Anda di halaman 1dari 31

BAB II

PENETAPAN PRIORITAS MASALAH DAN PENYEBAB MASALAH

2.1. Menetapkan Prioritas Masalah


Masalah adalah kesenjangan antara apa yang diharapkan (expected) dengan
apa yang aktual terjadi (observed). Idealnya, semua permasalahan yang timbul
harus dicarikan jalan keluarnya. Namun, karena keterbatasan sumber daya, dana,
dan waktu menyebabkan tidak semua permasalahan dapat dipecahkan sekaligus.
Untuk itu perlu ditentukan masalah yang menjadi prioritas. Setelah pada tahap awal
merumuskan masalah, maka dilanjutkan dengan menetapkan prioritas masalah
yang harus dipecahkan. Prioritas masalah didapatkan dari data atau fakta yang ada
secara kualitatif, kuantitatif, subjektif, objektif serta adanya pengetahuan yang
cukup. Dalam penetapan prioritas masalah, digunakan teknik skoring dan
pembobotan.
Pada BAB I, terdapat 5 rumusan masalah dalam program pengendalian
penyakit menular langsung di Puskesmas Kecamatan Menteng Periode Januari-
September 2018. Seluruh masalah yang sudah didapatkan perlu ditetapkan masalah
mana yang menjadi prioritas untuk diselesaikan. Tersedianya data kuantitatif
memungkinkan penggunaan teknik skoring dalam menentukan prioritas masalah.
Teknik skoring yang akan digunakan untuk menentukan prioritas masalah pada
program pengendalian penyakit menular langsung di Puskesmas Kecamatan
Menteng adalah teknik MCUA (Multiple Criteria Utility Assesment).

2.1.1 Non-Scoring Technique


Bila tidak tersedia data, maka cara penetapan prioritas masalah yang lazim
digunakan adalah teknik non skoring. Dengan menggunakan teknik ini, masalah
dinilai melalui diskusi kelompok, oleh sebab itu juga disebut “Nominal Group
Technique” (NGT). NGT terdiri dari 2, yaitu:

1
1) Metode Delbeq

Menetapkan prioritas masalah menggunakan teknik ini dilakukan melalui diskusi


dan kesepakatan sekelompok orang yang tidak sama keahliannya, sehingga untuk
menentukan prioritas masalah, diperlukan penjelasan terlebih dahulu untuk
memberikan pengertian dan pemahaman peserta diskusi, tanpa mempengaruhi
peserta diskusi. Hasil diskusi ini adalah prioritas masalah yang disepakati bersama.

2) Metode Delphi

Masalah didiskusikan oleh sekelompok orang yang mempunyai keahlian yang sama
melalui pertemuan khusus. Para peserta diskusi diminta untuk mengemukakan
pendapat mengenai beberapa masalah pokok. Masalah yang terbanyak
dikemukakan pada pertemuan tersebut, menjadi prioritas masalah.

2.1.2 Scoring Technique


Berbagai teknik penentuan prioritas masalah dengan menggunakan teknik skoring,
antara lain:

1) Metode Bryant
Terdapat beberapa kriteria yang harus dipenuhi, yaitu:
1. Prevalence
Besarnya masalah yang dihadapi.

2. Seriousness

Pengaruh buruk yang diakibatkan oleh suatu masalah dalam masyarakat dan
dilihat dari besarnya angka kesakitan dan angka kematian akibat masalah
kesehatan tersebut.

2
3. Manageability
Kemampuan untuk mengelola dan berkaitan dengan sumber daya.
4. Community concern
Sikap dan perasaan masyarakat terhadap masalah kesehatan
tersebut.
Parameter diletakkan pada baris dan masalah-masalah yang ingin dicari
prioritasnya diletakkan pada kolom. Kisaran skor yang diberikan adalah 1-5
yang ditulis dari arah kiri ke kanan sesuai baris untuk tiap masalah. Kemudian
dengan penjumlahan dari arah atas ke bawah sesuai kolom untuk masing-masing
masalah dihitung nilai skor akhirnya. Masalah dengan nilai tertinggi dapat
dijadikan sebagai prioritas masalah. Tetapi metode ini juga memiliki kelemahan
yaitu hasil yang didapat dari setiap masalah terlalu berdekatan sehingga sulit
untuk menentukan prioritas masalah yang akan diambil.

2) Metode Matematik PAHO

Dalam metode ini parameter diletakkan pada kolom dan masalah-masalah yang
ingin dicari prioritasnya diletakkan pada baris, dan digunakan kriteria untuk
penilaian masalah yang akan dijadikan sebagai prioritas masalah. Kriteria yang
dipakai ialah:

1. Magnitude
2. Severity
3. Vulnerability
4. Community and political concern
5. Affordability
Parameter diletakan pada kolom dan masalah yang ingin dicari prioritasnya
diletakan pada baris. Pengisian dilakukan dari atas ke bawah. Hasilnya didapat
dari perkalian parameter tersebut. Masalah yang mempunyai skor tertinggi,
dijadikan sebagai prioritas masalah.

3
3) Metode MCUA (Multiple Criteria Utility Assessment)

Pada metode ini parameter diletakan pada baris dan harus ada kesepakatan
mengenai bobot kriteria yang akan digunakan, dan masalah-masalah yang ingin
dicari prioritasnya diletakan pada kolom. Metode ini memakai 5 kriteria untuk
penilaian masalah tetapi masing-masing kriteria diberikan bobot penilaian dan
dikalikan dengan penilaian masalah yang ada sehingga hasil yang didapat lebih
objektif. Masalah dengan nilai tertinggi dapat dijadikan sebagai prioritas
masalah. Kriteria yang dipakai terdiri dari:

1. Emergency
Menunjukkan seberapa fatal suatu permasalahan sehingga menimbulkan
kematian atau kesakitan. Parameter yang digunakan dalam kriteria ini adalah
Case Fatality Rate (CFR), jika masalah yang dinilai berupa penyakit. Adapun
jika yang dinilai adalah masalah kesehatan lain, maka digunakan parameter
kuantitatif berupa angka kematian maupun angka kesakitan yang dapat
ditimbulkan oleh permasalahan tersebut.

2. Greatest member
Kriteria ini digunakan untuk menilai seberapa banyak penduduk yang
terkena masalah kesehatan tersebut. Greatest member ditentukan dengan
cara melihat selisih antara pencapaian suatu kegiatan pada sebuah program
kesehatan dengan target yang telah ditetapkan.

3. Expanding scope
Menunjukkan seberapa luas pengaruh suatu permasalahan terhadap sektor
lain di luar sektor kesehatan. Parameter penilaian yang digunakan adalah
seberapa luas wilayah yang menjadi masalah, berapa banyak jumlah
penduduk di wilayah tersebut, serta berapa banyak sektor di luar sektor
kesehatan yang berkepentingan dengan masalah tersebut.

4. Feasibility
Menunjukkan seberapa mungkin masalah tersebut diselesaikan. Parameter
yang digunakan adalah ketersediaan sumber daya manusia berbanding

4
dengan jumlah kegiatan, fasilitas terkait dengan kegiatan bersangkutan yang
menjadi masalah, serta ada tidaknya anggaran untuk kegiatan tersebut.

5. Policy
Masalah yang didapatkan merupakan masalah ekstra dari berbagai elemen
termasuk pemerintah, maka sangat penting untuk menilai apakah masyarakat
memiliki kepedulian terhadap masalah tersebut serta apakah kebijakan
pemerintah mendukung terselesaikannya masalah tersebut. Hal tersebut
dapat dinilai dengan apakah ada seruan atau kebijakan pemerintah yang
concern terhadap permasalahan tersebut, apakah ada lembaga atau organisasi
masyarakat yang concern terhadap permasalahan tersebut, serta apakah
masalah tersebut terpublikasi di berbagai media.

Untuk penilaian terhadap masing-masing masalah, maka masing-masing krteria


harus diberikan bobot penilaian. Dalam menetapkan bobot, dibandingkan antara
kriteria yang satu dengan yang lainnya mana yang memiliki bobot lebih tinggi.
Maka disepakati nilai bobot berkisar antara 5 untuk kriteria yang dianggap
paling penting sampai dengan 1 untuk kriteria yang dianggap kurang penting,
dengan pembobotan masing-masing kriteria sebagai berikut:

- Emergency : bobot 5
- Greatest Member : bobot 4
- Expanding Scope : bobot 3
- Feasibility : bobot 2
- Policy : bobot 1

2.2 Pemilihan Metode MCUA


Berdasarkan kriteria yang ada, maka diputuskan menggunakan metode ini.
Karena parameter diletakkan pada baris dan harus ada kesepakatan mengenai
bobot kriteria yang akan digunakan, dan masalah-masalah yang ingin dicari
prioritasnya diletakkan pada kolom. Metode ini memakai 5 kriteria untuk
penilaian masalah tetapi masing-masing kriteria diberikan bobot penilaian dan
dikalikan dengan penilaian masalah yang ada sehingga hasil yang didapat lebih

5
objektif. Masalah dengan nilai tertinggi dapat dijadikan sebagai prioritas
masalah.

Setelah mengidentifikasi masalah dari program wajib Puskesmas Kecamatan


Senen maka akan dipilih cakupan program yang menjadi masalah, dengan
cara menghitung dan membandingkan nilai kesenjangan antara apa yang
diharapkan (expected) dengan apa yang telah terjadi (observed), selanjutnya
dilakukan perumusan masalah untuk membuat perencanaan yang baik
sehingga masalah yang ada dapat diselesaikan.

A. EMERGENCY
Emergency menunjukkan besar kerugian yang ditimbulkan oleh masalah.
Ini ditujukan dengan angka kematian bayi atau Case Fatality Rate (CFR),
angka kematian balita, angka kematian ibu, incidence rate pada masing-
masing permasalahan program. Sedangkan untuk masalah-masalah yang
tidak berhubungan dengan penyakit digunakan proxy CFR. Nilai proxy CFR
didapatkan dari berbagai sumber, sedangkan sistem scoring proxy CFR
ditentukan berdasarkan hasil diskusi, argumentasi, serta justifikasi.

6
Tabel 2.1 Proxy

No Masalah Program Proxy (%)

1. Angka Putus Obat TB 16,6%

Tabel 2.2 Skala pada Score Emergency


Range (%) Score
0-7,99 1
8-15,99 2
16-23,99 3
24-35,99 4
36-39,99 5
40-47,99 6
48-55,99 7
56-62,99 8
63-79,99 9
80-87,99 10

7
Tabel 2.3 Penentuan Score Emergency Program P2ML di Wilayah
Puskesmas Kecamatan Menteng Periode Januari – September 2018
Proxy Nilai
Cakupan
Program dan Target Masalah Proxy%
No. % % Skor
Kegiatan Program% (b-a) + c
(a) (b)
(c)
1 Proporsi pasien baru 47,95 15 0 32,95 4
TB paru
terkonfirmasi
bakteriologis
diantara terduga TB
di Puskesmas
Kecamatan Menteng
sebesar 47,95%
melebihi target 5-
15%.
2 Angka Penemuan 68,11 80 0 11,89 2
Penderita (CDR) TB
Puskesmas
Kecamatan Menteng
sebesar 68,11% tidak
mencapai target >80
%.
3 Angka Konversi 61,70 80 0 18,3 3
Penderita TB di
Puskesmas
Kecamatan Menteng
sebesar 61,70% tidak
mencapai target >
80%.

8
Proxy Nilai
Cakupan
Program dan Target Masalah Proxy%
No. % % Skor
Kegiatan Program% (b-a) + c
(a) (b)
(c)
4 Angka Putus Berobat 19,14 10 16,6 87,34 10
Penderita TB di
Puskesmas
Kecamatan Menteng
sebesar 19,14%
melebihi target < 10
%.

5 Angka Penemuan 35,9 100 64,1 9


Penderita
Pneumonia Balita di
Puskesmas se-
Kecamatan Menteng
sebesar 35,9 % tidak
mencapai target 100
%.

Total score 28

9
B. GREATEST MEMBER
Greatest member menunjukkan berapa banyak penduduk yang terkena
masalah atau penyakit yang ditunjukkan dengan angka incidence rate.
Semakin besar selisih antara target dan cakupan, maka akan semakin besar
skor yang didapatkan.

Tabel 2.4 Skala pada Score Greatest Member


Range (%) Score
0-7,99 1
8-15,99 2
16-23,99 3
24-35,99 4
36-39,99 5
40-47,99 6
48-55,99 7
56-62,99 8
63-79,99 9
80-87,99 10

10
Tabel 2.5 Penentuan Score Greatest Member Program P2ML di Wilayah
Puskesmas Kecamatan Menteng Periode Januari – September 2018
Cakupan
Program dan Target% Selisih %
No. % Skor
Kegiatan (b) (c)
(a)
1 Proporsi pasien baru 47,95 15 32,95 4
TB paru
terkonfirmasi
bakteriologis
diantara terduga TB
di Puskesmas
Kecamatan Menteng
sebesar 47,95%
melebihi target 5-
15%

2 Angka Penemuan 68,11 80 11,89 2


Penderita (CDR) TB
Puskesmas
Kecamatan Menteng
sebesar 68,11%
kurang dari target >
80%

3 Angka Konversi 61,70 80 18,3 3


Penderita TB di
Puskesmas
Kecamatan Menteng
sebesar 61,70%
kurang dari target >
80 %

11
Cakupan
Program dan Target% Selisih %
No. % Skor
Kegiatan (b) (c)
(a)
4 Angka Putus 19,14 10 9,14 2
Berobat Penderita
TB di Puskesmas
Kecamatan Menteng
sebesar 19,14%
melebihi target < 10
%

5 Angka Penemuan 35,9 100 64,1 9


Penderita
Pneumonia Balita di
Puskesmas se-
Kecamatan Menteng
sebesar 35,9 %
kurang dari target
100 %,

Total Score 20

12
C. EXPANDING SCOPE
Expanding scope menunjukkan seberapa luas pengaruh suatu permasalahan
terhadap sektor lain di luar kesehatan, berapa banyak jumlah penduduk di
wilayah tersebut, serta ada tidaknya sektor di luar sektor kesehatan yang
berkepentingan dengan masalah tersebut.

Tabel 2.6 Penentuan Score Luas Wilayah

Range Luas Wilayah Skor


70-135 Ha 1
136-200 Ha 2
201-265 Ha 3
266-330 Ha 4
331-395 Ha 5
396-460 Ha 6
461-525 Ha 7
526-590 Ha 8
591-655 Ha 9

Tabel 2.7 Penentuan Nilai Expanding Scope Berdasarkan Luas Wilayah


No Wilayah Luas Area (Ha) Skor

1 Kelurahan Kebon Sirih 83,40 1

2 Kelurahan Gondangdia 145,82 2

3 Kelurahan Cikini 82,09 1

4 Kelurahan Menteng 243,90 3

5 Kelurahan Pegangsaan 98,25 1

6 Kecamatan Menteng 653,46 9

13
Tabel 2.8 Penentuan Skor Jumlah Penduduk
Range Jumlah Penduduk Skor

1.000-10.000 1
10.001-20.000 2
20.001-30.000 3
30.001-70.000 4

Tabel 2.9 Penentuan Nilai Expanding Scope Berdasarkan Jumlah Penduduk

No Jumlah
Wilayah Skor
Penduduk

1 Kelurahan Kebon Sirih 10.859 2

2 Kelurahan Gondangdia 4.207 1

3 Kelurahan Cikini 6.664 1

4 Kelurahan Menteng 22.252 3

5 Kelurahan Pegangsaan 18.543 2

6 Kecamatan Menteng 62.525 4

14
Tabel 2.10 Penentuan Nilai Expanding Scope Berdasarkan Keterpaduan
Lintas Program

No. Keterpaduan Skor

1 Tanpa Keterpaduan 1
Program

2 Dengan Keterpaduan 2
Program

Tabel 2.11 Penentuan Skor Expanding Scope

Range Skor
1-3 1
4-6 2
7-9 3
10-12 4
13-15 5
16-18 6
19-21 7
22-24 8
25-27 9
28-30 10

15
Tabel 2.12 Penentuan Score Expanding Score Program P2ML di Wilayah
Puskesmas Kecamatan Menteng Periode Januari – September 2018

Program dan
No. Penduduk Wilayah Keterpaduan Total Skor
Kegiatan

Proporsi pasien baru


TB paru
terkonfirmasi
bakteriologis
diantara terduga TB
1. 4 9 2 15 5
di Puskesmas
Kecamatan
Menteng sebesar
47,95% melebihi
target 5-15%,
Angka Penemuan
Penderita (CDR) TB
di Puskesmas
2. 4 9 2 15 5
Kecamatan menteng
sebesar 68,11 kurang
dari target 80%

Angka Konversi
Penderita TB di
Puskesmas
Kecamatan Menteng
3 4 9 2 15 5
sebesar 61,70% tidak
mencapai target > 80
%

16
Program dan
No. Penduduk Wilayah Keterpaduan Total Skor
Kegiatan

Angka Putus
Berobat Penderita
TB di Puskesmas
Kecamatan
Menteng sebesar
4 4 9 2 15 5
19,14% melebihi
target <10%.

Angka Penemuan
Penderita
Pneumonia Balita di
Puskesmas se-
Kecamatan
5. 4 9 2 15 5
Menteng sebesar
35,9 % tidak
mencapai target 100
%

D. FEASIBILITY
Feasibility merupakan kriteria yang digunakan untuk menilai seberapa
mungkin suatu masalah dapat diselesaikan. Pada dasarnya, kriteria ini
adalah kriteria kualitatif, oleh karena itu perlu dibuat parameter kuantitatif
sehingga penilaian terhadap kriteria ini menjadi obyektif.

17
Adapun parameter yang digunakan untuk menilai apakah suatu masalah
dapat diselesaikan meliputi:

1. Rasio tenaga kesehatan Puskesmas terhadap jumlah penduduk.


Semakin banyak jumlah tenaga kesehatan terhadap jumlah penduduk,
maka kemungkinan suatu permasalahan terselesaikan akan semakin
besar. Oleh karena itu, dilakukan penghitungan rasio tenaga kesehatan
di setiap Puskesmas kelurahan terhadap jumlah penduduk yang
menjadi sasaran program kesehatan di wilayah Puskesmas.
Berikut adalah rasio tenaga kesehatan di tiap Puskesmas terhadap jumlah penduduk
sasaran di wilayah Puskesmas tersebut:

Tabel 2.13 Skoring Rasio Tenaga Kesehatan dengan Jumlah Penduduk di


Puskesmas Kecamatan Menteng Periode Januari – September 2018
Tenaga Jumlah
No Puskesmas Ratio
Kesehatan Penduduk
1 Kecamatan Menteng 127 43.982 1 : 346
2 Kelurahan Pegangsaan 11 18.543 1 : 1.685
Sumber : Laporan Puskesmas Kecamatan Menteng Tahun 2017

Tabel 2.14 Penentuan Score Rasio Tenaga Kesehatan dengan Jumlah


Penduduk di Wilayah Kecamatan Menteng
Range (%) Score
1 : 5.001 – 1 : 6000 1
1 : 4.001 – 1 : 5.000 2
1 : 3.001 – 1 : 4.000 3
1 : 2.001 – 1 : 3.000 4
1 : 1.001 – 1 : 2.000 5
1 : 1 – 1 : 1.000 6

18
2. Ketersediaan fasilitas (material), fasilitas juga merupakan hal yang
dibutuhkan untuk menjalankan suatu kegiatan dan menyelesaikan suatu
masalah dan cakupan kegiatan tersebut. Namun, fasillitas yang
dibutuhkan oleh setiap kegiatan berbeda-beda. Oleh karena itu,
dibuatkan kategori untuk fasilitas yang dibutuhkan oleh kegiatan
tersebut.

Kategori fasilitas digolongkan menjadi ketersediaan alat atau obat.


Penilaian berdasarkan ada dalam jumlah mencukupi, ada namun kurang
mencukupi dan tidak ada sama sekali. Digolongkan cukup bila dari
kegiatan pelaksanaan program tidak ada masalah yaitu selalu tersedia
dan diberi nilai 2. Digolongkan kurang bila tersedia namun jumlah
kurang, atau terlambat datang, atau ada namun tidak layak pakai dan
diberi nilai 1. Dan tidak ada bila tidak tersedia dan diberi nilai 0.

Tabel 2.15 Skoring Ketersediaan Dana Terhadap Kegiatan di Puskesmas


Kecamatan Menteng Periode Januari – September 2018

Kategori Ketersediaan Skor

Alat/Obat Tidak ada 0


Ada tetapi kurang 1

Ada dan cukup 2

Tabel 2.16 Skoring Ketersediaan Dana Terhadap Kegiatan di Puskesmas


Kecamatan Menteng Periode Januari – September 2018

No. Dana Skor

1 Tidak ada 0

2 Ada tetapi kurang 1

3 Ada dan cukup 2

19
Tabel 2.17 Penentuan Score Feseability Score Program P2ML di
Wilayah Puskesmas Kecamatan Menteng Periode Januari –
September 2018

Program dan
No. SDM Alat/Obat Dana Total
Kegiatan

Proporsi pasien baru


TB paru terkonfirmasi
bakteriologis diantara
terduga TB di
1 6 2 2 10
Puskesmas
Kecamatan Menteng
sebesar 47,95%
melebihi target 5-15%

Angka Penemuan
Penderita (CDR) TB
Puskesmas
2 Kecamatan Menteng 6 2 2 10
sebesar 68,11%
kurang dari target >
80%

Angka Konversi
Penderita TB di
Puskesmas
3 Kecamatan Menteng 6 2 2 10
sebesar 61,70%
kurang dari target >
80 %

20
Program dan
No. SDM Alat/Obat Dana Total
Kegiatan

Angka Putus Berobat


Penderita TB di
Puskesmas
4 Kecamatan Menteng 6 2 2 10
sebesar 19,14%
melebihi target < 10
%

Angka Penemuan
Penderita Pneumonia
Balita di Puskesmas
5 se-Kecamatan 6 2 2 10
Menteng sebesar 35,9
% kurang dari target
100 %,

E. POLICY
Untuk dapat diselesaikan, aspek lain yang harus dipertimbangkan dari
suatu masalah kesehatan adalah apakah pemerintah memiliki concern
terhadap masalah tersebut. Parameter yang digunakan untuk menilai
seberapa concern pemerintah adalah kebijakan pemerintah yang concern
terhadap permasalahan tersebut, serta apakah masalah tersebut
terpublikasi di berbagai media.

Parameter tersebut diberikan nilai berdasarkan parameter yang paling


mungkin sampai ke masyarakat. Publikasi suatu isu kesehatan di media
cetak memiliki jangkauan yang lebih luas dibandingkan dengan
penyuluhan. Maka skor untuk penyuluhan diberikan 1, sedangkan untuk
iklan di media cetak diberikan nilai 2. Media elektronik yang memiliki

21
jangkauan yang lebih luas dibandingkan dengan media cetak. Maka untuk
adanya publikasi masalah kesehatan tersebut di media elektronik
diberikan nilai 3.

Tabel 2. 18 Skoring Kebijakan Pemerintah Terhadap Program P2ML


pada Puskesmas Kecamatan Menteng Periode Januari – September 2018
No. Parameter Skor

1 Peraturan Menteri Kesehatan 1

2 Undang-undang kesehatan 2

Tabel 2.19 Penentuan Nilai Policy Terhadap Promosi Kesehatan Puskesmas


Kecamatan Menteng Periode Januari – September 2018

No. Parameter Skor

1 Penyuluhan / media cetak / media elektronik 1

2 Penyuluhan + media cetak 2

Penyuluhan + media cetak + media


3 3
elektronik

22
Tabel 2.20 Penentuan Skor Policy Program P2ML pada Puskesmas di
Wilayah Puskesmas Kecamatan Menteng Periode Januari – September
2018

Publikasi
No. Program dan Kegiatan Kebijakan Total
Parameter

Proporsi pasien baru TB paru


terkonfirmasi bakteriologis
diantara terduga TB di
1 1 3 4
Puskesmas se-Kecamatan
Menteng sebesar 47,95%
melebihi target 5-15%.

Angka Penemuan Penderita


(CDR) TB Puskesmas
2 Kecamatan Menteng sebesar 1 3 4
68,11% tidak mencapai target
>80 %

Angka Konversi Penderita TB di


Puskesmas Kecamatan Menteng
3 1 2 3
sebesar 61,70% tidak mencapai
target > 80%.

Angka Putus Berobat Penderita


TB di Puskesmas Kecamatan
4 1 2 3
Menteng sebesar 19,14%
melebihi target < 10 %.
Angka Penemuan Penderita
Pneumonia Balita di Puskesmas
5 se-Kecamatan Menteng sebesar 1 3 4
35,9 % tidak mencapai target
100 %.

23
Setelah diklasifikasikan berdasarkan kriteria-kriteria di atas, keseluruhan hasil
penghitungan dari kriteria-kriteria tersebut dimasukkan ke dalam tabel penentuan
masalah Program P2ML menurut metode MCUA untuk dikalikan dengan bobot
masing-masing kriteria. Kemudian hasil perkaliannya dijumlahkan.

Program P2ML menurut metode MCUA untuk dikalikan dengan bobot masing-
masing kriteria. Kemudian hasil perkaliannya dijumlahkan.

Tabel 2.21 Penentuan Masalah Program P2ML Menurut Metode


MCUA MS-1 sampai dengan MS-5 di Puskesmas Kecamatan Menteng
Periode Januari – September 2018
NO GREATEST EXPANDING
Parameter EMERGENCY FEASIBILITY POLICY
MEMBER SCOPE

Bobot 5 4 3 2 1 TOTAL

1 MS-1 N 4 4 5 10 4 75
BN 20 16 15 20 4

2 MS-2 N 2 2 5 10 4 57
BN 10 8 15 20 4

3 MS-3 N 3 3 5 10 3 65
BN 15 12 15 20 3

4 MS-4 N 10 2 5 10 3 96
BN 50 8 15 20 3

5 MS-5 N 9 9 5 10 4 120
BN 45 36 15 20 4

Keterangan:
1. MS-1 Proporsi pasien baru TB paru terkonfirmasi bakteriologis diantara
terduga TB di Puskesmas Kecamatan Menteng sebesar 47,95% dengan target
5-15%, dikatakan melebihi target.
2. MS-2 Angka Penemuan Penderita (CDR) TB Puskesmas Kecamatan
Menteng sebesar 68,11% dengan target > 80%, dikatakan tidak mencapai
target.

24
3. MS-3 Angka Konversi Penderita TB di Puskesmas Kecamatan Menteng
sebesar 61,70% dengan target > 80 %, dikatakan tidak mencapai target.
4. MS-4 Angka Putus Berobat Penderita TB di Puskesmas Kecamatan Menteng
sebesar 19,14% dengan target < 10 %, dikatakan melebihi target.
5. MS-5 Angka Penemuan Penderita Pneumonia Balita di Puskesmas se-
Kecamatan Menteng sebesar 35,9 % dengan target 100 %, dikatakan tidak
mencapai target.

2.3 Prioritas Masalah Terpilih

Berdasarkan skoring MCUA, maka dipilih prioritas masalah antara lain:

1. MS-4 Angka Putus Berobat Penderita TB di Puskesmas Kecamatan Menteng


sebesar 19,14% dengan target < 10 %, dikatakan melebihi target.
2. MS-5 Angka Penemuan Penderita Pneumonia Balita di Puskesmas se-
Kecamatan Menteng sebesar 35,9 % dengan target 100 %, dikatakan tidak
mencapai target.

25
2.4 Menentukan Kemungkinan Penyebab Masalah
Setelah dilakukan penetapan prioritas terhadap masalah yang ada, selanjutnya
ditentukan kemungkinan penyebab masalah untuk mendapatkan penyelesaian yang
ada terlebih dahulu. Pada tahap sebelumnya telah dicoba mencari apa yang menjadi
akar permasalahan dari setiap masalah yang merupakan prioritas. Pada tahap ini
digunakan diagram sebab-akibat yang disebut juga dengan diagram tulang ikan
(fishbone) atau diagram ishikawa. Dengan memanfaatkan pengetahuan dan dibantu
dengan data yang tersedia, dapat disusun berbagai penyebab masalah secara teoritis.
Penyebab masalah dapat timbul dari bagian input maupun proses. Input, yaitu
sumber daya atau masukan oleh suatu sistem. Sumber daya antara lain man (sumber
daya manusia), money (dana), material (sarana), method (cara). Sedangkan proses
merupakan kegiatan sistem. Melalui proses, input akan diubah menjadi output, yang
terdiri dari:
a. Planning (perencanaan)
Sebuah proses yang dimulai dengan merumuskan tujuan organisasi sampai
dengan menetapkan alternatif kegiatan untuk mencapainya.
b. Organizing (pengorganisasian)
Rangkaian kegiatan manajemen untuk menghimpun semua sumber daya
(potensi) yang dimiliki organisasi dan memanfaatkannya secara efektif dan
efisien untuk mencapai tujuan organisasi.
c. Actuating (pelaksanaan)
Proses bimbingan kepada staf agar mereka mampu bekerja secara optimal
menjalankan tugas-tugas pokoknya sesuai dengan keterampilan yang telah
dimiliki dan dukungan sumber daya yang tersedia.
d. Controlling (monitoring)
Proses untuk mengamati secara terus-menerus pelaksanaan kegiatan sesuai
dengan rencana kerja yang sudah disusun dan mengadakan koreksi
(evaluating) jika terjadi penyimpangan.

26
Berikut ini adalah prioritas masalah yang akan ditetapkan penyebab masalahnya
dengan menggunakan diagram fishbone:

1. MS-4 Angka Putus Berobat Penderita TB di Puskesmas Kecamatan Menteng


sebesar 19,14% dengan target < 10 %, dikatakan melebihi target.
2. MS-5 Angka Penemuan Penderita Pneumonia Balita di Puskesmas se-
Kecamatan Menteng sebesar 35,9 % dengan target 100 %, dikatakan tidak
mencapai target.

27
Diagram 2.1. Fishbone Angka Putus Obat Penderita TB di Puskesmas Kecamatan Menteng

28
Diagram 2.1. Fishbone Angka Penemuan Penderita Pneumonia Balita di Puskesmas Kecamatan Menteng
P
e
r
e
n
c
a
n
a
a
n
p
r
o
g
r
a
m
T
B
y
a
n
g
s
e
b
e
l
u
m
n
y
a
d
i
n
i
l
29
a
i
s
2.5 Mencari Penyebab Masalah Yang Paling Dominan

Pada tahap ini yang dilakukan adalah menentukan penyebab masalah yang paling
dominan, yaitu dari dua prioritas masalah yang mungkin dengan menggunakan metode
Ishikawa atau lebih dikenal dengan fishbone (diagram tulang ikan), yang telah
dikonfirmasi dengan data menjadi akar penyebab masalah (yang terdapat pada lingkaran).
Dari akar penyebab masalah tersebut, dapat dicari akar penyebab masalah yang paling
dominan. Penyebab masalah yang paling dominan adalah penyebab masalah yang apabila
diselesaikan dapat menyelesaikan sebagian besar permasalahan yang ada. Penentuan akar
penyebab masalah yang paling dominan adalah dengan cara diskusi, argumentasi,
justifikasi dan pemahaman program yang cukup. Di bawah ini adalah penyebab masalah
yang dominan dalam program di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Menteng:

2.5.1 Angka Putus Berobat Penderita TB di Puskesmas Kecamatan Menteng


sebesar 19,14% dengan target < 10 %, dikatakan melebihi target.

Akar penyebab masalah pada input adalah:

1. Kurangnya waktu petugas untuk melatih PMO. (Man)


2. Distribusi dana yang tidak tepat waktu. (Money)
3. Alokasi dana yang tidak proporsional. (Material)
4. Petugas banyak melakukan pekerjaan yang lain (Method)

Akar penyebab masalah pada process adalah :


1. Kurang terjalinnya komunikasi yang efektif. (Planning)
2. Kurangnya evaluasi pelaporan hasil program. (Organizing)
3. Petugas mengerjakan pekerjaan yang lain. (Actuating)
4. Petugas puskesmas kurang aktif memantau PMO. (Controlling)
5. Kurangnya edukasi tentang pentingnya peran PMO dalam pengobatan TB
paru pada pasien. (Environment)

30
Dari sembilan penyebab yang paling mungkin diperoleh tiga penyebab yang
paling dominan berdasarkan hasil diskusi dan justifikasi sebagai berikut:
1. Kurangnya waktu petugas untuk melatih PMO. (Man)
2. Kurangnya evaluasi pelaporan hasil program. (Organizing)
3. Kurang terjalinnya komunikasi yang efektif. (Planning)

2.5.2 Angka Penemuan Penderita Pneumonia Balita di Puskesmas se-Kecamatan


Menteng sebesar 35,9 % dengan target 100 %, dikatakan tidak mencapai
target.

Akar penyebab masalah pada input adalah:

1. Kurangnya petugas yang menguasai bidang tersebut (Man)


2. Dana yang terbatas (Method)
3. Alokasi dana diprioritaskan untuk program lain (Money)
4. Kurangnya koordinasi petugas dalam mengelola form (Material)

Akar penyebab masalah pada process adalah:

1. Petugas menganggap program sebelumnya sudah baik (Planning)


2. Ketidaksamaan format dalam pencatatan data (Organizing)
3. Petugas sibuk mengerjakan pekerjaan yang lain (Actuating)
4. Satu petugas membawahi beberapa program (Controlling)
5. Padatnya jadwal kegiatan lain di puskesmas (Environment)

Dari sembilan penyebab yang paling mungkin diperoleh tiga penyebab


berdasarkan hasil diskusi dan justifikasi sebagai berikut:

1. Kurangnya petugas yang menguasai bidang tersebut (Man)


2. Satu petugas membawahi beberapa program (Controlling)
3. Petugas menganggap program sebelumnya sudah baik (Planning)

31