0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
383 tayangan13 halaman

Budidaya Hidroponik Bawang Merah Thailand

Proposal ini mengajukan usaha budidaya hidroponik bawang merah Thailand (Poathai) untuk memenuhi permintaan bawang merah yang terus meningkat. Bawang merah Thailand memiliki keunggulan seperti adaptasi yang baik dan aroma tajam. Budidaya hidroponik menggunakan media seperti arang sekam dan zeolit dapat menghasilkan umbi bawang yang berkualitas tinggi dengan biaya rendah.

Diunggah oleh

Ghea Dionita
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
383 tayangan13 halaman

Budidaya Hidroponik Bawang Merah Thailand

Proposal ini mengajukan usaha budidaya hidroponik bawang merah Thailand (Poathai) untuk memenuhi permintaan bawang merah yang terus meningkat. Bawang merah Thailand memiliki keunggulan seperti adaptasi yang baik dan aroma tajam. Budidaya hidroponik menggunakan media seperti arang sekam dan zeolit dapat menghasilkan umbi bawang yang berkualitas tinggi dengan biaya rendah.

Diunggah oleh

Ghea Dionita
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROPOSAL KEWIRAUSAHAAN

HIDROPONIK BAWANG MERAH THAILAND (POATHAI)

Disusun oleh:
Theresia Amelia Prasayu 16030244002
Cicik Ainurrohmah 16030244023
Ghea Dionita Sanora 16030244026
Muhammad Avesina 16030244033
Bilqis Atika Nur 16030244038

Biologi 2016

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
2018
ABSTRAK

Bawang merah merupakan salah satu jenis komoditas yang merupakan kebutuhan
bagi hampir setiap rumah tangga dalam masakan sehari-hari atau sebagai bahan obat
tradisional dengan tingkat konsumsi yang umumnya dalam jumlah yang relatif kecil namun
dibutuhkan oleh masyarakat. Produktivitas bawang merah di Indonesia masih rendah karena
beberapa permasalahan penyebab rendahnya produktivitas, sedangkan permintaan bawang
merah dari tahu ke tahun terus meningkat, oleh karena itu kami membudidayakan bawang
merah Thailand dengan menggunakan media tanam hidroponik yang memiliki keunggulan
jika dibandingkan dengan bawang merah biasa dan media tanam biasa. Sumber awal
pendirian usaha budidaya ini bersumber dari modal pribadi yang digunakan untuk pembelian
alat dan bahan budidaya hidroponik bawang merah. Strategi pemasaran yang digunakan yaitu
inovasi produk budidaya secara hidroponik tanpa pestisida dengan harga murah dan promosi
konsumen yang dilakukan pada lokasi-lokasi distribusi tertentu.
BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bawang merah merupakan salah satu jenis sayuran yang digunakan sebagai bahan
atau bumbu penyedap makanan sehari-hari dan bahan untuk industri makanan yang saat
ini berkembang dengan pesat. Bawang merah juga merupakan salah satu komoditas
sayuran yang penting bagi masyarakat Indonesia, dimana hampir setiap rumah tangga
mengkonsumsi komoditas ini sebagai bumbu utama dalam masakan sehari-hari atau
sebagai bahan obat tradisional dengan tingkat konsumsi yang umumnya dalam jumlah
yang relatif kecil namun secara agregat cukup besar dibutuhkan oleh masyarakat
(Tentamia, 2002).
Produktivitas bawang merah di Indonesia masih rendah dengan rata-rata
produktivitas bawang merah nasional hanya sekitar 9,48 ton/ha, jauh di bawah potensi
produksi yang berada di atas 20 ton/ha (Paranata dan Umam, 2015). Menurut
BAPPENAS (2013), beberapa permasalahan rendahnya produktivitas tersebut antara
lain: ketersediaan benih bermutu, prasarana dan sarana produksi terbatas, belum
diterapkannya GSP-SOP spesifik lokasi yang benar sehingga belum dapat diatasinya
permasalahan budidaya yang terjadi. Selain permasalahan tersebut, untuk bisa
mencukupi kebutuhan dalan negeri atau mengekspor bawang merah, para petani harus
mampu menyelesaikan masalah harga dan kualitas (Hatab dan Sebastian, 2013). Menurut
Rahmah dkk. (2013), rendahnya produksi bawang merah di Indonesia disebabkan oleh
penggunaan bibit yang kurang bermutu dan media tanam yang kurang baik. Grema dan
Gashua (2014), menambahkan bahwa kendala utama dalam produksi bawang merah
meliputi biaya input yang tinggi, hama dan penyakit, fasilitas penyimpanan yang tidak
memadai dan keterbatasan akses benih unggul. Provinsi Jawa Timur merupakan
produsen bawang merah kedua setelah provinsi Jawa Tengah dengan persentase
kontribusi mencapai 20,89% dari total produksi bawang meran Indonesia, dengan
kondisi tersebut Jawa Timur dapat menjadi cerminan dalam lingkup nasional terkait
produksi bawang merah (Paranata dan Umam, 2015).
Permintaan Bawang Merah dari tahu ke tahun terus meningkat, oleh karena itu
kami membudidayakan Bawang Merah Thailand dengan menggunakan media tanam
hidroponik yang memiliki keunggulan jika dibandingkan dengan bawang merah biasa
dan media tanam biasa.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana mengoptimalkan pemanfaatan fungsi lahan yang ada untuk hidroponik
Bawang Merah Thailand?
2. Bagaimana cara mengembangkan potensi kewirausahaan melalui kegiatan
pembudidayaan Bawang Merah Thailand yang dikelola untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat?

C. Tujuan
1. Mengoptimalkan pemanfaatan fungsi lahan yang ada untuk hidroponik Bawang
Merah Thailand.
2. Mengembangkan potensi kewirausahaan melalui kegiatan pembudidayaan Bawang
Merah Thailand yang dikelola untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

D. Manfaat
1. Bagi Masyarakat
Kegiatan ini secara tidak langsung akan memberikan manfaat bagi masyarakat
khususnya para penjual sayuran, pengusaha makanan, ibu rumah tangga, dan
pengusaha hidroponik sebagai distributor dan konsumen Bawang Merah Thailand
yang memiliki harga relatif stabil dan kualitas bawang merah yang lebih unggul
dibandingkan bawang merah biasa.
2. Bagi Pelaksana
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi media pelaksanaan berbagai macam
inovasi mengenai pengembangan produk, bahwa Bawang Merah Thailand
Hidroponik memiliki keunggulan pada aroma dan cita rasa dibandingkan bawang
merah biasa.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Bawang Merah Tajuk


Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran yang penting ditunjau
dari segi ekonomi maupun daerah penyebarannya (Gunadi,2009). Bawang merah saat ini
mempunyai prospek pasar yang baik sehingga tergolong dalam komoditas unggulan
nasional (Fauziah et al., 2016). Bawang merah digunakan sebagai salah satu bahan
utama bumbu dapur menu masakan Indonesia. Selain itu, bawang merah juga digunakan
sebagai bahan utama dalam pengobatan tradisional karena pada umbi bawang merah
mengandung senyawa alliin atau allisin yang memiliki efek antiseptik. Senyawa alliin
atau allisin tersebut diubah di dalam tubuh dengan bantuan enzim allisin liase menjadi
asam piruvat, ammonia, dan allisin antimikroba yang bersifat bakterisida (Rukmana,
1994). Berbagai manfaat bawang merah tersebut menyebabkan permintaan pasar
terhadap bawang merah semakin meningkat.
Produksi bawang merah di Indonesia pun terus ditingkatkan untuk memenuhi
kebutuhan tersebut. Data dari Badan Pusat Statistik (2015) menunjukkan bahwa produksi
bawang merah pada tahun 2010 adalah 1,05 juta ton dan pada tahun 2014 produksi
bawang merah telah mengalami peningkatan menjadi 1,23 juta ton. Selama 4 tahun,
selisih produksi tanaman bawang merah tersebut sudah mencapai 0,18 juta ton. Masalah
utama dalam peningkatan produksi bawang merah adalah penyediaan bibit yang
berkualitas, tahan hama dan penyakit, berdaya hasil tinggi, murah harganya.
Daerah Nganjuk, dikenal sebagai tempat penangkaran benih bawang yang dapat
tumbuh dengan baik. Di daerah tersebut, dikenal adaya bawang merah “Tajuk” dimana
bawang merah ini merupakan bawang merah unggul yang mana bisa tumbuh dengan
baik di seluruh Nusantara,di dua musim, di dataran rendah maupun tinggi. Bawang
Merah “Tajuk” memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa apabila ditanam di luar
wilayah Kabupaten Nganjuk, sehingga tujuan untuk memaksimalkan hasil produksi bisa
tercapai. Keunggulan lain dari bawang ini adalah memiliki aroma yang sangat tajam.

B. Budidaya Bawang Merah Hidroponik


Dari survai, permasalahan yang terjadi dalam usaha pembenihan bawang merah
antara lain 1) Proses budidaya yang lebih rumit dibandingkan usaha pertanaman bawang
merah untuk konsumsi/sayur, 2) Memerlukan biaya besar, 3) Pemilikan tanah sangat
sempit, 4) Penanaman harus dilakukan secara rutin setiap bulan. Kelemahan penggunaan
bibit asal umbi adalah biaya bibit yang tinggi sekitar 40 persen dari total biaya produksi
(Suherman dan Basuki, 1990; Sunarto, et al. 2004). Hal ini mengakibatkan perlu adanya
alternatif lain dalam membudidayakan bawang merah “Tajuk” yaitu menggunakan
metode hidroponik.
Keterbatasan lahan pertanian di wilayah Metropolitas menyebabkan
berkembangnya teknologi pertanian perkotaan. Secara umum, konsep pertanian
perkotaan dengan cara memanfaatkan ruang yang ada untuk kegiatan pertanian.
Hidroponik menjadi salah satu pilihan untuk budidaya pertanian yang efektif dan efisien
dalam menghasilkan produk berkualitas. Sistem hidroponik merupakan sistem budidaya
air tanah, yaitu budidaya tanaman yang menggunakan media selain tanah sebagai media
tanamnya. Kelebihan dari bertanam secara hidroponik adalah tanaman dapat berkembang
dengan cepat, tanaman dapat tumbuh dan berproduksi lebih baik dibandingkan dengan
teknik penanaman biasa, menghemat lahan, perawatan lebih praktis, kemudahan dalam
hal penyiraman, penanganan nutrisi tanaman dan gangguan hama lebih terkontrol dan
tanaman dapat tumbuh lebih pesat serta kualitas produk bagus yang tidak kotor dan rusak
(Lingga, 2002; Resh 2001; Wijayani dan Widodo 2005).
Budidaya tanaman bawang merah Tajuk secara hidroponik memiliki keuntungan
yaitu kualitas umbi yang dihasilkan lebih bersih, penggunaan pupuk atau nutrisinya
sesuai dosis yang dibutuhkan serta tidak rentan terkena serangan hama dan penyakit.

C. Media Tanam Hidroponik


Beberapa media tanam hidroponik yang sering digunakan untuk budidaya
hidroponik adalah arang sekam, zeolite dan rockwool. Arang sekam seringkali digunakan
karena mampu menyimpan air dengan baik (Hamli et al., 2015). Arang sekam bersifat
memiliki porositas tinggi, berstruktur remah, dan dapat menyimpan air. Arang sekam
juga berkadar salinitas rendah, bersifat netral hingga alkalis (kisaran pH 6–7), harganya
relatif murah. Selain itu, bahannya mudah diperoleh, ringan, dan sudah steril. Beberapa
kelemahan dalam menggunakan media arang sekam sebagai media tanam yaitu
umumnya tersedia hanya bahannya (sekam/kulit gabah) dan arang sekam hanya dapat
digunakan minimal dua kali (Fahmi, 2013). Mineral zeolite memiliki sifat mampu
menyerap sementara unsur – unsur hara yang diberikan melalui pemupukan kemudian
dilepaskan untuk memenuhi kebutuhan tanaman sesuai denga keperluannya (slow
releasing agent) (Lie et al., 2013). Sedangkan rockwool memiliki ruang pori sebanyak
95% dan berkapasitas pegang air sebesar 80% (Parwoto dan Kartika, 2016).
Selama berbudidaya hidroponik, pemberian nutrisi bagi tanaman juga harus
dilakukan untuk memenuhi kebutuhan unsur hara tanaman. Salah satu nutrisi yang umum
digunakan dalam sistem budidaya hidroponik adalah AB Mix. Nutrisi AB Mix
merupakan pupuk yang terdiri dari dua kemasan berbeda. Kemasan pertama merupakan
“pupuk A” yang secara umum berisi unsur hara makro. Kemasan lainnya merupakan
“pupuk B” yang secara umum telah mengandung unsur hara mikro (Bunt, 1988).
Pencampuran “pupuk A” dan “pupuk B” pada nutrisi AB Mix tidak dilakukan dalam
keadaan pekat, karena dapat menyebabkan terjadinya pengendapan. Akibatnya, unsur
hara pada nutrisi hara tidak dapat diserap oleh tanaman. Unsur Ca2+ pada “pupuk A”
tidak boleh bertemu dengan unsur SO42- dan PO43- pada “pupuk B” dalam keadaan pekat.
Jika Ca2+ bertemu dengan SO42-, maka akan terbentuk CaSO4 (gips) yang mengendap dan
sulit larut. Kondisi tersebut menyebabkan unsur Ca dan S tidak dapat diserap oleh
tanaman. Kondisi yang sama terjadi apabila Ca bertemu dengan PO43-, maka akan
terbentuk TSP (triple super fosfat) yang sulit untuk larut. Akibatnya, unsur Ca dan P
tidak dapat diserap oleh tanaman.
BAB 3
METODE KEGIATAN

A. Financial Plan

1. Sumber Pendanan Usaha

Sumber awal pendirian usaha budidaya ini adalah bersumber dari modal
sendiri dari anggota kelompok, masing-masing sebesar Rp. 50.000 jadi total modal
usaha sebesar Rp.250.000 yang digunakan untuk pembelian alat dan bahan budidaya
hidroponik bawang merah.

2. Kebutuhan Pembiayaan/ Modal Kerja

Uraian Banyaknya Harga/Unit Jumlah


Bibit bawang merah 1 kg Rp 28.000 Rp 28.000
Nutrisi A B mix 1 pack Rp 20.000 Rp 20.000
Rockwool 2 buah Rp 20.000 Rp 40.000
Sekam bakar 4 kantong Rp 5.000 Rp 20.000
Cocopeat 2 kantong Rp 11.000 Rp 22.000
Polibag 20 buah Rp 600 Rp 12.000
Jumlah 30 RP 84.600 Rp 142.000

3. Analisis Keuntungan

Investasi Jumlah (Rp)


Biaya Belanja Barang Rp. 142.000 Rp.142.000
Jumlah Rp.142.000

4. Harga Jual

Harga jual bawang merah 70 Ons x Rp. 3000 = Rp 210.000

Jumlah = Rp. 210.000


Jadi, laba bersih = Jumlah harga jual – jumlah belanja barang

= Rp. 210.000 – Rp. 142. 000

= Rp. 68.000

B. Rencana Pemasaran
1. Gambaran Umum Pasar (STP)
 Segmen Pasar
Secara umum konsumen yang menjadi segmen usaha kami adalah semua
kalangan masyarakat khususnya ibu rumah tangga , mahasiswa (praktikan) dan
pedagang kecil . Untuk perkembangan usaha ini kedepan, kami akan
memperbanyak jumlah produksi bawang merah untuk memperluas area konsumen
agar lebih maksimal.

 Target Pasar
Adapun konsumen yang menjadi segmen pasar bisnis ini terdiri atas :
1. Ibu rumah tangga
2. Mahasiswa (Praktikan)
3. Pedagang kecil

 Positioning
Usaha kami belum memiliki toko khusus, hanya masih usaha rumahan
dengan teknik budidaya hidroponik sederhana, sehingga sarana pemasaran kami
hanya via internet dan dari mulut ke mulut. Produk yang kami jual juga memiliki
kualitas bagus dengan harga yang lebih murah.

2. Strategi Pemasaran
 Product
Dalam usaha ini kami memproduksi bawang merah dengan inovasi pada
cara budidayanya secara hidroponik tanpa menggunakan pestisida . Inovasi ini
digunakan selain agar ramah lingkungan juga dapat menghasilkan bawang merah
organik yang lwbih sehat untuk dikonsumsi.

 Price
Harga jual untuk bawang merah yang kami produksi Rp. 3000 untuk 1 ons
bawang merah. Dengan harga sekian menurut kami sudah termasuk murah karena
bawang merah yang kami jual lebih murah dari yang dipasaran yang biasanya
dijual Rp. 4000 untuk 1 ons bawang merah.
 Promotion
Strategi promosi mengenai produk kami dapat dikenali konsumen melalui
beberpa cara :
a. Informasi dari mulut ke mulut oleh rekan kuliah dan teman- teman umum.
b. Melalui internet (Media sosial).

 Placement
Sistem distribusi produk ini dilakukan melalui relasi dari ibu-ibu rumah
tangga, teman kuliah dan melalui internet. Jika ada yang berminat membeli akan
dipakai sistem COD (Cash On Delivery).

3. Metode Penjualan
 Cara Menentukan Pasar
Adapun cara menentukan posisi pasar yaitu dengan cara :
1). Spesifik Positioning
Meliputi kemampuan dalam menciptakan hubungan yang kuat antara produk
dengan konsumen, hal ini telah kami pertimbangkan karena produk kami
banyak digunakan di berbagai kegiatan.
2). Comfetitive positioning
Berhubungan dengan masalah bagaimana suatu merek diposisikan relatif
terhadap pesaing, samahalnya dengan produk kami yang kami anggap dapat
bersaing dengan produk lainnya karena kondisi konsumen yang meningkat.

 Kesalahan-Kesalahan Dalam Penentuan Posisi Pasar


Ada beberapa hal yang harus kami hindari dalam metode penjualan produk kami,
hal ini kami nyatakan dalam beberapa kesalahan-kesalahan yang harus dihindarkan
dalam penentuan posisi pasar antara lain :
1). Underpositioning
Kami harus menghindarkan kesalahan ini dimana konsumen tidak memiliki
gambaran yang jelas tentang produk kami.
2). Over positionong
Pembeli mempunyai gambaran yang sempit dan simpel dalam produk kami,
hal ini harus kami hilangkan dengan cara memberikan penjelasan atas
manfaat produk kami.
 Metode Komunikasi
1). Komunikasi massa. Proses komunikasi ini memiliki sifat komunikasi yang
luas dan menyebar. Dalam bentuk komunikasi masa, baik pengirim maupun
penerima informasi dalam lingkup masa dianggap tidak saling kenal.
2). Komunikasi kelompok. Berbeda dengan komunikasi massa, komunikasi
terjalin karena pengirim dan penerima pesan sudah saling kenal. Bentuk
komunikasi ini terjadi antar beberapa orang dalam suatu tempat.
3). Komunikasi Antar Pribadi. Komunkasi bentuk ini merupakan komunikasi
pribadi atau komunikasi antar orang. Komunikasi ini terjadi

4. Struktur Organisasi Pemasaran


DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. 2015. Produksi Cabai Besar, Cabai Rawit, dan Bawang Merah Tahun
2014. Berita Resmi Statistik Provinsi Jawa Timur No. 53/08/35/Th.XIII, 3 Agustus
2015. 10 hlm.

BAPPENAS. 2013. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (Rpjmn) Bidang


Pangan dan Pertanian 2015-2019. Jakarta: BAPPENAS Press.

Bunt, A. C. 1988. Media and Mixes for Countainer Grown Plants. Unwin Hyman. London.

Fahmi, Z. I. 2013. Media Tanam sebagai Faktor Eksternal yang Mempengaruhi


Pertumbuhan Tanaman. Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan
Surabaya. Surabaya. 8 hlm.

Fauziah, R., Anas D. Susila, dan Eko Sulistyono. 2016. Budidaya Bawang Merah (Allium
ascalonicum L.) pada Lahan Kering Menggunakan Irigasi Sprinkler pada berbagai
Volume dan Frekuensi. Jurnal Holtikultura Indonesia 7(1) : 1 – 8.

Grema, IJ, and Gashua, AG. 2014. “Economic Analysis of Onion Production Along River
Kamadugu Area of Yobe State, Nigeria”. Journal of Agriculture and Veterinary
Science. Vol. 7 (10).

Gunandi, N. 2009. Kalium Sulfat dan Kalium Klorida Sebagai Sumber Pupuk Kalium Pada
Tanaman Bawang Merah. Jurnal Holtikultura Indonesia 19 (2) : 174 – 185.

Hamili, F., Iskandar M. Lapanjang dan Ramal Yusuf. 2015. Respon Pertumbuhan Tanaman
Sawi (Brassica juncea L.) secara Hidroponik terhadap Komposisi Media Tanam dan
Konsentrasi Pupuk Organik Cair. E-J. Agrotekbis 3 (3) : 290 – 296.

Hatab, Assem Abu, dan Sebastian, Hess. 2013. “Opportunities and Constraints for Small
Agricultural Exporters in Egypt”. International Food and Agribusiness Management
Review. Vol. 16 (4).

Lingga, P. 2002. Hidroponik Bercocok Tanam Tanpa Tanah. Penebar Swadaya. Jakarta.

Purwanto, Benny R dan Juang G Kartika. 2016. Pengelolaan Aspek Produksi dan Pasca
Panen Sayuran Daun Secara Aeroponik dan Hidroponik: Studi Kasus Lembang,
Bandung. Buletin. Agrohorti 4 (1) : 9 – 19.
Paranata, Ade dan Umam, Ahmad Takhlishul. 2015. “Pengaruh Harga Bawang Merah
Terhadap Produksi Bawang Merah di Jawa Tengah”. JEJAK Journal of Economics
and Policy. Vol 8 (1): hal. 36-44.
Rahmah, Ashrafida, Sipayung, Rosita dan Simanungkalit, Toga. 2013. “Pertumbuhan Dan
Produksi Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) dengan Pemberian Pupuk Kandang
Ayam dan EM4 (Effective Microorganisms4)”. Jurnal Online Agroekoteknologi. Vol. 1
(4). ISSN 2337-6597.

Resh, H.M. 2001. Hydroponic Food Production. Woodbridge Press Publishing Company.
Santa Barbara, CA 93160.

Rukmana, R. 1994. Budidaya dan Pengolahan Pascapanen Bawang Merah. Penerbit


Kanisius. Yogyakarta. 72 hlm.

Suherman, R. dan R.S. Basuki. 1990. Strategi luas usahatani bawang merah (Allium cepa var.
ascalonicum) di Jawa Barat. Tinjauan dari segi usahatani terendah. Bul. Penel.Hort.
18(3):11- 18.

Sunarto, Totok, A.D.H., Lukas, S., Suwarto, Noor F., 2004. Laporan penelitian peningkatan
bawang merah (Allium cepa L.) Brebes tahap II. Fakultas Pertanian Unsoed.
Purwokerto.

Tentamia, Mari Komariah. 2002. Analisis Penawaran dan Permintaan Bawang Merah di
Indonesia. Tesis diterbitkan. Bogor: PPs Institut Pertanian Bogor.

Wijayanti, A dan Wahyu Widodo. 2005. Usaha Meningkatkan Kualitas Beberpa Varietas
Tomat Dengan Sistem Budidaya Hidroponik. Ilmu Pertanian Vol. 12 No. 1 : 77 – 83.

Anda mungkin juga menyukai