuti Penelitian 60 3 Profil Peserta Penelitian 61 4 Data Primer 62

xvi

DAFTAR ARTI LAMBANG / SINGKATAN

Lambang / singkatan

Arti dan keterangan

UK

United Kingdom

CDC

Center for Disease Control and Prevention

PID

pelvic inflammatory disease

RNA

asam ribonukleat

PCR

Polymerase Chain Reaction

DNA

Deoksiribonukleat

EB

elementary body

RB

reticulate bod

MOMP

major outer membrane protein

HSPG

heparin sulphate-like proteoglycans

FGF2

Fibroblast Growth Factor-2

TARP

actin-recruiting phosphor protein

MTOC

microtubule organization centre

NAATS

Nucleic Acid Amplification Test

AD

antigen detection

NAH

nucleic acid hybridization

NAA

nucleic acid amplification

TMA

transcription-mediated amplification

SDA

strand displacement amplification

WUS TFR PPV
WUS
TFR
PPV

wanita usia subur

total fertility rate

positive predictive value

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Infertilitas merupakan suatu masalah kesehatan umum yang terjadi

pada 1 dari 10 pasangan. Pada suatu populasi umum, Sekitar

80%

wanita

akan

mencapai

konsepsi

tanpa

membutuhkan

nasehat

dan

pengobatan dalam 12 bulan pertama setelah menikah. Dan lainnya (20%)

membutuhkan bantuan dari klinik fertilitas, setengahnya (10%) terdiri dari

pasangan dengan infertilitas primer atau tidak ada riwayat kehamilan

sebelumnya, sementara setengah lainnya mengalami infertilitas sekunder

atau

kesulitan

dalam

mencapai

konsepsi

setelah

kehamilan

awal.

Walaupun terdapat peningkatan pengetahuan

masyarakat tetapi hanya setengah dari seluruh

mengenai

infertilitas di

pasangan infertil yang

pergi mencari terapi. Penelitian terhadap prevalensi infeksi Chlamydia

trachomatis

pada

wanita

Timur

Tengah,

dari

919

wanita

dijumpai

sebanyak 23 wanita (2,6%) terinfeksi oleh Chlamydia trachomatis. Malik et

al. (2009) menjumpai 4,8% (18/432 wanita infertil asimptomatik) telah

terdeteksi terinfeksi Chlamydia trachomatis. Berdasarkan hasil penelitian

yang pernah dilakukan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM)

pernah dilakukan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta didapatkan prevalensi infeksi Chlamydia trachomatis

Jakarta didapatkan prevalensi infeksi Chlamydia trachomatis di jaringan

2

cervix dan jaringan tuba pada 25 pasien infertil adalah 16%(4/25). (Alfarraj

et al., 2015; Malik et al., 2009)

Penyebab infertilitas dapat berasal dari kondisi kesehatan wanita.

Faktor kesehatan wanita yang terganggu antara lain

disfungsi ovulasi,

endometriosis, nutrisi yang jelek, gangguan hormon, kista ovarium infeksi

pelvis, tumor, dan lain-lain. Gangguan transport sperma dari cervix ke

tuba fallopii yang merupakan 40 50% penyebab infertilitas.

Pada wanita infeksi Chlamydia trachomatis dikenal dengan “silent

disease

karena

hampir

sepertiga

wanita

yang

terinfeksi

tidak

menimbulkan gejala atau asimptomatik. Bila ada gejala, biasanya muncul

1-3 minggu setelah terjadi infeksi. Pada wanita yang terinfeksi Chlamydia

trachomatis

dan

tidak

diobati

dapat

menyebabkan

penyakit

radang

panggul,

diharapkan

pada

wanita

muda

dilakukan

skrining

untuk

menghindari gejala yang serius pada wanita terinfeksi yang tidak diobati,

misalnya nyeri pelvis yang kronik, penyakit radang panggul, kehamilan

ektopik, dan infertilitas.

Penelitian seperti ini masih jarang dilakukan di Indonesia sehingga

jumlah penderita

infeksi Chlamydia trachomatis pada wanita

infertil

masih belum dapat dilaporkan. Dimana untuk wilayah Sulawesi Selatan,

Makassar pada khususnya sendiri belum ada penelitian yang dilakukan

untuk mengetahui jumlah penderita serta hubungan infeksi Chlamydia

untuk mengetahui jumlah penderita serta hubungan infeksi Chlamydia trachomatis yang dapat menimbulkan infertilitas

trachomatis yang dapat menimbulkan infertilitas

3

B. Rumusan Masalah

Berapa

banyak

wanita

yang

ditemukan

terinfeksi

Chlamydia

trachomatis pada usia reproduktif

dan hubungannya dengan infertilitas

pada wanita di Makassar?

C. Tujuan Penelitian

I. Tujuan Umum

Mengetahui

perbandingan

jumlah

penderita

infeksi

Chlamydia

trachomatis pada wanita fertil dan infertil di Makassar dan hubungannya

dengan infertilitas.

II. Tujuan Khusus

1. Menentukan jumlah infeksi Chlamydia trachomatis pada wanita infertil

di Makassar

2. Menentukan jumlah infeksi Chlamydia trachomatis pada wanita fertil di

Makassar

3. Membandingkan jumlah penderita infeksi Chlamydia trachomatis pada

wanita fertil dan infertil di Makassar

4. Menentukan

hubungan

infeksi

Chlamydia

trachomatis

terhadap

terjadinya infertilitas pada wanita di Makassar

di Makassar 4. Menentukan hubungan infeksi Chlamydia trachomatis terhadap terjadinya infertilitas pada wanita di Makassar

4

D. Manfaat Penelitian

1. Mengetahui angka kejadian penderita infeksi Chlamydia trachomatis

pada wanita infertil dan fertil di Makassar.

2. Hasil

penelitian

ini

diharapkan

dapat

menambah

wawasan

dan

pemahaman yang lebih baik mengenai infeksi Chlamydia trachomatis

terutama

dalam

hubungannya

dengan

terjadinya

infertilitas

pada

wanita

3. Diketahuinya peranan infeksi Chlamydia trachomatis pada infertilitas

wanita sehingga dapat dilakukan penanganan

mengatasi infertilitas pada wanita.

yang tepat

untuk

4. Hasil penelitian ini diharapkan agar dapat dijadikan dasar pemeriksaan

Chlamydia trachomatis sebagai skrinning awal pada wanita-wanita

yang mengalami infertilitas di Makassar

dasar pemeriksaan Chlamydia trachomatis sebagai skrinning awal pada wanita-wanita yang mengalami infertilitas di Makassar

I. Definisi

Infertilitas

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

secara

A.

Infertilitas

umum didefenisikan

sebagai

tidak

terjadinya

kehamilan pada wanita usia reproduktif (15-49 tahun) dalam setahun

hubungan seksual tanpa proteksi. Sekitar 90% pasangan seharusnya

hamil tidak lebih dari 12 bulan selama hubungan seksual tanpa proteksi.

(Afifah et al., 2013; Aubuchon et al., 2012; Fritz and Speroff, 2011)

Kehamilan

yang

terjadi

setelah

lebih

dari

12

bulan

disebut

subfertilitas. Namun beberapa kadang mendefinisikan istilah subfertilitas

untuk

menggambarkan

wanita

reproduktif

yang

tidak

steril

namun

mengalami penurunan kemampuan untuk hamil. Sedangkan kehamilan

yang kemungkinan terjadi dalam satu siklus haid disebut fekundabilitas

yang diperkirakan 20% dialamin oleh pasangan fertile. (Aubuchon et al.,

2012; Fritz and Speroff, 2011)

Infertilitas

dapat

diklasifikasikan

menjadi

infertilitas

primer

dan

infertilitas sekunder. Infertilitas primer diartikan belum pernah hamil pada

wanita yang telah berkeluarga meskipun hubungan seksual dilakukan

yang telah berkeluarga meskipun hubungan seksual dilakukan secara teratur tanpa perlindungan kontrasepsi dan

secara teratur tanpa perlindungan kontrasepsi dan infertilitas sekunder

diartikan tidak terdapat kehamilan setelah berusaha dalam waktu 1 tahun

6

atau lebih pada wanita yang telah berkeluarga dengan hubungan seksual

secara teratur tanpa perlindungan kontrasepsi, tetapi sebelumnya pernah

hamil, namun kehamilan tidak harus dengan kelahiran hidup. (Aubuchon

et al., 2012)

II. Etiologi

Infertilitas diperkirakan dialami 1 dari 7 pasangan heteroseksual di

United Kingdom (UK).

Penyebab utama infertilitas di UK dilaporkan 25%

ovulatory disorders, 20% tubal damage, 30% faktor infertilitas pria, 10%

uterine

atau

peritoneal

disorder

dan

15%

kasus

tidak

diketahui

penyebabnya.

Sedangkan

penyebab

infertilitas

di

Amerika

Serikat

kebanyakan disebabkan oleh anovulasi, penyakit tuba, faktor cervix, dan

endometriosis. (Mohan and Siladitya, 2012; NICE Clinical Guideline, 2013)

Tabel 1. Penyebab infertilitas (Aubuchon et al., 2012)

Prevalensi relatif etiologi infertilitas

Persentase

Faktor pria Faktor kedua pria dan wanita Faktor wanita Infertilitas tidak dapat dijelaskan Ovulatory dysfunction Faktor tubal atau peritoneal Penyebab lainnya

20-30%

10-40%

40-55%

10-20%

20-40%

20-40%

10-15%

atau peritoneal Penyebab lainnya 20-30% 10-40% 40-55% 10-20% 2 0 - 4 0 % 20-40% 10-15%

7

Faktor fubal dan peritoneal diperkirakan 30% sampai 40% dari

kasus infertil pada wanita, faktor cervical tidak lebih dari 5%, faktor

patologi uterin 15% dan sisanya tidak diketahui penyebabnya. (Aubuchon

et al., 2012)

Peningkatan

permasalahan

infertilitas

yang

signifikan

juga

diakibatkan oleh peran infeksi Chlamydia trachomatis yang ditularkan

melalui

transmisi

seksual.

Infertilitas

yang

berhubungan

Chlamydia

trachomatis dilaporkan 55% kasus di India yang diperiksa dari 96 wanita

infertil selama periode kunjungan 1 tahun.(Malik et al., 2009)

Selain itu, menurut penelitian lain bahwa penyebab infertilitas yang

diteliti dari 110 wanita yang infertil ditemukan 27,4% faktor tuba, faktor

gangguan ovulasi 20%, faktor usia 2,7% dan selebihnya faktor yang tidak

dapat dijelaskan.(Roupa et al., 2009)

Gambar 1 Penyebab infertilitas. (Fritz and Speroff, 2011)
Gambar 1 Penyebab infertilitas. (Fritz and Speroff, 2011)

8

Penyebab

infertilitas

mengalami

pergeseran jumlah kasus dari

faktor ovarium dan uterus mengarah ke faktor tuba. Faktor tuba dan

peritoneum

merupakan

penyabab

yang

tersering

pada

beberapa

penelitian

kasus

infertil

yaitu

berkisar

30-40%

kasus

(Gambar

1).

(Aubuchon et al., 2012; Fritz and Speroff, 2011; NICE Clinical Guideline,

2013; Roupa et al., 2009)

Kerusakan atau osbtruksi tuba fallopii pada infertilitas berhubungan

dengan penyakit peradangan panggul dan infeksi Chlamydia trachomatis

yang sebagian besar bersifat silent disease” karena hampir sepertiga

wanita yang terinfeksi tidak menimbulkan gejala atau asimptomatik.(Boivin

et al., 2009)

B. Chlamydia trachomatis

Chlamydia trachomatis merupakan bakteri tersering yang ditularkan

dari

hubungan

seksual

terutama

di

menyebabkan

penyakit

pada

genitalia,

negara

rektal

dan

berkembang

yang

okular.

Chlamydia

trachomatis awalnya dianggap sebagai virus karena ukurannya yang

sangat kecil dan siklus hidupnya yang bersifat patogen intraseluler (Fan

and Zhong, 2015; Harryman et al., 2014)

Chlamydia

trachomatis

pertama

sekali

diisolasi

dari

pasien

trachoma dengan menggunakan embrio ayam yang pernah dilaporkan

dengan menggunakan embrio ayam yang pernah dilaporkan secara serius pada tahun 1956 dan 1057. Strain Chlamydia

secara serius pada tahun 1956 dan 1057. Strain Chlamydia trachomatis

diketahui sebagai penyebab infeksi menular seksual utama secara global

9

dan bakteri penyebab infeksi kebutaan di dunia. Tingkat insidensi yang

pernah dilaporkan pada kasus infeksi menular seksual di Amerika Serikat

berkisar 4-5 kali lebih tinggi pada gonorrhea dan 100 kali lebih tinggi pada

sipilis.(Fan and Zhong, 2015; Mishori et al., 2012)

pada sipilis.(Fan and Zhong, 2015; Mishori et al. , 2012) Gambar 2. Kasus infeksi Chlamydia trachomatis

Gambar 2. Kasus infeksi Chlamydia trachomatis dan PID5 (Brunham and Rappuoli, 2013).

Chlamydia trachomatis merupakan bakteri Gram negative yang

menginfeksi epitelium columnar cervix, uretra dan rectum. Menurut Center

for Disease Control and Prevention (CDC) pada tahun 2009, tingkat

infeksi Chlamydia trachomatis pada infeksi menular seksual berkisar 426

trachomatis pada infeksi menular seksual berkisar 426 kasus per 100.000 penduduk atau berkisar 24% peningkatan

kasus per 100.000 penduduk atau berkisar 24% peningkatan kasus dari

tahun 2006 di Amerika Serikat. Kasus infeksi Chlamydia trachomatis juga

10

dilaporkan tinggi di Columbia. CDC memperkirakan 2,8 juta kasus infeksi

Chlamydia trachomatis pertahunnya di Amerika Serikat.(Mishori et al.,

2012)

Tingginya kasus infeksi Chlamydia trachomatis dinegara Columbia,

mengharuskan

negera

tersebut

menjalankan

program

kesehatan

masyarakat untuk mengkontrol infeksi Chlamydia trachomatis. Usaha ini

terbukti telah memperbaiki kesehatan reproduksi wanita dan menunjukkan

penuruan kasus pelvic inflammatory disease (PID) sebanyak lebih dari

80% kasus (Gambar 2). (Brunham and Rappuoli, 2013)

I.

Morfologi

Chlamydia trachomatis memiliki ukuran genom sekitar 500-1000

kilobase dan genom Chlamydia trachomatis serovar D merupakan genom

pertama yang secara lengkap diketahui. Genom serovar D mengandung

1.046.519-bp dan 7.493-bp plasmid.(Fan and Zhong, 2015)

Serovar Chlamydia trachomatis sudah diidentifikasi ada sebanyak

15 serovar atau serotipe, yaitu: A, B, Ba, C, D, E, F, G, H, I, J, K, L1, L2

dan L3 (Tabel 2).(Fan and Zhong, 2015)

Chlamydia trachomatis memiliki asam ribonukleat (RNA) dan asam

deoksiribonukleat

(DNA).

Chlamydia

trachomatis

merupakan

mikroorganisme intraselular yang sangat sensitive terhadap suhu dan

intraselular yang sangat sensitive terhadap suhu dan harus disimpan dalam pendingin pada suhu 4 0 C

harus disimpan dalam pendingin pada suhu 4 0 C segera setelah sampel

diambil. Bakteri ini mempunyai dinding sel yang tidak dapat mensintesis

11

ATP, sehingga mengharuskan bakteri ini untuk hidup secara intraselular

sebagai parasite obligat intraselular.(Fan and Zhong, 2015)

Tabel 2. Patotipe

dan

Zhong, 2015)

serotype

Chlamydia

trachomatis

(Fan

and

Patotipe

Serovar

Transmisi

Penyakit Akut

Komplikasi

Okular

A-C

Kontak,

Konjungtiva

Trachomatous

 

Fomite

(Trachoma)

trichiasis, buta

Genital

D-K

Seksual

Pria: uretritis,

 

epididymitis,

proctitis

Wanita: uretritis,

vaginitis, cervicitis,

endometritis,

salpingitis, proctitis

 

Perinatal

Konjungtivitis bayi,

 

pneumonia

 

L1, L2,

Seksual

Ulkus genitalia,

L3

proctitis,

 

limpadenopati

DNA dan RNA terdapat pada elementary body (EB) dan reticulate

body (RB). RB berisi sekitar empat kali RNA dari pada DNA, sedangkan

EB sebagai besar DNA dikonsentrasikan pada nucleoid sentral yang

EB sebagai besar DNA dikonsentrasikan pada nucleoid sentral yang padat elektron (Gambar 3). (Fan and Zhong,

padat elektron (Gambar 3). (Fan and Zhong, 2015)

12

12 Gambar 3. Chlamydia trachomatis di dalam sel host: Lingkaran merah adalah elementary body (EB) dan

Gambar 3. Chlamydia trachomatis di dalam sel host: Lingkaran merah adalah elementary body (EB) dan lingkaran biru adalah reticulate body (RB). (Fan and Zhong, 2015)

II. Siklus Hidup

Chlamydia trachomatis memiliki siklus perkembangan bifasik yang

unik sama seperti Chlamydia lainnya, yang mana mengandung 2 bentuk

sel yang bertukar-tukar yaitu EB dan RB. EB merupakan sel yang tidak

membelah, infeksius dan berproliferasi, sedangkan RB merupakan sel

yang tidak infeksius dan memiliki ukuran diameter yang besar sekitar 300-

400nm (Gambar 4). (Fan and Zhong, 2015)

Elementary body merupakan bentuk disperse dan analog dengan

spora, stabil terhadap lingkungan. EB memiliki diameter ±0,3µm dengan

nuclear yang pada electron dan menginduksi endositosisnya sendiri bila

terpapar
terpapar

dengan

sel

target

(Gambar

4).

EB

memiliki

afinitas

tinggi

terhadap sel host dan dengan cepat dapat menginfiltrasi sel host. Adesi

13

potensial yang lain terdiri dari major outer membrane protein (MOMP),

protein membrane luar yang utama, glycosylated MOMP dan protein

permukaan. Sesudah EB memasuki sel host ikatan disulfide dari protein

membrane EB. Saat di dalam endosome, glikogen diproduksi dan EB

berubah menjadi RB yang berukuran lebih besar yaitu sekitar 0,5-1 µm

dan tanpa nukleoid yang padat electron. RB bertambah besar ukurannya

dan membagi berulang-ulang dengan cara pembelahan biner setiap 2 jam

hingga 3 jam setiap generasi. RB mempunyai masa inkubasi 7-21 hari

pada host, tidak mempunyai dinding sel dan dideteksi sebagai suatu

inklusi sel. (Brooks et al., 2010; Fan and Zhong, 2015)

inklusi sel. (Brooks et al. , 2010; Fan and Zhong, 2015) Gambar 4. Skema siklus perkembangan
inklusi sel. (Brooks et al. , 2010; Fan and Zhong, 2015) Gambar 4. Skema siklus perkembangan

Gambar 4. Skema siklus perkembangan Chlamydia trachomatis.(Fan and Zhong, 2015)

14

Vakuola yang tersisi akan terisi dengan EB yang didapat dari RB

untuk membentuk sebuah inklusi sitoplasma. RB berubah kembali menjadi

bentuk

elementary

dan

dilepas

dengan

eksositosis.

EB

yang

baru

terbentuk dibebaskan dari sel host untuk menginfeksi sel baru. Siklus

perkembangan ini berlangsung selama 24-48 jam. (Brooks et al., 2010;

Fan and Zhong, 2015)

III.

Patogenesis

Penyakit

yang

disebabkan

oleh

Chlamydia

trachomatis

yang

merupakan

pathogen

intraseluler

yang

dapat

menimbulkan

inflamasi

kronis

dan

infeksi

persiten.

Mekanisme

patologi

yang

mendasari

perkembangan penyakit ini belum diketahui dengan jelas. (Harryman et

al., 2014; Zenilman et al., 2013)

Chlamydia

trachomatis

menginfeksi

epitelium

mukosa

traktus

genitalia

pria

dan

wanita,

rectum,

konjungtiva

serta

tidak

menutup

kemungkinan dapat

menginfeksi faring karena oral seks juga dapat

menularkan mikroorganisme ini. Ada bukti yang menunjukkan bahwa

banyak individu yang terinfeksi Chlamydia trachomatis menujukkan hasil

tes

pemeriskaan

laboratorium

yang

negatif,

rata-rata

durasi

wanita

terinfeksi asimtomatik sekitar 16-17 bulan. (Harryman et al., 2014)

Struktur dinding sel yang unik merupakan faktor virulensi dari

dinding sel yang unik merupakan faktor virulensi dari Chlamydia trachomatis . Kolonisasi Chlamydia trachomatis

Chlamydia trachomatis. Kolonisasi Chlamydia trachomatis melekat pada

reseptor asam sialik pada mata, tenggorokan atau genitalia. Bakteri ini

menetap pada bagi tubuh yang tidak dapat dicapai oleh fagosit, sel T dan

15

sel β. Chlamydia trachomatis juga mempu menginhibisi fusi fagolisosom

pada fagosit.

Dilaporkan lebih dari

20 tahun

yang lalu bahwa EBs

Chlamydia trachomatis melekat pada sel epitel melalui heparin sulphate-

like proteoglycans (HSPG). Namun baru-baru ini Fibroblast Growth Factor-

2 (FGF2) dapat berikatan dengan Chlamydia trachomatis dan masuk

melalui serovar L2 dan E. Ikatan FGF2 secara langsung dengan EBs dan

berfungsi sebagai molekul perantara untuk memfasilitasi interaksi EBs

dengan reseptor FGF pada membrane sel. Mekanisme yang terjadi pada

infeksi Chlamydia trachomatis merupakan reaksi yang diperantarai oleh

sistem imunitas. (Fan and Zhong, 2015)

Infeksi

Chlamydia

trachomatis

baru

akan

dideteksi

jika

telah

mensekresi actin-recruiting phosphor protein (TARP), yaitu berupa actin-

nucleatng

protein

yang

akan

masuk

ke

dalam sitoplasma

sel

host.

Kemudian akan terbentuk antibody yang selanjutnya menjadi actin-binding

TARP yang mampu memblok Chlamydia trachomatis untuk masuk ke sel

host. Kondisi sekresi TARP menunjukkan patogenik yang kritikal. TARP

memediasi masuknya Chlamydia trachomatis. Setelah 2 jam masuknya

EB Chlamydia trachomatis ke dalam sel host, EB bergerak ke dalam

microtubule organization centre (MTOC) yang berada di dalam apparatus

Golgi. Pergerakkan ini mengakibatkan sintesis protein Chlamydial baru

akibat transkripsi sel bakteri. (Fan and Zhong, 2015)

baru akibat transkripsi sel bakteri. (Fan and Zhong, 2015) penyebab Peningkatan tersering kasus infeksi Chlamydia

penyebab

Peningkatan

tersering

kasus

infeksi

Chlamydia

trachomatis

sebagai

pada

infeksi

menular

seksual

membutuhkan

16

pengembang vaksin Chlamydia trachomatis yang efektif. Ada bukti bahwa

terdapat peran Sel B dan antibodi sebagai pertahanan tubuh dalam infeksi

Chlamydia trachomatis. Menurut penelitian yang dilakukan secara in vivo

pada hewan coba, bahwa transfer epitopes dari antibodi monoclonal dapat

melawan

immunodominant epitopes, sepertei

major outer

protein

(MOMP)

yang

dapat

melindungan

hewan

coba

membrane

dari

infeksi

Chlamydia trachomatis pada saluran genitalia.(Li and Mcsorley, 2015)

IV. Manifestasis Klinis

Lebih dari 70% wanita dan 50% pria dengan infeksi Chlamydia

trachomatis adalah asimptomatis. Gejala yang dapat timbul tidak spesifik.

Wanita dapat mengeluhkan vaginal discharge yang abnormal atau disuria

atau mucopurulent cervicitis (Gambar 5). Gejala dapat timbul biasanya

dalam 1-3 minggu setelah terpapar. (Harryman et al., 2014)

Infeksi Chlamydia trachomatis gejala dapat berkembang menjadi

perdarahan rectum dan discharge.

Gejala

infeksi Chlamydia faringel

jarang terjadi. Kira-kira 1-3% akan berkembang menjadi sexually acquired

reactive arthritis (SARA). (Harryman et al., 2014; Zenilman et al., 2013)

Gejala yang dapat mengarahkan kecurigaan infeksi Chlamydia

trachomatis adalah:(Fritz and Speroff, 2011; Zenilman et al., 2013)

1. riwayat penyakit menular seksual

2. 3. 4.
2.
3.
4.

Dysuria

Keluarnya cairan mukopurulent dari uretra

Vaginal discharge

17

5. Nyeri perut bagian bawah

6. Adanya tegang pada perut bagian bawah

7. Keluarnya cairan yang mukopurulen dari rectum

bawah 7. Keluarnya cairan yang mukopurulen dari rectum Gambar 5. Mucopurulent cervicitis (Harryman et al. ,

Gambar 5. Mucopurulent cervicitis (Harryman et al., 2014)

V.

Penatalaksanaan

Pengobatan lini pertama infeksi Chlamydia trachomatis

adalah

azithromycin 1 g dosis tunggal atau doxycycline 100 mg per 12 jam

selama 7 hari. Pasien yang telah menjalani pengobatan dianjurkan untuk

menghindari kontak seksual meskipun menggunakan kondom, selama 7

hari

setelah

pengobatan

dimulai

dan

begitu

juga

dengan

pasangan

seksualnya, termasuk menghindari oral seksual. Alternatif pengobatan

yang lain dapat diberikan eritromisin 500 mg oral empat kali sehari dalam

diberikan eritromisin 500 mg oral empat kali sehari dalam 7 hari, atau levofloxacin 500 mg oral

7 hari, atau levofloxacin 500 mg oral setiap 24 jam selama 7 hari atau

18

ofloxacin 300 mg oral setiap 12 jam selama 7 hari. (Center Disease

Control and Prevention, 2015; Harryman et al., 2014)

Pengobatan infeksi Chlamydia trachomatis mencegah komplikasi

kesehatan reproduksi dan menularkan melalui transmisi seksual dan

mengobati pasangan seksual yang dapat mencegah infeksi kembali dan

infeksi

ke

pasangan

seksual

yang

lain.

Pengobatan

Chlamydia

trachomatis harus disegarakan pada semua pasien dengan hasil tes

laboratorium positif.(Center Disease Control and Prevention, 2015)

Doxycycline kontraindikasi pada kehamilan trimester ke-2 dan ke-3.

Menurut data bahwa ofloxacin dan levofloxacin menunjukkan risiko yang

rendah pada fetus selama kehamilan, namun toksik selama menyusui,

dan menunjukkan kerusakan kartilago neonatus pada penelitian studi

hewan coba. Penggunaan azithromycin lebih aman dan efektif pada ibu

hamil. Rekomendasi regimen yang dianjurkan azithromycin 1 g oral dosis

tunggal. Alternative regimen pada ibu hamil dapat diberikan amoxicilling

500 mg oral per 8 jam selama 7 hari atau eritromisin 500 mg oral per 6

jam selama 7 hari.(Center Disease Control and Prevention, 2015)

VI.

Pencegahan

Hal yang dapat dianjurkan kepada pasien sebagi pencegahan,

yaitu:(Marrazzo et al., 2013)

pasien sebagi pencegahan, yaitu:(Marrazzo et al. , 2013) 1. Gunakan kondom sebagai proteksi selama melakukan

1. Gunakan

kondom

sebagai

proteksi

selama

melakukan

aktivitas

seksual.

2. Semua kontak seksual untuk dilakukan pemeriksaan dan pengobatan.

19

3. Melakukan pemeriksaan penyakit menular seksual lainnya.

C. Tes Diagnostik

Spesimen untuk pemeriksaan langsung dari biakan dikumpulkan

dari tempat yang terinfeksi dengan swab atau kerokan dari permukaan sel

epitel yang terkena. Biakan dari discharge purulent tidak adekuat, dan

material

purulent

harus

disingkirkan

sebelum

mengambil

spesimen.

Beberapa

lokasi

pengambilan

swab,

terdiri

dari:(Chernesky,

2005;

Hospital and Clinics of Minnesota, 2013)

1. Untuk urethritis, swab spesimen diambil dari beberapa sentimeter ke

dalam uretra

2. Untuk cervicitis, spesimen diambil dari permukaan sel kolumner dari

kanal endoservikal

3. Kerokan endometrium merupakan sampel yang baik

Namun pengambilan swab vagina dapat mengurangi hambatan

pemeriksaan

karena

menawarkan

kenyamanan,

meningkatkan

kenyamanan dan menghilangkan faktor takut. Beberapa keuntungan lain

dari spesimen swab vagina antar lain:(Roche Diagnostics Corporation,

2014)

1. Spesimen swab vagina merupakan jenis pengambilan spesimen yang

lebih disukai pasien dan memiliki sensitivitas yang sama dengan

disukai pasien dan memiliki sensitivitas yang sama dengan spesimen swab cervikal, serta tidak perbedaan spesifisitas.

spesimen swab cervikal, serta tidak perbedaan spesifisitas. Sampel

servikal di ambil ketika pemeriksan panggul selesai dilakukan, namun

20

 

spesimen

swab

vagina

dapat

dilakukan

pada

saat

pemeriksaan

panggul sedang dilakukan

 

2.

Spesimen

swab

vagina

dianjurkan

apabila

dilakuan

pemeriksaan

menggunakan Nucleic Acid Amplification Test (NAATS)

Swab,

kerokan

dan

spesimen

jaringan

sebaiknya

ditempatkan

dalam medium transport. Medium yang dipakai mempunyai sukrosa 0,2

mol/L dalam buffer fosfat 0,02 M, Ph 7,0-7,2 dengan 5% serum janin anak

sapi. Media transport sebaiknya mengandung antibiotic untuk menekan

bakteri selain spesies Chlamydia trachomatis. Gentamycin 10 µg/mL,

Vancomycin 100µg/mL dan amphotericin B 4µg/mL dapat dipakai dalam

kombinasi karena antibiotik ini tidak menghambat Chlamydia trachomatis.

Spesimen yang tidak dapat diproses dengan segera, dapat dimasukkan

ke dalam lemari pendingan selama 24 jam, sebaiknya dibekukan pada

suhu -60 0 C.(Chernesky, 2005; Obstetrics LOP Committee, 2011)

Sampel yang adekuat adalah mengandung sedikitnya satu sel

kolumnar atau sel metaplastik setiap sediaan, sampel tidak adekuat bila

salah satu atau lebih dari yang tersebut berikut: 1) Tidak ada komponen

sel; 2) Tidak ada sel kolumnar atau metaplastik; 3) Hanya ada sel epitel

skuamosa

atau

polimorfonuklear.

Rekomendasi

sampel

berdasarkan

metode

yang

digunakan

untuk

pemeriksaan

Chlamydia

trachomatis

metode
metode

disajikan pada Tabel 3. Pemeriksaan terdiri dari mikroskopis, kultur,

diagnostik

antigen

detection

(AD),

nucleic

acid

hybridization

21

(NAH) dan nucleic acid amplification (NAA). (Chernesky, 2005; Hospital

and Clinics of Minnesota, 2013; Obstetrics LOP Committee, 2011)

I.

Kultur

Kultur

adalah

prosedur

yang

hanya

dianjurkan

untuk

mengkonfirmasi adanya organisme. Antigen, nucleic acid atau antibody

dapat menunjukkan hasil yang lebih sensitif dibandingkan pemeriksaan

yang lain. Metode kultur biasanya dilakukan terbatas pada penelitian dan

bukan pemeriksaan rutin pada pasien. (Chernesky, 2005; Zenilman et al.,

2013)

Kebanyakkan tidak semua Chlamydia dapat tumbuh pada kultur sel

akibat inoculum yang tidak adekuat. Sel McCoy ditumbuhkan dalam

monolayers

diatas

coverslips

pada

dram

atau

shell

vial.

Beberapa

laboratorium menggunakan nampan mikordilusi yang bagian bawahnya

datar, tetapi kultur dengan metode ini tidak sensitif seperti metode shell

vial. Sel McCoy diberi cycloheximid untuk menghambat metabolismenya

dan meningkatkan kepekaan terhadap isolasi chlamidia. Inoculum dari

spsimen usapan disentrifugasi dalam monolayer dan disimpan pada suhu

35-37 0 C selama 48-72 jam. Monolayer kedua dapat diinokulasikan dan

sesudah inkubasi ditanam pada monolayer yang lain untuk meningkatkan

kepakaanya. Monolayer diperiksa dengan immunofluorescence langsung

kepakaanya. Monolayer diperiksa dengan immunofluorescence langsung untuk melihat inklusi sitoplasma. (Chernesky, 2005)

untuk melihat inklusi sitoplasma. (Chernesky, 2005)

22

II. Nucleic acid amplification

Metode nucleic acid amplification (NAA) terdiri dari amplifying

urutan DNA atau RNA Chlamydia trachomatis menggunakan polymerase

chain reaction (PCR), transcription-mediated amplification (TMA) atau

strand displacement amplification (SDA). Tes metode diagnostik ini lebih

sensitif dan spesifik dari pada metode kultur sel (Tabel 3). (Chernesky,

2005; Zenilman et al., 2013)

Keuntungan lain pemeriksaan NAAT (PCR, TMA atau SDA) adalah

mampu mendeteksi Chlamydia trachomatis pada sampel urin. Menurut

data dari 29 penelitian. (Zenilman et al., 2013)

III. Deteksi antigen dan metode genetic probe

Deteksi antigen dan metode genetic probe merupakan pemeriksan

yang invasif, menggunakan swab cervix atau urethra. Sensitifitas dari

metode deteksi antigen 80-95% dibandingkan kultur. Sementara metode

genetic probe memiliki sensitifitas 80-95% (Zenilman et al., 2013)

IV. Pemeriksaan Chlamydia rapid

Meskipun pemeriksaan NAAT menggantikan metode kultur sebagai

gold standar baru, namun tidak selalu tersedia. Selain itu, pemeriksaan

NAA sangat mahal. Beberapa pemeriksaan immunoassay telah banyak

mahal. Beberapa pemeriksaan immunoassay telah banyak berkembang, dengan dasar ikatan monoclonal antibody dengan

berkembang, dengan dasar ikatan monoclonal antibody dengan antigen

Chlamydia trachomatis dari spesimen. (Zenilman et al., 2013)

23

Tabel 3. Rekomendasi metode diagnostik berdasarkan tipe spesimen untuk Chlamydia trachomatis. (Chernesky, 2005)

Spesimen

Mikroskopi

Kultur

Metode AD

NAH

NAA

Konjungtiva

+

+

+

+

-

Nasofaringel

-

+

-

-

+

Cervical

-

+

+

+

+

Uretra

-

+

+

+

+

Rektal

-

+

+

-

+

Vulval

-

-

-

-

+

Vaginal

-

-

-

-

+

introitus

-

-

-

-

+

Meatus

-

-

-

-

+

Urine

-

-

-

-

+

Pus

-

+

-

-

+

Semen

-

-

-

-

+

- - - + Urine - - - - + Pus - + - - +

24

D. Kerangka Teori

Faktor Etiologi infertilitas 1. Faktor pria 2. Faktor kedua pria dan wanita 3. Faktor wanita
Faktor Etiologi infertilitas
1. Faktor pria
2. Faktor kedua pria dan wanita
3. Faktor wanita
4. Infertilitas tidak dapat dijelaskan
5. Faktor lain : immunologi, psikologi
Kultur
Nucleic acid amplification
Infeksi Chlamydia
trachomatis (5)
Tes
Diagnostik
Deteksi antigen dan
metode genetic probe
Pemeriksaan
Chlamydia rapid
Kerusakan atau osbtruksi
tuba fallopii (faktor tuba)
Pelvic Inflamantory Diseases (PID)
Infertilitas

Keterangan :

Inflamantory Diseases (PID) Infertilitas Keterangan : : Faktor yang tidak di teliti : Faktor yang di
Inflamantory Diseases (PID) Infertilitas Keterangan : : Faktor yang tidak di teliti : Faktor yang di
Inflamantory Diseases (PID) Infertilitas Keterangan : : Faktor yang tidak di teliti : Faktor yang di

: Faktor yang tidak di teliti

: Faktor yang di teliti

Gambar 6. Kerangka teori

25

E. Kerangka Konsep

Infeksi Chlamydia trachomatis Infertilitas Heat shock Reaksi protein imunitas actin-recruiting phosphor protein
Infeksi Chlamydia
trachomatis
Infertilitas
Heat shock
Reaksi
protein
imunitas
actin-recruiting
phosphor protein

Keterangan

: Faktor yang tidak di teliti

: Faktor yang tidak di teliti

: Faktor yang di teliti

: Faktor yang di teliti

: Variabel Tergantung

: Variabel Tergantung

: Variabel Bebas

: Variabel Bebas

: Variabel antara

: Variabel antara

: Faktor yang di teliti : Variabel Tergantung : Variabel Bebas : Variabel antara Gambar 7.

Gambar 7. Kerangka konsep

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain cross

sectional survey untuk mengetahui jumlah penderita infeksi Chlamydia

trachomatis

pada

wanita

fertil

dan

infertil

serta

hubungan

infeksi

Chlamydia trachomatis terhadap infertilitas pada wanita .

 
 

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian

ini

akan

dilaksanakan

di

Rumah

Sakit

Wahidin

Sudirohusodo dan jejaring. Penelitian ini akan dilaksanakan dari bulan

Desember 2016 sampai Maret 2017.

C. Populasi Penelitian

Populasi pada penelitian adalah pasien dengan masalah infertil

yang datang berobat

sakit jejaring.

di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo dan rumah

D. Sampel dan Cara Pengambilan Sampel

Sudirohusodo dan rumah D. Sampel dan Cara Pengambilan Sampel Sampel penelitian adalah pasien dengan masalah infertil

Sampel penelitian adalah pasien dengan masalah infertil yang

datang berobat di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo dan rumah sakit

27

jejaring yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Metode pengambilan

sampel dalam penelitian ini menggunakan metode consecutive random

sampling. Sebagai kelompok kontrol adalah pasien yang fertil.

E. Perkiraan Besaran Sampel

Besarnya sampel diambil dengan menggunakan rumus

n =

(Zα + Zβ).Sd

d

Zα =

Nilai baku normal dari tabel Z yang besarnya tergantung pada nilai

α

yang ditentukan (α = 0,05) → Zα = 1,96

Zβ =

Nilai baku normal dari tabel Z yang besarnya tergantung pada nilai

β yang ditentukan (α = 0,15) → Zβ = 1,03

Sd

=

Rerata simpangan baku

d

=

Presisi (tingkat ketepatan) = 0,05

Perkiraan besarnya sampel

masing kelompok.

minimal adalah

40

F. Kriteria Inklusi dan Eksklusi

untuk

masing-

1. Kriteria Inklusi

A. Sampel

1) Wanita usia reproduktif (15-49 th), telah menikah minimal 1 tahun,

usia reproduktif (15-49 th), telah menikah minimal 1 tahun, belum mempunyai anak atau pernah memiliki anak

belum mempunyai anak atau pernah memiliki anak minimal 1 tahun

tanpa riwayat pemakaian kontrasepsi

28

2) Suami sampel dinyatakan fertil

3) Tidak ada riwayat mengalami gangguan haid

4) Tidak ada riwayat operasi kehamilan ektopik, apendik, pelvis atau

tuba

5) Tidak ada riwayat penyakit ginekologik atau kelainan anatomi pada

traktus genitalis

6) Pasien bersedia mengikuti penelitian

B. Kontrol

1) Wanita usia reproduktif, telah menikah dan memiliki anak

2) Pasien bersedia mengikuti penelitian

2. Kriteria Eksklusi

1)

Sampel mengalami kerusakan pada saat pengiriman

2)

Sampel tidak dapat terdeteksi pada pemeriksaan PCR

G. Ijin Penelitian dan Kelayakan Etik

Peneliti

meminta

kelayakan

etik

(ethical

clearance)

sebelum

penelitian ini dilakukan kepada komisi etik penelitian biomedik pada

Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar. Sebelum pasien

menandatangani surat izin penelitian (informed consent) sebagai protokol,

pasien

diberikan

penjelasan

secara

lisan

dan

tertulis

tentang

latar

belakang, maksud dan tujuan penelitian. Keikutsertaan pasien dalam

dilakukan

secara

sukarela

dengan

tetap

mengutamakan

dalam dilakukan secara sukarela dengan tetap mengutamakan penelitian pelayanan dan selalu mengindahkan cara-cara etik

penelitian

pelayanan dan selalu mengindahkan cara-cara etik yang berlaku

29

1. Alokasi Subyek

Subyek

adalah

wanita

H. Cara Kerja

usia

reproduktif

penelitian dan memenuhi kriteria inklusi.

2. Cara Kerja

a. Bahan penelitian

yang

bersedia

ikut

Bahan yang digunakan dalam penelitian, yaitu K-Y Jelly, kapas alkohol

7%, kapas kering, disinfeksitan dan garam fisiologis, reaction vessels,

pipette tipe 1000 uL, reagent vessels, deep-weel plates, masterix tube,

pipette tips 200 uL, 96-well optical plates, optical covers, abbott sample

preparation system DNA, abbott realtime CT control kit, abbott realtime

CT

Amplification

reagent

kit

dan

multi-collect

spesimen

collection

kit.(Abbot Molecular, 2005; Qiagen, 2010)

b. Instrumen penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian yaitu: 1) Spekulum steril; 2)

APD lengkap; 3) Lampu pemeriksaan; 4) CareCT PCR Kit I; 5) HC

Swab Specimen Collection Kit; 6) Sarung tangan; 7) Spuit 3 cc; 8)

Baskom; 9) Tabung reaksi yang telah ditutup kapas berlemak; 10)

QiaAmp DNA Mini Kit; (Abbot Molecular, 2005; Qiagen, 2010)

Baskom; 9) Tabung reaksi yang telah ditutup kapas berlemak; 10) QiaAmp DNA Mini Kit; (Abbot Molecular,

30

c. Prosedur pengumpulan data

1) Diagnosis infertil

Pasien usia reproduktif yang tidak mengalami kehamilan dalam

minimal 1 tahun melakukan hubungan seksual secara teratur tanpa

proteksi dan tanpa metode kontrasepsi.

2) Prosedur pengambilan swab vagina

Pasien terlebih dahulu diberikan informasi tentang tujuan tindakan

pengambilan swab vagina. Selanjutnya pasien disuruh berbaring

pada kursi yang telah disiapkan khusus untuk pengambilan sampel

swab

vagina

dengan

menekuk

lutut

hingga

dekat

paha.

Labia

mayora

di

bersihkan

dengan

garam

fisiologis.(Obstetrics

LOP

Committee, 2011)

dengan garam fisiologis.(Obstetrics LOP Committee, 2011) Gambar 8. Prosedur swab vagina. (APTIMA, 2013)
dengan garam fisiologis.(Obstetrics LOP Committee, 2011) Gambar 8. Prosedur swab vagina. (APTIMA, 2013)

Gambar 8. Prosedur swab vagina. (APTIMA, 2013)

31

Kemudian masukkan cocor bebek ke lubang vagina, buka cocor

bebek hingga terlihat cervix, lalu oleskan lidi kapas pada bagian

tersebut sebanyak dua kali pengambilan. Setelah itu, kembalikan

posisi cocor bebek pada posisi semula, keluarkan perlahan dan

rendam

pada

baskom

yang

berisi

disinfektan.

Lalu

lidi

kapas

dimasukkan pada tabung reaksi dan ditutup rapat dengan kapas

berlemak

yang

terbungkus

kertas

perkamen.(Obstetrics

LOP

Committee, 2011) Spesimen swab vaginal harus ditransport ke

laboratorium dengan suhu 2 0 C hingga 30 0 C dan diperiksa paling

lama 60 hari setelah dilakukan pengambilan spesimen. Namun bila

disimpan pada suhu minus 20 0 C hingga minus 70 0 C dapat disimpan

sampai 12 bulan setelah pengambilan Spesimen.(APTIMA, 2013;

Obstetrics LOP Committee, 2011)

3) Prosedur pemeriksaan DNA Chlamydia trachomatis

Pemeriksaan DNA Chlamydia trachomatis dilakukan dengan teknik

amplifikasi nukleat yaitu polymerase chain reaction (PCR). Test ini

memiliki sensitifitas dan spesifisitas yang tinggi.(Abbot Molecular,

2005; Jaton

et al., 2006; Qiagen,

2010; Tayoun

et al., 2015)

Prosedur pemeriksaan PCR dilakukan tahap sebagai berikut:

a) Membuat PCR mix, 20µl/tabung

b) Masukkan 5µl sampel (ekstrak DNA) ke dalam PCR mix

c)
c)

Amplifikasi yang digunakan adalah dengan thermocycler (Techne-

Flexigen, TC-412, Cambride-UK)

32

d) Menjalankan mesin PCR dengan program sebagai berikut:

Denaturasi 95 0 C selama 1 menit

Annealing 55 0 C selama 1 menit

Elongasi 72 0 C selama 15 menit

Dilakukan dalam 40 siklus

e) Evaluasi/deteksi hasil PCR:

Memasukkan hasil PCR sebanyak 10µl ke dalam plate Elisa

Menambahkan reagen deteksi sebanyak 50µl. Inkubasi 30

menit pada temperature kamar

Mencuci dengan PBS-T 3 kali

Menambahkan substrat 50µl. Inkubasi 30 menit

Tambahkan stop reaction 50µl

Baca dengan ELISA Reader pada OD 450 nm

Tambahkan stop reaction 50µl  Baca dengan ELISA Reader pada OD 450 nm Gambar 9. PCR
Tambahkan stop reaction 50µl  Baca dengan ELISA Reader pada OD 450 nm Gambar 9. PCR

Gambar 9. PCR amplifier DNA. (Biozatix, 2014)

33

Dalam

I. Identifikasi Variabel

penelitian

ini

beberapa

variabel

berdasarkan peran dan skalanya :

dapat

diidentifikasi

1. Variabel bebas adalah DNA Chlamydia trachomatis

2. Variabel tergantung adalah infertilitas

J. Hipotesis Penelitian

1. Jumlah penderita infeksi Chlamydia trachomatis pada wanita infertil

lebih tinggi di bandingkan dengan wanita fertil

2. Terdapat

hubungan

antara

infeksi

infertilitas pada wanita

Chlamydia

trachomatis

dengan

K. Definisi Operasional dan Kriteria Obyektif

a. Definisi Operasional

1. Pemeriksaan DNA Chlamydia trachomatis: Pemeriksaan Chlamydia

trachomatis menggunakan reagen untuk menentukan ada tidaknya

infeksi Chlamydia trachomatis

2. Infertilitas: Kelompok wanita yang gagal mendapatkan kehamilan

sekurang-kurangnya dalam 12 bulan berhubungan seksual secara

teratur tanpa menggunakan kontrasepsi.

3.

Wanita usia reproduktif merupakan wanita yang berusia 15-49

kontrasepsi. 3. Wanita usia reproduktif merupakan wanita yang berusia 15-49 tahun dan masih dapat memiliki keturunan.

tahun dan masih dapat memiliki keturunan.

34

4. Suami

fertil

jika

riwayat

pernah

menikah

dan

memiliki

anak

sebelumnya dan telah dilakukan analisis sperma dalam maksimal 3

bulan terakhir.

b. Kriteria Obyektif

1. DNA Chlamydia trachomatis

a) Positif

b) Negatif

2. Infertilitas

c) Fertil

d) Infertil

terakhir. b. Kriteria Obyektif 1. DNA Chlamydia trachomatis a) Positif b) Negatif 2. Infertilitas c) Fertil

35

L. Alur Penelitian

Ethical clearance

35 L. Alur Penelitian Ethical clearance Pasien yang berobat di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo dan jejaring

Pasien yang berobat di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo dan jejaring

berobat di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo dan jejaring Informed consent (80 pasien) Infertil (40 pasien)

Informed consent (80 pasien)

Sudirohusodo dan jejaring Informed consent (80 pasien) Infertil (40 pasien) Pemeriksaan DNA Chlamydia
Infertil (40 pasien) Pemeriksaan DNA Chlamydia trachomatis
Infertil (40 pasien) Pemeriksaan DNA Chlamydia trachomatis
Infertil (40 pasien) Pemeriksaan DNA Chlamydia trachomatis
Infertil (40 pasien) Pemeriksaan DNA Chlamydia trachomatis
Infertil (40 pasien)

Infertil (40 pasien)

Infertil (40 pasien) Pemeriksaan DNA Chlamydia trachomatis
Infertil (40 pasien) Pemeriksaan DNA Chlamydia trachomatis
Infertil (40 pasien) Pemeriksaan DNA Chlamydia trachomatis
Infertil (40 pasien) Pemeriksaan DNA Chlamydia trachomatis
Pemeriksaan DNA Chlamydia trachomatis

Pemeriksaan DNA Chlamydia trachomatis

Infertil (40 pasien) Pemeriksaan DNA Chlamydia trachomatis
Infertil (40 pasien) Pemeriksaan DNA Chlamydia trachomatis
Infertil (40 pasien) Pemeriksaan DNA Chlamydia trachomatis
Infertil (40 pasien) Pemeriksaan DNA Chlamydia trachomatis
Fertil (40 pasien) Pemeriksaan DNA Chlamydia trachomatis
Fertil (40 pasien) Pemeriksaan DNA Chlamydia trachomatis
Fertil (40 pasien) Pemeriksaan DNA Chlamydia trachomatis
Fertil (40 pasien) Pemeriksaan DNA Chlamydia trachomatis
Fertil (40 pasien)

Fertil (40 pasien)

Fertil (40 pasien) Pemeriksaan DNA Chlamydia trachomatis
Fertil (40 pasien) Pemeriksaan DNA Chlamydia trachomatis
Fertil (40 pasien) Pemeriksaan DNA Chlamydia trachomatis
Fertil (40 pasien) Pemeriksaan DNA Chlamydia trachomatis
Pemeriksaan DNA Chlamydia trachomatis

Pemeriksaan DNA Chlamydia trachomatis

Fertil (40 pasien) Pemeriksaan DNA Chlamydia trachomatis
Fertil (40 pasien) Pemeriksaan DNA Chlamydia trachomatis
Fertil (40 pasien) Pemeriksaan DNA Chlamydia trachomatis
Fertil (40 pasien) Pemeriksaan DNA Chlamydia trachomatis
Positif Negatif Positif Negatif (7 orang) (33 orang) (1 orang) (39 orang)
Positif
Negatif
Positif
Negatif
(7 orang)
(33 orang)
(1 orang)
(39 orang)

Analisis penelitian

Negatif Positif Negatif (7 orang) (33 orang) (1 orang) (39 orang) Analisis penelitian Gambar 10. Alur

Gambar 10. Alur penelitian

36

M. Metode Analisis

Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Chi-square untuk

membandingkan data. Dikatakan terdapat hubungan yang bermakna bila

nilai p < 0,05. Analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan program

komputer dan disajikan dalam bentuk tabel dan grafik.(Notoatmodjo S.,

2010)

N. Jadwal Penelitian

Persiapan

: Januari 2016

Pengumpulan data

: Desember 2016 Maret 2017

Pengolahan data

: Maret 2017

Penulisan laporan

: April 2017

Lama penelitian

: 5

bulan

N. Personalia Penelitian

Pelaksana

Pembantu Pelaksana

Pembimbing Utama

Pembimbing Kedua

Penyanggah Satu

Pelaksana Pembimbing Utama Pembimbing Kedua Penyanggah Satu Penyanggah Kedua Pembimbing Statistik : dr Alexander Marvin

Penyanggah Kedua

Pembimbing Statistik

: dr Alexander Marvin

: PPDS Obgin FK Unhas

: Dr dr Mardiah Tahir SpOG(K)

: Dr dr Sharvianty Arifuddin SpOG(K)

: dr Umar Malinta SpOG(K)

: Prof Dr dr John Rambulangi SpOG(K)

: Dr.dr st Maisuri T Chalid SpOG(K)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan selama 5 bulan yaitu bulan Desember

2016 sampai Maret 2017 di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo dan

jejaring. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan jumlah

penderita infeksi Chlamydia trachomatis pada wanita fertil dan infertil di

Makassar.

Pengambilan

sampel

pada

penelitian

dilakukan

dengan

menggunakan metode consecutive random sampling. Total sampel yang

diperoleh sebanyak 80 sampel yang sesuai dengan kriteria inklusi dan

eksklusi, dengan 40 sampel kelompok infertil sebagai kelompok kasus dan

40 sampel kelompok fertil sebagai kelompok kontrol. Tidak terdapat

sampel yang masuk kriteria ekslusi pada penelitian ini.

40 sampel kelompok fertil sebagai kelompok kontrol. Tidak terdapat sampel yang masuk kriteria ekslusi pada penelitian

38

1. Karakteristik Sampel

Karakteristik sampel dapat diperlihatkan pada Tabel 4.

Tabel 4. Karakteristik Sampel Penelitian

Karakteristik

Kelompok

Infertil

Fertil

Jumlah

 

n

%

n

%

n

%

Usia

a.

15-30 tahun

15

37.5

17

42.5

32

40.0

b.

31-40 tahun

25

62.5

17

42.5

42

52.5

> 40 tahun Pekerjaan

c.

0

0.0

6

15.0

6

7.5

a.

Tidak bekerja

24

60

30

75

54

67,5

b.

Bekerja

16

40

10

25

26

32,5

Pendidikan

 

a.

< SMA

12

30.0

12

30.0

24

30.0

b.

≥ SMA

28

70.0

28

70.0

56

70.0

RIwayat Kontrasepsi

 

a.

Pakai

6

15.0

9

22.5

15

18.8

b.

Tidak pakai

34

85.0

31

77.5

65

81.2

Lama Menikah

 

a.

5 tahun

17

42,5

15

37,5

32

40,0

b.

6-10 tahun

12

30,0

18

45,0

30

37,5

c.

> 10 tahun

11

27,5

7

17,5

18

22,5

Berdasarkan data pada Tabel 4 menunjukkan bahwa sebagian

besar sampel berusia dengan rentang 15-30 tahun dan 31-40 tahun yang

berusia dengan rentang 15-30 tahun dan 31-40 tahun yang masing-masing berjumlah 32 orang (40,0%) dan 42

masing-masing berjumlah 32 orang (40,0%) dan 42 orang (52,5%), serta

paling banyak sampel tidak bekerja 54 orang (67,5%) dan berpendidikan

39

di atas

jenjang sekolah

menengah

atas (SMA) sebanyak

56 orang

(70,0%). Selain itu, sampel pada penelitian ini cenderung tidak memakai

kontrasepsi 65 orang (81,2%) dan banyak yang telah menikah pada usia

pernikahan 5 tahun sebanyak 32 orang (40,0%) dimana terdapat 17

orang yang mengalami infertilitas.

2. Hubungan trachomatis

Vaginal

Discharge

Terhadap

Infeksi

Chlamydia