Anda di halaman 1dari 25

REFERAT

POLIP NASI

Oleh:
Inez Talitha
1102013134

Pembimbing:
dr. Yozyta Rachman, Sp.THT
dr. Yohanes Yan Runtung, Sp.THT
dr. Cheppy Ahwil, Sp.THT-KL
dr. Farisa Rizky, Sp.THT-KL
dr. Esyandi, Sp.THT
dr. Sri Mahanny

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN THT


RUMAH SAKIT BHAYANGKARA TK. I R. SAID SUKANTO
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
PERIODE: 6 AGUSTUS – 8 SEPTEMBER 2018

0
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI...................................................................................................... 1
BAB I PENDAHULUAN........................................................................ 2
1.1 Latar Belakang 2
..............................................................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................... 3
2.1. Anatomi Hidung 3
.......................................................................................................
2.2 Fisiologi Hidung 8
..............................................................................................
2.3 Polip Nasi 12
..............................................................................................
2.3.1 Definisi 12
..................................................................................
2.3.2 Epidemiologi 12
..................................................................................
2.3.3 Etiopatogenesis 12
..................................................................................
2.3.4 Manifestasi Klinis 16
..................................................................................
2.3.5 Diagnosis 16
..................................................................................
2.3.6 Diagnosis Banding 18
..................................................................................
2.3.7 Tatalaksana 19
..................................................................................
2.3.8 Prognosis 23
..................................................................................
BAB III PENUTUP..................................................................................... 24
3.1 Kesimpulan 24
..............................................................................................
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 25

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

1
Polip nasi merupakan masalah medis dan masalah sosial karena dapat
mempengaruhi kualitas hidup penderita baik pendidikan, pekerjaan, aktivitas
harian dan kenyamanan. Polip nasi merupakan mukosa hidung yang mengalami
inflamasi dan menimbulkan prolaps mukosa di dalam rongga hidung. Polip nasi
ini dapat dilihat melalui pemeriksaan rinoskopi dengan atau tanpa bantuan
endoskopi.1,2
Prevalensi penderita polip nasi belum diketahui pasti karena hanya sedikit
laporan dari hasil studi epidemiologi serta tergantung pada pemilihan populasi
penelitian dan metode diagnostik yang digunakan. Prevalensi polip nasi
dilaporkan 1-2% pada orang dewasa di Eropa dan 4,3% di Finlandia. Dengan
perbandingan pria dan wanita 2- 4:1. Di Amerika Serikat prevalensi polip nasi
diperkirakan antara 1-4 %. Pada anak-anak sangat jarang ditemukan dan
dilaporkan hanya sekitar 0,1%. Penelitian Larsen dan Tos di Denmark
memperkirakan insidensi polip nasi sebesar 0,627 per 1000 orang per tahun
(Bateman 2003, Ferguson et al.2006).3,4
Etiologi dan patogenesis dari polip nasi belum diketahui secara pasti.
Sampai saat ini, polip nasi masih banyak menimbulkan perbedaan pendapat.
Dengan patogenesis dan etiologi yang masih belum ada kesesuaian, maka
sangatlah penting untuk dapat mengenali gejala dan tanda polip nasi untuk
mendapatkan diagnosis dan pengelolaan yang tepat.2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. ANATOMI HIDUNG

2
Hidung luar berbentuk pyramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke
bawah: 1) pangkal hidung (bridge), 2) dorsum nasi, 3) puncak hidung, 4) ala
nasi, 5) kolumela dan 6) lubang hidung (nares anterior). Hidung luar dibentuk
oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit, jaringan ikat
dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan
lubang hidung. Kerangka tulang terdiri dari 1) tulang hidung (os nasalis), 2)
prosesus frontalis os maksila dan 3) prosesus nasalis os frontal, sedangkan
kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang terletak
di bagian bawah hidung, yaitu 1) sepasang kartilago nasalis lateralis superior,
2) sepasang kartilago nasalis lateralis inferior yang disebut juga sebagai
kartilago ala mayor, 3) beberapa pasang kartilago ala minor dan 4) tepi anterior
kartilago septum.2

Gambar 2.1 Kerangka tulang dan tulang rawan

3
Rongga hidung atau kavum nasi berbentuk terowongan dari depan ke
belakang, dipisahkan oleh septum nasi di bagian tengahnya menjadi kavum
nasi kanan dan kiri. Pintu atau lubang masuk kavum nasi bagian depan disebut
nares anterior dan lubang belakang disebut nares posterior (koana) yang
menghubungkan kavum nasi dengan nasofaring2.

Gambar
Bagian kavum nasi 2.2 Dinding
yang lateral
letaknya kavum
sesuai nasi ala nasi, tepat di
dengan
belakang nares anterior, disebut vestibulum. Vestibulum ini dilapisis oleh kulit
yang mempunyai banyak kelenjar sebasea dan rambut-rambut panjang yang
disebut vibrise.2
Tiap kavum nasi mempunyai 4 buah dinding, yaitu dinding medial,
lateral, inferior dan superior. 2
Dinding medial hidung adalah septum nasi. Septum dibentuk oleh
tulang dan tulang rawan. Bagian tulang adalah (1) lamina prependikularis os
etmoid, (2) vomer, (3) Krista nasalis os maksila dan (4) krista nasalis os
palatine. Bagian tulang rawan adalah (1) kartilago septum (lamina
kuadrangularis) dan (2) kolumela. Bagian superior dan posterior disusun oleh
lamona prependikularis os etmoid dan bagian anterior oleh kartilago septum
(quadrilateral), premaksila, dan kolumna membranousa. Bagian inferior,
disusun oleh vomer, maksila, dan tulang palatine dan bagian posterior oleh

4
lamina sphenoidalis. Septum dilapisi oleh perikondrium pada bagian tulang
rawan dan periostium pada bagian tulang, sedangkan diluarnya dilapisi pula
oleh mukosa hidung.

Gambar 2.3 Septum nasi

Bagian depan dinding lateral hidung licin, yang disebut ager nasi dan
di belakangnya terdapat konka-konka yang mengisi sebagian besar dinding
lateral hidung. Pada dinding lateral terdapat 4 buah konka, yang terbesar dan
letaknya paling bawah ialah konka inferior, kemudian yang lebih kecil ialah
konka media, lebih kecil lagi adalah konka superior, sedangkan yang terkecil
disebut konka suprema. Konka suprema ini biasanya rudimenter. Konka
inferior merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os maksila dan labirin
etmoid, sedangkan konka media, superior dan suprema merupakan bagian dari
labirin etmoid. 2
Di antara konka-konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga
sempit yang disebut meatus. Tergantung dari letak meatus, ada tiga meatus
yaitu meatus inferior, medius, dan superior. Meatus inferior terletak diantara
konka inferior dengan dasar hidung dan dinding lateral rongga hidung. Pada
meatus inferior terdapat muara (ostium) duktus nasolakrimalis. Meatus medius

5
terletak diantara konka media dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus
medius terdapat bula etmoid, prosesus unsinatus, hiatus semilnaris dan
infundibulum etmoid. Hiatus semilunaris merupakan suatu celah sempit
melengkung dimana terdapat muara sinus frontal, sinus maksila dan sinus
etmoid anterior. Pada meatus superior yang merupakan ruang diantara konka
superior dan konka media terdapat muara sinus etmoid posterior dan sinus
sphenoid. Dinding inferior merupakan dasar rongga hidung dan dibentuk oleh
os maksila dan os palatum.2
Dinding superior atau atap hidung sangat sempit dan dibentuk oleh
lamina kribiformis, yang memisahkan rongga tengkorak dari rongga hidung.

Perdarahan :
Arteri yang paling penting pada perdarahan kavum nasi adalah A.sfenopalatina
yang merupakan cabang dari A.maksilaris dan A. Etmoidale anterior yang
merupakan cabang dari A. Oftalmika. Vena tampak sebagai pleksus yang
terletak submukosa yang berjalan bersama – sama arteri.

Persarafan :
1. Anterior kavum nasi dipersarafi oleh serabut saraf dari N. Trigeminus
yaitu N. Etmoidalis anterior.
2. Posterior kavum nasi dipersarafi oleh serabut saraf dari ganglion
pterigopalatinum masuk melalui foramen sfenopalatina kemudian menjadi
N. Palatina mayor menjadi N. Sfenopalatinus.

Mukosa Hidung
Rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang secara histologik dan fungsional
dibagi atas mukosa pernafasan dan mukosa penghidu. Mukosa pernafasan terdapat
pada sebagian besar rongga hidung dan permukaannya dilapisi oleh epitel torak
berlapis semu yang mempunyai silia dan diantaranya terdapat sel – sel goblet.
Pada bagian yang lebih terkena aliran udara mukosanya lebih tebal dan kadang –
kadang terjadi metaplasia menjadi sel epital skuamosa. Dalam keadaan normal

6
mukosa berwarna merah muda dan selalu basah karena diliputi oleh palut lendir
(mucous blanket) pada permukaannya. Palut lendir ini dihasilkan oleh kelenjar
mukosa dan sel goblet.
Silia yang terdapat pada permukaan epitel mempunyai fungsi yang
penting. Dengan gerakan silia yang teratur, palut lendir di dalam kavum nasi akan
didorong ke arah nasofaring. Dengan demikian mukosa mempunyai daya untuk
membersihkan dirinya sendiri dan juga untuk mengeluarkan benda asing yang
masuk ke dalam rongga hidung. Gangguan pada fungsi silia akan menyebabkan
banyak sekret terkumpul dan menimbulkan keluhan hidung tersumbat. Gangguan
gerakan silia dapat disebabkan oleh pengeringan udara yang berlebihan, radang,
sekret kental dan obat – obatan.
Mukosa penghidu terdapat pada atap rongga hidung, konka superior dan
sepertiga bagian atas septum. Mukosa dilapisi oleh epitel torak berlapis semu dan
tidak bersilia (pseudostratified columnar non ciliated epithelium). Epitelnya
dibentuk oleh tiga macam sel, yaitu sel penunjang, sel basal dan sel reseptor
penghidu. Daerah mukosa penghidu berwarna coklat kekuningan.

Gambar 2.4. Mukosa Hidung

2.2. FISIOLOGI HIDUNG

7
Untuk fisiologi hidung terkait dengan polip, pertama kita harus
memahami Kompleks Osteomeatal (KOM), dimana struktur ini tersusun
dari prosessus unsinatus, infundibulum etmoid, hiatus semilunaris, bula
etmoid, agger nasi, dan ressesuss frontalis. KOM ini merupakan unit
fungsional yang merupakan tempat ventilasi dan drainase dasri sinus-sinus
anterior (maksila, etmoid anterior dan frontal). Karena fungsinya tersebut
maka seandainya terjadi obstruksi pada celah yang sempit ini, maka akan
terjadi perubahan yang signifikan pada sinus-sinus terkait serta perubahan
pada mukosa yang menjadi salah satu predisposisi terjadinya polip
hidung.1
Beberapa fungsi hidung juga antara lain : 1,2
1. Sebagai jalan nafas
Pada inspirasi, udara masuk melalui nares anterior, lalu naik ke atas setinggi
konka media dan kemudian turun ke bawah ke arah nasofaring, sehingga
aliran udara ini berbentuk lengkungan atau arkus. Pada ekspirasi, udara
masuk melalui koana dan kemudian mengikuti jalan yang sama seperti udara
inspirasi. Akan tetapi di bagian depan aliran udara memecah, sebagian lain
kembali ke belakang membentuk pusaran dan bergabung dengan aliran dari
nasofaring.

2. Pengatur kondisi udara (air conditioning)


Fungsi hidung sebagai pengatur kondisi udara perlu untuk mempersiapkan
udara yang akan masuk ke dalam alveolus. Fungsi ini dilakukan dengan cara:

a. Mengatur kelembaban udara. Fungsi ini dilakukan oleh palut lendir. Pada
musim panas, udara hampir jenuh oleh uap air, penguapan dari lapisan ini
sedikit, sedangkan pada musim dingin akan terjadi sebaliknya.
b. Mengatur suhu. Fungsi ini dimungkinkan karena banyaknya pembuluh
darah di bawah epitel dan adanya permukaan konka dan septum yang
luas, sehingga radiasi dapat berlangsung secara optimal. Dengan
demikian suhu udara setelah melalui hidung kurang lebih 37o C.
3. Sebagai penyaring dan pelindung

8
Fungsi ini berguna untuk membersihkan udara inspirasi dari debu dan bakteri
dan dilakukan oleh:

a. Rambut (vibrissae) pada vestibulum nasi


b. Silia
Transpor benda asing yang tertimbun dari udara inspirasi ke faring di
sebelah posterior, di mana kemudian akan ditelan atau diekspektorans,
merupakan kerja silia yang menggerakan lapisan mukus dengan partikel
yang terperangkap. Aliran turbulen dalam hidung memungkinkan
paparan yang sangat luas antara udara inspirasi dengan epitel hidung dan
lapisan mukusnya,lapisan mukus berupa selubung sekret kontinyu yang
sangat kental, meluas ke seluruh ruang dan sudut hidung, sinus, tuba
eustakius, faring, dan seluruh cabang bronkus.
Mukus hidung disamping berfungsi sebagai alat transportasi partikel
yang tertimbun dari udara inspirasi, juga memindahkan panas, normalnya
mukus menghangatkan udara inspirasi dan mendinginkan ekpirasi, serta
melembabkan udara isnpirasi dengan lebih dari satu liter uap setiap
harinya. Namun, bahkan dengan jumlah uap demikian sering kali tidak
memadai untuk melembabkan udara yang sangat kering, sering kali
terdapat di rumah-rumah dengan pemanasan selama musim dingin. Hal
ini dapat berakibat mengeringnya mukosa yang disertai berbagai ganguan
hidung. Derajat kelembaban selimut mukus ditentukan oleh stimulasi
saraf pada kelenjar seromukosa pada submukosa hidung.
Arah gerakan mukus dalam hidung umumnya ke belakang. Karena silia
lebih aktif pada meatus media dan inferior yang terkandung, maka
cenderung menarik lapisan mukus dari lapisan meatus komunis ke dalam
celah-celah ini. Arah gerakan septum adalah kebelakang dan agak ke
bawah menuju dasar. Pada dasar hidung, arahnya kebelakang dengan
kecenderungan bergerak di bawah konka inferior ke dalam meatus
inferior. Pada sisi medial konka, arah gerakan kebelakang dan kebawah,
lewat dibawah tepi inferior dari meatus yang bersesuaian. Drainase dari

9
daerah tak bersilia pada sepertiga anterior hidung sebelumnya praktis
lewat meatus. Ini merupakan daerah yang paling banyak mengumpulkan
kontaminan udara.
Lapisan mukus, disamping menangkap dan mengeluarkan partikel lemah,
juga merupakan sawar terhadap alergen, virus dan bakteri. Akan tetapi
walaupun organisme hidup mudah dibiak dari segmen hidung anterior,
sulit untuk mendapat suatu biakan postnasal yang positif. Lisozim, yang
terdapat pada lapisan mukus, bersifat destruktif terhadap dindiong
sebagian bakteri. Fagositosis aktif dalam membran hidung merupakan
bentuk proteksi di bawah permukaan. Membran sel pernapasan juga
memberikan imunitas induksi seluler.
Sejumlah imunoglobulin dibentuk dalam mukosa hidung, sesuai
kebutuhan fisiologik, telah diamati adanya IgG, IgA dan IgE. Rinitis
alergika terjadi bila alergen yang terhirup berkontak dengan antibodi IgE
sehingga antigen tersebut terfiksasi pada mukosa hidung dan sel mast
submukosa. Selanjutnya dihasilkan dan dilepaskan mediator radang yang
menimbulkan perubahan mukosa hidung yang khas.
4. Indra Penghidu
Hidung juga bekerja sebagai indra penghidu dengan adanya mukosa
olfaktorius pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian atas
septum. Partikel bau dapat mencapai daerah ini dengan cara difusi dengan
palut lendir atau bila menarik nafas dengan kuat.

5. Resonansi suara
Penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan menyanyi. Sumbatan
hidung akan menyebabkan resonansi berkurang atau hilang, sehingga
terdengar suara sengau.

10
6. Proses bicara
Membantu proses pembentukan kata dengan konsonan nasal (m,n,ng) dimana
rongga mulut tertutup dan rongga hidung terbuka, palatum molle turun untuk
aliran udara.

7. Refleks nasal
Mukosa hidung merupakan reseptor refleks yang berhubungan dengan
saluran cerna, kardiovaskuler dan pernafasan. Contoh: iritasi mukosa hidung
menyebabkan refleks bersin dan nafas terhenti. Rangsang bau tertentu
menyebabkan sekresi kelenjar liur, lambung dan pankreas.

11
2.3. POLIP NASI
2.3.1. Definisi
Polip nasi merupakan kelainan mukosa hidung berupa massa lunak yang
bertangkai, berbentuk bulat atau lonjong, berwarna putih keabuan, dengan
permukaan licin dan agak bening karena mengandung banyak cairan.
Umumnya sebagian besar polip ini berasal dari celah kompleks
osteomearal (KOM) yang kemudian tumbuh ke arah rongga hidung.2,5

2.3.2. Epidemiologi
Prevalensi penderita polip nasi belum diketahui pasti karena hanya sedikit
laporan dari hasil studi epidemiologi serta tergantung pada pemilihan populasi
penelitian dan metode diagnostik yang digunakan. Prevalensi polip nasi
dilaporkan 1-2% pada orang dewasa di Eropa dan 4,3% di Finlandia. Dengan
perbandingan pria dan wanita 2- 4:1. Di Amerika Serikat prevalensi polip nasi
diperkirakan antara 1-4 %. Pada anak-anak sangat jarang ditemukan dan
dilaporkan hanya sekitar 0,1%. Penelitian Larsen dan Tos di Denmark
memperkirakan insidensi polip nasi sebesar 0,627 per 1000 orang per tahun
(Bateman 2003, Ferguson et al.2006). Di Indonesia studi epidemiologi
menunjukkan bahwa perbandingan pria dan wanita 2-3 : 1 dengan prevalensi
0,2%-4,3%.2,3,4

2.3.3. Etiopatogenesis
Sampai saat ini belum ada kesepakatan mengenai etiologi polip nasi, terdapat
sejumlah hipotesis mengenai asal dari polip nasi eosinofilik dan neutrofilik
yang berkisar dari predisposisi genetik, variasi anatomi, infeksi kronis, alergi
inhalan, alergi makanan, sampai ketidakseimbangan vasomotor.2
Etiologi yang pasti belum diketahui tetapi ada 3 faktor penting pada terjadinya
polip, yaitu :5
1. Adanya peradangan kronik yang berulang pada mukosa hidung dan sinus.
2. Adanya gangguan keseimbangan vasomotor.
3. Adanya peningkatan tekanan cairan interstitial dan edema mukosa hidung

12
Beberapa hipotesis dari keadaan tersebut antara lain :2,3,5
 Alergi
Alergi merupakan faktor yang banyak menjadi sorotan karena
tiga hal, yaitu karena sebagian besar polip hidung terdiri dari
eosinofil, berhubungan dengan asma, serta temuan klinis pada nasal
yang menyerupai gejala dan tanda alergi. Paparan alergen udara
menahun, diduga berperan dalam terjadinya polip hidung melalui
inflamasi yang terus-menerus pada mukosa hidung.1
Ditemukan sekitar 7 % pasien dengan asma memiliki polip
hidung.7 Akan tetapi ditemukan bahwa pada pasien non atopik angka
kejadian polip hidung juga lebih tinggi yaitu 13%. Akan tetapi studi
lain menunjukkan bahwa asma dengan onset yang telat (late onset
asthma) akan berkembang menjadi nasal polip sekitear 10-15%
 Ketidak Seimbangan Vasomotor
Teori ini dikemukakan karena pada banyak kondisi tidak
ditemukan adanya tanda-tanda atopi dan tidak ada riwayat pajanan
alergen yang ditemukan. Akan tetapi pasien cenderung mengalami
rinitis prodromal sebelum pada akhirnya berkembang menjadi polip
hidung. Polip hidung bisanya memiliki vaskularisasi yang kurang dan
berkurangnya inervasi vasokonstriktor. Selanjutnya gangguan dalam
regulasi vaskular dan peningkatan permeabilitas dapat menyebabkan
edema dan pembentukan polip.
 Bernouli Fenomena
Fenomena Bernoulli terjadi karena adanya penurunan tekanan
yang selanjutnya menyebabkan konstriksi. Hal ini akan menimbulkan
tekanan negatif dalam KOM, yang mempengaruhi mukosa
disekitarnya. Karena tekanan negatif ini kemudia akan terjadi
infalamasi mukosa yang selanjutnya menjadi awal terbentuknya
polip.

 Terori Rupture Epithel


Rupturnya epitel dari mukosa nasal karena alergi atau karena
infeksi daspat menyebabkan prolaps dari lamina propria, yang

13
selanjutnya akan membentuk polip. Defek dari faktor ini mungkin
semakin membesar karena pengaruh gravitasi atau drainase vena
mengalami obstruksi. Akan tetapi dari scanning dengan pengamatan
mikroskopik tidak ditemukan adanya defek epitel yang bermakna
pada pasien dengan polip hidung.
 Intoleransi Aspirin
Banyak konsep yang menjelaskan bagaimana patogenesis dari
intoleransi aspirin serta hubungannya dengan polip hidung. Terdapat
sindrom klinis yang jelas, bagaimana obat-obatan NSAID khusunya
aspirin dapat memicu terjadinya rinitis dan serangan asma. Respon
Cyclooxygenase (COX) umumnya sangat berbeda pada pasien
dengan intoleransi aspirin dibandingkan normal. Dapat dibuktikan
bahwa terjadi perubahan pada COX1 dan COX2 yang menghasilkan
metabolit tertentu yang akan menstimulasi cysteinyl leukotriene
(Cys-LT). Perubahan ini selanjutnya menyebabkan metabolisme asam
arachidonat menjadi jalur leukotriene inflamasi tinggi, yang
selanjutnya akan mengurangi kadar PGE2 (yang merupakan PG
antiinflamasi). Eksperi berlebihan dari LTC4 synthase selanjutnya
akan meningkatkan jumlah cysteinyl LTs, menyebabkan respon
inflamasi tak terkontrol dan inflamasi kronis.
 Cystic Fibrosis
Cystic Fibrosis merupakan salah satu penyakit autosomal resesif
pada kelompok orang kulit putih. Cystic fibrosis disebabkan karena
mutasi gen tunggal pada kormosom 7 yang disebut cystic fibrosis
transmembrane regulator (CFTR). Hal ini menyebabkan tidak adanya
cyclic AMP-regulated chloride chanel yang menyebabkan
impermeabilitas klorida dan peningkatan absorpsi natrium.
Peningkatan absorpsi natrium dan penurunan sekresi klorida
menyebabkan pergerakan air ke sel dan ruang interstitial, selanjutnya
menimbulkan retensi ari, pembentukan polip. Defek migrasi protein
CFTR juga menyebabkan terjadinya inflamasi kronis skunder.
 Nitric Oxide

14
Nitric Oxida merupakan gas radikal bebas, yang memainkan
peran besar dalam terjadinya reaksi imunologis nonspesifik, regulasi
dari tone vaskular, pertahanan host, dan inflamasi pada berbagai
jaringan. Radikal bebas biasanya dipertahankan dalam keadaan
seimbang oleh antioxidan defense system superoxide dismutase ,
catalase dan glutahione peroxidase. Ketika radikal bebas ini dapat
melebihi kemampuan pertahanan d ari antioxidant, maka akan terjadi
defek seluler, defek jaringan, dan penyakit kronis. Ditemukan laporan
akan meningkatnya kadar nitric oxide dan penurunan scavangeing
enzim pada pasien polip hidung dibandingkan dengan kontrol, yang
menunjukkan adanya penumpukan radikal bebeas pada polip hidung.
 Infeksi
Bagaimana infeksi dapat menjadi faktor yang juga penting
terhadap pembentukan polip, diduga terkait dengan adanya gangguan
pada epitel dengan proliferasi jaringan granulasi. Hal ini biasanya
terjadi pada infeksi Streptococcus pneumoniae, Staphylococcus
aureus, atau Bacteroides fragilis (semua jenis patogen yang sering
ditemukan pada rinosinusitis). Bagaimana granuloma menginduksi
terjadinya polip hidung masih belum benar-benar dipahami.
 Superantigen Hypotensis
Staphylococcus aureus ditemukan sekitar 60-70% pada daerah
mukus didekat polif masif. Organisme ini selalu memproduksi toxin,
staphylococcus enterotoxin A (SEA), staphylococcus enterotoxin B
(SEB) dan toxic shock syndrome toxin-1 (TSST-1) yang akan
berperan sebagai supetantigen, menyebabkan aktifasi dan ekspansi
klonal dari limfosit pada lateral hidung. Aktifasi dari limfosit ini,
akan menghasilkan sitokin Th1 dan Th2 (IFN-gama. IL-2, IL-4, IL-4),
hal ini akan menyebabkan chronic lymphocytic-eosinophil muchosal
disease. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya antibodi spesifik
IgE terhadap SEA dan SEB sebanyak 50% pada penderita polip
hidung.

2.3.4. Manifestasi Klinis

15
Polip hidung dapat menyebabkan hidung tersumbat, yang selanjutnya
dapat menginduksi rasa penuh atau tekanan pada hidung dan rongga
sinus. Kemudian dirasakan hidung yang berair (rinorea) mulai dari
yang jernih sampai purulen, hiposmia atau anosmia serta dapat juga
dirasakan nyeri kepala daerah frontal. Gejala lain yang dapat timbul
tergantung dari penyertanya, pada infeksi bakteri dapat disertai pula
dengan post nasal drip serta rinorea purulen. Gejala sekunder yang
dapat timbul adalah bernafas melalui mulut, suara sengau, halitosis,
gangguan tidur, dan gannguan kualitas hidup.2
Dapat juga menyebababkan gejala pada saluran nafas bawah, berupa
batuk kronik dan mengi, terutama pada penderita polip hidung dengan
asma.5
Selain itu harus dicari riwayat penyakit lain seperti alergi, asma,
intoleransi aspirin.5

2.3.5. Diagnosis
Anamnesis
Dari anamnesis didapatkan keluhan-keluhan berupa hidung
tersumbat, rinorea, hiposmia atau anosmia. Dapat pula didapatkan
gejala skunder seperti bernafas melalui mulut, suara sengau, halitosis,
gangguan tidur dan gangguan aktifitas.2
Pemeriksaan Fisik
Polip nasi masif dapat menyebabkan deformitas hidung luar
sehingga hidung tampak mekar karena pelebaran batang hidung. Pada
pemeriksaan rinoskopi anterior didapatkan masa pucat yang berasal
dari meatus media dan mudah digerakkan.2
Pembagian stadium polip menurut MacKay dan Lund (1997):
Stadium 1 : polip masih terbatas pada meatus media
Stadium 2 : polip sudah keluar dari meatus media, tampak pada
rongga hidung tertapi belum memenuhi rongga hidung
Stadium 3: polip masif.2
Untuk kepentingan praktik, polip hidung diklasifikasikan oleh
Stammberger menjadi (Kirtsreesakul, 2005):
1. Polip antrokoanal, kebanyakan timbul dari sinus maksilaris dan
prolaps ke koana.

16
2. Polip idiopatik, unilateral maupun bilateral, kebanyakan adalah polip
eosinofilik.
3. Polip eosinofilik dengan asma dengan atau tanpa sensitifitas aspirin.
4. Polip dengan penyakit sistemik penyerta seperti cystic fibrosis,
primary ciliary dyskinesia, Churg-Strauss-syndrome, Kartagener
syndrome, dll.

Gambar 2.5. Polip nasi


2.3.6. Diagnosis banding
Polip didiagnosabandingkan dengan konka polipoid, yang ciri – cirinya
sebagai berikut :
- Tidak bertangkai
- Sukar digerakkan
- Nyeri bila ditekan dengan pinset
- Mudah berdarah
- Dapat mengecil pada pemakaian vasokonstriktor (kapas
adrenalin).

17
Gambar 2.6. Konka polipoid
Pada pemeriksaan rinoskopi anterior cukup mudah untuk membedakan polip dan
konka polipoid, terutama dengan pemberian vasokonstriktor yang juga harus hati
– hati pemberiannya pada pasien dengan penyakit kardiovaskuler karena bisa
menyebabkan vasokonstriksi sistemik, maningkatkan tekanan darah yang
berbahaya pada pasien dengan hipertensi dan dengan penyakit jantung lainnya.

Pemeriksaan Penunjang
 Naso-endoskopi
Polip pada stadium 1 dan 2 kadang-kadang tidak terlihat dari
rinoskopi anterior, akan tetapi dengan naso endoskopi dapat
terlihat dengan jelas. Pada kasus polip koanal juga sering dapat
dilihat tangkai polip yang berasal dari ostium asesorius sinus
maksila.2,6
 Pemeriksaan Radiologi
Foto polos sinus paranasal (Posisi waters, AP, Caldwell dan latera)
dapat memperlihatkan adanya penebalan mukosa dan adanya batas
udara cairan di dalam sinus, tetapi kurang bermanfaat untuk polip
hidung. Pemeriksaan CT scan sangat bermanfaat untuk melihat
secara jelas keadaan di hidung dan sinus paranasal apakah ada
proses radang, kelainan anatomi, polip atau sumbatan pada

18
kompleks osteomeatal (KOM). CT scan harus diindikasikan pada
kasus polip yang gagal diobati dengan terapi medikamnetosa, jika
ada komplikasi dari sinusitis dan pada perencanaan tindakan bedah
endoskopi.6

2.3.7. Tatalaksana
Tujuan dari tatalaksana polip hidung yaitu: 4,6
- Memperbaikai keluhan pernafasan pada hidung
- Meminimalisir gelaja
- Meningkatkan kemampuan penghidu
- Menatalaksanai penyakit penyerta
- Meningkatkan kulitas hidup
- Mencegah komplikasi.
Secara umum penatalaksanaan dari polip hidung yaitu melalui
penatalksanaan medis dan operatif.
 Tatalaksana Medis
Polip Hidung merupakan kelainan yang dapat ditatalaksanai secara
medis. Walaupun pada beberapa kasus memerlukan penanganan operatif,
serta tatalaksana agresif sebelum dan sesudah operatif juga diperlukan.2,6
1. Antibiotik
Polip hidung dapat menyebabkan terjadinya obstruksi sinus, yang
selanjutnya menimbulkan infeksi. Tatalaksana dengan antibiotik dapat
mencegah pertumbuhan dari polip dan mengurangi perdarahan selama
operasi. Antibiotik yang diberkan harus langsung dapat memberikan
efek langsung terhadap spesies Staphylococcus, Streptococcus, dan
bakteri anaerob, yang merupakan mikroorganisme pada sinusitis
kronis.6
2. Corticosteroid
Topikal Korticosteroid
Intranasal/topikal kortikosteroid merupakan pilihan pertama untuk polip
hidung. Selain itu penggunaan topikal kortikosteroid ini juga berguna
pada pasien post-operatif polip hidung, dimana pemberiannya dapat
mengurangi angka kekambuhan. Pemberian dari kortikosteroid topikal
ini dapat dicoba selama 4-6 minggu dengan fluticasone propionate
nasal drop 400 ug 2x/hari memiliki kemampuan besar dalam

19
mengatasi polip hidung ringan-sedang (derajat 1-2), diamana dapat
mengurangi ukuran dari polip hidung dan keluhan hidung tersumbat.4
Sitemik Kortikosteroid
Penggunaan dari kortikosteroid sistemik/oral tunggal masih belum
banyak diteliti. Penggunaanya umumnya berupa kombinasi dengan
terapi kortikosteroid intranasal. Penggunaan fluocortolone dengan total
dosis 560 mg selama 12 hari atau 715 mg selama 20 hari dengan
pengurangan dosis perhari disertai pemberian budesonide spray 0,2 mg
dapat mengurangi gejala yang timbul serta memperbaiki keluhan sinus
dan mengurangi ukuran polip.4
Akan tetapi dari penelitian lain, penggunaan kortikosteroid sistemik
tunggal yaitu methylprednisolone 32 mg selama 5 hari, 16 mg selama
5 hari, dan 8 mg selama 10 hari ternyata dapat memberikan efek yang
signifikan dalam mengurangi ukuran polip hidung serta gejala nasal
selain itu juga meningkatkan kemampuan penghidu.6
3. Terapi lainnya
Penggunaan antihistamin dan dekongestan dapat memberikan efek
simtomatik akan tetapi tidak merubah perjalanan penyakitnya.
Imunoterapi menunjukkan adanya keuntungan pada pasien dengan
sinusitis fungal dan dapat berguna pada pasien dengan polip berulang.
Antagonis leukotrient dapat diberikan pada pasien dengan intoleransi
aspirin.4
Guideline tatalaksana rinosinusitis kronik dengan polip hidung PERHATI-
KL (2007) menjelaskan bahwa polip hidung stadium 1 ditatalaksana
medikamentosa, stadium 2 ditatalaksana medikamentosa dilanjutkan operasi
dan untuk stadium 3 ditatalaksana dengan tindakan pembedahan.
 Terapi Pembedahan
Indikasi untuk terapi pembedahan antara lain dapat dilakukan pada
pasien yang tidak memberikan respon adekuat dengan terapi medikal,
pasien dengan infeksi berulang, serta pasien dengan komplikasi sinusitis,
selain itu pasien polip hidung disertai riwayat asma juga perlu
dipertimbangkan untuk dilakukan pembedahan guna patensi jalan nafas.
Tindakan yang dilakukan yaitu berupa ekstraksi polip (polipektomi),
etmoidektomi untuk polip etmoid, operasi Caldwell-luc untuk sinus

20
maxila. Untuk pengembangan terbaru yaitu menggunakan operasi
endoskopik dengan navigasi komputer dan instrumentasi power. 3,6

Bagan 1: Penatalaksanaan Polip Nasal7

21
Sumber : Perhati-KL, Guideline Penyakit THT-KL di Indonesia

2.3.8. Prognosis
Umumnya setelah penatalaksanaan yang dipilih prognosis polip hidung
ini baik (dubia et bonam) dan gejala-gejala nasal dapat teratasi. Akan
tetapi kekambuhan pasca operasi atau pasca pemberian kortikosteroid
masih sering terjadi. Untuk itu follow-up pasca operatif merupakan
pencegahan dini yang dapat dilakukan untuk mengatasi kemungkinan
terjadinya sinekia dan obstruksi ostia pasca operasi, bagaimana patensi
jalan nafas setelah tindakan serta keadaan sinus, pencegahan inflamasi
persisten, infeksi, dan pertumbuhan polip kembali, serta stimulasi
pertumbuhan mukosa normal. Untuk itu sangat penting dilakukan
pemeriksaan endoskopi post operatif. Penatalaksanaan lanjutan dengan
intra nasal kortikosteroid diduga dapat mengurangi angka kekambuhan
polip hidung.2,3,6

22
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan

1. Polip nasi merupakan salah satu penyakit THT yang memberikan


keluhan sumbatan pada hidung yang menetap dan semakin lama semakin berat
dirasakan.
2. Etiologi polip di literatur terbanyak merupakan akibat reaksi hipersensitivitas
yaitu pada proses alergi, sehingga banyak didapatkan bersamaan dengan
adanya rinitis alergi.
3. Pada anamnesis pasien, didapatkan keluhan obstruksi hidung, anosmia, adanya
riwayat rinitis alergi, keluhan sakit kepala daerah frontal atau sekitar mata,
adanya sekret hidung.
4. Pada pemeriksaan rinoskopi anterior ditemukan massa yang lunak, bertangkai,
mudah digerakkan, tidak ada nteri tekan dan tidak mengecil pada pemberian
vasokonstriktor lokal.
5. Penatalaksanaan untuk polip nasi ini bisa secara konservatif maupun operatif,
yang biasanya dipilih dengan melihat ukuran polip itu sendiri dan keluhan dari
pasien sendiri.
6. Pada pasien dengan riwayat rinitis alergi, polip nasi mempunyai kemungkinan
yang lebih besar untuk rekuren. Sehingga kemungkinan pasien harus menjalani
polipektomi beberapa kali dalam hidupnya.

23
DAFTAR PUSTAKA
1. Probst, R., Grevers, G., dan Iro, H. Anatomy, Physiology, and Immunology of
the Nose, Paranasal Sinuses, and Face. Dalam: Basic Otorhinolaryngology.
New York: Thieme, 2006, h. 2 – 13
2. Mangunkusumo, E dan Wardani RS. Polip Hidung Dalam: Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi ketujuh. Jakarta:
FKUI, 2015, h. 101 – 103
3. Ahmad Maymane Jahroni. The Epidemological & Clinical aspect of Nasal
Polyps that Require Surgery. Iranian Journal Of Otorhynolaryngology.2012
: 2 (4) : 72-75
4. Bachort C.Management of Nasal Polyps. Rhinology. 2005 : 18: 1-87

5. Kirtsreesatul Virat. Update on Nasal Polyps : Etiopatogenesis. J Med Assoc


Thai. 2005 : 88 (12) :1966-72
6. Assanasen paraya MD. Medical & Surgical Management of Nasal Polyps.
Current Option in Otolaryngology & Head and Neck Surgery. 2001. 9 :
27-36
7. Perhimpunan Dokter Spesialis THT-KL Indonesia. Guideline Penyakit THT-
KL di Indonesia. 2007. Hal 25

24