Anda di halaman 1dari 23

BAB I

LAPORAN KASUS

A. Identitas Pasien
Nama : Sdr. MG
Jenis Kelamin : Laki-laki
Usia : 16 tahun
Alamat : Dawulan Kulon 4/2
Pekerjaan : Pelajar
Bangsa : Indonesia
Suku : Jawa
Agama : Islam
Status Perkawinan : Belum Menikah

B. Anamnesis
Autoanamnesis dilakukan pada tanggal 1 Juni 2018 di Bangsal Mawar RSUD
Margono Soekarjo pada pukul 17.00 WIB.
Keluhan utama:
Pasien mengeluh gatal pada sela-sela jari tangan, ketiak, selangkangan, perut bagian
bawah dan pinggang sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit
Keluhan tambahan:
sela jari tangan, ketiak, selangkangan, perut bagian bawah dan pinggang tampak
kemerahan dan muncul lentingan, bruntus kemerahan serta tampak luka.
Riwayat penyakit sekarang:
Pasien hari perawatan kedua dengan efusi pleura, anemia dikonsulkan dengan
keluhan gatal pada sela-sela jari tangan, ketiak, selangkangan, perut bagian bawah
dan pinggang sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Awalnya pasien merasa
gatal pada sela jari tangan kemudian menyebar ke bagianketiak, selangkangan, perut
bawah dan pinggang. Muncul lenting seperti bruntus warna kemerahan dan gatal.
Pasien mengatakan gatal semakin hebat terutama pada malam hari yang membuat

1
tidur pasien terganggu. Karena gatal, pasien terus menggaruk sehingga timbul luka
akibat garukan pada sela jari tangan dan kaki pasien. Lentingan pada jari tangan
pasien terlihat mengeluarkan cairan kekuningan seperti nanah.
Pasien merupakan siswa SMA salah satu Pondok Pesantren di Banyumas.
Pasien mengatakan tiap malam tidur bersama dengan teman-temannya. Dalam satu
ruang tidur berisi sekitar 15 orang siswa. Teman pasien juga ada yang memiliki
keluhan sama seperti pasien. Pasien mengatakan kadang memakai handuk bersama-
sama dengan temannya. Pasien mandi dua kali setiap hari dan rutin mengganti
pakaian. Adik pasien memiliki keluhan yang sama seperti pasien yaitu gatal dan
muncul bruntus kemerahan pada sela jari. Pasien mengatakan jika dirumah pasien
satu tempat tidur dengan adiknya. Pasien menyangkal jika sebelumnya pernah
digigit oleh serangga.
1. Riwayat penyakit dahulu
a. Riwayat keluhan serupa : Disangkal
b. Riwayat Alergi : Disangkal
c. Riwayat Kencing manis : Disangkal
d. Riwayat Penyakit Asma : Disangkal
e. Riwayat Penyakit Hipertensi : Disangkal
f. Riwayat Penyakit Ginjal : Disangkal
2. Riwayat penyakit keluarga
a. Riwayat keluhan serupa : Adik pasien memiliki keluhan serupa
b. Riwayat Alergi : Disangkal
c. Riwayat Kencing manis : Disangkal
d. Riwayat Penyakit Asma : Disangkal
e. Riwayat Penyakit Hipertensi : Disangkal
f. Riwayat Penyakit Ginjal : Disangkal
3. Riwayat sosial ekonomi
Pasein merupakan siswa SMA di salah satu pondok pesantren. Ruang tidur
pasien bergabung dengan siswa lainya. Kadang pasien memakai handuk bersama

2
dengan temannya. Saat dirumah,pasien satu ruang tidur dengan adiknya. Pasien
mandi dua kali sehari dan rutin mengganti pakaian.

A. PemeriksaanFisik
KeadaanUmum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis/ E4M6V5
Vital Sign
TD : 110/80 mmHg
Nadi : 74x/menit, lemah
RR : 18x/menit
Suhu : 36,7° C
Antropometri
Tinggi badan : 158 cm
Berat badan : 59 kg
Status gizi : 23,6 (Normoweight)
Status Generalis
Kepala : Mesochepal, rambut hitam, distribusi merata
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-)
Hidung : Simetris, deviasi septum (-), sekret (-), discharge (-/-)
Telinga : Bentuk daun telinga normal, sekret (-)
Mulut : Mukosa bibir dan mulut kering, sianosis (-)
Tenggorokan : T1 – T1 tenang ,tidak hiperemis
Thorax : Simetris, retraksi (-)
Jantung : BJ I – II reguler, murmur (-), Gallop (-)
Paru : SD vesikuler (+/-), ronki (-/-), wheezing (-)
Abdomen : Supel, datar, BU (+) normal, hepar/lien ttb
Ekstremitas : Akral hangat, edema (-/-) pitting, sianosis (-)

3
Status Dermatologis
Lokasi : Regio palmaris, interdigitalis manus dextra et sinistra. Regio axilla
dextra et sinistra, suprapubic.
Efloresensi : papul dan vesikel eritem miliar-lentikular, multiple tersebar diskret
disertai kanalikuli berkelok, erosi dan skuama halus

Gambar 1.1 papul dan vesikel eritem miliar-lentikular, multiple tersebar diskret
disertai kanalikuli berkelok, erosi dan skuama halus regio palmaris, interdigitalis
manus.

B. Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang pada pasien tersebut.
C. Usulan Pemeriksaan Penunjang
a. Ink Burrow Test
b. Kuretase terowongan, temukan tungau
D. Resume
Pasien laki-laki usia 16 tahun dengan efusi Pleura dikonsulkan ke bagian Kulit
dan Kelamin RSUD Margono Soekarjo dengan keluhan gatal pada sela-sela jari
tangan, ketiak, selangkangan, perut bagian bawah dan pinggang sejak 1 minggu
sebelum masuk rumah sakit. Awalnya pasien merasa gatal pada sela jari tangan
kemudian menyebar ke bagianketiak, selangkangan, perut bawah dan pinggang.
Muncul lenting seperti bruntus warna kemerahan dan gatal. Pasien mengatakan

4
gatal semakin hebat terutama pada malam hari yang membuat tidur pasien
terganggu. Karena gatal, pasien terus menggaruk sehingga timbul luka akibat
garukan pada sela jari tangan dan kaki pasien. Lentingan pada jari tangan pasien
terlihat mengeluarkan cairan kekuningan seperti nanah.
Pasien merupakan siswa Pesantren. Pasien tidur bersama dengan teman-
temannya. Teman pasien juga ada yang memiliki keluhan sama seperti pasien.
Pasien kadang memakai handuk bersama-sama dengan temannya. Pasien mandi
dua kali setiap hari dan rutin mengganti pakaian. Pasien menyangkal jika
sebelumnya pernah digigit oleh serangga. Pasien menyangkal memiliki riwayat
alergi.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan papul dan vesikel eritem miliar-lentikular,
multiple tersebar diskret disertai kanalikuli berkelok, erosi dan skuama halus pada
regio palmaris, interdigitalis manus dextra et sinistra. Regio axilla dextra et
sinistra, suprapubic.

E. Diagnosa Kerja
Skabies

F. Diagnosis Banding
1. Dermatitis
Gambaran lesi hampir sama dengan lesi pada scabies. Biasanya pasien memilki
riwayat kontak dengan allergen tertentu, memiliki riwayat alergi atau atopi.
2. Prurigo
Gambarannya berupa adalah papul miliar yang gatal. Garukan yang terus
menerus menimbulkan erosi, ekskoriasi, krusta, hiperpigmentasi dan likenifikasi.
Sering pula terdapat infeksi sekunder pada kulit penderita. Jika telah kronik tampak
kulit yang sakit lebih gelap kecoklatan dan berlikenifikasi. Tempat predileksi
prurigo hebra terdapat di ekstremitas bagian ekstensor dan simetrik, dapat meluas ke
bokong dan perut.

5
G. Penatalaksanaan
1. Non Medikamentosa
a. Menghindari kontak langsung dengan penderita lain seperti berjabat tangan
dan tidur bersama.
b. Sprai penderita harus sering diganti dengan yang baru maksimal tiga hari
sekali.
c. Pakaian, handuk dan barang-barang lainnya yang pernah digunakan oleh
penderita harus diisolasi dan direndam dengan air panas terlebih dahulu
sebelum dicuci.
d. Pakaian dan barang-barang yang berbahan kain dianjurkan untuk disetrika
sebelum digunakan.
e. Membiasakan hidup bersih sehat.
f. Benda-benda yang tidak dapat dicuci dengan air (bantal, guling, selimut)
dijemur di bawah sinar matahari.
g. Tidak menggunakan peralatan pribadi secara bersama-sama.
h. Alas tidur diganti bila ternyata pernah digunakan oleh penderita skabies.
i. Teman pasien dianjurkan pergi ke dokter guna mendapatkan terapi.
2. Medikamentosa
a. Permetrin (Scabimite) cream 5%  dioleskan pada malam hari ke seluruh
tubuh kecuali muka dan diamkan selama minimal 10 jam, setelah itu mandi
dan bilas dengan air seluruh tubuh. Pemakaian hanya 1 kali dalam
seminggu. Pemakaian diulang seminggu kemudian dihari dan waktu yang
sama apabila keluhan belum membaik. . Permetrin 5% merupakan drug of
choice pada tatalaksana scabies karena efektif pada semua stadium skabies
baik stadium telur mauoun tungau dewasa dan toksisitasnya yang rendah.
b. Cetirizin  antihistamin yang menghambat pelepasan histamin dan
mengurangi migrasi sel inflamasi, membantu mengurangi rasa gatal pada
pasien.

6
c. Desoxymetasone  desoxymetasone cream dioles 2 kali sehari sebagai
antipruritik dan antiradang untuk mengatasi keluhan bercak-bercak
kemerahan pada tubuh.
d. Fucilex  karena pasien menderita skabies disertai dengan infeksi
sekunder, maka pasien diberikan juga antibiotik topikal yaitu asam fusidat
(Fucilex).

H. Prognosis
Quo ad vitam : Ad bonam
Quo ad fungtionam : Ad bonam
Quo ad sanationam : Ad bonam

7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Skabies merupakan penyakit yang disebabkan oleh parasit yang paling sering
terjadi. Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi Sarcoptes scabei
var. Hominis. Skabies yang juga dikenal dengan nama the itch, gudik, budukan, gatal
agogo ini sangat mudah menular. Penularan skabies bisa terjadi baik secara langsung
maupun tidak langsung. Secara langsung misalnya ibu yang menggendong anaknya
yang menderita skabies atau penderita yang bergandengan tangan dengan teman-
temannya. Secara tidak langsung misalnya melalui tempat tidur, handuk, pakaian dan
lain-lain. Masa inkubasinya sangat bervariasi. Penyakit skabies ini sangat mudah sekali
menular dan sangat gatal terutama pada malam hari (Djuanda, 2007).
B. EPIDEMIOLOGI
Skabies dapat menjangkiti semua orang pada semua umur, ras, dan tingkat ekonomi
sosial. Sekitar 300 juta kasus skabies di seluruh dunia dilaporkan setiap tahunnya.
Menurut Depkes RI, berdasarkan data dari puskesmas seluruh Indonesia pada tahun
2008, angka kejadian skabies adalah 5,6% 12,95%. Skabies di Indonesia menduduki
urutan ke tiga dari dua belas penyakit kulit tersering (Aminah, 2015)
C. ETIOLOGI
Skabies disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei. Sarcoptes scabiei merupakan
Arthropoda yang masuk ke dalam kelas Arachnida, sub kelas Acari (Acarina), ordo
Astigmata dan famili Sarcoptidae. Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei var. hominis.
Adapun jenis Sarcoptes scabiei var. animalis yang kadang-kadang bisa menulari
manusia terutama bagi yang memelihara hewan peliharaan seperti anjing (Djuanda et
al., 2007; Iskandar, 2014).

D. MORFOLOGI
Sarcoptes scabiei adalah parasit manusia obligat yang termasuk dalam filum
Arthopoda, kelas Arachnida, ordo Ackarima, siperfamili Sarcoptes. Tungau S. scabiei

8
berwarna putih krem dan berbentuk oval yang cembung pada bagian dorsal dan pipih
pada bagian ventral . Tungau betina dewasa berukuran 300 - 500 x 230 - 340 µm
sedangkan yang jantan berukuran 213 - 285 x 160 - 210 pm. Permukaan tubuhnya
bersisik dan dilengkapi dengan kutikula serta banyak dijumpai garis-garis paralel yang
berjalan transversal (Gambar 2.1) . Stadium larva mempunyai tiga pasang kaki
sedangkan dewasa dan nimpa mempunyai empat pasang kaki. Tungau ini tidak dapat
terbang atau melompat dan hanya dapat hidup selama 30 hari di lapisan epidermis
(Chosidow 2006; Orkin 2008; Wardhana, 2009).

Gambar 2.1 Morfologi Sarcoptes scabiei (Wardhana, 2009)


E. SIKLUS HIDUP
Pada gambar 2.2 dideskripsikan siklus hidup Sarcoptes scabiei yang diawali oleh
masuknya tungau dewasa ke dalam kulit manusia dan membuat terowongan di stratum
korneum sampai akhirnya tungau betina bertelur.Sarcoptes scabiei tidak dapat
menembus lebih dalam dari lapisan stratum korneum. Telur menetas menjadi larva
dalam waktu 2-3 hari dan larva menjadi nimfa dalam waktu 3-4 hari.

9
Gambar 2.2 Siklus Hidup Sarcoptes scabiei
Nimfa berubah menjadi tungau dewasa dalam 4-7 hari. Sarcoptes scabiei jantan akan
mati setelah melakukan kopulasi, tetapi kadang-kadang dapat bertahan hidup dalam
beberapa hari. Pada sebagian besar infeksi, diperkirakan jumlah tungau betina hanya
terbatas 10 sampai 15 ekor dan kadang terowongan sulit untuk diidentifikasi
(Syailindra, 2016)

F. CARA PENULARAN
Penularan skabies pada manusia dapat melalui kontak langsung (Kulit dengan kulit)
maupun kontak tak langsung dengan penderita. Kontak langsung misalnya berjabat
tangan, tidur bersama dan hubungan seksual sedangkan secara tidak langsung seperti
melalui pakaian, handuk, sprai, tempat tidur, alat-alat tidur, karpet dan barang-barang
lainnya yang pernah digunakan oleh penderita. Jumlah rata-rata tungau pada awal
infestasi adalah sekitar lima sampai sepuluh ekor. Penularannya biasanya oleh
Sarcopteas scabiei betina yang sudah dibuahi atau kadang-kadang oleh bentuk larva.
Penyakit ini sangat erat kaitannya dengan kebersihan perseorangan dan lingkungan,
atau apabila banyak orang yang tinggal secara bersama-sama disatu tempat yang relatif
sempit (Djuanda et al., 2007; Handoko, 2007; Siregar, 2005).

G. PREDILEKSI
Tempat predileksi scabies terutama terjadi pada lapisan kulit yang tipis seperti jari
tangan, pergelangan tangan bagian dalam, siku bagian luar, lipatan ketiak depan, pusar,
daerah pantat, alat kelamin bagian luar pada laki-laki dan areola pada wanita. Pada bayi
dapat menyerang telapak tangan dan telapak kaki (Iskandar, 2014).

10
Gambar 2.3 Predileksi Skabies

H. PATOGENESIS
Setelah terjadi perkawinan (kopulasi) biasanya tungau jantan akan mati, namun
kadang-kadang masih dapat hidup beberapa hari dalam terowongan yang digali oleh
betina. Setelah tungau betina dibuahi, tungau ini akan membentuk terowongan pada
kulit sampai perbatasan stratum korneum dan stratum granulosum dengan panjangnya
2-3 mm perhari serta bertelur sepanjang terowongan sampai sebanyak 2 atau 4 butir
sampai sehari mencapai 40-50 butir. Telur-telur ini akan menetas dalam waktu 3-5 hari
dan menjadi larva yang mempunyai 3 pasang kaki. Larva tersebut sebagian ada yang
tetap tinggal dalam terowongan dan ada yang keluar dari permukaan kulit, kemudian
setelah 2-3 hari masuk ke stadium nimfa yang mempunyai 2 bentuk, jantan dan betina

11
dengan 4 pasang kaki. Waktu yang diperlukan mulai dari telur menetas sampai menjadi
dewasa sekitar 8-12 hari (Handoko, 2007; Iskandar, 2014)
Siklus hidup tungau scabies paling cepat terjadi selama 30 hari dan selama itu juga
tungau-tungau tersebut berada dalam epidermis manusia. Tungau yang akan berpindah
ke lapisan kulit teratas memproduksi substansi proteolitik (sekresi saliva) yang berperan
dalam pembuatan terowongan dimana saat itu juga terjadi aktivitas makan dan
pelekatan telur pada terowongan tersebut. Tungau-tungau ini memakan jaringan-
jaringan yang hancur, namun tidak mencerna darah. Feses (Scybala) tungau akan
ditinggalkan di sepanjang perjalanan tungau menuju ke epidermis dan membentuk lesi
linier sepanjang terowongan (Hicks & Elston, 2009).
Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya oleh tungau skabies, tetapi juga oleh
penderita sendiri akibat garukan. Gatal yang terjadi disebabkan oleh sensitisasi
terhadap sekreta dan ekskreta tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah
infestasi. Sensitisasi terjadi pada penderita yang terkena infeksi scabies pertama kali.
Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul, vesikel,
urtika dan lain-lain. Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta dan infeksi
sekunder. Apabila terjadi immunocompromised pada host, respon imun yang lemah
akan gagal dalam mengontrol penyakit dan megakibatkan invasi tungau yang lebih
banyak bahkan dapat menyebabkan crusted scabies. Jumlah tungau pada pasien crusted
scabies bisa melebihi 1 juta tungau (Harahap, 2000; Handoko, 2007).

12
Gambar 2.4 Patogenesis Skabies

Gambar 2.5 Sarcoptes scabiei membuat terowongan dan bertelur di kulit (A.
Permukaan kulit, B. Terowongan pada lapisan tanduk, C. Telur, D. Sarcoptes
scabiei)

I. MANIFESTASI KLINIS
Ketika seseorang terinfestasi oleh skabies untuk yang pertama kalinya, gejala
biasanya tidak nampak hingga mencapai 2 bulan kemudian (2-6 minggu) setelah
terinfestasi. Namun, seseorang yang terinfestasi masih bisa menyebarkan skabies ini
kepada orang lain. Jika seseorang telah pernah menderita skabies sebelumnya, gejala
akan muncul dengan segera (1-4 hari) setelah terpapar. Seseorang yang terinfestasi
skabies juga dapat menularkan penyakitnya, walaupun mereka tidak memiliki gejala
lagi. Hal ini berlaku sampai skabies pada penderita tersebut diberantas beserta tungau
dan telur-telurnya (Djuanda et al., 2007).

Diagnosis skabies dapat ditegakkan dengan menemukan 2 dari 4 tanda cardinal


sebagai berikut:
1. Pruritus nokturna
Gatal pada malam hari yang disebabkan karena aktivitas tungau lebih tinggi
pada suhu yang lebih lembab dan panas. Gejala ini adalah yang sangat menonjol.
Sensasi gatal yang hebat seringkali mengganggu tidur dan penderita menjadi
gelisah (Djuanda et al., 2007).

13
2. Menyerang manusia secara berkelompok
Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok, misalnya dalam sebuah
keluarga biasanya seluruh anggota keluarga terkena infeksi. Begitu juga dalam
sebuah perkampungan yang padat penduduknya, sebagian besar tetangga yang
berdekatan akan diserang oleh tungau tersebut. Dikenal keadaan hiposensitisasi,
yang seluruh anggota keluarganya terkena. Walaupun mengalami infestasi
tungau, tetapi tidak memberikan gejala. Penderita ini bersifat sebagai pembawa
(carrier) bagi individu lain (Handoko, 2007).
3. Terowongan (kanalikulus)
Adanya terowongan (kanalikulus) pada tempat-tempat predileksi yang
berwarna putih atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-rata
panjang 1 cm, pada ujung terowongan itu ditemukan papul atau vesikel. Jika
timbul infeksi sekunder, ruam kulitnya menjadi polimorf (pustul, ekskoriasi dan
lain-lain) (Handoko, 2007).

Gambar 2.6 Bentuk Papula dan Eritema Pada Kulit

4. Ditemukan tungau
Apabila kita dapat menemuan terwongan yang masih utuh kemungkinan
besar kita dapat menemukan tungau dewasa, larva, nimfa dan ini merupakan hal
yang paling diagnostik. Akan tetapi kriteria yang keempat ini agak susah

14
ditemukan karena hampir sebagian besar pendeita pada umumnya datang dengan
lesi variatif dan tidak spesifik (Amiruddin, 2009).

J. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Kerokan kulit dapat dilakukan di daerah sekitar papula yang lama maupun yang
baru. Hasil kerokan diletakkan di atas kaca objek dan ditetesi dengan KOH 10%
kemudian ditutup dengan kaca penutup dan diperiksa di bawah mikroskop.
Diagnosis scabies positif jika ditemukan tungau, nimpa, larva, telur atau kotoran
S. scabiei.
2. Menyikat dengan sikat dan ditampung pada kertas putih kemudian dilihat dengan
kaca pembesar.
3. Biopsi irisan, yaitu lesi dijepit dengan 2 jari kemudian dibuat irisan tipis dengan
pisau kemudian diperiksa dengan mikroskop cahaya.
4. Biopsi eksisional dan diperiksa dengan pewarnaan Hematoxylin Eosin.
5. Tes tinta pada terowongan di dalam kulit dilakukan dengan cara menggosok
papula menggunakan ujung pena yang berisi tinta. Papula yang telah tertutup
dengan tinta didiamkan selama dua puluh sampai tiga puluh menit, kemudian
tinta diusap/ dihapus dengan kapas yang dibasahi alkohol. Tes dinyatakan positif
bila tinta masuk ke dalam terowongan dan membentuk gambaran khas berupa
garis zig-zag (Djuanda et al, 2007).
6. Videodermatoskopi dilakukan menggunakan sistem mikroskop video dengan
pembesaran seribu kali dan memerlukan waktu sekitar lima menit. Umumnya
metode ini masih dikonfirmasi dengan basil kerokan kulit.
7. Pengujian menggunakan mikroskop epiluminesken dilakukan pada tingkat
papilari dermis superfisial dan memerlukan waktu sekitar lima menit serta
mempunyai angka positif palsu yang rendah. Kendati demikian, metode diagnosis
tersebut kurang diminati karena memerlukan peralatan yang mahal.

15
K. DIAGNOSIS BANDING
Penyakit skabies juga ada yang menyebutnya sebagai the great imitator karena
dapat mencakup hampir semua dermatosis pruritik berbagai penyakit kulit dengan
keluhan gatal. Adapun diagnosis banding yang biasanya mendekati adalah prurigo,
pedikulosis corporis, dermatitis (Djuanda et al., 2007).

L. PENATALAKSANAAN
Terdapat beberapa terapi untuk scabies yang memiliki tingkat efektivitas yang
bervariasi. Faktor yang berpengaruh dalam keberhasilan yang antara lain umur pasien,
biaya pengobatan, berat derajat erupsi dan faktor kegagalan terapi yang pernah
diberikan sebelumnya (Orkin, 2008).
1. Medikamentosa
Pengobatan skabies harus efektif terhadap tungau dewasa, telur dan
produknya, mudah diaplikasikan, nontoksik, tidak mengiritasi, aman untuk semua
umur, dan terjangkau biayanya. Pengobatan scabies bervariasi berupa topikal
maupun oral. Jenis obat topikal yang dapat diberikan kepada pasien adalah :
a. Belerang endap (sulfur presipitatum) dengan kadar 4-20% dalam bentuk
salep atau krim. Preparat ini tidak efektif terhadap stadium telur, maka
penggunaannya tidak boleh kurang dari 3 hari. Kekurangannya ialah berbau
dan mengotori pakaian dan kadang-kadang menimbulkan iritasi. Dapat
dipakai pada bayi berumur kurang dari 2 tahun.
b. Emulsi benzyl-benzoas (20-25%) efektif terhadap semua stadium, diberikan
setiap malam selama tiga hari. Obat ini sulit diperoleh, sering memberi
iritasi, dan kadang-kadang makin gatal setelah dipakai.
c. Gama Benzena Heksa Klorida (gameksan=gammexane) kadarnya 1%
dalam krim atau losio, termasuk obat pilihan karena efektif terhadap semua
stadium, mudah digunakan, dan jarang memberi iritasi. Obat ini tidak
dianjurkan pada anak dibawah enam tahun dan wanita hamil, karena toksis
terhadap susunan saraf pusat. Pemberiannya cukup sekali, kecuali jika
masih ada gejala diulangi seminggu kemudian.

16
d. Krotamiton 10% dalam krim atau losio juga merupakan obat pilihan,
mempunyai dua efek sebagai antiskabies dan anti gatal, dipakai selama 24
jam, harus dijauhkan dari mata, mulut, dan uretra.
e. Permetrin 5% dalam krim, kurang toksik jika dibandingkan gameksan,
efektifitasnya sama, aplikasi hanya sekali dan dihapus setelah 10 jam. Bila
belum sembuh diulangi selama seminggu. Tidak dianjurkan pada bayi
dibawah umur 2 tahun.
Bila disertai infeksi sekunder dapat diberikan antibiotika. Untuk rasa gatal
dapat diberikan antihistamin per oral. Perlu diperhatikan jika diantara anggota
keluarga ada yang menderita skabies juga harus diobati. Karena sifatnya yang
sangat mudah menular, maka apabila ada salah satu anggota keluarga terkena
skabies, sebaiknya seluruh anggota keluarga tersebut juga harus menerima
pengobatan (Djuanda et al., 2007; Siregar, 2004).
2. Non Medikamentosa
a. Menghindari kontak langsung dengan penderita dan mencegah penggunaan
barang-barang penderita secara bersama-sama.
b. Pakaian, handuk dan barang-barang lainnya yang pernah digunakan oleh
penderita harus diisolasi dan dicuci dengan air panas.
c. Pakaian dan barang-barang yang berbahan kain dianjurkan untuk disetrika
sebelum digunakan.
d. Sprai penderita harus sering diganti dengan yang baru maksimal tiga hari
sekali.
e. Benda-benda yang tidak dapat dicuci dengan air (bantal, guling, selimut)
disarankan dimasukkan ke dalam kantung plastik selama tujuh hari,
selanjutnya dicuci kering atau dijemur di bawah sinar matahari sambil
dibolak batik minimal dua puluh menit sekali.
f. Kebersihan tubuh dan lingkungan termasuk sanitasi serta pola hidup yang
sehat akan mempercepat kesembuhan dan memutus siklus hidup S. scabiei.

17
M. KOMPLIKASI
1. Erupsi dapat berbentuk limfangitis, impetigo, ektima, selulitis, folikulitis dan
furunkel jika skabies dibiarkan tidak diobati selama beberapa minggu sampai
beberapa bulan.
2. Pada anak-anak sering terjadi glomerulonefritis
3. Pemakaian anti skabies misalnya gamma benzena heksaklorida yang berlebihan
dan terlalu sering dapat menimbukan dermatitis kontak iritan
4. Terjadi iritasi dalam penggunaan benzyl benzoate sehari 2 kali terutama pada
pemakian di genitalia pria
5. Dapat timbul infeksisekunder sistemik yang memperberat perjalanan penyakit
seperti pielonefritis, abses, internal, pneumonia piogenik dan septikemia (Stone,
2009).

N. PROGNOSIS
Keberhasilan pengobatan skabies dan pemberantasan penyakit tersebut tergantung
pada pemilihan efektif, pemakaian obat yang benar, serta menghilangkan faktor
predisposisi (Walton, 2007).

18
BAB III
PEMBAHASAN

Diagnosis penyakit skabies dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis dimana pasien


mengeluh gatal pada sela jari, ketiak, perut bawah dan pinggang. Gatal semakin hebat pada
malam hari atau merupakan pruritus nocturnal yang menjadi salah satu cardinal sign
diagnosis scabies. Pasien juga merupakan siswa pesantren dan tiap pasien tidur satu ruang
bersama dengan siswa lainnya. Pasien juga mengatakan beberapa temannya ada yang
memiliki keluhan serupa seperti pasien. Selain itu, adik pasien yang juga tinggal sekamar
dengan pasien dirumah memiliki keluhan yang sama. Gatal terutama pada malam hari dan
muncul lentingan seperti bruntus kemerahan. Berdasarkan anamnesis pasien menunjukkan
bahwa tidak hanya pasien yang menderita penyakit tersebut namun menyerang secara
kelompok yang juga merupakan salah satu cardinal sign dari scabies. Selain itu juga
terdapat pruritus noikturnal dimana pasien merasa sangat gatal terutama saat malam hari.
Diagnosis scabies dapat ditegakan jika didapatkan adanya dua dari empat cardinal sign
yaitu pruritus nocturnal dan penyakit menyerang secara berkelompok.
Sarcoptes scabiei mudah menular karena kontak kulit yang sering terjadi, terutama
bila tinggal di tempat tinggal yang sama. Tingkat prevalensi skabies lebih tinggi pada anak-
anak atau usia muda, dewasa muda yang aktif secara seksual, penghuni rumah jompo,
penghuni fasilitas kesehatan jangka panjang, penghuni sekolah berasrama, penghuni tempat
lain yang keadaannya ramai dengan kebersihan rendah, orang dengan sistem kekebalan
tubuh yang rendah, dan pendapatan keluarga yang rendah.
Pasien gatal pada sela-sela jari tangan, ketiak, perut dan pinggang yang merupakan
tempat predileksi dari penyakit scabies. Pada pemeriksaan fisik ditemukan papul dan
vesikel eritem miliar-lentikular, multiple tersebar diskret disertai kanalikuli berkelok, erosi
dan skuama halus pada regio palmaris, interdigitalis manus dextra et sinistra. Regio axilla
dextra et sinistra, suprapubic.
. Karena gatal hebat, pasien menggaruk dan timbul luka akibat garukan pasien.
Sehingga ditremukan gambaran erosi pada kulit pasien. Selain terdapat erosi, pada pasien

19
juga dtemukannya adanya pustule dan krusta kekuningan yang menunjukkan adanya infeksi
sekunder pada pasien.
Pasien menyangkal memiliki riwayat alergi, riwayat atopi atau kontak dengan benda
atau allergen yang menyebakan timbulnya lesi seperti pada pasien. Keterangan pasien
membantu menyingkirkan diagnosis banding dari scabies yaitu dermatitis. Selain itu dua
cardinal sign yang terdapat pada pasien juga dapat menyingkirkan diagnosis banding
lainnya yaitu prurigo.
Tatalaksana farmakologi yang diberikan pada pasien ini adalah obat secara topikal
dan sistemik. Obat sistemik yang diberikan pada pasien adalah cetirizine yang diminum
sehari sekali setelah makan. Cetirizin merupakan antihistamin yang menghambat pelepasan
histamin dan mengurangi migrasi sel inflamasi, membantu mengurangi rasa gatal pada
pasien. Obat topikal yang diberikan adalah Permetrin cream 5% (Scabimite) yang dioleskan
pada malam hari ke seluruh tubuh kecuali muka dan diamkan selama minimal 10 jam,
setelah itu mandi dan bilas dengan air ke seluruh tubuh. Pemakaian hanya satu kali dalam
seminggu. Permetrin 5% merupakan drug of choice pada tatalaksana scabies karena efektif
pada semua stadium skabies baik stadium telur maupun tungau dewasa dan toksisitasnya
yang rendah. Selan itu diberikan desoxymetasone cream dioles 2 kali sehari sebagai
antipruritik dan antiradang untuk mengatasi keluhan bercak-bercak kemerahan pada tubuh.
Karena pasien menderita skabies disertai dengan infeksi sekunder, maka pasien diberikan
juga antibiotik topikal yaitu asam fusidat (Fucilex).

Prognosis skabies yang diderita pasien pada umumnya baik bila diobati dengan
benar dan juga menghindari faktor pencetus dan predisposisi. Selain itu perlu diberikan
juga edukasi mengenai peralatan tidur yang dipakai bersama rajin dibersihkan dan dicuci
dengan air panas. Menghindari penggunaan handuk atau pakaian bersamaan. Perlu juga
diingatkan untuk beberapa teman pasien serta adik pasien yang memiliki keluhan yang
sama agar berobat ke dokter. Karena jika tidak diobati maka rantai penularana akan terjadi
terus-menerus.

20
BAB IV

KESIMPULAN

1. Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh investasi dan sensitisasi
terhadap Sarcoptes scabei var. hominis dan produknya. Sinonim dari skabies adalah
the itch, gudik, budukan atau gatal agogo. Sarcoptes scabiei mudah menular karena
kontak kulit yang sering terjadi, terutama bila tinggal di tempat tinggal yang sama.
Tingkat prevalensi skabies lebih tinggi pada anak-anak atau usia muda, dewasa
muda yang aktif secara seksual, penghuni rumah jompo, penghuni fasilitas
kesehatan jangka panjang, penghuni sekolah berasrama, penghuni tempat lain yang
keadaannya ramai dengan kebersihan rendah, orang dengan sistem kekebalan tubuh
yang rendah, dan pendapatan keluarga yang rendah. Selain itu penularan juga dapat
terjadi secara tidak langsung dengan penderita seperti melalui sprei, handuk atau
pakaian
2. Tempat predileksi scabies terutama terjadi pada lapisan kulit yang tipis. Empat
cardinal scabies, yaitu Pruritus nokturna, menyerang manusia secara berkelompok,
terowongan (kanalikulus) dan ditemukan tungau. Diagnosis scabies ditegakkan jika
menemukan dua dari empat tanda kardinal.
3. Terapi pada pasien scabies dapat diberikan obat topical, diantaranya belerang endap
(sulfur presipitatum), Emulsi benzyl-benzoas (20-25%), Gama Benzena Heksa
Klorida, Krotamiton 10% dan Permetrin 5% dalam krim. Drug of choice pada
penyakit scabies adalah permetrin karena mampu membunuh semua stadium
tungau. Selain itu jika ditemukan adanya infeksi sekunder maka dapat diberikan
antibiotic topical yaitu mupirocin atau asam fusidat. Obat sistemik yang dapat
diberikan pada penderita scabies adalah antihistamin.

21
DAFTAR PUSTAKA

Akmal et al. 2013. Hubungan Personal Hygiene Dengan Kejadian Skabies Di Pondok
Pendidikan Islam Darul Ulum, Palarik Air Pacah, Kecamatan Koto Tangah Padang
Tahun 2013. Jurnal Kesehatan Andalas. 2(3): 164-167

Aminah P, Sibero HT, dan Ratna MG. Hubungan tingkat pengetahuan dengan kejadian
skabies. J Majority. 2015;5(4):54-59.

Amiruddin MD. 2003. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. Ed 1. Makassar: Fakultas
Kedokteran Universitas Hasanudin. 5-10

Binic I, Aleksandar J, Dragan J, Milanka L. Crusted (Norwegian). 2010. Scabies Following


Systemic And Topical Corticosteroid Therapy. J Korean Med Sci; 25:.88-91

Chosidow, O. 2006. Scabies. New England Journal Med. July :354/1718-27

Djuanda et al., 2007. Ilmu penyakit Kulit dan Kelamin. 7th ed. Jakarta: FKUI

Handoko, Ronny P. 2007. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. Edisi 5. Jakarta: FKUI;122-25

Harahap M. 2000. Ilmu Penyakit Kulit. Ed 1. Jakarta: Hipokrates

Hicks MI, Elston DM. 2009. Scabies. Dermatoogic Therapy. November:22/279-292

Iskandar, Tolibin. 2014. Masalah Skabies Pada Hewan dan Manusia serta
Penanggulangannya. Wartazoa. 10(1): 28-34

Orkin, Miltoin, Howard L. Maibach. 2008. Scabies And Pedicuosis. Fitzpatrick’s


Dermatology In General Medicine, 7th. USA:Mcgrawhill .2029-31

Siregar, R.S. 2004. Penyakit Kulit Karena Parasit Dan Insecta. Dalam : Atlas Berwarna
Saripati Penyakit Kulit. Edisi 2. Jakarta: EGC

Stone, S.P. 2009. Scabies And Pedikulosis, In : Freedberg, Et Al. Fitzpatrick’s


Dermatology In General Medicine 6th Edition. Volume 1. Mcgraw-Hill

Syailindra F, Mutiara H. 2016. Scabies. Majority. Volume 5, Nomor 2

22
Walton, SF, Currie BJ. 2007. Problems In Diagnosing Scabies, A Global Disease In Human
And Animal Ppulations. Clin Microbiol Rev. 268-79

Wardhana AH, Manurung J, Iskandar T. 2009. Skabies: Tantangan Penyakit Zoonosis


Masa Kini dan Masa Datang. Balai Penelitian Veteriner.

23