Anda di halaman 1dari 79

LINGKAR PEMECAHAN MASALAH EVALUASI PROGRAM PENGENDALIAN PENYAKIT MENULAR LANGSUNG (P2ML) PUSKESMAS KECAMATAN MENTENG PERIODE JANUARI SEPTEMBER 2018

LINGKAR PEMECAHAN MASALAH EVALUASI PROGRAM PENGENDALIAN PENYAKIT MENULAR LANGSUNG (P2ML) PUSKESMAS KECAMATAN MENTENG PERIODE JANUARI –

KELOMPOK 1

Aditya Surya Pratama

1102013009

Inez Talitha

1102013134

Pradita Wahyu Purwandani

1102013227

Velda Amalia Andina

1102013295

PEMBIMBING :

DR. Rifqatussa’adah, SKM, M.Kes

KEPANITERAAN KEDOKTERAN KOMUNITAS BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI PERIODE 15 OKTOBER 17 NOVEMBER 2018

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Laporan Lingkar Pemecahan Masalah dengan Judul “LINGKAR PEMECAHAN MASALAH EVALUASI PROGRAM PENGENDALIAN PENYAKIT MENULAR LANGSUNG (P2ML) PUSKESMAS KECAMATAN MENTENG

PERIODE JANUARI SEPTEMBER 2018telah disetujui oleh pembimbing untuk dipublikasikan dalam rangka memenuhi salah satu tugas Kepaniteraan Ilmu Kedokteran Keluarga, Fakultas Kedokteran Universitas YARSI.

Jakarta, Oktober 2018 Pembimbing

DR. Rifqatussa’adah, SKM, M.Kes

KATA PENGANTAR

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum wa Rahmatullahii wa Barakaatuh Alhamdulillahirabbil’alamin, puji dan syukur senantiasa penulis ucapkan kehadirat Allah

Assalamu’alaikum wa Rahmatullahii wa Barakaatuh

Alhamdulillahirabbil’alamin, puji dan syukur senantiasa penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada tim penulis sehingga Laporan Lingkaran Pemecahan Masalah dengan judul Lingkar Pemecahan Masalah Evaluasi Program Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2ML) Puskesmas Kecamatan Menteng Periode Januari September 2018ini dapat diselesaikan dengan baik.

Penulisan dan penyusunan laporan ini bertujuan untuk memenuhi tugas kepaniteraan klinik Kedokteran Keluarga bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas YARSI. Penulis juga berharap agar laporan ini dapat berguna sebagai salah satu sumber pengetahuan bagi pembaca, terutama pengetahuan mengenai Ilmu Kesehatan Masyarakat dan sebagai salah satu bahan pertimbangan evaluasi salah satu pengetahuan Ilmu Kesehatan Masyarakat mengenai kesehatan ibu dan anak.

Penyelesaian laporan ini tidak terlepas dari bantuan para dosen pembimbing, staf pengajar, dokter dan tenaga medis Puskesmas, serta orang-orang sekitar yang terkait. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada:

  • 1. DR. Rifqatussa’adah, SKM, M.Kes, selaku dosen pembimbing dan staf pengajar bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas YARSI.

  • 2. dr. Erlina Wijayanti, MPH, DipIDK, selaku kepala bagian Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas YARSI.

3. dr. Yusnita, M.Kes, DipIDK, selaku koordinator kepaniteraan Kedokteran

Keluarga bagian Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas YARSI.

  • 4. dr. Dini Widianti, M.KK, selaku koordinator kepaniteraan Kedokteran Komunitas bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas YARSI.

  • 5. DR. Kholis Ernawati, S.Si, M.Kes, selaku staf Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas YARSI.

  • 6. Prof. Qomariyah, MS. PKK. AIFM, selaku staf pengajar bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas YARSI.

  • 7. dr. Rr. Dewi Suci Rukmini, selaku penanggung jawab kepaniteraan di Puskesmas Kecamatan Menteng.

  • 8. Seluruh staf dan tenaga kesehatan Puskesmas Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat yang telah memberikan bimbingan dan data kepada penulis untuk kelancaran penulisan laporan.

  • 9. Seluruh rekan sejawat Fakultas Kedokteran Universitas YARSI yang telah bekerja

sama dalam menyusun laporan ini. Kesadaran bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan laporan ini. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat diharapkan untuk perbaikan di masa mendatang. Semoga laporan ini dapat memberi manfaat bagi semua pihak.

Wassalamu’alaikum wa Rahmatullahi Wabarakaatuh.

Jakarta, Oktober 2018

iv

DAFTAR ISI

Penulis

Pernyataan Persetujuan

 

ii

Kata Pengantar

iii

Daftar

v

Daftar

Tabel

vii

Daftar Bagan

 

x

Daftar

Gambar

xi

BAB I PENDAHULUAN

.............................................................................................

1

 
  • 1.1 Gambaran Umum Wilayah Kecamatan Menteng

1

  • 1.1.1 Geografis dan Topografi

1

  • 1.1.2 Kependudukan..............................................................................................2

  • 1.1.3 Gambaran Umum Puskesmas kecamatan Menteng

3

  • 1.1.3.1 Visi ..................................................................................................3

Misi

  • 1.1.3.2 ..................................................................................................

3

Tujuan

  • 1.1.3.3 ..............................................................................................

3

  • 1.1.3.4 Unit Layanan Kesehatan

4

  • 1.1.3.5 Sejarah Puskesmas

..........................................................................

4

  • 1.1.3.6 UKM (Upaya Kesehatan Masyarakat)

5

  • 1.2 Program Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2ML)

6

  • 1.2.1 Program Pengendalian Tuberculosis Paru

6

  • 1.2.2 Program Pengendalian Penyakit HIV/AIDS...............................................12

  • 1.2.3 Program Pengedalian Penyakit Pneumonia

14

  • 1.2.4 Program Pengendalian PenyakitDiare

........................................................

18

  • 1.2.5 Program Pengendalian Penyakit Kusta

20

  • 1.3 Identifikasi Masalah

21

  • 1.4 Rumusan Masalah

22

BAB II PENTAPAN PRIORITAS DAN PENYEBAB MASALAH

23

 
  • 2.1 Menetapkan Prioritas Masalah

23

  • 2.2 Pemilihan Metode MCUA

37

  • 2.3 Prioritas Masalah Terpilih

46

  • 2.4 Menentukan Kemungkinan Penyebab

.......................................................

47

  • 2.5 Mencari Penyebab Masalah Yang Paling Dominan

51

BAB

III MENETAPKAN ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH ...................

54

 
  • 3.1 Menetapkan Alternatif Pemecahan Masalah

54

BAB IV RENCANA USULAN DAN PELAKSANAAN KEGIATAN

PEMECAHAN MASALAH

59

  • 4.1 Menyusun Rencanan Pemecahan Masalah

59

  • 4.2 Rencanan Pelaksanaan Kegiatan

63

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

66

Simpulan

  • 5.1 ....................................................................................................

66

  • 5.2 ..........................................................................................................

Saran

67

BAB II PENENTUAN PRIORITAS DAN PENYEBAB MASALAH

33

  • 2.1 Menetapkan Prioritas Masalah

36

  • 2.2 Pemilihan Metode MCUA

40

  • 2.3 Prioritas Masalah Terpilih .........................................................................

68

  • 2.4 Menentukan Kemungkinan

68

  • 2.5 Mencari Penyebab Masalah Yang Paling

72

BAB

III MENETAPKAN ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH ...................

75

  • 3.1 Menetapkan Alternatif Pemecahan Masalah

75

BAB IV RENCANA USULAN DAN PELAKSANAAN KEGIATAN LPM

81

  • 4.1 Menyusun Rencanan Pemecahan Masalah

...............................................

81

  • 4.2 Rencanan Pelaksanaan Kegiatan Pemecahan Masalah

86

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

88

  • 5.1 Simpulan

88

  • 5.2 Saran ..........................................................................................................

89

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Luas Wilayah, Jumlah Kecamatan, Kelurahan, Rukun Warga dan Rukun Tetangga

Tahun 2017

2

Tabel 1.2 Jumlah Penduduk Kecamatan Menteng Tahun 2017

3

3

Tabel 1.4 Proporsi pasien baru TB Paru Terkonfirmasi Bakteriologis Diantara Terduga TB di

Puskesmas Kecamatan Menteng Januari September Tahun 2018

8

Menteng Januari September Tahun 2018

9

Tabel 1.6 Angka Konversi (CVR/ Conversion rate) Penderita TB du Puskesmas

Kecamatan Menteng Januari September Tahun 2018

10

Tabel 1.7 Angka Kesembuhan (Cure Rate) Penderita TB di Puskesmas Kecamatan

Menteng Januari September Tahun 2018

11

September Tahun 2018

11

Tabel 1.9 Jumlah Penemuan Kasus HIV/AIDS pada Wilayah Kerja di Puskesmas Kecamatan

Menteng Januari September Tahun 2018

13

Menteng Januari September Tahun 2018

13

Kerja Puskesmas Kecamatan Menteng Januari September Tahun 2018

14

Tabel 1.12 Cakupan Penemuan/ Case Detection Rate Pneumonia Balita di Puskesmas

se-Kecamatan Menteng Januari September Tahun 2018

16

Tabel 1.13 Angka Kesakitan/ Incidence Rate) Pneumonia Balita di Puskesmas se-

Kecamatan Menteng Januari September Tahun 2018

17

Tabel 1.14 Angka Kematian (Case Fatality Rate) Pneumonia Balita di Puskesmas se-

Kecamatan Menteng Januari September Tahun 2018

18

Tabel 1.15 Angka Kesakitan ( Incidence Rate/ IR) Diare di Puskesmas se-Kecamatan

Menteng Januari September Tahun 2018

19

September Tahun 2018

20

Tabel 2.1 Proxy

28

Tabel 2.2 Skala pada Score Emergency Tabel 2.3 Penentuan Score Emergency Program P2ML di Wilayah Puskesmas
Tabel 2.2 Skala pada Score Emergency
Tabel 2.3 Penentuan Score Emergency Program P2ML di Wilayah Puskesmas
Kecamatan Menteng Periode Januari – September Tahun 2018
Tabel 2.4 Skala pada Score Greatest Member
Tabel 2.5 Penentuan Score Greatest Member Program P2ML di Wilayah Puskesmas
Kecamatan Menteng Periode Januari – September Tahun 2018
Tabel 2.6 Penentuan Score Luas Wilayah
Tabel 2.7 Penentuan Nilai Expanding Scope Berdasarkan Luas Wilayah
Tabel 2.8 Penentuan Skor Jumlah Penduduk
Tabel 2.9 Penentuan Nilai Expanding Scope Berdasarkan Jumlah Penduduk
Tabel 2.10 Penentuan Nilai Expanding Scope Berdasarkan Keterpaduan Lintas
Program
Tabel 2.11 Penentuan Skor Expanding Scope
Tabel 2.12 Penentuan Score Expanding Score Program P2ML di Wilayah Puskesmas
Kecamatan Menteng Periode Januari – September Tahun 2018
Tabel 2.13 Skoring Rasio Tenaga Kesehatan dengan Jumlah Penduduk di Puskesmas
Kecamatan Menteng Periode Januari – September Tahun 2018
Tabel 2.14 Penentuan Score Rasio Tenaga Kesehatan dengan Jumlah Penduduk di
Wilayah Kecamatan Menteng
Tabel 2.15 Skoring Ketersediaan Dana Terhadap Kegiatan di Puskesmas Kecamatan
Menteng Periode Januari – September Tahun 2018
Tabel 2.16 Skoring Ketersediaan Dana Terhadap Kegiatan di Puskesmas Kecamatan
Menteng Periode Januari – September Tahun 2018
Tabel 2.17 Penentuan Score Feseability Score Program P2ML di Wilayah Puskesmas
Kecamatan Menteng Periode Januari – September Tahun 2018
Tabel 2.18 Skoring Kebijakan Pemerintah Terhadap Program P2ML pada Puskesmas
Kecamatan Menteng Periode Januari – September Tahun 2018
Tabel 2.19 Penentuan Nilai Policy Terhadap Promosi Kesehatan Puskesmas
Kecamatan Menteng Periode Januari – September Tahun 2018
Tabel 2.20 Penentuan Skor Policy Program P2ML pada Puskesmas di Wilayah
29
29
31
32
34
34
35
35
36
36
37
39
39
40
40
41
43
43

Puskesmas Kecamatan Menteng Periode Januari September Tahun 2018 44 Tabel 2.21 Penentuan Masalah Program P2ML Menurut Metode MCUA MS-1 sampai

dengan MS-5 di Puskesmas Kecamatan Menteng Periode Januari September Tahun 2018

45

Tabel 3.1 Alternatif Pemecahan Masalah Angka Putus Berobat Penderita TB di Puskesmas Kecamatan Menteng Sebesar 19,14% Dengan Target < 10%

56

Tabel 3.2 Alternatif Pemecahan Masalah Angka Penemuan Penderita Pneumonia Balita di Puskesmas se-Kecamatan Menteng Sebesar 35,9% Kurang Dari Target 100%

78

Tabel 4.1 Rencana Pemecahan Masalah Untuk Angka Putus Berobat Penderita TB di Puskesmas Kecamatan Menteng Periode Januari - September 2018

.............

60

Tabel 4.2 Rencana Pemecahan Masalah Untuk Angka Penemuan Pneumonia Balita di

Puskesmas se-Kecamatan Menteng Periode Januari September 2018

...... Tabel 4.3 Rencana Pemecahan Masalah Untuk Angka Putus Berobat Penderita TB di

61

Puskesmas Kecamatan Menteng Periode Januari - September 2018

.............

63

Tabel 4.4 Rencana Pemecahan Masalah Untuk Angka Penemuan Pneumonia Balita di Puskesmas se-Kecamatan Menteng Periode Januari - September 2018

........

64

ix

DAFTAR BAGAN

Bagan 2.1. Fishbone Angka Putus Berobat Penderita Tuberculosis di Puskesmas Kecamtan

Menteng

49

Bagan 2.2 Fishbone Angka Penemuan Pneumonia Balita di Puskesmas se-Kecamatan

Menteng

50

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Peta Wilayah Puskesmas Kecamatan Menteng

............................................

1

BAB I PENDAHULUAN

  • 1.1 Gambaran Umum Wilayah Kecamatan Menteng

    • 1.1.1. Geografis dan Topografis Kecamatan Menteng adalah sebuah kecamatan yang terletak di Jakarta Pusat dan merupakan Pusat Pemerintahan dari Kota Administrasi Jakarta Pusat. Kecamatan ini berbatasan dengan Kecamatan Gambir di sebelah utara, Kecamatan Tanah Abang di sebelah barat, Kecamatan Matraman di sebelah timur, dan Kecamatan Setiabudi di sebelah selatan. Kecamatan Menteng mempunyai luas wilayah 653,46 Ha. mempunyai 5 Kelurahan, yaitu Kelurahan Kebon Sirih, Kelurahan Gondangdia, Kelurahan Cikini, Kelurahan Menteng dan Kelurahan Pegangsaan.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Wilayah Kecamatan Menteng 1.1.1. Geografis dan Topografis Kecamatan Menteng adalahkecamatan yang terletak di Jakarta Pusat dan merupakan Pusat Pemerintahan dari Kota Administrasi Jakarta Pusat. Kecamatan ini berbatasan dengan Kecamatan Gambir di sebelah utara, Kecamatan Tanah Abang di sebelah barat, Kecamatan Matraman di sebelah timur, dan Kecamatan Setiabudi di sebelah selatan. Kecamatan Menteng mempunyai luas wilayah 653,46 Ha. mempunyai 5 Kelurahan, yaitu Kelurahan Kebon Sirih, Kelurahan Gondangdia, Kelurahan Cikini, Kelurahan Menteng dan Kelurahan Pegangsaan. Gambar 1. Peta Wilayah Puskesmas Kecamatan Menteng • Letak Wilayah 1) Kecamatan Menteng adalah salah satu Kecamatan yang berada di Wilayah Kota Administrasi Jakarta Pusat. Luas Wilayah. Kecamatan Menteng mempunyai luas wilayah 653,46 Ha. mempunyai 5 Kelurahan, yaitu Kelurahan Kebon Sirih, Kelurahan Gondangdia, Kelurahan Cikini, Kelurahan Menteng dan Kelurahan Pegangsaan. 1 " id="pdf-obj-11-23" src="pdf-obj-11-23.jpg">

Gambar 1. Peta Wilayah Puskesmas Kecamatan Menteng

Letak Wilayah 1) Kecamatan Menteng adalah salah satu Kecamatan yang berada di Wilayah Kota Administrasi Jakarta Pusat. Luas Wilayah. Kecamatan Menteng mempunyai luas wilayah 653,46 Ha. mempunyai 5 Kelurahan, yaitu Kelurahan Kebon Sirih, Kelurahan Gondangdia, Kelurahan Cikini, Kelurahan Menteng dan Kelurahan Pegangsaan.

Luas wilayah, jumlah kecamatan, kelurahan, Rukun Warga dan Rukun Tentangga di wilayah Kecamatan Menteng dapat dilihat pada tabel 1.1.

Tabel 1.1 Luas Wilayah, Jumlah Kecamatan, Kelurahan, Rukun Warga dan Rukun Tetangga Tahun 2017

Kelurahan

Luas Wilayah (Ha)

Jumlah RW

Jumlah

KEBON SIRIH

83,40 Ha

10

77

GONDANGDIA

145,82 Ha

5

40

CIKINI

82,09 Ha

5

66

MENTENG

243,90 Ha

10

137

PEGANGSAAN

98,25 Ha

8

104

Jumlah

653,46 Ha

38

424

Batas Wilayah

Utara

: Jl. Kebon Sirih Raya (Kecamatan Gambir)

Barat

: Kali Cideng (Kecamatan Tanah Abang)

Selatan

: Kali Malang (Kecamatan Setia Budi)

Timur

: Kali Ciliwung (Kecamatan Menteng)

1.1.2

Kependudukan

Jumlah Penduduk Kecamatan Menteng pada Tahun 2017 sebanyak

62.525 orang

Tabel 1.2 Jumlah Penduduk Kecamatan Menteng Tahun 2017

∑ Penduduk

NO

KELURAHAN

Laki-Laki

Perempuan

Jumlah

  • 1. Menteng

10.713

11.539

22.252

  • 2. Gondangdia

  • 1.878 2.329

4.207

  • 3. Cikini

  • 3.279 3.385

6.664

  • 4. Kebon Sirih

  • 5.525 5.334

10.859

  • 5. Pegangsaan

  • 9.174 9.369

18.543

 

TOTAL

42,908

30.569

62.525

Keadaan Pendidikan dan Pengajaran di Wilayah Kecamatan Menteng, Adapun jumlah Taman Kanak- Kanak (TK) 31 Sekolah, Sekolah

Dasar (SD) yang sederajat baik negeri maupun swasta sebanyak 29 Sekolah, SLTP sebanyak 13 Sekolah, SMU Sebanyak 7 Sekolah, SMK sebanyak 6 Sekolah dengan perincian sebagai berikut:

Tabel 1.3 Keadaan Pendidikan dan Pengajaran di Wilayah Kecamata Menteng

No

Kelurahan

TK

SD

SMP

SMU

SMKK

1

Kebon Sirih

4

4

2

1

-

2

Gondangdia

5

7

4

3

-

3

Cikini

4

5

3

-

1

4

Menteng

12

7

3

2

4

5

Pegangsaan

6

6

1

1

1

 

Jumlah

31

29

13

7

6

  • 1.1.3 Gambaran Umum Puskesmas Kecamatan Menteng

    • 1.1.3.1. Visi

Menjadi pusat pelayanan kesehatan primer yang professional, komprehensif, berstandar Internasional dan menjadi pilihan utama bagi seluruh lapisan masyarakat tahun 2020.

  • 1.2.3.2. Misi

Menyiapkan SDM yang professional, menyediakan sarana dan prasarana yang berstandar nasional dan internasional. Meningkatkan akses layanan kesehatan untuk seluruh lapisan masyarakat, menyelenggarakan UKP dan UKM secara bersamaan dan berkesinambungan.

  • 1.1.3.3. Tujuan

    • - Tujuan Umum

Meningkatkan

derajat

Kesehatan

Masyarakat

di

Wilayah

Kecamatan Menteng serta peningkatan potensi masyarakat untuk

melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat.

  • - Tujuan Khusus

    • 1. Memperluas Jangkauan Pelayanan

    • 2. Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM)

    • 3. Pengembangan Fungsi Puskesmas

4.

Meningkatkan Promosi

  • 5. Meningkatkan Sistem Informasi

  • 6. Pengembangan Asuransi Kesehatan

  • 1.1.3.4. Unit Layanan Kesehatan

    • - Layanan Kesehatan Lansia

    • - Layanan Kesehatan IGD 24 Jam

    • - Layanan Medis Tindakan

    • - Layanan Kesehatan Umum

    • - Layanan Kesehatan TB Paru

    • - Layanan Harm Reduction

    • - Layanan Rumah Bersalin

    • - Layanan Kesehatan Ibu dan Anak

    • - Layanan Kesehatan MTBS

    • - Layanan Kesehatan Imuniasai

    • - Layanan Kesehatan PTM

    • - Layanan Kesehatan Jiwa

    • - Layanan Kesehatan VCT

    • - Layanan Kesehatan Gigi

    • - Layanan Kesehatan PKPR

    • - Layanan laboratorium

    • - Layanan Radiologi

  • 1.1.3.5. Sejarah Puskesmas

  • Sebelum tahun 2017 di daerah Menteng terdapat 1 puskesmas kecamatan (Puskesmas Kecamatan Menteng) dan 2 puskesmas kelurahan (Puskesmas Kelurahan Gondangdia dan Puskemas Kelurahan Pegangsaan). Sejak awal tahun 2017, Puskesmas Kelurahan Gondangdia tidak beroperasi karena ada masalah perizinan dengan pemerintah setempat sehingga semua pegawai dipindahkan ke Puskesmas Kecamatan Menteng. Pada Waktu bersamaan, dibangun Puskesmas Kelurahan Kebon Sirih yang mulai beroperasi sejak 1

    Juli 2018. Dikarenakan adanya perpindahan puskesmas, maka laporan yang ada tidak lengkap.

    Saat ini, kecamatan Menteng memiliki 3 puskesmas yaitu:

    • 1. Puskesmas Kecamatan Menteng Puskesmas ini membawahi kelurahan Menteng dan kelurahan Cikini

    • 2. Puskesmas Kelurahan Pegangsaan Puskesmas ini membawahi kelurahan Pegangsaan

    • 3. Puskesmas Kelurahan Kebon Sirih Puskesmas ini membawahi kelurahan Kebon Sirih dan Gondangdia

    1.1.3.6. UKM (Upaya Kesehatan Masyarakat)

    Sesuai dengan Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 334 Tahun 2014 Tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Pusat Kesehatan Masyarakat. Upaya Kesehatan Masyarakat adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menanggulangi timbulnya masalah kesehatan dengan sasaran keluarga, kelompok dan masyarakat yang mempunyai tugas sebagai berikut:

    Menyusun bahan rencana strategis, rencana kerja anggaran dan rencana bisnis anggaran puskesmas Kecamatan sesuai dengan lingkup tugasnya. Melaksanakan rencana strategis, rencana kerja anggaran dan rencana bisnis anggaran Puskesmas Kecamatan sesuai dengan lingkup tugasnya. Menyusun bahan pedoman, standard an prosedur teknis pelaksanaan upaya kesehatan masyarakat. Menyelenggarakan pelayanan promosi kesehatan termasuk UKS Menyelenggarakan pelayanan kesehatan lingkungan Menyelenggarakan pelayanan kesehatan ibu dan anak dan keluarga berencana yang bersifat UKM Menyelenggarakan pelayanan Gizi yang bersifat UKM Menyelenggarakan pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit. Menyelenggarakan pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat

    Menyelenggarakan upaya pengembangan pelayanan kesehatan jiwa, kesehatan gigi masyarakat, kesehatan tradisional komplementer, kesehatan olah raga, kesehatan indera, kesehatan lansia, kesehatan kerja dan kesehatan lainnya Melaporkan dan mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas Satuan Pelaksana UKM

    • 1.2 Program Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2ML) Lingkup program Pengendalian Penyakit Menular Langsung berdasarkan Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen PP dan PL) tahun 2012 adalah sebagai berikut:

      • 1. Program Pengendalian Penyakit Tuberkulosis Paru, yang hanya dijalankan oleh Puskesmas Kecamatan Menteng

      • 2. Program Pengendalian Penyakit HIV/AIDS, yang hanya dijalankan oleh Puskesmas Kecamatan Menteng

      • 3. Program pengendalian penyakit Pneumonia

      • 4. Program Pengendalian Penyakit Diare

      • 5. Program Pengendalian Penyakit Kusta, yang hanya dijalankan oleh Puskesmas Kecamatan Menteng

    1.2.1. Program Pengendalian Tuberkulosis Paru

    Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi yang menular, disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis dengan sumber penularan dahak yang mengandung kuman TB. Mulai tahun 1995 program pemberantasan dan penanggulangan penyakit TB mengadopsi pada strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse). Dengan semakin berkembangnya tantangan yang dihadapi program di banyak negara. Pada tahun 2005 strategi DOTS di atas oleh Global stop TB partnership strategi DOTS tersebut diperluas menjadi “Strategi Stop TB”. Pada sidang WHO ke- 67 tahun 2014 ditetapkan resolusi mengenai strategi pengendalian TB global pasca 2015 yang bertujuan untuk menghentikan epidemi global TB pada tahun 2035 yang ditandai dengan (KEMENKES RI, 2014):

    1.

    Penurunan angka kematian akibat TB sebesar 95% dari angka tahun

    2015.

    • 2. Penurunan angka insidensi TB sebesar 90% (menjadi 10/100.000 penduduk).

    Program penanggulangan penyakit ini merupakan salah satu prioritas karena masih tingginya angka prevalensi penyakit ini, yaitu 107 per 100.000 penduduk dengan tingkat penularan yang tinggi yaitu 1 penderita TB dahak positif dalam setahun dapat menyebarkan penyakit kepada 10 s/d 15 orang yang kemudian dahaknya mengandung kuman TB juga, begitu seterusnya. Kemajuan di bidang farmakologi memungkinkan beberapa macam obat (untuk pengobatan TB) dikombinasi dalam satu tablet dengan tidak mengganggu bio-availability dari obat obat tersebut artinya OAT kombipak telah disederhanakan menjadi OAT FDC yang akan membantu dalam pelaksanaan DOTS. Pengobatan dengan FDC ini sudah dimulai tahun 2006 (KEMENKES RI, 2014).

    Untuk mempermudah analisis data diperlukan indikator sebagai alat ukur kemajuan program (marker of progress). Dalam menilai kemajuan atau keberhasilan program pengendalian TB digunakan beberapa indicator (KEMENKES RI, 2014). Indikator utama program pengendalian TB secara Nasional ada 2, yaitu (KEMENKES RI, 2014):

    • 1. Angka Notifikasi Kasus TB (Case Notification Rate = CNR) dan

    • 2. Angka Keberhasilan Pengobatan TB (Treatment Success Rate = TSR)

    Adalah angka yang menunjukan presentase pasien baru TB paru terkonfirmasi bakteriologis yang menyelesaikan pengobatan (baik yang sembuh maupun pengobatan lengkap) diantara pasien baru TB paru terkonfirmasi bakteriologis yang tercatat. Dengan demikian angka ini angka kesembuhan dan angka pengobatan lengkap.

    Disamping itu ada beberapa indikator proses untuk mencapai indikator Nasional tersebut di atas, yaitu (KEMENKES RI, 2014):

    • a. Indikator Penemuan TB

    1. Proporsi pasien baru TB paru terkonfirmasi bakteriologis diantara terduga TB, adalah persentase pasien baru TB paru terkonfirmasi bakteriologis yang ditemukan diantara seluruh terduga

    yang diperiksa dahaknya. Angka ini menggambarkan mutu dari proses penemuan sampai diagnosis pasien, serta kepekaan menetapkan kriteria terduga. Angka ini sekitar 5-15 % (KEMENKES RI, 2014). Jumlah pasien baru TB paru terkonfirmasi bakteriologis yang ditemukan

    Jumlah seluruh terduga TB paru yang diperiksa

    x 100%

    Tabel 1.4. Proporsi Pasien Baru TB Paru Terkonfirmasi Bakteriologis Diantara Terduga TB di Puskesmas Kecamatan Menteng Januari September Tahun 2018

     

    TERDUGA

    PENEMUAN

    ANGKA

    No.

    PUSKESMAS

    PENDERITA

    PENDERITA BTA

    PROPORSI (%)

     

    TB PARU

    POS (+)

    b/a x 100%

    (a)

    • (b) (target 5-15%)

    1.

    PKC Menteng

    98

    47

    47,95 %

     

    JUMLAH

    98

    47

    47,95 %

    Sumber: Laporan Bulanan P2ML Puskesmas Kecamatan Menteng Periode Januari September 2018

    Keterangan :

    Jumlah terduga penderita TB Paru di puskesmas kecamatan menteng didapatkan bulan Januari September tahun 2018. Jumlah angka penemuan penderita BTA (+) didapatkan dari bulan Januari September tahun 2018. Sehingga angka proporsi yang di dapatkan melebihi target yaitu 47, 95 %.

    • 2. Angka penemuan kasus TB (Case Detection Rate = CDR), adalah persentase jumlah pasien baru TB paru BTA positif yang ditemukan

    8

    dibanding jumlah pasien baru TB paru BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut. Target minimal 80 % (KEMENKES RI, 2014).

    Jumlah penemuan BTA ( )

    +

    Jumlah perkiraan BTA ( ) pada penduduk w ilayah ter tentu

    +

    100%

    Tabel 1.5. Angka Penemuan Penderita (CDR/ Case Detection Rate) TB di Puskesmas Kecamatan Menteng Januari September Tahun 2018

     

    PENEMUAN

    No.

    PUSKESMAS

    PERKIRAAN

    BTA POS (+)

    PENDERITA BTA

    CDR (%) b/a x 100%

    • (b) (target >80 %)

    • (a) POS (+)

    1.

    PKC Menteng

    69

    47

    68,11 %

     

    Jumlah

    69

    47

    68,11 %

    Sumber: Laporan Bulanan P2ML Puskesmas Kecamatan Menteng Januari September

    Keterangan :

    2018

    Jumlah angka perkiraan penderita BTA (+) di puskesmas kecamatan menteng didapatkan bulan Januari September tahun 2018. Jumlah angka penemuan penderita BTA (+) didapatkan dari bulan Januari September tahun 2018. Sehingga CDR/Case Detection Rate yang di dapatkan kurang dari target yaitu 68,11 %.

    • b. Indikator Pengobatan TB

      • 1. Angka konversi (Conversion Rate), adalah persentase pasien baru TB paru terkonfirmasi bakteriologis yang mengalami perubahan menjadi BTA negatif setelah menjalani masa pengobatan tahap awal. Angka minimal yang harus dicapai adalah 80 % (KEMENKES RI, 2014).

    Jumlah BTA ( ) menjadi BTA (-) setelah fase intensif

    +

    Jumlah BTA (

    +

    )

    100%

    Tabel 1.6. Angka Konversi (CVR/ Conversion Rate) Penderita TB di Puskesmas Kecamatan Menteng Januari September Tahun 2018

    No.

    PUSKESMAS

    PENEMUAN BTA POS (+)

    (a)

    PENEMUAN

    ANGKA

    PENDERITA

    KONVERSI (% )

    KONVERSI

    b/a x 100%

    • (b) (Target > 80%)

    1.

    PKC Menteng

    47

    29

    61,70 %

    JUMLAH

    47

    29

    61,70 %

    Sumber: Laporan Bulanan P2ML Puskesmas Kecamatan Menteng Januari September Tahun 2018

    Keterangan :

    Jumlah angka penemuan penderita BTA (+) di puskesmas kecamatan menteng didapatkan dari bulan Januari September tahun 2018. Jumlah angka penemuan penderita konversi didapatkan dari bulan Januari September tahun 2018. Sehingga CVR/Conversion Rate yang di dapatkan kurang dari target yaitu 61, 70%.

    • 2. Angka kesembuhan (Cure Rate), adalah angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan persentase pasien baru TB Paru Terkonfirmasi Bakteriologis yang sembuh setelah selesai masa pengobatan, diantara pasien baru TB Paru Terkonfirmasi Bakteriologis yang tercatat. Angka minimal yang harus dicatat adalah 85% (KEMENKES RI, 2014).

    Jumlah

    BTA ( ) menjadi BTA (-) setelah pengobatan selesai

    +

    Jumlah BTA (

    +

    )

    100%

    10

    Tabel 1.7. Angka Kesembuhan (Cure Rate) Penderita TB di Puskesmas Kecamatan Menteng April September Tahun 2018

    No.

    PUSKESMAS

    PENEMUAN BTA POS (+)

    (a)

    PENEMUAN BTA NEG (-) SETELAH PENGOBATAN SELESAI

    (b)

    CURE RATE (% ) b/a x 100%

    (Target > 85%)

    1.

    PKC Menteng

    2

    2

    100 %

    JUMLAH

    2

    2

    100 %

    Sumber: Laporan Bulanan P2ML Puskesmas Kecamatan Menteng Januari September Tahun 2018

    Keterangan :

    Jumlah angka penemuan penderita BTA (+) di puskesmas kecamatan menteng didapatkan dari bulan April September tahun 2018. Jumlah angka penemuan BTA (-) setelah pengobatan selesai didapatkan dari bulan April September tahun 2018. Sehingga CR/Cure Rate yang di dapatkan melebihi target yaitu

    100%.

    • 3. Angka putus berobat, adalah angka pasien putus berobat tidak boleh lebih dari 10% (KEMENKES RI, 2014). Jumlah pasien putus berobat jumlah pasien TB yang berobat 100%

    Tabel 1.8. Angka Putus Berobat Penderita TB di Puskesmas Kecamatan Menteng Januari September Tahun 2018

    No.

    PUSKESMAS

    Angka Putus

    Berobat

    (% )

    PENDERITA

    PUTUS

    PENEMUAN BTA POS (+)

    • (a) BEROBAT

      • (b) b/a x 100% (Target < 10%)

    1.

    PKC Menteng

    47

    9

    19,14 %

     

    JUMLAH

    47

    9

    19, 14 %

    Sumber: Laporan Bulanan P2ML Puskesmas Kecamatan Menteng Januari September Tahun 2018

    11

    Keterangan :

    Jumlah angka penemuan penderita BTA (+) di puskesmas kecamatan menteng didapatkan dari bulan Januari September tahun 2018. Jumlah penderita yang putus berobat didapatkan dari bulan Januari September tahun 2018. Sehingga angka putus berobat yang di dapatkan melebihi target yaitu 19,14%.

    1.2.2. Program Pengendalian Penyakit HIV/AIDS

    Untuk memberantas penyakit HIV/AIDS Puskesmas Kecamatan Menteng selalu memberikan penyuluhan kepada warga yang memiliki resiko tinggi. Kepada masyarakat umum juga dilakukan pemberian informasi melalui penyuluhan, poster, ataupun leaflet. Selain itu juga dilakukan skrining pada masyarakat yang beresiko serta ibu hamil wajib untuk melakukan rapid test HIV/AIDS (KEMENKES RI, 2015).

    Data penderita HIV/AIDS di wilayah Kecamatan Menteng tercatat sebanyak 31 orang. Jumlah penderita HIV positif yang dalam pengobatan dan jumlah pasien yang memenuhi syarat pengobatan ARV sebanyak 20 orang. Indikator persentase angka kasus HIV yang diobati sebesar 55% (KEMENKES RI, 2015).

    Setiap bulannya, Puskesmas Kecamatan Menteng melakukan Voluntary Counseling Test (VCT) dan Provider-Initiated Testing and Counseling (PITC) untuk screening HIV/AIDS pada pasien.

    Tabel 1.9. Jumlah Penemuan Kasus HIV/AIDS pada Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Menteng Januari September Tahun 2018

    Kelompok Usia

    VCT

    PITC

    HIV (+)

    <4

    6

    1

    0

    5-14

    1

    3

    0

    15-19

    56

    82

    0

    20-24

    294

    307

    3

    25-49

    824

    1089

    26

    ≥50

    71

    27

    2

    Total

    1252

    1509

    31

    Sumber : Laporan Bulanan VCT dan PITC Kecamatan Menteng Tahun 2018

    Berdasarkan tabel tersebut, pada periode Januari-September 2018 jumlah peserta yang mengikuti VCT sebanyak 1252 orang dengan rentang usia terbanyak pada 25-49 tahun sebanyak 824 orang dan jumlah peserta yang mengikuti PITC sebanyak 1509 orang dengan rentang usia terbanyak pada 25-49 tahun sebanyak 1089 orang. Jumlah peserta yang dikonfirmasi HIV (+) sebanyak 31 orang dengan rentang usia terbanyak pada 25-49 tahun sebanyak 26 orang.

    Tabel 1.10. Angka Kesakitan (Incidence Rate) HIV/AIDS di Puskesmas Kecematan Menteng Januari September Tahun 2018

    No.

    Puskesmas

    Jumlah Penemuan
    (a) Kasus HIV (+)

    Jumlah

    Angka Kesakitan (IR) HIV b/ax100%

    Penduduk

    • (b) (Target <0,43%)

     

    Kecamatan

    1.

    Menteng

    62.525

    31

    0,0005%

     

    Total

    62.525

    31

    0,0005%

    Sumber : Buku Register Pasien HIV/AIDS Kecamatan Menteng Tahun 2018

    Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa incidence rate (IR) HIV/AIDS di Puskesmas Kecamatan Menteng dibawah target yakni sebesar

    0,0005%.

    Tabel 1.11. Jumlah Penemuan Kasus HIV/AIDS yang Mendapat Pengobatan di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Menteng dari Januari September Tahun 2018

    Jumlah

    Pasien HIV

    (+)

    Memenuhi

    Syarat Terapi

    ARV

    Pasien

    dalam

    Terapi

    ARV

    Terapi

    OAT

    Drop Out

    Target

    31

    20

    20

    5

    0

    >55%

    Sumber : Register Pasien HIV/AIDS Kecamatan Menteng Tahun 2018 dan Register Pasien TB Kecamatan Menteng Tahun 2018

    Persentase kasus HIV yang diobati :

    ℎ ℎ ℎ × 100%

    • 20 20 × 100% = 100%

    Data ini menunjukkan angka kasus HIV/AIDS yang diobati di wilayah kerja Puskesmas se-Kecamatan Menteng periode Januari September 2018 mencapai target yaitu 100% dimana target angka kasus HIV/AIDS yang diobati adalah >55%.

    1.2.3. Program Pengendalian Penyakit Pneumonia

    Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak. Insidens menurut kelompok umur Balita diperkirakan 0,29 episode per anak/tahun di negara berkembang, hal ini menunjukkan bahwa terdapat 156 juta episode baru di dunia per tahun dimana 151 juta episode (96,7%) terjadi di negara berkembang. Episode batuk-pilek pada Balita di Indonesia diperkirakan 2-3 kali per tahun (Rudan et al Bulletin WHO 2008). ISPA merupakan salah satu penyebab utama kunjungan pasien di Puskesmas (40%-60%) dan rumah sakit (15%-30%) (KEMENKES RI,

    2012).

    Pneumonia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia terutama pada Balita. Menurut hasil Riskesdas 2007, pneumonia

    merupakan pembunuh nomor dua pada Balita (13,2%) setelah diare (17,2%). Faktor risiko yang berkontribusi terhadap insidens pneumonia tersebut antara lain gizi kurang, ASI ekslusif rendah, polusi udara dalam ruangan, kepadatan, cakupan imunisasi campak rendah dan BBLR (KEMENKES RI, 2012).

    Program pengendalian penyakit ISPA bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian karena pneumonia. Sedangkan tujuan khusus dari program ini adalah untuk (KEMENKES RI, 2012):

    • 1. Pengendalian Pneumonia Balita.

      • a. Tercapainya cakupan penemuan pneumonia Balita sebagai berikut (tahun 2010: 60%, tahun 2011: 70%, tahun 2012: 80%, tahun 2013: 90%, tahun 2014, 2015 dst: 100%)

      • b. Menurunkan angka kematian pneumonia Balita sebagai kontribusi penurunan angka kematian Bayi dan Balita, sesuai dengan tujuan MDGs (44 menjadi 32 per 1.000 kelahiran hidup) dan Indikator Nasional Angka Kematian Bayi (34 menjadi 23 per 1.000 kelahiran hidup).

  • 2. Pengendalian ISPA umur ≥ 5 tahun. Terlaksananya kegiatan Surveilans Sentinel Pneumonia di Rumah Sakit dan Puskesmas dari 10 provinsi pada tahun 2007 menjadi 33 provinsi pada akhir tahun 2014.

  • 3. Faktor risiko ISPA. Terjalinnya kerjasama/ kemitraan dengan unit program atau institusi yang kompeten dalam pengendalian faktor risiko ISPA khususnya Pneumonia. Untuk mengevaluasi program pengendalian ISPA dapat dilakukan analisa terhadap indikator-indikator sebagai berikut (KEMENKES RI, 2012):

  • a. Cakupan penemuan Pneumonia Balita

    Target penemuan penderita pneumonia Balita adalah jumlah penderita pneumonia Balita yang harus ditemukan atau dicapai di suatu wilayah dalam 1 tahun sesuai dengan kebijakan yang berlaku setiap tahun secara nasional (KEMENKES RI, 2012).

    Berikut adalah data penemuan kasus pneumonia balita di wilayah kerja Puskesmas se-Kecamatan Menteng dari bulan Januari September 2018.

    Tabel 1. 12. Cakupan Penemuan/ Case Detection Rate Pneumonia Balita di Puskesmas se-Kecamatan Menteng Januari September Tahun 2018

     

    Jumlah

    Jumlah

    Cakupan Penemuan

    Perkiraan

    Penderita

    Pneumonia

     

    Jumlah

    No.

    Puskesmas

    Pneumonia

    Pneumonia

    Balita (CDR)

     

    Balita

     

    Balita

    Balita

    b/a x 100%

    (a)

    (b)

    (Target =

     

    100%)

    • 1. 4.398

    PKC Menteng

    625

    291

    46,6%

    • 2. PKL Pegangsaan

    1.854

    185

    0

    0%

     

    Jumlah

    6.252

    810

    291

    35,9%

    Sumber: Laporan Bulanan Program Pengendalian ISPA Kecamatan Menteng,

    2018

    Data ini menunjukkan cakupan penemuan kasus Pneumonia Balita di wilayah kerja Puskesmas se-Kecamatan Menteng periode Januari September 2018 tidak mencapai target sebagaimana data yang terlampir pada tabel dimana target cakupan penemuan kasus Pneumonia pada Balita adalah 100%.

     

    b.

    Jumlah Kasus (Angka Kesakitan/ Incidence Rate) Pneumonia Balita

     

    Jumlah penderita pneumonia baru

     
     

    IR Pneumonia Balita =

     

    Jumlah bayi dan balita

    x 100%

    Tabel 1.13. Angka Kesakitan/ Incidence Rate Pneumonia Balita di Puskesmas se-Kecamatan Menteng Januari September Tahun 2018

     

    Jumlah

    Penderita

    IR Kasus

     

    Jumlah Balita

     

    Pneumonia Balita

    No.

    Puskesmas

    Pneumonia

     

    (a)

    Balita

    b/a x 100%

     

    (b)

    (Target <10%)

    • 1. PKC Menteng

    4.398

    291

    6,6 %

    • 2. PKL Pegangsaan

    1.854

    0

    0 %

     

    Jumlah

    8.106

    291

    3,6 %

     

    Sumber: Laporan Bulanan Program Pengendalian ISPA Kecamatan Menteng,

     

    2018

     

    Data ini menunjukkan angka kesakitan Pneumonia Balita di wilayah kerja Puskesmas se-Kecamatan Menteng periode Januari September 2018 mencapai target sebagaimana data yang terlampir pada tabel dimana target angka kesakitan Pneumonia pada Balita adalah <10%.

    c.

    Case Fatality Rate (CFR) dari Kasus Pneumonia Balita

    CFR Pneumonia Balita =

    Jumlah Kematian Balita karena Pneumonia

    Jumlah Kasus Pneumonia Balita

    x 100%

    Tabel 1.14. Angka Kematian/ Case Fatality Rate Kasus Pneumonia Balita di Puskemas se-Kecamatan Menteng Januari September Tahun 2018

     

    Jumlah

    Jumlah

    CFR Kasus

    Penderita

    Kematian

    Pneumonia

    No.

    Puskesmas

    Pneumonia

    Balita Karena

    Balita

     

    Balita

    Pneumonia

    b/a x 100%

    (a)

    • (b) (Target <2,3%)

    • 1. 291

    PKC Menteng

    0

    0%

    • 2. PKL Pegangsaan

    0

    0

    0%

     

    Jumlah

    291

    0

    0%

    Sumber: Laporan Bulanan Program Pengendalian ISPA Kecamatan Menteng,

    2018

    Data ini menunjukkan bahwa angka kematian balita karena pneumonia di Puskesmas se-Kecamatan Menteng periode Januari September 2018 mencapai target sebagaimana data yang terlampir pada tabel dimana target angka kematian balita karena Pneumonia adalah <2,3%. Hal ini menunjukkan bahwa Puskesmas Kecamatan Senen telah berkontribusi dalam penurunan angka kematian Bayi dan Balita sesuai dengan MDGs dan Indikator Nasional Angka Kematian Bayi.

    1.2.4. Program Pengendalian Penyakit Diare

    Penyakit diare masih merupakan penyakit potensial KLB, bila ada bencana banjir atau air PAM mati dalam waktu relatif lama. Kunjungan penderita di unit unit pelayanan kesehatanpun masih tetap tinggi maka perlu pemantauan harian. Pelaporan mingguan dalam rangka antisipasi terjadinya KLB. Tujuan progam P2 Diare adalah menurukan angka kematian akibat

    diare, tatalaksana diare standar dan meningkatkan penggunaan oralit di tingkat rumah tangga (DEPKES RI, 2009).

    • a. Incidence Rate

    =

    100

    Tabel 1.15. Angka Kesakitan (Incidence Rate/ IR) Diare di Puskesmas se- Kecamatan Menteng

     

    Incidense

     

    Jumlah

    Jumlah

     

    Rate

    No.

    Puskesmas

    Pendudu

    Penderita

     

    k

    Diare

    (Target

     

    <27%)

    • 1. Kecamatan

    43.982

    2.344

    5,32%

     

    Menteng

    • 2. 18.543

    Kelurahan

    254

    1,36%

     

    Pegangsaan

     

    Jumlah

    62.525

    2598

    4,1%

    Sumber : Laporan Bulanan P2ML Puskesmas Kecamatan Menteng Periode Januari September 2018

    Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa incidence rate (IR) diare di Puskesmas Kecamatan Menteng sesuai target yakni sebesar 4,1%.

    • b. Case Fatality Rate

    =

    100 %

    Tabel 1.16. Case Fatality Rate/ CFR Diare di Puskesmas se- Kecamatan Menteng Januari September 2018

     

    Jumlah

    Jumlah

    Case Fatality

    Penderita

    Kematian

    Rate

    No.

    Puskesmas

    Diare

    Penderita

    b/a x 100%

     

    (a)

    Diare

    (Target

     

    (b)

    <5%)

    • 1. 43.982

    PKC Menteng

    0

    0%

    • 2. PKL Pegangsaan

    18.543

    0

    0%

     

    Jumlah

    62.525

    0

    0%

    Sumber : Laporan Bulanan P2ML Puskesmas Kecamatan Menteng Periode Januari September 2018

    Berdasarkan tabel diatas, Case Fatality Rate (CFR) diare di Puskesmas Se- Kecamatan Menteng dibawah target yaitu sebesar 0%.

    1.2.5. Program Pengendalian Penyakit Kusta

    Penyakit kusta merupakan penyakit menular kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium Leprae, terutama menyerang saraf tepi dan seluruh organ tubuh, kecuali SSP (KEMENKES RI, 2012).

    Kegiatan program pemberantasan penyakit kusta meliputi penemuan kasus dini, diagnosis dan klasifiskasi, pengobatan, pembinaan pengobatan, pencegahan cacat dan perawatan dini, pencatatan dan pelaporan, penyuluhan kesehatan, dan penggerakan peran, dan manajemen holistik (KEMENKES RI, 2012).

    Jumlah penderita kusta di wilayah Kecamatan Menteng pada bulan Januari-September tahun 2018 sebanyak 7 orang yang merupakan kasus baru. Seluruh pasien tersebut menderita kusta tipe MB dan tanpa cacat tingkat 2 (KEMENKES RI, 2012).

    Suatu kabupaten/kota dinyatakan sebagai daerah beban rendah kusta apabila memenuhi semua indikator dibawah ini (KEMENKES RI, 2012):

    • 1. Angka penemuan kasus baru ≤ 5 / 100.000 penduduk atau jumlah total penemuan kasus baru < 30 kasus pertahun selama 3 tahun berturut turut.

    • 2. Kumulasi kasus baru dengan cacat tingkat 2 dalam 5 tahun terakhir sebanyak ≤ 25 kasus.

    IR Kusta

    Jumlah Kasus Baru Jumlah Populasi Beresiko x k

    =

    3

    =

    62.525

    = 4,7 %

    x 100.000

    Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa jumlah kasus baru di puskesmas sekecamatan Menteng pada bulan Januari-September tahun 2018 sebesar 4,7 / 100.000 penduduk.

    • 1.3 Identifikasi Masalah Program Pemberantasan Penyakit Menular Langsung (P2ML) merupakan suatu subsistem Puskesmas, untuk mendukung prasarana tersebut dibutuhkan beberapa fungsi yaitu:

      • 1. Proporsi pasien baru TB paru terkonfirmasi bakteriologis diantara terduga TB di Puskesmas Kecamatan Menteng sebesar 47,95%.

      • 2. Angka Penemuan Penderita (CDR) TB Puskesmas Kecamatan Menteng sebesar 68,11%.

      • 3. Angka Konversi Penderita TB di Puskesmas Kecamatan Menteng sebesar 61,70%

      • 4. Angka Putus Berobat Penderita TB di Puskesmas Kecamatan Menteng sebesar 19,14%

      • 5. Angka Penemuan Penderita Pneumonia Balita di Puskesmas se- Kecamatan Menteng sebesar 35,9 %.

    1.4

    Rumusan Masalah

    Setelah mengidentifikasi masalah dari program wajib Puskesmas se- Kecamatan Menteng maka dipilih program yang menjadi masalah, dengan cara menghitung dan membandingkan nilai kesenjangan antara apa yang diharapkan (expected) dengan apa yang telah terjadi (observed), selanjutnya dilakukan perumusan masalah untuk membuat perencanaan yang baik sehingga masalah yang ada dapat diselesaikan. Rumusan masalah dari Program P2ML di puskesmas adalah sebagai

    berikut:

    • 1. Proporsi pasien baru TB paru terkonfirmasi bakteriologis diantara terduga TB di Puskesmas Kecamatan Menteng sebesar 47,95% dengan target 5-15%, dikatakan melebihi target.

    • 2. Angka Penemuan Penderita (CDR) TB Puskesmas Kecamatan Menteng sebesar 68,11% dengan target > 80%, dikatakan tidak mencapai target.

    • 3. Angka Konversi Penderita TB di Puskesmas Kecamatan Menteng sebesar 61,70% dengan target > 80 %, dikatakan tidak mencapai target.

    • 4. Angka Putus Berobat Penderita TB di Puskesmas Kecamatan Menteng sebesar 19,14% dengan target < 10 %, dikatakan melebihi target.

    • 5. Angka Penemuan Penderita Pneumonia Balita di Puskesmas se- Kecamatan Menteng sebesar 35,9 % dengan target 100 %, dikatakan tidak mencapai target.

    BAB II

    PENETAPAN PRIORITAS MASALAH DAN PENYEBAB MASALAH

    2.1. Menetapkan Prioritas Masalah

    Masalah adalah kesenjangan antara apa yang diharapkan (expected) dengan apa yang aktual terjadi (observed). Idealnya, semua permasalahan yang timbul harus dicarikan jalan keluarnya. Namun, karena keterbatasan sumber daya, dana, dan waktu menyebabkan tidak semua permasalahan dapat dipecahkan sekaligus. Untuk itu perlu ditentukan masalah yang menjadi prioritas. Setelah pada tahap awal merumuskan masalah, maka dilanjutkan dengan menetapkan prioritas masalah yang harus dipecahkan. Prioritas masalah didapatkan dari data atau fakta yang ada secara kualitatif, kuantitatif, subjektif, objektif serta adanya pengetahuan yang cukup. Dalam penetapan prioritas masalah, digunakan teknik skoring dan pembobotan.

    Pada BAB I, terdapat 5 rumusan masalah dalam program pengendalian penyakit menular langsung di Puskesmas Kecamatan Menteng Periode Januari- September 2018. Seluruh masalah yang sudah didapatkan perlu ditetapkan masalah mana yang menjadi prioritas untuk diselesaikan. Tersedianya data kuantitatif memungkinkan penggunaan teknik skoring dalam menentukan prioritas masalah. Teknik skoring yang akan digunakan untuk menentukan prioritas masalah pada program pengendalian penyakit menular langsung di Puskesmas Kecamatan Menteng adalah teknik MCUA (Multiple Criteria Utility Assesment).

    2.1.1 Non-Scoring Technique Bila tidak tersedia data, maka cara penetapan prioritas masalah yang lazim digunakan adalah teknik non skoring. Dengan menggunakan teknik ini, masalah dinilai melalui diskusi kelompok, oleh sebab itu juga disebut “Nominal Group Technique” (NGT). NGT terdiri dari 2, yaitu:

    1) Metode Delbeq

    Menetapkan prioritas masalah menggunakan teknik ini dilakukan melalui diskusi dan kesepakatan sekelompok orang yang tidak sama keahliannya, sehingga untuk menentukan prioritas masalah, diperlukan penjelasan terlebih dahulu untuk memberikan pengertian dan pemahaman peserta diskusi, tanpa mempengaruhi peserta diskusi. Hasil diskusi ini adalah prioritas masalah yang disepakati bersama.

    2) Metode Delphi

    Masalah didiskusikan oleh sekelompok orang yang mempunyai keahlian yang sama melalui pertemuan khusus. Para peserta diskusi diminta untuk mengemukakan pendapat mengenai beberapa masalah pokok. Masalah yang terbanyak dikemukakan pada pertemuan tersebut, menjadi prioritas masalah.

    2.1.2 Scoring Technique

    Berbagai teknik penentuan prioritas masalah dengan menggunakan teknik skoring, antara lain:

    1) Metode Bryant

    Terdapat beberapa kriteria yang harus dipenuhi, yaitu:

    • 1. Prevalence

    Besarnya masalah yang dihadapi.

    • 2. Seriousness

    Pengaruh buruk yang diakibatkan oleh suatu masalah dalam masyarakat dan dilihat dari besarnya angka kesakitan dan angka kematian akibat masalah kesehatan tersebut.

    3.

    Manageability

    Kemampuan untuk mengelola dan berkaitan dengan sumber daya.

    • 4. Community concern

    Sikap dan perasaan masyarakat terhadap masalah kesehatan tersebut. Parameter diletakkan pada baris dan masalah-masalah yang ingin dicari prioritasnya diletakkan pada kolom. Kisaran skor yang diberikan adalah 1-5 yang ditulis dari arah kiri ke kanan sesuai baris untuk tiap masalah. Kemudian dengan penjumlahan dari arah atas ke bawah sesuai kolom untuk masing-masing masalah dihitung nilai skor akhirnya. Masalah dengan nilai tertinggi dapat dijadikan sebagai prioritas masalah. Tetapi metode ini juga memiliki kelemahan yaitu hasil yang didapat dari setiap masalah terlalu berdekatan sehingga sulit untuk menentukan prioritas masalah yang akan diambil.

    2) Metode Matematik PAHO

    Dalam metode ini parameter diletakkan pada kolom dan masalah-masalah yang ingin dicari prioritasnya diletakkan pada baris, dan digunakan kriteria untuk penilaian masalah yang akan dijadikan sebagai prioritas masalah. Kriteria yang dipakai ialah:

    • 1. Magnitude

    • 2. Severity

    • 3. Vulnerability

    • 4. Community and political concern

    • 5. Affordability

    Parameter diletakan pada kolom dan masalah yang ingin dicari prioritasnya diletakan pada baris. Pengisian dilakukan dari atas ke bawah. Hasilnya didapat dari perkalian parameter tersebut. Masalah yang mempunyai skor tertinggi, dijadikan sebagai prioritas masalah.

    3) Metode MCUA (Multiple Criteria Utility Assessment)

    Pada metode ini parameter diletakan pada baris dan harus ada kesepakatan mengenai bobot kriteria yang akan digunakan, dan masalah-masalah yang ingin dicari prioritasnya diletakan pada kolom. Metode ini memakai 5 kriteria untuk penilaian masalah tetapi masing-masing kriteria diberikan bobot penilaian dan dikalikan dengan penilaian masalah yang ada sehingga hasil yang didapat lebih objektif. Masalah dengan nilai tertinggi dapat dijadikan sebagai prioritas masalah. Kriteria yang dipakai terdiri dari:

    • 1. Emergency

    Menunjukkan seberapa fatal suatu permasalahan sehingga menimbulkan kematian atau kesakitan. Parameter yang digunakan dalam kriteria ini adalah Case Fatality Rate (CFR), jika masalah yang dinilai berupa penyakit. Adapun jika yang dinilai adalah masalah kesehatan lain, maka digunakan parameter kuantitatif berupa angka kematian maupun angka kesakitan yang dapat ditimbulkan oleh permasalahan tersebut.

    • 2. Greatest member

    Kriteria ini digunakan untuk menilai seberapa banyak penduduk yang terkena masalah kesehatan tersebut. Greatest member ditentukan dengan cara melihat selisih antara pencapaian suatu kegiatan pada sebuah program kesehatan dengan target yang telah ditetapkan.

    • 3. Expanding scope

    Menunjukkan seberapa luas pengaruh suatu permasalahan terhadap sektor lain di luar sektor kesehatan. Parameter penilaian yang digunakan adalah seberapa luas wilayah yang menjadi masalah, berapa banyak jumlah penduduk di wilayah tersebut, serta berapa banyak sektor di luar sektor kesehatan yang berkepentingan dengan masalah tersebut.

    • 4. Feasibility

    Menunjukkan seberapa mungkin masalah tersebut diselesaikan. Parameter yang digunakan adalah ketersediaan sumber daya manusia berbanding

    dengan jumlah kegiatan, fasilitas terkait dengan kegiatan bersangkutan yang menjadi masalah, serta ada tidaknya anggaran untuk kegiatan tersebut.

    5. Policy Masalah yang didapatkan merupakan masalah ekstra dari berbagai elemen termasuk pemerintah, maka sangat penting untuk menilai apakah masyarakat memiliki kepedulian terhadap masalah tersebut serta apakah kebijakan pemerintah mendukung terselesaikannya masalah tersebut. Hal tersebut dapat dinilai dengan apakah ada seruan atau kebijakan pemerintah yang concern terhadap permasalahan tersebut, apakah ada lembaga atau organisasi masyarakat yang concern terhadap permasalahan tersebut, serta apakah masalah tersebut terpublikasi di berbagai media.

    Untuk penilaian terhadap masing-masing masalah, maka masing-masing krteria harus diberikan bobot penilaian. Dalam menetapkan bobot, dibandingkan antara kriteria yang satu dengan yang lainnya mana yang memiliki bobot lebih tinggi. Maka disepakati nilai bobot berkisar antara 5 untuk kriteria yang dianggap paling penting sampai dengan 1 untuk kriteria yang dianggap kurang penting, dengan pembobotan masing-masing kriteria sebagai berikut:

    -

    Emergency

    • - Greatest Member

    : bobot 5

    : bobot 4

    • - Expanding Scope

    : bobot 3

    • - : bobot 2

    Feasibility

    • - : bobot 1

    Policy

    2.2 Pemilihan Metode MCUA

    Berdasarkan kriteria yang ada, maka diputuskan menggunakan metode ini. Karena parameter diletakkan pada baris dan harus ada kesepakatan mengenai bobot kriteria yang akan digunakan, dan masalah-masalah yang ingin dicari prioritasnya diletakkan pada kolom. Metode ini memakai 5 kriteria untuk penilaian masalah tetapi masing-masing kriteria diberikan bobot penilaian dan

    dikalikan dengan penilaian masalah yang ada sehingga hasil yang didapat lebih objektif. Masalah dengan nilai tertinggi dapat dijadikan sebagai prioritas masalah.

    Setelah mengidentifikasi masalah dari program wajib Puskesmas Kecamatan Senen maka akan dipilih cakupan program yang menjadi masalah, dengan cara menghitung dan membandingkan nilai kesenjangan antara apa yang diharapkan (expected) dengan apa yang telah terjadi (observed), selanjutnya dilakukan perumusan masalah untuk membuat perencanaan yang baik sehingga masalah yang ada dapat diselesaikan.

    A. EMERGENCY

    Emergency menunjukkan besar kerugian yang ditimbulkan oleh masalah. Ini ditujukan dengan angka kematian bayi atau Case Fatality Rate (CFR), angka kematian balita, angka kematian ibu, incidence rate pada masing- masing permasalahan program. Sedangkan untuk masalah-masalah yang tidak berhubungan dengan penyakit digunakan proxy CFR. Nilai proxy CFR didapatkan dari berbagai sumber, sedangkan sistem scoring proxy CFR ditentukan berdasarkan hasil diskusi, argumentasi, serta justifikasi.

    Tabel 2.1 Proxy

    No

    Masalah Program

    Proxy (%)

    1.

    Angka Putus Obat TB

    16,6%

    Tabel 2.2 Skala pada Score Emergency

    Range (%)

    Score

    11,89-19,435

    1

    19,436-26,981

    2

    26,982-34,527

    3

    34,528-42,073

    4

    42,074-49,616

    5

    49,620-57,165

    6

    57,166-64,711

    7

    64,712-72,257

    8

    72,258-79,803

    9

    79,804-87,349

    10

    Tabel 2.3 Penentuan Score Emergency Program P2ML di Wilayah Puskesmas Kecamatan Menteng Periode Januari September 2018

    Proxy

    No.

    Program dan

    Kegiatan

    Cakupan

    %

    (a)

    Target

    %

    (b)

    Masalah

    Program%

    (c)

    Nilai Proxy%

    (b-a) + c

    Skor

    1

    Proporsi pasien baru

    TB

    paru

    terkonfirmasi

    47,95

    bakteriologis diantara terduga TB

    di

    Puskesmas

    Kecamatan Menteng sebesar 47,95% melebihi target 5-

    15%.

    15

    0

    32,95

    3

    Proxy

    Program dan

    Cakupan

    Target

    Masalah

    Nilai

     

    Skor

    Program%

    Proxy%

    (c)

    (b-a) + c

    No.

     

    Kegiatan

    %

    %

     

    (a)

    (b)

    • 2 Angka Penemuan Penderita (CDR) TB Puskesmas Kecamatan Menteng sebesar 68,11% tidak mencapai target >80 %.

    68,11

    80

    0

    11,89

    1

    • 3 Angka

    Konversi

    61,70

    80

    0

    18,3

    1

    Penderita TB di

     

    Puskesmas Kecamatan Menteng

    sebesar 61,70% tidak

    mencapai

    target >

    80%.

     

    19,14

    10

    16,6

    87,34

    10

    • 4 Angka Putus Berobat Penderita TB di Puskesmas Kecamatan Menteng sebesar

    19,14%

    melebihi target < 10 %.

    No.

    Program dan

    Kegiatan

    Cakupan

    %

    (a)

    Target

    %

    (b)

    Proxy

    Masalah

    Program%

    (c)

    Nilai Proxy% (b-a) + c

    Skor

    5

    Angka Penemuan Penderita Pneumonia Balita di Puskesmas se- Kecamatan Menteng sebesar 35,9 % tidak mencapai target 100 %.

    35,9

    100

    0

    64,1

    7

    Total score

    22

    B. GREATEST MEMBER

    Greatest member menunjukkan berapa banyak penduduk yang terkena masalah atau penyakit yang ditunjukkan dengan angka incidence rate. Semakin besar selisih antara target dan cakupan, maka akan semakin besar skor yang didapatkan.

    Tabel 2.4 Skala pada Score Greatest Member

    Range (%)

    Score

    9,14-14,636

    1

    14,637-20,133

    2

    20,134-25,63

    3

    25,631-31,127

    4

    31,28-36,624

    5

    Range (%)

    Score

    36,625-42,121

    6

    42,122-47,618

    7

    47,619-53,115

    8

    53,116-58,612

    9

    58,613-64,109

    10

    Tabel 2.5 Penentuan Score Greatest Member Program P2ML di Wilayah Puskesmas Kecamatan Menteng Periode Januari September 2018

    Cakupan

    No.

    Program dan

    %

    Target%

    Selisih %

    Skor

    Kegiatan

    (b)

    (c)

     

    (a)

    • 1 Proporsi pasien baru TB

    paru

    47,95

    15

    32,95

    5

     

    terkonfirmasi bakteriologis diantara terduga TB di Puskesmas Kecamatan Menteng sebesar 47,95% melebihi target 5-

     

    15%

    • 2 Angka Penemuan Penderita (CDR) TB Puskesmas Kecamatan Menteng sebesar 68,11% kurang dari target >

    68,11

    80

    11,89

    1

    80%

    Program dan

    Cakupan

    No.

    Kegiatan

     

    %

    Target%

    Selisih %

    Skor

     

    (a)

    (b)

    (c)

    3

    Angka

    Konversi

    61,70

    80

    18,3

    2

    Penderita

    TB

    di

    Puskesmas Kecamatan Menteng

     

    sebesar

    61,70%

    kurang dari target >

    80 %

    4

    Angka

    Putus

    19,14

    10

    9,14

    1

    Berobat Penderita TB di Puskesmas

     

    Kecamatan Menteng

    sebesar

    19,14%

    melebihi target < 10 %

    5

    Angka

    Penemuan

    35,9

    100

    64,1

    10

    Penderita Pneumonia Balita di Puskesmas se- Kecamatan Menteng

    sebesar

    35,9

    %

    kurang

    dari

    target

    100 %,

    Total Score

     

    19

    C. EXPANDING SCOPE

    Expanding scope menunjukkan seberapa luas pengaruh suatu permasalahan terhadap sektor lain di luar kesehatan, berapa banyak jumlah penduduk di wilayah tersebut, serta ada tidaknya sektor di luar sektor kesehatan yang berkepentingan dengan masalah tersebut.

    Tabel 2.6 Penentuan Score Luas Wilayah

    Range Luas Wilayah

    Skor

    82,09-145,576 Ha

    1

    145,577- 209,063 Ha

    2

    209,064-272,55 Ha

    3

    272,551-336,037 Ha

    4

    336,038-399,524 Ha

    5

    399,525-463,011 Ha

    6

    463,012-526,498 Ha

    7

    526,499-589,985 Ha

    8

    589,986-653,472 Ha

    9

    Tabel 2.7 Penentuan Nilai Expanding Scope Berdasarkan Luas Wilayah

    No

    Wilayah

    Luas Area (Ha)

    Skor

    • 1 Kelurahan Kebon Sirih

    83,40

    1

    • 2 Kelurahan Gondangdia

    145,82

    2

    • 3 Kelurahan Cikini

    82,09

    1

    • 4 Kelurahan Menteng

    243,90

    3

    • 5 Kelurahan Pegangsaan

    98,25

    1

    • 6 Kecamatan Menteng

    653,46

    9

    Tabel 2.8 Penentuan Skor Jumlah Penduduk

    Range Jumlah Penduduk

    Skor

    1.000-10.000

    1

    10.001-20.000

    2

    20.001-30.000

    3

    30.001-70.000

    4

    Tabel 2.9 Penentuan Nilai Expanding Scope Berdasarkan Jumlah Penduduk

    No

    Jumlah

     

    Wilayah

    Penduduk

    Skor

    • 1 Kelurahan Kebon Sirih

    10.859

    2

    • 2 Kelurahan Gondangdia

    4.207

    1

    • 3 Kelurahan Cikini

    6.664

    1

    • 4 Kelurahan Menteng

    22.252

    3

    • 5 Kelurahan Pegangsaan

    18.543

    2

    • 6 Kecamatan Menteng

    62.525

    4

    Tabel 2.10 Penentuan Nilai Expanding Scope Berdasarkan Keterpaduan Lintas Program

    No.

    Keterpaduan

    Skor

    • 1 Tanpa Keterpaduan Program

    1

    • 2 Dengan Keterpaduan Program

    2

    Tabel 2.11 Penentuan Skor Expanding Scope

    Range

    Skor

    1-3

    1

    4-6

    2

    7-9

    3

    10-12

    4

    13-15

    5

    16-18

    6

    19-21

    7

    22-24

    8

    25-27

    9

    28-30

    10

    Tabel 2.12 Penentuan Score Expanding Score Program P2ML di Wilayah Puskesmas Kecamatan Menteng Periode Januari September 2018

    No.

    Program dan

    Kegiatan

    Penduduk

    Wilayah

    Keterpaduan

    Total

    Skor

    Proporsi pasien baru TB

    paru

    terkonfirmasi bakteriologis diantara terduga TB
    1. di Puskesmas Kecamatan Menteng sebesar 47,95% melebihi target 5-15%,

     
    • 4 9

    2

    15

    5

    Angka Penemuan Penderita (CDR) TB di Puskesmas
    2. Kecamatan menteng sebesar 68,11 kurang dari target 80%

     
    • 4 9

    2

    15

    5

     

    Angka

    Konversi

    Penderita

    TB

    di

    3

    • 4 9

    2

    15

    5

    Puskesmas Kecamatan Menteng sebesar 61,70% tidak mencapai target > 80 %

     

    Program dan

     

    No.

    Kegiatan

    Penduduk

    Wilayah

    Keterpaduan

    Total

    Skor

     

    Angka

    Putus

    Berobat Penderita

     

    TB

    di

    Puskesmas

    Kecamatan

     

    Menteng

    sebesar

    4

    • 4 9

    2

    15

    5

     

    19,14%

    melebihi

    target <10%.

     

    Angka Penemuan Penderita

     

    Pneumonia Balita di

    Puskesmas

    se-

    Kecamatan

    5.

    • 4 9

    2

    15

    5

     

    Menteng

    sebesar

    35,9

    % tidak

     

    mencapai target 100

    %

    D. FEASIBILITY Feasibility merupakan kriteria yang digunakan untuk menilai seberapa mungkin suatu masalah dapat diselesaikan. Pada dasarnya, kriteria ini adalah kriteria kualitatif, oleh karena itu perlu dibuat parameter kuantitatif sehingga penilaian terhadap kriteria ini menjadi obyektif.

    Adapun parameter yang digunakan untuk menilai apakah suatu masalah dapat diselesaikan meliputi:

    1. Rasio tenaga kesehatan Puskesmas terhadap jumlah penduduk. Semakin banyak jumlah tenaga kesehatan terhadap jumlah penduduk, maka kemungkinan suatu permasalahan terselesaikan akan semakin besar. Oleh karena itu, dilakukan penghitungan rasio tenaga kesehatan di setiap Puskesmas kelurahan terhadap jumlah penduduk yang menjadi sasaran program kesehatan di wilayah Puskesmas. Berikut adalah rasio tenaga kesehatan di tiap Puskesmas terhadap jumlah penduduk sasaran di wilayah Puskesmas tersebut:

    Tabel 2.13 Skoring Rasio Tenaga Kesehatan dengan Jumlah Penduduk di Puskesmas Kecamatan Menteng Periode Januari September 2018

    No

    Puskesmas

    Tenaga

    Kesehatan

    Jumlah

    Penduduk

    Ratio

    1

    2

    Kecamatan Menteng

    Kelurahan Pegangsaan

    127

    11

    43.982

    18.543

    1 : 346 1 : 1.685

    Sumber : Laporan Puskesmas Kecamatan Menteng Tahun 2017

    Tabel 2.14 Penentuan Score Rasio Tenaga Kesehatan dengan Jumlah Penduduk di Wilayah Kecamatan Menteng

    Range (%)

    Score

    • 1 5

    : 346 1 : 614

    : 615 1 : 883

    • 1 4

    1 : 884 1 : 1.152

    3

    • 1 : 1.153 1 : 1.421

    • 1 : 1.422 1 : 1.690

    2

    1

    2. Ketersediaan fasilitas (material), fasilitas juga merupakan hal yang dibutuhkan untuk menjalankan suatu kegiatan dan menyelesaikan suatu

    masalah

    dan

    cakupan

    kegiatan

    tersebut.

    Namun,

    fasillitas

    yang

    dibutuhkan

    oleh

    setiap

    kegiatan

    berbeda-beda.

    Oleh

    karena

    itu,

    dibuatkan kategori untuk fasilitas yang dibutuhkan oleh kegiatan tersebut.

    Kategori fasilitas digolongkan menjadi ketersediaan alat atau obat. Penilaian berdasarkan ada dalam jumlah mencukupi, ada namun kurang mencukupi dan tidak ada sama sekali. Digolongkan cukup bila dari kegiatan pelaksanaan program tidak ada masalah yaitu selalu tersedia dan diberi nilai 2. Digolongkan kurang bila tersedia namun jumlah kurang, atau terlambat datang, atau ada namun tidak layak pakai dan diberi nilai 1. Dan tidak ada bila tidak tersedia dan diberi nilai 0.

    Tabel 2.15 Skoring Ketersediaan Dana Terhadap Kegiatan di Puskesmas Kecamatan Menteng Periode Januari September 2018

    Kategori

    Ketersediaan

    Skor

    Alat/Obat

    Tidak ada

    0

    Ada tetapi kurang

    1

    Ada dan cukup

    2

    Tabel 2.16 Skoring Ketersediaan Dana Terhadap Kegiatan di Puskesmas Kecamatan Menteng Periode Januari September 2018

    No.

    Dana

    Skor

    • 1 Tidak ada

    0

    • 2 Ada tetapi kurang

    1

    • 3 Ada dan cukup

    2

    Tabel 2.17 Penentuan Score Feseability Score Program P2ML di Wilayah Puskesmas Kecamatan Menteng Periode Januari September 2018

     

    Program dan

     

    No.

    Kegiatan

     

    SDM

    Alat/Obat

    Dana

    Total

    Proporsi pasien baru TB paru terkonfirmasi bakteriologis diantara terduga TB di
    1 Puskesmas Kecamatan Menteng

    • 1 2

    2

    5

     

    sebesar

    47,95%

     

    melebihi target 5-15%

     

    Angka Penemuan Penderita (CDR) TB Puskesmas

     
    • 2 Kecamatan Menteng

    • 1 2

    2

    5

     

    sebesar

    68,11%

     

    kurang dari target

    >

    80%

     

    Angka

    Konversi

     

    Penderita

    TB

    di

    Puskesmas

    • 3 Kecamatan

    Menteng

    • 1 2

    2

    5

     

    sebesar

    61,70%

     

    kurang dari target 80 %

    >

    No.

    Program dan

    Kegiatan

    SDM

    Alat/Obat

    Dana

    Total

    Angka Putus Berobat

    Penderita

    TB

    di

    Puskesmas

    • 4 Kecamatan Menteng

    • 1 2

    2

    5

    sebesar

    19,14%

     

    melebihi

    target

    <

    10

    %

    Angka Penemuan Penderita Pneumonia Balita di Puskesmas

     
    • 1 2

    2

    5

    • 5 se-Kecamatan Menteng sebesar 35,9 % kurang dari target 100 %,

    E. POLICY Untuk dapat diselesaikan, aspek lain yang harus dipertimbangkan dari suatu masalah kesehatan adalah apakah pemerintah memiliki concern terhadap masalah tersebut. Parameter yang digunakan untuk menilai seberapa concern pemerintah adalah kebijakan pemerintah yang concern terhadap permasalahan tersebut, serta apakah masalah tersebut terpublikasi di berbagai media.

    Parameter tersebut diberikan nilai berdasarkan parameter yang paling mungkin sampai ke masyarakat. Publikasi suatu isu kesehatan di media cetak memiliki jangkauan yang lebih luas dibandingkan dengan penyuluhan. Maka skor untuk penyuluhan diberikan 1, sedangkan untuk iklan di media cetak diberikan nilai 2. Media elektronik yang memiliki jangkauan yang lebih luas dibandingkan dengan

    media cetak. Maka untuk adanya publikasi masalah kesehatan tersebut di media elektronik diberikan nilai 3.

    Tabel 2. 18 Skoring Kebijakan Pemerintah Terhadap Program P2ML pada Puskesmas Kecamatan Menteng Periode Januari September 2018

    No.

    Parameter

    Skor

    • 1 Peraturan Menteri Kesehatan

    1

    • 2 Undang-undang kesehatan

    2

    Tabel 2.19 Penentuan Nilai Policy Terhadap Promosi Kesehatan Puskesmas Kecamatan Menteng Periode Januari September 2018

    No.

    Parameter

    Skor

    • 1 Penyuluhan / media cetak / media elektronik

    1

    • 2 Penyuluhan + media cetak
      3 Penyuluhan + media cetak + media elektronik

    2

    3

    Tabel 2.20 Penentuan Skor Policy Program P2ML pada Puskesmas di Wilayah Puskesmas Kecamatan Menteng Periode Januari September

    2018

    No.

    Program dan Kegiatan

    Kebijakan

    Publikasi

    Parameter

    Total

    Proporsi pasien baru TB paru

     

    terkonfirmasi

    bakteriologis

    diantara terduga TB

    di

    • 1 se-Kecamatan

    Puskesmas

     
    • 1 3

    4

     

    Menteng

    sebesar

    47,95%

    melebihi target 5-15%.

     

    Angka

    Penemuan

    Penderita

    (CDR)

    TB

    Puskesmas

    • 2 Menteng

    Kecamatan

    sebesar

     
    • 1 3

    4

     

    68,11% tidak mencapai target >80 %

    Angka Konversi Penderita TB di Puskesmas Kecamatan Menteng
    3 sebesar 61,70% tidak mencapai target > 80%.

     
    • 1 2

    3

    Angka Putus Berobat Penderita TB di Puskesmas Kecamatan
    4 Menteng sebesar 19,14% melebihi target < 10 %.

     
    • 1 2

    3

     

    Angka Penemuan Penderita Pneumonia Balita di Puskesmas

     
    • 1 3

    4

    • 5 se-Kecamatan Menteng sebesar 35,9 % tidak mencapai target 100 %.

    Setelah diklasifikasikan berdasarkan kriteria-kriteria di atas, keseluruhan hasil penghitungan dari kriteria-kriteria tersebut dimasukkan ke dalam tabel penentuan masalah Program P2ML menurut metode MCUA untuk dikalikan dengan bobot masing-masing kriteria. Kemudian hasil perkaliannya dijumlahkan.

    Program P2ML menurut metode MCUA untuk dikalikan dengan bobot masing- masing kriteria. Kemudian hasil perkaliannya dijumlahkan.

    Tabel 2.21 Penentuan Masalah Program P2ML Menurut Metode MCUA MS-1 sampai dengan MS-5 di Puskesmas Kecamatan Menteng Periode Januari September 2018

    NO

       

    GREATEST

    EXPANDING

         

    Parameter

    EMERGENCY

    MEMBER

    SCOPE

    FEASIBILITY

    POLICY

    Bobot

     

    5

    4

    3

    2

    1

    TOTAL

     
    • 1 MS-1

    N

    3

    5

    5

    5

    4

    64

    BN

    15

    20

    15

    10

    4

     
    • 2 MS-2

    N

    1

    1

    5

    5

    4

    38

    BN

    5

    4

    15

    10

    4

     
    • 3 MS-3

    N

    1

    2

    5

    5

    3

    41

    BN

    5

    8

    15

    10

    3

     
    • 4 MS-4

    N

    10

    1

    5

    5

    3

    82

    BN

    50

    4

    15

    10

    3

     
    • 5 MS-5

    N

    7

    10

    5

    5

    4

    104

    BN

    35

    40

    15

    10

    4

    Keterangan:

    • 1. MS-1 Proporsi pasien baru TB paru terkonfirmasi bakteriologis diantara terduga TB di Puskesmas Kecamatan Menteng sebesar 47,95% dengan target 5-15%, dikatakan melebihi target.

    2 MS-2 Angka Penemuan Penderita (CDR) TB Puskesmas Kecamatan Menteng sebesar 68,11% dengan target > 80%, dikatakan tidak mencapai target.

    • 3 MS-3 Angka Konversi Penderita TB di Puskesmas Kecamatan Menteng sebesar 61,70% dengan target > 80 %, dikatakan tidak mencapai target.

    • 4 MS-4 Angka Putus Berobat Penderita TB di Puskesmas Kecamatan Menteng sebesar 19,14% dengan target < 10 %, dikatakan melebihi target.

    • 5 MS-5 Angka Penemuan Penderita Pneumonia Balita di Puskesmas se- Kecamatan Menteng sebesar 35,9 % dengan target 100 %, dikatakan tidak mencapai target.

    2.3 Prioritas Masalah Terpilih

    Berdasarkan skoring MCUA, maka dipilih prioritas masalah antara lain:

    • 1. MS-4 Angka Putus Berobat Penderita TB di Puskesmas Kecamatan Menteng sebesar 19,14% dengan target < 10 %, dikatakan melebihi target.

    • 2. MS-5 Angka Penemuan Penderita Pneumonia Balita di Puskesmas se- Kecamatan Menteng sebesar 35,9 % dengan target 100 %, dikatakan tidak mencapai target.

    2.4 Menentukan Kemungkinan Penyebab Masalah

    Setelah dilakukan penetapan prioritas terhadap masalah yang ada, selanjutnya ditentukan kemungkinan penyebab masalah untuk mendapatkan penyelesaian yang ada terlebih dahulu. Pada tahap sebelumnya telah dicoba mencari apa yang menjadi akar permasalahan dari setiap masalah yang merupakan prioritas. Pada tahap ini digunakan diagram sebab-akibat yang disebut juga dengan diagram tulang ikan (fishbone) atau diagram ishikawa. Dengan memanfaatkan pengetahuan dan dibantu dengan data yang tersedia, dapat disusun berbagai penyebab masalah secara teoritis.

    Penyebab masalah dapat timbul dari bagian input maupun proses. Input, yaitu sumber daya atau masukan oleh suatu sistem. Sumber daya antara lain man (sumber daya manusia), money (dana), material (sarana), method (cara). Sedangkan proses merupakan kegiatan sistem. Melalui proses, input akan diubah menjadi output, yang terdiri dari:

    • a. Planning (perencanaan) Sebuah proses yang dimulai dengan merumuskan tujuan organisasi sampai dengan menetapkan alternatif kegiatan untuk mencapainya.

    • b. Organizing (pengorganisasian) Rangkaian kegiatan manajemen untuk menghimpun semua sumber daya (potensi) yang dimiliki organisasi dan memanfaatkannya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan organisasi.

    • c. Actuating (pelaksanaan) Proses bimbingan kepada staf agar mereka mampu bekerja secara optimal menjalankan tugas-tugas pokoknya sesuai dengan keterampilan yang telah dimiliki dan dukungan sumber daya yang tersedia.

    • d. Controlling (monitoring) Proses untuk mengamati secara terus-menerus pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana kerja yang sudah disusun dan mengadakan koreksi (evaluating) jika terjadi penyimpangan.

    Berikut ini adalah prioritas masalah yang akan ditetapkan penyebab masalahnya dengan menggunakan diagram fishbone:

    • 1. MS-4 Angka Putus Berobat Penderita TB di Puskesmas Kecamatan Menteng sebesar 19,14% dengan target < 10 %, dikatakan melebihi target.

    • 2. MS-5 Angka Penemuan Penderita Pneumonia Balita di Puskesmas se- Kecamatan Menteng sebesar 35,9 % dengan target 100 %, dikatakan tidak mencapai target.

    Bagan 2.1. Fishbone Angka Putus Berobat Penderita Tuberkulosis di Puskesmas Kecamatan Menteng

    Method Man
    Method
    Man
    Bagan 2.1. Fishbone Angka Putus Berobat Penderita Tuberkulosis di Puskesmas Kecamatan Menteng Method Man Material Money
    Bagan 2.1. Fishbone Angka Putus Berobat Penderita Tuberkulosis di Puskesmas Kecamatan Menteng Method Man Material Money
    Material
    Material
    • Money

    Alokasi dana yang tidak proporsional
    Alokasi dana yang
    tidak proporsional
    Bagan 2.1. Fishbone Angka Putus Berobat Penderita Tuberkulosis di Puskesmas Kecamatan Menteng Method Man Material Money
    Kurangnya peran PMO terhadap pasien
    Kurangnya peran
    PMO terhadap
    pasien
    Controlling
    Controlling
    Bagan 2.1. Fishbone Angka Putus Berobat Penderita Tuberkulosis di Puskesmas Kecamatan Menteng Method Man Material Money
    Petugas puskesmas kurang aktif memantau PMO Actuating Organizing
    Petugas
    puskesmas kurang
    aktif memantau
    PMO
    Actuating
    Organizing
    Bagan 2.1. Fishbone Angka Putus Berobat Penderita Tuberkulosis di Puskesmas Kecamatan Menteng Method Man Material Money
    Bagan 2.1. Fishbone Angka Putus Berobat Penderita Tuberkulosis di Puskesmas Kecamatan Menteng Method Man Material Money
    Planning
    Planning
    Bagan 2.1. Fishbone Angka Putus Berobat Penderita Tuberkulosis di Puskesmas Kecamatan Menteng Method Man Material Money
    Bagan 2.1. Fishbone Angka Putus Berobat Penderita Tuberkulosis di Puskesmas Kecamatan Menteng Method Man Material Money
    Bagan 2.1. Fishbone Angka Putus Berobat Penderita Tuberkulosis di Puskesmas Kecamatan Menteng Method Man Material Money
    Environment
    Environment
    Angka Putus Berobat Penderita TB di Puskesmas Kecamatan Menteng sebesar 19,14% dengan target < 10 %,
    Angka Putus
    Berobat
    Penderita TB di
    Puskesmas
    Kecamatan
    Menteng
    sebesar 19,14%
    dengan target <
    10 %,
    dikatakan
    melebihi target.

    Bagan 2.2. Fishbone Angka Penemuan Penderita Pneumonia Balita di Puskesmas se-Kecamatan Menteng

    P
    P
    Man Method Money Material Environment Planning Actuating Controlling Organizing
    Man
    Method
    Money
    Material
    Environment
    Planning
    Actuating
    Controlling
    Organizing
    Angka Penemuan Penderita Pneumonia Balita di Puskesmas se- Kecamatan Menteng sebesar 35,9 % dengan target 100
    Angka
    Penemuan
    Penderita
    Pneumonia
    Balita di
    Puskesmas se-
    Kecamatan
    Menteng
    sebesar 35,9 %
    dengan target
    100 %,
    dikatakan tidak
    mencapai
    target

    2.5 Mencari Penyebab Masalah Yang Paling Dominan

    Pada tahap ini yang dilakukan adalah menentukan penyebab masalah yang paling dominan, yaitu dari dua prioritas masalah yang mungkin dengan menggunakan metode Ishikawa atau lebih dikenal dengan fishbone (diagram tulang ikan), yang telah dikonfirmasi dengan data menjadi akar penyebab masalah (yang terdapat pada lingkaran). Dari akar penyebab masalah tersebut, dapat dicari akar penyebab masalah yang paling dominan. Penyebab masalah yang paling dominan adalah penyebab masalah yang apabila diselesaikan dapat menyelesaikan sebagian besar permasalahan yang ada. Penentuan akar penyebab masalah yang paling dominan adalah dengan cara diskusi, argumentasi, justifikasi dan pemahaman program yang cukup. Di bawah ini adalah penyebab masalah yang dominan dalam program di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Menteng:

    2.5.1 Angka Putus Berobat Penderita TB di Puskesmas Kecamatan Menteng sebesar 19,14% dengan target < 10 %, dikatakan melebihi target.

    Akar penyebab masalah pada input adalah:

    • 1. Kurangnya waktu petugas untuk melatih PMO. (Man)

    • 2. Distribusi dana yang tidak tepat waktu. (Money)

    • 3. Alokasi dana yang tidak proporsional. (Material)

    • 4. Petugas banyak melakukan pekerjaan yang lain (Method)

    Akar penyebab masalah pada process adalah :

    • 1. Kurang terjalinnya komunikasi yang efektif. (Planning)

    • 2. Kurangnya evaluasi pelaporan hasil program. (Organizing)

    • 3. Petugas mengerjakan pekerjaan yang lain. (Actuating)

    • 4. Petugas puskesmas kurang aktif memantau PMO. (Controlling)

    • 5. Kurangnya edukasi tentang pentingnya peran PMO dalam pengobatan TB paru pada pasien. (Environment)

    Dari sembilan penyebab yang paling mungkin diperoleh tiga penyebab yang paling dominan berdasarkan hasil diskusi dan justifikasi sebagai berikut:

    • 1. Kurangnya waktu petugas untuk melatih PMO. (Man)

    • 2. Kurangnya evaluasi pelaporan hasil program. (Organizing)

    • 3. Kurang terjalinnya komunikasi yang efektif. (Planning)

    2.5.2 Angka Penemuan Penderita Pneumonia Balita di Puskesmas se-Kecamatan Menteng sebesar 35,9 % dengan target 100 %, dikatakan tidak mencapai target.

    Akar penyebab masalah pada input adalah:

    • 1. Kurangnya petugas yang menguasai bidang tersebut (Man)

    • 2. Dana yang terbatas (Method)

    • 3. Alokasi dana diprioritaskan untuk program lain (Money)

    • 4. Kurangnya koordinasi petugas dalam mengelola form (Material)

    Akar penyebab masalah pada process adalah:

    • 1. Petugas menganggap program sebelumnya sudah baik (Planning)

    • 2. Ketidaksamaan format dalam pencatatan data (Organizing)

    • 3. Petugas sibuk mengerjakan pekerjaan yang lain (Actuating)

    • 4. Satu petugas membawahi beberapa program (Controlling)

    • 5. Padatnya jadwal kegiatan lain di puskesmas (Environment)

    Dari sembilan penyebab yang paling mungkin diperoleh tiga penyebab berdasarkan hasil diskusi dan justifikasi sebagai berikut:

    • 1. Kurangnya petugas yang menguasai bidang tersebut (Man)

    • 2. Satu petugas membawahi beberapa program (Controlling)

    • 3. Petugas menganggap program sebelumnya sudah baik (Planning)

    BAB III MENETAPKAN ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH

    3.1 Menetapkan Alternatif Pemecahan Masalah

    Setelah menentukan akar penyebab masalah yang paling dominan, ditentukan alternatif pemecahan masalah. Penetapan alternatif pemecahan masalah dengan menggunakan metode MCUA (Multiple Criteria Utility Assessment), yaitu dengan memberikan skoring 1 - 3 pada bobot berdasarkan hasil diskusi, argumentasi dan justifikasi kelompok.

    Parameter diletakkan pada baris, sedangkan alternatif diletakkan pada kolom. Selanjutnya kepada setiap masalah diberikan nilai dari kolom kiri ke kanan sehingga hasil yang didapatkan merupakan perkalian antara bobot kriteria dengan skor dari setiap alternatif masalah dan dijumlahkan tiap baris menurut setiap kriteria berdasarkan masing-masing alternatif masalah tersebut.

    Kriteria dalam penetapan alternatif masalah yang terbaik adalah:

    • 1. Mudah dilaksanakan Diberi nilai terbesar jika alternatif masalah tersebut paling mudah dilaksanakan dan diberi nilai terkecil jika masalah yang paling sulit dilaksanakan.

    • 2. Murah biayanya Diberi nilai terbesar jika alternatif masalah paling murah biayanya dan diberi nilai terkecil jika biaya yang paling mahal untuk pelaksanaan.

    • 3. Waktu penerapan sampai masalah terpecahkan tidak lama Diberi nilai terbesar jika alternatif masalah tersebut waktu penerapan sampai masalah terpecahkan tidak lama untuk dilaksanakan dan diberi nilai terkecil jika waktu penerapan sampai masalah terpecahkan lama.

    4. Dapat memecahkan masalah dengan sempurna Diberi nilai terbesar jika alternatif masalah dapat memecahkan masalah dengan sempurna dan diberi nilai terkecil jika masalah tidak dapat memecahkan masalah dengan sempurna.

    3.1.1 Alternatif Pemecahan Masalah Angka Putus Beobat Penderita TB di Puskesamas Kecamatan Menteng sebesar 19,14% dengan target <10%

    Dari 9 akar penyebab masalah yang paling dominan ditetapkan alternatif masalah

    sebagai berikut:

    • 1. Kurangnya waktu petugas untuk melatih PMO (Man) Alternatif pemecahan masalah: Mengusulkan kepada petugas untuk meluangkan waktu dalam melatih PMO

      • 2. Kurangnya evaluasi pelaporan hasil program (Organizing) Alternatif pemecahan masalah: Mengusulkan petugas untuk mengevaluasi laporan hasil program setiap bulan.

      • 3. Kurang terjalinnya komunikasi yang efektif antara petugas dan PMO