Anda di halaman 1dari 13

JOURNAL READING

Hydrocortisone 1% Cream and Sertaconazole 2% Cream


to Treat Facial Seborrheic Dermatitis:
A Double-blind, Randomized Clinical Trial

Disusun Oleh: Inez Talitha (1102013134)


Pembimbing: Dr. Umi Rinasari, MARS, Sp.KK

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi
Rumah Sakit Bhayangkara Tk.I R.S.Sukanto-Jakarta
Periode 29 Mei 2017 – 30 Juni 2017
DERMATITIS SEBOROIK

• Kelainan kulit kronis yang dapat ditemukan

Definisi pada bayi dan dewasa


• Banyak ditemukan pada pasien HIV/AIDS

• Dikaitkan dengan Malassezia, faktor

Etiologi imunologis, genetik, lingkungan, dan peran


hormon androgen
DERMATITIS SEBOROIK (2)

Gambaran Klinis:
Lesi skuama kuning berminyak, papul, eri
tema, disertai gatal dan menyengat.
Ketombe merupakan tanda awal
dermatitis seboroik

Predileksi:
Kulit dengan glandula sebasea yang
banyak (kulit kepala, wajah, telinga,
flexura inguinal, inframammary,
aksilla)
DERMATITIS SEBOROIK (3)

Diagnosis banding Tatalaksana Prognosis

• Psoriasis • Shampoo ketokonazol • Baik pada dermatitis


• Dermatitis Atopi • Antijamur golongan seboroik infantil

• Impetigo imidazol • Kronik dan relaps


• Kortikosteroid topikal pada dewasa
• Dermatitis Kontak
Alergi atau sistemik
(prednison 30 mg/hari)
• Terapi sinar UVB
HIDROKORTISON

• Golongan: glukokortikoid
• Mekanisme Kerja: antiinflamasi
• Indikasi: Terapi inflamasi dan gejala pruritus pada kulit yang
responsif terhadap kortikosteroid topikal
• Kontraindikasi: riwayat alergi hidrokortison
• Dosis: dioles tipis-tipis 2-4 kali sehari
• Efek samping: iritasi lokal, gatal, nyeri, reaksi alergi, kering, infeksi
sekunder, hipopigmentasi, atrofi kulit, striae, miliaria.
SERTAKONAZOL

• Golongan: turunan Imidazol


• Mekanisme Kerja: menghambat sintesis ergosterol dinding sel
jamur.
• Indikasi: Terapi topikal infeksi jamur dermatofita dan non dermatofi
-ta (Tinea, dermatitis seboroik, pitiriasis versikolor)
• Kontraindikasi: riwayat alergi sertakonazol
• Dosis: dioles tipis-tipis 1-2 kali sehari
• Efek samping: kulit kering, kemerahan, iritasi, dan bengkak.
METODE PENELITIAN
SUBJEK

64 pasien berusia 18 tahun keatas yang mengalami


dermatitis seboroik di wajah pada Mei 2014 sampai Mei
2015.

METODE
64 pasien diikutsertakan penelitian. Kemudian 4 pasien
menolak penelitian. Sehingga, 60 pasien dirandomisasi
dan mendapatkan hasil sebanyak 30 pasien mendapat
hidrokortison 1% dan 30 pasien lainnya mendapat terapi
sertakonazol 2%.
METODE PENELITIAN (2)
• Hidrokortison 1% dan sertakonazol 2% ditempatkan di wadah
identik dan ditandai dengan krim A dan B.
• Pasien diinstruksikan menggunakan krim tipis-tipis 2 kali sehari di
bagian wajah yang terkena.
• Regio wajah yang diteliti terbagi menjadi 4: alis, hidung, lipat naso
-labial, telinga.

Pasien dievaluasi pada minggu ke 2 dan minggu ke 4 dengan


menggunakan variabel:
• Seborrhea score: 0-10
• Scoring Index: mild, moderate, severe
• Improvement Percentage (IP)
• Visual Analogue Scale (VAS)
METODE PENELITIAN (3)
KRITERIA PENYERTA
• Pasien usia 18 tahun keatas dengan dermatitis seboroik di wajah.

KRITERIA PENGECUALIAN
• Memiliki kondisi medis tidak terkontrol
• Hipersensitif dengan sertakonazol dan hidrokortison
• Sedang dalam pengobatan acne
• infeksi di wajah yang belum diobati atau tidak terkontrol
• Sedang dalam pengobatan dermatitis seboroik
• Mendapat pengobatan kortikosteroid sistemik
• Sedang hamil
• Menyusui
• Pasien yang menunjukkan efek samping yang tidak dapat
ditoleransi
HASIL
HASIL (2)
KESIMPULAN

• Sertakonazol topikal dapat digunakan sebagai


terapi pengganti steroid topikal dalam
mengobati dermatitis seboroik.